Anda di halaman 1dari 44

Proses Industri Kimia I

SURFAKTAN
Apa itu
Surfaktan?
Karakteristik
Cara Analisis
Kegunaan
Definisi Surfaktan
Senyawa organik yang molekulnya memiliki dua ujung
yang berbeda interaksinya dalam air yakni ujung satu
(bagian kepala) memiliki gugus hidrofilik yang suka air
dan ujung satunya (bagian ekor) memiliki gugus
hidrofobik yang tidak suka air
Surfaktan adalah bahan aktif permukaan, yang
bekerja menurunkan tegangan permukaan
cairan, sifat aktif ini diperoleh dari sifat ganda
molekulnya
Apabila ditambahkan ke suatu cairan pada konsentrasi
rendah, maka dapat mengubah karakteristik tegangan
permukaan dan antarmuka cairan tersebut.
Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua
golongan besar:
1. Surfaktan yang larut dalam minyak
yang termasuk dalam golongan ini, yaitu
senyawa polar berantai panjang, senyawa
fluorokarbon, dan senyawa silikon.

2. Surfaktan yang larut dalam pelarut air
yang termasuk dalam golongan ini, yaitu
surfaktan anion yang bermuatan negatif,
surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan
nonion yang tak terionisasi dalam larutan,
dan surfaktan amfoter yang bermuatan
negatif dan positif bergantung pada pH-nya.


Surfaktan banyak digunakan dalam berbagai bidang
seperti industri, farmasi, eksplorasi minyak bumi dan juga
rumah tangga.
Surfaktan dapat menghasilkan beraneka produk komersial,
seperti bahan baku pembersih berupa detergen dan
pelembut pakaian, kosmetika yang meliputi sabun, sampo,
perawatan kulit, pasta gigi, bahan pewarna tekstil,
pelumas, bahan baku farmasi untuk obat dan pembuatan
vaksin

Struktur Umum Surfaktan
Jenis-jenis Surfaktan
1) Surfaktan anionik (Negatif)
yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu
anion yang bersifat hidrofobik .
Contoh: garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat,
garam sulfonat asam lemak rantai panjang, Alkyl
Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene
Sulfonate (LAS), Alpha Olein Sulfonate (AOS).
2) Surfaktan kationik (Positif)
yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu
kation yang bersifat hidrofilik dan memiliki sifat surface
active.
Contoh: garam alkil trimethil ammonium, garam
dialkil-dimethil ammonium dan garam alkil
dimethil benzil ammonium.
Jenis-jenis Surfaktan
3) Surfaktan nonionik (tidak bermuatan)
yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan
dan tidak memisahkan diri pada medium air. Surfaktan
ini memiliki kutub polar seperti polyglycol eter atau
sebuah polyol.
Contoh: ester gliserin asam lemak, ester sorbitan asam
lemak, ester sukrosa asam lemak, polietilena
alkil amina, glukamina, alkil poliglukosida,
mono alkanol amina, dialkanol amina dan alkil
amina oksida.

Jenis-jenis Surfaktan
4) Surfaktan amfoter
yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan
positif dan negatif. Rantai hidrofobik mengikat rantai
hidrofilik sehingga tersusun dari ion positif dan negatif.
Perlakuannya tergantung pada kondisi medium atau nilai pH
Apabila pH<7 maka surfaktan bersifat anion. Apabila pH>7
maka surfaktan bersifat kation.
Gugus fungsionalnya Amina oksida, alkil betain, dan
Imidazolinium betain.
Contoh: surfaktan yang mengandung asam amino, betain,
fosfobetain.

Gambar Jenis Surfaktan
C
o
Na
+ Anionik sabun
s o
o
o
Anionik (detergen DOBI)
Na
+
N
+
Cl
-
kationik
o
o
o
OH
Bukan Ionik
R
C
O
NH(CH
2
)
2
CH
3
RC
N
N CH
2
CH
2
CH
3
SO
4
-
Amfoterik
Pemilihan Surfaktan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
- Stabilitas kimia dari surfaktan
Stabilitas kimia surfaktan dalam suatu sistem sangat penting, misalnya
pada formulasi kosmetika. Pada beberapa kasus, kadang diperlukan
surfaktan yang tidak stabil, misalnya pada formulasi coating
menggunakan surfaktan.
- Dampak surfaktan terhadap lingkungan
Perlu diperhatikan pengaruh bahan kimia terhadap lingkungan
(1) sifat biodegradability
Contoh : degradasi alcohol ethoxylate sekunder lebih lambat
dibandingkan alcohol ethoxylate primer.
(2) sifat toksisitas terhadap organisme.
- Iritasi terhadap kulit
Iritasi kulit oleh surfaktan merupakan faktor utama yang perlu
diperhatikan pada produk-produk yang kontak dengan kulit.
Contoh : pada produk kosmetika, shampo, sabun, deterjen.

Sifat-sifat Surfaktan
Critical Micelle Concentration
Merupakan sifat yang menunjukkan batas konsentrasi
kristis surfaktan dalam suatu larutan.

Solubilitas
Temperatur merupakan hal yang penting dan menarik
dalam hubungannya dengan solubilitas surfaktan.

SIFAT UMUM SURFAKTAN

1. Sebagai larutan koloid
Pada konsentrasi tinggi partikel koloid akan saling menggumpal,
gumpalan ini disebut misel atau agregat baik berbentuk sferik
(daya hantar listriknya tinggi) atau lamelar (daya hantar listriknya
kecil disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan
dengan sekitarnya (pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan
ini akan mencapai konsentrasi kritik misel.

2. Adsorpsi
Apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil
daripada pelarut murni, zat terlarut akan terkonsentrasi pada
permukaan dan terjadi adsorpsi positif.
Sebaliknya adsorpsi negatif menunjukkan bahwa molekul-molekul
zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada di
permukaan. Hubungan antara derajat penyerapan dan penurunan
tegangan permukaan dinyatakan dalam persamaan Gibbs.


3. Kelarutan dan daya melarutkan
Partikel-partikel tunggal dari surfaktan relatif tidak
larut, sedangkan misel mempunyai kelarutan tinggi.
Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi
temperatur kritik larutan.
4. Pembasahan
Perubahan dalam tegangan permukaan yang menyertai
proses pembasahan dinyatakan oleh Hukum Dupre.
5. Daya Busa
Busa ialah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif
permukaan memperkecil tegangan antarmuka, sehingga
busa akan stabil, jadi surfaktan mempunyai daya busa.
6. Daya Emulsi
Emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan
yang lain, yang tidak saling melarutkan.
Surfaktan akan menurunkan tegangan antarmuka,
sehingga terjadi emulsi yang stabil.
Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar,
hilangnya kelembaban alami yang ada pada permukan
kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar.
Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kulit manusia
hanya mampu memiliki toleransi kontak dengan bahan
kima dengan kandungan 1 % LAS dan AOS dengan
akibat iritasi sedang pada kulit.

Kegunaan Surfaktan
Terbagi atas tiga golongan, yaitu :
1. Sebagai bahan pembasah
(wetting agent)
2. Sebagai bahan pengemulsi
(emulsifying agent)
3. Sebagai bahan pelarut
(solubilizing agent).
Kegunaan lainnya :
Surfaktan dinilai mampu meningkatkan produksi
minyak bumi.
Penginjeksian surfaktan mampu mengangkat sisa
minyak bumi dalam reservoir dan mampu merecovery
hingga 40% sisa minyak.
Proses ini dikenal dengan nama Enhanced Oil
Recovery (EOR).
Sebagai dispersan


Produk-produk Surfaktan
Sabun
Detergen
Pasta gigi
Disinfektan
Mouth Wash
Kosmetik


Bahan Mentah Surfaktan
1. Bahan Surfaktan Dari Lemak Dan Minyak
Dalam minyak dan lemak, rantai
hidrokarbon dibentuk di dalam bahan
mentah menjadi trasilgliserol (TAG). TAG
yang berasal dari sumber hewan dan
tumbuhan ini dipisahkan dan direaksikan
secara kimia menjadi bahan penting
surfaktan. Minyak kelapa dan minyak inti
sawit penghasil rantai C
12
-C
14


2. Bahan Surfaktan Dari Petroleum
Rantai hidrokarbon linear atau n-parafin
dapat diekstrak dari fraksi petroleum.
Kerosen adalah fraksi petroleum yang
mengandung hidrokarbon C
10
-C
16
.

3. Bahan Surfaktan Dari Etilena
a. Proses Pemanjangan Etilena Ziegler
b. Alkohol Ziegler
c. Alkil Fenol, Deodesil Benzena, dan
Isotridesil Alkohol

Proses Produksi Surfactan

Alkohol lemak yang memiliki panjang rantai C12-
C18 memiliki formulasi untuk produk detergen
sebab memiliki kualitas deterjen yang bagus, sifat
pembasahan dan pembusaan, dan
biodegradabilitas.

Rantai C
12
-C
14
dikenal dengan nama sodium lauryl
sulfat (SLS) yang memiliki pembusaan optimum
dan sebagai foaming agent dalam produksi pasta
gigi. Sedangkan rantai C
12
-C
14
dan C
12
-C
16

digunakan dalam produksi shampoo

A. Produksi surfaktan alkohol lemak sulfat

Reaksi Kimia

RCH
2
OH + SO
3
RCH
2
OSO
3
H
alkohol lemak sulfur trioksida fatty alcohol
sulfuric acid

RCH
2
OSO
3
H + NaOH RCH
2
OSO
3
Na + H
2
O
fatty alcohol soda kaustik sodium fatty air
sulfuric acid alcohol sulfate


Proses
A. Produksi alkohol lemak sulfat
B. Sulfonasi metil ester asam lemak
C. Produksi Surfaktan Gliserol
Monooleat

Proses
A. Produksi alkohol lemak sulfat ada lima
tahap, yaitu:
1. Proses persiapan udara
(Process Air Preparation)
2. Sulfur Trioxide Generation
3. Sulfasi
4. Netaralisasi
5. Perawatan gas lemah (exhaust gas treatment
Proses

1. Process Air Preparation
Proses udara harus benar-benar kering dengan titik
embun (dewpoint) sekitar 50 C, dengan adanya
embun akan terjadi korosif (reaksi ini ditambah gas
SO
3
) dan juga meningkatkan warna produk.
Udara dialirkan ke dalam kompresor besar untuk
sistem pendinginan, di mana suhu yang digunakan
sekitar 3-5 C dan uap-uap dikondensasikan.
Selanjutnya udara dikeluarkan melalui sebuah
dehumdifier (pengering udara), seperti silika gel di
mana sisa-sisa uap terakhir ditahan/disimpan.

2. Sulfur Trioxide Generation
Dalam proses ini, sulfur dengan kemurnian yang tinggi
(99,5%) dilarutkan dalam sebuah tangki dan suhu dijaga
sekitar 145-150 C untuk mempertahankan viskositas
minimum dan nilai konstan.
Sulfur cair dimasukkan ke dalam sulfur burner
(pembakar sulfur) dengan pompa meter khusus dan
kemudian dibakar dengan SO
2
menggunakan udara
kering.
Gas SO
2
cair (6-7%) meninggalkan burner pada suhu 650
C dan didinginkan pada suhu 430 C sebelum
diumpankan ke dalam konverter.
Katalitik konverter dengan tiga sampai empat katalis
vanadium pentoksida mengkonversi SO
2
menjadi SO
3

dengan efisiensi konversi 98%.
Gas SO
3
didinginkan di bawah suhu 60 C, dicairkan
hingga 4% volume, dan dikeluarkan melalui mist
eliminator untuk memindahkan sisa oleum sebelum
diumpankan ke dalam reaktor.

3. Sulfasi
Sulfasi dilakukan di reaktor film multitube
untuk mengontrol keakurasian rasio mol antara
SO
3
dengan umpan organik dalam berbagai pipa.
Umpan di masukkan di bagian atas dan mengalir
ke bawah di samping pipa.
Ketika reaksi berlangsung eksotermis, air dingin
pada aliran kontrol dimasukkan ke dalam jaket
untuk menjaga temperatur pada 45-50 C
maksimum.
Yield reaksi sebesar 97% dapat dicapai. Proses ini

4. Netralisasi
Tingkatan produk dari reaktor harus dinetralisasi segera
dengan hidrolisis hal ini bisa menghindari pengaruh
buruk bagi proses dan kualitas produk.
Proses ini akan lebih berhasil jika langkah ini dilakukan
dua kali terhadap unit netralisasi, dengan pencampuran
multibladed maka dihasilkan campuran yang homogen.
Perlu diperhatikan bahwa netralisasi akan memelihara
sifat-sifat alkali sekecil apapun untuk menjaga kelancaran
dan stabilitas proses.
Konsentrasi rata-rata zat aktif sebesar 72% dapat
digunakan. Konsentrasi yang terlalu tinggi tidak baik
digunakan karena akan menimbulkan kesulitan dalam
proses.
Jika menginginkan sebuah produk kering, maka proses
selanjutnya dengan melewati sebuah
wiped film evaporator.

5. Exhaust gas treatment
Komposisi gas harus dihilangkan dengan meregulasi
lingkungan.
Gas lemah terdiri dari zat-zat organik sisa, SO
3

nonreaksi dan gas SO
2
.
Pertama, kedua kotoran dipindahkan dari
electrostatic presipitator.
Sisa gas SO
2
dipindahkan dari reaksi dengan
menambahkan soda kaustik yang mengalir dengan
arus berlawanan sepanjang scrubbing coloumn.
Konsentrasi gas sisa dalam gas lemah SO
2
dilepaskan
ke dalam atmosfir dengan tekanan
maksimum 5 ppm.

Proses preparation

Udara dialirkan dalam
kompresor besar dengan suhu
3-5
0
C

untuk mencegah korosif pada reactor sebab
embun dapat bereaksi bila ditambah gas SO3,
dan ini juga memekatkan warna produk.
Tujuan
1.
2.
Sulfur Trioxide
Generation
Sulfur dengan
kemurnian 99,5% di
masukkan ke dalam
tangki dan suhu dijaga
sekitar 145-150
0
C.

Menggunakan
katalis Vanadium
Pentoksida yang
merubahSO
2

menjadi SO
3

SO
3
didinginkan dan
diumpankan ke dalam
reaktor
B. Sulfonasi metil ester asam lemak
= Salah satu jenis surfaktan yang banyak diperlukan
di industri, khususnya industri deterjen adalah
surfaktan metil ester sulfonat (MES).
= Keunggulannya dalam menghilangkan sifat
kekerasan air menjadikannya lebih baik daripada
alkohol lemak sulfat.
= Dengan memproduksi MES dari minyak sawit
maka diharapkan kecenderungan penggunaan
bahan baku minyak bumi dapat ditekan.


Mekanisme reaksi terdiri dari dua tahap :
Pada reaksi pertama, gas SO
3
bereaksi cepat dengan
sulfoanhydride.
Langkah kedua (dengan waktu 40-90 menit),
sulfoanhydride berubah menjadi agen sulfonasi yang
bereaksi dengan still-unreacted ester.

R
1
COCH
2
R
3
COCH2
R
2
COCH
O
O
O
+ 3CH
3
OH
HOCH
2
HOCH
2
HOCH
2
+
R
1
C - OCH
3
R
3
C OCH3
R
2
C OCH3
O
O
O
TRIASILGLISEROL METANOL GLISEROL ESTER METIL
Reaksi
Proses Pembuatan

Proses pembuatan surfaktan metil ester sulfonat
anionik dari CPO dilakukan melalui tiga tahap :
1.Tahap pertama berupa proses saponifikasi CPO
dengan larutan NaOH dilanjutkan netralisasi
dengan menghasilkan asam lemak.
2.Tahap kedua berupa proses esterifikasi asam
lemak dengan metanol menghasilkan metil ester.
3.Tahap ketiga adalah sulfonasi metil ester dengan
asam sulfat menjadi metil ester sulfonat, yang
merupakan bahan kimia surfaktan


Tahap Pemucatan (Bleaching)
Untuk mengurangi warna sampai sesuai dengan
spesifikasi, maka harus diukur di dalam sistem
kontinu acid bleaching, di mana dicampurkan
dengan laju alir metanol yang terkontrol dan
hidrogen peroksida sesudahnya. Reaksi
bleaching lalu dilanjutkan dengan metanol reflux
dan pengontrolan temperatur yang presisi.

Tahap Netralisasi
netralisasi untuk mencegah lokalisasi kenaikan
pH dan temperatur yang dapat mengakibatkan
reaksi hidrolisis yang berlebih. Neutralizer
beroperasi secara kontinu, mempertahankan
komposisi dan pH dari pasta secara otomatis
Tahap Pengeringan
Selanjutnya, pasta netral MES dilewatkan ke
dalam sistem TurboTube
TM
Dryer di mana
metanol dan air proses yang berlebih dipisahkan
untuk menghasilkan pasta terkonsentrasi atau
produk granula kering MES, di mana produk ini
tergantung pada berat molekul MES dan target
aplikasi produk. Langkah akhir adalah
merumuskan dan menyiapkan produk MES
dalam komposisi akhir, baik itu dalam bentuk
cair, batangan semi-padat atau granula padat,
dengan menggunakan teknologi yang tepat.


C. Produksi Surfaktan Gliserol Monooleat
Dalam pembuatan surfaktan cair gliserol
monooleat skala komersial yang produk atau
teknologinya teraplikasi di industri pengguna
(industri tekstil) digunakan sistem proses batch.
Pembuatan surfaktan gliserol monooleat
sistem batch dilakukan dalam skala 500 mL pada
kondisi operasi suhu 180 C, waktu 7 jam , tekanan
atmosferik, pengadukan 450 rpm melalui reaksi
esterifikasi antara gliserol dan asam oleat dengan
katalis asam.

Etoksilat
Definisi
Ethoxylation merupakan proses industri di mana etilen oksida
ditambahkan ke alkohol dan fenol untuk memberikan surfaktan.
Surfaktan umum diproduksi oleh etoksilasi termasuk etoksilat
alkohol dan ethoxysulfates alkohol.
Alkohol etoksilat dan Ethoxysulfates Alkohol
Alkohol etoksilat (AE) dan Ethoxysulfates Alkohol (AES) yang
non-ionik surfaktan ditemukan dalam produk seperti deterjen,
pembersih permukaan, kosmetik dan untuk digunakan dalam
pertanian, tekstil dan cat.

Etoksilat merupakan salah satu jenis surfaktan
non-ionik. salah satunya yaitu alkylphenol
etoksilat (APEO).
Alkylphenol etoksilat (APEO) adalah senyawa
nonilfenol (NPEO).
APEO adalah surfaktan non-ionik dengan
tindakan pengemulsi dan menyebar, sehingga
cocok untuk berbagai aplikasi yang sangat besar.
Pada tahap pengolahan approx , 50% dari APEO
digunakan sebagai emulsifier untuk emulsi
polimer berdasarkan Styrol Butadiena, Styrol
Akrilat, Murni Akrilat atau PVC sistem.



Surfaktan non-ionik memilik penggunaan yang
sangat luas karena memiliki sifat pembusaan
yang rendah, memiliki stabilitas kimia yang
tinggi, memiliki daya kelarutan yang sempurna,
dan stabil terhadap perubanah pH lingkungan
serta lembut digunakan pada tangan.

Salah satu jenis surfakatan non-ionik lainya
adalah alkohol etoksilat.

Alkohol etoksilat yaitu surfaktan yang gugus
hidrofiliknya tidak bermuatan.



Secara fisik, alkohol etoksilat berbentuk larutan
yang tidak berwarna, ada yang berupa
pasta(semi padat) dan ada juga yang berbentuk
serbuk (padat). Sifat ini tergantung dari proses
pembuatannya, yaitu pada perbandingan
moloksida yang digunakan.
Alkohol etoksilat dibuat melalui reaksi
etoksilasi suatu alkohol lemak (fatty alcohol).
Etoksilasi adalah proses kimia dimana oksidasi
etilen dimasukkan ke dalam fatty alcohol
dengan tujuan untuk menambah kelarutannya
di dalam air.


Secara umum, reaksi etoksilasi dapat
dilakukan pada suhu 150-160C menggunakan
katalis asam maupun basa dengan waktu yang
kurang lebih selama 2 jam.

Katalis basa yang biasa digunakan adalah
KOH/NaOH 0,5%. Katalis asam yang biasa
digunakan adalah H2SO4 0,5%.

Katalis basa lebih sering digunakan karena
lebih sedikit menghasilkan produk
samping sedangkan katalis asam jarang,
karena lebih banyak menghasilkan produk
samping.

Salah satu jenis alkohol etoksilat yang banyak
digunakan adalah stearil alkohol etoksilat.
Stearil alkohol etoksilat merupakan surfaktan
yang dapat berfungsi sebagai wetting agent,
emulsifier, dan pelembab pada produk personal
care.
Dalam dunia industri, stearil alkhohol banyak
digunakan oleh industri kosmetik, pada
produknya yang berbentuk lotion dan krim.
spesifikasi dari stearil alkohol etoksilat yang
biasa digunakan dalam industri sebagai
emulsifier untuk kosmetik.