Anda di halaman 1dari 16

A.

SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN KEDIRI


Sistem pemerintahan kerajaan Kediri terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan, adapun
raja raja yang pernah berkuasa pada masa kerajaan Kediri adalah:

1.Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabhu
Jayawarsa adalah raja pertama kerajaan Kediri dengan prasastinya yang berangka tahun
1104. Ia menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.

2.Kameshwara
Raja kedua kerajaan Kediri yang bergelar Sri Maharajarake Sirikan Shri Kameshwara
Sakalabhuwanatushtikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa,
yang lebih dikenal sebagai Kameshwara I (1115 1130 M). Lancana kerajaanya adalah
tengkorak yang bertaring disebut Candrakapala. Dalam masa pemerintahannya Mpu
Darmaja telah mengubah kitab samaradana. Dalam kitab ini sang raja di pujipuji sebagai
titisan dewa Kama, dan ibukotanya yang keindahannya dikagumi seluruh dunia bernama
Dahana. Permaisurinya bernama Shri Kirana, yang berasal dari Janggala.

3.Jayabaya
Raja kediri ketiga yang bergelar Shri Maharaja Shri Kroncarryadipa Handabhuwanapalaka
Parakramanindita Digjayotunggadewanama Shri Gandra. Dengan prasatinya pada tahun
1181 M. Raja Kediri paling terkenal adalah Prabu Jayabaya, di bawah pemerintahannya
Kediri mencapai kejayaan. Keahlian sebagai pemimpin politik yang ulung Jayabaya
termasyur dengan ramalannya. Ramalanramalan itu dikumpulkan dalam satu kitab yang
berjudul jongko Joyoboyo. Dukungan spiritual dan material dari Prabu Jayabaya dan hal
budaya dan kesusastraan tidak tanggungtanggung. Sikap merakyat dan visinya yang jauh
kedepan menjadikan prabu Jayabaya layak dikenang.

4.Prabu Sarwaswera
Sebagai raja yang taat beragama dan budaya, prabu Sarwaswera memegang teguh prinsip
tat wam asi yang artinya Dikaulah itu, dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau.
Tujuan hidup manusia menurut prabu Sarwaswera yang terakhir adalah mooksa, yaitu
pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Jalan yang benar adalah sesuatu yang menuju
kearah kesatuan, segala sesuatu yang menghalangi kesatuan adalah tidak benar.

5.Prabu Kroncharyadipa
Namanya yang berarti beteng kebenaran, sang prabu memang senantiasa berbuat adil pada
masyarakatnya. Sebagai plemeluk agama yang taat mengendalikan diri dari
pemerintahannya dengan prinsip, sad kama murka, yakni enam macam musuh dalam diri
manusia. Keenam itu adalah kroda (marah), moha (kebingungan), kama (hawa nafsu), loba
(rakus), mada (mabuk), masarya (iri hati).

6.Srengga Kertajaya
Srengga Kertajaya tak hentihentinya bekerja keras demi bangsa negaranya. Masyarakat
yang aman dan tentram sangat dia harapkan. Prinsip kesucian prabu Srengga menurut
para dalang wayang dilukiskan oleh prapanca.

7.Pemerintahan Kertajaya
Raja terakhir pada masa Kediri. Kertajaya raja yang mulia serta sangat peduli dengan
rakyat. Kertajaya dikenal dengan catur marganya yang berarti empat jalan yaitu darma,
arta, kama, moksa.


Gambar: Wilayah Kerajaan Kediri



B. RUNTUHNYA KERAJAAN KEDIRI
Runtuhnya kerajaan Kediri dikarenakan pada masa pemerintahan Kertajaya terjadi
pertentangan dengan kaum Brahmana. Mereka menggangap Kertajaya telah melanggar
agama dan memaksa meyembahnya sebagai dewa. Kemudian kaum Brahmana meminta
perlindungan Ken Arok, akuwu Tumapel. Perseteruan memuncak menjadi pertempuran di
desa Ganter, pada tahun 1222 M. Dalam pertempuarn itu Ken Arok dapat mengalahkan
Kertajaya, pada masa itu menandai berakhirnya kerajaan Kediri.

Wangsa Panji Sakti
Gusti Panji akti (c. 1660-1697/99)
Gusti Panji Wayahan Danurdarastra (1697/99-1732) [anak Gusti Panji Sakti]
Gusti Alit Panji (1732-c. 1757/65) [anak Gusti Panji Wayahan]
Di bawah kekuasaan Mengwi paruh pertama abad ke-18
Gusti Ngurah Panji (di Sukasadda c. 1757/65) [anak Gusti Alit Panji]
Di bawah kekuasaan Karangasem c. 1757-1806
Gusti Ngurah Jelantik (di Singaraja c. 1757/65-c. 1780) [saudara Gusti Ngurah Panji]
Gusti Made Jelantik (c. 1780-1793) [anak Gusti Ngurah Jelantik]
Gusti Made Singaraja (1793-?) [kemenakan Gusti Made Jelantik]
Wangsa Karangasem
Anak Agung Rai (?-1806) [anak Gusti Gede Ngurah Karangasem]
Gusti Gede Karang (18061818) [saudara Anak Agung Rai]
Gusti Gede Ngurah Pahang (18181822) [anak Gusti Gede Karang]
Gusti Made Oka Sori (18221825) [kemenakan Gusti Gede Karang]
Gusti Ngurah Made Karangasem (18251849) [kemenakan Gusti Gede Karang]
Wangsa Panji Sakti
Gusti Made Rahi (1849, 18511853) [canggah Gusti Ngurah Panji]
Di bawah kekuasaan Bangli 1849-1854
Gusti Ketut Jelantik (18541873; regent 1853-1861; wafat 1893) [keturunan dari Gusti
Ngurah Jelantik]
Di bawah pemerintahan langsung Belanda 1882-1929
Anak Agung Putu Jelantik (regent 1929-1938; menggunakan gelar Anak Agung 1938-
1944) [keturunan dari Gusti Ngurah Jelantik]
Anak Agung Nyoman Panji Tisna (19441947) [anak Anak Agung Putu Jelantik]
Ngurah Ketut Jelantik (19471950; wafat 1970) [saudara Anak Agung Panji Tisna]
Buleleng bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia 1950
Anak Agung Nyoman Panji Tisna (kepala keluarga kerajaan 1950-1958; wafat 1978)


Diceritakan setelah Pulau Bali berhasil ditaklukkan kerajaan Majapahit pada tahun 1343
maka Mahapatih Gajah Mada mengangkat Adipati berasal dari Jawa yang diberi gelar
Dalem Ketut Kresna Kapakisan sebagai Raja Bali. Istana beliau berada di Samprangan,
wilayah Gianyar sekarang, sebagai pusat pemerintahannya. Pada mulanya pemerintahan
Dalem Samprangan mendapat reaksi dari masyarakat asli, Bali Aga, membuat Pulau Bali
kurang aman.

Untuk menjaga kestabilan dan keamanan pemerintahan, pada tahun 1352 Patih Gajah
Mada mengangkat Sri Nararya Kapakisan berasal dari Jawa Timur sebagai Perdana Menteri
sekaligus sebagai Penasehat Dalem.
I GUSTI NGURAH JELANTIK VI
PANGLIMA PERANG KERAJAAN GELGEL


Alkisah setelah beberapa keturunan berlalu, disebutlah seorang dari keturunan Sri Nararya
Kapakisan / I Gusti Nyuh Aya, yang bergelar I Gusti Ngurah Jelantik VI, menjabat sebagai
Panglima Perang yang dihandalkan oleh raja yang bergelar Dalem Sagening yang istana dan
pemerintahannya telah berpindah dari Samprangan ke Gelgel. I Gusti Ngurah Jelantik
beristana di puri Jelantik - Swecalinggarsapura, tidak jauh dari istana raja di Gelgel.

Di puri Jelantik, banyak para abdi laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai
tempat. Di antara para abdi ada seorang perempuan pelayan (pariwara) yang sehari-
harinya bertugas sebagai penjaga pintu, bernama Ni Pasek Gobleg. Pada suatu hari, I Gusti
Ngurah Jelantik pulang dari bepergian. Pada saat beliau melangkahkan kaki masuk
halaman puri, waktu itu sang pariwara Ni Pasek Gobleg baru saja selesai membuang air
kecil (angunyuh).

I Gusti Ngurah Jelantik terkejut ketika beliau menginjak air yang dirasa hangat di telapak
kakinya. Beliau meyakini air itu tidak lain adalah air kencing Ni Pasek Gobleg, pelayan dari
desa Panji wilayah Den Bukit itu. Timbul gairah birahi I Gusti Ngurah Jelantik kepada Ni
Pasek Gobleg dan serta merta menjamahnya.


Hubungan cinta kasih yang melibatkan I Gusti Ngurah Jelantik dengan pelayannya tidak
diketahui oleh isterinya, I Gusti Ayu Brang-Singa. Dari larutnya hubungan itu, tidak
berselang lama Ni Pasek Gobleg mengandung dan sampai pada waktunya, lahir seorang
bayi laki-laki yang sempurna yang diberi nama I Gusti Gde Pasekan.

Nama itu diambil dari pihak sang ibu yang berasal dari trah Pasek. Beberapa waktu
kemudian, sang pramiswari, I Gusti Ayu Brang-Singa, setelah kehamilannya cukup
waktunya, juga melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama I Gusti Gde Ngurah.
Prasasti Kerajaan Buleleng

I Gusti Gde Pasekan lebih tua dari I Gusti Gde Ngurah.Disebutkan, bahwa dari ubun-ubun I
Gusti Gde Pasekan muncul berkas sinar, tambahan lagi lidahnya berbulu. Melihat
keistimewaan I Gusti Gde Pasekan, muncul perasaan waswas I Gusti Ayu Brang-Singa,
bilamana di kemudian hari nanti, I Gusti Gde Pasekan akan lebih disayang oleh I Gusti
Ngurah Jelantik. Lagi pula akan bisa mengalahkan kedudukan I Gusti Gde Ngurah, putranya
sendiri yang lebih berhak atas segala warisan. Ujar Ni Gusti Ayu Brang-singa:


Kakanda Gusti Ngurah, dari manakah asal-usul anak bayi ini, kakanda?"Dijawab oleh I
Gusti Ngurah Jelantik: Baiklah adinda, bayi itu asalnya dari kakanda sendiri, dilahirkan
dari seorang pariwara bernama Ni Pasek Gobleg, berhubungan hanya sekali".Menyahut Ni
Gusti Brang-Singa dengan air muka sedih: Kalau begitu baiklah. Tetapi bila bayi ini tetap
berada disini, maka masalah ini membuat adinda akan menentang. Bilamana anak ini
memiliki hak di Purl Jelantik".


Demikian kata-kata sang isteri kepada Ki Gusti Ngurah Jelantik yang langsung menjawab:


Jangan merasa gundah, adinda. Anak itu bersama ibunya akan meninggalkan tempat ini
dan pergi ke Ler Gunung".


Mendapat jawaban demikian wajah Ni Gusti Ayu Brang-Singa kembali tampak berseri.
Sampailah diceritakan, seseorang bernama I Wayahan Pasek dari desa Panji, dalam
perjalanan telah sampai ke puri Jelantik, menjenguk Ni Pasek Gobleg, ibu I Gusti Gde
Pasekan. Ki Wayahan Pasek adalah saudara mindon Ni Pasek Gobleg. Di dalam puri, I Gusti
Ngurah Jelantik sudah siap menanti. Demikian sabda I Gusti Ngurah Jelantik:


Wahai engkau Wayahan Pasek. Bawalah olehmu I Gde Pasekan ke Ler Gunung.
Perintahku kepadamu, agar engkau memandang dia sebagai gusti-mu di sana. Lagi pula
di dalam tata laksana upakara terhadapnya jangan dicemari (carub), karena dia adalah
sejatinya berasal dari aku". Sembah atur I Wayahan Pasek: Baiklah, hamba junjung
tinggi wacanan Gusti. Semuanya sudah jelas bagi hamba." 1)1) Sabda Ki Gusti Ngurah: ,,E,
kita Wayahan Pask, anakta Ki Gde Paskan ajakn mara marng Ler-Gunung.
Manirweh i kita,kitnggen gusti ring kana. Sadene sira angupakra; aywa koruban
acamah, apan agawe n manira jti.Matur ki Wayahan Pask:,,Inggih, kawulnuhun
wacana n I gusti. Sampun anangayng twas.


I Gusti Gde Pasekan sudah berumur 12 tahun. Sebelum perjalanan dimulai, beliau dibekali
sebuah pusaka oleh sang ayah, I Gusti Ngurah Jelantik, berbentuk sebilah keris. Disamping
itu diberikan juga pusaka leluhur berupa tombak-tulup bernama Ki Pangkajatattwa atau Ki
Tunjungtutur. Setelah semuanya siap, perjalanan ke Ler Gunung dimulai. Disamping
ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan Pasek, I Gusti Gde Pasekan diiringi oleh 40
orang pengawal, dipimpin oleh Ki Dumpyung dan Ki Dosot.

Di saat mulai melangkah, I Gusti Gde Pasekan merasa sedih meninggalkan tempat
kelahirannya, teringat kembali akan pesan-pesan ayahnya. Teman-teman sepermainannya
akan segera ditinggalkan menuju tempat jauh di Ler Gunung. Perasaanya penuh tanya dan
keraguan. Terdengar suara seperti berasal dari keris pusaka:


"Ih, aywa semang" yang artinya Ih, jangan ragu.

I Gusti Gde Pasekan tersentak heran, namun akhirnya senang karena keris pusaka yang
diberikan ayahandanya mampu berbicara.Perjalanan pun dimulai. Pertama mengarah
Barat selama sehari. Esoknya perjalanan berbelok mengarah ke Utara. Jalan yang dilintasi
mulai menanjak dan berkelok-kelok. Rasa lelah mulai dirasakan oleh anggota rombongan,
tetapi karena hawa mulai dirasakan makin sejuk.

Dalam bimbingan ibunya, Ni Pasek Gobleg dan pamannya, I Wayan Pasek, dengan cepat
beliau belajar mengenal lingkungan desanya. Disamping itu ada dua pengasuh, Ki
Dumpyung dan Ki Dosot. Sebagai seorang pemuda berusia 12 tahun, yang selalu ingin tahu
tentang segala hal, I Gusti Gde Pasekan sering berpetualang. Naik bukit dan menjelajanh ke
hutan melewati tegalan sampai ke pantai merupakan kegiatan rutin. Keris pemberian
ayahnya, I Gusti Ngurah Jelantik, selalu terselip di pinggangnya.


Pada suatu sore yang panas, I Gusti Gde Pasekan merasa badannya gerah dan ingin mandi
di sungai di tempat beliau sering mencari ikan. Tetapi di sungai dilihatnya ada buaya yang
membuat orang-orang takut untuk mandi dan para perempuan takut mengambil air.
Dengan segala pertimbangan yang cukup masak, I Gusti Gde Pasekan turun kesungai
seorang diri. Dengan kelincahan dan kaki katangannya yang cekatan, buaya yang
menakutkan itu bisa di bunuhnya. Setelah buaya dibunuhnya barulah beliau mandi dengan
tenangnya dan menikmati sejuknya air sungai.


Penduduk desa Panji menjadi gempar, karena keberanian dan kewisesan I Gusti Gde
Pasekan yang masih muda belia itu. I Gusti Gde Pasekan semakin dekat di hati masyarakat
desa Panji, bahkan meluas keluar desa Panji.Di wilayah Den Bukit ada seorang yang sangat
berkuasa bernama Ki Pungakan Gendis. Beliau sangat ditakuti oleh rakyak karena
perangainya yang semena-mena, hanya mencari kesenangan berjudi dengan mengadu
ayam setiap hari. Beliau bebergian dengan menaiki kudanya yang besar dan gagah. Di
kanan kirinya berjalan beberapa orang pengawal. Suatu hari, I Gusti Panji sedang dalam
perjalanan pulang.

Karena merasa lapar beliau berhenti untuk mencari umbi ketela di tegal. Keris pusaka
leluhur yang selalu dibawanya itu lalu dihunusnya dan ditancapkan di tanah mencongkel
umbi ketela. Sedang mencongkel- congkel tanah, tiba-tiba I Gusti Panji mendengar suara
seperti keluar dari dalam keris


" ..... tan gaweya puyut kinarya anulati ewi..." yang artinya: "....jangan buyut dipakai
untuk mencari umbi ketela...".Selanjutnya terdengar:..."aywa ki buyut sema- sema ri ki
puyut... apan anapasupati-astra ring agrani puyut....ana pinakasatrunta maaran ki
puakan Gendis yogya pinatryan denta .." artinya: "Jangan ragu akan kesaktian
buyut.....karena di ujumg buyut memiliki kesaktian.....disana ada musuh bernama Ki
Pungakan Gendis yang harus dibinasakan....".


Mendengar sabdantara sedemikian, I Gusti Panji berhenti mencongkel umbi dan keris
pusaka segera dimasukkan kesarungnya. I Gusti Panji mulai menyadari, bilamana suatu
waktu dkemudian hari timbul keraguan di pikiran beliau, agar selalu ingat akan "Ki
Semang", demikian nama kris pusaka tersebut. Mengalahkan Ki Pungakan Gendis.
Diceritakan Ki Pungakan Gendis sedang dalam perjalanan pulang sehabis berjudi dan
bersenang-senang. Beliau menunggang kuda diiringi oleh para pengawal.

Kebetulan I Gusti Panji juga dalam perjalanan. Ki Pungakan Gendis tiba-tiba terkejut
berhadapan dengan seorang pemuda gagah yang berdiri didepannya. Seketika Ki Pungakan
Gendis menghardik kudanya. Kudanya menjadi garang dan dengan kaki depannya sang
kuda menggores dada I Gusti Panji hingga terjatuh, namun tidak terluka.


I Gusti Panji segera bangkit dan naik ke pohon lece. Ki Pungakan Gendis menyerang dengan
kudanya, namun I Gusti Panji meloncat ke atas kuda dan keris pusaka menembus dada Ki
Pungakan Gendis. Ki Pungakan gendis tidak segera menemui ajalnya karena memiliki ilmu
kekebalan. Dengan tetap duduk di atas kudanya beliau meneruskan perjalanan pulang.
Sampai dirumahnya barulah diketahui oleh para pengwalnya bahwa majikannya telah
wafat karena tidak kuasa melawan kesaktian keris I Gusti Panji.

Keadaan penduduk desa Panji dan desa Gendis, sampai pada desa-desa sekitarnya tidak
lagi merasa takut karena Ki Pungakan Gendis yang kelakuannya semena-mena terhadap
penduduk telah tiada lagi. Sebaliknya, penduduk merasa mendapat perlindungan dan
bimbingan dari I Gusti Panji yang dianggap pantas memimpin mereka.Menolong Perahu
Terdampar.


Setelah beberapa lama, ada suatu kejadian, sebuah perahu bermuatan penuh barang
dagangan terdampar di pantai Penimbangan. Perahu itu milik orang asing bernama Dempu
Awang, seorang saudagar Cina. Dengan nada sedih sang saudagar minta tolong kepada
Bendesa Gendis agar kapalnya bisa diselamatkan namun Bendesa Gendis tak sanggup
menolong.

Kemudian datanglah I Gusti Ngurah Panji dan dengan cara yang penuh perhitungan beliau
bisa melepaskan perahu dari jepitan batu karang, sehingga perahu itu kembali bebas. Sang
saudagar Dempu Awang memberkan banyak hadiah kepada I Gusti Ngurah Panji berupa
barang-barang mewah seperti piring - cangkir, cawan dan permadani, kain beludru yang
mahal sampai bahan bangunan rumah. Selain itu juga uang kepeng atau jinah bolong alat
pembayaran yang berlaku jaman itu.

Setelah mengucap syukur dan terima kasih kepada I Gusti Ngurah Panji, Dempu Awang
pergi melajutkan pelayarannya.Dengan demikian, I Gusti Ngurah Panji mendapat harta
yang cukup berlimpah yang diperlukan sebagai modal kelancaran geraknya dalam
menjalankan tugas memimpin rakyat, disamping benda yang sudah dimiliki berupa keris
pusaka Ki Semang dan tulup Ki Tunjungtutur yang mempunyai kekuatan magis sebagai
kelengkapan dalam menjaga kewibawaan seorang pemimpin.
I Gusti Ngurah Panji sudah makin dewasa dalam umur dan juga dalam pengalaman. Setelah
berumur melewati 20 tahun, beliau mengambil putri yang berparas ayu yang bernama I
Dewayu Juruh. Gadis pilihannya itu tidak lain adalah putri Ki Pungakan Gendis almarhun
yang dikalahkan dan gugur dalam perang tanding dahulu. Kemudian adik laki-laki I
Dewayu Juruh tetap diberikan kekuasaan di Gendis dibawah asuhan Bendesa Gendis.
Lama-kelamaan I Gusti Panji makin dikenal dan disegani di wilayah Den Bukit.Membangun
Puri dan Pamerajan di desa Panji.
Setelah itu, I Gusti Ngurah Panji memindahkan pura yang berada di desa Gendis, yang
disungsung oleh krama desa Gendis dan sekitarnya, ke pusat desa Panji. Seluruh
masyarakat penyungsung pura tersebut menyatakan persetujuannya dan pura itu
dijadikan Pura Desa Panji.Tidak berselang lama kemudian, I Gusti Ngurah Panji
membangun puri terletak di sebelah timur jalan, bersebrangan dengan Pura Desa yang
baru selesai.
Puri tersebut memang tidak dibangun secara mewah, namun sudah dilengkapi dengan
merajan. Hal ini sesuai dengan petunjuk ayahnya I Gusti Ngurah Jelantik dahulu semasih di
Gelgel sebagaimana ditegaskan kepada I Wayan Pasek agar dibuatkan Puri lengkap dengan
Merajan. Semua merasa berbahagia, karena sekarang bisa terlaksana, yaitu I Gusti Ngurah
Panji dinobatkan sebagai pemimpin dengan Puri serta Merajan. Namun sang ibu, Luh Pasek
Gobleg tidak mau tinggal di dalam puri karena merasa dirinya kurang pantas dan tetap di
rumahnya semula di sebelah utara. Semenjak itu penduduk bergembira dan sepakat untuk
memberi beliau gelar "Ngurah", maka nama beliau menjadi I Gusti Ngurah Panji.

Membentuk Laskar Perang "Taruna Goak "Demikianlah I Gusti Ngurah Panji menjalankan
kepemimpinannya dengan bijaksana dengan cara memberikan pengertian, pengayoman
dan kemakmuran kepada rakyat di Den Bukit. Beliau sebagai seorang pemimpin perang,
komandan pasukan, sang penakluk. Dengan pusaka keris Ki Semang dan Ki Tunjungtutur,
seluruh rakyat Den Bukit tidak ada seorangpun berani menentang.

Dengan demikian beliau menjadi raja Den Bukit atau dengan nama Ler Gunung.Setelah
usahanya berhasil menyatukan wilayah Den Bukit beliau membentuk laskar yang dsebut
Teruna Gowak dibawah pimpinan Panglima Perang Ki Tamblang Sampun dan I Gusti Made
Bahatan sebagai wakil Panglima Perang. Untuk menguatkan latihan perang, I Gusti Ngurah
Panji mengangkat orang-orang bayaran, seperti orang Bugis dan orang Ambon sebagai
pelatih perang.

Kemudian juga memasok senjata api yang diselundupkan orang-orang pelarian.Untuk
menunjang kerajaan dari segi pembeayaan, perdagangan digiatkan.Beliau tidak segan-
segan memperkerjakan orang asing seperti beberapa orang bangsa Cina, sebagai
syahbandar dan Ambon, Makasar, juga beberapa orangBelanda sebagai untuk
meningkatkan perdagangan.Patih I Gusti Agung Maruti mempengaruhi Dalem agar
mengambil keris pusaka I Gusti Ngurah Jelantik.

Perlu diceritakan disini, bahwa sewaktu I Gusti Panji sedang memantapkan kedudukan di
Den Bukit, terjadi kemelut dalam pemerintahan di istana Gelgel.Ini terjadi setelah Dalem
Sagening wafat (tahun + 1650) yang kemudian digantikan oleh Dalem Pemayun yang masih
muda. Pada waktu adanya peralihan jabatan itu muncul intrik dan fitnah antara kelompok
para pejabatt Tinggi kerajaan untuk saling merebut kekuasaan.
I Gusti Ngurah Jelantik (ayah I Gusti Panji) di puri Jelantik, wafat karena umur lanjut. Beliau
digantikan oleh putranya yang bernama I Gusti Gde Ngurah.yang tidak lain adalah adik
(tiri) I Gusti Ngurah Panji. Setelah dinobatkan, I Gusti Gde Ngurah bergelar I Gusti Ngurah
Jelantik, sama dengan gelar ayahnya. Karena masih muda beliau dibina oleh I Gusti Gde
Pring, pamannya. Pada waktu itu yang menjadi Patih Dalem Gelgel adalah I Gusti Agung
Maruti yang sangat ambisius, ingin mengambil kekuasaan kerajaan Gelgel.

Dalam pada itu I Gusti Agung Maruti bermaksud mengambil / memiliki keris sakti pusaka I
Gusti Ngurah Jelantik yang bernama Ki Mertyu Jiwa /Pencok Sahang yang dulu dipakai
mengalahkan Ki Dalem Dukut di Nusa. I Gusti Ngurah Jelantik menolak untuk menyerahkan
keris pusaka warisan leluhurnya yang merupakan anugrah Ida Batara di Pura Besakih. I
Gusti Agung Maruti berkali- kali mengerahkan pasukan bersenjata mau membunuh I Gusti
Ngurah Jelantik atas nama Dalem, tetapi tidak berhasil.I Gusti Ngurah Jelantik Mengungsi
keluar dari wilayah Gelgel.

Untuk menghindari kejadian yang makin meruncing I Gusti Ngurah Jelantik beserta
pamannya I Gusti Gde Pring minta pertimbangan I Gusti Ngurah Panji di Den Bukit dengan
bersurat-suratan. Dari pertimbangannya timbul keputusan agar I Gusti Ngurah Jelantik
menyelamatkan diri, bersama seluruh keluarganya dengan cara mengungsi ke daerah Barat
bersama para pendukung yang setia.
Sampailah mereka di tepi sungai Ayung waktu hari mulai gelap. Mereka berjalan beriringan
dan berpegangan tangan melalui jembatan titi gantung diatas sungai Ayung. Setelah
sampai di seberang sungai baru disadari bahwa putra kedua I Gusti Ngurah Jelantik lepas
dari rombongan dan menghilang. Para pengiring diperintahkan untuk kembali ke seberang
sungai dan mencari putranya yang berumur sekitar 4 tahun itu (Untung Surapati), namun
sia-sia belaka tanpa hasil. Dengan rasa sedih perjalanan diteruskan sampai di desa Marga,
Mengwi. Setelah I Gusti Ngurah Jelantik melepas tugas sebagai panglima perang kerajaan,
malahan pergi mengungsi keluar Gelgel menyebabkan kemelut di Istana Gelgel kian
menjadi-jadi. Sehingga banyak petinggi kerajaan ikut mengungsi ke luar wilayah Gelgel, ada
yang ke wilayah Timur ada yang ke Barat.

Tetapi masih banyak kerabat dan rakyat yang setia dan tetap berada di wilayah desa Gelgel
mendukung I Gusti Agung Maruti. Banyak keluarga warga masyarakat terpecah belah,
bahkan para warga Arya juga terpecah karenanya sehingga terjadi konflik di sana-sini.
Banyak diantara pecahan berbagai warga mengungsi ke Den Bukit minta perlindungan I
Gusti Ngurah Panji.I Gusti Agung Maruti Mengambil Alih Pemerintahan Gelgel.Patih I Gusti
Agung Maruti mendapat simpati dan dukungan yang cukup luas di kalangan pejabat istana
juga dari para Manca dan Punggawa. Puri Gelgel dikepung, namun Dalem Di Made dengan
bantuan Anglurah Singaharsa dapat meloloskan diri diiringi 300 orang rakyat yang setia. Di
luar istana terjadi pertempuran sengit di Tukad Bubuh di selatan desa Gelgel. Perjalanan
Dalem berhasil sampai di Guliang. Setelah beberapa lama berselang Dalem Di Made wafat
di Guliang, meninggalkan 2 putra yaitu:
1. Dewa Agung Mayun tinggal di Guliang membawa keris Ki Tanda Langlang, dan
2. Dewa Agung Jambe tinggal di desa Sidemen diasuh oleh Anglurah Singharsa membawa
keris samojaya.

I Gusti Agung Maruti mengangkat dirinya sebagai Dalem Gelgel dengan gelar Dalem Maruti
Di Made (tahun 1655). Untuk memperkuat kedudukannya Dalem Maruti Di Made minta
bantuan persenjataan bedil dan meriam kepada Belanda di Batavia. Namun pihak Belanda
bingung adanya pergantian penguasa di Gelgel - Bali juga dengan nama Dalem.

Pertemuan di Puri Singharsa - Sidemen (Tahun 1685).Pemerintahan kerajaan Bali selama
kekuasaan I Gusti Agung Maruti dijalankan dengan cara semena-mena. Lama-lama kondisi
seperti itu menyebabkan banyak punggawa ataupun Manca di seluruh bagian wilayah Bali
ingin melepaskan diri dari pemerintahan yang berpusat di Gelgel dan membentuk kerajaan
sendiri-sendiri.

Setelah beberapa kali mengadakan musyawarah di Sidemen, Anglurah Singharsa atas nama
Dewa Agung Jambe mengirim Surat Undangan ke pada I Gusti Anglurah Panji di Denbukit
dan Anglurah Nambangan di Badung. Juga ke semua Punggawa sampai Manca yang masih
setia untuk hadir di Puri Sidemen membicarakan keadaan Bali yang dalam bahaya
perpecahan.I Gusti Anglurah Panji yang memang sudah paham isi surat segera
memerintahkan Panglima Perang Ki Tamblang Sampun ke Sidemen untuk mewakili
beliau.Pertemuan di Puri Sidemen di pimpin oleh Dewa Agung Jambe, Anglurah Singharsa
dan Pedanda Wayan Buruan.
Mereka semua sepakat dengan tekad bulat untuk menghancurkan kekuasaan I Gusti Agung
Maruti. Dewa Agung Jambe memberikan surat kepada Ki Tamblang Sampun supaya
disampaikan kepada I Gusti Anglurah Panji di Den Bukit yang isinya meminta bantuan
menggempur I Gusti Agung Maruti yang menguasai Istana Gelgel.

Pasukan "Teruna Gowak" Menyerang Gelgel. Gabungan pasukan koalisi Bali terdiri dari
laskar "Taruna Gowak" dari Den Bukit dipimpin oleh Ki Tamblang Sampun dan I Gusti
Made Batan bermarkas di desa Panasan, lengkap dengan sarwa senjata keris, tombak, bedil
sebagian dengan berkuda. Juga tidak ketinggalan bunyi-bunyian perang, kendang bende,
cengceng. Pada waktu yang sudah ditentukan mereka mulai menyerang Istana Gelgel dari
arah Barat Laut.

Pasukan dari Badung dibawah pimpinan I Gusti Jambe Pule melalui arah pantai menyerang
dari arah Selatan Istana lengkap dengan garangnya. Sedangkan laskar Singaharsa
menyerang dari arah Timur Laut dengan terlebih dahulu menundukkan desa-desa sekitar
Gelgel. I Gusti Agung Maruti segera memerintahkan pasukan untuk bertahan.
Sulit untuk menceritakan dahsyatnya pertempuran, saling serang, saling serbu sehingga
banyak jatuh korban nyawa.Pasukan Gelgel dibawah pimpinan I Gusti Agung Maruti sedang
sengitnya menggempur pasukan Badung di sebelah selatan Gelgel mengamuk sehingga
pasukan Badung banyak jatuh korban sehingga I Gusti Jambe Pule terpaksa mundur.

Pasukan Gelgel dengan orang-orang Jumpai sangat kuat terus mengepung sehingga I Gusti
Jambe Pule dari Badung akhirnya tewas. Setelah itu pasukan Gelgel muncul dibawah
pimpinan Ki Padangkerta yang mengejar laskar Taruna Gowak dari Den Bukit yang lari
tunggang langgang. Seorang pimpinan regu Teruna Gowak terbunuh sehingga pasukan Den
Bukit terus mundur kembali ke desa Panasan. (Rakyat desa itu merasa panas dengan
adanya laskar Den Bukit, maka desa dinamakan Panasan) Dengan mundurnya pasukan
Badung dan Den Bukit maka Dalem Maruti Di Made tetap menguasai Istana Gelgel.
Rakyat menganggap I Gusti Agung Maruti sudah menang dan rakyat berbondong-bondong
kembali ke Istana Gelgel mendukung kedudukan I Gusti Agung Maruti.Mendengar berita
bahwa I Gusti Agung Maruti masih tetap bercokol di Istana Gelgel membuat I Gusti
Anglurah Panji sangat kecewa dan marah. Segera memerintahkan menyusun kembali
pasukannya dan segera melakukan penyerangan kembali langsung dibawah Panglima
Perang I Gusti Tamblang dan I Gusti Made Batan dengan tambahan persenjataan bedil.

Penyerangan kembali dilancarkan sesuai perintah I Gusti Anglurah Panji dengan turunnya I
Gusti Tamblang Sampun ke medan pertempuran. I Gusti Tamblang langsung berhadapan
dengan Panglima Perang Gelgel, Ki Dukut Kerta. Perang tanding orang per orang
berkecamuk dengan dahsyat antar jago silat, saling tebas saling tusuk. Keduanya sama
berani dan tangguh. Selang berapa lama akhirnya Ki Tamblang mengeluarkan ajiannya dan
dapat menipu Ki Dukut Kerta dengan gerakan yang tidak bisa ditangkap oleh penglihatan.
Tiba-tiba Ki Dukut Kerta roboh oleh senjata di tangan Panglima Perang "Teruna Goawak"
Ki Tamblang Sampun.Seketika itu pasukan Gelgel lari tunggang langgang tak tentu arah
menyelamatkan diri karena merasa ngeri dan ketakutan Setelah itu pasukan Anglurah
Singharsa membuat ranjau di sekitar Istana Gelgel. Sedangkan laskar Dewa Agung Jambe
menggempur pasukan pengawal I Gusti Agung Maruti yang masih berada di dalam Istana
Gelgel dan tidak mau menyerah.

Pasukan Den Bukit juga ikut menggempur Istana Gelgel. Kembali terjadi pertempuran
sengit kacau balau tidak jelas kawan dan lawan, sehingga banyak rakyat yang jadi korban
terbunuh didalam istana. Orang berlarian cerai berai keluar istana, bahkan keluar kota
Gelgel. Dalam keadaan hiruk pikuk, I Gusti Agung Maruti dapat lolos keluar istana dan
melarikan diri ke arah Barat ditemani Kyai Kidul dan Ki Pasek karena sudah berjanji
sehidup semati. Namun terus dikejar oleh pasukan Dewa Agung Jambe dan pasukan
Anglurah Singharsa sampai di Jimbaran. Di Jimbaran disambut oleh pasukan bersenjata
yang dipimpin oleh Ida Wayan Petung Gading. Akhirnya melarikan diri ke desa Kuramas.

Mengangkat Pedanda Kemenuh sebagai Purohita.Pada waktu pemerintahan Gelgel dikuasai
I Gusti Agung Maruti dengan gelar Dalem Maruti Di Made, sebagaimana telah diceritakan,
banyak petinggi kerajaan mengungsi ke luar wilayah Gelgel, ada yang ke wilayah Timur ada
yang ke Barat, bahkan ada yang ke Den Bukit.Demikian juga dialami oleh seorang Pendeta
Brahmana Kemenuh yang bergelar Pedanda Wiraghasandi ingin kembali ke Jawa karena
merasa sudah tidak diperlukan lagi berada di Gelgel yang pemerintahannya tidak seperti
dulu lagi.

Beliau dengan keluarga dan pengiring yang setia sudah beberapa lama berada di desa
Kayuputih wilayah Den Bukit. Beliau diterima baik oleh Bendesa Ki Pasek Gobleg. Pedanda
Wiraghasandi selain ahli dalam Weda juga pandai membuat senjata seperti keris bertuah,
sehingga dikenal dengan "keris pakaryan Kayuputih".
Pada suatu hari Ida Pedanda bersiap untuk berangkat meneruskan perjalanannya kembali
ke Jawa, karena sudak cukup lama berada di desa Kayuputih. Namun dicegah oleh Bendesa
Ki Pasek Gobleg agar beliau jangan pergi dan mohon dengan sangat kesediaannya untuk
terus menetap di Kayuputih. Ida Pedanda mengatakan, beliau merasa ragu untuk mengikuti
permintaan Ki Bendesa karena belum mendapat ijin I Gusti Ngurah Panji. Seketika Ki Pasek
Gobleg tersentak, bahwa benar apa yang dikatakan Ida Pedanda.

Maka segera Ki Pasek Gobleg minta diri dan segera menghadap I Gusti Ngurah Panji di Puri
Panji.Setelah Ki Pasek Gobleg memaparkan peristiwa yang menimpa Ida Pedanda
Wiraghasandi, segera I Gusti Ngurah Panji menyongsong ke Kayuputih. Singkat cerita,
terjadilah pembicaraan yang akrab dan saling menghormati. I Gusti Ngurah Panji
mengangkat Ida Pendanda Wiraghasandi sebagai Bagawanta atau Purohita dan dikenal
dengan nama Pedanda Sakti Ngurah.

Beliau dipindahkan ke Asram Banjar Ambengan dengan menguasai wilayah sebelah Barat
Kalibukbuk dengan penduduk 3000 orang.Dengan didampingi seorang Bagawanta, I Gusti
Ngurah Panji setiap waktu bisa mendapat petunjuk mengenai tata cara dan melengkapi
persyaratan dalam membentuk kerajaan yang kuat dan mandiri. Atas petunjuk yang
diberikan oleh Sang Bagawanta dibangun Prangkat Tatabuhan sebagai salah satu
kelengkapan sebuah Kaprabonan atau Kerajaan. Perangkat tatabuhan diberi nama Juruh
Satukad, paling depan dan belakang adalah Terompong, karena suaranya sangat menyayat
hati dan manis seperti madu mengalir memenuhi sungai.

Sepasang padahi disebut Bentar Kedaton karena suaranya seperti guruh membelah langit.
Sebuah bende dinamai Ki Gagak Ora, suaranya seperti ribuan burung, sebuah petuk kajar
dikenal dengan nama KI Tundung Musuh, dengan suara mengerikan membuat musuh lari
terbririt-birit. Kemudian ada beri yang namanya Glagah Katunwan dengan suara seperti
padi kebakaran yang sangat menakutkan. Kemudian ada sepasang gubar, suaranya seperti
guntur bertalu-talu karenanya diberi nama Gelap Kesanga. Demikianlah Tatabuhan yang
telah dimiliki oleh I Gusti Ngurah Panji yang telah menyatakan diri sebagai raja Buleleng
(Den Bukit)

I Gusti Ngurah Jelantik kembali ke Gelgel.Keberadaan kota Gelgel berangsur pulih setelah I
Gusti Agung Maruti dapat dikalahkan. Namun kondisi Puri Gelgel dengan pemerintahannya
haruslah ditata kembali. Dewa Agung Jambe memohon agar Dewa Agung Mayun, kakaknya,
mau duduk sebagai kepala pemerintahan sebagai penerus Sesuhunan Bali.Namun Dewa
Agung Mayun tidak mau karena kemenangan bukan karena perjuangan beliau. Untuk
menata kembali pemerintahan, Dewa Agung Jambe memanggil semua keluarga / kerabat
keturunan para Arya yang dulu pernah setia untuk kembali bergabung sebagaimana yang
dulu pernah dilakukan oleh para leluhur mereka.

Semuanya diingat kembali, terutama I Gusti Ngurah Jelantik yang sudah mengungsi di desa
Selantik wilayah Mengwi. Setelah beliau wafat, diganti oleh putranya, I Gusti Ngurah Gde
sudah bergelar I Gusti Ngurah Jelantik sebagaimana gelar ayahandanya. Dewa Agung
teringat akan semua jasa I Gusti Ngurah Jelantik waktu pemerintahan dipegang leluhurnya
dahulu.Dewa Agung Jambe mengetahui bahwa I Gusti Ngurah Jelantik faham perihal tattwa
dan juga sudah mabisheka.