Anda di halaman 1dari 17

P a g e | 1

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

LAPORAN PENDAHULUAN

I. KONSEP MEDIS
A. Defenisi
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan
oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley &
Wongs,1995).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada lapisan membran gastrointestinal
disebabkan oleh berbagai varian entero pathogen yang luas yaitu bacteria, virus
dan parasit. Manifestasi klinis utama yautu diare dan muntah yang menentukan
jenis terapi (Smeltzer, 2002).
Gastroenteritis yang juga disebut sebagai diare pelancong dan keracunan
makanan merupakan gangguan yang bersifat self-lemiting (bisa sembuh tanpa
banyak intervensi) dan ditandai dengan diare, mual, muntah dan krama abdominal
(Williams. L , 2008).
B. Etiologi
Menurut williams (2008), penyebab dari gastroenteritis akut yaitu:
1. Amoeba: terutama Entamoeba histolystica
2. Bakteri : menyebabkan keracunan makanan akut yaitu: staphylococcus
aureus, Salmonella Shigela, Clostridium botulinum, Escherichia coli,
Clostridium perfringens
3. Reaksi obat: antibiotik
4. Defesiensi enzim
5. Alergen makanan
6. Tercernanya toksin: tumbuhan atau jamur payung (cendawan)
7. Parasit : Ascaris, Enterobius, Trichinella spiralis
8. Virus : adenovirus, echovirus, norovirus, atau coxsackievirus.
P a g e | 2

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

C. Manifestasi Klinis
Menurut Williams (2008), manifestasi klinis dari gatroenteritis yaitu:
1. Ketidaknyamanan di abdomen (berkisar dari kram sampai nyeri)
2. Diare
3. Mual dan muntah
4. Hipermotilitas usus
5. Borborigmus
6. Demam
7. Tidak enak badan
8. Turgor kulit menurun
9. Nadi meningkat
10. Keringat dingin
11. Muka pucat
D. Patofisiologi
Diare akibat infeksi terutama ditularkan secara fekal oral. Hal ini disebabkan
masuknya minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan
ekskresi yang buruk, makanan yang tidak matang, bahkan yang disajikan tanpa
dimasak. Penularannya adalah transmisis orang ke orang melalui aerosolisasi
(Norwalk, Rotavirus), tangan yang terkontaminasi (Clostridium difficile), atau
melalui aktifitas seksual. Faktor penentu terjadinyan diare akut adalah faktor
penyebab (agen) dan faktor pejamu (host). Faktor pejamu adalah kemampuan
pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme, yaitu faktor daya tahan tubuh atau
lingkungan lumen saluran cerna, seperti keasaman lambung, motilitas lambung,
imunitas, juga mencakup lingkungan mikroflora usus. Faktor penyebab yang
mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi yang merusak sel mukosa,
kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus, serta
P a g e | 3

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

daya lekat kuman. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat
menginduksi diare (Smeltzer, 2002).
1. Bakteri noninvansif (enterotoksigenik)
Toksin yang diproduksi bakteri akan terikat pada mukosa usus halus, namun
tidak merusak mukosa. Toksin menigkatkan kadar siklik AMP di dalam sel,
menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti
air, ion karbonat, kation, natrium dan kalium. Bakteri ynag termasuk
golongan ini adalah V. Cholera, Enterotoksigenik E. Coli (ETEC), C.
Perfringers, S. Aureus, dan Vibriononglutinabel (Smeltzer, 2002).
2. Bakteri enteroinvansifi
Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi dan
bersifat sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah.
Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah Enteroinvansive E. Coli
(EIEC), S. Paratyphi B. S. Typhimurium, S. Enteriditis, S. Choleraesuis,
Shigela, Yersinia dan C. Perfringens tipe C (Smeltzer, 2002).
E. Penatalaksanaan
Menurut John (2004), penatalaksanaan pada gastroenteritis
1. Penggantian cairan intra vena ( IV bolus 500 ml normal salin untuk dewasa,
10- 20 ml ) rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.
2. Pemberian suplemen nutrisi harus diberikan segera pada pasien mual muntah.
3. Pemberian antibiotik jika etiologi telah diketahui yang diberikan pada pasien
dewasa adalah biasanya cifrofloksasin 500 mg.
4. Pemberian metronidazole 250-750 mg selama 5-14 kali.
5. Obat antiemetik yang digunakan pada pasien yang muntah dengan dehidrasi
6. Pemberian Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin) dan Obat spasmolitik
(papaverin, ekstrakbelladone).

P a g e | 4

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

F. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Muttaqin, (2008), pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
ialah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan tinja:
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. pH dan kadar gula dalam tinja
c. uji bakteri bila perlu.
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan
menentukan pH, cadangan alkali, dan GDA.
3. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan fosfat untuk
mengidentifikasi status elektrolit.
G. Komplikasi
Komplikasi diare mencakup potensial terhadap disritmia jantung akibat
hilangnya cairan dan elektrolit secara bermakna (khususnya kehilangan Kalium).
Hipotensi, anoreksia, disritmia jantung, takikardia atrium, fibrilasi atrium
merupakan manifestasi dari kekurangan kalium (Smeltzer, 2002).
H. Derajat Dehidrasi
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:
1. Kehilangan berat badan
a. Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
b. Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
c. Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%





P a g e | 5

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

2. Skor Mavrice King

Bagian tubuh
Yang diperiksa
Nilai untuk gejala yang ditemukan
0 1 2
Keadaan umum

Kekenyalan kulit
Mata
Ubun-ubun besar
Mulut
Denyut nadi/mata
Sehat

Normal
Normal
Normal
Normal
Kuat <120
Gelisah, cengeng
Apatis, ngantuk
Sedikit kurang
Sedikit cekung
Sedikit cekung
Kering
Sedang (120-140)
Mengigau, koma,
atau syok
Sangat kurang
Sangat cekung
Sangat cekung
Kering & sianosis
Lemas >40

Keterangan:
- Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan
- Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang
- Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat
3. Menurut WHO
Yang Dinilai
SKOR
1 2 3
Keadaan umum

Mata
Mulut
Pernapasan
Turgor kulit
Nadi
Baik

Biasa
Biasa
<30 x/menit
Baik
<120x/menit
Lesu/ haus

Cekung
Kering
30-40x/ menit
Kurang
120-140x/menit
Gelisah, lemas,
ngantuk hingga syok

Sangat cekung
Sangat kering
>40x/menit
Jelek
>140x/menit
( Derajat Dehidrasi WHO modifikasi FK Unhas)
Keterangan :
- 6 : tanpa dehidrasi
- 7-12 : dehidrasi ringan- sedang
- >13 : dehidrasi berat
P a g e | 6

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

II. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Menurut Muttaqin, (2008) anamnesa pada GEA meliputi identitas klien,
keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, dan pengkajian psikososial.
1. Identitas Klien: Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
MRS, nomor register, dan diagnosis medis.
2. Keluhan utama: BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi encer.
3. Riwayat penyakit sekarang: BAB warna kuning kehijauan, hitam, bercampur
lendir, dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3
kali sehari.
4. Riwayat penyakit dahulu: pernah mengalami diare / gastroenteristis
sebelumnya, pemakaian antibiotik, atau kostikosteroid jangka panjang
(perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit) alergi makanan,
ISPA, ISK, OMA.
5. Riwayat penyakit keluarga: apakah ada salah seorang di antara keluarga yang
mengalami diare/ gastroenteritis.
6. Riwayat kesehatan lingkungan: penyimpanan makanan pada suhu kamar,
kurang menjaga kebersihan, lingkungan tempat tinggal kurang bersih.
7. Pemeriksaan Fisik: Setelah melakukan anamnesis yang mengarah pada
keluhan-keluhan klien, pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung
data dari pengkajian anamnesis.
a. Keadaan umum: klien lemah, gelisah, lesu, kesadaran menurun.
b. Mata : cekung
P a g e | 7

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

c. Sistem pencernaan: mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltik
meningkat >35x / menit, nafsu makan menurun, mual, muntah, kelihatan
haus.
d. Sistem pernafasan: pernapasan cepat bisa >40x permenit bila terjadi
asidosis metabolik.
e. Sistem kardiovaskuler: nadi cepat, >120 menit dan lemah, tekanan darah
menurun pada diare sedang.
f. Sistem integumen: warna kulit pucat, turgor menurun > 2 detik, suhu
meningkat >37
o

g. Sistem perkemihan : urine produksi rendah, frekuensi berkurang.
Menurut Doenges (2012) data dasar pengkajian pada pasien NHS yaitu:
1. Aktivitas/ istirahat
Gejala: kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, tidak tidur
semalaman karena diare, merasa gelisah dan ansietas, pembatsana aktivitas/
kerja sehubungan dengan efek proses penyakit.
2. Sirkulasi
Tanda: takikardia (respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi, dan
nyeri)
Kemerahan, area ekimosis ( kekurangan vitamin K)
TD: hipotensi, termasuk postural
Kulit/ membran mukosa: turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi)
3. Integritas ego
Gejala: ansietas, ketakutan, emosi kesal, mis., perasaan tak berdaya/ tak ada
harapan
Faktor stress akut/kronis, mis., hubungan dengan keluarga/ pekerjaan,
pengobatan yang mahal.
Tanda: menolak, perhatian menyempit, depresi.
P a g e | 8

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

4. Eliminasi
Gejala: tekstur feces bervariasi dari bentuk lunak sampai bau atau
berair.episode diare berdarah tidak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering,
tak dapat dikontrol, perasaan kram, defekasi dengan darah/ lendir.
Tanda: bising usus, peristaltik meningkat.
5. Makanan/ cairan
Gejala: Anoreksia, mual/ muntah, penurunan berat badan, tidak tolerir
terhadap diet/ sensitif, mis., buah / sayur, produk susu, makanan berlemak.
Tanda: penurunan lemak subkutan/ massa otot.
Kelemahan, tonus otot dan turgor kulit buruk.
Membran mukosa pucat, inflamasi rongga mulut.
6. Hygiene
Tanda: ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri, bau badan.
7. Nyeri/ kenyamanan
Gejala: nyeri/ nyeri tekan pada kuadran kiri bawah (mungkin hilang dengan
defekasi)
Tanda: nyeri tekan abdomen/ distensi.
8. Kemanan
Gejala: peningkatan suhu tubuh, alergi terhadap makanan/ prodk susu
Tanda: nyeri tekan pada abdomen, kemerahan.
9. Seksualitas
Gejala: frekuensi menurun/ tidak ada keinginan aktivitas seksual.
10. Interaksi sosial
Tanda: masalah hubungan, ketidakmampuan aktif dalam sosial.



P a g e | 9

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

B. Diagnosa
Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul menurut Doengoes
(2012) adalah :
1. Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi, atau malabsorbsi usus, adanya
toksin, atau penyempitan segmental lumen; ditandai dengan : peningkatan
bunyi usus/ peristaltik, defekasi sering dan berair, perubahan warna feces, dan
nyeri abdomen tiba- tiba saat defekasi.
2. Resiko tinggi kekukarangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
banyak melalui rute normal (diare berat, muntah), status hipermetabolik, dan
pemasukan terbatas (mual).
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan
absorbsi nutrien, status hipermetabolik; ditandai dengan penurunan berat
badan, penurunan lemak subkutan/ massa otot: tonus otot buruk, bunyi usus
hiperaktif, konjungtiva dan membran mukosa pucat, menolak untuk makan.
4. Anisetas ringan berhubungan dengan faktor psikologis/ rangsang simpatis
dari proses inflamasi, ancaman konsep diri, perubahan status kesehatan, status
sosio ekonomi, fungsi peran, pola interaksi; ditandai dengan peningkatan
tegangan, distress, ketakutan, menunjukkan masalah tentang perubahan
hidup.
5. Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik, diare lama, iritasi
kulit/jaringan, ekskoriasi fisura, fisura, periektal; fistula ditandai dengan
laporan nyeri abdomen, distraksi, gelisah
6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan stressor yang berat, proses
penyakit yang tidak diduga, nyeri, kurang tidur/ istirahat ditandai dengan
ansietas, putus asa, tegangan emosi, harga diri buruk.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan dibubungkan
dengan kesalahan intrpretasi informasi, tidak mengenal sumber; ditandai
P a g e | 10

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

dengan pertanyaan, pernyataan salah konsep, tidak akurat mengikuti
instruksi.
C. Intervensi
Adapun intervensi keperawatn yang diterapkan pada pasien NHS menurut
Doengoes (2012), yaitu:
1. Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi, atau malabsorbsi usus, adanya
toksin, atau penyempitan segmental lumen; ditandai dengan : peningkatan
bunyi usus/ peristaltik, defekasi sering dan berair, perubahan warna feces, dan
nyeri abdomen tiba- tiba saat defekasi.
Kriteria evaluasi:
a. Melaporkan penurunan frekuensi defekasi, konsistensi kembali normal.
b. Mengidentifikasi/ menghindari faktor pemberat.
Intervensi:
a. Observasi dan catat frekuensi defekasi, karakteristik, dan faktor pencetus.
Rasional: membantu membedakan penyakit dan mengkaji beratnya
episode.
b. Tingkatkan tirah baring, berikan alat- alat di samping tempat tidur.
Rasional: istirahat menurunkan motilitas usus juga menurunkan laju
metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi.
c. Identifikasi makanan dan cairan yang mencetuskan diare, misalnya
sayuran, buah , sereal, bumbu, minuman karbonat, produk susu.
Rasional: menghindarkan iritan, meningkatkan istirahat usus.
d. Mulai lagi pemasukan cairan peroral secara bertahap, tawarkan minuman
jernih tiap jam, hindari minuman dingin.
Rasional: memberikan istirahat kolon dengan menghilangkan dan
menurunkan rangsang makanan/ cairan.

P a g e | 11

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

e. Observasi demam, takikardia, ansietas dan kelesuan.
Rasional: tanda bahwa toksik pada kolon atau perforasi usus telah terjadi
memerlukan penanganan medik segera.
f. Kolaborasi:
Berikan obat sesuai dengan indikasi:
- Antikolinergik
Rasional: menurunkan motilitas/ peristaltik GI dan menurunkan
sekresi digestif untuk menghilangkan kram ketika diare.
- Antibiotik
Rasional: mengobati infeksi supuratif lokal.
2. Resiko tinggi terhadap kekukarangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan banyak melalui rute normal (diare berat, muntah), status
hipermetabolik, dan pemasukan terbatas (mual).
Kriteria hasil:
a. Mempertahankan volume cairan adekuat dibuktikan oleh mebran mukosa
lembab, turgor kulit baik, dan pengisian kapiler baik
b. TTV stabil.
Intervensi:
a. Awasi masukan dan haluaran, karakter feces, perkirakan kehilangan yang
tidak terlihat misalnya berkeringat, ukur BJ urine, observasi oliguria.
Rasional: memberikan informasi tentang keseimbangan cairan, fungsi
ginjal, dan kontrol penyakit usus juga merupakan pedoman untuk
penggantian cairan.
b. Kaji tanda- tanda vital (TD, Nadi, Suhu)
Rasional: hipotensi, takikardi, demam, dapat menunjukkan respons
terhadap efek kehilangan cairan.
P a g e | 12

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

c. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan
turgor kulit, pengisian kapiler lambat.
Rasional: menunjukkan kehilangan cairan berlebihan/ dehidrasi.
d. Timbang berat badan tiap hari
Rasional: penurunan menunjukkan kekurangan nutrisi/ cairan.
e. Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring, hindari kerja.
Rasional: kolon diistirahatkan untuk pnyembuhan dan menurunkan
kehilangan cairan usus.
f. Catat kelemahan otot umum/ disaritmia jantung
Rasional: kehilangan cairan berlebihan dapat menimbulkan
ketidakseimbangan elektrolit, misalnya kalium yang perlu untuk fungsi
tulang dan jantung.
g. Kolaborasi:
- Berikan cairan parnteral
Rasional: mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara adekuat
dan cepat.
- Pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit dan GDA
Rasional: menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi.
- Berikan obat sesuai terapi (anti diare, antipiretik, vit.K)
Rasional: antidiare menurunkan kehilangan cairan dari usus,
antipiretik mengontrol demam, antiemetik mengontrol mual/ muntah,
vitamin K merangsang pembentukan protrombin hepatik.
Menstabilitasi koagulasi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan
absorbsi nutrien, status hipermetabolik; ditandai dengan penurunan berat
badan, penurunan lemak subkutan/ massa otot: tonus otot buruk, bunyi usus
hiperaktif, konjungtiva dan membran mukosa pucat, menolak untuk makan.
P a g e | 13

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Kriteria hasil:
a. Menunjukkan berat badan stabil, atau peningkatan berat badan dengan
nilai laboratorium normal
b. Tidak ada malnutrisi.
Intervensi:
a. Timbang Berat Badan tiap hari.
Rasional: meberikan informasi tentang kebutuhan diet/ keefektifan terapi.
b. Tirah baring/ pembatasan aktivitas selama fase sakit.
Rasional: menurunkan kebutuhan metabolik, mencegah penurunan kalori.
c. Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, flatus.
Rasional: mencegah serangan akut.
d. Catat masukan dan prubahan simptomatologi
Rasional: memberikan kontrol pada pasien dan kesempatan untuk
meningkatkan masukan.
4. Anisetas ringan berhubungan dengan faktor psikologis/ rangsang simpatis
dari proses inflamasi, ancaman konsep diri, perubahan status kesehatan, status
sosio ekonomi, fungsi peran, pola interaksi; ditandai dengan peningkatan
tegangan, distress, ketakutan, menunjukkan masalah tentang perubahan
hidup.
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas.
b. Menyatakan kesadaran perasaan ansietas dan menerimanya.
Intervensi:
a. Catat petunjuk misalnya: gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak
mata.
Rasional: merupakan indikator derajat ansietas/ stress.

P a g e | 14

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

b. Berikan lingkungan nyaman untuk istirahat.
Rasional: meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas.
c. Kolaborasi:
- Berikan obat (sedatif) sesuai indikasi
Rasional: dapat menurunkan ansietas dan memudahkan istirahat.
- Rujuk pada perawat spesialis pskiatrik
Rasional: membantu menurunkan tingkat ansietas.
5. Defisit Nyeri akut berhubungan dengan hiperperistaltik, diare lama, iritasi
kulit/jaringan, ekskoriasi fisura, fisura, periektal; fistula ditandai dengan
laporan nyeri abdomen, distraksi, gelisah.
Kriteria Hasil:
a. Melaporkan nyeri hilang/ terkontrol.
b. Tampak rileks dan mampu tidur/ istirahat dengan tepat.
Intervensi:
a. Dorong pasin untuk melaporkan nyeri.
Rasional: mencoba untuk mentoleransi nyeri dari pada meminta
analgesik.
b. Kaji laporan nyeri, lokasi, lama.
Rasional: perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan
penyebaran penyakit.
c. Berikan tindakan nyaman.
Rasional: meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping.
d. Observasi distensi abdomen, peningkatan suhu tubuh.
Rasional: menunjukkan terjadinya obstruksi usus karena inflamasi,
oedema.
e. Kolaborasi: berikan obat sesuai indikasi (analgesik)
Rasional: mengurangi nyeri.
P a g e | 15

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

6. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan stressor yang berat, proses
penyakit yang tidak diduga, nyeri, kurang tidur/ istirahat ditandai dengan
ansietas, putus asa, tegangan emosi, harga diri buruk.
Kriteria hasil:
a. Mampu meningkatkan koping individu sendiri.
b. Menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk membatasi kejadian
berulang.
Intervensi:
a. Kaji pemahaman pasien dalam menerima proses penyakit.
Rasional: memampukan perawat untuk menerima lebih nyata tentang
masalah saat ini.
b. Tentukan stress luar, misalnya : keluarga, teman, lingkungan kerja /
sosial.
Rasional: stress dapat mengganggu respon saraf dan mendukung
eksaserbasi penyakit.
c. Berikan periode tidur/ istirahat tanpa gangguan.
Rasional: kelelahan karena penyakit bisa dikurangi dengan istirahat.
7. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan dibubungkan
dengan kesalahan intrpretasi informasi, tidak mengenal sumber; ditandai
dengan pertanyaan, pernyataan salah konsep, tidak akurat mengikuti
instruksi.
Kriteria Hasil :
1. Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan
2. Berpartisipasi dalam proses pngobatan
3. Melakukan prubahan pola hidup tertentu.


P a g e | 16

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Intervensi:
a. Kaji persepsi pasien tentang penyakit
Rasional: mengkaji pengetahuan dasar dan mengkaji kesadaran
kebutuhan belajar individu.
b. Kaji ulang proses penyakit, penyebab/ efek hubungan faktor yang
menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor
pendukung.
Rasional: faktor pencetus/ pemberat individu sehingga kebutuhan pasien
untuk waspada terhadap makanan, cairan, dan faktor pola hidup dapat
mencetuskan gejala. Pengetahuan dasar yang akurat memberikan pasien
kesempatan untuk membuat keputusan informasi/kontrol penyakit.
c. Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis dan kemungkinan efek samping
Rasional: meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama
dalam program pengobatan.
d. Tekankan pentingnya perawatan kulit, misalnya teknik cuci tangan yang
baik dan perawatan perineal yang baik.
Rasional: menurunkan penyebaran bakteri dan risiko iritasi kulit/
kerusakan.









P a g e | 17

Hartina 70300111030
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn dkk . 2012 . Rencana Asuhan Keperawatan . Jakarta: E G C
John, O.M . 2004. Emergency Medicine Manual. USA : The Mc.Graw-Hill
Companies.
Muttaqin, Arif. 2008 . Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C . 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth . Jakarta : E G C.
Whaley & Wongs . 1999 . Nursing Care Planning and Children Ed.6. St.Louis: CV.
Mosby.
Williams, Lippicont . 2008 . Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit .
Jakarta: Indeks.
Wilkinson, Judith . 2013 . Diagnosis NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC.
Jakarta: EGC .