Anda di halaman 1dari 12

70

BAB III

PEMBAHASAN




Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia.
Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan
perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas kerja dan menurunkan daya
tahan tubuh, yang berakibat meningkatnya angka kesakitan dan kematian.
Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan, terbukti
tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan
yang berakibat pada rendahnya produktifitas, pengangguran, kemiskinan dan akan
menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi
salah satu faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals.
1

Gizi kurang pada balita tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi diawali dengan
kenaikan berat badan anak yang tidak cukup. Pemantauan pertumbuhan
merupakan salah satu program kegiatan utama program perbaikan gizi, yang
menitikberatkan pada upaya pencegahan dan peningkatan gizi anak. Pemantauan
pertumbuhan merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri : (1) penilaian
pertumbuhan anak secara teratur melalui penimbangan setiap bulan, pengisian
Kartu Menuju Sehat, penilain status pertumbuhan berdasarkan kenaikan berat
badan, (2) tindak lanjut setiap kasus gangguan pertumbuhan, (3) tindak lanjut
berupa kebijakan dan program di tingkat masyarakat, serta meningkatkan motivasi
untuk memberdayakan keluarga.
4

71

71
Pada gambar 1.19 dan 1.22 diperlihatkan garis partisipasi ibu yang
menimbang bayi mereka selama tahun 2011 sampai bulan September 2013. Pada
tahun 2011 nilai partisipasi ibu di bawah target yaitu 71,9%, sedangkan tahun
2012 di atas target yaitu 84,1%. Pada tahun 2013, partisipasi ibu di bulan Januari ,
Maret, April, Mei, Juni, Juli dan September tidak mencapai target, namun pada
bulan Februari 2013 dan Agustus 2013, mencapai peningkatan yang cukup
signifikan, bahkan pada Agustus 2013 mencapai puncaknya pada angka 100%.
Hal tersebut dimungkinkan karena motivasi ibu untuk membawa bayinya terkesan
hanya untuk mendapatkan vitamin A gratis, seperti diketahui bulan-bulan tersebut
merupakan bulan pembagian vitamin A secara gratis. Para ibu terkesan tidak
mengetahui pentingnya melakukan penimbangan secara teratur setiap bulan
sebagai upaya deteksi dini keadaan gizi bayinya sehingga keadaan jatuh pada
kondisi yang buruk dapat segera diketahui dan diatasi.
Pada grafik 1.21 dan 1.24 yang menunjukkan garis partisipasi ibu dalam
kegiatan penimbangan bulanan balita cenderung lebih rendah daripada partisipasi
ibu dari bayi. Pada tahun 2011 dan 2012, partisipasi ibu tidak memenuhi target
yaitu 58,8% dan 74,3%. Pada Januari sampai dengan September 2013, hanya pada
bulan Februari dan Agustus yang mencapai target yaitu 80% dan 91%. Partisipasi
ibu menunjukkan peningkatan pada bulan-bulan Februari dan Agustus yang
merupakan bulan-bulan pemberian vitamin A gratis. Kesimpulan yang dapat
diambil adalah sama halnya dengan partisipasi ibu yang memiliki bayi, dimana
pengetahuan ibu tentang pentingnya melakukan penimbangan secara teratur setiap
72

72
bulan sebagai sarana/upaya deteksi dini keadaaan gizi balitanya jelas masih cukup
rendah.
Keadaan tersebut bisa jadi disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan
sebagian besar masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya. Pada
tabel 1.5 di bagian data dasar, sebagian penduduk cuma tamat SD dan SMP, yaitu
28,45 % dan 26,65%. Tingkat pendidikan yang rendah kemungkinan
mempengaruhi kesadaran masyarakat yaitu para ibu untuk membawa anaknya ke
Posyandu maupun Puskesmas agar teratur menimbang bayi, batita dan balitanya
tiap bulan.
Untuk pengklasifikasian KEP tingkat puskesmas, dilakukan dengan
menimbang BB anak yang dibandingkan dengan umur dan menggunakan KMS
dan Tabel BB/U Median WHO-NCHS. Adapun Klasifikasi KEP adalah sebagai
berikut :
8

1. KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita
warna kuning
2. KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak di Bawah
Garis Merah (BGM)
3. KEP berat/gizi buruk bila hasil penimbangan BB/U <60% baku median WHO-
NCHS
Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/Gizi buruk dan KEP sedang,
sehingga untuk menentukan KEP berat/gizi buruk digunakan Tabel BB/U Baku
Median WHO-NCHS.
8

73

73
Dari tabel 1.28, 1,29, 1.30, 1.31 dapat dilihat selama tahun 2011 terdapat
18 kasus bayi (17 kasus lama dan 1 kasus baru) dengan status gizi di bawah garis
merah (BGM). Sedangkan pada tahun 2012 terdapat 22 kasus bayi (18 kasus lama
dan 4 kasus baru) dengan status gizi di bawah garis merah. Pada tahun 2012
didapatkan prevalensi gizi buruk di wilayah Puskesmas Beruntung Raya adalah
2,27%, dan angka ini berada di bawah angka prevalensi gizi buruk nasional
sebesar 5,4%. Pada tahun 2013, data sampai september 2013 menunjukkan 4
kasus baru gizi buruk.
Menurut UNICEF 1990, terdapat 3 faktor yang berpengaruh secara
langsung terhadap masalah gizi, yaitu :
9

1. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang
Bayi dan balita tidak mendapat makanan yang bergizi, dalam hal ini makanan
alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak
tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah
dan kualitasnya. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan
yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang
tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
2. Anak tidak mendapat asuhan gizi yang memadai
Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya
gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi
ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan
kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur
pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak
74

74
3. Anak menderita penyakit infeksi
Terjadi hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi buruk.
Anak yang menderita gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan,
sehingga anak rentan terhadap penyakit infeksi. Disisi lain anak yang
menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk.
Adapun tujuan dari penatalaksanaan pada bayi balita kurang energi protein
adalah untuk memberikan makanan tinggi energi, tinggi protein dan cukup
vitamin mineral secara bertahap, guna mencapai status gizi optimal.
10

A. Tingkat Rumah Tangga
Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan sering kepada
anak sesuai dengan kebutuhan.Teruskan pemberian ASI sampai anak berusia 2
tahun.
5
B. Tingkat Posyandu /PPG
1. Anjurkan ibu memberikan makanan kepada anak di rumah sesuai usia
anak, jenis makanan yang diberikan mengikuti anjuran makanan
2. Dalam rangka pemulihan kesehatan anak, perlu mendapat makanan
tambahan pemulihan (PMT-P) dengan komposisi gizi mencukupi minimal
1/3 dari kebutuhan 1 hari, yaitu : Energi 350 400 kalori dan Protein 10 -
15 g
3. Bentuk makanan PMT-P
Makanan yang diberikan berupa :
a. Kudapan (makanan kecil) yang dibuat dari bahan makanan
setempat/lokal.
75

75
b. Bahan makanan mentah berupa tepung beras,atau tepung lainnya,
tepung susu, gula minyak, kacang-kacangan, sayuran, telur dan lauk
pauk lainnya
4. Lama PMT-P
Pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT-P) diberikan setiap
hari kepada anak selama 3 bulan (90 hari)
5. Cara penyelenggaraan
a. Makanan kudapan diberikan setiap hari di Pusat Pemulihan Gizi (PPG)
atau
b. Seminggu sekali kader melakukan demonstrasi pembuatan makanan
pendamping ASI/makanan anak, dan membagikan makanan tersebut
kepada anak balita KEP, selanjutnya kader membagikan paket bahan
makanan mentah untuk kebutuhan 6 hari.
8
Dari tabel 1.32 dapat dilihat bahwa program makanan tambahan (PMT)
tidak berjalan dengan maksimal. Dapat dilihat pada tahun 2012 bahwa pemberian
MP-ASI biskuit dan taburia masing-masing 4 dan 5 orang, sedangkan jumlah anak
dengan gizi BGM ada 22 orang. Pemberian PMT idealnya selama 3 bulan, tetapi
di Puskesmas Beruntung Raya cuma dilaksanakan selama 2 bulan,. Berdasarkan
hasil wawancara dengan petugas gizi, didapatkan informasi bahwa
penyelenggaraan PMT tergantung dari dana yang diberikan dari kelurahan, jadi
dalam pelaksanaannya terkadang dana tidak dapat mencukupi untuk melakukan
PMT di seluruh posyandu.
76

76
Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya
masayarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dan, oleh, untuk dan
bersama masayarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna
memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada msyarakat
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan
angka kematian ibu dan bayi. Satu posyandu melayani sekitar 80-100 balita.
Dalam keadaan tertentu, seperti lokasi geografis, perumahan penduduk yang
terlalu berjauhan dan atau jumlah balita lebih dari 100 orang, dapt dibentuk
posyandu baru .
11

Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Sasarannya adalah bayi,
balita, ibu hamil dan WUS. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi penimbangan
badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan gizi, pemberian PMT,
pemberian vitamin A dan pemberian sirup Fe.
11

Jumlah Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Beruntung Raya
selama tahun 2013 (tabel1.15), ada 6 (1 posyandu lansia) yang tersebar di
beberapa Rukun Tetangga (RT). Jumlah Posyandu ini sudah cukup mewakili 1
kelurahan yaitu kelurahan Tanjung Pagar. Diketahui bahwa semua posyandu ini
masih aktif di dalam melaksanakan pelayanan tiap 1 bulan sekali.
Data mengenai jumlah kader (tabel 1.16) Posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Beruntung Raya hanya 25 orang, dan dari 25 orang tidak semua dapat
hadir setiap bulannya dalam kegiatan Posyandu.. Tingkat pendidikan kader
sebagian besar hanya lulusan SD yaitu sekitar 56% dan sisanya yang lulus SMP
77

77
sebanyak 20% dan yang lulus SMA berkisar 24%. Hal ini tentunya berpengaruh
terhadap kinerja mereka sebagai kader posyandu.
Pada tabel 1.16 juga dapat dilihat bahwa dari keseluruhan jumlah kader
sekitar 72% saja yang mendapat pelatihan, masih terdapat sekitar 28% kader yang
tidak mendapatkan pelatihan. Untuk distribusi tenaga kader yang terlatih dan tidak
terlatih juga belum merata. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap kinerja dan
kemampuan pelayanan serta menghadapi masalah dari seorang kader di dalam
melaksanakan kegiatan posyandu.
Pelatihan kader bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
ketrampilan sekaligus dedikasi kader agar timbul kepercayaan diri untuk dapat
melaksanakan tugas sebagai kader dalam melayani masyarakat, baik di Posyandu
maupun saat melakukan kunjungan rumah.
12
Pembinaan kader posyandu dilakukan 3 bulan sekali guna membina
hubungan silaturahmi antar kader serta peningkatan ketrampilan di dalam kegiatan
posyandu dan pelatihan kader posyandu dilakukan terhadap kader-kader baru
posyandu supaya mahir dan terampil dalam kegiatan posyandu
(10)
.
Berdasarkan wawancara dengan petugas gizi sendiri ternyata penyuluhan
secara aktif mengenai gizi pada khususnya diwilayah kerja Puskesmas Beruntung
Raya tidak pernah dilakukan. Petugas mengatakan selama ini hanya dilakukan
pemberitahuan secara pasif per individu oleh petugas gizi ke ibu dari bayi dan
balita saat membawa anaknya untuk ditimbang di posyandu maupun di
puskesmas. Selain itu petugas dihadapkan pada kendala kurangnya dana dalam
melakukan penyuluhan serta tidak adanya imbalan bagi jerih payah petugas
78

78
puskesmas. Petugas juga mengatakan penyuluhan secara aktif biasa dilakukan
apabila di dapatkan adanya suatu wabah penyakit tertentu di wilayah kerja
puskesmas..
Supaya kader posyandu dapat melakukan tugas gizi dengan sebaik-
baiknya perlu memperoleh latihan terlebih dahulu.. Dari keterangan petugas gizi,
tidak didapatkan data tentang adanya pelatihan sepanjang tahun 2013. Mereka
yang telah memperoleh latihan masih perlu mendapatkan latihan tambahan untuk
meningkatkan kemampuan dalam tugasnya. Latihan kader posyandu dalam bidang
gizi merupakan kegiatan penting yang harus dilaksanakan oleh petugas gizi
puskesmas.
13

Kader gizi mempunyai tugas membantu tenaga gizi dalam kegiatan-
kegiatan :
13
1. merencanakan program gizi bersama masyarakat di desa masing-masing
2. menggerakan masyarakat untuk mengubah perilaku hidup sehat melalui
perbaikan gizi
3. melaksanakan penyuluhan gizi pada masyarakat secara rutin
Banyaknya faktor yang menimbulkan timbulnya masalah gizi dan salah
satu di antaranya adalah kurang pengetahuan keluarga terhadap makanan sehat
dan bergizi. Untuk menanggulangi masalah ini dilakukan penyuluhan gizi.
Pengetahuan gizi memberikan pengetahuan mengenai manfaat makanan bergizi
untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga. Penyuluhan gizi di tingkat
kecamatan kecamatan dan desa menjadi tanggung jawab tenaga gizi Puskesmas.
13

79

79
Untuk menunjang pengembangan program gizi diperlukan kualitas kader
yang baik. Untuk meningkatkan kualitas kader diperlukan pelatihan, pembinaan
dan penyegaran kader. Adapun tujuan pembinaan kader adalah:
1. Meningkatkan pengetahuan kader tentang
- berbagai masalah yang dihadapi masyarakat
- cara penanganan secara efisien, praktis dan benar serta;
- cara-cara peyuluhan termasuk mengembangkan PSM
2. Keterampilan kader dikembangkan dalam memberi penyuluhan dengan:
- memberi penyuluhan dan;
- melaksanakan kegiatan-kegiatan praktis yang ada dengan masalah-
masalah di masyarakat.
Pembinaan kader dilakukan dengan cara :
14

1. latihan atau penataran kader
2. pertemuan berkala antar kader dan antara kader dengan pembina yang
biasanya dilakukan saat Posyandu
3. membantu memecahkan masalah yang dihadapi di lapangan
4. melayani kader dengan bacaan lain atau pedoman-pedoman kelengkapan
kader yang diperlukan untuk melaksanakan tugas
5. penilaian berkala terhadap tiap kader untuk mengetahui aktivitas para kader.
Selain itu pemberian penghargaan kepada kader yang aktif dan berprestasi.
Dalam program gizi terdapat 2 fungsi kader yang sangat penting yaitu :
6

a. Memotivasi ibu rumah tangga bahwa peningmbangan berat badan secara
teratur mempunyai manfaat antara lain:
80

80
o Untuk mengetahui sedini mungkin adanya gangguan tumbuh kembang
anak
o Agar intervensi untuk mencegah hambatan tumbuh kembang tubuh anak
dapat dilakukan pada tingkat yang paling dini
o Untuk mendeteksi apakah anak menderita suatu penyakit
Anak dengan gangguan gizi seminggu/sebulan sebelum menjadi malnutrisi
maka pertumbuhannya akan terhenti, sehingga dengan menimbang berat
badan anak secara teratur setiap bulan dan menuliskannya di dalam KMS
merupakan langkah penting untuk deteksi dini gangguan gizi anak.
b. Meyakinkan ibu bahwa dengan mengetahui secara dini keadaan status gizi
balita maka dapat segera diatasi, kemungkinan gangguan pertumbuhan yang
berdampak pada gangguan fisik dan mental anak dapat dicegah.
c. Meyakinkan para ibu bahwa gizi buruk pada anak dapat semakin
memperburuk keadaan anak jika anak mengalami sakit dan gizi buruk itu
sendiri dapat menurunkan kekebalan anak terhadap suatu penyakit.
d. Mengajak ibu yang memiliki balita untuk secara teratur menimbangkan
balitanya.
Secara teknis, pelaksanaan penyuluhan di Posyandu yang bisa dilakukan
oleh kader adalah:
14
a. Pesan penyuluhan dilaksanakan berdasarkan hasil penimbangan balita
b. Penyuluhan kelompok di Posyandu dengan materi GAKI, anemia, KEP, KVA,
PUGS, dll
c. Metode penyuluhan ceramah, demonstrasi, peragaan, simulasi, pameran, dll
81

81
d. Media yang digunakan antara lain: media simulasi UPGK, lembar balik MKS,
poster, bahan makanan sumber vitamin A dan besi, kapsul vitamin A, kapsul
minyak beryodium
e. Waktu: setiap jadwal penimbangan di Posyandu
f. Pencatatan dan pelaporan: menggunakan R1 Gizi, F1 gizi dan buku kegiatan
Posyandu
g. Tenaga penyuluh adalah kader atau tenaga kesehatan dan tenaga sektor lain
terkait.
Dengan demikian permasalahan tersebut akan dapat diatasi melalui peran
serta aktif dari Kader Posyandu di wilayah kerjanya masing-masing dengan
memberikan penyuluhan yang intensif, yang dapat dilakukan setiap bulannya
berbarengan dengan kegiatan penimbangan atau PMT penyuluhan di Posyandu.
Penyuluhan harus diberikan secara jelas dan mudah dimengerti oleh masyarakat
dimana kader itu berada. Diharapkan akan terjadi peningkatan kesadaran ibu
untuk membawa anaknya dalam kegiatan penimbangan bulanan di Posyandu atau
Puskesmas secara teratur.
15