Anda di halaman 1dari 16

1

BLOK MEDICAL EMERGENCY


LAPORAN CASE STUDY-3
AVULSI DAN DISLOKASI TMJ






Tutor / Pembimbing :
drg. Yudi Prasetya Safari



Disusun Oleh :

Aristy Tresnahadi G1G010001
Rizki Surya Nugraha G1G010003
Deni Hermansyah G1G010012
Ika Mayasari G1G010018
Farikha Liqna Nailufar G1G010023
Ichma Amarviana Bekti G1G010024
Fida Thahirah G1G010025
Windha Kusumaningtyas G1G010038
Novita Dwi Saputri G1G010039
Pratidina Fitri Ramadhani G1G010048
Gelar S. Ramdhani G1G009020






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
2014

2

A. Avulsi
1. Definisi
Avulsi didefinisikan sebagai keluarnya seluruh gigi dari soket
akibat trauma. Secara klinik dan foto ronsen, gigi tidak berada di dalam
soket (Dalimunte, 2003). Tulang alveolar, sementum, ligament
periodontal, gingiva, dan pulpa akan mengalami kerusakan pada saat gigi
secara total keluar dari soketnya. Avulsi adalah Tercabutnya gigi dari
soketnya akibat trauma yang menyebabkan terputusnya ligament-ligamen
periodontal dan suplai darah ke jaringan pulpa. Sebagai akibatnya pulpa
gigi mengalami nekrosis dan periodonsium rusak parah (Ram D, 2004).
Kehilangan gigi tersebut signifikan dan dapat menimbulkan dampak
negatif. Selain mengalami gangguan fungsi dan estetis, psikologis juga
dapat terganggu karena akan merasa tidak percaya diri akibat hilangnya
gigi (Dalimunte, 2003).

2. Etiologi
Menurut Dalimunte (2003) penyebab gigi avulsi adalah: (1)
Kecelakaan lalu lintas; (2) Perkelahian; (3) Jatuh; (4) Kecelakaan
olahraga; (5) Kerusakan jaringan periodontal; dan (6) Penyakit sistemik,
seperti diabetes mellitus.
Avulsi pada gigi permanen biasanya terjadi pada anak lelaki usia 7-
10 tahun. Penyebab yang khas biasanya karena kecelakaan bersepeda,
bermain skateboard dan olahraga-olahraga lain. Pada usia 7-10 tahun,
akar pada gigi permanen belum sepenuhnya matur, struktur jaringan
periodontal masih longgar dan hubungan akar dengan tulang alveolar
masih lemah, serta tulang alveolar relatif lunak. Berbeda dengan orang
dewasa yang memiliki akar yang sudah matur, jaringan periodontal yang
kuat, serta tulang alveolar yang kuat sehingga lebih cenderung
mengalami fraktur gigi daripada avulse (King dan Henretig, 2008).



3

3. Penatalaksanaan
Avulsi adalah keluarnya seluruh gigi dari soketnya. Tindakan yang
diperlukan untuk menangani gigi yang avulsi yaitu replantasi gigi atau
mengembalikan gigi ke dalam soketnya seperti semula. Keberhasilan
perawatan dari gigi yang avulsi dipengaruhi faktor yaitu berapa lama
terjadinya, tempat kejadian, tindakan apa yang dilakukan pertama kali
ketika terjadinya gigi avulsi dan bagaimana cara penanganan gigi avulsi
tersebut.
Prognosis perawatannya dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu: tingkat
kerusakan atau luas dari kerusakan yang dialami, apakah kerusakan yang
dialami meliputi jaringan lain di sekitar gigi, seperti jaringan lunak
maupun jaringan keras seperti tulang rahang, kualitas dan kesegeraan
dari perawatan yang dilakukan setelah terjadi trauma, serta evaluasi dari
penatalaksanaan selama masa penyembuhan. Gigi yang akan dilakukan
replantasi mempunyai golden periode yaitu 2 jam setelah gigi itu
terlepas. Apabila gigi direplantasi lebih dari 2 jam, kemungkinan gigi
akan menjadi non vital sehingga gigi tersebut perlu mendapat perawatan
endodontik setelah difiksasi. Syarat-syarat gigi yang akan di replantasi,
yaitu:
a. Gigi yang avulsi sebaiknya sehat dan tidak terdapat karies yang luas
b. Tulang alveolar harus tetap utuh agar dapat menahan gigi,tidak ada
fraktur atau penyakit periodontal
c. Gigi yang avulsi sebaiknya berada pada posisi yang baik dalam
lengkungnya tanpa kelainan ortodonsi
d. Ligamen periodontal tidak tergores

Tata laksana avulsi gigi
a. Gigi di masukkan kedalam larutan salin (sedikit garam dimasukkan
pada air menghasilkan salinitas 0,7%)
b. Pegang gigi pada bagian mahkota, jangan pada bagian akar karena
akan merusak sel-sel yang diperlukan untuk perlekatan gigi pada
dinding soket
4

c. Cuci gigi pada air mengalir atau larutan salin atau susu tanpa
digosok, irigasi soket tanpa menyentuh dinding soket
d. Lakukan penanaman kembali (replantasi), lakukan reposisi gigi
dengan meletakkan gigi pada soket dengan tekanan secara lembut
untuk mengembalikan gigi ke posisi semula, rahang atas dan rahang
bawah dioklusikan kemudian segera lakukan splinting
e. Splinting dilakukan dengan menggunakan metode essig, langkah-
langkahnya:
1) Persiapan alat
2) Adapasikan kawat primer pada semua gigi yang terlibat,
menyusur daerah singulum, kedua ujung kawat ditautkan
3) Kawat sekunder dimasukkan dari arah palatal/lingual sebelah
apikal dan insisal kawat primer ke labial melalui daerah titik
kontak, kedua ujung kawat ditautkan dan dipelintir searah
dengan jarum jam, ditarik dan dipotong 3-4 mm, kemudian
diselempitkan ke arah interdental.
f. Peringatkan pasien dan orang tuanya akan bahaya terjadinya
nekrosis pulpa, resorpsi akar, atau ankilosis.
g. Berikan medikasi pada pasien berupa analgesik dan antibiotik
h. Edukasi yang diberikan pada pasien berupa;
1) Jangan menggunakan gigi yang baru saja direplantasi untuk
menggigit
2) Konsumsi makanan lunak
3) Menjaga kebersihan rongga mulut
4) Jangan berkumur sesaat setelah replantasi, berkumur dengan air
garam hangat dapat dilakukan sekitar 6 jam setelah replantasi.
Berkumur setiap 2 jam untuk mencegah terjadinya
pembengkakan pada area sekitar gigi yang di replantasi
5) Kontrol 1 minggu kemudian
(Grossman, 1995)


5

B. Dislokasi TMJ
1. Definisi
Dislokasi mandibula adalah suatu gangguan yang terjadi karena
pergeseran sendi. Dislokasi temporomandibular joint (TMJ) adalah suatu
gangguan yang terjadi karena pergeseran sendi antara tulang temporal
dengan tulang rahang (mandibula). Dislokasi dapat pula didefinisikan
sebagai pergerakan kondilus kearah depan dari eminensia artikularis
yang memerlukan beberapa bentuk manipulasi untuk mereduksinya
(Pedersen, 2003).
Dislokasi dapat terjadi satu sisi (unilateral) atau dua sisi (bilateral)
dan dapat bersifat akut atau emergensi, kronis atau long-standing serta
kronis yang bersifat rekuren yang dikenal dengan dislokasi habitual,
sehingga penderita akan mengalami kelemahan yang sifatnya abnormal
dari kapsula pendukung dan Ligamen. Pada sebagian besar kasus,
dislokasi terjadi secara spontan saat membuka mulut terlalu lebar,
misalnya menguap, berteriak, makan, bernyanyi atau pada saat perawatan
gigi (Pedersen, 2003).

2. Etiologi
Terdapat beberapa etiologi terjadinya dislokasi TMJ diantaranya yaitu:
a. Pasien mempunyai fosa mandibular yang dangkal serta kondilus
yang tidak berkembang dengan baik;
b. Anatomi yang abnormal serta kerusakan dari stabilisasi ligament
yang akan mempunyai kecenderungan untuk terjadi kembali
(rekuren);
c. Membuka mulut yang terlalu lebar atau terlalu lama;
d. Kelemahan kapsuler yang dihubungkan dengan subluksasi kronis;
e. Diskoordinasi otot-otot karena pemakaian obat-obatan atau
gangguan neurologis.
Dislokasi kronis rekuren berhubungan dengan kelemahan kapsula
dan ligament yang diakibatkan oleh penyembuhan yang tidak adekuat
dari penyakit degenerative, hipermobiliti serta adanya trama dan oklusal
6

disharmoni, yang akan menyebabkan spasme dari oto-otot masetter dan
pterygoid lateralis. Problem emosional dan gangguan neurofisiologi
adalah factor lain yang berhubungan.

3. Klasifikasi
Jenis dislokasi dibedakan berdasarkan letak condylus terhadap
fossa temporalis tulang temporal (Okeson, 2003) , sebagai berikut :
a. Dislokasi anterior
Dislokasi anterior biasanya terjadi akibat interupsi pada
sekuens normal kontraksi otot saat mulut tertutup setelah membuka
ekstrim. Muskulus masseter dan temporalis mengangkat mandibula
sebelum muskulus pterygoideus lateral berelaksasi, mengakibatkan
condylus mandibularis tertarik ke anterior tonjolan tulang dan keluar
dari fossa temporalis. Dislokasi anterior dibedakan menjadi 3, yaitu :
1) Dislokasi akut
Dislokasi akut terjadi akibat trauma atau reaksi distonik
namun biasanya disebabkan oleh pembukaan mulut yang
berlebihan seperti menguap, anestesi umum, ekstraksi gigi,
muntah, kejang, dan pada saat prosedur endoskopik.
2) Dislokasi kronik akut
Dislokasi kronik akut terjadi karena mekanisme yang
sama pada pasien dengan faktor resiko seperti fossa
mandibularis yang dangkal (kongenital), kehilangan kapsul
sendi akibat riwayat dislokasi sebelumnya (sindrom
hipermobilitas).
3) Dislokasi kronik
Dislokasi kronik terjadi karena dislokasi TMJ yang tidak
ditangani sehingga condylus tetap berada dalam posisinya yang
salah dalam waktu lama. Pada umumnya dibutuhkan reduksi
terbuka.


7

b. Dislokasi posterior
Dislokasi posterior pada umumnya terjadi akibat trauma fisik
langsung pada dagu dimana condylus mandibulariss tertekan ke
posterior ke arah mastoid. Dislokasi posterior dapat menyebabkan
jejas pada meatus acusticus externus akibat condylus.
c. Dislokasi superior
Dislokasi superior terjadi akibat trauma fisik langsung pada
mulut yang sedang berada dalam posisi terbuka. Sudut mandibula
pada posisi ini menjadi faktor pendukung pergeseran condylus ke
arah superior dan dapat mengakibatkan kelumpuhan nervus fasialis,
kontusio serebri dan gangguan pendengaran.
d. Dislokasi lateral
Dislokasi lateral biasanya terkait dengan fraktur mandibula
dimana condylus bergeser ke arah lateral dan superior serta sering
dapat dipalpasi pada permukaan temporal kepala.

4. Faktor Resiko TMJ
Menurut Ugboko (2005), Terdapat beberapa faktor risiko dislokasi
TMJ, antara lain:


a. Fossa mandibularis yang dangkal
b. Condylus yang kurang berkembang sempurna
c. Ligamen TMJ yang longgar
d. Penyakit jaringan ikat, misalnya sindrom Marfan, sindrom Ehlers-
Danlos

5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dislokasi TMj tergantung pada tingkat keparahan
dislokasi, apakah bersifat akut atau kronis. Pada keadaan akut yang
masih memungkinkan untuk dilakukan reposisi secara manual sebaiknya
sesegera mungkin sebelum spasme otot bertambah dalam. Sedangkan,
pada dislokasi kronis rekuren diperlukan prosedur pembedahan dan non
bedah lainnya untuk menghindari redislokasi.
8

Prosedur terapi manual :
a. Operator berada didepan pasien
b. Letakkan ibu jari pada daerah retromolar pad (gigi molar terakhir)
pada kedua sisi mandibula dan jari-jari yang lain memegang
permukaan bawah dari mandibula
c. Berikan tekanan pada gigi molar rahang bawah untuk membebaskan
kondilus dari posisi terkunci didepan eminensia artikularis
d. Dorong mandibula ke belakang untuk mengembalikan ke posisi
anatominya
e. Reposis yang berhasil ditandai dengan gigi gigi kembali beroklusi
dengan cepat karena spasme dari otot masseter
f. Pemasangan barton headbandage untuk mencegah redislokasi dan
membatasi pasien untuk tidak membuka mulut terlalu lebar dalam
24-48 jam
g. Pemberian obat berupa analgesik dan pelemas otot

Prosedur manual yang lain yaitu operator berdiri dibelakang pasien
kemudian ibu jari diletakkan pada retromolar pad dan jari-jari yang lain
memegang mandibula bagian depan, lalu mandibula ditekan ke arah
bawah dan biasanya akan tertarik dengan sendirinya ke posterior
(Bradley, 1994). Terapi dislokasi kronis dalam pengertian telah
berlangsung lama (long standing) atau terlambat dalam
penatalaksanaannya, menurut Bradley dkk (1994), yaitu
a. Reduksi secara manual
b. Reduksi secara tidak langsung dengan penarikan melalui sudut atau
prosesus coronoideus serta penekanan pada kondilus
c. Reduksi secara langsung melalui pembedahan pada sendi
d. Condylotomy, condylectomy, dan osteotomy

Pada dislokasi rekuren, penatalaksanaanya dapat dilakukan secara
konservatif dengan immobilisasi menggunakan interdental wiring selama
4-6 minggu atau dengan menggunakan cairan sklerosing yang
9

disuntikkan inta artikular. Penatalaksanaan dislokasi rekuren dengan
pembedahan, berdasarkan lima metode dasar bedah, yaitu :
a. Pengencangan mekanis dari kapsul
b. Mengikat bagian sendi atau mandibula ke struktur yang terfiksasi
c. Membuat hambatan mekanis pada jalur kondilus
d. Mengurangi gangguan pada jalur kondilus
e. Mengurangi tarikan dari otot
Prosedur pembedahan yang dapat dilakukan diantaranya
augmentasi eminensia, blocking hipertranslasi kondilus, myotomy otot
pterygoideus lateralis dan eminoplasty. Jika dislokasi diakibatkan oleh
trauma, maka reposisi harus diikuti dengan tindakan untuk
penatalaksanaan fraktur yang mengakibatkan dislokasi tersebut.

C. Analisa Kasus
1. Skenario
Seorang pelajar SMP (perempuan usia 12 tahun) datang ke IGD
RSGMP Unsoed karena giginya lepas dan tidak dapat menutup mulut
akibat kecelakaan motor 20menit yang lalu. Pasien datang diantar oleh
ayahnya dan orang yang menabraknya. Gigi yang terlepas telah
dibungkus tisu dan diserahkan pada perawat. Terdapat luka gores pada
pelipis pasien. Tidak ada luka berat di anggota tubuh lain. Dokter
spesialis bedah mulut yang kebetulan saat itu sedang jaga di poli gigi
segera datang ke IGD dan meminta perawat untuk segera mengantar
pasien ke ruang foto rontgen setelah luka goresnya dirawat dan
mengontrol perdarahan dari mulutnya. Hasil pemeriksaan intra oral
didapatkan gigi 11 mengalami avulsi, gingiva hiperemi dan nyeri di
sekitar soket (+). Pasien juga tidak dapat mengoklusikan giginya.
Pembukaan mulut tampak deviasi ke arah kanan dan palpasi preaurikular
lunak. Hasil foto rontgen tampak jaringan periodontal di sekitar gigi
avulsi masih baik dan posisi kondilus mandibula kiri berada di anterior
eminensia artikulare.

10



2. Pemeriksaan Subjektif
Identitas pasien : Perempuan , 12 tahun
CC : Gigi lepas dan tidak dapat menutup mulut karena kecelakaan
motor 20 menit yang lalu.
PI : Gigi dibungkus dengan tissue dan terdapat luka gores pada
pelipis. Tidak ada luka berat di anggota tubuh lain.
PMH : Tidak diketahui
PDH : Tidak diketahui
FH : Tidak diketahui
SH : Pelajar SMP

3. Pemeriksaan Klinis
a. Gigi 11 avulsi
b. Gingiva hiperemi
c. Nyeri sekitar soket (+)
d. Pasien tidak dapat oklusi
e. Pembukaan mulut deviasi ke arah kanan
f. Palpasi preaurikular lunak

4. Pemeriksaan Radiografi
a. Jaringan periodontal disekitar gigi avulsi baik.
b. Kondilus mandibula kiri berada di anterior eminensia artikularis.

11

5. Diagnosa
a. Dislokasi anterior unilateral
b. Avulsi gigi 11 et causa trauma

6. Rencana Perawatan
Penanganan Avulsi Gigi
a. Ketika pasien datang ke klinik, gigi segera diletakkan pada gelas
yang berisi larutan saline
b. Lakukan anamnesa, jelaskan rencana perawatan avulsi pada pasien,
dan lakukan foto ronsen pada gigi secepat mungkin.
c. Irigasi soket dengan air saline, jangan sampai menyentuh dinding
soket nya
d. Replantasi gigi pada soket nya, dengan cara memegang bagian
mahkota gigi dan tidak pada akar nya karena hal tersebut dapat
merusak sel-sel yang diperlukan untuk perlekatan pada dinding
soket.
e. Lakukan splinting pada gigi tersebut dengan menggunakan metode
essig.
f. Edukasikan pada pasien untuk menghindari makanan yang keras,
jangan mengunakan gigi yang baru direplantasi untuk mengigit, dan
tidak berkumur selama 24 jam, tidak menekan saat menyikat gigi
pada bagian gigi yang di splinting, dan berkumur air garam setelah
24 kemudian.
g. Kontrol 1 minggu kemudian.
h. Memberi resep obat analgesik yaitu paracetamol atau ibu profen dan
antibiotik spektrum luas.

Penanganan deviasi mandibula
a. Jika kemungkinan ada fraktur, perlu dilakukan ronsen foto terlebih
dahulu. Jika tidak ada trauma, dapat dilakukan penanganan proses
secara langsung.
12

b. Pasien diletakkan pada kursi yang tidak bersandaran dan menempel
dinding sehingga punggung dan kepala pasien bersandar pada
dinding.
c. Balut ibu jari dengan kasa yang agak tebal untuk mencegah tergigit
nya ibu jari karena setelah ada dalam posisi yang benar maka rahang
akan mengatup dengan cepat dan keras. Setelah itu gunakan sarung
tangan.
d. Posisikan operator ada di depan pasien.
e. Letakkan ibu jari di belakang retromolar pad (dibelakang gigi molar
terakhir) pada kedua sisi mandibula setinggi siku-siku operator dan
jari-jari lain memegang permukaan bawah mandibula.

f. Edukasikan pada pasien untuk diet lunak (makan makanan yang
lunak), meminum obat secara teratur, tidak membuka mulut terlalu
lama dan terlalu sering.
g. Pasien kontrol kembali 2 hari kemudian untuk mengevaluasi
perkembangan keadaan TMJ nya dan memeriksa keadaan replantasi
gigi apakah terdapat pus atau tidak. Pada saat ini, keberhasilan
replantasi gigi belum bisa diketahui. Kemudian, pasien kontrol
kembali 1 minggu kemudian untuk mengevaluasi vitalitas gigi
avulsi, apakah gigi tersebut masih vital atau tidak. Apabila gigi
tersebut nantinya non vital dapat dilakukanya perawatan saluran
akar.
h. Pada kasus ini, perawatan saluran akar dilakukan pada gigi
permanen muda sehingga perlu dilakukan apeksifikasi.
13

Apeksifikasi merupakan perawatan gigi permanen muda yang
non vital dengan ujung apeks masih terbuka dengan tujuan menutup
apeks gigi yang masih terbuka. Apeksifikasi dilakukan setelah
diketahui bahwa gigi yang direplantasi telah non vital saat dilakukan
tes vitalitas 1 minggu pasca replantasi. Apeksifikasi merupakan
perawatan pendahuluan pada perawatan endodontik dengan
menggunakan calxyl, CMCP, cresatin dan barium sulfat sebagai
bahan pengisi saluran akar yang bersifat sementara pada gigi non
vital dengan apeks masih terbuka. Tujuan dilakukannya apeksifikasi
adalah untuk memicu terbentuknya ujung akar supaya pengisian
saluran akar gigi dapat hermentis. Prosedur dilakukannya
apeksifikasi adalah;
1) Kunjungan pertama
a) Dilakukan foto rontgen terlebih dahulu pada gigi yang akan
di apeksifikasi
b) Buka kamar pulpa
c) Melakukan preparasi biomekanis, yaitu membersihkan sisa
jaringan pulpa menggunakan barbed broach dan file (2 mm
dari ujung apeks)
d) Mengaplikasikan cresatin, Zink Oxide Eugenol pada kamar
pulpa dan saluran akar
e) Tutup dengan tumpatan sementara
2) Kunjungan kedua
a) Setelah 2 minggu, ambil bahan sterilisasi dari saluran akar
b) Lakukan pengulangan preparasi
c) Saluran akar dikeringkan dengan paper point
d) Aplikasikan calxyl + CMCP (Champorated Para
Chlorophenol) + cresatin + barium sulfat + kapas
e) Tutup dengan tumpatan sementara
f) Dilakukan evaluasi dalam jangka waktu 3 bulan, 6 bulan,
dan 1 tahun untuk melihat proses apeksifikasi pada gigi
yang avulsi tersebut
14

g) Jika perawatan berhasil maka dilakukan pengambilan bahan
pengisi saluran akar tersebut dan dilakukan obturasi dengan
guta percha (Bakar, 2012).





























15

SIMPULAN

Pemeriksaan yang dilakukan pada anak yang baru mengalami cedera
traumatik meliputi anamnesa yang terdiri dari riwayat medis dan riwayat
kesehatan gigi, serta pemerikasaan klinis meliputi pemeriksaan ekstraoral,
pemeriksaan intraoral dan pemeriksaan radiografi. Melalui pemeriksaan tersebut,
pasien pada skenario case study 3 kali ini dapat didiagnosa avulsi gigi 11 et causa
traumatik dan dislokasi temporomandibular joint.
Pada kasus tersebut terdapat dua diagnosa yang masing-masing harus
ditangani secara tepat dan cepat karena bersifat darurat. Hal yang pertama
dilakukan pada pasien tersebut adalah melakukan replantasi pada gigi avulsi
terlebih dahulu, kemudian dilakukan reposisi TMJ yang mengalami dislokasi. Hal
tersebut dikarenakan gigi yang mengalami avulsi hanya memiliki golden time 2
jam dan mencegah nekrosis pada jaringan sekitar gigi sehingga penanganan lebih
didahulukan. Setelah melakukan replantasi dan reposisi TMJ, pasien diberi
edukasi agar perawatan maksimal dan diminta untuk kontrol sehari setelah
perlakuan untuk evaluasi TMJ, dan 1-2 minggu untuk evaluasi replantasi gigi, dan
kontrol rutin secara berkala untuk melihat perkembangan gigi, apakah gigi masih
vital atau menjadi non vital dan terjadi ankilosis.












16

DAFTAR PUSTAKA

Bakar, A. 2012. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta: Quantum Sinergis Media.

Bradley P, James D, Norman Je. 1994. Injuries of the condylar and coronoid
processes. Dalam Williams JL. Philadelphia. WB Saunders Co,

Dalimunte, Taqwa .2003. Replantasi Gigi Sulung yang Avulsi, Dentika Dent J
Grossman LI, Oliet S, Del Rio C E. 1995. Ilmu Endodontik Dalam Praktek Edisi
kesebelas. Jakarta: EGC

King C, Henretig FM, eds. Textbook of pediatric emergency procedures, 2nd ed.
Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins 2008: 515521
Okeson JP. 2003. Management of Temporomandibular Disorder and Occlusion.
St. Louis Mosby

Ram D, Cobenca N. 2004. Treatment per AvulsedPermanent teeth, therapeutic
Protocols For Avulsed PermanentTeeth. Review and Clinical update
Pediatric Dent J
Ugboko VI, Oginni FO, Ajike SO, Olasoji HO, Adebayo ET. Asurvey of
temporomandibular joint dislocation : aetiology, demographics, risk factors
and management in 96 nigerian cases . International journal of oral and
maxillofacial surgery, 2005;34(5):499-502. Diunduh dari:
http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt=16863452.