Anda di halaman 1dari 21

Pendidikan Biologi

Universitas PGRI
Ronggolawe
(UNIROW) Tuban
Sebagai manusia ciptaan Allah, kita harus menyadari bahwa kita harus
menggunakan ilmu secara benar untuk kebaikan semua makhluk yang ada
dan untuk kelestarian bumi. Demikian pula halnya dengan mempelajari biologi
yang sangat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Selamat belajar ilmu
biologi semoga blog ini bermanfaat bagi kalian
Senin, 23 Desember 2013
Makalah Etilen

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang
rendah mempengaruhi proses-proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutama tentang
proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses-proses lain seperti
pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon
tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga disebut fitohormon, tetapi istilah ini lebih
jarang digunakan. Istilah hormon ini berasal dari bahasa Gerika yang berarti pembawa pesan
kimiawi (Chemical messenger) yang mula-mula dipergunakan pada fisiologi hewan. Dengan
berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industri kimia maka ditemukan
banyak senyawa-senyawa yang mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon
tanaman. Senyawa-senyawa sintetik ini pada umumnya dikenal dengan nama zat pengatur
tumbuh tanaman (ZPT = Plant Growth Regulator). Tentang senyawa hormon tanaman dan zat
pengatur tumbuh, Moore (2) mencirikannya sebagai berikut :
1. Fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam
jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada umumnya ditranslokasikan
kebagian lain tanaman dimana senyawa tersebut, menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia,
fisiologis dan morfologis.
2. Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (<
1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
3. Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umum dan tidak ada
selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan. Pertumbuhan, perkembangan, dan
pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal
sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah "hormon" sendiri menggunakan
analogi fungsi hormon pada hewan dan tumbuhan.Sebagaimana pada hewan,
hormon tumbuhan juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli
berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon
endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian
zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar
sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh(bahasa Inggris
plant growth regulator). Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan
berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan.
Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif
akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari
proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup jenisnya.
Retardan. Cathey (1975) mendefinisikan retar dan sebagai suatu senyawa organik yang
menghambat perpanjangan batang, meningkatkan warna hijau daun, dan secara tidak langsung
mem-pengaruhi pembungaan tanpa menyebabkan pertumbuhan yang abnormal. Sinyal kimia
interseluler untuk pertama kali ditemukan pada tumbuhan. Konsentrasi yang sangat rendah dari
senyawa kimia tertentu yang diproduksi oleh tanaman dapat memacu atau menghambat
pertumbuhan atau diferensiasi pada berbagai macam sel-sel tumbuhan dan dapat mengendalikan
perkembangan bagian-bagian yang berbeda pada tumbuhan. Dengan menganalogikan
senyawa kimia yang terdapat pada hewan yang disekresi oleh kelenjar ke aliran darah yang
dapat mempengaruhi perkembangan bagian-bagian yang berbeda pada tubuh, sinyal kimia pada
tumbuhan disebut hormon pertumbuhan. Namun, beberapa ilmuwan memberikan definisi yang
lebih terperinci terhadap istilah hormon yaitu senyawa kimia yang disekresi oleh suatu organ
atau jaringan yang dapat mempengaruhi organ atau jaringan lain dengan cara khusus. Berbeda
dengan yang diproduksi oleh hewan senyawa kimia pada tumbuhan sering mempengaruhi sel-sel
yang juga penghasil senyawa tersebut disamping mempengaruhi sel lainnya, sehingga senyawa-
senyawa tersebut disebut dengan zat pengatur tumbuh untuk membedakannya dengan hormon
yang diangkut secara sistemik atau sinyal jarak jauh.
Ahli biologi tumbuhan telah mengidentifikasi 5 tipe utama ZPT yaitu auksin,
sitokinin,giberelin, asam absisat dan etilen. Tiap kelompok ZPT dapat menghasilkan beberapa
pengaruh yaitu kelima kelompok ZPT mempengaruhi pertumbuhan, namun hanya 4 dari 5
kelompok ZPT tersebut yang mempengaruhi perkembangan tumbuhan yaitu dalam hal
diferensiasi sel. Seperti halnya hewan, tumbuhan memproduksi ZPT dalam jumlah yang sangat
sedikit, akan tetapi jumlah yang sedikit ini mampu mempengaruhi sel target. ZPT menstimulasi
pertumbuhan dengan memberi isyarat kepada sel target untuk membelah atau memanjang,
beberapa ZPT menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat pembelahan atau
pemanjangan sel. Sebagian besar molekul ZPT dapat mempengaruhi metabolisme dan
perkembangan sel-sel tumbuhan. ZPT melakukan ini dengan cara mempengaruhi lintasan sinyal
tranduksi pada sel target. Pada tumbuhan seperti halnya pada hewan, lintasan ini menyebabkan
respon selular seperti mengekspresikan suatu gen, menghambat atau mengaktivasi enzim, atau
mengubah membran.Pengaruh dari suatu ZPT bergantung pada spesies tumbuhan, situs aksi
ZPT pada tumbuhan, tahap perkembangan tumbuhan dan konsentrasi ZPT. Satu ZPT tidak
bekerja sendiri dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, pada
umumnya keseimbangan konsentrasi dari beberapa ZPT-lah yang akan mengontrol pertumbuhan
dan perkembangan tumbuhan.
ZPT FUNGSINYA TEMPAT
DIHASILKANDAN
LOKASINYA PADA
TUMBUHAN
Auksin

Mempengaruhi pertambahan panjang batang,
pertumbuhan, diferensiasi dan percabangan
akar; perkembangan buah; dominansi apikal;
fototropisme dan geotropisme.
Meristem apikal tunas
ujung, daun
muda, embrio dalam
biji.

Sitokinin

Mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi
akar; mendorong pembelahan sel dan
pertumbuhan secara umum, mendorong
perkecambahan; dan menunda penuaan.
Pada akar, embrio
dan buah, berpindah dari akar
ke organ
lain.
Giberelin

Mendorong perkembangan biji, perkembangan
kuncup, pemanjangan batang dan pertumbuhan
daun; mendorong pembungaan dan
perkembangan buah; mempengaruhi
pertumbuhan dan diferensiasi akar.
Meristem apikal tunas
ujung dan akar;
daun muda; embrio.
Asam
absisat
(ABA)

Menghambat pertumbuhan; merangsang
penutupan stomata pada waktu kekurangan air,
memper-tahankan dormansi.
Daun; batang, akar,
buah berwarna
hijau.
Etilen Mendorong pematangan; memberikan pengaruh
yang berlawanan dengan beberapa pengaruh
auksin; mendorong atau menghambat
pertumbuhan dan? perkembangan akar, daun,
batang dan bunga.
Buah yang matang,
buku pada batang,
daun yang sudah
menua.
Pada umumnya, hormon mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, dengan
mempengaruhi : pembelahan sel, perpanjangan sel, dan differensiasi sel. Beberapa hormon, juga
menengahi respon fisiologis berjangka pendek dari tumbuhan terhadap stimulus lingkungan.
Setiap hormon, mempunyai efek ganda; tergantung pada : tempat kegiatannya, konsentrasinya,
dan stadia perkembangan tumbuhannya.Hormon tumbuhan, diproduksi dalam konsentrasi yang
sangat rendah; tetapi sejumlah kecil hormon dapat membuat efek yang sangat besar terhadap
pertumbuhan dan perkembangan organ suatu tumbuhan. Hal ini secara tidak langsung
menyatakan bahwa, sinyal hormonal hendaknya diperjelas melalui beberapa cara. Suatu hormon,
dapat berperan dengan mengubah ekspresi gen, dengan mempengaruhi aktivitas enzim yang ada,
atau dengan mengubah sifat membran. Beberapa peranan ini, dapat mengalihkan metabolisme
dan pekembangan sel yang tanggap terhadap sejumlah kecil molekul hormon. Lintasan
transduksi sinyal, memperjelas sinyal hormonal dan meneruskannya ke respon sel
spesifik.Respon terhadap hormon, biasanya tidak begitu tergantung pada jumlah absolut hormon
tersebut, akan tetapi tergantung pada konsentrasi relatifnya dibandingkan dengan hormon
lainnya. Keseimbangan hormon, dapat mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan
daripada peran hormon secara mandiri. Interaksi ini akan menjadi muncul dalam penyelidikan
tentang fungsi hormon.









1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini
yaitu:
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan ethilen!
2. Dari mana sumber etilen?
3. Apa manfaat etilen bagi tumbuhan ?
4. Jelaskan peranan etilen!

1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Menjelaskan pengertian ethilen.
2. Menjelaskan dari mana sumber etilen.
3. Menjelaskan manfaat etilen bagi tumbuhan.
4. Menjelaskan peranan hormon etilen.












BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ethylene
Ethylene adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan Auksin,
Gibberellin, dan Cytokinin. Dalam keadaan normal ethylene akan berbentuk gas dan struktur
kimianya sangat sederhana sekali. Di alam ethilene akan berperan apabila terjadi perubahan
secara fisiologis pada suatu tanaman. Hormon ini akan berperan pada proses pematangan buah
dalam fase klimacterik.
Penelitian terhadap ethylene, pertama kali dilakukan oleh Neljubow (1901) dan
Kriedermann (1975), hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat perubahan pada akar
tanaman. Hasil penelitian Zimmerman etal (1931) menunjukan bahwa ethylene dapat
mendukung terjadinya absisi pada daun, namun menurut Rodriquez (1932), zat tersebut dapat
mendukung proses pembungaan pada tanaman nanas.
Penelitian lain telah membuktikan tentang adanya kerja sama antara auxin dan ethylene dalam
pembengkakan (swelling) dan perakaran dengan cara mengaplikasikan auksin pada jaringan
setelah ethylene berperan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiran auksin dapat
menstimulasi produksi ethylene.
1. Struktur kimia dan Biosintesis ethylene
Struktur kimia ethylene sangat sederhana yaitu terdiri dari 2 atom karbon dan 4 atom
hidrogen seperti gambar di bawah ini :

RUMUS ETILEN
Biosintesis ethylene terjadi di dalam jaringan tanaman yaitu terjadi perubahan dari asam
amino methionine atas bantuan cahaya dan FMN (Flavin Mono Nucleotide) menjadi Methionel.
Senyawa tersebut mengalami perubahan atas bantuan cahaya dan FMN menjadi ethykene,
methyl disulphide, formic acid.
Etilen adalah senyawa hidrokarbon tidak jenuh (C
2
H
4
) yang pada suhu kamar berbentuk
gas. Senyawa ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan penting dalam proses
pertumbuhan dan pematangan hasil-hasil pertanian.
Selain itu, etilen merupakan :
Dalam keadaan normal, etilen akan berbentuk gas dan struktur kimianya sangat sederhana
sekali.
Di alam etilen akan berperan apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman.
Hormon ini akan berperan dalam proses pematangan buah dalam fase klimaterik.
Mempengaruhi perombakan klorofil
Mulai aktif dari 0,1 ppm (ambang batas/threshold)
Dihasilkan jaringan tanaman hidup pada saat tertentu
Merupakan homon (dihasilkan tanaman, bersifat mobil, senyawa organik) proses pematangan
Produksi etilen oleh berbagai organisme sering mudah dilacak dengan kromatografi gas,
sebab molekulnya dapat diserap dari jaringan dalam keadaan hampa udara dan juga karena
kromatrografi gas sangat peka. Hanya beberapa jenis bakteri yang dilaporkan menghasilkan
etilen, dan belum diketahui adanya ganggang yang mensintesis etilen, lagipula etilen biasanya
berpengaruh kecil pada pertumbuhan organisme tersebut. Tapi beberapa spesies cendawan
menghasilkan senyawa tersebut, termasuk beberapa cendawan tanah membantu mendorong
perkecambahan biji, mengendalikan pertumbuhan kecambah, serta memperlambat serangan
penyakit akibat organisme tanah.(Salisbury,1995: 78)
Pada banyak macam buah, etilen hanya sedikit dihasilkan sampai tepat sebelum terjadi
klimaterik respirasi, yang mengisyaratkan dimulainya pemasakan, yaitu ketika kandungan gas ini
di ruang udara antar sel meningkat tajam, dari jumlah hampir tak terlacak sampai sekitar 0.1- 1
mikron liter per liter. Konsentrasi umumnya memacu pemasakan buah berdaging dan tak
berdaging, yang menunjukkan kenaikan klimaterik respirasinya yaitu jika buah-buahan tersebut
cukup berkembang untuk dapat menerima gas etilen ( Ttucker dan Grierson dalam Salisbury ,
1995: 78)
2.1.1 Sumber Etilen di Lingkungan
Sumber etilen dapat berupa polutan udara selama penganan pascapanen, pembakaran,
jenis lampu penerang, asap rokok, dan bahan karet yang terekspos pada panas atau sinar UV dan
tanaman yang terinfeksi virus.
Proses sintesis protein terjadi pada proses pematangan secara alami atau hormonal,
dimana protein disintesis secepat dalam proses pematangan. Pematangan buah dan sintesis
protein terhambat oleh siklohexamin pada permulaan fase klimatoris setelah siklohexamin
hilang, maka sintesis etilen tidak mengalami hambatan. Sintesis ribonukleat juga diperlukan
dalam proses pematangan. Etilen akan mempertinggi sintesis RNA pada buah mangga yang
hijau.
Etilen dapat juga terbentuk karena adanya aktivitas auksin dan etilen mampu
menghilangkan aktivitas auksin karena etilen dapat merusak polaritas sel transport, pada
kondisi anaerob pembentukan etilen terhambat, selain suhu O
2
juga berpengaruh pada
pembentukan etilen. Laju pembentukan etilen semakin menurun pada suhu di atas 30
0
C dan
berhenti pada suhu 40
0
C, sehingga pada penyimpanan buah secara masal dengan kondisi
anaerob akan merangsang pembentukan etilen oleh buah tersebut. Etilen yang diproduksi oleh
setiap buah memberi efek komulatif dan merangsang buah lain untuk matang lebih cepat.
Buah berdasarkan kandungan amilumnya, dibedakan menjadi buah klimaterik dan
buah nonklimaterik. Buah klimaterik adalah buah yang banyak mengandung amilum,
seperti pisang, mangga, apel dan alpokat yang dapat dipacu kematangannya dengan etilen.
Etilenendogen yang dihasilkan oleh buah yang telah matang dengan sendirinya dapat memacu
pematangan pada sekumpulan buah yang diperam. Buah nonklimaterik adalah buah yang
kandungan amilumnya sedikit, seperti jeruk, anggur,semangka dan nanas. Pemberian etilen pada
jenis buah ini dapat memacu lajurespirasi, tetapi tidak dapat memacu produksi etilen endogen
dan pematangan buah.
Perubahan fisiologi yang terjadi dalam proses pematangan adalah terjadinya proses
respirasi klimaterik, diduga dalam proses pematangan oleh etilen mempengaruhi respirasi
klimaterik melalui dua cara, yaitu:
1. Etilen mempengaruhi permeabilitas membran, sehingga permeabilitas sel menjadi besar, hal
tersebut mengakibatkan proses pelunakan sehingga metabolisme respirasi dipercepat.
2. Selama klimaterik, kandungan protein meningkat dan diduga etilen lebih merangsang sintesis
protein pada saat itu. Protein yang terbentuk akan terlihat dalam proses pematangan dan proses
klimaterik mengalami peningkatan enzim-enzim respirasi.
Buah-buahan mempunyai arti penting sebagi sumber vitamine, mineral, dan zatzat lain
dalam menunjang kecukupan gizi. Buah-buahan dapat kita makan baik pada keadaan mentah
maupun setelah mencapai kematangannya. Sebagian besar buah yang dimakan adalah buah yang
telah mencapai tingkat kematangannya. Untuk meningkatkan hasil buah yang masak baik secara
kualias maupun kuantitasnya dapat diusahakan dengan substansi tertentu antara lain dengan
zat pengatur pertumbuhan Ethylene. Dengan mengetahui peranan ethylene dalam pematangan
buah kita dapat menentukan penggunaannya dalam industri pematangan buah atau bahkan
mencegah produksi dan aktifitas ethyelen dalam usaha penyimpanan buah-buahan. Ethylene
mula-mula diketahui dalam buah yang matang oleh para pengangkut buah tropica selama
pengapalan dari Yamaika ke Eropa pada tahun 1934, pada pisang masak lanjut mengeluarkan gas
yang juga dapat memacu pematangan buah yang belum masak. Sejak saat itu Ethylene
(CH
2
=CH
2
) dipergunakan sebagai sarana pematangan buah dalam industri.
Ethylene adalah suatu gas yang dapat digolongkan sebagai zat pengatur pertumbuhan
(phytohormon) yang aktif dalam pematangan. Dapat disebut sebagai hormon karena telah
memenuhi persyaratan sebagai hormon, yaitu dihasilkan oleh tanaman, bersifat mobil dalam
jaringan tanaman dan merupakan senyawa organik. Seperti hormon lainnya ethylene
berpengaruh pula dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman antara lain
mematahkan dormansi umbi kentang, menginduksi pelepasan daun atau leaf abscission,
menginduksi pembungaan nenas. Denny dan Miller (1935) menemukan bahwa ethylene dalam
buah, bunga, biji, daun dan akar.Proses pematangan buah sering dihubungkan dengan rangkaian
perubahan yang dapat dilihat meliputi warna, aroma, konsistensi dan flavour (rasa dan bau).
Perpaduan sifat-sifat tersebut akan menyokong kemungkinan buah-buahan enak
dimakan. Proses pematangan buah didahului dengan klimakterik (pada buah klimakterik).
Klimakterik dapat didefinisikan sebagai suatu periode mendadak yang unik bagi buah
dimana selama proses terjadi serangkaian perubahan biologis yang diawali dengan proses
sintesis ethylene. Meningkatnya respirasi dipengaruhi oleh jumlah ethylene yang dihasilkan,
meningkatnya sintesis protein dan RNA. Proses klimakterik pada Apel diperkirakan karena
adanya perubahan permeabilitas selnya yang menyebabkan enzim dan susbrat yang dalam
keadaan normal terpisah, akan bergabung dan bereaksi satu dengan lainnya. Perubahan warna
dapat terjadi baik oleh proses-proses perombakan maupun proses sintetik, atau keduanya. Pada
jeruk manis perubahan warna ni disebabkan oleh karena perombakan klorofil dan pembentukan
zat warna karotenoid. Sedangkan pada pisang warna kuning terjadi karena hilangnya khlorofil
tanpa adanya atau sedikit pembentukan zat karotenoid. Sintesis likopen dan perombakan klorofil
merupakan ciri perubahan warna pada buah tomat. Menjadi lunaknya buah disebabkan oleh
perombakan propektin yang tidak larut menjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati (seperti
buah waluh) atau lemak (pada adpokat). Perubahan komponen-komponen buah ini diatur oleh
enzim-enzim antara lain enzim hidrolitik, poligalakturokinase, metil asetate, selullose. Flavour
adalah suatu yang halus dan rumit yang ditangkap indera yang merupakan kombinasi rasa
(manis, asam, sepet), bau (zat-zat atsiri) dan terasanya pada lidah. Pematangan biasanya
meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang memberi rasa manis, penurunan asam-asam
organik dan senyawa-senyawa fenolik yang mengurangi rasa sepet dan masam, dan kenaikan
zat-zat atsiri yang memberi flavour khas pada buah.
Proses pematangan juga diatur oleh hormon antara lain auksin, sithokinine, gibberellin,
asam-asam absisat dan ethylene. Auksin berperanan dalam pembentukan ethylene, tetapi auksin
juga menghambat pematangan buah. Sithokinine dapat menghilangkan perombakan protein,
gibberellin menghambat perombakan klorofil dan menunda penimbunan karotenoid-karotenoid.
Asam absisat menginduksi enzim penyusun/pembentuk karotenoid, dan ethylene dapat
mempercepat pematangan.
2.2 Manfaat Etilen
Etilen sering dimanfaatkan oleh para distributor dan importir buah. Buah dikemas dalam
bentuk belum masak saat diangkut pedagang buah. Setelah sampai untuk diperdagangkan, buah
tersebut diberikan etilen (diperam) sehingga cepat masak.
Dalam pematangan buah, etilen bekerja dengan cara memecahkan klorofil pada buah muda,
sehingga buah hanya memiliki xantofil dan karoten. Dengan demikian, warna buah
menjadi jingga atau merah. Pada aplikasi lain, etilen digunakan sebagaiobat bius (anestesi).
Fungsi lain etilen secara khusus adalah:
Mengakhiri masa dormansi
Merangsang pertumbuhan akar dan batang
Pembentukan akar adventif
Merangsang absisi buah dan daun
Merangsang induksi bunga Bromiliad
Induksi sel kelamin betina pada bunga
Merangsang pemekaran bunga
2.2.1 Biosintesis dan Metabolisme
Etilen diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi dari asam amino metionin yang esensial pada
seluruh jaringan tumbuhan. Produksi etilen bergantung pada tipe jaringan, spesies tumbuhan, dan
tingkatan perkembangan. Etilen dibentuk dari metionin melalui 3 proses:
ATP merupakan komponen penting dalam sintesis etilen. ATP dan air akan membuat
metionin kehilangan 3 gugus fosfat.
Asam 1-aminosiklopropana-1-karboksilat sintase(ACC-sintase) kemudian memfasilitasi
produksi ACC dan SAM (S-adenosil metionin).
Oksigen dibutuhkan untuk mengoksidasi ACC dan memproduksi etilen. Reaksi ini
dikatalisasi menggunakan enzim pembentuk etilen.
Sekarang ini dilakukan penelitian yang berfokus pada efek pematangan buah. ACC sintase
pada tomat menjadi enzim yang dimanipulasi melalui bioteknologi untuk memperlambat
pematangan buah sehingga rasa tetap terjaga.



2.3 Peranan Ethylen
2.3.1 Peranan Ethylene Dalam Fisiologi Tanaman
Di dalam proses fisiologis, ethylene mempunyai peranan penting. Wereing dan Phillips
(1970) telah mengelompokan pengaruh ethylene dalam fisiologi tanaman sbb:
a. mendukung respirasi climacteric dan pematangan buah
b. mendukung epinasti
c. menghambat perpanjangan batang (elengation growth) dan akar pada beberapa species tanaman
walaupun ethylene ini dapat menstimulasi perpanjangan batang, coleoptyle dan mesocotyle pada
tanaman tertentu, misalnya Colletriche dan padi.
d. Menstimulasi perkecambahan
e. Menstimulasi pertumbuhan secara isodiametrical lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan
secara longitudinal
f. Mendukung terbentuknya bulu-bulu akar
g. Mendukung terjadinya abscission pada daun
h. Mendukung proses pembungaan pada nanas.
i. Mendukung adanya flower fading dalam persarian anggrek
j. Menghambat transportasi auxin secara basipetal dan lateral
k. Mekanisme timbal balik secara teratur dengan adanya auksin yaitu konsentrasi auksin yang
tinggi menyebabkan terbentuknya ethylene. Tetapi kehadiran ethylene menyebabkan rendahnya
konsentrasi auksin di dalam jaringan. Hubungannya dengan konsentrasi auksin, hormon tumbuh
ini menentukan pembentukan protein yang diperlukan dalam aktifitas pertumbuhan, sedangkan
rendahnya konsentrasi auksin, akan mendukung protein yang akan mengkatalisasi sintesis
ethylene dan precursor.
2.3.2 Peranan Ethylene Dalam Proses Pematangan Buah
Pematangan adalah permulaan proses kelayuan, organisasi sel terganggu, dimana enzim
bercampur, sehingga terjadi hidrolisa, yaitu pemecahan klorofil, pati, pektin dan tanin,
membentuk: etilen, pigmen, flavor, energi dan polipeptida.
Harsen (1967) dalam Dilley (1969) telah mempelajari hubungan antara ethylene dengan
tingkat kematangan pada buah pear. Ia mengemukakan bahwa pematangan ini menjadi suatu
sequential dalam proses kesinambungan kehidupan buah. Menurut konsep tersebut, ethylene
berpengaruh terhadap beberapa yang mengontrol pola normal dari proses pematangan.
Menurut Frenkel et al (1968), sintesa protein diperlukan pada tingkat pematangan yang
normal. Protein disintesa secepatnya dalam proses pematangan. Dari hasil eksperimen terhadap
buah pear, memperlihatkan bahwa pematangan buah dan sintesa protein terhambat sebagai akibat
perlakuan cycloheximide pada permulaan fase climacteric. Setelah cycloheximide hilang,
ternyata sintesis ethylene tidak mengalami hambatan.
Di dalam proses pematangan, ribonucleic acid synthesis pun diperlukan. Dalam
eksperimen menggunakan buah pear, buah tersebut ditreated, dengan actinomysin D pada tingkat
pre climacteric. Dari hasil eksperimen ini diperoleh petunjuk bahwa actinomysin D menghambat
terbentuknya DNA yang bergantung pada RNA sintesis.
Imascshi et al (1968) mengemukakan bahwa ethylele mendukung peningkatan aktivitas
metabolisme dalam jaringan akar ubi jalar. Ethylene yang berkonsentrasi 0,1 ppm, menstimulasi
perkembangan peroxidase dan phenyl alanine ammonialyase. Penelitian lain mengemukakan
bahwa perlakuan ethylene pada kecambah kapas menstimulasi aktivitas peroksida dan IAA
oksida.
Gambar buah pisang dan kedondong dengan perlakuan pemberian etilen yang berbeda

Daging buah pisang yang matang dengan konsentrasi karbit 100 gram

Pisang dan kedondong yang matang dengan konsentrasi karbit 100 gram


Daging buah pisang yang matang dengan konsentrasi karbit 200 gram


Pisang dan kedondong yang matang dengan konsentrasi karbit 200 gram

Daging buah pisang yang matang dengan konsentrasi karbit 300 gram

Pisang dan kedondong yang matang dengan konsentrasi karbit 300 gram
Deskripsi morfologi dan rasa pada buah pisang dan kedondong yang masak dengan
perlakuan etilen yang berbeda
Perlakuan karbit 100 gram Perlakuan karbit 200 gram Perlakuan karbit 300 gram
a. Pisang
Warna kulit pisang
menjadikuning
Tekstur daging empuk
Rasa pisang tidak terlalu
manis namun ada campuran
rasa agak kecut

b. Kedondong
Warna permukaan hijau
kekuningan
Tekstur masih agak padat
a. Pisang
Kulit pisang lebih kuning
dibanding dengan kulit
pisang yang dikarbit 100
gram
Rasa pisangnya lebih manis
dibanding pisang yang
dikarbit 100 gram
Tekstur daging pisang lebih
empuk dibanding perlakuan
pertama
b. Kedondong
a. Pisang
Warna kulit pisang menjadi
hitam
Tekstur daging menjadi
lembek
Rasa pisangnya paling manis
dan terlalu manis
b. Kedondong
Warna permukaan seluruhnya
menjadi kuning
Tekstur sangat empuk

Warna permukaan kuning
kehijauan
Tekstur agak empuk


2.3.3 Pengaruh yang merugikan dari Etilen terhadap komoditi yang mudah rusak.
Pengaruh etilen yang tidak dikehendaki
Pengaruh penting etilen dalam meningkatkan deteriorasi komoditi yang mudah rusak
meliputi:
a. Mempercepat senensen dan menghilangkan warna hijau pada buah seperti mentimun dan sayuran
daun
b. Mempercepat pemasakan buah selama penanganan dan penyimpanan
c. Russet spoting pada selada
d. Pembentukan rasa pahit pada wortel
e. Pertunasan kentang
f. Gugurnya daun (kol bunga, kubis, tanaman hias)
g. Pengerasan pada asparagus
h. Mempersingkat masa simpan dan mengurangi kualitas bunga
i. Gangguan fisiologis pada tanaman umbi lapis yang berbunga
j. Pengurangan masa simpan buah dan sayuran

2.3.4 Ethylene Pada Absisi Daun
Kehilangan daun pada setiap musim gugur merupakan suatu adaptasi untuk menjaga agar
tumbuhan yang berganti daun, selama musim dingin tetap hidup ketika akar tidak bisa
mengabsorpsi air dari tanah yang membeku. Sebelum daun itu mengalami absisi, beberapa
elemen essensial diselamatkan dari daun yang mati, dan disimpan di dalam sel parenkhim
batang. Nutrisi ini dipakai lagi untuk pertumbuhan daun pada musim semi berikutnya. Warna
daun pada musim gugur, merupakan suatu kombinasi dari warna pigmen merah yang baru
dibuat selama musim gugur, dan warna karotenoid yang berwarna kuning dan orange, yang
sudah ada di dalam daun, tetapi kelihatannya berubah karena terurainya klorofil yang berwarna
hijau tua pada musim gugur. Ketika daun pada musim gugur rontok, maka titik tempat
terlepasnya daun merupakan suatu lapisan absisi yang berlokasi dekat dengan pangkal tangkai
daun.
Sel parenkhim berukuran kecil dari lapisan ini mempunyai dinding sel yang sangat tipis,
dan tidak mengandung sel serat di sekeliling jaringan pembuluhnya. Lapisan absisi selanjutnya
melemah, ketika enzimnya menghidrolisis polisakarida di dalam dinding sel. Akhirnya dengan
bantuan angin, terjadi suatu pemisahan di dalam lapisan absisi. Sebelum daun itu
jatuh, selapisan gabus membentuk suatu berkas pelindung di samping lapisan absisi dalam
ranting tersebut untuk mencegah patogen yang akan menyerbu bagian tumbuhan yang
ditinggalkannya. (Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 816)
2.3.5 Ethylene dan Permeablitas Membran
Ethylene adalah senyawa yang larut di dalam lemak sedangkan memban dari sel terdiri
dari senyawa lemak. Oleh karena itu ethylene dapat larut dan menembus ke dalam membran
mitochondria. Apabila mitochondria pada fase pra klimakterik diekraksi kemdian ditambah
ethylene, ternyata terjadi pengembangan volume yang akan meningkatkan permeablitas
sel sehingga bahan-bahan dari luar mitochondria akan dapat masuk. Dengan perubahan-
perubahan permeabilitas sel akan memungkinkan interaksi yang lebih besar antara substrat buah
dengan enzym-enzym pematangan.
2.3.6 Ethylene dan Aktifitas ATP-ase
Ethylene mempunyai peranan dalam merangsang aktiitas ATP-ase dalam penyediaan
energi yang dibutuhkan dalam metabolisme. ATP-ase adalah suatu enzym yang diperlukan
dalam pembuatan enegi dari ATP yang ada dalam buah. Adapun reaksinya adalah sebagai
berikut:
ATP ----------------------- ADP + P -------------------------- Energi
ATP-ase
2.3.7 Ethylene sebagai Genetic Derepression
Pada reaksi biologis ada dua faktor yang mengontrol jalannya reaksi. Yang pertama
adalah Gene repression yang menghambat jalannya reaksi yang berantai untuk dapat
berlangsung terus. Yang kedua adalah Gene Derepression yaitu faktor yang dapat
menghilangkan hambatan tersebut sehingga reaksi dapat berlangsung. Selain itu ethylene
mempengaruhi proses-proses yang tejadi dalam tanaman termasuk dalam buah, melalui
perubahan pada RNA dan hasilnya adalah perubahan dalam sintesis protein yang diatur RNA
sehingga pola-pola enzym-enzymnya mengalami perubahan pula.


2.3.8 Interaksi Ethylene dengan Auxin
Di dalam tanaman ethylene mengadakan interaksi dengan hormon auxin. Apabila
konsentrasi auxin meningkat maka produksi ethylen pun akan meningkat pula. Peranan auxin
dalam pematangan buah hanya membantu merangsang pembentukan ethylene, tetapi apabila
konsentrasinya ethylene cukup tinggi dapat mengakibatkan terhambatnya sintesis dan aktifitas
auxin.
2.3.9 Produksi dan Aktifitas Ethylene
Pembentukan ethylene dalam jaringan-jaringan tanaman dapat dirangsang oleh adanya
kerusakan-kerusakan mekanis dan infeksi. Oleh karena itu adanya kerusakan mekanis pada buah-
buahan yang baik di pohon maupun setelah dipanen akan dapat mempercepat pematangannya.
Penggunaan sinar-sinar radioaktif dapat merangsang produksi ethylene. Pada buah Peach yang
disinari dengan sinar gama 600 krad ternyata dapat mempercepat pembentukan ethylene apabila
diberikan pada saat pra klimakterik, tetapi penggunaan sinar radioaktif tersebut pada saat
klimakterik dapat menghambat produksi ethylene.
Produksi ethylene juga dipengaruhi oleh faktor suhu dan oksigen. Suhu rendah maupun
suhu tinggi dapat menekan produk si ethylene. Pada kadar oksigen di bawah sekitar 2 % tidak
terbentuk ethylene, karena oksigen sangat diperlukan. Oleh karena itu suhu rendah dan oksigen
rendah dipergunakan dalam praktek penyimpanan buah-buahan, karena akan dapat
memperpanjang daya simpan dari buah-buahan tersebut.Aktifitas ethylene dalam pematangan
buah akan menurun dengan turunnya suhu, misalnya pada Apel yang disimpan pada suhu 30 C,
penggunaan ethylene dengan konsentrasi tinggi tidak memberikan pengaruh yang jelas baik pada
proses pematangan maupun pernafasan. Pada suhu optimal untuk produksi dan aktifitas ethylene
pada buah tomat dan apel adalah 320 C, untuk buah-buahan yang lain suhunya lebih rendah.





BAB III
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Etilen adalah suatu gas yang dapat digolongkan sebagai zat pengatur pertumbuhan
(phytohormon) yang aktif dalam pematangan. Dapat disebut sebagai hormon karena telah
memenuhi persyaratan sebagai hormon, yaitu dihasilkan oleh tanaman, besifat mobil dalam
jaringan tanaman dan merupakan senyawa organik.
Sumber etilen dapat berupa polutan udara selama penganan pascapanen, pembakaran,
jenis lampu penerang, asap rokok, dan bahan karet yang terekspos pada panas atau sinar UV dan
tanaman yang terinfeksi virus.
Biosintesis ethylene terjadi di dalam jaringan tanaman yaitu terjadi perubahan dari asam
amino methionine atas bantuan cahaya dan FMN (Flavin Mono Nucleotide) menjadi Methionel.
Senyawa tersebut mengalami perubahan atas bantuan cahaya dan FMN menjadi ethykene,
methyl disulphide, formic acid.
Biosintesis ethylene terjadi di dalam jaringan tanaman yaitu terjadi perubahan dari asam
amino methionine atas bantuan cahaya dan FMN (Flavin Mono Nucleotide) menjadi Methionel.
Senyawa tersebut mengalami perubahan atas bantuan cahaya dan FMN menjadi ethykene,
methyl disulphide, formic acid.
Pematangan adalah permulaan proses kelayuan, organisasi sel terganggu, dimana enzim
bercampur, sehingga terjadi hidrolisa, yaitu pemecahan klorofil, pati, pektin dan tanin,
membentuk: etilen, pigmen, flavor, energi dan polipeptida.
Ethylene sebagi hormon akan mempercepat terjadinya klimakterik. Biale (1960) telah
membuktikan bahwa pada buah alpokad yang disimpan di udara biasa akan matang setelah 11
hari, tetapi apabila disimpan dalam udara dengan kandungan ethylene 10 ppm selama 24 jam
buah alpokad tersebut akan matang dalam waktu 6 hari.
Aplikasi C2H2 (Ethylene) pada buah-buahan klimakterik, makin besar konsentrasi C2H2
sampai tingkat kritis makin cepat stimulasi respirasinya. Ethylene tersebut bekerja paling efektif
pada waktu tahap klimakerik, sedangkan penggunaan C2H2 pada tahap post klimakerik tidak
merubah laju respirasi.
Ethylene adalah senyawa yang larut di dalam lemak sedangkan memban dari sel terdiri
dari senyawa lemak. Oleh karena itu ethylene dapat larut dan menembus ke dalam membran
mitochondria. Apabila mitochondria pada fase pra klimakterik diekraksi kemdian ditambah
ethylene, ternyata terjadi pengembangan volume yang akan meningkatkan permeablitas
sel sehingga bahan-bahan dari luar mitochondria akan dapat masuk. Dengan perubahan-
perubahan permeabilitas sel akan memungkinkan interaksi yang lebih besar antara substrat buah
dengan enzym-enzym pematangan.
Ethylene mempunyai peranan dalam merangsang aktiitas ATP-ase dalam penyediaan
energi yang dibutuhkan dalam metabolisme. ATP-ase adalah suatu enzym yang diperlukan
dalam pembuatan enegi dari ATP yang ada dalam buah.
Pada reaksi biologis ada dua faktor yang mengontrol jalannya reaksi. Yang pertama
adalah Gene repression yang menghambat jalannya reaksi yang berantai untuk dapat
berlangsung terus. Yang kedua adalah Gene Derepression yaitu faktor yang dapat
menghilangkan hambatan tersebut sehingga reaksi dapat berlangsung. Selain itu ethylene
mempengaruhi proses-proses yang tejadi dalam tanaman termasuk dalam buah, melalui
perubahan pada RNA dan hasilnya adalah perubahan dalam sintesis protein yang diatur RNA
sehingga pola-pola enzym-enzymnya mengalami perubahan pula.
Pembentukan ethylene dalam jaringan-jaringan tanaman dapat dirangsang oleh adanya
kerusakan-kerusakan mekanis dan infeksi. Oleh karena itu adanya kerusakan mekanis pada buah-
buahan yang baik di pohon maupun setelah dipanen akan dapat mempercepat pematangannya.
Produksi ethylene juga dipengaruhi oleh faktor suhu dan oksigen. Suhu rendah maupun
suhu tinggi dapat menekan produk si ethylene. Pada kadar oksigen di bawah sekitar 2 % tidak
terbentuk ethylene, karena oksigen sangat diperlukan. Oleh karena itu suhu rendah dan oksigen
rendah dipergunakan dalam praktek penyimpanan buah-buahan.
Dampak gas etilen adalah:
a. Mempercepat senensen dan menghilangkan warna hijau pada buah seperti mentimun dan
sayuran daun
b. Mempercepat pemasakan buah selama penanganan dan penyimpanan
c. Russet spoting pada selada
d. Pembentukan rasa pahit pada wortel
e. Pertunasan kentang
f. Gugurnya daun (kol bunga, kubis, tanaman hias)
g. Pengerasan pada asparagus
h. Mempersingkat masa simpan dan mengurangi kualitas bunga
i. Gangguan fisiologis pada tanaman umbi lapis yang berbunga
j. Pengurangan masa simpan buah dan sayuran.

4.2 Kritik dan Saran
pembuatan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah perkembangan
tumbuhan. Makalah ini berisikan uraian singkat mengenai pengertian, biosintesis, manfaat
Hormon Etilen. Namun kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna. Pepatah mengatakan tak ada gading yang tak retak, manusia tak luput dari salah
dan lupa, kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Oleh karena itu, kami siap untuk
diberikan kritik yang tentunya kritikan yang membangun dan positif, juga diikuti dengan saran
yang tentunya positif pula.













NURVITA CUNDANINGSIH
140410110017
GAS ETILEN
Pada awal abad kedua puluh, jeruk dimatangkan dengan memeram buah dalam lumbung yang
dilengkapi dengan kompor minyak tanah. Petani buah yakin bahwa panas itukah yang menyebabkan
matangnya buah tersebut, akan tetapi kompor baru yang pembakarannya lebih bersih tidak
menyebabkan buah menjadi matang. Para ahli fisiologi tumbuhan kemudian mempelajari bahwa
pematangan dalam lumbung sebenarnya disebabkan oleh etilen, yaitu suatu gas hasil samping
pembakaran minyak tanah. Para peneliti kemudian menunjukkan bahwa tumbuhan menghasilkan
etilennya sendiri sebagai hormon, hormon etilen berwujud gas. Etilen berdifusi ke dalam tumbuhan
melalui ruangan udara di antara sel-sel. Etilen yang terlarut dapat masuk dari satu sel ke sel lain melalui
simplas (Campbell, 2000).
I. DEFINISI ETILEN
Etilen merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil metabolisme normal dalam
tanaman. Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan daun. Etilen disebut juga ethene
(Winarno, 2007). Senyawa etilen pada tumbuhan ditemukan dalam fase gas, sehingga disebut juga gas
etilen. Gas etilen tidak berwarna dan mudah menguap (Yatim, 2007).
Hormon Gas Etilen adalah hormon yang berupa gas yang dalam kehidupan tanaman aktif dalam
proses pematangan buah. Aplikasi mengandung ethephon, maka kinerja sintetis ethylen berjalan
optimal sehingga tujuan agar buah cepat masak bisa tercapai. (misalnya: Etephon, Protephon) merk
dagang antara lain: Prothephon 480SL. Gas Etilen banyak ditemukan pada buah yang sudah tua
(Vitriyatul, 2012).
Gas etilen adalah suatu senyawa volatil yang dikeluarkan oleh buah-buahan dan sayuran segar.
Jumlah gas etilen yang dikeluarkan bervariasi menurut jenis buah dan sayuran segar yang dihasilkan.
Buah apel dikenal sebagai buah yang banyak menghasilkan gas etilen. Menurut Griffin dan Sacharow
dalam Simbolon (1991), secara umum gas etilen akan mempercepat proses pematangan dan
pemasakan, kerusakan fisik dan fisiologis.
Etilen adalah hormon tanaman alami yang penting pengaruhnya terhadap pelayuan dan
pemasakan dari buah klimakterik (Utama, 2006). Menurut Kader (1992), buah klimakterik yaitu buah
yang menunjukkan kenaikan produksi karbondioksida dan etilen yang besar saat penuaan. Contoh buah
klimakterik yaitu apel, alpukat, pisang, mangga, dan tomat. Selama proses pematangan, buah
klimakterik menghasilkan lebih banyak etilen endogen daripada buah nonklimakterik. Menurut
Hadiwiyoto (1981), etilen endogen adalah gas etilen yag dihasilkan oleh buah yang telah matang dengan
sendirinya yang dapat memicu pematangan buah lain di sekitarnya.
II. STRUKTUR KIMIA DAN KARAKTERISTIK ETILEN
Struktur kimia etilen sangat sederhana sekali yaitu terdiri dari dua atom karbon dan empat atom
hidrogen seperti yang terlihat pada struktur kimia pada skema berikut:

Etilen merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil metabolisme normal dalam tanaman.
Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan daun. Etilen disebut juga ethane. Selain itu
Etilen ( IUPAC nama: etena) adalah senyawa organik, sebuah hidrokarbon dengan rumus C
2
H
4
atau
H
2
C=CH
2
. Ini adalah gas mudah terbakar tidak berwarna dengan samar manis dan musky bau ketika
murni. Ini adalah yang paling sederhana alkena (hidrokarbon dengan karbon-karbon ikatan rangkap ),
dan paling sederhana hidrokarbon tak jenuh setelah asetilena (C
2
H
2
) (Vitriyatul, 2012).
Ada beberapa karakteristik dari etilen yang perlu dipertimbangkan bila menguji pengaruhnya
terhadap penampilan produk pascapanen hortikultura segar. Etilen adalah:
gas volatil; secara fisiologis adalah aktif dalam konsentrasi sangat kecil (0.01 ppm), memacu
respon dari kebanyakan jaringan;
utokatalitik, artinya saat produksinya mulai dirangsang maka laju produksinya akan terus
meningkat dengan laju peningkatan tertentu (seperti bola salju menggelinding dari bukit);
diproduksi di dalam tanaman (etilen endogenous). Faktor yang mempengaruhi laju produksinya
meliputi varietas, stadia kematangan, suhu, level oksigen dan karbondioksida dan dapat
disebabkan pula oleh berbagai bentuk pelukaan;
terdapat pula dilingkungan (etilen exogenous) dan akan memacu produk untuk menghasilkan
etilen endogenous.
Buah klimakterik dapat dipacu kemasakannya dengan mengekpos produk pada sumber etilen
exogenous. Proses ini dinamakan Pengendalian Kemasakan. Jika buah klimakterik telah mulai masak,
buah tersebut menghasilkan sejumlah etilen yang signifikan. Etilen yang dihasilkan tersebut, dapat
memulainya proses pemasakan produk buah klimakterik yang matang atau belum masak atau
meningkatkan kemunduran dari produk sensitif-etilen (Utama, 2006).
III. PERANAN GAS ETILEN BAGI TUMBUHAN
Di dalam proses fisiologis, etilen mempunyai peranan penting. Wereing dan Phillips dalam
Vitriyatul (2012) telah mengelompokan pengaruh etilen dalam fisiologi tanaman adalah sebagai berikut:
1. mendukung respirasi climacteric dan pematangan buah
2. mendukung epinasti
3. menghambat perpanjangan batang (elengation growth) dan akar pada beberapa species
tanaman walaupun etilen ini dapat menstimulasi perpanjangan batang, coleoptyle dan
mesocotyle pada tanaman tertentu, misalnya Colletriche dan padi.
4. menstimulasi perkecambahan
5. menstimulasi pertumbuhan secara isodiametrical lebih besar dibandingkan dengan
pertumbuhan secara longitudinal
6. mendukung terbentuknya bulu-bulu akar
7. mendukung terjadinya abscission pada daun
8. mendukung proses pembungaan pada nanas
9. mendukung adanya flower fading dalam persarian anggrek
10. menghambat transportasi auxin secara basipetal dan lateral
11. mekanisme timbal balik secara teratur dengan adanya auxin yaitu konsentrasi auxin yang tinggi
menyebabkan terbentuknya etilen. Tetapi kehadiran etilen menyebabkan rendahnya
konsentrasi auxin di dalam jaringan. Hubungannya dengan konsentrasi auxin, hormon tumbuh
ini menentukan pembentukan protein yang diperlukan dalam aktifitas pertumbuhan, sedangkan
rendahnya konsentrasi auxin, akan mendukung protein yang akan mengkatalisasi sintesis etilen
dan precursor.
Gas etilen digunakan untuk mengendalikan pemasakan beberapa jenis buah. Teknik ini cukup
cepat dan memberikan pemasakan yang seragam sebelum dipasarkan. Buah yang umum dikendalikan
pemasakannya dengan etilen adalah pisang, tomat, pear, dan pepaya. Buah non-klimakterik seperti
anggur, jeruk, nenas, dan strawberry tidak dapat dimasakan dengan cara ini (Utama, 2001).
Etilen merupakan hormon tanaman yang mempunyai efek merangsang proses kematangan
buah, tetapi juga berpengaruh mempercepat terjadinya senesen pada sayur, bunga potong dan
tanaman hias lain. Etilen merupakan suatu gas yang disintesis oleh tanaman dan mempunyai pengaruh
pada proses fisiologi. Penggunaan gas etilen pada tanaman mempunyai pengaruh yang sama dengan
etilen dari tanaman. Pengaruh etilen merangsang pematangan pada buah klimakterik, dan membuat
terjadinya puncak produksi etilen seperti pada buah non-klimakterik. Daya simpan buah akan menurun
dengan adanya pengaruh etilen. Pengaruh buruk etilen pada sayur umumnya adalah mempercepat
timbulnya gejala kerusakan seperti bercak-bercak coklat pada daun letus. Pengaruh etilen pada tanaman
hias seperti terjadinya gugur pada daun, kuncup bunga, kelopak bunga, atau secara umum terjadi pada
daerah sambungan atau sendi tanaman (abscission zone) (Simbolon, 1991).
IV. BIOSINTESIS DAN METABOLISME ETILEN
Etilen diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi dari asam amino metionin yang esensial pada
seluruh jaringan tumbuhan. Produksi etilen bergantung pada tipe jaringan, spesies tumbuhan, dan
tingkatan perkembangan (Salisbury dan Ross, 1992). Etilen dibentuk dari metionin melalui 3 proses
(McKeon dkk, 1995):
1. ATP merupakan komponen penting dalam sintesis etilen. ATP dan air akan membuat metionin
kehilangan 3 gugus fosfat.
2. Asam 1-aminosiklopropana-1-karboksilat sintase(ACC-sintase) kemudian memfasilitasi produksi
ACC dan SAM (S-adenosil metionin).
3. Oksigen dibutuhkan untuk mengoksidasi ACC dan memproduksi etilen. Reaksi ini dikatalisasi
menggunakan enzim pembentuk etilen.
Dewasa ini dilakukan penelitian yang berfokus pada efek pematangan buah. ACC sintase pada tomat
menjadi enzim yang dimanipulasi melalui bioteknologi untuk memperlambat pematangan buah
sehingga rasa tetap terjaga.
Produksi etilen Etilen adalah senyawa organic hidrokarbon paling sederhana (C
2
H
4
) berupa gas
berpengaruh terhadap proses fisiologis tanaman. Etilen dikategorikan sebagai hormon alami untuk
penuaan dan pemasakan dan secara fisiologis sangat aktif dalam konsentarsi sangat rendah (<0.005
uL/L) (Wills et al. dalam Utama, 2001). Klasifikasi komoditi hortikultura berdasarkan laju respirasinya
dapat dilihat pada Tabel berikut.
Tabel Klasifikasi komoditi hortikultura berdasarkan laju produksi etilen

Etilen dalam ruang penyimpanan dapat berasal dari produk atau sumber lainnya. Sering selama
pemasaran, beberapa jenis komoditi disimpan bersama, dan pada kondisi ini etilen yang dilepaskan oleh
satu komoditi dapat merusak komoditi lainnya. Gas hasil bakaran minyak kendaraan bermotor
mengandung etilen dan kontaminasi terhadap produk yang disimpan dapat menginisiasi pemasakan
dalam buah dan memacu kemunduran pada produk non-klimakterik dan bunga-bungaan atau bahan
tanaman hias. Kebanyakan bunga potong sensitive terhadap etilen. Produksi gas etilen yang memacu
proses kemunduran produk. Suhu juga berpengaruh terhadap peningkatan produksi etilen, penurunan
O
2
dan peningkatan CO
2
yang berakibat tidak baik terhadap komoditi (Utama, 2001).
Pembentukan etilen dalam jaringan-jaringan tanaman dapat dirangsang oleh adanya kerusakan-
kerusakan mekanis dan infeksi. Oleh karena itu adanya kerusakan mekanis pada buah-buahan yang baik
di pohon maupun setelah dipanen akan dapat mempercepat pematangannya. Penggunaan sinar-sinar
radioaktif dapat merangsang produksi etilen. Pada buah Peach yang disinari dengan sinar gama 600 krad
ternyata dapat mempercepat pembentukan etilen apabila diberikan pada saat pra klimakterik, tetapi
penggunaan sinar radioaktif tersebut pada saat klimakterik dapat menghambat produksi etilen. Produksi
etilen juga dipengaruhi oleh faktor suhu dan oksigen. Suhu renah maupun suhu tinggi dapat menekan
produk si etilen. Pada kadar oksigen di bawah sekitar 2 % tidak terbentuk etilen, karena oksigen sangat
diperlukan. Oleh karena itu suhu rendah dan oksigen renah dipergunakan dalam praktek penyimpanan
buah-buahan, karena akan dapat memperpanjang daya simpan dari buah-buahan tersebut. Aktifitas
etilen dalam pematangan buah akan menurun dengan turunnya suhu, misalnya pada Apel yang
disimpan pada suhu 30
o
C, penggunaan etilen dengan konsentrasi tinggi tidak memberikan pengaruh
yang jelas baik pada proses pematangan maupun pernafasan. Pada suhu optimal untuk produksi dan
aktifitas etilen pada buah tomat dan apel adalah 32
o
C, untuk buah-buahan yang lain suhunya lebih
rendah.
V. INTERAKSI ETILEN DENGAN AUXIN
Di dalam tanaman etilen mengadakan interaksi dengan hormon auxin. Apabila konsentrasi auxin
meningkat maka produksi etilen pun akan meningkat pula. Peranan auxin dalam pematangan buah
hanya membantu merangsang pembentukan etilen, tetapi apabila konsentrasinya etilen cukup tinggi
dapat mengakibatkan terhambatnya sintesis dan aktifitas auxin (Vitriyatul, 2012).
VI. HUBUNGAN ETILEN DENGAN RESPIRASI
Pematangan buah-buahan biasanya juga dipercepat dengan menggunakan karbit atau kalsium
karbida. Karbit yang terkena uap air akan menghasilkan gas asetilen yang memiliki struktur kimia mirip
dengan etilen alami, zat yang membuat proses pematangan di kulit buah. Proses fermentasi berlangsung
serentak sehingga terjadi pematangan merata. Proses pembentukan ethilen dari karbit adalah CaC
2
+ 2
H
2
O C
2
H
2
+ Ca(OH)
2
. Dengan penambahan karbit pada pematangan buah menyebabkan konsentrasi
ethilen menjadi meningkat. Hal tersebut menyebabkan kecepatan pematangan buah pun bertambah.
Semakin besar konsentrasi gas ethilen semakin cepat pula proses stimulasi respirasi pada buah. Hal ini
disebabkan karena ethilen dapat meningkatkan kegiatan-kegiatan enzim karatalase, peroksidase, dan
amilase dalam buah. Selain itu juga, ethilen dapat menghilangkan zat-zat serupa protein yang
menghambat pemasakan buah. Respirasi merupakan proses pemecahan komponen organik (zat hidrat
arang, lemak dan protein) menjadi produk yang lebih sederhana dan energi. Aktivitas ini ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan energi sel agar tetap hidup (Muzzarelli, 1985). Kecepatan respirasi merupakan
indeks yang baik untuk menentukan umur simpan komoditi panenan. Intensitas respirasi merupakan
ukuran kecepatan metabolisme dan seringkali digunakan sebagai indikasi umur simpan. Suatu proses
respirasi yang kecepatannya tinggi biasanya dihubungkan dengan umur simpan yang pendek. Keadaan
ini juga dapat menunjukkan kecepatan penurunan mutu komoditi simpanan dan nilai jual (harga).
Respirasi merupakan suatu proses komplek yang dipengaruhi atau diatur oleh sejumlah faktor.
Mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi penting artinya untuk penanganan dan
penyimpanan komoditi panenan (Vitriyatul, 2012).


DAFTAR PUSTAKA
Griffin, R. C. dan S. Sacharow. 1980b. Principles Package Development. The AVI Publishing Company, Inc.
West Port Connecticut.
Hadiwiyoto dan Soehardi. 1981. Penanganan Lepas Panen 1. Departemen pendidikan dan kebudayaan
direktorat pendidikan menengah kejuruan.
Kader, A. A. 1992. Postharvest biology and technology. p. 15-20 In A. A. Kader (Ed.). Postharvest
Technology of Horticulture Crops. Agriculture and Natural Resources Publication, Univ. of
California. Barkeley.
McKeon, T. A., Fernandez-Maculet, J. C. and Yang, S. F. 1995. Biosynthesis and metabolism of ethylene.
Plant Hormones: Physiology, Biochemistry and Molecular Biology. Dordrecht. Kluwer.
Muzzarelli, R.A.A. 1985. Chitin in the Polysaccharides, vol. 3, pp. 147. Aspinall (ed) Academic press Inc.,
Orlando. San Diego.
Salisbury, F. B., and Ross, C. W. 1992. Plant Physiology. Belmont, CA. Wadsworth.
Simbolon, Junice. 1991. Desain Peti Kayu untuk Kemasan Distribusi Buah Apel Segar (Malus sylvesteris
Mill.). Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Utama, I Made Supartha. 2001. PENANGANAN PASCAPANEN BUAH DAN SAYURAN SEGAR. Fakultas
Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Bali.
Utama, I Made Supartha. 2006. PERANAN TEKNOLOGI PASCAPANEN UNTUK FRESH PRODUCE
RETAILING. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana. Bali.
Vitriyatul, Vita. 2012. Makalah Etilen dan ABA. http://blog.ub.ac.id/fitafitriya/2012/12/11/makalah-
etilen-dan-aba/ (diakses 25 April 2013 pukul 22.01).
Wills, R.B.H., McGlasson, B., Graham, D., and Joice, D. 1998. Postharvest, An Introduction to the
Physiology and Handling of Fruit, Vegetables and Ornamentals. 4th Ed. The Univ. of New South
Wales. Sydney.
Winarno FG, Agustinah W. 2007. Pengantar Bioteknologi. Ed.rev. Mbrio Press. Bogor.
Yatim W. 2007. Kamus Biologi. Obor. Jakarta.