Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi pertanian dewasa ini semakin memprihatinkan. Tanah semakin
rusak akibat pemupukan kimiawi/sintetis yang tidak berimbang. Penggunaan
pestisida sintetis yang berlebihan menyebabkan kerusakan ekosistem. Tentu
dibalik kondisi ini masih ada semangat untuk kembali kepada pertanian yang
sehat dan alami. Salah satunya adalah gencarnya penggunaan pestisida nabati dan
agen hayati dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Pengendalian hayati akhir-akhir ini juga banyak mendapat perhatian dunia dan
seringkali dibicarakan di dalam seminar atau kongres, serta ditulis dalam naskah
jurnal atau pustaka khususnya yang berkaitan dengan penyakit tanaman.
Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agens pengendali hayati
muncul karena kekhawatiran masyarakat dunia akibat penggunaan pestisida
kimia sintetis. Adanya kekhawatiran tersebut membuat pengendalian hayati
menjadi salah satu pilihan cara mengendalikan patogen tanaman yang harus
dipertimbangkan.
Agens Hayati adalah setiap organisme yang dapat merusak, mengganggu
kehidupan atau menyebabkan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sakit atau
mati. Agens Hayati dapat berupa predator, parasitoid, patogen dan agens
antagonis. Penggunaan agens hayati dalam budidaya pertanian layak untuk
dikembangkan secara masif mengingat fungsinya yang mengikuti keseimbangan
ekosistem. Bakteri dilaporkan bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah
secara alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu
Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas.
Penggunaan mikroorganisme antagonis sebagai agen pengendalian hayati
juga mampu memberikan harapan baru untuk pengendalian hama pertanian
terutama fungi yang bersifat patogen. Secara alamiah, pada tanah terdapat
mikroorganiasme yang berpotensi untuk menekan perkembangan patogen dalam
tanah karena dpat bersifat antagonis. Sehingga dalam agen hayati ini mampu
memberikan manfaat yang besar dalam bidang sektor pertanian apabila
diterapkan.
2

1.2 Rumusan Masalah
Pertanian adalah cara bagaimana kita bisa hidup. Namun demikian tidak
semua pertanian mampu menghidupi masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut,
mahasiswa sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi sudah seharusnya
mempunyai andil besar dalam hal penyediaan pangan yang sehat atau dalam hal
ini disebut pertanian sehat.
Diantara penyebab rusaknya lahan adalah permasalahan penggunaan bahan
kimia untuk pemberantasan OPT berlebihan yang juga berdampak terhadap
degradasi lahan. Apalagi penggunaan produk kimia juga mempunyai efek
samping yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan pengendali OPT yang lebih
ramah lingkungan dan tidak berbahaya terhadap kesehatan manusia.
1.3 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui penyakit tanaman pangan serta tata cara pengendaliannya secara
hayati
b. Mengetahui penyakit tanaman holtikultura serta tata cara pengendaliannya
secara hayati
c. Mengetahui penyakit tanaman perekebunan serta tata cara pengendaliannya
secara hayati



3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tanaman Pangan
2.1.1 Penyakit Fusarium sp. Pada Tongkol Jagung
Fusarium sp. telah dilaporkan sebanyak 31 spesies dan menyerang
pada berbagai jenis tanaman (Gleen et al., 2001 dalam Pakki, 2005).
Spesies F. verticillioides adalah sinonim dari spesies F. moniliforme,
merupakan spesies dominan yang menginfeksi pada bagian morfologi
jagung antara lain : akar, batang, pelepah, tongkol, dan terutama biji
(Schutless et al., 2002 dalam Pakki, 2005). Di Indonesia (Dharmaputra et
al.,1993 dalam Pakki, 2005), menemukan 6 spesies, salah satu di antaranya
adalah F. moniliforme dan berdasarkan warna koloni (Mardinus, 1989
dalam Pakki, 2005) juga mengidentifikasi bahwa pada biji jagung di
Sumatra Barat terdapat spesies F. moniliforme, sekitar 20,44 %. Data-data
tersebut memberi gambaran bahwa spesies yang banyak menginfeksi
tanaman jagung, terutama biji adalah F. verticillioides. Cendawan
Fusarium sp. pada jagung ditemukan pada akar, kemudian berkembang
pada batang, pelepah, dan tongkol lalu menginvasi pada biji bagian ujung
tongkol. Gejala visual khas pada bagian yang terserang dicirikan dengan
terkadang adanya kumpulan miselia pada bagian permukaan batang,
pelepah dan tongkol, berwarna merah jambu (pink) atau dominan
memperlihatkan warna keputih-putihan, pada batang biasanya dijumpai
bagian yang membusuk. Infeksi dari biji adalah berawal dari ujung tongkol,
selanjutnya menginvasi biji yang terletak pada bagian dalam tongkol
(Munklov and Derjdais, 1997 dalam Pakki, 2005).
Hasil penelitian (Shutless and Cardwile, 1999 dalam Pakki, 2005)
menunjukkan bahwa efek sistemik F. verticilliodes pada batang dan tongkol
pada umumnya adalah hasil kolonisasi serangga dari ordo lepidoptera
(Sesamia calomistis dan Eldana sacarina) dan coleoptera. Pada penelitian
yang dilakukan (Munklov and Derjdais, 1997 dalam Pakki, 2005) bahwa
sebagian biji yang terinfeksi F. verticillioides bersifat endophytic atau tidak
menampakkan gejala (Symptomless), serta dapat ditularkan melalui biji,
gejala akan tampak setelah tanaman tumbuh. Infeksi sistemik fusarium pada
4

tanaman jagung adalah dimulai dari konidia atau miselia yang berasal dari
dalam ataupun bagian permukaan biji kemudian berkembang pada tanaman
muda dari akar ke batang dan terakhir menginfeksi kebagian tongkol dan
biji ( Oren et al, 2003 dalam Pakki, 2005).




Gambar 01. Gejala Fusarium sp. pada tongkol jagung (A), Mikroskopis
Jamur Fusarium sp. (B) (Sumber: Pakki dkk., 2005)
Gejala khas patogen ini adalah terdapat kumpulan miselia pada bagian
permukaan batang atau tongkol dan biji jagung, berwarna keputihan dan
terdapat warna merah jambu. Infeksi pada batang jagung biasanya
menyebabkan pembusukan, invasi ke dalam biji melalui rambut jagung
pada ujung tongkol, selanjutnya menginfeksi biji pada bagian dalam
tongkol, bersifat symptomless atau dapat ditemukan pada biji yang tidak
bergejala, menginfeksi ke bagian internal biji jagung, dan dapat ditularkan
melalui biji.
2.1.2 Biologi penyakit Fusarium sp.
Bentuk morfologi cendawan Fusarium sp. yaitu spora dalam bentuk
konidia dibentuk diujung tangkai konidia atau klamidospora. Konidia ada
yang bersekat satu dan tidak bersekat, sedangkan makrokonidia ada yang
bersekat sampai 10 walaupun ada yang tidak bersekat (Talanca, 2007).




Gambar 02. Beberapa bentuk tangkai konidia dan bentuk konidia cendawan
Fusarium (Sumber: Booth, 1971 dalam Talanca, 2007).
A B
5

2.1.3 Ekologi Penyakit Fusariumsp.
Daerah sebaran Fusarium spp. meliputi daerah dingin dengan suhu 5
o
C
sampai daerah tropik dengan suhu 20
o
C, dan dapat hidup baik pada wilayah
kering dengan curah hujan tahunan < 250 mm sampai daerah basah dengan
curah hujan di atas 1000 mm per tahun. Di Indonesia baru dilaporkan enam
spesies dan satu di antaranya adalah F. moniliforme yang dominan
menginfeksi jagung (Bachri 2001 dalam Pakki, 2005).
Fusarium sp. adalah patogen tular benih yang banyak menginfeksi biji
di areal pertanaman maupun pada tempat penyimpanan hasil panen jagung.
Patogen Fusarium sp. dapat berkembang baik dalam suhu dan kelembaban
yang ideal pada tempat penyimpanan benih jagung. Patogen tersebut dapat
memproduksi senyawa beracun yang disebut mikotoksin. Keadaan iklim
tropis, seperti suhu dan kelembaban yang tinggi, sangat membantu
perkembangan mikroorganisme Fusarium sp. (Pakki, 2005).
2.1.4 Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penyakit
Cendawan Fusarium sp. biasanya melakukan infeksi melalui kutikula
atau lubang alamiah. Cendawan ini berkembang pada suhu 20 - 22
0
C.,
dengan PH netral dengan kandungan N tanah tinggi. Pola sebaran
cendawan Fusarium sp. mulai dari daerah dingin (suhu < 5
0
C) smpai
daerah tropika (suhu diatas 25
0
C), dari daerah kering (curah hujan tahunan
< 250 mm) sampai daerah basah (curah hujan tahunan > 1000 mm).
Cendawan Fusarium sp. dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman
terinfeksi, sedangkan konidianya tidak dapat bertahan lama dalam tanah
tanpa adanya sisa-sisa tanaman inang (Talanca, 2007).
2.1.5 Pengendalian penyakit Fusariumsp.
Penyakit ini dapat dikendalikan secara hayati dengan pemberian
cendawan antagonis Trichoderma sp. satu sampai dua minggu setelah
adanya pathogen Fusarium sp. pada tanaman jagung (Talanca, 2007).

6

2.2 Tanaman Holtikultura
2.2.1 Penyakit Antraknosa pada Buah Avokad
Antraknosa adalah penyakit utama pasca panen yang disebabkan oleh
C. gloeosporioides yang menyerang buah-buahan di daerah tropis dan sub
tropis (Capdeville, 2007), salah satunya adalah buah avokad (Nelson, 2008).
Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman kecuali akar. Bagian yang
terinfeksi berwarna cokelat karat, kemudian daun, bunga, buah atau cabang
tanaman yang terserang akan gugur (Rukmana, 1995).
Colletotrichum sp. adalah penyebab penyakit antraknosa dan
memainkan peranan penting pada ekonomi sub sistem pertanian di seluruh
dunia. Patogen ini menginfeksi sejumlah tanaman mulai dari monokotil
hingga tanaman dikotil. Meskipun infeksi antraknosa dapat terjadi pada
semua stadia tanaman, namun stadia yang harus diwaspadai adalah
terjadinya infeksi pada berbagai macam buah-buahan pasca panen
(Dickman, 1993).
C. gloeosporioides merupakan bentuk anamorf dari Glomerella
cingulata, sedangkan G. cingulata merupakan bentuk teleomorf dari
cendawan patogen ini (CAB Internasional, 2007). Patogen dapat
menginfeksi buah dan batang avokad, mempunyai kisaran inang yang luas,
merupakan patogen parasit fakultatif, mampu hidup sebagai saprofit pada
bagian tanaman yang mati dan sisa-sisa tanaman sakit dan mengkolonisasi
bagian tanaman avokad yang telah mati yang terkumpul di bawah tajuk
tanaman atau berada di permukaan tanah. Cendawan dapat menyebabkan
beberapa masalah selama musim buah (Nelson, 2008).
C. gloeosporioides menyerang avokad yang belum matang di kebun
buah. Spora yang berkecambah membentuk apresorium dan menembus
kutikula tetapi hifa yang telah mencapai subkutikula menjadi quiescent dan
tidak berkembang sampai buah dipanen dan matang. Perubahan fisiologi
yang signifikan terjadi pada buah yang dapat mengaktivasi patogen
quiescent. Terdapat empat dugaan yang dapat menjelaskan mengapa buah
yang belum matang lebih tahan terhadap serangan patogen: (i) kurangnya
nutrisi yang diperlukan oleh patogen, (ii) adanya komponen anti cendawan,
(iii) adanya induksi komponen anti cendawan, dan (iv) kurangnya faktor
yang mengaktivasi patogenesitas cendawan. Ketahanan avokad yang belum
7

matang terhadap serangan C. gloeosporioides berkaitan dengan adanya
komponen anti cendawan 1-acetoxy-2-hydroxy-4-oxoheneicosa-12,15-
diene (diene) pada perikarp buah yang belum matang (Beno Moualem &
Prusky, 2001).
2.2.2 Gejala Penyakit Antraknose pada Buah Avokad
Gejala serangan penyakit antraknosa dapat muncul di seluruh bagian
tanaman yang terserang. Gejala serangan pada daun adalah terjadinya
bercak coklat sampai ungu dan daun cepat rontok. Gejala pada cabang dan
ranting adalah terjadinya kematian ujung ranting (die back), sedangkan
pada bunga adalah terjadinya perubahan warna bunga menjadi cokelat tua
dan mudah rontok/ berguguran (Rukmana, 1995).

Gambar 03. Gejala penyakit antraknosa pada buah avokad: gejala awal (a
dan b), gejala di penyimpanan (c) (sumber: Nelson, 2008)
Serangan cendawan C. gloeosporioides pada buah menimbulkan gejala
bercak berwarna gelap, cekung, berbentuk bulat pada kulit buah yang
meluas secara cepat dan menjadi lunak, menyebabkan pembusukan (Nelson,
2008). Warna gelap/coklat akibat serangan C. gloeosporioides muncul
karena cendawan tersebut menghasilkan enzim selulase yang dapat
menghidrolisis selulosa kulit buah sehingga kulit buah terdisintegrasi dan
lunak sehingga berubah warna menjadi coklat yang dapat meluas dan
akhirnya membusuk. Proses pembusukan semakin cepat ketika buah
mencapai kematangan puncak (Ippolito & Nigro, 2000).
Ciri khas dari penyakit ini adalah terbentuknya massa spora lengket.
Bercak memiliki ukuran yang bervariasi dan dapat terjadi di setiap bagian
buah avokad yang dapat berkembang dan berwarna salmon. Gejala dapat
muncul secara cepat selama 1 atau 2 hari terutama dalam kondisi
8

penyimpanan hangat dan lembab. Bercak berbentuk bulat, berwarna gelap
ini biasanya muncul dalam infeksi laten pada kulit buah setelah panen dan
pematangan buah. Ukuran diameter Bercak bervariasi tergantung kultivar
avokad dan berkisar antara millimeter sampai sentimeter (Nelson, 2008).
2.2.3 Biologi dan Ekologi C. gloeosporioides
Cendawan C. gloeosporioides mempunyai miselium berwarna putih
hingga keabu-abuan, memiliki konidia yang berbentuk oval dengan ujung
tumpul atau membulat, hialin, bersel satu, tidak bersekat, terbentuk dalam
aservulus, dan berukuran 915 x 37 m. Massa konidia berwarna merah
muda seperti warna salmon. (Dickman, 1993; Semangun, 2000). Konidiofor
berukuran 18 x 3 m, berbentuk silinder, hialin atau agak kecoklatan.
Aservulus dangkal dengan diameter 90270 m, memiliki seta dengan
konidiofor yang sederhana, pendek, dan tegak.

Gambar 04. Massa konidia (a) dan miselium (b) C. gloeosporioides pada
media PDA (sumber: Dickman, 1993; Semangun, 2000)

Gambar 05. Tubuh buah C. gloeosporioides di bawah mikroskop: aservulus
(a), seta (b), konidia (c), dan miselium (d)
9

C. gloeosporioides merupakan cendawan yang umum terdapat di
berbagai tanaman. Cendawan ini merupakan parasit lemah yang dapat
menginfeksi dan berkembang pada jaringan yang telah menjadi lemah,
khususnya karena proses penuaan. Cendawan ini dapat menginfeksi melalui
luka atau lentisel. Konidium jamur dipencarkan oleh angin dan air hujan.
Infeksi buah banyak terjadi dari konidium yang berasal dari bercak pada
daun dan tangkai daun. Pada cuaca menguntungkan, cendawan membentuk
konidium. Konidium dipencarkan oleh percikan air hujan dan siraman
karena terbentuk dalam massa spora yang lengket. Cendawan dapat
diisolasi dari jaringan tanaman tropis yang tampak sehat dan berada baik di
permukaan mikroflora maupun sebagai endofit. Patogen ini menimbulkan
serangan berat pada kondisi kelembaban dan suhu yang tinggi. Cendawan
dapat tumbuhan pada suhu rendah 4
0
C, tetapi optimum pada suhu 25
29 C. Perkecambahan spora, infeksi dan produksi askospora memerlukan
kelembaban relatif mendekati 100%, namun ekspresi penyakit akan muncul
pada kondisi kering karena infeksi laten atau quiescent akan aktif pada
jaringan yang rusak (CAB Internasional, 2007).
Kondisi iklim yang sesuai pada saat terjadinya infeksi sangat
menentukan terjadinya epidemi penyakit. Penyakit antraknosa ini dapat
menimbulkan kehilangan yang signifikan pada iklim hangat dan lembab
(CAB Internasional, 2007). Spora hanya dapat berkecambah bila ada air
bebas, atau bila kelembaban nisbi udara tidak kurang dari 95%. Infeksi
tidak akan terjadi bila kelembaban udara tidak kurang dari 96%. Spora
tumbuh paling baik pada suhu 2528
0
C, sedang dibawah 5
0
C dan di atas
40
o
C spora tidak dapat berkecambah. Bailey dan Jeger (1992) menyatakan
bahwa infeksi cendawan pada percobaan di rumah kaca dan laboratorium
terjadi pada kelembaban lebih dari 96% pada suhu 2631
0
C (Semangun,
2000).
10


Gambar 06. Siklus hidup C. gloeosporioides
Patogen bertahan di dalam biji, sampah, dan gulma inang, dan
dipencarkan melalui percikan air, aliran air, serangga atau benda lain yang
menyentuh cendawan. C. gloeosporioides menyebabkan penyakit pada
bagian daun, bunga dan buah. Pada jaringan tua, perkembangan penyakit
lebih lambat, seringkali quiescent atau tinggal sebagai cendawan endofit
yang tidak berbahaya hingga kondisi fisiologi memungkinkan untuk
perkembangan cendawan (Rukmana, 1995).
2.2.4 Penggunaan Khamir untuk Pengendalian Hayati Penyakit
Pada awal tahun 1990, berbagai mikroba antagonis dilaporkan dapat
digunakan untuk mengendalikan berbagai patogen pada beberapa buah.
Salah satu mikroba antagonis tersebut adalah khamir (Druvefors, 2005).
Khamir merupakan kelompok mikroorganisme uniseluler termasuk dalam
filum Ascomycota dan Basidiomycota. Beberapa khamir dan
mikroorganisme lain telah dilaporkan dapat menghambat patogen tanaman,
khususnya patogen yang berada di dalam buah dan sayuran, serta beberapa
produk komersial (Janisiewicz & Korsten, 2002). Beberapa khamir
antagonis juga telah dilaporkan efektif untuk menghambat patogen pasca
panen pada beberapa buah-buahan dan dapat digunakan sebagai agens
pengendali hayati cendawan pasca panen penyebab busuk pada buah apel,
grey dan blue mold yang disebabkan oleh Botrytis cinerea dan Penicillium
italicum, dan pada buah jeruk (McLaughlin et al., 1990). Secara khusus,
kehadiran khamir secara alami pada buah-buahan dan sayuran berpotensi
sebagai antagonis penyakit pasca panen (Droby, 2006). Khamir (Pichia
11

guilliermondii strain US-7 dan Hanseniaspora uvarum strain 138) diketahui
dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai patogen penyebab
pembusukan pada jeruk, buah pome, dan tomat (Chalutz & Wilson, 1990).
Debaromyces hansenii dilaporkan dapat mengendalikan busuk buah jeruk
pasca panen (Wisniewski et al. 1991) dan beberapa spesies Cryptococcus
sp. dapat digunakan untuk mengendalikan pembusukan pasca panen pada
buah apel dan pir. Keberadaan mikroba antagonis baik secara alami
maupun buatan dapat dipertimbangkan sebagai alternatif penggunaan
fungisida untuk mengendalikan penyakit pasca panen (Wisniewski &
Wilson, 1992).
Keuntungan dari penggunaan khamir antagonis, dapat diisolasi dari
alam, bersifat non patogenik terhadap tanaman dan binatang termasuk
manusia, mudah dibiakkan, dan reproduksinya cepat. Khamir juga memiliki
banyak kegunaan, biasanya tidak menghasilkan spora alergik atau
mikotoksin seperti cendawan miselial. Sel khamir juga mengandung
vitamin, mineral, dan asam amino penting yang telah dimanfaatkan dalam
makanan dan pakan (Indratmi, 2008).
Khamir Debaryomyces sp. efektif menghambat perkembangan
penyakit antraknosa yang disebabkan oleh C. gloeosporioides.
Debaryomyces sp. dan konidia patogen C. gloeosporioides. Penghambatan
patogen C. gloeosporioides oleh Debaryomyces sp. terjadi melalui
mekanisme kompetisi dan parasitisme (Indratmi, 2008). Kompetisi nutrisi
diduga sebagai mode of action beberapa agens pengendali hayati, seperti P.
guilliermondii dalam mengendalikan Penicillium digitatum (Droby et al.,
1989), Candida guilliermondii, Cryptococcus laurentii dan Metschnikowia
pulcherima dalam mengendalikan Botrytis cinerea dan Penicillium
expansum. Penggunaan khamir menunda pemasakan buah saat
penyimpanan. Konsentrasi suspensi khamir yang digunakan di laboratorium
umumnya 107 cfu/ml. Suspensi sel khamir pada konsentrasi 106 sampai
107 cfu/ml efektif menghambat perkembangan penyakit (Droby et al.,
1997).



12

2.3 Tanaman Perkebunan
2.3.1 Biologi Penyakit Patik pada Tanaman Tembakau
Penyakit bopeng atau patik pada tanaman tembakau disebabkan oleh
jamur C. nicotinae Ell. et Ev. Jamur ini dalam klasifikasinya termasuk:
Kingdom : Fungi
Phylum : Ascomycota
Class : Dothideomycetes
Subclass : Dothideomycetidae
Order : Capnodiales
Family : Mycosphaerellaceae
Genus : Cercospora
Spesies : C. nicotinae
Jamur Cercospora mempunyai konidiofor berwarna coklat yang
bersekat-sekat dengan ukuran 20 s/d 600 x 5 m. Konidiofor berbentuk
panjang, agak membengkak dan mempunyai sekat yang banyak serta tidak
berwarna (hyalin). Konidia mempunyai ukuran yang bervariasi yaitu sekitar
25 s/d 370 x 6,1 m (Erwin,1997).

Gambar 07. Bentuk jamur C. nicotianae dan infeksi jamur ke dalam jaringan
daun. (Sumber: Erwin, 1997)
2.3.2 Gejala Serangan
C.nicotianae dapat berkembang sejak dipembibitan, tanaman di
lapangan, bahkan setelah yang daun di petik dan selama proses pengeringan
daun tembakau dibangsal/ gudang. Daun yang sakit mempunyai bercak-
bercak garis tengahnya dapat mencapai 2 15 mm. Mula-mula bercak
berwarna coklat lalu menjadi kering dan berwarna putih dengan tepi coklat
13

yang akhirnya bagian ini pecah dan berlubang. Ditengah-tengah bercak
terdapat titik titik hitam yang sangat halus yaitu berupa kumpulan
konidiofor jamur. Bercak biasanya terjadi pada daun-daun bawah atau daun
tua dan daun-daun yang telah matang, karena umumnya daun daun ini lebih
rentan dari pada daun-daun yang masih muda (Semangun, 2000).
Meskipun demikian bila cuaca lembab dan mendukung untuk
perkembangan jamur serta penyakit sudah menyebar secara luas, maka
serangan dapat terjadi juga pada daun-daun yang muda. Di Deli daun
tembakau yang terdapat bercak putih disebut dengan bopeng putih. Bila
konidia C.nicotianae jatuh pada daun tembakau yang akan dipetik, konidia
ini akan melekat pada daun dan selanjutnya berkembang pada waktu daun
digantung didalam bangsal. Udara diantara daun-daun ini yang lembab
sangat cocok untuk perkembangan jamur, sehingga pada daun yang telah
kering akan terbentuk bercak-bercak coklat kehijauan yang disebut bercak
gudang ataubopeng hijau (Erwin, 1997).

Gambar 08. Gejala serangan C. nicotianae
2.3.3 Faktor yang Mempengaruhi
Jamur patik mengadakan infeksi melalau mulut kulit. Agar konidium
dapat berkecambah pada permukaan daun, disitu harus ada air. Konidium
disebarkan oleh angin atau percikan air. Jamur patik dapat bertahan lama
dalam sisa tumbuhan tembakau, misalnya batang-batang tembakau yang
sudah kering. C.nicotianae mempunyai banyak tumbuhan inang. Konidium
jamur ini dapat ditularkan ke 19 macam tumbuhan, antara lain terung
(Solanum melongena L.), Cabai (Capsicum annum L.), dan kecubung
(Datura stramonium L.) (Semangun, 2000).
14

Perubahan cuaca dari panas kemusim hujan sangat cepat memacau
perkembangan penyakit ini, terlebih lagi bila peristiwa itu berlangsung pada
bulan juni di Sumatera atau tepatnya didaerah Deli (Erwin, 1997). Jamur ini
menginfeksi tanaman melalui mulut daun(stomata). Untuk dapat
berkecambah konidia membutuhkan air. Konidia menyebar oleh angin
ataupun percikan air. Sporulasi jamur pada permukaan daun terjadi pada
suhu 18-27 C (Semangun, 2000).
Jamur C. nicotinae dapat mempertahakan diri dalam waktu yang lama
pada sisa-sisa tanaman tembakau, misalnya batang atau daun yang sudah
kering. Bila melekat pada biji tembakau C.nicotianae dapat hidup sampai
satu tahun (Erwin, 1997). Konidia dapat juga mempertahakan didalam
tanah yang halus seperti tanah debu hitam. C.nicotianae mempunyai
banyak inang, antara lain terong (Solanum melongena), cabai (Capsicum
annum), kecubung (Datura stramonium) dan masih banyak lagi yang
lainnya (Erwin, 1997). Pengalaman sewaktu menanam tembakau dibekas
areal yang telah dirotasikan dengan kelapa sawit selama 25 tahun, ternyata
tanaman tembakau masih terserang penyakit bopeng ini (Erwin, 1997).
2.3.4 Pengendalian Agen Hayati
Untuk mengatasi kerugian akibat penyakit patik ini maka perlu adanya
upaya pengendalian. Upaya pengendalian dengan cara kultur teknis seperti
rotasi tanaman dan secara kimiawi dengan fungisida sintetik masih kurang
efektif. Diketahui bahwa jamur ini mempunyai beberapa tanaman inang lain
misalnya terung (Solanum melongena L.), cabai (Capsicum anuum L.), dan
Kecubung (Datura stramonium) (Dalmadiyo, 1999) yang merupakan
tempat bertahan bagi jamur selama bukan musim tanam tembakau
(Vermeulen, 1999).
Penggunaan fungsida sintetik telah banyak dilaporkan menimbulkan
risiko terhadap mutu daun tembakau terutama adanya penumpukan residu
fungisida yang semakin tinggi, dan juga dapat menimbulkan pencemaran
lingkungan. Oleh karena itu, untuk menghindari dampak negatif
pengendalian kimiawi maka diperlukan upaya pengendalian yang ramah
lingkungan dengan memanfaatkan agensia pengendali hayati. Pseudomonas
pendar fluor (fluorescent pseudomonads) merupakan kelompok bakteri
15

yang banyak digunakan sebagai agensia pengendali hayati dan dikenal pula
sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) (Sigee, 1993).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bakteri dari kelompok ini mampu
mengendalikan penyebab jamur penyakit baik yang terbawa tanah
(Whippes, 2001; Kazempour, 2004) maupun terbawa udara (Blakeman,
1985). Kemampuan bakteri antagonis bertahan hidup di rizosfer dan filosfer
merupakan salah satu faktor penting dalam mengendalikan patogen yang
menginfeksi pada daun. Park et al., (1991) melaporkan bahwa bakteri
pseudomonas mampu bertahan hidup baik di rizosfer maupun di filosfer
tanaman.
Pemanfaatan pseudomonas pendar fluor sebagai agensia pengendali
hayati telah banyak dilakukan karena kemampuannya dalam menghasilkan
senyawa antimikrobia seperti siderofor, antibiotik, senyawa volatil, asam
sianida (Whippes, 2001; de Boer et al., 2003; Kazempour, 2004).

16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada tanaman pangan, Fusarium sp adalah penyakit yang paling sering
menyerang. Fusarium sp mampu menyerang tanaman mulai dari penanaman
bahkan hingga pasca panen. Penyakit ini dapat dikendalikan secara hayati
dengan pemberian cendawan antagonis Trichoderma sp.
2. Colletotrichum sp. adalah penyebab penyakit antraknosa. Gejala serangan
penyakit antraknosa dapat muncul di seluruh bagian tanaman yang terserang.
Gejala serangan pada daun adalah terjadinya bercak coklat sampai ungu dan
daun cepat rontok. Gejala pada cabang dan ranting adalah terjadinya kematian
ujung ranting (die back), sedangkan pada bunga adalah terjadinya perubahan
warna bunga menjadi cokelat tua dan mudah rontok/ berguguran. Untuk
mengatasi ganasnya penyakit antraknosa pada tanaman holtikultura bisa
digunakan khamir antagonis yang telah diproduksi secara komersil.
3. Pada tanaman tembakau, penyakit bopeng atau patik adalah penyakit yang
sering menyerang. Tembakau merupakan perwakilan dari tanaman perkebunan
yang berada di Indonesia yang memprihatinkan jika ditilik melalui penyakit
yang sering menyerang. Namun demikian, pseudomonas pendar fluor bisa
menjadi solusi karena dianggap mampu mengendalikan penyakit ini.
3.2 Saran
Dari hasil makalah ini, penulis menyarankan supaya penggunaan agens hayati
dapat dilakukan dalam pengendalian penyakit. Meskipun demikian, penulis
merasa bahwa apa yang telah ada dalam tulisan ini, masih sangat jauh dari
sempurna. Baik tata cara penulisan maupun macam-macam pengendalian yang
penulis sampaikan.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, mari bersama-sama melakukan kajian
ulang serta mengaplikasikan beberapa ilmu yang dianggap relevan guna pertanian
yang lebih sehat.


17

DAFTAR PUSTAKA

Bailey, J. A and M. J. Jeger. 1992. Colletotrichum : Biology, Pathology, and Control.
The British Society for Plant Pathology. London.
CAB International, 2007. Crop Protection Compedium. Wallingford, UK. 2007.
Edition.
Capdeville GD, Souza MT, Santos JRP, Miranda SP, Caetano AR, Torres FAG. 2007.
Selection and testing of epiphytic yeasts to control anthracnose in post-
harvest.
Dalmadiyo, G. 1999. Pengendalian penyakit tembakau secara terpadu. Pros. Semiloka
Teknologi Tembakau. Malang, 31 Maret 1999. Balai Penelitian
Tembakau dan Serat Malang, Malang.
Dickman, M. B. 1993. Plant Disease Pathogen : Colletotrichum gloeosporioides.
Department of Plant Pathology University of Hawaii at Hilo. Hawai.
Yakoby, N., Beno-Moualem, D., Keen, N. T., Dinoor, A., Pines, O.,
and Prusky, D. 2001. Colletotrichum gloeosporioides pelB is an
important virulence factor in avocado fruit-fungus interaction. Mol.
Plant-Microbe Interact.
Druvefors U, Passoth V, and Schnurer J. 2005. Nutrient Effect on Biocontrol of
Penicillium requeforti by Pichia anomala J121 During Airtight of
Wheat. Applied and Environmental Microbiology.
Droby S. E. Chalutz . 1997 . Mode of action of biocontrol agents of postharvest
disease. In: Wilson CL. Wisniewski ME (Eds.). Biological Control of
Postharvest Diseases of Fruits and Vegetables-Theory and Practice.
CRC Press.
Erwin dan Simarmata. 1997. Percobaan tanaman tembakau di Areal Ekskayu Hutan
Tanaman Sengon Umur Dua Tahun, Bull, no. 3 Desember 1997.
Indratmi, D. 2008. Mekanisme Penghambatan Colletotricum gloeosporioides Patogen
Penyakit Antraknosa pada Cabai dengan Debaryomyces sp. Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.
Ippolito,A., Nigro, F., 2000. Impact Of Preharvest Application Of Biological Control
Agents On Postharvest Disease Of Fresh Fruits And Vegetables.
Janisiewicz, W. J., and L. Korsten. 2002. Biological Control Of Postharvest Diseaces
Of Fruits.
18

Kazempour, M. N. 2004. Biological control of Rhizoctonia solani, the causal agent of
rice sheath blight by antagonistics bacteria in greenhouse and field
conditions. Plant Pathology Journal.
McLaughlin, R.J. and T.A. Chen. 1990. Methods for plant pathogenic prokaryots. Pp.
197-202. In: R.O. Hampton, E.M. Ball, and S.H. de Boer (Eds.),
Serological Methods for Detection and Identification of Viral and
Bacterial Plant pathogens, A Laboratory Manual. The American
Phytopathol. Soc., St. Paul, Minn.
Nelson S. 2008. Antrachnose of avocado [internet]. [diunduh 20 Mei 2014]. Tersedia
pada: http://www.ctarh.hawaii.edu./oc/freepub/pdf/PD-58.pdf.
Pakki Syahrir. 2005. Patogen Tular Benih Fusarium sp. dan Aspergillus sp. pada
Jagung serta Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanamna Serealia:
Prosiding Seminar Nasional Jagung
Pakki Syahrir dan Talanca Haris, A. _______. Pengelolaan Penyakit Pascapanen
Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros
Park, J.L, R.E. Rand and E.B. King. 1991. Biological control of phytium damping-off
and Aphenomyces root rot of peas by application of Pseudomonas
cepacia or Blakeman, J. P. 1985. Ecological succession of leaf surface
microorganisms in relation to biological control. In Windelss C.E.,
Lindow, S.E., eds. Biological control on the
Rukmana R. 1995. Pepaya: Budidaya dan Pasca Panen. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Holtikultura di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sigee, D. C. 1993. Bacterial Plant Pathology: Cell and Molecular Aspect. Cambridge
University Press. Cambridge.
Talanca Haris, A. 2007. Penyakit Busuk Batang Jagung (Fusarium sp.) dan
Pengendaliannya. Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan
PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel. Balai Penelitian Tanamna Serealia,
Maros.
Vermeulen, H. 1999. Cercospora nicotianae Ellis & Everhart the fungal patogen
causing frogeye and barnspot lessions on tobacco leaves.
Whippes, J.M. 2001. Microbial interactions and biocontrol in the rhizosphere. Journal
of Experimental Botany.
19

Wilson, C.L., A.E. Ghaouth, E. Chalutz, S. Droby, C. Stevens, J.Y. Lu, V. Khan, and
J. Arul 1994. Potential of induced resistance to control postharvest
diseases of fruits and vegetables. Plant Dis.