Anda di halaman 1dari 22

BATU GINJAL DEXTRA SINISTRA

Disusun oleh:







Ponny Noladesi 01.209.5980
Fania Debora 01.209.5905
Naila Izati 01.207.5755
Ardini 01.207.5830


Pembimbing:

dr.Bambang, Sp. Rad

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2013

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama dan NIM:

Ponny Noladesi 01.209.5980
Fania Debora 01.209.5905
Naila Izati 01.207.5755
Ardini 01.207.5830

Judul :

BATU GINJAL DEXTRA SINISTRA

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian
Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung.


Semarang, Desember 2013

Penulis


Pembimbing,


(dr.Bambang, Sp. Rad,)



iii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................ 2
1.3 Manfaat ....................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ........................................................................................ 3
2.2 Epidemiologi .............................................................................. 3
2.3 Etiologi ....................................................................................... 4
2.4 Jenis-Jenis Batu .......................................................................... 7
2.5 Patofisiologi ............................................................................... 10
2.5.1 Teori Pembentukan Batu .................................................. 11
2.6 Komposisi Batu .......................................................................... 13
2.7 Gambaran Klinis ........................................................................ 16
2.8 Diagnosis ................................................................................... 17
2.9 Penatalaksanaan ......................................................................... 20
2.10 Komplikasi ................................................................................ 22
BAB III LAPORAN KASUS
3.1. Identitas .................................................................................... . 24
3.2. Anamnesis ................................................................................ . 24
3.3 Pemeriksaan Penunjang ............................................................ . 26
iv

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Hasil pemeriksaan X-FOTO POLOS ABDOMEN ................... 27
4.2 Hasil Laboratorium .................................................................... 27
BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan ............................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 31
1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit batu ginjal merupakan salah satu penyakit paling sering ditemui
dan dialami oleh banyak masyarakat indonesia yang umumnya dialami pria.
Pada umumnya penyakit ginjal disebabkan oleh rutinitas pekerjaan yang
membuat pola makan menjadi tidak teratur, adanya faktor keturunan yang
juga memiliki peranan penting karena jika terdapat keluarga yang memiliki
penyakit ginjal, resiko diturunkan penyakit ginjal pada anak 6 kali lebih
besar, kurangnya konsumsi air putih, jarang buang air kecil atau sering
ditahan, banyak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung
bahan kimia, bahan pengawet dan lingkungan suhu udara disekitar tempat
tinggal dan tempat bekerja yang tidak mendukung aktivitas sehari-hari.
Di negara-negara berkembang banyak dijumpai pasien batu buli-buli,
sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih
bagian atas, karena adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-
hari.

Batu ginjal atau nefrolithiasis menyerang sekitar 4% dari seluruh
populasi, dengan rasio pria : wanita adalah 4 : 1, hal ini terbukti dari survei
yang diperkirakan bahwa pria yang berusia 70 tahun keatas memiliki resiko
lebih besar terserang penyakit ginjal hingga 80% dibanding wanita.
Batu ginjal terbentuk disebabkan oleh adanya peningkatan pada bakteri
dan saluran kandung kemih yang terinfeksi bakteri pemecah urea dan urine
2

yang kemudian membentuk batu pada kandung kemih. Jika tubuh kekurangan
cairan atau kurang minum air putih, akan terjadi kepekatan urine yang
semakin meningkat yang mempermudah pembentukan batu ginjal.
Diperkirakan bahwa peningkatan insidensi batu berkaitan dengan diet rendah
protein nabati dan fosfat. Adanya perubahan pola hidup ke gaya modern,
yang antara lain ditandai dengan meningkatnya komsumsi protein hewani,
insidensi batu saluran kemih cenderung meningkat. Makanan yang
mempengaruhi pembentukan batu adalah berbagai makanan yang
mengandung kalsium, tetapi sedikit mengandung serat. Batu saluran kemih
sebenarnya tidak lebih dari mineral-mineral di dalam air yang mengalami
pengendapan dan memadat. Dehidrasi akibat cuaca, iklim tropis panas dan
diare bisa mempersulit keadaaan batu ginjal atau batu saluran kemih yang
sebelumnya telah terjadi. Disamping itu, batu saluran kemih mempunyai sifat
sering kambuh sehingga merupakan ancaman seumur hidup bagi
penderitanya. Batu ginjal memiliki komponen penyusun batu ginjal melalui
proses pembentukan batu ginjal yang terdiri dari 80% batu kalsium, kalsium
okalat dan kalsium fosfat.
Pemeriksaan radiologis Foto Polos Abdomen bertujuan untuk melihat
kemungkinan adanya batu radioopak di saluran kemih. Batu jenis kalsium
oksalat dan kalsium fosfat bersifat radioopak dan paling sering dijumpai,
sedangkan batu asam urat bersifat radiolusen.


3

1.2 Tujuan
Laporan kasus mengenai BATU GINJAL dibuat untuk membahas
pembacaan radiology dari penyakit batu ginjal. Sehingga dapat lebih baik
untuk mendiagnosis penyakit ini dengan tepat
1.3 Manfaat
Dapat dijadikan sebagai media belajar bagi mahasiswa klinik sehingga dapat
mendiagnosis terutama secara radiologis
















4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Imaging
2.1.1 FPA
Poto polos abdomen berfungsi untuk menilai gambaran batu secara
keseluruhan seperti ukuran bentuk, komposisi dan lokasi dari batu
urinarius. Batu kalsium ( sekitar 85% dari total kasus batu) adalah
radioopaq tetapi batu urat ini, batu induksi idinafir, batu cystin biasanya
terlihat radiolusen pada FPA. Jika menggunakan imaging lain seperti
USG atau CT Scan kurang akurat, karena batu yang terukur 12% lebih
kecil dibanding FPA, sedangkan FPA lebih baik dalam memberi
gambaran tentang karakteristik dari batu pada TUR dibanding imaging
tersebut. Juga dapat sangat membantu dalam perencanaan terapi bedah.
Tidak semua batu dapat terlihat dalam Foto Polos karena ukuran terlalu
kecil, radiolusensi dari batu overlap dengan gas dalam abdomen atau
dengan feses atau tulang. Setelah terlihat gambaran opasitas abnormal
dalam FPA dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan seperti menggunakan
kontras (IVP).
Kelebihan FPA yaitu tidak mahal, cepat dan sangat berguna dalam
mengikuti perkembangan batu radioopak yang sudah terdeteksi
sebelumnya, untuk menilai posisi dari kateter double-J stents. Pada IVP
dengan menggunakan kontras FPA berguna untuk menentukan letak
target dari ESWL.
5

Kalsifikasi yang dapat diobservasi dengan FPA adalah plebolit
(kalsifikasi dengan sentral lusen), kalsifikasi vascular, kalsifikasi
limfonodi, apendicolit, granuloma, massa yang terkalsifikasi atau
material usus. Kalsifikasi tersebut harus dibedakan dengan batu
radioopak, begitu juga dengan obat-obatan yang menyerupai dengan
gambaran batu radioopak.
Beberapa urologis menyarankan pemeriksaan tambahan disamping
FPA yaitu CT scan non contras helical spiral pada pasien dengan gejala
nyeri pinggang yang mengarah pada kolik renal.
2.1.2 USG
USG ginjal sering digunakan dan lebih adekuat dalam menentukan
keberadaan batu ginjal. USG sebagai modalitas tunggal dalam
menentukan batu ginjal pada kehamilan, karena untuk mencegah bahaya
radiasi ionisasi. Batu yang mudah diidentifikasi pada USG namun tidak
terlihat pada FPA mungkin berupa batu urat atau batu cystin. Untuk
beberapa batu USG merupakan modalitas yang cukup baik namun USG
juga kurang akurat dalam mendiagnosis batu ureter terutama yang
letaknya berada di distal ureter. Kriteria diagnosisnya adalah terlihat
gambaran batu, dilatasi ureter > 6 mm/ hidroureter, perirenalurinoma.
USG juga tidak reliable pada batu kecil (< 5 mm) dan tidak bisa
mengevaluasi dari fungsi ginjal.
USG tidak memerlukan kontras intra vena dan dapat dengan
mudah mendeteksi hidronefrosis, walaupun masih harus dibedakam
6

dengan obstruksi uretero pelvix junction (UPJ). USG dalam mendeteksi
batu pada kolik renal mencapai 91% stone detection rate, ini tergantung
pada skill dan pengalaman dari operatornya. USG sangat baik dalam
mendeteksi batu yang besar dalam pelvis renal atau ginjal dan terkadang
pada UPJ. USG merupakan monitoring yang baik setelah dilakukan terapi
bedah, juga dapat mendeteksi aneurisma aorta abdominal (AAA) atau
cholelithiasis yang gejalanya mirip dengan kolik renal akut, juga dapat
membedakan filling defect pada pemeriksaan FPA dengan kontras karena
batu lebih ekogenik daripada tumor, bekuan darah atau jaringan.
2.1.3 IVP
IVP dilakukan sebelum CT Scan helical. IVP dilakukan karena
cukup murah walaupun kurang sensitive dibandingkan CT Scan helical
non contras. Keuntungan dari IVP yaitu untuk mengetahui sistem
ekskresi dari ginjal, dapat mendeteksi hidronefrosis walaupun masih pada
tahap awal, dapat pula mendeteksi batu staghorn dan juga mendeteksi
fungsi ekskresi ginjal kontralateral. IVP juga dapat mendeteksi batu
nonopak yang terlihat sebagai filling defect. Kerugian dari IVP yaitu
kebutuhan penggunaan kontras intravena yang dapat memprovokasi
reaksi alergi atau gagal ginjal, membutuhkan banyak film dan waktu
pemeriksaan yang cukup lama. Dosis kontras biasanya 1 mg/kg
dimasukan secara bolus intravena, setelah menit pertama injeksi, difoto
otomatis sesuai pengaturan yang disebut fase nefrogram, yang dinilai dari
7

fase nefrogram adalah jika ada keterlambatan pengisian pada PCS. FPA
dilakukan pada saat menit ke 1, 5, 10 dan menit ke 15.

2.2 Definisi Nefrolithiasis
Nefrolithiasis atau batu ginjal adalah benda-benda padat yang terjadi di
dalam ginjal yang terbentuk melalui proses fisikokimiawi dari zat-zat yang
terkandung di dalam air kemih. Batu ginjal terbentuk secara endogen yaitu
dari unsur-unsur terkecil, mikrolith-mikrolith dan dapat tumbuh menjadi
besar. Massa yang mula-mula lunak, misalnya jendalan darah, juga dapat
mengalami pembatuan ( kalsifikasi ).
2.3 Epidemiologi
Penyakit batu ginjal merupakan salah satu penyakit paling sering ditemui
dan dialami oleh banyak masyarakat indonesia yang umumnya dialami pria.
Pada umumnya penyakit ginjal disebabkan oleh rutinitas pekerjaan yang
membuat pola makan menjadi tidak teratur, adanya faktor keturunan yang
juga memiliki peranan penting karena jika terdapat keluarga yang memiliki
penyakit ginjal, resiko diturunkan penyakit ginjal pada anak 6 kali lebih besar,
kurangnya konsumsi air putih, jarang buang air kecil atau sering ditahan,
banyak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung bahan
kimia, bahan pengawet dan lingkungan suhu udara disekitar tempat tinggal
dan tempat bekerja yang tidak mendukung aktivitas sehari-hari.
Penyakit batu ginjal memang banyak melanda orang Asia dan Afrika
khusuusnya Indonesia yang diliputi berbagai macam kultur, suhu udara yang
8

cenderung sering kali berubah tidak menentu, pola hidup dan gaya hidup yang
terkadang salah, dsb. Penyakit ginjal memang lebih dominan menyerang kaum
pria dibanding wanita, hal in terbukti dari survei yang diperkirakan bahwa pria
yang berusia 70 tahun keatas memiliki resiko lebih besar terserang penyakit
ginjal hingga 80% dibanding wanita.
2.4 Etiologi
Terbentuknya batu pada ginjal diduga ada hubungannya dengan gangguan
aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap ( idiopatik ). Secara
epidemiologis, terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
pada ginjal. Faktor-faktor itu adalah :
2.4.1 Faktor intrinsic
Yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang. Faktor intrinsik
dan faktor idiopatik umumnya sukar untuk dikoreksi, sehingga
mempunyai kecenderungan untuk kambuh.
Faktor intrinsik itu antara lain adalah Herediter dan Ras, Umur, Jenis
kelamin.
2.4.2 Faktor ekstrinsik
Yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya. Faktor
ekstrinsik, bila penyebabnya diketahui dapat diambil langkah-langkah
untuk mengubah faktor lingkungan atau kebiasaaan sehari-hari
sehingga terjadinya rekurensi dapat dicegah
5
. Beberapa faktor
9

ekstrinsik, diantaranya adalah Geografi, Iklim dan temperature,
Asupan air, Diet, Pekerjaan, Infeksi
2.5 Jenis-jenis batu
2.5.1 Batu metabolic primer
Timbulnya dari ekskresi bahan-bahan tak larut yang berlebihan,
seperti urat dan sistin. Batu Urat yaitu terjadinya pada penderita gout
(sejenis rematik), pemakaian urikosurik (missal probenesid atau aspirin),
dan penderita diare kronis (karena kehilangan cairan, dan peningkatan
konsentrasi urine), serta asidosis (pH urin menjadi asam, sehingga terjadi
pengendapan asam urat). Batu Sistin, sistin merupakan asam amino yang
kelarutannya paling kecil. Kelarutannya semakin kecil jika pH urin
turun/asam. Bila sistin tak larut akan berpresipitasi (mengendap) dalam
bentuk kristal yang tumbuh dalam sel ginjal/saluran kemih membentuk
batu.
2.5.2 Batu metabolic sekunder
Timbulnya karena benda-benda asing, obstruksi, refluks atau posisi
berbaring yang terlalu lama. Batu infeksi disebut juga batu struvit.
Timbulnya batu ini dikarenakan adanya infeksi di saluran kemih. Kuman
yang berperan dalam hal ini adalah kuman golongan pemecah urea atau
splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine
menjadi bersuasana basa dengan cara hidrolisis urea menjadi amoniak.
Contoh kuman-kuman yang termasuk pemecah urea tersebut adalah :
Proteus spp, Klebsiella, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus.
10

Suasana basa di urine mempermudah garam-garam magnesium,
ammonium, fosfat, dan karbonat membentuk batu magnesium
ammonium fosfat (MAP) (Mg NH4PO4 H20) dan karbonat apatit. Batu
Oksalat/kalsium oksalat, asam oksalat didalam tubuh berasal dari
metabolisme asam amino dan asam askorbat (vitamin C). Asam askorbat
merupakan precursor okalat yang cukup besar, sejumlah 30%-50%
dikeluarkan sebagai oksalat urine. Manusia tidak dapat melakukan
metabolisme oksalat, sehingga dikeluarkan melalui ginjal. Jika terjadi
gangguan fungsi ginjal dan asupan oksalat berlebih di tubuh (misalkan
banyak mengkonsumsi nanas), maka terjadi akumulasi oksalat yang
memicu terbentuknya batu oksalat di ginjal/ kandung kemih. Batu
Struvit, batu struvit terdiri dari magnesium ammonium fosfat (struvit)
dan kalsium karbonat. Batu tersebut terbentuk di pelvis dan kalik bila
produksi ammonia bertamah dan pH urin tinggi, sehingga kelarutan
fosfat berkurang. Hal ini terjadi akibat infeksi bakteri pemecah urea
(yang terbanyak dari spesies proteus dan providencia, pseudomonas
eratia, semua spesies Klesiella, Hemophilus. Staphylococus, dan Coryne
bacterium) pada saluran urin. Enzim urease yang dihasilkan bakteri
diatas menguraikan urin menjadi ammonia dan karbonat. Amonia
bergabung dengan air membentuk ammonium sehingga pH urine makin
tinggi. Batu kalsium fosfat, terjadi pada penderita hiperkalsiurik (kadar
kalsium dalam urine tinggi) atau berlebih asupan kalsium (missal susu
dan keju) ke dalam tubuh.
11

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Identitas
Nama : Tn. Kedi Mulyo
Usia : 55 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Dusun Kalirandu Petarukan
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Status : Menikah
Suku bangsa : Jawa (WNI)
Ruangan : B. Syifa
Masuk : 23 Desember 2013
3.2. Anamnesis
Keluhan Utama : Nyeri pinggang kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Onset : 2 hari sebelum masuk rumah sakit
Lokasi : Pinggang kanan
Kualitas : Nyeri muncul perlahan semakin berat, nyeri berupa
rasa pegal (kemeng), hilang timbul
Kuantitas : keluhan tersebut membuat penderita tidak nyaman
saat bekerja dan istirahat
12

Faktor memperberat : mengangkat benda berat, duduk terlalu lama,
membungkuk
Faktor memperingan : berbaring
Gejala penyerta : (-)
Kronologi : Sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh
nyeri pinggang. Nyeri pinggang dirasakan
disebelah kanan. Nyeri muncul mendadak,
perlahan semakin berat, nyeri berupa rasa pegal
(kemeng), hilang timbul. Keluhan tersebut
membuat penderita tidak nyaman saat bekerja dan
istirahat. Keluhan semakin berat saat mengangkat
benda berat, duduk terlalu lama, membungkuk dan
berkurang saat berbaring. Karena keluhan
dirasakan semakin berat, maka keluarga
memutuskan membawa penderita ke RS Islam
Sultan Agung Semarang pada tanggal 30
September 2013.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit dengan keluhan serupa
Riwayat operasi (di perut) disangkal
Riwayat rawat inap di RS disangkal
Riwayat nyeri dada/ penyakit jantung disangkal
Riwayat DM disangkal
13

Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat terbentur di perut disangkal
Riwayat jatuh disangkal
Riwayat alergi (obat) disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat anggota keluarga pernah/ sedang menderita keluhan serupa
disangkal
Riwayat Psiko Sosial Ekonomi
Biaya perawatan ditanggung pribadi.
3.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan FPA
Tanggal periksa 23 Desember 2013
14

IVP
KASIH GAMBAR TENTANG IVP
punya siapa aja yang penting ada
yang sesuai sama keluhan pasien
Foto Thorax-PA




15

BAB IV
PEMBAHASAN


4.1 Hasil pemeriksaan X-FOTO POLOS ABDOMEN
Tanggal periksa 23 Desember 2013
X-FOTO POLOS ABDOMEN
Tampak opasitas bentuk irregular pada paravertebralis sinistra setinggi VL 1-
3, multiple (terbesar ukuran 2,1 cm x 1,5 cm), dan
pada paravertebral dextra setinggi VL 1 (terbesar ukuran 0,3 cmx 0,3 cm)
dan setinggi VL 3 ( terbesar ukuran 0,75 cm x 0,5 cm )
Spur vertebra lumbal.
KESAN:
Nefrolithiasis sinistra opaq multiple (terbesar ukuran 2,1 cm x 1,5 cm)
Nefrolithiasis dextra opaq 2 buah bukuran 0,3x0,3 cm setinggi VL 1 dan
setinggi VL 3 ukuran 0,75x0,5 cm.
Spur pada Vertebra Lumbal
4.2 Hasil Laboratorium
30 September 2013
Nilai normal Nilai normal
Bilirubin : negatif

<1 mg/dL %LYM : 34,5 % 25-40
%MON : 5,6 % 2-8
HGB : 11,7 g/dl 11,0 16.5 %NET : 56,7% 50-70
HCT : 34,1 % 35.0 50.0 %EOS : 3 % 3
Leu
:4,99x10/mm
3,8-10,6 %BAS : 0,2% 0-1
16

3

Trombo : 124
x10/mm
3

150-440 LED 1 : 24 0-10
GDS : 67 mg/dL 75-110 LED 2 : 44 0-10
Uric Acid : 9,1 mg/dL 3,5-7,2 Immune
serologi :
HbsAg : positif
/19,21
Negative<0,13
Possitif>=0,13
Ureum : 32 mg/dL 10-50
Creatin darah ; 1,84 0,5-1,1
Cloride ; 107,3 mg/dL 95-105
Natrium : 139,0 mg/dl 135-147
Kalium : 4,62 mg/dL 3,5-5

Urine 30 September 2013
Nilai
normal
Nilai
normal
Warna : kuning

mikroskopis
Kejernihan : keruh Epitel :5-7/LPK 5-15
Protein : 100mg/Dl <30 Eritrosit :
>100/LPB
0-1
Reduksi : neg <15mg/dL
(neg)
Leukosit : 32-
34/LPB
3-5
Bilirubin : neg <1 mg/dL Silinder : negative Negative
Reaksi pH : 6,0 4,8-7,4 Parasit : negative Negative
Urobilinogen:0,2mg/dL < 2 Bakteri : negative Negative
Benda keton : neg <15 Jamur : negative
Nitrit : neg Neg Kristal : negative
Berat jenis : 1,015 1,015-
1,025
Benang mucus ;
negative

Blood : 200eri/uL <5
Leu : 500 leu/uL <10







17

Berdasarkan hasil laboratorium hematologi rutin tanggal 30 September 2013,
didapatkan hasil anemi (11,7 mg/dL), trombositopenia (124 mg/dL), diff count
Eosinofilia (3,0%), peningkatan LED 1 dan 2 (21 dan 44 mg/dL), hiperurisemia (9,1
mg/dL), peningkatan kreatinin darah (1,84 mg/dL), HbsAg positif, dengan hematokrit,
leukosit, diff count lain, fungsi pembekuan, gula darah sewaktu, natrium, kalium, dan
klorida dalam batas normal.
Hasil laboratorium urin lengkap tanggal 30 September 2013 didapatkan hasil
warna urin kuning, keruh, proteinuria (100mg/dL), hematuria (200 Eri/eu), leukosituria
(500 Leu/ul), tidak didapatkan silinder, parasit, bakteri, jamur, kristal, benang mukus.
Berdasar hasil laboratorium darah rutin dan urin lengkap, sesuai dengan subjektif
tanda infeksi inflamasi pada pasien yaitu demam, malaise, fatique. Pasien juga
mengeluhkan nyeri pada pinggang kanan kiri yang dirasakan lebih berat pada pinggang
kanan, nyeri bersifat hilang timbul. Urin pasien berwarna kemerahan, dan sedikit nyeri
sewaktu berkemih, nyeri saat berkemih (disuria) dirasakan jauh lebih ringan dibanding
sebelum dilakukan uretrolitotomi pada tanggal 3 Oktober 2013.
Pada foto polos abdomen, terlihat gambaran batu ginjal opaque, sehingga jenis
batu pada pasien kemungkinan adalah batu kalsium oksalat/ kasium fosfat. Hasil
laboratorium darah hiperurisemia, kemungkinan bisa juga terdapat batu urat yang terlihat
lusen pada foto rontgent.



18

BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Batu ginjal adalah benda-benda padat yang terjadi di dalam ginjal yang
terbentuk melalui proses fisikokimiawi dari zat-zat yang terkandung di dalam
air kemih, terbentuk secara endogen yaitu dari unsur terkecil, mikrolith dan
dapat tumbuh menjadi besar. Massa yang mula-mula lunak, misalnya jendalan
darah, juga dapat mengalami pembatuan (kalsifikasi).
Pembentukan batu ginjal dipengaruhi banyak faktor, yaitu faktor genetic,
lingkungan, infeksi, gaya hidup, dan pola makan. Pada individu yang dalam
pekerjaannya kurang melakukan aktivitas fisik, kurang olahraga, dan stress
lama lebih sering menderita batu ginjal. Makanan yang memperbesar
kemungkinan terbentuknya batu ginjal misal terlalu banyak protein, lemak
hewan, kurang sayur, kurang buah, dan kurang serat. Seringnya menahan
kencing, serta kegemukan juga dapat meningkatkan insidensi batu ginjal.
Berdasarkan catatan medik di RS Islam Sultan Agung, pasien Tn. Kedi (50

tahun) di dapatkan keluhan nyeri pada pinggang kanan hilang timbul,
hematuri, demam, malaise, produksi urin berkurang. Sesuai dengan gambaran
klinis batu ginjal. Kemungkinan penyebab penyakit batu ginjal adalah infeksi
atau hiperkalsiuria. Jenis batu pada pasien ini kemungkinan berupa batu
kalsium oksalat/ batu struvit/ batu urat.

Anda mungkin juga menyukai