Anda di halaman 1dari 152

KINERJA PERDAGANGAN

KOMODITAS PERTANIAN





VOLUME 4 NOMOR 1 TAHUN 2013


















Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Kementerian Pertanian
2013
ISSN : 2086-4949
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

ii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian iii



KINERJA PERDAGANGAN
KOMODITAS PERTANIAN
Volume 4 Nomor 1 Tahun 2013




Ukuran Buku : 10,12 inci x 7,17 inci (B5)
Jumlah Halaman : 131 halaman


Penasehat : Ir. M. Tassim Billah, MSc


Penyunting :

Ir. Sabarella, MSi.
Ir. Dewa N. Cakrabawa, MM.


Naskah :

Sri Wahyuningsih, S.Si
Ir. Wieta B. Komalasari, M.Si.
Ir. Efi Respati,MSi
Ir. Noviati, M.Si
Widyawati
Rinawati, SE

Design dan Layout :
Heri Dwi Martono
Heruwaty

Diterbitkan oleh :
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
Kementerian Pertanian
2013


Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

iv Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

















































Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian v


KATA PENGANTAR




Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian
Volume 4 Nomor 1 Tahun 2013 telah diselesaikan. Publikasi ini merupakan salah
satu output dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian dalam mengemban visi
dan misinya dalam mempublikasikan baik data sektor pertanian maupun hasil
analisis datanya.
Publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Tahun 2013
merupakan publikasi lanjutan dari tahun sebelumnya yang secara rutin terdiri dari
2 (dua) nomor publikasi. Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian
Volume 4 Nomor 1 Tahun 2013 memuat gambaran umum kinerja perdagangan
sektor pertanian secara umum serta analisis kinerja perdagangan komoditas
BERAS, JAGUNG, JAGUNG, GULA PASIR dan KARET. Publikasi ini menyajikan
keragaan data series masing-masing komoditas secara nasional dan internasional
selama 5 tahun terakhir serta dilengkapi dengan hasil analisis indeks spesialisasi
perdagangan-analisis daya saing, indeks keunggulan komperatif serta analisis
lainnya untuk masing-masing komoditas pertanian.
Publikasi ini disajikan tidak hanya dalam bentuk hard copy namun juga
dalam bentuk soft copy (CD) dan dapat dengan mudah diperoleh atau diakses
melalui website Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian yaitu
http://www.deptan.go.id/pusdatin/.
Dengan diterbitkannya publikasi ini diharapkan para pembaca dapat
memperoleh gambaran tentang keragaan dan analisis kinerja perdagangan
masing-masing komoditas strategis pertanian secara lebih lengkap dan
menyeluruh.
Kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan publikasi ini,
kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Kritik dan
saran dari segenap pembaca sangat diharapkan guna dijadikan dasar
penyempurnaan dan perbaikan untuk penerbitan publikasi berikutnya.


Jakarta, Agustus 2013
Kepala Pusat Data dan
Sistem Informasi Pertanian,

Ir. M. Tassim Billah, M.Sc.
NIP. 19570725.198203.1.002
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

vi Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian vii


DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................... v
DAFTAR ISI ........................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xv
BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................1
1.1. LATAR BELAKANG .......................................................................... 1
1.2. METODOLOGI ................................................................................ 2
BAB II. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN ..............................9
2.1. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SEKTOR PERTANIAN ...... 10
2.2. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SUB SEKTOR
PERTANIAN ................................................................................. 12
2.3.GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS
PERTANIAN ................................................................................. 15
BAB III. KINERJA PERDAGANGAN BERAS..............................................21
3.1. SENTRA PRODUKSI BERAS .......................................................... 21
3.2. KERAGAAN HARGA PADI/BERAS .. ............................................... 22
3.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN BERAS.. ............................... 27
3.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN BERAS ................................... 40
BAB IV. KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG ............................................43
4.1. SENTRA PRODUKSI JAGUNG ....................................................... 43
4.2. KERAGAAN HARGA JAGUNG ........................................................ 44
4.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG ............................. 49
4.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG ................................ 62
BAB V. KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH ................................67
5.1. SENTRA PRODUKSI BAWANG MERAH .......................................... 67
5.2. KERAGAAN HARGA BAWANG MERAH .......................................... 69
5.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH ................. 72
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

viii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

5.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH ....................82
BAB VI.KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR ...................................... 85
6.1. SENTRA PRODUKSI GULA ............................................................85
6.2. KERAGAAN HARGA GULA PASIR ..................................................87
6.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR .........................89
6.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR ...........................97
LAMPIRAN ................................................................................ 100
BAB VII.KINERJA PERDAGANGAN KARET ............................................ 105
7.1. SENTRA PRODUKSI KARET ........................................................ 106
7.2. KERAGAAN HARGA KARET ......................................................... 107
7.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN KARET ............................... 111
7.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN KARET ................................. 123
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 130




















Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian ix


DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan
komoditas pertanian Indonesia, 2008 - 2012. ............................... 10
Tabel 2.2. Perkembangan neraca perdagangan komdoitas beras, jagung,
bawang merah, gula dan karet Indonesia, 2008 - 2012 ................. 15
Tabel 2.3. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) komoditas beras, jagung,
bawang merah, gula pasir dan karet Indonesia, 2008 - 2012 ......... 16
Tabel 2.4. IDR dan SSR komoditas beras, jagung, bawang merah, gula
pasir dan karet Indonesia, 2008 - 2012 ........................................ 17
Tabel 2.5. Indeks keunggulan komparatif (RSCA) komoditas beras, jagung,
bawang merah, gula dan karet Indonesia dalam perdagangan
dunia, 2008 - 2011 ..................................................................... 17
Tabel 3.1. Perkembangan produksi padi di provinsi sentra di Indonesia,
2008 - 2012 ............................................................................... 22
Tabel 3.2. Perkembangan pola panen padi bulanan di Indonesia, 2010 -
2012 ......................................................................................... 23
Tabel 3.3. Perkembangan harga produsen GKG dan harga konsumen beras
bulanan di Indonesia, 2010 - 2012 ............................................... 24
Tabel 3.4. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan
komoditas beras, 2008 - 2012 ..................................................... 28
Tabel 3.5. Kode HS dan deskripsi beras segar dan olahan ............................. 31
Tabel 3.6. Perkembangan ekspor, impor beras wujud segar dan olahan
berdasarkan kode HS, 2008 - 2012 .............................................. 32
Tabel 3.7. Negara tujuan ekspor beras Indonesia, 2012 ................................ 35
Tabel 3.8. Negara asal impor beras Indonesia, 2012 ..................................... 36
Tabel 3.9. Sepuluh negara eksportir beras (total) di dunia, 2006-2010 ........... 38
Tabel 3.10. Sepuluh negara eksportir beras olahan (tepung beras) di dunia,
2006-2010 ................................................................................. 38
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

x Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.11. Sepuluh negara importir beras (total) di dunia, 2006-2010 ............. 39
Tabel 3.12. Sepuluh negara importir beras olahan (tepung beras) di dunia,
2006-2010 .................................................................................. 40
Tabel 3.13. Indeks spesialisasi perdagangan beras segar, olahan dan beras
total di Indonesia, 2008 2012 .................................................... 40
Tabel 3.14. Perkembangan nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self
Sufficiency Ratio (SSR) beras Indonesia, 2008 2012 .................... 42
Tabel 3.15. Indeks Keunggulan Komparatif (RCA) komoditas beras
Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008 - 2011 ......................... 42
Tabel 4.1. Perkembangan produksi jagung di provinsi sentra di Indonesia,
2008 - 2012................................................................................ 44
Tabel 4.2. Perkembangan luas panen jagung di Indonesia, 2011 2012 ......... 45
Tabel 4.3. Perkembangan harga produsen, harga konsumen, dan margin
harga produsen-konsumen jagung di Indonesia, 2009 2011 ........ 47
Tabel 4.4. Luas panen dan harga produsen jagung di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, 2011 ....................................................................... 48
Tabel 4.5. Perkembangan harga jagung di pasar internasional, 2010-2012 ...... 49
Tabel 4.6. Perkembangan Ekspor-Impor Jagung di Indonesia, 2008 -2012 ...... 51
Tabel 4.7. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Jagung
Segar dan Olahan di Indonesia, 2008 -2012 .................................. 52
Tabel 4.8. Perkembangan nilai ekspor jagung segar dan olahan Indonesia,
2008 - 2012................................................................................ 53
Tabel 4.9. Perkembangan nilai impor jagung segar dan olahan Indonesia,
2008 2012 ............................................................................... 55
Tabel 4.10. Negara tujuan ekspor jagung Indonesia, 2012............................... 57
Tabel 4.11. Negara asal impor jagung Indonesia, 2012 ................................... 58
Tabel 4.12. Perkembangan nilai ekspor jagung di negara-negara eksportir
utama di dunia, 2006 2010 ....................................................... 60
Tabel 4.13. Perkembangan nilai impor jagung di negara-negara importir
utama di dunia, 2006 2010 ....................................................... 61
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xi


Tabel 4.14. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) jagung segar, olahan,
dan total jagung Indonesia, 2008 2012 ..................................... 63
Tabel 4.15. IDR dan SSR jagung Indonesia, 2008 2012 ................................ 64
Tabel 4.16. Indeks keunggulan komparatif jagung segar Indonesia dalam
perdagangan dunia, 2008 - 2011 ................................................. 65
Tabel 4.17. Indeks keunggulan komparatif jagung olahan Indonesia dalam
perdagangan dunia, 2008 - 2011 ................................................. 66
Tabel 5.1. Produksi bawang merah di provinsi sentra di Indonesia, 2008-
2012 ......................................................................................... 68
Tabel 5.2. Perkembangan harga Produsen, harga konsumen dan margin
harga produsen-konsumen bawang merah di Indonesia, 2009
2011 ......................................................................................... 71
Tabel 5.3. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan
komoditas bawang merah, 2008 2012 ....................................... 72
Tabel 5.4. Perkembangan ekspor dan impor komoditas bawang merah
berdasarkan kode HS, 2008 2012 ............................................. 74
Tabel 5.5. Negara tujuan ekspor bawang merah Indonesia, 2012 .................. 75
Tabel 5.6. Negara asal impor bawang merah Indonesia, 2012 ....................... 77
Tabel 5.7. Negara eksportir bawang merah kering terbesar dunia,
2006 2010 .............................................................................. 77
Tabel 5.8. Negara importir bawang merah kering terbesar dunia,
2006 2010 .............................................................................. 79
Tabel 5.9. Negara eksportir bawang merah segar terbesar dunia,
2006 2010 .............................................................................. 81
Tabel 5.10. Negara importir bawang merah segar terbesar dunia,
2006 2010 .............................................................................. 82
Tabel 5.11. Indeks spesialisasi perdagangan (ISP) bawang merah Indonesia,
2008- 2012 .............................................................................. 82
Tabel 5.12. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
bawang merah Indonesia, 2008 - 2012 ........................................ 83
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

xii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 5.13. Indeks keunggulan komparatif komoditas bawang (bawang
merah dan bawang Bombay) Indonesia dalam perdagangan
dunia, 2008 - 2011 ..................................................................... 84
Tabel 6.1. Perkembangan ekspor, impor dan necara perdagangan gula
Indonesia, 2008-2012 ................................................................. 90
Tabel 6.2. Kode HS dan deskripsi gula (manufaktur) ..................................... 92
Tabel 6.3. Perkembangan ekspor dan impor gula berdasarkan kode HS .......... 93
Tabel 6.4. Nilai indeks spesialisasi perdagangan gula tebu, 2008-2012 ............ 97
Tabel 6.5. Nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio
(SSR) tebu/gula Indonesia, 2008-2012 ........................................ 98
Tabel 6.6. RCA dan RSCA gula Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008
- 2011 ........................................................................................ 99
Tabel 7.1. Sentra Produksi Karet Indonesia, 2008 2012*) ......................... 107
Tabel 7.2. Perkembangan Harga Produsen Getah Karet Tebal di
Indonesia, 2002 2011 ............................................................. 109
Tabel 7.3. Perkembangan Harga Internasional Karet, 2002 2012 ............... 110
Tabel 7.4. Perkembangan Ekspor-Impor dan Neraca Perdagangan Karet
Indonesia, 2008 - 2012 ............................................................. 111
Tabel 7.5. Perkembangan Ekspor-Impor Karet Indonesia, dalam wujud
manufaktur dan primer, 2008 2012 ......................................... 114
Tabel 7.6. Perkembangan Ekspor-Impor Karet Indonesia, menurut kode
HS (Harmony Sistem), 2008 2012............................................ 116
Tabel 7.7. Negara Tujuan Ekspor Karet Manufaktur Indonesia, 2012 ............ 117
Tabel 7.8. Negara Tujuan Ekspor Karet Primer Indonesia, 2012 ................... 118
Tabel 7.9. Negara Asal Impor Karet Primer Indonesia, 2012......................... 120
Tabel 7.10. Negara Eksportir Karet Terbesar Dunia, 2006 2010 ................... 121
Tabel 7.11. Negara Importir Karet Terbesar Dunia, 2006 2010 .................... 122
Tabel 7.12. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) karet primer, karet
manufaktur dan total karet Indonesia, 2008 2012 ................... 123
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xiii


Tabel 7.13. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
karet Indonesia, 2008 2012 ................................................... 125
Tabel 7.14. Indeks keunggulan komparatif karet Indonesia dalam
perdagangan dunia, 2008-2011 ................................................. 126
Tabel 7.15. Hasil perhitungan nilai RCA dan RSCA karet Indonesia, 2008-
2011 ....................................................................................... 128
Tabel 7.16. Hasil perhitungan Constant Market Share Analysis (CMSA) karet
Indonesia ke dunia, 2008 - 2011 ............................................... 129

























2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

xiv Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian



































Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xv


DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor komoditas
pertanian, 2008 2012 ........................................................... 11
Gambar 2.2. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan
komoditas pertanian, 2008 2012 ............................................ 12
Gambar 2.3. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata nilai
ekspor dan impor, 2008 - 2012 ................................................. 13
Gambar 2.4. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata volume
ekspor dan impor, 2008 2012 ................................................ 13
Gambar 2.5. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian,
tahun 2008 2012 .................................................................. 14
Gambar 3.1. Provinsi sentra produksi padi di Indonesia, 2008 - 2012 .............. 22
Gambar 3.2. Perkembangan pola panen padi di Indonesia, 2010 - 2012 .......... 23
Gambar 3.3. Perkembangan harga GKG di tingkat petani, 2011 2012 ........... 24
Gambar 3.4. Perkembangan harga konsumen beras, 2011 - 2012 .................. 25
Gambar 3.5. Perkembangan disparitas antara harga produsen
(gabah/GKG) dan harga konsumen (beras), 2011 - 2012 ............ 26
Gambar 3.6. Perkembangan harga beras Thailand, Vietnam dan IR64,
2011 - 2012 ............................................................................ 27
Gambar 3.7. Perkembangan neraca perdagangan beras Indonesia, 2008 -
2012....................................................................................... 29
Gambar 3.8. Kontribusi ekspor impor beras segar dan olahan di
Indonesia, 2012 ...................................................................... 30
Gambar 3.9. Beras wujud segar yang diekspor dan diimpor Indonesia,
2012....................................................................................... 33
Gambar 3.10. Beras wujud olahan yang diekspor dan diimpor Indonesia,
2012....................................................................................... 33
Gambar 3.11. Negara tujuan ekspor beras Indonesia, 2012 ............................. 34
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

xvi Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Gambar 3.12. Negara asal impor beras Indonesia, 2012 ................................... 36
Gambar 3.13. Sepuluh negara pengekspor beras (total) dan tepung beras,
2006 2010 ............................................................................ 37
Gambar 3.14. Sepuluh negara pengimpor beras (total) dan tepung beras,
2006 2010 ............................................................................ 39
Gambar 4.1. Provinsi sentra produksi jagung di Indonesia, 2008 2012 .......... 44
Gambar 4.2. Perkembangan luas panen jagung di Indonesia, 2011-2012 ......... 45
Gambar 4.3. Perkembangan harga produsen dan harga konsumen jagung
di Indonesia, 2009 -2011 .......................................................... 46
Gambar 4.4. Perkembangan harga produsen dan luas panen jagung di
Jawa Tengah dan Jawa Timur, 2011 .......................................... 47
Gambar 4.5. Perkembangan harga internasional jagung, 2010 2012 ............. 49
Gambar 4.6. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan
jagung Indonesia , 2008 - 2012 ................................................. 50
Gambar 4.7. Kontribusi nilai ekspor jagung segar menurut wujud hasilnya,
2008 - 2012 ............................................................................. 53
Gambar 4.8. Kontribusi nilai ekspor jagung olahan menurut wujud hasilnya,
2008 - 2012 ............................................................................. 54
Gambar 4.9. Kontribusi nilai impor jagung segar menurut wujud hasilnya,
2008 - 2012 ............................................................................. 54
Gambar 4.10. Kontribusi nilai impor jagung olahan menurut wujud hasilnya,
2008 - 2012 ............................................................................. 55
Gambar 4.11. Negara tujuan ekspor jagung Indonesia, 2012 ............................ 56
Gambar 4.12. Negara asal impor jagung Indonesia, 2012 ................................ .58
Gambar 4.13. Negara eksportir jagung pipilan kering terbesar dunia, 2006 -
2010 ....................................................................................... 59
Gambar 4.14. Negara importir jagung pipilan kering terbesar dunia, 2006 -
2010 ....................................................................................... 61
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xvii


Gambar 4.15. Perkembangan nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
jagung segar, olahan, dan total jagung Indonesia, 2008 -
2012....................................................................................... 63
Gambar 5.1. Provinsi sentra produksi bawang merah di Indonesia,
2008 2012............................................................................ 68
Gambar 5.2. Perkembangan produksi bulanan bawang merah di Indonesia,
2009 -2011 ............................................................................. 69
Gambar 5.3. Perkembangan harga produsen dan konsumen bawang merah
di Indonesia, 2009 - 2011 ........................................................ 70
Gambar 5.4. Perkembangan harga produsen dan produksi bawang merah
di Jawa Tengah dan Jawa Timur, 2011 ...................................... 72
Gambar 5.5. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan
bawang merah Indonesia, 2008 2012 ..................................... 73
Gambar 5.6. Negara tujuan utama bawang merah Indonesia, 2012 ................ 75
Gambar 5.7. Negara asal utama bawang merah Indonesia, 2012 .................... 76
Gambar 5.8. Negara eksportir bawang merah kering terbesar di dunia,
2006 - 2010 ............................................................................ 78
Gambar 5.9. Negara importir bawang merah kering terbesar di dunia, 2006
- 2010 .................................................................................... 79
Gambar 5.10. Negara eksportir bawang merah segar terbesar di dunia, 2006
- 2010 .................................................................................... 80
Gambar 5.11. Negara importir bawang merah segar terbesar di dunia, 2006
- 2010 .................................................................................... 81
Gambar 6.1. Provinsi sentra produksi tebu di Indonesia, 2008-2012 ............... 86
Gambar 6.2. Perkembangan harga rata-rata gula pasir di dalam negeri,
1997 - 2012 ........................................................................... 87
Gambar 6.3. Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir, 2009 -
2012....................................................................................... 88
Gambar 6.4. Perkembangan harga internasional gula pasir, 2010-2012 ........... 89
2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

xviii Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Gambar 6.5. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan
gula Indonesia, 2008-2012 ....................................................... 91
Gambar 6.6. Negara tujuan ekspor gula tebu Indonesia, 2012 ........................ 94
Gambar 6.7. Negara asal Impor Gula Indonesia, 2012 .................................... 95
Gambar 6.8. Negara eksportir gula terbesar di dunia, 2006-2010 .................... 96
Gambar 6.9. Negara Importir Gula terbesar di dunia, 2006-2010 ..................... 96
Gambar 7.1. Provinsi sentra produksi karet kering di Indonesia, 2008-2012 ... 106
Gambar 7.2. Perkembangan Harga Karet Getah Tebal di Indonesia, 2002-
2011 ..................................................................................... 108
Gambar 7.3. Perkembangan harga produsen getah karet tebal di beberapa
provinsi sentra produksi, 2002 - 2011 ...................................... 108
Gambar 7.4. Perkembangan harga internasional karet berdasarkan jenis
harga, 2002 2012 ................................................................ 110
Gambar 7.5. Perkembangan nilai ekspor, impor, dan neraca perdagangan
karet Indonesia, 2008 2012.................................................. 112
Gambar 7.6. Persentase ekspor dan impor karet primer dan manufaktur
Indonesia, 2012 ..................................................................... 113
Gambar 7.7. Persentase ekspor karet Indonesia berdasarkan kode HS,
2008-2012 ............................................................................. 115
Gambar 7.8. Negara Tujuan Ekspor Karet Wujud Manufaktur Indonesia,
2012 ..................................................................................... 117
Gambar 7.9. Negara Tujuan Ekspor Karet Wujud Primer Indonesia, 2012 ...... 118
Gambar 7.10. Negara Asal Impor Karet Wujud Primer Indonesia, 2012 ........... 119
Gambar 7.11. Negara eksportir karet terbesar dunia, 2006 - 2010 .................. 121
Gambar 7.12. Negara importir karet terbesar dunia, 2006 - 2010 .................... 122
Gambar 7.13. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) karet primer,
manufaktur dan total karet Indonesia, 2008 2012 .................. 124
Gambar 7.14. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio
(SSR) karet Indonesia, 2008 2012 ........................................ 125

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian xix


DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor sub sektor
Pertanian, 2008 2012 ......................................................... 18
Lampiran 2.2. Perkembangan nilai neraca perdagangan sub sektor
Pertanian, 2008 2012 ......................................................... 19
Lampiran 6.1. Provinsi sentra produksi tebu di Indonesia, 2008-2012 ........... 100
Lampiran 6.2. Perkembangan harga gula pasir di pasar dalam negeri, 1997
2012 ............................................................................... 100
Lampiran 6.3. Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir, 2009-
2012 .................................................................................. 101
Lampiran 6.4. Perkembangan harga internasional gula, 2010-2012 .............. 101
Lampiran 6.5. Ekspor gula tebu Indonesia menurut negara tujuan, 2012 ...... 101
Lampiran 6.6. Impor gula tebu Indonesia menurut negara asal, 2012 .......... 102
Lampiran 6.7. Negara Eksportir gula terbesar di dunia, 2006-2012 ............... 102
Lampiran 6.8. Negara Importir gula terbesar di dunia, 2006-2012 ................ 103
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. L ATAR BELAKANG

Peranan sektor pertanian dalam kegiatan perekonomian di Indonesia
dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
Indonesia tahun 2012 yang cukup besar yaitu sekitar 14,44% atau setara Rp
1.190 trilyun (angka sangat sementara, BPS) dan menempati urutan kedua
setelah sektor industri pengolahan. Sedangkan dari sisi penyerapan tenaga
kerja sebesar 33,89 persen tenaga kerja terserap di sektor pertanian dari total
tenaga kerja Indonesia.
Perdagangan dalam negeri (domestik) dan perdagangan luar negeri
(internasional) untuk komoditas pertanian yang meliputi sub sektor tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan masih cukup luas untuk terus
dikembangkan. Sektor pertanian sudah terbukti merupakan sektor yang dapat
diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional, mengingat sektor
pertanian terbukti masih dapat memberikan kontribusi pada perekonomian
nasional walaupun pada saat terjadi krisis. Hal ini dikarenakan terbukanya
penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian dan tingginya sumbangan devisa
yang dihasilkan. Kementerian Pertanian menetapkan 4 sukses pembangunan
pertanian, dimana salah satunya adalah Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing
dan Ekspor.
Indonesia memiliki potensi besar untuk menggandakan perolehan
ekspor berbagai komoditi pertanian di satu sisi, dan menekan impor, terutama
komoditi-komoditi pertanian yang dapat dibudidayakan di dalam negeri. Untuk
itu pelaksanaan pembangunan pertanian memerlukan paket kebijakan
komprehensif yang mampu meningkatkan keunggulan kompetitif berbagai
komoditi potensial untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus untuk menjamin
keberlanjutan pembangunan pertanian nasional di tengah-tengah percaturan
global dan mewujudkan swasembada pangan. Oleh karena itu, untuk
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

mewujudkan swasembada pangan dan meningkatkan kinerja ekspor pertanian
sebagai salah satu andalan sumber devisa negara, maka kebijakan dan
langkah-langkah terobosan ke depan sangat diperlukan.
Berdasarkan hal tersebut, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian
(Pusdatin) mulai tahun 2009 telah melakukan analisis mengenai kinerja
perdagangan komoditas pertanian yang dapat digunakan untuk mengetahui
sejauh mana kinerja perdagangan beberapa komoditas unggulan pertanian
serta posisi Indonesia di pasar internasional akan produk pertaniannya. Analisis
ini diterbitkan dalam bentuk Buku Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian
(ISSN No. 2086-4949). Analisis kinerja perdagangan Volume 4 No. 1 Tahun
2013 berisi analisis untuk komoditas beras, jagung, bawang merah, gula dan
karet.

1.2. METODOLOGI

1.2.1. Sumber Data dan Informasi
Analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian tahun 2013 disusun
berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari data sekunder yang
bersumber dari instansi terkait baik di lingkup Kementerian Pertanian maupun
di luar Kementerian Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian
Perdagangan, Dewan Gula Indonesia, World Bank, Food and Agriculture
Organization (FAO), dan Uncomtrade.

1.2.2. Cakupan Komoditas
Cakupan komoditas pertanian yang dianalisis pada Buku Kinerja
Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 4 No. 1 Tahun 2013 antara lain
meliputi komoditas unggulan nasional yaitu beras dan jagung (sub sektor
tanaman pangan), bawang merah (sub sektor hortikultura), serta gula dan
karet (sub sektor perkebunan).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 3

1.2.3. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan analisis kinerja
perdagangan komoditas pertanian adalah sebagai berikut :

a. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan analisis keragaan, diantaranya dengan
menyajikan nilai rata-rata pertumbuhan per tahun, rata-rata dan persen
kontribusi (share) yang mencakup indikator kinerja perdagangan komoditas
pertanian meliputi :
Produksi dan Luas Panen
Harga produsen, konsumen, dan internasional
Volume dan nilai ekspor-impor, berdasarkan wujud segar/primer dan
olahan/manufaktur, serta berdasarkan kode HS (Harmony Sistem)
Negara tujuan ekspor dan negara asal impor
Negara eksportir dan importir dunia

b. Analisis Inferensia
Analisis inferensia yang digunakan dalam analisis kinerja perdagangan
komoditas pertanian antara lain :

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
ISP digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan
suatu komoditas. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu
komoditas, posisi Indonesia cenderung menjadi negara eksportir atau
importir komoditas Pertanian tersebut. Secara umum ISP dapat
dirumuskan sebagai berikut :

ia ia
ia ia
M X
M - X
ISP


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

4 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

dimana :

ia
X = volume atau nilai ekspor komoditas ke-i Indonesia
ia
M = volume atau nilai impor komoditas ke-i Indonesia

Nilai ISP adalah

-1 s/d -0,5 : Berarti komoditas tersebut pada tahap pengenalan dalam
perdagangan dunia atau memiliki daya saing rendah atau
negara bersangkutan sebagai pengimpor suatu komoditas

-0,4 s/d 0,0 : Berarti komoditas tersebut pada tahap substitusi impor dalam
perdagangan dunia

0,1 s/d 0,7 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap perluasan ekspor
dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang
kuat

0,8 s/d 1,0 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap pematangan dalam
perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang sangat
kuat.

Indeks Keunggulan Komparatif (Revealed Comparative
Advantage RCA) dan RSCA (Revealead Symetric Comparative
Advantage)

Konsep comparative advantage diawali oleh pemikiran David Ricardo yang
melihat bahwa kedua negara akan mendapatkan keuntungan dari
perdagangan apabila menspesialisasikan untuk memproduksi produk-produk
yang memiliki comparative advantage dalam keadaan autarky (tanpa
perdagangan). Balassa (1965) menemukan suatu pengukuran terhadap
keunggulan komparatif suatu negara secara empiris dengan melakukan
penghitungan matematis terhadap data-data nilai ekspor suatu negara
dibandingkan dengan nilai ekspor dunia. Penghitungan Balassa ini disebut
Revealed Comparative Advantage (RCA) yang kemudian dikenal dengan
Balassa RCA Index :

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 5

w
iw
j
ij
X
X
X
X
RCA
dimana:
ij
X : Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia)
j
X : Total nilai ekspor non migas negara j (Indonesia)
iw
X : Nilai ekspor komoditi i dari dunia
w
X : Total nilai ekspor non migas dunia

Sebuah produk dinyatakan memiliki daya saing jika RCA>1, dan tidak
berdaya saing jika RCA<1. Berdasarkan hal ini, dapat dipahami bahwa nilai
RCA dimulai dari 0 sampai tidak terhingga.
Menyadari keterbatasan RCA tersebut, maka dikembangkan Revealed
Symmetric Comparative Advantage (RSCA), dengan rumus sebagai berikut :

1) (RCA
1) - (RCA
RSCA

Konsep RSCA membuat perubahan dalam penilaian daya saing, dimana nilai
RSCA dibatasi antara -1 sampai dengan 1. Sebuah produk disebut memiliki
daya saing jika memiliki nilai di atas nol, dan dikatakan tidak memiliki daya
saing jika nilai dibawah nol.

Import Dependency Ratio (IDR)
Import Dependency Ratio (IDR) merupakan formula yang menyediakan
informasi ketergantungan suatu negara terhadap impor suatu komoditas.
Nilai IDR dihitung berdasarkan definisi yang dibangun oleh FAO (Food and
Agriculture Organization of the United Nations).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

6 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Penghitungan nilai IDR tidak termasuk perubahan stok dikarenakan
besarnya stok (baik dari impor maupun produksi domestik) tidak diketahui.

100
Ekspor Impor Produksi
Impor
IDR

Self Sufficiency Ratio (SSR)
Nilai SSR menunjukkan besarnya produksi dalam kaitannya dengan
kebutuhan dalam negeri. SSR diformulasikan sbb.:

100
Ekspor Impor Produksi
Produksi
SSR

Constant Market Share Analysis (CMSA)
Analisis CMS pertama sekali di perkenalkan oleh Tyszynski di tahun 1950,
untuk menganalisis daya saing sebuah komoditi ke negara tertentu dengan
kinerja perdagangan ke dunia. Model ini kemudian dikembangkan Leamer
and Stern (1970) serta Richardson (1971) menyatakan keempat faktor yang
mempengaruhi kinerja daya saing memiliki bobot yang sama. Namun, Milana
(1981) menyatakan competitiveness effect seharusnya memiliki bobot yang
lebih tinggi dibandingkan faktor lain dalam menentukan daya saing produk
ekspor. Lebih lanjut Milana mengembangkan model CMS sebagai berikut :

q2-q1 = world growth effect + commodity composition effect + market
distribution effect + competitiveness effect





Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 7

dengan perhitungan lebih lanjut dari persamaan di atas adalah :

world growth effect
commodity composition effect
market distribution effect
competitiveness effect

Dimana :
= total ekspor negara asal ke negara mitra
= ekspor komoditi p dari negara ke negara mitra
= total ekspor komoditi p di dunia
= pangsa negara asal di dunia
= = pangsa ekspor komoditi p dari negara asal di dunia
t = waktu pengamatan



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

8 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian







(Halaman ini sengaja dikosongkan)
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 9

II. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN

Globalisasi secara teoretis penuh dengan tuntutan atas negara-negara
yang ingin (dipaksa harus) terlibat, seperti mengendurkan bea masuk,
mengendurkan proteksi, mengurangi subsidi, memangkas regulasi ekspor-
impor, perburuhan, investasi, dan harga, serta melakukan privatisasi atas
perusahaan milik negara. Kondisi tersebut tidak akan banyak membawa
produk-produk lokal ke pasar internasional. Syarat-syarat yang ditetapkan
sesungguhnya merupakan perangkap yang sulit ditembus oleh negara dunia
ketiga. Kecenderungannya akan mempercepat proses penurunan daya saing
produk lokal. Pada perkembangnnya, segala sesuatu yang berbau lokal akan
melemah dan hilang.
Sementara itu dalam organisasi APEC (ASIA-Pacific Economic
Cooperation) Indonesia telah berperan aktif dalam mencetuskan Bogor Goals,
yaitu mewujudkan kawasan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka
tahun 2010 untuk negara maju serta 2020 untuk negara berkembang. Anggota
APEC saat ini merepresentasikan sepertiga populasi dunia dan hampir 50%
kekuatan perekonomian global. Dengan kata lain, potensi pasar global dan
gravitasi aktivitas ekonomi dunia berada di kawasan ini. Masalahnya kini,
seberapa jauh manfaat dan efektivitas forum APEC bagi perdagangan dan
investasi Indonesia.
Disisi lain pemasaran antar wilayah (perdagangan domestik) komoditas
pertanian pada umumnya terjadi karena adanya perbedaan tingkat penawaran
dan permintaan yang mempengaruhi keragaman harga komoditas di setiap
wilayah, aliran komoditas akan terjadi dari sentra produsen yang harganya lebih
rendah ke daerah konsumen yang harganya lebih tinggi.




Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

10 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

2.1. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SEKTOR PERTANIAN

Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dilihat dari
neraca perdagangan luar negeri (ekspor dikurangi impor) komoditas pertanian
yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan
peternakan selama tahun 2008 sampai dengan 2012 terlihat mengalami surplus
baik dari sisi volume neraca perdagangan maupun nilai neraca perdagangan,
hal ini dapat dilihat secara rinci pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas
pertanian Indonesia, 2008 2012

Pertumb. (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2008 - 2012
1 Ekspor
- Volume (Ton) 27.154.761 29.572.229 28.768.085 29.959.656 30.672.967 3,18
- Nilai (000 US$) 29.300.337 23.037.582 32.522.974 43.365.004 33.690.927 7,71
2 Impor
- Volume (Ton) 12.593.233 13.401.150 16.874.998 22.917.892 19.352.756 13,15
- Nilai (000 US$) 11.341.139 9.897.316 13.983.327 20.598.660 13.930.495 10,87
3 Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) 14.561.528 16.171.080 11.893.087 7.041.764 11.320.211 1,14
- Nilai (000 US$) 17.959.198 13.140.266 18.539.647 22.766.344 19.760.432 5,96
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Keterangan : -Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
- Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur
No. Uraian
Tahun


Berdasarkan Tabel 2.1 terlihat bahwa surplus neraca perdagangan
komoditas pertanian dari tahun 2008 berfluktuasi. Pada tahun 2008 nilai neraca
perdagangan sebesar US$ 17,96 milyar namun tahun 2009 surplus neraca
perdagangan mengalami penurunan menjadi sebesar US$ 13,14 milyar
walaupun volumenya meningkat menjadi 16,17 juta ton. Surplus neraca
perdagangan ini terus meningkat hingga tahun 2012 menjadi US$ 19,76 milyar
dengan volume sebesar 11,32 juta ton.
Jika dilihat rata-rata pertumbuhannya per tahun, surplus volume neraca
perdagangan tahun 2008 - 2012 terlihat mengalami peningkatan yaitu rata-rata
sebesar 1,14% per tahun. Peningkatan laju ini terutama karena pertumbuhan
volume ekspor yang meningkat sebesar 3,18% per tahun dan volume impor
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 11

meningkat sebesar 13,15% per tahun. Demikian pula bila dilihat dari sisi nilai
neraca perdagangan menunjukkan peningkatan surplus dengan rata-rata
pertumbuhan per tahun sebesar 5,96%, di mana rata-rata pertumbuhan nilai
ekspor sebesar 7,71% per tahun dan nilai impor meningkat sebesar 10,87%
per tahun. Volume ekspor dan impor komoditas pertanian ini secara lebih
jelas dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini, yang secara umum
menunjukkan volume ekspor selalu lebih tinggi dibandingkan volume impornya
atau mengalami surplus dalam neraca perdagangan pertanian.

-
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
2008 2009 2010 2011 2012
(
0
0
0

T
o
n
)
Volume Ekspor Volume impor

Gambar 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor komoditas pertanian,
2008 2012

Dari sisi nilai neraca perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat pada
Gambar 2.2. Surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun
2011 yaitu sebesar US$ 22,77 Milyar, dengan nilai ekspor sebesar US$ 43,37
milyar dan nilai impor sebesar US$ 20,60 milyar. Sementara tahun 2009
tercatat adanya penurunan nilai neraca perdagangan dibandingkan tahun 2008,
baik untuk nilai ekspor, impor maupun surplus perdagangannya. Untuk tahun
2012, nilai ekspor dan impor juga mengalami penurunan serta nilai neraca
perdagangannya lebih rendah dibandingkan tahun 2011.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

-
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
40.000
45.000
2008 2009 2010 2011 2012
(
J
u
t
a

U
S
$
)
Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca Perdagangan

Gambar 2.2. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan
komoditas pertanian, 2008 2012


2.2. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SUB SEKTOR
PERTANIAN

Sub sektor perkebunan merupakan andalan nasional dalam neraca
perdagangan sektor pertanian, karena selalu mengalami surplus dan dapat
menutupi defisit yang dialami oleh sub sektor lainnya. Neraca perdagangan sub
sektor pertanian secara rinci disajikan pada Lampiran 2.2. Surplus neraca
perdagangan sektor pertanian terjadi karena lebih dari 90% berasal dari nilai
ekspor komoditas perkebunan dengan persentase impor yang lebih kecil,
sebaliknya untuk sub sektor lainnya persentase kontribusi nilai impor jauh lebih
tinggi dibandingkan ekspornya (Gambar 2.3).



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 13

tanaman
pangan,
1,17%
hortikultura;
1,39%
perkebunan;
94,35%
peternakan,
3,09%
Nilai Ekspor
tanaman
pangan;
33,20%
hortikultura;
9,90%
perkebunan;
37,66%
peternakan;
19,25%
Nilai Impor

Gambar 2.3. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata nilai ekspor
dan impor, 2008 - 2012

Demikian pula halnya dari sisi volume ekspor, terlihat pada Gambar 2.4
menunjukkan sub sektor perkebunan merupakan sub sektor yang berkontribusi
cukup besar terhadap total volume ekspor pertanian. Lebih dari 90% volume
ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dan bila dilihat
kontribusi volume impornya hanya sebesar 18,31% dari total volume impor
komoditas pertanian. Sementara untuk sub sektor lainnya persentase impor
justru lebih tinggi dibandingkan ekspornya. Volume impor yang terbesar adalah
sub sektor tanaman pangan mencapai 64,18% dari volume impor total
pertanian. Secara rinci volume ekspor dan impor per sub sektor pertanian
tahun 2008 2012 disajikan pada Lampiran 2.1.
tanaman
pangan;
2,44%
hortikultura;
1,48%
perkebunan;
94,22%
peternakan;
1,86%
Volume Ekspor
tanaman
pangan;
64,18%
hortikultura;
10,40%
perkebunan;
18,31%
peternakan;
7,11%
Volume Impor

Gambar 2.4. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata volume
ekspor dan impor, 2008 2012
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

14 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Bila dilihat pada Lampiran 2.2 nilai surplus sub sektor perkebunan tahun
2008 sebesar US$ 22,83 milyar dan mengalami penurunan pada tahun 2009
menjadi US$ 17,63 milyar, namun pada tahun-tahun berikutnya surplus nilai
perdagangan sub sektor perkebunan terus mengalami peningkatan menjadi
US$ 29,37 milyar di tahun 2012 dengan rata-rata pertumbuhan per tahun
meningkat sebesar 9,61%. Dimana rata-rata pertumbuhan per tahun nilai
ekspor naik sebesar 8,37% dan nilai impor naik sebesar 5,40%. Sementara
nilai neraca perdagangan sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan
peternakan selalu mengalami defisit. Selama periode 2008 2012 besarnya
defisit subsektor tanaman pangan, hortikultura dan peternakan cenderung
meningkat rata-rata masing-masing sebesar 25,37%, 28,27% dan 18,50% per
tahun seperti tersaji pada Gambar 2.5.

(10.000)
(5.000)
-
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
2008 2009 2010 2011 2012
(
0
0
0

T
o
n
)
Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan

Gambar 2.5. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian,
2008 2012






Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 15

2.3. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS
PERTANIAN


Kinerja perdagangan suatu komoditas dapat dilihat dari besarnya ekspor,
impor dan neraca perdagangan. Nilai neraca perdagangan komoditas beras,
jagung, bawang merah, dan gula pasir selalu mengalami defisit, sementara
untuk komoditas karet selalu mengalami surplus yang berarti volume dan nilai
ekspor karet lebih besar dibandingkan dengan volume dan nilai impornya.
Selama periode tahun 2008-2012, defisit neraca perdagangan beras,
jagung, bawang merah dan gula pasir mengalami peningkatan dari sisi nilai
masing-masing sebesar 127,91%, 123,73%, 16,44% dan 31,60% pertahun.
Sedangkan pertumbuhan neraca perdagangan karet dari sisi nilai mengalami
peningkatan surplus sebesar 28,87% per tahun.

Tabel 2.2. Perkembangan neraca perdagangan komoditas beras, jagung,
bawang merah, gula dan karet Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
Beras -122.848 -105.918 -360.230 -1.507.985 -1.005.638 127,91
Jagung -106.535 -88.160 -472.128 -1.065.750 -542.588 123,73
Bawang Merah -49.281 -24.595 -32.047 -70.849 -45.668 16,44
Gula -357.642 -608.355 -1.145.148 -1.790.880 -208.975 31,60
Karet 5.409.209 2.907.621 6.605.386 10.679.254 7.782.703 28,87
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Komoditas
Neraca Perdagangan (000 US $)
Rata-rata
Pertumb.
(%)

Nilai ISP komoditas beras secara total mempunyai nilai negatif pada
kisaran sebesar -0,99 hingga -0,96 yang berarti bahwa komoditas beras
Indonesia mempunyai daya saing yang sangat rendah. Komoditas lainnya yaitu
jagung, bawang merah dan gula pasir juga bernilai negatif yang cukup besar.
Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan jagung besar, bawang merah dan
gula tebu Indonesia masih dalam tahap pengenalan. Sementara untuk
komoditas karet Indonesia mempunyai daya saing yang sangat kuat atau pada
tahap pematangan dalam perdagangan dunia (tabel 2.3).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 2.3. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) komoditas beras, jagung,
bawang merah, gula pasir dan karet Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
Beras -0,985 -0,963 -0,997 -0,998 -0,997
Jagung -0,645 -0,696 -0,951 -0,966 -0,880
Bawang Merah -0,845 -0,739 -0,898 -0,843 -0,722
Gula Tebu -0,691 -0,790 -0,875 -0,919 -0,693
Karet 0,784 0,728 0,793 0,805 0,980
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Komoditas
ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan)


Perhitungan nilai IDR beras Indonesia pada periode tahun 2008 2012
supply beras Indonesia tergantung pada beras impor berkisar antara 0,39%
sampai 4,01%. Ketergantungan pada beras impor walaupun dalam kuantitas
yang kecil ini utamanya adalah pada jenis beras segar. Nilai SSR komoditas
beras Indonesia dari tahun 2008 hingga 2012 lebih dari 90%, yang berarti
bahwa hampir sebagian besar kebutuhan beras dalam negeri dapat dipenuhi
oleh produksi domestik. Untuk komoditas jagung, bawang merah dan gula tebu
nilai SSR juga bernilai positif yang menunjukkan bahwa Indonesia sudah bisa
mencukupi kebutuhan komoditas tersebut dalam negeri dengan proporsi yang
cukup besar dari produksi sendiri. Sementara kemampuan produksi karet dalam
negeri terlihat cukup tinggi bahkan sebagian besar untuk diekspor/surplus, hal
ini dapat dilihat dari SSR tahun 2008 sampai 2012 yang menunjukkan angka
positif dan cukup besar persentasenya.







Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 17

Tabel 2.4. IDR dan SSR komoditas beras, jagung, bawang merah, gula pasir
dan karet Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
Beras 0,48 0,39 1,02 4,01 2,72
Jagung 2,37 2,34 8,90 15,83 9,35
Bawang Merah 13,21 6,60 6,55 15,43 11,49
Gula Tebu 40,24 46,40 52,83 61,19 19,43
Karet 41,09 41,96 52,27 50,36 4,80
2008 2009 2010 2011 2012
Beras 99,52 99,62 98,98 96,00 97,28
Jagung 98,28 98,08 91,32 84,33 90,99
Bawang Merah 88,06 94,65 93,74 85,89 90,30
Gula Tebu 93,19 70,36 59,85 51,07 95,86
Karet 399,38 379,67 415,54 421,92 485,71
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Komoditas
Import Dependency Ratio (%)
Komoditas
Self Sufficiency Ratio (%)


Berdasarkan hasil perhitungan nilai RSCA menunjukkan bahwa komoditas
beras Indonesia secara umum tidak mempunyai daya saing di pasar dunia. Hal
ini ditunjukkan dengan nilai RSCA yang negatif bahkan hingga -0,99% pada
tahun 2010 dan 2011. Untuk komoditas jagung, bawang dan gula juga
menunjukkan bahwa komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan komperatif
di perdagangan dunia. Sedangkan untuk komoditas karet Indonesia memiliki
keunggulan komperatif yang cukup besar di pasar dunia, hal ini ditunjukkan
nilai RSCA tahun 2008 - 2011 mendekati nilai 1 dan relatif stabil selama periode
tersebut.

Tabel 2.5. Indeks keunggulan komparatif (RSCA) komoditas beras, jagung,
bawang merah, gula dan karet Indonesia dalam perdagangan
dunia, 2008 2011

2008 2009 2010 2011
Beras -0,98 -0,97 -0,99 -0,99
Jagung segar -0,96 -0,96 -0,94 -0,59
Bawang Merah -0,56 -0,61 -0,88 -0,64
Gula -0,25 -0,35 -0,51 -0,65
Karet 0,95 0,95 0,95 0,95
Sumber: BPS dan UNComtrade diolah Pusdatin
Komoditas
Revealead Symetric Comparative Advantage (RSCA)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lampiran 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor sub sektor
Pertanian, 2008 - 2012

Rata-rata Pertumb. (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2008 - 2012 2008 - 2012
1 Volume Ekspor
- Tanaman Pangan 812.290 786.627 892.454 807.265 234.274 706.582 -17,56
- Hortikultura 524.485 447.609 364.139 381.648 426.576 428.891 -4,18
- Perkebunan 25.182.681 27.864.811 27.017.306 27.863.746 29.826.443 27.550.997 4,45
- Peternakan 635.304 473.182 494.186 906.997 185.675 539.069 -4,27
Pertanian 27.154.760 29.572.229 28.768.085 29.959.656 30.672.968 29.225.540 3,18
2 Volume Impor
- Tanaman Pangan 7.414.293 7.788.215 10.504.604 15.363.009 14.440.737 11.102.172 20,04
- Hortikultura 1.429.967 1.524.666 1.560.808 2.052.271 2.138.802 1.741.303 11,17
- Perkebunan 2.683.739 2.963.532 3.578.061 4.311.982 1.571.475 3.021.758 -2,97
- Peternakan 1.065.235 1.124.737 1.231.525 1.190.630 1.201.742 1.162.774 3,17
Pertanian 12.593.234 13.401.150 16.874.998 22.917.892 19.352.756 16.164.851 13,15
3 Volume Ekspor
- Tanaman Pangan 2,99 2,66 3,10 2,69 0,76 2,44
- Hortikultura 1,93 1,51 1,27 1,27 1,39 1,48
- Perkebunan 92,74 94,23 93,91 93,00 97,24 94,22
- Peternakan 2,34 1,60 1,72 3,03 0,61 1,86
4 Volume Impor
- Tanaman Pangan 58,88 58,12 62,25 67,04 74,62 64,18
- Hortikultura 11,36 11,38 9,25 8,95 11,05 10,40
- Perkebunan 21,31 22,11 21,20 18,81 8,12 18,31
- Peternakan 8,46 8,39 7,30 5,20 6,21 7,11
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Keterangan : Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur
% terhadap Pertanian
Tahun (Ton)
No. Uraian



















Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 19

Lampiran 2.2. Perkembangan nilai neraca perdagangan sub sektor pertanian,
2008 - 2012

Rata-rata Pertumb. (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2008 - 2012 2008 - 2012
1 Nilai Ekspor
- Tanaman Pangan 348.883 321.261 477.708 584.861 150.705 376.684 -2,76
- Hortikultura 433.921 379.739 390.740 491.304 504.538 440.048 4,71
- Perkebunan 27.369.363 21.581.669 30.702.864 40.689.768 32.479.157 30.564.564 8,37
- Peternakan 1.148.170 754.913 951.662 1.599.071 556.527 1.002.069 -1,34
Pertanian 29.300.337 23.037.582 32.522.974 43.365.004 33.690.927 32.383.365 7,71
2 Nilai Impor
- Tanaman Pangan 3.526.957 2.737.862 3.893.840 7.023.936 6.306.808 4.697.881 22,51
- Hortikultura 926.045 1.077.463 1.292.988 1.686.131 1.813.405 1.359.206 18,58
- Perkebunan 4.535.918 3.949.191 6.028.160 8.843.792 3.112.181 5.293.848 5,40
- Peternakan 2.352.219 2.132.800 2.768.339 3.044.801 2.698.100 2.599.252 4,77
Pertanian 11.341.139 9.897.316 13.983.327 20.598.660 13.930.494 13.950.187 10,87
3 Neraca Perdagangan
- Tanaman Pangan -3.178.074 -2.416.601 -3.416.132 -6.439.075 -6.156.103 -4.321.197 25,37
- Hortikultura -492.124 -697.724 -902.248 -1.194.827 -1.308.867 -919.158 28,27
- Perkebunan 22.833.445 17.632.478 24.674.704 31.845.976 29.366.976 25.270.716 9,61
- Peternakan -1.204.049 -1.377.887 -1.816.677 -1.445.730 -2.141.573 -1.597.183 18,50
Pertanian 17.959.198 13.140.266 18.539.647 22.766.344 19.760.433 18.433.178 5,96
4 Nilai Ekspor
- Tanaman Pangan 1,19 1,39 1,47 1,35 0,45 1,17
- Hortikultura 1,48 1,65 1,20 1,13 1,50 1,39
- Perkebunan 93,41 93,68 94,40 93,83 96,40 94,35
- Peternakan 3,92 3,28 2,93 3,69 1,65 3,09
5 Nilai Impor
- Tanaman Pangan 31,10 27,66 27,85 34,10 45,27 33,20
- Hortikultura 8,17 10,89 9,25 8,19 13,02 9,90
- Perkebunan 40,00 39,90 43,11 42,93 22,34 37,66
- Peternakan 20,74 21,55 19,80 14,78 19,37 19,25
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Keterangan : Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur
Tahun (000 US$)
No. Uraian
% terhadap Pertanian










Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

20 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian





(Halaman ini sengaja dikosongkan)
























Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21

III. KINERJA PERDAGANGAN BERAS

Beras merupakan kebutuhan pangan pokok bagi sebagian besar
penduduk Indonesia. Bahkan sebagian penduduk yang makanan pokoknya non
beras seperti sagu atau yang lainnya, saat ini diperkirakan banyak beralih
mengkonsumsi beras. Konsumsi beras per kapita mempunyai kecenderungan
mengalami penurunan yakni dari 115,60 kg/kapita/tahun pada tahun 1993
menjadi 97,65 kg/kapita/tahun pada tahun 2012 (Susenas, BPS). Produksi
beras dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, walaupun mempunyai
kecenderungan laju pertumbuhannya sedikit melambat. Di sisi lain,
pertumbuhan penduduk Indonesia melaju dengan cepat, yakni 1,49% per
tahun pada periode tahun 2000-2010 (Statistik Indonesia 2011, BPS).
Kinerja perdagangan komoditas beras ini disusun untuk memenuhi
kebutuhan akan informasi mengenai situasi global komoditas beras. Data yang
digunakan dalam kajian ini adalah bersumber dari Direktorat Jenderal Tanaman
Pangan Kementan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan ,
FAO, USDA dan Uncomtrade.

3.1 SENTRA PRODUKSI BERAS

Padi selama ini dibudidayakan hampir di semua provinsi di Indonesia
sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Bahkan di beberapa daerah,
penanamannya bisa mencapai 3 kali dalam satu tahun. Berdasarkan data
produksi rata-rata 5 tahun terakhir pada periode 2008 2012, sebesar 77%
produksi padi di Indonesia disumbang oleh 9 provinsi sentra. Provinsi sentra
produksi padi didominasi oleh Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah yang
masing-masing memberikan kontribusi sebesar 17,22% (setara 11,23 juta ton
GKG), 17,20% (11,22 juta ton GKG), dan 14,87% (9,69 juta ton GKG).
Sementara, provinsi-provinsi lainnya hanya berkontribusi dibawah 7% (Gambar
3.1 dan Tabel 3.1).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Jabar
17,20%
Jatim
17,22%
Jateng
14,87% Sulsel
6,84%
Sumut
5,45%
Sumsel
4,92%
Lampung
4,25%
Sumbar
3,35%
Kalbar
3,03%
lainnya
22,85%

Gambar 3.1. Provinsi sentra produksi padi di Indonesia, 2008 - 2012

Tabel 3.1. Perkembangan produksi padi di provinsi sentra di Indonesia, 2008
2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Jawa Timur 10.474.773 11.259.085 11.643.773 10.576.543 12.198.707 11.230.576 17,22 17,22
2 Jawa Barat 10.111.069 11.322.681 11.737.070 11.633.891 11.271.861 11.215.314 17,20 34,43
3 Jawa Tengah 9.136.405 9.600.415 10.110.830 9.391.959 10.232.934 9.694.509 14,87 49,29
4 Sulawesi Selatan 4.083.356 4.324.178 4.382.443 4.511.705 5.003.011 4.460.939 6,84 56,14
5 Sumatera Utara 3.340.794 3.527.899 3.582.302 3.607.403 3.715.514 3.554.782 5,45 61,59
6 Sumatera Selatan 2.971.286 3.125.236 3.272.451 3.384.670 3.295.247 3.209.778 4,92 66,51
7 Lampung 2.341.075 2.673.844 2.807.676 2.940.795 3.101.455 2.772.969 4,25 70,76
8 Sumatera Barat 1.965.634 2.105.790 2.211.248 2.279.602 2.368.390 2.186.133 3,35 74,12
9 Kalimantan Selatan 1.954.284 1.956.993 1.842.089 2.038.309 2.086.221 1.975.579 3,03 77,15
10 Lainnya 24.422.022 25.761.854 26.523.285 25.968.570 27.981.493 26.131.445 40,08 117,22
Indonesia 60.325.925 64.398.890 66.469.394 65.756.904 69.056.126 65.201.448 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Share
(%)
Share
kumulatif
(%)
No Provinsi
Produksi (Ton)
Rata-rata
(Ton)


3.2 KERAGAAN HARGA PADI/BERAS

Padi merupakan jenis tanaman yang dibudidayakan sepanjang tahun
tanpa mengenal musim. Pola panen bulanan padi di Indonesia dapat dilihat
pada Gambar 3.2, dimana realisasi panen padi di Indonesia terjadi sepanjang
tahun. Secara umum terlihat pada tahun 2010-2012, puncak panen padi di
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 23

Indonesia terjadi di bulan Maret. Puncak panen di bulan Maret tertinggi terjadi
pada tahun 2012 yaitu sebesar 2,48 juta ha. Bulan-bulan panen raya padi
berkisar antara Maret dan Agustus. Selain pada bulan tersebut, walaupun ada
realisasi panen padi namun terjadi penurunan yang cukup signifikan. Bulan
November tercatat merupakan bulan dimana panen merupakan yang terendah
setiap tahunnya (Tabel 3.2).
0
500
1.000
1.500
2.000
2.500
3.000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
(
0
0
0

H
a
)
2010 2011 2012

Gambar 3.2. Perkembangan pola panen padi di Indonesia, 2010 - 2012

Tabel 3.2. Perkembangan pola panen padi bulanan di Indonesia,
2010 2012
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2010 509 1.253 2.247 1.831 959 955 1.240 1.238 1.040 785 570 627 13.253
2011 942 1.807 1.984 1.435 974 1.129 1.046 1.167 940 732 498 553 13.206
2012 579 1.511 2.478 1.664 944 1.011 1.285 1.383 921 672 475 525 13.448
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Luas Panen (000 Ha)
Total Tahun

Pergerakan harga gabah di tingkat petani secara detil dapat dilihat pada
Gambar 3.3. Harga gabah di tingkat petani cenderung terus meningkat setiap
tahunnya. Pada grafik terlihat harga gabah tahun 2012 berada pada level yang
lebih tinggi dibandingkan tahun 2011. Pada tahun 2011, harga GKG di tingkat
petani berkisar antara Rp. 3.500,- sampai Rp. 4.500,-. Tahun 2012 kisaran
harga meningkat menjadi Rp. 4.200,- sampai Rp. 4.700,- (Tabel 3.3).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

24 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.3. Perkembangan harga produsen GKG dan harga konsumen beras
bulanan di Indonesia, 2010 2012

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
1
2010
3,458 3,705 3,343 3,312 3,444 3,627 3,444 3,538 3,621 3,688 3,782 3,890
2011
4,198 3,968 3,888 3,707 3,581 3,839 3,997 3,971 4,182 4,281 4,398 4,548
2012
4,777 4,668 4,269 4,277 4,257 4,345 4,424 4,378 4,405 4,468 4,586 4,774
2
2010 6,324 6,419 6,318 6,175 6,208 7,482 6,500 7,513 7,541 6,655 6,797 7,125
2011 7,376 7,438 7,191 7,041 7,126 7,133 7,307 7,421 7,474 7,591 7,709 7,802
2012 8,016 8,135 8,110 7,986 7,904 7,916 7,973 8,024 8,064 8,118 8,183 8,250
Sumber: 1) BPS, diolah Pusdatin
2) Kemendag, diolah Pusdatin
Harga konsumen beras cere (Rp/kg)
2)
No Tahun
Bulan
Harga produsen GKG (Rp/kg)
1)


Perkembangan harga gabah di tingkat petani setiap tahunnya
mengalami penurunan pada awal tahun sampai periode panen raya sekitar
Maret sd. Mei. Harga kembali meningkat bulan Juni sampai dengan Januari
setiap tahunnya. Harga gabah di tingkat petani ini terlihat tidak terlalu
berfluktuasi tajam setiap bulannya.
3,400
3,600
3,800
4,000
4,200
4,400
4,600
4,800
5,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
(
R
p
/
k
g
)
2011 2012

Gambar 3.3. Perkembangan harga GKG di tingkat petani, 2011 2012

Perkembangan harga beras tingkat konsumen tahun 2011 dan 2012
dapat dilihat pada Gambar 3.4. Harga tingkat konsumen ini tidak banyak
befluktuasi dengan kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Pada grafik
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 25

terlihat harga beras tahun 2012 berada pada level yang lebih tinggi
dibandingkan tahun 2011. Pada tahun 2011, harga beras berkisar antara Rp.
7.000,- sampai Rp. 7.800,-. Tahun 2012 kisaran harga meningkat menjadi Rp.
7.900,- sampai Rp. 8.200,-. Peningkatan harga di tahun 2011 cenderung lebih
tajam dibandingkan dengan tahun 2012.
Pola perkembangan harga beras pada periode tahun 2011 2012
terlihat serupa. Harga beras cenderung turun setelah musim panen raya bulan
Maret Juni. Harga beras kembali meningkat setelah periode musim raya
sampai menjelang akhir tahun dan awal tahun berikutnya (Gambar 3.4).

7,000
7,200
7,400
7,600
7,800
8,000
8,200
8,400
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
(
R
p
/
k
g
)
2011 2012

Gambar 3.4. Perkembangan harga konsumen beras, 2011 - 2012

Marjin harga beras adalah kesenjangan antara harga produsen
(gabah/GKG) dan harga konsumen (beras). Marjin harga menunjukkan
seberapa besar disparitas harga yang terjadi. Pada Gambar 3.5 terlihat Rata-
rata harga produsen berada pada kisaran Rp. 4.200,- /kg sementara harga
konsumen mencapai kisaran Rp. 7.200,- /kg pada periode 2011-2012.
Kesenjangan atau gap yang terjadi relatif stabil. Hal ini menunjukkan daya
beli petani yang juga relatif stabil. Kenaikan harga produsen dan konsumen
relatif seiring walaupun cenderung meningkat pada periode waktu tersebut.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

3,000
4,000
5,000
6,000
7,000
8,000
9,000
Jan11 Apr11 Jul11 Okt11 Jan12 Apr12 Jul12 Okt12
(
R
p
/
K
g
)
Harga produsen Harga konsumen

Gambar 3.5. Perkembangan disparitas antara harga produsen (gabah/GKG)
dan harga konsumen (beras), 2011 - 2012

Perkembangan harga beras impor dapat dilihat pada Gambar 3.6 di
bawah ini. Beras yang dimaksud adalah beras pecah Thailand 5%, 25% dan
beras pecah Vietnam 5%. Sementara beras lokal yang diperbandingkan
harganya adalah beras IR 64 kualitas I, II dan III. Data yang ditampilkan pada
Gambar 3.6 adalah periode Januari 2011 sd. Desember 2012.
Secara umum dapat dilihat bahwa harga beras IR64 cenderung lebih
tinggi dibandingkan beras impor yang masuk. Harga beras dari Vietnam terlihat
cenderung lebih rendah dibandingkan beras Thailand. Pada tahun 2011 terlihat
ada gejolak harga yang cukup tajam untuk beras Tahiland 5%, dimana harga
bulan April 2011 melonjak cukup tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara beras Vietnam justru mengalami penurunan pada periode 2012
dibandingkan beras lainnya. Harga beras tertinggi tercatat Rp. 8.790,- untuk
beras Thailand 5% di bulan April 2011, sementara harga terendah tercatat
Rp.4.650,- untuk beras Thailand 5% di bulan Pebruari 2011 (Gambar 3.6).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 27

4,300
4,800
5,300
5,800
6,300
6,800
7,300
7,800
8,300
8,800
9,300
Jan11 Apr11 Jul11 Okt11 Jan12 Apr12 Jul12 Okt12
(
R
p
/
K
g
)
IR-64 I IR-64 II IR-64 III
Thai 25% Thai 5% Viet Namese 5%

Gambar 3.6. Perkembangan harga beras Thailand, Vietnam dan IR64,
2011 - 2012


3.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN BERAS

3.3.1. Keragaan Ekspor Impor Beras Indonesia

Indonesia merupakan negara produsen beras dunia, bahkan pada masa
lalu merupakan negara dengan swasembada beras. Produksi beras Indonesia
sebagian besar ditujukan untuk pemenuhan konsumsi dalam negeri. Namun
saat ini Indonesia telah menjadi negara pengimpor beras untuk pemenuhan
kebutuhan dalam negerinya. Kinerja perdagangan beras terkait aktifitas ekspor
impornya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3.4 memuat
perkembangan volume dan nilai ekspor impor total beras Indonesia beserta
neracanya untuk periode tahun 2008 2012.
Selama periode tahun 2008-2012, ekspor total beras Indonesia
mengalami peningkatan volume dan nilai dengan rata-rata sebesar 33,81% dan
44,39%. Peningkatan ekspor ini lebih disebabkan karena peningkatan ekspor
yang cukup signifikan pada tahun 2009. Sementara tahun 2010 terjadi
penurunan ekspor yang cukup tajam baik volume maupun nilainya.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Realisasi impor beras Indonesia jauh lebih besar dibandingkan
ekspornya dan terus mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar
107,65% (volume) dan 126,21% (nilai). Hal ini menyebabkan neraca
perdagangan beras Indonesia selalu mengalami defisit. Defisit neraca
perdagangan beras Indonesia dari tahun 2008 2012 cenderung mengalami
peningkatan dengan rata-rata sebesar 108,39% (volume) dan 127,91% (nilai).
Defisit neraca perdagangan terbesar pada periode ini terjadi pada tahun 2011
yang mencapai 2,74 juta ton atau setara dengan US$ 1,51 milyar (Tabel 3.4
dan Gambar 3.7).

Tabel 3.4. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas
beras, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Ekspor
-Volume (Ton) 1,222 3,389 810 1,065 1,091 33.81
- Nilai (000 US$) 935 2,037 560 1,272 1,335 44.39
2 Impor
-Volume (Ton) 289,274 250,276 687,583 2,744,261 1,927,563 107.65
- Nilai (000 US$) 123,783 107,955 360,790 1,509,257 1,006,973 126.61
3 Neraca
-Volume (Ton) -288,052 -246,887 -686,773 -2,743,196 -1,926,472 108.39
- Nilai (000 US$) -122,848 -105,918 -360,230 -1,507,985 -1,005,638 127.91
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan: Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan
terutama wujud olahan
No Uraian
Pertumb. (%)
2008-2012
Tahun



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 29

(2,000,000)
(1,500,000)
(1,000,000)
(500,000)
-
500,000
1,000,000
1,500,000
2,000,000
2008 2009 2010 2011 2012 (
0
0
0

U
S
$
)
Ekspor Impor Neraca

Gambar 3.7. Perkembangan neraca perdagangan beras Indonesia,
2008 2012

Ekspor impor beras Indonesia dilakukan dalam wujud segar dan olahan.
Jika dilihat pada tahun 2012, ekspor beras Indonesia cukup didominasi oleh
beras segar 82,22% (volume). Sementara beras olahan hanya 17,78%.
Demikian pula kontribusi nilai ekspor beras segar lebih besar dibandingkan
beras olahan, yaitu 88,91% (Gambar 3.8). Sementara wujud beras yang
diimpor Indonesia hampir seluruhnya berupa wujud segar. Tahun 2012,
Indonesia mengimpor sebesar 99,99% beras wujud segar dan hanya 0,01%
saja dalam bentuk beras olahan.



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

30 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
volume (Ton) nilai (000 $) volume (Ton) nilai (000 $)
Ekspor Impor
olahan 194 148 233 109
segar 897 1,187 1,927,330 1,006,864
segar olahan

Gambar 3.8. Kontribusi ekspor impor beras segar dan olahan di Indonesia,
2012


Kode HS serta deskripsi untuk beras dalam wujud segar dan olahan
dalam perdagangan beras Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.5. Wujud beras
segar yang dominan diekspor oleh Indonesia ada 3 kode HS, yaitu (1) beras
berkulit (padi atau gabah) cocok untuk disemai, (2) beras 1/2 atau digiling
seluruhnya, disosoh atau dikilapkan maupun tidak berupa beras ketan dan (3)
beras 1/2 giling atau digiling seluruhnya, disosoh atau dikilapkan maupun tidak
berupa lain-lain. Sementara beras wujud segar yang banyak diimpor adalah (1)
beras 1/2 atau digiling seluruhnya, disosoh atau dikilapkan maupun tidak
berupa beras ketan dan (2) beras 1/2 giling atau digiling seluruhnya, disosoh
atau dikilapkan maupun tidak berupa lain-lain (3) beras pecah lain-lain. Wujud
beras olahan yang tercatat transaksinya baik ekspor maupun impor, ada 4 kode
HS. Data perkembangan ekspor impor menurut kode HS ini secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 3.6.



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 31

Tabel 3.5. Kode HS dan deskripsi beras segar dan olahan
Kode HS Deskripsi
Segar
1006101000 Beras berkulit (padi atau gabah) cocok untuk disemai
1006109000 Beras berkulit (padi atau gabah) untuk lain-lain
1006201000 Gabah dikuliti Beras Thai Hom Mali
1006209000 Gabah dikuliti berupa lain-lain
1006303000
Beras 1/2 atau digiling seluruhnya, disosoh atau dikilapkan maupun
tidak berupa beras ketan
1006304000
Beras 1/2 giling atau digiling seluruhnya, disosoh atau dikilapkan
maupun tidak berupa beras Thai Hom Mali
1006309100
beras 1/2 giling atau digiling seluruhnya, disosoh atau dikilapkan
maupun tidak berupa beras setengah masak
1006309900
Beras 1/2 giling atau digiling seluruhnya, disosoh atau dikilapkan
maupun tidak berupa lain-lain
1006401000 Beras pecah dari jenis yang digunakan untuk makanan hewan
1006409000 Beras pecah lain-lain
Olahan
1102901000
Tepung beras
1103192000
Menir dan tepung kasar dari beras
2206002000
Sake (minuman fermentasi dari beras)
2302401000
Sekam, dedak dan residu lainnya dari beras











Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

32 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.6. Perkembangan ekspor, impor beras wujud segar dan olahan
berdasarkan kode HS
2008 2009 2010 2011 2012
1 Volume Ekspor (Ton)
Segar
1006101000 180 266 - - 327
1006303000 287 315 302 257 307
1006309900 131 1,840 16 64 225
Kode HS lainnya 267 179 26 57 38
Olahan
1102901000 37 7 32 687 176
1103192000 3 2 - - -
2206002000 2 1 - - 6
2302401000 314 779 433 0 12
2 - Nilai Ekspor (000 US$)
Segar
1006101000 345 224 - - 267
1006303000 245 242 399 365 425
1006309900 90 1,341 19 86 385
Kode HS lainnya 178 155 34 385 110
Olahan
1102901000 25 16 50 436 143
1103192000 6 3 - - -
2206002000 5 1 - - 1
2302401000 41 54 58 0 4
3 Volume Impor (Ton)
Segar
1006303000 149,732 135,453 146,061 209,955 223,491
1006309900 40,436 134 397,132 2,204,643 1,347,759
1006409000 86,974 107,292 135,133 278,533 254,214
Kode HS lainnya 12,118 7,346 9,256 50,871 101,866
Olahan
1102901000 - 0 0 - -
1103192000 2 - 0 0 99
2206002000 0 0 1 31 22
2302401000 12 51 1 228 112
4 - Nilai Impor (000 US$)
Segar
1006303000 68,187 54,773 94,569 146,605 130,856
1006309900 14,472 227 192,889 1,181,730 689,302
1006409000 28,974 35,065 54,763 135,253 100,676
Kode HS lainnya 12,139 17,879 18,564 45,561 86,031
Olahan
1102901000 - 0 1 - -
1103192000 4 - 0 0 17
2206002000 1 1 4 69 73
2302401000 6 10 1 39 19
Sumber: BPS diolah Pusdatin
Keterangan: - Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi
BTBMI 2007
- Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI
2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan
No Uraian
Tahun

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 33

Secara umum, wujud segar yang banyak diekspor tahun 2012 adalah
beras ketan berdasarkan nilai ekspornya. Proporsi ekspor beras ketan ini
terhadap total nilai ekspor beras segar adalah sekitar 33,36%. Sementara
beras giling lain2 dan gabah untuk benih masing-masing sebesar 30,21% dan
20,98%. Bentuk lainnya di luar 3 kode HS itu sekitar 15,46% (Gambar 3.9).

Beras ketan
13.00%
Beras giling
lain2
68.46%
Beras
pecah lain2
10.00%
Kode HS
lainnya
8.54%
Nilai Impor Gabah utk
benih
20.98%
Beras Ketan
33.36%
Beras giling
lain2
30.21%
Kode HS
lainnya
15.46%
Nilai Ekspor

Gambar 3.9. Beras wujud segar yang diekspor dan diimpor Indonesia, 2012

Sedikit berbeda pada wujud impor, dimana bentuk segar yang dominan
banyak diimpor adalah beras giling lain2. Tahun 2012, sebesar 68,46% wujud
beras segar yang diimpor Indonesia adalah beras giling lain2. Beras giling lain2
di sini yaitu selain beras giling jenis beras ketan dan beras Thai Hom Mali dan
beras masak. Beras giling lain2 ini merupakan beras kualitas medium yang
banyak dipasarkan di Indonesia. Wujud lain yang banyak diimpor adalah beras
ketan dan beras pecah lain masing-masing sebesar 13,0% dan 10,0% (Gambar
3.9).
Tepung
beras
96.63%
Sake
0.58%
Sekam,
dedak
2.79%
Nilai Ekspor
Menir
15.80%
Sake
66.96%
Sekam,
dedak
17.24%
Nilai Impor

Gambar 3.10. Beras wujud olahan yang diekspor dan diimpor Indonesia, 2012
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

34 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Beras wujud olahan yang banyak diekspor berdasarkan nilai ekspornya
pada tahun 2012 adalah berupa tepung, yaitu sekitar 96,63%. Sementara
bentuk beras olahan lainnya adalah sekam dan dedak sebesar 2,79% serta
sake sebesar 0,58%. Bentuk olahan yang banyak diimpor adalah minuman
fermentasi dari beras atau yang dikenal dengan nama sake. Tahun 2012, sake
yang diimpor sebesar 66,96% dari total nilai impor beras wujud olahan. Bentuk
olahan lainnya adalah sekam, dedak dan residu lainnya dari beras sebesar
17,24% dan menir 15,8% (Gambar 3.10).

3.3.2. Negara Tujuan Ekspor dan Negara Asal Impor Beras Indonesia

Negara tujuan ekspor beras Indonesia pada tahun 2012 sebagian besar
adalah ke Singapura dan Timor Leste, masing-masing senilai US$ 521,06 ribu
dan US$ 384,79 ribu. Kontribusi kedua negara dari total nilai ekspor beras
Indonesia adalah masing-masing 39,04% dan 28,83%. Negara lainnya adalah
Amerika sebesar 12,7% (US$ 169,51 ribu), dan Jerman sebesar 11,62% (US$
155,14 ribu) (Gambar 3.11 dan Tabel 3.7).

Singapura
39.04%
Timor Leste
28.83%
USA
12.70%
Jerman
11.62%
Lainnya
7.81%

Gambar 3.11. Negara tujuan ekspor beras Indonesia, 2012


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 35

Tabel 3.7. Negara tujuan ekspor beras Indonesia, 2012
Volume (kg) Nilai (US$) Volume Nilai
1 Singapura 349,510 521,055 32.03 39.04
2 Timor Leste 499,078 384,791 45.74 28.83
3 Amerika 102,819 169,513 9.42 12.70
4 Jerman 82,910 155,140 7.60 11.62
5 Malaysia 31,370 50,316 2.87 3.77
6 Afrika Selatan 5,400 38,102 0.49 2.85
7 Taiwan 4,489 4,673 0.41 0.35
8 Jepang 12,000 4,126 1.10 0.31
9 Saudi Arabia 563 2,625 0.05 0.20
10 Italia 477 2,088 0.04 0.16
11 Hong Kong 1,665 1,695 0.15 0.13
12 Maladewa 72 265 0.01 0.02
13 Australia 180 168 0.02 0.01
14 Emirate Arab 600 165 0.05 0.01
15 Papua Nugini 50 42 0.00 0.00
Total 1,091,183 1,334,764
Sumber: BPS diolah Pusdatin
No Negara tujuan
Total ekspor Kontribusi (%)


Impor beras Indonesia utamanya berasal dari Vietnam dan Thailand.
Jika dilihat dari sisi harga, harga beras Vietnam berada pada level yang lebih
rendah dibandingkan harga beras Thailand. Besarnya kontribusi nilai impor dari
Vietnam dan Thailand masing-masing sebesar 57,16% (US$ 575,6 juta) dan
21,92% (US$ 220,68 juta) (Gambar 3.12 dan Tabel 3.8).
Negara lainnya asal impor beras Indonesia adalah India dan Pakistan,
masing-masing sebesar 13,49% (US$ 135,85 juta) dan 5,43% (US$ 54,71
juta). Total kontribusi keempat negara utama ini mencapai 98%, sementara 9
negara lainnya hanya berkontribusi sekitar 2% saja (Tabel 3.8).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

36 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Viet Nam
57.16%
Thailand
21.92%
India
13.49%
Pakistan
5.43%
Lainnya
2.00%

Gambar 3.12. Negara asal impor beras Indonesia, 2012

Tabel 3.8. Negara asal impor beras Indonesia, 2012

Volume (ton) Nilai (US$ 000) Volume Nilai
1 Vietnam 1,104,756 575,601 57.31 57.16
2 Thailand 376,204 220,681 19.52 21.92
3 India 289,091 135,852 15.00 13.49
4 Pakistan 138,703 54,705 7.20 5.43
5 China 3,121 11,278 0.16 1.12
6 Myanmar 12,470 4,962 0.65 0.49
7 USA 2,445 2,719 0.13 0.27
8 Filipina 53 453 0.00 0.04
9 Australia 301 255 0.02 0.03
10 Malaysia 149 181 0.01 0.02
11 Jepang 209 165 0.01 0.02
12 Korea Selatan 37 89 0.00 0.01
13 Singapura 23 32 0.00 0.00
Total 1,927,563 1,006,973
Sumber: BPS diolah Pusdatin
No Negara asal
Total impor Kontribusi (%)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 37

3.3.3. Negara Eksportir Dan Importir Beras Dunia

Sepuluh negara terbesar pengekspor beras menurut data FAO adalah
seperti pada Gambar 3.13. Kontribusi rata-rata nilai ekspor kesepuluh negara
ini selama tahun 2006 2010 mencapai 88,76% dari total nilai ekspor dunia.
Bahkan kontribusi rata-rata nilai ekspor 5 (lima) negara terbesar mencapai
76,11% (Tabel 3.9). Rata-rata nilai ekspor Thailand sebagai eksportir terbesar
selama periode 2006 2010 adalah sekitar 4,5 milyar US$, sementara India,
Vietnam, Amerika dan Pakistan rata-rata nilai ekspornya sekitar US$ 2,32
milyar, US$ 3,31 milyar, US$ 1,89 milyar dan US$ 1,6 milyar. Indonesia hanya
menduduki posisi ke-80 dengan kontribusi hanya 0,005%.
Sepuluh negara terbesar pengekspor beras olahan berupa tepung
menurut data FAO adalah seperti pada Gambar 3.13. Kontribusi rata-rata nilai
ekspor kesepuluh negara ini selama tahun 2006 2010 mencapai 88,59% dari
total nilai ekspor dunia. Bahkan kontribusi rata-rata nilai ekspor 5 (lima) negara
terbesar mencapai 74,28% (Tabel 3.10). Nilai ekspor Thailand sebagai
eksportir tepung beras pada tahun 2006 adalah US$ 59,51 juta. Negara lainnya
yang tercatat sebagai negara pengekspor tepung beras adalah Belanda dengan
nilai ekspor sekitar 8,9 juta US$ (18,29%), Italia 6,09 juta US$ (12,52%),
Jerman 4,77 juta US$ (9,81%) dan Portugal 4,48 juta US$ (9,20%). Sementara
Indonesia hanya menduduki posisi ke-37 dengan kontribusi hanya 0,03%.

Thailand
27.14%
India
13.99%
Viet Nam
13.96%
Amerika
11.38%
Pakistan
9.65%
Italia
3.86%
China
2.80%
Saudi Arabia
2.13%
Uruguay
2.06%
Mesir
1.80%
Negara
lainnya
11.24%
Negara Eksportir Beras (Total)
Thailand
24.46%
Belanda
18.29%
Italia
12.52%
Jerman
9.81%
Portugal
9.20%
Amerika
3.46%
China
3.21%
India
2.98%
Perancis
2.81%
Belgia
1.85%
Negara
lainnya
11.41%
Negara Eksportir Tepung Beras

Gambar 3.13. Sepuluh negara pengekspor beras (total) dan tepung beras,
2006 2010
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

38 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.9 Sepuluh negara eksportir beras (total) di dunia, 2006-2010
(000 US$)
2006 2007 2008 2009 2010
Thailand 2,577,154 3,470,015 6,108,754 5,046,463 5,301,260 4,500,729 27.14 27.14
India 1,553,528 2,848,085 2,582,327 2,326,388 2,295,183 2,321,102 13.99 41.13
Viet Nam 1,275,895 1,489,970 2,895,938 2,666,062 3,247,860 2,315,145 13.96 55.09
Amerika 1,283,373 1,396,031 2,213,917 2,186,208 2,354,057 1,886,717 11.38 66.46
Pakistan 1,150,103 1,124,072 1,681,606 1,894,447 2,152,814 1,600,608 9.65 76.11
Italia 449,114 538,424 820,067 741,776 649,269 639,730 3.86 79.97
China 409,210 479,639 486,907 527,629 418,390 464,355 2.80 82.77
Saudi Arabia 22,345 181,462 518,800 650,529 396,007 353,829 2.13 84.90
Uruguay 218,559 280,631 443,496 461,214 303,706 341,521 2.06 86.96
Mesir 302,130 402,612 191,110 475,933 120,932 298,543 1.80 88.76
Negara lainnya 1,291,301 1,524,407 2,137,120 2,135,465 2,229,622 1,863,583 11.24 100.00
Dunia 10,532,712 13,735,348 20,080,042 19,112,114 19,469,100 16,585,863
Sumber: FAO diolah Pusdatin
Tahun
Rata2 Share Kumulatif Negara


Tabel 3.10. Sepuluh negara eksportir beras olahan (tepung beras) di dunia,
2006-2010
(000 US$)
2006 2007 2008 2009 2010
Thailand 59,505 - - - - 11,901 24.46 24.46
Belanda 4,912 6,363 11,615 11,525 10,092 8,901 18.29 42.75
Italia 2,632 4,349 7,861 7,727 7,898 6,093 12.52 55.27
Jerman 4,845 4,195 6,027 4,691 4,100 4,772 9.81 65.07
Portugal 1,998 3,719 4,525 6,528 5,622 4,478 9.20 74.28
Amerika 5,520 283 395 940 1,291 1,686 3.46 77.74
China 7,605 64 47 5 86 1,561 3.21 80.95
India 2,940 4,313 - - - 1,451 2.98 83.93
Perancis 1,454 2,593 734 813 1,244 1,368 2.81 86.74
Belgia 2,007 2,501 1 - 4 903 1.85 88.59
Negara lainnya 12,109 3,456 4,951 4,153 3,082 5,550 11.41 100.00
Dunia 105527 31836 36156 36382 33419 48,664
Sumber: FAO diolah Pusdatin
Negara
Tahun
Rata2 Share Kumulatif

Sedikit berbeda pada keragaan impor dunia, rata-rata nilai impor dari
10 (sepuluh) negara importir beras (total) dunia hanya mencakup 38,68% dari
total nilai impor dunia selama kurun waktu 2006-2010 (Gambar 3.14). Filipina
merupakan negara pengimpor terbesar dengan kontribusi nilai impor 6,45%
dari total dunia atau sekitar 1,13 milyar US$. Besarnya nilai impor dan
kontribusinya terhadap total nilai impor dunia secara rinci dapat dilihat pada
Tabel 3.11. Untuk nilai impor beras (total) global, Indonesia menempati urutan
ke-21 dengan kontribusi sebesar 1,36% terhadap total volume impor dunia
selama kurun waktu 2006-2010.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 39

Rata-rata nilai impor dari 10 (sepuluh) negara importir tepung beras
dunia mencakup 77,68% dari total nilai impor dunia selama kurun waktu 2006-
2010 (Gambar 3.14). Polandia merupakan negara pengimpor terbesar dengan
kontribusi nilai impor 16,46% dari total dunia atau sekitar 13,29 juta US$.
Besarnya nilai impor dan kontribusinya terhadap total nilai impor dunia secara
rinci dapat dilihat pada Tabel 3.12 Untuk nilai impor tepung beras global,
Indonesia menempati urutan ke-68 dengan kontribusi sebesar 0,02% terhadap
total volume impor dunia selama kurun waktu 2006-2010.

Filipina
6.45%
Saudi Arabia
5.74%
Emirate
Arab
5.34%
Iran
3.64%
Nigeria
3.53%
Amerika
3.03%
Iraq
2.86%
Malaysia
2.80%
Inggris
2.76%
Jepang
2.53%
Negara
lainnya
61.32%
Negara Importir Beras (Total)
Polandia
16.46%
Jerman
15.11%
Perancis
10.44%
Kanada
9.07%
Belgia
6.00%
Inggris
5.60%
Taiwan
4.72%
China
3.48%
Belanda
3.46%
Amerika
3.35%
Negara
lainnya
22.32%
Negara Importir Tepung Beras

Gambar 3.14. Sepuluh negara pengimpor beras (total) dan tepung beras,
2006 2010

Tabel 3.11. Sepuluh negara importir beras (total) di dunia, 2006-2010


(000 US$)
2006 2007 2008 2009 2010
Filipina 513,333 653,511 1,956,778 1,048,885 1,499,223 1,134,346 6.45 6.45
Saudi Arabia 530,138 626,387 1,198,538 1,376,444 1,310,491 1,008,400 5.74 12.19
Emirate Arab 429,438 684,650 1,517,436 1,170,840 892,926 939,058 5.34 17.53
Iran 413,086 391,925 545,559 903,811 942,003 639,277 3.64 21.16
Nigeria 295,585 480,740 771,739 730,591 825,411 620,813 3.53 24.70
Amerika 368,321 435,209 597,485 634,181 628,647 532,769 3.03 27.73
Iraq 465,623 304,273 588,670 569,802 586,720 503,018 2.86 30.59
Malaysia 285,980 312,690 813,305 551,113 500,369 492,691 2.80 33.39
Inggris 312,619 391,186 629,094 563,794 529,634 485,265 2.76 36.15
Jepang 302,665 362,510 417,008 628,244 516,787 445,443 2.53 38.68
Negara lainnya 7,419,782 9,611,530 13,087,133 11,913,349 11,870,155 10,780,390 61.32 100.00
Dunia 11,336,570 14,254,611 22,122,745 20,091,054 20,102,366 17,581,469
Sumber: FAO diolah Pusdatin
Negara
Tahun
Rata2 Share Kumulatif



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

40 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.12 Sepuluh negara importir beras olahan (tepung beras) di dunia,
2006-2010
(000 US$)
2006 2007 2008 2009 2010
Polandia 6,300 28,829 10,631 11,483 9,242 13,297 16.46 16.46
Jerman 6,974 11,173 13,404 17,153 12,328 12,206 15.11 31.57
Perancis 6,106 7,421 10,579 8,946 9,127 8,436 10.44 42.01
Kanada 5,214 5,918 7,418 9,079 8,996 7,325 9.07 51.07
Belgia 2,497 5,471 4,880 6,183 5,189 4,844 6.00 57.07
Inggris 5,286 4,669 4,061 4,483 4,135 4,527 5.60 62.67
Taiwan 13,256 4,800 370 408 221 3,811 4.72 67.39
China 7,569 2,100 2,150 1,044 1,200 2,813 3.48 70.87
Belanda 1,648 1,284 2,373 3,462 5,204 2,794 3.46 74.33
Amerika 10,249 279 1,807 424 756 2,703 3.35 77.68
Negara lainnya 24,731 16,639 16,348 14,724 17,741 18,037 22.32 100.00
Dunia 89,830 88,583 74,021 77,389 74,139 80,792
Sumber: FAO diolah Pusdatin
Negara
Tahun
Rata2 Share Kumulatif


3.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN BERAS

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) adalah indikator yang digunakan
untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas terkait
kinerja perdagangannya. Hasil perhitungan nilai ISP beras segar, beras olahan
dan beras total di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.13 di bawah ini.

Tabel 3.13. Indeks spesialisasi perdagangan beras segar, olahan dan beras
total di Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
Beras Segar
Ekspor - Impor -122,913 -105,981 -360,333 -1,508,313 -1,005,678
Ekspor + Impor 124,630 109,906 361,237 1,509,986 1,008,051
ISP -0.9862 -0.9643 -0.9975 -0.9989 -0.9976
Beras Olahan
Ekspor - Impor 65 63 103 328 39
Ekspor + Impor 89 85 113 544 257
ISP 0.7353 0.7362 0.9081 0.6022 0.1533
Total Beras
Ekspor - Impor -122,848 -105,918 -360,230 -1,507,985 -1,005,638
Ekspor + Impor 124,718 109,991 361,350 1,510,530 1,008,308
ISP -0.9850 -0.9630 -0.9969 -0.9983 -0.9974
Sumber: BPS diolah Pusdatin
Uraian
Tahun
(US$ 000)
(US$ 000)
(US$ 000)


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 41

Hasil perhitungan nilai ISP seperti tercantum pada Tabel 3.2 cenderung
menurun dari tahun ke tahun. Nilai ISP komoditas beras secara total
mempunyai nilai negatif pada kisaran sebesar -0,99 hingga -0,96 yang berarti
bahwa komoditas beras Indonesia mempunyai daya saing yang sangat rendah
dan terus mengalami penurunan daya saing dari tahun ke tahun. Hal ini karena
Indonesia dari tahun ke tahun berkontribusi dalam ekspor beras pada tingkatan
yang rendah.
Jika dirinci berdasarkan wujudnya, perdagangan beras dalam bentuk
olahan terlihat lebih baik dari wujud segar. Hal ini dapat dilihat dari nilai ISP
yang positif, walaupun cenderung menurun setiap tahunnya. Berdasarkan nilai
ISP ini dapat dikatakan bahwa beras dengan wujud olahan berada pada tahap
perluasan ekspor dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang
kuat, kecuali tahun 2012. Tahun 2010 daya saing beras olahan berada pada
posisi terkuat selama periode 2008 2012, dimana nilai ISP-nya mencapai
0,91.
Berdasarkan atas perhitungan nilai IDR beras Indonesia seperti tersaji
pada Tabel 3.14 terlihat bahwa pada periode tahun 2008 2012 supply beras
Indonesia tergantung pada beras impor berkisar antara 0,39% sampai 4,01%.
Kondisi ini berfluktuasi dari tahun ke tahun dan pada tahun 2011 merupakan
yang tertinggi. Ketergantungan pada beras impor walaupun dalam kuantitas
yang kecil ini utamanya adalah pada jenis beras segar. Nilai SSR komoditas
beras Indonesia dari tahun 2008 hingga 2012 lebih dari 90%, yang berarti
bahwa hampir sebagian besar kebutuhan beras dalam negeri dapat dipenuhi
oleh produksi domestik.






Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

42 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.14. Perkembangan nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self
Sufficiency Ratio (SSR) beras Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Produksi (Ton) 60,325,925 64,398,890 66,469,394 65,756,904 68,956,292
2 Ekspor (Ton) 1,222 3,389 810 1,065 1,091
3 Impor (Ton) 289,274 250,276 687,583 2,744,261 1,927,563
4 Produksi + Impor - Ekspor 60,613,977 64,645,777 67,156,167 68,500,100 70,882,764
5 IDR (%) 0.48 0.39 1.02 4.01 2.72
6 SSR (%) 99.52 99.62 98.98 96.00 97.28
Sumber: BPS diolah Pusdatin
No Uraian
Tahun

Berdasarkan hasil perhitungan nilai RSCA yang tersaji pada Tabel 3.15
menunjukkan bahwa komoditas beras Indonesia secara umum tidak
mempunyai daya saing di pasar dunia. Hal ini ditunjukkan dengan nilai RSCA
yang negatif bahkan hingga -0,99% pada tahun 2010 dan 2011.

Tabel 3.15. Indeks keunggulan komparatif (RCA) komoditas beras Indonesia
dalam perdagangan dunia, 2008 - 2011

2008 2009 2010 2011
1 Beras
Dunia 14,425,564 14,016,085 14,207,769 18,890,869
Indonesia 935 2,037 560 1,272
2 Non Migas
Dunia 13,157,364,489 10,563,721,834 12,725,891,053 14,756,917,803
Indonesia 107,894,200 97,491,700 129,739,500 162,019,600
3 Proporsi
Dunia 0.00110 0.00133 0.00112 0.00128
Indonesia 0.00001 0.00002 0.00000 0.00001
RCA 0.008 0.016 0.004 0.006
RSCA -0.98 -0.97 -0.99 -0.99
Sumber: BPS, UNComtrade diolah Pusdatin
No Uraian
Nilai ekspor (000 US$)






Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 43

IV. KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG


Dari tahun ke tahun, konsumsi produk hasil ternak mengalami
peningkatan, dan tentunya memberi pengaruh terhadap peningkatan konsumsi
pakan. Konsumsi pakan tahun 2010 sebesar 10,7 juta ton meningkat menjadi
11,2 juta ton pada tahun 2011. Konsumsi pakan tahun 2012 hingga bulan Juni
baru mencapai 6,2 juta ton yang diestimasi meningkat menjadi 12,7 juta ton
dan konsumsi pakan tahun berikutnya juga diestimasi meningkat menjadi 13,8
juta ton. Peningkatan kebutuhan pakan setiap tahunnya merupakan peluang
industri pakan untuk terus berkembang. Konsumsi pakan terdiri dari konsumsi
pakan broiler sebesar 45%, layer 44%, breeder 9%, dan lainya 2%.
Peningkatan konsumsi pakan membutuhkan bahan baku pakan yang meningkat
pula, diantaranya adalah jagung sebagai bahan baku pakan utama karena
hampir 50% digunakan dalam formula bahan pakan unggas
[http://www.livestockreview.com/2013/01/jagung-lokal-mampu-kurangi-impor-
jagung-untuk-pakan-ternak/].

4.1. SENTRA PRODUKSI JAGUNG

Berdasarkan rata-rata produksi jagung tahun 2008 - 2012, lebih dari 84%
produksi jagung nasional disumbang dari produksi di 8 provinsi. Provinsi Jawa
Timur merupakan provinsi dengan produksi jagung terbesar yakni menyumbang
30,96% terhadap produksi jagung nasional. Berikutnya adalah provinsi Jawa
Tengah dan Lampung yang masing-masing memberikan kontribusi produksi
sebesar 16,36% dan 10,73%.
Provinsi Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara berada pada urutan
berikutnya yang menyumbang produksi jagung Indonesia sebesar 7,69% dan
7,04%. Selanjutnya adalah provinsi Jawa Barat, Gorontalo dan NTT dengan
kontribusi produksi masing-masing sebesar 4,84%, 3,64%, dan 3,49% (Gambar
4.1). Keragaan produksi jagung di provinsi sentra di Indonesia tahun 2008-
2012 secara rinci tersaji pada Tabel 4.1.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

44 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

30,96%
16,36%
10,73%
7,69%
7,04%
4,84%
3,64%
3,49%
15,24%
Jatim Jateng Lampung Sulsel Sumut Jabar Gorontalo NTT Lainnya

Gambar 4.1. Provinsi sentra produksi jagung di Indonesia, 2008 2012

Tabel 4.1. Perkembangan produksi jagung di provinsi sentra di Indonesia,
2008 - 2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Jawa Timur 5.053.107 5.266.720 5.587.318 5.443.705 6.295.301 5.529.230 30,96 30,96
2 Jawa Tengah 2.679.914 3.057.845 3.058.710 2.772.575 3.041.630 2.922.135 16,36 47,32
3 Lampung 1.809.886 2.067.710 2.126.571 1.817.906 1.760.275 1.916.470 10,73 58,05
4 Sulawesi Selatan 1.195.691 1.395.742 1.343.044 1.420.154 1.515.329 1.373.992 7,69 65,74
5 Sumatera Utara 1.098.969 1.166.548 1.377.718 1.294.645 1.347.124 1.257.001 7,04 72,78
6 Jawa Barat 639.822 787.599 923.962 945.104 1.028.653 865.028 4,84 77,62
7 Gorontalo 753.598 569.110 679.167 605.782 644.754 650.482 3,64 81,26
8 Nusa Tenggara Timur 673.112 638.899 653.620 524.638 629.386 623.931 3,49 84,76
9 Lainnya 2.413.152 2.679.575 2.577.526 2.818.741 3.124.570 2.722.713 15,24 100,00
Total 16.317.251 17.629.748 18.327.636 17.643.250 19.387.022 17.860.981 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik
No Propinsi
Produksi (Ton)
Rata-rata
(Ton)
Share
(%)
Share
kumulatif
(%)



4.2. KERAGAAN HARGA JAGUNG
Pergerakan harga jagung akan dipengaruhi oleh pergerakan pasokan
jagung di pasar. Pasokan jagung di pasar dipengaruhi oleh kuantitas panen
jagung di sentra-sentra produksi. Berdasarkan keragaan data tahun 2011
2012 panen jagung di Indonesia berlangsung sepanjang tahun, namun
demikian pasokan jagung mencapai puncaknya pada setiap bulan Pebruari.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 45

Selama tahun 2011-2012, rata-rata kumulatif pasokan jagung pada bulan
Pebruari - April mencapai lebih dari 40% dari rata-rata total pasokan selama 12
bulan (Gambar 4.2). Luas panen serta share luas panen jagung bulanan di
Indonesia tahun 2011 2012 secara rinci disajikan pada Tabel 4.2.
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2011 100.7 367.1 858.6 560.9 209.3 243.9 273.3 262.1 227.7 205.3 180.9 139.9
2012 310.6 720.9 644.6 403.6 236.9 263.1 285.8 282.5 228.4 207.1 205.7 212.0
-
100.000
200.000
300.000
400.000
500.000
600.000
700.000
800.000
900.000
1.000.000
(
h
e
k
t
a
r
)

Gambar 4.2. Perkembangan luas panen jagung di Indonesia, 2011-2012

Tabel 4.2. Perkembangan luas panen jagung di Indonesia, 2011 2012
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2011 100.775 367.135 858.652 560.911 209.306 243.994 273.379 262.158 227.797 205.369 180.929 139.919
2012 310.638 720.956 644.621 403.668 236.901 263.178 285.864 282.512 228.459 207.148 205.768 212.011
2011 2,78 10,11 23,65 15,45 5,77 6,72 7,53 7,22 6,27 5,66 4,98 3,85
2012 7,76 18,02 16,11 10,09 5,92 6,58 7,14 7,06 5,71 5,18 5,14 5,30
Sumber: BPS
Share (%)
Tahun
Bulan
Luas Panen (Ha)

Perkembangan harga produsen jagung selama periode tahun 2009
2011 menunjukkan pola terus mengalami peningkatan dari bulan ke bulan.
Pada tahun 2009 harga produsen jagung meningkat dengan rata-rata sebesar
0,4% yakni dari Rp. 2.700,-/kg pada bulan Januari menjadi Rp. 2.822,-/kg pada
bulan Desember. Demikian pula pada tahun 2010 harga produsen jagung
meningkat 0,35% dari Rp. 2.881,-/kg menjadi Rp. 2.992,-/kg, dan tahun 2011
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

46 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

meningkat 0,46%, dari Rp. 3.021,-/kg menjadi Rp. 3.177,-/kg. Seiring dengan
peningkatan harga produsen, harga jagung di tingkat konsumenpun terus
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, harga
konsumen jagung meningkat sebesar 0,46% yakni dari Rp. 3.855,-/kg pada
bulan Januari menjadi Rp. 4.054,-/kg pada bulan Desember. Pada tahun 2010,
harga konsumen jagung naik sebesar 1,04%, yakni dari Rp. 4.383,-/kg menjadi
Rp. 4.908,-/kg, kemudian pada tahun 2011 naik sebesar 0,79% yakni dari Rp.
5.081,-/kg menjadi Rp. 5.542,-/kg. Peningkatan harga jagung di tingkat
konsumen yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga di tingkat
produsen menyebabkan margin harga jagung dari waktu ke waktu mempunyai
tendensi melebar dan signifikan terlihat mulai bulan Januari 2010 (Gambar 4.3).
Perkembangan harga jagung di tingkat produsen dan konsumen serta margin
harga produsen-konsumen jagung di Indonesia tahun 2009 2011 secara rinci
tersaji pada Tabel 4.3.

2.500
3.000
3.500
4.000
4.500
5.000
5.500
6.000
J
a
n
F
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
v
D
e
s
J
a
n
F
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
v
D
e
s
J
a
n
F
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
v
D
e
s
2009 2010 2011
(Rp/kg)
Harga Produsen Harga Konsumen

Gambar 4.3. Perkembangan harga produsen dan harga konsumen jagung di
Indonesia, 2009 -2011

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 47

Tabel 4.3. Perkembangan harga produsen, harga konsumen, dan margin
harga produsen-konsumen jagung di Indonesia, 2009 2011
(Rp/kg)
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2009 2.700 2.674 2.651 2.672 2.689 2.720 2.734 2.743 2.783 2.781 2.800 2.822 0,40
2010 2.881 2.873 2.887 2.896 2.898 2.916 2.933 2.949 2.976 3.004 3.003 2.992 0,35
2011 3.021 3.040 3.051 3.074 3.093 3.109 3.104 3.139 3.148 3.159 3.168 3.177 0,46
2009 3.855 3.864 3.936 3.953 3.981 3.933 3.933 3.964 3.971 3.964 4.015 4.054 0,46
2010 4.383 4.445 4.499 4.508 4.509 4.552 4.624 4.676 4.708 4.757 4.821 4.908 1,04
2011 5.081 5.144 5.188 5.207 5.280 5.285 5.368 5.432 5.497 5.477 5.528 5.542 0,79
2009 1.155 1.190 1.284 1.281 1.293 1.214 1.199 1.221 1.188 1.183 1.215 1.232 0,64
2010 1.502 1.572 1.612 1.612 1.611 1.636 1.690 1.728 1.732 1.753 1.818 1.916 2,25
2011 2.060 2.104 2.137 2.133 2.188 2.176 2.263 2.292 2.350 2.318 2.360 2.365 1,27
Sumber : BPS
Harga Produsen
Harga Konsumen
Margin Harga Produsen - Konsumen
Tahun
Bulan
Rata-rata
Pertumbuhan (%)

Apabila diamati harga produsen jagung pada tahun 2011 di dua (2)
provinsi sentra terbesar yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur terlihat bahwa
peningkatan harga produsen jagung dipengaruhi oleh turunnya luas panen
jagung. Penurunan harga produsen jagung di dua provinsi tersebut cukup
signifikan terjadi pada bulan Maret April dan sangat nyata dipengaruhi oleh
meningkatnya luas panen jagung pada periode tersebut (Gambar 4.4). Luas
panen dan harga produsen jagung di Jawa tengah dan jawa Timur pada tahun
2011 secara rinci tersaji pada Tabel 4.4.


0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
230.000
235.000
240.000
245.000
250.000
255.000
260.000
265.000
270.000
275.000
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
(Hektar) (Rp/ku)
Luas Panen Harga Produsen
0
50000
100000
150000
200000
250000
300000
220.000
225.000
230.000
235.000
240.000
245.000
250.000
255.000
260.000
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
(Hektar) (Rp/ku)
Luas Panen Harga Produsen
Gambar 4.4. Perkembangan harga produsen dan luas panen jagung di Jawa
Tengah dan Jawa Timur, 2011
Jawa Timur Jawa Tengah
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

48 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 4.4. Luas panen dan harga produsen jagung di Jawa Tengah dan Jawa
Timur, 2011

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Luas Panen (Ha)
98.062 74.434 33.449 22.368 39.621 39.594 28.702 42.225 73.539 37.539 16.999 13.617 -5,91
Harga Produsen (Rp/Ku)
245.564 252.935 255.170 264.961 267.501 266.590 268.849 268.179 264.984 261.700 261.586 259.370 0,51
Luas Panen (Ha)
194.122 239.375 135.412 51.759 76.531 87.094 68.365 48.150 81.788 104.377 62.621 54.469 -2,44
Harga Produsen (Rp/Ku)
232.038 236.178 236.591 244.200 254.508 250.317 247.086 247.573 246.777 243.738 245.419 242.713 0,43
Sumber : BPS
Jawa Tengah
Indikator
Bulan
Rata-rata
Pertumbuhan
(%)
Jawa Timur


Jenis jagung yang diperdagangkan di pasar internasional yakni jagung
kuning No. 2 yang dipantau di pelabuhan Gulf (harga f.o.b). Selama periode
tahun 2010 harga rata-rata bulanan jagung di pasar internasional terlihat terus
mengalami peningkatan sebesar 3,97%, atau dari US$ 167,31/ton pada bulan
Januari menjadi sebesar US$ 250,38/ton pada bulan Desember. Pada tahun
2011, harga jagung dipasar internasional relatif berfluktuasi namun cenderung
mengalami sedikit penurunan sebesar 0,06%. Walaupun terjadi penurunan,
namun pencapaian harga pada tahun 2011 masih lebih tinggi dibandingkan
dengan harga pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2012, harga jagung di pasar
internasional juga berfluktuasi namun cenderung mengalami peningkatan
dengan rata-rata sebesar 1,38%. Peningkatan harga yang cukup signifikan
terjadi pada bulan Juli yaitu naik sebesar 24,59% dibandingkan bulan
sebelumnya. Peningkatan ini mengakibatkan pencapaian harga jagung periode
Juli Desember 2012 melebihi pencapaian harga periode yang sama tahun
sebelumnya (Gambar 4.5). Perkembangan harga jagung di pasar internasional
tahun 2010 2012 secara rinci disajikan pada Tabel 4.5.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 49

100,00
150,00
200,00
250,00
300,00
350,00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
(US$/ton)
2010 2011 2012

Gambar 4.5. Perkembangan harga internasional jagung, 2010 2012


Tabel 4.5 Perkembangan harga jagung di pasar internasional, 2010 - 2012
(US$/Ton)
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2010 167,31 161,80 159,05 157,08 163,38 152,75 163,76 175,58 205,89 235,81 238,18 250,38 3,97
2011 264,95 292,90 290,54 319,27 307,86 310,61 300,77 310,22 295,26 274,79 274,39 258,65 -0,06
2012 272,84 279,46 280,69 274,00 269,28 267,31 333,05 331,99 320,85 321,24 321,64 308,65 1,38
Sumber : World Bank
Keterangan : Harga jagung kuning No. 2, f.o.b. Di pelabuhan US Gulf
Tahun
Bulan
Rata-rata
Pertumbuhan (%)


4.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG

4.3.1. Keragaan Ekspor Impor Jagung Indonesia

Kinerja perdagangan jagung dapat didekati diantaranya dengan melihat
ekspor, impor serta neraca perdagangan jagung. Ekspor jagung selama
periode 2008 - 2012 mengalami peningkatan dari sisi volume sebesar 4,42%,
dan dari sisi nilai naik sebesar 19,18%. Demikian pula impor jagung Indonesia
mengalami peningkatan baik dari sisi volume maupun nilai masing-masing
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

50 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

sebesar 93,41% dan 101,83%. Kuantitas impor jagung yang selalu lebih besar
dari yang diekspor menyebabkan kinerja perdagangan jagung Indonesia selalu
dalam posisi defisit. Selama periode tahun 2008 2012, defisit neraca
perdagangan jagung mengalami peningkatan dari sisi volume sebesar
117,52% dan dari sisi nilai sebesar 123,73%. Defisit neraca perdagangan
jagung terbesar terjadi tahun 2011 yang mencapai 3,28 juta ton dengan nilai
sebesar US$ 1,07 milyar (Gambar 4.6). Neraca perdagangan jagung yang
selalu defisit menunjukkan bahwa komoditas jagung Indonesia tidak
mempunyai andil pada perdagangan internasional. Keragaan ekspor, impor
dan neraca perdagangan jagung Indonesia tahun 2008 2012 secara rinci
tersaji pada Tabel 4.6.

-1.500.000
-1.000.000
-500.000
0
500.000
1.000.000
1.500.000
2008 2009 2010 2011 2012
(US$ 000)
Ekspor Impor Neraca

Gambar 4.6. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan jagung
Indonesia , 2008 - 2012








Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 51

Tabel 4.6. Perkembangan Ekspor-Impor Jagung di Indonesia, 2008 -2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Ekspor
- Volume (Ton) 108.170 76.618 44.514 32.944 70.741 4,42
- Nilai (US$ 000) 29.325 19.219 12.111 18.654 36.214 19,18
2 Impor
- Volume (Ton) 393.305 421.231 1.786.811 3.310.984 1.889.431 93,41
- Nilai (US$ 000) 135.860 107.379 484.238 1.084.404 578.802 101,83
3 Neraca perdagangan
- Volume (Ton) -285.135 -344.612 -1.742.297 -3.278.040 -1.818.690 117,52
- Nilai (US$ 000) -106.535 -88.160 -472.128 -1.065.750 -542.588 123,73
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : Data tahun 2009 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud
olahan
No Uraian
Tahun
Pertumbuhan
(%)
2008 - 2012


Apabila ditelisik lebih lanjut, ekspor impor jagung terdiri dari wujud
segar dan olahan. Berdasarkan keragaan data tahun 2008 2012 pada Tabel
4.7, baik ekspor maupun impor jagung didominasi oleh wujud segar. Selama 5
(lima) tahun terakhir, ekspor-impor jagung segar dan olahan Indonesia terus
mengalami peningkatan baik dari sisi volume maupun nilai. Pada tahun 2012,
ekspor jagung segar Indonesia mencapai 34,9 ribu ton (US$ 19,02 juta),
sedangkan jagung olahan mencapai 35,84 ribu ton (US$ 17,19 juta).
Sementara, impor jagung segar mencapai 1,80 juta ton (US$ 531,08 ribu), dan
jagung olahan mencapai 91,55 ribu ton (US$ 47,72 juta). Keragaan nilai ekspor
jagung tahun 2008 2012 menurut wujud hasil secara rinci disajikan pada
Tabel 4.7.













Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

52 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 4.7. Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Jagung
Segar dan Olahan di Indonesia, 2008 -2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Ekspor
Segar
- Volume (Ton) 107.001 75.283 41.954 12.472 34.899 8,91
- Nilai (US$ 000) 28.906 18.841 11.321 9.464 19.018 2,45
Olahan
- Volume (Ton) 1.168 1.335 2.560 20.472 35.842 220,19
- Nilai (US$ 000) 419 378 790 9.190 17.196 312,51
2 Impor
Segar
- Volume (Ton) 264.665 338.798 1.527.516 3.207.657 1.797.876 111,23
- Nilai (US$ 000) 87.395 77.841 369.077 1.028.527 531.084 123,38
Olahan
- Volume (Ton) 128.639 82.433 259.295 103.327 91.555 26,77
- Nilai (US$ 000) 48.464 29.538 115.161 55.877 47.718 46,19
3 Neraca perdagangan
Segar
- Volume (Ton) -157.664 -263.515 -1.485.562 -3.195.185 -1.762.977 150,29
- Nilai (US$ 000) -58.489 -59.000 -357.756 -1.019.063 -512.066 160,58
Olahan
- Volume (Ton) -127.471 -81.098 -256.735 -82.855 -55.713 19,93
- Nilai (US$ 000) -48.046 -29.160 -114.372 -46.687 -30.522 39,78
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : Data tahun 2009 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud
olahan
No Uraian
Tahun Pertumbuhan
(%)
2008 - 2012


Ekspor-impor jagung segar Indonesia terdiri dari jagung untuk bibit,
jagung berondong dan jagung pipilan kering. Selama periode 5 (lima) tahun
terakhir, ekspor jagung segar Indonesia didominasi oleh wujud jagung pipilan
kering. Rata-rata ekspor jagung pipilan kering selama periode 2008-2012
mencapai lebih dari 64% dari total ekspor jagung segar Indonesia. Disusul
kemudian jagung untuk bibit sebesar 32,51%, dan jagung berondong dalam
kuantitas yang relatif kecil hanya sebesar 3,10% (Gambar 4.7 dan Tabel 4.8).







Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 53

Tabel 4.8. Perkembangan nilai ekspor jagung segar dan olahan Indonesia,
2008 - 2012
(US$)
No Wujud 2008 2009 2010 2011 2012
Rata-Rata
2008-2012
Share
(%)
A Segar 28.906.247 18.841.037 11.320.845 9.463.847 19.018.158 17.510.027 100,00
1 Jagung Bibit 5.586.657 4.753.833 1.779.599 6.447.615 9.899.129 5.693.367 32,51
2 Jagung brondong 1.873.753 733.545 33.131 42.327 34.988 543.549 3,10
3 Jagung pipilan kering 21.445.837 13.353.659 9.508.115 2.973.905 9.084.041 11.273.111 64,38
B Olahan 418.614 377.667 789.802 9.189.587 17.196.279 5.594.390 100,00
1 Maizena (tepung jagung) 60.458 123 205.862 3.965 16.262 57.334 1,02
2 Menir/tepung dari Jagung 179.337 187.946 326.207 0 37.440 146.186 2,61
3 Jagung digiling atau dipipihkan dari jagung 158.122 181.884 171.486 93.674 102.813 141.596 2,53
4 Jagung dikuliti, dikilapkan atau disosok dari jagung 0 1.473 427 6.652 92.358 20.182 0,36
5 Pati jagung 20.697 323 233 8.185.953 14.690.197 4.579.481 81,86
6 Minyak mentah dari jagung 0 0 0 365.768 921.824 257.518 4,60
7 Fraksi padat dari minyak jagung 0 0 0 0 0 0 0,00
8 Sekam, dedak dari jagung 0 5.918 85.587 533.575 1.335.385 392.093 7,01
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : Data tahun 2009 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan

32,51%
3,10%
64,38%
Jagung Bibit Jagung brondong Jagung pipilan kering

Gambar 4.7. Kontribusi nilai ekspor jagung segar menurut wujud hasilnya,
2008-2012

Wujud jagung olahan yang diperdagangkan di pasar internasional adalah
maizena, menir/tepung jagung, jagung digiling/dipipihkan, jagung
dikuliti/dikilapkan/disosoh, pati jagung, minyak mentah, fraksi padat dari
minyak jagung, dan sekam/dedak jagung. Ekspor jagung olahan didominasi
oleh pati jagung yang mencapai lebih dari 81,86% dari total ekpor jagung
olahan Indonesia. Berikutnya adalah wujud sekam/dedak sebesar 7,01%,
disusul wujud minyak mentah sebesar 4,60%. Menir/tepung jagung dan jagung
digiling/dipipihkan menduduki urutan berikutnya masing-masing sebesar 2,61%
dan 2,53% dari total ekspor jagung olahan (Gambar 4.8 dan Tabel 4.8).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

54 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

1,02%
2,61%
2,53%
0,36%
81,86%
4,60%
7,01%
Maizena Menir/tepung
Jagung digiling/dipipihkan Jagung dikuliti/dikilapkan/disosoh
Pati jagung Minyak mentah
Sekam/dedak

Gambar 4.8. Kontribusi nilai ekspor jagung olahan menurut wujud hasilnya,
2008-2012


Dari sisi impor, jagung pipilan kering juga merupakan wujud jagung
segar yang banyak diimpor oleh Indonesia. Pada periode tahun 2008-2012,
impor jagung pipilan kering mencapai lebih dari 97% dari total jagung segar
yang diimpor oleh Indonesia. Sekitar 3% sisanya adalah jagung bibit dan
jagung brondong (Gambar 4.9 dan Tabel 4.9).

1,28%
1,59%
97,14%
Jagung Bibit Jagung brondong Jagung pipilan


Gambar 4.9. Kontribusi nilai impor jagung segar menurut wujud hasilnya,
2008-2012
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 55

Pati jagung merupakan wujud jagung olahan yang banyak diimpor oleh
Indonesia. Pada periode tahun 2008 2012, impor pati jagung mencapai
93,94% dari total impor jagung olahan Indonesia. Disusul kemudian adalah
sekam/dedak jagung sebesar 5,22%, dan sisanya adalah wujud lainnya
(Gambar 4.10 dan Tabel 4.9).

93,94%
5,22% 0,85%
Pati jagung Sekam/dedak Lainnya

Gambar 4.10. Kontribusi nilai impor jagung olahan menurut wujud hasilnya,
2008-2012

Tabel 4.9. Perkembangan nilai impor jagung segar dan olahan Indonesia, 2008
2012
(US$)
No Wujud 2008 2009 2010 2011 2012
Rata-Rata
2008-2012
Share
(%)
A Segar 87.395.332 77.841.093 369.076.312 1.028.526.693 531.083.910 418.784.668 100,00
1 Jagung Bibit 5.975.336 5.986.886 3.149.080 6.208.022 5.420.558 5.347.976 1,28
2 Jagung brondong 4.963.246 1.933.788 2.767.257 20.076.065 3.451.697 6.638.411 1,59
3 Jagung pipilan kering 76.456.750 69.920.419 363.159.975 1.002.242.606 522.211.655 406.798.281 97,14
B Olahan 48.464.297 29.537.642 115.161.567 55.877.381 47.718.261 59.351.830 100,00
1 Maizena (tepung jagung) 389.389 157.076 210.986 87.479 87.100 186.406 0,31
2 Menir/tepung dari Jagung 42.896 42.120 125.487 37.863 31.419 55.957 0,09
3 Jagung digiling atau dipipihkan
dari jagung
14.743 37.494 202.998 22.337 14.091 58.333 0,10
4 Jagung dikuliti, dikilapkan atau
disosok dari jagung
363 10.080 172.404 289.196 247.310 143.871 0,24
5 Pati jagung 47.941.535 27.969.625 111.032.447 50.164.021 41.653.946 55.752.315 93,94
6 Minyak mentah dari jagung 7.963 15.275 72.159 107.648 40.710 48.751 0,08
7 Fraksi padat dari minyak jagung 0 33.506 1.375 170 11.642 9.339 0,02
8 Sekam, dedak dari jagung 67.408 1.272.466 3.343.711 5.168.667 5.632.043 3.096.859 5,22
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : Data tahun 2009 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

56 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

4.3.2. Negara Tujuan Ekspor dan Negara Asal Impor Jagung
Indonesia

Selama tahun 2012, Indonesia mengekspor jagung (segar dan olahan)
ke 22 (dua puluh dua) negara, dengan negara utama tujuan ekspor jagung
seperti tersaji pada Tabel 4.10. Pada periode ini, ekspor jagung Indonesia ke
Phillipina mencapai US$ 19,69 juta sehingga Phillipina menempati urutan
pertama sebagai negara pengimpor jagung Indonesia yakni mencapai 54,37%.
Negara berikutnya sebagai pengimpor jagung Indonesia adalah Vietnam yang
mencapai 24,34% dari total ekspor jagung Indonesia atau sebesar US$ 8,81
juta. Negara berikutnya sebagai negara pengimpor jagung Indonesia adalah
Thailand dan Jepang, namun dalam kuantitas yang jauh lebih kecil, yakni
masing-masing sebesar 5,52% (US$ 2 juta) dan 4,67% (US$ 1,69 juta).
Selanjutnya, ekspor jagung Indonesia ditujukan ke China, Republik Korea dan
Malaysia dengan total ekspor selama tahun 2012 masing-masing mencapai
3,01% (US$ 1,09 juta), 2,39% (US$ 866 ribu) dan 2,39% (US$ 865 juta)
(Gambar 4.11 dan Tabel 4.10).

54,37%
24,34%
5,52%
4,67%
3,01%
2,39%
2,39%
3,32%
Phillipina Vietnam Thailand Jepang China Rep. Korea Malaysia Lainnya

Gambar 4.11. Negara tujuan ekspor jagung Indonesia, 2012
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 57

Tabel 4.10. Negara tujuan ekspor jagung Indonesia, 2012
Volume
(Ton)
Nilai
(US$ 000)
1 Phillipina 50.565 19.689 54,37
2 Vietnam 6.569 8.814 24,34
3 Thailand 1.901 1.999 5,52
4 Jepang 5.563 1.690 4,67
5 China 2.408 1.090 3,01
6 Rep. Korea 934 866 2,39
7 Malaysia 1.620 865 2,39
8 Lainnya 1.181 1.201 3,32
Jumlah 70.741 36.214 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Ekspor
No. Negara
Share dari
nilai
ekspor
(%)

Dari sisi impor, Indoensia bermitra dagang dengan India untuk
komoditas jagung, dimana 61% dari total jagung yang diimpor Indonesia pada
tahun 2012 berasal India atau senilai US$ 353,06 juta. Negara asal impor
jagung Indonesia berikunya adalah Argentina dan Pakistan, dengan nilai impor
tahun 2012 masing-masing mencapai US$ 95,51 juta (16,5%) dan US$ 45,92
juta (7,93%). Negara berikutnya adalah China, Brasilia dan Amerika Serikat,
dengan total impor masing-masing hanya sebesar US$ 26,34 juta (4,55%), US$
23,05 juta (3,98%), dan US$ 16,45 juta (2,84%) (Gamber 4.12 dan Tabel
4.11).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

58 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

61,00%
16,50%
7,93% 4,55%
3,98%
2,84%
3,19%
India Argentina Pakistan China Brasilia Amerika Serikat Lainnya

Gambar 4.12. Negara asal impor jagung Indonesia, 2012

Tabel 4.11. Negara asal impor jagung Indonesia, 2012
Volume (Ton)
Nilai
(US$ 000)
1 India 1.234.477 353.060 61,00
2 Argentina 309.174 95.508 16,50
3 Pakistan 146.204 45.920 7,93
4 China 50.869 26.337 4,55
5 Brasilia 74.375 23.052 3,98
6 Amerika Serikat 45.665 16.445 2,84
8 Lainnya 28.666 18.480 3,19
Jumlah 1.889.431 578.802 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Share dari
nilai impor
(%)
No. Negara
Impor


4.3.3. Negara Eksportir dan Importir Jagung Dunia

Menurut data yang dipubilkasikan oleh FAO, jagung diperdagangan di
pasar internasional dalam wujud jagung pipilan kering, jagung untuk pakan
ternak dan silase, minyak jagung serta jagung basah. Tidak jauh berbeda
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 59

dengan Indonesia, jagung yang diperdagangkan di pasar global baik ekspor
maupun impor juga didominasi oleh wujud jagung pipilan kering, yakni
mencapai lebih dari 95% pada periode tahun 2006 - 2010.
Amerika Serikat mendominasi pasar global jagung pipilan kering, yakni
dengan rata-rata ekspor sebesar US$ 10 milyar per tahun pada periode 2006
2010 atau 45,91% dari total ekspor jagung pipilan kering dunia. Disusul
kemudian oleh Argentina sebesar US$ 2,36 milyar (10,74%) dan Perancis
sebesar US$ 1,76 milyar (6,66%). Negara negara pengekspor jagung terbesar
di dunia lainnya adalah Brazil, Hungaria, India, Ukraina, Afrika Selatan, China,
dan Rumania dengan rata-rata ekspor jagung masing-masing dibawah US$ 1
milyar (Gambar 4.13). Indonesia menduduki posisi ke-37 dengan rata-rata
ekspor sebesar U S$15,56 juta per tahun. Perkembangan ekspor jagung pipilan
kering pada negara eksportir terbesar dunia tahun 2006 2010 secara rinci
tersaji pada Tabel 4.12.

45,91
10,74
8,02
6,66
3,82 2,31
2,31
1,33
1,30
1,10
16,49
(%)
Amerika Argentina Perancis Brasil Hongaria India
Ukraina Afrika Selatan China Rumania Lainnya

Gambar 4.13. Negara eksportir jagung pipilan kering terbesar dunia,
2006 2010





Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

60 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 4.12. Perkembangan nilai ekspor jagung di negara-negara eksportir
utama di dunia, 2006 2010

2006 2007 2008 2009 2010
1 Amerika 7.297.368 10.099.898 13.884.498 9.086.407 10.110.465 10.095.727 45,91
2 Argentina 1.263.813 2.253.083 3.531.047 1.612.532 3.145.255 2.361.146 10,74
3 Perancis 1.314.796 1.522.375 2.298.107 1.847.587 1.835.496 1.763.672 8,02
4 Brasil 481.882 1.918.840 1.405.172 1.302.150 2.214.956 1.464.600 6,66
5 Hongaria 395.181 1.091.173 986.101 849.909 882.522 840.977 3,82
6 India 110.147 592.045 780.636 527.884 533.674 508.877 2,31
7 Ukraina 177.068 175.195 670.165 1.012.751 506.545 508.345 2,31
8 Afrika Selatan 143.527 32.429 531.521 453.462 304.853 293.158 1,33
9 China 412.179 874.301 73.531 31.690 33.398 285.020 1,30
10 Rumania 47.672 102.751 195.681 347.678 514.527 241.662 1,10
Lainnya 2.094.595 3.270.205 4.591.914 4.044.828 4.132.877 3.626.884 16,49
Dunia 13.738.228 21.932.295 28.948.373 21.116.878 24.214.568 21.990.068 100,00
Sumber: FAO, diolah Pusdatin
Rata-rata
(US$ 000)
Share
(%)
Tahun
No Negara


Tak berbeda dengan angka ekspor, impor jagung dunia juga didominasi
wujud jagung pipilan kering yang mencapai lebih dari 95%, sisanya berupa
minyak jagung dan jagung basah. Jepang merupakan negara pengimpor jagung
pipilan kering terbesar di dunia. Rata-rata impor jagung pipilan kering Jepang
selama periode tahun 2006 2010 mencapai US$ 3,95 milyar atau 12,24%
terhadap total impor jagung pipilan kering dunia. Negara berikutnya sebagai
negara pengimpor jagung terbesar di dunia adalah Rep. Korea dan Meksiko
dengan rata-rata impor masing-masing sebesar US$ 1,91 milyar (5,91%) dan
US$ 1,62 milyar (5,02%). Spanyol, China dan Mesir adalah negara pengimpor
jagung terbesar berikutnya, dengan rata-rata impor masing-masing sebesar
US$ 1,16 milyar (3,6%), US$ 1,05 milyar (3,26%), dan US$ 975,61 juta
(3,02%). Negara berikutnya adalah Iran, Belanda, Kolombia, dan Malaysia
dengan rata-rata impor per tahun masing-masing kurang dari 3% dari total
impor jagung dunia pada tahun 2006 2010. Indonesia menduduki posisi ke-30
dengan rata-rata impor sebesar US$ 194,01 juta (Gambar 4.14 dan Tabel
4.13).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 61

12,24
5,91
5,02
3,60 3,26 3,02
2,51
2,41
2,21
1,87
57,94
(%)
Jepang Rep. Korea Meksiko Spanyol China Mesir
Iran Belanda Kolombia Malaysia Lainnya

Gambar 4.14. Negara importir jagung pipilan kering terbesar dunia,
2006 2010


Tabel 4.13. Perkembangan nilai impor jagung di negara-negara importir utama
di dunia, 2006 2010

2006 2007 2008 2009 2010
1 Jepang 2.586.556 3.842.474 5.602.459 3.763.535 3.955.650 3.950.135 12,24
2 Rep. Korea 1.264.627 1.825.690 2.819.964 1.637.985 1.989.860 1.907.625 5,91
3 Meksiko 1.138.368 1.554.320 2.391.399 1.436.754 1.583.297 1.620.828 5,02
4 Spanyol 712.861 1.571.184 1.629.760 930.467 968.045 1.162.463 3,60
5 China 768.189 928.949 1.164.810 975.989 1.417.915 1.051.170 3,26
6 Mesir 545.322 1.076.837 1.036.637 947.763 1.271.480 975.608 3,02
7 Iran 420.354 658.884 968.602 652.278 1.353.793 810.782 2,51
8 Belanda 444.909 874.117 1.107.993 770.131 688.473 777.125 2,41
9 Kolombia 466.290 679.823 935.065 671.171 805.756 711.621 2,21
10 Malaysia 397.712 610.044 670.171 567.636 766.550 602.423 1,87
Lainnya 11.173.340 22.921.496 26.249.788 15.954.233 17.164.349 18.692.641 57,94
Dunia 19.918.528 36.543.818 44.576.648 28.307.942 31.965.168 32.262.421 100,00
Sumber: FAO, diolah Pusdatin
Share
(%)
No Negara
Tahun
Rata-rata
(US$ 000)








Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

62 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

4.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG

Analisis kinerja perdagangan jagung Indonesia dibedakan menurut wujud
hasil yakni wujud segar dan olahan dengan kode HS masing-masing sbb.:

1. Jagung segar:
a. Jagung bibit (1005.10.00.00)
b. Jagung brondong (1005.90.10.00)
c. Jagung pipilan kering (1005.90.90.00)
2. Jagung olahan:
a. Maizena (tepung jagung) (1102.20.00.00)
b. Menir/tepung dari Jagung (1103.13.00.00)
c. Jagung digiling atau dipipihkan dari jagung (1104.19.10.00)
d. Jagung dikuliti, dikilapkan atau disosok dari jagung (1104.23.00.00)
e. Pati jagung (1108.12.00.00).
f. Minyak mentah dari jagung (1515.21.00.00)
g. Fraksi padat dari minyak jagung (1515.29.11.00).
h. Sekam, dedak dari jagung (2302.10.00.00)

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis
posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. Kategori nilai ISP dalam
melihat posisi komoditas dalam analisis ekspor-impor seperti berikut ini :
-1 s/d -0,5 : pengenalan
-0,6 s/d 0,0 : subtitusi impor
0,1 s/d 0,7 : perluasan ekspor
0,8 s/d 1,0 : pematangan ekspor
Perkembangan nilai ISP jagung Indonesia dalam wujud segar, olahan, dan total
jagung tahun 2008 2012 tersaji pada Gambar 4.15 dan Tabel 4.14.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 63

-1,20
-1,00
-0,80
-0,60
-0,40
-0,20
0,00
2008 2009 2010 2011 2012
Jagung Segar Jagung Olahan Jagung Total

Gambar 4.15. Perkembangan nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP)
jagung segar, olahan, dan total jagung Indonesia, 2008 2012


Tabel 4.14. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) jagung segar, olahan, dan
total jagung Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Jagung segar
Ekspor - Impor -58.489 -59.000 -357.756 -1.019.063 -542.677
Ekspor + Impor 116.302 96.682 380.398 1.037.991 583.543
ISP -0,50 -0,61 -0,94 -0,98 -0,93
2 Jagung olahan
Ekspor - Impor -48.046 -29.160 -114.372 -46.687 -33.105
Ekspor + Impor 48.883 29.915 115.951 65.067 68.685
ISP -0,98 -0,97 -0,99 -0,72 -0,48
3 Total Jagung
Ekspor - Impor -106.535 -88.160 -472.128 -1.065.750 -575.782
Ekspor + Impor 165.184 126.597 496.349 1.103.058 652.227
ISP -0,64 -0,70 -0,95 -0,97 -0,88
No Uraian
Nilai (US$)
Sumber: BPS, diolah Pusdatin


ISP total jagung Indonesia selama periode tahun 2008 bernilai negatif
yang cukup besar yakni diatas 0,6 dan cenderung terus menurun dari tahun ke
tahun hingga menjadi -0,88 pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa
perdagangan total jagung Indonesia masih dalam tahap pengenalan. Apabila
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

64 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

ditinjau menurut wujud hasil maka baik jagung segar maupun jagung olahan
mempunyai nilai ISP yang negatif. ISP jagung segar pada tahun 2008 sebesar -
0,5 dan terus mengalami penurunan hingga tahun 2012 hanya sebesar -0,93.
Nilai ISP jagung segar tersebut menunjukkan bahwa jagung segar Indonesia
masih dalam tahap pengenalan di perdagangan internasional. Sementara ISP
jagung olahan pada tahun 2008 sebesar -0,98 dan mempunyai tendesi
peningkatan hingga pada tahun 2012 menjadi sebesar -0,48. Hal ini
menunjukkan bahwa jagung olahan Indonesia yang awalnya dalam tahap
pengenalan di pasar internasional meningkat menjadi substitusi impor.

Tabel 4.15. IDR dan SSR jagung Indonesia, 2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Produksi (Ton) 16.317.251 17.629.748 18.327.636 17.643.250 19.377.030
2 Ekspor (Ton) 108.170 76.618 44.514 33.189 72.949
3 Impor (Ton) 393.305 421.231 1.786.811 3.310.984 1.991.952
4 Produksi + Impor - Ekspor 16.602.386 17.974.360 20.069.933 20.921.045 21.296.033
5 IDR (%) 2,37 2,34 8,90 15,83 9,35
6 SSR (%) 98,28 98,08 91,32 84,33 90,99
No Uraian
Tahun
Sumber : BPS, diolah Pusdatin

IDR (Impor Dependendcy Ratio) digunakan untuk menganalisis
ketergantungan impor suatu komoditas dalam pemenuhan ketersedaiaan
domestik sedangkan SSR (Self Suffenciency Ratio) digunakan untuk
menganalisis kemampuan suatu komoditas dalam memenuhi kebutuhan
domestik. Hasil analisis IDR jagung sejak tahun 2008 hingga 2012,
menunjukkan bahwa Indonesia hanya bergantung pada impor jagung sebesar
2,34% hingga 15,83%. Ketergantungan impor jagung ini utamanya adalah
wujud jagung olahan. Sementara, berdasarkan nilai SSR jagung Indonesia
sejak tahun 2008 2012 berkisar antara 84,33% hingga 98,28% menunjukkan
bahwa Indonesia sudah bisa mencukupi kebutuhan jagung dalam negeri
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 65

dengan proporsi yang cukup besar dari produksi sendiri. Besarnya nilai IDR dan
SSR jagung Indonesia disajikan pada Tabel 4.15.
Indeks Keunggulan Komparatif atau RCA (Revealead Comparative
Advantage) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur
keunggulan komparatif suatu komoditas di di suatu wilayah. Sebuah produk
dikatakan memiliki daya saing bila RCA > 1 dan tidak berdaya saing bila RCA <
1, sehingga nilai dimulai dari 0 sampai tak terhingga. Keterbatasan analisis RCA
ini dikembangkan menjadi RSCA (Revealed Symmetric Comparative
Advantage) yang memilki penilaian antara -1 sampai dengan 1 sehingga sebuah
produk dikatakan memiliki daya saing bila RSCA > 0 dan tidak memiliki daya
saing bila RSCA < 0. Hasil perhitungan RSCA komoditas jagung segar dan
olahan di Indonesia disajikan pada Tabel 4.16 dan Tabel 4.17.

Tabel 4.16. Indeks keunggulan komparatif jagung segar Indonesia dalam
perdagangan dunia, 2008 - 2011

2008 2009 2010 2011
1 Jagung segar
Indonesia 28.906 18.841 11.321 9.464
Dunia 26.320.015 19.325.994 21.794.593 32.559.833
2 Non Migas
Indonesia 107.894.200 97.491.700 129.739.500 162.019.600
Dunia 13.157.364.489 10.563.721.834 12.725.891.053 14.756.917.803
3 Rasio
Indonesia 0,00 0,00 0,00 0,00
Dunia 0,00200 0,00183 0,00171 0,00221
RCA 0,13393 0,10564 0,05095 0,02647
RSCA -0,76 -0,81 -0,90 -0,95
Sumber: BPS dan UNComtrade, diolah Pusdatin
No Uraian
Nilai Ekspor (000 US$)


Berdasarkan hasil analisis RSCA pada Tabel 4.16 terlihat bahwa
komoditas jagung segar Indonesia tidak memiliki keunggulan komperatif di
perdagangan dunia. Hal ini ditunjukkan dari nilai RSCA yang bernilai negatif
cukup besar dari tahun ke tahun, sehingga dapat dikatakan bahwa produksi
jagung Indonesia hanya digunakan untuk keperluan dalam negeri, dan tidak
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

66 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

berperan di perdagangan dunia. Demikian pula, berdasarkan hasil analisis pada
Tabel 4.17 menunjukkan bahwa nilai RSCA jagung olahan Indonesia pada tahun
2008 sebesar -0,96 yang berarti bahwa jagung olahan Indonesia sangat tidak
mempunyai daya saing di pasar global. Kemudian, pada tahun-tahun
berikutnya, nilai RSCA jagung olahan sedikit beranjak naik namun masih
bernilai negatif yakni menjadi -0,59, sehingga masih belum mempunyai daya
saing di pasar global. Perkembangan nilai RSCA jagung olahan di Indonesia
secara lengkap tersaji pada Tabel 4.17.

Tabel 4.17. Indeks keunggulan komparatif jagung olahan Indonesia dalam
perdagangan dunia, 2008 - 2011

2008 2009 2010 2011
1 Jagung olahan
Indonesia 419 378 790 9.190
Dunia 2.591.710 2.068.347 2.382.144 3.226.701
2 Non Migas
Indonesia 107.894.200 97.491.700 129.739.500 162.019.600
Dunia 13.157.364.489 10.563.721.834 12.725.891.053 14.756.917.803
3 Rasio
Indonesia 0,00 0,00 0,00 0,00
Dunia 0,00 0,00 0,00 0,00
RCA 0,01970 0,01978 0,03252 0,25941
RSCA -0,96 -0,96 -0,94 -0,59
Sumber: BPS dan UNComtrade, diolah Pusdatin
No Uraian
Nilai Ekspor (000 US$)










Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 67

V. KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH

Bawang merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) adalah sejenis
tanaman yang menjadi bumbu berbagai masakan Asia Tenggara dan dunia.
Bawang merah mengandung vitamin C, Kalium, serat dan asam folat. Selain itu,
bawang merah juga mengandung kalsium dan zat besi. Kegunaan lain bawang
merah adalah sebagai obat tradisional, bawang merah dikenal sebagai obat
karena mengandung efek antiseptik dan senyawa alliin
(http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_merah).
Potensi bawang merah sangat bagus karena tanaman ini dapat
dibudidayakan hampir di seluruh Indonesia, namun masalah yang sering
dihadapi oleh bawang merah adalah fluktuasi harga yang tidak menentu. Pada
waktu tertentu seperti hari raya lebaran, natal dan tahun baru, harga bawang
merah terkadang menjadi sangat tinggi. Bila kondisi seperti itu tidak diimbangi
dengan meningkatkan supply maka akan meningkatkan inflasi.
Analisis berikut akan mengulas kinerja perdagangan komoditas bawang
merah berdasarkan atas data yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal
Hortikultura Kementerian Pertanian, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian
Perdagangan, FAO dan Uncomtrade.

5.1. SENTRA PRODUKSI BAWANG MERAH

Berdasarkan rata-rata produksi bawang merah tahun 2008 2012,
terdapat empat provinsi sentra bawang merah dengan kontribusi kumulatif
mencapai 86,72% terhadap total produksi bawang merah Indonesia. Provinsi
Jawa Tengah merupakan produsen bawang merah terbesar dengan persentase
kontribusi mencapai 43,36% dari total produksi bawang merah Indonesia
(Gambar 5.1). Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat berada di urutan kedua dan
ketiga dengan kontribusi masing-masing sebesar 20,89% dan 12,16%,
selanjutnya Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan kontribusi sebesar 10,30%
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

68 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

dari total produksi bawang merah Indonesia. Provinsi-provinsi sentra produksi
lainnya memberikan kontribusi kurang dari 3%. Secara rinci data provinsi sentra
produksi bawang merah di Indonesia disajikan pada Tabel 5.1.

43,36%
20,89%
12,16%
10,30%
13,28%
Jawa Tengah Jawa Timur
Jawa Barat Nusa Tenggara Barat
Provinsi Lainnya

Gambar 5.1. Provinsi sentra produksi bawang merah di Indonesia, 2008
2012

Tabel 5.1. Produksi bawang merah di provinsi sentra di Indonesia, 2008
2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Jawa Tengah 379.903 406.725 506.357 372.256 381.813 409.411 43,36 43,36
2 Jawa Timur 181.517 181.490 203.739 198.388 221.169 197.261 20,89 64,25
3 Jawa Barat 116.929 123.587 116.396 101.273 115.896 114.816 12,16 76,41
4 Nusa Tenggara Barat 68.748 133.945 104.324 78.300 100.989 97.261 10,30 86,72
5 Lainnya 106.518 119.417 118.118 142.907 140.205 125.433 13,28 100,00
Total 853.615 965.164 1.048.934 893.124 960.072 944.182 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik
No Propinsi
Produksi (Ton)
Rata-rata
(Ton)
Share
(%)
Share
kumulatif
(%)







Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 69

5.2 KERAGAAN HARGA BAWANG MERAH

Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang memiliki fluktuasi
harga yang relatif tinggi. Keragaan harga bawang merah akan dipengaruhi oleh
perkembangan produksi bawang merah. Produksi bulanan bawang merah tahun
2009 - 2011 di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5.2. Berdasarkan keragaan
data tahun 2009 dan 2011 produksi bawang merah yang cukup tinggi di
Indonesia terjadi pada bulan Juni Agustus. Pada tahun 2009 produksi
tertinggi terjadi pada bulan Juni, tahun 2010 bulan Agustus dan pada tahun
2011 produksi teringgi bawang merah terjadi pada bulan Juli.
-
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
120.000
140.000
160.000
180.000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
(
T
o
n
)
2009 2010 2011

Gambar 5.2. Perkembangan produksi bulanan bawang merah di Indonesia,
2009 -2011

Perkembangan harga produsen bawang merah di Indonesia selama
periode 2009 2010 menunjukkan kecenderungan meningkat sementara tahun
2011 polanya menurun. Pada tahun 2009 harga produsen bawang merah
meningkat dengan rata-rata sebesar 0,62% yakni dari Rp.10.280,-/kg pada
bulan Januari menjadi Rp.10.946,-/kg pada bulan Desember. Demikian pula
pada tahun 2010 harga produsen bawang merah meningkat 1,86% dari
Rp.10.707,-/kg menjadi Rp.13.003,-/kg. Sedangkan tahun 2011 harga produsen
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

70 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

bawang merah menurun sebesar 0,44% dari Rp.12.892,-/kg bulan Januari
menjadi Rp.12.244,-/kg bulan Desember. Harga bawang merah di tingkat
produsen tertinggi pada periode 2009-2011 adalah pada bulan Maret tahun
2011 sebesar Rp.13.687,-/kg (Gambar 5.3).
Sementara rata-rata harga bawang merah di tingkat konsumen pada
tahun 2009 sebesar Rp. 14.050,-/kg dengan rata-rata peningkatan sebesar
0,70% dan pada tahun 2010 rata-rata harga konsumen bawang merah sebesar
Rp. 18.893,-/kg dengan rata-rata peningkatan 6,12%. Pada tahun 2011, rata-
rata harga bawang merah ditingkat konsumen cukup tinggi yaitu sebesar Rp.
25.928,-/kg, namun rata-rata pertumbuhannya mengalami penurunan sebesar
2%. Harga bawang merah di tingkat konsumen tertinggi pada periode 2009-
2011 adalah pada bulan yang sama dengan harga di tingkat produsen yaitu,
bulan Maret tahun 2011 sebesar Rp.29.328,-/kg. (Gambar 5.3).

2.500
7.500
12.500
17.500
22.500
27.500
32.500
J
a
n
F
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
v
D
e
s
J
a
n
F
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
v
D
e
s
J
a
n
F
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
v
D
e
s
2009 2010 2011
(Rp/kg)
Harga Produsen Harga Konsumen

Gambar 5.3. Perkembangan harga produsen dan konsumen bawang merah di
Indonesia, 2009 2011

Margin perdagangan bawang merah antara produsen dan konsumen
cenderung naik selama tahun 2009-2011. Peningkatan harga jagung di tingkat
konsumen yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga di tingkat
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 71

produsen menyebabkan margin harga bawang merah semakin melebar terlihat
mulai bulan Juni 2010. Pada kurun waktu tersebut terjadi disparitas harga
bawang merah yang semakin lebar antara harga di tingkat produsen dengan
harga di tingkat konsumen. Hal ini mengindikasikan terjadinya kesenjangan
informasi dan posisi tawar antara produsen dan konsumen. Perkembangan
harga bawang merah di tingkat produsen dan konsumen serta margin harga
produsen-konsumen bawang merah di Indonesia tahun 2009 2011 secara
rinci disajikan pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Perkembangan harga Produsen, harga konsumen dan margin harga
produsen-konsumen bawang merah di Indonesia, 2009 2011

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2009 10.280 10.707 11.272 10.934 10.923 10.631 11.137 11.488 11.281 10.898 10.932 10.946 0,62
2010 10.707 10.729 10.770 11.152 11.111 11.374 12.739 12.197 12.112 12.301 12.891 13.003 1,86
2011 12.892 13.149 13.687 13.385 12.877 12.976 13.361 13.085 12.617 12.442 12.450 12.244 -0,44
2009 13.093 13.632 14.423 14.198 13.977 13.591 14.523 15.034 14.425 13.741 13.926 14.035 0,70
2010 14.226 14.482 14.878 15.448 15.763 17.113 20.669 21.270 20.398 21.430 24.223 26.821 6,12
2011 27.726 28.687 29.328 27.123 26.152 26.561 27.480 25.798 24.411 23.260 22.596 22.018 -2,00
2009 2.813 2.925 3.150 3.264 3.054 2.960 3.387 3.546 3.145 2.843 2.994 3.089 1,14
2010 3.519 3.753 4.108 4.296 4.652 5.739 7.930 9.074 8.286 9.129 11.332 13.818 13,86
2011 14.834 15.538 15.641 13.738 13.275 13.585 14.119 12.713 11.794 10.818 10.146 9.774 -3,56
Sumber : BPS
Tahun
Bulan
Rata-rata
Pertumbuhan
(%)
Harga Produsen (Rp/kg)
Harga Konsumen (Rp/kg)
Margin Harga Produsen - Konsumen (Rp/kg)


Pada provinsi sentra bawang merah di Indonesia yaitu Jawa Tengah dan
Jawa Timur tahun 2011, terlihat bahwa penurunan harga produsen bawang
merah dipengaruhi oleh naiknya produksi bawang merah. Penurunan harga
produsen bawang merah di provinsi Jawa Tengah tersebut terjadi pada bulan
Oktober Nopember dengan produksi bawang merah meningkat pada bulan
tersebut. Sementara pada provinsi Jawa Timur, pada bulan Juli Agustus
produksi bawang merah meningkat diikuti dengan turunnya harga bawang
merah. Produksi dan harga bawang merah di Jawa Tengah dan Jawa Timur
pada tahun 2011 tersaji pada Gambar 5.4.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

72 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Jawa Tengah Jawa Timur
0
10.000
20.000
30.000
40.000
50.000
60.000
70.000
-
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
(Ton) (Rp/kg)
Produksi Harga Produsen
-
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
40.000
45.000
50.000
6.400
6.600
6.800
7.000
7.200
7.400
7.600
7.800
8.000
8.200
8.400
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
(Ton (Rp/kg)
Produksi Harga Produsen

Gambar 5.4. Perkembangan harga produsen dan produksi bawang merah di
Jawa Tengah dan Jawa Timur, 2011

5.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH

5.3.1. Keragaan Ekspor Impor Bawang Merah Indonesia
Kinerja perdagangan bawang merah pada skala internasional didekati
dari neraca perdagangan ekspor impor bawang merah. Ekspor dan impor
bawang merah dilakukan semuanya dalam bentuk segar. Perkembangan neraca
perdagangan bawang merah tahun 2008 2012 mengalami defisit. Defisit
neraca perdagangan bawang merah terbesar terjadi pada tahun 2011 yaitu
sebesar US$ 70,85 juta dengan volume sebesar 146,67 ribu ton. Keragaan
ekspor-impor bawang merah Indonesia dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas
bawang merah, 2008 2012








Pertumbuhan (%)
2008 2009 2010 2011 2012 2008-2012
1. Ekspor
- Volume (Ton) 12.313,86 12.821,57 3.233,53 13.792,16 19.084,78 73,56
- Nilai (000 US$) 4.533,84 4.347,61 1.814,43 6.594,47 8.812,03 58,68
2. Impor
- Volume (Ton) 128.015,47 67.329,62 73.270,01 160.467,37 122.190,72 14,14
- Nilai (000 US$) 53.814,40 28.942,31 33.861,55 77.443,94 54.479,60 17,46
3. Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) -115.701,61 -54.508,05 -70.036,48 -146.675,21 -103.105,95 13,83
- Nilai (000 US$) -49.280,57 -24.594,70 -32.047,13 -70.849,47 -45.667,56 16,44
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
No. Uraian
Tahun
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 73

Berdasarkan data pada Tabel 5.3 terlihat bahwa defisit neraca
perdagangan bawang merah cenderung semakin tinggi dari tahun ke tahun.
Defisit neraca perdagangan pada sisi volume meningkat sebesar 13,83% per
tahun, dimana pertumbuhan volume ekspor naik sebesar 73,56% per tahun
dan volume impor naik sebesar 14,14% per tahun. Begitu juga defisit neraca
perdagangan dari sisi nilai juga semakin meningkat dengan rata-rata kenaikan
mencapai 16,44% per tahun. Perkembangan neraca nilai perdagangan bawang
merah dapat dilihat pada Gambar 5.5. Terlihat bahwa perkembangan nilai
ekspor bawang merah meningkat namun di tahun 2010 nilai ekspor bawang
merah paling rendah pada periode 2008 2012, sementara nilai impor bawang
merah cukup berfluktuasi dari tahun ke tahun.
-80.000
-60.000
-40.000
-20.000
-
20.000
40.000
60.000
80.000
2008 2009 2010 2011 2012
(000 US$)
Nilekspor Nilimpor Neraca Perdagangan


Gambar 5.5. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan
bawang merah Indonesia, 2008 2012


Ekspor bawang merah dilakukan dalam bentuk segar yang terdiri dari 2
kode HS (Harmony System), yaitu kode HS 0703102100 (bawang merah
benih) dan 0703102900 (bawang merah konsumsi). Untuk bawang merah
benih terlihat bahwa volume ekspor dan nilai ekspornya jauh lebih rendah
dibandingkan dengan bawang merah yang untuk konsumsi. Begitu juga volume
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

74 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

impor dan nilai impor bawang merah benih lebih rendah dibandingkan dengan
bawang merah yang untuk konsumsi.
Pada tahun 2009, volume ekspor bawang merah benih bernilai 0 dengan
rata-rata volume ekspor periode 2008 2012 sebesar 70,16 ton dengan rata-
rata nilai ekspornya yaitu US$ 52,65 ribu ton. Sementara untuk bawang merah
konsumsi, rata-rata volume ekspornya sebesar 12,18 ribu ton dengan rata-rata
nilai ekspornya US$5,17 juta ton.

Tabel 5.4. Perkembangan ekspor dan impor komoditas bawang merah
berdasarkan kode HS, 2008 2012

Rata-rata
2008 2009 2010 2011 2012 2008 - 2012
1. Volume Ekspor (Ton) 12.313,86 12.821,57 3.233,88 13.792,16 19.084,78
0703102100 16,41 0,00 1,88 1,50 331,00 70,16
0703102900 12.297,45 12.821,57 3.232,00 13.790,66 18.753,78 12.179,09
2. Nilai Ekspor (000 US$) 4.533,84 4.347,61 1.814,43 6.594,47 8.812,03
0703102100 2,54 0,00 0,25 0,41 260,07 52,65
0703102900 4531,30 4347,61 1814,18 6594,06 8551,97 5.167,82
3. Volume Impor 128.015,47 67.329,62 73.270,41 160.467,37 122.190,72
0703102100 185,00 3.574,82 2.697,66 4.086,36 1.836,80 2.476,13
0703102900 127.830,47 63.754,80 70.572,76 156.381,01 120.353,92 107.778,59
5. Nilai Impor 53.814,40 28.942,31 33.861,94 77.443,94 54.479,60
0703102100 69,77 1.350,72 1.196,49 1.922,20 865,07 1.080,85
0703102900 53.744,63 27.591,59 32.665,45 75.521,74 53.614,53 48.627,59
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
No. Uraian
Tahun


5.3.2. Negara Tujuan Ekspor dan Negara Asal Impor Bawang Merah
Indonesia

Bawang Merah yang banyak di ekspor oleh Indonesia adalah bawang
merah konsumsi. Pada tahun 2012, total Ekspor bawang merah baik konsumsi
atau benih dari Indonesia yang terbesar adalah ke Thailand sebesar 11.160,53
ton atau mencapai 60,24% dari total nilai ekspor bawang merah Indonesia.
Negara kedua terbesar adalah Vietnam sebesar 4.667,80 ton atau 21,52% dari
total nilai ekspor bawang merah Indonesia. Negara selanjutnya adalah ke
Malaysia (8,28%) dan Singapura (6,97%) dengan nilai ekspor masing-masing
sebesar US$ 729 ribu dan US$ 614 ribu. Selanjutnya, ekspor bawang merah
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 75

indonesia ditujukan ke Taiwan dengan total ekspor mencapai 2,34% atau
sebesar US$ 206 ribu (Gambar 5.6). Negara tujuan ekspor lainnya untuk
bawang merah dari Indonesia memiliki total ekspor dibawah 1% saja. Ekspor
bawang merah tahun 2012 menurut negara tujuan secara rinci disajikan pada
tabel 5.5.
60,25%
21,52%
8,28%
6,97%
2,34%
0,64%
Thailand Vietnam Malaysia Singapura Taiwan Lainnya

Gambar 5.6. Negara tujuan utama bawang merah Indonesia, 2012

Tabel 5.5. Negara tujuan ekspor bawang merah Indonesia, 2012
Volume Nilai
(Ton) (000 US$)
1. Bawang Merah Thailand 11.160,53 5.308,63 58,48 60,24
Vietnam 4.667,80 1.896,30 24,46 21,52
Malaysia 1.407,83 729,20 7,38 8,28
Singapura 974,60 614,56 5,11 6,97
Taiwan 708,04 206,51 3,71 2,34
Cina 58,00 14,21 0,30 0,16
Timor Leste 48,00 7,94 0,25 0,09
Philipina 47,41 6,43 0,25 0,07
Benin 9,55 23,88 0,05 0,27
Australia 2,40 3,60 0,01 0,04
Hongkong 0,28 0,51 0,00 0,01
Papua New Gini 0,25 0,12 0,00 0,00
Arab Saudi 0,09 0,14 0,00 0,00
Total Ekspor 19.084,78 8.812,03 100,00 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin
No. Uraian Negara Tujuan
Ekspor 2012 % thd. Total Ekspor
Volume Nilai

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

76 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Asal impor bawang merah didominasi oleh tiga negara asal, yaitu
Thailand, Vietnam, dan dari India. Pada tahun 2012 realisasi impor bawang
merah mencapai 122.190,72 ton senilai US$ 54,48 ribu. Pada tahun 2012 impor
bawang merah dari Thailand mencapai US$ 21,81 ribu atau 40,02% dari total
nilai impor bawang merah Indonesia, Vietnam sebesar US$ 20,26 ribu
(37,18%) dan India sebesar US$ 8,03 ribu (14,74%) (Gambar 5.7). Negara asal
impor bawang merah Indonesia tahun 2012 secara rinci disajikan pada Tabel
5.6
40,02%
37,18%
14,74%
4,94%
1,23% 1,88%
Thailand Vietnam India Philipina Cina Negara Lainnya

Gambar 5.7. Negara asal utama bawang merah Indonesia, 2012











Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 77

Tabel 5.6. Negara asal impor bawang merah Indonesia, 2012
Volume Nilai
(Ton) (000 US$)
1. Bawang Merah Thailand 43.706 21.805 35,77 40,02
Vietnam 45.106 20.257 36,91 37,18
India 24.180 8.031 19,79 14,74
Philipina 5.883 2.690 4,81 4,94
Cina 1.492 672 1,22 1,23
Malaysia 768 613 0,63 1,12
Myanmar 652 252 0,53 0,46
Taiwan 162 72 0,13 0,13
Bangladesh 86 29 0,07 0,06
New Zealand 52 13 0,04 0,05
Perancis 43 33 0,04 0,02
Belanda 3 1 0,00 0,00
Lainnya 58 11 0,05 0,02
Total Impor 122.190,72 54.479,59 100,00 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin
% thd. Total Impor
Volume Nilai
No. Uraian Negara Asal
Impor 2012


5.3.3. Negara Eksportir dan Importir bawang merah Dunia

Berdasarkan data FAO terdapat 2 jenis wujud bawang merah yang
diekspor, yaitu bawang merah kering dan bawang merah segar. Pada periode
tahun 2006 2010 terdapat enam negara eksportir bawang merah kering
terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 67,26%
terhadap total volume ekspor bawang merah kering dunia, yaitu negara
Belanda, India, Meksiko, AS, Cina, dan Spanyol (Tabel 5.7).

Tabel 5.7. Negara eksportir bawang merah kering terbesar dunia,
2006 2010

2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
1 Belanda 269.164 384.584 375.646 386.037 622.369 407.560 18,20 18,20
2 India 257.349 251.197 422.832 479.650 465.312 375.268 16,76 34,96
3 Meksiko 230.042 233.880 301.007 277.044 255.065 259.408 11,59 46,55
4 AS 145.102 185.814 182.507 169.221 260.521 188.633 8,42 54,97
5 Cina 153.913 145.750 133.026 156.840 250.797 168.065 7,51 62,48
6 Spanyol 92.796 131.422 96.878 90.556 124.018 107.134 4,78 67,26

76 Indonesia 775 71 155 69 36 221 0,01 67,27


Negara lain 527.662 748.975 693.999 693.195 1.000.410 732.848 32,73 100,00
Dunia 1.676.803 2.081.693 2.206.050 2.252.612 2.978.492 2.239.137 100,00
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
No. Negara
Nilai Ekspor (000 US$)
Share (%)
Share
Kumulatif
(%)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

78 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

18,20%
16,76%
11,59%
8,42%
7,51%
4,78%
0,01%
32,73%
Belanda India Meksiko AS
Cina Spanyol Indonesia Negara Lainnya

Gambar 5.8. Negara eksportir bawang merah kering terbesar di dunia,
2006 2010

Belanda merupakan negara dengan rata-rata nilai ekspor terbesar selama
periode 2006 2010 dengan kontribusi nilai ekspor bawang merah kering
sebesar 18,20% terhadap total nilai ekspor bawang merah kering dunia. Negara
eksportir kedua dan ketiga adalah negara India dan Meksiko dengan kontribusi
terhadap total nilai ekspor dunia masing-masing sebesar 16,76% dan 11,59%.
Sedangkan tiga negara lainnya hanya menyumbangkan kurang dari 10% yaitu
negara Amerika Serikat, Cina dan Spanyol. Indonesia sebagai negara eksportir
bawang merah kering menempati urutan 76 dengan rata-rata nilai ekspor pada
periode tahun 2006 2010 sebesar US$ 221 ribu ton per tahun atau hanya
0,01% dari total nilai ekspor dunia bawang merah kering. Negara-negara
eksportir terbesar untuk komoditas bawang merah kering selengkapnya
disajikan pada Gambar 5.8.
Bila dilihat nilai impor bawang merah kering dunia tahun 2006 2010
terdapat lima negara importir bawang merah kering terbesar di dunia yang
secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 39,09% terhadap total nilai
impor bawang merah kering dunia. Amerika Serikat merupakan negara yang
berkontribusi terbesar yakni 11,29% terhadap total nilai impor bawang merah
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 79

kering dunia, sedangkan kontribusi impor bawang merah negara lainnya kurang
dari 10%. Urutan kedua dan ketiga adalah Inggris dan Rusia dengan rata-rata
nilai impornya masing-masing sebesar US$ 202,14 ribu dan US$ 158,49 ribu
serta memberikan kontribusi masing-masing sebesar 8,76% dan 6,87% (Tabel
5.6). Indonesia sebagai negara importir bawang merah kering menempati
peringkat ke-29 di dunia dengan rata-rata nilai impor tahun 2006 2010
sebesar US$ 13,445 ribu dengan kontribusi hanya 0,58 % terhadap total nilai
impor bawang kering dunia. Negara-negara importir terbesar komoditas
bawang merah selengkapnya disajikan pada Tabel 5.8 dan Gambar 5.9.

Tabel 5.8. Negara importir bawang merah kering terbesar dunia,
2006 2010
2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
1 AS 203.372 299.348 269.484 241.305 288.221 260.346 11,29 11,29
2 Inggris 157.645 240.615 210.187 170.635 231.141 202.045 8,76 20,04
3 Rusia 135.240 189.278 151.469 117.699 198.603 158.458 6,87 26,91
4 Bangladesh 32.880 30.809 190.873 262.244 207.150 144.791 6,28 33,19
5 Jerman 121.739 162.752 126.957 112.763 156.950 136.232 5,91 39,09

29 Indonesia 7.362 9.305 15.255 12.826 22.475 13.445 0,58 39,68


Lainnya 1.065.571 1.352.898 1.273.266 1.400.445 1.865.813 1.391.599 60,32 100,00
Dunia 1.723.809 2.285.005 2.237.491 2.317.917 2.970.353 2.306.915 100,0
Sumber : FAO diolah oleh Pusdatin
No. Negara
Nilai Impor (000 US$)
Share
(%)
Share
Kumulatif
(%)


11,29%
8,76%
6,87%
6,28%
5,91%
0,58%
60,32%
AS Inggris Rusia Bangladesh Jerman Indonesia Lainnya

Gambar 5.9. Negara importir bawang merah kering terbesar di dunia,
2006-2010

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

80 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Selain ekspor bawang merah kering masih terdapat beberapa negara
ekspotir bawang merah segar di dunia. New Zealand merupakan negara
pengekspor bawang merah segar terbesar di dunia dengan rata-rara ekspor
selama periode 2006-2010 mencapai US$ 68,35 juta atau 48,76% terhadap
total nilai ekspor bawang merah segar dunia (Gambar 5.10). Negara terbesar
kedua adalah Perancis dengan rata-rata ekspor sebesar US$ 29,99 juta atau
memiliki kontribusi sebesar 21,39%. Negara berikutnya adalah Belanda, Jerman
dan Indonesia dengan rata-rata ekspor pertahun masing-masing kurang dari
10% dari total ekspor bawang merah segar dunia. Negara Indonesia
menempati urutan ke-5 dengan rata-rata ekspor sebesar US$ 4,12 juta.
Negara-negara eksportir bawang merah segar dunia selengkapnya disajikan
pada Tabel 5.9.

48,76%
21,39%
9,25%
5,00%
2,93%
12,67%
New Zealand Perancis Belanda
Jerman Indonesia Negara Lainnya

Gambar 5.10. Negara eksportir bawang merah segar terbesar di dunia,
2006-2010




Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 81

Tabel 5.9. Negara eksportir bawang merah segar terbesar dunia,
2006 2010

2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
1
New Zealand 52.369 90.045 65.556 49.290 84.504 68.353 48,76
48,76
2
Perancis 29.301 34.186 33.931 24.725 27.798 29.988 21,39
70,15
3
Belanda 12.631 12.970 15.586 10.484 13.197 12.974 9,25
79,41
4
Jerman 4.502 6.514 8.891 5.097 10.011 7.003 5,00
84,40
5
Indonesia 6.366 3.492 4.534 4.331 1.814 4.107 2,93
87,33
Negara Lainnya
9.441 24.004 21.141 15.723 18.492 17.760 12,67
100,00
Dunia
114.610 171.211 149.639 109.650 155.816 140.185 100,00
Sumber : FAO diolah oleh Pusdatin
No. Negara
Nilai Ekspor (000 US$)
Share
(%)
Share
Kumulatif
(%)

Pada periode yang sama impor bawang merah segar didominasi oleh lima
negara importir dengan kontribusi kumulatif sebesar 71,34%. Brazil merupakan
negara yang berkontribusi terbesar yakni 32,95 % terhadap total nilai impor
bawang merah segar dunia, sedangkan kontribusi impor bawang merah
terbesar kedua adalah Indonesia yang berkontribusi sebesar 20,28% (Gambar
5.11). Indonesia sebagai negara importir bawang merah segar menempati
peringkat ke-2 di dunia dengan rata-rata nilai impor tahun 2006 2010 sebesar
US$ 38,16 juta. Negara-negara importir terbesar komoditas bawang merah
segar selengkapnya disajikan pada tabel 5.10.

32,95%
20,28%
7,99%
5,70%
4,42%
28,66%
Brazil Indonesia Cte d'Ivoire Jerman Belgia Lainnya

Gambar 5.11. Negara importir bawang merah segar terbesar di dunia,
2006-2010
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

82 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 5.10. Negara importir bawang merah segar terbesar dunia,
20062010

2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
1 Brazil 37.575 34.538 73.109 43.318 121.595 62.027 32,95 32,95
2 Indonesia 30.106 44.097 53.814 28.942 33.862 38.164 20,28 53,23
3 Cte d'Ivoire 11.439 10.273 10.255 19.172 24.012 15.030 7,99 61,21
4 Jerman 8.270 11.363 14.286 9.541 10.185 10.729 5,70 66,92
5 Belgia 6.860 8.793 12.375 7.136 6.442 8.321 4,42 71,34
Negara lain 45.953 59.460 66.367 46.562 51.422 53.953 28,66 100,00
Dunia 140.203 168.524 230.206 154.671 247.518 188.224 100,00
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
No. Negara
Nilai Impor (000 US$)
Share (%)
Share
Kumulatif
(%)


5.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis
posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas terkait kinerja
perdagangannya. Hasil perhitungan nilai ISP bawang merah di Indonesia dapat
dilihat pada Tabel 5.11.

Tabel 5.11. Indeks spesialisasi perdagangan (ISP) bawang merah Indonesia,
2008 2012

2008 2009 2010 2011 2012
Ekspor-Impor -49.280,57 -24.594,70 -32.047,13 -70.849,47 -45.667,56
Ekspor+Impor 58.348,24 33.289,91 35.675,98 84.038,41 63.291,63
ISP -0,84 -0,74 -0,90 -0,84 -0,72
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Uraian
Nilai (000 US$)


Dari tabel 5.11, terlihat selama periode 2008 2012 komoditas bawang
merah memiliki daya saing yang rendah di pasar dunia atau masih pada tahap
pengenalan. Hal ini dapat dilihat dengan nilai indeks spesialisasi perdagangan
(ISP) bawang merah pada periode tersebut bernilai negatif. Hal ini karena
Indonesia masih merupakan negara pengimpor bawang merah segar. Nilai ISP
tertinggi dicapai pada tahun 2012 yaitu sebesar -0,72. Berdasarkan tingkat
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 83

pertumbuhannya dalam perdagangan, komoditas bawang merah Indonesia
baru pada tahap pengenalan, dimana penawaran bawang merah di pasar
domestik lebih kecil daripada permintaan bawang merah akibat adanya
permintaan konsumsi domestik dalam skala yang relatif besar sehingga
Indonesia belum mampu meningkatkan ekspornya menjadi negara eksportir.
Hasil analisis IDR bawang merah dari tahun 2008 hingga 2012,
menunjukkan bahwa Indonesia hanya bergantung pada Impor bawang merah
sebesar 6,60% hingga 15,43%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih
merupakan negara net import dalam mencukupi kebutuhan akan komoditas
bawang merah. Sementara, kebutuhan bawang merah dalam negeri telah
terpenuhi dari produksi dalam negeri sebesar 85,89% hingga 94,65% selama
periode 2008 2012. Nilai IDR dan SSR bawang merah disajikan pada tabel
5.12.

Tabel 5.12. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
bawang merah Indonesia, 2008 - 2012

2008 2009 2010 2011 2012
Produksi (Ton) 853.615 965.164 1.048.934 893.115 960.072
Volume ekspor (Ton) 12.314 12.822 3.234 13.792 19.085
Volume impor (Ton) 128.015 67.330 73.270 160.467 122.191
Produksi - ekspor + impor 969.317 1.019.672 1.118.970 1.039.789 1.063.178
IDR (%) 13,21 6,60 6,55 15,43 11,49
SSR (%) 88,06 94,65 93,74 85,89 90,30
Sumber : Ditjen Hortikultura dan Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin
Uraian
Tahun


Indeks Keunggulan Komparatif atau RCA merupakan salah satu
metode yang digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif di suatu
wilayah. Dengan terbatasnya ketersedian data dunia yang hanya mencakup
6 digit kode HS maka dalam melakukan analisis RCA bawang merah
tercakup didalamnya juga bawang Bombay. Hasil perhitungan RSCA
terhadap komoditas bawang Indonesia disajikan pada tabel 5.13.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

84 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 5.13. Indeks keunggulan komparatif komoditas bawang (bawang merah
dan bawang Bombay) Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008 -
2011

No. Uraian
2008 2009 2010 2011
1 Bawang
Dunia 1.968.823 1.966.205 2.691.386 2.766.039
Indonesia 4.689 4.410 1.850 6.627
2 Non Migas
Dunia 13.157.364.489 10.563.721.834 12.725.891.053 14.756.917.803
Indonesia 107.894.200 97.491.700 129.739.500 162.019.600
3 Dunia 0,00014964 0,00018613 0,00021149 0,00018744
Indonesia 0,00004346 0,00004523 0,00001426 0,00004090
RCA 0,290 0,243 0,067 0,218
RSCA -0,550 -0,609 -0,874 -0,642
Sumber : UNComtrade dan BPS diolah Pusdatin
Nilai Ekspor (000 US$)

Berdasarkan hasil perhitungan nilai RSCA yang tersaji pada Tabel 5.13
menunjukkan bahwa komoditas bawang Indonesia tidak memiliki keunggulan
komperatif di perdagangan dunia. Hal ini ditunjukkan dengan nilai RSCA yang
negatif hingga -0,87% pada tahun 2010. Dengan RSCA yang bernilai negatif,
maka dapat dikatakan bahwa produksi bawang Indonesia hanya digunakan
untuk keperluan dalam negeri dan tidak berperan di perdagangan dunia
sehingga tidak mempunyai daya saing di pasar global.



















Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 85

BAB VI. KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR

Gula merupakan salah satu komoditas yang cukup stategis dan memegang
peranan penting di sektor pertanian khususnya sub sektor perkebunan dalam
perekonomian nasional karena disamping sebagai salah satu kebutuhan pokok
masyarakat juga sebagai bahan pangan sumber kalori yang relatif murah.
Sebagai salah satu bahan pangan pokok, konsumsi gula selalu mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Ketergantungan konsumen terhadap konsumsi
gula cukup besar karena kecil/lemahnya kecenderungan untuk
mensubstituikannya dengan gula buatan atau pemanis lain. Permintaan gula
secara nasional akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk, pendapatan masyarakat dan pertumbuhan industri pengolahan
makanan dan minuman.
Pada sisi produksi, gula hanya di produksi di 9 (sembilan) provinsi di
Indonesia. Pertumbuhan produksinya pun tidak secara signifikan mampu
menurunkan ketergantungan terhadap impor gula. Kenaikan harga gula yang
setiap tahunnya rata-rata sebesar 11,83% belum mampu meningkatkan gairah
budidaya tebu. Pengembangan tanaman tebu di Indonesia hingga tahun 2011
telah mencapai 451.788 hektar dengan produksi 2.267.887 ton gula, yang
tersebar di 9 provinsi dan pada tahun 2012 diperkirakan akan meningkat
menjadi 461.186 hektar dengan produksi 2.438.198 ton gula.

6.1. SENTRA PRODUKSI GULA

Produksi tebu/gula hablur nasional hanya diproduksi di 9 (sembilan)
provinsi di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa
Barat, Jawa Tengah, D.I.Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan
Gorontalo. Kesembilan provinsi ini memberikan kontribusi sebesar 100%
terhadap total produksi tebu Indonesia (Gambar 6.1)
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

86 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Jatim
45,82%
Lampung
31,46%
Jateng
10,84%
Jabar
3,90%
Sumsel
3,26%
Sumut
1,68%
Gorontalo
1,28%
Sulsel
1,05%
DIY
0,71%

Gambar 6.1. Provinsi sentra produksi tebu di Indonesia, 2008-2012

Berdasarkan data rata-rata produksi tebu di Indonesia lima tahun terakhir
(2008-2012), Jawa Timur merupakan provinsi dengan kontribusi terbesar
terhadap total produksi tebu Indonesia yakni sebesar 45,82%. Provinsi Lampung
merupakan sentra produksi di wilayah Sumatera dengan kontribusi terhadap
produksi tebu nasional sebesar 31,46% menempati posisi kedua nasional. Jawa
Tengah dan Jawa Barat masing-masing menempati urutan ketiga dan keempat
dengan kontribusi masing-masing sebesar 10,84% dan 3,90%. Kemudian diikuti
oleh Sumatera Selatan dengan kontribusi sebesar 3,26%, Sumatera Utara
sebesar 1,68%, Gorontalo sebesar 1,28% dan Sulawesi Selatan 1,05%. D.I.
Yogyakarta merupakan provinsi dengan kontribusi terkecil yang memberikan
kontribusinya bagi produksi nasional di Indonesia hanya sebesar 0,70%.
Keragaan produksi tebu di provinsi sentra di Indonesia tahun 2008-2012 secara
rinci disajikan pada Lampiran 6.1.




Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 87

6.2. KERAGAAN HARGA GULA PASIR

Menurut data Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTP Nusantara diolah
Dewan Gula Indonesia, harga gula pasir di dalam negeri pada periode 1997-
2012 menunjukkan adanya peningkatan dengan pola yang hampir serupa
(Gambar 6.2).
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
14000
1
9
9
7
1
9
9
8
1
9
9
9
2
0
0
0
2
0
0
1
2
0
0
2
2
0
0
3
2
0
0
4
2
0
0
5
2
0
0
6
2
0
0
7
2
0
0
8
2
0
0
9
2
0
1
0
2
0
1
1
2
0
1
2
(Rp/Kg)

Gambar 6.2. Perkembangan harga rata-rata gula pasir di dalam negeri,
1997-2012

Rata-rata harga gula pasir di dalam negeri pada tahun 1997 sekitar Rp.
1.525/kg dan bergerak naik hingga 2012 telah mencapai harga sebesar
Rp.11.494/kg. Rata-rata laju pertumbuhan harga gula pasir di dalam negeri
selama periode tersebut sebesar 16,10% per tahun dengan kenaikan harga
tertinggi terjadi pada tahun 1998, disebabkan terjadinya krisis ekonomi di
Indonesia yang diikuti dengan menurunnya nilai tukar rupiah. Kenaikan harga
gula pasir di dalam negeri juga terjadi pada tahun 2001, 2005, 2009, 2010 dan
2011. Perkembangan harga gula pasir dari tahun 1997-2012 berfluktuatif
dengan kecenderungan meningkat, dimana terjadi peningkatan yang cukup
tajam tahun 2009 dan 2010 dengan masing-masing meningkat 32,53% dan
28,08% seperti tersaji pada Lampiran 6.2.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

88 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir di tingkat nasional
pada periode tahun 2009-2012, berdasarkan data dari Kementerian
Perdagangan dapat dilihat pada Gambar 6.3. Pada tahun 2009 dan 2012 harga
bulanan gula pasir cenderung terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 4,05% dan 1,47%. Sedangkan tahun 2010 dan 2011 harga gula pasir
memiliki pola yang sama, terjadi penurunan sebesar 0,08% dan 0,61%.
6.000
7.000
8.000
9.000
10.000
11.000
12.000
13.000
14.000
Jan Peb Mar Apr Mei Juni Juli Ags Sep Okt Nop Des
(Rp/Kg)
2009 2010 2011 2012

Gambar 6.3. Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir,
2009 - 2012

Harga rata-rata gula pasir pada tahun 2009 sekitar Rp. 8.691,-/kg,
bergerak naik hingga tahun 2012 mencapai harga Rp. 12.007,-/kg. Laju
pertumbuhan harga rata-rata gula pasir selama periode tahun 2009-2012
sebesar 11,83% per tahun dengan kenaikan yang relatif cukup tinggi pada
tahun 2010 hingga mencapai 23,57% dibandingkan tahun 2009, kecuali pada
tahun 2011 terjadi penurunan sebesar 0,86%. Perkembangan harga gula pasir
dari tahun 2009-2012 berfluktuatif dengan kecenderungan meningkat, seperti
disajikan pada Lampiran 6.3.

Harga gula pasir sebagai produk olahan tebu di pasar internasional
dipantau di 3 tempat yakni pelabuhan Eropa (cif) yang merupakan harga impor
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 89

gula mentah belum dikemas yang berasal di Afrika, Karibia dan Pasifik (APC) di
bawah Konferensi Lome, dan di pasar Amerika (cif), serta di pasar dunia yang
merupakan harga rata-rata harian gula mentah International Sugar Agreement
(ISA) dalam kemasan yang besar di pelabuhan Karibia (fob). Dari ketiga tempat
tersebut, harga tertinggi gula pasir terjadi di pasar Amerika Serikat karena
merupakan harga cif. Selama periode tahun 2010-2012, harga rata-rata gula
pasir di pasar internasional cenderung menurun, di Eropa turun sebesar 0,28%,
di Amerika turun sebesar 1,44% dan rata-rata dunia turun sebesar 0,76%
(Gambar 6.4). Perkembangan harga internasional gula pasir periode 2010-2012
disajikan secara lengkap pada Lampiran 6.4.
30,00
40,00
50,00
60,00
70,00
80,00
90,00
100,00
J
a
n
P
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
p
D
e
s
J
a
n
P
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
p
D
e
s
J
a
n
P
e
b
M
a
r
A
p
r
M
e
i
J
u
n
J
u
l
A
g
s
S
e
p
O
k
t
N
o
p
D
e
s
2010 2011 2012
US$ cents/kg
Sugar EU Sugar US Sugar, world

Gambar 6.4. Perkembangan harga internasional gula pasir, 2010-2012

6.3. K ERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR

6.3.1. Keragaan Ekspor Impor Gula Pasir Indonesia

Kinerja perdagangan gula pada skala internasional didekati dari necara
perdagangan gula yang merupakan selisih antara ekspor dan impornya. Ekspor
dan impor gula dilakukan dalam bentuk molases, row sugar dan turunan produk
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

90 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

gula lainnya yang merupakan wujud manufaktur. Perkembangan neraca
perdagangan gula selama lima tahun terakhir yaitu tahun 2008-2012
menunjukkan posisi defisit, artinya volume dan nilai impor gula lebih besar
dibandingkan dengan volume dan nilai ekspornya. Defisit gula terbesar dari sisi
volume terjadi pada tahun 2011 yang mencapai 2.173 ribu ton dengan nilai
sebesar US$ 1.791 juta. Keragaan ekspor, impor dan neraca perdagangan gula
disajikan pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1. Perkembangan ekspor, impor dan necara perdagangan gula
Indonesia, 2008-2012

2008 2009 2010 2011 2012
1
- Volume (ton) 957.324 599.690 485.031 544.297 388.875
-18,20
- Nilai (000US$) 80.040 80.902 81.901 78.447 46.190
-10,76
2
- Volume (ton) 1.152.343 1.660.200 2.021.576 2.717.019 494.131
4,61
- Nilai (000US$) 437.682 689.257 1.227.049 1.869.327 255.165
25,37
3
- Volume (ton) -195.020 -1.060.510 -1.536.544 -2.172.721 -105.256
108,73
- Nilai (000US$) -357.642 -608.355 -1.145.148 -1.790.880 -208.975
31,60
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : - Data 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007
- Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur
Neraca Perdangangan
No. Uraian
Tahun
Ekspor
Impor
Pertumb. (%)
2008 - 2012

Berdasarkan keragaan Tabel 6.1. terlihat bahwa defisit neraca
perdagangan gula cenderung semakin naik dari tahun ke tahun terutama pada
tahun 2010 dan 2011. Hal ini diduga produksi tahun 2010 dan 2011 lebih
rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Defisit neraca perdagangan dari
sisi volume naik sebesar 108,73%, dimana pertumbuhan volume ekspornya
turun sebesar 18,20% per tahun sedangkan volume impornya naik sebesar
4,61% per tahun. Peningkatan volume impor pada tahun 2011 yang
mengakibatkan rata-rata peningkatan defisit volume perdagangan menjadi
tinggi. Sementara itu, defisit neraca perdagangan dari sisi nilai juga semakin
meningkat dengan rata-rata kenaikan sebesar 31,60% per tahun, dimana terjadi
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 91

penurunan nilai ekpor sebesar 10,76% per tahun dan terjadi kenaikan nilai
impor sebesar 25,37% per tahun, seperti terlihat pada Gambar 6.5.

-2.000.000
-1.500.000
-1.000.000
-500.000
0
500.000
1.000.000
1.500.000
2.000.000
2008 2009 2010 2011 2012
(000US$)
Ekspor Impor Neraca Perdagangan


Gambar 6.5. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan gula
Indonesia, 2008-2012


Defisit neraca perdagangan gula terbesar pada periode tahun 2008-2012
terjadi pada tahun 2011 yaitu sebesar 2,17 juta ton atau setara dengan US$
1,79 milyar. Hal ini disebabkan meningkatnya volume impor tahun 2011 yang
mencapai 2,72 juta ton dengan nilai impor US$ 1,87 milyar.
Kode HS dan deskripsi untuk gula yang dominan diekspor terdiri dari 3
kode HS, sedangkan yang diimpor terdiri dari 5 kode HS, seperti terlihat pada
Tabel 6.2. Bila dilihat dari wujud perdagangannya, ekspor gula selama tahun
2008-2012 sebagian besar dilakukan dalam bentuk molases atau kode HS
1703109000. Share dari ekspor gula dalam bentuk molase atau kode HS
1703109000 pada tahun 2008 sebesar 85,61%, sedangkan dalam bentuk
turunan produk gula lainnya/kode HS lainnya hanya sebesar 14,39%. Pada
Tahun 2012 molase/kode HS 1703109000 masih mendominasi pangsa ekspor
gula Indonesia hingga mencapai 80,21%, sedangkan dalam bentuk turunan
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

92 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

produk gula lainnya/kode HS lainnya sebesar 19,79%. Sementara gula yang
banyak diimpor adalah dalam wujud row sugar/gula mentah, kode HS
1701110010 untuk tahun 2008-2011, pada tahun 2012 berubah menjadi kode
HS 1701130000. Data perkembangan ekspor impor gula menurut kode HS
secara rinci disajikan pada Tabel 6.2 dan Tabel 6.3

Tabel 6.2. Kode HS dan deskripsi gula

Kode HS
17.01
Gula tebu atau gula bit dan sukrosa murni kimiawi, dalam
bentuk padat.
Cane or beet sugar and chemically pure sucrose, in solid form.
- Gula kasar tidak mengandung tambahan bahan perasa atau
pewarna:
-Raw sugar not containing added flavouring or colouring matter:
1701.13.00.00 - - Gula tebu yang dirinci pada Catatan subpos 2 pada Bab ini - - Cane sugar specified in Subheading Note 2 to this Chapter
1701.14.00.00 - - Gula tebu lainnya - - Other cane sugar
- Lain-lain: -Other:
1701.91.00.00 - - Mengandung tambahan bahan perasa atau pewarna - - Containing added flavouring or colouring matter
1701.99 - - Lain-lain: - - Other:
- - - Gula murni: - - - Refined sugar:
1701.99.11.00 - - - - Putih - - - - White
1701.99.19.00 - - - - Lain-lain - - - - Other
1701.99.90.00 - - - Lain-lain - - - Other
17.03 Tetes hasil dari ekstraksi atau pemurnian gula. Molasses resulting from the extraction or refining of sugar.
1703.10 - Tetes tebu: -Cane molasses:
1703.10.10.00 - - Mengandung bahan pemberi rasa atau pewarna tambahan - - Containing added flavouring or colouring matter
1703.10.90.00 - - Lain-lain - - Other
1703.90 - Lain-lain: -Other:
1703.90.10.00 - - Mengandung bahan pemberi rasa atau pewarna tambahan - - Containing added flavouring or colouring matter
1703.90.90.00 - - Lain-lain - - Other
Deskripsi

















Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 93

Tabel 6.3. Perkembangan ekspor dan impor gula berdasarkan kode HS

2008 2009 2010 2011 2012
1
47.147 29.714 6.002 - 75.786
819.568 543.362 458.767 522.487 311.932
79.059 9.123 4.123 122 382
11.551 17.492 16.139 15.637 775
2
3.461 3.234 933 - 9.018
62.425 65.066 66.306 59.704 34.432
6.511 1.098 1.103 806 1.366
7.642 11.504 13.560 17.045 1.374
3
- - - - 275.365
380.200 1.190.971 1.169.235 2.231.932 -
593.523 96.713 188.544 66.217 90.851
- - 378.644 115.379 4.830
56.016 43.552 88.104 56.957 34
122.604 328.964 197.050 246.533 20.664
4
- - - -
154.890
123.885 485.802 660.206 1.541.190 -
224.943 51.868 130.873 55.633 63.226
- - 289.506 88.323 2.530
10.315 11.137 16.988 11.113 20.526
78.539 140.450 129.475 173.068 13.993
Sumber : BPS
Keterangan : Kode HS 1701110010 pada tahun 2008 s/d 2011 berubah menjadi 170113000 Kode HS 1701110010 pada tahun 2008 s/d 2011 berubah menjadi 170113000
pada tahun 2012
No.
Tahun
Uraian
Volume Ekspor (Ton)
1703101000
1703109000
1703909000
Kode HS Lainnya
Nilai Ekspor (000 US$)
1703101000
1703109000
1703909000
Kode HS Lainnya
Volume Impor (Ton)
1701130000
1701110010
1701991100
1701999000
1703909000
1701999000
1703909000
Kode HS Lainnya
Kode HS Lainnya
Nilai Impor (000 US$)
1701130000
1701110010
1701991100



6.3.2. Negara Tujuan Ekspor dan Negara Asal Impor Gula Indonesia

Ekspor gula maupun turunan produk gula lainnya pada tahun 2012
tercatat sebesar volume 388,88 ton atau senilai US$ 46,19 juta, ekspor gula
paling banyak dalam bentuk molases dengan kode HS 1703109000. Sebagian
besar ekspor gula tersebut ditujukan ke Korea Selatan dengan volume sebesar
227.251 ribu ton senilai US$ 24,30 juta atau 51,96% dari total nilai ekspor gula
Indonesia (Gambar 6.6). Negara tujuan ekspor berikutnya adalah Taiwan
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

94 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

sebesar 43,287 ton senilai US$ 4,95 juta dan Vietnam dengan Volume sebesar
44.922 ton senilai US$ 4,41 juta. Negara lainnya tercatat besarnya ekspor
kurang dari 6% dari total nilai ekspor. Realisasi ekspor gula menurut negara
tujuan pada tahun 2012 secara rinci disajikan pada Lampiran 6.5.

Korea Selatan
52,60%
Taiwan
10,71%
Vietnam
9,56%
Spanyol
5,17%
Philipina
2,76%
Jepang
2,33%
Cina
1,75%
Lainnya
15,13%

Gambar 6.6. Negara tujuan ekspor gula tebu Indonesia, 2012

Pada tahun 2012 impor gula dan turunan produk gula lainnya sebesar
494.131 ton atau senilai US$ 255,16 juta. Impor gula tersebut sebagian berasal
dari Thailand yakni sebanyak 233.420 senilai US$ 147,16 juta atau sebanyak
57,67% dari total impor Indonesia. Brazil menduduki peringkat kedua terbesar
yang melakukan ekspor gula dan turunan produk gula lainnya ke Indonesia
dengan presentase kontribusi sebesar 20,96%. Kontribusi negara lainnya
terhadap nilai impor gula Indonesia dapat dilihat pada Gambar 6.7. dan
Lampiran 6.7.





Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 95

Thailand
57,67%
Brazil
20,96%
Australia
6,49%
Ukraina
3,56%
Mesir
3,23%
Korsel
2,59%
Rusia
0,84%
Lainnya
4,65%


Gambar 6.7. Negara asal Impor Gula Indonesia, 2012


6.3.3. Negara Eksportir dan Importir Gula Dunia

Berdasarkan data dari FAO, pada tahun 2006-2010 terdapat 6 (enam)
negara eksportir gula terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan
kontribusi sebesar 83,75% terhadap total nilai ekspor gula dunia. Dari enam
negara tersebut hanya tiga negara saja yang mempunyai kontribusi lebih dari
10% terhadap total nilai ekspor dunia yaitu Kolombia merupakan negara
eksportir gula terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 27,56% terhadap
total nilai gula dunia yang diikuti oleh negara Malaysia dengan kontribusi
19,96% dan Mesir sebesar 14,25% (Gambar 6.8.). Kontribusi nilai ekspor gula
lainnya diberikan oleh Spanyol, Amerika dan Perancis dengan kontribusi masing-
masing sebesar 7,70%, 7,42% dan 6,86%. Posisi Indonesia pada kelompok
negara eksportir gula hanya menempati urutan ke-15 dengan kontribusi rata-
rata nilai ekspor 0,16% terhadap total nilai ekspor gula dunia. Negara-negara
eksportir terbesar gula secara lengkap disajikan pada Lampiran 6.7.


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

96 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Kolombia
27,56%
Malaysia
19,96%
Mesir
14,25%
Spanyol
7,70%
Amerika
7,42%
Perancis
6,86%
Lainnya
16,25%

Gambar 6.8. Negara eksportir gula terbesar di dunia, 2006-2010


Rata-rata nilai impor gula dunia tahun 2006-2010 terdapat di 5 (lima)
negara importir gula terbesar di dunia dengan kontribusi kumulatif mencapai
81,01% terhadap total nilai impor gula dunia (Gambar 6.9.)
Singapura
27,33%
Swiss
24,15%
kanada
13,17%
Iralndia
8,89%
Venezuela
7,48%
Lainnya
18,99%

Gambar 6.9. Negara Importir Gula terbesar di dunia, 2006-2010
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 97

Singapura walaupun sebuah negara kecil, tetapi merupakan negara
importir gula terbesar di dunia dengan rata-rata kontribusi terhadap impor dunia
sebesar 27,33%, diikuti Swiss di peringkat kedua dengan kontribusi sebesar
24,15% kemudian diikuti oleh Kanada memberikan kontribusi sebesar 13,17%,
Irlandia sebesar 8,89% dan Venezuela sebesar 7,48%. Kontribusi negara-negara
importir lainnya masih dibawah 5% dari impor gula dunia. Negara importir gula
dunia tahun 2006-2010 secara rinci disajikan pada Lampiran 6.8.

6.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR

Berdasarkan data nilai ekspor dan impor gula tebu Indonesia diperoleh
indeks spesialisasi perdagangan (ISP) sebagaimana disajikan pada Tabel 6.4.

Tabel 6.4. Nilai indeks spesialisasi perdagangan gula tebu, 2008-2012
2008 2009 2010 2011 2012
1 Ekspor-Impor -357.642 -608.355 -1.145.148 -1.790.880 -208.975
2 Ekspor+Impor 517.723 770.160 1.308.950 1.947.773 301.356
ISP -0,69 -0,79 -0,87 -0,92 -0,69
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
No. Uraian
TAHUN

Selama periode tahun 2008-2012 komoditas gula tebu Indonesia ternyata
tidak memiliki daya saing kuat di pasar dunia, atau dengan kata lain Indonesia
masuk sebagai negara pengimpor gula tebu. Hal ini diindikasikan dengan nilai
indeks spesialisasi perdagangan (ISP) gula tebu yang bernilai negatif.
Berdasarkan tingkat pertumbuhannya dalam perdagangan, komoditas gula tebu
Indonesia telah mencapai tahap pengimpor, dimana penawaran gula tebu di
pasar domestik lebih kecil dibandingkan permintaan gula tebu dari produksi
domestik yang masih dalam skala kecil sehingga Indonesia memerlukan impor
gula tebu. Nilai ISP terendah terjadi pada tahun 2011 sebesar 0,92%, hal
tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang lemah
untuk komoditas gula tebu.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

98 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 6.5. Nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio
(SSR) tebu/gula Indonesia, 2008-2012

2008 2009 2010 2011 2012
1 Produksi (Ton) 2.668.428 2.517.374 2.290.116 2.267.887 2.438.198
2 Ekspor (Ton) 957.324 599.690 485.031 544.297 388.875
3 Impor (Ton) 1.152.343 1.660.200 2.021.576 2.717.019 494.131
4 Produksi + Impor-Ekspor 2.863.448 3.577.884 3.826.660 4.440.608 2.543.454
IDR (%) 40,24 46,40 52,83 61,19 19,43
SSR (%) 93,19 70,36 59,85 51,07 95,86
Sumber : Ditjen Perkebunan dan BPS dioah Pusdatin
No Uraian
Tahun


Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
digunakan untuk menganalisis suatu komoditas tergantung pada impor atau
telah dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Berdasarkan keragaan
produksi dalam negeri dan perdagangan gula tebu di tingkat internasional, pada
tahun 2008-2012 sebesar 44% kebutuhan gula dapat dipenuhi dari produksi
domestik, sedangkan sisanya diperoleh dari impor. Ketergantungan Indonesia
terhadap impor gula pada tahun 2008-2012 ditunjukkan dari nilai Import
Dependency Ratio (IDR) gula yang berkisar antara 19,43% hingga 61,19%. Nilai
IDR Pada tahun 2008 sebesar 40,24% menunjukkan bahwa 40,24% kebutuhan
gula dalam negeri dipenuhi oleh impor (Tabel 6.5.). Pada tahun-tahun
berikutnya nilai IDR cenderung meningkat hingga mencapai 61,19%, kecuali
pada tahun 2012 nilai IDR menurun menjadi 19,43%, artinya ketergantungan
pada impor tetap terjadi namum menurun dan produksi gula dalam negeri
belum mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Pada tahun 2008 dan 2012, Nilai Self Sufficiency Ratio (SSR) komoditas
gula tebu Indonesia mencapai 93,19% dan 95,86% yang mengindikasikan
produksi nasional sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional sebesar 93,19%
dan 95,86%. Sementara pada tahun 2011 nilai SSR Indonesia sebesar 51,07%
menyatakan bahwa produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan
akan permintaan pasar domestik sekitar 51,07%.
Dari sisi nilai ekspor, kinerja ekspor gula Indonesia pada Tahun 2008-2011
masih sangat rendah. Hal ini dinyatakan dengan nilai RSCA (Revealead
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 99

Symmetric Comparative Advantage) yang masih negatif pada kisaran nilai -0,25
sampai dengan -0,65 untuk periode tahun 2008-2011, artinya komoditas gula
Indonesia tidak memiliki daya saing di pasar dunia, dapat dilihat pada Tabel 6.6.
dibawah ini.

Tabel 6.6. RCA dan RSCA gula Indonesia dalam perdagangan dunia,
2008-2011

2008 2009 2010 2011
Gula Dunia 16.437.332.586 18.159.912.888 25.068.527.156 33.610.602.300
Indonesia 80.040.384 80.902.444 81.901.265 78.446.700
Non Migas Dunia 13.157.364.489 10.563.721.834 12.725.891.053 14.756.917.803
Indonesia 107.894.200 97.491.700 129.739.500 162.019.600
Dunia 1,249 1,719 1,970 2,278
Indonesia 0,742 0,830 0,631 0,484
RCA 0,594 0,483 0,320 0,213
RSCA -0,25 -0,35 -0,51 -0,65
Sumber : BPS dan UnComtrade, diolah Pusdatin Kementan
Uraian Lokasi
Nilai Ekspor (US$)













Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

100 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lampiran 6.1. Provinsi sentra produksi tebu di Indonesia, 2008-2012
Share
2008 2009 2010 2011 2012 *) (%)
1 Jawa Timur 1.302.724 1.101.538 1.017.003 1.051.872 1.108.112 1.116.250 45,82 45,82
2 Lampung 810.681 903.320 759.684 678.090 681.171 766.589 31,46
77,28
3 Jawa Tengah 266.891 221.938 233.430 249.452 348.272 263.997 10,84
88,12
4 Jawa Barat 111.781 88.560 110.543 81.923 82.338 95.029 3,90
92,02
5 Sumatera Selatan 58.861 88.391 66.451 91.124 92.844 79.534 3,26
95,28
6 Sumatera Utara 40.585 37.874 31.025 47.122 47.871 40.895 1,68
96,96
7 Gorontalo 25.736 35.358 27.412 32.521 35.324 31.270 1,28
98,24
8 Sulawesi Selatan 35.521 22.857 27.241 19.210 23.364 25.639 1,05
99,29
9 DI Yogyakarta 15.648 17.538 17.327 16.573 18.902 17.198 0,71
100,00
Jumlah 2.668.428 2.517.374 2.290.116 2.267.887 2.438.198 2.436.400 100,00
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka Sementara
Wujud produksi : Gula Hablur/Sugar Cane
No. Provinsi
Produksi (Ton)
Rata-rata
Share
Kumulatif
(%)


Lampiran 6.2. Perkembangan harga gula pasir di pasar dalam negeri,
1997-2012
Harga
(Rp/Kg)
1997 1.525
1998 2.737 79,48
1999 2.640 -3,54
2000 2.989 13,22
2001 3.598 20,37
2002 3.529 -1,92
2003 4.307 22,05
2004 4.187 -2,79
2005 5.531 32,10
2006 5.980 8,12
2007 6.341 6,04
2008 6.191 -2,37
2009 8.205 32,53
2010 10.509 28,08
2011 9.981 -5,02
2012 11.494 15,16
16,10
Sumber : KPB PTP Nusantara diolah Sek Dewan Gula Indonesia
Tahun Pertumbuhan (%)
Rata-rata



Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 101

Lampiran 6.3. Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir, 2009-2012
Rata-rata
Jan Peb Maret April Mei Juni Juli Ags Sep Okt Nop Des (Rp/Kg)
2009 6.649 7.523 7.902 8.078 8.406 8.553 8.468 9.028 9.989 9.840 9.674 10.186 8.691 4,05
2010 11.302 11.199 10.961 10.443 10.234 9.958 10.390 10.692 10.571 10.944 11.026 11.158 10.740 -0,08 23,57
2011 11.178 11.093 10.986 10.832 10.432 10.383 10.499 10.511 10.500 10.452 10.457 10.437 10.647 -0,61 -0,86
2012 10.614 10.823 11.060 11.473 11.673 12.476 13.032 12.829 12.743 12.491 12.462 12.411 12.007 1,47 12,78
11,83
Bulan
Sumber : Kemendag. Diolah oleh Pusdatin kementan
Tahun
Rata-rata
Rata-rata
pertumb. dlm
1 thn (%)
Rata-rata
pertumb.
Antar 1 thn


Lampiran 6.4. Perkembangan harga internasional gula, 2010-2012
(US$ cents/kg)
Rata-rata
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des Pertumb. (%)
Sugar EU 47,81 45,85 45,47 44,98 42,10 40,91 42,77 43,21 43,90 45,41 44,55 43,19 -0,87
Sugar US 86,77 88,74 77,41 68,38 68,11 72,37 73,28 77,17 84,15 84,29 85,62 84,69 0,00
Sugar, world 58,36 55,98 41,14 36,27 33,51 35,01 38,49 40,81 49,63 54,26 58,09 61,69 1,33
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
Sugar EU 43,67 44,61 45,78 47,26 46,79 47,03 46,67 46,82 44,91 44,82 44,26 42,93 -0,13
Sugar US 84,79 87,39 87,51 84,28 78,18 78,39 83,62 88,03 88,53 82,84 83,61 79,83 -0,45
Sugar, world 65,28 64,97 57,85 53,70 48,39 55,58 62,21 61,18 58,78 56,11 52,95 50,79 -1,96
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
Sugar EU 42,16 43,23 43,15 42,99 41,83 40,98 40,14 40,51 42,04 42,35 41,93 42,87 0,17
Sugar US 76,48 74,14 76,35 70,26 66,58 63,06 63,23 63,36 57,90 52,54 49,65 49,20 -3,85
Sugar, world 51,94 53,18 53,13 50,16 45,88 45,13 50,44 46,03 44,07 44,78 42,64 42,57 -1,64
Sumber : World Bank
2010
2011
2012
Komoditas


Lampiran 6.5. Ekspor gula tebu Indonesia menurut negara tujuan, 2012
Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
Volume Nilai
1 Korea Selatan 227.251 24.296 58,44 52,60
2 Vietnam 44.922 4.414 11,55 9,56
3 Taiwan 43.287 4.947 11,13 10,71
4 Cina 24.437 809 6,28 1,75
5 Spanyol 20.004 2.388 5,14 5,17
6 Philipina 11.555 1.273 2,97 2,76
7 Jepang 8.264 1.074 2,13 2,33
8 Lainnya 9.154 6.987 2,35 15,13
Jumlah 388.875 46.190 100,00 100,00
No. Negara Tujuan
TOTAL Share (%)
Sumber : BPS, diolah Pusdatin


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

102 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Lampiran 6.6. Impor gula tebu Indonesia menurut negara asal, 2012
Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
Volume Nilai
1
Thailand 233.420 147.165
47,24 57,67
2
Brazil 113.935 53.492
23,06 20,96
3
Ukraina 48.927 9.074
9,90 3,56
4
Mesir 39.140 8.247
7,92 3,23
5
Australia 20.304 16.558
4,11 6,49
6
Rusia 11.350 2.156
2,30 0,84
7
Korea Selatan 8.360 6.616
1,69 2,59
8 Lainnya 18.695 11.858 3,78 4,65
Jumlah 494.131 255.165 100,00 100,00
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
No. Negara Asal
TOTAL Share (%)


Lampiran 6.7. Negara Eksportir gula terbesar di dunia, 2006-2010
2006 2007 2008 2009 2010
1 Kolombia 2.196 2.043 3.024 1.112 0 1.675 27,56 27,56
2 Malaysia 1.488 1.709 2.867 0 0 1.213 19,96 47,52
3 Mesir 93 309 605 1.661 1.661 866 14,25 61,76
4 Spanyol 1 7 0 5 2.326 468 7,70 69,46
5 Amerika 255 190 1.057 428 326 451 7,42 76,88
6 Perancis 312 415 350 573 436 417 6,86 83,75
7 Meksiko 0 0 502 407 0 182 2,99 86,74
8 Singapura 113 299 104 144 168 166 2,72 89,47
9 Kosta Rica 105 64 512 88 24 159 2,61 92,08
10 Nigeria 191 185 130 82 25 123 2,02 94,09
11 Guatemala 216 104 87 4 147 112 1,84 95,93
12 Swiss 0 2 3 263 203 94 1,55 97,48
13 Belanda 25 79 94 74 114 77 1,27 98,75
14 Belgia 12 7 13 7 12 10 0,17 98,92
15 Indonesia 3 22 2 10 13 10 0,16 99,08
Lainnya 70 56 15 69 69 56 0,92 100,00
Dunia 5.080 5.491 9.365 4.927 5.524 6.077 100,00
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
No. Negara
Nilai Ekspor (000 US$)
Rata-rata
Share
(%)
Share
kumulatif
(%)








Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 103

Lampiran 6.8. Negara Importir gula terbesar di dunia, 2006-2010
2006 2007 2008 2009 2010
1 Singapura 2.856 3.841 3.985 4.606 4.952 4.048 27,33 27,33
2 Swiss 0 5.457 3.948 4.267 4.215 3.577 24,15 51,48
3 kanada 486 7.325 642 655 644 1.950 13,17 64,64
4 Iralndia 8 3 3 20 6.550 1.317 8,89 73,53
5 Venezuela 2.088 0 2.508 941 0 1.107 7,48 81,01
6 Amerika 532 662 798 667 730 678 4,58 85,58
7 Syiria 2.140 0 0 0 0 428 2,89 88,47
8 Belanda 82 481 633 606 154 391 2,64 91,11
9 Hong Kong 277 257 298 402 238 294 1,99 93,10
10 Inggris 227 241 185 139 88 176 1,19 94,29
Lainnya 655 848 1.035 646 1.047 846 5,71 100,00
Dunia 9.351 19.115 14.035 12.949 18.618 14.814 100,00
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
Share
kumulatif
(%)
No. Negara
Nilai Impor (000 US$)
Rata-rata
Share
(%)






















Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

104 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian



































Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 105

VII. KINERJA PERDAGANGAN KARET


Perkembangan pasar karet di Asia cukup positif. Indonesia menjadikan
China dan India sebagai sasaran pasar utama ekspor karet. China
mengkonsumsi bahan karet alam pertahun sebanyak 1,49 juta ton dan
cenderung meningkat dengan signifikan dari waktu ke waktu. Dengan
keterbatasan pada kapasitas produksi karet alamnya, China berupaya terus
menerus untuk melakukan impor karet alam demi menyelamatkan industri
manufaktur produk karet dengan target memenuhi kebutuhan domestik dan
ekspor. Data statistik perdagangan 2010 mencatat bahwa China merupakan
importir karet terbesar dari Indonesia pada tahun 2009 dengan volume 457,118
ton, sedangkan pada tahun 2008 merupakan importir ketiga setelah USA dan
Jepang dengan total impor 318,841 ton. Peningkatan konsumsi karet alam yang
terjadi di China dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dinegara tersebut.
Peningkatan mendorong pembangunan infrastruktur dan industri otomotif di
negara China. Sebagai negara industri besar turut memberikan andil bagi
perekonomian dunia (Suryaningrum, T, 2013).

Sebagai negara industri China membutuhkan pasokan komoditi bahan
baku baik dari impor maupun memproduksi dari dalam negeri. Bahan baku
industri karet memegang peranan penting dan bahan baku ini menjadi favorit di
China untuk mendukung sektor industrinya. Oleh karenanya China merupakan
salah satu negara konsumen karet alam besar dunia. Sementara Indonesia
merupakan negara yang mendominasi ekspor karet dunia, sehingga perannya
dalam perdagangan karet global diperhitungkan. Negara eksportir besar lainnya
adalah negara tetangga yaitu Malaysia dan Thailand. Peluang pasar seperti
China perlu diperhitungkan dan dilihat kinerja perdagangan komoditas
karetnya.


Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

106 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

7.1. SENTRA PRODUKSI KARET

Apabila dilihat dari data rata-rata produksi karet per provinsi periode
tahun 2008 2012, terdapat 6 (enam) provinsi sentra produksi karet kering
dengan total kontribusi sebesar 76,76% terhadap produksi karet kering
Indonesia, seperti yang disajikan pada Gambar 7.1. Provinsi-provinsi di Pulau
Sumatera mendominasi sentra produksi karet kering Indonesia yakni Sumatera
Selatan, Sumatera Utara, Riau, dan Jambi merupakan provinsi sentra produksi
terbesar yang berkontribusi masing-masing sebesar 19,68%, 16,04%, 13,33%,
dan 11,07% terhadap produksi karet kering Indonesia. Sementara provinsi
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masing-masing berkontribusi sebesar
9,53% dan 7,11%.
19,68%
16,04%
13,33%
11,07%
9,53% 7,11%
23,24%
Sumsel Sumut Riau Jambi
Kalbar Kalteng Lainnya

Gambar 7.1. Provinsi sentra produksi karet kering di Indonesia,
2008 2012

Perkembangan produksi selama lima tahun terakhir yaitu tahun 2008-
2012 dari provinsi sentra produksi karet kering di Indonesia serta hasil
perhitungan kontribusi, secara rinci disajikan pada Tabel 7.1.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 107

Tabel 7.1. Sentra Produksi Karet Indonesia, 2008 2012*)

2008 2009 2010 2011 2012
*)
Rata-rata
1 Sumatera Selatan 543.698 484.000 543.303 567.312 608.243 549.311 19,68 19,68
2 Sumatera Utara 443.519 382.073 430.113 481.388 501.484 447.715 16,04 35,72
3 Riau 365.542 325.109 365.119 396.181 409.044 372.199 13,33 49,05
4 Jambi 305.828 273.173 306.313 319.948 339.566 308.965 11,07 60,12
5 Kalimantan Barat 266.144 237.848 266.769 286.751 272.256 265.954 9,53 69,65
6 Kalimantan Tengah 198.064 177.374 198.528 216.269 202.682 198.583 7,11 76,76
7 Lainnya 628.491 560.770 624.709 722.336 707.102 648.682 23,24 100,00
Indonesia 2.751.286 2.440.347 2.734.854 2.990.184 3.040.376 2.791.409 100,00
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sementara
No Provinsi
Produksi (Ton)
Share
(%)
Share
kumulatif
(%)


7.2. KERAGAAN HARGA KARET

Harga merupakan salah satu komponen penting dalam perdagangan.
Perkembangan harga karet di Indonesia dari ketersediaan data seriesnya
adalah harga di tingkat produsen dalam wujud karet getah tebal. Secara umum
perkembangan harga produsen karet dari tahun 2002 2011 menunjukkan
pola pertumbuhan yang meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar
19,49% per tahun, meskipun pada tahun 2009 terjadi penurunan harga yang
cukup signifikan sebesar 25,07% dibandingkan tahun sebelumnya (Gambar
7.2).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

108 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

0
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Rp/kg

Gambar 7.2. Perkembangan Harga Karet Getah Tebal di Indonesia,
2002 2011

0
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
10.000
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Rp/kg
Sumsel Sumut Riau Jambi Kalbar Kalteng

Gambar 7.3. Perkembangan harga produsen karet getah tebal di beberapa
provinsi sentra produksi, 2002 2011

Ditinjau dari harga produsen getah karet tebal di masing-masing provinsi
sentra produksi selama tahun 2002 - 2011, tampak bahwa perkembangan
harga berfluktuasi namun menunjukkan kecenderungan meningkat. Tahun
2009 di semua provinsi sentra mengalami penurunan harga, dan meningkat
kembali tahun-tahun berikutnya kecuali di Sumatera Selatan (Gambar 7.3).
Selama periode tersebut, peningkatan harga produsen karet terbesar terjadi di
Jambi sebesar 23,15% per tahun, disusul kemudian di Kalbar sebesar 21,81%
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 109

per tahun dan di Riau sebesar 20,23% per tahun. Pertumbuhan harga karet
getah tebal terendah terjadi di provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 13,49%
per tahun (Tabel 7.2).
Pada tahun 2011, harga nominal karet getah tebal di tingkat produsen
tertinggi terjadi di Provinsi Jambi yang mencapai Rp. 9.313,-/kg, disusul
kemudian di Provinsi Riau mencapai Rp. 9.218,-/kg, sementara di Provinsi
Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah berkisar Rp. 6.184,-
/kg hingga Rp. 6.903,-/kg dan harga terendah terjadi di Provinsi Sumatera
Selatan hanya sebesar Rp. 3.766,-/kg. Perkembangan harga produsen karet di
Indonesia tersebut secara rinci disajikan pada Tabel 7.2.

Tabel 7.2. Perkembangan Harga Produsen Karet getah Tebal di Indonesia,
2002 2011
Sumsel Sumut Riau Jambi Kalbar Kalteng Indonesia
% Pertumb.
Indonesia
1 2002 1.684 1.973 2.148 1.935 1.501 1.924 1.930
2 2003 2.262 2.349 2.768 2.326 1.983 2.174 2.275
17,89
3 2004 2.928 2.689 3.575 3.558 2.304 2.325 3.036
33,42
4 2005 3.621 3.798 5.178 4.376 2.835 3.400 3.925
29,29
5 2006 5.025 5.181 6.842 8.125 3.422 5.008 5.187
32,15
6 2007 7.228 5.810 7.228 7.302 4.338 5.308 6.588
27,01
7 2008 8.222 7.276 8.834 9.182 7.742 6.717 7.773
17,99
8 2009 6.032 5.360 6.073 6.629 5.162 5.008 5.824
-25,07
9 2010 3.606 5.896 8.962 8.841 6.562 5.636 8.071
38,58
10 2011 3.766 6.478 9.218 9.313 6.903 6.184 8.407
4,16
13,49 15,79 20,23 23,15 21,81 15,87 19,49
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Rata-rata pertumbuhan (%)
Harga Produsen Karet Getah Tebal (Rp/Kg)
2002-2011
No Tahun

Sementara harga karet internasional berdasarkan data World Bank
dibedakan karet-US (RSS-1), karet SGP/MYS (RSS-3) dan karet TSR20. Wujud
karet tersebut adalah karet kering. Perkembangan harga internasional
menunjukkan perkembangan kecenderungan meningkat, dan selama tahun
2002-2012 terjadi peningkatan tertinggi pada tahun 2011 dan penurunan harga
cukup signifikan pada tahun 2009 dan 2012 (Gambar 7.4.).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

110 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

0
100
200
300
400
500
600
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Cent/Kg

Gambar 7.4. Perkembangan harga internasional karet berdasarkan jenis harga,
2002 2012

Tabel 7.3. Perkembangan Harga Internasional Karet, 2002 2012

Rubber,
US
Pertumb.
(%)
Rubber,
SGP/MYS
Pertumb.
(%)
Rubber,
TSR20
Pertumb.
(%)
1 2002 90,67 76,49 75,15
2 2003 122,49
35,09
108,27
41,55
100,41
33,60
3 2004 148,33
21,09
128,04
18,26
120,66
20,17
4 2005 166,10
11,99
148,80
16,22
138,64
14,90
5 2006 231,28
39,24
207,88
39,70
194,61
40,37
6 2007 248,03
7,24
226,31
8,87
215,57
10,77
7 2008 284,08
14,53
258,63
14,28
253,00
17,37
8 2009 214,64
-24,45
192,07
-25,73
180,02
-28,85
9 2010 386,62
80,12
365,39
90,24
338,08
87,80
10 2011 516,97
33,72
482,32
32,00
451,90
33,67
11 2012 313,11
-39,43
337,73
-29,98
315,58
-30,17
17,91 20,54 19,96
Sumber: World Bank, diolah Pusdatin
Harga Karet Jenis (Cent/Kg)
2002-2011
No Tahun
Rata-rata pertumbuhan (%)

Selama tahun 2002-2012, pertumbuhan harga karet internasional
berdasar jenisnya bervariasi, tertinggi adalah karet SGP/MYS sebesar 20,54%
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 111

diikuti karet TSR20 19,96% dan karet US 17,91%. Dari sisi harga nominalnya
menunjukkan harga karet US relatif lebih tinggi dari harga karet jenis lainnya
(Tabel 7.3.). Rata-rata pertumbuhan karet internasional hampir sama dengan
harga karet di Indonesia.

7.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN KARET

Kinerja perdagangan karet salah satunya didekati dengan melihat
besarnya ekspor dan impor karet. Berdasarkan keragaan data pada Tabel 7.4,
nominal ekspor karet Indonesia jauh lebih besar dari impornya baik volume
maupun nilainya. Pertumbuhan ekspor karet Indonesia pada periode tahun
2008 2012 meningkat, dari sisi volume meningkat sebesar 1,72% per tahun
dan dari sisi nilai meningkat cukup signifikan mencapai 24,62%. Hal ini
didorong oleh meningkatnya nilai ekspor yang terjadi pada tahun 2011
dibandingkan tahun sebelumnya yaitu dari US$ 7,47 milyar di tahun 2010
menjadi US$ 11,97 milyar di tahun 2011. Meskipun relatif kecil, setiap tahun
Indonesia melakukan impor karet dan selama tahun 2008 2012 pertumbuhan
rata-rata per tahun menurun baik volume maupun nilainya dengan penurunan
pertumbuhan masing-masing sebesar 16,25% dan 3,10%.

Tabel 7.4. Perkembangan Ekspor-Impor dan Neraca Perdagangan Karet
Indonesia, 2008 - 2012

Pertumb.
(%)
2008 2009 2010 2011 2012 2008-2012
1 Ekspor
- Volume (Ton) 2.345.457 2.067.312 2.420.716 2.638.382 2.444.438 1,72
- Nilai (000 US$) 6.152.246 3.450.497 7.470.112 11.969.058 7.861.378 24,62
2 Impor
- Volume (Ton) 283.057 269.717 344.005 356.910 30.028 -16,25
- Nilai (000 US$) 743.037 542.876 864.726 1.289.804 78.674 -3,10
3 Neraca Perdagangan
- Volume (Ton) 2.062.401 1.797.595 2.076.711 2.281.472 2.414.411 4,59
- Nilai (000 US$) 5.409.209 2.907.621 6.605.386 10.679.254 7.782.703 28,87
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Tahun
No. Uraian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

112 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Umumnya neraca perdagangan suatu komoditas dilihat dari angka ekspor
dikurangi impor. Perkembangan neraca perdagangan karet dalam kurun waktu
2008 2012 terlihat selalu mengalami surplus yang berarti volume dan nilai
ekspor karet lebih besar dibandingkan dengan volume dan nilai impornya.
Selama kurun waktu tersebut, pertumbuhan neraca perdagangan dari sisi
volume mengalami peningkatan sebesar 4,59 per tahun, sedangkan dari sisi
nilai mengalami peningkatan sebesar 28,87% per tahun. Surplus neraca
perdagangan karet Indonesia selama lima tahun terakhir tertinggi terjadi pada
tahun 2011 yaitu mencapai US$ 10,68 milyar. Perkembangan nilai ekspor,
impor, dan neraca perdagangan karet Indonesia disajikan pada Gambar 7.5.

0
2.000
4.000
6.000
8.000
10.000
12.000
2008 2009 2010 2011 2012
(US$ juta)
Ekspor Impor Neraca Perdagangan

Gambar 7.5. Perkembangan nilai ekspor, impor, dan neraca perdagangan karet
Indonesia, 2008 2012

Apabila dilihat dari wujud karet yang diekspor pada tahun 2012, sebagian
besar atau sekitar 99% adalah dalam bentuk karet manufaktur baik volume
maupun nilainya. Berkebalikan untuk impornya yang didominasi dalam wujud
karet primer dengan volume sekitar 65% dan sisanya berupa karet dalam
wujud manufaktur (Gambar 7.6).
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 113

-
20,00
40,00
60,00
80,00
100,00
Volume Nilai Volume Nilai
EKSPOR IMPOR
(%)
Primer Manufaktur

Gambar 7.6. Persentase ekspor dan impor karet primer dan manufaktur
Indonesia, 2012

Ekspor karet manufaktur Indonesia didominasi dalam wujud standar karet
Indonesia (TSRN) dan karet alam lembaran (RSS). Total nilai ekspor karet
manufaktur pada tahun 2012 mencapai US$ 7,84 milyar atau sebesar 99,80%
dari total ekspor karet Indonesia. Sementara dari sisi impor karet Indonesia
tahun 2012, dominan dalam wujud karet primer dan sisanya berupa karet
manufaktur. Impor karet primer Indonesia mencapai US$ 43,31 juta atau
sekitar 55,04% dari total karet yang diimpor Indonesia dan
sebesar US$ 35,37 juta berupa karet manufaktur. Impor karet primer utamanya
adalah dalam wujud lateks. Perkembangan ekspor dan impor karet Indonesia
dalam wujud primer dan manufaktur tahun 2008 2012 secara rinci disajikan
pada Tabel 7.5.









Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

114 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 7.5. Perkembangan Ekspor-Impor Karet Indonesia, dalam wujud primer
dan manufaktur, 2008 2012

Pertumb.
(%)
2008 2009 2010 2011 2012 2008 - 2012
1 Volume Ekspor (Ton) 2.345.457 2.067.312 2.420.716 2.638.382 2.634.974 2,07
- Primer 32.279 29.550 31.800 46.341 7.832 123,77
- Manufaktur 2.313.179 2.037.762 2.388.916 2.592.040 2.627.142 1,79
Persentase Thd total (%)
- Primer 1,38 1,43 1,31 1,76 0,30
- Manufaktur 98,62 98,57 98,69 98,24 99,70
2 Nilai Ekspor (000 US$) 6.152.246 3.450.497 7.470.112 11.969.058 8.398.095 27,83
- Primer 57.779 39.282 58.499 94.276 16.440 109,14
- Manufaktur 6.094.467 3.411.215 7.411.613 11.874.782 8.381.655 27,82
Persentase Thd total (%)
- Primer 0,94 1,14 0,78 0,79 0,20
- Manufaktur 99,06 98,86 99,22 99,21 99,80
3 Volume Impor (Ton) 283.057 269.717 344.005 356.910 32.316 315,16
- Primer 207.227 212.172 249.622 277.605 20.905 581,63
- Manufaktur 75.830 57.545 94.383 79.305 11.411 129,69
Persentase Thd total (%)
- Primer 73,21 78,66 72,56 77,78 64,69
- Manufaktur 26,79 21,34 27,44 22,22 35,31
4 Nilai Impor (000 US$) 743.037 542.876 864.726 1.289.804 84.254 327,64
- Primer 530.000 377.784 603.435 971.130 47.037 639,27
- Manufaktur 213.037 165.092 261.291 318.673 37.217 155,10
Persentase Thd total (%)
- Primer 71,33 69,59 69,78 75,29 55,83
- Manufaktur 28,67 30,41 30,22 24,71 44,17
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Tahun
No. Uraian


Dari sisi perkembangan ekspor impor karet Indonesia berdasarkan kode
HS (Harmony Sistem) dalam kurun waktu 2008-2012, secara rata-rata sebagian
besar ekspor dalam wujud technically specified natural rubber (TSNR 20) atau
dengan kode HS 4001222000 yakni mencapai 89,99 % dari total nilai ekspor
karet, diikuti kode HS 40012221000 (TSNR 10) dan kode HS 400121100 (RSS
Grade 1). Proporsi ekspor karet Indonesia berdasarkan kode HS disajikan pada
Gambar 7.7.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 115

89,99%
2,46%
2,70%
4,84%
TSNR 20 TSNR 10 RSS 1 Lainnya

Gambar 7.7. Persentase ekspor karet Indonesia berdasarkan kode HS,
2008-2012

Selama tahun 2008-2012, ekspor karet Indonesia berdasarkan kode HS
didominasi karet berkode HS 4001222000 (TNSR 20) dengan nilai mencapai
US$ 6,69 milyar atau 89,99%, untuk karet berkode HS 4001221000 (TSNR 10)
senilai US$ 180,10 juta (2,46%) serta karet berkode HS 4001211000 (RSS
Grade 1) senilai US$ 189,67 juta (2,70%). Meskipun nilai nominalnya kecil,
tetap dilakukan impor karet Indonesia dengan kode HS yang sama. Proporsi
impor karet TNSR 20 adalah 4,17%, diikuti TNSR 10 sebesar 1,20% dan RSS
Grade 1 sebesar 0,04%. Ekspor impor karet Indonesia menurut kode HS,
secara rinci disajikan pada Tabel 7.6.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

116 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 7.6. Perkembangan Ekspor-Impor Karet Indonesia, menurut kode HS
(Harmony Sistem), 2008 2012
Rata-Rata
2008 2009 2010 2011 2012 2008-2012
1 4001222000 (TSNR 20)
Ekspor
- Volume (Ton) 2.077.274 1.779.374 2.165.418 2.370.274 2.279.134 2.134.295
% terhadap total 88,57 86,07 89,45 89,84 93,24 89,43
- Nilai (000 US$) 5.484.702 2.971.597 6.745.314 10.907.436 7.332.750 6.688.360
% terhadap total 89,15 86,12 90,30 91,13 93,28 89,99
Impor
- Volume (Ton) 426 750 1.331 3.583 4.204 2.059
% terhadap total 0,15 0,28 0,39 1,00 14,00 3,16
- Nilai (000 US$) 1.300 1.680 3.298 17.218 14.656 7.630
% terhadap total 0,17 0,31 0,38 1,33 18,63 4,17
2 4001221000 (TSNR 10)
Ekspor
- Volume (Ton) 40.921 58.709 63.733 65.322 60.573 57.852
% terhadap total 1,74 2,84 2,63 2,48 2,48 2,43
- Nilai (000 US$) 110.508 99.859 197.377 301.881 190.884 180.102
% terhadap total 1,80 2,89 2,64 2,52 2,43 2,46
Impor
- Volume (Ton) 75 190 317 668 1.319 514
% terhadap total 0,03 0,07 0,09 0,19 4,39 0,95
- Nilai (000 US$) 220 334 790 2.695 4.402 1.688
% terhadap total 0,03 0,06 0,09 0,21 5,60 1,20
3 4001211000 (RSS-1)
Ekspor
- Volume (Ton) 62.802 72.004 57.888 59.997 54.915 61.521
% terhadap total 2,68 3,48 2,39 2,27 2,25 2,61
- Nilai (000 US$) 171.641 121.692 186.289 285.814 182.897 189.667
% terhadap total 2,79 3,53 2,49 2,39 2,33 2,70
Impor
- Volume (Ton) 0,02 20 45 0,39 61 25
% terhadap total 0,00001 0,00746 0,01308 0,00011 0,20397 0,04
- Nilai (000 US$) 1,32 29 89 1,05 161 56
% terhadap total 0,0002 0,0053 0,0102 0,00008 0,2042 0,04
4 Total
Ekspor
- Volume (Ton) 2.345.457 2.067.312 2.420.716 2.638.382 2.444.438
- Nilai (000 US$) 6.152.246 3.450.497 7.470.112 11.969.058 7.861.378
Impor
- Volume (Ton) 283.057 269.717 344.005 356.910 30.028
- Nilai (000 US$) 743.037 542.876 864.726 1.289.804 78.674
Keterangan : TSNR : Technically Specified Natural Rubber
RSS : Rubber Smoked Sheet
No. Kode HS
Tahun
Sumber : BPS diolah Pusdatin


Negara tujuan ekspor karet Indonesia dibedakan ekspor karet dalam
wujud primer dan wujud manufaktur. Telah diuraikan sebelumnya bahwa
ekspor karet Indonesia sebagian besar dalam wujud manufaktur, pada tahun
2012 negara utama tujuan ekspor karet wujud manufaktur seperti pada
Gambar 7.8.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 117

23,40%
18,05%
16,00%
5,81%
4,40%
3,15%
2,87%
2,61%
23,71%
Amerika China Jepang
Korea India Kanada
Brazil Singapore Lainnya

Gambar 7.8. Negara Tujuan Ekspor Karet Wujud Manufaktur Indonesia, 2012

Dari gambar 7.8. tampak bahwa Amerika Serikat merupakan negara
tujuan utama ekspor karet manufaktur Indonesia dengan total nilai ekspor
mencapai US$ 1,84 milyar atau 23,40% dari total ekspor karet manufaktur
Indonesia pada tahun 2012. Urutan kedua adalah Cina yang mencapai US$ 1,42
milyar (18,05%), disusul kemudian ke Jepang sebesar US$ 1,26 milyar (16%).
Sementara negara lainnya nilai ekspornya dibawah 6% terhadap total nilai
ekspor karet manufaktur. Secara rinci negara tujuan ekspor karet manufaktur
dan nilai ekspor disajikan pada Tabel 7.7.
Tabel 7.7. Negara Tujuan Ekspor Karet Manufaktur Indonesia, 2012

Volume (Ton) Nilai (US$ 000) Volume Nilai
Amerika 572.130 1.835.520 23,48 23,40
China 437.329 1.416.005 17,95 18,05
Jepang 389.234 1.255.321 15,97 16,00
Korea 142.355 456.115 5,84 5,81
India 107.848 345.065 4,43 4,40
Kanada 76.701 247.062 3,15 3,15
Brazil 69.766 225.369 2,86 2,87
Singapore 63.460 204.403 2,60 2,61
Lainnya 577.995 1.860.521 23,72 23,71
Total 2.436.818 7.845.381 100,00 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Wujud
Manufaktur
Uraian Negara tujuan
Ekspor Share thd total (%)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

118 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Dari sisi ekspor karet primer, negara tujuan ekspornya seperti Gambar
7.9. Turki merupakan negara tujuan utama ekspor karet primer Indonesia
dengan proporsi nilai 47,91% terhadap total ekspor karet primer, negara tujuan
berikutnya adalah Brazil (17,46%) dan Vietnam (9,35%) serta negara lainnya
dibawah 5%.
47,91%
17,46%
9,35%
4,83%
3,85%
16,61%
Turki Brazil Viet Nam
China Korea Lainnya

Gambar 7.9. Negara Tujuan Ekspor Karet Wujud Primer Indonesia, 2012

Besarnya nilai ekspor karet wujud primer ke Turki mencapai US$ 7,66
juta, Brazil US$ 2,79 juta dan Vietnam US$ 1,49 juta. Rincian nilai ekspor dan
propsinya disajikan pada Tabel 7.8.

Tabel 7.8. Negara Tujuan Ekspor Karet Primer Indonesia, 2012
Volume (Ton) Nilai (US$ 000) Volume Nilai
Turki 3.804 7.664 49,92 47,91
Brazil 1.320 2.793 17,32 17,46
Viet Nam 460 1.495 6,03 9,35
China 421 773 5,53 4,83
Korea 336 615 4,41 3,85
Lainnya 1.280 2.656 16,79 16,61
Total 7.620 15.996 100,00 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Ekspor Share thd total (%)
Wujud
Primer
Uraian Negara tujuan

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 119

Walaupun dalam nominal yang jauh lebih kecil dari angka ekspor karet,
Indonesia melakukan impor karet yang didominasi oleh wujud primer. Negara
asal utama impor karet Indonesia wujud primer disajikan pada Gambar 7.10.
Tampak bahwa Malaysia merupakan negara asal utama impor karet primer
dengan proporsi 40,98% terhadap total nilai impor karet primer Indonesia.
Diikuti kemudian Vietnam (31,45%) dan Thailand (24,67%).

40,98%
31,45%
24,67%
2,45%
0,44%
Malaysia Viet Nam Thailand
India Lainnya

Gambar 7.10. Negara Asal Impor Karet Wujud Primer Indonesia, 2012

Lebih jauh melihat besarnya volume dan nilai impor karet primer
Indonesia dari negara asal impor disajikan pada Tabel 7.9. Dari tabel tersebut,
tampak bahwa impor karet primer Indonesia dari Malaysia bernilai 17,75 juta
US$, sementara impor dari Vietnam dan Thailand masing-masing bernilai 13,62
juta US$ dan 10,68 juta US$.





Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

120 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 7.9. Negara Asal Impor Karet Primer Indonesia, 2012

Volume (Ton) Nilai (US$ 000) Volume Nilai
Malaysia 7.879 17.749 41,00 40,98
Viet Nam 6.315 13.621 32,87 31,45
Thailand 4.553 10.685 23,69 24,67
India 415 1.063 2,16 2,45
Lainnya 54 189 0,28 0,44
Total 19.216 43.306 100,00 100,00
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Uraian Negara asal
Impor Share thd total (%)
Wujud Primer


Bila dilihat perdagangan karet di dunia, maka tiga negara yang tergabung
dalam International Tripartite Rubber Council/ITRC yakni Indonesia, Thailand
dan Malaysia merupakan negara eksportir karet terbesar di dunia. Berdasarkan
data nilai ekspor karet dunia yang bersumber dari FAO, pada tahun 20062010
nilai ekspor ketiga negara eksportir karet tersebut secara kumulatif memberikan
kontribusi sekitar 82,27% terhadap total nilai ekspor karet di dunia. Indonesia
dan Thailand merupakan negara eksportir karet terbesar pertama dan kedua di
dunia yang memberikan kontribusi masing-masing sebesar 35,06% dan 32,61%
dengan nilai ekspor rata-rata selama periode tahun 2006 2010 masing-masing
sebesar US$ 4,95 milyar dan US$ 4,60 milyar. Pada urutan berikutnya yakni
Malaysia yang memberikan kontribusi sebesar 14,60% terhadap total ekspor
karet dunia atau mencapai US$ 2,06 milyar (Gambar 7.11.). Secara rinci,
perkembangan nilai ekspor negara eksportir karet dunia tahun 2006 2010
disajikan pada Tabel 7.10.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 121

35,06%
32,61%
14,60%
17,73%
Indonesia Thailand Malaysia Negara lainnya

Gambar 7.11. Negara eksportir karet terbesar dunia, 2006 - 2010

Tabel 7.10. Negara Eksportir Karet Terbesar Dunia, 2006 2010
2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
1 Indonesia
4.307.834 3.858.266 6.041.883 3.231.164 7.295.411 4.946.912
35,06 35,06
2 Thailand
4.202.571 4.372.726 5.334.485 3.112.598 5.983.671 4.601.210
32,61 67,67
3 Malaysia
2.112.443 2.002.413 2.306.081 1.182.808 2.693.815 2.059.512
14,60 82,27
4 Viet Nam
413.509 444.300 448.785 364.426 2.388.225 811.849
5,75 88,02
5 Pantai Gading
310.166 354.542 494.920 340.667 670.181 434.095
3,08 91,10
6 Jerman
45.060 95.209 77.257 106.993 294.121 123.728
0,88 91,98
7 Lainnya 749.384 921.504 1.054.158 863.276 2.072.795 1.132.223 8,02 100,00
Dunia 12.140.967 12.048.960 15.757.569 9.201.932 21.398.219 14.109.529 100,00
Sumber : FAO diolah Pusdatin
Share
Kumulatif
(%)
Nilai ekspor (000 US$)
No Negara
Share
(%)

Sementara, negara-negara importir karet didominasi oleh negara-negara
industri khususnya industri otomotif yang banyak menggunakan karet sebagai
bahan baku. Berdasarkan data dari FAO periode tahun 2006 - 2010, terdapat 8
(delapan) negara importir karet terbesar di dunia yang secara kumulatif
memberikan kontribusi 72,39% terhadap total nilai impor karet di dunia
berturut-turut yaitu China, Amerika Serikat, Jepang, Korea, Jerman, Brazil,
Perancis, dan Malaysia (Gambar 7.12.). China sebagai negara importir karet
terbesar yaitu 24,83% dari total impor dunia atau senilai US$ 3,61 milyar per
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

122 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

tahun, disusul Amerika dan Jepang masing-masing sebesar 14,93% dan
12,92% atau masing-masing senilai US$ 2,17 milyar dan US$ 1,88 milyar.
Sementara, Korea, Jerman, Brazil, Perancis dan Malaysia masing-masing
mengimpor karet dengan kontribusi kurang dari 6% dari total impor karet
dunia. Negara importir karet dunia tahun 2006 2010 secara rinci disajikan
pada Tabel 7.11.
24,83%
14,93%
12,92%
5,53%
4,47%
3,37%
3,29%
3,07%
27,61%
China Amerika Jepang Korea Jerman
Brazil Perancis Malaysia Lainnya

Gambar 7.12. Negara importir karet terbesar dunia, 2006 2010


Tabel 7.11. Negara Importir Karet Terbesar Dunia, 2006 2010
2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata
1 China 2.900.834 3.099.144 4.070.853 2.592.943 5.409.395 3.614.634 24,83 24,83
2 Amerika 1.925.617 2.038.032 2.756.507 1.259.610 2.883.300 2.172.613 14,93 39,76
3 Jepang 1.814.359 1.771.109 2.355.249 1.130.264 2.328.804 1.879.957 12,92 52,67
4 Korea 680.935 732.809 938.569 554.284 1.114.697 804.259 5,53 58,20
5 Jerman 509.685 563.881 665.459 350.355 1.163.785 650.633 4,47 62,67
6 Brazil 367.859 452.960 624.108 253.032 756.312 490.854 3,37 66,04
7 Perancis 483.909 511.399 604.005 243.602 548.227 478.228 3,29 69,33
8 Malaysia 204.944 383.091 337.194 489.727 816.606 446.312 3,07 72,39
9 Spanyol 367.966 432.756 511.583 236.903 561.628 422.167 2,90 75,29
10 Lainnya 3.775.157 4.185.005 4.871.030 3.291.763 6.200.481 4.464.687 27,61 100,00
Dunia 12.458.355 13.354.339 16.885.780 9.675.853 20.405.001 14.555.866 100,00
Sumber : FAO diolah Pusdatin
No
Share
(%)
Share
Kumulatif
(%)
Negara
Nilai impor (000 US$)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 123

7.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN KARET
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis
posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. Hasil perhitungan nilai
ISP karet primer berupa latek dan karet manufaktur diantaranya berupa karet
alam lembaran (RSS) dan TSRN, standar karet Indonesia serta total karet
Indonesia tahun 2008 - 2012 disajikan pada Tabel 7.12.
Tabel 7.12. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) karet primer, karet
manufaktur dan total karet Indonesia, 2008 2012
2008 2009 2010 2011 2012
Primer
Ekspor-Impor -472.221 -338.502 -544.936 -876.854 -27.310
Ekspor+Impor 587.780 417.066
661.935 1.065.407 59.303
ISP -0,803 -0,812 -0,823 -0,823 -0,461
Manufaktur
Ekspor-Impor 5.881.430 3.246.123
7.150.322 11.556.108 7.810.013
Ekspor+Impor 6.307.504 3.576.307
7.672.904 12.193.455 7.880.749
ISP 0,932 0,908 0,932 0,948 0,991

Total Karet
Ekspor-Impor 5.409.209 2.907.621
6.605.386 10.679.254 7.782.703
Ekspor+Impor 6.895.284 3.993.373
8.334.839 13.258.862 7.940.052
ISP 0,784 0,728 0,793 0,805 0,980
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Uraian
Nilai (000 US$)


Nilai ISP dihitung menggunakan indikator nilai ekspor dan impor. Nilai ISP
karet primer seperti yang tersaji pada Tabel 7.12. pada tahun 2008-2012
bernilai negatif dengan range -0,461 sampai dengan -0,823 yang menunjukkan
bahwa komoditas karet Indonesia dalam wujud latek tidak memiliki daya saing
dalam perdagangan dunia. Namun demikian, pada tahun 2012 meskipun masih
bernilai negatif tetapi menunjukkan kemajuan yaitu -0,461. Indonesia
mempunyai daya saing yang sangat kuat atau pada tahap pematangan ekspor
pada produk karet manufaktur, khususnya wujud TSRN, standar karet
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

124 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan nilai ISP yang mencapai 0,932 pada
tahun 2008. Pada periode berikutnya, nilai ISP karet manufaktur Indonesia
mengalami penurunan namun masih bernilai diatas 0,9 dan pada tahun 2012
mencapai 0,991 yang berarti karet manufaktur Indonesia masih berada pada
tahap pematangan ekspor atau dapat dikatakan memiliki daya saing tinggi atau
dikatakan Indonesia sebagai negara pengekspor karet manufaktur dunia
(Gambar 7.13.).
-1,00
-0,80
-0,60
-0,40
-0,20
0,00
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
2008 2009 2010 2011 2012
Primer Manufaktur Total karet

Gambar 7.13. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) karet primer, manufaktur
dan total karet Indonesia, 2008 2012

Sejalan dengan nilai ISP diatas maka bila dilihat dari kemampuan
produksi karet dalam negeri terlihat cukup tinggi bahkan sebagian besar untuk
diekspor/surplus, hal ini dapat dilihat dari SSR tahun 2008 sampai 2012 yang
menunjukkan angka positif, cukup besar persentasenya dan berkecenderungan
meningkat (Tabel 7.13 dan Gambar 7.14). Indonesia tetap melakukan impor
yang sebagian besar dalam wujud karet primer/latek, hal ini terlihat dari nilai
IDR tahun 2008-2012 yang menunjukkan kecenderungan meningkat, namun
pada tahun 2012 karena adanya perubahan kode HS nilai IDR menurun.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 125

Sebagai eksportir karet dunia tentunya memiliki unggulan wujud karet
yang diekspor. Ekspor karet manufaktur Indonesia yang memiliki daya saing
adalah karet manufaktur yang didominasi oleh karet dengan kode HS
4001222000 (TSNR 20), 4001221000 (TSNR 10) dan 4001211000 (RSS
Grade 1).
Tabel 7.13. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
karet Indonesia, 2008 2012
2008 2009 2010 2011 2012*)
1
Produksi 2.751.286 2.440.347 2.734.854 2.990.184 3.040.376
2
Ekspor 2.345.457 2.067.312 2.420.716 2.638.382 2.444.438
3
Impor 283.057 269.717 344.005 356.910 30.028
4
Produksi + Impor - Ekspor 688.885 642.752 658.143 708.713 625.966
IDR (%) 41,09 41,96 52,27 50,36 4,80
SSR (%) 399,38 379,67 415,54 421,92 485,71
Sumber : BPS dan Ditjen Perkebunan, diolah Pusdatin
Keterangan : Mulai tahun 2012, ada perubahan cakupan kode HS
Uraian No.
Tahun
Ton


0
100
200
300
400
500
600
2008 2009 2010 2011 2012*)
(%)
IDR (%) SSR (%)

Gambar 7.14. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)
karet Indonesia, 2008 2012
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

126 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Indeks Keunggulan Komparatif atau RSCA (Revealed Symmetric
Comparative Advantage) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk
mengukur keunggulan komparatif di suatu wilayah, untuk mengukur
keunggulan komparatif karet Indonesia dalam perdagangan dunia. Hasil
analisis RSCA karet Indonesia dapat dilihat pada Tabel 7.14.

Tabel 7.14. Indeks keunggulan komparatif karet Indonesia dalam
perdagangan dunia, 2008-2011

2008 2009 2010 2011
Karet Dunia 19.368.535 11.312.005 23.129.441 38.663.478
Indonesia 6.056.574 3.420.610 7.812.259 13.011.608
Non Migas Dunia 13.157.364.489 10.563.721.834 12.725.891.053 14.756.917.803
Indonesia 107.894.200 97.491.700 129.739.500 162.019.600
Rasio Dunia 0,001 0,001 0,002 0,003
Indonesia 0,06 0,03 0,07 0,12
38,13 36,88 41,19 41,04
0,95 0,95 0,95 0,95
Sumber: BPS dan UNComtrade, diolah Pusdatin
Nilai Ekspor (000 US$)
Uraian
RSCA
RCA


Berdasaran hasil perhitungan yang tersaji pada Tabel 7.14, terlihat
bahwa komoditas karet Indonesia memiliki keunggulan komperatif yang cukup
besar di pasar dunia, hal ini ditunjukkan nilai RSCA tahun 2008 - 2011
mendekati nilai 1 dan relatif stabil selama periode tersebut. Hal ini
menunjukkan bahwa pangsa ekspor karet Indonesia terhadap total ekspor non
migas lebih tinggi dibandingkan pangsa ekspor karet dunia terhadap ekspor non
migas dunia. Tingginya nilai RSCA karet tersebut terutama disumbangkan dari
wujud karet TSRN, standar karet Indonesia (HS 400122) dan karet alam lainnya
(HS 400129) yang memiliki keunggulan komparatif cukup besar mencapai 0,96
dan 0,94 pada tahun 2011 (Tabel 7.15).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 127

Tabel 7.15. Hasil perhitungan nilai RCA dan RSCA karet Indonesia, 2008-2011
2008 2009 2010 2011
Karet Dunia 19.368.535 11.312.005 23.129.441 38.663.478
Kode HS 400110 2.143.826 1.966.806 2.773.509 3.774.009
Kode HS 400121 2.817.364 1.529.184 2.973.532 4.606.331
Kode HS 400122 12.355.478 6.595.885 14.484.902 25.689.369
Kode HS 400129 2.051.867 1.220.131 2.897.498 4.593.770
Indonesia 6.056.574 3.420.610 7.812.259 13.011.608
Kode HS 400110 14.691 139.685 277.195 332.493
Kode HS 400121 365.545 166.104 224.814 324.139
Kode HS 400122 5.674.460 2.779.643 6.395.671 11.123.592
Kode HS 400129 1.877 335.177 914.579 1.231.384
Non Migas Dunia 13.157.364.489 10.563.721.834 12.725.891.053 14.756.917.803
Indonesia 107.894.200 97.491.700 129.739.500 162.019.600
Share Dunia 0,00147 0,00086 0,00176 0,00294
Kode HS 400110 0,00016 0,00015 0,00021 0,00029
Kode HS 400121 0,00021 0,00012 0,00023 0,00035
Kode HS 400122 0,00094 0,00050 0,00110 0,00195
Kode HS 400129 0,00016 0,00009 0,00022 0,00035
Indonesia 0,05613 0,03170 0,07241 0,12060
Kode HS 400110 0,00014 0,00129 0,00257 0,00308
Kode HS 400121 0,00339 0,00154 0,00208 0,00300
Kode HS 400122 0,05259 0,02576 0,05928 0,10310
Kode HS 400129 0,00002 0,00311 0,00848 0,01141
RCA Karet 38,13 36,88 41,19 41,04
Kode HS 400110 0,84 8,66 12,19 10,74
Kode HS 400121 15,82 13,25 9,22 8,58
Kode HS 400122 56,01 51,39 53,84 52,80
Kode HS 400129 0,11 33,50 38,49 32,69
RSCA Karet 0,95 0,95 0,95 0,95
Kode HS 400110 -0,09 0,79 0,85 0,83
Kode HS 400121 0,88 0,86 0,80 0,79
Kode HS 400122 0,96 0,96 0,96 0,96
Kode HS 400129 -0,80 0,94 0,95 0,94
Sumber: BPS dan UNComtrade, diolah Pusdatin
Uraian
Nilai Ekspor (000 US$)


Dalam kinerja perdagangan tentu ingin mengetahui posisi produk
ekspornya dalam suatu pasar. Untuk digunakan perhitungan CMSA (Constant
Market Share Analysis) atau model pangsa pasar konstan. Dengan perhitungan
CMSA, dapat diketahui efek pertumbuhan dunia (World Growth Effect), efek
komposisi komoditas (Commodity Composition Effect), efek distribusi pasar
(Market Distribution Effect) dan efek daya saing produk (Competitiveness
Effect). Guna mengkaji efek distribusi pasar dan daya saing produk karet
Indonesia, dilakukan perhitungan nilai CMSA di negara-negara mitra dagang
karet Indonesia yakni Amerika Serikat, China, Jepang dan Korea Selatan. Hasil
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

128 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

perhitungan CMSA karet Indonesia tahun 2008 - 2011 di pasar dunia serta ke
negaranegara tujuan ekspor terbesar karet Indonesia disajikan pada Tabel
7.16.
Nilai ekspor karet Indonesia ke dunia dari tahun 2008 sampai dengan
2011 mengalami peningkatan mencapai 114,83% atau dari US$ 6,06 milyar
pada tahun 2008 menjadi US$ 13,01 milyar pada tahun 2010. Peningkatan
ekspor karet Indonesia pada periode tersebut didorong oleh adanya pengaruh
pertumbuhan dunia atau adanya peningkatan kebutuhan karet dunia yang
meningkat sebesar 90,06%. Hal ini mencerminkan bahwa Indonesia telah
mengambil peranan yang cukup besar dalam pemenuhan permintaan karet
dunia. Peningkatan ekspor karet Indonesia ke dunia selama periode tahun 2008
2011 juga dipengaruhi oleh meningkatnya pengaruh komposisi komoditas
sebesar 4,08%.
Indonesia bermitra dengan 4 negara utama dalam perdagangan karet
dunia yakni Amerika Serikat di urutan pertama, dan disusul ke negara China,
Jepang dan Korea Selatan. Berdasarkan hasil analisis efek distribusi pasar,
walaupun terjadi peningkatan ekspor karet Indonesia ke dunia namun terjadi
hambatan di pasar Amerika Serikat dan China sebagai negara tujuan utama
ekspor karet Indonesia. Hal ini berkaitan dengan adanya krisis ekonomi yang
terjadi di negara tersebut khususnya di Amerika Serikat. Permintaan karet
Indonesia di negara-negara tersebut tidak sejalan dengan meningkatnya
permintaan karet di negara-negara lain. Hal ini mengakibatkan kinerja ekspor
karet Indonesia menjadi terhambat karena ekspor karet terkonsentrasi ke
negara-negara yang permintaannya relatif lambat (stagnan). Ekspor karet ke
Amerika Serikat menghambat kinerja ekspor karet Indonesia ke dunia sebesar
2,55% atau US$ 177,61 juta, ke China menghambat sebesar 2,35% atau US$
163,45 juta dan Jepang menghambat sebesar 1,81% atau US$ 125,75 juta.
Namun demikian, terjadi dorongan pasar karet Indonesia di negara tujuan
berikutnya yakni Korea Selatan sebesar 0,08% atau senilai US$ 5,31 juta.
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 129

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 7.6 terlihat daya saing karet Indonesia di
pasar dunia pada tahun 2008 -2011 secara umum cukup baik atau positif di
semua negara mitra dagang. Hal ini menunjukkan bahwa karet asal Indonesia
mampu bersaing dengan karet dari negara-negara pesaing lainnya.

Tabel 7.16. Hasil perhitungan Constant Market Share Analysis (CMSA) karet
Indonesia ke dunia, 2008 - 2011

USA China Jepang Korea Selatan
1 World Growth Effect
US$ 6.263.491.417
% 90,06
2 Commodity Composition Effect
US$ 283.470.596
% 4,08
3 Market Distribution Effect
US$ -342.257.912 -177.614.082 -163.450.740 -125.747.423 5.306.062
% -4,92 -2,55 -2,35 -1,81 0,08
4 Competitiveness Effect
US$ 750.329.664 585.685.834 571.522.492 533.819.175 402.765.690
% 10,79 8,42 8,22 7,68 5,79
No. Uraian
Negara Tujuan
Sumber : UNcomtrade, diolah Pusdatin
Keterangan : Kode HS yang digunakan dalam analisis ini meliputi 400110, 400121, 400122, dan 400129.













Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

130 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2009. Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2008. Jakarta

Departemen Perdagangan. 2008. Kajian Pengembangan Pasar Eskpor Produk
Makanan Olahan. Jakarta.

Departemen Perdagangan. 2009. KTT ASEAN ke-14 dan Hasil-hasil
Perundingan: Komitmen Bersama untuk Menjawab Situasi Ekonomi Dunia
(Siaran Pers). Departemen Perdagangan, Jakarta.

Departemen Pertanian. 2004. Kebijakan kemitraan Gapoktan dengan lembaga
pemasaran lainnya. Jakarta: Direktorat Pemasaran Domestik Direktorat
Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.

Departemen Pertanian. 2007. Pedoman Umum Kebijakan Pemasaran Antar
Daerah/Wilayah. Jakarta: Direktorat Pemasaran Domestik, Direktorat
Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP).

Ditjen Hortikultura. 2010. Statistik Hortikultura. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Rachman, H.P.S., S.H. Suhartini dan G.S. Hardono. 2008. Dampak Liberalisasi
Perdagangan Terhadap Kinerja Ketahanan Pangan Nasional. Pusat
Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor.

Rosihan Leave a comment Go to comments July 15th, 2007,Terhubung Berkala
(Mei, 2011)

Laporan Bulanan, Bulan Mei 2013. Sekretariat Dewan Gula Indonesia

Direktorat Jenderal Perkebunan, 2012. Statistik Perkebunan Tebu 2012.
Sekretariat Ditjen Perkebunan, Jakarta

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol.8, No.2, Desember 2007. Permintaan gula di
Indonesia, Catur Sugiyanto, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. E-mail :catur@psekp.ugm.ac.id

http://www.fao.org
Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 131


http://www.UNComtrade.org