Anda di halaman 1dari 17

DIFRAKSI PADA CELAH GANDA DAN CELAH BANYAK

Muhammad Fadil Asri, Abdul Hasyim, Annur Fidyah Wanti, Nursyamsi Amalia
Jurusan Fisika FMIPA UNM Tahun 2014
Abstrak. Telah dilakukan praktikum Difraksi Pada Celah Ganda dan Celah Banyak yang bertujuan
memahami pengaruh jarak antar celah pada pembentukan pola difraksi pada celah ganda, memahami
pengaruh lebar celah pada pembentukan pola difraksi pada celah ganda, memahami pengaruh banyak
celah terhadap pembentukan pola difraksi, serta menentukan panjang gelombang laser. Percobaan ini
didukung oleh alat dan bahan berupa diafragma dengan 3 celah ganda, diafragma dengan 4 celah
ganda, diafragma dengan 5 nomor celah, laser He-Ne, dudukan dengan klip pegas, lensa dalam
bingkai f = +5 mm, lensa dalam bingkai f = +50 mm, presisi bangku optic 1 m, pengendara 4 optik H=
60 mm/B= 36 mm, layar tembus dan pelana dasar. Eksperimen ini terdiri dari tiga kegiatan, yaitu
ketergantungan difraksi pada celah ganda pada jarak antar celah d, ketergantungan difraksi pada celah
ganda pada celah lebar b, dan ketergantungan difraksi pada banyak celah (N). Ketiga kegiatan ini
prinsipnya hampir sama yaitu laser akan ditembakkan melewati celah menuju lensa agar laser dapat
fokus serta diteruskan pada kisi sehingga terjadi difraksi dan hasil difraksi ditangkap oleh layar. Hasil
dari difraksi memunculkan pola gelap terang yang kemudian diukur jarak antar pola gelap dan juga
pola terangnya. Dari hasil eksperimen disimpulankan bahwa jarak antar celah berbanding terbalik
terhadap jarak rata-rata pola terang, artinya semakin jauh jarak antar celah yang digunakan maka
semakin dekat jarak rata-rata pola terang yang diperoleh. Kemudian, Lebar celah tidak berpengaruh
pada pembentukan pola difraksi pada layar, namun lebar celah ini hanya berpengaruh terhadap
intensitas pola difraksi terang pada layar. Semakin lebar celahnya maka semakin kabur pola difraksi
maksimumnya, karena syarat terjadinya difraksi pada celah ganda tersebut haruslah celahnya jauh
lebih kecil dari pada panjang gelombangnya. Dan banyak celah tidak mempengaruhi jarak rata-rata
pola terang pada layar.
Kata kunci: difraksi, interferensi, jarak antar celah, lebar celah, panjang gelombang
PENDAHULUAN
Ketika gelombang cahaya melewati sebuah celah kecil, suatu pola interferensi akan
teramati agak seperti spot tajam. Hal ini menunjukkan bahwa cahaya terus ke belakang celah
ke daerah dimana suatu bayangan akan diharapkan jika cahaya menjalar dalam garis-garis
lurus. Gelombang lain seperti suara dan air juga mempunyai sifat seperti ini yang dapat
membelok pada sekitar sudut-sudut. Fenomena ini dikenal sebagai difraksi yang juga
dipandang sebagai interferensi dari sejumlah besar sumber-sumber gelombang koheren.
Umumnya difraksi dapat terjadi bila gelombang lewat melalui bukan kecil (celah sempit) di
sekitar rintangan atau melewati sisi yang tajam.
Kisi difraksi merupakan suatu piranti untuk menganalisis sumber cahaya. Alat ini terdiri
dari sejumlah besar slit-slit parallel yang berjarak sama. Suatu kisi dapat dibuat dengan cara
memotong garis-garis parallel di atas permukaan plat gelas dengan mesin terukur berpresisi
tinggi.
Gelombang memiliki suatu sifat yang sangat menarik ketika dipelajari diantaranya yaitu
gelombang dapat dibelokkan dengan diberi rintangan. Peristiwa pembelokkan dengan
rintangan tersebut dikenal dengan difraksi. Sesuatu dengan teori Huygens, kita dapat
memandang difraksi dari interferensi sebagai sederet sumber titik yang memenuhi lebar
celah. Untuk dapat lebih memahaminya dan mengerti prinsip kerja dari difraksi, gejala
fisisnya dan aplikasinya maka dilakukan percobaan difraksi.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan praktikum ini yaitu:
1. Mahasiswa dapat memahami pengaruh jarak antar celah pada pembentukan pola
difraksi pada celah ganda.
2. Mahasiswa dapat memahami pengaruh lebar celah pada pembentukan pola difraksi
pada celah ganda.
3. Mahasiswa dapat memahami pengaruh banyak celah terhadap pembentukan pola
difraksi.
4. Mahasiswa dapat menentukan panjang gelombang laser.
TEORI SINGKAT
Difraksi terjadi apabila sebagaian muka gelombang dibatasi oleh rintangan atau lubang
permukaan (Celah sempit). Intensitas cahaya di sembarang titik dalam ruangan dapat
dihitung dengan menggunakan prinsip Huygens dengan mengambil setiap titik pada muka
gelombang menjadi titik sumber dan dengan menghitung pola interferensi yang terjadi. Pola
franhoufer diamati pada jarak yang sangat jauh dari rintangan atau celah sempit sehingga
sinar-sinar yang mencapai sembarang titik hampir sejajar, atau pola itu dapat diamati dengan
menggunakan lensa untuk memfokuskan sinar-sinar sejajar pada layar pandang yang
ditempatkan pada bidang fokus lensa tersebut. Pola yang lain, yaitu pola Fresnel diamatil di
titik yang dekat dengan sumbernya.

Gambar 1. Difraksi
Difraksi cahaya sering sulit diamati karena panjang gelombang demikian kecilnya atau
karena intensitas cahayanya tidak cukup. Kecuali untuk pola franhoufer celah sempit dan
panjang, pola difraksi biasanya sulit diamati.
Pola difraksi- interferensi franhoufer dua celah sama dengan pola interferensi untuk dua
celah. Pada mekanika kuantum, eksperimen celah ganda yang dilakukan oleh Thomas Young
menunjukkan sifat yang tidak terpisahkan dari cahaya sebagai gelombang dan partikel.
Sebuah sumber cahaya koheren yang menyinari bidang halangan dengan dua celah akan
membentuk pola interferensi gelombang berupa pita cahaya yang terang dan gelap pada
bidang pengamatan, walaupun demikian, pada bidang pengamatan, cahaya ditemukan
terserap sebagai partikel diskrit yang disebut foton.Pita cahaya yang terang pada bidang
pengamatan terjadi karena interferensi konstruktif, saat puncak gelombang berinterferensi
dengan puncak gelombang yang lain, dan membentuk maksima. Pita cahaya yang gelap
terjadi saat puncak gelombang berinterferensi dengan landasan gelombang dan menjadi
minima. Interferensi konstruktif terjadi saat:


(1.1)
Dimana :
= adalah panjang gelombang cahaya
a = adalah jarak antar celah, jarak antara titik A dan B pada diagram di samping
kanan
n = orde maksimum yang diamati
x = adalah jarak antara pita cahaya dan central maximum (disebut juga fringe
distance) pada bidang pengamatan
L = jarak antara celah dengan titik tengah bidang pengamatan


Gambar 2. Skema ilustrasi difraksi pada celah ganda
Jika cahaya dilewatkan pada sebuah celah maka cahaya tersebut akan mengalami
difraksi yang pada gilirannya akan mengalami interferensi, ditandai dengan adanya
pola gelap-terang yang terlihat pada layar. Pada dasarnya setiap gelombang cahaya
yang melalui suatu penghalang akan mengalami pembelokan arah rambat.
Berdasarkan eksperimen yang dilakukan para ilmuwan, difraksi dapat juga diamati
jika cahaya dilewatkan pada banyak celah.
Suatu penghalang yang terdiri dari banyak sekali celah dimana jarak antara celah
tersebut seragam (jarak antar celah sama dan teratur) disebut dengan kisi difraksi.
Jumlah celah dalam suatu kisi dapat mencapai orde ribuan celah tiap cm. Kisi
difraksi memiliki beberapa kelebihan dibanding celah tunggal atau ganda. Ketika
cahaya melalui kisi, setiap celah pada kisi tersebut dapat dianggap sebagai sumber
gelombang cahaya. Setiap cahaya dibelokkan dengan besar sudut tertentu sehingga
cahaya-cahaya tersebut memiliki lintasan yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Gambar 3. Difraksi pada celah banyak
Prinsip kisi difraksi banyak digunakan untuk mengkarakterisasi suatu molekul
atau atom tertentu berdasarkan panjang gelombang yang dihasilkannya. Suatu alat
yang digunakan untuk difraksi memiliki tingkat akurasi yang dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu disperse angular dan resolusi. Suatu alat yang baik harus mampu
membedakan spektrum panjang gelombang cahaya yang memiliki nilai berdekatan.
METODOLOGI EKSPERIMEN
a. Alat dan Bahan
1. Diafragma dengan 3 celah ganda 469 84
2. Diafragma dengan 4 celah ganda 469 85
3. Diafragma dengan 5 nomor celah 469 86
4. Laser He-Ne. terpolarisasi linier 471 830
5. Dudukan dengan klip pegas 460 22
6. Lensa dalam bingkai, f = +5 mm 460 01
7. Lensa dalam bingkai, f = +50 mm 460 02
8. 1 presisi bangku optik, 1 m 460 32
9. Pengendara 4 optik, H = 60 mm / B = 36 mm 460 370
10. 1 layar tembus 441 53
11. 1 pelana dasar 300 11
b. Prosedur Kerja
Pada kegiatan pertama yakni untuk mengetahui ketergantungan difraksi pada celah
ganda pada jarak antar celah, mula-mula laser dinyalakan kemudian diatur agar
cahayanya fokus pada satu titik pada layar, kemudian dimasukkan diafragma dengan 4
celah tepat pada jalur yang dilalui oleh sinar laser, setelah itu diamati pola difraksi
dengan jarak antar celah yang digunakan masing-masing yaitu 1,00 mm, 0,75 mm, 0,50
mm, dan 0,25 mm. ketika telah diamati pola difraksi yang terbentuk pada jarak antar
celah misanya jarak 1,00 maka digambarlah pola difraksi yang terbentuk dengan titik-
titik pada kertas hvs, begitupun untuk jarak antar celah yang lainnya. Selanjutnya diukur
jarak pisah antara terang pusat dengan orde 1 dan orde 2.
Pada kegiatan kedua yaitu untuk mengetahui ketergantungan difraksi pada celah
ganda pada celah lebar b, mula-mula laser dinyalakan kemudian diatur agar cahaya
yang terlihat pada layar fokus pada satu titik. Setelah itu dimasukkan diafragma dengan
3 celah ganda tepat pada jalur yang dilalui oleh sinar laser, dan diamati pola difraksi
dengan berbagai lebar celah b yaitu 0,20 mm, 0,15 mm, 0,10 mm satu persatu.
Kemudian setelah itu digambar pola difraksi yang terbentuk pada layar pada kertas hvs.
Dan selanjutnya, dihitung jarak pisah antara pusat terang dengan orde 1 dan orde 2.
Pada kegiatan ketiga yaitu untuk mengetahui ketergantungan difraksi pada banyak
celah (N), mula-mula laser dinyalakan kemudian diatur agar cahaya yang terlihat pada
layar fokus pada satu titik. Setelah itu dimasukkan diafragma dengan 5 celah dan
kemudian diamati pola difraksi dari 2,3,4,5, dan 40 celah satu demi satu. Kemudian
digambar pola difraksi yang terbentuk pada kertas hvs. Setelah itu dilakukan
pengukuran jarak pisah pusat terang dengan orde 1 dan 2 untuk masing-masing jumlah
celah yang digunakan.
c. Identifikasi Variabel
Kegiatan 1 :
a. Variabel manipulasi : jarak antara celah
b. Variabel kontrol : jarak layar dengan celah
c. Variabel respon : jarak rata-rata pola difraksi maksimum berdekatan
Kegiatan 2 :
a. Variabel manipulasi : lebar celah
b. Variabel kontrol : jarak layar dengan celah
c. Variabel respon : jarak rata-rata pola difraksi maksimun berdekatan
Kegiatan 3 :
a. Variabel manipulasi : banyak celah
b. Variabel kontrol : jarak layar dengan celah
c. Variabel respon : jarak rata-rata pola difraksi maksimum berdekatan
d. Definisi operasional variabel
Kegiatan 1 :
a. Jarak antar celah adalah jarak celah yang satu dengan celah yang lain dimana
jaraknya terdapat pada diafragma yang digunakan yaitu diafragma dengan 4 celah
(469 85) dengan satuan mm.
b. Jarak layar dengan celah adalah jarak antara layar dengan celah yang dilalui oleh
sinar laser, yang diukur menggunakan mistar dengan satuan mm.
a. Jarak rata-rata pola difraksi maksimum berdekatan adalah jarak antara titik pusat
terang dengan ordenya yang diukur dengan menggunakan mistar dengan satuan mm.
Kegiatan 2 :
a. Lebar celah adalah besarnya celah yang digunakan, dimana lebarnya terdapat pada
diafragma dengan 3 celah (469 84) dengan satuan mm.
b. Jarak layar dengan celah celah adalah jarak antara layar dengan celah yang dilalui
oleh sinar laser, yang diukur menggunakan mistar dengan satuan mm.
c. Jarak rata-rata pola difraksi maksimum berdekatan adalah jarak antara titik pusat
terang dengan ordenya, yang diukur menggunakan mistar dengan satuan mm.
Kegiatan 3 :
a. Banyak celah jumlah celah yang digunakan pada satu diagfragma yang sama,
dimana banyak celah terdapat pada diafragma dengan 5 celah (469 86) dengan
satuan mm.
b. Jarak layar dengan celah celah adalah jarak antara layar dengan celah yang dilalui
oleh sinar laser, yang diukur menggunakan mistar dengan satuan mm.
c. Jarak rata-rata pola difraksi maksimum berdekatan a dalah jarak antara titik pusat
terang dengan ordenya, yang diukur menggunakan mistar dengan satuan mm.
HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS DATA
Hasil Eksperimen
Kegiatan 1. Ketergantungan difraksi pada celah ganda pada jarak antara celah
d.
Jarak celah ke layar: | |
Tabel 1.Difraksi pada celah ganda pada jarak antara celah d.
No.
Jarak antara celah
d (mm)

Jarak Rata-rata Pola Difraksi
Maksimum berdekatan (mm)
1 1,0 1,6 0,5
2 0,75 2,0 0,5
3
0,50
3,0 0,5
4 0,25 6,3 0,5

b. Kegiatan 2. Ketergantungan difraksi pada celah ganda pada celah lebar b.
Jarak celah kelayar: | |
Tabel 2.Difraksi pada celah ganda pada celah lebar b.
No Lebar celah b (mm)

Jarak Rata-rata Pola Difraksi
Maksimum berdekatan (mm)
1 0,20 6,3 0,5
2 0,15 6,0 0,5
3
0,10
6,3 0,5

c. Kegiatan3. Ketergantungan difraksi pada banyak celah (N)
Jarak celah ke layar: | |
Tabel 3.Difraksi pada banyak celah (N)
No
Banyak celah N
(mm)

Jarak Rata-rata Pola Difraksi
Maksimum berdekatan (mm)
1 2 6,1 0,5
2 3 6,1 0,5
3
4
6,0 0,5
4 5 6,1 0,5
5 40 6,1 0,5
Analisis data
1. Grafik jarak antar celah d terhadap jarak rata-rata pola difraksi berdekatan.
y = -0.1383x + 1.071
R = 0.8354
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
0 1 2 3 4 5 6 7
J
a
r
a
k

R
a
t
a
-
R
a
t
a

P
o
l
a

D
i
f
r
a
k
s
i

M
a
k
s
i
m
u
m

B
e
r
d
e
k
a
t
a
n

(
m
m
)


Jarak Antar Celah d (mm)

Ketergantungan Difraksi pada celah Ganda pada Jarak
antar Celah d
y = -1E-13x + 6.2
R = 1E-27
5.95
6
6.05
6.1
6.15
6.2
6.25
6.3
6.35
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
J
a
r
a
k

r
a
t
a
-
r
a
t
a

p
o
l
a

d
i
f
r
a
k
s
i

m
a
k
s
i
m
u
m

b
e
r
d
e
k
a
t
a
n

(
m
m
)


Lebar Celah b (mm)
Ketergantungan Difraksi pada Celah Ganda pada Celah Lebar
b
y = 85x - 506
R = 0.054
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
5.98 6 6.02 6.04 6.06 6.08 6.1 6.12
J
a
r
a
k

r
a
t
a
-
r
a
t
a

p
o
l
a

d
i
f
r
a
k
s
i

m
a
k
s
i
m
u
m

b
e
r
d
e
k
a
t
a
n

(
m
m
)


banyak celah (mm)

Ketergantungan difraksi pada banyak celah (N)


2. Grafik lebar celah b terhadap jarak rata-rata pola difraksi berdekatan.





3. Grafik banyak celah N terhadap jarak rata-rata pola difraksi berdekatan .





4. Perhitungan panjang gelombang rata-rata sinar laser yang digunakan untuk
setiap kegiatan.
Kegiatan 1
1. =


=



= 1,70

mm
|

|
|


| |


||


= 1,38







| |
|

|
2. =


=



= 1,59

mm
|

|
|


| |


||







| |
|

|

3. =


=



= 1,67

mm
|

|
|


| |


||







| |
|

|
4. =


=



= 1,67

mm
|

|
|


| |


||







| |
|

|
Kegiatan 2
1. = 632,8 nm = 0,0006328 mm
d =


d =


= 0,09 mm
|

|
|

|
| |
||
= 0.007







| |
| |
2. = 632,8 nm = 0,0006328 mm
d =


d =


= 0,08 mm
|

|
|

|
| |
||
= 0.006







| |
| |
3. = 632,8 nm = 0,0006328 mm
d =


d =


= 0,09 mm
|

|
|

|
| |
||
= 0.007







| |
| |
Kegiatan 3
1. d =


d =


= 0,10 mm
2. d =


d =


= 0,10 mm
3. d =


d =


= 0,10 mm
4. d =


d =


= 0,10 mm
5. d =


d =


= 0,10 mm
|

|
|


|
| |
||
= 0.008








| |
| | ss
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil eksperimen yang diperoleh, ketika jarak antar celahnya yang
digunakan yang paling jauh, yaitu 1,00 mm, maka jarak pola terang yang terbentuk pada
layar adalah | | , kemudian untuk jarak antar celah paling dekat yaitu sebesar
0,25 maka jarak pola terang yang terbentuk adalah | |, dari menggunakan jarak
paling jauh hingga paling dekat dalam percobaan ini diperoleh hasil jarak rata-rata pola
difraksi yang semakin besar. Berdasarkan hasil eksperimen yang diperoleh maka dapat
dikatakan bahwa hasil yang diperoleh telah sesuai dengan teori yang berlaku, dimana
semakin jauh jarak antar celahnya maka semakin dekat pembentukan jarak pola terang pada
layar.
Kemudian pada kegiatan kedua, diperoleh hasil bahwa ketika lebar celahnya adalah 0,20
mm, maka jarak pola rata-rata difraksi maksimum yang terlihat adalah | |,
kemudian untuk lebar celah 0,15 mm maka jarak pola rata-rata yang terbentuk adalah
| |, dan untuk lebar celah 0,10 mm maka jarak pola rata-rata yang terbentuk
adalah | |. Dari hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa walaupun lebar
celah yang digunakan berbeda ternyata jarak rata-rata pola difraksinya cenderung sama,
artinya lebar celah tidak begitu mempengaruhi pola difraksi. Bila ditinjau berdasarkan teori
seharunya hasilnya memang sama, sebab dalam persamaan tidak terdapat variabel lebar
celah sehingga dapat dikatakan lebar celah tidak memberi pengaruh terhadap pola difraksi.
Kegiatan ketiga yakni untuk mengetahui pengaruh banyak celah terhadap pola difraksi,
diperoleh data bahwa ketika celahnya 2, 3, 5, dan 40 maka jarak rata-rata pola difraksi
maksimum yang terbentuk adalah | |mm, sedangkan ketika celahnya 4 maka jarak
rata-rata pola difraksi maksimum yang terbentuk adalah | |, terdapat sedikit
perbedaan untuk penggunaan celah sebanyak 4, namun secara keseluruhan dapat
disimpulkan bahwa banyak celah tidak terlalu mempengaruhi pola difraksi. Dari data
tersebut dapat dikatakan bahwa hasil praktikum telah sesuai dengan teori yang ada meskipun
ada beberapa data yang berbeda, dimana teori tersebut menyatakan bahwa banyak celah
tidak berpengaruh terhadap jarak rata-rata pola terang yang dihasilkan pada layar selain itu
dikarenakan tidak terdapatnya variabel banyak celah dalam persamaan.
Adapun data yang sedikit berbeda utamanya di kegiatan kedua dan ketiga bisa jadi
disebabkan kurang telitinya praktikan ketika melakukan praktikum utamanya ketika
menggambarkan titik-titik pada pola gelap terang di kertas hvs. Namun secara keseluruhan,
hasil yang diperoleh sesuai dengan teori yang sebelumnya ada.
KESIMPULAN
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa jarak antar celah berbanding terbalik
dengan pola difraksi yang terbentuk, artinya semakin besar jarak antar celah maka semakin
kecil jarak antar pola difraksi yang terbentuk. Pada percobaan ini ternyata lebar celah tidak
berpengaruh terhadap besar kecilnya pola difraksi yang terbentuk sebab dalam persamaan
tidak terdapat variabel lebar celah. Kemudian untuk banyaknya celah juga tidak memberi
pengaruh terhadap besar kecilnya pola difraksi yang dibentuk sebab tidak terdapat variabel
banyak celah dalam persamaannya. Melalui percobaan ini panjang gelombang laser dapat
diketahui dengan menggunakan persamaan (

.
REFERENSI
Anonim. 2010. Difraksi Pada Celah Ganda.
http://id.wikipedia.org/wiki/Difraksi#Difraksi_celah_ganda. Diakses pada tanggal
27 April 2014
Halliday, David dan Resnick, Robert. 1999. Fisika Jilid 1 Edisi Ketiga (Terjemahan).
Jakarta: Erlangga.
Tipler, Paul A. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik Edisi Ketiga Jilid 1 (Terjemahan).
Jakarta: Erlangga

Anda mungkin juga menyukai