Anda di halaman 1dari 22

1.

1 Latar Belakang
Kita menggunakan istilah kalor dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan kita tahu apa yang kita
maksud. Tetapi istilah tersebut tetap digunakan secara tidak konsisten, sehingga perlu bagi kita
untuk mendefinisikan kalor secara jelas, serta menerangkan fenomena dan konsep yang
berhubungan dengan kalor tersebut(Glancoli, 1997).
Kalor adalah energy yang ditransfer karena tinggi ke benda bersuhu rendah, merupakan energy
yang ditransfer dari benda yang panas ke benda yang dingin, maka kalor merupakan energy yang
ditransfer dari suatu benda ke benda yang lain karena perbedaan suhu.
Bila energi panas ditambahkan pada suatu zat, maka temperature zat itu biasanya naik. Jumlah
energy panas Q yang dibutuhkan untuk menaikkan temperature suatu zat adalah sebanding
dengan perubahan temperature dan massa zat itu (Q=C T = mc T) dengan C adalah kapasitas
panas zat, yang didefinisikan sebagai energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur
suatu zat dengan satu derajat. Panas jenis C adalah kapasitas panas persatuan massa(Tipler,
1991).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari adanya praktikum fisika dasar tentang kalor jenis adalah agar praktikan
mengetahui tentang kalor jenis yang ada dalam benda-benda dan dilingkungan sekitar serta
perhitungannya.
Tujuan dari adanya praktikum fisika dasar tentang kalor jenis adalah untuk menentukan
panas jenis mata bahan kalorimeter.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum fisika dasar tentang kalor jenis dilaksanakan pada hari Selasa, 5 Oktober 2010 pukul
07.00-08.40 WIB, di laboratorium IIP(Ilmu-ilmu Perairan), Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, universitas Brawijaya, Malang.
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kalor Jenis
Kalor adalah sesuatu yang dipindahlan diantara sebuah sistem dan sekelilingnya sebagai
akibat dari hanya perbedaan temperatur. Konsep kalor sebagai sebuah zat yang jumlah
seluruhnya tetap konstan akhirnya tidak mendapat dukungan eksperimen(Wiley, 1978).
Karakteristik bahan dalam penyerapan kalor ini dinyatakan dalam besaran kalor jenis.
Kalor jenis suatu bahan didefinisikan sebagai kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg
bahan tersebut sebesar 1 C(Astra, 2006).
Kalor jenis suatu zat adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan atau
melepaskan suhu tiap satu kilogram massa. Sutau zat sebesar 1 C atau satu Kelvin atau dapat
ditulis sebagai kapasitas kalor suatu benda adalah kemampuan suatu benda untuk menerima atau
menurunkan suhu benda sebesar 10 C(Marskip, 2009).
2.2 Pengertian Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat dalam
suatu perubahan atau reaksi kimia. Pada dasarnya, kalor yang dibebaskan atau diserap
menyebabkan perubahan suhu pada calorimeter. Ada 2 tipe calorimeter yaitu calorimeter Bum
dan calorimeter larutan Kalorimeter Bum adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah
kalor(nilai kalori) yang dibebaskan pada pembakaran sempurna suatu senyawa. Contohnya
adalah calorimeter makanan. Kalorimeter larutan adalah alat yang digunakan untuk mengukur
jumlah kalor yang terlibat pada reaksi kimia dalam system larutan(Mubi, 2010).
Prinsip penting yang digunakan dalam calorimeter adalah hokum kekekalan energy.
Hokum ini menyatakan bahwa energy tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan
berubah dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lain(Esomer, 1996).
2.3 Pengertian Termometer
Thermometer adalah system indicator(petunjuk) kesetimbangan termal antara system
yang satu dan yang lain. Suhu yang ditunjuk thermometer adalah suhu tiap system yang dalam
kesetimbangan termal dan kepekaannya(perubahan koordinat keadaan akibat sedikit saja
perubahan suhu dapat tertukar)(Zemanskie, 1962).
Tiap sifat thermometer dapat digunakan untuk menetapkan suatu skala dan membentuk
sebuah thermometer. Thermometer air raksa terdiri dari bola gelas dan pipa yang berisi sejumlah
air raksa tertentu. Temperature diukur dengan membandingkan ujung kolom air raksa dengan
tanda-tanda pada gelas(Tipler, 1991).
2.4 Prinsip kerja Kalorimeter
Menurut Bresnick(2000), prinsip kerja calorimeter didasarkan azas Black :
1. Jika suatu benda yang suhunya berbeda didekatkan satu sama lain maka suhu akhir kedua
benda akan sama.
2. Jumlah kalor yang diterima sama dengan kalor yang diberikan. Kalorimeter tersusun dari
wadah yang terbuat dari logam kalor seperti sterofom.
Usaha peningkatan efektifitas dari alat penukar kalor perlu ditingkatkan karena dengan
meningkatkan efektisitas alat penukar kalor dapat menghemat energy disektor
industry(Zainuddin, 2005).
2.5 Timbangan Digital
Fungsi timbangan digital untuk membantu mengukur berat serta cara kalkulasi fecare otomatis
harganya dengan harga dasar satuan. Banyak kurang terlebihnya cara kerja timbangan digital
hanya bias mengeluarkan label, ada juga yang hanya timbul ditampilkan dilayar
LCDnya(Mansur, 2010).
Selain itu fungsi lain timbangan digital yaitu untuk mengurangi adanya human error, dengan
timbangan digital maka akan didapatkan ketepatan(Jacque, 2010).
2.6 Manfaat di Bidang Perikanan
Menurut Wikipedia(2010) :
- Teknik pendinginan untuk produksi hasil perikanan
- Untuk pengasapan ikan
- Sebagai bahan bakar solar cold strong pada kapal nelayan.
3. METODOLOGI
3.1 Alat dan fungsi
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum fisika dasar tentang calorimeter, antara
lain:
1. Kalorimeter : alat yang digunakan untuk menghitung besar kecilnya kalor jenis pada benda
2. Termometer : untuk mengukur suhu benda
3. Stopwatch : untuk menghitung waktu
4. Ketel uap : untuk memanaskan air
5. Timabangan digital : untuk menimbang massa benda dengan ketelitian 10
-2

6. Pinset : untuk mengambil dan memindahkan bahan (Alumunium dan kaca) dari ketel
uap ke calorimeter
7. Nampan : tempat untuk meletakkan alat dan bahan
3.2 Bahan dan Fungsi
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum fisika dasar tentang calorimeter, antara
lain:
1. Kaca sebagai bahan yang diukur kalor jenisnya
2. Alumunium sebagai bahan yang diukur kalor jenisnya
3. Tisu untuk membersihkan alat-alat
4. Air untuk medium perambatan panas
4. PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur
Langkah pertama disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan yaitu calorimeter yang
berfungsi menghitung besarnya kalor jenis pada benda. Thermometer berfungsi untuk mengukur
perubahan suhu, ketel uap berfungsi untuk memanaskan air, pinset berfungsi untuk mengambil
benda, stopwatch untuk menghitung waktu, timbangan digital untuk menghitung alat dan bahan
dengan ketelitian 10
-2
, serta namapan untuk wadah alat dan bahan. Kemudian langkah kedua,
bahan-bahan disiapkan antara lain tisu untuk membersihkan alat, air untuk medium perambatan
panas, alumunium dan kaca sebagai bahan yang diukur kalor jenisnya.
Langkah berikutnya alumunium ditimbang dengan timbangan digital caranya pertama
disambungkan arus DC, zerokan untuk mendapatkan nilai yang akurat, lalu diletakkan
alumunium diatas timbangan digital dan dicatat hasilnya, begitu dilakukan hal yang sama untuk
kaca. Setelah itu calorimeter diambil, ditimbang dan diisi dengan air seperlima bagian.
Kemudian ketel uap diisi dengan air secukupnya( 5 cm), kaca dan alumunium dimasukkan
sampai terendam. Setelah itu disambungkan ke sumber arus DC, tunggu sampai mendidih.
Setelah itu matikan ketel uap, ambil alumunium diletakkan pada calorimeter. Kemudian diaduk
selama 30 detik, catat hasil suhunya sebagai T2, kemudian aduk kembali selama 30 detik, ukur
suhunya sebagai T3(suhu akhir).
Begitu juga lakukan langkah yang sama pada kaca, ambil dari ketel uap menggunakan
pinset, diletakkan di dalam calorimeter, diaduk selama 30 detik, ukur suhu sebagai T2, diaduk
kembali selama 30 detik, ukur suhu sebagai T3. Setelah semua percobaan selesai dan dicatat
hasilnya. Lalu dibersihkan alat-alat dan dirapikan dalam nampan kembali.
4.2 Analisa Hasil
Dari praktikum fisika dasar tentang kalor jenis, data yang didapat sebagai berikut :
1. Percobaan 1(Alumunium)
No T
1
(C
o
) T
2
(C
o
) T
3
(C
o
)
1. 27
o
28
o
27
o


Diketahui : K= 99,5 ; A= 21,76 ; Al= 0,6
Ditanya : C
Al
?
Jawab : C
Al
= A(T
3
-T
2
)
B(T
1
-T
3
) + K(T
3
-T
2
)
C
Al
= 21,76(27-28)
0,6(27-27)+99,5(27-28)
= 21,76
-99,5
= 0,2187 kal/
o
C
= 218,7 kkal/
o
C
1. Percobaan 2(Kaca)
No T
1
(C
o
) T
2
(C
o
) T
3
(C
o
)
1. 27
o
29
o
28
o


Diketahui : K= 104,63 ; A= 37,97 ; Al=2,52
Ditanya : C
kaca
?
Jawab : C
kaca
= A(T
3
-T
2
)
B(T
1
-T
3
) + K(T
3
-T
2
)
= 37,97(28-29)
2,52(27-28)+104,63(28-29)
= -37,97
-107,15
= 0,354 kal/
o
C
= 354 kkal/
o
C
Dalam praktikum fisika dasar tentang kalor jenis ini, didapat data sebagai berikut :
Alumuniumberat keeping Al=0,6 gram, calorimeter=99,5gram, massa air=21,76
gram, dan
Kaca berat keeping kaca=2,52 gram, calorimeter=104,63gram, massa
air=37,97gram.
Adapun hasil praktikum fisika dasar tentang kalor jenis, didapat kalor jenis Alumunium
sebesar 0,2187 kal/
o
C dan kalor jenis Kaca sebesar 0,354 kal/
o
C.
Dari perbandingan data yang ada terdapat perbedaan antara hasil praktikum dengan
literature. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pengukuran suhu dan factor-faktor
internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi besarnya suhu yang berakibat pada
perhitungan besarnya kalor jenis Alumunium dan kalor jenis Kaca.
5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum kali ini, yaitu :
1. Kalor adalah energy panas yang dimiliki oleh suatu zat
2. Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg zat
sebesar 1 derajat Celcius.
3. Menurut azas Black, apabila ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian disatukan
atau dicampur maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi menuju
benda yang bersuhu rendah.
4. Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk menghitung besar kecilnya kalor jenis
benda.
5. Kalor yang diserap atau yang dilepas pada saat terjadi perubahan wujud benda tidak
menyebabkan perubahan suhu benda.
6. Hasil kalor jenis yang didapat dalam praktikum kali ini yaitu :
Kalor jenis alumunium yang dihasilkan adalah 0,314 kal/g
o
C
Kalor jenis kaca yang dihasilkan adalah 0,308 kal/g
o
C
5.2 Saran
Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum kali ini, kita harus berhati-hati dalam
mengambil ketel uap karena panas. Selain itu terjalinnya kerjasama antara asisten dengan
praktikan harus ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Alyospikel. 2010. Termometer. http://alyoskipel.blogspot.com/2010 diakses tanggal 7 Oktober
Astra, I. dan Setiawan H. 2006. Fisika untuk SMA dan MA kelas10. Piranti Darama Kalokatama:
Jakarta
Crook, J. 2010. Timbangan digital. http://www.articelsnatch.com/Article/Benefits-of-Digital-
Scales/1600726 diakses tanggal 10 Oktober 2010
Glancoli.C, Douglas. 1997. Fisika Jilid1 edisi empat. Erlangga: Jakarta
Kinardi, AK, dkk. 1997. Pelajaran Fisika SMU kelas1. Erlangga: Jakarta
Mansur.2010.htpp://bisnis.tenue.co.id/Artikel-bisnis/4teknologi/33-artikel-
timbangandigitalbzerba.html/ diakses tanggal 7 Oktober 2010
Narskip. 2010. Kalor. http://narskip.blogspot.com/2010 diakses tanggal 7 Oktober 2010
Snps. 2010. Kalor Jenis. www.snps.its.ac.id/ diakses tanggal 7 Oktober 2010
Usu. 2010. Kalor Jenis. http://www.usu.ac.id/artikel/shell.tittle.pdf diakses tanggal 7 Oktober
2010
Wahyu, S. dkk. 2010. Analisis Perpindahan Panas pada Saluran Berliku.Teknik Mesin :
Universitas Brawijaya
Wapedia. 2010. Calorimeter. http://wapedia.mobi/id/2010 diakses 7 Oktober 2010
Wikipedia. 2010. Prinsip Kerja Kalorimeter. http://wikipedia.org/wiki/2010 diakses 7 Oktober
2010
Willey, J., Suns.1978. Fisika jilid1 edisi ketiga. Erlangga: Jakarta
Zainuddin, dkk. 2005. Studi Eksperimental Efektivitas Alat Penukar Kalor Shell and Tube
dengan Memanfaatkan Gas Buang Mesin Diesel sebagai Pemanas Air. Institut Teknologi
Medan(ITM)
1. 2. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Mudahlah bagi kita sekarang menerima gagasan bahwa kalor itu energi. Tidak
demikianlah halnya dua abad yang lampau. Pada waktu itu para cendekiawan masih
mengira bahwa kalor itu suatu zat yang dapat mengalir dan data disimpan oleh benda.
Pendapat ini menerangkan berbagai gejala perpindahan kalor dan penyerapan kalor.
Berdasarkan pengamatannya waktu mengawasi permbuatan meriam, Count Rumford
memperoleh kesimpulan bahwa tidak benar kalor itu zat.
(Sutrisno, 2003).
Anda telah mengetahui bahwa jika gelas berisi air ledeng dicelupkan sebagian
ke dalam bak berisi air panas, air ledeng mengalami kenaikan suhu dan air panas
mengalami penurunan suhu. Ini menunjukkan terjadinya perpindahan energi dari benda
bersuhu tinggi (air panas) ke benda bersuhu rendah (air ledeng). Untuk lebih
meyakinkan, Anda dapat mencelup gelas air ledeng yang sama ke dalam bak berisi air
es. Anda akan amati sekarang air ledeng pengalamai penurunan suhu dan air es
mengalami kenaikan suhu. Uraian tersebut dengan jelas mempertegas kesimpulan
bahwa perpindahan energi secara alami selalu terjadi dari benda bersuhu tinggi ke
benda bersuhu lebih rendah (Kanginan, 2002).
Joseph Black pada tahun 1760 merupakan orang pertama yang menyatakan
perbedaan antara suhu dan kalor. Suhu adalah derajad panasnya atau dinginnya suatu
benda yang diukur oleh termometer, sedangkan kalor adalah suatu yang mengalir dari
benda panas ke benda lebih dingin untuk menyamakan suhunya.
(Marthen, 2002).
2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari paktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis adalah agar praktikan
mengetahui tentang kalor jenis yang dimiliki benda-benda di lingkungan sekitar beserta
perhitungannya.
Tujuan dari praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis adalah untuk
menentukan panas jenis mata bahan kalorimeter.

3. Waktu dan Tempat
Praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis ini dilaksanakan pada hari Rabu
tanggal 13 Oktober 2010 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 14.30 WIB dan
bertempat di Laboratorium IIP (Ilmu-Ilmu Perairan) Gedung C lantai 1 Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Malang.
2. TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Kalor Jenis
Energi yang berpindah disebut kalor. Dengan demikian dapat kita
mendefinisikan kalor sebagai energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih
tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan.
(Marthen, 2002).
Kalor jenis adalah sifat khas suatu benda atau zat yang menunjukkan
kemampuannya untuk menyerap kalor. Zat yang kalor jen isnya tinggi mampu
menyerap lebih banyak kalor untuk kenaikan suhu yang rendah. Zat-zat seperti ini
dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyimpan energi termal (Kanginan, 2002).
Kalor jenis dapat didefinisikan sebagai kalor yang diperlukan untuk menaikkan
suhu 1 kg benda setinggi 1 Kelvin atau 1 derajad celcius.
(Marthen, 2002).
Kalor jenis adalah bilangan yang menujukkan berapa kalori panas yang
diperlukan untuk menaikkan suhu tip satu satuan massa zat dalam satu derajad.
(Irawati, 2008).
Kalor jenis suatu benda adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1
gram benda setinggi 1 derajad celcius. Atau dalam satuan Internasional sering juga
orang mendefinisikan kalor jenis menunjukkan kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan
suhu 1 kg benda setinggi 1 Kelvin (Kamajaya, 2007).

2. Pengertian Kalorimeter
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor. Kalorimeter
umumnya digunakan untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Kalorimeter
menggunakan teknik pencampuran dua zat di dalam suatu wadah (Marthen, 2002).
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi
kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hokum Hess,
perubahan entalpi pembentukan standar, energi ikatan dan secara eksperimen. Proses
dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatic, yaitu tidak ada energi yang lepas atau
masuk dari luar ke dalam kalorimeter (Petrucci, 1987).
3. Pengertian Termometer
Alat untuk mengukur suhu adalah termometer. Telah kita ketahui bahwa
termometer memanfaatkan sifat termometrik zat untuk mengukur suhu. Sifat
termometrik zat adalah sifat fisis zat yang berubah jika dipanaskan, misalnya volume
zat cair, panjang logam, hambatan listrik seutas kawat platina, tekanan gas pada
volume tetap, dan warna pijar kawat (filamen) lampu (Kanginan, 2002).
Suhu merupakan istilah yang dipakai untuk menyatakan panas dingin dari suatu
benda. Misalnya benda panas dikatakan memiliki suhu tinggi dan benda dingin
dikatakan memiliki suhu rendah. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu disebut
termometer (Suwadi, 2008).


4. Prinsip Kerja Kalorimeter
Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu kalorimeter sebesar 1 0C pada
air dengan massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri. Dalam roses ini berlaku asas
Black, yaitu:
q
lepas
= q
terima

q
air panas
= q
air dingin
+ q
kalorimeter

m
1
C (T
p
- T
c
) = m
2
c (T
c
- T
d
) + (T
c
- T
d
)
keterangan:
m
1
= massa air panas
m
2
= massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas kalorimeter
T
p
= suhu air panas
T
c
= suhu air campuran
T
d
= suhu air dingin
(Petrucci, 1987).
Karena kalor jenis bernilai konstan pada suhu yang lebar, kalor jenis benda lain
dapat ditentukan dengan memanfaatkan fakta tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara memanaskan benda tersebut sampai dengan suhu tertentu kemudian benda itu
dicelupkan ke dalam wadah yang suhu dan massanya diketahui. Setelah mencapai
kesetimbangan termal, suhu akhir sistem diukur. Jika seluruh sistem terisolasi dengan
lingkungannya, panas yang dilepaskan benda sama dengan panas yang diterima air
dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri dan wadah yang terisolasi tersebut
dinamakan kalorimeter. Kalorimeter bekerja berdasarkan asas-asas Black (Ruwanto,
2007).

5. Timbangan Digital
Timbangan digital berfungsi untuk membantu mengukur berat serta cara
kalkulasi fecare otomatis harganya dengan harga dasar satuan banyak kurang.
(Mansur, 2010).
Cara kerja timbangan digital hanya bisa mengeluarkan label, ada juga yang
hanya timbul ditampilkan layar LCDnya (Mansur, 2010).

Kita mengenal timbangan digital sebagai alat ukur untuk satuan berat.
Dibandingkan dengan timbangan jaman dulu yang masih menggunakan timbangan
analog atau manual, timbangan digital memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur,
diantaranya timbangan digital lebih akurat, presisi, akuntable (bisa menyimpan hasil
dari setiap penimbangan) (Timbangandigital, 2010).

6. Manfaat di Bidang Perikanan
Menurut Metana (2010), manfaat kalor jenis di bidang perikanan adalah:
a. Teknik refrigerasi
Teknik pendinginan untuk produk hasil perikanan
b. Pemilihan logam untuk pembuatan kapal
c. Pengasapan ikan
Dalam bidang perikanan, kalor jenis bermanfaat pada proses pengeringan ikan.
Prosesnya melalui tahap penguapan air. Tahap ini dilakukan dengan cara menurunkan
kelembaban nisbi udara dengan mengalirkan udara panas di sekeliling bahan, sehingga
uap air bahan lebih besar daripada tekanan uap air bahan ke udara. Faktor utama yang
mempengaruhi kecepatan pengeringan dari suatu bahan pangan adalah sifat fisik dan
sifat kimia bahan. Sifat fisik dan kimia bahan meliputi bentuk, ukuran, kalor jenis,
komposisi dan kadar airnya (Javanesa, 2010).


METODOLOGI

1. Alat dan Fungsi
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
Kalorimeter : untuk mengukur besar-kecilnya kalor jenis pada su-atu benda
Ketel uap : digunakan untuk memanaskan air
Termometer : digunakan untuk mengukur suhu
Stopwatch : digunakan untuk menghitung waktu pada saat pengukuran suhu
Timbangan digital : digunakan untuk menimbang massa benda dengan ketelitian
10
-2
gram
Nampan : sebagai tempat alat dan bahan
Pinset : digunakan untuk memindahkan aluminium dan ka-ca dari ketel uap ke
kalorimeter
Mistar : digunakan untuk mengukur panjang atau tinggi ka-lorimeter

2. Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
Alumunium : sebagai benda yang diukur kalor jenisnya
Kaca : sebagai benda yang diukur kalor jenisnya
Tissue : digunakan untuk membersihkan alat praktikum
Air : sebagai media perambatan kalor


3. Skema Kerja
1. Alumunium

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang kalorimeter kosong tanpa wadah dengan timbangan digital

Diisi kalorimeter dengan air sebanyak 15 bagian dari kalorimeter

Ditimbang alumunium

Dimasukkan air secukupnya ke dalam ketel uap lalu dipanaskan dan dimasukkan
alumunium

Diamati suhu air dalam kalorimeter dengan termometer dan digunakan sebagai T
1


Dimasukkan alumunium panas ke dalam kalorimeter sambil digojog

Dihidupkan stopwatch

Diamati suhu dalam kalorimeter dengan termometer selama 30 detik pertama (T
2
) dan
30 detik kedua (T
3
)

Hasil


2. Kaca

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang kalorimeter kosong tanpa wadah dengan timbangan digital

Diisi kalorimeter dengan air sebanyak 15 bagian dari kalorimeter

Ditimbang kaca

Dimasukkan air secukupnya ke dalam ketel uap lalu dipanaskan dan dimasukkan kaca

Diamati suhu air dalam kalorimeter dengan termometer dan digunakan sebagai T
1


Dimasukkan kaca panas ke dalam kalorimeter sambil digojog

Dihidupkan stopwatch

Diamati suhu dalam kalorimeter dengan termometer selama 30 detik pertama (T
2
) dan
30 detik kedua (T
3
)

Hasil

4. PEMBAHASAN

1. Analisa Prosedur
Sebelum melaksanakan praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis, hal yang
dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Alat yang dibutuhkan
dalam praktikum ini antara lain, kalorimeter yang digunakan untuk mengukur besar
kecilnya kalor jenis suatu benda; ketel uap untuk memanaskan air; termometer yang
berfungsi untuk mengukur suhu; stopwatch digunakan untuk menghitung waktu pada
saat pengukuran suhu; timbangan digital untuk menimbang massa benda dengan
ketelitian 10
-2
gram; pinset untuk mengambil dan memindahkan kaca dan alumunium
dari ketel uap ke kalorimeter; dan nampan sebagai tempat alat dan bahan. Selanjutnya
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kaca dan alumunium, dalam hal ini
digunakan sebagai bahan yang diukur kalor jenisnya; tissue yang digunakan untuk
membersihkan peralatan yang telah digunakan; dan air sebagai media perambatan
kalor.
Setelah alat dan bahan siap, langkah pertama adalah menimbang massa
kalorimeter kosong menggunakan timbangan digital matter dan catat hasilnya.
Kemudian kalorimeter diisi dengan air sebanyak 15 bagian dan ditimbang massa
kalorimeter dengan air dengan timbangan yang sama dan dicatat hasilnya. Setelah itu
alumunium ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam ketel uap dan dipanaskan. Kemudian
diukur suhu air dalam kalorimeter untuk digunakan sebagai T
1
. Diambil alumunium
dengan pinset dan dipindahkan ke dalam kalorimeter dan dinyalakan stopwatch serta
air dalam kalorimeter digojog-gojog. Setelah 30 detik pertama, amati perubahan suhu
dalam kalorimeter dan gunakan sebagai T
2
. Setelah 30 detik kedua, amati perubahan
suhunya untuk T
3
dan catat hasilnya.
Pada kaca prosedurnya sama, langkah pertama adalah menimbang massa
kalorimeter kosong menggunakan timbangan digital matter dan catat hasilnya.
Kemudian kalorimeter diisi dengan air sebanyak 15 bagian dan ditimbang massa
kalorimeter dengan air dengan timbangan yang sama dan dicatat hasilnya. Setelah itu
kaca ditimbang, lalu dimasukkan ke dalam ketel uap dan dipanaskan. Kemudian diukur
suhu air dalam kalorimeter untuk digunakan sebagai T
1
. Diambil kaca dengan pinset
dan dipindahkan ke dalam kalorimeter dan dinyalakan stopwatch serta air dalam
kalorimeter digojog-gojog. Setelah 30 detik pertama, amati perubahan suhu dalam
kalorimeter dan gunakan sebagai T
2
. Setelah 30 detik kedua, amati perubahan suhunya
untuk T
3
dan catat hasilnya.

2. Analisa Hasil
Dari praktikum Fisika Dasar tentang kalor jenis didapatkan hasil bahwa:
Alumunium

No T
1
(
0
C) T
2
(
0
C) T
3
(
0
C)
1 27 29 28,5


Diketahui :
o Berat Kalorimeter Kosong (k) : 96,26 gr
o Berat Kalorimeter + Air : 148,87 gr
o Berat Air : 52,61 gr
o Berat Alumunium : 0,61 gr
Ditanya : C
alumunium
. . . ?
Jawab : C
alumunium
= A (T3- T2)B T1- T3+ k ( T3- T2 )
= 52,61 28,5 27 0,61 27 28,5 + 96,26 28,5 27
= - 26,305- 0,915 + -48,17
= - 26,305- 49,45
= 0,536 kal/gr
0
C
Jadi kalor jenis alumunium adalah 0,536 kal/gr
0
C
Kaca
No T
1
(
0
C) T
2
(
0
C) T
3
(
0
C)
1 27 28 27

Diketahui :
o Berat Kalorimeter Kosong (k) : 67 gr
o Berat Kalorimeter + Air : 154,7 gr
o Berat Air : 87,7 gr
o Berat Kaca : 3,2 gr
Ditanya : C
kaca
. . . ?
Jawab : C
kaca
= A (T3- T2)B T1- T3+ k ( T3- T2 )
= 87 27 28 3,2 27 27 + 67 27 28
= - 87,7- 67
= 1,3 kal/gram
0
C
Jadi kalor jenis kaca adalah 1,3 kal/gram
0
C.
Dari hasil praktikum dan analisa hasil, didapatkan bahwa kalor jenis alumunium
adalah 0,53 kal/gr
0
C dan kalor jenis kaca adalah 1,3 kal/gr
0
C.

Jenis Benda
Kalor Jenis (c)
J/kg C
0
kkal/kg C
0

Air 4180 1,00
Alkohol (ethyl) 2400 0,57
Es 2100 0,50
Kayu 1700 0,40
Alumunium 900 0,22
Marmer 860 0,20
Kaca 840 0,20
Besi / baja 450 0,11
Tembaga 390 0,093
Perak 230 0,056
Raksa 140 0,034
Timah hitam 130 0,031
Emas 126 0,030

(Gurumuda, 2009)
Dari analisa hasil yang telah didapatkan, kalor jenis kaca dan alumunium
berbeda dengan literatur, hal ini disebabkan karena kalor yang hilang pada alumunium
dan kaca yang dipanaskan. Terdapat perbedaan antara literatur dan hasil praktikum
karena perbedaan pengukuran suhu dan faktor-faktor eksternal maupun internal yang
dapat mempengaruhi besarnya suhu yang berakibat pada perhitungan besarnya kalor
jenis kaca dan alumunium.

5. PENUTUP

1. Kesimpulan
Dari praktikum yang dilaksanakan, dapat disimpulkan:
a. Kalor jenis adalah bilangan yang menunjukkan berapa kalori yang dibutuhkan
untuk menaikkan suhu 1 gram benda.
b. Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang
terlibat pada reaksi kimia dalam sistem larutan.
c. Termometer adalah suatu benda yang memiliki suhu sehingga setiap suhu dapat
dinyatakan dalam suatu bilangan tertentu.
d. Timbangan digital adalah suatu alat yang digunakan untuk menimbang alat dan
bahan dengan ketelitian 10
-2
gram
e. Kalor jenis dapat dihitung dengan menggunakan rumus
C
g
= A (T3- T2)B T1- T3+ k ( T3- T2 )
f. Kalor jenis alumunium yang dihasilkan adalah 0,536 kal/gr
0
C.
g. Kalor jenis kaca yang dihasilkan adalah 1,3 kal/gr
0
C.

2. Saran
Dari praktikum Fisika Dasar tentang Kalor Jenis disarankan agar praktikan
sebelum praktikum sebaiknya memahami konsep terlebih dahulu sehingga praktikum
dapat berjalan dengan lancar, dan untuk asisten praktikum hendaknya mendampingi
praktikan selama berlangsungnya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. http://www.google.image.com/ diakses pada hari Minggu, tanggal 17 Oktober 2010,
pukul 11.00 WIB
Google Image. 2010. http://image.google.co.id/ diakses pada hari Minggu, tanggal 17 Oktober 2010,
pukul 11.00 WIB
Gurumuda. 2009. http://gurumuda.com/kalorjenis-kapasitas-kalor diakses pada tanggal 17 Oktober 2010,
pukul 11.00 WIB
Helman. 1991. Fisika Umum. Jakarta: Erlangga
Irawati, Ani. 2008. Fisika. Surabaya: Cipta Sikan Kentjana
Kamajaya. 2007. Cerdas Belajar Fisika. Bandung: Grafindo
Javanesa, Putra. 2010. Kalor Jenis. http://triosetyawan.blogspot.com/2010/kalor-jenis.htm diakses pada hari
Minggu, tanggal 17 Oktober 2010, pukul 11.00 WIB
Kanginan, Marthen. 2002. Fisika. Jakarta: Erlangga
Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2 Edisi 4. Jakarta:
Erlangga
Susilo. 2010. Termodinamika. Malang: Universitas Brawijaya
Sutrisno. Fisika Dasar Listrik: Magnet dan Termodinamika. Bandung: ITB
Suwadi. 2008. Fisika. Surabaya: Cipta Sikan Kentjana
Wikipedia. 2010. http://id.wikipedia.com/termometer diakses pada hari Kamis, tanggal 14 Oktober 2010,
pukul 10.00 WIB
Zemansky, Mark W. 1962. Fisika Untuk Universitas 2. Jakarta: Yayasan Dana Buku Indonesia