Anda di halaman 1dari 50
Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Investasi Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur BADAN KOORDINASI
Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Investasi Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur BADAN KOORDINASI
Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Investasi Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur BADAN KOORDINASI
Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Investasi Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur BADAN KOORDINASI
Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Investasi Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur BADAN KOORDINASI
Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi Melalui Investasi Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur BADAN KOORDINASI

Mendorong Peningkatan Daya Saing Ekonomi

Melalui Investasi

Direktorat Perencanaan Industri Manufaktur

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL (BKPM) 29 Agustus 2013, Banda Aceh

PENANAMAN MODAL (BKPM) 29 Agustus 2013, Banda Aceh ©© 20120133 byby IndonesianIndonesian InvestmentInvestment
PENANAMAN MODAL (BKPM) 29 Agustus 2013, Banda Aceh ©© 20120133 byby IndonesianIndonesian InvestmentInvestment

©© 20120133 byby IndonesianIndonesian InvestmentInvestment CoordinatingCoordinating Board.Board. AllAll rightsrights reservedreserved

DAFTAR ISI

1
1

GAMBARAN UMUM TARGET INVESTASI 2010 - 2014

2
2

RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL (RUPM) DAN PEDOMAN

PENYUSUNAN RUPMP / RUMPK

5
5

ISU DAN TANTANGAN DALAM PERCEPATAN REALISASI INVESTASI

Indonesia Investment Coordinating Board

I. GAMBARAN UMUM TARGET INVESTASI 2010 - 2014

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 3
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
3

Target Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi RPJMN 2010 2014 (sudah ditetapkan)

Pemerintah menjadikan investasi sebagai pilar pokok pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 6,3 6,8% setiap tahun selama 5 tahun (2010 2014).

   

Proyeksi

2010

2011

2012

2013

2014

Pertumbuhan

         

ekonomi (%)

5,5-5,6

6,0-6,3

6,4-6,9

6,7-7,4

7,0-7,7

Pertumbuhan

         

Investasi (%)

7,2-7,3

7,9-10,9

8,4-11,5

10,2-12,0

11,7-12,1

Kebutuhan Investasi

         

(Rp triliun)

1.894,1

2.111,1 2.144,5

2.348,8 2.465,0

2.619,9 - 2.788,4

2.939,2 - 3.168,0

Peran Pemerintah

220,0

272,9 - 274,5

329,9 336,6

417,8 433,1

525,6 552,5

(Rp triliun dan % dari total kebutuhan investasi)

(11,6%)

(12,8-12,9%)

(13,7-14%)

(15,5-15,9%)

(17,4-17,9%)

Peran Swasta

1.674,1

1.838,2 1.870,0

2.019,0 2.128,4

2.202,1 - 2.355,3

2.413,6 - 2.615,5

(Rp triliun dan % dari total

(88,4%)

(87,1-87,2%)

(86-86,3%)

(84,1-84,5%)

(82,1-82,6)

kebutuhan investasi)

Sumber: RPJMN 2010-2014 (diolah dari kerangka Ekonomi Makro 2010-2014)

Catatan:

Total Kebutuhan Investasi: Rp 12.460 Triliun

Peran Investasi Pemerintah: Rp 1.816,7 Triliun (14,6%)

Peran Investasi Swasta: Rp 10.643,3 Triliun (85,4%)

Investasi Swasta berasal dari PMA/PMDN Skala Besar, Investasi sektor Migas dan Pertambangan, Investasi Jasa Keuangan, serta Investasi UMKM dan Koperasi

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Jasa Keuangan, serta Investasi UMKM dan Koperasi The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Jasa Keuangan, serta Investasi UMKM dan Koperasi The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Jasa Keuangan, serta Investasi UMKM dan Koperasi The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

4

Elemen PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) dalam PDB 2010-2014 (Proyeksi setelah revisi Renstra BKPM 2010-2014)

PMTB TOTAL

   

Belanja modal rumah tangga Belanja modal pemerintah Lembaga keuangan

 
 
PMTB Swasta (dalam dan luar negeri)

PMTB Swasta (dalam dan luar negeri)

PMTB SWASTA

  PMTB Swasta (dalam dan luar negeri) PMTB SWASTA Skala kecil dan menengah: investor domestik yang

Skala kecil dan menengah: investor domestik yang dikelola oleh Pemda (PDPPM/PDKPM*)

Skala besar: investor domestik + asing sektor migas

dan pertambangan (asing > domestik)

Skala besar: PMA + PMDN yang dikelola BKPM / PDPPM / PDKPM) (PMA ~80%)

Skala besar: PMA + PMDN yang dikelola BKPM / PDPPM / PDKPM) (PMA ~80%)

Rp 3.958,6 triliun (US$ 430,3 miliar) 22% Rp. 2.065,2 triliun (US$ 224,5 miliar) 13,9% Rp
Rp 3.958,6 triliun
(US$ 430,3 miliar)
22%
Rp. 2.065,2 triliun
(US$ 224,5 miliar)
13,9%
Rp 2.299,9 triliun
(US$ 250,0 miliar)
24%
6%
10,7%
Rp 1.204,0 triliun
(US$ 130,9 miliar)
31,2%
7%
58,1%
58,1%
58,3%
30,2%
14,1%
58,3%
18%
12,8%
10,1%
2010
2014
2010 Rp 208,5 triliun
(US$ 22,6 miliar)
2014
32% PDB**
Rp 6.422,9 T
38,5% PDB
Rp 10.280,9 T

Data APBN-P 2010, Asumsi: US$ 1 = Rp 9.200

*) PDPPM = Perangkat Daerah Provinsi di Bidang Penanaman Modal PDKPM = Perangkat Daerah Kabupaten/Kota Bidang Penanaman Modal **) Realisasi

Rp 506,9 triliun (US$ 55,09 miliar)

Investasi Swasta 28,1% (2010) dan 26,9% (2014) mencakup

PMA+PMDN dan investasi skala besar (domestik+asing) di

sektor migas hulu dan pertambangan

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

SUMBER: BAPPENAS, BPS, BI & BKPM, diolah (2009), berdasarkan asumsi dari

SUMBER: BAPPENAS, BPS, BI & BKPM, diolah (2009), berdasarkan asumsi dari

tabel Financial Social Accounting Matrix /FSAM (2005) dan dari data PDB 2011)

diolah (2009), berdasarkan asumsi dari tabel Financial Social Accounting Matrix /FSAM (2005) dan dari data PDB

5

Realisasi Investasi: Tahun 2012 dan Semester I Tahun 2013

Realisasi Investasi & Target

Rp Trn (USD miliar) 506.9 390.3 (56.3) (43.3) 313.2 283.5 (34.8) 251.3 240.0 (31.5) 208.5
Rp Trn (USD miliar)
506.9
390.3
(56.3)
(43.3)
313.2
283.5
(34.8)
251.3
240.0
(31.5)
208.5
192.8
(27.9)
(26.6)
160.1
(23.1)
(21.4)
(17.8)
2010
2011
2012
2013
2014
Target
Realization

Catatan:

Target realisasi investasi berdasarkan Renstra Penanaman Modal 2011-2014 (perubahan).

Realisasi Investasi tahun 2012 mencapai Rp. 313,2 Trn (110,5% dari target tahun 2012).

Semester 1/2013: realisasi investasi mencapai Rp 192,8 Trn (49,4% dari target tahun 2013), terdiri dari: PMA Rp 132,2 Trn (USD 14,7 miliar) dan PMDN Rp 60,5 Trn.

PMA (USD miliar)

24.5 19.3 16.2 14.9 14.7 10.3 10.8 6.0 2006 2008 2010 2012

24.5

19.3 16.2 14.9 14.7 10.3 10.8 6.0 2006 2008 2010 2012
19.3
16.2
14.9
14.7
10.3 10.8
6.0
2006
2008
2010
2012

PMDN (Rp Trn)

92.2 76 60.6 60.5 37.8 34.9 20.8 20.4 2006 2008 2010 2012
92.2
76
60.6
60.5
37.8
34.9
20.8
20.4
2006
2008
2010
2012

Asumsi Nilai tukar USD 1,- = Rp 9,000

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Performa Investasi

Realisasi Penanaman Modal Tahun 2012 dibanding periode sama Tahun 2011:

Sumber Pembiayaan dan Persebaran

Januari Desember 2011

Januari Desember 2012

PMDN Rp. 76,0 T PMA Rp. 175,3 T (30,2%) (69,8%)
PMDN
Rp. 76,0 T
PMA
Rp. 175,3 T
(30,2%)
(69,8%)

Januari Desember 2011

PMDN Rp. 92,2 T

(29,4%)

(69,8%) Januari – Desember 2011 PMDN Rp. 92,2 T (29,4%) PMA Rp. 221,0 T (70,6%) Januari

PMA Rp. 221,0 T

(70,6%)

Januari Desember 2012

Luar Jawa Rp. 103,2 T

(41,1%)

Januari – Desember 2012 Luar Jawa Rp. 103,2 T (41,1%) Jawa Rp. 148,1 T (58,9%) Luar
Januari – Desember 2012 Luar Jawa Rp. 103,2 T (41,1%) Jawa Rp. 148,1 T (58,9%) Luar
Januari – Desember 2012 Luar Jawa Rp. 103,2 T (41,1%) Jawa Rp. 148,1 T (58,9%) Luar
Januari – Desember 2012 Luar Jawa Rp. 103,2 T (41,1%) Jawa Rp. 148,1 T (58,9%) Luar

Jawa Rp. 148,1 T

(58,9%)

Luar Jawa Rp. 137,6 T

(43,9%)

Jawa Rp. 175,6 T

(56,1%)

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Luar Jawa Rp. 137,6 T (43,9%) Jawa Rp. 175,6 T (56,1%) The Investment Coordinating Board of
Luar Jawa Rp. 137,6 T (43,9%) Jawa Rp. 175,6 T (56,1%) The Investment Coordinating Board of
Luar Jawa Rp. 137,6 T (43,9%) Jawa Rp. 175,6 T (56,1%) The Investment Coordinating Board of

7

REALISASI INVESTASI TAHUN 2012: Sektor, Lokasi, dan Asal Negara

Sektor:

5 BESAR SEKTOR (PMDN)

1. Ind Makanan Rp. 11,2 T (12,1%)

2. Ind Mineral Non Logam Rp. 10,7 T (11,6%)

3. Pertambangan Rp. 10,5 T (11,5%)

4. Tanaman Pangan & Perkebunan Rp. 9,6 T (10,4%)

5. Transportasi, Gudang & Telekomunikasi Rp. 8,6 T (9,3%)

Lokasi:

5 BESAR LOKASI (PMDN)

1. Jawa Timur Rp. 21,5 T (23,3%)

2. Jawa Barat Rp. 11,4 T (12,3%)

3. DKI Jakarta Rp. 8,5 T (9,3%)

4. Kalimantan Timur Rp. 5,9 T (6,4%)

5. Jawa Tengah Rp. 5,8 T (6,3%)

5 BESAR SEKTOR (PMA)

1. Pertambangan US$ 4,3 M (17,3%)

2. Transportasi, Gudang & Telekomunikasi US$ 2,8 M (11,4%)

3. Ind Kimia Dasar, Barang Kimia & Farmasi US$ 2,8 M (11,3%)

4. Ind Logam Dasar, Barang Logam, Mesin & Elektronik US$ 2,5M (10,0%)

5. Ind Alat Angkutan & Transportasi Lainnya US$ 1,8 M (7,5%)

5 BESAR LOKASI (PMA)

1. Jawa Barat US$ 4,2 M (17,1%)

2. DKI Jakarta US$ 4,1 M (16,7%)

3. Banten US$ 2,7 M (11,1%)

4. Jawa Timur US$ 2,3 M (9,4%)

5. Kalimantan Timur US$ 2,0 M (8,2%)

Asal Negara:

5 BESAR ASAL NEGARA (PMA)

Sumber: BKPM, 2012

1. Singapura US$ 4,9 M (19,8%)

2. Jepang US$ 2,5 M (10,0%)

3. Korea Selatan US$ 1,9 M (7,9%)

4. Amerika Serikat US$ 1,2 M (5,1%)

5. Mauritius US$ 1,1 M (4,3%)

Indonesia Investment Coordinating Board

Perkembangan Rata-rata Investasi Sektoral, periode tahun 2008-2012

120

100

80

60

40

20

0

Realisasi Investasi (dalam Rp triliun)

Investasi Sektor Primer (dalam Rp triliun)

40 35 30 25 20 15 10 5 0 Primer Sekunder Tersier Tanaman pangan Peternakan
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Primer
Sekunder
Tersier
Tanaman pangan
Peternakan
Pertambangan
08-10 ave
10-12 ave
08-10 ave
10-12 ave

Investasi Sektor Industri, 7 sektor terbesar (dalam Rp triliun)

25 20 15 10 5 0 Makanan & Minuman Tekstil Kertas, Brg dr Kertas &
25
20
15
10
5
0
Makanan & Minuman
Tekstil
Kertas, Brg dr Kertas &
Percetakan
Kimia Dasar, Brg kimia
& Farmasi
Karet, Brg dr karet &
Plastik
Mineral non logam
Logam Dasar, Brg
logam, Mesin &
Elektronika
*) Data realisasi investasi, 2008-2012
Sumber: BKPM, 2013, diolah.
08-10 ave
10-12 ave

Indonesia Investment Coordinating Board

Profil Penanaman Modal Provinsi NAD

Rencana dan Realisasi Investasi, Tahun 2008 2012 Satuan dalam Rp Triliun

30 25 20 15 10 5 0 2008 2009 2010 2011 2012 Rencana Realisasi
30
25
20
15
10
5
0
2008
2009
2010
2011
2012
Rencana
Realisasi
 

Rencana

 

Tahun

Investasi

Realisasi Investasi

Investasi

Proyek

Investasi

2008

14,65

0

0

2009

4,22

3

0,08

2010

2,66

18

0,09

2011

24,54

45

0,48

2012

2,52

11

1,74

SEKTOR UTAMA PENANAMAN MODAL

2008-Tw3/2012

Listrik, gas, dan air

Pertambangan

Industri makanan

Tanaman pangan dan perkebunan

Industri mineral non logam

NILAI INVESTASI

(Rp triliun)

%

1,01

42,32

0,89

37,06

0,23

9,57

0,19

7,74

0,03

1,40

NEGARA POTENSIAL PENANAMAN MODAL

2008-Tw3/2012

0.01% 0.18% 2.38% 0.01% 12.95% Korea Selatan 0.46% Malaysia Australia Amerika Serikat Inggris Belanda
0.01%
0.18%
2.38%
0.01%
12.95%
Korea Selatan
0.46%
Malaysia
Australia
Amerika Serikat
Inggris
Belanda
84.00%
British Virgin Islands

Indonesia Investment Coordinating Board

II. RENCANA UMUM PENANAMAN MODAL (RUPM) DAN PEDOMAN PENYUSUNAN RUPMP / RUPMK

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 11
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
11

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Tata Hubungan antara RUPM dengan Dokumen Perencanaan Nasional Lainnya

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), UU No 17/2007 Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN), UU No 17/2007
Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN)
Rencana Umum Penanaman
Modal (RUPM)
Dokumen Perencanaan
Pembangunan Jangka Panjang
Lainnya*
Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN)
Keterangan *)
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Keterangan *) Rencana Strategis Kementerian/Lembaga Rencana Kerja

Rencana Strategis Kementerian/Lembaga

Rencana Kerja Pemerintah (RKP)

1. Kebijakan Industri Nasional

(Perpres No. 28/2008)

2. Kebijakan Energi Nasional (Perpres No. 5/2006)

3. Pengembangan Komoditas Unggulan Pertanian

4. MP3EI (Perpres No. 32/2011)

5. Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (PP

No. 50/2011)

6. Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Perpres No. 26/2012)

7. Dll.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Sistem Logistik Nasional (Perpres No. 26/2012) 7. Dll. The Investment Coordinating Board of the Republic of
Sistem Logistik Nasional (Perpres No. 26/2012) 7. Dll. The Investment Coordinating Board of the Republic of
Sistem Logistik Nasional (Perpres No. 26/2012) 7. Dll. The Investment Coordinating Board of the Republic of

12

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Tata Hubungan antara RUPM-RUPMP-RUPMK dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

UU No. 25/2007

RUPM

RUPMP

RUPMK

UU No. 25/2004

RPJP/RPJMN/RPJMD

RENSTRA

K/L

RENSTRA

SKPD Prov

RENSTRA

SKPD

Kab/Kota

RENJA K/L

RENSTRA K/L RENSTRA SKPD Prov RENSTRA SKPD Kab/Kota RENJA K/L RENJA SKPD Prov RENJA SKPD Kab/Kota

RENJA SKPD

Prov

RENSTRA K/L RENSTRA SKPD Prov RENSTRA SKPD Kab/Kota RENJA K/L RENJA SKPD Prov RENJA SKPD Kab/Kota

RENJA SKPD

Kab/Kota

RENSTRA K/L RENSTRA SKPD Prov RENSTRA SKPD Kab/Kota RENJA K/L RENJA SKPD Prov RENJA SKPD Kab/Kota
RENJA K/L RENJA SKPD Prov RENJA SKPD Kab/Kota Rencana Umum Penanaman Modal Keterangan RPJP = Rencana
RENJA K/L RENJA SKPD Prov RENJA SKPD Kab/Kota Rencana Umum Penanaman Modal Keterangan RPJP = Rencana
RENJA K/L RENJA SKPD Prov RENJA SKPD Kab/Kota Rencana Umum Penanaman Modal Keterangan RPJP = Rencana

Rencana Umum Penanaman Modal

Keterangan

RPJP = Rencana Pembangunan Jangka Panjang RPJMN = Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional RPJMD = Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Renstra K/L = Rencana Strategis Kementerian/Lembaga Renja = Rencana Kerja

Rencana Pembangunan di bidang Penanaman Modal

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Kerja Rencana Pembangunan di bidang Penanaman Modal The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Kerja Rencana Pembangunan di bidang Penanaman Modal The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Kerja Rencana Pembangunan di bidang Penanaman Modal The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

13

Rencana Umum Penanaman Modal

7 Elemen Utama Arah Kebijakan Penanaman Modal

ARAH KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL

1. Perbaikan Iklim Penanaman Modal 2. Mendorong Persebaran Penanaman Modal 3. Fokus Pengembangan Pangan,
1.
Perbaikan Iklim Penanaman Modal
2.
Mendorong Persebaran Penanaman Modal
3.
Fokus Pengembangan
Pangan, Infrastruktur, dan Energi
4.
Penanaman Modal yang Berwawasan
Lingkungan (Green Investment)
5.
Pemberdayaan Usaha
Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi
(UMKMK)
6.
Pemberian Fasilitas, Kemudahan, dan/atau
Insentif Penanaman Modal
7.
Promosi Penanaman Modal

RUPM

Insentif Penanaman Modal 7. Promosi Penanaman Modal RUPM Sampai dengan The Investment Coordinating Board of the
Insentif Penanaman Modal 7. Promosi Penanaman Modal RUPM Sampai dengan The Investment Coordinating Board of the
Sampai dengan
Sampai dengan

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

2025
2025
7. Promosi Penanaman Modal RUPM Sampai dengan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
7. Promosi Penanaman Modal RUPM Sampai dengan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

14

Rencana Umum Penanaman Modal

7 Elemen Utama Arah Kebijakan Penanaman Modal

1. Perbaikan Iklim Penanaman Modal 2. Mendorong Persebaran Penanaman Modal
1.
Perbaikan
Iklim
Penanaman
Modal
2.
Mendorong
Persebaran
Penanaman
Modal

Penguatan Kelembagaan Penanaman Modal Pusat dan Daerah*

Pengaturan Bidang Usaha yang Tertutup dan yang Terbuka dengan Persyaratan

Pengaturan Persaingan Usaha

Pengaturan Hubungan Industrial

Pengaturan Sistem Perpajakan dan Kepabeanan.

*)

1.

Penguatan kelembagaan penananam modal daerah:

o

Penyelengaraan PTSP Bidang Penanaman Modal

2.

Pelimpahan kewenangan penyelengraan perizinan dan non perizinan PM kepada PTSP Harmonisasi dan Penyederhanaan Peraturan Daerah terkait penanaman modal khususnya perizinan dan non perizinan

o

Pengembangan pusat-pusat ekonomi, klaster-klaster industri dan

pembangunan infrastruktur*.

Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan strategis (a.l: pola pendekatan KEK, pengembangan koridor ekonomi Indonesia);

Pengembangan sumber energi yang bersumber dari energi baru & terbarukan (EBT) di luar Pulau Jawa;

Percepatan pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa dengan

mengembangkan pola KPS dan non KPS yang diintegrasikan dengan rencana penanaman modal untuk sektor tertentu yang strategis .

Pemberian fasilitas, kemudahan, dan insentif penanaman modal di luar Pulau

Jawa.

*)

1. Target kuantitatif dan upaya yang dilakukan untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah lain

2. Target kuantitatif dan upaya penyebaran investasi di Daerahnya agar lebih merata sesuai potensinya

daerah lain 2. Target kuantitatif dan upaya penyebaran investasi di Daerahnya agar lebih merata sesuai potensinya
daerah lain 2. Target kuantitatif dan upaya penyebaran investasi di Daerahnya agar lebih merata sesuai potensinya
daerah lain 2. Target kuantitatif dan upaya penyebaran investasi di Daerahnya agar lebih merata sesuai potensinya

15

Rencana Umum Penanaman Modal

7 Elemen Utama Arah Kebijakan Penanaman Modal

3. Fokus Pengembangan Pangan, Infrast ruktur, dan Energi 4. Penanaman Modal yang Berwawasan Lingkungan (green
3.
Fokus
Pengembangan
Pangan, Infrast
ruktur, dan
Energi
4.
Penanaman
Modal yang
Berwawasan
Lingkungan
(green
investment)

Menetapkan bidang pangan, infrastruktur, dan energi sebagai isu strategis dalam pengembangan kualitas dan kuantitas penanaman modal*

Pengembangan pangan, infrastruktur dan energi harus selaras dengan upaya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, mandiri, serta mendukung kedaulatan Indonesia dalam pelaksanaannya.

Pengembangan pangan, infrastruktur, dan energi harus ditunjang oleh

pembangunan pada sektor baik primer, sekunder, dan tersier.

*)

Menentukan Sektor dan Wilayah yang dikembangkan dengan mempertimbangkan Fokus Nasional Ketahanan Pangan, Infrastruktur, dan Energi serta sejalan dengan MP3EI dan RTRW Nasional dan Daerah. Jika daerah tersebut tidak sesuai untuk mengembangkan pangan dan energi maka setidak-tidaknya dalam pengembangan investasinya tidak mengorbankan wilayah pertanian pangan produktif dan mempertimbangkan efisiensi, ketersediaan dan rencana pengembangan energi dan infrastruktur.

Pengembangan penanaman modal menuju pengembangan ekonomi hijau (green economy).

Sinergi dengan kebijakan dan program pembangunan lingkungan hidup, khususnya program pengurangan emisi gas rumah kaca sektor kehutanan, transportasi, industri, energi, dan limbah, serta program pencegahan kerusakan keanekaragaman hayati.

Pengembangan sektor-sektor prioritas dan teknologi yang ramah lingkungan, serta pemanfaatan potensi sumber EBT.

Peningkatan penggunaan teknologi dan proses produksi yang ramah lingkungan secara lebih terintegrasi, dari aspek hulu hingga aspek hilir;

Pengembangan wilayah yang memperhatikan tata ruang dan daya dukung lingkungan.

Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 16
yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 16
yang mendorong upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 16

16

Rencana Umum Penanaman Modal

7 Elemen Utama Arah Kebijakan Penanaman Modal

 Kebijakan dasar penanaman modal diarahkan pada pemberdayaan dan perlindungan Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan
Kebijakan dasar penanaman modal diarahkan pada pemberdayaan dan perlindungan
Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK).
Terdapat 2 Strategi besar yaitu :
5.Pemberdayaan
UMKMK
• Strategi Naik Kelas, meningkatkan usaha UMKMK menjadi usaha dengan skala
lebih besar;
• Strategi Aliansi Strategis, memperkuat keterkaitan dalam berbagai bidang usaha –
menjadi supporting industry dan memiliki standarisasi.
Pemberian Insentif diberikan untuk mendorong daya saing dan mempromosikan
kegiatan penanaman modal yang strategis dan berkualitas, dengan menekankan pada
peningkatan nilai tambah, peningkatan penanaman modal di sektor prioritas dan
6. Pemberian
Fasilitas, Kem
udahan, dan/
atau Insentif
pengembangan wilayah.
Pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal diberikan pada
Industri Pionir dan Prioritas Tinggi
Mempertimbangkan klasifikasi wilayah dalam rangka mendorong persebaran dan
pemerataan Penanaman Modal;
Pemerintah daerah dapat memberikan insentif berupa pajak daerah dan kemudahan
lainnya.
Promosi penanaman modal melalui penyebarluasan informasi potensi dan peluang
penanaman modal secara terfokus, terintegrasi, dan berkelanjutan
Penguatan image building sebagai negara tujuan penanaman modal.
7.
Promosi
Pengembangan strategi promosi yang lebih fokus, terarah dan inovatif;
Penanaman
Kegiatan promosi dilaksanakan untuk pencapaian target investasi yang telah ditetapkan;
Modal
Peningkatan peran koordinasi promosi penanaman modal dengan seluruh
kementerian/lembaga terkait di Pusat maupun di Daerah;
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Penguatan peran fasilitasi hasil kegiatan promosi secara pro-aktif.
17

Rencana Umum Penanaman Modal

Pola Umum Pemberian Fasilitas, Kemudahan, dan/atau Insentif Penanaman Modal

PERTIMBANGAN EKSTERNAL  Strategi negara pesaing,  Intensitas persaingan merebut Foreign Direct Investment (FDI)
PERTIMBANGAN EKSTERNAL
 Strategi negara pesaing,
 Intensitas persaingan merebut
Foreign Direct Investment (FDI)
 Praktek terbaik internasional
 Komitmen internasional

PERLUNYA PEMBERIAN FASILITAS, KEMUDAHAN, DAN INSENTIF

PERTIMBANGAN INTERNAL  Strategi/kebijakan pembangunan ekonomi dan sektoral;  Kepentingan pengembangan wilayah;
PERTIMBANGAN INTERNAL
 Strategi/kebijakan pembangunan
ekonomi dan sektoral;
 Kepentingan pengembangan wilayah;
 Tujuan pemberian
fasilitas, kemudahan, dan insentif;
 Pengaruh (importance) dari sektor
yang bersangkutan dari segi
keterkaitan dengan sektor
lain, besaran sektor secara
ekonomi, penyerapan tenaga kerja;
 Sinkronisasi dengan kebijakan lain
yang terkait.

KRITERIA KEGIATAN PENANAMAN MODAL

Pionir;

Prioritas tinggi;

Menyerap banyak tenaga kerja;

Pembangunan infrastruktur;

Melakukan alih teknologi;

Berada di daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah perbatasan, atau daerah lain yang dianggap perlu;

Menjaga kelestarian lingkungan hidup;

Melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan, dan inovasi;

Bermitra dengan UMKMK;

Menggunakan barang modal dalam negeri.

FASILITAS, KEMUDAHAN, DAN INSENTIF MENURUT KEGIATAN PENANAMAN MODAL

Pionir;

Prioritas Tinggi.

KEGIATAN PENANAMAN MODAL Pionir; Prioritas Tinggi.   PENETAPAN PEMBERIAN FASILITAS, KEMUDAHAN, DA N
  PENETAPAN PEMBERIAN FASILITAS, KEMUDAHAN, DA N INSENTIF 
PENETAPAN
PEMBERIAN
FASILITAS,
KEMUDAHAN, DA
N INSENTIF
PEMBERIAN FASILITAS, KEMUDAHAN, DA N INSENTIF  KOMBINASI PRINSIP DASAR  Efisiensi administratif; 
KOMBINASI
KOMBINASI
FASILITAS, KEMUDAHAN, DA N INSENTIF  KOMBINASI PRINSIP DASAR  Efisiensi administratif;  Efektif;
PRINSIP DASAR  Efisiensi administratif;  Efektif;  Sederhana;  Transparan;  Keadilan; 
PRINSIP DASAR
Efisiensi administratif;
Efektif;
Sederhana;
Transparan;
Keadilan;
Perhitungan dampak
ekonomi (analisis B/C).
Jangka waktu

FASILITAS,

KEMUDAHAN, DAN INSENTIF MENURUT

WILAYAH

Wilayah maju;

Wilayah

berkembang;

Wilayah

tertinggal.

KRITERIA KLASIFIKASI WILAYAH

Wilayah maju;

Wilayah berkembang;

Wilayah tertinggal.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

 Wilayah berkembang;  Wilayah tertinggal. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 18
 Wilayah berkembang;  Wilayah tertinggal. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 18
 Wilayah berkembang;  Wilayah tertinggal. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 18

18

Rencana Umum Penanaman Modal

Jenis fasilitas, kemudahan dan insentif yang disediakan

 

Jenis

fasilitas,

kemudahan

dan

insentif

yang

disediakan

Provinsi/Kabupaten/Kota

sesuai

kewenangannya dalam mendukung fokus pengembangan

 

FASILITAS DARI PUSAT :

 

a. fasilitas fiskal berupa tax allowance

 

b. pembebasan bea masuk atas impor

c. pembebasan pajak penghasilan badan

d. pengurangan pajak penghasilan badan

 

e. PTSP di Bidang Penanaman Modal

 

JENIS

f. Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik

 

FASILITAS,

 

KEMUDAHAN

FASILITAS INSENTIF DAN KEMUDAHAN DARI DAERAH (PP NO. 45 TAHUN 2008) :

 

INSENTIF

a.

pengurangan, keringanan, atau pembebasan pajak daerah;

 

b.

pengurangan, keringanan, atau pembebasan retribusi daerah;

 

c.

pemberian dana stimulan; dan/atau

 

d.

pemberian bantuan modal.

 

e.

penyediaan data dan informasi peluang penanaman modal;

 

f.

penyediaan sarana dan prasarana;

 

g.

penyediaan lahan atau lokasi;

 

h.

pemberian bantuan teknis; dan/atau

 

i.

percepatan pemberian perizinan.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

  i. percepatan pemberian perizinan. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 19
  i. percepatan pemberian perizinan. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 19
  i. percepatan pemberian perizinan. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 19

19

Rencana Umum Penanaman Modal

Roadmap Implementasi Penanaman Modal

FASE I
FASE I

Quick

Wins and

Low

Hanging

Fruits

Mendorong kelompok industri yang cepat menghasilkan bahan baku / setengah jadi bagi industri lainnya, penu njang infrastruktur

FASE II
FASE II

Infra-

struktur

dan

Energi

Fokus pada

percepatan

pembangunan

infrastruktur

fisik, diversifika

si dan konversi energi serta peningkatan kualitas SDM yang dibutuhkan

FASE III
FASE III

Industri

Skala

Besar

Pengembangan

industri skala

besar yang

terintegrasi

(upstream ->

downstream)

FASE IV
FASE IV

Know-

ledge

based

Pengembangan

investasi

berteknologi

Econo- tinggi maupun

my

inovasi

teknologi tinggi

Sampai dengan 2025
Sampai dengan
2025

Catatan : Fase dapat berlangsung secara paralel dan simultan

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

: Fase dapat berlangsung secara paralel dan simultan The Investment Coordinating Board of the Republic of
: Fase dapat berlangsung secara paralel dan simultan The Investment Coordinating Board of the Republic of
: Fase dapat berlangsung secara paralel dan simultan The Investment Coordinating Board of the Republic of

20

Rencana Umum Penanaman Modal

Pelaksanaan RUPM

Langkah-Langkah
Langkah-Langkah

1. Kementerian/LPNK menyusun kebijakan terkait penanaman modal mengacu RUPM.

2. Pemerintah Provinsi menyusun RUPMP mengacu RUPM dan prioritas pengembangan potensi Provinsi. Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun RUPMK mengacu RUPM, RUPMP, dan prioritas pengembangan potensi Kabupaten/Kota.

3. RUPMP ditetapkan oleh Gubernur dan RUPMK ditetapkan oleh Bupati/Walikota.

4. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam penyusunan RUPMP dan RUPMK, dapat berkonsultasi kepada BKPM.

5. BKPM, dengan melibatkan Kementerian/LPNK dan Pemerintah Daerah terkait, melakukan evaluasi pemberian fasilitas, kemudahan, dan/atau insentif penanaman modal yang diberikan Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

modal yang diberikan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
modal yang diberikan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
modal yang diberikan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

21

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Latar Belakang Penyusunan Pedoman Teknis

Sosialisasi RUPM di lebih dari 21 daerah:

1) Batam (7kab/kota) 2) Sulawesi Selatan (24 kab/kota) 3) Kalimantan Selatan (13 kab/kota) 4) NTB (10 kab/kota) 5) Jawa Timur (38 kab/kota) 6) Jawa Tengah (35 kab/kota) 7) Kalimantan Timur (14 kab/kota) 8) Jambi (11 kab/kota) 9) Riau (12 kab/kota) 10) DIY (5 kab/kota) 11) Kota Tangerang Selatan 12) NAD 13) Sulawesi Barat (5 kab) 14) Sulawesi Utara (6p, 30kab/kota), dll.

Status Penyusunan RUPMP oleh 33 provinsi*

Telah ditetapkan

Pembahasan rancangan

Naskah akademis

Dianggarkan TA2013

Belum dianggarkan TA2013

Belum teridentifikasi

3 6 4 9 1
3
6
4
9
1

11

Status Penyusunan RUPMK oleh 497 kab/kota**

Menerima

konsultasi

daerah

29 provinsi, 38 kab/kota

67

Data per 26 Agustus 2013. *) Data termasuk Prov Kalimantan Utara yang baru dibentuk. **) Data tidak termasuk 11 Kab baru terbentuk, yaitu:

Pangandaran, Pesisir Barat, Manokwari Selatan, Arfak. Selebihnya 7 Kab baru dalam proses pengundangan.

Pembahasan rancangan

7

Naskah akademis

2

Dianggarkan TA2013

 

11

Belum dianggarkan TA2013

 

51

Belum teridentifikasi

 

427

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

  51 Belum teridentifikasi   427 The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 22
  51 Belum teridentifikasi   427 The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 22
  51 Belum teridentifikasi   427 The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 22

22

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Kerangka Kebijakan (Framework)

Pemerintah
Pemerintah
Pem. Prov
Pem. Prov
Pem. Kab/Kota
Pem.
Kab/Kota

RUPM

Pendahuluan Asas & Tujuan Visi & Misi Arah kebijakan Peta Panduan RUPMP Visi & Misi
Pendahuluan
Asas & Tujuan
Visi & Misi
Arah kebijakan
Peta Panduan
RUPMP
Visi & Misi
Arah kebijakan
Peta Panduan
RUPMK
Visi & Misi
Arah kebijakan
Peta Panduan

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

RUPMK Visi & Misi Arah kebijakan Peta Panduan The Investment Coordinating Board of the Republic of
RUPMK Visi & Misi Arah kebijakan Peta Panduan The Investment Coordinating Board of the Republic of
RUPMK Visi & Misi Arah kebijakan Peta Panduan The Investment Coordinating Board of the Republic of

23

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Pokok Pengaturan

A. Batang Tubuh

B. Lampiran:

TEKNIS PENYUSUNAN

SUBSTANSI

PENANAMAN

MODAL

ADMINISTRATIF

Mengatur:

1) Alur Pikir penyusunan RUPMP dan RUPMK 2) Tahapan penyusunan RUPMP dan RUPMK 3) Perumusan Konsep RUPMP dan RUPMK 4) Penyusunan dan penetapan RUPMP dan RUPMK 5) Jangka waktu penyusunan 6) Evaluasi RUPMP dan RUPMK 7) Fasilitasi/Bimbingan Penyusunan

Mengatur:

1) Latar belakang 2) Maksud dan tujuan 3) Sasaran 4) Tata Hubungan RUPM- RUPMP-RUPMK dengan dokumen perencanaan lain 5) Arah Kebijakan PM di Daerah 6) Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPMP/RUPMK

Mengatur:

1) Rumusan Naskah RUPMP dan RUPMK 2) Pembiayaan 3) Pendistribusian RUPMP dan RUPMK 4) Lampiran II Format Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPMP/RUPMK 5) Lampiran III Format Rencana Fasilitasi Realisasi PM yang Strategis dan Cepat Menghasilkan

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Realisasi PM yang Strategis dan Cepat Menghasilkan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Realisasi PM yang Strategis dan Cepat Menghasilkan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Realisasi PM yang Strategis dan Cepat Menghasilkan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

24

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Batang Tubuh

1. Pengertian

2. Maksud dan tujuan pedoman penyusunan

3. Arah

RUPMP/RUPMK 4. Penyusunan dan penetapan

5. Pembiayaan

6. Jangka Waktu Penetapan

Kebijakan

Penanaman

Modal

Daerah

dan

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Penetapan Kebijakan Penanaman Modal Daerah dan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia Naskah
Penetapan Kebijakan Penanaman Modal Daerah dan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia Naskah
Penetapan Kebijakan Penanaman Modal Daerah dan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia Naskah

Naskah

25

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Alur Pikir

REALITAS & POTENSI

ANALISIS KAWASAN

KONDISI YG

DIINGINKAN

Kriteria arahan Target penana man modal Analisis spasial Arahan VISI & indikatif MISI Kebutuhan
Kriteria arahan
Target
penana
man
modal
Analisis spasial
Arahan
VISI &
indikatif
MISI
Kebutuhan
ruang/wilayah

- Potensi

dan

kondisi umum

- Kontribusi penanaman

modal

bagi

daerah

(aspek

ekonomi, sosial

dan budaya)

- Kondisi kelembagaan

Isu strategis

sosial dan budaya) - Kondisi kelembagaan Isu strategis Posisi penting penanaman modal dalam pembangun an
Posisi penting penanaman modal dalam pembangun an daerah
Posisi
penting
penanaman
modal
dalam
pembangun
an daerah
Strategi & Kebijakan
Strategi &
Kebijakan
modal dalam pembangun an daerah Strategi & Kebijakan The Investment Coordinating Board of the Republic of

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

dalam pembangun an daerah Strategi & Kebijakan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
dalam pembangun an daerah Strategi & Kebijakan The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

26

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Tata Cara Penyusunan

Persiapan Kajian lama Pelaksanaan Naskah kajian Akademis Dokumen perencanaan nasional
Persiapan
Kajian lama
Pelaksanaan
Naskah
kajian
Akademis
Dokumen
perencanaan
nasional

Pembahasan

Rumusan RUPMP/RUPMK Dilaksanakan melalui: rapat interdinas, FGD, uji publik, dll.
Rumusan
RUPMP/RUPMK
Dilaksanakan
melalui: rapat
interdinas, FGD, uji
publik, dll.
melalui: rapat interdinas, FGD, uji publik, dll. Keterangan: *) RUPMP/RUPMK ditetapkan oleh Gubernur atau

Keterangan:

*) RUPMP/RUPMK ditetapkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota.

Penetapan*

Rancangan

RUPMP/

RUPMK

atau Bupati/Walikota. Penetapan* Rancangan RUPMP/ RUPMK Penetapan RUPMP/ RUPMK The Investment Coordinating Board

Penetapan

RUPMP/

RUPMK

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Rancangan RUPMP/ RUPMK Penetapan RUPMP/ RUPMK The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 27
Rancangan RUPMP/ RUPMK Penetapan RUPMP/ RUPMK The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 27
Rancangan RUPMP/ RUPMK Penetapan RUPMP/ RUPMK The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 27

27

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Rumusan RUPMP dan RUPMK

I

PENDAHULUAN

II

ASAS DAN TUJUAN

III

VISI DAN MISI

IV

ARAH KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL PROVINSI atau KABUPATEN/KOTA

V

PETA PANDUAN (ROADMAP) IMPLEMENTASI RUPMP/RUPMK

VI

PELAKSANAAN

Lampiran

Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPMP atau RUPMK Rencana Fasilitasi Realisasi Proyek Penanaman Modal yang Strategis dan yang Cepat Menghasilkan.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Modal yang Strategis dan yang Cepat Menghasilkan. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Modal yang Strategis dan yang Cepat Menghasilkan. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
Modal yang Strategis dan yang Cepat Menghasilkan. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

28

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPMP dan RUPMK serta Rencana Fasilitasi Realisasi Proyek Penanaman Modal yang Strategis dan yang Cepat Menghasilkan

Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPMP dan RUPMK

1) Merupakan penjabaran alternatif rencana aksi pencapaian visi dan misi dalam bentuk penetapan arahan kebijakan, strategi, dan target, dengan tetap memperhatikan ciri khas dan karakteristik di masing-masing provinsi atau kabupaten/kota. 2) Diselaraskan dengan Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPM dan disusun dengan jangka waktu hingga tahun 2025. Tahapan pelaksanaan setiap 5 (lima) tahunan dimulai tahun 2015 2019, tahun 2020 2025. 3) Menggunakan bentuk format Lampiran II dari Peraturan ini.

Rencana Fasilitasi Realisasi Proyek Penanaman Modal yang

Strategis dan yang Cepat Menghasilkan

1) Merupakan penjabaran rencana teknis percepatan realisasi proyek penanaman modal. 2) Disusun oleh daerah yang memiliki rencana proyek penanaman modal strategis. 3) Disusun dan dievaluasi setiap 2 (dua) tahun dan dilaporkan kepada Menteri Dalam Negeri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gubernur, dan Bupati/Walikota terkait. 4) Menggunakan bentuk format Lampiran III dari Peraturan ini.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

bentuk format Lampiran III dari Peraturan ini. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
bentuk format Lampiran III dari Peraturan ini. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
bentuk format Lampiran III dari Peraturan ini. The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

29

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Bentuk Format Peta Panduan (Roadmap) Implementasi RUPMP dan RUPMK

Visi

: [Diisi visi RUPMP / RUPMK]

Misi

: [Diisi misi RUPMP / RUPMK]

No

Fokus Pengembangan Penanaman Modal

Jangka Pendek

Jangka Menengah 2014 2019

Jangka Panjang

2014 2015

2020 2025

I

Bidang Pangan

Diisi dengan arah kebijakan penanaman modal daerah

Diisi dengan arah kebijakan penanaman modal daerah

Diisi dengan arah kebijakan penanaman modal daerah

 

Bidang Infrastruktur

     
 

Bidang Energi

     

II

[Diisi dengan sektor

     

unggulan/prioritas daerah]

Keterangan:

*) Pemda menetapkan minimal 1 sektor unggulan/prioritas yang akan dikembangkan dalam jangka panjang hingga 2025, dengan tetap memperhatikan ketahanan pangan daerah, upaya penyediaan dan perbaikan infrastruktur, dan jaminan ketersediaan listrik.

**) Arah kebijakan penanaman modal daerah mengacu 7 arah kebijakan penanaman modal.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

modal daerah mengacu 7 arah kebijakan penanaman modal. The Investment Coordinating Board of the Republic of
modal daerah mengacu 7 arah kebijakan penanaman modal. The Investment Coordinating Board of the Republic of
modal daerah mengacu 7 arah kebijakan penanaman modal. The Investment Coordinating Board of the Republic of

30

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Bentuk Format Rencana Fasilitasi Realisasi Proyek Penanaman Modal yang Strategis dan yang Cepat Menghasilkan

No

 

Proyek

Kondisi saat ini

Permasalahan

Langkah-langkah

 

Pokok

pemecahan

permasalahan

1

[Diisi profil proyek yang

Diisi dengan

Diisi dengan

Diisi dengan

memuat:

perkembangan

permasalahan yang dihadapi dalam rangka realisasi proyek

langkah-langkah

(i)

Jenis Proyek

terakhir proyek yang memuat informasi:

Pemda

(ii)

Lokasi

memfasilitasi

(iii)

Status

pemecahan

(iv)

Nilai investasi

- Data perizinan

 

permasalahan

(v)

Bidang Usaha

penanaman

dalam rangka

(vi)

Produksi

modal

percepatan realisasi proyek

(vii)

Lahan

- Data perizinan daerah

(viii)

Tenaga kerja

 

(ix)

Rencana produksi komersial

- Status tahap pelaksanaan

(x)

Kontak poin

 

proyek

dst

       

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

  proyek dst         The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
  proyek dst         The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
  proyek dst         The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

31

Perka BKPM No 9/2012 tentang Pedoman Penyusunan RUPMP dan RUPMK

Penetapan dan Jangka Waktu Penetapan RUPMP / RUPMK

RUPMP ditetapkan oleh Gubernur, dan RUPMK ditetapkan oleh Bupati/Walikota

RUPMP ditetapkan oleh Peraturan Gubernur, dan RUPMK ditetapkan oleh Peraturan Bupati/Walikota. Mengingat dokumen RUPMP dan RUPMK merupakan dokumen perencanaan jangka panjang hingga tahun 2025 yang memerlukan konsistensi dan kesinambungan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah, maka Pemerintah Daerah dapat menetapkan melalui Peraturan

Daerah.

Jangka Waktu Penetapan

RUPMP

diundangkan.

dan

RUPMK

disusun

dan

disahkan

paling

lama

2

(dua)

tahun

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

dan disahkan paling lama 2 (dua) tahun The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
dan disahkan paling lama 2 (dua) tahun The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
dan disahkan paling lama 2 (dua) tahun The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

sejak

Perka

32

III. ISU DAN TANTANGAN DALAM RANGKA PERCEPATAN REALISASI INVESTASI

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia 33
The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
33

Optimalisasi Realisasi Investasi

Rencana = Rp. 2.781,4 T

Realisasi = Rp. 1.062,6 T (38,2%)

Belum terealisasi = Rp. 1.718,8 T (61,8%)

Total 48 proyek rencana investasi sektor industri manufaktur Rp. 359,8 Triliun (20 proyek) dalam tahap penjajagan maupun yang telah melakukan MoU atau LoI dengan BKPM atau kementerian teknis terkait.

*) Asumsi kurs USD 1- = Rp. 9.000,-

Sumber : BKPM, diolah 2012

Perkembangan Rencana dan Realisasi Investasi , Tahun 2008 2012 Satuan dalam Rp triliun

1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 2008 2009 2010 2011
1000
900
800
700
600
500
400
300
200
100
0
2008
2009
2010
2011
2012
Rencana
Realisasi

Tahun

Rencana

Realisasi

P

I

P

I

 

2008 3.523

500,3

1.383

154,5

 

2009 3.079

406,5

1.474

135,1

 

2010 3.289

442,7

3.951

208,5

 

2011 5.366

701.0

5.655

251,3

 

2012 6.179

868,3

5.789

313,2

Indonesia Investment Coordinating Board

Optimalisasi Realisasi Investasi …. (cont’d)

Realisasi Investasi Tahun 2008 2012

(Rp Triliun)

140 120 100 80 60 40 20 0 2008 2009 2010 2011 Tw3/2012 Primer Sekunder
140
120
100
80
60
40
20
0
2008
2009
2010
2011
Tw3/2012
Primer
Sekunder
Tersier

Sektor Primer (Rp Triliun)

140 120 100 80 60 40 20 0 2008 2009 2010 2011 Tw3/2012 Rencana Realisasi
140
120
100
80
60
40
20
0
2008
2009
2010
2011
Tw3/2012
Rencana
Realisasi

Sektor Sekunder (Rp Triliun)

450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 2008 2009 2010 2011 Tw3/2012
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
2008
2009
2010
2011
Tw3/2012
Rencana
Realisasi

Sektor Tersier (Rp Triliun)

250 200 150 100 50 0 2008 2009 2010 2011 Tw3/2012 Rencana Realisasi
250
200
150
100
50
0
2008
2009
2010
2011
Tw3/2012
Rencana
Realisasi

Indonesia Investment Coordinating Board

Isu & Tantangan Dalam Rangka Percepatan Realisasi Investasi

Potensi Realisasi Investasi PMDN dan PMA di 6 Koridor Ekonomi Indonesia (Periode 2008 2012)

2,000.0 1,500.0 1,000.0 500.0 0.0
2,000.0
1,500.0
1,000.0
500.0
0.0
Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali & NT Maluku & Papua Rencana Realisasi Rencana= Rp. 374,1
Sumatera
Jawa
Kalimantan
Sulawesi
Bali & NT
Maluku & Papua
Rencana
Realisasi
Rencana= Rp. 374,1 T
Realisasi= Rp. 107,1 T (29%)
Rencana= Rp. 105,2 T
Realisasi= Rp. 46,0 T (44%)
Stock= Rp. 267 T (71%)
Stock= Rp. 59,2 T (59%)
Rencana= Rp. 526,6 T
Realisasi= Rp. 111,3 T (21%)
Stock= Rp. 415,4 T (79%)
Rencana= Rp. 105,5 T
Realisasi= Rp. 28,5 T (27%)
Stock= Rp. 77 T (73%)
Rencana= Rp. 1.618 T
Realisasi= Rp. 655,4 T (41%)
Stock= Rp. 962,5 T (59%)
Rencana= Rp. 94,6 T
Realisasi= Rp. 30,6 T (32%)
Stock= Rp. 64 T (68%)

Sumber: BKPM, 2013

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

30,6 T (32%) Stock= Rp. 64 T (68%) Sumber: BKPM, 2013 The Investment Coordinating Board of
30,6 T (32%) Stock= Rp. 64 T (68%) Sumber: BKPM, 2013 The Investment Coordinating Board of
30,6 T (32%) Stock= Rp. 64 T (68%) Sumber: BKPM, 2013 The Investment Coordinating Board of

36

Ketidakpastian ekonomi global, mendorong perubahan ramalan ekonomi 2013

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global (%)

   

2012

 

2013

 

WEO - IMF

Jul’12

Okt’12

Jan’13

Okt’11

Jan’12

Apr’12

Jul’12

Okt’12

Jan’13

 

Dunia

3,5

3,3

3,2

4,5

3,9

4,1

3,9

3,6

3,5

AS

2,0

2,2

2,3

2,5

2,2

2,4

2,3

2,1

2,0

Eropa

(0,3)

(0,4)

(0,4)

1,5

0,8

0,9

0,7

0,2

(0,2)

GDP

Cina

8,0

7,8

7,8

9,5

8,8

8,8

8,5

8,2

8,2

India

6,1

4,9

4,5

8,1

7,3

7,3

6,5

6,0

5,9

ASEAN 5

5,4

5,4

5,7

5,8

5,6

6,2

6,1

5,8

5,5

INA

6,5

6,0

n.a.

6,7

n.a.

6,1

6,6

6,3

n.a.

Vol

Dunia

3,8

3,2

2,8

6,4

5,4

5,6

5,1

4,5

3,8

Trade

Okt'11-Okt'12 Jan'12-Jan'13 0.0 0.0 -0.1 -0.5 -0.2 -0.4 -0.4 -0.4 -0.6 -1.0 -0.9 -1.0 -1.5
Okt'11-Okt'12
Jan'12-Jan'13
0.0
0.0
-0.1
-0.5
-0.2
-0.4
-0.4
-0.4
-0.6
-1.0
-0.9
-1.0
-1.5
-1.3
-1.3
-1.4
-2.0
-2.1
-2.5
Dunia
AS
Eropa
Cina
India
ASEAN-5
Indonesia
Tingkat deviasi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif rendah
dibandingkan negara/wilayah lain.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,7 - 6,5%, konsensus 6,1%.

Economic Forecasters ING Credit Suisse Danareksa Securities Bank Danamon BBVA Citigroup OCBC Bank Nomura

Economic Forecasters

ING

Credit Suisse

Danareksa Securities

Bank Danamon

BBVA

Citigroup

OCBC Bank

Nomura

HSBC Economics

BofA-Merrill Lynch

Standard Chartered

Goldman Sachs Asia

Econ Intelligence Unit

JP Morgan Chase

Consensus (Rata2)

2013

6,5

5,6

6,5

6,3

6,4

6,3

6,5

6,3

6,1

6,0

6,5

6,4

6,3

3,5

6,1

IMF WorldBank Bank Indonesia 6,3 6,3 6,3-6,7 ADB 6,6 OECD 6,2

IMF

WorldBank

Bank Indonesia

6,3

6,3

6,3-6,7

6,3 6,3 6,3-6,7

ADB

6,6

OECD

6,2

Indonesia Investment Coordinating Board

Pertumbuhan ekonomi Indonesia: “tinggi dan stabil…”

Ekonomi Indonesia tumbuh secara kontinu sejak tahun 2000, pada tahun 2011 tumbuh 6,5%.

Menjaga pertumbuhan sejalan dengan kapasitas, tahun 2012 tumbuh 6.23% dan diharapkan tumbuh 6,8% tahun 2013.

Konsisten melampaui BRIC dan negara Asia Tenggara.

Pertumbuhan PDB Indonesia

%

10 6.8 6.5 6.5 6.3 6.2 6.0 5.7 5.5 5.0 4.9 4.8 4.7 4.6 4.5
10
6.8
6.5
6.5
6.3
6.2
6.0
5.7
5.5
5.0
4.9
4.8
4.7
4.6
4.5
8.2
3.6
7.8
7.5
5
0.8
0
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
-5
-10
-13.1
-15
Pertumbuhan ekonomi Indonesia vs BRIC vs negara Asia Tenggara
%
2007
2008
2009
2010
2011
2012
20
14.2
15
10.6
10.4
10.0
9.6
9.2
9.2
8.5
8.2
10
7.8
7.6
7.5
7.2
6.9
6.6
6.6
6.5
6.5
6.3
6.1
6.2
6.2
6.0
5.5
5.2
5.2
5.0
4.6
4.3
4.3
4.2
4.2
4.0
3.7
5
3.0
2.7
2.6
1.1
0.1
0
-0.3
-2.3
-5
-7.8
-10
Indonesia
China
India
Philippines
Brazil
Thailand
Russia

Sumber: MOF, IMF, World Economic Outlook

Indonesia Investment Coordinating Board

Optimisme Investasi Indonesia ditengah Ketidakpastian Perekonomian Global

Indonesia ditengah Ketidakpastian Perekonomian Global 1 Kontraksi ekonomi yang terjadi di beberapa negara maju,
1
1

Kontraksi ekonomi yang terjadi di beberapa

negara maju, menyebabkan sumber

pertumbuhan global tidak bisa lagi berasal dari

Advanced Countries

2
2

Perlu sumber pertumbuhan dari negara lain agar ekspor dari Eropa dan Amerika dapat diserap:

“DEVELOPING COUNTRIES” Sumber Pertumbuhan Baru: Asia (Greater China, Greater India, & ASEAN)

Dari 3 Kawasan tersebut, perekonomian China dan India mengalami perlambatan, sehingga yang

diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru

adalah ASEAN.

diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru adalah ASEAN. INVESTASI AKAN MENGALIR KE INDONESIA 3  Dari perspektif

INVESTASI AKAN MENGALIR KE INDONESIA

baru adalah ASEAN. INVESTASI AKAN MENGALIR KE INDONESIA 3  Dari perspektif investor, apabila terdapat uang
3
3

Dari perspektif investor, apabila terdapat uang

lebih di Eropa dan AS, dan uang tersebut tidak dapat ditempatkan di negara tersebut (Cost of Fund tinggi dan negative spread), maka investor akan mencari negara yang memiliki pertumbuhan tinggi (return relatif tinggi), yaitu Asia.

Diantara negara Asia, yang pertumbuhan paling tinggi adalah ASEAN. Diantara negara anggota ASEAN, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi; 48% dari pasar ASEAN; dan 42% dari populasi ASEAN.

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

48% dari pasar ASEAN; dan 42% dari populasi ASEAN. The Investment Coordinating Board of the Republic
48% dari pasar ASEAN; dan 42% dari populasi ASEAN. The Investment Coordinating Board of the Republic
48% dari pasar ASEAN; dan 42% dari populasi ASEAN. The Investment Coordinating Board of the Republic

39

Tantangan 1: Perubahan Paradigma Gas sebagai bahan baku industri

No

Kendala/Permasalahan

Perkembangan terakhir upaya fasilitasi

Rekomendasi

 

penyelesaian

1

Kepastian pasokan gas alam bagi industri

Surat Ka BKPM ke Menteri ESDM No. 551/A.1/2010 tanggal 9 November 2010.

Surat Deputi Bidang Perencanaan PM ke Gubernur Papua Barat No.

Koordinasi teknis dan lobby Pimpinan Tingkat Tinggi untuk mengupayakan pemenuhan pasokan gas bagi sektor industri manufaktur terutama proyek2 strategis dan prioritas.

Isu: Beberapa proyek memerlukan kepastian pasokan baku gas alam, a.l: Ferrostaal AG (17t), Orica Ltd (9t), PT PUSRI (18t), proyek industri lainnya.

Penjelasan:

Total kebutuhan gas bagi industri adalah 2.767,32mmscfd, terdiri dari kebutuhan gas bagi 17 sektor industri manufaktur 1.520,74 mmscfd serta Industri pupuk & petrokimia sebesar

1.246,32mmscfd.

73/A.4/2011 tanggal 20 April 2011.

Surat Kemenko Bidang Perekonomian No. S- 263/D.IV. MEKON/12/211) tanggal 9 Desember 2011.

Menurut data FIPGB, realisasi pasokan gas bagi industri tahun 2010 hanya mencapai 584 mmscfd dari janji Pemerintah 801mmscfd.

Surat Menteri Perindustrian ke Menteri ESDM

 

No.561/M-IND/12/2011,

 

Sementara setiap tahun pertumbuhan pemakaian gas untuk industri mencapai 14 - 20%.

tanggal 21 Desember 2011.

Indonesia Investment Coordinating Board

Tantangan 2: Perlu pemberian fasilitas terhadap Investasi Strategis

No

Kendala/Permasalahan

Perkembangan terakhir upaya fasilitasi

Rekomendasi

 

penyelesaian

2

Fasilitas fiskal dan nonfiskal penanaman modal

Hingga saat ini BKPM telah memfasilitasi 4 perusahaan yang bermaksud untuk mengajukan fasilitas TH.

Perlu koordinasi intensif dengan Kemen Perindustrian dan Kemen Keuangan untuk mengupayakan pemberian fasilitas fiskal TA/TH, terutama bagi proyek skala prioritas tinggi dan strategis serta memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional.

Isu: Perlu fasilitas fiskal, baik fasilitas bea masuk, tax allowance (TA), maupun tax holiday (TH) serta fasilitas non-fiskal terkait arus masuk-keluar bahan baku dan barang jadi, a.l: PT. Krakatau Posco (54t), PT. Petrokimia Butadiene Indonesia (1.5t)*, PT. Unilever Oleochemical Indonesia (1.4t)*, PT. Nippon

Shokubai Indonesia (3t), dll.

Penjelasan:

Beberapa proyek mengajukan fasilitas TA dan TH dalam rangka penanaman modal.

Beberapa proyek sedang menjajagi kemungkinan mendapat fasilitas TA dalam rangka pembangunan/ pengembangan industri terkait penanaman modal.

Sejak tahun 2007 2012, Pemerintah telah memberikan fasilitas TA bagi 79 proyek (BKPM,

2012)

Indonesia Investment Coordinating Board

Tantangan 3: Meningkatnya kebutuhan lahan industri

No

Kendala/Permasalahan

Perkembangan terakhir upaya fasilitasi

Rekomendasi

 

penyelesaian

3

Pemenuhan kebutuhan lahan industri

Hingga saat ini pemerintah daerah sedang mengupayakan pembukaan lahan industri baru, terutama di Jawa.

Perlu koordinasi dengan Kemen Perindustrian, Kemen Keuangan dan pemerintah daerah.

Isu: Teridentifikasi kebutuhan lahan untuk industri 2.644,8 Ha (LHF 2012-2014), adapun total hingga tahun 2020 mencapai 3.304,8 Ha.

Penjelasan:

Harga tanah lahan industri di Jawa sangat tinggi di kisaran rata2 USD 110 180/m2 (lihat tabel).

Lahan industri di luar Jawa masih kurang menarik minat investor (kecuali bagi proyek yang memiliki karakteristik natural resources based) karena kurangnya dukungan infrastruktur pelabuhan dan akses jalan.

 

Berdasarkan data diatas, telah teridentifikasi kebutuhan lahan 1) Sumatera: 25 Ha (1 proyek) 2) Jawa: 1.048 Ha (10 proyek) 3) Bali-NT: - 4) Kalimantan: 1.500 Ha (1 proyek) 5) Sulawesi-Maluku Utara: 405 ha (1 proyek) 6) Papua-Maluku: 526 ha (2 proyek)

Indonesia Investment Coordinating Board

Tantangan 4: Peningkatan Pelayanan Penanaman Modal

dan

Kabupaten/Kota

Implementasi Perpres No 27 Tahun 2009 tentang PTSP Bidang Penanaman Modal dan Percepatan penyusunan RUPMP dan RUPMK sebagai implementasi dari Perpres No. 16 Tahun 2012 tentang RUPM, serta Standar

Percepatan

pembentukan

PTSP

Bidang

Penanaman

Modal

di

seluruh

Provinsi

Pelayanan Minimum (SPM) Bidang Penanaman Modal di Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Hingga saat ini, telah terbentuk PTSP Bidang Penanaman Modal di 33 provinsi, dan di 268 kabupaten/kota dan yang menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) di 105 kab/kota

a. Kejelasan pelimpahan kewenangan penerbitan izin usaha bidang ketenagakerjaan

b. Pelimpahan kewenangan penerbitan perizinan penggunaan TKA bagi perusahaan penanaman modal, atau implementasi atas surat Menakertrans No. B.433/MEN/SJ-HK/XII/2009 tanggal 15 Desember 2009 perihal Pemberian Perizinan Penggunaan TKA oleh Perusahaan Penanam Modal (saat ini telah ada pejabat Kemenakertrans di PTSP BKPM, tetapi belum diberikan

kewenangan penuh untuk menendatangani perizinan tenaga kerja asing)

c. Penempatan Pejabat Imigrasi di PTSP BKPM untuk penerbitan visa kerja TKA

d. Pelimpahan kewenangan kepada PDPPM (5 Provinsi)

e. Pelimpahan kewenangan kepada PDKPM (11 Kabupaten/kota)

f. PDKPM (65 kabupaten/kota)

g. Implementasi SPIPISE di Provinsi (11 Provinsi)

h. Implementasi SPIPISE di Kabupaten/Kota (50 Kabupaten/kota)

i. Implementasi tracking system di Provinsi (22 Provinsi)

j. Implementasi tracking system di Kabupaten/Kota (66 Kabupaten/kota)

Indonesia Investment Coordinating Board

Tantangan 5: Perbaikan Infrastruktur

INFRASTRUKTUR: 20 Proyek Terpilih yang Siap Ditawarkan Tahun 2012 - 2014 dengan Skema KPS

 

Investasi

No.

Proyek

Instansi Penanggung Jawab

(Juta US$)

1.

Tanah Ampo Cruise Terminal

Ministry of Transportation

2.1

2.

Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi Toll Road

Toll Road Agency

614

3.

Soekarno Hatta Airport Manggarai Railway

Ministry of Transportation

1,100

4.

Bandung Solid Waste Management

Bandung Municipal Government

80

5.

Southern Bali Water Treatment Facility

Bali Provincial Government

43.5

6.

Southern Banten Airport

Banten Provincial Government

213.61

7.

Batam Solid Waste Management

Batam Municipal Government

22.5

8.

West Semarang Water Supply

Semarang Municipal Government

93.75

9.

South Sumatera 9 Mine Mouth Coal Fired Steam Power Plant (2x600 MW)

PT PLN

1,560.0

10.

South Sumatera 10 Mine Mouth Coal Fired Steam Power Plant (1x600 MW)

PT PLN

780.8

11.

Tanjung Priok Access Toll Road

Toll Road Agency

612.5

12.

Pondok Gede Water Supply, Bekasi

Bekasi Municipal

22.43

13.

Surakarta Water Supply

Surakarta Municipal

4.89

14.

Surakarta Municipal Solid Waste Final Disposal and Treatment Facility

Surakarta Municipal

30

15.

Kertajati International Airport

Ministry of Transportation

800

16.

Jambi Power Coal Fired Stram Power Plant (2x400MW)

PT PLN

1040.2

17.

Pandaan Malang Toll Road

Ministry of Public Works/BPJT

293.2

18.

Cileunyi-Sumedang-Dawuan Toll Road

Ministry of Public Works/BPJT

621

19.

Expansion of Tanjung Priok Port (Cilamaya)

Ministry of Transportation

1032.36

20.

Pekanbaru-Kandis-Dumai Toll Road

Ministry of Public Works/BPJT

844.6

Indonesia Investment Coordinating Board

MOU antara Menkeu, Kepala Bappenas dan Kepala BKPM : BKPM Sebagai Front Office

Berdasarkan MoU antara Menteri Keuangan, Kepala Bappenas dan Kepala BKPM, BKPM memiliki tugas dalam percepatan KPS infrastruktur sebagai berikut:

1. Mengemas informasi tentang proyek infrastruktur

yang siap ditawarkan sehingga menarik bagi

investor, termasuk menetapkan:

a. Proyek KPS yang akan dijadikan pionir (“proyek showcase”) dan target penyelesaian masing-masing proyek showcase sampai di dapatkannya pendanaan (financial close);

b. Rencana aksi dan peran dari tiap pemangku kepentingan terkait proyek showcase.

2. Mencari dan mengidentifikasi investor yang potensial dan menawarkan proyek infrastruktur kepada investor tersebut.

3. Memfasilitasi pemasaran proyek infrastruktur yang siap ditawarkan tersebut melalui kegiatan antara lain :

market sounding;

road show; dan

business forum.

4. Memfasilitasi kerjasama dengan para calon investor dan dukungan Pemerintah

5. Menyampaikan daftar para calon investor dan dokumen

penunjang kepada penanggungjawab proyek kerjasama di

Kementerian/Lembaga atau Pemerintah Daerah (contracting agency) untuk diproses lebih lanjut.

6. Memfasilitasi penerbitan perizinan dan nonperizinan yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek KPS melalui Pelyanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di bidang Penanaman Modal.

7. Melakukan monitoring atas pelaksanaan rencana aksi dan pemenuhan target dari tiap pemangku kepentingan terkait proyek showcase.

8. Melakukan koordinasi penyelesaian permasalahan yang ditemui terkait proyek showcase (clearing house agent).

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

ditemui terkait proyek showcase (clearing house agent). The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
ditemui terkait proyek showcase (clearing house agent). The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia
ditemui terkait proyek showcase (clearing house agent). The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

45

Tantangan 6: Kepastian Hukum terkait Lahan

LAHAN DAN RTRW
LAHAN DAN RTRW

Percepatan Penyelesaian Peraturan-peraturan Tentang RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota dan Percepatan Penyelesaian Masalah Penggunaan Lahan BUMN dan Lahan Tanaman pangan

Catatan: Baik tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota masih dibawah 50%

a.

Percepatan status HGU PTPN III menjadi HPL untuk lahan KEK di Sei Mangkei, Sumatera Utara

b.

Penyelesaian penggunaan lahan PTPN bagi proyek jalan tol KPS Medan-Tebing Tinggi

c.

Kejelasan mengenai moratorium konversi lahan pertanian dikaitkan dengan RTRW Provinsi

dan RTRW Kabupaten/Kota

Percepatan Penyelesaian Masalah Tumpang Tindih Lahan dan Ijin Lokasi

Catatan: Banyaknya terjadi kasus tumpang tindih antara lahan perkebunan dengan pertambangan, areal konsesi Kontrak Karya dengan lahan hutan, dan areal konsesi Kontrak Karya dengan Kuasa Penambangan yang diterbitkan oleh Bupati.

Contoh: Pertambangan nikel di Sulteng (PT. Sulawesi Cahaya Mineral , industri smelter - US$ 3-5B ) memerlukan status “Clean and Clear” dari Kementerian ESDM atas IUP yang berlokasi di Sultra untuk dapat mulai eksplorasi.

Perlu mengefektifkan Tim-Tim Nasional yang telah dibentuk khususnya untuk memutuskan

masalah tumpang tindih lahan dan ijin lokasi.

Indonesia Investment Coordinating Board

Tantangan 7: Peningkatan Kapasitas SDM

TENAGA KERJA
TENAGA KERJA

Percepatan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja terampil (skilled labor).

Catatan: percepatan pelaksanaan program

a. Reaktivasi dan modernisasi Balai Latihan Kerja (BLK)

b. Peningkatan jumlah Politeknik /Sekolah Tinggi Kejuruan di berbagai daerah disesuaikan potensi investasi unggulan daerah

c. Peningkatan jumlah lulusan bidang science dan engineering di berbagai PTN/PTS

Penyempurnaan ketentuan-ketentuan yang terkait dengan pengupahan

Perlunya pengaturan kenaikan upah yang terukur sehingga memberikan kepastian usaha bagi iklim investasi khususnya yang padat karya

Antara lain peningkatan fungsi Lembaga Tripartit (Karyawan, Pengusaha, dan Pemerintah

Daerah), dan pengaturan kembali ketentuan pengupahan: jangka waktu penetapan

UMR, rincian cakupan UMR, ketentuan “upah sundulan” (kenaikan upah bagi karyawan lama), tunjangan perumahan buruh, dan pesangon

Indonesia Investment Coordinating Board

Sektor Sektor yang Didorong Bagi Penanaman Modal

1. Sektor-sektor yang memberikan nilai tambah (value added) dalam rangka program hilirisasi atau pengolahan lanjutan produk sektor pertambangan, pertanian, perikanan dan kehutanan

Contoh: industri smelter, industri pengolahan lanjutan CPO, pengolahan

lanjutan kakao dan pengolahan lanjutan hasil perikanan.

2. Sektor-sektor industri yang jenis produksinya masih diimpor sangat tinggi sebagai barang modal dan bahan baku untuk pendukung industri lainnya (substitusi impor barang modal dan barang baku)

Contoh: industri komponen otomotif, industri kimia dasar dan industri permesinan

3. Sektor-sektor industri yang jenis produksinya masih diimpor sangat tinggi sebagai konsumsi masyarakat Indonesia (substitusi impor barang konsumsi)

Contoh: seperti industri ICT dan industri fashion.

4. Sektor-sektor infrastruktur yang pembangunannya didorong oleh pemerintah melalui pola KPS

Contoh: renewable energy (energi baru dan terbarukan), pembangunan jalan tol, pelabuhan udara dan laut, penyediaan air minum, pengolahan sampah dan pembangunan rel kereta api.

5. Sektor-sektor yang berorientasi ekspor dengan menggunakan bahan baku dan barang modal impor yang relatif kecil.

6.

Sektor Pariwisata

Board of the Republic of Indonesia

Untuk menjaga Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)

agar tetap positif, maka Investasi Indonesia akan

diarahkan pada:

tetap positif, maka Investasi Indonesia akan diarahkan pada: sektor-sektor Dibutuhkan penyikapan yang cepat: 1.
tetap positif, maka Investasi Indonesia akan diarahkan pada: sektor-sektor Dibutuhkan penyikapan yang cepat: 1.

sektor-sektor

Dibutuhkan penyikapan yang cepat:

1.

Percepatan pemberian fasilitas fiskal yang

telah ditetapkan

2.

Fasilitasi secara terpadu

3.

Perhatian dukungan infrastruktur

4.

Perubahan sikap memandang Gas, Minerba, dan produk pertanian sebagai trade commodity menjadi raw material for industry and power

Minerba, dan produk pertanian sebagai trade commodity menjadi raw material for industry and power Sumber: BKPM,

Sumber: BKPM, 2012

Minerba, dan produk pertanian sebagai trade commodity menjadi raw material for industry and power Sumber: BKPM,

48

DEFISIT NILAI PERDAGANGAN SEIRING TUMBUHNYA REALISASI INVESTASI

250

200

150

100

50

0

-50

Neraca Perdagangan

(dalam USD miliar)

140,000.0 120,000.0 100,000.0 80,000.0 60,000.0 40,000.0 20,000.0 0.0 2007 2008 2009 2010 2011 2012* Ekspor
140,000.0
120,000.0
100,000.0
80,000.0
60,000.0
40,000.0
20,000.0
0.0
2007
2008
2009
2010
2011
2012*
Ekspor
Impor
Surplus

Impor BBP & BM vs Investasi

2007 2008 2009 2010 2011 2012* Bahan Baku Penolong Barang Modal Investasi
2007
2008
2009
2010
2011
2012*
Bahan Baku Penolong
Barang Modal
Investasi

350.0

300.0

250.0

200.0

150.0

100.0

50.0

0.0

25.0

20.0

15.0

10.0

5.0

0.0

Data Impor Barang Modal

(dalam USD miliar) 23.66 18.78 16.11 13.31 8.43 8.42 7.22 6.68 4.58 2.64 1.03 0.39
(dalam USD miliar)
23.66
18.78
16.11
13.31
8.43
8.42
7.22
6.68
4.58
2.64
1.03
0.39 0.58
0.45 0.92
2007
2008
2009
2010
2011

Barang Modal1.03 0.39 0.58 0.45 0.92 2007 2008 2009 2010 2011 (Kecuali Alat Angkut) Mobil Penumpang Alat

(Kecuali Alat

Angkut)

Mobil2008 2009 2010 2011 Barang Modal (Kecuali Alat Angkut) Penumpang Alat Angkut untuk Industri • Neraca

Penumpang

Alat Angkut2011 Barang Modal (Kecuali Alat Angkut) Mobil Penumpang untuk Industri • Neraca perdagangan mengalami defisit

untuk Industri

Neraca perdagangan mengalami defisit

tahun 2012 sebesar USD 1,6 miliar.

Tren kenaikan realisasi investasi (24%)

diikuti dengan tren kenaikan impor bahan

baku (18%) dan barang modal (26%).

Impor barang modal didominasi oleh impor barang modal (kecuali alat angkut) lebih dari 50%.

*) Data impor BBP dan BM sampai dengan semester I 2012

Sumber: Kemendag, Indonesia 2013, Investment diolah. Coordinating Board

INDONESIA INVESTMENT PROMOTION CENTER (IIPC)

TERIMA KASIH

KONTAK KAMI

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL (BKPM)

Jl. Jend. Gatot Subroto No. 44, Jakarta 12190 P.O. Box 3186, Indonesia

P

: +62 21 5292 1334

F

: +62 21 5264 211

E

Invest in

F : +62 21 5264 211 E : info@bkpm.go.id Invest in The Investment Coordinating Board of

The Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia

Investment Coordinating Board of the Republic of Indonesia © 2013 by Indonesian Investment Coordinating Board. All

© 2013 by Indonesian Investment Coordinating Board. All rights reserved

Board of the Republic of Indonesia © 2013 by Indonesian Investment Coordinating Board. All rights reserved

50