Anda di halaman 1dari 39

KONSEP MEDIS

A. Definisi Diabetes Mellitus


Diabetes mellitus adalah kelainan yang ditandai dengan kadar
glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) dan gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh
kekurangan hormon insulin secara relatif maupun absolut, apabila
dibiarkan tidak terkendali dapat terjadinya komplikasi metabolik akut
maupun komplikasi vaskuler jangka panjang yaitu mikroangiopati dan
makroangiopati (Hadisaputro S, Setyawan H, 2007).
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang memerlukan
perawatan medis dan penyuluhan untuk self management yang
berkesinambungan untuk mencegah komplikasi akut maupun kronis.
1. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI adalah yang
sesuai dengan anjuran klasifikasi DM American Diabetes Association
(ADA) 2007. Klasifikasi etiologi Diabetes mellitus, menurut ADA
2007 adalah sebagai berikut :
a. Diabetes tipe 1. (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke
defisiensi insulin absolut) :
1) Autoimun
2) Idiopatik




b. Diabetes tipe 2. (bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi
insulin disertai defesiensi insulin relatif sampai yang terutama
defek sekresi insulin disertai resistensi insulin).
c. Diabetes tipe lain
1) Defek genetik fungsi sel beta :
a) Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY) 1, 2, 3.
b) DNA mitokondria.
2) Defek genetik kerja insulin.
3) Penyakit eksokrin pankreas.
a) Pankreatitis.
b) Tumor/ pankreatektomi.
c) Pankreatopati fibrokalkulus.
4) Endokrinopati.
a) Akromegali.
b) Sindroma Cushing.
c) Feokromositoma.
d) Hipertiroidisme.
5) Karena obat/ zat kimia.
a) Pentamidin, asam nikotinat.
b) Glukokortikoid, hormon tiroid.
c) Tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain.
6) Infeksi: rubella kongenital, sitomegalovirus.
7) Sebab imunologi yang jarang: antibodi insulin.




8) Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM: Sindrom
Sindrom Klinefelter, Sindrom Turner dan lain-lain.
d. Diabetes Mellitus Gestasional (DMG)
Diagnosis DM ditegakkan dengan mengadakan pemeriksaan
kadar glukosa darah. Untuk penentuan Diagnosis DM, pemeriksaan
glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara
enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah
utuh (whole blood), vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan
dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda
sesuai pembakuan WHO, sedangkan untuk pemantauan hasil
pengobatan dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah kapiler.
Kriteria diagnosis DM menurut WHO tahun 2000 dan ADA tahun
2007 dapat dilihat pada tabel 2 dan tabel 3 di bawah ini :
Kriteria Diagnostik Diabetes mellitus WHO Tahun 2000
1) Normal-glikemia, bila GDP < 110 mg/dl atau GD2JPP < 140 mg/dl
2) IFG atau IGT, bila FPG > 110 mg/dl dan IFG < 126 mg/dl, atau
GD2JPP > 140 mg/dl dan IGT < 200 mg/dl
3) Diabetes, bila FGP > 126 mg/dl atau GD2JPP > 200 mg/dl atau
ditemukannya gejala-gejala Diabetes dengan konsentrasi glukosa
plasma sewaktu > 200 mg/dl
Kriteria Diagnostik Diabetes mellitus menurut ADA 2007
1) Gejala klasik DM dengan glukosa darah sewaktu 200 mg/ dl
(11.1 mmol/L).




Glukosa darah sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada
suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. Gejala
klasik adalah: poliuria, polidipsia dan berat badan turun tanpa
sebab.
2) Kadar glukosa darah puasa 126 mg/ dl (7.0 mmol/L).
Puasa adalah pasien tak mendapat kalori sedikitnya 8 jam.
3) Kadar glukosa darah 2 jam PP 200 mg/ dl (11,1 mmol/L)
TTGO dilakukan dengan standar WHO, menggunakan beban
glukosa yang setara dengan 75 g glukosa anhidrus yang dilarutkan
ke dalam air.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau
DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDTP
tergantung dari hasil yang dipeoleh :
TGT : glukosa darah plasma 2 jam setelah beban antara 140-199
mg/dl (7,8-11,0 mmol/L)
GDPT : glukosa darah puasa antara 100 125 mg/dl(5,6-6,9
mmol/L)










1. Manifestasi Klinik Diabetes Mellitus
Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi gejala akut
dan gejala kronik.
a. Gejala Akut Penyakit Diabetes mellitus
Gejala penyakit DM dari satu penderita ke penderita lain
bervariasi bahkan, mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun sampai
saat tertentu.
1) Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak
(Poli), yaitu:
a) Banyak makan (poliphagia).
b) Banyak minum (polidipsia).
c) Banyak kencing (poliuria).
2) Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala:
a) Banyak minum.
b) Banyak kencing.
c) Nafsu makan mulai berkurang/ berat badan turun dengan cepat
(turun 5 10 kg dalam waktu 2 4 minggu).
d) Mudah lelah.
e) Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan
penderita akan jat1uh koma yang disebut dengan koma diabetik
(Manaf A. 2006).






b. Gejala Kronik Diabetes mellitus
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes
mellitus adalah sebagai berikut:
1) Kesemutan.
2) Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
3) Rasa tebal di kulit.
4) Kram.
5) Capek.
6) Mudah mengantuk.
7) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata.
8) Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.
9) Gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual menurun,
bahkan impotensi.
10) Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.
2. Patogenesis Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya
kekurangan insulin secara relatif maupun absolut. Defisiensi insulin dapat
terjadi melalui 3 jalan, yaitu :
a. Rusaknya sel-sel pankreas karena pengaruh dari luar (virus, zat
kimia tertentu, dll).
b. Desensitasi atau penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.




c. Desensitas/kerusakan reseptor insulin (down regulation) di jaringan
perifer (Manaf A.2006).
Apabila di dalam tubuh terjadi kekurangan insulin, maka dapat
mengakibatkan:
a. Menurunnya transport glukosa melalui membram sel, keadaan ini
mengakibatkan sel-sel kekurangan makanan sehingga meningkatkan
metabolisme lemak dalam tubuh. Manifestasi yang muncul adalah
penderita Diabetes mellitus selalu merasa lapar atau nafsu makan
meningkat poliphagia.
b. Menurunnya glikogenesis, dimana pembentukan glikogen dalam hati
dan otot terganggu.
c. Meningkatnya pembentukan glikolisis dan glukoneogenesis, karena
proses ini disertai nafsu makan meningkat atau poliphagia sehingga
dapat mengakibatkan terjadinya hiperglikemi. Kadar gula darah tinggi
mengakibatkan ginjal tidak mampu lagi mengabsorpsi dan glukosa
keluar bersama urin, keadaan ini yang disebut glukosuria. Manifestasi
yang muncul yaitu penderita sering berkemih atau poliuria dan selalu
merasa haus atau polidipsia (Manaf A.2006).
3. Faktor Resiko Diabtes Mellitus
Faktor-faktor risiko terjadinya Diabetes mellitus tipe 2 menurut
ADA 2007 dengan modifikasi terdiri atas :






a. Faktor risiko mayor :
1) Riwayat keluarga DM.
2) Obesitas.
3) Kurang aktivitas fisik.
4) Ras/Etnik.
5) Sebelumnya teridentifikasi sebagai IFG.
6) Hipertensi.
7) Tidak terkontrol kolesterol dan HDL.
8) Riwayat DM pada Kehamilan.
9) Sindroma polikistik ovarium.
b. Faktor risiko lainnya :
1) Faktor nutrisi.
2) Konsumsi alkohol.
3) Kebiasaan mendengkur.
4) Faktor stress.
5) Kebiasaan merokok.
6) Jenis kelamin.
7) Lama tidur.
8) Intake zat besi.
9) Konsumsi kopi dan kafein.







4. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
Tujuan pengelolaan Diabetes mellitus adalah :
a. Tujuan jangka pendek yaitu menghilangkan gejala/keluhan dan
mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian
darah.
b. Tujuan jangka panjang yaitu mencegah komplikasi, mikroangiopati
dan makroangiopati dengan tujuan menurunkan mortalitas dan
morbiditas. (PERKENI, 2006)
Prinsip pengelolaan Diabetes mellitus, meliputi :
a. Penyuluhan
Tujuan penyuluhan yaitu meningkatkan pengetahuan diabetisi
tentang penyakit dan pengelolaannya dengan tujuan dapat merawat
sendiri sehingga mampu mempertahankan hidup dan mencegah
komplikasi lebih lanjut. Penyuluhan meliputi :
1) Penyuluhan untuk pencegahan primer.
Ditujukan untuk kelompok risiko tinggi.
2) Penyuluhan untuk pencegahan sekunder.
Ditujukan pada diabetisi terutama pasien yang baru. Materi yang
diberikan meliputi : pengertian Diabetes, gejala, penatalaksanaan
Diabetes mellitus, mengenal dan mencegah komplikasi akut dan
kronik, perawatan pemeliharaan kaki, dll.






3) Penyuluhan untuk pencegahan tersier
Ditujukan pada diabetisi lanjut, dan materi yang diberikan
meliputi : cara perawatan dan pencegahan komplikasi, upaya untuk
rehabilitasi, dll.
b. Diet Diabetes mellitus
Tujuan Diet pada Diabetes mellitus adalah mempertahankan atau
mencapai berat badan ideal, mempertahankan kadar glukosa darah
mendekati normal, mencegah komplikasi akut dan kronik serta
meningkatkan kualitas hidup. (PERKENI, 2006)
Penderita Diabetes mellitus didalam melaksanakan diet harus
memperhatikan 3 J, yaitu : jumlah kalori yang dibutuhkan, jadwal
makan yang harus diikuti, dan jenis makanan yang harus diperhatikan.
Komposisi makanan yang dianjurkan adalah makanan dengan
komposisi seimbang yaitu yang mengandung karbohidrat ( 45-60%),
Protein (10-15%) , lemak (20-25%), garam ( 3000 mg atau 6-7 gr
perhari), dan serat ( 25 g/hr). Jenis buah-buahan yang dianjurkan
adalah buah golongan B (salak, tomat, dll) dan yang tidak dianjurkan
golongan A (nangka, durian, dll), sedangkan sayuran yang dianjurkan
golongan A (wortel, nangka muda, dll) dan tidak dianjurkan golongan
B (taoge, terong, dll).
c. Latihan Fisik (Olahraga)
Tujuan olah raga adalah untuk meningkatkan kepekaan insulin,
mencegah kegemukan, memperbaiki aliran darah, merangsang




pembentukan glikogen baru dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Olah raga meliputi empat prinsip :
1) Jenis olah raga dinamis
Yaitu latihan kontinyu, ritmis, interval, progresif dan latihan daya
tahan.
2) Intensitas Olahraga
Takaran latihan sampai 72-87 % denyut nadi maksimal disebut
zona latihan. Rumus Denyut Nadi maksimal adalah 220 dikurangi
Usia (dalam tahun).
3) Lamanya Latihan
Lamanya latihan kurang lebih 30 menit.
4) Frekwensi latihan
Frekwensi latihan paling baik 5 X per minggu
d. Pengobatan
Jika diabetisi telah menerapkan pengaturan makanan dan
kegiatan jasmani yang teratur namun pengendalian kadar gula darah
belum tercapai maka dipertimbangkan pemberian obat. Obat meliputi :
obat hipoglikemi oral (OHO) dan insulin. Pemberian obat Hipoglikemi
Oral diberikan kurang lebih 30 menit sebelum makan. Pemberian
insulin biasanya diberikan lewat penyuntikan di bawah kulit (subkutan)
dan pada keadaan khusus diberikan secara intravena atau
intramuskuler. Mekanisme kerja insulin short acting, medium acting
dan long acting




e. Pemantauan Pengendalian Diabetes dan Pencegahan Komplikasi
Tujuan pengendalian Diabetes mellitus adalah menghilangkan
gejala, memperbaiki kualitas hidup, mencegah komplikasi akut dan
kronik, mengurangi laju perkembangan komplikasi yang sudah ada.
Pemantauan dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah puasa
dan 2 jam post prandial, pemeriksaan HbA1C setiap 3 bulan,
pemeriksaan ke fasilitas kesehatan kurang lebih 4 X pertahun (kondisi
normal) dan dilakukan pemeriksaan jasmani lengkap, albuminuria
mikro, kreatinin, albumin globulin, ALT, kolesterol total, HDL,
trigliserida, dan pemeriksaan lain yang diperlukan
5. Komplikasi Diabetes Mellitus
Komplikasi-komplikasi pada Diabetes mellitus dapat dibagi menjadi
dua yaitu :
a. Komplikasi Metabolik Akut
Komplikasi akut terdiri dari dua bentuk yaitu hipoglikemia dan
hiperglikemia. Hiperglikemia dapat berupa, Keto Asidosis Diabetik
(KAD), Hiperosmolar Non Ketotik (HNK) dan Asidosis Laktat (AL).
Hipoglikemi yaitu apabila kadar gula darah lebih rendah dari 60 mg %
dan gejala yang muncul yaitu palpitasi, takhicardi, mual muntah,
lemah, lapar dan dapat terjadi penurunan kesadaran sampai koma.
Hiperglikemi yaitu apabila kadar gula darah lebih dari 250 mg % dan
gejala yang muncul yaitu poliuri, polidipsi pernafasan kussmaul, mual
muntah, penurunan kesadaran sampai koma (Soewondo P., 2006)




b. Komplikasi Metabolik Kronik
Komplikasi kronik pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah
di seluruh bagian tubuh (Angiopati diabetik). Angiopati diabetik untuk
memudahkan dibagi menjadi dua yaitu: makroangiopati
(makrovaskuler) dan mikroangiopati (mikrovaskuler), yang tidak
berarti bahwa satu sama lain saling terpisah dan tidak terjadi sekaligus
bersamaan. Komplikasi kronik DM yang sering terjadi adalah sebagai
berikut :
1) Mikrovaskuler :
a) Ginjal.
b) Mata.
2) Makrovaskuler :
a) Penyakit jantung koroner.
b) Pembuluh darah kaki.
c) Pembuluh darah otak.
3) Neuropati: mikro dan makrovaskuler
4) Mudah timbul ulkus atau infeksi : mikrovaskuler dan
makrovaskuler (Waspadji S, 2006)
A. Tinjauan Umum tentang Ulkus Diabetik
1. Pengertian Ulkus Diabetik
Ulkus diabetik merupakan luka terbuka pada permukaan kulit karena
adanya komplikasi makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insusifiensi
dan neuropati, yang lebih lanjut terdapat luka pada penderita yang sering




tidak dirasakan, dan dapat berkembang menjadi infeksi disebabkan oleh
bakteri aerob maupun anaerob. (Riyanto B, 2007).








2. Klasifikasi Ulkus Diabetik
Klasifikasi Ulkus diabetik pada penderita Diabetes mellitus menurut
Wagner dikutip oleh Waspadji S, terdiri dari 6 tingkatan :
0. Tidak ada luka terbuka, kulit utuh.
1. Ulkus Superfisialis, terbatas pada kulit.
2. Ulkus lebih dalam sering dikaitkan dengan inflamasi jaringan.
3. Ulkus dalam yang melibatkan tulang, sendi dan formasi abses.
4. Ulkus dengan kematian jaringan tubuh terlokalisir seperti pada ibu jari
kaki, bagian depan kaki atau tumit.
5. Ulkus dengan kematian jaringan tubuh pada seluruh kaki.







3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ulkus diabetik yaitu :
a. Sering kesemutan.
b. Nyeri kaki saat istirahat.
c. Sensasi rasa berkurang.
d. Kerusakan Jaringan (nekrosis).
e. Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea.
f. Kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal.
g. Kulit kering. (Misnadiarly, 2006).
4. Diagnosis Ulkus Diabetik
Diagnosis ulkus diabetik meliputi :
a. Pemeriksaan Fisik : inspeksi kaki untuk mengamati terdapat luka/ulkus
pada kulit atau jaringan tubuh pada kaki pemeriksaan sensasi
vibrasi/rasa berkurang atau hilang, palpasi denyut nadi arteri dorsalis
pedis menurun atau hilang.
b. Pemeriksaan Penunjang: X-ray, EMG dan pemeriksaan laboratorium
untuk mengetahui apakah ulkus diabetika menjadi infeksi dan
menentukan kuman penyebabnya.(Waspadji S, 2006;
Misnadiarly,2006).








5. Patogenesis Ulkus Diabetik
Salah satu akibat komplikasi kronik atau jangka panjang Diabetes
mellitus adalah ulkus diabetika. Ulkus diabetika disebabkan adanya tiga
faktor yang sering disebut Trias yaitu : Iskemik, Neuropati, dan Infeksi.
(Waspadji S, 2006)
Iskemik merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh karena
kekurangan darah dalam jaringan, sehingga jaringan kekurangan oksigen.
Hal ini disebabkan adanya proses makroangiopati pada pembuluh darah
sehingga sirkulasi jaringan menurun yang ditandai oleh hilang atau
berkurangnya denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea,
kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi
nekrosis jaringa sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung
kaki atau tungkai (Waspadji S, 2006).
Aterosklerosis merupakan sebuah kondisi dimana arteri menebal dan
menyempit karena penumpukan lemak pada bagian dalam pembuluh darah.
Menebalnya arteri di kaki dapat mempengaruhi otot-otot kaki karena
berkurangnya suplai darah, sehingga mengakibatkan kesemutan, rasa tidak
nyaman, dan dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kematian
jaringan yang akan berkembang menjadi ulkus diabetika (Misnadiarly,
2006).
Proses angiopati pada penderita Diabetes mellitus berupa
penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer, sering terjadi pada
tungkai bawah terutama kaki, akibat perfusi jaringan bagian distal dari




tungkai menjadi berkurang kemudian timbul ulkus diabetika. Pada
penderita DM yang tidak terkendali akan menyebabkan penebalan tunika
intima (hiperplasia membram basalis arteri) pada pembuluh darah besar
dan pembuluh kapiler bahkan dapat terjadi kebocoran albumin keluar
kapiler sehingga mengganggu distribusi darah kejaringan dan timbul
nekrosis jaringan yang mengakibatkan ulkus diabetika (Misnadiarly, 2006).
Eritrosit pada penderita DM yang tidak terkendali akan
meningkatkan HbA1C yang menyebabkan deformabilitas eritrosit dan
pelepasan oksigen di jaringan oleh eritrosit terganggu, sehingga terjadi
penyumbatan yang menggangu sirkulasi jaringan dan kekurangan oksigen
mengakibatkan kematian jaringan yang selanjutnya timbul ulkus diabetika
(Misnadiarly, 2006).
Peningkatan kadar fibrinogen dan bertambahnya reaktivitas
trombosit menyebabkan tingginya agregasi sel darah merah sehingga
sirkulasi darah menjadi lambat dan memudahkan terbentuknya trombosit
pada dinding pembuluh darah yang akan mengganggu sirkulasi darah
(Misnadiarly, 2006).
Konsekuensi adanya aterosklerosis yaitu sirkulasi jaringan menurun
sehingga kaki menjadi atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan
selanjutnya terjadi nekrosis jaringan sehingga timbul ulkus yang biasanya
dimulai dari ujung kaki atau tungkai. (Misnadiarly, 2006)
Pada penderita DM apabila kadar glukosa darah tidak terkendali
menyebabkan abnormalitas lekosit sehingga fungsi khemotoksis di lokasi




radang terganggu, demikian pula fungsi fagositosis dan bakterisid
menurun sehingga bila ada infeksi mikroorganisme sukar untuk
dimusnahkan oleh system phlagositosis-bakterisid intra selluler.
Pada penderita ulkus diabetika, 50 % akan mengalami infeksi akibat
adanya glukosa darah yang tinggi, yang merupakan media pertumbuhan
bakteri yang subur. Bakteri penyebab infeksi pada ulkus diabetika yaitu
kuman aerobik Staphylokokus atau Streptokokus serta kuman anaerob
yaitu Clostridium perfringens, Clostridium novy, dan Clostridium
septikum. (Riyanto B, 2007)
6. Pencegahan dan Pengelolaan Ulkus diabetik

Pencegahan dan pengelolaan ulkus diabetic untuk mencegah komplikasi
lebih lanjut adalah :
a. Memperbaiki kelainan vaskuler.
b. Memperbaiki sirkulasi.
c. Pengelolaan pada masalah yang timbul ( infeksi, dll).
d. Edukasi perawatan kaki.
e. Pemberian obat-obat yang tepat untuk infeksi (menurut hasil
laboratorium lengkap) dan obat vaskularisasi, obat untuk penurunan
gula darah maupun menghilangkan keluhan/gejala dan penyulit DM.
f. Olah raga teratur dan menjaga berat badan ideal.
g. Menghentikan kebiasaan merokok






h. Merawat kaki secara teratur setiap hari, dengan cara :
1) Selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih.
2) Membersihkan dan mencuci kaki setiap hari dengan air suam-suam
kuku dengan memakai sabun lembut dan mengeringkan dengan
sempurna dan hati-hati terutama diantara jari-jari kaki.
3) Memakai krem kaki yang baik pada kulit yang kering atau tumit
yang retak-retak, supaya kulit tetap mulus, dan jangan menggosok
antara jari-jari kaki (contoh: krem sorbolene).
4) Tidak memakai bedak, sebab ini akan menyebabkan kulit menjadi
kering dan retak-retak.
5) Menggunting kuku hanya boleh digunakan untuk memotong kuku
kaki secara lurus dan kemudian mengikir agar licin. Memotong
kuku lebih mudah dilakukan sesudah mandi, sewaktu kuku lembut.
6) Kuku kaki yang menusuk daging dan kalus, hendaknya diobati
oleh podiatrist. Jangan menggunakan pisau cukur atau pisau biasa,
yang bisa tergelincir; dan ini dapat menyebabkan luka pada kaki.
Jangan menggunakan penutup kornus/corns. Kornus-kornus ini
seharusnya diobati hanya oleh podiatrist.
7) Memeriksa kaki dan celah kaki setiap hari apakah terdapat kalus,
bula,luka dan lecet.
8) Menghindari penggunaan air panas atau bantal panas.






i. Penggunaan alas kaki tepat, dengan cara :
1) Tidak boleh berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir.
2) Memakai sepatu yang sesuai atau sepatu khusus untuk kaki dan
nyaman dipakai.
3) Sebelum memakai sepatu, memerika sepatu terlebih dahulu, kalau
ada batu dan lain-lain, karena dapat menyebabkan iritasi/gangguan
dan luka terhadap kulit.
4) Sepatu harus terbuat dari kulit, kuat, pas (cukup ruang untuk ibu
jari kaki dan tidak boleh dipakai tanpa kaus kaki.
5) Sepatu baru harus dipakai secara berangsur-angsur dan hati-hati.
6) Memakai kaus kaki yang bersih dan mengganti setiap hari.
7) Kaus kaki terbuat dari bahan wol atau katun. Jangan memakai
bahan sintetis, karena bahan ini menyebabkan kaki berkeringat.
8) Memakai kaus kaki apabila kaki terasa dingin.
j. Menghindari trauma berulang, trauma dapat berupa fisik, kimia dan
termis, yang biasanya berkaitan dengan aktivitas atau jenis pekerjaan.
k. Menghidari pemakaian obat yang bersifat vasokonstriktor misalnya
adrenalin, nikotin.
l. Memeriksakan diri secara rutin ke dokter dan memeriksa kaki setiap
control walaupun ulkus diabetik sudah sembuh. (Waspadji S, 2006)







7. Manajemen Perawatan luka diabetik
Dasar dari perawatan ulkus diabetes meliputi beberapa hal yaitu
debridement, offloading, menjaga luka agar selalu lembab (moist), dan
kontrol infeksi.
1. Debridement
Debridement menjadi salah satu tindakan yang terpenting dalam
perawatan luka. Debridement adalah suatu tindakan untuk membuang
jaringan nekrosis, callus dan jaringan fibrotik. Jaringan mati yang
dibuang sekitar 2-3 mm dari tepi luka ke jaringan sehat. Debridement
meningkatkan pengeluaran faktor pertumbuhan yang membantu proses
penyembuhan luka.
Metode debridement yang sering dilakukan yaitu surgical (sharp),
autolitik, enzimatik, kimia, mekanis dan biologis. Metode surgical,
autolitik dan kimia hanya membuang jaringan nekrosis (debridement
selektif), sedangkan metode mekanis membuang jaringan nekrosis dan
jaringan hidup (debridement non selektif).
Surgical debridement merupakan standar baku pada ulkus
diabetes dan metode yang paling efisien, khususnya pada luka yang
banyak terdapat jaringan nekrosis atau terinfeksi. Pada kasus dimana
infeksi telah merusak fungsi kaki atau membahayakan jiwa pasien,
amputasi diperlukan untuk memungkinkan kontrol infeksi dan
penutupan luka selanjutnya.




Debridement enzimatis menggunakan agen topikal yang akan
merusak jaringan nekrotik dengan enzim proteolitik seperti papain,
colagenase, fibrinolisin-Dnase, papainurea, streptokinase,
streptodornase dan tripsin. Agen topikal diberikan pada luka sehari
sekali, kemudian dibungkus dengan balutan tertutup. Penggunaan agen
topikal tersebut tidak memberikan keuntungan tambahan dibanding
dengan perawatan terapi standar. Oleh karena itu, penggunaannya
terbatas dan secara umum diindikasikan untuk memperlambat ulserasi
dekubitus pada kaki dan pada luka dengan perfusi arteri terbatas.
Debridement mekanis mengurangi dan membuang jaringan
nekrotik pada dasar luka. Teknik debridement mekanis yang sederhana
adalah pada aplikasi kasa basah-kering (wet-to-dry saline gauze).
Setelah kain kasa basah dilekatkan pada dasar luka dan dibiarkan
sampai mengering, debris nekrotik menempel pada kasa dan secara
mekanis akan terkelupas dari dasar luka ketika kasa dilepaskan.
2. Offloading
Offloading adalah pengurangan tekanan pada ulkus, menjadi
salah satu komponen penanganan ulkus diabetes. Ulserasi biasanya
terjadi pada area telapak kaki yang mendapat tekanan tinggi. Bed rest
merupakan satu cara yang ideal untuk mengurangi tekanan tetapi sulit
untuk dilakukan
Total Contact Casting (TCC) merupakan metode offloading yang
paling efektif. TCC dibuat dari gips yang dibentuk secara khusus untuk




menyebarkan beban pasien keluar dari area ulkus. Metode ini
memungkinkan penderita untuk berjalan selama perawatan dan
bermanfaat untuk mengontrol adanya edema yang dapat mengganggu
penyembuhan luka.
Meskipun sukar dan lama, TCC dapat mengurangi tekanan pada
luka dan itu ditunjukkan oleh penyembuhan 73-100%. Kerugian TCC
antara lain membutuhkan ketrampilan dan waktu, iritasi dari gips dapat
menimbulkan luka baru, kesulitan untuk menilai luka setiap harinya.
Karena beberapa kerugian TCC tersebut, lebih banyak digunakan Cam
Walker, removable cast walker, sehingga memungkinkan untuk
inspeksi luka setiap hari, penggantian balutan, dan deteksi infeksi dini.
3. Tekhnik dressing pada luka ulkus diabetik
Tehnik dressing pada luka diabetes yang terkini menekankan
metode moist wound healing atau menjaga agar luka dalam keadaan
lembab. Luka akan menjadi cepat sembuh apabila eksudat dapat
dikontrol, menjaga agar luka dalam keadaan lembab, luka tidak
lengket dengan bahan kompres, terhindar dari infeksi dan permeabel
terhadap gas. Tindakan dressing merupakan salah satu komponen
penting dalam mempercepat penyembuhan lesi.
Prinsip dressing adalah bagaimana menciptakan suasana dalam
keadaan lembab sehingga dapat meminimalisasi trauma dan risiko
operasi. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam
memilih dressing yang akan digunakan, yaitu tipe ulkus, ada atau




tidaknya eksudat, ada tidaknya infeksi, kondisi kulit sekitar dan biaya.
Ada beberapa jenis dressing yang sering dipakai dalam perawatan luka,
seperti: hydrocolloid, hydrogel, calcium alginate, foam, kompres anti
mikroba, dan sebagainya. Ovington memberikan pedoman dalam
memilih dressing yang tepat dalam menjaga keseimbangan
kelembaban luka :
a. Kompres harus mampu memberikan lingkungan luka yang lembab
b. Gunakan penilaian klinis dalam memilih kompres untuk luka luka
tertentu yang akan diobati.
c. Kompres yang digunakan mampu untuk menjaga tepi luka tetap
kering selama sambil tetap mempertahankan luka bersifat lembab
d. Kompres yang dipilih dapat mengendalikan eksudat dan tidak
menyebabkan maserasi pada luka.
e. Kompres yang dipilih bersifat mudah digunakan dan yang bersifat
tidak sering diganti
f. Dalam menggunakan dressing, kompres dapat menjangkau rongga
luka sehingga dapat meminimalisasi invasi bakteri.
g. Semua kompres yang digunakan harus dipantau secara tepat.
4. Penanganan Infeksi
Ulkus diabetes memungkinkan masuknya bakteri, serta
menimbulkan infeksi pada luka. Karena angka kejadian infeksi yang
tinggi pada ulkus diabetes, maka diperlukan pendekatan sistemik untuk
penilaian yang lengkap. Diagnosis infeksi terutama berdasarkan




keadaan klinis seperti eritema, edema, nyeri, lunak, hangat dan
keluarnya nanah dari luka.
Penentuan derajat infeksi menjadi sangat penting. Menurut The
Infectious Diseases Society of America membagi infeksi menjadi 3
kategori, yaitu:
a. Infeksi ringan : apabila didapatkan eritema < 2 cm
b. Infeksi sedang: apabila didapatkan eritema > 2 cm
c. Infeksi berat : apabila didapatkan gejala infeksi sistemik.
Ulkus diabetes yang terinfeksi dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Non-limb threatening : selulitis < 2cm dan tidak meluas sampai tulang
atau sendi.
b. Limb threatening : selulitis > 2cm dan telah mencapai tulang atau
sendi serta adanya infeksi sistemik.
Penelitian mengenai penggunaan antibiotika sebagai terapi ulkus
diabetes masih sedikit, sehingga sebagian besar didasarkan pada
pengalaman klinis. Terapi antibiotik harus didasarkan pada hasil kuftur
bakteri dan kemampuan toksistas antibiotika tersebut (http://www.
Jurnal -medica.com)
B. Tinjauan Umum tentang Modern Dressing
1. Pengertian Modern Dressing
Perawatan luka modern adalah teknik perawatan luka dengan menciptakan
kondisi lembab pada luka sehingga dapat membantu proses epitelisasi dan
penyembuhan luka, menggunakan balutan semi occlusive, full occlusive




dan impermeable dressing berdasarkan pertimbangan biaya (cost),
kenyamanan (comfort), keamanan (safety) dalam Schulitz, et al. 2005;
Hana, 2009; Saldy, 2011 (http://www.perawatanlukapekanbaru.com).
2. Manfaat dari Perawatan Luka
a. Mencegah luka menjadi kering dan keras.
b. Menurunkan nyeri saat ganti balutan.
c. Meningkatkan laju epitelisasi.
d. Mencegah pembentukan jaringan parut
e. Dapat menurunkan kejadian infeksi.
f. Balutan tidak perlu diganti setiap hari (Cost effective).
g. Memberikan keuntungan psikologis.
h. Mudah digunakan dan aman, dalam Schulitz, et al. 2005., Hana, 2009.,
Saldy, 2010 (http://www.perawatanlukapekanbaru.com).
3. Jenis dan Kegunaan Modern Dressing
a. Transparant Films Dressing
Film dressing terbuat dari polyurethane memiliki sifat tipis,
transparent, dan merekat. Transparan film memungkinkan transmisi
uap air, oxygen dan karbondioksida namun tidak memiliki sifat
absorben sehingga tidak tepat digunakan pada luka dengan eksudat.
Umumnya digunakan untuk balutan intravena dan fiksasi kateter.
Keistimewaan film dressing karena hanya merekat pada daerah yang
kering sehingga tidak berpotensi mengganggu dasar luka (wound bed),
meskipun demikian perlu hati-hati saat menggunakan dalam fase




epitelisasi sebab aplikasi film dressing bisa melepaskan epitel-epitel
yang masih muda. Contoh Film; Op-Site (Smith and Nephew).,
Polyskin (Kendall Healthcare).
1) Transparan, perkembangan penyembuhan luka dapat di monitor
tanpa membuka pembalut
2) Tidak tembus bakteri dan air, elastis dan tahan air, sehingga bisa
dipakai pada saat mandi
3) Ekonomis, tidak memerlukan penggantian balutan dalam jangka
waktu yang pendek. (http://www.etncentre.co.id)







b. Hydrocolloids
Hydrocolloid sebenarnya sudah digunakan secara luas sejak
tahun 1982 dan risetnya sudah dimulai sejak tahun 1970an, jadi istilah
modern dressing sebenarnya kurang tepat. Beberapa wound expert
menyatakan bahwa hydrocolloid merupakan balutan yang hampir
memenuhi semua kriteria balutan ideal. Hydrocolloid memiliki sifat
impermeable terhadap cairan dan oksigen, balutan ini mengandung




partikel hydroactive (hydrophilic) yang terikat dalam polymer
hydrophobic. Partikel hydrophilic-nya mengabsorbsi kelebihan
kelembaban pada luka dan menkonversikannya ke dalam bentuk gel.
1) Menjaga kestabilan kelembaban luka dan daerah sekitar luka
bersamaan dengan fungsinya sebagai penyerap cairan luka.
2) Pembalut dapat diganti tanpa menyebabkan trauma atau rasa sakit,
dan tidak lengket pada luka.
3) Nyaman untuk permukaan kulit.
4) Ekonomis dan hemat waktu pengobatan, meminimalkan
penggantian pembalut dibanding dengan menggunakan pembalut
konvensional (tahan 5-7 hari tanpa penggantian pembalut baru
tergantung karakter eksudat). (http://www.etncentre.co.id)







c. Hydrogel
Hydrogels merupakan polymer dengan kandungan air 90-95 %, cross
linked CMC polymer 2,3% (memberikan stabilitas pada gel, memberi
bentuk pada gel dan sedikit meyerap eksudat), propylene glycol 20%
(membantu penetrasi gel, mencegah terjadinya evaporasi dan




mempunyai efek bakteriostatik). Dressing ini memiliki sifat semi
transparant dan nonadherent. Di pasaran hydrogel tersedia dalam
bentuk pasta dan lembaran (sheet). Bentuk lembaran sangat
comformable sehingga bisa mengikuti tekstur luka dan dapat
mengabsorbsi eksudat dalam jumlah sedikit atau sedang. Karena
sifatnya yang tidak lengket maka tidak menimbulkan nyeri saat
pergantian balutan namun sifat ini pula yang mengharuskan hydrogel
didampingi oleh balutan sekunder. Contoh Hydrogels; Nu-Gel
(Johnson & Johnson Medical, Inc)., Hypergel (Molnlyncke), dan
Intrasite Gel (Smith and Nephew). (http://www.etncentre.co.id)
Berfungsi sebagai :
1) Menciptakan lingkungan luka yang tetap lembab
2) Lembut dan fleksibel untuk segala jenis luka
3) Melunakkan dan menghancurkan jaringan nekrotik, tanpa merusak
jaringan sehat
4) Mengurangi rasa sakit karena mempunyai efek pendingin










d. Calcium Alginate
Calcium Alginate adalah bahan topikal yang terbuat dari rumput
laut (algae) dan telah ada sejak 1984. Manfaat rumput laut telah
diketahui sejak berabad-abad yang lalu dan rumput laut dikenal
sebagai penyembuh pelaut/mariners. Serat calcium dan sodium
alginate memiliki kemampuan menyerap cairan, tidak merekat pada
luka dan dapat terjadi pertukaran udara. Saat bertemu cairan, serat
berubah bentuk menjadi hidrophilic gel.
Kelebihan bahan topikal ini adalah mempercepat proses granulasi
dan setiap bercampur dengan cairan luka akan berubah menjadi gel
sehingga mudah dilepas dan tidak menimbulkan sakit saat penggantian
balutan. Saat calcium alginate (calcium ion) kontak dengan luka yang
mengandung cairan luka (sodium ion) terjadi pertukaran ion sehingga
dapat menghintakan perdarahan pada luka yang mudah berdarah dan
meningkatkan hemostasi. Kemampuan koagulasi bervariasi yang
bergantung pada jumlah residu manuronik dan guluronik pada balutan
dan alginate mengandung zinc ion yang memiliki efek koagulasi
protombotic dan aktifasi trombosit. Fungsi lain bahan topikal ini
adalah sebagai hemostatik pada perdarahan minor walaupun beberapa
literatur masih belum mendukung secara pasti kemampuan calcium
alginate mengikat calcium ionya dalam reaksi koagulasi. Calcium
alginate memiliki kemampuan menyerap cairan luka (eksudate)
sedang hingga banyak. Akan tetapi setiap produk perusahaan




mengeluarkan tipe dan kemampuan daya serap yang berbeda-beda.
Sebagian besar produk hanya memiliki kemampuan menyerap eksudat
sedikit hingga sedang.
Lembaran topikal ini juga dapat berfungsi sebagai barrier yang
meminimalkan kontaminasi bakteri, terutama pseudomonas. Produk
yang ada di pasaran dalam dan luar negeri berbentuk lembaran, pita
atau ropes, bahkan kini ada yang digabung dengan silver dan foam.
Bentuk ropes biasanya digunakan untuk mengisi rongga atau jika ada
goa (undermining) pada luka.
Cara penggunaan calcium alginate mudah. Setelah dibersihkan,
letakkan calcium alginate pada luka yang memiliki eksudate.
Disarankan untuk tidak menggunakan calcium alginate pada luka yang
kering karena tidak akan bermanfaat pada penyembuhan luka. Calcium
alginate sangat cocok untuk digunakan untuk luka bakar derajat II
(epidermis telah terangkat) hingga derajat III, calcium alginate dapat
diaplikasikan selama 7 hari. (Arisanti, 2013)











e. Foam
Foam dressing juga tersusun oleh polyurethane foam dan sangat
comformable, permeable, non adherent serta mudah diaplikasikan
pada luka, tersedia dalam kemasan sheets (lembaran) atau cavity
filling. Contoh foam antara lain Allevyn, Hydrasorb (Convatec) dan
Cutinova (Beirsdeorf-Jobst, Inc). (http://www.etncentre.co.id)
Fungsi foam :
1) Foam memiliki kapasitas yang tinggi untuk mengabsorbsi eksudat
yang banyak.
2) Foam juga mampu menyerap kelebihan kelembaban sehingga
mengurangi resiko maserasi.
3) Tidak menimbulkan nyeri dan trauma pada jaringan luka saat
penggantian. (http://perawatanlukapekanbaru.com)




f. Cutimed Sorbact
Menggunakan prinsip fisik interaksi hidrofobik. Dressing yang
dilapisi dengan turunan asam lemak (DACC) memberi mereka sifat-
sifat yang sangat hidrofobik. Dalam lingkungan lembab luka yang
terinfeksi, bakteri akan tertarik dan menjadi ireversibel terikat. Oleh




karena itu dressing ini mengangkat juga menghilangkan bakteri pada
luka. (Arisanti, 2013)





g. Cutimed Siltec
Merupakan polyurethane foam dressing yang mengandung
partikel penyerap dengan kemampuan yang super sehingga dapat
menyerap eksudat pada luka dengan maksimal. Permukaannya yang
kontak dengan luka adalah lapisan silicone yang berlubang Lapisan ini
memberikan tekanan adhesi yang lembut pada bagian kulit sekitar luka
tetapi tidak membasahi permukaan luka atau lapisan epidermis pada
proses penyembuhan luka. hal ini dapat mengurangi terjadinya trauma
dan rasa sakit selama pergantian balutan. Lapisan film bagian luar
bersifat water-repellent yang juga bersifat permeable bagi pertukaran
oksigen maupun gas. Dengan indikasi:
1) Luka bereksudat sedang sampai banyak
2) Ulkus vena, arteri, ganggren, pressure sore ataupun skin
grafts. (Arisanti, 2013)






h. Hydrocellulose
Hydrocellulose atau dikenal dengan hydrofiber merupakan jenis
terapi topical yang terbuat dari selulosa dengan daya serap sangat
tinggi melebihi kemampuan daya serap calcium alginate.
Hydrocellulose terbuat dari NaCMC 100% dan memiliki kemampuan
gel lock sehingga dapat mengikat kuman dalam jumlah tertentu.
Keuntungannya adalah tidak mudah koyak/larut sehingga sangat
mudah melepasnya dan dapat mengikat bakteri. Bahan ini dipatenkan
oleh convanTec dengan nama yang ada di pasaran Aquacel. Balutan
ini berfungsi sebagai balutan sekunder dan pada kondisi tertentu
menjadi balutan primer. Direkomendasikan dasar luka merah, dapat
menyerap eksudat sedang, banyak, hingga sangat banyak. (Arisanti,
2013)
Aquacel Ag berfungsi sebagai :
1) Mengunci exudate luka dan menjebak bakteri di dalam balutan.
a) Membantu melindungi kulit di sekitar luka dan mengurangi
maserasi
b) Membantu meminimalkan infeksi silang dan resiko infeksi luka
selama pelepasan balutan
2) Mengikuti mikro-kontur di dasar luka.
a) Meminimalkan ruang mati (dead space) di mana bakteri
berkembang biak.
b) Mempertahankan keseimbangan kelembaban di dasar luka.




3) Bereaksi terhadap kondisi luka melalui pembentukan jeli-kohesif
a) Tambahan ion perak (ionic silver) memberikan aktivitas
antimikroba yang cepat dan terus menerus.
b) Meminimalkan nyeri yang berhubungan dengan ganti balutan.
Waktu pemakaian aquacel lebih lama dibandingkan dengan
balutan gauze atau alginate :
1) Pergantian balutan tidak setiap hari.
2) Pergantian balutan aquacel yang lebih lama akan mngurangi rasa
sakit pada luka.
Aquacel ideal untuk beberapa tipe luka, yaitu :
1) Luka akut dan kronis
2) Luka tekan
3) Luka kaki pembuluh vena
4) Luka kaki pembuluh arteri
5) Luka diabetes melitus
6) Luka paska operasi
7) Luka traumatik
8) Luka bakar tingkat kedua









i. Absorben : Kasa/Gamgee/Low Adherent (LA)
Jenis terapi topikal ini berupa tumpukan bahan balutan yang tebal,
di dalamnya terdapat kapas dengan daya serap cukup tinggi, dan jika
bercampur dengan cairan luka, dapat berubah menjadi gel. Contoh
produknya adalah disposable pampers dan undrepad atau pembalut
wanita. Direkomendasikan pada luka yang dasarnya hitam, kuning,
merah. Dan dapat menyerap eksudat sedikit hingga sedang tetapi tidak
dapat membunuh kuman dan jamur (Arisanti, 2013).






j. Zinc Oxide Topikal
Zinc oxide memiliki ikatan kimia ZnO, Z untuk zink dan O untuk
oksigen. Artinya, zinc oxide terdiri atas satu atom zink dan satu atom
oksigen yang saling berikatan. Ada sekitar 300 enzim yang
membutuhkan zink dalam kegiatannya sebagai mineral esensial dalam
pembentukan sintesis DNA, sintesis protein pergantian dan perbaikan
jaringan. Defisiensi zink dapat menyebabkan gangguan dalam
penyembuhan luka, terutama penurunan jumlah protein dan sintesis
kolagen selama proses penyembuhan luka. Saat proses penyembuhan




luka, terjadi peningkatan kebutuhan zink terutama pada fase inflamasi
dan proliferasi. Direkomendasikan dengan dasar luka hitam, kuning
dan merah, tidak dapat menyerap eksudat dan tidak dapat membunuh
kuman, kecuali dikombinasikan dengan antimikroba. (Arisanti, 2013)






k. Epitel Salf
Mengandung Vitamin C, Vitamin A dan Metronidazol. Dimana
Vitamin C sangat berperan dalam produksi fibroblast, angiogenesif
dan respon imun. Vitamin C dapat ditemukan pada kiwi, black carrent,
stroberi dan jeruk. Pada Vitamin A dapat mendukung epitelisasi dan
sintesis kolagen dan berfungsi sebagai antioksidan. Vitamin A dapat
ditemukan pada cod liver oil, jeruk dan sayuran hijau dan
metronidazole sebagai antimokroba.









l. Metcovasin
Jenis topical therapy dengan paten wocare klinik, sangat mudah
digunakan karena hanya tinggal mengoles saja, bentuk salep berwarna
putih dalam kemasan. Berfungsi untuk support autolysis debridement,
menghindari trauma saat membuka balutan , mengurangi bau tidak
sedap, mempertahankan suasana lembab dan support granulasi.
Mecovazin memiliki keunggulan karena dapat dipakai untuk semua
warna dasar luka dan mempersiapkan dasar luka menjadi sehat.
Ada beberapa jenis metcovazin, diantaranya adalah :
1) Metcovazin regular
Topikal therapy atau salep luka untuk jaringan nekrosis hitam dan
kuning tanpa infeksi. Bahan aktif : Metronidazole dan Zinc.
2) Metcovazin Gold
Topical Therapy atau salep luka untuk semua jenis warna dasar
luka yang terinfeksi, karena ada kandungan iodine-cadexomer
sebagai zat yang signifikan menurunkan infeksi. Bahan aktif :
Metcovazin Reguler plus iodine-cadexomer.









3) Metcovazin Red
Topical therapy atau salep luka untuk jaringan yang granulasi
merah, karena ada kandungan hydrocoloid. Bahan aktif :
Metcovazin Reguler plus Hydrocoloid.