Anda di halaman 1dari 26

SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pengukuran Poligon
Poligon merupakan serangkaian garis berurutan yang panjang dan arahnya
telah ditentukan dari pengukuran di lapangan. Sedangkan metode poligon adalah
salah satu cara penentuan posisi horizontal banyak titik dimana titik satu dengan
lainnya dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga
membentuk rangkaian titik-titik. (Rahayuningsih, Titi : 2012)
Dengan demikian pengukuran poligon ini dapat digunakan sebagai kerangka kontrol
peta pengukuran sudut dan jarak antar titik-titik poligon.
Pengukuran poligon merupakan salah satu cara penentuan posisi horizontal
banyak titik dimana titik satu dengan yang lainnya dihubungkan satu sama lain
dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titik.
(Hamdani, Adi)
Penentuan titik dengan cara poligon ini sangat fleksibel karena prosedur
pengukurannya dapat dipilih menurut kehendak kita yang disesuaikan dengan daerah
atau lokasi pengukuran untuk mempermudah pelaksanaan pengukuran.
Ada dua bentuk dasar polygon (PDF, Bahan Ajar Jadi) :
1. Poligon tertutup merupakan poligon yang titik awal dan akhirnya menjadi satu,
poligon semacam ini merupakan poligon yang paling disukai dilapangan karena
tidak membutuhkan titik ikat yang banyak yang memang sulit didapatkan
dilapangan, namun hasil ukurannya cukup terkontrol. Karena bentuknya yang
tertutup maka akan membentuk segi banyak atau segi n (n adalah banyaknya titik
poligon). Oleh karena itu syarat syarat geometris dari poligon tertutup adalah :

Gambar Poligon Tertutup
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

1. Syarat sudut
= (n-2)*180, apabila sudut dalam,
= (n+2)*180, apabila sudut luar.
2. Syarat absis
d sin = 0
d cos = 0
Adapun prosedur perhitungannya sama dengan prosedur perhitungan
pada poligon terikat sempurna.

2. Poligon terbuka merupakan poligon dengan titik awal dan titik akhir tidak
berhimpit pada titik yang sama.
Poligon ini dibedakan lagi menjadi :
- Poligon terbuka terikat sempurna
Poligon terbuka terikat sempurna, adalah dimana kedua ujung poligon
diawali dan diakhiri pada titik tetap serta azimuth awal dan azimuth akhir telah
diketahui secara pasti. Poligon terbuka terikat sempurna merupakan poligon
terbaik karena adanya kontrol koordinat.


Gambar Poligon Terbuka Terikat Sempurna







SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

- Poligon terbuka terikat sepihak
Poligon terbuka terikat sepihak adalah poligon yang satu ujungnya (
awal atau akhir ) terikat pada koordinata titik tetap atau terikat pada sudut
jurusan ( azimut ).


Gambar Poligon Terbuka Terikat Sepihak

Keterangan gambar :

12
: azimut awal sisi poligon

1
,
2
,
3
,.. : sudut-sudut poligon yang diukur
d
12
, d
23
, d
34
,.. : panjang sisi poligon yang diukur
A : titik tetap yang diketahui koordinatnya

Poligon tersebut sering dipakai pada pengukuran dengan cabang atau
rasi yang terikat pada poligon utama. Poligon tersebut dihitung dengan
orientasi lokal, tidak ada koreksi sudut dan koreksi koordinat.
Perhitungan koordinat titik poligon :

X
2
= X
1
+ d
12
Sin
12

Y
2
= Y
1
+ d
12
Cos
12

Demikian pula untuk perhitungan koordinat titik-titik yang lain,
dengan cara dan prinsip yang sama seperti di atas.



SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

- Poligon terbuka lepas
Poligon terbuka tanpa ikatan adalah poligon yang diukur dengan tidak
diketahui koordinat titik tetap dan tidak diketahui pula azimut pada salah satu
sisi poligon tersebut.


Gambar Poligon Terbuka Lepas

Keterangan gambar :
d
1
, d
2
, d
3
,.. : panjang sisi-sisi poligon yang diukur

1
,
2
,
3
,.. : sudut-sudut poligon yang diukur

Poligon tersebut dihitung dengan orientasi sembarang dan koordinat
lokal ( sembarang ). Tidak ada koreksi sudut dan koordinat.
Perhitungan koordinat titik poligon :
X
2
= X
1
+ d
12
Sin
12

Y
2
= Y
1
+ d
12
Cos
12

2.2 Pengukuran Waterpass
2.2.1 Pengukuran Waterpass Memanjang

Pengukuran sipat datar/waterpass memanjang adalah suatu metode
pengukuran untuk menentukan beda tinggi antara dua buah titik di permukaan bumi
yang letaknya berjauhan, atau dengan kata lain untuk mendapatkan ketinggian titik-
titik utama yang telah diorientasikan di permukaan bumi dengan membagi jarak
antara titik secara berantai atau menjadi slag-slag yang kecil secara memanjang yang
ditempuh dalam satu hari pergi-pulang.
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran sipat datar/waterpass
memanjang, antara lain:
1. Menghilangkan kesalahan nol skala rambu yaitu dengan menentukan slag genap
dalam satu seksi pengukuran beda tinggi (pengukuran pergi-pulang).
2. Kalibrasi alat sebelum melakukan pengukuran.
3. Usahakan jarak dari alat ke rambu belakang sama dengan dari alat ke rambu
muka, untuk mengantisipasi adanya garis bidik tidak sejajar garis arah nivo.
4. Gunakan nivo rambu agar rambu ukur benar-benar tegak.


Gambar Sipat Datar
Keterangan gambar :
B : Bacaan benang tengah rambu belakang
M : Bacaan benang tengah rambu muka
A,1,2,B : Titik tempat rambu didirikan
1 slag : 1 kali berdiri alat

Rumus perhitungan yang berlaku pada pengukuran waterpass memanjang adalah:
Beda tinggi (Ah) = bt
(belakang)
bt
(muka)

Elevasi (H

) = H
awal
+ Ah
n

Keterangan rumus :
Ah : beda tinggi antara dua titik
bt
(belakang)
: bacaan benang tengah rambu belakang
bt
(muka)
: bacaan benang tengah rambu muka
H
n
: elevasi titik n
H
awal
: elevasi awal
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

2.2.2 Pengukuran Waterpass Profil
Pengukuran sipat datar/waterpass profil ini merupakan pengukuran beda tinggi
untuk menggambarkan irisan vertikal dan elevasi pada jalur pengukuran.
Tujuan dari pengukuran ini dalam aplikasinya yaitu untuk mengukur titik yang
menandai perubahan arah, seperti kemiringan permukaan tanah, titik-titik genting
seperti jalan, jembatan, dan gorong-gorong. Berdasarkan metode pengukurannya sipat
datar/waterpass profil dibedakan menjadi 2,
yaitu :

1. Pengukuran Waterpass Profil Memanjang
Tujuan pengukuran dengan menggunakan metode sipat datar/waterpass profil
memanjang adalah untuk mendapatkan detail dari suatu penampang/irisan tegak
pada arah memanjang sesuai dengan sumbu proyek.
Dalam pengukuran waterpass profil memanjang ini, data-data yang diukur adalah
bacaan rambu muka, rambu tengah dan rambu belakang.


Gambar Pengukuran Sipat Datar

Keterangan gambar :
A, A
1
, A
2
, : Titik-titik patok sepanjang jalur polygon (center line)
I, II : Tempat berdiri alat di luar jalur pengukuran
rb : Rambu belakang
rt : Rambu tengah
rm : Rambu muka

SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Rumus perhitungan yang berlaku untuk pengukuran sipat datar profil memanjang
adalah :
Beda tinggi (Ah) = bt
(belakang)
bt
(muka)
Elevasi ( H ) = H
(awal)
+ Ah
Jarak ( d ) = ( ba bb ) * 100
Keterangan rumus :
Ah : beda tinggi
H : elevasi
d : jarak
bt : bacaan benang tengah
ba : bacaan benang atas
bb : bacaan benang bawah

2. Pengukuran Waterpass Profil Melintang
Tujuan dari pengukuran sipat datar profil melintang adalah untuk menentukan
elevasi titik-titik dengan bantuan tinggi garis bidik yang diketahui dari keadaan
beda tinggi tanah yang tegak lurus di suatu titik tertentu terhadap garis rencana
(sumbu proyek) yang didapat dari hasil pengukuran sipat datar profil memanjang.
Profil melintang dibuat tegak lurus dengan sumbu proyek dan pada tempat-tempat
penting. Jarak antara profil melintang pada garis proyek melengkung atau
belokan, maka jaraknya dibuat lebih rapat daripada jarak terhadap garis proyek
yang lurus. Profil melintang harus dibuat di titik awal dan akhir garis proyek
melengkung, dan untuk profil ke kiri dan ke kanannya dibuat lebih panjang dari
profil yang lain.


Gambar Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1


Keterangan gambar :
A : Titik-titikpatok pada jalur poligon
1, 2, 3,. : Titik-titik profil melintang di sebelah kiri sumbu proyek
a, b, c,.. : Titik-titik profil melintang di sebelah kanan sumbu proyek

Rumus perhitungan yang berlaku untuk pengukuran waterpass profil melintang
adalah:
Beda tinggi (Ah
n
) = TI - bt
n
Elevasi (H
n
) = H
awal
+ Ah
n


Keterangan rumus :
Ah
n
: beda tinggi titik ke-n
H
n
: elevasi titik ke-n
TI : tinggi instrumen
bt
n
: bacaan benang tengah rambu ukur
H
awal
: elevasi awal













SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

2.3 Lengkungan (Kurva)
Pemanfatan garis lengkung (kurva) di lapangan sering kali dijumpai pada
proyek-proyek pembangunan jalan raya, jalan baja (rel kereta api), saluran irigasi,
perencanaan jalur pipa dan lain-lain.
Garis tersebut digunakan untuk menghubungkan dua arah atau dua garis lurus
yang saling berpotongan agar perpindahan dari arah yang satu ke arah yang lainnya
diharapkan sama. Untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi ini terdapat dua jenis
lengkungan yang memiliki dasar penyelesaian dan penyelenggaraan yang berbeda
yaitu : kurva vertikal dan kurva horizontal.
Kurva horizontal berkaitan dengan belokan maupun saluran yang memakai
bidang lengkung sebagai basis penyelenggaraan, sedangkan untuk kurva vertikal
berkaitan dengan daerah yang menanjak ataupun menurun.

2.3.1 Kurva Horizontal
Alinyemen horizontal pada dasarnya merupakan proyeksi sumbu jalan pada
bidang horizontal atau dapat disebut juga dengan SITUASI JALAN atau TRASE
JALAN. Alinemen horizontal terdiri dari garis lurus yang dihubungkan dengan garis
lengkung. Garis lengkung tersebut dapat terdiri dari busur lingkaran ditambah busur
peralihan, busur peralihan atau busur lingkaran saja. Yang dimaksud dengan lengkung
/ busur peralihan disini adalah lengkung yang digunakan untuk mengadakan peralihan
dari badan jalan yang lurus kebagian jalan yang mempunyai jari-jari lengkung dengan
miring tikungan tertentu.












SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Ada 3 macam kurva alinemen horizontal yaitu:
1. Lengkung Full Circle ( FC )
Jenis tikungan yang hanya terdiri dari bagian satu lingkaran.
Digunakan untuk R yang terbesar agar tidak terjadi patahan.


Gambar Lengkung FC

Keterangan Gambar ;
TC : Titik peralihan dari bentuk tangen ( bagian lurus dari jalan ) ke
bentuk busur lingkaran
TS : Titik peralihan dari bentuk lingkaran ( Circle ) ke tangen
T : Jarak tangen
R : Jari Jari lengkung Circle
: Sudut tikungan
L : Panjang Busur
PI : Titik perpotongan TC dan CT

Penggunaan Rumus



Rmin merupakan jari jari lengkung ( Tikungan ) yang di dapat dari perhitungan
berikut :
Rmin=





SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

R
min
dapat juga di tentukan dengan menggunakan tabel berikut ;

Kecepatan rencana
(km/jam)
120 100 80 60 50 40 30 20
R
min
(m) 2500 1500 900 500 350 250 130 60

Tabel Panjang jari jari minimum

Rumus Perhitungan Panjang Busur ( L )
L =

A
180
. 2 . R t


2. Lengkung SPIRAL-CIRCLE-SPIRAL ( S-C-S )
Lengkung ini digunakan bila persyaratan / batasan untuk Full Circle tidak
dapat dipenuhi. Persyaratan untuk S-C-S adalah R
rencana
< R
min
(yang terdapat
pada tabel 1)

Gambar Lengkung S-C-S

Ls ditentukan dari 3 rumus dibawah ini dan diambil nilai yang terbesar:
1. Berdasarkan waktu tempuh maksimum di lengkung peralihan
Ls = T
V
R
6 . 3

Dimana:
T = Waktu tempuh pada lengkung peralihan, ditetapkan 3 detik
V
R
= Kecepatan rencana (km/jam)


SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

2. Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal
Ls =
C
e
R
V
R
R
V
C
727 . 2 022 . 0
3

Dimana:
e = Superelevasi
C = Perubahan percepatan, diambil 1-3 m/det
2
,
British Standard C = 0.3 - 0.6 m/det3. Untuk peralihan ralia /
road yaitu C = 1 m/det3
Ls = (0.0702V
3
)/(R.C)

3. Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian
Ls =
) (
C
R n m
R
V e e
6 . 3
.

Dimana:
V
R
= Kecepatan rencana (km/jam)
V
R
70 km/jam, r
e max
= 0.035 m/m/detik
V
R
80 km/jam, r
e max
= 0.025 m/m/detik
e
m
= Superelevasi maksimium
e
n
= Superelevasi normal
r
e
= Tingkat perubahan kemiringan melintang
jalan (m/m/detik)

4. Berdasarkan perbedaan slope memanjang 1/20 (antara TS SC untuk 2
lajur lalu lintas)
LS 200 D . e
Dimana:
D = Lebar lalu lintas (m)
e = Superelevasi

SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Rumus-rumus lain yang digunakan adalah:
Nilai p* dan k* didapat dari tabel JOSEP BARNETT
1. u s =
Rc
Ls
-
-
t
90

2. u c = s u 2 A
3. Lc =
( )
180
Rc - -t u
; Lc 20 m
4. L = Lc + 2 Ls
5. Xc = Ls
|
|
.
|

\
|

2
2
40
1
Rc
Ls
; Yc =
Rc
Ls
- 6
2

6. p = ) cos 1 ( s Rc Yc u ; p < 1 m
7. k = s Rc xc u sin

p dan k bias dicari dengan Tabel J. Barnett
untuk setiap s u akan diperoleh nilai p* dan k*

8. p = p * Ls
9. k = k * Ls
10. Es = Rc
p Rc

A
+
) 2 / (cos
) (

11. Ts = k tg p Rc +
A
+
2
) (
Station ( Sta ) titik kritis :
Sta. TS = Sta. PI Ts
Sta. SC = Sta. TS Ls
Sta. CS = Sta. SC Lc
Sta. ST = Sta. CS Ls
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Dimana :
TS =Titik perubahan dari jalan lurus ke lengkung peralihan (spiral)
SC = Titik perubahan dari lengkung peralihan (spiral) ke circle
CS = Titik perubahan dari circle ke lengkung peralihan
ST = Titik perubahan dari lengkung peralihan ke jalan lurus
L = Panjang lintasan dari TS ke ST
Ls = Panjang spiral dari TS ke SC atau dari CS ke ST
Lc = Panjang busur lintasan dari SC ke CS
R = Jari-jari lengkung lingkaran
s u

= Sudut antara garis singgung dititik SC dan garis singgung di
Titik PG
A

= Total sudut tikungan dari PC ke PT
c u

= Sudut tikungan untuk bagian circle saja
Tt = Panjang tangen total dari TS ke PI
Es = Jarak dari PI ke lengkung lingkaran
x = Absis setiap titik pada spiral terhadap TS dan tangen
y = Ordinat setiap titik pada spiral terhadap TS dan tangen
p = Pergeseran busur lingkaran terhadap tangen
k = Jarak antara Ts dan titik dari busur lingkaran yang tergeser
TPc = Short Tangen dari spiral
Tpa = Long tangen dari spiral
Tbs = jarak lurus dari CS ke ST












SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

3. Lengkung Spiral Spiral ( S S )

Gambar Lengkung S-S

Pada lengkung ini titik SC berhimpit dengan titik CS, jadi Lc = 0 dan
rumus yang dipakai sama dengan pada S-C-S.
Syarat : R
rencana
< R
min

Rumus :
- s u = A
2
1

- P = ) cos 1 ( s Rc Tc u
P < 1 m
- k = s Rc Xc u sin
- Ls =
90
) ( Rc - -t u

Kontrol Ls > Ls
min

- Es = R
p Rc

A
+
2
1
cos
) (

- L = 2 * Ls
- Xc = )
40
1 (
2
2
|
|
.
|

\
|

Rc
Ls
Ls
- Yc =
Rc
Ls
6
2

Ts = k tg p Rc + A +
2
1
) (


SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Kriteria Pemilihan Lengkung.
Pemilihan lengkung / tikungan di dasari pada nilai R
min
, nilai R
min
yang
digunakan pada penyelesain tugas ini adalah ketetapan dari standar perencanaan
Bina Marga.
- R
min
> 500 m, Perencanaan Lengkung FC ( Full Circle ) bisa digunakan
- R
min
< 500 m, Perencanaan Lengkung bisa menggunakan SCS atau SS

Digunakan SCS jika,
- LS > 20 m

Digunakan SS bila
- LS < 20 m

Bagan Alir Pemilihan Lengkung / Tikungan

Bagan Alir Pemilihan Lengkung






SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Dasar dari lengkung horizontal ini adalah perpotongan pada lingkaran.
Di beberapa tempat desain sebuah lengkungan dinyatakan oleh Panjang Tangen.
Namun lengkungan juga dapat di desain melalui derajat kelengkungan yang
dinyatakan, sehingga jumlah derajat yang berada di pusat lingkaran sesuai dengan
panjang busur yang bersangkutan.

Kurva horizontal tersebut dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu :
1) Kurva Sederhana
2) Kurva Majemuk
3) Kurva Bertolak Belakang
4) Kurva Spiral


Gambar Kurva Horizontal

Keterangan gambar :
I : titik perpotongan ( intersection )
u : sudut defleksi ( sudut perpotongan )
R : jari-jari kurva
T : titik tangen awal kurva
T
1
: titik tangen akhir kurva
IT dan IT1 : panjang tangen antara titik T terhadap titik I dan antara titik T1
terhadap titik I
TT
1
: panjang kurva / lengkungan ( melalui titik V )
TT
1
: panjang tali busur ( melalui titik C )
AI dan IB : jarak rantai antara titik A terhadap titik I dan antara titik B terhadap
titik I
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Rumus yang digunakan untuk perhitungan pada kurva / lengkungan horizontal
(Sumber: Carl F. Meyer dan David W. Gibson, 1984, Survey dan Perencanaan Lintas
Jalur Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta) adalah :
Panjang tangen IT dan IT
1
:
( dengan memperhatikan segitiga ITO ! )
[ IT / R ] = [ tan u / 2 ] IT = R * tan [ u / 2 ]
( panjang tangen IT
1
sama dengan panjang tangen IT )

Panjang kurva TT
1
:
TT
1
= R * u radian TT
1
= 2 t R * [ u / 360 ]
o

Panjang tali busur TT
1
:
[ TC / R ] = sin [ u / 2 ] TC = R * sin [ u / 2 ]
( karena jarak TC sama dengan jarak CT
1
, maka panjang TT
1
= 2 [ TC ] )
TT
1
= 2 R * sin [ u / 2 ]

Panjang tembereng CV ( major offset CV ) :
( dengan memperhatikan segitiga TCO ! )
[ CO / R ] = cos [ u / 2 ] CO = R * cos [ u / 2 ]
CV = R OC
CV = R - R * cos [ u / 2 ]
CV = R ( 1 - cos [ u / 2 ] )

Jarak eksternal VI ( external distance VI ) :
( dengan memperhatikan segitiga ITO ! )
[ IO / R ] = sec [ u / 2 ] IO = R * sec [ u / 2 ]
VI = IO R
VI = R * sec [ u / 2 ] R
VI = R ( sec [ u / 2 ] 1 )




SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Teori Diagram Superelevasi
Diagram superelevasi menggambarkan pencapaian superelevasi dari lereng
normal ke superelevasi penuh, sehingga dengan mempergunakan diagram
superelevasi dapat ditentukan bentuk penampang melintang pada setiap titik
disuatu lengkung horizontal yang direncanakan.
Diagram superelevasi digambar berdasarkan elevasi sumbu jalan sebagai
garis nol. Elevasi tepi perkerasan diberi tanda positif atau negatif ditinjau dari
sumbu jalan. Tanda positif untuk elevasi tepi perkerasan yang terletak lebih tinggi
dari sumbu jalan dan tanda negatif untuk elevasi tepi perkerasan yang terletak
lebih rendah dari sumbu jalan. Untuk jalan raya dengan medium (jalan raya
terpisah) cara pencapaian kemiringan tergantung dari lebar serta bentuk
penampang melintang median yang bersangkutan dan dapat dilakukan dengan
salah satu dari ketiga cara berikut :
1. Masing-masing perkerasan diputar sendiri-sendiri dengan sumbu masing-
masing jalur jalan sebagai sumbu putar.
2. Kedua perkerasan masing-masing diputar sendiri-sendiri dengan sisi-sisi
median dengan sumbu putar, sedang median dibuat dengan sumbu tetap dalam
keadaan datar.
Seluruh jalan termasuk median diputar dalam satu bidang yang sama,
sumbu putar adalah sumbu median.

Pencapaian superelevasi :
1) Superelevasi dicapai secara bertahap dari kemiringan normal pada bagian
jalan yang lurus sampai lemiringan yang penuh (superelevasi) pada bagian
lengkung.
2) Pada tikungan S-C-S, pencapaian superelevasi dilakukan secara linier (diawali
dari bentuk normal ke awal lengkung peralihan pada bagian lurus jalan dan
dilanjutkan sampai lengkung penuh pada akhir lengkung peralihan).
3) Pada tikungan FC pencapaian superelevasi dilakukan secara linier (diawali
dari bagian lurus sepanjang Ls
3
2
sampai dengan bagian lingkaran penuh
sepanjang Ls
3
1
)
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

2.3.2 Kurva Vertikal
Pada dasarnya kurva vertikal digunakan untuk menentukan ketinggian /
kemiringan baik ke atas maupun ke bawah dari permukaan tanah. Fungsi lengkungan
vertikal ini adalah untuk menghubungkan dua arah vertikal atau garis gradien agar
diperoleh perubahan yang smooth (tidak terlalu drastis). Bila kedua gradien
membentuk bukit, maka dinamakan lengkungan puncak (lengkungan/kurva cembung),
sedangkan bila gradien membentuk lembah maka dihasilkan lengkungan lembah
(lengkungan/kurva cekung).
Karena perubahan gradien dari lereng ke lengkungan diharuskan mulus dan
berangsur-angsur, maka dipilihlah kurva parabola sebagai bentuk geometri dari
lengkung vertikal ini. Bentuk kurva ini datar di dekat titik-titik singgung. Busur
parabola dapat menyesuaikan perubahan yang bertahap dalam jurusan dan elevasi
sepanjang busur kurva. Kurva vertikal merupakan kurva parabolik pada suatu bidang
vertikal yang digunakan untuk menghubungkan dua garis gradien yang berbeda secara
numerik.
Bentuk persamaan kurva parabola ini adalah y = ax
2
+ bx + c dengan y adalah
tinggi kurva di atas atau di bawah titik singgung pertama dan pada jarak x darinya,
sedangkan x merupakan jarak yang bervariasi dan menyatakan jarak mendatar dari
kedua titik singgung.


Gambar Kurva Vertikal





SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

1

Keterangan gambar :
T : Titik tangen awal
T
1
: Titik tangen akhir
I : Titik perpotongan antara jarak titik T dengan titik T
1

VC : Ketinggian lengkungan
IV : Koreksi kemiringan
q
1
,q
2
: Gradien / kemiringan
L : Jarak
Gradien atau kemiringan dari permukaan tanah dapat dinyatakan dalam bentuk
persentase (%) maupun dalam bentuk perbandingan (1 : n).
Untuk tanjakan umumnya dinyatakan dengan perbandingan dalam prosentase
kemiringan, misalnya suatu tanjakan 1 : 50 adalah tanjakan dengan kenaikan 2 %.
Artinya tanjakan itu naik atau turun 2 satuan untuk setiap 100 satuan, tanda (+)
menyatakan naik dan tanda (-) menyatakan turun.
Rumus yang digunakan untuk perhitungan pada kurva vertikal (Carl F. Meyer dan
David W. Gibson : 1984) adalah:
- Harga kemiringan / gradien antara dua titik (%)
q
1
= % 100 *
2
1
L
H H
awal tengah


q
2
= % 100 *
2
1
L
H H
awal akhir


x =
L
q q
* 2
1 2



Keterangan rumus :
q
1,
q
2
: harga kemiringan
H
tengah
: elevasi tengah
H
awal
: elevasi awal
L : jarak

- Elevasi titik perencanaan
Hn = Hawal + (q
1
*n) + (x*n
2
)
Keterangan rumus :
Hn

: elevasi ke-n
H
awal
: elevasi awal
q
1
: harga kemiringan

SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

24

2.4 Staking Out
Staking out adalah suatu cara yag digunakan untuk menentukan route dari
sebuah perencanaan jalan, atau untuk menentukan kembali rencana gambar di
lapangan. Yang dimaksud dengan route umumnya adalah suatu lintasan-lintasan
seperti lintaesan jalan raya dan kereta api. Bangunan-bangunan linier seperti sungai,
saluran untuk pengairan, saluran pembuangan. Termasuk pula lintasan jalur transmisi
listrik.
Staking out dilaksanakan dengan pemasangan patok-patok di lapangan yang
telah ditentukan rencana jalan ataupun posisi daripada rencana bangunan dari titik-
titik poligon yang telah diukur pada saat pengukuran. Pelaksanaan staking out poligon
untuk menentukan titik-titik planimetris yaitu posisi x dan y.
Adapun metode-metode yang digunakan untuk penentuan staking out adalah
sebagai berikut:
2.4.1 Metode Panjang Busur

Gambar Sraking Out Dengan Panjang Busur Yang Sama

Dari gambar di atas dapat disusun persamaan sebagai berikut :
- Titik 1 : X
1
= R.Sin o
Y
1
= 2R.Sin
2
o

-
Titik 2 : X
2
= 2 Sin o
Y
2
= 2R.Sin
2
o

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan cara ini
banyak hitungan yang harus diselesaikan. Namun keuntungannya adalah bahwa titik-
titik detail teratur rapi di atas busur lingkaran.
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

25

2.4.2 Metode Koordinat Polar
Pada cara ini digunakan theodolite yang dipasang dengan sumbu kesatunya
tegak lurus di atas titik satu (T
1
). Untuk menentukan titik-titik detail di atas busur
lingkaran, sehingga jarak antara titik detail tersebut yang merupakan tali busur tetap =
k, maka dihitung terlebih dahulu besarnya o (sudut antar garis T
0
dan T
1
. Sudut
antara garis T
0
dan T
3
menjadi 1o dan seterusnya, sehingga besar sudut antara T
0

dan T
n
bertambah tiap o.


Gambar Sraking Out Dengan Metode Koordinat Polar

Rumus perhitungan sudut defleksi :
u = (
o
/
R
) x (
360
/
2t
)
Koordinat titik ditentukan dengan menghitung jarak dan sudut :
Sudut (S
n
) = n x u
Jarak (D
n
) = 2R.Sin n (
u
/
2
)











SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

26

2.4.3 Metode Panjang Tali busur
Pada cara ini metode titik detail diproyeksikan pada perpanjangan tali busur
yang melalui titik detail belakangnya.Misalkan semua tali busur dibuat sepanjang k
meter maka sudut antara tali busur pertama (T
1
1) dan garis singgung di titik T ada
o, sedang sin o =
( k)
/
R
=
(k)
/
(2R)
, sehingga o dapat dicari dan sudut 1PT = o.


Gambar Staking Out Metode Perpanjangan Tali Busur

Maka dengan adanya sudut o, didapat :
T
1
1` = k.Cos o dan 1`1 = k.Sin o
Dengan dua jarak maka dapat ditentukan titik 1.

Untuk menentukan tempat titik 2 diperlukan :
12` = k.Cos o dan 2`2 = k.Sin o

Selanjutnya untuk menentukan titik 3 diperukan :
23` = k.Cos o dan 3`3 = k.Sin o

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah hitungan adalah sedikit
sekali, ialah titik 1 : T
1
1` = k.Cos o dan 1`1 = k.Sin o. Titik 2 dan
selanjutnya : jarak k.Cos o yang dibuat pada perpanjangan semua tali busur dan
jarak k.Sin o tangen dibuat tegak lurus pada perpanjangan semua tali busur.



SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

27

2.4.4 Metode Panjang Tangen
Metode ini mempunyai jumlah hitungan lebih kecil dari jumlah hitungan yang
harus dilakukan pada metode selisih busur yang sama panjangnya, tetapi sayangnya
letak titik tidak beraturan di atas busur lingkaran.

Gambar Staking Out Metode Perpanjangan Tali Busur

Maka koordinat titik detail didapat dengan cara :
- Titik 1 : X
1
= a
: Y
1
= R [\ (R)
2
(X
1
)
2
] = R [\ (R)
2
( a )
2
]
- Titik 2 : X
2
= 2a
: Y
2
= R [\ (R)
2
(X
2
)
2
] = R [\ (R)
2
( 2a )
2
]

2.5 Program AutoCAD
Program ini merupakan suatu kelengkapan dari sistem pengolahan ini karena
secara umum pengukuran dilapangan pada akhirnya akan ditampilkan dalam bentuk
gambar ataupun peta. Sehingga diperlukan suatu program berupa program
CAD/CAM.
Adapun perintah-perintah yang sering dipakai dan digunakan dalam praktikum
ini antara lain :
- LINE adalah Perintah ini merupakan perintah dasar dalam program AutoCAD
yakni perintah untuk membuat garis lurus.
- ERASE adalah perintah untuk menghapus sebagian maupun keseluruhan dari
gambar yang dibuat.
- ZOOM adalah perintah untuk menampilkan gambar dalam skala tertentu
- TRIM adalah perintah memotong dan menghapus suatu objek dengan terlebih
dahulu menentukan batasan daerah yang akan dihapus.
SURVEY REKAYASA JALAN DAN GEDUNG

28

- EXTEND adalah kebalikan dari perintah TRIM, yakni untuk memanjangkan
suatu objek gambar sehingga suatu batasan tertentu
- BLOCK adalah perintah untuk membuat suatu grup dari sekumpulan objek
yang akan dipakai dalam proses selanjutnya seperti penghapusan ataupun
pengkopian.
- INSERT adalah perintah untuk memanggil dan menempatkan suatu BLOCK
yang sudah ditentukan.
- ROTATE adalah perintah untuk memutar suatu objek dalam besaran tertentu
terhadap suatu titik acuan( BASE POINT ).
- TEXT adalah perintah untuk menampilkan dan menyisipkan suatu deretan
huruf atau angka dalam gambar
- COLOR adalah perintah untuk memberikan warna terhadap objek.
- SCALE adalah perintah untuk merubah tampilan dalam skala tertentu.
- SCRIPT adalah perintah yang digunakan untuk memanggil suatu file
berextensi SCR yang berisi kumpulan perintah-perintah tunggal dalam suatu
proses penggambaran.
- Dan lain-lain.

DIAGRAM PROSES PENGGAMBARAN









AUTOCAD
PEMANGGILAN FILE SCR
DENGAN RUN SCRIPT
PENGGAMBARAN DILAYAR
MONITOR
KARTOGRAFI GAMBAR DIGITAL