Anda di halaman 1dari 14

Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 151








TINJAUAN HUKUM TERHADAP PENCEMARAN
LINGKUNGAN DI INDONESIA

Ashabul Kahpi
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar

Abstract

The world community is currently busy because of pollution problems and
environmental degradation and with different level of intensity and escalation.
These are also the same problems experienced by Indonesia, as a country which is
rich of natural resource (SDA). The protection and the management of natural
environment of Indonesia continues to be supported in various ways, one of them is
by creating laws and regulations concerning the environment. However, the
problem of pollution and damage still exist beyond the limits that can be tolerated
by the environment. One of the problems which is trying to be discussed in this
paper is about pollution found in some of the laws and regulations in Indonesia
related to the understanding and the elements they contain, and it is apparently
required in common understanding and vision about pollution.

Kata Kunci : Pencemaran, Fungsi Lingkungan dan peraturan



Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


152

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

PENDAHULUAN

ukum Lingkungan merupakan bidang hukum yang relatif baru, jika
dibandingkan dengan bidang-bidang hukum lainnya semisal hukum
pidana maupun perdata. Pembahasan tentang permasalahan lingkungan
baru mendapat perhatian dunia sekira tahun 1960 dan awal-awal tahun 1970.
Perhatian inipun dipicu oleh bermunculannya berbagai kasus-kasus lingkungan
(perusakan dan pencemaran) yang langsung mengancam manusia maupun
lingkungan secara keseluruhan,
1
Disamping itu, disekira tahun 1970, di berbagai
Negara khususnya negara-negara industri tengah diperhadapkan pada
permasalahan lingkungan berupa kerusakan lingkungan yang sangat variatif,
yang berujung pada terjadinya degradasi lingkungan.
Berawal dari keprihatinan ini, maka tepatnya pada tanggal 5 sampai
dengan 12 Juni 1972 (kemudian disepakati sebagai hari Lingkungan Hidup
Sedunia) diadakanlah Konfrensi Stockholm yang merupakan konfrensi
internasional pertama dalam masalah lingkungan. Point penting yang dicapai
dalam pertemuan ini adalah kesepakatan Negara-negara peserta untuk
menangani permasalahan lingkungan secara bersama-sama. Pertemuan ini juga
memunculkan kesadaran dan perhatian dalam pengelolaan lingkungan hidup
yang tertuang ke dalam penciptaan perangkat aturan perundang-undangan,
penyusunan berbagai program penanggulangan pencemaran, perusakan,
eksploitasi sampai pada aturan penyelesaian sengketa (kasus-kasus) lingkungan.
Berkenaan dengan kasus sengketa lingkungan, hendaknya harus
mendapatkan perhatian dan tempat tersendiri dalam aturan perundangan, sebab
terkadang sengketa lingkungan dapat melampaui batas-batas wilayah (Negara).
Sama halnya dengan terjadinya pencemaran lingkungan atau dalam bahasa lain
berupa krisis ekologi maupun degradasi lingkungan, hal ini tidak saja menimpa
sumber pencemaran akan tetapi dapat melampaui batas batas wilayah, maupun
lintasan waktu
2
, sebab malapetaka lingkungan pada hakikatnya sudah mencapai
dimensi regional-mondial-global
3
dan akan terus berdampak secara dramatis, dan
hal ini seharusnya memberi kesadaran adanya bahaya di depan mata yang
(tengah) mengancam lingkungan.
Dapat difahami, secara konstitusional Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 telah
memberikan kuasa pengelolaan atas lingkungan hidup Indonesia kepada Negara

1
Misalnya Pencemaran udara oleh bahan kimia sulfur di wilayah Kanada yang berimbas
sampai ke Washington pada tahun 1925 1937 (kasus Trail Smelter) , asap kabut yang terjadi di Los
Angles pada tahun 1950 yang dikenal dengan smoke and fog (SMOG), Serangan wabah di teluk
Minamata Jepang yang disebabkan oleh tercemarnya ikan laut oleh zat metal mercury
2
Terkadang dampak dari kerusakan lingkungan, baik itu berupa pencemaran maupun
kerusakan tidak tampak saat itu juga, akan tetapi baru muncul kemudian, sehingga generasi yang
akan datang akan mewarisi lingkungan yang telah tercemar dan rusak parah.
3
Suparto Wijoyo, Penyelesaian Sengketa Lingkungan, (Settlement of Environmental Disputes),
(Surabaya: Airlangga UP, 1999), h. 1
H
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 153

untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat
4
. Atas dasar ini pula maka arah pola
pembangunan Indonesia berbeda dengan pola yang dianut oleh negara-negara
industri
5
. Secara konvensional pola pembangunan Indonesia diarahkan pada
pembangunan perekonomian/industri dengan cara mengeruk sumber-sumber
daya alam (SDA), yang justru (kebanyakan) tidak memperhitungkan dampak
kerusakan yang ditimbulkan (use oriented). Sejalan dengan pembangunan yang
dicanangkan bersama dampak yang ditimbulkan, maka bermunculanlah berbagai
kasus-kasus lingkungan sampai pada terjadinya berbagai sengketa (atas)
lingkungan. Ironisnya, gambaran pencemaran-perusakan lingkungan, tampak tak
kenal tempat maupun waktu dan kerap meluas tanpa batas melanda biosfer
dengan kompleksitas dampak yang nyaris tanpa ujung.
Berkesesuaian dengan hal tersebut di atas, sebagai bagian dari masyarakat
dunia, maka Indonesiapun memiliki kompleksitas masalah yang sama dalam
berhadapan dengan lingkungan. Bahkan dalam tataran perangkat aturan masih
terlihat berbagai kelemahan dan lubang-lubang yang berpotensi membawa
lingkungan hidup Indonesia ke arah kehancuran. Kelemahan ini akan tampak
jelas jika dilihat dari sisi implementasinya, sebab secara actual-faktual lingkungan
hidup Indonesia yang telah dijaga oleh undang-undang lingkungan justru jauh
dari kata lestari. Kerusakan hutan (pembalakan liar), pencemaran air, darat dan
udara, langka dan punahnya habitat tertentu merupakan sebagian gambaran
lingkungan hidup Indonesia. Permasalah ini kian menjadi malapetaka ketika
beberapa pihak bersuara lantang menyuarakan hak-hak atas lingkungan maupun
hak lingkungan itu sendiri. Akan tetapi kemudian harus berhadapan dengan
hukum dan perangkatnya yang justru (terkadang) sangat birokratif administratif,
konfrontatif dan berbelit-belit bahkan menjegal di tengah kronisnya lingkungan
Indonesia.
Dewasa ini kegiatan pembangunan yang makin meningkat, mengandung
resiko makin meningkatnya pencemaran dan perusakan lingkungan, termasuk
oleh limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3)
6
, sehingga struktur dan fungsi
ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. Pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup akan menjadi beban sosial, meski pada akhirnya
masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya akan tetapi
masyarakatlah yang merasakan langsung dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab
itu, bermunculannya berbagai kasus sengketa lingkungan, untuk sebahagian

4
Gambaran penguasaan Negara atas lingkungan hidup seharusnya dipandang sebagai
amanah rakyat, minimal sebagai bentuk tanggungjawab Negara untuk mensejahterakan rakyat,
dan bukan sebagai hak mutlak atas pengelolaan lingkungan.
5
Siswanto Sunarso, Hukum Pidana Lingkungan dan Strategi Penyelesaian Sengketa (Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2005), h. 41
6
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) melalui laporan Status Lingkungan Hidup
Indonesia (SLHI) 2006 mencatat bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup pada
tahun 2006 disebabkan karena terjadi peningkatan polutan secara signifikan di media air dan
udara. Selain itu, terjadi juga peningkatan kasus pencemaran limbah domestik dan limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3).
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


154

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

besarnya justru disebabkan oleh adanya kasus kerusakan dan pencemaran
lingkungan
7
.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pelestarian Lingkungan
(UUPLH 97) telah menyatakan pada Pasal 1 angka 9 : Sengketa lingkungan
hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh
adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup
8
. Rumusan ini secara yuridis mengkualifikasikan pencemaran dan
perusakan lingkungan sebagai penyebab (kausa) sengketa lingkungan, dan
sengketa lingkungan itu sendiri menjadi akibat konkrit dari adanya pencemaran
dan perusakan lingkungan. Dapat dinyatakan bahwa konflik atau sengketa
lingkungan timbul akibat adanya kerusakan dan pencemaran lingkungan atau
Pencemaran dan perusakan lingkungan merupakan conditio sine quanon bagi
timbulnya sengketa lingkungan.
Krisis lingkungan yang terus meningkat serta banyaknya sengketa
lingkungan tidak terselesaikan bahkan berujung bebas mengesankan citra buruk
yang mengancam manusia dan sendi-sendi kehidupannya maupun eksistensi
hukum lingkungan itu sendiri. Salah satu permasalahan mendasar adalah
lemahnya aturan hukum yang berdampak pada penaatan dan pengelolaan
lingkungan yang jauh dari harapan. Oleh sebab itu, selain penguatan institusi
maupun kordinasi antar lembaga terkait yang mesti dilakukan, ternyata
diperlukan penguatan rule of the game yang dapat mengatur seluruh persoalan
lingkungan, dan terkait ke dalamnya adalah kejelasan dan penguatan aturan
mengenai pencemaran dan perusakan lingkungan.

PEMBAHASAN

Konsekuensi Negara hukum sebagai yang dianut pula oleh Indonesia
mewajibakan baik pemerintah maupun masyarakat untuk menempatkan hukum
di atas segala-galanya. Salah satu indikatornya adalah berfungsinya badan-badan
judicial termasuk kekuasaan kehakiman dan lembaga peradilannya yang bebas
dan mandiri. Sebagai benteng terakhir bagi pencari keadilan, maka urgensi kearah
kemandirian dan kebebasan peradilan sudah seharusnya kian mempertegas posisi
peradilan, sebab tidak ada pilihan pada badan-badan lain untuk mencari
penegakan hukum dan keadilan terkait munculnya sengketa atau pelanggaran
hukum include sengketa lingkungan hidup. Untuk itu salah satu cara untuk
meruduksi kasus sengketa lingkungan adalah dengan jalan menghilangkan akar
permasalahannya, paling tidak dengan melakukan pencegahan terhadap setiap
bentuk kegiatan yang (diduga) dapat menimbulkan kerusakan dan pencemaran

7
Sebagai catatan. Walhi menemukan ada 141 kasus pencemaran lingkungan yang terjadi
pada 2011, dan hanya 75 kasus pencemaran pada tahun sebelumnya yakni 2010.
8
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan dan Pelestarian
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 No. 68 - TLNRI No.3699)
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 155

lingkungan dan hal ini terkait dengan kejelasan kejelasan makna pencemaran
lingkungan.

1. Permasalahan Lingkungan
Berdasarkan penelitian dan penilaian hasil-hasil pembangunan, maka
ditemukan beragam sumber permasalahan yang dapat dikelompokkan menjadi 4,
yang lazim disebut K4 atau P4:
a. Kemiskinan , (poverty )
b. Kependudukan (population)
c. Kekotoran dan kerusakan (pollution)
d. Kebijakan ( politics)
9

Adapun Permasalahan lingkungan dalam beberapa literature
dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yaitu pencemaran, pemanfaatan lahan
secara salah dan habisnya SDA,
10
. Meski tetap terdapat karakteristik yang
berbeda yang biasanya ditentukan oleh berbagai factor, misalnya faktor iklim,
geografis dan demografi. Akan tetapi permasalahan lingkungan ini adalah
permasalah yang nyaris sama dihadapi oleh setiap Negara, yang lebih sering
terdengar berupa pencemaran dan perusakan lingkungan. Untuk ukuran
Indonesia, dapat dibaca dalam salah satu paparan yang dijelaskan di dalam
naskah yuridis RUU Lingkungan, bahwa baik iklim maupun kerentangan
geografis merupakan fakta-fakta empiris yang turut mempengaruhi laju degradasi
lingkungan hidup Indonesia di samping fakta-fakta yuridis. Akan tetapi fakta
empris ini bukan alasan untuk melepaskan tanggungjawab bahwa segala bentuk
kerusakan alam (bencana alam) terjadi akibat kerentanan secara geografis. Justru
sebaliknya, kerentanan ini menghendaki kehati-hatian dan kearifan dalam setiap
usaha maupun kegiatan di dalam pengelolaan lingkungan yang dimulai sejak
awal perencanaan sampai pada tahap pelaksanaannya, bahwa sifat unpredictable
atau uncertainity terhadap adanya kerusakan dan pencemaran lingkungan pada
setiap kegiatan dan usaha hendaknya menjadi pegangan dan sudah semestinya
dikedepankan
11


2. Pencemaran Lingkungan

Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia, cemar dapat diartikan sebagai kotor,
ternoda , sedangkan pencemaran adalah hal mencemarkan, yaitu menjadikan

9
Lihat, St. Munajat Danusaputro Hukum Lingkungan Buku I Umum (Bandung: Binacipta,
1980), h. 26-27
10
Takdir Rahmadi, Lingkungan Hidup di Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011)
h. 1.
11
Lihat asas kehati-hatian sebagai yang termuat dalam UUPPLH 2009 Pasal 2 hurus f
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


156

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

sesuatu cemar, kotor rusak dan lain-lain
12
senada pula dengan kata polusi dan
kontaminasi
13
. Pencemaran secara umum diklasifikasikan menjadi
14
:
a. Pencemaran udara.
b. Pencemaran air.
c. Pencemaran tanah.
d. Pencemaran kebudayaan.
Sedangkan untuk bahan pencemarnya diklasifikasikan menjadi;
a. Pencemar fisik.
b. Pencemar biologis.
c. Pencemar kimiawi.
d. Sosial budaya.
Pengklasifikasian tersebut di atas untuk sebagian besarnya termasuk ke
dalam bentuk pencemaran lingkungan, terkecuali pencemaran social budaya. Jika
dikaitkan dengan istilah hukum lingkungan di beberapa Negara misalnya
environmental law, milieurecht, umweltrech, droit de environment, batas nan kapaligiran,
sin-ved-lom kwahm, qanun al- biah atau hukum alam sekitar
15
, semuanya
mengesankan lingkungan dari segi fisik
16
. Dengan demikian pengertian
pencemaran lingkungan dimaksud hanya dari fisik saja, tidak termasuk
lingkungan social dan budaya. Oleh sebab itu pencemaran social budaya
(misalnya pencemaran kebudayaan Bali oleh turis asing)
17
tidak termasuk ke
dalam rumusan pencemaran yang menjadi salah satu dasar terjadinya kasus
sengketa lingkungan.

3. Unsur-Unsur Pencemaran
Sebagai perbandingan diturunkan pengertian pencemaran lingkungan
sebagai yang termuat dalam Kepmen KLH yaitu :
Pencemaran adalah masuk atau di masukkannya makhluk hidup, zat,
energi dan atau komponen lain ke dalam air atau udara. Pencemaran juga
bisa berarti berubahnya tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan

12
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (elektronik)
(Jakarta:t. tp, 2008) h. 273
13
Tesaurus Bahasa Indonesia, http://www.artikata.com/arti-361346-pencemaran.html. diakses
tgl. 14 Nov 2012
14
Fuad Amsyari, Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. (Jakarta: Ghalia Indonesia.
1986), h. 52
15
Lihat Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional
(Surabaya: Airlangga UP, 2000), h. 2
16
Hukum Lingkungan adalah bagian dari hukum yang berhubungan dengan lingkungan
fisik, yang dapat diterapkan terhadap pencegahan atau penanggulangan masalah lingkungan
(pencemaran dan kerusakan). Th. G. Drupsteen dan L Woltgens, Pengantar hukum Perizinan
Lingkungan. (tt. Kerjasama Hukum Indonesia Belanda, T.tp), h. 2
17
Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. 7
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 157

manusia dan proses alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang
atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya
18

Pencemaran Lingkungan sesuai muatan Pasal 1 butur 12 UULH 1997
adalah :
masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup
tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya
Mengurai pengertian dari pasal tersebut di atas, maka akan didapati
rentetan sebab merangkai hubungan kausalitas yang harus terpenuhi untuk
sampai pada makna pencemaran, yaitu :
a. Adanya kegiatan manusia, yang menyebabkan
b. Masuk atau dimasukkannya komponen lain, yang menyebabkan
c. Turunnya kualitas lingkungan sampai ke tingkat tertentu, hingga
(akhirnya) menyebabkan
d. Lingkungan tidak berfungsi sesuai peruntukannya
Dapat dikatakan bahwa intinya terletak pada tidak berfungsinya
lingkungan sesuai peruntukannya, seuatu yang seharusnya dikategorikan
sebagai rusak. sebab sesuatu yang tidak berfungsi sesuai peruntukannya
menjadi indikasi adanya kerusakan. Di samping itu terdapat rumusan turunnya
kualitas lingkungan yang menjadi penyebab ketidak berfungsian lingkungan yang
disebabkan oleh masuk atau dimasukkannya komponen lain ke dalam lingkungan
yang disebabkan oleh suatu kegiatan.
Berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh UULH 1997, pencemaran
sebagai yang termuat di dalam Pasal 1 butir 14 UUPPLH 2009 dirumuskan
sebagai : masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan
19
. Rumusan
tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Adanya kegiatan manusia, yang menyebabkan
b. Masuk atau dimasukkannya komponen lain, yang menyebabkan
c. Baku mutu lingkungan terlampaui
Dengan demikian berdasarkan rumusan ini, untuk dapat dikategorikan
sebagai pencemaran, maka uji akhirnya terletak pada terlampauinya baku mutu
lingkungan. Perbedaannya dengan UULH 1997 adalah mengenai fungsi-fungsi
lingkungan yang dipakai sebagai ukuran terjadinya pencemaran digantikan oleh
terlampauinya baku mutu lingkungan, yang pada dasarnya semakna dengan
menurunnya kualitas lingkungan sampai batas tertentu, karena sama-sama
menggunakan kriteria ukuran. Disamping itu pula, terkait kasus sengketa

18
Mentri Kependudukan dan Lingkungan Hidup RI Keputusan Menteri Kependudukan
Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988
19
Republik Indonesia, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UUPPLH 2009)
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


158

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

lingkungan, tampaknya rumusan pasal-pasal tersebut di atas mengeliminir
pencemaran lingkungan yang terjadi akibat proses-proses di luar kegiatan
manusia, semisal proses kimiawi dan biologis, atau proses fisik sesuatu yang
memang tampak mustahil untuk dijadikan dasar sengketa lingkungan, terlebih
jika dampak dari pencemaran tersebut baru terasa ber-puluh tahun kemudian.
Sebagai yang telah diketahui menurut kriteria ilmiah, penyebab terjadinya
pencemaran tidak selamanya timbul akibat adanya satu usaha atau kegiatan.
Sebab pencemaran dapat saja terjadi akibat proses biologis, proses fisika maupun
secara kimiawi yang membentuk dan menkonsentrasikan zat-zat tertentu
20
yang
pada akhirnya menyebabkan lingkungan tidak berfungsi sebagai mestinya, dalam
pengertian lain bahwa pencemaran dapat saja terjadi akibat proses proses tersebut
di atas tanpa adanya campur tangan (usaha) manusia. Masalahnya kemudian
terdapat proses- proses biologis dan kimiawi yang berproses dan berjalan sangat
lambat terhadap masuk atau dimasukkannya komponen lain oleh satu kegiatan,
sehingga dampak yang ditimbulkannya baru tampak beberapa tahun kemudian
bahkan berpuluh tahun, seperti halnya yang terjadi pada tragedi Bhopal di India
21

Patut dicermati, bahwa tidak terpakainya lagi rumusan lingkungan hidup
tidak berfungsi lagi sesuai peruntukannya dalam UUPPLH, terasa spekulatif.
Sebab fungsi lingkungan berdasarkan prinsip pelestarian lingkungan
mengisyaratkan satu keadaan yang tidak berubah secara fungsional
22
. Artinya
sejauh usaha-usaha yang dilakukan manusia, hendaknya usaha tersebut tidak
merubah fungsi asal dari lingkungan. Oleh sebab itu fungsi lingkungan
seharusnya tetap menjadi indikator adanya pencemaran yang telah terjadi,
terlebih setiap usaha yang dilakukan untuk melindungi dan mengelola (tema
UUPPLH 2009) lingkungan hidup, bertujuan untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup. Hal ini termuat pada Pasal 1 butir 2 UUPPLH 2009 dan Pasal 3
huruf D sebagai berikut :

Pasal 1 butir 2

20
NHT Siahaan, Ekologi Pembangunan dan Hukum Tata Lingkungan. (Jakarta: Erlangga. 1987),
h. 159
21
Tanggal 3 Desember 1984 terjadi kebocoran gas beracun ke udara pada sebuah pabrik
pestisida yang berlokasi di sekitar wilayah padat penduduk di Bhopal India, hal ini menyebabkan
jatuhnya korban jiwa 8000 orang hanya dalam waktu 3 hari. Ternyata masalahnya tidak berhenti
sampai disitu, sebab Lebih dari 20 tahun kemudian, sekira 20 000 orang meninggal akibat racun
yang sudah terserap di dalam tubuh mereka Banyak orang yang mengindap penyakit-penyakit
mengerikan,. Anak-anak dan cucu-cucu dari mereka yang selamat banyak yang menderita cacat
lahir, termasuk lumpuh layu, pertumbuhan yang lambat, dan banyak masalah kelainan reproduksi
dan kelainan sistem syaraf . Lebih dari 150 000 orang menderita akibat gas beracun yang bocor
malam itu di Bhopal
22
Istilah senada dalam hal ini adalah pelestarian kemampuan lingkungan, untuk jelasnya
lihat Koenadi Hardjasoemantri Hukum Tata Lingkungan. Cet. 17 (Yogyakarta, Gajah Mada UP,
2002), h. 89-90
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 159

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya
sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan,
pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum
Pasal 3 huruf D
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan:
..menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup
Dengan demikian, berdasarkan pasal-pasal ini penekanannya terletak pada
fungsi lingkungan hidup, sehingga sudah seharusnya yang menjadi ukuran
utama adanya pencemaran adalah berfungsi/tidaknya lingkungan hidup
tgersebut, yang kriteria fungsinya dapat ditentukan berdasarkan ambang batas
daya dukung dan daya tampung lingkungan
23
yang selanjutnya ditetapkan
sebagai Baku Mutu Lingkungan Hidup maupun standar kerusakan lingkungan.
Alasannya kemudian adalah, bahwa penetapan tentang kriteria baku mutu
lingkungan berada di tangan pemerintah. Artinya, di satu sisi Pemerintah
berwenang untuk membuat dan menentukan aturan-aturan di bidang lingkungan
yang perlu dibuatkan baku mutu lingkungannya, sesuatu yang sangat teknis dan
fisik semata. Sebab perkembangan teknologi memungkinkan standar-standar
baku lingkungan diuji sampai batas maksimalnya sehingga dapat bersifat
spekulasi. Sementara di sisi lain, ketidakberfungsian lingkunan akibat
pencemaran tidak dilihat sebagai kekotoran atau pencemaran secara fisik semata
akan tetapi juga menyangkut gangguan (hinder) dan penderitaan yang justru
melebihi derajat gangguan (overlast)
24
yang lebih bersifat psykis. Oleh sebab itu
menurut Supriadi, yang perlu dipikirkan dalam penetapan kriteria baku mutu,
bukan hanya dari segi fisik semata, tetapi perlu diperluas meliputi gangguan dan
ancaman terhadap kehidupan manusia,
25
yaitu penciptaan rasa aman sebagai
bagian dari hak manusia untuk menikmati lingkungan hidupnya.
Namun dalam banyak kasus memperlihatkan, tejadinya perubahan
lingkungan secara fisik akan turut merubah fungsi lingkungan dari fungsi sesuai
peruntukannya. Misalnya hutan lindung yang pada asalnya merupakan kawasan
perlindungan bagi habitat ekologis tertentu, justru dialih fungsikan menjadi
kawasan hutan wisata, hutan tanaman rakyat bahkan menjadi areal
pertambangan. Oleh sebab itu terdapat kesan, bahwa kegiatan apapun yang
dilakukan asal tidak melampaui baku mutu lingkungan, tetap diperkenankan
meski usaha dilakukan dengan merubah fungsi lingkungan dari peruntukannya.
Akan tetapi tetap harus diingat, bahwa apapun alasan pelucutan fungsi
lingkungan tersebut diatas, maka tetap berdasarkan UUPPLH 2009 ini, fungsi
lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kelangsungan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup
26
, oleh sebab itu mengingat tujuan undang-undang ini
maka fungsi lingkungan seharusnya tetap dipertahankan sebagai anasir

23
UUPPLH, Pasal 1 butir 6
24
Siti Sundari Rangkuti, op. cit, h. 119
25
Supriadi, Hukum Lingkungan di Indonesia Sebuah Pengantar (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 197
26
Pengertian yang diberikan melalui Pasal 1 butir 6, 7, dan 8 UUPPLH 2009
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


160

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

terjadinya pencemaran lingkungan, terlebih lagi, sesuai Pasal 67 dan 68 UUPPLH
yaitu memelihara dan menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup merupakan
suatu kewajiban bagi setiap orang . Jadi yang wajib dijaga dan dipelihara oleh
semua orang adalah kelestarian fungsi lingkungan.
27

Unsur penting selanjutnya dari istilah pencemaran lingkungan yang sama
termuat dalam UUPLH 1997 dan UUPPLH 2009 adalah masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup . Kalimat ini juga terpakai dalam materi UU. No. 27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
28
Lalu apa yang
dimaksud oleh kalimat makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain
tersebut ? jawabannya tidak didapatkan dalam penjelasan pada masing-masing
undang-undang, akan tetapi dapat ditelusuri kriterianya dalam kalimat
selanjutnya dari masing-masing undang-undang, yaitu setiap komponen lain
yang dapat menyebabkan :
a. Lingkungan tidak berfungsi sesuai peruntukannya (UUPLH 1997 dan
UU Pesisir 2007)
b. Baku mutu lingkungan terlampaui (UUPPLH 2009)
Untuk sampai pada kriteria tersebut di atas, maka terdapat batasan
mengenai cara masuknya komponen lain ke dalam kompartemen lingkungan,
yaitu (hanya) hasil kegiatan manusia. Oleh sebab itu tercemarnya udara oleh
debu vulkanik akibat letusan gunung berapi stutusnya tidak sama dengan
tercemarnya udara oleh asap-asap industri, dikarenakan masuknya komponen
lain tersebut harus didahului oleh adanya kegiatan yang dilakukan manusia.
Dengan demikian pencemaran udara akibat debu vulkanik tidak dianggap
sebagai pencemaran lingkungan menurut pasal-pasal ini tetapi diklasifikasikan
sebagai bencana alam atau sebagai bencana pesisir menurut UU Pesisir 2007
29
,
yang bunyinya sebagai berikut :
Bencana Pesisir adalah kejadian karena peristiwa alam atau karena
perbuatan Orang yang menimbulkan perubahan sifat fisik dan/atau hayati
pesisir dan mengakibatkan korban jiwa, harta, dan/atau kerusakan di Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Sebaliknya, berdasarkan pasal UU Pesisir 2007 tersebut di atas, segala
kejadian baik yang dilakukan oleh orang maupun karena peristiwa alam, dapat
disebut sebagai bencana. Akan tetapi dalam prakteknya bencana alam terkadang
sulit dibedakan meskipin terdapat adanya unsur perbuatan manusia, misalnya
banjir akibat penggundulan hutan dsb. Hal ini terkait dengan akibat yang
ditimbulkan oleh kegiatan manusia berkenaan dengan terdapatnya komponen
lain tersebut. Kata masuk dan dimasukkan masing masing mempunyai makna
yang berbeda, masuk bermakna datang (pergi) ke dalam ; rumah, ruangan
lingkungan dll sedangkan kata dimasukkan berarti dibawa, disuruh,

27
Lihat juga Pasal 13 ayat (1), 42 ayat (1), Pasal 44, Pasal 54 ayat (1) dan (2), Pasal 57 ayat (1)
huruf c
28
Republik Indonesia, UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilyah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil. Pasal 1 butir 28
29
Republik Indonesia, UU Pesisir 2007 Pasal 1 butir 26
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 161

dibiarkan masuk
30
. Dengan demikian, kesan yang dapat diambil adalah, bahwa
adanya komponen lain pada media lingkungan dapat masuk sendiri (tanpa
sengaja) oleh adanya kegiatan manusia (lebih sering disebut bencana alam,
bencana besar, bencana ekologi dll), juga dapat terjadi karena dimasukkan oleh
manusia (jelas disengaja). Kasus Lumpur Lapindo dapat menjadi contoh dalam
persoalan ini.
Permasalahan ini menjadi menarik, mengingat munculnya kasus
sengketa/konflik lingkungan kebanyakan berhubungan dengan masuknya
komponen lain, terlepas apakah sengketa tersebut muncul dari kegiatan yang
berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan hidup (UUPPLH 2009),
atau karena adanya pencemaran dan kerusakan (UUPLH 1997) namun jelas
komponen lain tersebut adalah komponen yang dapat menyebabkan lingkungan
hidup tidak berfungsi atau melampaui baku mutu yang ditetapkan (lingkungan
dan kerusakan lingkungan). Permasalan keberadaan komponen lain dalam media
lingkungan ini dapat ditinjau dari beberapa sudut yaitu :
a. Perbedaan komponen (bersifat asing) tersebut dengan komponen asli
media lingkungan
b. Diukur berdasarkan Baku mutu lingkungan
c. Diihat dari terjadinya perubahan langsung dan/atau tidak langsung
terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup
d. Unsur perbuatan manusia (bencana alam atau karena hasil kegiatan
manusia)
Untuk poin-poin tersebut di atas dapat dijelaskan melalui kasus dan
bencana fenomenal yang saat ini belum selasai yaitu lumpur Lapindo. Sebagai
yang telah diketahui bahwa rentetan putusan pengadilan akhirnya sampai pada
keputusan bahwa Lapindo Brantas, Inc. tidak bersalah
31
. Meskipun dalam
berbagai kesaksian dan keterangan ahli di pengadilan menunujukkan bahwa
peristiwa tersebut adalah akibat dari kegiatan manusia. Seperti yang
diungkapkan Ahli Geologi RP Koesoemadinata saat bersaksi sebagai ahli dalam
sidang pengujian Pasal 18 UU Nomor 4 Tahun 2012 tentang APBN-P 2012 di
Mahkamah Konstitusi, Jakarta,
32
, bahwa , bencana semburan lumpur panas di
Sidoarjo mutlak karena kesalahan operasional pengeboran PT Lapindo Brantas.
Belum lagi pertemuan yang diadakan American Association of Petroleum
Geologists di Cape Town, Afrika Selatan seperti yang dilaporkan oleh BBC
London bahwa ketika diadakan vote , 42 dari 74 ilmuwan meyakini bahwa
pengeboran merupakan pemicu dari letusan. Hanya tiga suara untuk gempa.

30
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (elektronik)
(Jakarta:t. tp, 2008) h. 924
31
Lihat : Putusan PN Jaksel 27 Desember 2007, Putusan PT Jakarta 27 Oktober 2008,
Putusan Kasasi MA 3 April 2009, Sidang putusan Pengadilan Surabaya: Tanggal 30 Maret 2010,
No: 07/PRAPER/2010/PN.SBY
32
Lihat. http://www.metrotvnews.com/metronews/news/2012/08/07/101301/Ahli-
Semburan-Lumpur-Lapindo-karena-Salah-Pengeboran/6. Untuk analisa ilmiah yang lebih
menarik tentang penyebab Bencana ini baca http://id.wikipedia.org/
wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


162

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

Selain itu, 16 ilmuwan percaya bukti itu tidak meyakinkan, dan 13 sisanya merasa
bahwa kombinasi gempa dan pengeboran yang harus disalahkan.
33

Akan tetapi tetap saja, dengan alasan tidak terdapat pelanggaran ,
bencana alam, tidak ada unsur perbuatan manusia dan kecendrungan gejala
alam, maka sengketa lingkungan ini ditutup dengan keptusan tidak bersalah dan
hal ini diikuti pula oleh penegasan pemerintah.
Terlepas dari polemik sebab-akibat tersebut, apakah akiabat pengeboran
maupun bencana alam, menarik untuk disimak pendapat ahli geologi RP
Koesoemadinata terkait adanya komponen lain dalam media lingkungan :
masalahnya adalah jumlah cairan yang konon terdiri dari 70% air
dan 30 zat padat yang membanjiri daerah Sidoarjo dan mengancam
pemukiman serta melumpuhkan perekonomian, khususnya industri dan
transportasi di daerah sekitarnya Kalau limbah kimia atau limbah industri
ataupun dari aktivitas manusia yang bersifat asing, maka saya sangat sangat
setuju untuk dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan yang harus dicegah
sekuat tenaga. Contoh-contoh seperti Chernobyl, dll itu betul-betul dapat
dinyatakan sebagai pencemaran lingkungan yang berat. Tetapi dalam hal
lumpur Lapindo, kita ini menghadapi zat atau bahan bumi (earth material)
yang akan dimasukan ke dalam lingkungan yang kebetulan sama juga
dengan lingkungan di mana lumpur itu terbentuk. Kekhawatiran akan
rusaknya biota dsb adalah sangat berlebihan dan boleh dikatakan
merupakan paranoid yang sedang melanda kita semua, khususnya para ahli
lingkungan. Dari prinsip dasar ilmu geologi saja kita tahu bahwa lingkungan
kita itu tidak pernah tetap, gejala-gejala alam yang lambat maupun yang
bersifat mendadak, seperti erupsi gunung api dapat mencemari
lingkungan, merusak biota bahkan menyebabkan kepunahan species bahkan
sampai kategori kelaspun (Ingat punahnya Dinosaurus?)... apakah ini yang
dikatakan pencemara ?... Saya kira air sungai dan air tanah di sekitar Sidoarjo
itu sudah lebih tercemar oleh limbah industri daripada lumpur dari
semburan yang masih murni

34

Lebih lanjut dinyatakan bahwa, dalam hal semburan lumpur Lapindo
gejalanya sendiri lebih merupakan gejala alam yang menyangkut bahan alami
bukan bahan asing untuk lingkungan bumi. Banyak para ahli geologi yang
menganalogikan semburan lumpur ini dengan gejala alam yang disebut mud-
volcano, sehingga Koesoemadinata sampai pada kesimpulan bahwa permasalah
sebenarnya terletak pada definisi pencemaran yang perlu dikaji ulang.
35
Oleh
sebab itu standar-standar maupun kriteria baku kompenen asing ke media
lingkungan perlu diketahui dan diperjelas dan hal ini tentunya memerlukan
kajian yang lebih intens. Adanya komponen asing (Limbah B3) yang bersifat
toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity semisal Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn,

33
http://hotmudflow.wordpress.com/2008/10/30/laporan-perdebatan-asal-lusi-di-
pertemuan-aapg-capetown/, diakses tanggal 24 Oktober 2012
34
http://hotmudflow.wordpress.com/2006/09/02/klh-harus-menkaji-ulang-pengertian-
pencemaran-lingkungan/
35
Ibid.,
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012 163

Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya,
mungkin masih lebih mudah untuk diketahui melalui sifat dan dampaknya yang
seketika dan jelas dapat dikategorikan sebagai bahan/zat/komponen
pencemar/pollutan, akan tetapi zat-zat lain yang pada asalnya tidak berbahaya
namun berinteraksi/berproses dengan zat lainnya yang memerlukan waktu, maka
ini yang menjadi sulit untuk diprediksi. Terlebih jika komponen lain tersebut
pada asalnya sama dengan komponen alami media lingkungan yang dimasukinya
(semisal lumpur Lapindo dan abu vulkanik dll), dapatkan disebut sebagai
pencemaran ?.
Pernyataan dan pertanyaan tersebut di atas patut menjadi renungan dan
pertimbangan, bahwa ukuran, maupun batas batas toleransi interaktif lingkungan
bersifat fluktuatif, berubah-ubah, tak dapat diprediksi, berjalan lambat, tiba-tiba
dan sebagainya. Perlu kearifan visioner untuk menilai dan mengkategorisasi
pencemaran maupun kerusakan yang terumuskan ke dalam pasal-pasal berbagai
peraturan. Beberapa kasus telah memberi pengajaran berharga bahwa perbedaan
antara bencana alam dan hasil kegiatan manusia sangat sulit dibedakan. Bahkan
pengadilanpun memerlukan waktu bertahun-tahun untuk sampai pada satu
kesimpulan/keputusan antara perbuatan manusia dan perbuatan alam
sementara bencana pencemaran dan kerusakan lingkungan berjalan tanpa henti.

KESIMPULAN

Pencemaran bukanlah sesuatu yang asing di telinga masyarakat dunia, sebab
tiap hari media menyuguhkan berita tentang terjadinya pencemaran. Berbagai
usaha-usaha telah dilakukan oleh masyarakat dunia termasuk Indonesia, guna
menanggulangi permasalahn ini. Namun terkadang usaha tersebut tinggal usaha.
Sebab permasalah sebenarnya tidak selalu terletak pada bagai mana
mencegah/menanggulangi pencemaran yang terjadi, tetapi juga pada rumusan-
rumusan kebijakan, baik berupa peraturan maupun dalam tataran undang-undang.
Apapun kenyataannya pencemaran tidak bisa dicegah, tidak bisa dihilangkan dan
akan terus terjadi, sebab manusia tidak dapat menghindar untuk tidak mencemari
lingkungannya terlebih alampun sulit untuk diprediksi. Oleh sebab itu,
mempertajam perbedaan definisi-definisi teknis maupun pelaksanaannya menjadi
suatu yang baku terkadang wajib adanya. Sebab dalam tataran implementasi justru
permasalahan lingkungan senantiasa berputar-putar dan berkutat dalam
perdebatan tanpa ujung mengenai pengertian satu kata mis: pencemaran -
sementara perusakan dan pencemaran lingkungan tengah dan terus berlangsung.
Di tempat lain, penderitaan berat baik fisik maupun psikis nyaris tak lagi mampu
ditanggung oleh para korban. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah,
alam raya memiliki hukumnya (sunnah) tersendiri , manusiapun memiliki hukum
tersendiri, interaksi antara keduanya mungkin saja dapat diprediksi namun tetap
tidak pasti dan sifat ketidak-pastian tetap tak dapat dihindari. Gempa bumi atau
semacamnya mungkin saja dapat mencemari dan merusak lingkungan, akan tetapi
pengeboranpun memiliki potensi yang sama. Akhirnya manusia perlu kearifan
ketika berhadapan dengan lingkungan. Wallahu alam bishhawaab
Tinjauan Terhadap Pencemaran Lingkungan Berdasarkan Perundang-undangan Ashabul Kahpi


164

Al-Risalah | Volume 12 Nomor 1 Mei 2012

DAFTAR PUSTAKA

Wijoyo, Suparto, 1999, Penyelesaian Sengketa Lingkungan, (Settlement of
Environmental Disputes), Surabaya: Airlangga UP,
Sunarso, Siswanto, 2005, Hukum Pidana Lingkungan dan Strategi Penyelesaian
Sengketa, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Danusaputro, St. Munajat. 1980, Hukum Lingkungan Buku I Umum , Bandung:
Binacipta,
Rahmadi, Takdir, 2011, Lingkungan Hidup di Indonesia , Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada,
Amsyari, Fuad, 1986, Prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Rangkuti, Siti Sundari, 2000, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan
Nasional, Surabaya: Airlangga UP
Drupsteen, Th. G. dan L Woltgens, t. Th, Pengantar hukum Perizinan Lingkungan. tt.
Kerjasama Hukum Indonesia Belanda
Hamzah, Andi, 2005, Penegakan Hukum Lingkungan, Jakarta: Sinar Grafika
Siahaan, NHT, 1987,. Ekologi Pembangunan dan Hukum Tata Lingkungan. Jakarta:
Erlangga.
Hardjasoemantri, Koenadi. 2002, Hukum Tata Lingkungan. Cet. 17 Yogyakarta,
Gajah Mada UP,
Departemen Pendidikan Nasional,2008, Kamus Bahasa Indonesia (elektronik)
Jakarta:Pusat Bahasa,
Undang-undang , Peraturan dan dokumen Lain
Republik Indonesia, UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilyah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil
Republik Indonesia, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Mentri Kependudukan dan Lingkungan Hidup RI Keputusan Menteri
Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan dan
Pelestarian Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 No. 68 - TLNRI
No.3699)
Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) laporan Status Lingkungan Hidup
Indonesia (SLHI) 2006
Putusan PN Jaksel 27 Desember 2007
Putusan PT Jakarta 27 Oktober 2008
Putusan Kasasi MA 3 April 2009,
Putusan Pengadilan Surabaya: Tanggal 30 Maret 2010, No:
07/PRAPER/2010/PN.SBY