Anda di halaman 1dari 1

Pemulung itu..

Membaca novel tentang kisah anak-anak pemulung membuatku memikirkan hal ini. Me
reka, anak-anak pemulung itu, memilih dan memilah sampah sepanjang hari, mengump
ulkannya, kemudian menjual apa yang bisa mereka jual, dan mendapat uang yang tak se
berapa dibanding peluh yang mereka teteskan.

Sampah sudah menjadi menu sehari-hari mereka. Bahkan sebelum makan pagi mereka.
Nasib menjadi seorang pemulung sudah bisa dipastikan bahkan sebelum mereka bisa bi
cara, sebelum mereka bisa berjalan.

Jika tak ada mereka lalu siapa yang mengurus - katakanlah sampah rumah tangga - lagi .
Bayangkan gunungan sampah kini menjadi pegunungan. Bayangkan tak ada yang men
gambil sampah-sampah di tempat sampah depan pekaranganmu. Bayangkan aroma sam
pah memasuki rumahmu melalui sela-sela jendela. Bayangkan. Maka, sudah seharusnya
kita berterima kasih pada mereka.

Tidakkah kau berpikir mereka adalah masa depan bangsa? Mind-set mereka harus diuba
h. Pekerjaan mereka itu penting keberadaannya. Mereka turut berperan dalam menjaga l
ingkungan. Beri tahu mereka! Jangan mau mengikuti jejak ayah, paman, atau saudara m
ereka menjadi pemulung yang biasa saja, tapi jadilah pengolah sampah yang inovatif. B
eri mereka pengetahuan mengenai daur ulang, kerajinan tangan, seni, dan nilai jualnya.
Selebihnya dapat mereka kembangkan sendiri. Percayalah, mereka dapat lebih kaya dari
mu suatu hari nanti. (mrd)