Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang beriklim tropis. Sebagai Negara
tropis yang sangat luas, Indonesia merupakan surga bagi pohon
kelapa (Cocos nucifera L.). Pohon ini hampir ditemukan di seluruh wilayah
Indonesia. Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan jenis tanaman yang
memiliki nilai ekonomis tinggi karena hampir semua bagian tanaman kelapa
dapat memberikan manfaat bagi manusia. Philipine Coconut Autorithy (2005)
pohon kelapa (Cocus Nucifera L.) disebut The Tree of Life yang artinya
pohon kehidupan, karena berbagai produk dihasilkan dari hampir seluruh
bagian-bagiannya. Makanan, bahan bakar, dan berbagai produk lain dapat
diproduksi dari kelapa (Cocus nucifera L.)
Alamsyah (2005:1), total luas areal perkebunan kelapa (Cocus nucifera
L.) di Indonesia yang mencapai 3,712 ha (31,4 %), dan merupakan luas areal
perkebunan kelapa terbesar di dunia. Kemudian Asian Pacific Coconut
Community, APCC (2010), luas lahan perkebunan kelapa (Cocus nucifera L.) di
Indonesia mencapai 3,799 juta Ha. Philipina adalah negara terbesar kedua
setelah Indonesia dengan luas perkebunan kelapa (Cocus nucifera L.) mencapai
3,380 juta ha. Namun Indonesia kalah jauh dari philipina dan negara-negara
penghasil kelapa (Cocus nucifera L.) lain dari sisi perolehan devisa. Hal ini
terjadi karena sebagian besar hasil sumber dayanya masih berupa produk primer,
belum diolah secara maksimal.
Komoditas kelapa (Cocus nucifera L.) di Indonesia selama ini hanya
dimanfaatkan produk primernya saja, baik dalam bentuk
kelapa (Cocus nucifera L.) segar maupun kopra untuk bahan baku minyak
goreng (minyak kelapa, Cocous nucifera L.). pengembangan dan pemanfaatan
produk hilir kelapa (Cocus nucifera L.) belum banyak dilakukan, yang pada
gilirannya akan dapat meningkatkan pendapatan petani kelapa (Cocus nucifera
L.)
(Nasir, 2013:2,23).
Minyak kelapa sudah lama dikenal di Indonesia sejak lama. Umunya
minyak kelapa diproduksi dengan cara yang masih tradisional, santan diuapkan
airnya sehingga terbentuk minyak kelapa dan gumpalan protein. Pada proses ini
protein cenderung akan terdenaturasi karena penggunaan energy panas yang
cukup tinggi dalam proses penguapan tersebut. Pemanasan dengan suhu yang
cukup tinggi tesebut juga akan merubah warna menjadi coklat. Pada Industri
yang lebih besar yang menggunakan kopra dalam pembuatan minyak kelapa.
Kopra diproses memlalui refining, bleahing dan deodorizing, RBD. Dalam
proses RBD juga menggunakan suhu yang sangat tinggi.
Dewasa ini telah dikembangkan beberapa metode dalam pembuatan
minyak kelapa yang dapat mengurangi kerugian-kerugian di atas. Metode-
metode ini tidak melalui proses RBD. Metode ini mengekstrak santan dari
minyak kelapa segar dengan mengemulsi santan kelapa. Proses ini lebih ramah,
tidak menggunakan bahan kimia dan penggunaan suhu yang tinggi untuk
menghasilkan minyak kelapa. Produk minyak kelapa dengan metode ini dikenal
dengan sebagai minyak kelapa murni (virgin coconut oil, vco).
VCO mengacu pada minyak yang dibuat dari kelapa muda segar
dengan cara mekanik atau alami, tanpa menggunakan suhu tinggi dan
pemurnian bahan kimia. Jadi perbedaanya, minyak kelapa biasa diperoleh
dari kopra dengan cara pemanasan dan pemurnian dengan bahan kimia,
sedangkan minyak kelapa murni diperoleh dari kelapa segar tanpa proses
pemanasan. Maka minyak kelapa murni biasanya tidak digunakan untuk
menggoreng tetapi langsung diminum sebagai makanan kesehatan
(Silalahi dan Nurbaya, 2011:3).
VCO telah menyita banyak perhatian publik. Berbagai manfaat dan
khasiat dari VCO menyebar dengan cepat. Banyak penelitian-penetian baru
yang terus bertambah tentang VCO. Ketersedian VCO telah meningkatkan
pasar di Asia Tenggara (Marina, dkk, 2009:481(20)) (Virgin coconut oil :
Emerging functional food oil,Food science & technology). Dengan
meningkatnya pasar di Asia Tenggara dapat membuka kesempatan bagi
Indonesia yang merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, untuk bersaing
dengan Negara produsen kealapa lain dalam meningkatkan pendapatan
petani kelapa yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan Negara.
Produksi VCO dapat dilakukan dengan tiga cara, mekanik, provocasi
dan enzimatik. Produksi VCO dengan enizimatik sangat mudah, diantaranya
yaitu dengan menggunaan miikroorganisme untuk memisahkan minyak dari
karbohidrat dan protein yang terdapat dalam sel-sel endosperm biji kelapa.
Metode ini dikenal dengan fermentasi. Mikroorganisme ragi roti
(Saccharomyces cerevisiae) dan ragi tempe (Rhizopus oligosporus)
merupakan dua diantara beberapa mikroorganisme yang memproduksi enzim
protease. Disamping itu kedua ragi ini murah dan juga mudah diperoleh
karena banyak terdapat di pasar-pasar perkotaan dan pedesaan. Sehingga
dapat dilakukan oleh semua petani kelapa termasuk di industry pedesaan dan
industri rumah tangga.
Enzim protease merupakan golongan hydrolase yang dapat memecah
protein menjadi molekul yang lebih sederhana. Sehingga dapa digunakan
dalam fermentasi VCO. Hal ini ditegaskan oleh Winarno (1983) dalam
Djajasoepena dkk (2011) bahwa Enzim yang diproduksi oleh ragi termasuk
enzim invertase dan protease. Invertase menghidrolisis sukrosa menhasilkan
glukosa dan fruktosa yang berfungsi menyederhanakan gula, sedangkan
protease berfungsi menghancurkan protein.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh variasi jumlah penambahan inokulum terhadap
kualitas dan kuantitas VCO yang difermentasi menggunakan
Saccharomyces cerevisiae dan Rhizopus oligosporus ?
2. Apakah ada mengetahui pengaruh variasi jumlah penambahan inokulum
terhadap kualitas dan kuantitas VCO yang difermentasi menggunakan
Rhizopus oligosporus ?
3. Apakah pengaruh asam lemak yang terkandung pada produk akhir VCO
pada manusia ?
4. Apakah ada perbedaan kualitas dan kuantitas antara produk VCO yang
difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan Rhizopus
oligosporus ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah penambahan inokulum terhadap
kualitas dan kuantitas VCO yang difermentasi menggunakan
Saccharomyces cerevisiae
2. Untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah penambahan inokulum terhadap
kualitas dan kuantitas VCO yang difermentasi menggunakan Rhizopus
oligosporus
3. Untuk menginvestigasi asam lemak yang terkandung pada produk akhir
VCO
4. Untuk mengetahui perbandingan kualitas dan kuantitas antara produk VCO
yang difermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan
Rhizopus oligosporus
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Data yang diperoleh memberikan sumbangan pada ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) yang dapat digunakan oleh pihak lain (industri kecil),
untuk memproduksi VCO dengan proses fermentasi.
2. Hasil penelitian ini diharapkan akan menambah pengetahuan masyarakat
tentang metode apa yang cocok dalam pembuatan minyak kelapa murni
dengan kualitas yang baik dan dengan jumlah hasil yang banyak.