Anda di halaman 1dari 8

Dampak Teknologi dan Pornografi terhadap Perilaku Remaja

Oleh : Panggih Priyo Subagyo/ Psikologi 2010



Era globalisasi ditandai dengan perkembangan yang pesat dalam bidang
IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi). Tentunya pesatnya perkembangan
teknologi yang semakin canggih menimbulkan dampak positif dan negatif.
Dampak negatif inilah yang harus menjadi fokus perhatian supaya tidaklah
menimbulkan permasalahan. Kemajuan teknologi mendukung akses informasi
yang cepat melalui internet.
Kemudahan menggunakan akses internet dipermudah melalui laptop dan
alat komunikasi Hand Phone. Hal ini semakin membuat seseorang leluasa dalam
mengakses informasi. Hal yang paling dikhawatirkan adalah akses terhadap situs
pornografi. Menurut Undang-Undang , pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi,
foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak
tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui, berbagai bentuk media komunikasi/
pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual
yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Pornografi akan sangat
mudah diakses melalui internet.
Kemajuan teknologi jelas semakin memudahkan perilaku pornografi.
Lewat handphone saja seseorang bisa mengakses situs porno bahkan menyimpan
file pornografi. Pornografi yang dimaksud adalah suatu barang atau konten yang
mengandung porno baik berbentuk video, gambar ataupun tulisan. Segala bentuk
pornografi tersebut semakin mudah didapatkan dengan berkembangnya teknologi.
Walaupun pemerintah sudah megesahkan UU tentang Pornografi yang
salah satu pokok isinya adalah memblokir dan memberantas pornnografi di dunia
maya. Namun pada kenyataanya situs pornografi masih tetap ada. situs-situs
tersebut jumlahnya tidak sedikit. Menurut data dari Elmer -Dewitt (1995) dalam
penelitian di Amerika Serikat, selama 18 bulan menemukan adanya 917.410
gambar-gambar eksplisit, deskripsi, cerita pendek dan klip film bercorak
pornografi. Hasil Statistics by Family Safe Media menyatakan bahwa terdapat 4,2
juta situs internet porno, dimana setiap harinya terdapat 68 juta permintaan
mencari materi pornografi melalui internet.

Pada kasus ini kalangan remaja menjadi fokus utama terhadap dampak
negatif dari perkembangan teknologi. Hal ini dikarenakan remaja sangat dekat
dengan penggunaan teknologi informasi. Hampir 100% remaja bisa
mengoperasikan computer atau ponsel untuk akses internet. Usia remaja
termasuk kelompok yang melek teknologi. Dalam mengerjakan tugas dari
sekolah mereka membutuhkan akses internet. Bahkan penggunaan teknologi
modern menjadi gaya hidup dikalangan remaja.
Terlebih usia remaja adalah masa transisi , dimana remaja mengalami
perubahan pada fisik, psikis, seksual dan intelektual (Hurlock, 1993). Perubahan
seksual terdapat pada matangnya kelenjar yang mempengaruhi hormone yang ada
pada fungsi reproduksi. Perkembangan intelektual yang belum matang terkadang
juga membuat remaja tidak bijak dalam membuat keputusan. Masa remaja juga
tahapan seseorang untuk mencari jati diri. Sifat khas dari pencarian jati diri
adalah sifat keingintahuan yang besar. Hal ini menderong remaja untuk
menegetahui atau melakukan hal-hal yang baru. Pornografi atau bahasan seksual
merupakan hal yang baru bagi remaja. Karena secara konten seksualitas
merupakan hal yang diperuntukan bagi orang dewasa. Beberapa hal di atas
membuat remaja menjadi rentan terhadap dampak negative dari kemajuan
teknologi.
Hurlock (1993) menyebutkan bahwa remaja lebih tertarik terhadap materi
seks yang berbau porno daripada materi pelajaran disekolah. Segala hal yang
berkaitan dengan seks menjadi daya tarik yang kuat bagi remaja. Dalam
mengungkapkan informasi tentang seks remaja coba dipenuhi dengan membaca
buku, bercerita dengan teman dan melakukan percobaan seksual seperti
masturbasi (Hurlock,1997). Sejalan dengan Sarlito (2008) yang menyatakan
bahwa anak yang beranjak remaja cenderung melakukan aktifitas-aktifitas seksual
yang prasenggama seperti melihat buku atau film cabul, berciuman, berpacaran
dan sebagainya. Hal ini menununjukan bagaimana kelompok remaja sangat rentan
dengan pornografi.
Bedasarkan hasil survey yang dialakukan oleh Diah, Nor & Tina (2013)
menyebutkan bahwa 70% pengguna akses di Warnet adalah remaja. Dimana 50%
akses internet digunakan untuk situs porno. Hal ini menunjukan tingkat konsumsi
remaja terhadap pornografi melalui media internet.
Berdasarkan survei Yayasan Kita dan Buah Hati (2005) terhadap 1.705
anak SD usia 9-12 tahun di Jabodetabek, menunjukan hasil bahwa 80% dari
mereka sudah mengakses materi pornografi dari berbagai sumber seperti komik,
VCD/ DVD situs-situs porno (BKKBN,2004). Tentunya data ini semakin
menguatkan tingginya tingkat konsumsi pornografi pada remaja.
Hasil penelitian Resnayeti (2000) pada remaja siswa SMP dan SMU di
Jakarta Timur melaporkan bahwa media elektronik berupa televisi, video, dan
internet telah mempengaruhi lebih dari 65% responden berkaitan dengan seks dan
reproduksi. Selain itu penelitian Raviqoh (2002) pada di Jakarta juga
menunjukkan bahwa sebesar 44%. Remaja yang mempunyai pengalaman pernah
membaca buku porno sebanyak 92,7%, menonton film porno sebanyak 86,2%,
melalui video porno 89,1% , dan melalui internet 87,1 %. Data diatas jelas
menunjukan bagaimana pornografi paling banyak didapatkan melalui internet.
Internet menjadi media yang paling banyak digunakan karena memang internet
adalah media yang mudah dalam mengakses informasi. Termasuk didalamnya
adalah informasi tentang seksualitas atau pornografi.
Tingkat konsumsi terhadap pornografi tentunya akan mempunyai
pengaruh terhadap perilaku remaja. Pengaruh yang diberikan tentunya adalah
pengaruh negative. Hal ini sesuai dengan pernyataan Borrong (2007) yang
menyebutkan bahwa kecenderungan seseorang menonton film porno akan
mengakibatkan sulitnya konsentrasi. Kesulitan berkonsentrasi akan berpengaruh
terhadap hasil belajar seseorang.
Donald ,dkk (2004) menyebutkan beberapa dampak negative akibat
konsumsi terhadap pornografi. Pertama, membuat seseorang meniru perilaku
seksual yang ada pada konten pornografi. Kedua, membentuk sikap dan nilai yang
negative. Ketiga, menyebabkan kesulitan konsentrasi dalam belajar. Keempat,
menjadikan seseorang menjadi tertutup, minder dan kurang percaya diri.
Berdasarkan dua pernyataan di atas jelaslah bahwa konsumsi terhadap
pornografi membawa dampak negative bagi para remaja. Salah satunya adalah
menggangu kemampuan konsentrasi. Hal ini tentunya suatu dampak yang sangat
merugikan. Karena rata-rata usia remaja adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.
Sedangakn tugas utama mereka adalah belajar. Kesulitan konsentrasi dalam
belajar merupakan kerugian bagi para remaja. Hal ini akan berpengaruh langsung
terhadap hasil belajar mereka.
Bukan hanya pada para pelajar dan mahasiswa, bagi mereka yang sudah
bekerja juga akan terkena dampaknya. Kesulitan konsentrasi akan bepengaruh
terhadap kinerja seseorang. Kinerja yang buruk diakibatkan oleh kesulitan dalam
berkonsentrasi. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap karier seseorang dalam
bekerja.
Dampak lain dari pornografi adalah peniruan perilaku seksual. Hal ini
yang membuat terjadinya penyimpangan seksual pada remaja. Sehingga timbul
kasus-kasu kriminalitas seperti pemerkosaan, pencabulan dan bentuk pelecehan
seksual lainnya dimana pelaku adalah remaja. Diberitakan bahwa sekelompok
remaja menyendera seorang perempuan dan memperkosanya secara bergantian
(Liputan 6, Program TV,7 Mei 2014). Di Jawa tengah seorang remaja ditangkap
polisi dikarenkan kasus pemerkosaan pada temannya (Kedaulatan Rakyat, 6 Mei
2014).
Pornografi saat ini jelaslah suatu permasalahan yang serius ditengah
semakin pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Generasi muda kita
menjadi kelompok rentan terhadap dampak pornografi. Karakteristik remaja dan
faktor lingkungan menjadikan remaja terkena dampak dari perkembangan
teknologi. Tingginya konsumsi pornografi akan mengganggu fungsi dan tugas
perkembangan di tahapan remaja. Sehingga tugas fungsi tahapan remaja akan
mengalamni permasalahan. Dimana hal ini akan berpengaruh negatif terhadap
tahap perkembangan selanjutnya.















Daftar Pustaka
BKKBN. (2004). Anak Indonesia Rentan Pornografi. Diunduh 5 Mei 2014 dari
http://hqweb01.bkkbn.go.id/ article_detail.pihp?aid=531

Borrong.(2007). Pornografi. Diunduh tanggal 5 Mei 2014 dari http://www.suara
pembaruan daily.com


Donald, dkk. (2014). .Dampak negatif kecanduan pornografi. Diunduh tanggal 5
Mei 2014 dari tp://aliefqu.wordpress.com /2012/01/16 inilah dam
paknegatif Kecanduanpografi

Dian, Nur & Tina .(2002). Hubungan antara Kecenderungan Perilaku Mengakses
Situs Porno dan Religiusitas pada Remaja. Jurnal Psikologi
Universitas Gajah Mada,1,1-12.

Elmer-Dewitt.( 1995). On a Screen Near You: Cyberporn . Diunduh pada tanggal
6 Mei 2014 dari http:// www.pathfinder.com/time/ magazine/
1995/950703/950703.cover.html

Harlock, E.B .(1997). Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan ) Alih Bahasa Istiwidayati dan Soedjarwo.
Jakarta : Erlangga


Hurlock, E.B. (1993). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan terhadap
Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Liputan 6.(Mei,2014). Liputan 6 SCTV. Jakarta : SCTV
Mulya, Mudjiran & Yarmis. (2012). Dampak Pornografi terhadap Perilaku Siswa
dan Upaya Guru Pembimbing Untuk Mengatasinya. Jurnal Ilmiah
Konseling Universitas Negeri Padang, 1,1-8.

Ayu. ( 6 Mei 2014). Pemerkosaan terhadap Seorang Pelajar . Kedaulatan Rakyat,
hal.27



Raviqoh. (2002). Hubungan antara paparan pornografi di media massa dengan
dorongan seksual remaja SMU Negeri 6 Jakarta Tahun 2001.
Skripsi Kesehatan Reproduksi. Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.

Resnayeti, Y. (2000). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual
remaja pada siswa siswi SLTP dan SMA Negeri di Jakarta Timur
tahun 2000. Tesis Kesehatan Reproduksi. Depok: Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Sarwono W. Sarlito .(2008). Psikologi Remaja. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Yayasan Kita dan Buah Hati (Mei 2007). Kupas Tuntas Masalah Pornografi.
Modul Media Literasi dan Pornografi, Pontianak: Perhimpunan
Masyarakat Tolak Pornografi Bekerja Sama dengan Badan Litbang
SDM Departemen Komunikasi dan Informatika