Anda di halaman 1dari 9

JADWAL IMUNISASI 2012

REKOMENDASI IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA (IDAI)



JENIS
VAKSIN
UMUR PEMBERIAN
BULAN TAHUN
L
H
R
1 2 3 4 5 6 7 8 9 12 15 18 24 3 5 6 7 8 9 10 12 18
BCG 1x
HEPATITIS B 1 2 3
POLIO 0 1 2 3 4 5
DTP 1 2 3 4 5
CAMPAK 1 2
Hib 1 2 3 4
PNEUMOKOKUS
(PCV)
1 2 3 4
INFLUENZA DIBERIKAN SETIAP TAHUN
VARISELA 1x
MMR 1 2
TIFOID ULANGAN TIAP 3 TAHUN
HEPATITIS A 2X, INTERVAL 6 - 12 BULAN
HPV 3X
















Keterangan Jadwal Imunisasi Periode 2012
Vaksin Keterangan
BCG Optimal diberikan pada umur 2
sampai 3 bulan. Bila vaksin
BCG akan diberikan sesudah
umur 3 bulan, perlu dilakukan
uji tuberkulin. Bila uji
tuberculin pra-BCG tidak
dimungkinkan, BCG dapat
diberikan, namun harus
diobservasi dalam 7 hari. Bila
ada reaksi lokal cepat di tempat
suntikan (accelerated local
reaction), perlu dievaluasi lebih
lanjut (diagnostic TB).
Hepatitis B Pertama diberikan dalam waktu
12 jam setelah lahir.
Polio OPV 0 diberikan pada
kunjungan pertama. Bayi yang
lahir di RB/RS diberikan vaksin
OPV saat bayi dipulangkan
untuk menghindari transmisi
virus vaksin kepada bayi lain.
Selanjutnya dapat diberikan
vaksin OPV atau IPV.
DTP Diberikan pada umur > 6
minggu. Dapat diberikan vaksin
DTwP atau DTaP atau
kombinasi dengan Hepatitis B
atau Hib. Ulangan DTP umur
18 bulan dan 5 tahun. Program
BIAS: disesuaikan dengan
jadwal imunisasi Kementrian
Kesehatan. Untuk anak umur
diatas 7 tahun dianjurkan
diberikan vaksin Td.
Campak Diberikan pada umur 9 bulan,
vaksin ulangan diberikan pada
umur 5-7 tahun. Program
BIAS: disesuaikan dengan
jadwal imunisasi Kementrian
Kesehatan.

Vaksin Keterangan
Hib Diberikan mulai umur 2 bulan
dengan interval 2 bulan.
Diberikan terpisah atau
kombinasi.
Pneumokokus
( PCV )
Dapat diberikan pada umur 2,
4, 6, 12-15 bulan. Pada umur 7
12 bulan, diberikan 2 kali
dengan interval 2 bulan; pada
umur > 1 tahun diberikan 1
kali, namun keduanya perlu
dosis ulangan 1 kali pada umur
15 bulan atau minimal 2 bulan
setelah dosis terakhir. Pada
anak umur di atas 2 tahun PCV
diberikan cukup 1 kali.
Influenza Diberikan pada umur > 6 bulan,
setiap tahun. Pada umur < 9
tahun yang mendapat vaksin
influenza pertama kalinya harus
mendapat 2 dosis dengan
interval minimal 4 minggu.
MMR Dapat diberikan pada umur 12
bulan, apabila belum mendapat
vaksin campak umur 9 bulan.
Selanjutnya MMR ulangan
diberikan pada umur 5-7 tahun.
Tifoid Tifoid polisakarida injeksi
diberikan pada umur 2 tahun,
diulang setiap 3 tahun.
Hepatitis A Hepatitis A diberikan pada
umur > 2 tahun, dua kali
dengan interval 6-12 bulan.
HPV Jadwal vaksin HPV bivalen 0,
1, 6 bulan; vaksin tetravalen 0,
2, 6 bulan. Dapat diberikan
mulai umur 10 tahun.
Varisela Dapat diberikan setelah umur
12 bulan, terbaik pada umur
sebelum masuk sekolah dasar.
Bila diberikan pada umur > 12
tahun, perlu 2 dosis dengan
interval minimal 4 minggu.
Sumber : Sari Pediatri Vol.11 No.6, April 2010
Supported as an educational grant of PT.Pfizer Indonesia
5 jenis imunisasi yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun.
1. IMUNISASI BCG
Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan Bakteri
tubercle bacili yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa, agar memiliki kekebalan aktif,
dimasukkanlah jenis basil tak berbahaya ini ke dalam tubuh, alias vaksinasi BCG (Bacillus
Calmette-Guerin).
Seperti diketahui, Indonesia termasuk negara endemis TB (penyakit TB terus-menerus ada
sepanjang tahun) dan merupakan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia.
TB disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui
droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun
bersin. Gejalanya antara lain: berat badan anak susah bertambah, sulit makan, mudah sakit,
batuk berulang, demam dan berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi
TB rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu.
Untuk mendiagnosis anak terkena TB atau tidak, perlu dilakukan tes rontgen untuk
mengetahui adanya vlek, tes Mantoux untuk mendeteksi peningkatan kadar sel darah putih,
dan tes darah untuk mengetahui ada-tidak gangguan laju endap darah. Bahkan, dokter pun
perlu melakukan wawancara untuk mengetahui, apakah si kecil pernah atau tidak, berkontak
dengan penderita TB.
Jika anak positif terkena TB, dokter akan memberikan obat antibiotik khusus TB yang harus
diminum dalam jangka panjang, minimal 6 bulan. Lama pengobatan tak bisa diperpendek
karena bakteri TB tergolong sulit mati dan sebagian ada yang tidur. Karenanya, mencegah
lebih baik daripada mengobati. Selain menghindari anak berkontak dengan penderita TB,
juga meningkatkan daya tahan tubuhnya yang salah satunya melalui pemberian imunisasi
BCG.
* Jumlah Pemberian:
Cukup 1 kali saja, tak perlu diulang (booster). Sebab, vaksin BCG berisi kuman hidup
sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati,
hingga memerlukan pengulangan.
* Usia Pemberian:
Di bawah 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes Mantoux
(tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman
Mycobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Jika
ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir
si kecil diimunisasi BCG
* Lokasi Penyuntikan:
Lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas medis yang melakukan
penyuntikan di paha.
* Efek Samping:
Umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah
bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau di selangkangan bila penyuntikan dilakukan di
paha). Biasanya akan sembuh sendiri.
* Tanda Keberhasilan:
Muncul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Tidak
menimbulkan nyeri dan tak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka
parut.
Jikapun bisul tak muncul, tak usah cemas. Bisa saja dikarenakan cara penyuntikan yang
salah, mengingat cara menyuntikkannya perlu keahlian khusus karena vaksin harus masuk ke
dalam kulit. Apalagi bila dilakukan di paha, proses menyuntikkannya lebih sulit karena
lapisan lemak di bawah kulit paha umumnya lebih tebal.
Jadi, meski bisul tak muncul, antibodi tetap terbentuk, hanya saja dalam kadar rendah.
Imunisasi pun tak perlu diulang, karena di daerah endemis TB, infeksi alamiah akan selalu
ada. Dengan kata lain, anak akan mendapat vaksinasi alamiah.
* Kontra Indikasi:
Tak dapat diberikan pada anak yang berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif.
2. Imunisasi Hepatitis B
Lebih dari 100 negara memasukkan vaksinasi ini dalam program nasionalnya. Apalagi
Indonesia yang termasuk negara endemis tinggi penyakit hepatitis. Jika menyerang anak,
penyakit yang disebabkan virus ini sulit disembuhkan. Bila sejak lahir telah terinfeksi virus
hepatitis B (VHB), dapat menyebabkan kelainan-kelainan yang dibawanya terus hingga
dewasa. Sangat mungkin terjadi sirosis atau pengerutan hati (kerusakan sel hati yang berat).
Bahkan yang lebih buruk bisa mengakibatkan kanker hati.
Banyak jalan masuknya VHB ke tubuh si kecil. Yang potensial melalui jalan lahir. Bisa sejak
dalam kandungan sudah tertular dari ibu yang mengidap hepatitis B atau saat proses
kelahiran. Cara lain melalui kontak dengan darah penderita, semisal transfusi darah. Bisa juga
melalui alat-alat medis yang sebelumnya telah terkontaminasi darah dari penderita hepatitis
B, seperti jarum suntik yang tidak steril atau peralatan yang ada di klinik gigi. Bahkan juga
lewat sikat gigi atau sisir rambut yang digunakan antaranggota keluarga.
Malangnya, tak ada gejala khas yang tampak secara kasat mata. Bahkan oleh dokter
sekalipun. Fungsi hati kadang tak terganggu meski sudah mengalami sirosis. Tidak cuma itu.
Anak juga terlihat sehat, nafsu makannya baik, berat tubuhnya pun naik dengan bagus pula.
Penyakitnya baru ketahuan setelah dilakukan pemeriksaan darah. Gejala baru tampak begitu
hati si penderita tak mampu lagi mempertahankan metabolisme tubuhnya.
Upaya pencegahan adalah langkah terbaik. Jika ada salah satu anggota keluarga dicurigai
kena VHB, biasanya dilakukan screening terhadap anak-anaknya untuk mengetahui apakah
membawa virus atau tidak. Pemeriksaan harus dilakukan kendati anak tak menunjukkan
gejala sakit apa pun. Selain itu, imunisasi merupakan langkah efektif untuk mencegah
masuknya VHB.
* Jumlah Pemberian:
Sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, kemudian 5
bulan antara suntikan kedua dan ketiga.
* Usia Pemberian:
Sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi stabil, tak ada
gangguan pada paru-paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia antara 3-6
bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB, selain imunisasi yang dilakukan
kurang dari 12 jam setelah lahir, juga diberikan imunisasi tambahan dengan imunoglobulin
antihepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam.
* Lokasi Penyuntikan:
Pada anak di lengan dengan cara intramuskuler. Sedangkan pada bayi di paha lewat
anterolateral (antero = otot-otot di bagian depan; lateral = otot bagian luar). Penyuntikan di
bokong tak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin.
* Efek Samping:
Umumnya tak terjadi. Jikapun ada (kasusnya sangat jarang), berupa keluhan nyeri pada bekas
suntikan, yang disusul demam ringan dan pembengkakan. Namun reaksi ini akan menghilang
dalam waktu dua hari.
* Tanda Keberhasilan:
Tak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan. Namun dapat dilakukan pengukuran
keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak
berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahannya 8 tahun; di atas 500, tahan
5 tahun; di atas 200, tahan 3 tahun. Tetapi kalau angkanya cuma 100, maka dalam setahun
akan hilang. Sementara bila angkanya nol berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi.
* Tingkat Kekebalan:
Cukup tinggi, antara 94-96%. Umumnya, setelah 3 kali suntikan, lebih dari 95% bayi
mengalami respons imun yang cukup.
* Indikasi Kontra:
Tak dapat diberikan pada anak yang menderita sakit berat.
3. Imunisasi Polio
Belum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang dapat menyebabkan
kelumpuhan ini, disebabkan virus poliomyelitis yang sangat menular. Penularannya bisa
lewat makanan/minuman yang tercemar virus polio. Bisa juga lewat percikan ludah/air liur
penderita polio yang masuk ke mulut orang sehat.
Virus polio berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus, lalu
masuk ke aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan
kelumpuhan otot tangan dan kaki. Bila mengenai otot pernapasan, penderita akan kesulitan
bernapas dan bisa meninggal.
Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. Setelah demam 2-5 hari, umumnya akan mengalami
kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun tak semua orang yang terkena
virus polio akan mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan virus polio yang menyerang
dan daya tahan tubuh si anak. Nah, imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap
serangan virus polio.
* Jumlah Pemberian:
Bisa lebih dari jadwal yang telah ditentukan, mengingat adanya imunisasi polio massal.
Namun jumlah yang berlebihan ini tak akan berdampak buruk. Ingat, tak ada istilah overdosis
dalam imunisasi!
* Usia Pemberian:
Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan
5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DTP.
* Cara Pemberian:
Bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral
Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di tanah air, yang digunakan adalah OPV.
* Efek Samping:
Hampir tak ada. Hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, dan sakit
otot. Kasusnya pun sangat jarang.
* Tingkat Kekebalan:
Dapat mencekal hingga 90%.
* Indikasi Kontra:
Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (di atas
38C); muntah atau diare; penyakit kanker atau keganasan; HIV/AIDS; sedang menjalani
pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum; serta anak dengan mekanisme kekebalan
terganggu.
4. Imunisasi DTP
Dengan pemberian imunisasi DTP, diharapkan penyakit difteri, tetanus, dan pertusis,
menyingkir jauh dari tubuh si kecil. Kekebalan segera muncul seusai diimunisasi.
* Usia & Jumlah Pemberian:
Sebanyak 5 kali; 3 kali di usia bayi (2, 4, 6 bulan), 1 kali di usia 18 bulan, dan 1 kali di usia 5
tahun. Selanjutnya di usia 12 tahun, diberikan imunisasi TT
* Efek Samping:
Umumnya muncul demam yang dapat diatasi dengan obat penurun panas. Jika demamnya
tinggi dan tak kunjung reda setelah 2 hari, segera bawa si kecil ke dokter. Namun jika demam
tak muncul, bukan berarti imunisasinya gagal, bisa saja karena kualitas vaksinnya jelek,
misal.
Untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam, imunisasi DTP tetap aman. Kejang
demam tak membahayakan, karena si kecil mengalami kejang hanya ketika demam dan tak
akan mengalami kejang lagi setelah demamnya hilang. Jikapun orangtua tetap khawatir, si
kecil dapat diberikan vaksin DTP asesular yang tak menimbulkan demam. Kalaupun terjadi
demam, umumnya sangat ringan, hanya sekadar sumeng.
* Indikasi Kontra:
Tak dapat diberikan kepada mereka yang kejangnya disebabkan suatu penyakit seperti
epilepsi, menderita kelainan saraf yang betul-betul berat atau habis dirawat karena infeksi
otak, dan yang alergi terhadap DTP. Mereka hanya boleh menerima vaksin DT tanpa P
karena antigen P inilah yang menyebabkan panas.
Penyakit DTP yang BERBAHAYA
1. Difteri
Penyakit yang disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae ini, gejalanya mirip radang
tenggorokan, yaitu batuk, suara serak, dan tenggorokan sakit. Namun, difteri tak disertai
panas sebagaimana yang terjadi pada radang tenggorokan. Gejala lain difteri adalah kesulitan
bernapas (leher seperti tercekik dan napas berbunyi), sehingga wajah dan tubuh membiru,
serta adanya lapisan putih pada lidah dan bibir.
Bakteri penyebab difteri ditularkan saat batuk, bersin, atau kala berbicara. Masa inkubasinya
1-6 hari. Penderita harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dalam waktu cukup lama,
sekitar 2-3 minggu, dan baru boleh pulang setelah penyakitnya benar-benar hilang 100%.
Soalnya, difteri bisa kambuh lagi kalau belum betul-betul sembuh.
2. Tetanus
Disebabkan oleh bakteri Clostridium Tetani, penyakit ini berisiko menyebabkan kematian.
Infeksi tetanus bisa terjadi karena luka, sekecil apa pun luka itu. Tetanus rawan menyerang
bayi baru lahir, biasanya karena tindakan atau perawatan yang tidak steril.
Gejala-gejala yang tampak antara lain kejang otot rahang, rasa sakit dan kaku di leher, bahu
atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik untuk mematikan kuman, antikejang
untuk merilekskan otot-otot, dan antitetanus untuk menetralisir toksinnya.
3. Pertusis
Disebut juga kinghoest, batuk rejan, atau batuk 100 hari lantaran batuknya memang
berlangsung lama, bisa sampai 3 bulan. Penyakit ini mudah sekali menular melalui udara
yang mengandung bakteri Bordetella pertussis. Masa inkubasinya 6-20 hari.
Gejala awalnya seperti flu biasa, yaitu demam ringan, batuk, dan pilek, yang berlangsung
selama 1-2 minggu. Kemudian, gejala batuknya mulai nyata dan kuat, batuk panjang secara
terus-menerus yang berbeda dengan batuk biasa. Tak jarang, karena kuatnya batuk ini, anak
bisa sampai menungging-nungging, muntah-muntah, mata merah, berair, dan napasnya susah.
Gejalanya sangat berat. Bahkan beberapa penderita bisa mengalami perdarahan. Setelah 2-4
minggu berlalu, batuk mulai berkurang dan kondisi anak mulai pulih.
Penderita akan diberi obat antibiotik untuk mematikan kuman, dan obat untuk
mengurangi/menghentikan batuknya. Istirahat yang cukup, banyak minum, dan konsumsi
makanan bergizi akan membantu mempercepat kesembuhan.
5. Imunisasi Campak
Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring
bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan
lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang
daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus Morbili
ini. Untungnya, campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak,
setelah itu biasanya tak akan terkena lagi.
Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran halus air ludah (droplet) penderita yang
terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari,
gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata
kemerah-merahan dan berair, si kecil pun merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, di
sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak
juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar
38-40,5C. Seiring dengan itu, barulah keluar bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas
penyakit ini. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi juga tak terlalu kecil. Awalnya hanya muncul
di beberapa bagian tubuh saja seperti kuping, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Dalam
waktu 1 minggu, bercak-bercak merah ini akan memenuhi seluruh tubuh. Namun bila daya
tahan tubuhnya baik, bercak-bercak merah ini hanya di beberapa bagian tubuh saja dan tidak
banyak.
Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya. Bercak
merah pun akan berubah jadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya
bercak akan mengelupas atau rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan
waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak. Dalam kondisi ini,
tetaplah meminum obat yang sudah diberikan dokter. Jaga stamina dan konsumsi makanan
bergizi. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu mengobati berdasarkan gejala yang
muncul. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang efektif mengatasi virus campak.
Jika tak ditangani dengan baik campak bisa sangat berbahaya. Bisa terjadi komplikasi,
terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh,
gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa
radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi inilah yang
umumnya paling sering menimbulkan kematian pada anak.
Usia & Jumlah Pemberian:
Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan, pemberian campak
ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah menurun di usia 9 bulan, penyakit
campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan
imunisasi campak, maka pada usia 12 bulan harus diimunisasi MMR (Measles Mumps
Rubella).
Efek Samping:
Umumnya tidak ada. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare, namun
kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek
kemerahan mirip campak selama 3 hari.

REFERENSI
1. Indonesia, Departemen Kesehatan RI. Ranuh,I.G.N.2008.Pedoman Imunisasi di Indonesia.
Edisi ketga.Jakarta:
2. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia 2011. Modul Materi Dasar 1 Kebijakan
Program Imunisasi.Jakarta: Ditjen PP & PL Depkes RI
3. htp://posyandu.org/jenis-imunisasi.html
4. www.infobunda.com/pages/imunisasi/index.php`````````````````````````````````````````````````````````````
```````