Anda di halaman 1dari 8

DAMPAK LINGKUNGAN KEGIATAN PENAMBANGAN TANPA IZIN

(PETI) EMAS ALLUVIAL DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)


BATANG HARI WILAYAH KABUPATEN SOLOK SELATAN

ERLANGGA BUDI PRATAMA, S.Si

SARI
Kabupaten Solok Selatan yang merupakan wilayah paling selatan dari Provinsi
Sumatera Barat secara geologis memiliki potensi sumber daya mineral yang cukup
prospektif. Dari sekian banyak komoditas mineral logam, salah satu yang menjadi
perhatian adalah keterdapatan potensi mineral logam emas baik primer maupun
sekunder (alluvial). Potensi cebakan emas alluvial pada Daerah Aliran Sungai
(DAS) Batang Hari yang merupakan sungai strategis nasional telah menjadi mata
pencaharian bagi masyarakat dengan melakukan kegiatan penambangan tanpa
izin (PETI) sejak beberapa dasawarsa silam. Seiring berjalannya waktu, kegiatan
penambangan ini menjelma menjadi salah satu isu lingkungan sensitif
dikarenakan dampak negatifnya terhadap lingkungan hidup baik fisik maupun
nonfisik di sepanjang DAS Batang Hari wilayah Kabupaten Solok Selatan.
Diperlukan upaya multisektoral secara komprehensif dan berkesinambungan untuk
dapat menanggulangi kerusakan lingkungan dari kegiatan PETI emas alluvial ini.

I. PENDAHULUAN
Kabupaten Solok Selatan merupakan salah satu Kabupaten di wilayah
Provinsi Sumatera Barat yang secara geografis berada pada posisi 01
0
17 13 -
01
0
46 45 Lintang Selatan dan 100
0
53 24 101
0
26 27 Bujur Timur dengan
luas wilayah = 3.346.20 Km
2
atau 7,92 % dari luas wilayah Sumatera Barat.




















KABUPATEN
PESISIR
SELATAN
KABUPATEN
KERINCI
KABUPATEN
DHARMASRAYA
KABUPATEN
SOLOK
Gambar 1. Peta Administrasi Kab. Solok Selatan
Sungai Batang Hari
Wilayah Kabupaten Solok Selatan secara geomorfologis umumnya merupakan
bentuklahan perbukitan struktural berlereng terjal dengan beberapa sungai
utama yaitu Batanghari, Batang Bangko, dan Batang Gumanti. Bentuklahan
yang demikian mengindikasikan keterdapatan struktur geologi baik mayor atau
minor dan memiliki korelasi erat dengan terjadinya endapan-endapan mineral
hasil mineralisasi kegiatan tektonisme lempeng.
Keberadaan endapan mineral terutama logam emas dalam bentuk endapan
sekunder/alluvial terdistribusi di sepanjang aliran-aliran sungai di wilayah
Kabupaten Solok Selatan terutama Sungai Batanghari, Batang Bangko, dan
Batang Gumanti.
II. PENAMBANGAN EMAS ALLUVIAL TANPA IZIN
Secara umum, keterdapatan emas di alam bisa berupa sebagai cebakan emas
primer dan endapan emas sekunder (alluvial). Keberadaan logam emas dalam
batuan bisa berbentuk nuggets berupa logam emas murni (native gold) bisa juga
berupa butiran emas yang sangat halus yang terjebak di dalam mineral sulfida,
atau mineral oksida lainnya. Sedangkan keterdapatan endapan emas alluvial
diakibatkan oleh adanya proses pelapukan batuan (cebakan emas primer) baik
secara fisik maupun kimia dan ditransportasi oleh air sungai serta diendapkan
sebagai endapan aluvial. Keterdapatan emas di alam demikian ini sering disebut
sebagai cebakan emas sekunder atau lebih dikenal sebagai cebakan emas letakan
(placer gold deposit)

seperti yang terdapat disepanjang Aliran Sungai Batang Hari.
Potensi emas alluvial terbentuk sebagai hasil dari pelapukan batuan yang
mengandung emas primer dan atau emas placer yang kemudian tertransportasi
dan terendapkan pada cekungan-cekungan sungai.
Pertambangan Tanpa Izin (PETI) adalah usaha pertambangan yang dilakukan
oleh perseorangan, sekelompok orang, atau perusahaan yayasan berbadan
hukum yang dalam operasinya tidak memiliki Izin dan instansi pemerintah
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. PETI diawali oleh
keberadaan para penambang tradisional, yang kemudian berkembang karena
adanya faktor kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja dan kesempatan usaha,
keterlibatan pihak lain yang bertindak sebagai cukong dan backing,
ketidakharmonisan hubungan antara perusahaan dengan masyarakat setempat,
serta krisis ekonomi berkepanjangan yang diikuti oleh penafsiran keliru tentang
reformasi. Di sisi lain, kelemahan dalam penegakan hukum dan peraturan
perundang-undangan yang menganaktirikan pertambangan (oleh) rakyat, juga
ikut mendorong maraknya PETI. Aktivitas penambangan untuk memperoleh
logam emas tersebut telah dilakukan secara tradisional dengan menggunakan
dulang oleh masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Batanghari sejak
beberapa dasawarsa silam sebagai mata pencaharian tambahan selain bertani
dan berladang.










Gambar 2.Aktivitas penambangan emas secara tradisional (menggunakan dulang)
Sejak kurang lebih sepuluh tahun yang lalu tambang emas rakyat tradisional
ini secara perlahan beralih dengan cara penggalian pasir dan batu sungai,
disedot menggunakan mesin pompa air. Cara-cara tradisional dengan
menggunakan alat sederhana, meski ramah lingkungan kian diabaikan,
meskipun ada jumlahnya sedikit.
Metode menggunakan pompa air atau sebutan masyarakat di kawasan sungai
Batanghari, mesin dompeng mampu menyaring pasir dengan volume lebih
banyak dan cepat. Hasil emas diperoleh relatif lebih banyak, sehingga
penambangan emas dilakoni masyarakat yang memiliki modal. Pendulang emas
tradisional, sebagian sudah menjadi pekerja dari pemilik modal yang
menggunakan metode mekanis tersebut. Pekerja tambang emas banyak
didatangkan dari sejumlah daerah lain seperti Pulau Jawa dan Kalimantan.















Pada tahun 2007 Pemerintah Kabupaten Solok Selatan memberikan izin
Kuasa Pertambangan kepada perusahaan swasta untuk melakukan eksploitasi
logam emas di aliran sungai Batanghari dengan metode pengerukan (dredging)
pada dasar sungai menggunakan kapal keruk seperti yang lazim digunakan pada
metode penambangan alluvial.












Gambar 4. Kapal keruk milik perusahaan swasta

Gambar 3. Aktivitas penambangan emas menggunakan mesin dompeng
Seiring beroperasinya perusahaan swasta melakukan penambangan keruk,
pada tahun 2008 masyarakat penambang tanpa izin kemudian meniru metode
tersebut dengan mengkonversi bentuk dompeng menjadi semacam perahu yang
oleh masyarakat dinamakan kapal lantiang. Cara kerja kapal lantiang ini bukan
mengeruk tapi dengan menyedot dan menghisap sedimen dasar sungai
Batanghari. Dengan demikian lokasi penambangan beralih dari semula di
teras/pinggir sungai ke dasar sungai di tubuh perairan itu sendiri.



























Pada tahun 2012 mulai marak terjadi penambangan dengan menggunakan
alat berat excavator untuk kembali mengeruk sedimen tepi/teras sungai dan
tidak hanya terjadi di sepanjang aliran Sungai Batanghari namun juga
merambah ke wilayah sungai lainnya yaitu Batang Bangko dan Batang Gumanti
dimana terdapat sejumlah Izin Usaha Pertambangan yang belum boleh
beroperasional dikarenakan harus terlebih dahulu memperoleh izin pinjam pakai
kawasah hutan dari Menteri Kehutanan.
Maraknya penambangan tanpa izin menggunakan excavator ini mencapai
jumlah yang dinilai fantastis yaitu sekitar 400 unit lebih dan seolah-olah tidak
pernah terlihat oleh aparat berwenang. Hal ini mengindikasikan adanya praktek
Gambar 5. Kapal lantiang
pembekingan atau bahkan ikut melakukan kegiatan penambangan
berdampingan bersama pihak-pihak lain.




















III. DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS PENAMBANGAN EMAS
ALLUVIAL TANPA IZIN

Kegiatan PETI yang nyaris tanpa pengawasan mengakibatkan terjadinya
kerusakan lingkungan hidup. Para pelaku PETI praktis tidak mengerti sama
sekali tentang pentingnya pengelolaan lingkungan hidup, sehingga teras sungai
pun berubah menjadi hamparan gundukan material pasir dan kerikil yang
hampir menutupi tubuh perairan sungai.
Dengan semakin maraknya penambangan emas tanpa izin menggunakan alat
berat excavator, kerusakan lingkungan DAS Batang Hari di wilayah Kabupaten
Solok Selatan dikhawatirkan akan semakin bertambah parah. Pengrusakan teras
sungai dengan metode penggalian menggunakan alat berat ini telah merubah
bentuklahan di sepanjang aliran Sungai Batang Hari. Endapan material hasil
buangan penambangan mengakibatkan terganggunya aktivitas transportasi
sungai yang notabene merupakan sarana vital bagi masyarakat sekitar wilayah
sungai.















Gambar 6. Penambangan
dengan excavator
Gambar 7.
Penutupan tubuh
perairan oleh
material buangan
penambangan.
Kemudian dikhawatirkan pula terjadi peningkatan kekeruhan air dan
kandungan logam merkuri/raksa sampai melewati ambang batas sehingga air
sungai Batang Hari menjadi tidak layak lagi digunakan untuk aktivitas domestik
masyarakat.
Selain kerusakan fisik lingkungan, dampak negatif dari kegiatan PETI
diantaranya adalah:
1. Hilangnya pendapatan negara.
Dengan status yang tanpa izin, maka otomatis PETI tidak terkena
kewajiban untuk membayar pajak dan pungutan lainnya kepada Negara.
Jumlah kerugian negara dipastikan akan membengkak jika
memperhitungkan penerimaan negara dari sektor lain yang mendukung
kegiatan PETI (multiplier effect) dan tidak dapat dipungut oleh Negara.

2. Kecelakaan Tambang
Dari aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), kegiatan PETI telah
menimbulkan kecelakaan tambang yang memakan korban luka-luka dan
meninggal dunia, serta berbagai penyakit. Memang tidak ada laporan resmi
tentang jumlah korban, baik yang luka, cacat, maupun meninggal dunia,
namun diperkirakan cukup banyak.

3. Pemborosan Sumber Daya Mineral
Teknologi penambangan dan pengolahan yang dilakukan oleh PETI secara
umum sangat sederhana, sehingga perolehannya (recovery) sangat kecil
(sekitar 40%), Baik sisa cadangan yang masih tertinggal di dalam tanah
maupun limbah hasil pengolahan (tailing), yang masing-masing sebesar
60%, sangat sulit untuk ditambang atau diolah kembali karena kondisinya
sudah rusak (idle resources). Disamping itu, karena PETI hanya
menambang cadangan berkadar tinggi, maka cadangan berkadar rendah
menjadi tidak ekonomis untuk ditambang. Padahal jika penambangan
dilakukan secara benar (good mining practice), cadangan berkadar rendah
sebenarnya ekonomis untuk ditambang apabila dicampur (mixing) dengan
cadangan berkadar tinggi sepanjang sesuai cutoff grade yang telah
ditentukan.

4. Kerawanan Sosial
Di lokasi kegiatan PETI, gejolak sosial merupakan peristiwa yang kerap
terjadi, baik antara perusahaan resmi dengan pelaku PETI, antara
masyarakat setempat dengan pelaku PETI (pendatang), maupun diantara
sesama pelaku PETI sendiri dalam upaya mempertahankan/melindungi
kepentingan masing-masing. Masyarakat bawah, yang seringkali menjadi
korban dari penyandang dana (penadah) dan oknum aparat,
mengakibatkan kehidupan mereka sangat rawan terhadap rnuncuinya
gejolak sosial.

5. Pelecehan Hukum
Kegiatan PETI telah menimbulkan preseden buruk bagi upaya penegakan
dan supremasi hukum di Indonesia. Hukum memang sulit atau mustahil
diberlakukan di wilayah-wilayah PETI, sebab aparat penegak hukum
sendiri seringkali harus berhadapan dengan kelompok masyarakat yang
tidak mengerti hukum. Dampak negatif lebih buruk yang muncul
kemudian adalah keengganan pengusaha untuk berusaha sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku, sehingga menutup peluang bagi
Pemerintah untuk menumbuhkan sektor perekonomian secara
menyeluruh.



IV. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN KEGIATAN PENAMBANGAN
EMAS ALLUVIAL TANPA IZIN

Penanggulangan masalah PETI di DAS Batang Hari dihadapkan kepada
sejumlah hambatan dan masalah, yaitu:
1. Topografi daerah lokasi PETI sulit dijangkau alat transportasi karena
berada di dalam kawasan hutan yang berbukit dan berlereng terjal.
2. Keterbatasan jumlah personil dan peralatan jika dibandingkan dengan
jumlah pelaku PETI serta masih banyaknya oknum aparat pemerintah,
baik sipil maupun militer, yang terlibat atau melibatkan diri pada kegiatan
PETI.
3. Perangkat hukum di berbagai sektor yang terkait dengan kegiatan
pertambangan, mulai dari tahapan eksplorasi hingga operasi produksi
komoditi tambang, menunjukkan belum adanya visi yang sama/seragam,
sehingga sering menimbulkan biaya tinggi dan lolosnya komoditi tambang
illegal berikut pelakunya dari jeratan hukum.
4. Masih kurangnya koordinasi dan kerjasama antara pihak yang berwenang
dalam pemberantasan PETI, dimana Pemerintah pusat dan daerah belum
bekerja secara fungsional dan terpadu, sehingga penertiban oleh berbagai
instansi belum berjalan optimal.
Mengingat permasalahan PETI begitu kompleks, maka penanggulangannya
memerlukan konsep yang terintegrasi dan harus dilakukan secara terpadu.
Dengan mernpertimbangkan permasalahan faktual yang terjadi dibidang sosial,
ekonomi, hukum dan politik, maka penanggulangan masalah PETI ini
menggunakan pendekatan sosial kemasyarakatan seiring dengan ditegakkannya
hukum. Artinya, bagaimana kepentingan masyarakat dapat diakomodasikan
secara proporsional tanpa mengabaikan prinsip-prinsip praktek pertambangan
yang baik dan benar.
V. KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari topik pembahasan adalah sebagai
berikut:
1. Kabupaten Solok Selatan merupakan salah satu wilayah Provinsi Sumatera
Barat yang memiliki potensi sumber daya mineral logam, salah satunya
adalah mineral logam emas.
2. Keterdapatan mineral logam emas dalam bentuk emas alluvial di sepanjang
aliran Sungai Batang Hari wilayah Kabupaten Solok Selatan telah
diusahakan oleh masyarakat sejak beberapa dasawarsa silam hingga saat
ini melalui kegiatan Penambangan Tanpa Izin (PETI) baik secara manual
maupun mekanis.
3. Dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan PETI dinilai sangat
serius dan makin mengkhawatirkan dari waktu ke waktu seiring dengan
tuntutan ekonomi masyarakat dan kepentingan berbagai pihak yang
menambah eskalasi penggunaan alat mekanis dalam penambangan.
4. Diperlukan tindakan serta upaya penanggulangan dan pencegahan yang
tegas komprehensif melalui kerjasama dan koordinasi yang multidisiplin
dan multisektoral untuk menemukan jalan keluar terbaik bagi
permasalahan PETI emas alluvial di DAS Batang Hari.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Rizal, Yose, 2005 ,Inventarisasi Endapan Mineral Logam Tipe SEDEX Daerah
Sijunjung dan Solok Selatan Sumatera Barat, P2K Sub Direktorat Mineral
Logam. Jakarta.
Tim Survey Potensi Emas, 2007, Survey Potensi Bahan Galian Emas di Kecamatan
Sangir Batang Hari Kabupaten Solok Selatan Sumatera Barat, DPPMLH
Kabupaten Solok Selatan, Padang Aro.
Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kab. Karo.,2008.Pertambangan
Tanpa Izin (PETI) dan Karakteristiknya.www.koperindag.karokab.go.id.
Diakses pada tanggal 26 April 2013.
Antara., 2013. Sungai Batang Hari Perlu Pencegahan Serius.
www.antarasumbar.com. Diakses pada tanggal 26 April 2013.