Anda di halaman 1dari 1

Kelainan hematologi pada demam berdarah dengue dapat berupa vaskulopati, koagulopati,

trombositopenia, peningkatan jumlah hematokrit dan hemoglobin, lekopeni, koagulasi


intravaskular diseminata serta penekanan sumsum tulang. Kelainan hematologi yang timbul pada
demam berdarah dengue dan beberapa infeksi virus lainnya terjadi karena respon dari system
imun pejamu terhadap infeksi virus dengue dan melibatkan proses interaksi beberapa sitokin
proinflamasi. Perdarahan merupakan manifestasi klinis yang penting pada demam berdarah
dengue. Dalam patogenesis demam dengue, salah satunya adalah adanya perembesan vaskuler
atau plasma leakage yang menyebabkan plasma darah intravaskuler merembes ke ekstravaskuler
sehingga menyebabkan hemokonsentrasi di dalam intravaskuler yang mana dalam pemeriksaan
laboratorium ditandai dengan peningkatan nilai hematokrit. Selain itu, pada demam dengue juga
terjadi trombositopeni atau penuruan nilai trombosit yang dapat mencapai < 100.000. Beberapa
mekanisme yang menyebabkan turunnya nilai trombosit adalah karena degradasi produksi
trombosit di sumsum tulang dan adanya mekanisme penghancuran trombosit secara langsung
oleh immunoglobulin G atau Platelet Associated Ig-G. Trombosit sendiri fungsinya sangat
penting dalam tubuh yang mana berperan dalam recovery cidera vaskuler dan dalam mekanisme
penjendalan darah. Sehingga ketika terjadi penurunan nilai trombosit maka individu tersebut
(terutama dalam hal ini adalah individu yang terserang demam dengue) akan rentan sekali terjadi
perdarahan, mulai dari perdarahan ringan hingga berat atau massif sehingga dapat mengancam
kehidupan. Salah satu manifestasi perdarahan tersebut adalah timbulnya epistaksis atau mimisan,
perdarahan gusi, perdarahan bawah kulit mulai dari patekie (titik kecil) yang paling ringan,
hingga ekimosis dan purpura yang merupakan perdarahan bawah kulit yang cukup luas/berat.
Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan
memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam pemberian terapi
cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun
laboratoris. Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi
antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma
akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Protokol
pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DBD dewasa mengikuti 5 protokol,
mengacu pada protokol WHO. Protokol ini terbagi dalam 5 kategori, yaitu : Penanganan
tersangka DBD tanpa syok, Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat,
Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit >20%, Penatalaksanaan perdarahan
spontan pada DBD dewasa, Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa. Pada kasus laki-
laki usia 40 tahun datang ke RS dengan keluhan febris sejak 5 hari SMRS. Disertai menggigil.
Malaise myalgia, artralgia, cephalgia, nausea, vomitus dengan frekuensi 5x, banyaknya
gelas belimbing, nyeri epigastrium, petekie pada ekstremitas atas, BAB cair dan berwarna hitam.
Riwayat sakit maag. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD : 110/90 mmHg, nadi : 100 x/menit,
suhu : 39,2
o
C RR : 20 x/menit, nyeri tekan epigastrium (+), uji tourniquet (+) hepatomegali (+).
Pemeriksaan penunjang didapatkan Hb : 12,1 mg/dl, leukosit : 2,76 ribu/l, trombosit : 97
ribu/l. dapat di diagnosis dengan febris e.c dengue hemorraghic fever. Pada kasus ini dapat
dsimpulkan trombositopenia pada pasien ini dapat di lakukan protokol pemberian cairan
tersangka DBD dewasa di ruang rawat dengan infuse kristaloid dan pantau Hb, HT, dan
trombosit/ 12 jam.