Anda di halaman 1dari 5

Dakriosistitis KRONIK

Manifestasi Klinis

Pada dakriosistitis akut sering terjadi abses sakus lakrimalis dan penyebaran
infeksi yang dapat menjadi serius. Sedangkan pada dakriosistitis kronik lebih
dikaitkan dengan kejadian epifora dan jarang berhubungan dengan morbiditas yang
berat. Gejala klinis dakriosistitis kronik sebagai berikut:
Mata berair, karena obstruksi aliran air mata,
Mattering -> ada kumpulan debris dan sel-sel epitel,
Bisa ada konjungtivitis akibat toksin stafilokokus
Penurunan visus karena tear film menjadi abnormal atau permukaan
kornea jadi irregular yg disebabkan oleh inflamasi kronik.
Kantus medial penuh, karena distensi sakus lakrimalis dan infeksi dari
sakus lakrimalis

(Kerala Journal of Ophtalmology, Vol. XXIII, No.1, Mar. 2011)

Terdapat beberapa tahapan dari gambaran klinis dakriosistitis kronik:

Catarrhal : hiperemis pada konjungtiva yang hilang timbul dan epifora,
diserti cairan mukoid yang steril.

Lacrimal sac mucocele: penumpukan air mata dan adanya dilatasi sakus
lakrimalis yang berisi cairan mukoid.

Suppurative chronic: epifora dan konjungtivitis kronik, eritema sakus
lakrimalis. Pada tahapan ini jika sakus lakrimalis ditekan akan keluar cairan
yang purulent dan terdapat mikroorganisme yan bisa diisolasi.









Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis dakriosistitis dibutuhkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan dengan
cara autoanamnesis dan heteroanamnesis. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik.
Jika, dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik masih belum bisa dipastikan
penyakitnya, maka boleh dilakukan pemeriksaan penunjang.
Beberapa pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui ada
tidaknya obstruksi serta letak dan penyebab obstruksi. Pemeriksaan fisik yang
digunakan untuk memeriksa ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis adalah
dye dissapearence test, fluorescein clearance test dan John's dye test. Ketiga
pemeriksaan ini menggunakan zat warna fluorescein 2% sebagai indikator.
Sedangkan untuk memeriksa letak obstruksinya dapat digunakan probing test dan
anel test.
Dye dissapearance test (DDT) dilakukan dengan meneteskan zat warna
fluorescein 2% pada kedua mata, masing-masing 1 tetes. Kemudian permukaan kedua
mata dilihat dengan slit lamp. Jika ada obstruksi pada salah satu mata akan
memperlihatkan gambaran seperti di bawah ini.


Gambar 4. Terdapat obstruksi pada duktus nasolakrimalis kiri
Sumber: http://www.djo.harvard.edu

Sumber gatau cara bikinnya
Fluorescein clearance test dilakukan untuk melihat fungsi saluran ekskresi
lakrimal. Uji ini dilakukan dengan meneteskan zat warna fluorescein 2% pada mata
yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Setelah itu pasien
diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6 pasien diminta untuk
beringus (bersin) dan menyekanya dengan tissue. Jika pada tissue didapati zat warna,
berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi.
Jones dye test juga dilakukan untuk melihat kelainan fungsi saluran ekskresi
lakrimal. Uji ini terbagi menjadi dua yaitu Jones Test I dan Jones Test II. Pada Jones
Test I, mata pasien yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus
nasolakrimalisnya ditetesi zat warna fluorescein 2% sebanyak 1-2 tetes. Kemudian
kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke meatus nasal inferior dan
ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan berwarna hijau berarti tidak
ada obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Pada Jones Test II, caranya hampir
sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada menit ke-5 tidak didapatkan kapas
dengan bercak berwarna hijau maka dilakukan irigasi pada sakus lakrimalisnya. Bila
setelah 2 menit didapatkan zat warna hijau pada kapas, maka dapat dipastikan fungsi
sistem lakrimalnya dalam keadaan baik. Bila lebih dari 2 menit atau bahkan tidak ada
zat warna hijau pada kapas sama sekali setelah dilakukan irigasi, maka dapat
dikatakan bahwa fungsi sistem lakrimalnya sedang terganggu.

Gambar 5. Irigasi mata setelah ditetesi fluorescein pada Jones dye test II
Sumber: http://drlaurasanders.com/topics/102-Evaluation/

Anel test merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi ekskresi air mata
ke dalam rongga hidung. Tes ini dikatakan positif bila ada reaksi menelan. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi sistem ekskresi lakrimal normal. Pemeriksaan lainnya
adalah probing test. Probing test bertujuan untuk menentukan letak obstruksi pada
saluran ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam saluran air mata.
Pada tes ini, punctum lakrimal dilebarkan dengan dilator, kemudian probe
dimasukkan ke dalam sackus lakrimal. Jika probe yang bisa masuk panjangnya lebi
dari 8 mm berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika yang masuk kurang 8 mm
berarti ada obstruksi.


Gambar 6. Anel Test
Sumber: Manual for Eye Examination and Diagnosis 7
th
Edition

Pemeriksaan penunjang juga memiliki peranan penting dalan penegakkan
diagnosis dakriosistitis. CT scan sangat berguna untuk mencari tahu penyebab
obstruksi pada dakriosistitis terutama akibat adanya suatu massa atau keganasan.
Dacryocystography (DCG) dan dacryoscintigraphy sangat berguna untuk mendeteksi
adanya kelainan anatomi pada sistem drainase lakrimal.



Gambar 7. Probing Test
Sumber: Manual for Eye Examination and Diagnosis 7
th
Edition


Selain pemeriksaan diatas juga dapat dilakukan pemeriksaan:
Leukositosis pada infeksi akut
Anti neutrophilic cytoplasmic antibody testing utk rule out kemungkinan
granulomatosis Wegener.
Imaging melihat pembesaran sakus lakrimalis apakah terdapat massa atau
benda asing di sakus lakrimalis.
CT scan untuk suspek suspek atau massa
MRI identifikasi diverticulum pada sakus lakrimalis
Kultur bakteri: sampel diambil dari tempat yang terinfeksi, bisa juga dari
darah. Indikasi kultur bakteri dari darah yaitu pasien imunosupresi, demam (>
38,5), tanda2 progresi infeksi. (Kerala Journal of Ophtalmology, Vol.
XXIII, No.1, Mar. 2011)