Anda di halaman 1dari 59

I.

PENGERTIAN SUPPOSITORIA
a. Menurut FI edisi III hal 32
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat
melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh.
b. Menurut FI edisi IV hal 16
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina
atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
c. Menurut RPS 18 th hal 1609
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat yang memiliki berat dan bentuk yang bervariasi, biasanya
penggobatan dilakukan dengan dimasukan dalam rektum, vagina dan uretra. Setelah pemasukan
suppositoria akan menjadi lembut atau lunak, melebur dalam cairan pencernaan.
d. Menurut Parrot hal 382
Suppositoria adalah suatu bentuk unit sediaan yang dimaksudkan untuk dimasukan kedalam rektum,
vagina dan uretra. Suppositoria melebur, melunak, dan melarut dalam suhu tubuh.


e. Menurut R.Voight hal 281
Suppositoria adalah sediaan bentuk silindris atau kerucut berdosis dan berbentuk mantap yang
ditetapkan untuk dimasukan kedalam rektum, sediaan ini melebur pada suhu tubuh atau larut dalam
lingkungan berair.
f. Menurut FN hal 333
Suppositorium adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada suhu tubuh, digunakan dengan
cara menyisipkan kedalam rektum, berbentuk sesuai dengan maksud penggunaan, umumnya berbentuk
terpedo.
g. Menurut Ilmu Meracik Obat hal 158
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur berbentuk terpedo, dapat melunak,
melarut, atau meleleh pada suhu tubuh.
h. Menurut Ansel hal 576
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang pemakaianya dengaan cara memasukkan kedalam
lubang atau celah dalam tubuh dimana ia akan melebur, melunak atau larut dan memberikan efek lokal
atau sistemik.
i. Menurut Lachman hal 1147
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang umumnya dimaksudkan untuk dimasukan
kedalam rektum, vagina, dan jarang digunakan untuk uretra. Suppositoria rektal dan urektal biasanya
menggunakan pembawa yang meleleh, atau melunak pada temperatur tubuh, sedangkan suppositoria
vaginal kadang-kadang disebut pessaries, juga dibuat dengan tablet kompressi yang hancur dalam cairan
tubuh.
j. Menurut Dom Hoover hal 163
Suppositoria adalah sediaan obat padat dengan berbagai ukuran dan bentuk yang penggunaanya
dengan diselipkan kedalam bagian tubuh biasanya melalui rektum, vagina atau uretra.
k. Menurut Dom Marthin hal 834
Suppositoria adalah sediaan padat yang diberikan melalui bagian tubuh yakni vagina, rektum, atau
uretra.

II. BENTUK-BENTUK SUPPOSITORIA DAN UKURANNYA
a. Menurut RPS 18 th hal 1609
1. Suppositoria rektal
USP membuat Suppositoria rektal untuk dewasa, runcing pada salah satu atau kedua ujungnya, biasanya
berbobot 2 gram. Untuk anak dari suppositoria dewasa. Obat ini memberikan efek sistemik seperti
sedatif, penenang dan analgesia dilakukan secara suppositoria rektal. Bagaimanapun penggunaanya
secara tungggal mungkin sebagai penggobatan pada sembelit. Dibagi dalam beberapa tahap berat 2
gram dibuat suppositoria rektal biasanya digunakan basis Oleum Cacao ketika basis yang lainya
digunakan berat mungkin besar atau lebih 2 gram.
2. Suppositoria vaginal
USP membuat Suppositoria vaginal biasanya bentuk bundar atau oval dengan berat 5 gram. Obat
untuk vaginal tersedia dalam berbagai bentuk psikis. Misalnya krim cair yang berasal dari konsep dasar
Suppositoria.
3. Suppositoria uretra
Biasanya dibuat bagian tidak didefenisikan dengan jelas, baik tentang bobot, ukuran, nilai tradisional
berasal dari lemak coklat sebagai basis, bentuk silindrisnya sebagai berikut diameter 55mm, panjang
untuk wanita 50 mm, berat 2 gram untuk wanita dan pria 4 gram.
b. Ansel hal 576-577
1. Suppositoria rektal
Berbentuk silindris dan kedua ujungnya tajam, peluru, torpedo atau jari-jari kecil. Ukuran panjangnya
32 mm (1,5 inchi). Amerika menetapkan beratnya 2 gram untuk orang dewasa bila oleum cacao yang
digunakan sebagai vasis. Sedangkan untuk bayi dan anak-anak ukuran dan beratnya dari ukuran dan
berat orang dewasa, bentuknya kira-kira seperti pensil.
2. Suppositoria vagina
Biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut sesuai dengan kompendik resmi, beratnya 5 gram,
apabila basisnya oleum cacao, sebab lagi tergantung pada macam basis dan masing-masing pabrik yang
membuatnya.
3. Suppositoria uretra (Bougie)
Bentuk ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukan kedalam lambung urine/saluran urine pria
atau wanita 1 garis tengah 3-6 mm dengan panjang 140 mm. Walaupun ukuran ini masih bervariasi
antar yang satu dengan yang lain apabila basisnya dari oleum cacao, maka beratnya 4 gram untuk
wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria. Panjang kurang lebih 78 mm dan beratnya 2
gram inipun bila oleum cacao sebagai basisnya.
c. Dom Hoover hal 163
1. Suppositoria rektal
Biasanya berbentuk silinder, bulat atau terpedo, bentuk silinder berdiameter dari jarak dasar dan
biasanya mengecil pada ujungnya dan bentuk ini meruncing setelah dimasukan kedalam rektum,
memiliki ukuran yang bervariasi untuk dewasa berat normalnya 2 gram, sedangkan untuk anak-anak
kurang dari 2 gram.
2. Suppositoria vagina
Bentuk oval biasanya beratnya berkisar 5 gram, tetapi tergantung dari produksinya. Obat ini
dimetabolisme didalam vagina dimaksudkan untuk efek lokal dan efek sistemik.



3. Suppositoria uretra
Memiliki tiga rute dalam kerjanya, rute ini menghsilkan aksi lokal, biasanya denga anti injeksi,
suppositoria ini panjang dan bulat, panjangnya sekitar 60 mm dan diameternya 4,5 mm.
d. Parrot hal 382
1. Suppositoria rektal
Bentunya kerucut atau silindris dan lonjong, rektal suppo beratnya 1,2 gram, panjang 30 mm,
berdiameter 10 mm.
2. Suppositoria vagina
Berbentuk bundar atau oval, beratnya bervariasi dari 3 9 gram.
e. Dom Martin hal 844 845
1. Vagina Suppositoria
Berbentuk globular dan ukuran berat sekitar 5 gram contoh komersil adalah besarnya bervariasi sesuai
dengan bentuk dan ukurannya. Penggunaan dari Suppositoria vaginal adalah biasanya dimaksudkan
untuk memperoleh efek lokal. Zat aktif yang mana merupakan kebiasaan dalam cara memasukan pada
keadaan infeksi. Walaupun rute ini hampir setiap digunakan untuk absorbsi sistemik dari obat ini
menjaga pikiran bahwa absorbsi sistemik dapat terjadi.
2. Uretra Suppositoria
Seperti rute dari suppositoria dalam United states adalah lewat uretra. Sebagai mana dengan
suppositoria vagina, rute dibatasi untuk obat aksi lokal biasanya untuk obat anti infeksi pada keadaan
ini, basis untuk Suppositoria uretra adalah PEG dan cairan gliserin dan gelatin. Suppositoria ini adalah
runcing, berbentuk batang, ukuran tubuh 5 mm dengan panjang diameter dan panjang 60 mm.
f. Menurut FI edisi IV hal 16 17
1. Suppositoria rektal
Untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot 2 gram.
2. Suppositoria vaginal
Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot 5 gram.
g. Menurut Lachman hal. 564
Suppositoria rektal untuk dewasa berbobot sekitar 2 gram dan biasanya diruncingkan bentuk torpedo.
Suppositoria anak-anak berbobot sekitar 1 gram dan menyerupai bentuk torpedo. Suppositoria anak-
anak berbobot sekitar 1 gram dan mempunyai ukuran kecil.
Suppositoria vaginal berbobot sekitar 3 sampai 5 gram dan biasanya dicetak globular atau bentuk oval
atau dikempa sebagai tablet menjadi bentuk kerucut atau adifikasi.
Suppositoria uretra kadang disebut bougies, berbentuk pensil dan dituliskan untuk maksud tertentu.
Suppositoria uretra untuk pria berbobot sekitar 4 gram tiapnya dan panjangnya 100-150 mm, untuk
wanita 2 gram tiapnya dan biasanya 60-75 mm.

III. EFEK TERAPI SUPPOSITORIA
a. Menurut Ansel hal 16 17
1. Aksi lokal
Begitu dimasukKan, basis suppositoria meleleh, melunak atau melarut menyebarkan bahan obat yang
dibawahnya kejaringan-jaringan didaerah tersebut obat ini bisa dimaksudkan untuk ditahan dalam ruang
tersebut untuk efek kerja lokal atau bisa juga dimaksudkan agar diabsorbsi untuk mendapatkan efek
sistemik. Suppositoria rektal dimaksudkan untuk kerja lokal dan paling sering digunakaan untuk
menghilangkan konstipasi dan rasa sakit, iritasi rasa gatal dan radang sehubungan dengan wasir atau
kondisi anarektal lainnya. Suppositoria vagina yang dimaksudkan untuk efek lokal, digunakan terutama
sebagai antiseptik pada higiene wanita dan sebagai zat khusus untuk memerangi dan menyerang
penyebab penyakit.
2. Aksi sistemik
Untuk efek sistemik, membran mukosa rektum dan vagina memungkinkan absorbsi dan kebanyakan
obat yang dapat larut walaupun rektum sering digunakan sebagai tempat absorbsi secara sistemik,
vagina tidak sering digunakan untuk tujuan ini. Untuk mendapatkan efek sistemik, atau pemakian
melalui rektum mempunyai beberapa kelebihan dari pada pemakian secara oral, yaitu :
1) Obat yang rusak atau tidak dibuat tidak aktif oleh pH atau aktifitas enzim dan lambung.
2) Obat yang merangsang lambung dapat diberikan tanpa menimbulkan rangsangan.
3) Merupakan cara yang efektif dalam perawatan pasien yang suka muntah, dan lain sebagainya.
b. Menurut Lachman hal 1184 1186
1. Suppositoria untuk efek sistemik
Pemilihan basis suppositoria yang mungkin dikehendaki harus dibuat misalnya dengan memilih basis-
basis yang disarankan. Avaibilitas dan harga basis suppositoria harus diperhitungkan sebelum
pengerjaan formulasi digunakan.

2. Suppositoria untuk efek lokal
Obat-obat yang dimaksudkan untuk efek lokal umumnya tidak diabsorbsi misalnya obat-obat untuk
wasir, anastetik lokal, antipiretik, basis-basis, yang digunakan untuk obat ini sebenarnya tidak
diabsorbsi. Lambat meleleh dan lambat melepaskan obat-obat sistemik. Efek lokal umumnya terjadi
terjadi dalam waktu jam (30 menit) paling sedikit empat.


c. Menurut Dom Hoover hal 167
1. Aksi lokal
Obat-obat pada pemakian dubur biasanya ditujukan pada pengobatan heporoid. Sekarang seperti
pruritus, infeksi bakteri, dan suppositoria digunakan untuk berbagai keadaan radang kronik dan biasanya
efek sediaan suppositoria rektal dimaksudkan untuk aksi lokal meliputi anestesi lokal, adstrigen,
antiseptik, dan lain-lain.
2. Aksi sistemik
Rektum merupakan jalur untuk peredaran obat-obat dengan aksi sistemik, terjadi suplai darah dan
difusi yang lambat dari obat melalui rektal dan adsorbsi obat.
d. Menurut Scovilles hal 968
Suppositoria tidak hanya digunakan untuk aksi lokal, tetapi juga memberikan obat untuk menghasilkan
efek sistemik ketika bahan obat dihasilkan dalam betuk suppositoria diabsorbsi secara lambat dan
menghasilkan aksi terapeutik lebih panjang masa waktunya. Contoh bahan yang diberikan secara rektal
untuk aksi sistemik termasuk sulfanamid, merkurium dan opium antispasmodik seperti aminophylin dan
pelicin lebih disukai kombinasi dari aksi lokal obat, sulfonomida untuk mencegah formasi pelicin dari
organisme kolon.


IV. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
a. Menurut Ansel hal 579
1. Faktor Fisiologi
Rectum manusia panjangnya 15 30 cm. Pada waktu kosong, rectum hanya berisi 2 3 ml cairan
mukosa yang inert. Dalam keaadan istirahat, rectum tidak ada gerakan vili dan microvili pada mukosa
rectum. Akan tetapi terdapat vaskularisasi adsorbsi obat dan rectum adalah kandungan kolon, jalur
sirkulasi dan pH serta tidak adanya kemampuan mendapat cairan rectum.
a) Kandungan Kolon
Apabila diinginkan efek sistemik dari suppositoria yang mengandung obat absorbsi yang lebih besar,
lebih banyak terjadi pada rectum yang kosong dan rectum yang dikembungkan oleh fases ternyata obat
lebih mengabsorbsi dimana tidak ada fases.
b) Jalur Sirkulasi
Obat yang diabsorbsi melalui rectum tidak seperti obat yang diabsorbsi setelah pemberian secara oral.
Tidak melalui sirkulasi porta, sewaktu didalam perjalanan sirkulasi yang lazim. Dalam hal ini obat
dimungkinkan dihancurkan didalam hati.


c) pH
Tidak adanya kemampuan mendapat dari cairan rektum karena cairan rectum pada dasarnya pada pH 7
8 dan kemampuan mendapat tidak ada, maka bentuk obat yang digunakan lazimnya secara kimia tidak
berubah oleh lingkungan rectum.
2. Faktor Fisika Kimia
a) Kelarutan lemak air
Suatu obat lifofil yang terdapat dalam suatu basis.
Suppositoria berlemak dengan konsistensi rendah memiliki
kecenderungan yang kurang untuk melepaskan diri dari kedalam cairan sekelilingnya. Dibandingkan jika
tidak ada bahan hidrofilik pada bahan/basis berlemak dalam batas-batas untuk mendekati jenuhnya.
b) Ukuran Partikel
Semakin kecil ukuran partikel, semakin mudah larut dan lebih besar kemungkinan untuk lebih cepat
diabsorbsi.
c) Sifat basis
Basis harus mampu mencair, melunak atau melarut supaya pelepasan kandungan obatnya untuk
diabsorbsi. Apa bila terjadi interaksiantara basis dengan lelehan lepas, maka adsorbsi akan terganggu
atau malah dicegah.

b. Menurut Lachman hal 1184 1186
1. Faktor fisiologis
1) Sirkulasi darah
Sejumlah obat tidak dapat dibiarkan secara oral oleh karena obat-obat tersebut dipengaruhi oleh getah
pencernaan atau aktivitas terapeutiknya diubah oleh hati setelah diabsorbsi. Setelah obat diabsorbsi
dari usus halus akan dibawah oleh vena porta hepatika ke hati. Hati mengubah sebagian besar obat
yang sama dapat diabsorbsi dalam daerah anarektal dengan nilai terapeutiknya masih dipertahankan.
Vena hemoroid yang lebih atas tidak berhubung dengan porta yang menuju hati. Dilaporkan bahwa
lebih separuh 50-70% obat yang diberikan secara rektal tarabsorbsi secara langsung ke dalam sirkulasi
umum.
2) pH
Mempunyai peranan dalam mengendapkan laju absorbsi obat yang berarti schaneler melaporkan bahwa
kolon tikus mempunyai pH kira-kira 6,3 suatu pH yang sedikit lebih asam dari semula. Hal ini
mengakibatkan obat-obat yang terlarut menentukan pH di daerah anorectal. Schaneler mengatakan
bahwa asam dan basa yang lebih akan lebih lemah , akan lebih mudah terionisasi.

3) Keadaan fisiologi kolon
Jumlah dan sifat kimia cairan-cairan dan padatan-padatan yang ada mempengaruhi absorbsi obat. Jika
kandungan dubur banyak diabsorbsi obat akan lambat.
4) Keadaan membran mukosa rectal
Dinding membran diselubungi oleh lapisan mukosa yang relatif kontinyu/tebal yang bertindak sebagai
penghalang mekanik untuk jalannya obat melalui pori-pori dimana terjadi absorbsi melalui usus kecil
dan usus besar hampir tidak berbeda dengan obat yang diabsorbsi obat melalui usus kecil dan besar ,
rasanya tidak memungkinkan suatu obat yang telah melewati usus kecil dan akan diabsorbsi secara
bermakna melalui kolon.
2. Faktor fisika-kimia
Urutan peristiwa menuju absorbsi obat melalui daerah anorectal adalah obat dalam pembawa masuk
dalam obat dalam cairan hal ini cairan kolon kemudian diabsorbsi oleh mukosa rectal. Agar obat dapat
diabsorbsi obat tersebut harus dilepas dari suppositoria dan didistribusikan oleh cairan disekitarnya
pada tempat-tempat absorbsi dengan melarutkan dalam cairan maka terdapat kontak yang luas dan
obat dengan dinding lumen sehingga shingga meningkatkan kontak obat dengan sebagian besar tempat-
tempat absorbsi.
1) Sifat basis
Suppositoria yang dipengaruhi oleh adsorbsi obat.
2) Bahan penambahan/adjuvan
Didalam formula suppositoria dapat mempengaruhi adsorbsi obat melalui perubahan sifat reologi dari
basis tersebut pada temperatur kamar. Atau dengan mempengaruhi disolusi obat dalam dalam media
sedian obat tersebut, dalam basis tipe emulsi, terlihat bahwa pelepasan sejumlah obat yang larut dalam
air meningkat dengan meningkatnya kandungan air dari basis tersebut. Dan bahwa laju obat yang
dilepaskan dapat diperpanjang dengan penambahan suatu polimer, air, penambahan koloid silikon,
oksida yang hidrofilik pada Suppositoria dengan basis berlemak. Mengubah sifat reologi massa tersebut.
Salisilat ternyata dapat memperbaiki adsorbsi rectal dari antibiotika yang larut dalam air dalam basis
hidrofilik.
c. Menurut Dom Hoover hal 165 166
1. Faktor fisiologi
Rectum merupakan pintu terakhir dari usus dimulai dari sigmoid dan diakhiri di anus. Panjang 15 cm,
normalnya dalam keaadaan kosong sejumlah kecil dari mukosa yang mana rata-rata sekitar 2 ml dan
pHnya 7,4. Rectum diabsorbsi dari jonjot usus halus/vili. Akan tetapi terdisfusi dengan cepat dan
melewati secara berlaha-lahan masuk kedalam tubuh pada umumnya cairan limpa yang diterima yang
diterima lebih lambat daripada aliran vena. Kemudian tidak berdifusi untuk mengangkut obat dari
rectum, akan tetapi dalam hal ini ditemukan sulfonamida sedikit lebih disirkulasi melalui limpa dinding
vena dari rectum ada 3 yaitu :
1) Vena hemoroid infektor yang dekat dengan ahalstingter
2) Vena hemoroidal tengah yang menerima darah dari pembulu kapiler pada bagian tengah dari
rectum.
3) Vena hemoroidal superior yang berada pada rectum pada bagian atas.
2. Faktor Fisika Kimia
Dalam pemilihan tipe dari basis suppositoria yang digunakan untuk banyak bahan partikel terapeutik.
Faktor kelarutan lemah air harus dipertimbangkan karena berhubungan dengan pelepasan dan
intensitas lokal. Umumnya obat larut minyak dicampurkan dalam basis berminyak sehingga laju adsorbsi
kurang lebih dibandingkan dengan bila berada dalam basis yang larut air. Obat-obat yang larut minyak
cenderung untuk melarut sebagian didalam minyak dengan menghasilkan dari pencairan suppositoria
dan memiliki tundensi yang minimal untuk keluar dari medium cairan dan sekresi mukosa dan tempat
dimana dan akan diabsorbsi. Obat-obat yang larut cenderung untuk melewati lebih cepat dari fase
minyak menuju fase air. Oleh karena itu bila kecepatan opset aksi adalah cepat, maka kelarutan dalam
air dan obat dalam basis dari minyak harus diseleksi.

V. ALASAN PENAMBAHAN BAHAN
a. Menurut Parrot hal 382
Berdasarkan keaadan pasien, yaitu pada pasien yang tidak dapat menelan obat secara oral dan lainya.
b. Menurut Ansel hal 578
Dalam berbagai obat terdapat bahan yang dirusak oleh lambung sehingga tidak dapat memberi efek.
c. Menurut Ansel 579 581
Bahan obat yang masuk tidak mengalami metabolisme dihati.
d. Menurut Lachman hal 1148 1149
1. Sediaan Suppositoria memberikan lebih cepat.
2. Sediaan ini mengiritasi saluran pencernaan.

VI. PEMBAGIAN BASIS
a. Menurut Ansel hal 582 589
1. Basis berminyak atau berlemak
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, karena pada dasarnya olium cacao
termasuk kelompok ini, utama dan kelompok ketiga merupakan golongan basis-basis lainya. Diantara
bahan berminyak atau berlemak lainya yang biasa digunakan sebagai basis Suppositoria. Macam-macam
asam lemak yang dihidrogenesis dari minyak nabati seperti minyak palem dan minyak biji kapas, juga
kumpulan basis lemak yang mengandung gabungan minyak gliserin dan asam lemak dengan berat
molekul tinggi, seperti asam palmitat dan asam stearat, mungkin ditemukan dalam basisi Suppositoria
berlemak. Campuran yang dimikian seperti gliserol dan monostearat merupakan contoh dari kelompok
ini.
2. Basis yang larut dalam air dan basis yang bercampur dengan air. Air merupakan kumpulan yang
penting dari kelompok ini adalah gelatin dan gliserin dan basis policahenilikol, basis gelatin, gliserin
paling sering digunakan dalam pembuatan Suppositoria vagina dimana memang diharapkan efek
setempat yang cukup lama usus.
3. Basis lainya
Dalam kelompok basis ini termasuk campuran bahan bersifat seperti lemak yang larut dalam air dan
bercampur dengan air, bahan-bahan ini mungkin memebentuk zat kimia atau campuraan
fisika.beberapa diantaranya berebentuk emulsi, umumnya dan tipe air dalam minyak atau mungkin
dapat menyebar dalam cairan besar. Salah satu dari bahan ini adalah polioksil 40 starat suatu zat aktif
pada permukaan digunakan dalam sejumlah basis Suppositoria dalam perdaganggan.
b. Menurut R. Voight hal 283
1. Minyak coklat
Diperoleh dari pergeseran biji masak tanpa bungkus dan telah disegrasi dati Theobroma cacao. Lemak
coklat bersifat netral secara kimia dan fisiologi sertabanyak digunakan, mengingat daerah suburnya (31-
34C) pada suhu kamar, bentuk lemak coklat mantap. Mentega coklat merupakan campuran trigliserol,
kira-kira 78% adalah gliserol-1-palmiat-2-oleat-3-stearat, gliserol-1-3-stearat-2-oleat, dan gliserol-3-
palmiat-2-oleat, sisanya adalah komposisi berbagai campuran trigliserol. Suppositoria coklat memeiliki
tampak luas yang menarik, cepat lebur pada suhu tubuh.
2. Lemak keras
Lemak keras ini terdiri atas campuran mono-di-dan trigliserida asam-asam lemak jenuh C80H21COOH
sampai C10H10COOH. Untuk membuat digunakan lemak tumbuhan dari butir kelapa sawit yang
mempunyai kandungan asam lemak tumbuhan yang tinggi. Produk semi sintetik ini didominasi oleh
asam lemak berwarna putih, mudah patah, tidak berbau, tidak terasa dan tidak memiliki kecenderungan
yang amat rendah untuk menjadi tengik (angka oli paling tinggi 3, angka iod untuk lemak coklat 35 39
). Harga viskositas leburan lemak coklat terletak sedikit lebih tinggi daripada lemak keras, massanya
padat larut air, melebar pada suhu 33,5 35,5 C.
3. Polietilenglikol C massa melebur suhu tinggi (larut air)
Kelarutan Polietilenglikol berdasarkan atas pembentukan jembatan hidrogen antara oksigen eter
dengan molekul air. Polietilenglikol yang melebur jauh diatas suhu tubuh. Harus larut dalam air usus
yang terdistribusi diatas 16 20 cm panjang rectum. Massa Polietilenglikol dengan daerah lebar rendah
(47 49 C) dan terlarutkan yang paling baik dimiliki oleh komposisi campuran Polietilenglikol 1000
(Suppositoria) dengan PEG 4000 (Suppogen 0).
4. Gliserol-Gelatin (Massa clastin larut air)
Gelatin adalah makromolekul amfoter (protein) yang dibangun dari asam amino. Asam aminonya adalah
glikol, alanin, sifat gelatin dibawah titik isoelektrisnya atau kation aktif diatasnya bersifat anion aktif.
Gelatin mengembang dalam air, larut dalam pemanasan dan membentuk gel elastis.
c. Menurut Scovilles hal 371
1. Theobroma 0,1 (Lemak Cacao)
Basis ini sering digunakan untuk Suppositoria rectal, berasal dari tanaman Theobroma cacao atau
tanaman coklat, lemak coklat kering. Pada temperatur biasa (suhu kamar), tetapi mencair pada suhu 86
F (30-35 C). Ketika lemak coklat meleleh atau meleleh kemudian memadat, titik lelehnya berada
beberapa derajat dibawah normal dan suhu proses pmenjadi tengik, mencair ketika bercampur dengan
cairan tubuh.
2. Polietilenglikol
Polietilenglikol dibentuk dari polimerisasi etil oksida, dalam rantai panjang Polietilenglikol dengan berat
molekul yang berbeda bercampur menghasilkan Suppositoria yang dapat larut dengan air dan cepat
disekresikan kedalam mukosa.
3. Basis lain
Minyak hidrogenal seperti biji palem hydrogenal, biji kapas atau minyak kacang adalah lemak putih semi
padat digunakan sebagai suppositoria pada keadaan basis lembut karena kenaikan tempertur dihasilkan
dengan penambahan spermacetil
4. Menurut Parrot hal 383 385
Minyak Theobroma atau minyak cacao atau coklat
Trigliserida
Gliserin-Gleati
Polietilenglikol
5. Menurut Lachman hal 1168 1172
1) Minyak coklat merupakan basis suppositoria yang paling banyak digunakan, minyak coklat
seringkali digunakan dalam resep-resep pencampuran baha-bahan obat bila basisnya tidak dinyatakan
apa-apa, sebagian besar sejak minyak coklat memenuhi persyaratan basis ideal karena minyak ini tidak
berbahaya, lunak dan tidak reaktif, serta meleleh pada temperatur tubuh. Minyak coklat merupakan
trigliserida dengan rantai-rantai trigliserida utama yaitu oleoval mitosfearin dan oleo distearin, minyak
coklat berwarna putih kekuningan, padat, merupakan lemak antara 30 C dan 35 C (85 95 F). Angka
idealnya antara 34 38 C harus disimpan ditempat dingin, kering dan terlindung dan angka asamnya
lebih dari 4 karena minyak coklat mudah mencair dan menjadi tengik maka harus terlindung dari cahaya.
2) Pengganti Minyak Coklat
Mekanisme pembuatan suppositoria seperti kelemahan yang menjadi sifat coklat, telah merangsang
penelitian pengganti minyak coklat yang sesuai memuaskan dapat mempertahankan sifat minyak coklat
yang dikehendaki dan melakukan upaya untuk menghapuskan kelemahannya.
3) Basis Suppositoria Khusus
Karakteristik tertentu yang biasanya dipertimbangkan dalam memilih suatu basis suppositoria adalah :
a) Interval yang sempit, antara titik leleh dan titk memadat.
b) Kisaran leleh yang tinggi ( 37 C 41 C).
c) Kisaran meleleh lebih rendah ( 30 C 34 C) bila zat tersebut ditambahkan dengan basis
suppositoria atau sejumlah besar zat padat lokal yang merupakan karakteristik yang penting bagi
suppositoria dengan shelf-life yang lama.
4) Basis Suppositoria Hidrofilik
a) Suppositoria Gliserin
Formula ini sering kali digunakan dalam suppositoria vaginal. Yang dimaksudkan untuk penggunaan efek
lokal dari zat anti mikroba suppositoria melarut perlahan untuk memperpanjang aktifitas obat tersebut
karena gliserin bersifat higroskopik, maka suppositoria dikemas dalam bahan yang dapat melindunginya
dari kelembaban disekelilingnya. Suppositoria gelatin yang mengandung gliserin membantu
pertumbuhan bakteri atau jamur, karena itu suppositoria disimpan dalam tempat dinggin dan sering kali
mengandung zat-zat yang menghambat pertumbuhan mikroba.
b) Berbagai Polietilenglikol
Suppositoria Polietilenglikol dapat dibuat dengan pencetakan maupun metode kompressi dengan suatu
campuran 6% Heksatiesol 1.2.6 dengan polietilenlikol 1540 dan 12 % polimer. Polietilen oksida 4000
merupakan basis yang sesuai terutama untuk teknik kompressi dingin.

VII. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN SUPPOSITORIA
Keuntungan :
1. Menurut R.Voight hal 282
a. Tidak merusak lambung
b. Tanpa rasa yang tidak enak (kemualan)
c. Mudah dipakai bahkan pada saat pasien tidak sadarkan diri, sulit menelan dan sebagainya.
d. Pemakaian suppositoria pada umumnya tidak menimbulkan rasa sakit.
2. Menurut Ansel hal 579
a. Obat yang masuk dibuat tidak aktif oleh pH atau aktivitas enzim dalam lambung atau perlu dibawa
untuk masuk ke dalam lingkungan merusak ini.
b. Obat yang merangsang lambung dapat dibiarkan tanpa menimbulkan perangsangan.
c. Obat yang dirusak dalam partal dapat melewati hati setelah diabsorbsi pada rectum.
d. Cara ini lebih sesuai digunakan oleh pasien dewasa dan anak-anak yang tidak dapat atau tidak mau
menelan obat.

3. Menurut FI edisi IV hal 16
Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung-pelindung ditempat sebagai pembawa zat terapeutik
yang bersifat lokal dan sistemik.
4. Menurut Parrot hal 582
- Suppositoria digunakan untuk efek lokal dan sistemik
- Obat dan produk yang memualkan bagi orang yang lemah seringkali lebih tepat dalam bentuk
suppositoria.
5. Menurut Scovilles hal 3086
- Suppositoria tidak hanya digunakan aksi lokal terapi juga dari pemberian obat untuk efek sistemik.
- Pada dosis yang sedikit pada rektum menghasilkan penyerapan dari bahan-bahan yang dapat larut
dengan efek yang masuk lambung ke dalam sirkulasi vena.
- Obat dalam bentuk sediaaan ini sangat berguna dalam keadaan dimana obat tidak dapat ditoleransi
dengan mulut sebab pasien menjadi lemah atau muntah dengan beberapa alasan ini pemberian lokal ini
memberikan kontra indikasi.
6. Menurut Lachman hal 1148
Suppositoria rectal juga digunakan untuk efek sistemik dalam kondisi dimana pemberian obat secara
oral tidak akan ditahan atau diabsorbsikan dengan cepat seperti dalam keadaan mual yang hebat dan
muntah pada palalisys ileus.
7. Menurut RPS 18th hal 1609
Suppositoria dalam khusus pemberian obat yang tepat kepada yang tua dan muda.
Kerugian
1. Menurut Lachman hal 1151-1153
- Dinding membran diliputi suatu lapisan mukosa yang relatif konstan yang dapat bertanduk sebagai
pengahalang mekanik untuk jalannya obat melalui pori-pori.
- Suatu obat yang sangat sukar larut larut dalam minyak.
2. Menurut R. Voight
Harus dalam kondisi penyimpanan yang tepat (kering , dingin) tidak dilindungi dari cayaha, bebas udara
disimpan dalam bentuk terpasang tidak sebagai barang santai untuk memperpanjang stabilitasnya.
3. Menurut Ansel hal 579
Dosis obat yang digunakan melalui rectum mungkin lebih besar atau lebih kecil daripada yang dipakai
secara oral tergantung pada faktor-faktor kedalam tubuh pasien. Sifat fisika kimia obat dari kemampuan
obat melewati penghalang fisiologis , untuk diabsorbsi dan sifat basis suppo yang dimaksudkan untuk
obat-obat sistemik efek lokal umumnya terjadi dengan bentuk/waktu setengah jam sampai sedikit 4
jam.


4. Menurut RPS hal 14
Kecuali bila terpaksa dan diperlukan untuk hal-hal tersebut untuk pemberian obat dalam sentuk
suppositoria untuk mendapat efek sistemik kurang merugikan karena :
- Absorbsi obat dari suppositoria tidak konsisten
- Cairan dalam rectum relatif sedikit dibandingkan dengan cairan saluran cerna (lambung dan usus)
kekurangan cairan dalam rectum menghambat proses desintegrasi dan absorbsi.
- Difusi /absorbsi obat melalui mukosa rectum terbatas.

VIII. SYARAT BASISI YANG IDEAL
a. Menurut ScovilleS hal 370-371
Dari segi pandang pada formulasi basis suppositoria ideal seharusnya : stabil, mudah dalam penuangan,
menjadi keras pada pendinginan dengan cepat, tidak membutuhkan lubrikan pencetakan, mempunyai
penampilan yang baik, cocok dengan semua obat. Dari sudut pandang dari absorbsi obat pada basis
seharusnya netral dalam reaksi, tidak iritasi, kehadiran dari obat dalam mengabsorbsi bentuk sangat
mudah, melunak lengkap atau larut pada suhu tubuh dalam rektum dengan 30 mm dan tidak bocor
pada rektum.


b. Menurut R. Voight hal 283-284
1. Secara fisiologis netral tanpa menimbulkan rangsangan pada usus ini dapat ditimbulkan dalam
massa fisiologi atau ketagihan kekerasan terlalu besar , tetap juga peracikan dari bahan obat yang tidak
cukup terhaluskan.
2. Secara kimia netral (tanpa tidak tersatunya bahan obat)
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil)
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (dengan ini pembentukan yang cepat dan
massa dalam pembentukan kontrasibilitas yang baik , pencegah suatu pendingin es dalam pembentuk.
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir dengan titik lebur jernih.
6. Viskositas yang memadat (pengurangan lebih lanjut dari sedimentasi bahan obat tersuspensi, tinggi
ketetapan tekanan)
7. Sebaiknya suppositoria dalam beberapa menit melebur pada suhu tubuh atau melarut (persyaratan
untuk kerja obat)
8. Pembebasan obat yang baik dan reabsorbsinya.
9. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan pewarnaan, pengerasan, ketetapan
bentuk dan daya patah yang baik).
c. Menurut Lachman , hal 1168
1. Telah mencapai kesetimbangan kristalivitas dimana komponen mencair dalam temperatur rectum
(360C)
2. Tidak toksik dan tidak mengiritasi jaringan yang peka dan meradang
3. Dapat bercampur dengan berbagai jenis obat.
4. Basis suppositoria tersebut tidak mempunyai bentuk meta stabil (tidak berubah bentuk dalam
keadaan semula pada saat pelelehan)
5. Basis suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada pendinginan
6. Basis suppositoria mempunyai sifat membasahi dan mengemulsi
7. Basis suppositoria tidak merangsang
8. Angka air tinggi maksudnya persentase air yang tinggi dapat dimaksudkan kedalamnya.
9. Stabil pada penyimpanan maksudnya warna, bau dan pola pelepasan obat
10. Tidak mempunyai efek obat
11. Dapat dibuat suppositoria dengan tangan mesin kompressi atau akstruksi
d. Menurut RPS 18th hal 1610
1. Basis compatible dengan beberapa obat.
2. Meleleh atau tidak larut dalam cairan rektal.
3. Harus stabil pada penyimpanan tidak harus mengikat tapi melepas atau absorbsi obat.
4. Tidak beracun dan tidak teriritasi dalam membran mukosa
5. Cepat bercampur dengan berbagai macam obat.
e. Menurut Ansel , hal 581
Basis selalu padat dalam suhu ruangan tetapi akan melunak , melebur atau melarut mudah pada suhu
tubuh sehingga obat yang dikandungnya dapat sepenuhnya didapat setelah dimaksukkan.
f. Menurut FI edisi III 32
Bahan dasar harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.

IX. METODE PEMBUATAN SUPPOSITORIA
a. Menurut Lachman hal 1179
1. Metode dengan Tangan
Metode pembuatan suppositoria yang paling sederhana dan yang paling tua adalah dengan tangan.
Yakni dengan menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat aktif
menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan aktif dengan
menggunakan atau dilarutkan dengan air, atau kadang-kadang dicampur atau dengan sedikit lemak bulu
domba untuk mempermudah penyatuan basis suppositoria. Kemudian massa digulung menjadi satu
barang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki atau menjadi bola-bola vaginal sesuai
dengan berat yang diinginkan. Batang silinder dipotong menjadi beberapa bagian kemudian salah satu
ujungnya diruncingkan.
2. Mencetak kompressi
Suppositoria yang lebih seragam dengan cara farmasetik dapat dibuat dengan mengkompressi larutan
massa dingin menjadi suatu bentuk yang dikehendaki, suatu roda tangan berputar menekan suatu bistor
pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder sehingga massa terdorong masuk ke dalam
cetakan.
3. Metode Tuang
Metode yang paling umum digunakan pada suppositoria skala kecil dan skala besar adalah pencetakan.
Pertama-tama bahan basis diletakkan sebaiknya di atas penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan setempat yang berlebihan. Kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau
disuspensikan ke dalamnya.
4. Metode Pencetak Otomatis
Pelaksanaan pencetakan (penanganan, pendinginan) dan pemindahan dapat dilakukan dengan mesin.
Seluruh pengisian, pengeluaran dan pembersihan cetak semua dijalankan secara otomatis. Pertama-
tama massa yang telah disiapkan diisikan ke dalam suatu corong pengisi dimana massa tersebut secara
kontinyu dicampur dan dijaga pada temperatur konstan.

b. Menurut Ansel hal 585
1. Pembuatan dengan cara cetak
Langkah-langkah dengan cara percetakan termasuk :
- Melebur basis
- Mencampur bahan obat yang diinginkan
- Menuang hasil leburan ke dalam cetakan
- Membiarkan leburan menjadi dingin dan membuat menjadi suppositoria
- Melepaskan suppositoria
2. Pembuatan dengan Cara Kompressi
- Suppositoria dapat dibuat juga dengan massa yang terdiri dari campuran basis dengan bahan
obatnya dalam cetakan khususnya memakai alat mesin pembuat suppositoria dan bahan lainnya. Dalam
formula dicampur/diaduk dengan baik. Pergeseran pada proses menjadikan suppositoria lembek seperti
kental pasta. Proses kompressi khususnya cocok untuk pembuatan suppositoria yang mengandung
bahan obat yang mengandung sebagian besar bahan yang tidak larut dalam basis.
- Dalam pembuatan suppo dengan media kompressi adonan suppositoria dimasukkan ke dalam
sebuah selinder yang kemudian ditutup dengan cara menekan salah satu ujung secara mekanis atau
dengan memutarkan rodanya maka adonan tadi terdorong keluar pada ujung lainnya dan masuk ke
dalam celah-celah cetakan ketika cetakan terisi penuh. Sebuah lempeng yang bergerak di ujung bagian
belakang cetakan dilepaskan dan pada saat tambahan tekanan diberikan kepada adonan yang ada
dalam selinder. Suppositoria yang telah dibentuk tadi akan lepas dari cetakan.
- Pembuatan secara menggulung dan membentuk tangan. Dengan tangan terdapat cetakan
suppositoria dalam macam-macam ukuran dan bentuk. Pengolahan suppositoria dengan tangan oleh
ahli farmasi sekarang rasanya hampir tidak perlu dilakukan lagi. Namun demikian melihat dan
membentuk suppositoria dengan tangan merupakan bagian dari sejumlah seni para ahli farmasi.
c. Menurut RPS 18th hal 1611-1612
1. Suppositoria Gulung ( yang dibentuk oleh tangan)
Adalah metode tertua dan tersimpel dalam penyiapan bentuk dosis ini, manipulasi membutuhkan
keterampilan yang banyak. Natrium menghendaki komplikasi panas dan preparat cetakan proses secara
umum dapat digambarkan sebagai berikut :
Proses umum
Ambil jumlah yang ditentukan pada zat kimia, yang berhubungan dengan obat-obatan dan jumlah yang
cukup pada minyak theobroma yang diparut/menciut dalam sebuah lesung/lumpang mengurangi
bahan-bahan obat-obatan pada sebuah bubuk halus atau jika disusun dengan sari-sari, lunak dan alkohol
yang ditambahkan air dan digosok sampai pasta lambat terbentuk jumlah tepat minyak, theobroma
yang menciut kemudian ditambah dan sebuah massa menyerupai sebuah massa pil yang dibuat
sepenuhnya melalui penggabungan bahan-bahan dengan alat penumbuk, kadang-kadang dengan
bantuan sejumlah kecil lemak wol. Ketika massa menjadi belastik dibawah peremasan yang liat alat
penumbuk, dengan cepat ini dilepaskan atau dilonggarkan dari lesung dengan spatalase sepotong kertas
penyaring yang disimpan antara massa dan tangan-tangan selama prosedur peremasan dan
penggulungan. Dengan cepat, gerakan perputaran tangan, massa yangf digulung kesebuah bola yang
dengan segera ditempatkan diatas ubin pil silinder suppositoria dibentuk melalui penggulungan massa
pada ubin dengan sebuah papan lurus, sebagian dibantu oleh telapak tangan lain jika kondisi
memungkinkan pipa suppositoria sering kali akan menunjukkan kecenderungan untuk retak dipusat,
pengembangan inti lem atau lubang. Ini terjadi ketika massa tidak diremas dan dilembutkan
secukupnya dengan hasil bahwa tekanan papan penggulung tidak dibawah secara keseluruhan massa
tetapi didesak terutama pada permukaan panjang silinder biasanya disamakan sekitar 4 spasi pada ubin
pil setiap suppositoria. Jadi pembuatan potongan, ketika dipotong hampir suppositoria dengan sudah
selesai seandainya pembentukan point (titik) ketika silinder telah dipotong sejumlah pot organ yang
tepat dengan spatula, atau dibeberapa kasus bahkan dengan pembentukannya dengan jari-jari untuk
memproduksi sebuah titik yang dibulatkan.
2. Pengempaan Suppositoria Cetak (Lebur) Metode Preparat
Suppositoria ini juga menghindari panas massa suppositoria, seperti campuran minyak dan obat
theobroma yang menciut, dipaksa kesebuah cetakan dibawah tekanan menggunakan alat pemeras yang
dioperasikan oleh roda-roda massa dipaksa kepembukaan cetakan, tekanan dilepaskan. Cetakan pada
sebuah mesin pengempaan dingin berskala besar dioperasikan secara hedrolik. Jaket air untuk
pendinginan dan tekanan diterapkan melalui seber (pengisap) untuk memadatkan atau memampatkan
massa menjadi pembukaan cetakan.
d. Menurut R. Voight hal 291-293
Menurut teknik pembuatannya maka dibedakan antara cara tuang dan cara cetak.
a. Cara Tuang
Terjadi paling sering untuk penggunaan setelah massa dilebur dan disatukan dengan bahan obat maka,
mereka dituang dalam pembentuk untuk menjamin suatu pembekuan yang cepat dan untuk mengurang
satu sedimentasi dan bahan obat lebih lanjut. Mak pada peleburan massa diperhatikan bahwa suhu
tidak boleh naik terlalu tinggi dan yidak dijumpai leburan jernih, seharusnya banyak dari massa pada
penuangan sedapat mungkin menunjukkan visikositas tinggi dan memiliki suatu suhu, yang terletak
hanya sedikit diatas titik bekunya. Itu dicapai melalui pemanasan yang sangat berhati-hati (misalnya
dengan penyinar infra merah) penting atau bahwa dengan ini massa diaduk intensif secara tetap. Pada
penuangan sebaliknya terdapat satu campuran sejenis krim artinya didalam massa sebaliknya terdapat
bahan yang melebur pendampingan. Metode ini dinyatakan sebagai cara dileburkan dan lebur jernih,
yang hanya dapat diperlukan pada penggabungan besar-besaran adalah lebih disuka, penanganan dari
penggabungan suppositoria kecil-kecilan diambil tuang tunggal artinya setiap lubang pembentuk
suppositoria diisikan berturut-turut. Pada pembuatan semi industri berlangsung suatu pengisian
serempak seluruh lubang dari pembentuk dengan menggunakan perlengkapan berbentuk corong uang
cocok sehingga dikatakan suatu ruang massa.
b. Cara Cetak
Pada cara cetak dikerjakan dengan dasar suppositoria terparut, dengan dicampurkan bahan obat yang
diserbuk halus, materi awal yang disiapkan sedemikian diisikan dalam sebuah pencetak suppositori
(misalnya pencetak suppositoria universal) dengan menggunakan sebuah torak, yang digunakan melalui
sebuah pembuka kecil menjadi bentuknya. Diindustri, peralatan cetak yang digunakan bekerja dengan
10 Mpa (100 cc). Massa suppositoria yang telah dikenal yang umum diperdagangkan semuanya lebih
atau kurang cocok untuk pembuatan dari pembuatan suppositoria cetak. Jika dijumpai kesulitan, maka
untuk pengurangan kerapatan dimasukkan pembuat lunak (parafin cair, lemak bulu domba).


X. EVALUASI SUPPOSITORIA
Menurut Lachman hal 1191-1194
1. Uji Kisaran Leleh
Uji ini disebut juga uji kesaran meleleh makro dan uji merupakan salah satu ukuran waktu yang
diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila dicelupkan dalam penangas air dengan
temperatur tetap (370C). Sebaiknya uji kisaran meleleh mikro adalah kisaran leleh yang diukur dalam
pipa kapiler hanya untuk basis lemak.
2. Uji Pencahar atau uji waktu melunak dari suppositoria rektal suatu modifikasi yang dikembangkan
oleh Krowezyasku adalah uji suppositoria akhir lain yang berguna. Uji tersebut terdiri dari pipa U yang
sebagian dicelupkan kedalam penangas air yang bertemperatur konstan. Penyempitan pada satu
menahan suppositoria tersebut pada tempatnya dalam pipa.
3. Uji Kehancuran
Berbagai larutan sudah diuraikan untuk memecahkan masalah kerapuhan suppositoria. Uji kehancuran
dirancang sebagai metode untuk mengukur keregasan atau kerapuhan suppositoria. Alat yang
digunakan untuk uji tersebut terdiri dari suatu ruang berbanding rangkap dimana suppositoria yang diuji
ditempatkan. Air pada suhu 370C dipompa melalui dinding rangkap ruang tersebut. Dan suppositoria
diisikan ke dalam dinding dalam yang kering, menopang lempeng dimana suatu batang diletakkan.
4. Uji Disolusi
Pengujian laju pelepasan zat obat dari suppositoria secara invitro selalu mengalami kesulitan karena
adanya pelelehan. Perubahan bentuk dan depresi dari medium disolusi. Pengujian awal dilakukan
dengan penetapan biasa dalam gelas piala yang mengandung suatu medium.

XI. SPESIFIKASI UNTUK BASIS SUPPOSITORIA
a. Menurut Lachman hal 1156-1167
1. Asal dan Kompressi Kimia
Uraian singkat dari konversi mengungkapkan sumber asal (yakni apakah benar-benar alami atau sintetis,
atau produk yang dimodifikasi). Dan susunan kimia ketidak tercampuran basis dengan konstituen-
konstituen lain secara fisika atau kimia dapat diramalkan jika komposisi formula yang tepat diketahui,
termasuk pengawet, antioksidant dan pengemulsi.
2. Kisaran Titik Leleh
Karena basis suppositoria merupakan campuran kompleks trigliserida, maka basis suppositoria tersebut
tidak mempunyai titik leleh tajam. Karakteristik titik leleh dinyatakan sebagai suatu kisaran yang
menunjukkan temperatur dimana lemak mulai meleleh dan temperatur dimana lemak meleleh
seluruhnya.

3. Solid-Fat Index (SFI)
Dari grafik persentase zat padat terhadap temperatur, seseorang dapat menentukan kisaran pemadatan
dan kisaran leleh basah, basah lemak juga bersifat leleh, rasa pada permukaan dan kekerasan basis.
Basis dengan suhu tetes yang jelas dalam zat padat dan rentang temperatur pendek terbukti rapuh jika
meleleh terlalu cepat.
4. Angka Hidroksil
Angka hidroksil merupakan suatu ukuran posisi yang tidak diesterifikasi pada molekul-molekul gliserida
dan mencerminkan kandungan monogliserida dan diglerisida suatu basis lemak, angka ini menunjukkan
miligram KOH yang akan menetraksir asam asetat yang digunakan untuk mengesetilasi 1 gram lemak.
5. Titik Memadat
Harga ini meramalkan waktu yang dibutuhkan oleh basis untuk menjadi padat dan besar adalah cetakan.
Pertama-tama sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap untuk menghindari pemanasan
setempat yang berlebihan. Kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan ke dalamnya.
6. Mesin Pencetak Otomatis
Pelaksanaan pencetakan (penuangan, pendinginan dan pemindahan) dapat dilakukan dengan mesin.
Seluruh pengisian, pengeluaran dan pembersihan cetakan, semua dijalankan secara otomatis produksi
suatu mesin putar khusus berkisar antara 3500 sampai 6000 suppositoria per jam.
b. Menurut Ansel hal 585
1. Dengan cara mencetak
Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode percetakan termasuk :
- Melebur basis
- Mencampurkan bahan obat yang digunakan
- Menuang hasil leburan ke dalam cetakan
- Membiarkan leburan menjadi dingin dan mengental menjadi suppositoria
- Melepaskan suppositoria dengan oleum cacao, gelatin, gliserin, polieleglikol dan basis suppositoria
lainnya yang cocok dibuat dengan cara mencetak.
2. Dengan Cara Kompressi
Suppossitoria dapat juga dibuat dengan menekan massa yang terdiri dari, campuran basis dengan bahan
obatnya dalam cetakan khusus memahami obat/mesin pembuat suppositoria. Dalam pembuatan
dengan cara kompressi dalam cetakan. Basis suppositoria dan bahan lainnya dalam formula
dicampurkan atau diaduk dengan baik, penggeseran pada proses tersebut menjadikan suppositoria
lembek seperti kentalnya pasta.
3. Secara Menggulung dan Membentuk dengan Tangan
Dengan terdapatnya cetakan suppositoria dalam macam-macam ukuran bentuk. Pengolahan
suppositoria dengan tangan oleh ahli farmasis, sekarang rasanya hampir tidak pernah dilakukan. Namun
demikian melintang dan memuat suppositoria dengan tangan merupakan bagian dari rendah sejarah
seni ahli farmasi.
c. Menurut R. Voight hal 289-291
1. Cara Penuangan
Cara ini paling sering digunakan setelah massa melebur dan disatukan dengan bahan obat dituang ke
dalam cetakannya. Untuk menjamin perlakuan yang cepat sehingga lebih mengurangi proses
sedimentasi bahan obat. Pada saat peleburan massa harus diperlihatkan bahwa suhu tidak naik terlalu
tinggi dan tidak membentuk leburan yang jernih bila basis tersebut didinginkan dalam cetakan. Jika
interval antara kisaran leleh dan titik memadainya adalah 100C atau lebih. Maka waktu yang dibutuhkan
untuk memadatkan dapat diperpendek dengan menambahkan pendingin sehingga prosedur pembuatan
lebih efisien.
2. Angka Penyabunan
Jumlah miligram kalium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan asam-asam bebas dan
saponifikasi ester-ester yang dikandung dalam 1 gram lemak adalah suatu indikasi dari tipe (Mono, di
dan tri) gliserida dan juga jumlah gliserida yang ada.
3. Angka Iod
Angka ini mengatakan banyaknya garam iod bereaksi dengan 100 gram lemak atau bahan lain yang tidak
jenuh. Peruraian mungkin disebabkan oleh lembab. Asam-asam dan disigen meningkat dengan harga iod
yang tinggi.
4. Angka Alir
Jumlah garam yang dapat dimasukkan dalam 100 gram lemak dinyatakan dengan harga ini. Angka air
meningkat dengan adanya penambahan zat aktif. Permukaan monogliseridsa dan pengemulsi-
pengemulsi lain.
5. Angka Asam
Banyaknya miligram kalium hidroksida yang diperlukan utnuk menetralkan asam bebas dalam 1 gram
zat dinyatakan dengan harga ini. Angka asam yang rendah atau tidak adanya asam. Penting untuk basis
suppositoria yang baik.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmat Nya kami
bisa menyelesaikan makalah bertema Cara Pemakaian Obat Khusus dan ber judul Cermat dalam
Berobat Khusus . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Farmasetika II. Kami
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan
dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Purwokerto, Maret 2013

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR_________________________________________i
DAFTAR ISI_________________________________________________ii
BAB I PENDAHULUAN______________________________________1
A.PengertianObat_________________________________________1
B.Penggolongan Obat______________________________________1
C.Solutiones (Larutan)______________________________________4
BAB II PEMBAHASAN_______________________________________9
A.Sediaan Larutan Obat____________________________________9
B.Cara Penggunaan Obat Khusus___________________________10
BAB III PENUTUP__________________________________________17
A.Kesimpulan____________________________________________17
B.Saran________________________________________________17
DAFTAR PUSTAKA__________________________________________18




BAB IPENDAHULUANI.1 Latar Belakang
Berdasarkan perkembangan zaman bentuk dan sediaan obat beragam,ada yang berbentuk tablet,
serbuk, kapsul, sirup, dan suppositoria.Beragamnya bentuk sediaan tersebut didasarkan atas kebutuhan
darikonsumen atau pasien. Bentuk dan sediaan obat pun dapat diberikan denganrute yang berbeda-
beda dan memberikan efek yang berbeda-beda. Untuk suppositoria rute pemberiannya dimasukkan di
dalam dubur atau lubangyang ada di dalam tubuh. Penggunaan suppositoria ditujukan untuk pasienyang
susah menelan, terjadi gangguan pada saluran cerna, dan pada pasienyang tidak sadarkan
diri.Suppositoria dapat dibuat dalam bentuk rektal, ovula, dan uretra.Bentuk suppositoria dapat
ditentukan berdasarkan basis yang digunakan. Basis suppositoria mempunyai peranan penting dalam
pelepasan obat yangdikandungnya. Salah satu syarat utama basis suppositoria adalah selalu padat
dalam suhu ruangan tetapi segera melunak, melebur atau melarutibahas pada suhu tubuh sehingga
obat yang dikandungnya dapat tersediasepenuhnya, segera setelah pemakaian. Basis suppositoria yang
umumdigunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabatiterhidrogenasi, campuran
polietilenglikol (PEG) dengan berbagai bobotmolekul dan ester asam lemak polietilen glikol.Suppositoria
dapat memberikan efek lokal dan efek sistemik. Padaaksi lokal, begitu dimasukkan basis suppositoria
akan meleleh, melunak,

atau melarut menyebarkan bahan obat yang dibawanya ke jaringan-jaringandi daerah tersebut. Obat ini
dimaksudkan agar dapat ditahan dalam ruangtersebut untuk efek kerja local, atau bisa juga
dimaksudkan agar diabsorpsiuntuk mendapat efek sisitemik. Sedangkan pada aksi sitemik
membranemukosa rectum atau vagina memungkinkan absorbsi dari kebanyakan obatyang dapat larut.
Dalam makalah ini, akan dibahas secara mendalam tentangsuppositoria beserta formula suppositoria
dengan zat aktif salbutamol

AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG
Juli 2013





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Seiring dengan semakin berkembangnya sains dan tekhnologi, perkembangan di dunia farmasi pun tak
ketinggalan. Semakin hari semakin banyak jenis dan ragam penyakit yang muncul. Perkembangan
pengobatan pun terus di kembangkan. Berbagai macam bentuk sediaan obat, baik itu liquid, solid dan
semisolid telah dikembangkan oleh ahli farmasi dan industri.
Ahli farmasi mengembangkan obat untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat, yang bertujuan untuk
memberikan efek terapi obat, dosis yang sesuai untuk di konsumsi oleh masyarakat. Selain itu, sediaan
semisolid digunakan untuk pemakaian luar seperti krim, salep, gel, pasta dan suppositoria yang
digunakan melalui rektum. Kelebihan dari sediaan semisolid ini yaitu, mudah dibawa, mudah pada
pengabsorbsiannya. Juga untuk memberikan perlindungan pengobatan terhadap kulit tubuh.
Berbagai macam bentuk sediaan semisolid memiliki kekurangan, salah satu diantaranya yaitu mudah di
tumbuhi mikroba. Untuk meminimalisir kekurangan tersebut, para ahli farmasis harus bisa
memformulasikan dan memproduksi sediaan secara tepat. Dengan demikian, farmasis harus
mengetahui langkah-langkah yang tepat untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Dengan
cara melakukan, menentukan formulasi dengan benar dan memperhatikan konsentrasi serta
karakteristik bahan yang digunakan dan dikombinasikan dengan baik dan benar.

1.2 Tujuan
Mengetahui langkah-langkah cara pembuatan sediaan suppositoria yang baik dan tepat.
1.3 Manfaat
Dapat memahami langkah-langkah dalam pembuatan sediaan suppositoria.
Untuk dapat mengaplikasikan di dunia kerja.
Untuk menambah wawasan dan ketrampilan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Suppositoria

Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, berbentuk torpedo, dapat melunak,
melarut atau meleleh pada suhu tubuh. (Moh. Anief. 1997)
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal,
vagina atau uretra. (Farmakope Indonesia Edisi IV)
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat
melarut, melunak atau meleleh pada suhu tubuh. ( Farmakope Indonesia Edisi III)
Suppositoria adalah sediaan padat, melunak, melumer dan larut pada suhu tubuh, digunakan dengan
cara menyisipkan ke dalam rectum, berbentuk sesuai dengan maksud penggunaannya, umumnya
berbentuk torpedo. (Formularium Nasional)
Jadi, suppositoria dapat didefinisikan sebagai suatu sediaan padat yang berbentuk torpedo yang
biasanya digunakan melalui rectum dan dapat juga melalui lubang di area tubuh, sediaan ini ditujukan
pada pasien yang mudah muntah, tidak sadar atau butuh penanganan cepat.
2.2 Macam-macam Suppositoria
a. Suppositoria untuk rectum (rectal)
Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Biasanya suppositoria rektum
panjangnya 32 mm (1,5 inchi), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Bentuk suppositoria
rektum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung kepada bobot jenis bahan obat
dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum
cacao (Ansel, 2005).
b. Suppositoria untuk vagina (vaginal)
Suppositoria untuk vagina disebut juga pessarium biasanya berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut,
sesuai kompendik resmi beratnya 5 g, apabila basisnya oleum cacao.
c. Suppositoria untuk saluran urin (uretra)
Suppositoria untuk untuk saluran urin juuga disebut bougie, bentuknya rampiung seperti pensil,
gunanya untuk dimasukkan kesaluran urin pria atau wanita. Suppositoria saluran urin pria bergaris
tengah 3-6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang
lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao beratnya 4 g. Suppositoria untuk saluran urin wanita
panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm dan beratnya 2 g, inipun bila oleum
cacao sebagai basisnya.
d. Suppositoia untuk hidung dan telinga
Suppositoia untuk hidung dan telinga yang disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk sama
dengan suppositoria saluran urin hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. Suppositoria
telinga umumnya diolah dengan suatu basis gelatin yang mengandung gliserin. Seperti dinyatakan
sebelumnya, suppositoria untuk obat hidung dan telinga sekarang jarang digunakan.

2.3 Tujuan Penggunaan Supositoria
1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane mukosa
dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan seperti
pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap oleh
mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat
secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).

2.4 Keuntungan dan Kerugian Supositoria
2.4.1 Keuntungan Supositoria:
a. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
b. Dapat menghindari keruskan obat oleh enzim pencernaan dan asam lambung.
c. Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih
cepat daripada penggunaan obat peroral.
d. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.
2.4.2 Kerugian Supositoria:
a. Pemakaiannya tidak menyenangkan.
b. Tidak dapat disimpan pada suhu ruang.

2.4.3 Persyaratan Supositoria
Sediaan supositoria memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu tubuh atau melarut
(persyaratan kerja obat).
2. Pembebasan dan responsi obat yang baik.
3. Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan, pewarnaan,
penegerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik, dan stabilitas yang memadai
dari bahan obat).
4. Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.

2.5 Basis supositoria
Sediaan supositoria ketika dimasukkan dalam lubang tubuh akan melebur, melarut dan
terdispersi. Dalam hal ini, basis supositoria memainkan peranan penting. Maka dari itu basis supositoria
harus memenuhi syarat utama, yaitu basis harus selalu padat dalam suhu ruangan dan akan melebur
maupun melunak dengan mudah pada suhu tubuh sehingga zat aktif atau obat yang dikandungnya
dapat melarut dan didispersikan merata kemudian menghasilkan efek terapi lokal maupun sistemik.
Basis supositoria yang ideal juga harus mempunyai beberapa sifat seperti berikut:
1. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
2. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
3. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta pemisahan obat.
4. Kadar air mencukupi.
5. Untuk basis lemak, maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus diketahui
jelas.

2.5.1 Persayaratan Basis Suppositoria
1. Secara fisiologi netral (tidak menimbulkan rangsangan pada usus, hal ini dapat disebabkan oleh
massa yang tidak fisiologis ataupun tengik, terlalu keras, juga oleh kasarnya bahan obat yang diracik).
2. Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat).
3. Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak stabil).
4. Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku (pembekuan dapat berlangsung cepat dalam
cetakan, kontraksibilitas baik, mencegah pendinginan mendaak dalam cetakan).
5. Interval yang rendah antara titik lebur mengalir denagn titik lebur jernih (ini dikarenakan untuk
kemantapan bentuk dan daya penyimpanan, khususnya pada suhu tinggi sehingga tetap stabil).
2.5.2 Macam-macam Basis Suppositoria
1. Basis berlemak, contohnya: oleum cacao.
2. Basis lain, pembentuk emulsi dalam minyak: campuran tween dengan gliserin laurat.
3. Basis yang bercampur atau larut dalam air, contohnya: gliserin-gelatin, PEG (polietien glikol).

2.5.3 Bahan Dasar Supositoria
1. Bahan dasar berlemak: oleum cacao
Lemak coklat merupakan trigliserida berwarna kekuninagan, memiliki bau yang khas dan bersifat
polimorf (mempunyai banyak bentuk krital). Jika dipanaskan pada suhu sektiras 30C akan mulai
mencair dan biasanya meleleh sekitar 34-35C, sedangkan dibawah 30C berupa massa semipadat. Jika
suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan
semua inti kristal menstabil.
Keuntungan oleum cacao:
a. Dapat melebur pada suhu tubuh.
b. Dapat memadat pada suhu kamar.
Kerugian oleum cacao:
a. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (cairan pengeluaran).
b. Titik leburnya tidak menentu, kadang naik dan kadang turun apabila ditambahkan dengan bahan
tertentu.
c. Meleleh pada udara yang panas.

2. PEG (Polietilenglikol)
PEG merupakan etilenglikol terpolimerisasi dengan bobot molekul antara 300-6000. Dipasaran
terdapat PEG 400 (carbowax 400). PEG 1000 (carbowax 1000), PEG 1500 (carbowax 1500), PEG 4000
(carbowax 4000), dan PEG 6000 (carbowax 6000). PEG di bawah 1000 berbentuk cair, sedangkan di atas
1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Formula PEG yang dipakai sebagai berikut:
1. Bahan dasar tidak berair: PEG 4000 4% (25%) dan PEG 1000 96% (75%).
2. Bahan dasar berair: PEG 1540 30%, PEG 6000 50% dan aqua+obat 20%.
Titik lebur PEG antara 35-63C, tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan
sekresi tubuh.
Keuntungan menggunakan PEG sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Tidak mengiritasi atau merangsang.
2. Tidak ada kesulitan dengan titik leburnya, jika dibandingkan dengan oleum cacao.
3. Tetap kontak dengan lapisan mukosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh.
Kerugian jika digunakan sebagai basis supositoria, antara lain:
1. Menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan, sehingga timbul rasa yang
menyengat. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan supositoria ke dalam air
dahulu sebelum digunakan.
2. Dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.
Pembuatan supositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar, lalu
dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan supositoria dengan bahan dasar lemak
coklat.

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi Absobsi Obat per Rektal
Rektum mengandung sedikit cairan dengan PH 7,2 dan kapasitas dapar rendah. Epitel rektum sifatnya
berlipoid (berlemak) maka diutamakan permeabel terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang
mudah larut lemak).

2.7 Nilai Tukar
Nilai tukar adalah nilai yang digunakan untuk mengurangi kadar zat aktif. Tujuan dari pengurangan zat
aktif adalah meminimalisir over dosis yang ditimbulkan. Karena zat aktif yang tertera pada literature
merupakan kadar zat aktif yang digunakan secara oral, maka pada penggunaan untuk rectal kadar zat
aktif harus dikurangi. Hal ini berkaitan dengan proses farmakokinetik di dalam tubuh. Untuk obat-obat
oral prosesnya melalui ADME sedangkan untuk obat-obat lokal (suppo) prosesnya tidak melalui ADME
melainkan langsung diserap oleh permukaan mukosa rectal, kemudian masuk ke pembuluh darah
selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah. Oleh karena itu, jika zat aktif masih menggunakan dosis
oral, maka dikhawatirkan terjadi over dosis pada pasien.
Pada pembuatan supositoria menggunakan cetakan, volume supositoria harus tetap. Tetapi, bobotnya
beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya ekstrak belladonea
dan garam alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot minyak cokelat yang mempunyai volume yang sama
dengan 1g obat. Berikut adalah tabel nilai tukar:


Nama Obat

Nilai tukar ol cacao per 1g
Acidum boricum

0.65
Garam alkaloid

0.7
Bismuth subgallas

0.37
Ichtammolum

0.72
Tanninum

0.68
Aethylis aminobenzoas

0.68
Aminoplhylinum

0.86
Bismuth subnitras

0.20
Sulfonamidum

0.60
Zinci oxydum

0.25

Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0.7 kecuali untuk garam Bismuth dan Zincy
Oxydum. Untuk larutan nilai tukarnya dianggap satu. Bila supositoria mengandung obat atau zat padat
yang banyak, pengisian pada cetakan berkurang dan jika dipenuhi dengan campuran massa, akan
diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat supositoria yang sesuai
dapat dilakukan dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar.

2.8 Uji Bahan Aktif
1. Titik lebur
Titik lebur adalah suhu di mana zat yang kita uji pertama kali melebur atau meleleh seluruhnya yang
ditunjukan pada saat fase padat cepat hilang. Dalam analisa farmasi titik lebur untuk menetapkan
karakteristik senyawa dan identifikasi adanya pengotor. Untuk uji titik lebur di butuhkan alat
pengukuran titik lebur yaitu, Melting Point Apparatus (MPA) alat ini digunakan untuk melihat atau
mengukur besarnya titik lebur suatu zat.

2. Bobot jenis
Bobot jenis adalah perbandingan bobot jenis udara pada suhu 25 terhadap bobot air dengan volume
dan suhu yang sama. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot jenis
dengan bobot air dalam piknometer. Lalu dinyatakan lain dalam monografi keduanya ditetapkan pada
suhu 25. (FI IV hal 1302). Bobot jenis dapat digunakan untuk:
Mengetahui kepekaan suatu zat
Mengetahui kemurniaan suatu zat
Mengetahui jenis zat
Piknometer untuk menentukan bobot jenis zat padat dan zat cair. Zat padat berbeda dengan zat cair, zat
padat memiliki pori dan rongga sehingga berat jenis tidak dapat terdefinisi dengan jelas. Berat jenis
sejati merupakan berat jenis yang dihitung tanpa pori atau rongga ruang. Sedangkan berat jenis nyata
merupakan berat jenis yang di hitung sekaligus degan porinya sehingga nyata < sejati.
2.9 Metode Pembuatan
Pembuatan supositoria secara umum yaitu bahan dasar supositoria yang digunakan dipilih agar meleleh
pada suhu tubuh atau dapat larut dalam bahan dasar, jika perlu dipanaskan. Jika obat sukar larut dalam
bahan dasar, harus dibuat serbuk halus. setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair,
tuangkan ke dalam cetakan supositoria kemudian didinginkan. Tujuan dibuat serbuk halus untuk
membantu homogenitas zat aktif dengan bahan dasar.
Cetakan suppositoria terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau logam lainnya, namun ada juga yang
terbuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan supositoria.
Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan, supositoria harus dibuat berlebih
(10%), dan sebelum digunakan cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan parafin cair atau minyak
lemak, atau spiritus sapotanus (Soft Soap Liniment) agar sediaan tidak melekat pada cetakan. Namun,
spiritus sapotanus tidak boleh digunakan untuk supositoria yang mengandung garam logam karena akan
bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan oleum recini dalam etanol. Khusus
supositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween bahan pelicin cetakan tidak diperlukan, karena bahan
dasar tersebut dapat mengerut sehingga mudah dilepas dari cetakan pada proses pendinginan.
Metode pembuatan supositoria dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Dengan tangan
Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat
aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan-bahan
aktif dengan menggunakan mortir dan stamper, sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan
mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan garis tengah dan
panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder
dipotong dan salah satu ujungnya diruncingkan.
b. Dengan mencetak kompresi
Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang dikehendaki.
Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang diisikan dalam silinder,
sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
c. Dengan mencetak tuang
Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan setempat yang berlebihan, kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau
disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah didinginkan,
yang umumnya dilapisi krom atau nikel.
2.10 Pengemasan Supositoria
a. Supositoria gliserin dan supositoria gelatin gliserin umumnya dikemas dalam wadah gelas ditutup
rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria.
b. Supositoria yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau
dipisahkan satu sama lain pada celah-celah dalam kotak untuk mencegah perekatan.
c. Supositoria dengan kandungan obat yang sedikit lebih pekat biasnya dibungkus satu per satu dalam
bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal (alumunium foil).

2.11Evaluasi Sediaan
Pengujian sediaan supositoria yang dilakukan sebagai berikut:
1. Uji homogenitas
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur rata dengan
bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi proses absorbsi
dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara menguji homogenitas
yaitu dengan cara mengambil 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau kanan-tengah-kiri) masing-
masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah mikroskop, cara selanjutnya
dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.
2. Bentuk
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti sediaan
suppositoria pada umunya, maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan tersebut
bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan keyakinan pada
pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria merupakan sediaan padat
yang mempunyai bentuk torpedo.
3. Uji waktu hancur
Uji waktu hancur ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama sediaan tersebut dapat hancur dalam
tubuh. Cara uji waktu hancur dengan dimasukkan dalam air yang di set sama dengan suhu tubuh
manusia, kemudian pada sediaan yang berbahan dasar PEG 1000 waktu hancurnya 15 menit,
sedangkan untuk oleum cacao dingin 3 menit. Jika melebihi syarat diatas maka sediaan tersebut belum
memenuhi syarat untuk digunakan dalam tubuh. Mengapa menggunakan media air? Dikarenakan
sebagian besar tubuh manusia mengandung cairan.
4. Keseragaman bobot
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama atau belum,
jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap kemurnian suatu
sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan ditimbang saksama 10
suppositoria, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Dari hasil penetapan kadar, yang
diperoleh dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari masing-masing 10 suppositoria
dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. Jika terdapat sediaan yang beratnya melebihi rata-
rata maka suppositoria tersebut tidak memenuhi syarat dalam keseragaman bobot. Karena
keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam masing-masing
suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek terapi yang sama pula.
5. Uji titik lebur
Uji ini dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan supositoria yang
dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan air dengan suhu 37C. Kemudian
dimasukkan supositoria ke dalam air dan diamati waktu leburnya. Untuk basis oleum cacao dingin
persyaratan leburnya adalah 3 menit, sedangkan untuk PEG 1000 adalah 15 menit.
6. Kerapuhan
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya sukar meleleh.
Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria dipotong horizontal. Kemudian ditandai
kedua titik pengukuran melalui bagian yang melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar
bahan yang datar, kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan
jari atau batang yang dimasukkan ke dalam tabung.
7. Volume Distribusi
Volume distribusi (Vd) merupakan parameter untuk untuk menunjukkan volume penyebaran obat
dalam tubuh dengan kadar plasma atau serum. Volume distribusi ini hanyalah perhitungan volume
sementara yang menggambarkan luasnya distribusi obat dalam tubuh.
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen yang terduru dari plasma atau serum, dan Vd adalah jumlah
obat dalam tubuh dibagi dengan kadarnya dalam plasma atau serum.


Keterangan :
X = jumlah obat dalam tubuh C = kadar obat dalam plasma atau serum
DIV = dosis obat dalam pemberian IV Doral = dosis obat dalam pemberian oral
F = fraksi dosis oral yang mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk aktif.
= bioavailabilitas absolute obat oral
Co= kadar plasma atau serum pada waktu T = 0 (ekstrapolasi garis eliminasi ke t = 0 )

Besarnya Vd ditentukan oleh ukuran dan komposisi tubuh, kemampuan molekul obat memasuki
berbagai kompartemen tubuh, dan derajat ikatan obat dengan protein plasma dan dengan berbagai
jaringan. Obat yang tertimbun dalam jaringan mempunyai kadar dalam plasma yang rendah sekali
sedangkan Vd nya besar (misalnya, digoksin). Untuk obat yang terikat dengan kuat pada protein plasma
mempunyai kadar plasma yang cukup tinggi dan mempunyai Vd yang kecil (misalnya, warfarin,
tolbutamid dan salisilat).
2.12Monografi
Monografi bahan dalam pembuatan sediaan supositorian adalah sebagai berikut:
1. Aminophyllinum, Teofilin Etilendiamin (FI IV hal 90)

Pemerian: butir atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau ammonia lemah, rasa pahit. Jika dibiarkan
di udara terbuka, perlahan-lahan kehilangan etilenadiamina dan menyerap karbon dioksida dengan
melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa terhadap kertas lakmus.
Kelarutan: tidak larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1 g dalam 25 air menghasilkan larutan
jernih, larutan 1 g dalam 5 ml air menghablur jika didiamkan dan larut kembali jika ditambah sedikit
etilenadiamina.
Khasiat: obat asma.
2 Bisakodil, Bisacodylum (FI IV hal 144)
Pemerian: serbuk hablur, putih sampai hampir putih, terutama terdiri dari partikel dengan diameter
terpanjang lebih kecil dari 50 m.
Kelarutan: praktis tidak larut dalam air, larut dalam kloroform, dan dalam benzene, agak sukar larut
dalam etanol dan dalam methanol, sukar larut dalam eter.
Khasiat: obat laksativum atau memperlancar BAB.
3. Oleum Cacao (FI-III hal 453)
Lemak coklat adalahcoklat padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theo Broma Cacao L.
yang telah dikupas/ dipanggang.
Pemerian: lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatic, rasa khas lemak agak rapuh.
Kelarutan: sukar larut dalam etanol (95 %)P, mudah larut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam
eter minyak tanah P.
Suhu lebur: 310 340 C.
Khasiat: zat tambahan.
2.13 Alasan Pemilihan Bahan

a. Amynophyllinum
Sebagai bahan aktif yang berkhasiat untuk mengobati asma, zat aktif ini dibuat dalam bentuk
suppositoria karena untuk asma membutuhkan penanganan yang cepat. Efek terapi yang diberikan jika
sediaan dalam bentuk suppositoria lebih cepat daripada dalam bentuk oral. Sediaan dalam bentuk oral,
kerja obatnya harus melalui absorbsi terlebih dahulu, sedangkan sediaan suppositoria tidak melalui
absorbsi sehingga efek terapi yang diberikan akan lebih cepat.
b. Oleum Cacao
Oleum Cacao berdaya guna dalam melepaskan zat aktif daripada yang lain, karena mempunyai titik
lebur pada suhu 31-34. Dibuat dalam bentuk suppositoria ditujukan untuk melebur pada suhu tubuh,
karena oleum cacao digunakan sebagai bahan dasar suppo yang ketambahan zat aktif, jadi titik leburnya
akan menjadi 35-37. Obat yang larut dalam air yang dicampur dengan oleum cacao, pada umumnya
memberi hasil pelepasan yang baik. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi: 581). Pada bahan tambahan
oleum cacao ini dilebihkan 10% pada basisnya, sebab basis saat dileburkan selain melebur juga
menguap, sehingga berkurang. Selain itu saat di dinginkan basis akan menyusut dan berkurang oleh
karena itu harus dilebihkan 10% pada basisnya.

c. Bisakodil
Sebagai bahan aktif yang berkhasiat untuk menghilangkan rasa nyeri pada buang air besar. Dibuat dalam
bentuk suppositoria karena bentuk sediaan ini akan membantu memberikan efek terapi yang lebih cepat
dari pada dalam bentuk oral. Sediaan dalam bentuk oral, kerja obat harus melalui absorbsi terlebih
dahulu, sedangkan sediaan suppositoria tidak melalui absorbsi sehingga efek terapi yang diberikan akan
lebih cepat.

2.14 Cara pemberian

Pemberian obat dengan sediaan suppositoria dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum
dalam bentuk suppositoria
Petunjuk pemakaian: cuci tangan sampai bersih, buka pembungkus suppositoria, kemudian tidur dengan
posisi miring. Supositoria dimasukkan ke rektum dengan cara bagian ujung supositoria didorong dengan
ujung jari, kira-kira -1 inci pada bayi dan 1 inci pada dewasa, bila perlu ujung supositoria di beri air
untuk mempermudah penggunaan. Untuk nyeri dan demam satu supositoria diberikan setiap 46 jam
jika diperlukan. Gunakan supositoria ini 15 menit setelah buang air besar atau tahan pengeluaran air
besar selama 30 menit setelah pemakaian supositoria.
Hanya untuk pemakaian rektal. Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika sakit berlanjut hingga 3
hari. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jika tertelan atau terjadi over dosis segera hubungi dokter
(Monson, 200
BAB III
METODOLOGI KERJA
3.1 Formulasi Resep

Resep 1 (FORNAS, 21) Obat Asma

R/ Aminophylinum 250 mg
Ol. Cacao qs
m.f supp dtd No. II
S 2 dd 1 supp
Resep 2 (FORNAS, 51) Obat untuk Sembelit
R/ Bisacodil 5 mg
Oleum Cacao qs
m.f supp dtd No. II
S 1 dd 1 supp
(malam hari sebelum tidur, (ISO; 484-DULCOLAX))


3.2 Perhitungan Bahan

a. Aminophyllinum
Nilai tukar : 0,86
Amino yang diperlukan = 2 x 0,25 g = 0,5 g
Berat suppo = 2 x 2 g = 4 g
Nilai tukar = 0,5 g x 0,86 = 0,43 g
lemak yg dibutuhkan (ol. Cacao) = 4 g 0,43g = 3.57 g
Tambahan lemak (ol.cacao)10% = 10/100 x 3.57 g = 0.357 g
Jadi, tambahan lemak (ol.cacao) = 3.57 g + 0.357 g = 3.927 g


b. Bisacodil = 10 mg x 2 = 20 mg = 0,02 g
Nilai tukar = 0,7 x 0,02 g = 0,014 g
Bisacodil yg diperlukan = 0,014 g = 14 mg
Pengenceran bisacodil
Missal penambahan 300 mg SL = 84 mg
Bisacodil = 50 mg
SL = 250 mg
Jadi sisa pengenceran = 300 mg 84 mg = 216 mg

Karena bisacodil yg diperlukan 14 mg,
Maka 84 mg 14 mg = 70 mg
Berat suppo = 2 g x 2 = 4 g
Lemak yg dibutuhkan = 4 g 0,014 g = 3,986 g
Tambahan lemak (10%) = x 3,986 g = 0,3986 g
Jadi tambahan lemak menjadi = 3,986 + 0,3986 = 4,3846 g

3.3 Alat & Bahan
Alat:
1. Timbangan, anak timbangan, penara
2. Perkamen
3. Cawan porselen
4. Sendok tanduk
5. Sudip
6. Batang pengaduk
7. Mortir
8. Stamper
9. Serbet
10. Pencetak supositoria
Bahan:
1. Aminofillin
2. Oleum cacao
3. Bisakodil
4. Alumunium foil
5. Saccharum Lactis



3.4 Prosedur Kerja

Resep 1.

a. Disiapkan alat dan bahan.
b. Disetarakan timbangan.
c. Ditimbang aminofillin 430 mg.
d. Ditimbang ol cacao 3.927g.
e. Dioleskan paraffin dalam cetakan supositoria.
f. Dilebur oleum cacao hingga berbentuk seperti massa krim, diangkat.
g. Dimasukkan aminofillin ke dalam hasil leburan, diaduk ad homogen.
h. Dituang ke dalam cetakan supositoria.
i. Dibiarkan dingin dahulu, kemudian dimasukkan kulkas agar memadat (membeku).
j. Disiapkan alumunium foil sebagai kemasan.
k. Dilepas supositoria dari cetakan, dibungkus dengan alumunium foil.
l. Dimasukkan plastik dan diberi etiket biru.


Resep 2 (Bisakodil)
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Dibersihkan alat.
3. Disetarakan timbangan.
4. Ditimbang Bisakodil dengan pengenceran 50 mg di timbangan halus, ditimbang SL 250 mg. Lalu
dimasukkan kedalam mortir, digerus sampai halus lalu disisihkan.
5. Ditimbang ol.cacao 4,3846 g dengan cawan porselen di timbangan kasar, lalu dileburkan diatas
penangas. Setelah melebur, diangkat.
6. Dimasukkan bisakodil kedalam cawan porselen yang berisi leburan ol.cacao, diaduk rata.
7. Disiapkan cetakan suppo lalu diolesi paraffin dengan kuas.
8. Dituang sediaan dalam cetakan yang sudah siap.
9. Ditunggu sampai sedikit dingin kemudian dimasukkan kedalam kulkas.
10. Disiapkan alumunium foil sebagai pembungkus supositoria, setelah mengeras dikeluakan
supositoria dari cetakan lalu dibungkus dengan alumunium foil.
11. Dimasukkan kedalam plastic klip kedan beri etiket biru.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Uji Homogenitas
1. Diambil tiga 3 titik bagian suppo (atas-tengah-bawah atau kanan-tengah-kiri).
2. Masing-masing bagian diletakkan pada kaca objek kemudian diamati dibawah mikroskop.
3. Cara selanjutnya dengan menguji kadarnya dapat dilakukan dengan cara titrasi.
Uji Keseragaman Bentuk dan Ukuran
1. Diambil suppositoria yang sudah di buat.
2. Diamati satu dengan yang lainnya bentuk dan ukurannya sesuai standar supo (berbentuk torpedo).
Uji Waktu Hancur
1. Supo dimasukkan dalam air yang di set sama dengan suhu tubuh manusia, selama 3 menit.
Uji Keseragaman Bobot
1. Timbang suppo satu persatu dan hitung rata-ratanya.
2. Hitung persen kelebihan masing-masing suppo terhadap bobot rata-ratanya. Keseragaman/ variasi
bobot yang didapat tidak boleh lebih dari 5% (Anonim b, 1995).
Uji Kerapuhan
1. Supositoria dipotong horizontal. Kemudian ditandai kedua titik pengukuran melalui bagian yang
melebar, dengan jarak tidak kurang dari 50% dari lebar bahan yang datar.
2. Kemudian diberi beban seberat 20N (lebih kurang 2kg) dengan cara menggerakkan jari atau batang
yang dimasukkan ke dalam tabung.

4.2 Pembahasan
Dalam praktikum ini, dibuat sediaan suppositoria. Dimana pada pembuatan ini, ada dua resep
yang dibuat. Pembuatan resep pertama, yang dilakukan adalah menimbang bahan. Setelah itu dioleskan
paraffin dalam cetakan suppo, dilebur oleum cacao hingga berbentuk seperti massa krim. Masukkan
aminophyllin kedalam hasil leburan, aduk ad homogen. Dituang dalam cetakan suppo, dibiarkan dingin
dahulu, kemudian dimasukkan kedalam kulkas agar memadat. Dilepaskan suppo dalam cetakan,
bungkus dengan alumunium foil yang sudah disiapkan, masukkan kedalam plastik dan diberi etiket.
Pembuatan resep kedua, yang pertama dilakukan menimbang semua bahan. Oleum cacao
dileburkan diatas penangas, diangkat. Kemudian bisakodil dimasukkan ke dalam cawan porselen yang
berisi oleum cacao, diaduk merata. Dituang sediaan kedalam cetakan suppo yang sudah diolesi dengan
paraffin. Dimasukkan kedalam kulkas agar memadat, kemudian tunggu beberapa saat. Keluarkan suppo
dari cetakan, kemudian bungkus dengan alumunium foil, masukkan kedalam plastik, diberi etiket. Kedua
sediaan suppo yang dibuat memenuhi syarat, karena pada cara pembuatan sudah benar dan tepat
sehingga sediaan menjadi bagus dan tidak rusak.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dalam bentuk, yang diberikan melalui
rectal,vaginal atau uretra (Depkes R.I.,1995 ).
Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam
lubang atau celah yang diinginkan tanpa meninggalkan kejanggalan begitu masuk, har us dapat bertahan
untuk suatu waktu tertentu (Ansel,2005).
Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi:
1. Suppositori rectal : Suppositorial untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya
dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g (Depkes R.I.,1995 ).
2. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5,0 g
dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen
glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai pessarium .
( Anonim,1995; Ansel, 2005).
3. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut bougie. Bentuknya
ramping seperti pensil, gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita.
Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3- 6 mm dengan panjang 140 mm, walaupun ukuran ini
masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya 4 gram.
Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan beratnya dari ukuran untuk pria, panjang 70 mm
dan beratnya 2 gram, bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya ( Ansel, 2005).
4. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga kerucut telinga, keduanya berbentuk
sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil, biasanya 32 mm. suppositoria
telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Namun, suppositoria untuk
obat hidung dan telinga jarang digunakan (Ansel, 2005).
Suppositiria rectum umunya dimasukkan dengan jari tangan, biasanya suppositoria rectum panjangnya
lebih kurang dari 32 mm (1,5 inci), dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. Benruk
suppositoria rectum antara lain bentuk peluru, torpedo atau jari-jari kecil, tergantung pada bobot jenis
bahan obat dan basis yang digunakan. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk menggunakan basis
oleum cacao ( Ansel,2005 ).
Penggunaan suppositoria bertujuan :
1. Untuk tujuan lokal seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan
obat secara biokimia di dalam hati ( Syamsuni, 2005 ).

1.2 Tujuan Percobaan

Mengetahui bentuk sediaan suppositoria
Mengetahui bahan dasar suppositoria
Mengtahui dan memahami cara pembuatan suppositoria
Mengetahui persyaratan suppositoria
Mengetahui mengevaluasi suppositoria.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal,
vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat
bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat local atau
sistematik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi,
minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak
polietilen glikol (Depkes R.I., 1995).
Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar
yang sering digunakan adalah lemak coklat (Oleum cacao), polietilenglikol atau lemak tengkawang
(Oleum Shoreae) atau Gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g untuk orang
dewasa dan 2 g untuk anak. Suppositoria supaya disipan dalam wadah tertutup baik dan di tempat yang
sejuk. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur,
maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendiri.
Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per oral atau melalui saluran
pencernaan adalah :
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan
3. Obat dapat masuk langsung dalam saluradarah dan berakibat obat dapat memberi efek lebih cepat
daripada penggunaan obat per oral
4. Baik, bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar (Anief, 2004)

Tujuan penggunaan suppositoria yaitu :
1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya.
Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane mukosa
dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan seperti
pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.
2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap oleh
mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.
3. Untuk menghindari perusakan obat oleh enzim di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat
secara biokimia di dalam hati (Syamsuni, 2005).
Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
1. Bahan dasar yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada
dalam rectum. Obatnya supaya larut dalam bahan dasar apabila perlu, dipanaskan. Bila obatnya sukar
larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus.
2. Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair, dituangkan dalam cetakan
suppositoria dan didinginkan. Cetakan tersebut dibuat dari besi dan dilapisi nikel atau logam lain, ada
juga dubuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan
suppositoria. Untuk mencetak basila dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas (Anief, 2004).
Isi berat dari suppositoria dapat ditentukan dengan membuat percobaan sebagai berikut:
1. Menimbang obat untuk sebuah suppositoria
2. Mencampur obat tersebut dengan sedikit bahan dasar yang telah dilelehkan
3. Memasukakn campuran tersebut ke dalam cetakan
4. Mendinginkan cetakan yang berisi campuran tersebut. Setelah dingin suppositoria dikeluarkan dari
cetakan dan ditimbang
5. Berat suppositoria dikurangi berat obatnya merupakan berat bahan dasar yang harus ditimbang
6. Berat jenis obat dapat dihitung dan dibuat seragam (Anief, 2004).
Untuk menghindari massa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari massa yang
melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus
Saponatus (Soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung
garam logam, karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat digunakan larutan
Oleum Ricini dalam etanol. Untuk suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan
pelican karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakan karena mengkerut (Anief, 2004).
Faktor yang mempegaruhi absorpsi obat per rektal yaitu :

Faktor fisiologis, antara lain pelepasan obat dari basis atau bahan dasar, difusi obat melalui mukosa,
deteoksifikasi atau metabolisme, distribusi di cairan jaringan, dan terjadinya ikatan protein di dalam
darah atau cairan jaringan.
Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain kelarutan obat, kadar obat dalam basis, ukuran partikel,
dan basis suppositoria (Syamsuni, 2005).

Kerugian penggunaan bentuk sediaan suppositoria antara lain:
1. Tidak menyenangkan penggunaan
2. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorbsi obat per rektal:
1. Faktor fisiologis antara lain pelepasan uobat dari basis atau bahan dasar, difusi obat melalui
mukosa, detoksifikasi atau metanolisme, distribusi di cairan jaringan dan terjadinya ikatan protein di
dalam darah atau cairan jaringan.
2. Faktor fisika kimia obat dan basis antara lain : kelarutan obat, kadar obat dalam basis, ukuran
partikel dan basis supositoria
3. Bahan dasar yang digunakan untuk membuat suppositoria harus dapat larut dalam air atau meleleh
pada suhu tubuh. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah lemak cokelat (oleum cacao), polietilenglikol
(PEG), lemak tengkawang (oleum shorae) atau gelatin (Syamsuni, 2005).
Bahan dasar suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut :
1. Padat pada suhu kamar sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak, tetapi akan melunak
pada suhu rectum dan dapat bercampur dengan cairan tubuh.
2. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi.
3. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat.
4. Stabil dalam penyimpanan, tidak menunjukkan perubahan warna, dan bau serta pemisahan obat.
5. Kadar air mencukupi.
6. Untuk basis lemak maka bilangan asam, bilangan iodium dan bilangan iodium dan bilangan
penyabunan harus jelas diketahui (Syamsuni, 2007).
Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Bahan dasar yang digunakan harus meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada di
rektum.
2. Obat harus larut dalam bahan dasar dan bila perlu dipanaskan. Bila sukar larut, obat harus
diserbukkan terlebih dahulu sampai halus.
3. Setelah campurn obat dan bahan dasarnya meleleh atau mencair, campuran itu dituangkan ke
dalam cetakan supositoria dan didinginkan. Cetakan ini dibuat dari besi yang dilapisi nikel dan logam
lain; ada juga terbuat dari plastik (Syamsuni, 2005).
Sifat suppositoria yang ideal ;

melebur pada suhu tubuh atau melarut dalam cairan tubuh.
tidak toksik dan tidak merangsang
dapat tercampur (kompartibel) dengan bahan obat.
dapat melepas obat dengan segera.
mudah dituang kedalam cetakan dan dapat dengan mudah dilepas dari cetakan.
stabil terhadap pemanasan diatas suhu lebur.
mudah ditangani.
stabil selama penyimpanan.

Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat (oleum cacao) :
1. Merupakan trigliserida dari asam oleat, asam stearat, asam palmitat; berwarna putih kekuningan;
padat, berbau seperti coklat, dan meleleh pada suhu 310-340C.
2. Karena mudah berbau tengik, harus disimpan dalam wadah atau tempat sejuk, kering, dan
terlindung dari cahaya.
3. Oleum cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya pada pemanasan tinggi. Di
atas titik leburnya, oleum cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti Kristal
stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.
a. Bentuk (alfa) : terjadi jika lelehan oleum cacao tadi didinginkan dan segera pada 00C dan bentuk
ini memiliki titik lebur 240C (menurut literature lain 220C).
b. Bentuk (beta) : terjadi jika lelehan oleum cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 180-230C dan bentuk
ini memiliki titik lebur 280-310C.
c. Bentuk stabil (beta stabil) : terjadi akibat perubahan bentuk secara perlahan-lahan disertai
kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 340-350C (menurut literature lain 34,50C).
d. Bentuk (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan oleum cacao yang sudah dingin (200C) dan
bentuk ini memiliki titik lebur 180C.
4. Untuk menghindari bentuk-bentuk Kristal tidak stabil diatas dapat dilakukan dengan cara :
a. Oleum cacao tidak dilelehkan seluruhnya, cukup 2/3 nya saja yang dilelehkan.
b. Penambahan sejumlah kecil bentuk Kristal stabil kedalam lelehan oleum cacao untuk mempercepat
perubahan bentuk karena tidak stabil menjadi bentuk stabil.
c. Pembekuan lelehan selama beberapa jam atau beberapa hari.
5. Lemak coklat merupakan trigliserida, berwarna kekuningan, memiliki bau khas, dan bersifat
polimorf (mempunyai banyak bentuk Kristal). Jika dipanaskan, pada suhu 300C akan mulai mencair dan
biasanya meleleh sekitar 340-350C, sedangkan pada suhu dibawah 300C berupa massa semipadat. Jika
suhu pemanasannya tinggi, lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan
semua inti Kristal stabil yang berguna untuk memadat. Jika didinginkan dibawah suhu 150C, akan
mengkristal dalam bentuk Kristal metastabil. Agar mendapatkan suppositoria yang stabil, pemanasan
lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang, sehingga tetap
mengandung inti Kristal dari bentuk stabil.
6. Untuk menaikkan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan cera atau cetasium (spermaseti).
Penambahan cera flava tidak boleh lebih dari 6% sebab akan menghasilkan campuran yang mempunyai
titik lebur diatas 370C dan tidak boleh kurang dari 4% karena akan diperoleh titik lebur < 330C. Jika
bahan obat merupakan larutan dalam air, perlu diperhatikan bahwa lemak coklatnya hanya sedikit
menyerap air. Oleh karena itu penambahan cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat
terhadap air.
7. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat juga digunakan tambahan sedikit kloralhidrat atau
fenol, atau minyak atsiri.
8. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena
itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati.
9. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat
terserap, sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk sediaan rectal karena disolusinya lambat.
10. Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat
yang dihaluskan kedalam minyak lemak padat pada suhu kamar, dan massa yang dihasilkan dibuat
dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian
dibiarkan sampai dingin dalam cetakan. Suppositoria ini harus disimpan dalam wadah tertutup baik,
pada suhu dibawah 300C.
11. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar oleum cacao sebaiknya dihindari karena :
a. Menyebabkan reaksi antara obat-obatan didalam suppositoria.
b. Mempercepat tengiknya oleum cacao.
c. Jika airnya menguap, obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari suppositoria.
12. Keburukan oleum cacao sebagai bahan dasar suppositoria :
a. Meleleh pada udara yang panas.
b. Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama.
c. Titik leburnya dapat turun atau naik jika ditambahkan bahan tertentu.
d. Adanya sifat polimorfisme.
e. Sering bocor (keluar dari rectum karena mencair) selama pemakaian.
f. Tidak dapat bercampur dengan cairan sekresi (Syamsuni, 2007).
Akibat beberapa keburukan oleum cacao tersebut dicari pengganti oleum cacao sebagai bahan dasar
suppositoria, yaitu :
1. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur.
2. Campuran setilalkohol dengan oleum amygdalarum dalam perbandingan 17 : 83.
3. Oleum cacao sintesis : coca buta, supositol (Syamsuni, 2007).
Pada pembuatan suppositoria dengan menggunakan cetakan, volume suppositoria harus tetap, tetapi
bobotnya beragam tergantung pada jumlah dan bobot jenis yang dapat diabaikan, misalnya extr.
Belladonae, gram alkaloid.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot lemak coklat yang mempunyai volume yang sama
dengan 1 g obat (Syamsuni, 2007).
Nilai tukar lemak coklat untuk 1 g obat, yaitu :
Acidum boricum : 0,65 Aethylis aminobenzoas : 0,68
Garam alkaloid : 0,7 Aminophylinum : 0,86
Bismuthi subgallus : 0,37 Bismuthi subnitras : 0,20
Ichtammolum : 0,72 Sulfonamidum : 0,60
Tanninum : 0,68 Zinci oxydum : 0,25
Dalam praktik, nilai tukar beberapa obat adalah 0,7, kecuali untuk garam bismuth dan zink oksida. Untuk
larutan, nilai tukarnya dianggap 1. Jika suppositoria mengandung obat atau zat padat yang banyak
pengisian pada cetakan berkurang, dan jika dipenuhi dengan campuran massa, akan diperoleh jumlah
obat yang melebihi dosis. Oleh sebab itu, untuk membuat suppositoria yang sesuai dapat dilakukan
dengan cara menggunakan perhitungan nilai tukar sebagai berikut (Syamsuni, 2007).








BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
Beaker glass
Cawan porselin
Lumpang dan stamper
Spatula
Sudip
Termometer
Batang pengaduk
Timbangan gram
Timbangan miligram
Neraca analitik
Kertas perkamen
Jarum/kawat
Cetakan suppositoria
Aluminum foil
Lemari pendingin
Waterbath

3.1.2 Bahan
Benzokain
Theophylin
Oleum Cacao






Formulasi

R/ Benzokain 0,500
Theophylin 0,500
Dasar Supp q.s
m.f. supp.dtd
s.I dd supp I

Pro : Tn. Jalal

Pemilihan dasar suppositoria = Oleum Cacao
Berat 1 suppositoria = 3 gr

3.2. Perhitungan Bahan
Pada percobaan ini satu kelompok terdiri dari 10 orang. Penimbangan dilakukan dengan cara 1
suppositoria untuk tiap anggota kelompok, dan satu orang menimbang dengan penghitungan 3
suppositoria. Jadi total bahan yang akan diambil adalah untuk 12 suppositoria.
a. Penimbangan Bahan Untuk 1 Suppositoria
Benzocain : 500 mg
Theophyllin : 500 mg
Ol. Cacao q.s.
: 3000 (500+500)
: 2000 mg
Berat total suppositoria : 3000 mg

b. Penimbangan Bahan Untuk 3 Suppositoria
Benzocain : 500 mg x 3 : 1500 mg
Theophyllin : 500 mg x 3 : 1500 mg
Ol. Cacao q.s.
: (3 x 3000) (1500 + 1500) : 6000 mg

3.3. Cara pembuatan

Seluruh bahan ditimbang.
Gerus homogen benzokain dan theophylin dalam lumpang.
Sediakan air dengan suhu 400C dalam beaker glass sebagai waterbath buatan.
Larutkan Oleum Cacao yang telah ditimbang di cawan perselen dengan meletakkannya diatas
waterbath buatan. Dasar cawan harus mengenai air. Diatur agar suhu dari waterbath tetap 400C.
Setelah Oleum Cacao melarut sempurna maka tambahkan campuran benzokain dengan theophylin
yang telah digerus homogen kedalam cawan, aduk rata dan homogen.
Masukkan semua campuran tersebut kedalam cetakan suppositoria yang telah dilapisi dengan
paraffin dengan bantuan jarum/kawat.
Dinginkan dalam lemari pendingin selama 15 menit.


3.4. Evaluasi Suppositoria
3.4.1. Keseragaman Bobot
Caranya : 1. Timbang 4 suppositoria (A).
2. Hitung bobot rata-rata = A/4 = B
3. Timbang satu persatu (C)
Syarat : Penyimpangan beratnya tidak boleh lebih besar dari 5 10%
Rumus penyimpangan : (B-C) / B x 100% = .%
Bobot 4 suppositoria = 12,042 gram (A)
Bobot rata-rata = 12,042 gram/4 = 3,01 gram (B)
Bobot suppositoria ( C ) = a. 2,933 gram
b. 2,963 gram
c. 2,994 gram
d. 3,00 gram
Penyimpangan :
(B C)/B x 100%

(3,01 2,933)/3,01 x 100% = 3,203%
(3,01 2,963)/3,01 x 100% = 1,56%
(3,01 2,994)/3,01 x 100% = 0,53%
(3,01- 3,00)/3,01 x 100% = 0,033%

Kesimpulan : memenuhi syarat
3.4.2. Penentuan homogenitas
Menggunakan objek glass. Oleskan sediaan suppositoria diatas objek glass, kemudian tutup dengan
objek glass lainnya. Amati apakah sediaan tersebut homogen atau tidak.
Hasil : Homogen ( memenuhi syarat)

3.5. Pembahasan
Pada percobaan ini dialakukan pembuatan sediaan suppositoria dengan menggunakan dua bahan aktif
yaitu benzocain dan theophyllin, dan basis suppositoria yang digunakan adalah oleum cacao. Pada
percobaan dibuat suppositoria sebanyak 10 untuk tiap kelompok yang terdiri dari 10 orang.
Penimbangan bahan yang dilakukan adalah 1 suppositoria untuk tiap orang dan 3 suppositoria dilakukan
hanya pada 1 orang. Jadi bahan yang ditimbang adalah untuk 12 suppositoria.
Kelebihan penimbangan bahan adalah untuk mencukupkan masa suppositoria pada saat pencetakan.
Pada pengisian masa suppositoria ke dalam cetakan, lemak coklat cepat membeku, dan pada
pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa, maka pada pengisian cetakan
harus diisi lebih, baru setelah dingin kelebihannya dipotong (Anief, 2004).
Pada pembuatan suppositoria dikenal dengan adanya istilah nilai tukar untuk pembuatan dengan basis
oleum cacao. Nilai tukar dimaksudkan untk mengetahui berat lemak coklat yang mempunyai besar
volume yang sama dengan 1 gram obat (Anief, 2004).
Karena itu dalam penimbangan seharusnya tidak dilakukan satu persatu, tapi dihitung nilai tukar zat
aktif untuk mencari kebutuhan oleum cacao yang diperlukan.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Suppositoria yang dibuat berbentuk peluru.
Bahan dasar suppositoria yang digunakan adalah oleum Cacao
Suppositoria memenuhi persyaratan evaluasi keseragaman bobot dimana tidak ada satu suppositoria
pun yang penyimpangannya lebih dari 10%.
Suppositoria memenuhi persyaratan uji homogenitas.


4.2. Saran

Praktikan hendaknya mengetahui prosedur kerja dari percobaan.
Praktikan hendaknya melakukan prosedur percobaan dengan baik agar diperoleh hasil yang baik.



















DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh, (2004), Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ansel, (2005), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta.
Depkes R.I. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.
Syamsuni, H.A. (2005). Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Kedokteran : Jakarta.
Syamsuni, H.A. (2007). Ilmu Resep. Jakarta : EGC.