Anda di halaman 1dari 4

DETEKSI REAKSI KETAHANAN DENGAN METODE

MOLEKULER MENGGUNAKAN LECTIN PADA ULAT KUBIS


(Plutella xylostella ) YANG DIPERLAKUKAN INSEKTISIDA RACUN
PERUT

M. Sarjan dan Sulaeman Ngongu,D
Universitas Mataram

RINGKASAN

Secara umum reaksi kekebalan serangga terdiri atas dua macam yaitu yang bersifat
seluler maupun humoral. Reaksi selulaer terutama melibatkan sel darah serangga atau
hemocytes yang merupakan reaksi adesip hemocytes terhadap mikrobia atau parasit (
McKenzie, 1992; Strand, 1994). Pada reaksi tersebut terjadi perubahan-perubahan secara
morpologi, tingkah laku dan jenis sel yang terlibat selama terjadinya infeksi yang secara luas
telah diteliti menggunakan teknik mikroskopik, lectin dan monoclonal antibodi markers
(Theopold, 1995; Theopold et al, 1996). Hemocytes mempagositos bakteri, memperangkap
mikrobia dalam nodul dan kapsulasi (Vinson and Hegazi, 1998). Hemocytes juga terlibat
dalam treaksi imun lainnya seperti koagulasi hemolim
Sedangkan reaksi imun yang bersifat humoral secara prinsip terdiri atas sejumlah
antibactericidal protein dan peptida dalam hemo;im. Beberapa penemuan mengungkapkan
bahwa reaksi kekebalan ditingkatkan oleh infeksi bakteri dengan cara meproduksi molekul
antibakteria dimana secara fungsional belum difahami secara lengkap. Hasil penelitian terkini
dengan menggunakan hemolim serangga telah mendeteksi keberadaan berbagai protein yang
terbentuk sebagai respon terhadap elisito yang dapat di kategorikan sebagai inducible
bacreial proteins dan inducible nonbactericidal proteins

Kajian melalui pendekatan molekuler merupakan salah satu pendekatan yang akan
digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengamati perubahan-perubahan molekuler
yang terjadi pada tubuh serangga khususnya cairan darah (hemolim) dan sel darah
(hemocyte) dan pada usus serangga. Dengan mengamati keberadaan protein yang berkaitan
dengan reaksi kekebalan setelah serangga diperlakukan dengan insektisida racun perut.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah terjadi perubahan tingkat keberadaan protein tertentu
pada tubuh serangga setelah terjadi keracunan oleh insektisida tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan profile protein p85 yang diduga
berperanan dalam sistem imun serangga antara strain ulat Plutellla xylostella yang tahan
dan peka terhadap insektisida racun perut. Status imun yang dimaksud disini adalah sejauh
mana kemampuan serangga tersebut melakukan pertahanan diri dengan memproduksi
protein imunoglubulin dalam hemolim serangga tersebut. Protein tersebut dapat berupa
inducible nonbactericidal proteins dan inducible bactericidal proteins
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Secara morfologi gejala larva Plutella xylostella
yang diperlakukan Insektisida racun perut dengan gejala infeksi oleh bakteri Bacillus
thuringiensis adalah berbeda , dimana ulat yang keracunan insektisida tubuhnya akan
berwarna hitam kecoklatan, tapi tekstrurnya tidak lunak dan tidak membusuk seperti yang
ditimbulkan oleh infeksi Bacillus thuringiensis yang menyebabkan tubuh larva menjadi lunak
dan membusuk. Terdapat kesamaan reaksi seluler pada usus larva Plutella xylostella yang
tahan terhadap insektisida racun perut dengan larva yang tahan terhadap Bacillus
thuringiensis toksin, yaitu sama-sama terjadi melanisasi dengan gejala penghitaman pada
bagian ususnya. Pada larva Plutella xylostella yang tahan terhadap insektisida racun perut
kelihatannya tidak mengalamai reaksi imun yang bersifat humoral, tapi hanya
memperlihatkan adanya reaksi imun bersifat seluler. Protein p85 yang biasanya muncul dan
memgikat Bt toksin karena bersifat protein imun tidak muncul pada bagian larva Plutella
xylostella yang tahan terhadap insektisida racun perut, berarti p85 bersifat spesifik sebagai
protein pengikat protein toksin Bt .
Dari temuan dan pembahasan di atas disarankan untuk melakukan explorasi tentang
sifat-sifat ketahanan seluler pada serangga yang terindikasi mempunyai ketahanan terhadap
insektisida kimia racun perut dengan pengamatan mendalam pada aspek perubahan yang
terjadi pada sel-sel larva serangga uji. Untuk mengkonfirmasi temuan-temuan terdahulu
tentang mekanisme ketahanan serangga terhadap insektisida, maka perlu penelitian lanjutan
pada objek insektisida dari kelompok lainnya, misalnya insektisida nabati ( Botanical
insecticides) yang sekarang cenderung berkembang penggunaannya. Dengan demikian akan
berkembang teori-teori dasar tentang mekanisme ketahanan hama terhadap berbagai
golongan insektisida, yang pada gilirannya akan sangat bermanfaat dalam pengelolaan
ketahanan insektisida.




DETECTION OF IMMUNE REACTION BY MOLECULAR METHOD
USING LECTIN ON CABBAGE CATERPILLAR (Plutella xylostella ) THAT
IS TREATED BY STOMACH TOXIN OF INSECTICIDE


SUMMARY

Common immune reaction of insect consist of cellular and humeral depend reaction.
Cellular reaction particularly involves hemolymph and hemocytes of insect that is an
adhesive reaction of hemocytes against microbial and parasites. In this reaction,
morphological change of cell behavior and kind of cells that involved during the infection
process has been investigated widely by using lectin of microscopic techniques and
monoclonal antibody markers. Hemocytes phagocyte the bacteria by trapping them into
nodulation and capsulation). This Hemocytes also involved on other immune reactions such
as hemolymph coagulation.
On the other hand, the humeral immune reaction principally consists of a number of
antibacterial protein and peptide on hemolymph. Some findings illustrated that immune
reaction will be increased by bacterial infection by produce the antibacterial molecules,
where functionally has not been understood yet completely. Recent finding using insect
hemolymph has detected the existence of various proteins product as a respond against
elicitors and this can be categorized as inducible bacterial proteins and inducible
nonbactericidal proteins
In this study, molecular mechanism is used as one approach to observe the molecular
changes on insect body particularly on hemolymph, hemocytes as well as on midgut of the
insect. For example, by observing the existence of protein related defense reaction after insect
treated by Bacillus thuringiensis toxin. The question is whether the level of those proteins
will change after treated by stomach toxin insecticide.
The aim of this study is to understand the differences of p85 profile that is assumed
have an important role on immune system of insect between resistant and susceptible
caterpillar against stomach toxin insecticide The immune status here means the ability of the
insect to get self defense by production of immunoglobulin on its hemolymph. The proteins
might be inducible nonbactericidal proteins and inducible bactericidal proteins
The result of this investigation shows that morphologically, there is differences between
insect resistant to stomach toxin insecticide and to bacterial infection, where the body color
of larvae treated by chemical insecticide black brownest with hard structures without smelly
like the larvae infected by Bt that causes body becoming soft and smelly. There is a similar
cellular immune reaction between both larvae treated insecticide and Bt that causes the
melanizasion and blackening in their midgets. The resistant larvae of Plutella xylostella to
chemical insecticide might not have humeral immune reaction, but only have cellular
reaction. The p 85 protein that is always emerge and bind to Bt toxin protein is not emerge in
the larvae resistant to chemical insecticide. This means that p85 has a specific character to
become binding protein of Bt toxin.
Based on this finding, it is suggested to conduct the exploration of cellular immune
reaction of insect pest resistant to chemical insecticides by doing deep observation on cells of
larvae tested. To confirm the previous findings on resistant mechanisms, it is necessary to
follow up the investigation on the same object from other group of insecticide such as
Botanical insecticides that is currently used widely. Therefore, the resistant mechanism
theories will be developed and this is very useful on Insecticide Resistant Management.