Anda di halaman 1dari 7

LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

LEMBAR KERJA MAHASISWA


(LKM)
PRAKTIKUM DASAR-DASAR GENETIKA
Laboratorium Genetika dan Pembenihan Ikan
Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Tanggal : Senin, 19 Mei 2014

Nama : Carissa Paresky Arisagy
NIM/Prodi : 12981 / Manajemen Sumberdaya Perikanan
Asisten : Bagash Prawira Kurniadi
Aprilia Ratri Kumalasari

A. ACARA
Preparasi Kromosom

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui sedang memasuki fase apa pembelahan sel pada sampel ikan
2. Untuk mengetahui cara kerja preparasi kromosom

C. TINJAUAN PUSTAKA
Kromosom adalah badan mikroskopis dalam inti sel yang merupakan struktur sel paling
penting yang bertugas untuk menurunkan sifat kepada keturunan (Kirpichnikov, 1981).
Kromsom yang terletak di dalam intisel tersebut merupakan struktur yang tersusun dari gen
(Tave, 1986). Gen-gen tersebut menempati posisi tertentu (lokus) dalam kromosom dan
mengandung kode sifat biologis untuk memproduksi fenotipe.
Analisa kromosom dapat digunakan untuk menentukan tingkat ploidi (diploid, triploid,
dan sebagainya) dan karakteristik suatu spesies yang dikenal dengan teknik karyotip.
Pengamatan ukuran serta jumlah kromosom dapat dilakukan dengan pembuatan preparat
kromosom agar dapat memperoleh hasil yang akurat. Pembuatan preparat kromosom dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik jaringan padat maupun dengan teknik kultur
darah (Carman, 1992). Perlakuan yang berkaitan dengan pembuatan preparat kromosom
meliputi penghentian pembelahan sel (mitotic inhibitor), perlakuan hipotonik, fiksasi,
pewarnaan dan penutupan preparat (Denton, 1973).
Mitosis merupakan proses terjadinya distribusi kromosom kromosom secara sama rata
pada dua sel baru yang terbentuk dari sel induk yang menghasilkan pembelahan (Fried, 2006).
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

Empat tahapan mitosis yaitu : profase, metafase, anafase, telofase. Mitosis terjadi di dalam sel
somatic yang bersifat meristematik, yaitu sel-sel yang hidup terutama sel-sel yang tumbuh.

D. ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Secting set
2. Cawan petri
3. Pipet tetes
4. Object glass
5. Mikroskop
6. Sentrifuge


Bahan :
1. Sampel Jaringan ikan (insang)
2. Aquadest
3. NaCl 0.5%
4. Kolkhisin 0.01%
5. KCl 0.36%
6. Camoy (3 Methanol : 1 Asam asetat
glacial)
7. Giemsa 20%
8. Kertas label dan tisu

E. CARA KERJA
Jaringan insang +- 2 lembar lamella

Direndam NaCl 0.05% hingga tergenang (15)

Direndam Kolkhisin 0.01% (5)

Direndam KCl 0.36% sambil dicacah (30)

Dipindah ke mikrotube, disentrifuge 800 rpm (5)

Supernatan diganti dengan larutan Carnoy, disentrifuge 800 rpm (5) 3x

Suspensi diambil, oleskan pada object glass

Digenangi dengan cat Giemsa 20%, keringanginkan

Dicuci dengan aquaest

Diamati


LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

F. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pembelahan Sel Jaringan Insang Ikan
Kelompok Sampel 1 Sampel 2
1 Interfase Profase
2 Metafase Metafase
3 Profase Profase
4 Metafase Interfase
5 Profase Metafase
6 Interfase Telofase

Pada praktikum dasar-dasar genetika acara preparasi kromosom ini dilakukan
pengamatan terhadap tahap-tahap pembelahan sel melalui pengamatan mikroskopis.
Pengamatan tersebut dilakukan dengan pembuatan preparat kromosom. Untuk membuat
preparat, dapat menggunakan insang, sirip, ginjal maupun gonad sebagai sumber jaringan.
Akan tetapi menurut Carman (1992), diantara jaringan-jaringan tersebut yang memberikan
hasil terbaik adalah insang sebab jaringan insang merupakan jaringan yang paling sering
melakukan pembelahan sel. Oleh karena itulah dalam praktikum ini pembuatan preparat
kromosom dilakukan dengan menggunakan insang ikan Nila (Oreochromis niloticus).
Pada prinsipnya praktikum preparasi kromosom ini dilakukan dengan menghentikan
pembelahan sel pada insang ikan untuk melihat fase pembelahan sel yang sedang dilalui,
apakah interfase, profase, metafase, anafase, atau telofase. Tahap pertama yang dilakukan
untuk membuat preparat kromosom adalah membunuh ikan dan membuka bagian operkulum
untuk mengambil insangnya dengan menggunakan scalpel dan gunting bedah. Bagian lunak
insang diambil, sementara bagian kerasnya dibuang. Bagian lunak insang tersebut, kemudian
direndam di dalam NaCl 0.5% selama 15 menit. Dalam hal ini, NaCl berfungsi sebagai
desinfektan untuk membunuh bakteri-bakteri dan mikrooganisme lain dalam insang yang dapat
mengganggu pengamatan sel. Setelah direndam selama 15 menit, kemudian larutan NaCl
diambil dengan menggunakan tisu. Langkah selanjutnya adalah merendam insang dalam
larutan Kolkhisin 0.01% selama 5 menit untuk memutus benang Spindel dan menghentikan
pembelahan sel. Larutan Kolkhisin tersebut diambil dengan menggunakan tisu. Setelah itu,
potongan jaringan tersebut direndam lagi dalam larutan hipotonis, KCl 0.36% selama 30 menit
pada suhu ruang dengan tujuan menggelembungkan ukuran sel sehingga kromosom memiliki
ruang yang lebih luas untuk diamati. Perendaman dengan larutan hipotonis tersebut dibarengi
dengan pencacahan jaringan. Pencacahan dilakukan agar sel tidak bertumpuk-tumpuk dan
dapat dilihat dengan jelas, sehingga bisa lebih mudah diamati. Setelah itu, jaringan yang telah
dicacah dan direndam dengan KCl tersebut dimasukkan ke dalam microtube dan disentrifuge
dengan kecepatan 800 rpm selama 5 menit, untuk memisahkan KCl dengan jaringan
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

berdasarkan massa jenisnya. Setelah terpisah, supernatan diambil dan diganti dengan larutan
carnoy (campuran alkohol 100% dengan asam asetat glasial dengan perbandingan 3 : 1) dan
disentrifuge selama 5 menit. Perlakuan tersebut dilakukan sebanyak 3 kali berturut-turut
dengan mengganti larutan carnoy. Larutan Carnoy berfungsi sebagai larutan fiksatif untuk
menjaga keutuhan kromosom serta mengoptimalkan fungsi kolkhisin. Jaringan yang telah
difiksasi diambil dengan menggunakan pinset, kemudian diletakkan di atas gelas objek dan
diwarnai dengan giemsa 20% agar kromosom menjadi jelas terlihat, sehingga mudah diamati
dengan menggunakan mikroskop cahaya. Setelah itu, preparat dikeringanginkan, dicuci dengan
aquadest dan terakhir diamati dibawah mikroskop.
Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan empat fase pembelahan sel yang sedang
terjadi pada insang beberapa ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diamati, yaitu interfase,
profase, metaphase dan telofase. Pada kelompok 1 diperoleh fase interfase pada insang ikan
pertama dan fase profase pada insang ikan kedua. Pada kelompok 2 diperoleh fase metafase
pada insang ikan pertama dan kedua. Pada kelompok 3 diperoleh fase profase pada insang ikan
pertama dan kedua. Pada kelompok 4 diperoleh fase metafase pada insang ikan pertama dan
fase interfase pada insang ikan kedua. Pada kelompok 5 diperoleh fase profase pada insang
ikan pertama dan fase metafase pada insang ikan kedua. Kemudian pada kelompok 5 diperoleh
fase interfase pada insang ikan pertama dan fase telofase pada insang ikan kedua.
Berdasarkan gambar hasil praktikum
pada interfase, kromosom tidak dapat terlihat
karena benang-benang masih berbentuk
benang-benang yang halus dan tidak berpilin.
Akan tetapi, selama fase interfase ini aktivitas
metabolik seluler sangat tinggi, dimana
kromosom dan organel mengalami duplikasi,
dan ukuran sel meningkat. Suryo (1997)
menyatakan bahwa interfase merupakan fase
pertama dari mitosis, yang memiliki ciri-ciri
DNA telah berlipat dua dan tiap kromosom
membelah memanjang menjadi dua bagian yang sama masing masing masih terikat oleh
sebuah sentromer bersamaan. Belahan kromosom ini disebut kromatid. Pada tahap ini, sel
belum melakukan pembelahan namun sel tersebut sudah siap membelah. Fase Interfase
mencakup 3 tahapan yaitu G1, S, dan G2 (Yatim, 1996). Dimana pada tahap G1 sel anakan
tumbuh menjadi dewasa, kemudian pada tahap S terjadi replikasi dan transkripsi DNA,
sementara pada tahap G2 sel sedang mempersiapkan diri untuk membelah.
Gambar 1. Fase Interfase
Gambar 1. Fase Interfase
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

Profase merupakan tahapan
pembelahan pertama. Pada permulaan
profase, di dalam nukleus mulai terbentuk
kromosom, yaitu benang-benang rapat dan
padat yang terbentuk akibat menggulungnya
kromatin. Pada fase ini, kromosom dapat
dilihat menggunakan mikroskop. Pada
permulaan fase ini, kromosom menjadi lebih
pendek dan tebal. Dapat dilihat pada gambar
2. tersebut tampak adanya benang-benang
gelendong, meskipun tidak terlalu jelas
terlihat. Akan tetapi, membran nukleus pada
sel tersebut tidak tampak. Hal tersebut dikarenakan nukleolus mulai melebur dan kromatin
(gabungan hasil replikasi DNA dengan protein) terkondensasi menjadi kromosom. Yang terjadi
pada profase ini adalah benang kromatin menjadi kromosom, lalu kromosom mengganda
menjadi dua kromatid tetapi masih melekat dalam satu sentromer, membran inti dan nukleolus
lenyap, sentrosom memisah menjadi dua sentriole, dan diantaranya terbentang benang spindle.
Benang-benang kromatin makin menjadi pendek sehingga menjadi tebal dan terbentuklah
kromosom-kromosom. Tiap kromosom lalu membelah dan memanjang dan anakan kromosom
ini dinamakan kromatid. Kemudian, membran inti mulai menghilang (Kusnadi dkk., 2010).
Metafase dicirikan oleh barisan
kromosom yang amat rapi sepanjang bidang
equatorial (Fried, 2006). Pada mikroskop
tahapan metafase ditandai dengan adanya sel
yang pada bagian tengahnya transparan dan
terdapat penebalan setelah bagian transparan
tersebut. Benang-benang spindel pun sedikit
terlihat. Pada fase ini kromosom tampak
paling jelas terlihat sehingga lebih mudah
diidentifikasi. Metafase adalah tahap yang
memerlukan energi terkecil dan waktu yang
paling singkat (Kusnadi dkk., 2010).
Gambar 2. Fase Profase
Gambar 3. Fase Metafase
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

Pada tahap telofase ini, tampak inti sel anakan terbentuk
kembali dari fragmen-fragmen nukleus. Dinding inti terbentuk
lagi. Pada fase ini sel telah terbagi menjadi dua sel anakan yang
masing- masing memiliki inti yang mengandung 4 kromosom
dengan bahan genetik yang sama dengan induknya (Suryo,
1997). Pada telofase, benang-benang gelendong mulai hilang,
selaput inti dan nukleolus terbentuk kembali.
Pembelahan yang terus berlangsung pada jaringan
insang ini terjadi pada sel somatis (sel tubuh). Kromosom dapat
diamati pada sel jaringan yang kecepatan pembelahan selnya
tinggi, seperti pada ginjal, embrio dan insang pada ikan. Ukuran
kromosom dapat sama atau berbeda, ada yang relatif besar dan
dapat diukur dan ada yang relatif kecil. Menurut Black dan
Pickering (1998), spesies ikan pada umumnya memiliki ukuran
kromosom yang kecil, sehingga sulit mengamati morfologinya.
Pada hewan dan tanaman tingkat tinggi, satu siklus sel membutuhkan waktu antara 18 -
24 jam. Sel aktif membelah pada pagi hari. Siklus pembelahan sel terdiri atas: (1) periode pra-
sintesa DNA (Gl) 10 jam, (2) periode sintesa DNA (S) 9 jam, (3) periode pasca-sintesa
DNA (G2) 4 jam, dan (4) periode mitosis (M) + 1 jam. Mitosis sendiri terbagi menjadi
beberapa phase yaitu: (1) Prophase, (2) Metaphase, (3) Anaphase, dan (4) Telophase.


G. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Preparasi Kromosom dilakukan dengan menggunakan metode Levan. Tahapan yang dilakuakan
dalm pembuatan preparat kromosom tersebut adalah dengan melakukan penghentian
pembelahan sel (mitotic inhibitor), perlakuan hipotonik, fiksasi, pewarnaan dan penutupan
preparat. Dari 12 sampel ikan yang diamati, ditemukan empat fase pembelahan sel, yaitu
interfase, profase, metafase, dan anafase.

Saran
Sebaiknya pada praktikum selanjutnya tidah hanya bagian insang saja yang diamati
pembelahan selnya, namun juga menggunakan sampel organ tubuh lain misalnya ginjal agar
dapat membandingkan sampel organ lain.

Gambar 4. Fase Telofase
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2012

H. DAFTAR PUSTAKA
Black, K. D. dan Pickering. 1998. Biology of Farmed Fished. Sheffield Academic Press.USA.
Carman, O. 1992. Chromosome Set Manipulation in Some Warm-Water Fish. Doctoral Thesis.
Tokyo University of Fisheries. Tokyo.
Denton, T. E. 1973. Fish Chromosome Methodology. Charles C Thomas Publisher Springfield.
USA.
Fried, George. H. 2006. Schaums out Lines Biologi. Erlangga. Jakarta
Kirpichnikov, V.S. 1981. Genetic Bases of Fish Selection. Springer-Verlag Berlin Heidenberg.
New York.
Kusnadi, dkk. 2010. Buku Saku Biologi SMA. PT Kawan Pustaka. Jakarta
Suryo. 1997. Genetika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Tave, D. 1986. Genetics for Fish Hatchery Managers. The Avi Publishing Company Inc. USA.
Yatim, W. 1996. Biologi Umum. Tarsito. Bandung.





No Blog, No Wikipedia