Anda di halaman 1dari 34

Laporan Praktikum

Pengolahan Limbah

Dosen Pembimbing
Drs. Edward HS, MS

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI DENGAN


METODA KOAGULASI

Kelompok

: II (Dua)

Nama

: Rita P. Mendrova

(1107035609)

Ryan Tito

(1107021186)

Yakub J. Silaen

(1107036648)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES KIMIA


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013

Abstrak
Industri tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah baik
limbah padat maupun cair. Limbah merupakan sisa dari sebuah proses yang tidak
dapat digunakan kembali, apabila limbah ini terlalu banyak dilingkungan maka
akan berdampak pada pencemaran lingkungan dan berdampak pada kesehatan
masyarakat sekitar. Maka untuk usaha pengolahan limbah tahu lebih lanjut perlu
dilakukan analisa kandungan yang terdapat didalam limbah cair tahu tersebut
untuk dicarikan solusi lebih lanjut. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan
konsentrasi zat padat total (TS), zat padat tersuspensi (TSS), dan zat padat
terlarut (TDS) serta menghitung efisiensi penggunaan koagulan pada pengolahan
limbah cair tahu. Berdasarkan hasil percobaan, penambahan koagulan akan
memperkecil konsentrasi TS, TSS dan TDS. Konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah
cair tahu yang diolah tanpa koagulasi secara berturut-turut sebesar 1,497%;
0,097% dan 1,4%, sedangkan konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahuyang
diolah tanpa koagulasi secara berturut-turut sebesar 1,04%; 0,08% dan 0,96%.
Penggunaan koagulan memberikan efisiensi yang cukup besar bagi penurunan
konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahu, yaitu sebesar 30,53%.
Kata Kunci : Limbah, zat padat total; zat padat tersuspensi; zat padat terlarut,
efisiensi.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan pengolahan limbah cair industri dengan metoda koagulasi
anatara lain :
1. Menentukan zat padat total (TS), zat padat tersuspensi (TSS) dan zat padat
terlarut (TDS)
2. Menghitung efisiensi penggunaan koagulan
1.2. Dasar Teori
Limbah merupakan sisa dari sebuah proses yang tidak dapat digunakan
kembali, apabila limbah ini terlalu banyak dilingkungan maka akan berdampak
pada pencemaran lingkungan dan berdampak pada kesehatan dari masyarakat
sekitar. Industri tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah baik
limbah padat maupun cair. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan
penggumpalan, limbah ini kebanyakan oleh pengrajin dijual dan diolah menjadi
tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung
ampas tahu yang akan dijadikan bahan dasar pembuatan roti kering dan cake.
Sedangkan limbah cairnya dihasilkan dari proses pencucian, perebusan,
pengepresan dan pencetakan tahu, oleh karena

itu

limbah

cair

yang

dihasilkan sangat tinggi. Limbah cair tahu dengan karakteristik mengandung


bahan organik tinggi dan kadar BOD, COD yang cukup tinggi pula, jika
langsung dibuang ke badan air, jelas sekali akan menurunkan daya dukung
lingkungan. Sehingga industri tahu memerlukan suatu pengolahan limbah yang
bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada (Sudarmadji, dkk.
1997).
Maka untuk usaha pengolahan limbah tahu lebih lanjut perlu dilakukan
analisa kandungan yang terdapat didalam limbah cair tahu tersebut untuk
dicarikan solusi lebih lanjut. Keberadaan limbah tahu harus sesuai dengan kriteria
nilai akhir yang diperkenankan untuk dibuang kelingkungan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Sudarmadji, dkk. 1997).

1.2.1 Tahu
Tahu merupakan makanan tradisional sebagian besar masyarakat di
Indonesia, yang

digemari

hampir

seluruh

mengandung gizi yang baik, pembuatan


sederhana.

Rasanya

enak

serta

tahu

lapisan
juga

masyarakat.
relatif

murah

Selain
dan

harganya terjangkau oleh seluruh lapisan

masyarakat. Saat ini, usaha tahu di Indonesia rata-rata masih dilakukan


dengan teknologi yang sederhana, sehingga tingkat efisiensi penggunaan
sumber daya (air dan bahan baku) dirasakan masih rendah dan tingkat
produksi limbahnya juga relatif tinggi. Kegiatan industri tahu di Indonesia
didominasi oleh usaha-usaha skala kecil dengan modal yang terbatas. Dari segi
lokasi, usaha ini juga sangat tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sumber daya
manusia yang terlibat pada umumnya bertaraf pendidikan yang relatif rendah,
serta belum banyak yang melakukan pengolahan limbah (Sudarmadji, dkk. 1997).
Teknologi pengolahan limbah tahu dapat dilakukan dengan proses
biologis sistem anaerob, aerob dan kombinasi anaerob-aerob. Teknologi
pengolahan limbah tahu yang ada saat ini pada umumnya berupa pengolahan
limbah dengan sistem anaerob, hal ini disebabkan karena biaya operasionalnya
lebih

murah. Dengan

proses biologis anaerob, efisiensi pengolahan hanya

sekitar 70%-80%, sehingga airnya masih mengandung kadar pencemar organik


cukup tinggi, serta bau yang masih ditimbulkan sehingga hal ini menyebabkan
masalah tersendiri (Herlambang, 2002). Untuk mengatasi hal tersebut, maka
diterapkan sistem pengolahan limbah dengan sistem kombinasi anaerob-aerob,
dengan sistem ini diharapkan dapat menurunkan konsentrasi kadar COD air
limbah tahu. Sehingga jika dibuang tidak menyebabkan bau dan tidak mencemari
lingkungan sekitarnya (Sudarmadji, dkk. 1997).
Mengingat industri tahu merupakan industri dengan skala kecil, maka
membutuhkan intalasi pengolahan limbah yang alat-alatnya sederhana, biaya
operasionalnya murah, memiliki nilai ekonomis dan ramah lingkungan. Saat
ini cara yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan biogas dari hasil
pengolahan limbah cair tahu dengan sistem anaerob. Setiap bahan organik

bila tertampung dalam bak penampungan akan mengalami perombakan secara


alami (fermentasi). Proses ini dapat lebih cepat bila bak penampungan dibuat
kedap udara atau berupa tabung hampa udara. Selain menghasilkan cairan yang
tidak berbau lagi, biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan

sebagai

pengganti bahan bakar untuk kompor masak dan lampu penerangan. Ini
sangat bernilai ekonomis terutama bagi masyarakat yang hidup di wilayah
pedesaan (Sudarmadji, dkk. 1997).
1.2.2 Proses Produksi Tahu
Proses produksi tahu secara rinci dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Diagram proses pembuatan tahu


(Sumber: Sudarmadji, dkk. 1997)

1.2.3 Sumber Limbah Industri Tahu


Limbah industri tahu pada umumnya dibagi menjadi 2 (dua) bentuk

limbah, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat pabrik pengolahan
tahu berupa kotoran hasil pembersihan kedelai (batu, tanah, kulit kedelai,
dan benda padat lain yang menempel pada kedelai) dan sisa saringan bubur
kedelai yang disebut dengan ampas tahu. Limbah padat yang berupa kotoran
berasal dari proses awal (pencucian) bahan baku kedelai dan umumnya limbah
padat yang terjadi tidak begitu banyak (0,3% dari bahan baku kedelai).
Sedangkan limbah padat yang berupa ampas tahu terjadi pada proses
penyaringan bubur kedelai. Ampas tahu yang terbentuk besarannya berkisar
antara 25-35% dari produk tahu yang dihasilkan (Sudarmadji, dkk. 1997).
Limbah cair pada proses produksi tahu berasal dari proses perendaman,
pencucian kedelai, pencucian peralatan proses produksi tahu, penyaringan dan
pengepresan/pencetakan tahu. Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh
industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan
tahu yang disebut dengan air dadih (whey). Cairan ini mengandung kadar
protein yang tinggi dan dapat segera terurai. Limbah ini sering dibuang secara
langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk
dan mencemari lingkungan (Sudarmadji, dkk. 1997).
1.2.4

Parameter Limbah Industri Tahu


Limbah cair industri tahu merupakan salah satu sumber pencemaran

lingkungan. Beban pencemaran yang ditimbulkan menyebabkan gangguan


serius terutama untuk perairan di sekitar industri tahu. Mengingat asal air
buangan berasal dari proses yang berbeda-beda, maka karakteristiknya
berbeda-beda pula. Untuk air buangan yang berasal dari pencucian dan
perendaman nilai cemarnya tidak begitu tinggi sehingga masih dapat dibuang
ke perairan. Sedangkan untuk air buangan yang berasal dari proses pemasakan
nilai cemarnya cukup tinggi, dengan demikian harus diolah terlebih dahulu
sebelum dibuang ke perairan (Sudarmadji, dkk. 1997).
Pada umumnya limbah cair pabrik tahu ini langsung dibuang ke sungai
melalui saluran-saluran. Bila air sungai cukup deras dan lancar serta
pengenceran cukup (daya dukung lingkungan masih baik) maka air buangan

tersebut tidak menimbulkan masalah. Tetapi bila daya dukung lingkungan sudah
terlampaui, maka air buangan yang banyak mengandung bahan-bahan organik
akan mengalami proses peruraian oleh jasad renik dapat mencemari
lingkungan. Parameter air limbah tahu yang biasanya diukur antara lain
temperatur, pH, padatan-padatan tersuspensi (TSS) dan kebutuhan oksigen
(BOD dan COD). Temperatur

biasanya

diukur

dengan

termometer air raksa dengan skala Celsius. Nilai pH air

menggunakan

digunakan

untuk

mengekpresikan kondisi keasaman (konsentrasi ion hidrogen) air limbah. Skala


pH berkisar antara 1-14; kisaran nilai pH 1-7 termasuk kondisi asam, pH 7-14
termasuk kondisi basa, dan pH 7 adalah kondisi netral (Sudarmadji, dkk.
1997).
Padatan-padatan Tersuspensi/TSS (Total Suspended Solid) digunakan
untuk menentukan kepekatan air limbah, efisiensi proses dan beban unit proses.
Pengukuran yang bervariasi terhadap konsentrasi residu diperlukan untuk
menjamin kemantapan proses kontrol. Kebutuhan oksigen dalam air limbah
ditunjukkan melalui BOD dan COD (Sudarmadji, dkk. 1997).
BOD (Biological Oxygen Demand) adalah oksigen yang diperlukan
oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi senyawa-senyawa kimia. Nilai BOD
bermanfaat

untuk

mengetahui apakah

air

limbah

tersebut

mengalami

biodegradasi atau tidak, yakni dengan membuat perbandingan antara nilai BOD
dan COD. Oksidasi berjalan sangat lambat dan secara teoritis memerlukan
waktu tak terbatas. Dalam waktu 5 hari (BOD5), oksidasi organik karbon akan
mencapai 60%-70% dan dalam waktu 20 hari akan mencapai 95% (Sudarmadji,
dkk. 1997).
COD adalah kebutuhan oksigen dalam proses oksidasi secara kimia. Nilai
COD akan selalu lebih besar daripada BOD karena kebanyakan senyawa lebih
mudah teroksidasi secara kimia daripada secara biologi. Pengukuran COD
membutuhkan waktu yang jauh lebih cepat, yakni dapat dilakukan selama 3
jam, sedangkan pengukuran BOD paling tidak memerlukan waktu 5 hari. Jika
korelasi antara BOD dan COD sudah diketahui, kondisi air limbah dapat
diketahui (Sudarmadji, dkk. 1997).

1.2.5 Karakteristik Limbah Industri Tahu


Karakteristik buangan industri tahu meliputi dua hal, yaitu karakteristik
fisika dan kimia. Karakteristik Fisika meliputi padatan total, padatan tersuspensi,
suhu, warna, dan bau. Karakteristik kimia meliputi bahan organik, bahan
anorganik dan gas. Suhu air limbah tahu berkisar 37 - 45C, kekeruhan 535 585 FTU, warna 2.225 - 2.250 Pt.Co, amonia 23,3 - 23,5 mg/L, BOD5 6.000 8.000 mg/L dan COD 7.500 - 14.000 mg/L (Sudarmadji, dkk. 1997).
Suhu buangan industri tahu berasal dari proses pemasakan kedelai. Suhu
0
limbah cair tahu pada umumnya lebih tinggi dari air bakunya, yaitu 40 C
0
46 C. Suhu yang meningkat di lingkungan perairan akan mempengaruhi
kehidupan biologis, kelarutan oksigen dan gas lain, kerapatan air, viskositas,
dan tegangan permukaan. Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam
buangan industri tahu pada umumnya sangat tinggi. Senyawa-senyawa organik
di dalam air buangan tersebut dapat berupa protein, karbohidrat, lemak dan
minyak. Diantara senyawa-senyawa tersebut, protein dan lemak adalah yang
jumlahnya paling besar. Protein mencapai 40-60%, karbohidrat 25-50% dan
lemak 10%. Air buangan industri tahu kualitasnya bergantung dari proses
yang digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik
pada air buangannya biasanya rendah. Komponen terbesar dari limbah cair tahu
yaitu protein (N-total) sebesar 226,06 - 434,78 mg/L, sehingga masuknya
limbah cair tahu ke lingkungan perairan akan meningkatkan total nitrogen di
perairan tersebut. Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah tahu adalah gas
nitrogen (N2), Oksigen (O2), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3),
karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari
dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air buangan
(Sudarmadji, dkk. 1997).
Limbah padat industri tahu berupa kulit kedelai dan ampas tahu.
Ampas tahu masih mengandung kadar protein cukup tinggi sehingga masih
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak dan ikan. Akan tetapi kandungan

air ampas tahu yang masih tinggi merupakan penghambat digunakannya ampas
tahu sebagai makanan ternak. Salah satu sifat dari ampas tahu ini adalah
mempunyai sifat yang cepat tengik (basi dan tidak tahan lama) dan
menimbulkan bau busuk kalau tidak cepat dikelola. Pengeringan merupakan
salah satu jalan untuk mengatasinya. Pengeringan juga mengakibatkan
berkurangnya asam lemak bebas dan ketengikan ampas tahu serta dapat
memperpanjang umur simpan (Sudarmadji, dkk. 1997).
1.2.6 Dampak Limbah Industri Tahu
Dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran bahan organik limbah industri
tahu adalah gangguan terhadap kehidupan biotik. Turunnya kualitas air
perairan akibat meningkatnya kandungan bahan organik. Aktivitas organisme
dapat memecah molekul organik yang kompleks menjadi molekul organik
yang sederhana. Bahan anorganik seperti ion fosfat dan nitrat dapat dipakai
sebagai makanan oleh tumbuhan yang melakukan fotosintesis. Selama proses
metabolisme oksigen banyak dikonsumsi, sehingga apabila bahan organik dalam
air sedikit, oksigen yang hilang dari air akan segera diganti oleh oksigen hasil
proses fotosintesis dan oleh reaerasi dari udara. Sebaliknya jika konsentrasi
beban organik terlalu tinggi, maka akan tercipta kondisi anaerobik yang
menghasilkan produk dekomposisi berupa amonia, karbondioksida, asam asetat,
hidrogen sulfida, dan metana. Senyawa-senyawa tersebut sangat toksik bagi
sebagian besar hewan air, dan akan menimbulkan gangguan terhadap keindahan
(gangguan estetika) yang berupa rasa tidak nyaman dan menimbulkan bau
(Sudarmadji, dkk. 1997).
Limbah cair yang dihasilkan mengandung padatan tersuspensi maupun
terlarut, akan mengalami perubahan fisika, kimia, dan hayati yang akan
menimbulkan gangguan terhadap kesehatan karena menghasilkan zat beracun
atau menciptakan media untuk tumbuhnya kuman penyakit atau kuman lainnya
yang merugikan baik pada produk tahu sendiri ataupun tubuh manusia. Bila
dibiarkan, air limbah akan berubah warnanya menjadi cokelat kehitaman dan
berbau busuk. Bau busuk ini mengakibatkan sakit pernapasan. Apabila air limbah

ini merembes ke dalam tanah yang dekat dengan sumur maka air sumur itu
tidak dapat dimanfaatkan lagi. Apabila limbah ini dialirkan ke sungai maka
akan mencemari sungai dan bila masih digunakan akan menimbulkan
gangguan kesehatan yang berupa penyakit gatal, diare, kolera, radang usus dan
penyakit lainnya, khususnya yang berkaitan dengan air yang kotor dan sanitasi
lingkungan yang tidak baik (Sudarmadji, dkk. 1997).
1.2.7 Metode Koagulasi
Koagulasi adalah proses dimana terjadi destabilisasi pada suspensi atau
larutan. Fungsi koagulasi di sini adalah untuk mengatasi faktor-faktor yang
menstabilkan sistem (Bratby, 2006). Reaksi koagulasi dapat berjalan dengan
membubuhkan zat pereaksi (koagulan) sesuai dengan zat yang telarut (Kusnaedi,
2004). Koagulan merupakan bahan yang dapat mempercepat terjadinya koagulasi
(Alamsyah, 2002). Koagulan berfungsi untuk menetralkan muatan listrik pada
partikel-partikel halus sehingga dapat meningkatkan jarak efektif gaya tarikmenarik London - Van Der Waals dan membentuk partikel-partikel yang lebih
besar (Prakoso, 2013). Jenis-jenis koagulan yang digunakan saat ini sangat
beragam. Dari seluruh jenis koagulan tersebut memiliki sifat, karakteristik dan
cara kerja yang berbeda. Beberapa jenis koagulan yang sering digunakan adalah
Lime [CaO atau Ca(OH)2], Alum [Al2(SO4)3.14H2O], Ferri klorida (FeCl3), Ferro
sulfat (FeSO4.7H2O) dan Polialuminium klorida (Sutiyono, 2006). Pada proses
koagulasi, koagulan yang mengandung garam aluminium atau besi ditambahkan
ke dalam air sehingga terbentuk kompleks aluminium hidroksida atau besi
hidroksida yang bermuatan positif. Partikel bermuatan positif ini akan
mengadsorpsi partikel koloid bermuatan negatif seperti tanah liat dan partikelpartikel lain penyebab timbulnya warna dan kekeruhan (Johnson et al, 2009).
Dalam memilih koagulan, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Faktor-faktor tersebut antara lain (Sugiharto, 1987):
a. Sifat dan kualitas dari air limbah
b. Variasi dalam kualitas air limbah yang dapat berupa suhu dan pH
c. Kualitas output yang diinginkan setelah proses pengolahan

d. Sifat pengolahan setelah proses koagulasi


e. Derajat kemurnian dari reagen
Pengujian untuk memilih koagulan biasanya dilakukan di laboratorium.
Untuk melaksanakan pemilihan koagulan, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap
karakteristik air baku yang akan diolah yaitu (Anonim, 2013) :
1. Suhu.
Suhu rendah berpengaruh terhadap daya koagulasi sehingga untuk
mempertahankan hasil yang dapat diterima, koagulan yang dipakai harus lebih
banyak.
2. pH.
Nilai pH ekstrim, baik tinggi maupun rendah, dapat berpengaruh terhadap
koagulasi. Masing-masing koagulan memiliki pH optimum yang berbeda-beda.
3. Alkalinitas.
Alum sulfat dan ferri sulfat bereaksi dengan air membentuk senyawa
aluminium atau ferri hidroksida yang kemudian akan memulai proses koagulasi.
Alkalinitas yang rendah membatasi reaksi ini dan menghasilkan koagulasi yang
kurang baik. Pada kasus demikian, mungkin diperlukan penambahan alkali ke
dalam air.
4. Kekeruhan.
Makin rendah kekeruhan, pembentukkan flok yang baik makin sukar terjadi.
Operator harus menambah zat pemberat untuk membuat partikel-partikel menjadi
lebih sering bertumbukan.
5. Warna.
Warna mengindikasikan senyawa organik, dimana zat organik ini bisa
bereaksi dengan koagulan sehingga mengganggu proses koagulasi.

1.2.8 Total Solid, Total Suspended Solid dan Total Desolved Solid
Dalam air limbah ditemui dua kelompok zat, yaitu zat terlarut seperti garam
dan molekul organis, dan zat padat tersuspensi (koloidal), seperti tanah liat dan
kwarts. Perbedaan kedua kelompok zat ini ditentukan melalui ukuran/diameter
partikel-partikel tersebut. Analisa zat padat dalam air limbah saangat penting bagi
penentuan komponen-komponen air limbah secara lengkap, juga untuk

perencanan serta pengawasan proses-proses pengolahan lebih lanjut (Edward,


dkk. 2013).
Dalam metode analisa zat padat, pengertian zat padat total adalah semua zatzat tersisa sebagai residu dalam suatu bejana, bila sampel air dalam bejana
tersebut dikeringkan pada suhu tertentu, zat padat total terdiri dari zat terlarut dan
zat padat tersuspensi yang dapat bersifat organis dan an-organis (Edward, dkk.
2013).
Zat padat total (TS)

Zat padat terlarut (TDS)


+

Zat padat organis

Zat padat tersuspensi (TSS)

+
Zat padat an-organis

Zat padat tersuspensi dapat diklasifikasikan sekali lagi menjadi zat padat
terapung yang selalu bersifat organis dan zat padat terendap yang dapat bersifat
organis dan an-organis. Zat padat terendap adalah zat padat dalam suspensi yang
dalam keadaan tenang dapat mengendap setelah waktu tertentu karena pengaruh
gaya beratnya. Penentuan zat padat terendap dapat melalui volumenya, yang
disebut analisa volume lumpur (sludge volume), dan dapat melalui beratnya
disebut analisa lumpur kasar (zat padat terendap = settleable solids). Dimensi dari
zat-zat padat diatas adalah dalam mg/L atau gr/L, namun ditemui pula % b yaitu
kg zat padat/ kg larutan atau % V yaitu ml/L (Edward, dkk. 2013).

BAB II
PERCOBAAN

2.1 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan pengolahan limbah cair
industri dengan metoda koagulasi yaitu air limbah tahu dan Aluminium sulfat
(Al2(SO4)3.14H2O) sebagai koagulan.
2.2 Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan percobaan analisa TPH (Total
Petroleum Hydrocarbon) pada pencemaran tanah antara lain :
1. Timbangan digital
2. Oven
3. Desikator
4. Beaker glass
5. Pompa vakum
6. Corong
7. Cawan porslen
8. Pipet tetes
9. Kertas saring
10. Batang pengaduk
2.3 Prosedur Percobaan
2.3.1 Pengolahan limbah cair tahu tanpa penambahan koagulan.
2.3.1.1 Menentukan zat padat total (Total Solid = TS)
1. Cawan porslen (kosong) ditimbang beratnya dengan menggunakan
timbangan digital (a gram).
2. Sebanyak 10 gram sampel (c gram) dimasukkan kedalam cawan penguap
yang sudah dikeringkan tadi, diuapkan dan dikeringkan didalam oven pada
suhu 105C sampai berat konstan lalu ditimbang (b gram). Berat residu
didalam cawan adalah zat padat total.
Zat padat total dihitung berdasarkan rumus berikut:
Zat padat total (TS)=

( ba )
x 100
c

Keterangan : a = berat cawan porslen kosong (gram)

b = berat cawan porslen dan residu (gram)


c = berat sampel (gram)
2.3.1.2 Menentukan zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid = TSS)
1. Kertas saring (kosong) ditimbang beratnya dengan menggunakan timbangan
digital (a gram).
2. Sampel sebanyak 100 gram (c gram) disaring dengan menggunakan kertas
saring yang sudah ditimbang.
3. Bagian yang tertinggal di kertas saring dan kertas saringnya dikeringkan di
dalam oven pada suhu 105C selama 1 jam, kemudian didinginkan di dalam
desikator selama 15 menit dan ditimbang (b gram).
Zat padat tersuspensi dihitung berdasarkan rumus berikut:

Zat padat tersuspensi(TSS)=

( ba )
x 100
c

Keterangan : a = berat kertas saring kosong (gram)


b = berat cawan porslen dan residu (gram)
c = berat sampel (gram)

2.3.1.3 Menentukan zat padat terlarut (Total Desolved Solid = TDS)


Zat padat terlarut yaitu zat padat yang lolos dari kertas saring (filtrat) pada
penentuan zat padat tersuspensi (2.3.1.2).
1. Cawan porslen (kosong) dikeringkan lalu ditimbang (a gram).
2. Filtrat pada 2.3.1.2 diambil sebanyak 10 gram lalu dituangkan ke dalam
cawan porslen dan dikeringkan di dalam oven pada suhu 1050 (sampai
kering), kemudian didinginkan didalam desikator serta ditimbang (b gram).
Zat padat terlarut dihitung berdasarkan rumus berikut:
Zat padat terlarut (TDS )=

( ba )
x 100
c

Keterangan : a = berat cawan porslen kosong (gram)


b = berat cawan porslen dan residu (gram)

c = berat sampel (gram)

2.3.2 Pengolahan limbah cair tahu dengan penambahan koagulan.


Berat sampel yang digunakan yaitu sebanyak 80 gram, sedangkan koagulan
Aluminium sulfat (Al2(SO4)3.14H2O) yang ditambahkan yaitu sebanyak 6% dari
berat sampel (4,8 gram). Adapun prosedur percobaanya yaitu:
1. Sampel air limbah tahu dimasukkan ke dalam beaker glass sebanyak 80 ml.
2. Sampel ditambahkan koagulan Al2(SO4)3.14H2O sebanyak 4,8 gram,
kemudian diaduk beberapa saat dan didiamkan selama satu hari.
3. Pipet larutan sampel (bagian atas) sebanyak 10 ml untuk pengujian TSS dan
TDS.
4. Prosedur pengujian TSS dan TDS pada pengolahan limbah cair tahu dengan
penambahan koagulan sama dengan prosedur pengujian TSS dan TDS pada
pengolahan limbah cair tahu tanpa penambahan koagulan.
5. Efisiensi penggunaan koagulan dihitung dengan menggunakan persamaan :
Efisiensi=

TS1 TS2
x 100
TS1

Keterangan : TS1 = zat padat total pada pengolahan tanpa penambahan


koagulan (%)
TS2 = zat padat total pada pengolahan dengan penambahan
koagulan (%)
2.4. Diagram Alir Percobaan
2.4.1 Pengolahan limbah cair tahu tanpa penambahan koagulan.
2.4.1.1 Menentukan zat padat total (Total Solid = TS)

Menimbang cawan
kosong 10 gr sampel
- Dimasukkan
Cawan + Sampel
Dioven pada suhu 105C
- Sampai larutan dalam cawan habis

Ditimbang

2.4.1.2 Menentukan zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid = TSS)


Kertas saring ditimbang

100 gr sampel disaring

Kertas saring + padatan di oven


- Sampai kering

Penimbangan

2.4.1.3 Menentukan zat padat terlarut (Total Desolved Solid = TDS)


Cawan kosong ditimbang
- Dimasukkan filtrat sebanyak 10 gr

Cawan + Sampel

Dioven/dipanaskan

Cawan + sampel ditimbang


2.4.2 Pengolahan limbah cair tahu dengan penambahan koagulan.

Sampel 80 gr + koagulan
6% dari sampel

Diaduk

Didiamkan selama 1 hari

Dipisahkan antara filtrat dan endapan

Filtrat

Endapan

2.4.2.1 Menentukan zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid = TSS)


Kertas saring ditimbang
Sampel disaring
menggunakan kertas saring

Kertas saring + padatan

Dioven

Ditimbang

2.4.2.2 Menentukan zat padat terlarut (Total Desolved Solid = TDS)


Cawan kosong ditimbang

Diambil filtrat 10 gr dimasukkan


kedalam cawan

Ditimbang
Dioven/dipanaskan

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1

Hasil Percobaan
Hasil percobaan pengolahan limbah cair industri tahu dengan metode

koagulasi disajikan pada Tabel 3.1.


Tabel 3.1 Hasil percobaan pengolahan limbah cair industri tahu dengan
metode koagulasi
Pengolahan tanpa
penambahan koagulan
TS
TSS
TDS
(%)
1,497
3.2

(%)
0,097

(%)
1,4

Pengolahan dengan
penambahan koagulan
TS
TSS
TDS
(%)
1,04

(%)
0,08

(%)
0,96

Efisiensi
(%)
30,53

Pembahasan
Tahapan proses dari percobaan pengolahan limbah cair industri tahu dengan

metode koagulasi dimulai dengan melakukan pengujian zat padat total (Total
Solid (TS)), zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid (TSS)) dan zat padat
terlarut (Total Desolved Solid (TDS)) yang terkandung di dalam limbah cair tahu
tanpa melalaui proses koagulasi terlebih dahulu. Hasil percobaan seperti yang
tercantum pada Tabel 3.1 didapat kadar TS, TSS dan TDS tanpa koagulasi secara
berturut-turut sebesar 1,497%; 0,097% dan 1,4%.
Tahapan proses selanjutnya yaitu melakukan pengujian zat padat tersuspensi
(Total Suspended Solid (TSS)) dan zat padat terlarut (Total Desolved Solid (TDS))
yang terkandung di dalam limbah cair tahu dengan melalaui proses koagulasi
terlebih dahulu. Zat padat total (Total Solid (TS)) didapat dari penjumlahan TSS
dan TDS. Hasil percobaan seperti yang tercantum pada Tabel 3.1 didapat kadar
TS, TSS dan TDS dengan penambahan koagulan secara berturut-turut sebesar
1,04%; 0,08% dan 0,96%. Berdasarkan Tabel 3.1 juga dapat dilihat bahwa
penggunaan koagulan memberikan efisiensi yang cukup besar bagi penurunan
konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahu, yaitu sebesar 30,53%.

Secara keseluruhan, perbandingan konsentrasi berbagai analisa zat padat


pada limbah cair tahu hasil percobaan, baik dengan penambahan koagulan
maupun tanpa penambahan koagulan dapat dilihat pada Gambar 3.1.

1.5
1.2
0.9

Konsentrasi (%)

0.6
Tanpa koagulasi

Dengan koagulasi

0.3
0
TS

TSS

TDS

Analisa Zat Padat

Gambar 3.1 Diagram perbandingan konsentrasi berbagai analisa zat padat pada
limbah cair tahu.
Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa konsentrasi TS, TSS dan TDS
limbah cair tahu yang telah mengalami proses koagulasi lebih rendah
dibandingkan dengan konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahu yang tidak
mengalami proses koagulasi terlebih dahulu. Koagulan berfungsi untuk
menetralkan muatan listrik pada partikel-partikel halus sehingga dapat
meningkatkan jarak efektif gaya tarik-menarik London - Van Der Waals dan
membentuk partikel-partikel yang lebih besar (Prakoso, 2013). Penambahan
koagulan akan memperkecil konsentrasi TS, TSS dan TDS. Hal ini dikarenakan
sifat koagulan yang mampu membuat partikel-partikel koloid dalam limbah
bergabung membentuk flok dan mengendap karena adanya gaya grafitasi.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1. Penambahan koagulan akan memperkecil konsentrasi TS, TSS dan TDS.
Konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahu yang diolah tanpa koagulasi
secara berturut-turut sebesar 1,497%; 0,097% dan 1,4%, sedangkan
konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahuyang diolah tanpa koagulasi
secara berturut-turut sebesar 1,04%; 0,08% dan 0,96%.
2. Penggunaan koagulan memberikan efisiensi yang cukup besar bagi
penurunan konsentrasi TS, TSS dan TDS limbah cair tahu, yaitu sebesar
30,53%.
4.2. Saran
Pada percobaan ini, praktikan menghabiskan banyak waktu hanya untuk
melakukan penimbangan dan pengovenan bahan dari satu laboratorium ke
laboratorium lainnya. Seharusnya peralatan percobaan pengolahan limbah cair
industri dengan metoda koagulasi, seperti misalnya neraca digital dan oven,
tersedia dengan lengkap di dalam laboratorium dasar-dasar proses kimia.

DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Sujana. 2004. Merakit Sendiri Alat Penjernih Air Untuk Rumah
Tangga. Semarang: Esis.
Anonim. 2013. Meninjau Prose Koagulasi dan Flokulasi Dalam Suatu Instalasi
Pengolahan Air. [online] Tersedia : http://smk3madiun.sch.id [Diakses pada
20 Desember 2103]
Bratby, John. 2006. Coagulation and Flocculation in Water and Wastewater
Treatment. IWA Publishing. London.
Johnson, Michael, Don D. Ratnayaka, Malcom J. Brandt. 2009. Tworts Water
Supply. Elsevier Ltd. Burlington.
Kusnaedi. 2004. Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum. Surabaya: Penebar
Swadaya.
Sudarmadji, dkk. 1997. Manfaat Limbah Tahu. Jakarta
Prakoso, Pulung Adi. 2013. Pengaruh Koagulan dan Flokulan Terhadap
Pengendapan Dalam Thickener Untuk Pemanfaatan Tailing di PT. XYZ
Unis

Bisnis

Pertambangan

Emas

Bongkor.

[online]

Tersedia

http://digilib.itb.ac.id [Diakses pada19 Desember 2013]


Sugiharto. 1987. Dasar Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta : UI-Press.
Sutiyono. 2006. Pemanfaatan Bittern Sebagai Koagulan Pada Limbah Cair
Industri Kertas. Jurnal Teknik Kimia Vol. 1, No. 1, September 2006.

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN
Adapun perhitungan dari data-data yang didapat pada percobaan pengolahan
limbah cair industri dengan metode koagulasi yaitu :
A.1. Pengolahan Limbah Tahu Tanpa Penambahan Koagulan

Total Solid (TS)


Berat cawan kosong (a)
Berat cawan + residu (b)
Berat sampel (c)
TS=

= 82,19 gr
= 82,27 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

( 82,3782,19 ) gr
x 100
10 gr

1,8%

Total Suspended Solid (TSS)


Berat kertas saring kosong (a)
Berat kertas saring + residu (b)
Berat sampel (c)
TSS=

= 0,97 gr
= 1,94 gr
= 100 gr

( ba )
x 100
c

( 1,940,97 ) gr
x 100
100 gr

0,97%
Untuk 10 gram sampel, didapat TSS sebesar 0,097%.

Total Desolved Solid (TDS)


Berat cawan kosong (a)

= 82,19 gr

Berat cawan + residu (b)


Berat sampel (c)
TDS=

= 82,33 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

( 82,3382,19 ) gr
x 100
10 gr

1,4%
Berdasarkan perhitungan TSS dan TDS, didapat nilai TS sebesar 1,497%.
A.2. Pengolahan Limbah Tahu dengan Penambahan Koagulan

Total Suspended Solid (TSS)


Berat kertas saring kosong (a)
Berat kertas saring + residu (b)
Berat sampel (c)
TSS=

= 1,27 gr
= 1,278 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

( 1,2781,27 ) gr
x 100
10 gr

0,08%

Total Desolved Solid (TDS)


Berat cawan kosong (a)
Berat cawan + residu (b)
Berat sampel (c)

TDS=

( ba )
x 100
c

(59,20459,108)
x 100
10

= 59,108 gr
= 59,204 gr
= 10 gr

0,96%
Sehingga didapat TS limbah tahu dengan penambahan koagulan sebesar 1,04%
(TSS + TDS).

A.3. Efisiensi
Adapun efesiensi yang didapat yaitu sebesar :
Efisiensi=

TStanpa koagulasi TS dengankoagulasi


x 100
TStanpa koagulasi

( 1,4971,04 )
x 100
1,497
30,53

LAMPIRAN B
DOKUMENTASI

Gambar B.1 Limbah cair tahu


(Sumber: Arsip pribadi)

Gambar B.2 Koagulan Alum


(Sumber: Arsip pribadi)

Gambar B.3 Proses penyaringan


(Sumber: Arsip pribadi)

Gambar B.4 Limbah cair tahu setelah mengalami proses koagulasi


(Sumber: Arsip pribadi)

Gambar B.5 Analisa TDS pada limbah cair tahu tanpa penambahan koagulan
(kiri) dan dengan penambahan koagulan (kanan).
(Sumber: Arsip pribadi)

LAMPIRAN C
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Pengolahan Limbah Cair Industri dengan Metoda


Koagulasi

Hari/Tanggal Praktikum

: Kamis/12 Desember 2013

Pembimbing

: Drs. Edward, HS, M.Si

Asisten Laboratorium

: Imelda Dewi Agusti

Nama Kelompok II

: Rita Puriani Mendrova (1107035609)


Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)

Hasil Percobaan

Percobaan pengolahan limbah cair industri dengan metoda koagulasi ini


menggunakan limbah cair tahu. Pengolahan limbah cair tahu dilakukan tanpa
penambahan koagulan Aluminium sulfat (Al2(SO4)3.14H20) dan dengan
penambahan koagulan Aluminium sulfat (Al2(SO4)3.14H20).
C.1. Diagram Alir Percobaan
C.1.1 Pengolahan limbah cair tahu tanpa penambahan koagulan.
C.1.1.1 Menentukan zat padat total (Total Solid = TS)

Menimbang cawan
kosong 10 gr sampel
- Dimasukkan
Cawan + Sampel
Dioven pada suhu 105C
- Sampai larutan dalam cawan habis

Ditimbang

C.1.1.2 Menentukan zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid = TSS)


Kertas saring ditimbang

100 gr sampel disaring

Kertas saring + padatan di oven


- Sampai kering

Penimbangan

C.1.1.3 Menentukan zat padat terlarut (Total Desolved Solid = TDS)


Cawan kosong ditimbang
- Dimasukkan filtrat sebanyak 10 gr

Cawan + Sampel

Dioven/dipanaskan

Cawan + sampel ditimbang

C.1.2 Pengolahan limbah cair tahu dengan penambahan koagulan.

Sampel 80 gr + koagulan
6% dari sampel

Diaduk

Didiamkan selama 1 hari

Dipisahkan antara filtrat dan endapan

Filtrat

Endapan

C.1.2.1 Menentukan zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid = TSS)


Kertas saring ditimbang

Sampel disaring
menggunakan kertas saring

Kertas saring + padatan


Dioven
Ditimbang

C.1.2.2 Menentukan zat padat terlarut (Total Desolved Solid = TDS)


Cawan kosong ditimbang

Diambil filtrat 10 gr dimasukkan


kedalam cawan

Dioven/dipanaskan

Ditimbang

C.2. Pengolahan Limbah Tahu Tanpa Penambahan Koagulan

Total Solid (TS)


Berat cawan kosong (a)
Berat cawan + residu (b)
Berat sampel (c)
TS=

= 82,19 gr
= 82,27 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

( 82,3782,19 ) gr
x 100
10 gr

1,8%

Total Suspended Solid (TSS)


Berat kertas saring kosong (a)
Berat kertas saring + residu (b)
Berat sampel (c)

= 0,97 gr
= 1,94 gr
= 100 gr

TSS=

( ba )
x 100
c

( 1,940,97 ) gr
x 100
100 gr

0,97%
Untuk 10 gram sampel, didapat TSS sebesar 0,097%.

Total Desolved Solid (TDS)


Berat cawan kosong (a)
Berat cawan + residu (b)
Berat sampel (c)
TDS=

= 82,19 gr
= 82,33 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

( 82,3382,19 ) gr
x 100
10 gr

1,4%
Berdasarkan perhitungan TSS dan TDS, didapat nilai TS sebesar 1,497% (TSS +
TDS).

C.3. Pengolahan Limbah Tahu dengan Penambahan Koagulan

Total Suspended Solid (TSS)

Berat kertas saring kosong (a)


Berat kertas saring + residu (b)
Berat sampel (c)

TSS=

= 1,27 gr
= 1,278 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

( 1,2781,27 ) gr
x 100
10 gr

0,08%

Total Desolved Solid (TDS)


Berat cawan kosong (a)
Berat cawan + residu (b)
Berat sampel (c)
TDS=

= 59,108 gr
= 59,204 gr
= 10 gr

( ba )
x 100
c

(59,20459,108)
x 100
10

0,96%
Sehingga didapat TS limbah tahu dengan penambahan koagulan sebesar 1,04%
(TSS + TDS).

C.4. Efisiensi
Adapun efesiensi yang didapat yaitu sebesar :

Efesiensi=

TStanpa koagulasi TSdengan koagulasi


x 100
TS tanpa koagulasi

( 1,4971,04 )
x 100
1,497

30,53

Pekanbaru, 13 Desember 2013


Asisten Laboratorium,

Imelda Dewi Agusti