Anda di halaman 1dari 20

Hubungan Internasional

Indonesia dan Australia


KERJASAMA BIDANG KEAMANAN (LOMBOK TREATY)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hubungan Internasional
Oleh Kelompok 9 :
Lusi Dwi Anggraini (115030107111041)
Dinny Ambarsari (115030107111041)
Bangga Pradita (115030107111012)
Hilmi Halilintar (115030107111002)












UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
ILMU ADMINISTRASI PUBLIK
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Australia dan Indonesia merupakan dua negara yang secara geografis dekat, namun
memiliki banyak perbedaan,baik dalam segi sejarah, politik, budaya, ekonomi, sosial dan
budaya.Karena begitu banyaknya perbedaan yang ada pada kedua negara ini sehingga sulit
menemukan negara lain seperti Australia dan Indonesia.Hal ini sejalan dengan pemikiran Evans
(1991:1) bahwa tidak ada dua negara tetangga di belahan dunia manapun yang berbeda
sejarah, politik, budaya, ekonomi, sosial dan budaya, penduduk, bahasa serta tradisi sosial
politiknya seperti Australia dan Indonesia.
Indonesia terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia dan diapit oleh dua
samudra yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Hal ini menempatkan peran strategis
indonesia di mata internasional termasuk Australia. Indonesia setidaknya memiliki tiga selat
yang menjadi lintas perdagangan internasonal yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan
Samudra Hindia, yaitu selat malaka, selat sunda dan selat lombok. Oleh karena hal inilah
Indonesia bernilai strategis secara politik.
Hubungan Internasional antara Australia dan Indonesia diawali saat Indonesia berjuang
mencapai kemerdekaan pada tahun 1945. Pada masa itu australia bersimpati terhadap
perjuangan Indonesia.Walaupun hubungan antara Australia dan Indonesia awalnya berjalan
baik dan harmonis,bukan berarti hubungan itu bersifat statis.Sejarah mencatat hubungan kedua
negara ini sering mengalami pasang surut.Adakalanya hubungan diplomatik Indonesia-Australia
berjalan baik tanpa kendala yang berarti,namun tak jarang hubungan keduanya memanas.
Menurut Evans (1991:186) hubungan Australia dan Indonesia dapat diibaratkan sebagai roller
coaster ,yang suatu ketika mengalami peningkatan suatu hubungan,namun juga selalu diikuti
oleh penurunan hubungan. Evans (1991; 186) juga menyatakan bahwa Australia mendukung
Indonesia dan sangat menentang kolonialisme Belanda. Dukungan Australia terhadap
Indonesia terlihat ketika tahun 1950, Australia mendukung Indonesia bergabung dalam
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Lebih jauh lagi, sebagai tetangga dekat, Indonesia menempati posisi penting bagi
Australia. Oleh sebab itu secara geopolitik Indonesia menjadi salah satu perhatian utama
kebijakan luar negeri Australia. Australia dan Indonesia bekerja sama dalam berbagai bidang,
yaitu Ekonomi, Pendidikan, Climate change, Pariwisata, Pertahanan keamanan dan Sosial
Kemanusiaan
Secara umum hubungan Indonesia-Australia cukup selalu berusaha memanfaatkan
setiap peluang yang ada untuk peningkatan berbagai kerjasama bilateral. Dukungan Australia
terhadap keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan faktor kunci
dalam upaya meningkatakan hubungan bilateral tersebut. Untuk konteks yang lebih luas, dan
dalam rangka membangun hubungan yang saling menguntungkan, telah pula ada kerjasama
Indonesia-Australia yang tertuang dalam Lombok Treaty. Lombok Treaty adalah kerjasama di
bidang keamanan yang dibuat pada 13 November 2006, yang kemudian diratifikasi pada tahun
2007. Perjanjian kerjasama ini diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 47
tahun 2007 Tentang Pengesahan Perjanjian Antara Republik Indonesia dan Australia tentang
Kerangka Kerjasama Keamanan yang meliputi 21 kerjasama keamanan yang terangkum dalam
10 bidang, yaitu kerjasama bidang pertahanan, penegakan hukum, anti-terorisme, kerjasama
intelijen, keamanan maritim, keselamatan dan penerbangan, pencegahan perluasan (non-
proliferasi) senjata pemusnah masal, kerjasama tanggap darurat, organinasi multilateral, dan
peningkatan saling pengertian dan saling kontak antar-masyarakat dan antar-perseorangan.
Lombok Treaty secara formal memang mengatur mengenai kerjasama dua negara di
bidang keamanan akan tetapi, apabila dikaitkan dengan konteks sejarah hubungan bilateral
antara Indonesia dan Australia, perjanjian ini dapat dikatakan menjadi semacam peredam
ketegangan dari persoalan pemberian suaka kepada 43 warga Papua Barat yang melarikan diri
ke Australia. Kasus Papua Barat memang dapat dikatakan sebagai pemicu atau latar belakang
utama dari penandatanganan Lombok Treaty. Akan tetapi, tidak dapat diabaikan bahwa isu
terorisme yang marak terjadi di Indonesia juga turut melatarabelakangi ditandatanganinya
Lombok Treaty oleh Indonesia dan Australia.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa dampak dari terkuaknya penyadapan yang dilakukan oleh Badan Intelijen Australia
terhadap prospek kerjasama di bidang pertahanan keamanan yang dilakukan oleh
Indonesia dan Australia?
BAB II
PEMBAHASAN

Hubungan bilateral Indonesia dan Australia tergolong hubungan yang sangat unik, di
satu sisi menjanjikan berbagai peluang kerjasama namun di sisi lain juga penuh dengan
berbagai tantangan. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai perbedaan menyolok diantara kedua
negara dan bangsa bertetangga, yang terkait dengan kebudayaan, tingkat kemajuan
pembangunan, orientasi politik yang mengakibatkan pula perbedaan prioritas kepentingan.
Tidak dipungkiri, perbedaan-perbedaan tersebut akan menciptakan berbagai masalah yang
akan selalu mewarnai hubungan kedua negara di masa-masa mendatang. Jika ada yang
berpendapat bahwa pada suatu titik hubungan kedua negara akan tercipta sedemikian rupa
sehingga terbebas dari masalah. Sebaliknya data empiris menunjukkan bahwa hubungan
kedua negara memiliki kecenderungan yang sangat fluktuatif, sehingga para pemimpin serta
masyarakat kedua negara dituntut untuk selalu siap dengan berbagai solusi menghadapi setiap
masalah yang muncul.
Di bidang Keamanan Indonesia dan Australia bekerja sama dengan membuat perjanjian
Lombok Treaty. Indonesia dan Australia menandatangani sebuah perjanjian keamanan Lombok
Treaty Pada 13 November 2006, yang kemudian diratifikasi pada tahun 2007. Perjanjian
kerjasama ini diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 47 tahun 2007 Tentang
Pengesahan Perjanjian Antara Republik Indonesia dan Australia tentang Kerangka Kerjasama
Keamanan. Perjanjian tersebut meliputi 21 kerjasama keamanan yang terangkum dalam 10
bidang, yaitu kerjasama bidang pertahanan, penegakan hukum, anti-terorisme, kerjasama
intelijen, keamanan maritim, keselamatan dan penerbangan, pencegahan perluasan (non-
proliferasi) senjata pemusnah masal, kerjasama tanggap darurat, organinasi multilateral, dan
peningkatan saling pengertian dan saling kontak antar-masyarakat dan antar-perseorangan.
Terbentuknya Lombok Treaty didasarkan pada pengalaman kedua negara dalam menjalin
hubungan bilateral. Dari pengalaman-pengalaman tersebutlah tersusun pasal-pasal yang
mengatur hubungan kerjasama keduanya. Prinsip-prinsip dalam Lombok Treaty telah menjadi
prinsip kerjasama bagi Indonesia dan Australia. Perjanjian internasional menjelaskan bahwa
Lombok Treaty signifikan bagi kerjasama pertahanan Indonesia-Australia karena perjanjian
tersebut merupakan kerangka yang mengatur aktivitas kerjasama pertahanan Indonesia-
Australia. Adanya kerangka kerjasama yang jelas mampu meningkatkan kerjasama pertahanan
kedua negara dalam menghadapi isu-isu keamanan, baik tradisional maupun non-tradisional.
Common security menjelaskan tentang konsep kerjasama pertahanan yang didasarkan pada
prinsip non-provokatif. Sedangkan cooperative security menjelaskan tentang isu keamanan saat
ini tidak hanya menyangkut militer, melainkan juga menyangkut isu-isu keamanan non-
tradisional, sehingga diperlukan kerjasama untuk mengatasinya. Lombok Treaty membuat
kerjasama pertahanan Indonesia-Australia menjadi komprehensif dengan dilakukannya dialog
bilateral yang rutin dan latihan militer bersama.
Indonesia dan Australia selama ini merupakan partner strategis dan kawan dalam
bidang perdagangan serta keamanan, khususnya dalam program anti terorisme.Australia
membantu melatih pasukan elit anti teror kepolisian Indonesia setelah tragedi bom Bali 2002
yang sebagian besar merenggut nyawa warga Australia yang sedang berlibur.Indonesia juga
merupakan penerima dana bantuan terbesar dari Australia.Indonesia dan Australia juga
bekerjasama dalam hal pertahanan. Bukan baru kemarin Indonesia dengan Australia menjalin
kerjasama militer dan pertahanan.
Sejarah membuktikan, kedua negara sudah menjalin hubungan di bidang itu selama
lebih dari 60 tahun silam.Hubungan itu dimulai tahun 1947. Kala itu, pengamat militer Australia
datang ke Indonesia sebagai utusan PBB untuk mengawasi gencatan senjata antara pasukan
Indonesia dan Belanda.Sampai saat ini, kerjasama militer kedua negara masih terjalin. Latihan
militer, kerjasama pertahanan dan forum dialog kedua negara sering digelar. Kerjasama dalam
bentuk operasi bersama juga sering dilakukan. Di bidang pendidikan militer, pertukaran pelajar
baru, logistik, juga dijalin kedua negara.Salah satu kerjasama forum dialog adalah forum
Indonesia-Australia. Forum dialog yang terbentuk pada tahun 2001 ini awalnya bernama
Pertemuan Informal Indonesia-Australia. Tapi pada pertemuan ke-2 di Yogyakarta, kedua
delegasi sepakat untuk memberi nama Indonesia-Australia Defence Strategic Dialogue
(IADSD). Forum digelar secara bergantian, di Indonesia dan Australia. Selain itu ada perjanjian
bilateral antara Indonesia-Australia yang dirumuskan dalam Traktat Lombok tahun 2008.
Perjanjian ini meliputi 10 bidang, antara lain kerjasama bidang pertahanan dan keamanan,
penegakan hukum, anti-terorisme, dan keamanan maritim.Perjanjian ini menegaskan prinsip-
prinsip saling menghormati dan mendukung kedaulatan, integritas teritorial, kesatuan bangsa
dan kemerdekaan politik setiap pihak, serta tidak campur tangan urusan dalam negeri masing-
masing.Terkait terorisme, tragedi Bom Bali I, menjadi awal kerjasama kedua negara. Peristiwa
itu menyebabkan banyak korban tewas berasal dari Australia. Sebagai negara tetangga,
Australia sangat berkepentingan untuk melakukan kerjasama antiteror dengan Indonesia. Soal
penanganan terorisme, pemerintah Australia dan Amerika Serikat ikut serta memberi bantuan
dalam pembentukan dan operasional Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Australia sangat
terbantu oleh operasi aparat keamanan Indonesia dalam membasmi jaringan teroris yang
mengancam warga mereka di Indonesia. Kerjasama Polri dengan Australia saat ini adalah
berupa peralatan dan perlengkapan milik Polri. Barang-barang tersebut adalah Jakarta Center
for Law Enforcement (JCLEC) yang terletak di Semarang. Program penanggulangan trans
national crime, people smuggling, trafficking in person, dan terorisme. Program itu semua itu
dibantu oleh Australia.Polri dan Australian Federal Police (AFP) juga memiliki program pelatihan
dan dukungan laboratorium cyber crime Bareskrim dan laboratorium DNA di Cipinang guna
pengungkapan kasus. Indonesia Police Watch (IPW) mengimbau Polri segera mengevaluasi
berbagai peralatannya, terutama alat-alat sadap bantuan dari Australia. Dalam bidang anti-
terorisme, Indonesia dan Australia menempatkan diri dalam posisi masing-masing dalam upaya
untuk mencegah tindakan terorisme di kedua negara dan memburu para aktor utama terorisme
ini. Untuk itu, kerjasama dalam bidang anti-terorisme erat kaitannya dengan kegiatan intelijen.
Kerjasama dengan cara pertukaran informasi antara kedua badan intelijen nasional dilakukan
untuk berbagi informasi mengenai keberadaan dan rencana-rencana para pelaku teror. Salah
satu bidang kerjasama yang sangat intens dilakukan olen Indonesia-Australia ialah bidang
pertahanan.
Lombok Treaty secara formal memang mengatur mengenai kerjasama dua negara di
bidang keamanan akan tetapi, apabila dikaitkan dengan konteks sejarah hubungan bilateral
antara Indonesia dan Australia, perjanjian ini dapat dikatakan menjadi semacam peredam
ketegangan dari persoalan pemberian suaka kepada 43 warga Papua Barat yang melarikan diri
ke Australia. Kasus Papua Barat memang dapat dikatakan sebagai pemicu atau latar belakang
utama dari penandatanganan Lombok Treaty. Akan tetapi, tidak dapat diabaikan bahwa isu
terorisme yang marak terjadi di Indonesia juga turut melatarabelakangi ditandatanganinya
Lombok Treaty oleh Indonesia dan Australia. Dari tahun 2002 hingga 2005, telah terjadi
pengeboman di berbagai daerah di Indonesia. Pengeboman tersebut tidak hanya merugikan
dan menjadi ancaman bagi Indonesia semata tetapi juga berdampak kepada Australia yang
turut menjadi korban dalam berbagai pengeboman tersebut.
Bom Bali I yang terjadi pada 12 Oktober 2002 merupakan salah satu aksi terorisme
terparah yang terjadi dekat dengan tepi laut Australia. Jumlah korban dari pengeboman Bom
Bali I ini mencapai kepada jumlah 202 jiwa. 88 dari keseluruhan korban ini merupakan orang
Australia. Selain yang tewas, pengeboman ini menyebabkan terlukanya 209 orang. Kemudian
pada tahun 2003, tepatnya 5 Agustus 2003, terjadi kembali pengeboman di Hotel Marriot yang
menyebabkan tewasnya 12 orang dan terlukanya 150 orang. Dalam kasus ini memang tidak
terdapat warga negara Australia yang menjadi korban akan tetapi fakta terjadinya pengeboman
ini jelan menunjukkan maraknya terorisme di Indonesia. Pada tanggal 9 September 2004,
bahkan terjadi pengeboman di luar Kedutaan Australia di Indonesia yang berlokasi di Kuningan,
Jakarta Selatan. Pengeboman ini menewaskan sembilan orang dan melukai setidaknya seratus
lima puluh orang. Hal ini jelas menimbulkan reaksi keras dari pihak Australia dan Indonesia.
Lombok Treaty dinilai sangat unik saat perjanjian ini memuat pula mekanisme
kerjasama dari agency ke agency, yaitu dari artinya tidak hanya antar departemen pertahanan
pemerintahan Indonesia dengan pemerintahan Australia, terlebih lagi TNI bekerjasama
langsung dengan agen pertahanan Australia. Penjelasan tentang kerangka kerjasama
Perjanjian Keamanan tertuang dalam pasal 3 perjanjian mengenai area dan bentuk kerjasama
dalam berbagai bidang, diantaranya;
Di bidang pertahanan
Indonesia mengawali kerjasama pertahanan dengan Australia sejak tahun 1968
dengan program pemetaan di Indonesia. Selanjutnya pada dekade 1980an, kerjasama
tersebut diwadahi pada suatu lembaga yang disebut Indonesia-Australia Defence
Cooperation Program (DCP). DCP ini memiliki kegiatan rutin setiap tahun berupa
pertemuan yang dilaksanakan secara bergiliran di Australia dan Indonesia. Beberapa
kerjasama yang dilakukan selama ini adalah Latihan Kartika-Kangaro (TNI-AD); Latihan
Albatros dan Latihan Kakadu (TNI-AU); latihan Cassoary, Passex dan latihan Cakrawala
Baru serta pengadaan kapal patroli dan pesawat Nomad (TNI-AL).
Kendati kerjasama militer kedua negara sempat terganggu akibat krisis Timor
Timur 1999 dengan dihentikannya seluruh kegiatan DCP kecuali program pendidikan,
kedua belah pihak berupaya kembali memperbaiki kerjasama bilateralnya yang ditandai
dengan penyelenggaraan pertemuan informal pejabat Dephan RI dan Dephan Australia
tahun 2001. Selanjutnya kedua negara melakukan dialog strategis pertahanan (IADSD)
yang sampai tahun 2007 kemarin sudah berlangsung untuk kelima kalinya. Forum tersebut
menyepakati 41 bidang kerjasama yang terkait dengan kontra terorisme dan intelijen,
keamanan maritim, pasukan penjaga perdamaian, penanggulangan bencana dan bantuan
kemanusiaan, serta manajemen pertahanan. Bidang kerjasama di atas merupakan bidang
kerjasama yang juga disepakati dalam perjanjian keamanan (Lombok Treaty). Oleh karena
itu implementasi dari perjanjian tersebut banyak dibicarakan pada forum IADSD, yang
mana bertujuan untuk memperkuat kerjasama pertahanan yang sudah terbentuk antara
TNI dengan ADF dan membuat inisiatif baru di bidang pertahanan tentang peluang
kerjasama ke depan bagi kedua negara. Salah satu faktor yang mendasari adanya bentuk
kerjasama di bidang pertahanan adalah faktor geografi, dimana Indonesia memiliki
karakteristik geografi yang terbuka, utamanya dimensi maritim. Ancaman keamanan
dewasa ini lebih banyak di dominasi oleh ancaman non-tradisional yang banyak
memanfaatkan jalur laut seperti penyelundupan manusia, penyelundupan senjata,
pembajakan laut, terorisme maritim, yang juga memiliki peluang terhadap adanya eskalasi
gerakan separatis dan konflik komunal, khususnya di Indonesia Timur. Hal ini perlu
dilakukan untuk menjaga integritas wilayah NKRI.
Meskipun DCA (Defence Cooperation Agreement) dari kerjasama keamanan ini
belum dirumuskan, akan tetapi berdasarkan traktat ini, kedua negara sepakat untuk
meningkatkan kerjasama bidang pertahanan dalam payung hukum yang lebih tinggi,
seperti nota kesepahaman yang kini masih dimatangkan kedua pihak. Beberapa bentuk
kerjasama yang sudah dilaksanakan antara lain; latihan bersama antara TNI dengan ADF,
pengiriman perwira masing-masing negara untuk mengikuti Sesko dan Lemhanas,
kerjasama pengembangan SDM berupa pemberian beasiswa dari pemerintah Australia di
bidang studi manajemen pertahanan, penelitian dan analisis bidang intelijen, seminar
keamanan maritim, manajemen konsekuensi dan kontra terorisme dan seminar tentang
pasukan penjaga perdamaian. Selanjutnya juga pemberian bantuan oleh Australia
(capacity building) berupa suku cadang Hercules C-130E senilai Rp. 2,8 miliar kepada TNI
AU guna meningkatkan kemampuan TNI AU dalam operasi bantuan kemanusiaan dan
penanggulangan bencana di tanah air.
Di bidang kerjasama intelijen
Bidang ini mencakup kerjasama dan pertukaran informasi intelijen atas isu-isu
keamanan, dengan melibatkan berbagai lembaga dan kantor terkait, sesuai dengan
perundang-undangan yang berlaku di tingkat nasional dan sebatas tanggung jawab
masing-masing. Dalam pengumpulan informasi, sharing intelijen yang digunakan adalah
setiap bahan keterangan yang diperlukan dalam proses penyelidikan atau penyidikan
dalam rangka penegakan hukum. Pelaksanaan atas sharing intelijen ini juga harus
disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan negara masing-masing. Bill Farmer
lebih lanjut menjelaskan tentang bentuk sharing intelijen, diantaranya adalah mengenai
penangkapan ikan secara ilegal di perairan Indonesia dan Australia. Kedua negara
berkomitmen untuk menanggulangi penangkapan ikan secara ilegal yang dilakukan oleh
negara ketiga, seperti kapal yang berasal dari China dan Taiwan. Dalam konteks isu
gerakan separatis di Indonesia, bisa di deteksi dengan pengumpulan informasi dan data,
analisa informasi intelijen atau fungsi-fungsi yang terkait dengan pencegahan dini.
Selain itu, perjanjian keamanan Indonesia-Australia 2006 ini juga menjadi landasan
hukum bagi kerangka kerjasama keamanan yang meliputi sepuluh bidang kerjasama
keamanan. Meskipun mencakup kerjasama dalam bidang pertahanan, perjanjian ini bukan
merupakan suatu pakta militer atau mengarah pada pembentukan pakta militer. Dalam
rangka memastikan pelaksanaan perjanjian ini secara efektif, Indonesia dan Australia
sepakat untuk melakukan pertemuan berkala dalam forum bilateral Indonesia Australia
Ministerial Forum (IAMF) yang sudah berlangsung sejak tahun 1992. Untuk memperkuat
hubungan bilateral dan kerjasama diatas, maka Pemerintah Republik Indonesia dan
Pemerintah Australia telah menyepakati perjanjian antara Republik Indonesia dan Australia
tentang Kerangka Kerjasama Keamanan (Agreement Between The Republic of Indonesia
and Australia on The Framework for Security Cooperation).

Di bidang pemberantasan terorisme

Kedua negara menyadari akan adanya suatu kebutuhan untuk melakukan
kerjasama internasional dalam penanggulangan masalah terorisme. Upaya kerjasama
dilakukan untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalisme kepolisian dan intelijen
dalam mendeteksi dan mengeliminir berbagai ancaman, tantangan, dan gangguan yang
berpengaruh terhadap kepentingan nasional, khususnya dalam hal pencegahan,
penindakan dan penanggulangan terorisme. Hal ini dikarenakan Pemerintah Australia
menempatkan prioritas setinggi-tingginya dalam upaya memerangi ancaman terorisme baik
di dalam maupun di luar negeri. Keberhasilan hanya akan tercapai melalui usaha bersama
dengan bentuk kerjasama, baik bilateral maupun multilateral.
Secara umum, capacity building sering ditujukan kepada sebuah bantuan dan
pertolongan yang diberikan kepada negara-negara berkembang yang ingin
mengembangkan kemampuan dan kompetensinya. Lebih spesifik, capacity building
merupakan suatu peningkatan kemampuan dan sumber daya dari individu, organisasi atau
komunitas untuk dapat melakukan suatu perubahan.



Di bawah ini merupakan bidang kerjasama yang dilakukan oleh Polri dan AFP dalam
bidang pemberantasan teroris :
a. Kerjasama operasi bersama
Dalam kegiatan operasi bersama, akan diberikan arahan pada operasi-operasi
penanggulangan kejahatan lintas batas negara dan mengevaluasi implikasi-implikasi
dari operasi tersebut terhadap sumber daya organisasi. Kelompok kerja bersama akan
menyusun dan menyepakati protokol yang mengatur tentang penetapan dan persiapan
target operasi bersama, menyiapkan rencana pelaksanaan operasi bersama, termasuk
dalam pendanaan dan pengelolaan serta pengamanan informasi.
b. Pertukaran informasi intelijen (sharing intelijen) dalam rangka penegakan hukum
Strategi yang digunakan adalah pengembangan dan peningkatan kemampuan melalui
pertukaran informasi intelijen yang berkaitan dengan berbagai jenis kejahatan lintas
negara berdasarkan hukum tiap jurisdiksi. Selain itu, juga akan dilakukan peningkatan
manajemen informasi yang akan berguna untuk membantu dalam mengenali dan
mengembangkan peluang-peluang penyidikan terhadap berbagai jenis kejahatan lintas
negara.
c.Pembentukan dan penambahan kantor penghubung dan penempatan perwira
penghubung di kedua negara atas kesepakatan para pihak.
Kantor penghubung antara Polri dan AFP di Indonesia berada di kantor Duta Besar
Australia di Jl. HR. Rasuna Said Kav.C 15-16 Jakarta Selatan, dengan empat perwira
penghubung; yakni Bruce Hill, Marzio Da Re, Glen Fisher dan Dean Wealands.86
Sedangkan Polri memiliki kantor penghubung yang berada di Kantor Kedutaan Besar
Republik Indonesia di Canberra Australia dengan seorang perwira penghubung, yakni
Kombes Pol. Drs. Estasius Widyo Sunaryo.
d. Bantuan kerjasama dalam pengembangan SDM dan peralatan.
Dalam peningkatan kemampuan kelembagaan, dilakukan melalui cara-cara seperti
pertukaran personil untuk tugas belajar, program pelatihan, mengadakan seminar dan
konferensi serta penyediaan peralatan. Realisasi dalam kerjasama pengembangan SDM
diantaranya dalam bidang pendidikan, yang berupa pengiriman 4 perwira Polri untuk
mengikuti program Master of Transnational Crime Prevention (MTCP) di Universitas
Wollongong. Program ini dibiayai bersama antara Polri dan AusAID. Dalam bidang
bantuan teknis, sarana dan prasarana, diantaranya; pembangunan Laboratorium DNA
Pusdokkes Polri, Pembangunan Gedung TNCC (Transnational Crime Coordination
Centre), Gedung Sekretariat Tim DVI Indonesia. Kerjasama antara Indonesia dan
Australia di bidang penanganan terorisme di atas, yang di implementasikan melalui
institusi Polri dan AFP, mendapatkan banyak bantuan yang di berikan oleh Australia,
mulai dari bantuan dana, pembangunan sarana dan prasarana, dan berbagai macam
bentuk bantuan lainnya yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas Polri dalam
menangani terorisme.

Di bidang Penegakan Hukum

Dalam bidang penegakan hukum, kerjasama antar lembaga dan badan terkait,
termasuk penuntut umum, digunakan untuk mencegah, menangani dan menyelidiki
kejahatan transnasional yang berdampak pada keamanan kedua pihak. Bidang ini juga
melibatkan kepolisian kedua negara, karena memasukkan unsur-unsur pencegahan,
daya tangkap dan penelusuran atas kejahatan lintas negara. Kejahatan tersebut
diantaranya adalah; penyelundupan dan perdagangan orang, pencucian uang,
pendanaan terorisme, korupsi, penangkapan ikan ilegal, kejahatan dunia maya,
perdagangan gelap narkotika, perdagangan gelap senjata, amunisi, peledak dan
material lainnya. Selanjutnya salah satu dari bentuk kejahatan transnasional, yakni
people smuggling, dimana Indonesia dan Australia melakukan upaya kerjasama dalam
penegakan hukumnya.
Kerjasama dalam bidang penegakan hukum, khususnya masalah migrasi ilegal
dan people smuggling, sudah dimulai antara kedua negara sejak tahun 2002.
Pemerintah Indonesia dan Australia pada waktu itu menyelenggarakan Konferensi
Tingkat Menteri yang membahas kejahatan people smuggling, perdagangan perempuan
dan anak-anak. Termasuk dalam kerjasama bidang penegakan hukum, yakni kerjasama
antar kepolisian dalam penanganan kejahatan lintas batas (transnational crime),
utamanya yang terkait dengan penyelundupan, perdagangan manusia, perdagangan
obat bius dan terorisme. Dalam kerangka kerjasama ini pula, kedua negara menyambut
baik kelanjutan program capacity building dalam kerangka kerja sama penegakan
hukum melalui Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC). Langkah di
atas diambil oleh kedua negara karena beberapa alasan. Pertama, adanya peningkatan
migrasi ilegal dan kejahatan people smuggling. Berikut akan disajikan tabel peningkatan
kejahatan migrasi ilegal yang memanfaatkan jalur laut. Baru-baru ini, kedua negara telah
sepakat untuk mengembangkan mekanisme dalam menangani masalah penyelundupan
manusia secara praktis dan efektif. Kesepakatan ini dimulai dalam kunjungan Presiden
SBY ke Parlemen Australia bulan Maret kemarin. Kesepakatan mengenai people
smuggling and trafficking in person di atas ditandatangani kedua pemerintah yang
diwakili oleh Hamzah Thayeb (Direktur Asia Pasifik dan Afrika Departemen Luar Negeri
RI) dan James Larsen (Ambassador for People Smuggling Department of Foreign Affairs
and Trade). Kerjasama ini merupakan salah satu bentuk (plan of action) dari perjanjian
keamanan Lombok Treaty. Kesepakatan di atas merupakan bentuk penyediaan
mekanisme untuk meningkatkan koordinasi antara kedua negara dalam isu people
smuggling. Adapun bentuk pelaksanaannya adalah capacity building dan sharing of
expertise, information and resources. Untuk memaksimalkan pencegahan isu di atas,
koordinasi internal pemerintah mutlak dibutuhkan, seperti antara Dirjen Imigrasi dan
Kementerian Hukum dan HAM.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kerjasama pertahanan berlangsung cukup
baik apalagi setelah ditandatanganinya Lombok Treaty. Lombok Treaty seakan menjadi solusi
bagi gesekan hubungan di antara kedua negara yang kadang menemui jalan buntu. Lombok
Treaty menjadi batu loncatan yang sangat besar bagi kedua negara dalam memperbaiki
hubungannya. Namun Indonesia cenderung harus lebih hati-hati dalam menindaklanjuti Lombok
Treaty ini. Seperti yang sudah disebutkan, Australia memiliki kepentingan terhadap beberapa
wilayah krusial di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah Indonesia sebaiknya lebih bisa
menempatkan diri dalam peran yang tepat dalam proses kerjasama yang akan berlanjut
nantinya. Konsistensi kedua pihak dalam menegakkan Lombok Treaty sangat diperlukan
karena dengan demikian dapat menjamin kerjasama yang lebih baik di masa depan.
Jika dilihat melalui prospek ke depannya kerjasama di bidang pertahanan keamanan ini
memang baik dan saling menguntungkan kedua negara. Namun adanya kerjasama tersebut
belakangan ini perlu ditindaklanjuti lagi akibat adanya Penyadapan yang dilakukan oleh Badan
Intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pejabat tinggi
lainnya. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan penyadapan itu berdampak
sangat serius terhadap hubungan Indonesia dan Australia. Kondisi tersebut mengakibatkan
duta besar sulit dalam menjalankan tugasnya. Penyadapan itu dilakukan oleh pemerintah
Australia melalui penggunaan misi diplomatik di Jakarta terhadap Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, Wakil Presiden Budiono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Presiden juga
memutuskan menghentikan sementara tiga kerja sama RI-Australia, yakni kerja sama
pertukaran informasi dan data intelijen di antara kedua negara, menghentikan seluruh kerja
sama latihan bersama antara TNI dan Australia, serta kerja sama operasi militer dan bidang
hukum terkait dengan penyelundupan manusia. Apabila kerjasama tersebut di berhentikan
maka Australialah pihak yang paling rugi. Karena Australia tergantung kepada indonesia dalam
bidang Militer seperti pertukaran kerjasama yang dilakukan selama ini adalah Latihan Kartika-
Kangaro (TNI-AD); Latihan Albatros dan Latihan Kakadu (TNI-AU); latihan Cassoary, Passex
dan latihan Cakrawala Baru serta pengadaan kapal patroli dan pesawat Nomad (TNI-AL). Salah
satu latihan gabungan yang dihentikan oleh Pemerintah Indonesia adalah Elang Ausindo. Indonesia
dalam kesempatan itu mengirimkan enam pesawat F-16 dan rencananya selesai pada 24
November.
Selain itu dibidang terorisme seperti kerjasama yang dilakukan oleh Polri dan AFP
(Australian Federal Police) dalam bidang pemberantasan teroris dengan meningkatkan
kemampuan profesionalisme kepolisian dan intelijen dalam mendeteksi dan mengeliminir
berbagai ancaman, tantangan, dan gangguan yang berpengaruh terhadap kepentingan
nasional, khususnya dalam hal pencegahan, penindakan dan penanggulangan terorisme. Hal
ini dikarenakan Pemerintah Australia menempatkan prioritas setinggi-tingginya dalam upaya
memerangi ancaman terorisme baik di dalam maupun di luar negeri. Keberhasilan hanya akan
tercapai melalui usaha bersama dengan bentuk kerjasama, baik bilateral maupun multilateral.
Apa yang dilakukan pemerintah Australia sangat beralasan karena banyaknya warga Australia
yang tewas akibat tragedi Bom Bali di Indonesia 2002 sampai 2005. Indonesia akan segera
mengambil langkah-langkah diplomatik terukur untuk menyikapi penyadapan yang dilakukan oleh
Australia.
Akibat adanya penyadapan tersebut Duta besar Indonesia untuk Australia Nadjib Riphat
Kesoema sudah meninggalkan Canberra. Indonesia memanggil pulang Nadjib Riphat sebagai
reaksi atas terkuaknya penyadapan telepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ibu
Negara Hj. Ani Yudhoyono, dan beberapa pejabat senior lain di Indonesia oleh intelijen Australia.
Selain memanggil pulang duta besar Indonesia untuk Australia Pemerintah juga tengah meninjau
ulang hubungan kerja sama dengan Australia secara umum, bukan hanya bidang Militer tetapi hal
kerjasama utama lainnya meliputi pertukaran informasi dan bidang hukum menyangkut masalah
penyelundupan manusia (people smuggling). Inti persoalan kasus ini adalah penyadapan,
sesuatu yang melanggar hak azasi, melanggar hak privat seseorang, mencederai dan merusak
hubungan bilateral Indonesia - Australia. Selain itu Australia juga melanggar isi perjanjian yang
ada didalam Lombok Treaty. Dalam Lombok Treaty di jelaskan bahwa Prinsip yang menjadi
dasar pelaksanaan hubungan bilateral kedua negara adalah:
a. kesetaraan dan saling menguntungkan;
b. saling menghargai dan mendukung kedaulatan, integritas wilayah, kesatuan nasional, dan
kemerdekaan politik;
c. tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing;
d. tidak mendukung atau berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan, baik yang dilakukan
oleh orang dan/atau lembaga, yang mengancam stabilitas, kedaulatan dan/atau integritas
wilayah Pihak lain, termasuk menggunakan wilayahnya untuk melakukan kegiatan
separatisme;
e. menyelesaikan sengketa secara damai; dan
f. tidak menggunakan ancaman atau menggunakan tindakan kekerasan

Di dalam perjanjian tersebut ditegaskan prinsip-prinsip saling menghormati dan
mendukung kedaulatan, integritas teritorial, kesatuan bangsa dan kemerdekaan politik setiap
pihak, serta tidak campur tangan urusan dalam negeri masing-masing negara. Sudah jelas
Tindakan penyadapan bahkan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran atas Pasal 9 karena
bersifat merugikan kepentingan Indonesia. Oleh karena itu, sah-sah saja bila pemerintah
memutuskan tindakan lebih serius, termasuk mengusir Dubes Australia dari Jakarta.
Namun, kita tentu harus memikirkannya lebih matang, berhati-hati, lebih rasional dan
tetap harus mencermati sebelum tindakan drastis akan ditempuh. Hal tersebut perlu karena
peta politik sekarang tentu jauh berbeda dengan masa ketika Presiden Soekarno yang kecewa
terhadap AS dan Barat sehingga keputusan yang akan kita ambil harus benar-benar
diperhitungkan untung ruginya. Hal ini disebabkan Australia merupakan tetangga dan mitra
strategis. Di Australia sendiri banyak pihak yang menyesalkan sikap Perdana Menteri Abbot,
yang tidak mau meminta maaf kepada Indonesia dan menilai sikap itu mengorbankan
hubungan baik yang sudah lama terbina. Australia tidak bisa lagi membanggakan diri di depan
kita sebagai bagian dunia Barat yang super dan lebih hebat. Mereka tetap membutuhkan kerja
sama dengan kita sebagai tetangga terdekat.
Australia juga akan menderita kerugian bila mengabaikan kerja samanya dengan
Indonesia, baik dari aspek ekonomis, politik, maupun pertahanan. Bagaimanapun Indonesia
akan berkembang cepat dan menjadi kekuatan yang makin diperhitungkan karena kekayaan
alam, jumlah penduduk, pasar yang sangat besar, maupun kekuatan politik dan pertahanannya.
Kita percaya bahwa persoalan yang memanas ini bisa didinginkan. Pemerintah memang harus
menempuh tindakan yang lebih tegas, tetapi dengan perhitungan yang matang. Bukan hanya
untuk memenuhi hasrat sesaat yang sering bercampur aduk dengan emosionalitas publik. Di
sinilah presiden Susilo Bambang Yudhoyono diuji untuk tidak mengumbar emosi demi mengejar
dukungan dan popularitasnya, tetapi juga tetap berkepala dingin dengan memperhitungkan
masa depan indonesia.
Australia menyadap Indonesia dikarenakan Australia merupakan satpam penjaga
kepentingan Amerika Serikat di Asia Pasifik. Jika Australia berhenti menyadap Indonesia bukan
tidak mungkin jika di waktu yang akan datang saat kondisi sudah tenang Australia akan kembai
menyadap Indonesia. Oleh karrena itu diperlukan kode etik (code of conduct) dan guiding principle
menyangkut kerja sama di berbagai bidang. Protokol dan code of conduct itu sifatnya mengingat,
jelas, dan dijalankan.
Tidak ada alasan yang tepat untuk membenarkan aksi spionase yang dilakukan Australia.
Pasalnya, sekarang bukan era perang dingin, di mana negara-negara saling mengintai. Apalagi,
posisi Indonesia dan Australia tidak bersebrangan. Aturan hukum di banyak negara juga tidak
membenarkan aksi penyadapan terhadap pejabat negara lain. Apabila penyadapan tetap
berlangsung tidak menutup kemungkinan jika Indonesia benar-benar putus hubungan dengan
Australia termasuk dalam bidang pertahanan keamanan ini. Tentu Australia lah pihak yang
paling dirugikan apabila hal tersebut benar terjadi. Penyadapan akan menentukan masa depan
hubungan Indonesia dan Australia. Sejauh ini, hubungan dan kerja sama Indonesia dan
Australia berjalan baik. Penyadapan hanya boleh dilakukan terhadap para pelaku yang
mengganggu stabilitas keamanan dan harus dikoordinasikan dengan badan intelijen negara
setempat.

















BAB III
RESUM KEBIJAKAN ATAU KERJASAMA

1. KEMITRAAN STRATEGIS PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN
NATIONAL LIBRARY OF AUSTRALIA DALAM MENDUKUNG HUBUNGAN BILATERAL
INDONESIA DAN AUSTRALIA

Kemitraan Perpustakaan Nasional RI dan National Library of Australia memasuki
momentum baru seiring ditandatanganinya nota kesepahaman pada tanggal 6 Mei 2008.
Penandatanganan nota kesepahaman ini bertujuan memperkuat kemitraan yang telah lama
terjalin sekaligus menegaskan kembali nota kesepahaman yang telah ditandatangani
sebelumnya pada tahun 2002. Area kerja sama yang dimaksud meliputi : pertukaran
publikasi, kebijakan pengembangan koleksi, pertukaran data bibliografis, konsultasi
informasi mengenai preservasi koleksi, pinjam antarperpustakaan, dan kunjungan staf
perpustakaan. Kehadiran Bill Farmer, Duta Besar Australia untuk Indonesia pada acara
penandatanganan nota kesepahaman dan kunjungan Ibu Negara Theresia Rein, istri
Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd ke Perpustakaan Nasional RI pada tanggal 13 Juni
2009 memiliki makna simbolis pentingnya kemitraaan Perpustakaan Nasional dalam
hubungan bilateral kedua negara yang kerapkali mengalami pasang surut.
Fungsi Perpustakaan Nasional RI dalam menjalankan kemitraan telah digariskan
dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, khususnya pada Bab Ketentuan
Umum, Pasal 2 dan 3. Pasal-pasal itu menyebutkan bahwa Perpustakaan diselenggarakan
berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan,
keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Kemudian dilanjutkan, Perpustakaan berfungsi
sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk
meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Sebagai sebuah organisasi yang
menjadi bagian dari pemerintah, Perpustakaan Nasional RI harus senantiasa
menyesuaikan diri terhadap perkembangan yang terjadi dan bertindak seperti yang
diinginkan lingkungannya, salah satunya adalah menjalin kemitraan dengan perpustakaan
sejenis. Perpustakaan Nasional RI sebagai sebuah institusi budaya dan simbol identitas
bangsa harus memaksimalkan fungsi budaya dan pendidikannya, yakni dengan tidak
hanya sebagai menjalankan peran tradisionalnya sebagai pelestari khasanah budaya
bangsa tetapi mampu berperan aktif sebagai mediator budaya di aras internasional demi
kepentingan nasional Indonesia.
Beragamnya bidang-bidang kerja sama yang dicakup dalam nota kesepahaman
dapat memberikan keleluasaan bagi Perpustakaan Nasional RI untuk menjalankan
program-program komunikasi budaya secara kreatif. Tujuan akhirnya adalah mendorong
terbentuknya generasi baru masyarakat Australia yang lebih Indonesia literate. Dalam
konteks hubungan bilateral yang sama-sama memiliki kepentingan, Perpustakaan Nasional
RI harus mampu menjadi salah satu ujung tombak diplomasi kebudayaan dengan
mengembangkan moda komunikasi yang lebih proaktif sebagai aktor dalam strategi
kebudayaan nasional. Ada tiga peran yang dapat dilakukan Perpustakaan Nasional RI :
1. Sebagai mediator budaya, yakni secara aktif melakukan kegiatan promosi kebudayaan
kepada masyarakat Australia, seperti pameran dan eksibisi, diskusi, seminar, dialog
antarbudaya (intercultural dialogue) serta kegiatan lainnya yang mendukung interaksi
hubungan antarrakyat di antara kedua negara. Mediasi ini dapat juga melibatkan
institusi akademik, seperti universitas, akademi, maupun sekolah di Australia.
2. Sebagai aktor politik kebudayaan, yakni perpustakaan menjadi model bagi
perpustakaan-perpustakaan lain (perpustakaan universitas, perpustakaan umum
daerah, perpustakaan khusus) maupun institusi lain di Indonesia dalam melakukan
kemitraan dengan perpustakaan sejenis, universitas maupun institusi budaya lainnya di
Australia.
3. Sebagai sumber informasi budaya, yakni Perpustakaan Nasional harus mampu
merespon dengan cepat segala informasi budaya yang diperlukan atas dasar
kemitraan dengan National Library of Australia. Perpustakaan Nasional juga
diharapkan memiliki inisiatif dalam mengkomunikasikan informasi dengan tetap
menjunjung tinggi keharmonisan dan perspektif budaya manakala ada gangguan-
gangguan yang muncul dalam hubungan bilateral kedua negara. Perpustakaan
Nasional sebagai institusi budaya dinilai lebih bertanggungjawab daripada media
massa yang cenderung bersikap pragmatis.
Dalam sebuah survei disebutkan bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa Asia
paling populer yang paling sering digunakan. Saat ini tercatat lebih dari 250.000
pelajar/mahasiswa Australia yang mempelajari bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.
Sektor pendidikan diyakini menjadi driver bagi hubungan antarrakyat secara berkelanjutan
antara Indonesia dan Australia. Bagi Perpustakaan Nasional RI, kerja sama dengan
National Library of Australia berdampak positif terutama pada bidang-bidang yang terkait
dengan peningkatan manajemen, layanan, profesionalisme, infrastruktur, aplikasi teknologi
informasi, program kerja, maupun pengolaan sumber daya manusia. Di sisi lain, kerja sama
ini menegaskan peran Perpustakaan Nasional RI sebagai salah satu unsur soft power
diplomacy sekaligus membangun citra positif di aras regional dan internasional.

2. KERJASAMA IMPOR SAPI OLEH INDONESIA DAN AUSTRALIA

Kerjasama bilateral Indonesia - Australia di bidang Pertanian khususnya sector
peternakan telah berlangsung dalam waktu yang lama. Australia telah membantu Indonesia
lebih dari 20 tahun untuk memberantas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dan kini Indonesia
termasuk negara yang bebas PMK dan diakui secara internasional. Australia juga telah
membantu Indonesia membangun Balai Penelitian Peternakan di Ciawi - Bogor. Pusat
Promosi Investasi Indonesia (IIPC) Sydney bekerja sama dengan perwakilan RI di Australia
menyelenggarakan kegiatan 'IndOz Beef Investment and Trade' di Brisbane, pada 22-23
Agustus 2013 untuk menjajaki kerja sama perdagangan sapi kedua negara. Indonesia
banyak mengimpor daging dan sapi potong dari Australia. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, mengatakan kerangka kerja sama yang dibangun adalah perdagangan dan
investasi. Presiden Yudhoyono mengakui Australia merupakan negara penghasil sapi dan
daging sapi terbesar sementara Indonesia membutuhkan daging sapi yang tinggi
mengingat konsumsi daging sapi di Indonesia terus meningkat sementara persediaan
daging sapi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan. Kerjasama kedua negara diwarnai
dengan pembelian daging sapi ke Australia, dalam jangka panjang kerangka kerjasama ini
tidak sesuai dengan kemandirian pangan. Indonesia dan Australia memiliki kelebihannya
masing-masing dan bila dimaksimalkan maka bisa memicu potensi yang ada sehingga
menjadi sinergi kekuatan wilayah. Australia dikenal unggul dalam pembiakan. Indonesia
dikenal unggul dalam penggemukan. Kalau keduanya bekerjasama tentu akan sangat baik
karena melengkapi secara komplementer. Perdana Menteri Australia, Tony Abbott,
mengungkapkan harapannya dalam hubungan ekonomi bilateral dengan Indonesia. Ia
berharap ekonomi kedua negara itu bisa meningkat ke depannya.




BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Secara umum hubungan Indonesia-Australia cukup selalu berusaha memanfaatkan
setiap peluang yang ada untuk peningkatan berbagai kerjasama bilateral. Dukungan
Australia terhadap keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan
faktor kunci dalam upaya meningkatakan hubungan bilateral tersebut. Untuk konteks yang
lebih luas, dan dalam rangka membangun hubungan yang saling menguntungkan, telah pula
ada kerjasama Indonesia-Australia yang tertuang dalam Lombok Treaty. Lombok Treaty
adalah kerjasama di bidang keamanan yang dibuat pada 13 November 2006, yang kemudian
diratifikasi pada tahun 2007. Perjanjian kerjasama ini diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia nomor 47 tahun 2007 Tentang Pengesahan Perjanjian Antara Republik Indonesia
dan Australia tentang Kerangka Kerjasama Keamanan. Namun akibat adanya Penyadapan
yang dilakukan oleh Intelijen Australia, kerjasama tersebut diberhentikan sementara karena
tidak ada kejelasan dari pemerintah Australia terkait kerjasama tersebut.
4.2 SARAN
Indonesia dan Australia sudah melakukan kerjasama di berbagai bidang dalam waktu
yang lumayan lama. Kasus penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Indonesia tidak
seharusnya terjadi,itu semua hanya akan memperburuk kerjasama yang sudah terjalin baik
oleh kedua belah pihak.Seharusnya dengan kerjasama yang sudah lama terjalin Australia
sudah bisa lebih mengetahui tentang Indonesia sehingga tidak akan terjadi penyadapan.
Australia harus menanamkan rasa kepercayaan terhadap Indonesia sehingga kerjasama
yang sudah lama terjalin tidak putus ditengah jalan.Dalam kasus penyadapan yang dilakukan
oleh Australia banyak pihak yang dirugikan atas kasus tersebut.Tetapi pemerintah Australia
mengganggap remeh kasus ini. Dengan adanya kasus ini bisa membuktikan ke mata
internasional tentang kebesaran,keberanian,dan kemandirian bangsa Indonesia. Oleh karena
itu diperlukan kode etik (code of conduct) dan guiding principle menyangkut kerja sama di
berbagai bidang. Protokol dan code of conduct itu sifatnya mengingat, jelas, dan pasti dijalankan.

Daftar Pustaka

Critchley ,Susan, Hubungan Australia dengan Indonesia: Faktor geografi, politik,
dan strategi keamanan Amazon.com: Books http://www.amazon.com/Hubungan-
Australia-dengan-Indonesia- (diakses tanggal 18 November 2013 pukul 20.15)

BAB II PERUBAHAN PERJANJIAN KEAMANAN ANTARA NDONESIA DAN ...
on www.gobookee.org - free eBook download. tanggal 18 November 2013 pukul 20.17)

Kusumadewi,Anggi,2013 alasan australia menyadap indonesia | Kaskus - The
Largest Indonesian Community.
http://www.kaskus.co.id/thread/52900b3759cb17691200000f/alasan-australia-
menyadap-indonesia. (diakses tanggal 19 November pukul 19.12)
Menlu: Soal Penyadapan, Australia Jangan Remehkan Dampaknya -
Tribunnews.com, http://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/20/menlu-soal-
penyadapan-australia-jangan-remehkan-dampaknya (diakses tanggal 19 November
2013 pukul 19.15)
PM Australia Minta Indonesia Longgarkan Batasan Perdagangan,
http://m.voaindonesia.com/a/1696283.html (diakses tanggal 20 November 2013 pukul
08.16)
Menteri Pertanian Australia Tunda Lawatan ke Indonesia.
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/460954-menteri-pertanian-australia-tunda-
lawatan-ke-indonesia (diakses tanggal 20 November 2013 pukul 08.20)
RI-Australia Setuju Tingkatan Kerja Sama Pendidikan .
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/03/10/168435-ri-australia-setuju-
tingkatan-kerja-sama-pendidikan (diakses tanggal 20 November 2013 pukul 14.25)
Journal | Unair. http://journal.unair.ac.id/media_131.html (diakses tanggal 20
November 2013 pukul 14.27)
MPHI+LOMBOK+TREATY+I+II+III+IV.doc.
http://xa.yimg.com/kq/groups/20920762/1398088709/name/MPHI+LOMBOK+TREATY+
I+II+III+IV.doc (diakses tanggal 20 November 2013 pukul 15.01)
Indonesia Ultimatum Australia | Indonesia | DW.DE | 19.11.2013,
http://www.dw.de/indonesia-ultimatum-australia/a-17239112 (diakses tanggal 20
November 2013 pukul 19.13)