Anda di halaman 1dari 9

Tari Saman (Aceh)

Tari Saman adalah salah satu tarian daerah Aceh yang paling terkenal saat ini. Tarian ini
berasal dari dataran tinggi Gayo. Pada masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan
peristiwa peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Selain itu biasanya tarian ini juga
ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Pada kenyataannya nama Saman
diperoleh dari salah satu ulama besar Aceh, Syech Saman.Tari Saman biasanya ditampilkan
menggunakan iringan alat musik, berupa gendang dan menggunakan suara dari para penari dan tepuk
tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka
sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah.
Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman
formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para
penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil
dengan sempurna.
Tarian ini dilakukan secara berkelompok, sambil bernyanyi dengan posisi duduk berlutut dan
berbanjar/bersaf tanpa menggunakan alat musik pengiring.
Karena kedinamisan geraknya, tarian ini banyak dibawak/ditarikan oleh kaum pria, tetapi
perkembangan sekarang tarian ini sudah banyak ditarikan oleh penari wanita maupun campuran
antara penari pria dan penari wanita. Tarian ini ditarikan kurang lebih 10 orang, dengan rincian 8
penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.
Bagi para penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam pertunjukan. Dalam
setiap penampilannya, selain menyedot perhatian yang besar juga menyedot para penikmat seni tari.
Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk
tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak badan, kepala dan posisi badan. Keunikan lainnya
terlihat dari posisi duduk para penari dan goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan,
ketika syair-syair dilagukan.
Tari ini biasanya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus
ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini dimainkan pula oleh kaum perempuan
atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Dan tentunya dengan modifikasi gerak lainnya. Saya
kadang bertanya bagaimana orang sebanyak itu bisa dengan serentak memainkan tarian yang
memiliki kecepatan tinggi? Selain latihan tentunya, pasti ada formasi tertentu dalam meletakkan
tiap-tiap penari itu sehingga kerapatan dan keseimbangan tarian terlihat harmonis dan dinamis.
Hampir semua tarian Aceh dilakukan beramai-ramai. Ini memerlukan kerjasama dan saling
percaya antara syeikh (pemimpin dalam tarian) dengan para penarinya. Namun apa saja unsur yang
membuat tarian ini menjadi begitu indah dalam gerak, irama dan kekompakan tidak banyak kita
mengetahuinya.


Tari Jaipong (Jawa Barat)



Jaipongan adalah seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum
Gumbira. Ia terinspirasi pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya
mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan
atau Bajidoran atau Ketuk Tilu. Sehingga ia dapat mengembangkan tarian atau kesenian yang kini di
kenal dengan nama Jaipongan.

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari Daun Pulus Keser
Bojong dan Rendeng Bojong yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra
dan putri). Awal kemunculan tarian tersebut semula dianggap sebagai gerakan yang erotis dan vulgar,
namun semakin lama tari ini semakin popular dan mulai meningkat frekuensi pertunjukkannya baik di
media televisi, hajatan, maupun perayaan-perayaan yang disenggelarakan oleh pemerintah atau oleh
pihak swasta.

Dari tari Jaipong ini mulai lahir beberapa penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh,
Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kirniadi. Kehadiran tari Jaipongan memberikan kontribusi
yang cukup besar terhadap para pencinta seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat
yang sebelumnya kurang di perhatikan. Dengan munculnya tari Jaipongan ini mulai banyak yang
membuat kursus-kursus tari Jaipongan, dan banyak dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk pemikat
tamu undangan.

Di Subang Jaipongan gaya Kaleran memiliki ciri khas yakni keceriaan, erotis, humoris,
semangat, spontanitas, dan kesederhanaan. Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada
pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung,
juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan
Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang.

TARI LEGONG KERATON (BALI)


Seni Budaya Tari Indonesia (tari legong Bali)


Tari Legong Keraton adalah sebuah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang
sangat komplek dan diikat oleh struktur tabuh pengiring yang konon mendapat pengaruh dari Tari
Gambuh. Kata Legong Keraton terdiri dari dua kata yaitu legong dan kraton. Kata legong diduga
berasal dari kata leg yang berarti gerak tari yang luwes. Lemah gemulai. Sementara gong berarti
gambelan. leg dan gong digabung menjadi legong yang mengandung arti gerakan yang diikat,
terutamaaksentuasinya oleh gambelan yang mengiringinya.

Jadi Legong Keraton berarti sebuah tarian istana yang diiiringi oleh gambelan. Sebutan legong kraton
merupakan perkembangan berikutnya. Ada praduga bahwa Legong Kraton berasal dari pengembangan
Tari Sang Hyang.

Pada mulanya legong berasal dari Tari Sang Hyang yang merupakan tari improvisasi dan kemudian
gerak-gerak improvisasi itu ditata, dikomposisikan menurut pola atau struktur dari pegambuhan
(gambelan). Gerakaan-gerakan tari yang membangun Tari Kraton ini disesuaikan dengan gambelan
sehingga tari ini menjadi tarian yang indah, dinamis dan abstrak. Gambelan yang dipakai mengiringi
tari ini dalam seni pertunjukan kemasan baru adalah gambelan gong kebyar.


TARI LEGONG KERATON
Tari Legong Keraton adalah suatu tarian putri yang ditarikan oleh 2 (dua) atau 3 (tiga) gadis dimana
salah satu diantaranya ada yang berperan sebagai condong yaitu peran yang pertama kali tampil
dipentas guna memulai tari legong ini. Kata Legong diduga berasal dari akar kata Leg yang kemudian
dikombinasikan dengan kata Gong. Leg mengandung arti luwes atau elastis yang kemudian dapat
diartikan gerakan yang lemah gemulai (Tari), Selanjutnya Gong berarti gambelan. Leg dan Gong
digabungkan sehingga menjadi legong yang mengandung arti gerakan yang sangat diikat terutama
aksentuasinya oleh gambelan yang mengiringinya. Sebutan Legong Keraton adalah merupakan
perkembangan kemudian, Gambelan yang mengiringinya tari legong yaitu gambelan pelegongan dan
ada juga yang diiringi dengan gambelan Semar pegulingan.. dan Lakon yang biasanya dipakai dalam
Legong ini kebanyakan bersumber pada ceritra Malat khususnya kisah Prabu Lasem, ceritra kuntir dan
Jobog (kisah Bali Sugriwa), Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal
Lingganya Siwa), Kuntul (Kisah Burung) Sudarsana (Semacam Calonarang), Palayon, Candra Kanta dan
lain sebagainya.
Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari Papeseon, Pangawak, Pangecet dan Pakaad. Sebagaimana
biasanya penari Legong ini selalu membawa kipas. Di Desa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong
yang lain yang dinamakan Andir (Nandir) di Pura Pajogan Agung (Ketewel) terdapat juga tari Legong
yang memakai topeng yang dinamakan Sangyang Legong atau LegongTopeng. Adapun daerah-daerah
yang diangap sebagai daerah sumber Legong di Bali yaitu : Saba, Pejeng, Peliatan (Gianyar), Binoh,
Kuta (Badung) dan Tista (Tabanan).


Tari Topeng Betawi (DKI Jakarta)


Tari Topeng, merupakan sebuah tari
tradisional Betawi dalam menyambut tamu agung.
Asal usul sejarah tari topeng Tarian
Topeng, salah satu ciri khas budaya tari di
Indonesia. Jakarta merupakan hasil perpaduan
antara budaya masyarakat ada di dalamnya. Pada
awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh
Sunda dan Cina seperti Jaipong yang mengunakan
kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun
Jakarta boleh dikatakan daerah yang paling
dinamik kerana mempunyai seni tari dengan gaya
dan koreografi yang dinamik selain seni tari lama.
Tari Topeng adalah visualisasi gerak, yang
dibuat nenek moyang tanpa melalui konsep. Ada
pengaruh budaya Sunda, namun memiliki ciri
khasnya berupa selancar. Para penarinya
menggunakan topeng yang mirip dengan Topeng
Banjet Karawang Jawa Barat, namun dalam topeng
betawi memakai bahasa Betawi. Dalam topeng
betawi sendiri ada tiga unsur: musik, tari dan
teater. Tarian dalam topeng betawi inilah yang
disebut tari topeng. Salah seorang tokoh seniman
Betawi yang telah mengusung aneka tari-tarian
Betawi khususnya tari topeng hingga ke manca negara adalah Entong Kisam. Dirinya sudah berkeliling
ke 5 benua, serta 33 negara. Negara yang paling sering ia lawati bersama grup tari topengnya adalah
Perancis, Cina dan Thailand

Sejarah Tari Topeng Betawi
Di Jakarta dan sekitarnya (Batavia en Ommelanden) dalam buku W.L. Ritter dan E. Hardouin yang
dicetak tahun 1872 menyebut bahwa ada suatu permainan yang popular waktu itu.
Yang disebut Klein Maskerspel yaitu suatu Straatvertoningen (tontonan jalanan ) yang diduga
berasal dari Topeng Babakan Cirebon.
Pendapat para tokoh Tari Betawi, secara teknis ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon
penari Topeng Betawi agar dapat menghasilkan gerak yang tepat dan benar demi terwujudnya
kesatuan gerak tubuh yang estetis dan harmonis yaitu : Gandes (luwes),Ajar (ceria) dan Lincah tanpa
beban sewaktu menari.
Disamping itu masih ada ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi sewaktu menarikan topeng
Betawi yaitu mendek, dongko, ngengkreg, madep, megar, ngepang dan lain-lain.
Dalam perkembangannya kini tari Topeng Betawi muncul sebagai pertunjukan tersendiri, kemudian
kita kenai sekarang macam-macam tari Topeng Betawi seperti
Tari Lipet Gandes,
Tari Topeng Tunggal,
Tari Enjot-enjotan,
tari Gegot,
tari Topeng Cantik,
tari Topeng Putri,
tari Topeng Ekspresi,
tari Kang Aji,
dan lain-lain.



Tari-tarian Daerah Jawa Tengah
Tari Serimpi

Tari Serimpi, sebuah tarian keraton pada
masa silam dengan suasana lembut,
agung dan menawan.
Tarian Serimpi adalah suatu jenis tarian
yang diperagakan 4 putri ini masing-
masing mendapat sebutan : air, api,
angin dan bumi/tanah, yang selain
melambangkan terjadinya manusia juga
melambangkan empat penjuru mata
angin. Sedang nama peranannya Batak,
Gulu, Dhada dan Buncit. Komposisinya
segi empat yang melambangkan tiang
Pendopo.
Suatu jenis tari klasik Keraton yang selalu
ditarikan oleh 4 penari, karena kata
srimpi adalah sinonim bilangan 4.
Menurut Dr. Priyono nama serimpi
dikaitkan ke akar kata impi atau
mimpi. Menyaksikan tarian lemah gemulai
sepanjang hingga 1 jam itu sepertinya
orang dibawa ke alam lain, alam mimpi.
Konon, kemunculan tari Serimpi berawal
dari masa kejayaan Kerajaan Mataram
saat Sultan Agung memerintah antara
1613-1646. Tarian ini dianggap sakral karena hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton untuk
ritual kenegaraan sampai peringatan naik takhta sultan.
Pada 1775 Kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta.
Perpecahan ini juga berimbas pada tarian Serimpi walaupun inti dari tarian masih sama. Tarian
Serimpi di Kesultanan Yogyakarta digolongkan menjadi Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel,
Serimpi Genjung. Sedangkan di Kesultanan Surakarta digolongkan menjadi Serimpi Anglir Mendung
dan Serimpi Bondan. Walaupun sudah tercipta sejak lama, tarian ini baru dikenal khalayak banyak
sejak 1970-an. Karena sebelumnya terkekang oleh tembok keraton.
Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari Serimpi melambangkan empat mata angin atau
empat unsur dari dunia, yaitu : (1) Grama (api), (2) Angin (udara), (3) Toya (air), (4) Bumi (tanah).
Sebagai tari klasik istana di samping bedhaya, tari Serimpi hidup di lingkungan istana Yogyakarta.
Serimpi merupakan seni yang adhiluhung serta dianggap pusaka Kraton. Tema yang ditampilkan pada
tari Serimpi sebenarnya sama dengan tema pada tari Bedhaya Sanga, yaitu menggambarkan
pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dan buruk, antara benar dan salah, antara
akal manusia dan nafsu manusia.
Tema perang dalam tari Serimpi,menurut RM Wisnu Wardhana, merupakan falsafah hidup ketimuran.
Peperangan dalam tari Serimpi merupakan simbolik pertarungan yang tak kunjung habis antara
kebaikan dan kejahatan. Bahkan tari Serimpi dalam mengekspresikan gerakan tari perang lebih
terlihat jelas karena dilakukan dengan gerakan yang sama dari dua pasang prajurit melawan prajurit
yang lain dengan dibantu properti tari berupa senjata. Senjata atau properti tari dalam tari putri
antara lain berupa : keris kecil atau cundrik, jebeng, tombak pendek, jemparing dan pistol.
Pakaian tari Serimpi mengalami perkembangan. Jika semula seperti pakaian temanten putri Kraton
gaya Yogyakarta, dengan dodotan dan gelung bokornya sebagai motif hiasan kepala, maka kemudian
beralih ke kain seredan, berbaju tanpa lengan, dengan hiasan kepala khusus yang berjumbai bulu
burung kasuari, gelung berhiaskan bunga ceplok dan jebehan. Karakteristik pada penari Serimpi
dikenakannya keris yang diselipkan di depan silang ke kiri. Penggunaan keris pada tari Serimpi adalah
karena dipergunakan pada adegan perang, yang merupakan motif karakteristik Tari Serimpi.


Tari Reog Ponorogo
(Jawa Timur)



Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog
dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki
Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa
pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam
pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan
berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni
bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini
akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu
kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui
pertunjukan seni Reog, yang merupakan sindiran kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya.
Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan
kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai Singa
Barong, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu
merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang
mengatur dari atas segala gerak-geriknya.

Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi
simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan
warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian
dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan
giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan
menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang
untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya
secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk
dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya
memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono
Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar
putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari
Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan
Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam
dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian
perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya,
para penari dalam keadaan kerasukan saat mementaskan tariannya.
Tari Kecak (Bali)




Asal muasal tari kecak
Tak diketahui secara pasti darimana tarian kecak berasal dan dimana pertama kali berkembang,
namun ada suatu macam kesepakatan pada masyarakat Bali kecak pertama kali berkembang menjadi
seni pertujukan di Bona, Ganyar,sebagai pengetahuan tambahan kecak pada awalnya merupakan
suatu tembang atau musik yang dihasil dari perpaduan suara yang membentuk melodi yang biasanya
dipakai untuk mengiringi tarian Sahyang yang disakralkan. Dan hanya dapat dipentaskan di dalam
pura. Kemudaian pada awal tahun 1930an astist dari desa Bona, Gianyar mencoba untuk
mengembangkan tarian kecak dengan mengambil bagian cerita Ramayana yang didramatarikan
sebagai pengganti Tari Sanghyang sehingga tari ini akhirnya bisa dipertontontan di depan umum
sebagai seni pertunjukan. Bagian cerita Ramayana yang diambil pertama adalah dimana saat Dewi
Sita diculik oleh Raja Rahwana.

Perkembangan Tari Kecak Di Bali
Tari kecak di Bali mengalami terus mengalami perubahan dan perkembangan sejak tahun 1970-an.
Perkembangan yang bisa dilihat adalah dari segi cerita dan pementasan. Dari segi cerita untuk
pementasan tidak hanya berpatokan pada satu bagian dari Ramayana tapi juga bagian bagian cerita
yang lain dari Ramayana.
Kemudian dari segi pementasan juga mulai mengalami perkembangan tidak hanya ditemui di satu
tempat seperti Desa Bona, Gianyar namun juga desa desa yang lain di Bali mulai mengembangkan tari
kecak sehingga di seluruh Bali terdapat puluhan group kecak dimana anggotanya biasanya para
anggota banjar. Kegiatan kegiatan seperti festival tari Kecak juga sering dilaksanakan di Bali baik
oleh pemerintah atau pun oleh sekolah seni yang ada di Bali. Serta dari jumlah penari terbanyak yang
pernah dipentaskan dalam tari kecak tercatat pada tahun 1979 dimana melibatkan 500 orang penari.
Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari Mahabarata. Namun rekor ini
dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000
penari pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Pola Tari Kecak
Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa factor yang sangat penting, Lebih lebih
dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar cerita, tentu musik sangat vital
untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam dalam Tari Kecak musik dihasilkan dari
perpaduan suara angota cak yang berjumlah sekitar 50 70 orang semuanya akan membuat musik
secara akapela, seorang akan bertindak sebagai pemimpin yang memberika nada awal seorang lagi
bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan tekanan nada tinggi atau rendah seorang
bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi akan bertindak sebagai ki dalang yang
mengantarkan alur cerita. Penari dalam tari kecak dalam gerakannya tidak mestinya mengikuti
pakem pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi dalam tari kecak ini gerak tubuh penari lebih
santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita dan perpaduan suara

Tari Serampang Duabelas
dari Sumatera Utara




Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah
Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh
penciptanya antara tahun 1950-1960
Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu
yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari (www.wisatamelayu.com/id;
http://cetak.kompas.com; Sinar, 2009: 48).

Sedikitnya ada dua alasan mengapa namaTari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas. Pertama,
nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut Tengku Mira
Sinar, nama tarian yang diawali kata pulau biasanya bertempo rumba,seperti Tari Pulau Kampai
dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti
Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang
Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama
serampang (Sinar, 2009: 48). Kedua, penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak
tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila
mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban,
pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih (Sinar, 2009: 49-
52;www.wisatamelayu.com/id).

Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan
Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan
kedinamisan irama musik pengiringnya.

Seni Budaya Portugis memang mempengaruhi bangsa Melayu, terlihat dari gerak tari tradisionalnya
(Folklore) dan irama musik tari yang dinamis, dapat kita lihat dari tarian Serampang XII yang
iramanya tari lagu dua. Namun kecepatannya (2/4) digandakan, gerakan kaki yang melompat-lompat
dan lenggok badan serta tangan yang lincah persis seperti tarian Portugis. Sebagai seorang penari
tentu saya takjub dengan adanya kaitan budaya antara kedua negara ini, dan sebagai puteri Melayu
Serdang, dalam khayalan saya bayangkan ketika guru Sauti menari di hadapan Sultan Sulaiman di
Istana Kota Galuh Perbaungan. Sungguh betapa cerdas beliau dengan imajinasinya menggabungkan
gerak tari Portugis dan Melayu Serdang, sehingga tercipta tari Serampang XII yang terkenal di seluruh
dunia itu (Tengku Mira Sinar, www.waspada.co.id).

Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan
pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna.
Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan
secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Namun demikian, pada awal perkembangannya tarian
ini hanya dibawakan oleh laki-laki karena kondisi masyarakat pada waktu itu melarang perempuan
tampil di depan umum, apalagi memperlihatkan lenggak-lenggok tubuhnya
(www.wisatamelayu.com/id).

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi (Jogjakarta)




Ken Arok yang memerintahkan Singasari depalan abad lampau bergelar Sri Radjasa Bhantara sang
Amurwabhumi itu bertandang di kraton Kasultanan Yogyakarta. Saat itu gending mendayu-dayu di
pendapa ndalem Wironegaran di suatu malam yang anggun. Dan sang Amurwabhumi larut di sana,
selama tiga puluh menit yang mempesona.

Begitulah kraton Yogyakarta membuka diri. Betapa sang Amurwabhumi hanya karya tari bedhaya,
tapi kraton Kasultanan Ngayogyakarta yang terawat baik hingga di jaman kontemporer sekarang ini,
tak menutup diri pada sejarah bangsanya, betapapun pahitnya dia. Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi
itu diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X setahun setelah dinobatkan menjadi raja
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Karya seni tari yang dicukil dari serat Pararaton itu mengkisahkan pergulatan asmara serta
kepemimpinan yang dipersembahkan Sultan HB X untuk mengenang ayahanda, Sri Sultan HB IX.
Pergelaran tari itu memperlihatkan gerak dan penataan koreografis tanpa cacat dalam
menggambarkan kisah Ken Arok dan sang Pradnya Paramitha Ken Dedes di sebuah masa yang
berbunga dan padat politik kerajaan itu.

Menari memang tak hanya sekedar menghafal gerak. Menari adalah efek ekspresi jiwa, sehingga
dengan begitu seluruh tubuh jumbuh, menyatu dalam sebuah kesatuan gerak. Gerakan tubuh bukan
sekedar interprestasi dari fisik semata-mata, tapi juga batin. Roso. Perasaan.

Memang ada sebuah motif di sana. Pemerintahan Sang Amurwabhumi agaknya mengusahakan harmoni
antara kepercayaan Hindu dan Budha. Di kraton Yogyakarta ada ketentraman budaya yang selalu
diupayakan agar ia terawat baik, bagi kehidupan juga bagi bangsanya.