Anda di halaman 1dari 5

Karakteristik Halmahera dan Mindanau Eddy, Pola Temporal serta keadaan

Upwelling dan Downwelling Antara Halmahera dan Mindanau Eddy dengan Eddy di
Selatan Jawa
Oleh Bintang Bimaputra (230210120045)
1)
, Ismail Maqbul (230210120053)
2)
, Evina Tami
Roriris (230210120054)
3)

1,2,3) Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan 2012
Universitas Padjajaran Bandung Jawa Barat

Penelitian mengenai arus Eddy pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 1930 oleh
Iselin dengan mengidentifikasi Eddy Gulf Stream dari data hidrografi serta penelitian
Stockman dari data time series hasil pengukuran langsung di Laut Kaspia. Arus Eddy dapat
terbentuk di lautan mana saja tetapi memiliki distribusi dan aktivitas yang heterogen
dengan skala spasial berkisar antara puluhan sampai ratusan kilometer dan skala temporal
berkisar antara mingguan sampai bulanan (Robinso 1983). Kecepatan pusaran arus Eddy
yang dekat dengan arus utama cenderung sangat tinggi hingga mencapai 1 m/s sedangkan
kecepatan arus Eddy yang jauh dari arus utama hanya 0,01 m/s. terdapat dua arus Eddy,
tipe pertama adalah yang terbetuk akibat interaksi aliran arus dengan topografi, dan yang
kedua adalah akibat angin (Mann dan Lazier 2006).
Selanjutnya Robinson (1983) menyatakan bahwa arus Eddy mentranspor, menjebak,
dan menyebarkan unsur kimia, zat-zat terlarut, nutrient, organisme kecil, dan panas.
Menurut Martono (2008), gerakan Eddy ada dua macam yaitu secara siklonik (searah jarum
jam di belahan bumi selatan). Arus Eddy dapat menyebabkan upwelling maupun
downwelling sesuai dengan arah putarannya (Martono,2009).
Selanjutnya Stewart (2008) menyatakan bahwa arus Eddy yang bergerak searah
jarum jam di bumi bagian utara memiliki inti hangat dan ketinggian permukaan air bagian
pusat lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, sedangkan Eddy yang bergerak berlawanan
arah jarum jam memiliki inti dingin dan ketinggian air di pusatnya lebih rendah.
Halmahera Eddy (HE) keberadaannya muncul dalam dinamika peta topografi dari
Takahashi (1959) dan baru diberi nama setelah penelitian Wyrtki (1961) (Arruda dan
Dorron,2003). Pusat dari HE berada di sekitar 4
o
LU dan 130
o
BT (Kashino et al., 1999
dalam Arruda dan Dorron, 2003). Halmahera ini banyak terpengaruh oleh arus yang
berasala dari SEC dan NGCC karena massa air yang berasal SEC dari NGCC berbelok
menjadi bagian dari arus NECC (Martono, 2008). Menurut Kashino et al (2007) ada 4
massa air yang telah digambarkan:
1. North Pasific Subtropical Water (NPSW) dengan salinitas maksimal sekitar = 24,0
2. South Pasific Subtropical Water (SPTW) dengan salinitas maksimal sekitar = 25,0
3. North Pasific Intermediate Water (NPIW) dengan salinitas maksimal sekitar = 26,5
4. Antartic Intermediate Water (AAIW) dengan salinitas maksimal sekitar = 27,2
Bingham dan Lukas (1995) dalam Kashino et al., (2007) menambahkan 2 untuk massa
air Intermediate Water, yaitu North Pasific Tropical Intermediate Water (NPTIW) dengan
salinitas dan oksigen minimum = 26,8 dan South Pasific Tropical Intermediate Water
(SPTIW) dengan oksigen minimum sekitar =27,1. Distribusi massa air ini dalam batas
ekuator barat daerah pasifik ekuator telah dibahas oleh Kashino et al., (1996) dalam
Kashino et al., (2007), di bagian permukaan SPTW berpengaruh terhadap New Guinea
Coastal Under-Current (NGCUC) yang melintasi ekuator dari belahan bumi selatan dan
mencapai utara Halmahera.
Takahashi (1959) pertamakali mencatat keberadaan a cold region of distorted
elliptic form dari timur MC dan hal ini terkait oleh sirkulasi siklonik yang disimpulkan
dari dinamika topografi. Sirkulasi ini disebut ME menurut penilitian Wyrtki (1961)
mencatat sirkulasi ME terkait dengan arus balik NEC dipantai Filipina dan selanjutnya arus
ini mengalir ke timur menjadi bagian dari arus NECC (Arruda dan Nof, 2011). Halmahera
Eddy memiliki jarak yang cukup besar dalam nilai salinitas bila dibandingkan pada
Mindanao Eddy yang memiliki selisih jarak nilai salinitas nya kecil.
Salah satu yang menarik untuk dipelajari di perairan equator pasifik ini adalah
munculnya Halmahera Eddy (HE). Eddy adalah pusaran massa air di Laut yang utamanya
terbentuk disepanjang batas arus Samudera. Halmahera Eddy muncul akibat pengaruh
dorongan arus yang terhalang oleh topografi pulau Halmahera, sehingga terbentuk suatu
pusaran besar massa air (Atmadipoera dkk, 2009).
Halmahera Eddy pertama kali terlihat dalam peta topografi dinamik oleh Takahashi
(1959) dan diberi nama oleh Wyrtki (1961) (Arruda dan Noff 2003). Lukas dkk (1991)
dengan menggunakan drifter menyebut bahwa Halmahera Eddy membentuk Loop tertutup
dengan diameter sekitar 300 Km dan kecepatan 50 cm/detik. Kashino et. al. (2009)
mengidentifikasi pusat Halmahera Eddy berada di Timur dari 130
o
E-4
o
N dengan diameter
sekitar 500 Km pada kedalaman 50 m.
Arruda dan Noff (2003) mengatakan bahwa Halmahera Eddy dan Mindanao Eddy
terbentuk akibat adanya tubrukan antara MC dan NGCC secara nonlinear. Disebutkan pula
jika MC mengalami penguatan dan NGCC mengalami pelemahan maka Halmahera Eddy
akan melemah, namun jika MC lemah dan NGCC menguat maka Halmahera Eddy akan
menjadi lebih kuat.
Penentuan keberadaan Halmahera Eddy berdasarkan visualiasai dari hasil olahan
citra aqua MODIS berupa suhu permukaan laut dan klorofil a, dan terdapat keterkaitan
dengan banyaknya hasil tangkapa ikan cakalang pada saat Halmahera Eddy berlangsung
selama tahun 2008. Apabila dilihat dari musim yang terjadi, menurut Martono, 2008 pada
musim timur pola Halmahera Eddy terlihat. Sama halnya dengan penelitian ini dimana
Halmahera Eddy diidentifikasi dari tanda-tanda terbentuknya hingga terlihat pusarannya
dengan data klorofil dan suhu permukaan laut sekitar bulan Mei-September. Dari
kenampakan tersebut dapat dikatakan bahwa Halmahera Eddy muncul sekitar musim
Peralihan dan musim Timur.
Berdasarkan hasil visualisasi data, maka keterangan berupa lemah, sedang atau
kuatnya Halmahera Eddy dapat dilihat atau diinterpretasi dari data hasil yang telah ada.
Pada bulan Januari dikatakan kuat karena dari hasil visualisasi data untuk suhu permukaan
laut, klorofil-a, dan arus geostropiknya terlihat berkaitan untuk pendugaan keberadaan
Halmahera Eddy. Pada bulan Februari-April pendugaan keberadaan Halmahera Eddy
terlihat lemah. Pada bulan Mei-Juli pendugaan terhadap keberadaan Halmahera Eddy tidak
terlalu kuat. Kuatnya pendugaan keberadaan Halmahera Eddy terlihat pada bulan
September hingga November, hal ini didukung dengan data suhu permukaan laut, klorofil-
a, dan arus geostropiknya juga kuat. Bulan Desember mulai terlihat melemah tetapi tidak
menghilang.
Skala temporal arus Eddy yang terbentuk di perairan selatan Jawa-Bali tidak dapat
diketahui secara pasti melalui penelitian ini karena diperlukan penelitian dengan data arus
harian untuk menentukannya. Berdasarkan pengamatan distribusi spasial bulanan dapat
diindikasikan bahwa satu arus Eddy di perairan ini dapat berlangsung selama satu hingga
beberapa bulan.
Arus Eddy yang terbentuk di perairan selatan Jawa Barat dapat berlangsung selama
satu bulan. Pada tahun 2007 terbentuk arus Eddy di perairan ini pada bulan Februari namun
hilang pada bulan Maret. Arus Eddy kembali terbentuk pada bulan April namun tidak
ditemukan pada bulan Mei dan kembali terbentuk pada bulan Juni namun dengan posisi
yang lebih mendekati pesisir. Arus Eddy kembali ditemukan pada bulan Juni tahun 2008.
Selanjutnya pada bulan Januari 2009 terbentuk arus Eddy yang bergerak berlawanan
arah jarum jam di perairan selatan Jawa Barat dan berlangsung hanya satu bulan karena
pada bulan Februari arus Eddy yang terbentuk berputar searah jarum jam. Pada bulan Mei
2010 ditemukan arus Eddy yang bergerak searah jarum jam di perairan selatan Jawa Barat.
Arus ini kembali ditemukan pada bulan Juni namun dengan posisi lebih ke utara 0.3
o
dan
dengan diameter yang jauh lebih kecil. Arus Eddy yang terbentuk di perairan selatan Jawa
Tengah dapat ditemukan hingga enam bulan berturut-turut pada bulan Mei hingga Oktober
2008. Tahun 2007, arus Eddy terbentuk pada bulan Juni dan mencapai diameter tertinggi
pada bulan Oktober. Namun, arus Eddy ini bergeser sekitar 1
o
ke Selatan pada bulan
November. Pada tahun 2010 arus Eddy di selatan Jawa Tengah hanya terjadi pada bulan
Mei dan menghilang pada bulan Juni. Arus Eddy kembali terbentuk pada bulan September
2010 namun kembali menghilang pada bulan berikutnya. Sedangkan pada tahun 2011, arus
Eddy ini terbentuk pada bulan Januari hingga Februari dan kembali terbentuk pada bulan
Oktober dan November. Arus Eddy yang terbentuk di perairan selatan Jawa Timur-Bali
terbentuk hampir sepanjang tahun, namun kejadiannya berkurang pada bulan September
hingga November. Arus Eddy yang terbentuk di perairan selatan Jawa-Bali ini juga dapat
dianalisa.
Arah gerakan arus Eddy memiliki dampak yang berbeda antara di belahan bumi
utara dan belahan bumi selatan. Di belahan bumi utara, contohnya pada daerah Mindanau
dan Halmahera Eddy akan menyebabkan upwelling jika bergerak berlawanan arah jarum
jam, dan menyebabkan downwelling jika searah dengan arah jarum jam. Sebaliknya, di
belahan bumi selatan dengan contoh Pantai Selatan Jawa, Eddy bergerak searah jarum jam
maka akan menyebabkan upwelling dan jika bergerak searah dengan berlawanan arah
jarum jam akan menyebabkan downwelling.
Menurut saran Hartas (2013), data yang digunakan untuk menganalisis dinamika
perairan di wilayah Halmahera dan Mindanau Eddy harus lebih banyak karena pada lokasi
ini banyak fenomena-fenomena yang terjadi seperti Madden Julian Oscillation (MJO),
gelombang Kelvin, gelombang Rossby. Diperlukan studi lebih lengkap dan komprehensif
terhadap dinamika laut-atmosfer, pertukaran massa air terutama untuk interval data harus
lebih lengkap serta pengaruh hidrodinamika seperti arus permukaan dan arus vertikal. Oleh
karena itu, pada intinya saran diatas memiliki beberapa kekurangan data pada
penelitiannya. Data yang digunakan untuk menganalisis dinamika perairan penelitian harus
lebih banyak dan diperlukan studi lebih lengkap terhadap dinamika laut atmosfer
mengingat banyaknya fenomena yang terjadi di perairan Halmahera dan Mindanau.
Menurut saran Wida (2013), berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan
disarankan menggunakan banyak data pendukung untuk memperkuat hasil penelitian.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa data pendukung pada skripsi tersebut tidak
memiliki parameter penelitian yang lengkap sehingga hasil penelitian pun memiliki tingkat
akurasi yang rendah.
Menurut saran Annisa (2013), karena arus Eddy berhubungan dengan upwelling dan
downwelling maka diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan faktor
pendukung lain seperti suhu vertikal laut dan konsentrasi zat hara sedangkan penelitian
mengenai mekanisme pembentukan arus Eddy perlu dilakukan penambahan faktor lain
seperti data angin.
Dari ketiga saran diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian mengenai arus
Eddy diperlukan banyak data dan parameter pendukung untuk mendapatkan hasil dengan
tingkat akurasi yang tinggi.

Semua isi tulisan diatas diambil dari skripsi alumni Mahasiswa Ilmu Kelautan
Universitas padjajaran angkatan 2008, yaitu Hartas, Wida serta Annisa.