Anda di halaman 1dari 139

HUKUM JAMINAN

BAGIAN HUKUM PERDATA


FAK HUKUM UGM
Literatur
Buku :
1. Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan
Perorangan (Sri Soedewi Masjchoen Sofwan)
2. Hukum Perutangan Bagian A (Sri Soedewi Masjchoen Sofwan)
3. Himpunan Karya Tentang Hukum Jaminan (Sri Soedewi Masjchoen Sofwan)
4. Bab-bab Tentang Credietverband, Gadai dan Fidusia (Mariam Darus Badrul
Zaman)
5. Bab-Bab Tentang Hypotheek (Mariam Darus Badrul Zaman)
6. Seri Hukum Harta Kekayaan : Hak Istimewa, Gadai dan Hipotek (Kartini Muljadi
dan Gunawan Widjaja)
7. Seri Hukum harta Kekayaan : Hak Tanggungan (Kartini Muljadi dan Gunawan
Widjaja)
8. Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan (Subekti)
9. Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia (Subekti)
10. Jaminan Fidusia (Pilih karangan : Munir Fuadi atau Hanafi atau Sutan Remi
Sjahdeini)
11. Fidusia Sebagai Unsur-Unsur Jaminan Perikatan (Oey Hoey Tiong).
12. Hukum Perbankan di Indonesia (Muhammad Djumhana)


Peraturan Perundangan
1. KUHPerdata
2. KUHDagang
3. UU No. 42 Th. 1999 Tentang Fidusia
4. UU No. 4 1996 Tentang Hak
Tanggungan
5. UU No. 15 1999 Tentang Penerbangan
6. UU No. 21 1992 Tentang Pelayaran
7. UU No. 9 Tahun 2006 Tentang Sistem
Resi Gudang
Pengertian HK. Jaminan &
Jaminan
1 Hukum jaminan
Keseluruhan aturan yang membicarakan
jaminan yang terdapat baik dalam KUHPerdata
maupun yang di luar KUHPerdata.
2. J aminan
Segala sesuatu yang dipergunakan sebagai
pengganti untuk memenuhi kewajiban debitur
dalam hal debitur tidak melaksanakan
kewajibannya.

Aturan ttg jaminan dalam
KUHPerdata
1. Buku II, Bab 19 KUHPerd. ttg
piutang-piutang istimewa;
2. Buku II, Bab 20 KUHPerd. ttg
gadai;
3. Buku III, Bab 17 KUHPerd. ttg
penanggungan hutang
Aturan ttg Jaminan di luar
KUHPerdata
1. UU No. 15 Th. 1992 Ttg Penerbangan;
2. UU No. 21 Th. 1992 Ttg Pelayaran;
3. UU No. 4 Th. 1996 Ttg Hak Tanggungan;
4. UU No. 42 Th. 1999 Ttg Jaminan Fidusia;
5. UU No. 9 Th. 2006 Tentang Sistem Resi Gudang
6. Buku II, Bab 1 KUHD Ttg Kapal laut &
muatannya.

Dapat berupa apa sajakah
jaminan itu ?
Adalah segala sesuatu yang dapat :
1. Berwujud benda, ini akan melahirkan
jaminan kebendaan;
2. Berwujud kesanggupan seseorang
untuk berprestasi, ini akan melahirkan
jaminan perorangan.

PR : Pelajari ttg penggolongan jaminan
Penggolongan Jaminan
1. Ada jaminan yg ditentukan oleh UU (1131 & 1132
KUHPerd), ada jaminan yg ditetapkan dg suatu
perjanjian (gadai, fidusia, hipotik, hak tanggungan,
borgtocht, tanggung renteng,& garansi);
2. Ada jaminan umum, ada jaminan khusus;
3. Ada jaminan kebendaan, ada jaminan perorangan;
4. Ada jaminan dg obyek benda tetap (hipotik & hak
tanggungan), ada jaminan dg obyek benda bergerak
(gadai & fidusia);
5. Ada jaminan dg menguasai bendanya (gadai & hak
retensi), ada jaminan dg tidak menguasai bendanya
(Hipotik, credit verband, Fidusia dan privilegi).
Kreditur Konkuren dan Preferen
Kreditur konkuren adalah kreditur yg
kedudukannya sama berhak dan tidak ada yg
harus didahulukan dalam pemenuhan
piutangnya. Kreditur ini muncul karena adanya
jaminan umum dan jaminan khusus perorangan.
Kreditur preferen adalah kreditur yang
pemenuhannya didahulukan dari piutang-
piutang yang lain mis : pemegang hak privilegi,
pemegang gadai, pemegang hipotik dan
jaminan khusus kebendaan yg lain.
Macam Jaminan kebendaan &
Jaminan Perorangan
Jaminan Kebendaan (menimbulkan hak
kebendaan), macamnya : HIPOTIK, HAK
TANGGUNGAN, GADAI, J AMINAN
FIDUSIA, J AMINAN RESI GUDANG.
Jaminan Perorangan (menimbulkan hak
perorangan), macamnya : BORGTOCHT,
TANGGUNG RENTENG, GARANSI
BANK atau GARANSI PERUSAHAAN.
Jaminan Kebendaan adalah jaminan yg
berupa hak mutlak atas suatu benda
Ciri-Ciri :
1. Mempunyai hubungan langsung atas benda
tertentu dari debitur;
2. Dapat dipertahankan terhadap siapapun;
3. Selalu mengikuti bendanya (droit de suite)
4. Dapat diperalihkan (ex : hipotik, gadai)
5. Menganut asas prioriteit (hak kebendaan yg
lebih tua (lebih dahulu terjadi) lebih
diutamakan daripada hak kebendaan yg terjadi
kemudian)
Ciri lain dari Jaminan yg bersifat
kebendaaan
1. Berlaku syarat specialiteit : adanya
kewajiban bahwa benda yg menjadi
jaminan ditunjuk secara khusus
mengenai jenisnya, letaknya, luasnya,
batasnya, terbukti dg surat ukur dll.
2. Syarat publisiteit : adanya kewajiban
untuk mendaftarkan dalam registrasi
Jaminan Perseorangan adalah jaminan yg
menimbulkan hak perseorangan
Ciri-ciri :
1. Jaminan yg menimbulkan hubungan langsung pada perorangan
tertentu;
2. Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu;
3. Terhadap harta kekayaan debitur umumnya (ex : borgtocht)
4. Menganut asas kesamaan (Ps. 1131, 1132 KUHPerdata). Artinya
: tidak membedakan mana piutang yg lebih dahulu terjadi dan
piutang yg terjadi kemudian. Semuanya mempunyai kedudukan
yg sama, tidak mengindahkan urutan terjadinya. Semua
mempunyai kedudukan yg sama terhadap harta kekayaan
debitur. Jika terjadi kepailitan, hasil penjualan benda-benda tsb
dibagi antara semua krediturnya secara seimbang dg besarnya
piutang masing-masing, kecuali UU menetapkan lain, maka asas
kesamaan tsb dapat disimpangi.
Kasus
Tuan A mempunyai kreditur preferen 2 orang yaitu Tuan B
(pemegang jaminan gadai atas cincin berlian untuk hutang 200
juta) dan Tuan C (pemegang jaminan fidusia atas mobil innova
plat B XX DCG warna hitam untuk hutang 150 juta). Selain itu
Tuan A juga mempunyai 3 orang kreditur konkuren yaitu Tuan
D yang mempunyai tagihan 10 juta, Tuan E punya tagihan 20
juta, Tuan F mempunyai tagihan 30 juta. Tuan A juga bertindak
sebagai penanggung hutang Tuan G kepada Tuan H sebesar
10 juta.
Hasil penjualan harta kekayaan Tuan A :
- mobil innova plat B XXDCG laku seharga 210 juta
- cincin berlian laku 180 juta
- jumlah harta yang lainnya masih 50 juta.
Bagilah harta kekayaan Tuan A pada sekalian krediturnya !
Kasus 1
Maya membutuhkan dana untuk membuka usaha
katering sebesar Rp. 10 juta. Ia mendatangi sebuah
lembaga pembiayaan yang menawarkan padanya
pinjaman tanpa jaminan. Setelah perjanjian hutang-
piutang dibuat dengan sah, Maya memperoleh uang
yang diinginkan. Setelah 2 tahun berjalan, usaha Maya
jatuh bangkrut. Dia hanya mempunyai sebuah rumah
dan sepeda motor yang dipakai oleh keluarganya.
Pertanyaannya : Apakah Lembaga Pembiayaan tersebut
dapat meminta pemenuhan piutangnya dengan
menuntut penjualan rumah dan sepeda motor yang
dimiliki Maya, mengingat hutang-piutang tersebut dahulu
dibuat dengan tanpa jaminan ?

Kasus 2
A seorang kreditur pemegang jaminan gadai atas
Mobil Toyota Innova debitur X. Seminggu
kemudian X dengan memfidusiakan surat-surat
(dokumen kendaraan) mobil Toyota Innova
tersebut pada B. Dalam hal X wanprestasi
terhadap A maupun B. Apa yg dapat dituntut
oleh A maupun B terhadap X ? Usaha apa yg
dapat dilakukan oleh A sebagai pemegang
jaminan fidusia untuk menghindari hal-hal
tersebut di atas sehingga kepentingannya
secara hukum dapat terlindungi ?

Penggolongan Jaminan yang
lain sebagai berikut :
1. Jaminan Regulatif dan Non
Regulatif;
2. Jaminan Konvensional dan Non
Konvensional;
3. Jaminan serah benda, jaminan
serah dokumen, dan jaminan serah
kepemilikan konstruktif.
Privilegi, retensi dan cessie
Hal-hal tersebut di atas merupakan
hak-hak yang memberikan jaminan;
Dengan adanya figuur-figuur tersebut
seorang kreditur sudah merasa
terjamin haknya.
Privilegi : suatu hak yg diberikan oleh UU kepada kreditur yang
satu diatas kreditur lainnya semata-mata karena sifat dari
piutangnya. Jadi privilegi merupakan hak yg memberi jaminan,
tetapi bukan merupakan hak kebendaan.
Retensi : hak untuk menahan sesuatu benda sampai suatu piutang
yang bertalian dengan benda tersebut dilunasi. Hak Retensi bersifat
tidak dapat dibagi-bagi. Hak Retensi tidak memberikan hak untuk
memakai bendanya. Hak Retensi mempunyai ciri-ciri sbg perjanjian
yg bersifat eccessoir, yaitu ikut beralih, hapus dan batal dengan
beralih, hapus dan batalnya perjanjian pokok (Dijumpai dalam
perjanjian sewa menyewa, gadai, bezzitter yg jujur, perjanjian
pemberian kuasa, perjanjian perburuhan dll).
Cessi : penyerahan piutang atas nama yg dilakukan dg cara
membuatkan akte otentik atau akta dibawah tangan, dengan
kewajiban adanya pemberitahuan mengenai adanya penyerahan itu
oleh juru sita kepada debitur dari piutang tersebut.
Arti Penting Pembicaraan
ttg jaminan ?
1. Merupakan materi yang sifatnya universal;
2. Dilihat dari sisi hukum perikatan bahwa
seorang debitur mempunyai kewajiban
(schuld) dan tanggung jawab (haftung);
3. Dilihat dari isi ketentuan beberapa UU,
misalnya UU No. 14 th. 1967, UU No. 7 Th.
1992 dan UU No. 10 Th. 1998, terdapat
ketentuan yg mewajibkan bank dalam setiap
pemberian kreditnya harus dengan suatu
keyakinan yg timbul dari hasil analisis
terhadap jaminan.
4. Dalam SK Direksi Bank Indonesia No.
23/69/Kep/Dir/28-2-1991 ditentukan bahwa bank
dalam pemberian kredit harus dilandasi dengan
keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan
nasabah yg timbul dari penilaian yg seksama
atas watak, kemampuan, modal, agunan dan
prospek usahanya;
5. Dalam model-model perjanjian kredit bank
selalu terdapat klausul tentang jaminan kredit
disamping klausul mengenai asuransi barang
jaminan. Misalnya dapat dilihat dalam model PK
1 Bank BNI 1946 dan Model SH 03 Bank BRI
Hubungan antara Jaminan & Hutang
Hubungan antara jaminan dan hutang sangat erat.
Dalam setiap hubungan hutang piutang demi hukum ada
jaminan yg ditentukan oleh UU, sering disebut jaminan
umum.
Mengenai hubungan hutang piutang dengan jaminan
khusus dapat digambarkan sebagai hubungan antara
perjanjian pokok dengan perjanjian tambahan (accesoir).
Dalam perjanjian pokok harus ada uraian mengenai
adanya jaminan yang disepakati para pihak, dan
sebaliknya dalam perjanjian tambahan jg harus ada
uraian tentang perjanjian pokoknya. Misalnya dalam
perjanjian pokok para pihak sepakat adanya jaminan
gadai. Uang baru akan diserahkan kepada pihak
peminjam setelah jaminan gadai diadakan lebih dahulu
dan dalam perjanjian gadai harus terdapat uraian
tentang materi inti dari perjanjian pokok tersebut.
PR : Pelajari ttg ciri-ciri hak kebendaan dan perseorangan
Kasus 3
A seorang pengusaha garmen membutuhkan dana untuk
memperbesar usahanya. Ia meminjam dana dari Bank BRI sejumlah
Rp. 300 juta dengan jaminan hak tanggungan atas tanah dan rumah
(taksiran obyek jaminan sebesar 1 milyar berlokasi di Jl. Parangtritis
Bantul). Setahun kemudian A meminjam pada Bank Danamon Rp.
400 juta dengan jaminan hak tanggungan atas tanah yang sama.
Selain itu A juga menjadi penanggung hutang atas Tuan Budi
senilai Rp. 100 juta (hutang dibuat tahun 1995) dan Tuan Agung
senilai 200 juta (hutang dibuat tahun 1997). Pada tahun 2006 terjadi
gempa sehingga nilai jaminan turun menjadi 500 juta. Pada saat
yang bersamaan terjadi penurunan omset perusahaan secara terus
menerus sehingga usaha A jatuh. Harta yang ada saat itu tanah
senilai 500 juta dan barang modal senilai 100 juta. Pertanyaannya :
Dari beberapa kreditur A, siapa yang terlebih dahulu mendapatkan
pemenuhan piutangnya ? Berikan penjelasan mengenai pendapat
saudara !

GADAI (PAND)
(Diatur dalam Buku II Bab 20 Ps. 1150-1160 KUHPerd.)
Gadai (Ps. 1150 KUHPerdata) :
suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas
suatu benda bergerak, yang diserahkan
kepadanya oleh seorang berhutang atau oleh
seorang lain atas namanya, dan yang memberikan
kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk
mengambil pelunasan dari barang tersebut secara
didahulukan daripada orang-orang berpiutang
lainnya; dengan kekecualian biaya untuk
melelang barang tersebut dan biaya yang telah
dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah
barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus
didahulukan.

Beberapa pedoman ttg Gadai menurut
rumusan Ps. 1150 KUHPerd. :
1. Gadai adalah hak kebendaan;
2. Obyek gadai adalah benda bergerak;
3. Benda gadai diserahkan oleh debitur kepada
kreditur (inbezitstelling);
4. Fungsi gadai sebagai pelunasan hutang;
5. Pemegang gadai mempunyai hak didahulukan
dalam pemenuhan piutangnya jika berhadapan
dengan kreditur lainnya, kecuali atas biaya
lelang dan biaya pemeliharaan barang gadai.
Ciri-Ciri Gadai
1. Accesoir;
2. Hak kebendaan yg memberikan jaminan;
3. Tidak dapat dibagi-bagi.
Contoh : 2 orang ahli waris yg
mempunyai kewajiban membayar hutang
dg jaminan gadai, maka jika seorang
telah membayar bagiannya tidak dapat
meminta sebagian benda gadai untuk
diserahkan padanya).
Pihak dalam Gadai
Pemberi gadai x Pemegang gadai
(debitur yg berhutang) (Perum Pegadaian)

Dimungkinkan ada pihak lain sebagai
pihak penyimpan dengan persetujuan
kedua belah pihak.
Siapa yang dapat menggadaikan ?
Mereka yg mempunyai kewenangan bertindak
atas suatu benda yg jadi obyek.
Bagaimana dg isi Pasal 1152 ayat (4)
KUHPerdata yg menentukan bahwa
ketidakwenangan bertindak pemberi gadai tidak
dapat diajukan kepada penerima gadai.
Pasal ini seakan membuka peluang bagi
pemakai, peminjam, penemu bahkan penyimpan
untuk dapat menggadaikan benda yg berada
dalam kekuasaannya.
Bagaimana cara menggadaikan
benda bergerak yg berwujud ?

1. Harus ada perjanjian pokoknya;
2. Harus ada perjanjian gadai;
3. Bentuk perjanjiannya bebas;
4. Isi perjanjian sesuai kesepakatan para pihak
dg landasan kebebasan berkontrak;
5. Harus ada penyerahan benda gadai dalam
kekuasaan penerima gadai atau benda gadai
harus keluar dari kekuasaan pemberi gadai
(inbezitstelling)
Cara menggadaikan benda bergerak
tak berwujud (piutang atas nama)

1. Harus ada perjanjian pokok:
2. Harus ada perjanjian gadai;
3. Bentuk perjanjiannya bebas;
4. Isinya sesuai dg kesepakatan para pihak dg landasan kebebasan
berkontrak;
5. Pemberitahuan kpd debitur dari piutang yg digadaikan sifatnya
harus, sebab tanpa pemberitahuan tidak ada perbuatan hukum
gadai;
* Berbeda dg cessie piutang atas nama. Pemberitahuan tidak
merupakan syarat adanya perbuatan cessie, tetapi hanya sekedar
perbuatan administratif saja;
* Mengenai bentuk perjanjian antara gadai dengan cessie jg terdapat
perbedaan yaitu : Untuk gadai sifatnya bebas artinya dapat
tertulis maupun lisan, sedangkan dalam cessie harus tertulis
dalam suatu akta, dapat akta otentik maupun akta dibawah
tangan.
Mungkinkah gadai untuk hutang
ke- 2 ?
Memperhatikan Pasal 1159 ayat (2) membuka peluang
untuk adanya gadai untuk hutang ke 2.

Jika diantara si berutang dan berpiutang ada pula
suatu utang ke dua, yang dibuatnya sesudah saat
pemberian gadai, dan dapat ditagih sebelum
pembayaran utang pertama atau pada hari pembayaran
itu sendiri, maka si berpiutang tidaklah diwajibkan
melepaskan barang gadainya sebelum kepadanya
dilunasi sepenuhnya kedua utang tersebut, sekalipun
tidak telah diperjanjikan untuk mengikatkan barang
gadainya bagi pembayaran utang keduanya.
Hal yg dapat ditarik dari ketentuan
Ps. 1159 ayat (2) KUHPerd. :
1. Hutang kedua diadakan setelah
pemberian gadai;
2. Pembayaran hutang kedua lebih dahulu
dari hutang pertama atau bersamaan;
3. Pembayaran hutang kedua tidak
menyebabkan pemegang gadai harus
menyerahkan benda gadai pada pemberi
gadai.
Kedudukan pemegang gadai sebagai
pemegang hak kebendaan
Dengan memperhatikan Pasal 1152 ayat (3),
Pasal 1977 ayat (2), Pasal 582 dapat
disimpulkan bahwa :
Apabila benda jaminan hilang dicuri dapat
menuntut dalam jangka waktu 3 tahun tanpa
membayar apapun juga, kecuali benda tersebut
dibeli oleh seseorang yang jujur, maka dapat
dituntut dari orang tersebut dengan membayar
harga pembelian, asalkan saja pembelian
tersebut ditempat tertentu sebagaimana disebut
dalam Pasal 582 KUHPerdata, misalnya dalam
pelelangan umum.
Adakah perlindungan thd pemilik
barang yang telah digadaikan ?
Memperhatikan Pasal 1152 ayat (4) dapat
diperoleh pedoman bahwa pemilik yang
sesungguhnya dari suatu barang yg telah
digadaikan dapat menuntut kembali hak
miliknya dengan gugat revindikasi.
Bagaimana nasib penerima gadai dalam
hal gugat revindikasinya dikabulkan ?

KASUS 4
Tuan Ridwan meminjam uang pada Tuan Harun sejumlah Rp. 90
juta dengan jaminan gadai atas sebuah mobil sedan merek Baleno
tahun 2005. Karena ketidak hatia-hatiannya, Mobil yang sedang
diparkir di komplek pertokoan Malioboro tersebut hilang. Sebulan
kemudian Tuan Ridwan mengetahui bahwa mobilnya telah
dikuasai oleh seseorang di kota Solo. Tuan Ridwan berusaha
mengambil mobil tersebut dengan melakukan gugatan revindikasi.
Oleh hakim, gugatan tersebut dikabulkan, sehingga mobil kembali
pada Tuan Ridwan. Pertanyaan :
1. Apakah Tuan Harun telah melaksanakan kewajibannya dengan
baik dalam kedudukannya sebagai penerima jaminan gadai ?
2. Apabila piutang Tuan Harun sudah dapat ditagih apakah ia dapat
meminta pemenuhan piutangnya dengan menuntut penjualan
mobil tersebut ?
3. Jika Tuan Ridwan pailit dan ternyata ia mempunyai lebih dari 2
kreditur apakah Tuan Harun mempunyai prioritas untuk
didahulukan daripada kreditur-kreditur lainnya ?
Kewajiban Pemegang gadai
Bertanggung jawab terhadap hilangnya
benda gadai

Bertanggung jawab terhadap
merosotnya nilai
benda gadai.
Hak Pemegang Gadai
1. Berhak menjual barang gadai atas kekuasaan
sendiri dan dilakukan di muka umum;
2. Dengan perantaraan hakim, benda gadai
dapat dijual menurut cara-cara yang
ditentukan hakim;
3. Berhak menahan benda gadai sampai semua
hutang dibayar lunas;
4. Berhak untuk mendapatkan pembayaran lebih
dahulu dari hasil penjualan benda
dibandingkan dengan kreditur lainnya.
EKSEKUSI BENDA GADAI
A. Dapat dilakukan dengan penjualan di muka
umum melalui kantor lelang dalam rangka
melaksanakan sendiri haknya, apabila telah
sampai suatu jangka waktu tertentu sesuai
kesepakatan para pihak atau setelah diberikan
teguran untuk melaksanakan kewajiban kepada
kreditur tetapi debitur tidak melaksanakannya.
Setelah benda dijual kemudian hasil penjualan
diperhitungkan untuk membayar hutang debitur,
apabila berlebih dikembalikan.
B.
Dalam hal debitur tidak melaksanakan
kewajiban kepada kreditur dan setelah
ditegur tetap tidak bersedia melaksanakan
kewajibannya, maka kreditur dapat
meminta pada hakim untuk menjual benda
jaminan sesuai aturan di pengadilan dan
hasil penjualan diperhitungkan langsung
dengan semua kewajiban debitur kepada
kreditur.
C.
Dalam hal debitur tidak memenuhi
kewajibannya kepada kreditur, maka
kreditur dapat meminta kepada hakim
agar benda jaminan tetap berada dalam
kekuasaan kreditur, sampai debitur
membayar lunas semua kewajibannya.
Bagaimana kalau bank yg membeli
benda tersebut ?

Bagaimana cara menggadaikan saham
mnrt ketentuan yg ada skrg ini ?
Pasal 24 UU No. 1 th. 1995 menetapkan 2 bentuk
saham yg dikeluarkan suatu perseroan terbatas yaitu :
Saham atas nama (saham yg ada namanya) dan saham
atas tunjuk (saham tanpa nama)
Pasal 44 UU No. 1 Th. 1995 menentukan bahwa bukti
kepemilikan untuk saham berbeda-beda, yaitu :
Untuk saham atas tunjuk cukup dengan surat saham
sedangkan saham atas nama dengan surat kolektif
saham.
Saham dengan surat kolektif saham yaitu saham yang
tidak berada dalam penitipan kolektif. Untuk saham
seperti ini maka penjaminnya dengan gadai.
Adapun mekanisme
penjaminannya adalah :
Ada perjanjian hutang piutang antara kreditur dan debitur dengan
kesediaan debitur untuk menyerahkan surat kolektif saham sebagai
jaminan untuk pelunasan hutang.
Setelah itu harus ada perjanjian kebendaannya yaitu perjanjian
gadainya antara pemberi gadai dengan penerima gadai.
Setelah dilakukan perjanjian gadai tersebut harus diikuti dengan
penyerahan surat kolektif saham kepada penerima gadai dalam
rangka mewujudkan syarat inbezitstelling.
Setelah itu oleh pemegang gadai melalui pemberi gadai sebagai
pihak yg menjadi pemegang rekening, mengajukan permohonan
tertulis untuk pencatatan jaminan kepada KSEI (PT Kustodian
Sentral Efek Indonesia) dan selanjutnya KSEI akan menerbitkan
Surat Konfirmasi Jaminan sebagai tanda bukti adanya pencatatan
jaminan.
Bagaimana untuk Saham Tanpa Warkat ? (Saham yg
berada dlm penitipan kolektif yg berupa data elektronik yg
diadministrasikan pd PT Kustodian Sentral Efek Indonesia)
Untuk saham seperti ini lembaga penjaminnya melalui jaminan
fidusia dan mekanismenya adalah sebagai berikut :
1. Tahap pertama dibuat perjanjian pokok, misalnya perjanjian
kredit;
2. Tahap kedua membuat perjanjian penjaminan fidusia antara
pemberi fidusia dengan penerima fidusia, dengan akta notaris;
3. Tahap ketiga dengan mendaftarkan jaminan fidusia pada kantor
pendaftaran jaminan fidusia dalam wilayah tempat tinggal
pemberi jaminan fidusia;
4. Setelah itu bank melalui pemberi jaminan fidiusia mengajukan
permohonan tertulis untuk melakukan pencatatan jaminan fidusia
kepada kantor PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan
selanjutnya PT tersebut akan menerbitkan surat konfirmasi
jaminan sebagai tanda bukti adanya pencatatan jaminan fidusia.
Macam-macam Fidusia
Fidusia Cum Creditore Contracta
(janji kepercayaan yg dibuat dg kreditur)
Janji yg dibuat oleh debitur dg kreditur adalah
bahwa debitur akan mengalihkan kepemilikan
atas suatu benda kepada krediturnya sebagai
jaminan untuk hutangnya dg kesepakatan
bahwa debitur tetap akan menguasai secara
fisik benda tersebut dan kreditur akan
mengembalikan kepemilikan tersebut kepada
debitur setelah hutang dibayar lunas oleh
debitur.
Fidusia Cum Amico Contracta
(Janji kepercayaan yang dibuat dg teman)
Dalam fidusia ini penyerahan benda oleh
seseorang kepada orang lain sebagai teman
dengan maksud untuk menitipkan satu benda
atau semua kekayaan seseorang tersebut akan
berhubung orang yg menitipkan tersebut akan
melakukan perjalanan jauh atau lama. Tentu
saja antara yg menitipkan dan yg dititipi ada
kesepakatan bahwa setelah pihak yg menitipkan
kembali dari perjalanannya maka semua benda
akan dikembalikan kepada pemiliknya.
Perbedaan Gadai dan Fiduciare
Eigendom Overdracht (FEO)
Dalam gadai benda yg digadaikan harus
keluar dari kekuasaan pemberi gadai
(inbezitstelling)
Benda dalam FEO tetap dalam kekuasaan
pemberi fidusia. Dan hak atas benda
dialihkan kepada penerima fidusia.
Dasar memperalihkan hak dalam fidusia
adalah kepercayaan diantara para pihak.
Timbulnya FEO
Berhubung gadai mensyaratkan benda harus
keluar dari kekuasaan pemberi gadai maka hal
itu sangat menyulitkan bagi pemberi gadai,
sebab tidak dapat mempergunakan benda yang
digadaikan untuk keperluan usahanya.
Hambatan tersebut diatasi dengan
mempergunakan lembaga Fiduciare Eigendoms
Overdracht. Lembaga ini diakui oleh peradilan
sejak adanya keputusan BIERBROUWERIJ
ARREST yaitu tg 25 Januari 1929 dan ARREST
HOOGGERECHTSHOF 18 Agustus 1932.
Bos dengan NV Heineken

Bos dengan NV
Inventaris warung dijual dg hak membeli kembali
dg syarat inventaris tetap dikuasai Bos dg
pinjam pakai. Pinjam pakai akan berakhir
apabila Bos tidak membayar pada waktunya
pada NV atau Bos dalam pailit.
Bos pailit .. Semua kekayaan diurus kurator
termasuk inventaris milik Bos.
NV menuntut revindikasi, kurator menolak dg
alasan jual beli tidak sah, pura-pura menuntut
pemutusan perjanjian.
PERADILAN TINGKAT PERTAMA
Menolak gugatan NV
Memutuskan perjanjian jual beli tsb dg alasan
adanya perbuatan pura-pura dalam perjanjian
tsb.
Gadai tidak dapat diterapkan karena
bertentangan dengan Ps. 1152 ayat (2)
KUHPerdata. Tidak sah adalah gadai atas
segala benda yg dibiarkan tetap dalam
kekuasaan si berhutang atau si pemberi gadai,
ataupun yg kembali atas kemauan si berpiutang
PERADILAN TK BANDING
Membatalkan putusan pengadilan tk I
Mengadili sendiri dg pendapat bahwa jual
beli dengan hak membeli kembali sah.
Alasannya adanya kebebasan para pihak.
Kurator harus mengembalikan inventaris
Bos kepada NV.
PERADILAN KASASI
Kurator mengajukan kasasi
Setelah dilakukan penelitian yg seksama oleh
MA diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Para pihak ingin mengadakan perjanjian
jaminan inventaris Bos sebagai jaminan.
Ada sebab yg halal
Tidak ada keinginan menggadaikan
Tidak ada penyelundupan UU
Tidak bertentangan dg kesusilaan
Jadi para pihak bermaksud mengadakan
perjanjian penyerahan hak milik sebagai
jaminan dengan dasar kepercayaan.
Kurator harus menyerahkan inventaris Bos
pada NV
Pedro Clynett dengan BPM
Pedro pinjam uang kpd BPM

Pedro menyerahkan hak atas mobil pada BPM
sebagai jaminan. Pedro tetap menguasai mobil
dengan alasan pinjam pakai. Pinjam pakai akan
berakhir apabila pedro wanprestasi dan mobil
akan diambil BPM
Pedro wanprestasi. BPM menuntut mobil dari
Pedro. Pedro menolak dg alasan perjanjian tidak
sah. Alasannya perjanjian antar keduanya
adalah gadai, tetapi gadainya sendiri tidak sah
karena benda gadai masih dalam kekuasaan
debitur bertentangan dg Ps. 1152 ayat (2)
KUHPerd.
HGH Berpendapat :
Menolak alasan Pedro, sebab perjanjian
antara Pedro dan BPM bukan gadai, tetapi
yg benar adalah perjanjian penyerahan
hak milik sebagai jaminan dengan Dasar
kepercayaan. Hal ini telah dibenarkan
dalam yurisprudensi tahun 1929.
Memerintahkan Pedro harus menyerahkan
mobil sebagai jaminan untuk di eksekusi.
Memperhatikan 2 kasus tsb dpt
diambil sebagai pedoman bahwa :
Penyerahan hak milik secara kepercayaan
sebagai jaminan mempergunakan kaidah sbb :
1. Bahwa hak milik atas benda yg dijadikan
jaminan diserahkan kepada penerima jaminan.
Sedangkan benda yg dijadikan jaminan secara
realita masih tetap dikuasai oleh pihak pemberi
jaminan. Kepercayaan demikian disebut
CONSTITUTUM POSSESSORIUM (dasar
kebebasab para pihak)
2. Secara teknis perjanjian dapat dirumuskan
bahwa antara pemberi jaminan dg penerima
jaminan ada kesepakatan terlebih dahulu.

3. Bahwa pemberi jaminan dg ini menyerahkan
hak milik atas benda-benda tertentu kepada
penerima jaminan untuk dijadikan jaminan
4. Penyerahan ini diterima oleh penerima jaminan
dan sekaligus menyerahkan kembali benda-
benda tersebut kpd pemberi jaminan dg kuasa
penerima jaminan
5. Selanjutnya benda-benda tersebut akan
disimpan atau akan dipakai oleh pemberi
jaminan.
Kedudukan Pemegang Fidusia
(FEO)
A.1. B
A2.B

Apakah B dalam gambar ke 2 sebagai pemilik sempurna
atau hanya sekedar sebagai pemegang saja ?
1. Ada pendapat yg mengatakan bahwa B dalam gambar
ke 2 di atas adalah sebagai pemilik yang sempurna,
tidak berbeda dengan kedudukan pembeli dalam
perjanjian jual beli dengan hak membeli kembali.
Pendapat ini membawa konsekwensi bahwa kreditur
dapat berbuat bebas dengan benda yang menjadi obyek
jaminan selama hutang belum dilunasi.
2. Pendapat yg lain mengatakan bahwa B dalam
gambar ke 2 di atas tidak sebagai pemilik yang
sempurna tetapi hanya sebagai pemegang
jaminan saja, bukan sebagai pemilik.
Hal tersebut dapat dilihat dalam putusan
Mahkamah Agung No. 1500/K/SIP/1978
Keputusan tsb ttg perkara BNI 1946 dg FA
Megaria. FA Megaria wanprestasi sebab tidak
dapat membayar hutang pada BNI 1946.
BNI 46 menurut MA sebagai pemegang jaminan berhak
untuk menjual benda jaminan dan akan
memperhitungkan hasil penjualan tersebut dengan
piutangnya. Dalam hal ada kelebihan harus
dikembalikan dan jika ternyata ada kurang kreditur
berhak menagih hutang kepada FA Megaria.
Kelihatannya pemegang fidusia seperti seorang pemilik
karena benda yang dijaminkan merupakan obyek dari
hak milik. Kreditur (B) dalam gambar ke 2 sebagai
pemegang hak milik atas bendanya tetapi hanya
terbatas sebagai pemegang hak milik sebagai jaminan
saja.
Secara realita benda obyek jaminan fidusia berada
ditangan debitur, maka kreditur dapat melakukan
pengawasan terhadap segala perbuatan debitur,
misalnya : Pengawasan thd perbuatan debitur thd benda
inventaris atau benda perdagangan dg cara setiap waktu
tertentu semua benda yg dijaminkan harus masih dalam
kondisi 130-140% dari sisa kreditnya. Apabila terbukti
tidak seperti yg diharapkan maka B dapat melakukan
tindakan sepihak misalnya pemutusan perjanjian
kreditnya sesuai aturan standar yg terdapat dalam
perusahaan B.
Dapatkah Debitur Memperalihkan Benda Obyek
Fidusia Dalam Masa Penjaminan Fidusia ?
1. Jiaka dilihat dari esensi perjanjian antara debitur dg
kreditur, maka sebenarnya debitur tidak dapat
memperalihkan benda obyek fidusia kepada pihak ke
3.
2. Namun demikian jika sampai terjadi benda yg telah
dijaminkan dengan fidusia dijual oleh debitur kepada
seorang pembeli, maka pembeli yg demikian dalam
berhadapan dengan pemegang fidusia akan
menghadapi kesulitan. Andaikata benda yg dijual
diminta kembali oleh pemegang fidusia, maka pembeli
dapat menuntut pengembalian harga pembelian dari
penjual benda tersebut (Pasal 1977 dan 582
KUHPerdata)
3. Bagaimana jika sampai terjadi fidusia
ke- 2 ?
Berhubung dalam fidusia pertama telah
diserahkan hak milik atas benda tersebut oleh
pemberi fidusia kepada pemegang fidusia dan
selama berlangsungnya jaminan pemberi fidusia
tidak lagi sbg pemilik hanya sebagai pemakai
atau penyimpan, maka kedudukan pemegang
fidusia 2 kurang mendapatkan perlindungan
hukum.
Dapatkah kreditur memperalihkan hak milik
atas benda jaminan kepada pihak ke-3 ?
1. Dilihat dari tujuan dan esensi perjanjian antara
pemberi fidusia dg penerima fidusia, maka
pemegang fidusia baru mempunyai hak untuk
menjual benda jaminan dalam hal debitur telah
dinyatakan wanprestasi.
2. Jika seandainya terjadi penjualan benda oleh
pemegang fidusia, sedangkan pemberi fidusia
belum dinyatakan wanprestasi, maka dalam
hal ini kedua belah pihak tidak mendapat
perlindungan hukum.
Membicarakan FEO dg dasar yurisprudensi belum dapat memberikan
perlindungan hukum bagi para pihak yg berkepentingan Oleh karena
itu perlu dibentuk UU ttg jaminan fidusia.
1. Pengertian fidusia tidak sama dengan
pengertian jaminan fidusia.
memperhatikan ketentuan otentik dalam UU
No. 42 th 1999, yaitu Ps. 1 butir 1 dapat
diketahui bahwa fidusia adalah pengalihan hak
kepemilikan suatu benda atas dasar
kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda
yg kepemilikannya dialihkan tersebut tetap
dalam penguasaan pemilik benda.
Dengan ketentuan Ps. 1 butir 1 UU No. 42 th 1999 tsb dapat diketahui
bahwa fidusia dimaksudkan sbg cara untuk memperalihkan hak
kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dg tetap menguasai
benda yg dialihkan dlm kekuasaan pemilik benda. Dengan demikian
fidusia diidentikkan dengan cara penyerahan yang CONSTITUTUM
POSSESORIUM
Jaminan Fidusia adalad : Hak jaminan atas benda
bergerak baik yg berwujud maupun yg tdk berwujud
dan benda tdk bergerak khususnya bangunan yg
tdk dpt dibebani hak tanggungan sebagaimana
dimaksud oleh UU No. 4 th 1996. Benda yg
dijaminkan tetap berada dlm penguasaan pemberi
fidusia, sbg jaminan pelunasan bagi pelunasan
utang tertentu, memberikan kedudukan diutamakan
kpd penerima jaminan fidusia dibandingkan dg
kreditur lainnya.
Dari pengertian tersebut dapat dicermati
beberapa unsur dari jaminan fidusia adalah :
Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas
benda. (adapun yg dimaksud benda
adalah segala sesuatu yg dapat dimiliki
dan dialihkan berwujud dan tidak
berwujud, terdaftar dan tidak terdaftar,
bergerak maupun tidak bergerak
sepanjang tidak dapat diikat dengan hak
tanggungan dan hipotik).
Obyek Jaminan Fidusia
1. Pada mulanya dg mengikuti hukum Romawi yg
menjadi obyek fidusia adalah benda bergerak
atau benda tetap;
2. Memperhatikan ketentuan Pasal 1152
KUHPerdata, maka obyek fidusia adalah
benda bergerak;
3. Memperhatikan beberapa yurisprudensi,
misalnya Yurisprudensi HR 1929,
yurisprudensi HGH 1932, putusan MA RI 1970
dapat disimpulkan bahwa obyek fidusia adalah
benda bergerak.

4. Disertasi Sri Soedewi mengatakan bahwa
dalam praktek obyek fidusia tidak hanya benda
bergerak tetapi juga benda tetap berupa
bangunan-bangunan yg terdapat di atas tanah
hak pakai dan sewa.
5. Pasal 1 butir 2 dan 4 UU No. 42/99 menentukan
bahwa obyek fidusia benda bergerak dan tetap
khususnya bangunan yg tidak dapat jadi obyek
hak tanggungan.
Semuanya harus dapat dijadikan obyek hak milik
dan dapat dialihkan.
Ingat : Pasal 4 ayat (2) UU 4/96
Pasal 12 ayat (1b) UU 16/85
Pasal 1 butir 4 UU 42/99
Subyek Jaminan Fidusia
(Berdasar PS 1 Butir 5 UU 42/99 perseorangan atau korporasi mjd
pemilik benda yg akan dijadikan obyek jaminan fidusia)
Dapat pemilik itu manusia, badan usaha
yg berbadan hukum atau badan usaha yg
tidak berbadan hukum.
Apakah pemberi jaminan fidusia itu harus
sudah nyata-nyata sbg pemilik suatu benda
yg akan diikat dg jaminan fidusia yaitu pada
saat perjanjian pemberian jaminan atau
dapat pada waktu yg lain ?
Menjawab hal itu perlu dilihat ketentuan-ketentuan
dalam UU 42/99 yaitu : Pasal 1 butir 5, Pasal 9 serta
Pasal 1334 KUHPerdata.
Pasal 1 butir 5 menentukan : Bahwa pemberi jaminan
fidusia adalah pemilik benda obyek jaminan fidusia. Jadi
pada saat membuat perjanjian pemberian jaminan
fidusia benda obyek harus sudah milik pemberi jaminan
fidusia.
Pasal 9 menentukan : Jaminan fidusia dapat
diberikan thd satu atau lebih satuan benda baik
yg telah ada pada saat pemberian maupun yg
akan diperoleh kemudian. Pasal ini memberi
makna bahwa ada kemungkinan pemberi
jaminan fidusia pd saat pemberian jaminan
fidusia belum menjadi pemilik benda obyek
jaminan fidusia.
Pasal 1334 KUHPerdata menentukan : Barang-
barang yg baru akan ada dikemudian hari dapat
dijadikan obyek suatu perjanjian. Pasal ini
membuka peluang bahwa ada kemungkinan
seseorang pada waktu menutup perjanjian
belum nyata-nyata menjadi pemilik suatu benda.
Secara umum dari gambaran diatas dapat
ditetapkan bahwa dapat saja seseorang
menjadikan suatu benda menjadi obyek
jaminan fidusia walaupun orang tersebut
pada saat tersebut belum nyata-nyata
menjadi pemilik.
Walaupun terbuka kemungkinan bahwa
benda yg akan dijadikan jaminan fidusia,
namun perlu kiranya ditetapkan kapan
sebaiknya benda yg telah dijadikan
jaminan fidusia benar-benar harus sudah
jadi milik pemberi jaminan fidusia ?
Pasal 30 UU 42/99 menentukan
Pemberi jaminan fidusia wajib
menyerahkan benda yg menjadi obyek
jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan
eksekusi jaminan fidusia.
Memperhatikan isi pasal tsb diatas dapat
disimpulkan bahwa obyek jaminan fidusia harus
sudah nyata-nyata menjadi milik pemberi
jaminan fidusia pada saat benda akan
diserahkan untuk dieksekusi oleh peneraima
jaminan fidusia berhubung pemberi jaminan
fidusia wanprestasi.
Siapakah penerima jaminan
Fidusia itu ?
Berdasarkan Pasal 1 butir 6 dapat
diketahui bahwa penerima
jaminan fidusia adalah orang
perorangan maupun korporasi.
Penerima jaminan fidusia harus
mempunyai piutang terhadap
pemberi jaminan fidusia.
Ciri-Ciri Jaminan Fidusia
1. Salah satu ciri jaminan fidusia adalah sebagai
perjanjian accesoir atau perjanjian ikutan :
Lahirnya, berakhirnya dan berpindahnya tergantung dg
perjanjian pokoknya.
Dalam perjanjian jaminan fidusia harus
menggambarkan isi essensi dari perjanjian pokoknya;
Pasal 4 UU 42/99 menentukan bahwa jaminan fidusia
merupakan perjanjian ikutan dari perjanjian pokok yg
menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk
memenuhi prestasi.
Dapat berupa apa sajakah perjanjian pokok itu ?
Apakah hanya terbatas pada perjanjian pinjam
meminjam uang atau perjanjian kredit saja atau dapat
meliputi perjanjian lainnya ?

Mengingat ujud prestasi itu dapat
berupa memberikan sesuatu,
berbuat sesuatu, tidak berbuat
sesuatu maka segala macam
perjanjian yg dapat melahirkan
ujud prestasi tersebut, sepanjang
dapat dinilai dengan uang, maka
dapat menjadi perjanjian pokok
dan dapat pula dijamin fidusia.
Dapatkah perjanjian penjaminan fidusia
dikatakan sebagai perjanjian bersyarat ?
Mengingat fungsi jaminan fidusia sebagai
jaminan untuk perjanjian pokoknya, maka dg
selesainya kewajiban dalam perjanjian pokok,
maka perjanjian jaminan fidusia tidak lagi ada
fungsinya;
Oleh karena itu sesuai dg sifatnya yg accesoir,
maka dapat dikatakan bahwa perjanjian jaminan
fidusia merupakan perjanjian dengan syarat
batal, artinya : setelah debitur melunasi
hutangnya maka benda yg merupakan obyek
jaminan fidusia akan kembali kepada pemberi
fidusia secara demi hukum.
Apakah perjanjian pokok tsb harus
perjanjian timal balik ?
Mengenai hal ini tidak ada ketentuan
dalam UU yg melarang atau
membolehkan. Dalam praktek banyak
terjadi pengakuan hutang secara sepihak.
Apakah terhadap pengakuan hutang ini
tidak boleh dijamin dengan jaminan fidusia
? Tentang hal seperti ini tidak ada
ketentuan yang melarang.
Bentuk, Isi dan Lahirnya
Jaminan Fidusia
Bentuk jaminan fidusia.
Sesuai fungsinya jaminan fidusia sebagai jaminan ikutan
terhadap perjanjian pokoknya, maka sebaiknya perlu
dipertanyakan dulu perjanjian pokoknya.
* Dalam hal perjanjian pokoknya adalah perjanjian kredit,
maka berdasarkan surat Keputusan BI No.
23/69/Kep/Dir/28-2-91, ditentukan bahwa dalam rangka
mewujudkan sikap hati-hati maka setiap pemberian
kredit harus dibuat dalam bentuk tertulis, dapat berupa
akta baik akta otentik atau akta dibawah tangan.
* Bagaimana bentuk perjanjian dalam penjaminan fidusia ?
Pasal 5 UU 42/99 menentukan bahwa : Pembebanan
benda dengan jaminan fidusia dibuat dengan akta
notaris dalam bahasa Indonesia.
Apakah akta notaris suatu
keharusan ?
Dalam pasal tersebut tidak ada katakata
yang mengharuskannya. Selanjutnya
dalam penjelasannya hanya berisi
keterangan sudah jelas. Dalam
peraturan peralihan juga tidak ada
keharusan untuk menyesuaikan dengan
akta notaris (lihat Ps. 37 ayat 2 UU 42/99)

Ada satu ketentuan yg berhubungan dg UU No. 42/99
yaitu PP No. 86/2000 dalam Bab IV Ps. 12 butir 4
menentukan bahwa mengenai kewajiban penyesuaian
bagi akta jaminan fidusia yg dibuat setelah tg 30
september 2000 berlaku ketentuan dalam UU dan
peraturan pelaksanaannya.
Dari hasil wawancara dg petugas pendaftar diperoleh
informasi bahwa kantor pendaftaran fidusia berpendapat
bahwa pendaftaran fidusia hanya dapat diterima jika
aktanya dibuat dengan akta notaris.
Selama kehendak itu tidak diikuti berarti tidak dapat
mendaftar fidusia. Akibat lebih lanjut maka tidak akan
pernah ada jaminan fidusia yang melahirkan hak
preferensi bagi penerima jaminan fidusia.
Biaya Pembuatan akta Notaris
(Berapa besar biaya pembuatan akta pembebanan
jaminan fidusia ?)
Lihat dalam PP 86/2000. Pasal 11 menentukan bahwa pengenaan
biaya pembuatan akta jaminan fidusia yang besarnya ditentukan
sesuai katagori yang ditetapkan peraturan, yaitu : Untuk nilai
penjaminan sampai lima puluh juta , dikenakan biaya Rp. 50.000,-
Mengenai biaya sebesar ini ada yg pro dan kontra. Mengapa harus
dipatok nilai penjaminannya sampai 50 juta rupiah ?
Bagi mereka yg membutuhkan kredit kecil, sebenarnya nilai
penjaminannya sebetulnya tidak sampai 50 juta, tetapi harus
membayar Rp. 50 ribu rupiah dan kalau sampai didaftarkan pada
kantor pendaftaran harus juga membayar Rp. 25 ribu.
Oleh karena secara kongkrit dalam hal seorang butuh kredit Rp. 5
juta dengan nilai penjamianannya hanya Rp. 15 juta, maka harus
mengeluarkan biaya pembuatan akta Rp. 50 rb ditambah deng
biaya pendaftaran Rp. 25 rb, maka bagi pelaku bisnis kecil
menengah merasa berat.
Akta Jaminan Fidusia
Apa isi akta jamainan fidusia ? Pasal 6 UU
42/99 menentukan bahwa akta jaminan fidusia
sebagaimana dimaksud dalam Ps. 5 sekurang-
kurangnya memuat :
1. Identitas pihak pemberi dan penerima jaminan
fidusia;
2. Data perjanjian pokok yg dijamin;
3. Uraian mengenai benda yg menjadi obyek
jaminan fidusia;
4. Nilai penjaminan;
5. Nilai benda yg menjadi obyek jaminan fidusia.
Beberapa komentar thd isi Ps. 6
tersebut adalah :
1. Kalimat sekurang-kurangnya dari rumusan pasal tsb
bermakna bahwa akta jamaainan fidusia harus
memuat seperti yg ditentukan Pasal 6 ini. Artinya isi
wajib akta jaminan fidusia spt Ps. 6 tsb, dan para pihak
masih bebas untuk menentukan isi yg tidak wajib,
misalnya adanya janji-janji tertentu, seperti janji
tentang asuransi.
2. Identitas para pihak. Mengenai hal ini mengikuti tanda
pengenal diri yg terdapat dalam kartu tanda pengenal
diri dari pemerintah daerah setempat (KTP).
3. Mengenai data perjanjian pokok disebutkan isi yg
essensi dari perjanjian pokok, dalam hal isi essensi
sulit untuk disebutkan, cukup disebutkan nomor
perjanjian kreditnya dengan pihaknya.
4. Mengenai uraian benda yg menjadi obyek
jaminan fidusia dapat dilihat dalam bukti
kepemilikannya atau faktur atau surat
pernyataan dari debitur pemilik benda tersebut.
Ini dilakukan seperti TIU untuk memenuhi asas
publisitas.
5. Mengenai nilai penjaminan terhadap benda
sangat tergantung pada keinginan penerima
jaminan fidusia.Nilai penjaminan menentukan
bahwa penerima jaminan mempunyai hak
preferensi thd yg menjadi jaminan sebesar nilai
penjaminan tersebut.
6. Mengenai nilai benda yg menjadi jaminan para
sarjana berpendapat hal ini tidak perlu.
Hutang yg bagaimana yg dapat
dijaminkan dg jaminan fidusia ?
Untuk menjawab hal ini ada beberapa pedoman :
1. Hutang yg sudah pasti jumlahnya pada saat diadakan
perjanjian penjaminan fidusianya;
2. Hutang yg akan timbul kemudian yg jumlahnya telah
tertentu;
3. Hutang yg timbul dlm hal bank garansi benar-benar
terlaksana karena adanya perbuatan-perbuatan pihak-
pihak yg dijamin yg tidak dilaksanakan dan
menyebabkan bank harus memenuhi garansinya;
4. Hutang yg pada saat akan dilaksanakan eksekusi thd
benda jaminan berhubung debitur wanprestasi baru
ditetapkan secara pasti jumlahnya berdasarkan
perhitungan dalam perjanajaian pokok.
Pendaftaran Benda Jaminan
Fidusia
Apakah pendaftaran merupakan suatu keharusan ?
Pasal 11 UU 42/99 menentukan bahwa : Benda yg dibebani dg
jaminan fidusia wajib didaftarkan.
Bagaimana konsekwensinya jika tidak didaftarkan ? Lihat pasal 14
dan 15 UU 42/99.
Dalam pasal tersebut dapat diperoleh pedoman bahwa jaminan
fidusia yg tidak didaftarkan tidak akan tercatat di kantor pencatatan
fidusia dan sekaligus penerima fidusia tidak akan memperoleh hak
untuk menjual benda yg menjadi obyek jaminan fidusia atas
kekuasaan sendiri, karena penerima jaminan fidusia tidak
mempunyai sertifikat jaminan fidusia. Sertifikat jaminan fidusia
mempunyai kekuatan pembuktian yg sama dg keputusan
pengadilan yg mempunyai kekuatan hukum tetap.
Apa yg harus didaftar ? Bendanya
atau Akta pembebanannya ?
Kalau mengikuti ketentuan Ps. 11 ayat 1 maka disitu ditentukan
bahwa benda yg dibebani dg jaminan fidusia wajib didaftarkan;
Kalau mengikuti ketentuan yg ini maka bendanya yg harus
didaftarkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan Bagaimana kalau
nanti jangka waktu penjaminan telah berakhir, apakah benda akan
kembali tidak terdaftar lagi ? Hal ini tidak ada penjelasan lebiah
lanjut.
Kalau memang yg didaftar adalah bendanya, bagaimana dg nasib
janji-janji yg diadakan oleh para pihak, pasti tidak dapat mengikat
pihak ke tiga karena tidak didaftar.
Oleh karena itu ada yg berpendapat bahwa yg didaftar adalah
perjanjian penjaminan fidusianya, dalam hal ini akta pembebanan
jaminan fidusianya. Dengan pendaftaran akta jaminan fidusianya
telah meliputi pendaftaran thd bendanya dan thd janji-janji yg
diadakan oleh para pihak. Sehingga dapat mengikat pihak ketiga.
Kapan saat lahirnya jaminan
fidusia ?
Mengikuti ketentuan dalam Pasal 14 ayat
3 UU No. 42/99, dapat diketahui bahwa
jaminan fidusia lahir pada tanggal yang
sama dengan tanggal dicatatnya jaminan
fidusia dalam buku daftar fidusia.
Eksekusi Jaminan Fidusia
(Ps. 29 UUJF)
1. Dengan pelaksanaan titel eksekutorial;
2. Dengan pelelangan umum;
3. Dengan penjualan di bawah tangan.
Hak Milik Atas Jaminan Fidusia
(Apakah hak milik seorang penerima jaminan Fidusia
sempurna atau terbatas ?
Ada 2 aliran
1. Aliran/pendirian kuno : Hak milik fiducia adalah sempurna, karena perjanjian
pembebanan jaminan fidusia bersifat obligatoir.
* Dianut jaman Romawi, Tokohnya Jarolimek.
* Kr.A.Veenhoven setuju dg pendirian tsb dg catatan : hak milik sempurna tp
terbatas, krn digantungkan pada suatu syarat (Syarat putus bagi pemilik fidusia,
syarat tanggug bagi pemberi fidusia)
* Jika pemilik fidusia pailit, maka seluruh harta kekayaan termasuk jaminan fidusia
masuk pada boedel pailit.
* Kurator kepailitan dapat menuntut benda fidusia yg berada dalam kekuasaan
pemberi fidusia untuk dijual sbg pembayar hutang pemberi fidusia.
2. Aliran/pendirian modern : Perjanjian penyerahan hak milik secara fidusia hanya
sebagai jaminan (hak milik terbatas), bukan melahirkan hak milik.
* Jika penerima fidusia pailit, benda jaminan fidusia tidak masuk dalam boedel
pailit.
* kurator kepailitan tidak berhak menuntut benda fidusia dari kekuasaan pemberi
fidusia.
* Benda fidusia hanya dapat dilelang dalam batas-batas sbg benda jaminan untuk
melunasi hutang pemberi fidusia kepada pemilik fidusia.
HIPOTIK
(Hypotheca/onderzetting/pembebanan

Pasal 1162 KUHPerdata
Hipotik adalah suatu hak kebendaan
atas benda-benda tak bergerak, untuk
mengambil penggantian daripadanya
bagi pelunasan suatu perikatan.

Ps. 1171 KUHPerd.
Hipotik hanya dapat diberikan dengan suatu akta otentik, kecuali
dalam hal-hal yang dengan tegas ditunjuk oleh undang-undang.
Begitu juga dengan pembuatan kuasa memberikan hipotik, harus
dibuat dengan akta otentik.
Barang siapa yang, berdasarkan UU atau persetujuan, diwajibkan
memberikan hipotik, dapat dipaksa untuk itu dengan putusan hakim,
yang mempunyai kekuatan yg sama seolah-olah ia telah
memberikan persetujuannya untuk hipotik itu, dan yg dengan terang
akan menunjuk benda-benda atas mana akan dilakukan
pembukuan.
Seorang perembpuan bersuami, yg dalam perjanjian kawin
kepadanya telah diperjanjikan suatu hipotik, boleh tanpa bantuan
suaminya atau kuasa hakim melaksanakan pembukuan-pembukuan
hipotik tersebut serta memajukan gugatan-gugatan yg diperlukan
untuk itu

Hal-hal lain tentang Hipotik
Hipotik adalah hak kebandaan
Hipotik adalah perjanjian accessoir
Hipotik mempunyai hak didahulukan (droit
de preference)
Mudah dieksekusi (Ps. 1178 ayat (2)
KUHPerdata

Hal-hal ttg hipotik (lanjutan)
Hak hipotik hanya berisi hak untuk melunasi
hutang tidak memberi hak untuk menguasai
bendanya (memiliki).
Hipotik hanya dapat dibebankan pada benda
milik orang lain dan tidak atas benda milik
sendiri (Jika hipotik dan hak milik berada di satu
tangan, maka hipotik dengan sendirinya batal).
Menganut asas spesialitas
Hipotik dapat beralih atau dipindahkan.

Lanjutan
Hipotik bersifat Individualiteit (pembayaran sebagian
hutang tidak menyebabkan hipotik hapus, Ps. 1209-1210
KUHperd.)
Hipotik bersifat totaliteit (Ps. 1165 KUHPerd.)
Hipotik tidak dapat dipisah-pisahkan (Onsplitsbaarheid,
Ps. 1163 KUHPerd.)
Sifat berjenjang dari hipotik (Ps. 1181 KUHPerd.)
Hipotik harus diumumkan (Asas publisitas, Ps.1179
KUHPerd.))
Hipotik mengikuti bendanya (droit de suite, Ps. 1163
KUHPerd)
Hipotik Bersifat mendahului (Droit de preference, Ps.
1132, 1133, 1134 KUHPerd)
Obyek Hipotik
Benda tetap
Bukan obyek hak tanggungan (hak milik,
HGU, HGB, Hak Pakai Atas tanah
Negara)
Mis : kapal Laut, pesawat terbang
Pihak-pihak dalam Hipotik
Pemberi Hipotik (hypotheekgever)
Penerima Hipotik (hypotheeknemer)
Hapusnya Hipotik
Karena hapusnya perikatan pokok (Lihat
Pasal 1381 KUHPerdata);
Karena pelepasan hipotiknya oleh kreditur;
Karena penetapan hakim.
Lembaga Jaminan di Luar Negeri
1. Pledge or pawn; pand : Lembaga jaminan spt yg kita kenal dg gadai di
Indonesia. Semua tertuju pada benda-benda bergerak;
2. Lien; retentirecht; droit de retention : Lembaga jaminan yg kita kenal dg retensi
ialah hak untuk menguasai bendanya sampai hutang yg bertalian dg benda
tersebut dibayar lunas;
3. Mortage with possession : Semacam hipotik atas benda-benda bergerak dg
menguasai bendanya. Lembaga jaminan ini belum di kenal di Indonesia.
4. Hire Purchase; huurkoop : Lembaga jaminan yg banyak terjadi dalam praktek di
Indonesia, namun sampai kini belum mendapat pengaturan dalam UU. Perjanjian
sewa beli : perjanjian di mana hak milik dari barang tersebut baru beralih kepada
si penyewa beli jika harga dari barang tersebut telah dibayar lunas;
5. Conditional sale : Pembelian bersyarat. Perjanjian jual beli dg syarat bahwa
perpindahan hak atas barang baru terjadi setelah syarat dipenuhi, misalnya : jika
harga telah dibayar lunas.
6. Credit Sale; Koop op Afbetaling : Jual beli dg menyicil (kredit, mengangsur) :
jual beli dimana peralihan hak telah terjadi pada saat penyerahan meskipun harga
belum dibayar lunas.

Hak Tanggungan
Pengertian
Pasal 1 butir 1 UU No. 4 Tahun 1996
Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang
berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak
Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan
pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak
berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan
dengan tanah itu, untuk pelunasan utang tertentu, yang
memberikan kedudukan yang diutamakan kepada
kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.
Obyek Hak tanggungan
UUHT (4/96)
Hak milik (Ps. 4 ayat 1)
Hak Guna Usaha (Ps. 4 ayat 1)
Hak Guna Bangunan (Ps. 4 ayat 1)
Hak Pakai atas tanah negara (Ps. 4 ayat 2)
Tanah beserta bangunan, tanamanan, dan
hasil karya yang telah ada atau akan ada
yang merupakan satu kesatuan dengan
tanah tersebut.
Sfat-sifat Hak Tanggungan
Bersifat acessoir;
Bersifat memaksa;
Dapat beralih atau dipindahkan;
Bersifat Individualiteit;
Bersifat Totaliteit;
Hak Tanggungan Tidak dapat dipisah-pisahkan
(Onsplitbaarheid);
Bersifat Berjenjang;
Asas Publisitas;
Droit de suite;
Droit de Preference;
Hak Tanggungan sebagai Jura In Re Aliena (yang
terbatas)
Hak tanggungan
Syarat Subyektif
1. Kesepakatan;
2. Kecakapan

Syarat Obyektif
1. Hal Tertentu;
2. Sebab yang halal.
Pembebanan Hak Tanggungan
Melalui Akta Pembebanan Hak
Tanggungan :
a. Langsung (Ps. 8 UUHT)
b. secara tidak langsung dengan SKMHT
(Surat Kuasa Memasang Hak
Tanggungan, perhatikan Ps. 15
ayat (1) UUHT).
Pembebanan Hak Tanggungan pd tanah hak
milik :
Ps. 25
Ps. 4
Ps. 44
Pembebanan Hak Tanggungan pd HGU :
Ps. 33
Ps. 4
Pembebanan Hak Tanggungan pd HGB :
Ps. 39
Ps. 4
Ps. 33

Hapusnya Hak Tanggungan
(Ps. 18 UUHT)
a. Hapusnya utang yang dijamin dengan
Hak Tanggungan;
b. Dilepaskannya Hak Tanggungan oleh
pemegang Hak Tanggungan;
c. Pembersihan Hak Tanggungan
berdasarkan penetapan peringkat oleh
Ketua Pengadilan Negeri;
d. Hapusnya hak atas tanah yang dibebani
Hak Tanggungan.
Lahirnya Hak Tanggungan
Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal
dicatatnya akta hak tanggungan pada
buku tanah Hak Tanggungan (pada saat
pendaftaraan hak tanggungan pada buku
tanah hak atas tanah yang dibebankan
dengan hak tanggungan).
Ps. 13 UUHT
SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN
Ps. 14 UUHT
Titel Eksekutorial :
DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA.

Eksekusi Hak Tanggungan
(Pasal 20 UUHT)
1. Melalui pelelangan umum dalam rangka melaksanakan
titel eksekutorial yang terdapat dalam sertifikat Hak
Tanggungan;
2. Penjualan di bawah tangan :
Syarat :
a. disepakati para pihak;
b. Diperoleh harga tertinggi yang
menguntungkan kedua belah pihak;
c. telah diberitahukan kepada pihak2 berkepentingan
oleh pemberi dan atau pemegang Hak Tanggungan
minimal 1 bulan sebelumnya.
d. diumumkan sedikitnya 2 kali dalam harian daerah;
e. tidak ada yang berkeberatan;


Pasal 20 ayat (3)
Setiap janji untuk melaksanakan
eksekusi Hak Tanggungan
dengan cara yang bertentangan
dengan ketentuan pada ayat (1),
ayat (2) dan ayat (3), batal demi
hukum.
Dapatkah debitur menghentikan proses lelang dan
berkehendak memenuhi perikatannya ?
Pasal 20 ayat (4) UUHT :
Sampai saat pengumuman untuk lelang
dikeluarkan, penjualan sebagaimana
dimaksud ayat (1) dapat dihindarkan
dengan pelunasan utang yang dijamin
dengan Hak Tanggungan itu beserta
biaya-biaya eksekusi yang telah
dikeluarkan.
Roya/Pencoretan
Pencoretan pendaftaran Hak Tanggungan
adalah perbuatan perdata yang mengikuti hapusnya hak
tanggungan.
Diatur dalam Pasal 18 jo 22 UUHT
Pencoretan dapat dilakukan oleh debitur sendiri (ps 22),
dengan atau tanpa pengembalian sertifikat hak
tanggungan dan dicatat dalam buku tanah Hak
Tanggungan
Sertifikat diberi catatan atau disertai keterangan tertulis
dari kreditur tentang hapusnya hak tanggungan (krn
hutang pokok lunas atau ada pembebasan dari kreditur.
HAK JAMINAN ATAS
RESI GUDANG
UU No. 9 Tahun 2006
Resi gudang adalah dokumen bukti kepemilikan
atas barang yang disimpan di Gudang yang
diterbitkan oleh Pengelola Gudang (Pasal 1 poin
ke 2);
Hak Jaminan Atas Resi Gudang adalah hak
jaminan yang dibebankan pada resi gudang
untuk pelunasan utang, yang memberikan
kedudukan untuk diutamakan bagi penerima hak
jaminan terhadap kreditur yang lain.

Lembaga Terkait
1. Pengelola Gudang adalah pihak yang melakukan
usaha pergudangan, baik gudang milik sendiri maupun
milik orang lain, yang melakukan penyimpanan,
pemeliharaan, dan pengawasan barang yang disimpan
oleh pemilik barang serta berhak menerbitkan resi
gudang.
2. Badan Pengawas Sistem Resi Gudang adalah unit
organisasi di bawah Menteri (perdagangan) yang diberi
wewenang untuk melakukan pembinaan, pengaturan,
dan pengawasan pelaksanaan Sistem Resi Gugang.
3. Pusat Registrasi Resi Gudang adalah badan usaha
berbadan hukum yang mendapat persetujuan Badan
Pengawas untuk melakukan penatausahaan Resi
Gudang dan derivatif Resi Gudang yang meliputi
pencatatan, penyimpanan, pemindhbukuan kepemilikan,
pembebanan hak jaminan, pelaporan, serta penyediaan
sistem dan jaringan informasi
RESI GUDANG
Resi Gudang merupakan surat berharga (bukti kepemilikan atas
suatu barang yg disimpan dalam suatu gudang);
Resi gudang hanya dapat diterbitkan oleh Pengelola Gudang yang
telah memperoleh persetujuan Badan Pengawas;
Resi gudang dapat diterbitkan dalam bentuk warkat atau tanpa
warkat;
Resi gudang terdiri atas Resi Gudang atas nama dan resi gudang
atas perintah;
Resi gudang dapat dialihkan, dijaminkan utang atau digunakan
sebagai dokumen penyerahan barang;
Resi gudang dapat dijadikan jaminan utang tanpa disyaratkan
adanya agunan lain.
Pembuatan resi gudang dengan akta perjanjian hak jaminan.
Yg harus ada dalam resi gudang :
Judul Resi Gudang;
Jenis resi gudang;
Nama dan alamat pemilik barang;
Lokasi gudang tempat penyimpanan;
Tanggal penerbitan;
Nomor penerbitan;
Waktu jatuh tempo;
Deskripsi barang;
Biaya penyimpanan;
Tanda tangan pemilik barang dan pengelola gudang;
Nilai barang

Penerbitan Resi Gudang
Setiap pemilik barang yang menyimpan barang di
gudang berhak memperoleh resi gudang;
Pengelola gudang menerbitkan resi gudang untuk setiap
penyimpanan barang setelah pemilik barang
menyerahkan barangnya.
Dalam hal resi gudang rusak atau hilang, maka
pengelola gudang wajib menerbitkan resi gudang
pengganti atas permintaan pemegang resi gudang.
Resi gudang yang hilang atau rusak dinyatakan tidak
berlaku setelah diterbitkan resi gudang pengganti;
Resi gudang pengganti mempunyai kekuatan hukum
yang sama dengan Resi Gudang yang diganti
Pengalihan Resi Gudang
Pengalihan resi gudang atas nama dilakukan dengan
akta otentik;
Pengalihan resi gudang atas perintah dilakukan dengan
endosemen yang disertai penyerahan resi gudang;
Pihak yang mengalihkan resi gudang wajib melaporkan
kepada pusat registrasi;
Peralihan resi gudang dapat terjadi karena : pewarisan,
hibah, jual beli dan atau sebab-sebab lain yang
dibenarkan UU, termasuk pemilikan barang karena
pembubaran badan usaha yang semula merupakan
pemegang resi gudang.
Setiap resi gudang hanya dapat dibebani satu jaminan
hutang.

Hapusnya Jaminan Resi Gudang
Hapusnya hutang pokok yang dijamin
dengan Hak Jaminan Resi Gudang;
Pelepasan hak Jaminan oleh penerima
Jaminan resi gudang
Pelaksanaan Perjanjian Kredit Modal Kerja dengan resi
gudang sebagai jaminan :
Konsep collateral managemen agreement
(warehouse receipt financing)
Pembiayaan kredit modal kerja yang diberikan
kepada debitur berdasarkan nilai barang debitur
yang ada di gudang.
Warehouse receipt financing merupakan
perjanjian tripartit antara kreditur, debitur dan
pengelola gudang.
Perjanjian kredit modal kerja (induk); perjanjian
jaminan fiducia (ikutan); perjanjian managemen
agunan antara pihak bank, debitur dan
pengelola gudang.

Konsep perjanjian kredit modal kerja
dengan hak jaminan atas resi gudang
yang sudah sesuai dengan UU No. 9
Tahun 2006.
Pembiayaan kredit/kredit dengan resi
gudang yang dijaminkan atau diserahkan.
Ada dua perjanjian : Perjanjian pemberian
kredit (pokok) dan perjanjian jaminan
sebagai assessoir.
Lembaga
Jaminan Perorangan
Ada 2 hal yang dapat dijadikan obyek jaminan
yaitu :
1. Berwujud benda, ini akan melahirkan jaminan
kebendaan;
2. Berwujud kesanggupan seseorang untuk
berprestasi, ini akan melahirkan jaminan
perorangan.

Lembaga jaminan perorangan melahirkan apa
yang dinamakan perjanjian penanggungan
(Borgtocht/guarantee)
1. Dahulu : penanggungan karena hub.
kekeluargaan & persahabatan;
2. Sekarang : lebih didasarkan pada
kepentingan ekonomi dan bisnis.
Siapa yang dapat melakukan
penanggungan ?
1. Orang per orang (Jaminan kredit, kredit
garansi, jaminan orang, personal quaranty)
2. Bank (Bank garansi : jaminan
penawaran/tender garansi, jaminan
pelaksanaan/performance bond, jaminan
pemeliharaan)
3. Perusahaan (corporate quaranty)
4. Lembaga tertentu (mis : Lembaga
Jaminan Kredit Koperasi,
5. Pemerintah ( Staatsgaransi)
Jaminan Orang
(kredit garansi; jaminan kredit; penanggungan;
borgtocht; personal guaranty)
Pasal 1820 KUHPerdata
Penanggungan adalah suatu perjanjian
dengan mana seorang pihak ke tiga, guna
kepentingan si berpiutang, mengikatkan
diri untuk memenuhi perikatan perikatan si
berhutang manakala orang ini sendiri tidak
memenuhinya.
Beberapa hal ttg jaminan kredit
(Penanggungan)
Bersifat accesoir (Ps. 1821);
Tidak boleh lebih dari perikatan pokoknya (Ps.
1822);
Boleh untuk sebagian utang pokok (Ps. 1822);
Dapat dilakukan tanpa sepengetahuan maupun
dengan persetujuan debitur atas permintaan
kreditur (1823);
Perikatan pokok &akibat hutang termasuk biaya-
biaya gugatan thd terutang utama (Ps. 1825);
Penanggungan tidak dipersangkakan (Ps. 1824)



Akibat penanggungan antara
Kreditur dan Penanggung
Tidak wajib membayar sebelum debitur lalai berusaha
melaksanakan kewajibannya;
Menuntut debitur lalai untuk dilelang sita barang-
barangnya terlebih dahulu;
Kecuali dalam hal :
1. Penanggung melepaskan hak istimewanya;
2. Mengikatkan diri bersama-sama dengan si berutang
utama secara tanggun menanggung;
3. Si berutang mengajukan tangkisan hanya mengenai
dirinya secara pribadi;
4. Si berutang berada dalam keadaan pailit;
5. Apabila penanggungan tsb diperintahkan oleh hakim.
Bagaimana jika penanggung
hutang lebih dari 1 orang ?
Pasal 1836 KUHPerdata
Jika beberapa orang telah mengikatkan diri sebagai
penanggung untuk seorang debitur yg sama lagipula
untuk hutang yang sama, maka masing-masing adalah
terikat untuk seluruh hutang.
Ada hak minta dipecahnya utang
(Jika para penanggung tidak melepaskan hak istimewa
tsb diatas) pd pertama kali ia digugat dimuka hakim, dpt
menuntut supaya kreditur lebih dahulu membagi
piutangnya dan menguranginya sampai sebesar bagian
masing-masing penanggung yg terikat secara sah.


Akibat Penanggungan antara Debitur,
penanggung (1839-1840)
Penanggung (yg telah membayar) dpt menuntut kembali
dari debitur utama;
Hal tsb diatas berlaku bg penanggungan yg diadakan
dengan atau tanpa sepengetahuan debitur;
Penuntutan dapat berupa utang pokok beserta bunga
dan biaya-biaya.
Penanggung mempunyai hak menuntut penggantian
biaya, rugi dan bunga jika ada alasan untuk itu.
Penanggung (yg telah membayar) demi hukum
menggantikan segala kedudukan (hak) si perpiutang thd
si berutang (subrogasi)
Bagaimana halnya dengan seorang penanggung yg menanggung
hutang dari beberapa debitur utama yg bersama-sama memikul suatu
hutang (tanggung renteng) ?
Penanggung yg mengajukan dirinya
sebagai penanggung mereka untuk
mereka semuanya dapat menuntut
kembali apa yg telah dibayarkan, dari
masing-masing orang berutang tersebut
(1841). Ia dapat menuntut masing-masing
debitur tsb membayar seluruh jumlah yg
telah dibayarkan.
Pembayaran untuk yg kedua
kalinya ?
Penanggung yg telah membayar hutang tanpa
adanya pemberitahuan kepada debitur tidak
dapat menuntut pengembalian dari debitur atas
apa yg telah dibayarkannya kepada si
berpiutang seandainya debitur sendiri telah
melakukan pembayaran tersebut untuk kedua
kalinya.
Dalam hal tsb diatas penanggung berhak
menuntut pengembalian dari si berpiutang .
Hapusnya Penanggungan
Perjanjian penanggungan hapus karena sebab-
sebab yg sama dengan perikatan-perikatan yg
lain.
Pasal 1381 (pembayaran, pembayaran tunai
diikuti dengan penitipan, pembaharuan hutang,
perjumpaan hutang/kompensasi, percampuran
hutang, pembebasan hutang, musnahnya
barang yg terutang, kebatalan atau pembatalan,
berlakunya suatu syarat batal, daluwarsa)
Bagaiamana jika terjadi percampuran hutang pada
diri debitur dan penanggung utama ?
(Ps. 1846 KUHPerd)
Percampuran yg terjadi pada diri debitur &
penanggung hutang tidak menghilangkan
tuntutan seorang berpiutang terhadap
seorang sub penanggung.
Perikatan Tanggung Menanggung
Tanggung renteng pasif, di mana dalam
perutangan tersebut terdapat beberapa
orang debitur yg wajib berprestasi. Ini
yang menimbulkan jaminan bagi kreditur.
Mengapa ?
Tanggung renteng aktiv, di mana dalam
perutangan tersebut terdapat beberapa
kreditur yang berhak atas prestasi.
Bank Garansi
Bank garansi adalah suatu jenis penanggungan
dimana yg bertindak sebagai penanggung adalah
bank.
Berdasarkan UU Perbankan, bank Umum dapat
memberikan bank garansi. Bagaimana dengan bank
yang lain ?
Lazim digunakan dalam perjanjian pemborongan
bangunan seperti : jaminan penawaran/tender garansi,
jaminan pelaksanaan/performance bond, jaminan
pemeliharaan. Juga pada pemberian kredit untuk
pemeblian brg-brg dari luar negeri (import) yg dibayar
secara mengangsur (mesin pabrik, mobil dll)

Jaminan Penawaran
(Tender Garansi)
Bentuk perjanjian penanggungan di mana bank
menjamin pembayaran sejumlah uang tertentu untuk
memenuhi syarat penawaran di dalam pelelangan
pemborongan pekerjaan.
1% sampai 3% dari harga perkiraan yg akan
dilelangkan/harga penawaran (Kepres 14A th. 1979).
Pekerjaan yg dananya bersumber dari APBN,
penanggungnya dpt diberikan oleh : Bank pemerintah,
BPD, Bank Swasta Nasional dan Lembaga Keuangan
non Bank yaitu Perum AK Jasa Raharja dalam bentuk
Surety Bond (Keppres 14A 1980)
Hal-hal dlm Tender Garansi
Bank sbg penanggung baru bersedia memberikan jaminan
penawaran jika : pemborong telah menyetorkan sejumlah uang
tertentu kpd bank atau meminjam kredit pada bank sesuai jmlh yg
harus dibayar atau pemborong telah punya rekrening dalam jumlah
jaminan penawaran tsb sehingga bank tinggal memblokir).
Jika pemborong kalah, jaminan akan dikembalikan;
Jika menang tetapi tidak mengundurkan diri maka jaminan tsb
menjadi milik negara;
Jaminan penawaran akan dikembalikan jika pemborong elah
menandatangani kontrak dan membayar jaminan pelaksanaan
Fungsi jaminan penawaran adalah menjamin pemborong terikat
dalam penawarannya dan jika menang dalam pelelangan terikat
untuk melaksanakan pekerjaan yg telah ditawar