Anda di halaman 1dari 22

2.

BAGIAN-BAGIAN SUSUNAN SYARAF


POKOK BAHASAN :
3. SUSUNAN SYARAF PUSAT
4. SISTEM SYARAF TEPI (PERIPHERAL
NERVEOUS SYSTEM)
5. GERAKAN REFLEKS
6. ELECTROMYOGRAPHY
1. PENDAHULUAN
Dari semua sistem yang ada pada tubuh manusia, sistem sa-
raf adalah sistem yang paling tinggi perkembangannya dan
paling kompleks.
Sistem ini menjaga kita tetap berhubungan dengan lingkungan
sekitar kita, menjelaskan kepada kita apa yang kita lihat dan
membeda-bedakan berbagai bunyi yang kita dengar.
Sistem syaraf menjaga kita dalam keseimbangan dan mengon-
trol otot-otot pada lengan, tangan, dan jari-jari kita sehingga
kita dapat melakukan aktifitas dalam melaksanakan peker-
jaan sehari-hari.
Semua aktifitas tubuh manusia diatur dan dikendalikan oleh
sistem saraf. Oleh karenanya para ergonom paling tidak ha-
rus mempunyai pengetahuan pula tentang Sistem Saraf Ma-
nusia untuk beberapa alasan sebagai berikut :
Pengenalan waktu reaksi dan umpan balik dari indera
yang bersifat motorik pada kecepatan pengoperasian
Sistem Manusia Mesin.
a.
Keahlian yang bersifat motorik yang dapat dipelajari
Dengan pengembangan kondisi reflek sistem syaraf.
Signal elektris yang berupa impulse (pesan rangsang)
akan menyebabkan kerja otot yang berasal dari sistem
saraf yang berfungsi untuk mengidentifikasi aturan
aturan kerja otot pada gerakan tertentu. Analisa pada
signal-signal ini akan sangat membantu secara dini un-
tuk deteksi kelelahan.
b.
c.
Mengetahui perubahan-perubahan yang erjadi disekitar
kita.
Hal ini dilakukan melalui alat-alat indera yaitu mata,
hidung, telinga, lidah dan kulit.
d.
Mengendalikan tanggapan atau reaksi kita terhadap ke-
adaan sekitar misal nya : kalau kita mencium bau asap
maka kita akan bereaksi dengan mencari asal asap api
atau berlari menghindarinya.
Mengendalikan kerja organ-organ tubuh, sehingga se-
muanya bekerja bersama pada saat yang tepat dan de-
ngan kecepatan yang tepat, agar tubuh kita tetap sehat
dan aman.
f.
e.
Susunan saraf manusia terdiri dari otak, sumsum tulang be-
lakang dan urat-urat saraf. Otak dan sumsum tulang bela-
kang membentuk susunan saraf pusat. Keduanya menghu-
bungkan seluruh bagian tubuh dengan perantaraan urat-urat
saraf. Urat saraf adalah merupakan gabungan antara be-
ribu-ribu serabut saraf yang dibungkus oleh jaringan pengi-
kat. Urat-urat saraf yang menuju keseluruh tubuh disebut
susunan saraf tepi (Peripheral Nervous Systems disngkat PNS).
Susunan saraf tepi terdiri dari saraf sensorik dan saraf motorik.
Saraf sensorik mengirim impulse (pesan-pesan rangsang) dari
Sensor penerima ke sumsum tulang belakang (spinal cord ).
Sedangkan saraf motorik bertugas untuk mengirimkan im-
Pulse dari sumsum tulang belakang ke otot.
Adapun sistem saraf pusat terdiri dari otak, sumsum tulang
belakang dn sistem saraf otonom yang berfungsi untuk me-
ngendalikan otot jantung, serabut otot yang lain, dan sel-sel
kelenjar.
Unit pembentuk sistem saraf disebut neuron terdiri dari badan
sel (cell body ) dan serabut panjang (long fibre = axon ). Dua
macam neuron dari sistem saraf tepi diilustrasikan pada gbr.
berikut ini.
Susunan saraf melakukan pengaturan aktivitas tubuh dengan
Cara mengirimkan impulse. Kemudian impulse saraf dibawa
ke dan dari seluruh tubuh oleh serabut-serabut saraf.
Otak adalah pusat koordinasi yang paling utama.

Otak tediri dari tiga bagian yaitu :

- Otak besar (cerebrum)
- Otak kecil (cerebellum)
- dan Sumsum tulang belakang (spinal cord)
Otak besar adalah merupakan pusat semua kegiatan ber-
pikir dan pusat kecerdasan serta kehendak.
Otak adalah terbesar dan paling kompleks diantara seluruh
sistem saraf. Berat rata-rata ada kira-kira 1360 gr pada lela-
ki dan 1250 gr pada perempuan.
Fungsi lain otak besar adalah untuk mengendalikan semua
kegiatan misalnya :
bergerak, mengingat, melihat, berfikir, berbicara, dan ke-
giatan tubuh lain yang disadari.
Otak kecil adalah untuk mengatur keseimbangan tubuh
Dan mengkoordinasikan kerja otot pada saat manusia ber-
Aktivitas. Adapun sumsum penghubung (medulla oblongata)
Adalah untuk mengatur kegiatan tubuh yang tidak disadari
Misalnya : mengatur suhu tubuh, tekanan darah, denyut jan-
tung, kecepatan-kecepatan pernafasan dan aktivitas yang
Lainnya.
Sumsum tulang belakang terletak memanjang didalam rong-
ga tulang belakang bagian belakang (posterior vertebral discs)
mulai dari ruas-ruas tulang leher (cervical inervertebral discs)
sampai ruas-ruas tulang pinggang (lumbar intervetebral
discs), Fungsinya adalah merupakan pengatur gerak refleks
tubuh, mengatur impulse saraf ke dan dari otak.
Susunan saraf tepi (peripheral nervous systems) terdiri dari
saraf sensoris dan motoris. Saraf sensoris adalah yang mengi-
rim impulse (pesan-pesan rangsang) dari sensor penerima ke
sum-sum tulang belakang (spinal cord). Sedangkan saraf mo-
toris adalah berfungsi untuk mengirim impulse dari sumsum
tulang belakang ke otot-otot (muscle).
Unit pembentuk sistem saraf disebut sebagai neuron yang ter-
diri dari badan sel saraf (cell body), serabut saraf memanjang
(akson) dan sejumlah cabang-cabang saraf yang lain (ter-
minal branch).
Otak kecil
Pleksus Leher
Pleksus Lengan
Saraf Radial
Saraf Ulnar
Saraf
Femoral
Saraf
Sakral
Saraf Skiatik
Saraf Tibial
Saraf Sural
Pleksus Lumbar
Pleksus Eksofageal
Saraf Simpatetik
Saraf Vagus
Sumsum Tulang Belakang
Lobus Temporal
Lobus Frontal
Penampang melintang melalui
Tulang Belakang Manusia
Dua macam akson dan neuron ini dikelompokkan kedalam
jaringan pengikat serabut saraf yang berakhir pada sumsum
tulang belakang (spinal cord). Sebelum masuk keadalam
sumsum tulang belakang, cabang-cabang saraf tersebut ter-
bagi menjadi dua cabang.
Satu cabang terdiri dari motor neuron yang masuk kedalam
sumsum tulang belakang bagian depan (anterior root), dan
cabang yang kedua yang terdiri dari sensor neuron masuk
bagian belakang (posterior).
Neuron Motoris. Cabang dari motor neuron membentuk se-
kumpulan serabut saraf yang disebut motor unit. Jumlah se-
rabut otot dalam satu motor unit biasanya hanya dalam per-
bandingan yang sedikit dari jumlah total serabut saraf yang
ada dalam satu jenis otot.
Perbandingan jumlah serabut saraf amat berfariasi antara
satu jenis otot dengan yang lainnya. Otot yang berfungsi un-
tuk pengontrol seperti misalnya otot-otot mata, mempunyai
jumlah serabut saraf yang cukup banyak.
Impulse Neuron mengaktifkan semua serabut otot pada mo-
tor unitnya (unit penggeraknya) dalam satu kali komando.
Serabut otot pada setiap unit tidak dikelompokkan menjadi
satu akan tetatpi menyebar (disperse), sehingga pengaktifan
dari satu unit saja akan menghasilkan kontraksi otot lembut.
Neuron Sensoris. Serabut saraf tepi dari neuron sensoris bera-
khir pada receptor (saraf penerima) pada berbagai macam
tipe.
Eksteroseptor. Berfungsi mengindera lingkungan diluar tu-
buh kita, dan dalam sistem kerangka otot indera-indera ter-
sebut merasa melalui kulit adalah yang paling relevan yaitu
menyentuh atau merasakan sentuhan, panas, dingin, nyeri
dan tekanan.
Interoseptor. Berfungsi mengindera kondisi didalam tubuh
Yang berhubungan dengan sistem kerangka otot adalah dise-
but sebagai proprioseptor yang letaknya pada bagian otot,
sambngan dan tendon yang berfungsi untuk memberikan um-
pan balik pada posisi dan pergerakan tangan maupun kaki
dan penegang maupun pengendor otot.
Serabut saraf yang berhubungan dengan otot karenanya
terdiri dari Neuron Motoris dan Neuron Sensoris seperti yang
terklihat pada gambar dibawah ini :
Gambar :
SISTEM SARAF YANG BERHUBUNGAN DENGAN OTOT
Dalam beberapa hal, apabila organ reseptor dirangsang,
dengan sendirinya akan terjadi kontraksi otot atau sekresi
kelenjar, yang dikenal sebagai refleks. Impuls yang terjadi
dari stimulasi semacam ini dibawa ke pusat sistem saraf
ke sumsum tulang belakang dan ditransmisikan ke otot
atau kelenjar. Lintasan lengkap dari suatu impuls disebut
Busur atau lengkung refleks (dapat dilihat pada gambar
berikut ini).

Dalam bentuk yang sederhana suatu busur refleks terdiri
dari 3 bagian :

1. Anggota aferen yang erdiri atas organ reseptor (katakan-
lah mata, telinga, atau kulit) yang merangsang muncul-
nya impuls dan neuron yang tugasnya membawa impuls
ke sistem saraf.
2. Pusat refleks, didalam substansi kelabu pada pusat sistem
Saraf, yang erdiri atas pusat pemerosesan (akson) pada neu-
ron aferen dn sambungannya dengan badan sel dari neuron
eferen.
3. Anggota eferen, terdiri atas neuron eferen dan proses-pro-
sesya, yang membawa impuls dari pusat sistem saraf ke
otot atau kelenjar. Biasanya , neuron lainnya menyisip di-
antara neuron aferen dan neuron eferen. Beberapa busur
refleks sangat kompleks dan melibatkan sejumlah otot
yang berlainan.
Pada saat kondisi gerakkan refleks dibentuk maka pada sa-
at yang sama motor skill akan mempelajari untuk selanjut-
nya dapat digunakan sebagai pembentukan metoda kerja
yang benar sesuai dengan analisa dan perancangan kerja.
Sehingga dengan demikian akan menghapus memory untuk
metoda kerja yang tidak sesuai dengan prosedur dan mana-
jemen kerja.

Kondisi rangsangan saraf, pada saat istirahat, bagian dalam serabut
saraf mempunyai rangsang getar sekitar 70 mV relatif dengan ba-
gian luar. Suatu rangsang akan menghasilkan potensial yang tinggi
yang dapat diganti dengan voltage sebesar + 35 mV.
Pada saat voltage berlalu, maka 70 mV akan tersimpan. Kemudi-
an gaya potensial ini akan berlanjut dengan cepat. Pulsa yang ber-
lalu lewat serabut saraf adalah berkecepatan 12 120 m/s tergan-
tung dengan ukuran aksonnya. Yang jelas lebih rendah dari konduk-
tor listrik biasa.
Impuls-impuls rangsangan tersebut menstimulasi respon listrik yang
sama dalam serabut otot yang akhirnya akan dapat menghasilkan
suatu kontraksi otot. Kekuatan kontraksi dipengaruhi tidak hanya
oleh perbandingan unit motor saraf yang terlibat, akan tetapi dipe-
ngaruhi juga oleh frekuensi pulsa (denyut). Frekuensi yang rendah
tidak akan memberikan suatu kontraksi. Sedangkan frekuensi dia-
tas 50 per detik (50 Hz) akan terasa adanya kontraksi. Disini yang
harus diingat adalah bahwa setiapserabut otot dalam motor unit be-
rada dalam dua kondisi yaitu kontraksi atau tidak kontraksi (all-
or-none law). Dan impuls serabut saraf akan merangsang reaksi ki-
mia otot untuk menghasilkan energi otot.
Aktivitas elektris dari otot dapat dideteksi pada permukaan kulit,
dengan menggunakan elektrode (Grandjean, 1986). Voltage (tegang-
an listrik) yang dapat diamati adalah sangat kecil sekali jika diban-
dingkan dengan yang diilustrasikan diatas. Juga distribusi frekuensi
signal yang diamati menggambarkan kombinasi kompleks dari sig-
nal motor unit. Peralatan yang digunakan untuk merekam signal-
signal harus berada pada rentang pengamatan signal listrik antara
10 V dan 4 mV, dengan frekuensi antara 25 sampai 200 Hz. Signal-
signal tersebut didapat selama periode kontraksi otot dan dinama-
kan sebagai electromyogram (EMG). Kegiatan pengamatannya di-
kenal sebagai electromyography.

Pada gambar dibawah ini ditunjukkan lokasi dari permukaan elek-
trode untuk tujuan mempelajari aktifitas salah satu otot ekstensor
lengan tangan. Posisi otot harus mudah diidentifikasi secara visual
pada saat kontraksi oleh dua elektrode aktif yang ditempatkan pa-
da permukaan kulit yang berdekatan dengan otot yang sedang dia-
mati dengan posisi paralel terhadap panjangnya dengan radius mak-
simum sejauh 50 mm.
Dua elektrode tersebut dihubunkan dengan differensial amplifier
yang dibantu oleh enerji batery. Elektrode yang lain adalah earth
electrode yang juga ditempatkan pada permukaan kulit yang
berdekatan dengan dua elektrode tersebut diatas.
Penggunaan differensial amplifier berfungsi untuk membantu
adanya interferensi yang dapat merusak signal EMMG yang lebih
kecil atau berfungsi sebagai penguat dalam mengamati signal-
signal.
IInterferensi tersebut juga diminimumkan dengan cara
membersihkan permukaan kulit dengan alkohol dan
menggunakan jelly konduktif (seperti selai konduktif) yang
diletakkan diantara dan permukaan kulit.
Pada gambar berikut ini pada (b) dan (c) ditunjukkan signal EMG
yang murni yang secara signifikan membedakan antara
aktivitas otot satu dengan yang lainnya.
Gambar :
Akan tetapi, sekarang telah umum untuk membetulkan (rectify)
signal (misalnya membuat semua voltage menjadi positif) dan
kemudian menjadikan rata-rata dalam mV dan adalah berman-
faat jika signal tersebut digunakan sebagai perbandingan terha-
dap signal otot yang sama pada kontraksi otot maksimum
(maximum Voluntary Contraction disingkat MVC)
Electromyography (EMG) telah banyak dipakai oleh para ergonom
untuk mendeteksi beban otot statis (static muscle loading) dan
juga untuk mengukur tingkat aktivitas otot yang relevan terhadap
MVC. EMG merupakan indikator untuk kelelahan otot pada dae-
rah tertentu karena pada umumnya frekuensi rata-rata signal
akan menurun dengan meningkatnya kelelahan.
Pengaruh ini diakibatkan oleh menurunnya kecepatan konduksi
pada otot yang juga disebabkan oleh proses metabolisme dan
proses kontraksi otot.