Anda di halaman 1dari 31

1. Bagaimana cara melakukan ABCD ?

Pada Keadaan normal, oksigen diperoleh dengan bernapas dan diedarkan dalam aliran darah ke
seluruh tubuh. Bila proses pernapasan dan peredaran darah gagal, diperlukan tindakan resusitasi
untuk memberikan oksigen ke tubuh. Tindakan ini didasarkan pada 3 pemeriksaan yang disebut
langkah-langkah ABC resusitasi: Airway (saluran napas), Breathing (bernafas), dan Circulation
(peredaran darah). Untuk orang yang tidak sadar, ikuti urutan ABC sebelum memberikan
pertolongan lain Buka saluran napas, usahakan agar si pasien bernafas, dan periksa kelancaran
peredaran darahnya dari denyut nadi atau petunjuk lain seperti kewajaran warna kulitnya. Bila
pasien tidak bernafas, segera berikan pernapasan bantuan untuk meniupkan oksigen ke tubuhnya.
Bila tidak ada denyut atau tanda peredaran darah lalin, segeralah lakukan CPR (cardiopulmonary
resuscitation; resusitasi jantung-paru)
Airways
Untuk membuka saluran napas, letakkan satu tangan di dahi pasien, dan dua jari tangan di bawah
dagunya. Dengan lembut dongakkan kepalanya dengan menekan dahi sambil sedikit mendorong
dagu pasien.
Breathing
Memeriksa ada tidaknya napas, dengarkan bunyi napasnya atau rasai dengan pipi anda sampai 10
detik. Bila tak ada tanda bernafas, mulailah pernapasan buatan.
Circulation
Untuk memeriksa peredaran darah, raba denyut nadi dengan dua jari selama 10 detik. Untuk bayi
rabalah denyut brakhial di bagian dalam lengan. Untuk orang dewasa atau anak-anak, raba
denyut karotid di leher di rongga antara trakhea(saluran udara)dengan otot besar leher. Periksa
tanda-tanda lain peredaran darah, misalnya kewajaran warna kulitnya. Bila tak ada tanda-tanda
peredaran darah, segera lakukan CPR.
Disability
Pemeriksaan kesadaran dengan menghitung skala GCS
7 langkah dalam menghadapi kecelakaan gerakan pramuka gudep 08-001/08-002
sawerigading dewi sartika

2. Mengapa ditemukan nyeri tekan suprapubis?
Curiga kelainan pada Vesica urinaria Secara anatomic buli-buli terletak di dalam rongga
pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera.
Ruptur kandung kemih terutama terjadi sehingga akibat trauma tumpul pada panggul,
tetapi bisa juga karena trauma tembus seperti luka tembak dan luka tusuk oleh senjata
tajam, dan cedera dari luar, cedera iatrogenik dan patah tulang panggul. Pecahan-pecahan
tulang panggul yang berasal dari fraktur dapat menusuk kandung kemih tetapi rupture
kandung kemih yang khas ialah akibat trauma tumpul pada panggul atas kandung terisi
penuh. Tenaga mendadak atas massa urinaria yang terbendung di dalam kandung kemih
yang menyebabkan rupture.

BUKU AJAR ILMU BEDAH, DE JONG

3. Mengapa tidak bisa kencing ?

4. Apa saja tanda akut abdomen dan apa kemungkinan organ yg terkena pada kasus
tersebut?
Akut abdomen adalah suatu keadaan perut yang dapat membahayakan penderita
dalam waktu singkat jika tidak dilakukan tindakan yang cepat dan tepat.

Causa Akut Abdomen
1. Radang Akut
- Divertikulitis - Appendicitis Akut
- Kholesistitis Akut - Salpingitis Akut
- Pancreatitis Akut - Peritonitis Akut
2. Trauma pada perut
- Trauma Tumpul : perdarahan dalam perut
Rupture lien, hepar, ren
Perforasi usus
- Trauna Tajam : luka tusuk, luka tembak
3. Tumor intraabdomen
4. Obstruksi
- Hernia incaserata
- Kholelitiasis
- Sumbatan vasa mesenterica
- Ileus mekanik ec. Invaginasi, volvulus, streng ileus
5. Perforasi
- Ulkus ventrikuli perforate
- Typhus abdominalis perforasi
6. Torsi
- torsi vesica fellea - torsi kista ovarii bertangkai
- torsi testis - torsi omentum
7. Kelainan Kongenital
- atresia ani letak rendah / tinggi

Diagnosa Akut Abdomen
1. Anamnesa
Sakit/nyeri
Abdominal pain merupakan keluhan utama.
Abdominal pain ada 2 :
a. visceral pain
Nyeri yang disebabkan karena terdapat rangsangan pada organ atau struktur
dalam rongga perut. Rasa sakitnya bersifat kolik atau intermitten. Letak dari nyeri
visceral ini tidak dapat ditunjukkan secara tepat.
Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut) yaitu lambung, duodenum,
system hepatobilier, dan pancreas menyebabkan nyeri di epigastrium.
Saluran cerna yang berasal dari usus tengah (midgut) yaitu usus halus sampai
pertengahan colon tranversum menyebabkan nyeri disekitar umbilicus.
Saluran cerna yang berasal dari usus belakang (hindgut) yaitu dari pertengahan
colon sampai sigmoid menimbulkan nyeri di perut bagian bawah.
b. somatic pain
Nyeri yang disebabkan karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf
tepi. Pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyerinya. Nyeri bersifat terus
menerus (continous).
Yang perlu diperhatikan adalah :
- sifat rasa sakit
- penjalaran rasa sakit
- letak rasa sakit
- waktu atau sebab timbulnya rasa sakit
Obstipasi/Konstipasi/Diare
Obstipasi : gangguan evakuasi feses dan isinya (termasuk udara)
Konstipasi : terhambatnya defekasi dari kebiasaan defekasi normal (jarang,
jumlah feses berkurang, feses keras dan kering).
Kembung
Kembung atau distended adalah keadaan dimana dinding perut lebih tinggi dari
pada xypopubic line.
Muntah
Keluarnya kembali makanan yang sudah menyentuh dinding lambung. Terjadin
karena adanya rangsangan pada peritoneum. Pada peradangan intraabdominal
yang awal, terjadi muntah tanpa disertai oleh mual. Pada proses lanjut timbul rasa
mual. Yang harus diperhatikan pada muntah :
- Cepat tidaknya timbul muntah
- Banyak sedikitnya muntah
- Macam muntah yang dikeluarkan
- Bau muntahan
Selain hal-hal diatas perlu diperhatikan :
- adanya darah pada feses, kemungkinan : invaginasi, divertikulitis, tumor ganas,
colitis ulserativ.
- Riwayat laparatomi, SC

2. Pemeriksaan Fisik
Abdominal sign
Inspeksi
- meteorismus
- darm counter
- darm steifung
- tumor
- dilatasi vena
- benjolan
Auskultasi
- dengarkan gerakan peristaltic usus
- bila suara usus tidak terdengar (silent abdomen) menandakan terjadinya
peritonitis atau ileus paralitik
- bila terdengan suara usus seperti borborygmi dan metallic sound sebagai tanda
ileus mekanik
Perkusi
- untuk mengetahui adanya massa atau cairan intra abdominal
Palpasi
- perhatikan adanya distensi, defans muscular, nyeri tekan, adanya massa, hernia
Rectal Toucher
- untuk mengetahui causa ileus mekanik, invaginasi, tumor, appendikuler infiltrate
- dilakukan dengan cara bimanual

3. Pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen
Pemeriksaan darah :
- darah lengkap
- hematokrit
- protrombin time
- kadar ureum darah
- kadar gula darah
- elektrolit (Na,K)
Pemeriksaan urine :
- ketonuria pada asidosis
Pemeriksaan Rontgen abdomen 3 posisi :
- untuk mengetahui adanya sumbatan dan letaknya

Penanganan Akut Abdomen
Keberhasilan tergantung dari dokter pemeriksa pertama. Dokter harus dapat
menegakkan diagnosa secepat mungkin dengan tepat sehingga dapat ditentukan
langkah selanjutnya :
- perlukah tindakan operasi
- waspada kemungkinan dilakukan operasi
- tentukan seawall mungkin
- konsultasi pada ahli yang berwenang melakukan operasi
- persiapkan penderita untuk operasi dengan cara :
- perbaiki K.U.
- mengatasi shock
- menyediakan darah
- tidak memberikan terapi untuk gejala akut abdomen yang akan mempersulit
penanganan selanjutnya
- bila diperlukan tindakan operasi jangan lupa buat infprm consent dengan
keluarga pasien

Penanganan Awal :
Koreksi cairan dan elektrolit
Koreksi asam basa
Koreksi temperature atau suhu
1. Oksigenasi dengan pemberian O2 3-4 lt/mnt
2. Pasang infuse, berikan terapi cairan.
3. Pasang DC untuk mengetahui urin outputnya
4. Bila didapat tanda-tanda syok seperti : nadi > 100x/mnt, P sistolik <
100mmHg, akral dingin, berikan cairan infuse kristaloid 1000 2000 ml/jam.
Syok teratasi bila nadi < 100 x/mnt, P sistolik > 100mmHg, akral hangat dan
urine output > 0,5 ml/kgBB/jam.
5. Koreksi asam basa
6. Bila dicurigai ileus lakukan dekompresi dengan pasang NGT atau lavement,
puasakan pasien, beri antibiotic broadspektrum.
Fk unmul 2004

5. Macam-macam trauma ug dan apa beda ?
6. Apakah kemungkinan bisa terjadi hematuri?
7. Apa akibat jika terjadi hematom scrotum dan perineum?
Pendarahan apabila ada trauma utuh trauma testis,fraktur penis ,orchitis,torsio
testis






Perineum
Menurut para ahli anatomi, perineum adalah wilayah
pelvic outlet di ujung diafragma pelvic (levator ani).
Batasannya dibentuk oleh pubic rami di bagian depan
ligament sacro tuberous di belakang. Pelvic outletnya
di bagi oleh garis melintang yang menghubungkan
bagian depan ischial tuberosities ke dalam segitiga
urogenital dan sebuah segitiga belakang anal.



8. Apa pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis?
Dengan menggunakan sistografi yaitu dengan memasukkan kontras kedalam buli-buli
sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretram. Kemudian
dibuat beberapa foto, yaitu:
1. Foto pada saat buli-buli terisi kontras dalam posisi anterior-posterior (AP).
2. Pada posisi oblik.
3. Wash out film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli.
Jika didapatkan robekan pada buli-buli, terlihat ekstravasasi kontras di dalam rongga
perivesikal yang merupakan tanda adanya robekan ekstraperitoneal. Jika terdapat kontras yang
berada di sela-sela usus berarti ada robekan buli-buli intraperitoneal. Pada perforasi yang kecil
seringkali tidak tampak adanya ekstravasasi (negative palsu) terutama jika kontras yang
dimasukkan kurang dari 250 ml.
Sebelum melakukan pemasangan kateter uretra, harus diyakinkan dahulu bahwa tidak ada
perdarahan yang keluar dari muara uretra. Keluarnya darah dari muara uretra merupakan tanda
dari cedera muara uretra. Jika diduga terdapat cedera pada saluran kemih bagian atas disamping
cedera pada buli-buli, sistografi dapat diperoleh melalui foto PIV.
Di daerah yang jauh dari pusat rujukan dan tidak ada sarana untuk melakukan sistografi
dapat dicoba uji pembilasan buli-buli, yaitu dengan memasukkan cairan garam fisiologis steril
kedalam buli-buli sebanyak 300 ml kemudian cairan dikeluarkan lagi. Jika cairan tidak keluar
atau keluar tetapi kurang dari volume yang dimasukkan, kemungkinan besar ada robekan pada
buli-buli. Cara ini sekarang tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan infeksi atau
menyebabkan robekan yang lebih luas.
BUKU AJAR ILMU BEDAH, DE JONG

9. DD
Trauma ginjal
Etiologi
a. Trauma tumpul : KLL, jatuh dari ketinggian, cedera OG, berkelahi
b. Trauma tajam : tusuk/ tikam, tembak
Cedera ginjal dapat terjadi secara :
1. Langsung akibat benturan langsung pada daerah pinggang
2. Tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasi akibat pergerakan
ginjal secara tiba2 di dalam rongga retroperitoneum. Pergerakan ginjal
tersebut dapat mnyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga
menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan
memacu terbentuknya bekuan2 darah yang selanjutnya dapat
menimbulkan thrombosis arteri renalis beserta cabang2nya.
Ex : jatuh dari ketinggian atau KLL
Kerusakan ginjal spontan atau Cedera ginjal dapat dipermudah jika sebelumnya
sudah ada kelainan pada ginjal , antara lain hidronefrosis, kista ginjal, atau tumor
ginjal
Biasanya perlukaan saluran kemih disertai trauma pada struktur atau organ lain.
Dasar-dasar urologi dasar. Ed 2. Basuki B purnomo. Sagung Seto
Klasifikasi
Menurut derajat berat ringannya :
a. Cedera minor (derajat I dan II)
b. Cedera major (derajat III dan IV)
c. Cedera pedikel atau pembuluh darah ginjal (derajat V)
Derajat Jenis kerusakan
Derajat I Kontusio ginjal/hematoma perirenal
Derajat menurut skala cedera organ






Derajat II Laserasi ginjal terbatas pada korteks
Derajat III Laserasi ginjal sampai pada medulla ginjal, mungkin terdapat thrombosis
arteri segmentalis
Derajat IV Laserasi sampai mengenai system kalises ginjal
Derajat V
- Avulsi pedikel ginjal, mungkin terjadi thrombosis arteri renalis
- Ginjal terbelah (shatered)




Manifestasi klinis
Gejala klinis :
1. Trauma di daerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut
bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada
daerah itu.
2. Hematuria
3. Fraktur kosta sebelah bawah (T8,12) atau fraktur spinosus vertebra
4. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang
5. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan
lalu lintas.
Pada trauma derajat ringan didapatkan nyeri di daerah pinggang, terlihat
jejas berupa ekimosis, terdapat hematuria makroskopis ataupun mikroskopis.
Pada trauma major atau rupture pedikel syok berat, hematoma di daerah
pinggang.
Dasar-dasar urologi dasar. Ed 2. Basuki B purnomo. Sagung Seto.

Diagnosis
Gejala klinis :
1. Trauma di daerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut
bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada
daerah itu.
2. Hematuria
3. Fraktur kosta sebelah bawah (T8,12) atau fraktur spinosus vertebra
4. Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang
5. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan
lalu lintas.
Pada trauma derajat ringan atau minor didapatkan nyeri di daerah
pinggang, terlihat jejas berupa ekimosis, terdapat hematuria makroskopis
ataupun mikroskopis.
Pada trauma major atau rupture pedikel syok berat, hematoma di daerah
pinggang. Dalam keadaan ini mungkin pasien tidak sempat menjalani
pemeriksaan PIV karena usaha untuk memperbaiki hemodinamik seringkali
tidak membuahkan hasil akibat perdarahan yang keluar dari ginjal cukup
deras. Untuk itu harus segera dilakukan ekslorasi laparotomi untuk
menghentikan perdarahan.

Anamnesis : cedera langsung atau tidak langsung
Inspeksi :
Riwayat trauma daerah kostovertebral, disertai nyeri, jejas
Trauma tumpul jejas di daerah lumbal. Trauma tajam tampak
luka
Palpasi :
Nyeri tekan dan ketegangan otot pinggang, massa jarang teraba. Massa
cepat meluas disertai tanda kehilangan darah cedera vaskuler. Terabanya
massa retroperitoneal petunjuk adanya hematom dan urinoma. Bila
disertai cedera hepar dan lien ditemukan tanda perdarahan di dalam perut.
Bila disertai cedara saluran cerna rangsang peritoneum.
Laboratorium :
Hematuria mikroskopik atau makroskopik tanda utama sedera saluran
kemih pertimbangan untuk tindakan selanjutnya. Jika pada trauma tumpul,
hematuria mikroskopik, tanpa syok tidak perlu pencitraan, kecuali ada
trauma intraabdominal / trauma deselerasi. Trauma tajam, hematuria
mikroskopik perlu pencitraan
PIV : - ekstravasasi kontras
-tidak ada gambaran ginjal
(Buku Ajar Ilmu Bedah)

Terapi
Terapi yang digunakan :
a. Konservatif
Ditujukan pada trauma minor. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda2
vital (tensi, nadi, dan suhu tubuh), kemungkinan adanya penambahan massa di
pinggang, adanya pembesaran lingkaran perut, penurunan kadar hemoglobin
darah, dan perubahan warna urine pada pemeriksaan urine serial.
Jika selama observasi didapatkan adanya tanda2 perdarahan atau kebocoran
urine yang menimbulkan infeksi, harus segera dilakukan tindakan operasi
seperti terlihat di bawah ini.

Observasi
Didapatkan


Tanda vital turun suhu tubuh meningkat
Massa di pinggang membesar massa di pinggang membesar
Hb
Urine > pekat


Merupakan merupakan
Tanda perdarahan > hebat tanda dari kebocoran urine


Segera eksplorasi drainase urine segera
Untuk menghentikan perdarahan

b. Operasi
Operasi ditujukan pada trauma ginjal major dengan tujuan untuk segera
menghentikan perdarahan. Selanjutnya mungkin perlu dilakukan debridement,
reparasi ginjal (berupa renorafi atau penyambungan vaskuler) atau tidak
jarang harus dilakukan nefroktomi parsial bahkan nefroktomi total karena
kerusakan ginjal yang sangat berat.

Komplikasi
Jika tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan tepat, trauma major dan trauma
pedikel sering menimbulkan perdarahan yang hebat dan berakhir dengan
kematian. Selain itu kebocoran system kaliks dapat menimbulkan ekstravasasi
urine hingga menimbulkan urinoma, abses perineal, urosepsis, dan kadang
menimbulkan fistula renokutan. Dikemudian hari pasca cedera ginjal dapat
menimbulkan penyulit berupa hipertensi, hidronefrosis, urolitiasis, atau
pielonefritis kronis.
Dasar-dasar urologi dasar. Ed 2. Basuki B purnomo. Sagung Seto.

TRAUMA URETER
o Etiologi
Cedera ureter sangat jarang dijumpai dan merupakan 1% dari seluruh
cedera traktus urogenitalia. Cedera ini dapat terjadi karena trauma dari
luar yaitu trauma tumpul maupun trauma tajam, atau trauma iatrogenik.
Operasi endourologi transureter (ureteroskopi atau ureterorenoskopi,
ekstraksi batu dengan Dormia, atau litotripsi batu ureter) dan operasi di
daerah pelvis (diantaranya adalah operasi ginekologi, bedah digestif, atau
bedah vaskuler) dapat menyebabkan terjadinya cedera ureter iatrogenik.
Cedera yang terjadi pada ureter akibat tindakan operasi terbuka dapat
berupa : ureter terikat, crushing karena terjepit oleh klem, putus (robek),
atau devaskularisasi karena banyak jaringan vaskuler yang dibersihkan.
Dasar-dasar urologi dasar. Ed 2. Basuki B purnomo. Sagung Seto.





Kecurigaan cedera Iatrogenik
Saat operasi Lapangan operasi banyak cairan
Hematuria
Anuria/oliguri jika cedera bilateral
Pasca bedah Demam
Ileus
Nyeri pinggang akibat obstruksi
Luka operasi selalu basah
Sampai beberapa hari drainase jernih dan
banyak
Hematuri persisten dan hematoma / urinoma
di abdomen
Fistula uretrokutan / fistula uretrovagina



o Terapi



a. Eksplorasi
b. Menyambung kontinuitas ureter :
> bila mungkin sambung langsung
> sambung dg ureter kontralateral
c. Nefrektomi

d.

(Kuliah Pakar Bedah)

a. Ureter saling disambungkan
b. Inplantasi ureter ke buli-buli (neoinplantasi ureter pada buli-buli, flap
boari, atau psoas hitch)
c. Uretro kutaneostomi
d. Transuretero ureterotomi ( menyambung ueter degan ureter pada sisi
yang lain)
e. Nefrostomi sebagai tindakan diversi atau nefroktomi
(Dasar-Dasar Urologi)

Indikasi laparotomi :
- Perdarahan dengan syok yang sukar diatasi
- Ekstravasasi kontras pada PIV
- Cedera ginjal pada arteriografi atau CT-Scan
- Perdarahan dari dalam pada cedera tajam
(Buku Ajar Ilmu Bedah)


o Komplikasi
Striktura ureter dan hidronefrosis
Urinoma abses
Infeksi
(Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah : FK UNDIP)



TRAUMA BULI-BULI


o Etiologi
Sebagian besar trauma tumpul
Karena kecelakaan : fraktur pelvis
Dalam keadaan penuh buli-buli mudah robek jika terjadi benturan
Tindakan endourologi
Tuberkulosis, tumor buli-buli atau obstruksi infravesikal kronis
menyebabkan kelemahan dinding buli-buli Ruptur buli2 spontan jika
terjadi trauma
Dasar-dasar urologi dasar. Ed 2. Basuki B purnomo. Sagung Seto.



o Klasifikasi
Kontusio buli-buli
Terdapat memar pada dinding buli-buli, hematom perivesikel, tidak
terdapat ekstravasasi urin
Cedera buli-buli ekstraperitonial
Cedera buli-buli intraperitonial



o Manifestasi klinis
Umumnya disertai fraktur pelvis
Bisa intraperitoneal atau ekstraperitoneal

Penderita datang dalam keadaan syok
Jejas / hematom suprasymphisis
Nyeri suprapubik
Ketegangan otot dinding perut bawah
Hematuria
(Kuliah Pakar Bedah)

o Diagnosis

Kecurigaan adanya cedera ureter pada trauma dari luar adalah adanya
hematuria pasca trauma, sedangkan kecurigaan adanya cedera ureter
iatrogenik bisa diketemukan pada saat operasi atau setelah pembedahan.
Jika diduga terdapat kebocoran urine melalui pipa drainase pasca bedah,
pemberian zat warna yang diekskresikan lewat urine, memberikan warna
pada cairan di dalam pipa drainase atau pada luka operasi. Selain itu
pemeriksaan kadar kreatinin atau kadar ureum cairan pipa drainase
kadarnya sama dengan yang berada di dalam urine.
Pada pemeriksaan PIV tampak ekstravasasi kontras atau kontras berhenti
di daerah lesi atau terdapat deviasi ureter ke lateral karena hematoma atau
urinoma. Pada cedera yang lama mungkin didapatkan hidro-
ureteronefrosis sampai pada daerah sumbatan.
Cedera ureter dari luar seringkali diketemukan pada saat melakukan
eksplorasi laparotomi karena cedera organ intraabdominal sehingga
seringkali tidak mungkin melakukan pemeriksaan pencitraan terlebih
dahulu.
o Terapi

Atasi syok. Stabilkan fraktur pelvis
Pasang kateter
Operasi untuk menutup robekan
Kateter tetap diperlukan untuk mempercepat penyembuhan
(Kuliah Pakar Bedah)

TRAUMA URETRA
o Etiologi
Rupture uretra anterior :
Jatuh terduduk/straddle injury
Salah kateterisasi
Komplit/tidak komplit
Ruptur uretra posterior :
Proksimal diafragma urogenital
Menyertai fraktur pelvis
Total / komplit
Prostat tertarik keatas (high riding prostate)

a. Cedera yang berasal dari luar (eksternal) trauma tumpul yang
menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan rupture uretra pars
membranasea, sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle
injury dapat menyebabkan rupture pars bulbosa.
b. Cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra pemasangan kateter
atau businasi pada uretra yang kurang hati2 dapat menimbulkan robekan
uretra karena false route atau salah jalan, demikian pula tindakan operasi
transuretra dapat menimbulkan cedera uretra iatrogenic.

o Klasifikasi
Secara klinis trauma uretra dapat dibedakan menjadi trauma uretra anterior dan
trauma uretra posterior, hal ini karena keduanya menunjukkan perbedaan dalam
hal etiologi trauma, tanda klinis, serta prognosisnya.
Colapinto dan McCollum (1976) membagi derajat cedera uretra dalam 3 jenis :
a. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan).
Foto uretrogram tidak menunjukkan adanya ekstravasasi, dan uretra hanya
tampak memanjang.
b. Uretra posterior terputus pada perbatasan prostato-membranosea, sedangkan
diafragma urogenitalia masih utuh. Foto uretrogram menunjukkan
ekstravasasi kontras yang masih terbatas di atas diafragma urogenitalis.
Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah
proksimal ikut rusak. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras meluas
hingga di bawah diafragma urogenitalia sampai perineum

o Manifestasi klinis
Ruptur uretra posterior : fraktur pelvis
Jejas suprapubik
Hematom skrotum, perineum
Retensi urin
Darah menetes dari meatus (meatal bleeding pada uretra anterior)


a. Rupture uretra posterior
Rupture uretra posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis.
Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan
pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostate-membranosea.
Fraktur pelvis dan robekan pembuluh darah yang berada di dalam kavum
pelvis menyebabkan hematoma yang luas di kavum retzius sehingga jika
ligamentum pubo-prostatikum ikut terobek, prostat beserta buli2 akan
terangkat ke cranial.
Diagnosis
Rupture uretra posterior :
1. Perdarahan per-uretram
2. Retensi urine
3. Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya floating prostate (prostat
melayang) di dalam suatu hematom.
Pada pemeriksaan uretrografi retrogad mungkin terdapat elongasi uretra atau
ekstravasasi kontras pada pars prostate-membranasea
b. Rupture uretra anterior
Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah
straddle injury (cedera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis
dan benda tumpul. Jenis kerusakan uretra terjadi berupa : kontusio dinding
uretra, rupture parsial atau rupture total dinding uretra.
Patologi
Uretra anterior terbungkus di dalam korpus spongiosum penis. Korpus
spongiosum bersama dengan corpora kavernosa penis dibungkus oleh fasia
Buck dan fasia Colles.
Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urine keluar
dari uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urine
dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar
hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini
memberikan gambaran seperti kupu2 sehingga disebut butterfly hematom atau
hematoma kupu2.
Diagnosis
- Adanya perdarahan per-uretram / hematuria
- Tidak dapat miksi adanya hematom pada penis atau hematoma kupu2
karena robekan pada korpus spongiosum.
Ekstravasasi kontras pada pemeriksaan uretrografi retrograde pada kontusio
uretra, sedangkan pada rupture uretra menunjukkan adanya ekstravasasi
kontras di pars bulbosa

o Terapi
Operasi : perbaiki fraktur pelvis
Ureter disambung kembali dan splint dengan kateter 3 minggu

a. Ruptur uretra posterior
- Tidak perlu dilakukan tindakan invasive dapat menimbulkan
perdarahan yang berlebih pada kavum pelvis dan prostat serta menambah
kerusakan pada uretra dan struktur neurovaskuler (dapat terjadi disfungsi
ereksi dan inkontitensia)
- Sistostomi untuk diversi urine dilakukan pada tindakan akut.
- Primary endoscopic realignment melakukan pemasangan kateter uretra
sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Tindakan ini dilakukan
sebelum 1 minggu pasca rupture kateter uretra dipertahankan selama 14
hari.
- Reparasi uretra (uretroplasti) dilakukan setelah 3 bulan pasca trauma
dengan asumsi bahwa jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang
sehingga tindakan rekonstruksi membuahkan hasil yang baik.
b. Ruptur uretra anterior
- Pemeriksaan uretrografi
- Sistostomi mengalihkan urine
- Reparasi uretra atau sachse

o Komplikasi
Segera : infeksi, hematom, abses periuretral, fistel uretrokutan, orkhitis
Lambat : striktur uretra. Memerlukan dilatasi / bougie secara berkala

a. Ruptur uretra posterior
- Striktura uretra seringkali kambuh
- Disfungsi ereksi karena kerusakan saraf parasimpatik atau terjadinya
insufisiensi arteria.
- Inkontinensia urine disebabkan karena rusaknya sfingter uretra eksterna
BUKU AJAR ILMU BEDAH, DE JONG


Fraktur pelvis

Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bagian bawah, uterus,
testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Dapat menyebabkan hemoragi (pelvis
dapat menahan sebanyak + 4 liter darah) dan umumnya timbul manifestasi klinis seperti
hipotensi, nyeri dengan penekanan pada pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih.
Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa. Perdarahan luas
sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama lazim dengan fraktur
berkekuatan-tinggi. Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis berkekuatan-tinggi tidak
stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung dihubungkan dengan hilangnya darah
dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur
pelvis, dengan keseluruhan angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi
rangkaian besar.

2. ETIOLOGI

Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut.
Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Proses penyakit: kanker dan riketsia.
Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat mengakibatkan fraktur
kompresi tulang belakang.
Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat menyebabkan
fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).




3. MANIFESTASI KLINIS
Pengkajian awal yang perlu dilakukan adalah riwayat kecelakaan sehingga luasnya trauma
tumpul dapat diperkirakan. Sedangkan untuk trauma penetrasi, pengkajian yang perlu dilakukan
adalah posisi masuknya dan kedalaman. Klien dapat menunjukkan trauma abdomen akut. Pada
kedua tipe trauma terjadi hemoragi baik baik internal maupun eksternal. Jika terjadi rupture
perineum, manifestasi peritonitis berisiko muncul,seluruh drainase abdomen perlu dikaji untuk
mengetahui isi drainase tersebut.
Bilas abdomen umumnya dilakukan untuk mengkaji adanya perdarahan diseluruh abdomen yang
mengalami luka, dengan cara memasukkan cairan kristaloid ke dalam rongga peritoneum diikuti
dengan paracentesis (rainase isi abdomen).Catat dan dokumentasikan warna dan jumlah drainase.



4. KOMPLIKASI
1. Komplikasi awal
a) Shock Hipovolemik/traumatik
Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) perdarahan
kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak shock
hipovolemi.
b) Emboli lemak
c) Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest.
d) Infeksi
Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda
infeksi dan terapi antibiotik.
e) Sindrom kompartemen



2. Komplikasi lambat
a. Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan
biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses
infeksi. Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang.
b. Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini
disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis.
c. Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan
bentuk).
d. Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang.




6. PENCEGAHAN
Pencegahan fraktur pelvis yaitu:
dengan membuat lingkungan lebih aman
mengajarkan kepada masyarakat secara berkesinambungan mengenai pada saat bekerja berat.

7. PENATALAKSANAAN
1. Rekognisi:
menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.
a. Riwayat kecelakaan
b. Parah tidaknya luka
c. Diskripsi kejadian oleh pasien
d. Menentukan kemungkinan tulang yang patah
e. Krepitus


2. Reduksi:
reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua
yaitu:
a. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi atau gips
b. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui pembedahan, biasanya
melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang.

3. Retensi:
menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan fragmen-fragmen
tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)


4. Rehabilitasi:
langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan pengobatan fraktur karena
sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak
dengan kruck).
BUKU AJAR ILMU BEDAH, DE JONG