Anda di halaman 1dari 11

Makalah Plenay Lecturer II

Inovasi Produk dan Proses Kimia B-1


PELUANG, TANTANGAN DAN MAKSIMALISASI INDUSTRI JASA RANCANG
BANGUN NASIONAL

Ir. Tedjo Rukmono
Director Technology PT TRIPATRA
Jl. Kartini No. 34 Cilandak Barat, Jakarta Selatan 12430
E-mail: tedjorm@tripatra.com

DAFTAR ISI

1.0 Latar Belakang
2.0 Peluang Industri Rancang Bangun di Indonesia
2.1 Bidang Pengolahan Sumber Energi
2.2 Fasilitas Pembangkit Energi
2.3 Fasilitas Petrokimia
2.4 Fasilitas Lain
3.0 Tantangan dan Kendala Industri Rancang Bangun Indonesia
4.0 Diskripsi singkat Kegiatan Rancang Bangun
5.0 Aturan Main
6.0 Strategi agar Tidak Terlempar dari Persaingan
7.0 Kontraktor Rancang Bangun Profesional
8.0 Kulifikasi Insinyur Profesional untuk Kegiatan Rancang Bangun
9.0 Kerjasama untuk meningkatkan Profesionalisme
10.0 Penutup
11.0 Daftar Pustaka



LAMPIRAN

1. Sistim Pelaksanaan Proyek
2. Urutan aktifitas Rancang Bangun
3. Contoh Diagram Organisasi Proyek Rancang Bangun
4. Contoh etik Keinsinyuran

























Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-2
1.0 LATAR BELAKANG

Meskipun sumber daya alam berlimpah, dari tahun ke tahun indikator daya saing Indonesia turun
terus apalagi setelah krisis multi dimensi. Indikator ekonomi Indonesia seperti mayat hidup :

- Pertumbuhan ekonomi belum bisa bangkit. Masih sekitar 3-4% setelah anjlog dibawah nol pada
saat krisis.
- Defisit neraca transaksi berjalan yang dikaitkan dengan sektor jasa.
- Menurut PERC daya saing produk Indonesia dipasar global dari tahun ke tahun turun terus
- Ranking daya saing negara selalu masuk dibarisan buncit
- Menurut UNDP ranking SDM diatas 100 jauh ketinggalan dibanding negara negara tetangga
- Menurut UNCTAD aliran dana investasi malah keluar bukannya masuk
- Selalu masuk barisan negara yang top korupsinya.

Telah banyak diulas oleh media bahwa hal-hal tersebut diatas selalu terjadi berulang ulang karena
pondasinya tidak pernah dibenahi. Pondasi mental sospolekhankam harus dibenahi terutama
pendidikan mental.

Untuk bidang Industri yang menjadi salah satu pilar penopang utama kinerja Ekonomi, sangat lemah
karena tidak ditopang oleh industri manufaktur dan industri rancang bangun yang kuat.

Meskipun Indonesia kaya sumber daya alam kalau tidak ditopang oleh industri rancang bangun dan
manufacturing yang kuat akhirnya pengolahan sumber daya alam tersebut akan dilakukan oleh pihak
asing atau bahkan harus diolah diluar negeri.

Industri rancang bangun perlu dipicu secepat mungkin, karena Industri tersebut bersifat multi
disiplin, multi tahap ( perancangan, pembelian, konstruksi dan start up ), padat karya, padat modal
dan teknologi. Karena sifat sifat tersebut, kemajuan industri rancang bangun akan mendorong :
Industri manufacturing, kemajuan SDM, pengurangan defisit sector jasa, menaikkan daya saing dan
mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Tujuan tulisan ini untuk memberi gambaran tentang peluang, tantangan dan bagaimana cara
memaksimalkan industri rancang bangun yang professional, agar harapan diatas bisa tercapai lebih
cepat.

Karena jasa rancang bangun mencakup lingkup yang sangat luas, tulisan ini hanya akan membahas
jasa rancang bangun pabrik atau fasilitas proses pengolahan bahan baku menjadi produk termasuk
utilitas pendukungnya.

2.0 PELUANG INDUSTRI RANCANG BANGUN DI INDONESIA

Jasa rancang bangun pabrik sering disebut EPC turnkey ( Engineering, Procurement, Construction
putar kunci). Semua bidang yang membutuhkan pengolahan / pemrosesan bahan baku menjadi
produk yang bisa menaikkan nilai jual membutuhkan tahapan rancang bangun. Contoh-contoh
bidang yang membutuhkan proses pengolahan didalam pabrik antara lain : Minyak, Gas,
Petrokimia, Kimia, Produk pertanian, Pangan, Pharmasi, Bioprocessing, Utilitas /infrastruktur
Pabrik dan sebagainya.

Di Indonesia, kebutuhan akan pembangunan fasilitas baru maupun renovasi/ekspansi fasilitas lama
sangat besar karena faktor-faktor berikut :
- kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan
penduduk
- sumber daya alam yang melimpah yang perlu ditingkatkan nilai jual dan daya saingnya
sekaligus untuk mengurangi beban import, meningkatkan surplus perdagangan dan menambah
devisa.
- pembukaan lapangan kerja baru yang bisa menjadi sarana peningkatan SDM

Data data dibawah ini adalah gambaran kebutuhan pembangunan fasilitas pabrik baru/renovasi
yang sekaligus merupakan peluang bagi industri jasa rancang bangun.

Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-3
2.1 Bidang Pengolahan Sumber Energi

Fasilitas pengolahan sumber energi mencakup antara lain : Pengolahan Hidrokarbon ( Gas
Alam dan Minyak Bumi), Panas Bumi, Uap air, Biomasa, Gambut Batubara dan Nuklir.

Fasilitas yang berhubungan dengan pengolahan hidrokarbon sebagai sumber energi antara
lain Fasilitas Hilir dan Pipeline, Kilang Pengolahan Gas ( LNG, LPG dsb ), Kilang Minyak,
Terminal, Saluran Transmisi, Fasilitas Lepas Pantai termasuk Fasilitas Bawah Laut,
Fasilitas Produksi Terapung & Buoy, Fasilitas Pengolahan Batubara.

Di Indonesia potensi minyak bumi sudah mulai surut dan diperkirakan tinggal sekitar 10
milyar Barrel untuk produksi sekitar 15 tahun. Untuk gas alam diperkirakan cadangannya
masih sekitar 135 trilliun kubik feet (TCF) untuk produksi sekitar 35 tahun. Untuk
Batubara cadangannya diperkirakan masih 24 milyar ton bisa untuk 100 tahun lebih.
Sedang untuk Panas Bumi baru diolah sekitar 3 % dari total potensi 19.000 MW, potensi
biomasa masih sekitar 49.000 MW, Potensi Nuklir 10 ribu ton Uranium dan Gambut
sekitar 34 Ha. (1) (2)
Fasilitas pengolahan Hidrokarbon yang sedang/ akan dibangun cukup banyak dan akan
dipresentasikan tanggal 26 Maret 2003.

2.2 Fasilitas Pembangkit Energi

Fasilitas pedmbangkit energi dibagi menjadi dua yaitu :
- Thermal terdiri dari : PLTG, PLTU, PLTGU, PLTP, PLTD, PLTN, PLTS, Biogas
dan Panas Samudra.
- Non Thermal terdiri dari : Angin, PLTA, Gelombang Laut dan Pasang Surut

Potensi tenaga angin di Indonesia diperkirakan 500 MW, tenaga surya 1000 MW dan
potensi laut berlimpah.
Fasilitas - fasilitas pembangkit energi yang sedang/ akan dibangun akan dipresentasikan
pada tanggal 26 Maret 2003.

2.2 Fasilitas Petrokimia

Petrokimia sebagai turunan Gas alam dan Minyak Bumi dimana Indonesia merupakan
salah satu sumber utama didunia, merupakan suatu kewajiban bagi Indonesia untuk
mengembangkannya. Yang memprihatinkan adalah banyak produk produk industri di
Indonesia yang bahan bakunya masih diimport padahal bahan baku tersebut adalah produk
petrokimia. Hal ini sangat mengurangi kemampuan Indonesia dalam keseimbangan
perdagangan dan pengembangan lapangan pekerjaan serta peningkatan SDM Indonesia.

Gambaran import produk petrokimia dan pabrik petrokimia yang sedang/ akan dibangun
akan dipresentasikan pada tanggal 26 Maret 2003.
Kebutuhan import tersebut sebetulnya merupakan peluang untuk pengembangan industri
pengolahan petrokimia yang sekaligus juga merupakan peluang untuk industri rancang
bangun.

2.3 Fasilitas Lain

Fasilitas industri lain seperti fasilitas pengolahan produk pertanian, pharmasi, pangan dan
bioprocessing seharusnya berkembang dengan pesat karena kebutuhannya sangat terkait
dengan laju pertambahan jumlah penduduk. Kalau perkembangannya dibawah laju
pertambahan penduduk, artinya itu merupakan suatu kegagalan.

Biaya dan sumber daya untuk pembangunan fasilitas fasilitas tersebut untuk satu unit
pabrik relatif lebih kecil bila dibanding dengan satu unit fasilitas energi maupun
petrokimia. Meskipun relatif biayanya lebih kecil namun karena jumlahnya lebih banyak,
secara total merupakan potensi yang tidak boleh diabaikan.


Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-4
3.0 TANTANGAN DAN KENDALA INDUSTRI RANCANG BANGUN INDONESIA

Meskipun banyak proyek yang direncanakan namun, banyak kendala yang harus dihadapi untuk
bisa dilaksanakan oleh pemain pemain negeri sendiri.

Kendala kendala tersebut antara lain adalah :
- Biaya dan modal
- Pengalaman dan SDM
- Teknologi
- Resiko
- Financer proyek

Bukti kekuatan finansiil dan modal merupakan syarat sebuah perusahaan rancang bangun untuk
dapat mengikuti tender proyek proyek rancang bangun. Hal ini disebabkan sewaktu pemilik
proyek menyerahkan borongan rancang bangun hampir semua resiko harus dialihkan ke perusahaan
jasa rancang bangun tersebut karena sifatnya borongan penuh sampai start up. Lebih parah lagi bila
financer atau investor proyek tersebut adalah perusahaan asing, maka banyak persyaratan tender
yang dimasukkan untuk memberikan angin untuk perusahaan rancang bangun yang berasal dari
negara yang sama. Dan itu adalah kenyataan yang terjadi dimana banyak pemilik proyek adalah
perusahaan Indonesia tetapi karena tidak punya modal harus mencari investor asing.

Karena pemilik proyek akhir akhir ini banyak yang kekurangan modal maka banyak proyek yang
dilakukan secara BOO ( Built Operate and Own ) maupun BOT ( Built Operate and Transfer )
dimana hal tersebut merupakan EPC plus produksi untuk jangka waktu tertentu yang tentu saja
kebutuhan permodalannya menjadi berlipat. Karena kekuatan permodalan pemain asing biasanya
jauh lebih kuat, apalagi setelah jatuhnya nilai rupiah, maka perusahaan asing menjadi lebih mudah
untuk berperan dibanding pemain Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi pada faktor pengalaman perusahaan dan pengalaman SDM apalagi untuk
kekuatan teknologi, perusahaan asing jauh lebih kuat dibanding perusahaan jasa rancang bangun
Indonesia karena perusahaan perusahaan rancang bangun Indonesia baru mulai lahir pada decade
1980 an, sedang perusahaan asing biasanya sudah ada sejak pertengahan abad 2000.

Karena faktor faktor tersebut diatas ditambah dengan faktor resiko yang besar, hanya ada beberapa
perusahaan Indonesia yang mampu untuk bertahan menekuni bidang borongan rancang bangun
EPC. Telah banyak perusahaan Indonesia yang berusaha masuk ke bidang EPC kemudian malah
gulung tikar karena rugi atau kesulitan untuk mendapatkan proyek. Bahkan tiga besar perusahaan
jasa rancang bangun di Jepang pada perioda 1999 2001 masing masing merugi ratusan juta US
dollar.

Meskipun perusahaan perusahaan rancang bangun nasional punya kelemahan yang disebut diatas,
mereka juga punya kelebihan dibanding perusahaan asing yaitu lebih cost kompetitif dalam
manajemen proyek dan detail engineering dimana kedua hal tersebut juga merupakan faktor utama
dalam persaingan bisnis EPC.

Untuk mengatasi kendala - kendala tersebut diatas, perusahaan - perusahaan jasa rancang bangun
Indonesia harus mengelola perusahaannya dengan professional agar tidak tergilas oleh perusahaan
asing apalagi era globalisasi sudah didepan mata. Selain itu perusahaan nasional juga harus bersatu
dalam menentukan rambu profesionalisme agar lebih mudah dipercaya oleh pemilik proyek dan
dengan demikian daya saingnya meningkat.


4.0 DESKRIPSI SINGKAT KEGIATAN RANCANG BANGUN

Jasa rancang bangun sering disebut EPC turnkey karena terdiri dari aktivitas- aktivitas dibawah ini
secara terintegrasi :

a. Engineering (Perancangan)
b. Procurement ( Pembelian)
c. Construction (Kontruksi)
Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-5
d. Star Up Commissioning (Putar Kunci)

Aktivitas aktivitas tersebut tidak selalu berjalan secara seri. Biasanya karena tuntutan jadwal.
Aktivitas aktivitas dan sub aktivitasnya berjalan secara paralel. Oleh karena itu, sistem rancang
bangun (EPC) sangat cocok untuk proyek proyek modern dengan jadwal pendek dibanding
dengan proyek proyek konvensional yang memisahkan EP dan C yang populer disebut sistem PM
(Proyek Manajemen). Perbedaan antara sistem PM dan EPC digambarkan pada lampiran 1.

Keuntungan sistem EPC turnkey dibanding sistem PM ialah :

a. Tanggung jawab disatu tangan.
b. Perancangan. Pembelian dan konstruksi bisa berjalan paralel sehingga banyak
menghemat waktu.
c. Biaya sistem EPC lebih murah karena duplikasi aktivitas yang terjadi karena
pemisahan lingkup kerja antara E, P dan C ditiadakan pada sistem EPC.
d. Kontrak lebih sederhana.
e. Masalah pembelian dapat dipertimbangkan lebih masak pada saat perancangan.
f. Masalah kontruksi dapat dipertimbangkan lebih masak pada saat perancangan karena
yang membangun sama dengan yang merancang.

Kegiatan rancang bangun dinyatakan berhasil bila fasilitas yang dibangun :

- Selesai tepat waktu
- Mudah dioperasikan/dipelihara, aman dan ekonomis
- Memenuhi spesifikasi dan kriteria
- Tidak terjadi kecelakaan fatal dan dampak lingkungan terkontrol
- Biaya tidak melebihi budget

Agar tujuan tersebut bisa tercapai, aktivitas proyek proyek rancang bangun biasanya mengikuti
urutan aktivitas pada lampiran 2.

Untuk menjalankan aktivitas aktivitas tersebut, proyek rancang bangun sangat membutuhkan
dukungan finansial. Teknologi, sumber daya manusia, peralatan hardware/software yang memadai
dan keberadaan bahan baku.

Masing masing aktifitas mempunyai ciri masing masing yaitu :

a. Design/Engineering : - Padat teknologi dan perangkat lunak
- Padat tenaga ahli
b. Procurement : - Padat Modal
c. Construction : - Padat karya
- Padat perangkat keras
d. Start Up Commissioning : - Padat tenaga ahli
- Padat teknologi

Agar aktivitas aktivitas tersebut dapat berjalan lancar, efisien dan terintegrasi, sumber daya dan
pendukung pendukungnya harus dikelola sedemikian rupa dengan sistem manajemen proyek.

Manajemen proyek akan berhasil baik bila tahapan tahapan berikut dilaksanakan dengan baik :
Perencanaan, Organisasi, Pelaksanaan, Kontrol.

Untuk memperoleh kinerja proyek yang optimum dan hal hal dibawah ini harus dimonitor dan
dikontrol : Kualitas, Budget Cost, Invoice payment, Progress Schedule, Document, Material,
Kontrak.


5.0 ATURAN MAIN

Berdasarkan kompledsitas yang harus dikelola dan agar persaingan adil tanpa menyingkirkan
kontraktor nasional namun tanpa melanggar prinsip perdagangan WTO serta kontraktor yang
Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-6
terpilih adalah kontraktor professional dan kontraktor terpilih tersebut dapat menuntaskan
pekerjaannya secara professional , maka dibuatlah rambu rambu aturan main.

Aturan yang dapat dijadikan acuan adalah UU Jasa Konstruksi ( UUJK ) tahun 1999 dan Peraturan
Pemerintah PP 28, 29, 30 tahun 2000. Meskipun namanya UU Jasa Konstruksi tetapi lingkupnya
menyangkut : Jasa Perencanaan, Jasa Pelaksanaan, Jasa Pengawasan dan Jasa Terintegrasi. Yang
dimaksud Jasa Terintegrasi adalah Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengawasan bernaung dalam satu
kontrak. Dengan demikian Jasa Terintegrasi adalah sama dengan EPC ( Engineering Procurement
Construction ).


6.0 STRATEGI AGAR TIDAK TERLEMPAR DARI PERSAINGAN

Karena persaingan yang tajam dan penuh resiko, para penyedia Jasa Rancang Bangun ( kontraktor
EPC ) harus selalu siap bertanding agar tidak terlempar dari persaingan atau yang paling jelek
gulung tikar dimakan resiko dan dikejar kejar oleh banyak klaim pertanggungan jawab.

Beberapa tips dan strategi yang disarankan adalah sebagai berikut :

- Mempersiapkan sumber daya professional dan mengasah kompetensi agar dipercaya untuk
menjadi Kontraktor Rancang Bangun Profesional oleh sebanyak mungkin klien.
- Menambah pengalaman secara bertahap
- Kontraktor nasional disarankan untuk bermitra dengan kontraktor asing untuk menambal
kekurangan kompetensi finansial dan pengalaman serta untuk pembagian resiko.
- Kontraktor asing disarankan untuk bermitra dengan kontraktor nasional untuk memperoleh
harga yang lebih kompetitif dari sektor engineering, manajemen proyek dan konstruksi. Dengan
menggandeng kontraktor nasional diharapkan resiko dapat ditekan karena kontraktor nasional
lebih mengenal medan.
- Di dalam kemitraan dengan kontraktor asing, kontraktor nasional diharapkan dapat berperan
aktif misal menangani lingkup manajemen proyek.

7.0 KONTRAKTOR RANCANG BANGUN PROFESIONAL

Proyek proyek rancang bangun harus dijalankan oleh kontraktor rancang Bangun profesional
dengan ciri ciri umum sebagai berikut :

a. Memperoleh proyek berdasarkan daya saing dan kompetensinya.
b. Kualitas pekerjaannya sesuai spesifikasi
c. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
d. Mengutamakan keselamatan
e. Menghindari terjadinya dampak lingkungan negatif dan memacu yang positip
f. Melaksanakan pekerjaan berdasarkan hukum dan peraturan
g. Melaksanakan pekerjaan dengan program kerja yang jelas dan terperinci
h. Semua hasil kerja terdokumentasi secara sistimatis.
i. Memiliki kompetensi kompetensi :
- Teknis E, P, C dan Start Up
- Keuangan
- Manajerial
- SDM profesional
- Keselamatan


8.0 KUALIFIKASI INSINYUR PROFESIONAL UNTUK KEGIATAN RANCANG BAGUN

Keberhasilan proyek rancang bangun tidak dapat dilepaskan dari kualitas dan kuantitas sumber daya
manusia yang mendukungnya. Sumber daya manusia profesional yang paling dominan dalam
industri Rancang Bangun ialah insinyur insinyur profesional.

Ciri ciri umum insinyur profesional yang dibutuhkan untuk mengelola proyek rancang bangun
ialah sebagai berikut :
Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-7
- Mengamalkan dan menjunjung kode etik keinsinyuran (lampiran 4)
- Bersertifikat I.P
- Mempunyai kompetensi teknis/ manajerial rancang bangun
- Mempunyai kompetensi kepribadian untuk menunjang kegiatan rancang bangun
- Bekerja pada perusahaan rancang bangun profesional
- Rancang bangun merupakan sumber pendapatan utama
- Memperoleh imbalan berdasarkan kontribusi/ prestai dan kompetensi
- Berpartisipasi dalam organisasi profesi
- Selalu meningkatkan keahlian rancang bangunnya
- Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
- Melakukan pekerjaan berdasarkan kaidah mutu dan prosedur
- Hasil pekerjaan terdokumentasi secara sistimatis

Lampiran 3 menunjukkan diagram organisasi yang biasa dipergunakan untuk menggerakkan proyek
rancang bangun oleh kontraktor EPC (Engineering, Procurement & Construction). Diluar itu masih
ada beberapa organisasi lain yang ikut menentukan sukses tidaknya suatu proyek. Organisasi
organisasi tersebut antara lain :

- Organisasi dari pemilik proyek
- Organisasi pengawas proyek
- Organisasi pihak ketiga (third party)
- Organisasi subkontraktor dll

Dari organisasi organisasi tersebut dapat ditunjukkan batapa banyak tenaga insinyur dibutuhkan
didalam suatu kegiatan rancang bangun.


9.0 KERJASAMA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME

Kunci utama untuk menacu profesionalisme industri rancang bangun dan manufacturing adalah
peningkatan SDM profesional dan kerjasama semua pihak


a. Pemerintah :
- Menciptakan stabilitas Sospolek
- Memberikan kepastian usaha dan memangkas ekonomi biaya tinggi
- Memberikan kesempatan bersaing yang fair

b. Industri Rancang Bangun dan Manufacturing :
- Merangsang dan melatih SDM menjadi profesional untuk bisa merebut teknologi bukan
mengemis teknologi seperti yang sekarang banyak terjadi.
- Kontrak kontrak kerjasama dengan pihak asing harus dibuat sedemikian rupa sehingga
posisi kontraktor nasional tetap sebagai decision maker buka sebagai pesuruh.
- Aktif memberikan input kepada universitas universitas tentang produk sarjana yang
diharapkan.

c. Asosiasi Profesi :
- Menjaga dan memantau agar kode etik profesi dijalankan oleh anggotanya
- Berperan aktif sebagai fasilitator peningkatan profesi
- Sertifikasi profesionalisme

d. Lembaga Penelitian :
- Berperan aktif melakukan penelitian yang bisa dijual dan dapat diaplikasikan


10.0 PENUTUP

Industri rancang bangun bersifat multi disiplin, multi tahap, padat tenaga ahli, padat modal, padat
karya dan padat teknologi. Oleh karena itu industri rancang bangun nasional harus dipacu dengan
memberikan kesempatan bersaing secara fair dan profesional.
Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-8

Bila industri rancang bangun nasional maju, maka diharapkan akan terjadi efek multiplier sebagai
berikut :

- Industri manufacturing Indonesia maju.
- Defisit transaksi berjalan berkurang
- Pertumbuhan ekonomi naik
- Daya saing Indonesia didunia international meningkat
- Pengangguran berkurang
- Daya saing tenaga-tenaga profesional Indonesia naik
- Research Engineering di lembaga penelitian dan universitas universitas Indonesia ikut terpacu
- Umpan balik kurikulum Universitas dari para alumni/ insinyur yang bekerja pada industri
tancang bangun dan manufakturing meningkat.


11.0 DAFTAR PUSTAKA


1. Harijono Djojodihardjo Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya alam dan Energi Energi
Edisi no. 7, 2000
2. Hari Wibowo Alternatif Pemenuhan Kebutuhan Energi Dengan Energi Terbarukan Energi
Edisi no. 5, 1999






































Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-9




























































CONCEPTUAL DESIGN &
FEASIBLITY STUDIES
AMDAL
DESIGN ENGINEERING
BASIC DESIGN
FABRICATION
TRANSPORTATION
PROCUREMENT
CONSTRUCTION
START UP
COMMISIONING
INSPECTION &
PRECOMMISIONING
TEST &
INSPECTION
OR
TENDER
&
PROPOSAL
NORMAL PROCESS
PARAMETER SUKSES

- AMAN
- MUDAH DIKONSTRUKSI
- BAHAN ADA DI PASARAN
- SPESIFIKASI / GAMBAR JELAS
- DAMPAK LINGK POSITIV
- MUDAH DITEST
- MUDAH DIOPERASIKAN
- MUDAH DIPELIHARA
- MUDAH DIEKSPANSI
- EKONOMIS
- DOKUMEN SISTIMATIS
- TEPAT WAKTU
- BUDGET TIDAK LEWAT
- SESUAI SPEK / GAMBAR
- TEPAT WAKTU
- DOKUMEN TERPERINCI
- TEST/INSPEKSI JELAS & TERJADWAL
& TERDOKUMENTASI
- MUDAH DIKIRIM & AMAN
- AMAN
- SESUAI SPEK / GAMBAR
- TEPAT WAKTU
- JADWAL & PROSEDUR KERJA JELAS
- DAMPAK LINGK. POSITIV
- BUDGET TIDAK LEWAT
TEST/ ISPEKSI JELAS & TERJADWAL
&TERDOKUMENTASI
- AMAN & DAMPAK POSITIV
- MENGHASILKAN PRODUK YANG
SESUAI
- TEPAT WAKTU
- OPERATOR DAPAT MENJALANKAN
- DOKUMEN SERAH TERIMA JELAS
AKTIVITAS RANCANG BANGUN
Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-10

ORGANISASI PROYEK
RANCANG BANGUN
(TYPICAL)
PROJECT
MANAGER
FINANCE
MANAGER
PROJECT CONTROLLERT*
- COST CONTROL
- SCHEDULE CONTROL
PROJECT
ADMINISTRATOR
CONTRACT*
MANAGER
QA/QC*
MANAGER
ENGINEERING*
MANAGER
FABRICATION*
MANAGER
PROCUREMENT*
MANAGER
ENGINEERS
- PROCESS*
- EQUIPMENT*
- INSTRUMENT*
- PIPING*
- ELECTRICAL*
- CIVIL*
- TELECOM*
- SUPERVISORS
- INSPECTORS
DRAFTINGS
- DESIGNERS
- CHECKERS
- DRAFTMAN
FIELD QC*
MANAGER
- EXPEDITORS
- INSPECTORS
VENDOR
SITE MANAGER
THIRD
PARTY
KLIEN
INSPECTOR
- EQUIPEMENT
- WELDING
- TEST &
CLEANING
- PAINTING
- INSULATION
- CIVIL
- ELECTRICAL
- INSTRUMENT
- TELECOM
SUBKONTRAKTOR GENERAL*
SUPERINDEPENDENT
CHIEF*
FIELD MANAGER
SUPERVISORS SUPERVISORS
SITE FINANCE
SITE CONTROLER*
- COST CONTROL*
- SCHEDULE CONTROL*
SITE ADMINISTRATOR SITE CONTRACT*
ENGINEER
CONSTRUCTION*
MANAGER
SAFETY & SECURITY
MANAGER
TRANSPORTATION
MANAGER
COMMISIONING
MANAGER
ENGINEERS
- PROCESS*
- EQUIPMENT*
- INSTRUMENT*
- ELECTRICAL*
- TELECOM*
LOGISTIC*
SUPERINDEPENDENT
SUPERVISORS
- WAREHOUSE
- MATERIAL HANDLING
- MATERIAL INSPECTION
- LOCAL PURCHASE
- CATERING& LAUNDRY
AREA SUPERVISORS
- WELDERS
- TECHNICIAN
- FITTERS
- RIGGERS
- HELPERS
FIELD
ENGINEERS
- PROCESS*
- EQUIPMENT*
- INSTRUMENT*
- PIPING*
- ELECTRICAL*
- CIVIL*
- TELECOM*
- DESIGNERS
- CHECKERS
- DRAFTMAN
Makalah Plenay Lecturer II
Inovasi Produk dan Proses Kimia B-11