Anda di halaman 1dari 152

ISSN : 2086-4949

KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN

VOLUME 4 NOMOR 1 TAHUN 2013

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian

2013

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

ii

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN

Volume 4 Nomor 1 Tahun 2013

Ukuran Buku : 10,12 inci x 7,17 inci (B5)

Jumlah Halaman :

131 halaman

Penasehat : Ir. M. Tassim Billah, MSc

Penyunting :

Ir. Sabarella, MSi. Ir. Dewa N. Cakrabawa, MM.

Naskah :

Sri Wahyuningsih, S.Si Ir. Wieta B. Komalasari, M.Si. Ir. Efi Respati,MSi Ir. Noviati, M.Si Widyawati Rinawati, SE

Design dan Layout :

Heri Dwi Martono Heruwaty

Diterbitkan oleh :

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian

2013

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

iii

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

iv

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 4 Nomor 1 Tahun 2013telah diselesaikan. Publikasi ini merupakan salah satu output dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian dalam mengemban visi dan misinya dalam mempublikasikan baik data sektor pertanian maupun hasil analisis datanya. Publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Tahun 2013 merupakan publikasi lanjutan dari tahun sebelumnya yang secara rutin terdiri dari 2 (dua) nomor publikasi. Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 4 Nomor 1 Tahun 2013 memuat gambaran umum kinerja perdagangan sektor pertanian secara umum serta analisis kinerja perdagangan komoditas BERAS, JAGUNG, JAGUNG, GULA PASIR dan KARET. Publikasi ini menyajikan keragaan data series masing-masing komoditas secara nasional dan internasional selama 5 tahun terakhir serta dilengkapi dengan hasil analisis indeks spesialisasi perdagangan-analisis daya saing, indeks keunggulan komperatif serta analisis lainnya untuk masing-masing komoditas pertanian. Publikasi ini disajikan tidak hanya dalam bentuk hard copy namun juga dalam bentuk soft copy (CD) dan dapat dengan mudah diperoleh atau diakses melalui website Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian yaitu http://www.deptan.go.id/pusdatin/. Dengan diterbitkannya publikasi ini diharapkan para pembaca dapat memperoleh gambaran tentang keragaan dan analisis kinerja perdagangan masing-masing komoditas strategis pertanian secara lebih lengkap dan menyeluruh. Kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan publikasi ini, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Kritik dan saran dari segenap pembaca sangat diharapkan guna dijadikan dasar penyempurnaan dan perbaikan untuk penerbitan publikasi berikutnya.

Jakarta, Agustus 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian,

2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, M.Sc. NIP. 19570725.198203.1.002

Ir. M. Tassim Billah, M.Sc. NIP. 19570725.198203.1.002

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

v

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

vi

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR

 

v

DAFTAR

ISI

vii

DAFTAR

TABEL

ix

DAFTAR

GAMBAR

xi

DAFTAR

LAMPIRAN

xv

BAB

I. PENDAHULUAN

 

1

1.1. LATAR BELAKANG

1

1.2. METODOLOGI

 

2

BAB II. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN

9

2.1. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SEKTOR PERTANIAN

10

2.2. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SUB SEKTOR

PERTANIAN

12

2.3.GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN

15

BAB III. KINERJA PERDAGANGAN BERAS

21

3.1. SENTRA PRODUKSI BERAS

21

3.2. KERAGAAN HARGA PADI/BERAS

22

3.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN BERAS

27

3.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN BERAS

40

BAB IV. KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG

43

4.1. SENTRA PRODUKSI JAGUNG

43

4.2. KERAGAAN

HARGA JAGUNG

44

4.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG

49

4.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN JAGUNG

62

BAB V. KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH

67

5.1. SENTRA PRODUKSI BAWANG MERAH

67

5.2. KERAGAAN HARGA BAWANG MERAH

69

5.3. KERAGAAN KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH

72

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

vii

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1
 

5.4.

ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN BAWANG MERAH

82

BAB

VI.KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR

85

 

6.1. SENTRA PRODUKSI GULA

85

6.2. KERAGAAN HARGA GULA PASIR

87

6.3. KERAGAAN

KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR

89

6.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN GULA PASIR

97

LAMPIRAN

100

BAB VII.KINERJA PERDAGANGAN KARET

105

 

7.1. SENTRA PRODUKSI KARET

106

7.2. HARGA KARET

KERAGAAN

107

7.3. KINERJA PERDAGANGAN KARET

KERAGAAN

111

7.4. ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN KARET

123

DAFTAR PUSTAKA

 

130

viii

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1.

Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan

 

komoditas pertanian Indonesia, 2008 -

10

Tabel 2.2.

Perkembangan neraca perdagangan komdoitas beras, jagung,

bawang merah, gula dan karet Indonesia, 2008 - 2012

15

Tabel 2.3.

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) komoditas beras, jagung,

bawang merah, gula pasir dan karet Indonesia, 2008 - 2012

16

Tabel 2.4.

IDR dan SSR komoditas beras, jagung, bawang merah, gula

pasir dan karet Indonesia, 2008 - 2012

17

Tabel 2.5.

Indeks keunggulan komparatif (RSCA) komoditas beras, jagung,

bawang merah, gula dan karet Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008 - 2011

17

Tabel 3.1.

Perkembangan produksi padi di provinsi sentra di Indonesia,

2008

- 2012

22

Tabel 3.2.

Perkembangan pola panen padi bulanan di Indonesia, 2010 -

2012

23

Tabel 3.3.

Perkembangan harga produsen GKG dan harga konsumen beras

bulanan di Indonesia, 2010 - 2012

24

Tabel 3.4.

Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan

komoditas beras, 2008 - 2012

28

Tabel 3.5.

Kode HS dan deskripsi beras segar dan olahan

31

Tabel 3.6.

Perkembangan ekspor, impor beras wujud segar dan olahan

berdasarkan kode HS, 2008 - 2012

32

Tabel 3.7.

Negara tujuan ekspor beras Indonesia, 2012

35

Tabel 3.8.

Negara

asal impor beras Indonesia, 2012

36

Tabel 3.9.

Sepuluh negara eksportir beras (total) di dunia, 2006-2010

38

Tabel 3.10.

Sepuluh negara eksportir beras olahan (tepung beras) di dunia,

 

2006-2010

38

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

ix

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Tabel 3.11.

Sepuluh negara importir beras (total) di dunia, 2006-2010

39

Tabel 3.12.

Sepuluh negara importir beras olahan (tepung beras) di dunia,

 

2006-2010

40

Tabel 3.13.

Indeks spesialisasi perdagangan beras segar, olahan dan beras total di Indonesia, 2008 2012

40

Tabel 3.14.

Perkembangan nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self

Sufficiency Ratio (SSR) beras Indonesia, 2008 2012

42

Tabel 3.15.

Indeks Keunggulan Komparatif (RCA) komoditas beras

Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008 - 2011

42

Tabel 4.1.

Perkembangan produksi jagung di provinsi sentra di Indonesia,

2008

- 2012

44

Tabel 4.2.

Perkembangan luas panen jagung di Indonesia, 2011 2012

45

Tabel 4.3.

Perkembangan harga produsen, harga konsumen, dan margin

harga produsen-konsumen jagung di Indonesia,

2009 2011

47

Tabel 4.4.

Luas panen dan harga produsen jagung di Jawa Tengah dan Jawa Timur, 2011

48

Tabel

4.5.

Perkembangan

Perkembangan

harga jagung di pasar internasional, 2010-2012

49

Tabel 4.6.

Ekspor-Impor Jagung di Indonesia, 2008 -2012

51

Tabel 4.7.

Perkembangan Ekspor, Impor dan Neraca Perdagangan Jagung

Segar dan Olahan di Indonesia, 2008 -2012

52

Tabel 4.8.

Perkembangan nilai ekspor jagung segar dan olahan Indonesia,

2008

- 2012

53

Tabel 4.9.

Perkembangan nilai impor jagung segar dan olahan Indonesia,

2008

2012

55

Tabel 4.10.

Negara

tujuan ekspor jagung Indonesia, 2012

57

Tabel 4.11.

Negara

asal impor jagung Indonesia, 2012

58

Tabel 4.12.

Perkembangan nilai ekspor jagung di negara-negara eksportir

utama di dunia, 2006 2010

60

Tabel 4.13.

Perkembangan nilai impor jagung di negara-negara importir

utama di dunia, 2006 2010

61

x

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Tabel 4.14.

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) jagung segar, olahan,

 

dan total jagung Indonesia, 2008 2012

63

Tabel 4.15.

IDR dan SSR jagung Indonesia, 2008 2012

64

Tabel 4.16.

Indeks keunggulan komparatif jagung segar Indonesia dalam

perdagangan dunia, 2008 - 2011

65

Tabel 4.17.

Indeks keunggulan komparatif jagung olahan Indonesia dalam

perdagangan dunia, 2008 - 2011

66

Tabel 5.1.

Produksi bawang merah di provinsi sentra di Indonesia, 2008-

2012

68

Tabel 5.2.

Perkembangan harga Produsen, harga konsumen dan margin

harga produsen-konsumen bawang merah di Indonesia, 2009

2011

71

Tabel 5.3.

Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan

komoditas bawang merah, 2008 2012

72

Tabel 5.4.

Perkembangan ekspor dan impor komoditas bawang merah

berdasarkan kode HS, 2008 2012

74

Tabel 5.5.

Negara tujuan ekspor bawang merah Indonesia, 2012

75

Tabel 5.6.

Negara asal impor bawang merah Indonesia, 2012

77

Tabel 5.7.

Negara eksportir bawang merah kering terbesar dunia,

2006

2010

77

Tabel 5.8.

Negara importir bawang merah kering terbesar dunia,

2006

2010

79

Tabel 5.9.

Negara eksportir bawang merah segar terbesar dunia,

2006

2010

81

Tabel 5.10.

Negara importir bawang merah segar terbesar dunia,

2006

2010

82

Tabel 5.11.

Indeks spesialisasi perdagangan (ISP) bawang merah Indonesia,

2008-2012

82

Tabel 5.12.

Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)

bawang merah Indonesia, 2008 - 2012

83

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

xi

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Tabel 5.13.

Indeks keunggulan komparatif komoditas bawang (bawang

 

merah dan bawang Bombay) Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008 - 2011

84

Tabel 6.1.

Perkembangan ekspor, impor dan necara perdagangan gula

Indonesia, 2008-2012

90

Tabel

6.2.

Kode HS dan deskripsi

gula (manufaktur)

92

Tabel 6.3.

Perkembangan ekspor dan impor gula berdasarkan kode HS

93

Tabel 6.4.

Nilai indeks spesialisasi perdagangan gula tebu, 2008-2012

97

Tabel 6.5.

Nilai Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio

(SSR) tebu/gula Indonesia, 2008-2012

98

Tabel 6.6.

RCA dan RSCA gula Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008

-

2011

99

Tabel 7.1.

Sentra Produksi Karet Indonesia, 2008 2012*)

107

Tabel 7.2.

Perkembangan Harga Produsen Getah Karet Tebal di

Indonesia, 2002 2011

109

Tabel 7.3.

Perkembangan Harga Internasional Karet, 2002 2012

110

Tabel 7.4.

Perkembangan Ekspor-Impor dan Neraca Perdagangan Karet

Indonesia, 2008 - 2012

111

Tabel 7.5.

Perkembangan Ekspor-Impor Karet Indonesia, dalam wujud

manufaktur dan primer, 2008 2012

114

Tabel 7.6.

Perkembangan Ekspor-Impor Karet Indonesia, menurut kode

HS (Harmony Sistem), 2008 2012

116

Tabel 7.7.

Negara

Tujuan

Ekspor

Karet Manufaktur Indonesia, 2012

117

Tabel

7.8.

Negara

Tujuan

Ekspor

Karet Primer Indonesia, 2012

118

Tabel 7.9.

Negara Asal Impor Karet Primer Indonesia, 2012

120

Tabel

7.10.

Negara

Eksportir Karet Terbesar Dunia, 2006 2010

121

Tabel

7.11.

Negara

Importir Karet Terbesar Dunia, 2006 2010

122

Tabel 7.12.

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) karet primer, karet

manufaktur dan total karet Indonesia, 2008 2012

123

xii

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Tabel 7.13.

Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR)

karet Indonesia, 2008 2012

125

Tabel 7.14.

Indeks keunggulan komparatif karet Indonesia dalam

perdagangan dunia, 2008-2011

126

Tabel 7.15.

Hasil perhitungan nilai RCA dan RSCA karet Indonesia, 2008-

2011

128

Tabel 7.16.

Hasil perhitungan Constant Market Share Analysis (CMSA) karet

Indonesia ke dunia, 2008 - 2011

129

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

xiii

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

xiv

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1.

Perkembangan volume ekspor dan impor komoditas

pertanian, 2008 2012

11

Gambar 2.2.

Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan

komoditas pertanian, 2008 2012

12

Gambar 2.3.

Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata nilai

ekspor dan impor, 2008 - 2012

13

Gambar 2.4.

Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata volume

ekspor dan impor, 2008 2012

13

Gambar 2.5.

Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian,

tahun 2008 2012

14

Gambar 3.1.

Provinsi sentra produksi padi di Indonesia, 2008 - 2012

22

Gambar 3.2.

Perkembangan pola panen padi di Indonesia, 2010 - 2012

23

Gambar 3.3.

Perkembangan harga GKG di tingkat petani, 2011 2012

24

Gambar 3.4.

Perkembangan harga konsumen beras, 2011 - 2012

25

Gambar 3.5.

Perkembangan disparitas antara harga produsen

(gabah/GKG) dan harga konsumen (beras), 2011 - 2012

26

Gambar 3.6.

Perkembangan harga beras Thailand, Vietnam dan IR64,

2011 - 2012

27

Gambar 3.7.

Perkembangan neraca perdagangan beras Indonesia, 2008 -

2012

29

Gambar 3.8.

Kontribusi ekspor impor beras segar dan olahan di

Indonesia, 2012

30

Gambar 3.9.

Beras wujud segar yang diekspor dan diimpor Indonesia,

2012

33

Gambar 3.10.

Beras wujud olahan yang diekspor dan diimpor Indonesia,

2012

33

Gambar 3.11.

Negara tujuan ekspor beras Indonesia, 2012

34

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

xv

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Gambar

3.12.

Negara asal impor beras Indonesia, 2012

36

Gambar 3.13.

Sepuluh negara pengekspor beras (total) dan tepung beras,

2006

2010

37

Gambar 3.14.

Sepuluh negara pengimpor beras (total) dan tepung beras,

2006

2010

39

Gambar 4.1.

Provinsi sentra produksi jagung di Indonesia, 2008 2012

44

Gambar 4.2.

Perkembangan luas panen jagung di Indonesia, 2011-2012

45

Gambar 4.3.

Perkembangan harga produsen dan harga konsumen jagung

di

Indonesia, 2009 -2011

46

Gambar 4.4.

Perkembangan harga produsen dan luas panen jagung di

Jawa Tengah dan Jawa Timur, 2011

47

Gambar 4.5.

Perkembangan harga internasional jagung, 2010 2012

49

Gambar 4.6.

Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan jagung Indonesia , 2008 - 2012

50

Gambar 4.7.

Kontribusi nilai ekspor jagung segar menurut wujud hasilnya,

2008

- 2012

53

Gambar 4.8.

Kontribusi nilai ekspor jagung olahan menurut wujud hasilnya,

2008

- 2012

54

Gambar 4.9.

Kontribusi nilai impor jagung segar menurut wujud hasilnya,

2008

- 2012

54

Gambar 4.10.

Kontribusi nilai impor jagung olahan menurut wujud hasilnya,

2008

- 2012

55

Gambar 4.11.

Negara

tujuan ekspor jagung Indonesia, 2012

56

Gambar 4.12.

Negara asal impor jagung Indonesia, 2012

58

Gambar 4.13.

Negara eksportir jagung pipilan kering terbesar dunia, 2006 -

2010

59

Gambar 4.14.

Negara importir jagung pipilan kering terbesar dunia, 2006 -

2010

61

xvi

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

Gambar 4.15.

Perkembangan nilai Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) jagung segar, olahan, dan total jagung Indonesia, 2008 -

 
 

2012

63

Gambar 5.1.

Provinsi sentra produksi bawang merah di Indonesia,

 

2008

2012

68

Gambar 5.2.

Perkembangan produksi bulanan bawang merah di Indonesia,

 

2009

-2011

69

Gambar 5.3.

Perkembangan harga produsen dan konsumen bawang merah

di

Indonesia, 2009 - 2011

70

Gambar 5.4.

Perkembangan harga produsen dan produksi bawang merah

di

Jawa Tengah dan Jawa Timur, 2011

72

Gambar 5.5.

Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan

bawang merah Indonesia, 2008 2012

73

Gambar 5.6.

Negara

tujuan utama bawang merah Indonesia, 2012

75

Gambar 5.7.

Negara asal utama bawang merah Indonesia, 2012

76

Gambar 5.8.

Negara eksportir bawang merah kering terbesar di dunia,

 

2006

- 2010

78

Gambar 5.9.

Negara importir bawang merah kering terbesar di dunia, 2006

-

2010

79

Gambar 5.10.

Negara eksportir bawang merah segar terbesar di dunia, 2006

-

2010

80

Gambar 5.11.

Negara importir bawang merah segar terbesar di dunia, 2006

-

2010

81

Gambar 6.1.

Provinsi sentra produksi tebu di Indonesia, 2008-2012

86

Gambar 6.2.

Perkembangan harga rata-rata gula pasir di dalam negeri,

 

1997

- 2012

87

Gambar 6.3.

Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir, 2009 -

 

2012

88

Gambar 6.4.

Perkembangan harga internasional gula pasir, 2010-2012

89

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

xvii

2013

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

2013 Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Gambar 6.5.

Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan

 

gula Indonesia, 2008-2012

91

Gambar 6.6.

Negara tujuan ekspor gula tebu Indonesia, 2012

94

Gambar 6.7.

Negara

asal Impor Gula Indonesia, 2012

95

Gambar

6.8.

Negara

eksportir gula terbesar di dunia, 2006-2010

96

Gambar

6.9.

Negara

Importir Gula terbesar di dunia, 2006-2010

96

Gambar 7.1.

Provinsi sentra produksi karet kering di Indonesia, 2008-2012

106

Gambar 7.2.

Perkembangan Harga Karet Getah Tebal di Indonesia, 2002-

2011

108

Gambar 7.3.

Perkembangan harga produsen getah karet tebal di beberapa

provinsi sentra

produksi, 2002 - 2011

108

Gambar 7.4.

Perkembangan harga internasional karet berdasarkan jenis

harga, 2002 2012

110

Gambar 7.5.

Perkembangan nilai ekspor, impor, dan neraca perdagangan

karet Indonesia, 2008 2012

112

Gambar 7.6.

Persentase ekspor dan impor karet primer dan manufaktur

Indonesia, 2012

113

Gambar 7.7.

Persentase ekspor karet Indonesia berdasarkan kode HS,

2008-2012

115

Gambar 7.8.

Negara Tujuan Ekspor Karet Wujud Manufaktur Indonesia,

2012

117

Gambar 7.9.

Negara Tujuan Ekspor Karet Wujud Primer Indonesia, 2012

118

Gambar 7.10.

Negara Asal Impor Karet Wujud Primer Indonesia, 2012

119

Gambar 7.11.

Negara eksportir karet terbesar dunia, 2006 - 2010

121

Gambar 7.12.

Negara importir karet terbesar dunia, 2006 - 2010

122

Gambar 7.13.

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) karet primer,

manufaktur dan total karet Indonesia, 2008 2012

124

Gambar 7.14.

Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio

(SSR) karet Indonesia, 2008 2012

125

xviii

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

2013

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 2013

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 2.1.

Perkembangan volume ekspor dan impor sub sektor

 

Pertanian, 2008 2012

18

Lampiran 2.2.

Perkembangan nilai neraca perdagangan sub sektor

Pertanian, 2008 2012

19

Lampiran 6.1.

Provinsi sentra produksi tebu di Indonesia, 2008-2012

100

Lampiran 6.2.

Perkembangan harga gula pasir di pasar dalam negeri, 1997

2012

100

Lampiran 6.3.

Perkembangan harga rata-rata konsumen gula pasir, 2009-

 

2012

101

Lampiran 6.4.

Perkembangan harga internasional gula, 2010-2012

101

Lampiran 6.5.

Ekspor gula tebu Indonesia menurut negara tujuan, 2012

101

Lampiran 6.6.

Impor gula tebu Indonesia menurut negara asal, 2012

102

Lampiran 6.7.

Negara Eksportir gula terbesar di dunia, 2006-2012

102

Lampiran 6.8.

Negara Importir gula terbesar di dunia, 2006-2012

103

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

xix

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. L ATAR BELAKANG

Peranan sektor pertanian dalam kegiatan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2012 yang cukup besar yaitu sekitar 14,44% atau setara Rp 1.190 trilyun (angka sangat sementara, BPS) dan menempati urutan kedua setelah sektor industri pengolahan. Sedangkan dari sisi penyerapan tenaga kerja sebesar 33,89 persen tenaga kerja terserap di sektor pertanian dari total tenaga kerja Indonesia. Perdagangan dalam negeri (domestik) dan perdagangan luar negeri (internasional) untuk komoditas pertanian yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan masih cukup luas untuk terus dikembangkan. Sektor pertanian sudah terbukti merupakan sektor yang dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional, mengingat sektor pertanian terbukti masih dapat memberikan kontribusi pada perekonomian nasional walaupun pada saat terjadi krisis. Hal ini dikarenakan terbukanya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian dan tingginya sumbangan devisa yang dihasilkan. Kementerian Pertanian menetapkan 4 sukses pembangunan pertanian, dimana salah satunya adalah “Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor”. Indonesia memiliki potensi besar untuk menggandakan perolehan ekspor berbagai komoditi pertanian di satu sisi, dan menekan impor, terutama komoditi-komoditi pertanian yang dapat dibudidayakan di dalam negeri. Untuk itu pelaksanaan pembangunan pertanian memerlukan paket kebijakan komprehensif yang mampu meningkatkan keunggulan kompetitif berbagai komoditi potensial untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus untuk menjamin keberlanjutan pembangunan pertanian nasional di tengah-tengah percaturan global dan mewujudkan swasembada pangan. Oleh karena itu, untuk

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

mewujudkan swasembada pangan dan meningkatkan kinerja ekspor pertanian sebagai salah satu andalan sumber devisa negara, maka kebijakan dan langkah-langkah terobosan ke depan sangat diperlukan. Berdasarkan hal tersebut, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) mulai tahun 2009 telah melakukan analisis mengenai kinerja perdagangan komoditas pertanian yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kinerja perdagangan beberapa komoditas unggulan pertanian serta posisi Indonesia di pasar internasional akan produk pertaniannya. Analisis ini diterbitkan dalam bentuk Buku Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian (ISSN No. 2086-4949). Analisis kinerja perdagangan Volume 4 No. 1 Tahun 2013 berisi analisis untuk komoditas beras, jagung, bawang merah, gula dan karet.

1.2. METODOLOGI

1.2.1. Sumber Data dan Informasi Analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian tahun 2013 disusun berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari data sekunder yang bersumber dari instansi terkait baik di lingkup Kementerian Pertanian maupun di luar Kementerian Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, Dewan Gula Indonesia, World Bank, Food and Agriculture

Organization (FAO), dan Uncomtrade.

1.2.2. Cakupan Komoditas

Cakupan komoditas pertanian yang dianalisis pada Buku Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 4 No. 1 Tahun 2013 antara lain meliputi komoditas unggulan nasional yaitu beras dan jagung (sub sektor tanaman pangan), bawang merah (sub sektor hortikultura), serta gula dan karet (sub sektor perkebunan).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

1.2.3. Metode Analisis Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian adalah sebagai berikut :

a. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan analisis keragaan, diantaranya dengan menyajikan nilai rata-rata pertumbuhan per tahun, rata-rata dan persen kontribusi (share) yang mencakup indikator kinerja perdagangan komoditas

pertanian meliputi :

Produksi dan Luas Panenindikator kinerja perdagangan komoditas pertanian meliputi : Harga produsen, konsumen, dan internasional Volume dan nilai

Harga produsen, konsumen, dan internasionalkomoditas pertanian meliputi : Produksi dan Luas Panen Volume dan nilai ekspor-impor, berdasarkan wujud

Volume dan nilai ekspor-impor, berdasarkan wujud segar/primer dan olahan/manufaktur, serta berdasarkan kode HS (Harmony Sistem ) Harmony Sistem)

Negara tujuan ekspor dan negara asal imporserta berdasarkan kode HS ( Harmony Sistem ) Negara eksportir dan importir dunia b. Analisis Inferensia

Negara eksportir dan importir duniaHarmony Sistem ) Negara tujuan ekspor dan negara asal impor b. Analisis Inferensia Analisis inferensia yang

b. Analisis Inferensia

Analisis inferensia yang digunakan dalam analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian antara lain :

kinerja perdagangan komoditas pertanian antara lain : Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) ISP digunakan untuk

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) ISP digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu komoditas, posisi Indonesia cenderung menjadi negara eksportir atau importir komoditas Pertanian tersebut. Secara umum ISP dapat dirumuskan sebagai berikut :

ISP

- M X ia ia X M ia ia
- M
X ia
ia
X
M
ia
ia

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

dimana :

X ia

M ia

= volume atau nilai ekspor komoditas ke-i Indonesia

= volume atau nilai impor komoditas ke-i Indonesia

Nilai ISP adalah

-1 s/d -0,5 : Berarti komoditas tersebut pada tahap pengenalan dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing rendah atau negara bersangkutan sebagai pengimpor suatu komoditas

-0,4 s/d 0,0

: Berarti komoditas tersebut pada tahap substitusi impor dalam perdagangan dunia

0,1 s/d 0,7

: Berarti komoditas tersebut dalam tahap perluasan ekspor dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang kuat

0,8 s/d 1,0 : Berarti komoditas tersebut dalam tahap pematangan dalam perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang sangat kuat.

perdagangan dunia atau memiliki daya saing yang sangat kuat. ( Revealed Comparative Advantage – RCA) dan

(Revealed Comparative

Advantage RCA) dan RSCA (Revealead Symetric Comparative Advantage)

Indeks

Keunggulan

Komparatif

Konsep comparative advantage diawali oleh pemikiran David Ricardo yang

melihat bahwa kedua negara akan mendapatkan keuntungan dari

perdagangan apabila menspesialisasikan untuk memproduksi produk-produk

yang memiliki comparative advantage dalam keadaan autarky (tanpa

perdagangan). Balassa (1965) menemukan suatu pengukuran terhadap

keunggulan komparatif suatu negara secara empiris dengan melakukan

penghitungan matematis terhadap data-data nilai ekspor suatu negara

dibandingkan dengan nilai ekspor dunia. Penghitungan Balassa ini disebut

Revealed Comparative Advantage (RCA) yang kemudian dikenal dengan

Balassa RCA Index :

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

dimana:

RCA

X ij X j X iw X w
X
ij
X
j
X
iw
X
w

X ij

X j

: Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia)

: Total nilai ekspor non migas negara j (Indonesia)

X

X

iw

: Nilai ekspor komoditi i dari dunia

w : Total nilai ekspor non migas dunia

Sebuah produk dinyatakan memiliki daya saing jika RCA>1, dan tidak berdaya saing jika RCA<1. Berdasarkan hal ini, dapat dipahami bahwa nilai RCA dimulai dari 0 sampai tidak terhingga. Menyadari keterbatasan RCA tersebut, maka dikembangkan Revealed

Symmetric Comparative Advantage (RSCA), dengan rumus sebagai berikut :

RSCA

Advantage ( RSCA ), dengan rumus sebagai berikut : RSCA (RCA -1) 1) (RCA Konsep RSCA

(RCA -1)

1)
1)

(RCA

Konsep RSCA membuat perubahan dalam penilaian daya saing, dimana nilai RSCA dibatasi antara -1 sampai dengan 1. Sebuah produk disebut memiliki daya saing jika memiliki nilai di atas nol, dan dikatakan tidak memiliki daya saing jika nilai dibawah nol.

dikatakan tidak memiliki daya saing jika nilai dibawah nol. Import Dependency Ratio (IDR) Import Dependency Ratio

Import Dependency Ratio (IDR)

Import Dependency Ratio (IDR) merupakan formula yang menyediakan informasi ketergantungan suatu negara terhadap impor suatu komoditas. Nilai IDR dihitung berdasarkan definisi yang dibangun oleh FAO (Food and

Agriculture Organization of the United Nations).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

Penghitungan nilai IDR tidak termasuk perubahan stok dikarenakan besarnya stok (baik dari impor maupun produksi domestik) tidak diketahui.

IDR

dari impor maupun produksi domestik) tidak diketahui. IDR Impor Produksi Impor Ekspor 100 Self Sufficiency Ratio

Impor

Produksi

produksi domestik) tidak diketahui. IDR Impor Produksi Impor Ekspor 100 Self Sufficiency Ratio (SSR) Nilai SSR

Impor

produksi domestik) tidak diketahui. IDR Impor Produksi Impor Ekspor 100 Self Sufficiency Ratio (SSR) Nilai SSR

Ekspor

domestik) tidak diketahui. IDR Impor Produksi Impor Ekspor 100 Self Sufficiency Ratio (SSR) Nilai SSR menunjukkan

100

Self Sufficiency Ratio (SSR) (SSR)

Nilai SSR menunjukkan besarnya produksi dalam kaitannya dengan kebutuhan dalam negeri. SSR diformulasikan sbb.:

SSR

dengan kebutuhan dalam negeri. SSR diformulasikan sbb.: SSR Produksi Produksi Impor Ekspor 100 Constant Market Share

Produksi

Produksi

dalam negeri. SSR diformulasikan sbb.: SSR Produksi Produksi Impor Ekspor 100 Constant Market Share Analysis (CMSA)

Impor

negeri. SSR diformulasikan sbb.: SSR Produksi Produksi Impor Ekspor 100 Constant Market Share Analysis (CMSA) Analisis

Ekspor

SSR diformulasikan sbb.: SSR Produksi Produksi Impor Ekspor 100 Constant Market Share Analysis (CMSA) Analisis CMS

100

Constant Market Share Analysis (CMSA) (CMSA)

Analisis CMS pertama sekali di perkenalkan oleh Tyszynski di tahun 1950, untuk menganalisis daya saing sebuah komoditi ke negara tertentu dengan kinerja perdagangan ke dunia. Model ini kemudian dikembangkan Leamer and Stern (1970) serta Richardson (1971) menyatakan keempat faktor yang mempengaruhi kinerja daya saing memiliki bobot yang sama. Namun, Milana (1981) menyatakan competitiveness effect seharusnya memiliki bobot yang lebih tinggi dibandingkan faktor lain dalam menentukan daya saing produk ekspor. Lebih lanjut Milana mengembangkan model CMS sebagai berikut :

q2-q1 = world growth effect + commodity composition effect + market distribution effect + competitiveness effect

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

dengan perhitungan lebih lanjut dari persamaan di atas adalah :

perhitungan lebih lanjut dari persamaan di atas adalah : world growth effect commodity composition effect market

world growth effectperhitungan lebih lanjut dari persamaan di atas adalah : commodity composition effect market distribution effect

lanjut dari persamaan di atas adalah : world growth effect commodity composition effect market distribution effect

commodity composition effectlanjut dari persamaan di atas adalah : world growth effect market distribution effect competitiveness effect Dimana

adalah : world growth effect commodity composition effect market distribution effect competitiveness effect Dimana : =

market distribution effect

commodity composition effect market distribution effect competitiveness effect Dimana : = = total ekspor negara asal
commodity composition effect market distribution effect competitiveness effect Dimana : = = total ekspor negara asal

competitiveness effect

Dimana :

=
=

= total ekspor negara asal ke negara mitra

= ekspor komoditi p dari negara ke negara mitra

= total ekspor komoditi p di dunia

= pangsa negara asal di dunia

= pangsa ekspor komoditi p dari negara asal di dunia

t = waktu pengamatan

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

II. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN

Globalisasi secara teoretis penuh dengan tuntutan atas negara-negara yang ingin (dipaksa harus) terlibat, seperti mengendurkan bea masuk, mengendurkan proteksi, mengurangi subsidi, memangkas regulasi ekspor- impor, perburuhan, investasi, dan harga, serta melakukan privatisasi atas perusahaan milik negara. Kondisi tersebut tidak akan banyak membawa produk-produk lokal ke pasar internasional. Syarat-syarat yang ditetapkan sesungguhnya merupakan perangkap yang sulit ditembus oleh negara dunia ketiga. Kecenderungannya akan mempercepat proses penurunan daya saing produk lokal. Pada perkembangnnya, segala sesuatu yang berbau lokal akan melemah dan hilang. Sementara itu dalam organisasi APEC (ASIA-Pacific Economic Cooperation) Indonesia telah berperan aktif dalam mencetuskan Bogor Goals, yaitu mewujudkan kawasan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka tahun 2010 untuk negara maju serta 2020 untuk negara berkembang. Anggota APEC saat ini merepresentasikan sepertiga populasi dunia dan hampir 50% kekuatan perekonomian global. Dengan kata lain, potensi pasar global dan gravitasi aktivitas ekonomi dunia berada di kawasan ini. Masalahnya kini, seberapa jauh manfaat dan efektivitas forum APEC bagi perdagangan dan investasi Indonesia. Disisi lain pemasaran antar wilayah (perdagangan domestik) komoditas pertanian pada umumnya terjadi karena adanya perbedaan tingkat penawaran dan permintaan yang mempengaruhi keragaman harga komoditas di setiap wilayah, aliran komoditas akan terjadi dari sentra produsen yang harganya lebih rendah ke daerah konsumen yang harganya lebih tinggi.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

2.1. PERKEMBANGAN NERACA PERDAGANGAN SEKTOR PERTANIAN

Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dilihat dari

neraca perdagangan luar negeri (ekspor dikurangi impor) komoditas pertanian

yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan

peternakan selama tahun 2008 sampai dengan 2012 terlihat mengalami surplus

baik dari sisi volume neraca perdagangan maupun nilai neraca perdagangan,

hal ini dapat dilihat secara rinci pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1.

Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia, 2008 2012

No.

Uraian

 

Tahun

Pertumb. (%)

2008

2009

2010

2011

2012

2008 - 2012

1

Ekspor

           

- Volume (Ton)

27.154.761

29.572.229

28.768.085

29.959.656

30.672.967

3,18

- Nilai (000 US$)

29.300.337

23.037.582

32.522.974

43.365.004

33.690.927

7,71

2

Impor

           

- Volume (Ton)

12.593.233

13.401.150

16.874.998

22.917.892

19.352.756

13,15

- Nilai (000 US$)

11.341.139

9.897.316

13.983.327

20.598.660

13.930.495

10,87

3

Neraca Perdagangan

           

- Volume (Ton)

14.561.528

16.171.080

11.893.087

7.041.764

11.320.211

1,14

- Nilai (000 US$)

17.959.198

13.140.266

18.539.647

22.766.344

19.760.432

5,96

Sumber : BPS diolah Pusdatin

Keterangan : -Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007

- Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur

Berdasarkan Tabel 2.1 terlihat bahwa surplus neraca perdagangan

komoditas pertanian dari tahun 2008 berfluktuasi. Pada tahun 2008 nilai neraca

perdagangan sebesar US$ 17,96 milyar namun tahun 2009 surplus neraca

perdagangan mengalami penurunan menjadi sebesar US$ 13,14 milyar

walaupun volumenya meningkat menjadi 16,17 juta ton. Surplus neraca

perdagangan ini terus meningkat hingga tahun 2012 menjadi US$ 19,76 milyar

dengan volume sebesar 11,32 juta ton.

Jika dilihat rata-rata pertumbuhannya per tahun, surplus volume neraca

perdagangan tahun 2008 - 2012 terlihat mengalami peningkatan yaitu rata-rata

sebesar 1,14% per tahun. Peningkatan laju ini terutama karena pertumbuhan

volume ekspor yang meningkat sebesar 3,18% per tahun dan volume impor

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

meningkat sebesar 13,15% per tahun. Demikian pula bila dilihat dari sisi nilai

neraca perdagangan menunjukkan peningkatan surplus dengan rata-rata

pertumbuhan per tahun sebesar 5,96%, di mana rata-rata pertumbuhan nilai

ekspor sebesar 7,71% per tahun dan nilai impor meningkat sebesar 10,87%

per tahun. Volume ekspor dan impor komoditas pertanian ini secara lebih

jelas dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini, yang secara umum

menunjukkan volume ekspor selalu lebih tinggi dibandingkan volume impornya

atau mengalami surplus dalam neraca perdagangan pertanian.

35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 - 2008 2009 2010 2011 2012 Volume Ekspor
35.000
30.000
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
-
2008
2009
2010
2011
2012
Volume Ekspor
Volume impor
(000 Ton)

Gambar 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor komoditas pertanian, 2008 2012

Dari sisi nilai neraca perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat pada

Gambar 2.2. Surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun

2011 yaitu sebesar US$ 22,77 Milyar, dengan nilai ekspor sebesar US$ 43,37

milyar dan nilai impor sebesar US$ 20,60 milyar. Sementara tahun 2009

tercatat adanya penurunan nilai neraca perdagangan dibandingkan tahun 2008,

baik untuk nilai ekspor, impor maupun surplus perdagangannya. Untuk tahun

2012, nilai ekspor dan impor juga mengalami penurunan serta nilai neraca

perdagangannya lebih rendah dibandingkan tahun 2011.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

45.000 40.000 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 - 2008 2009 2010 2011 2012
45.000
40.000
35.000
30.000
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
-
2008
2009
2010
2011
2012
Nilai Ekspor
Nilai Impor
Neraca Perdagangan
(Juta US$)

Gambar 2.2. Perkembangan nilai ekspor, impor dan neraca perdagangan komoditas pertanian, 2008 2012

2.2.

PERKEMBANGAN

PERTANIAN

NERACA

PERDAGANGAN

SUB

SEKTOR

Sub sektor perkebunan merupakan andalan nasional dalam neraca

perdagangan sektor pertanian, karena selalu mengalami surplus dan dapat

menutupi defisit yang dialami oleh sub sektor lainnya. Neraca perdagangan sub

sektor pertanian secara rinci disajikan pada Lampiran 2.2. Surplus neraca

perdagangan sektor pertanian terjadi karena lebih dari 90% berasal dari nilai

ekspor komoditas perkebunan dengan persentase impor yang lebih kecil,

sebaliknya untuk sub sektor lainnya persentase kontribusi nilai impor jauh lebih

tinggi dibandingkan ekspornya (Gambar 2.3).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Nilai Ekspor tanaman pangan, 1,17% hortikultura; peternakan, 1,39% 3,09% perkebunan; 94,35%
Nilai Ekspor
tanaman
pangan,
1,17%
hortikultura;
peternakan,
1,39%
3,09%
perkebunan;
94,35%
Nilai Impor tanaman peternakan; pangan; 19,25% 33,20% hortikultura; perkebunan; 9,90% 37,66%
Nilai Impor
tanaman
peternakan;
pangan;
19,25%
33,20%
hortikultura;
perkebunan;
9,90%
37,66%

Gambar 2.3. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata nilai ekspor dan impor, 2008 - 2012

Demikian pula halnya dari sisi volume ekspor, terlihat pada Gambar 2.4

menunjukkan sub sektor perkebunan merupakan sub sektor yang berkontribusi

cukup besar terhadap total volume ekspor pertanian. Lebih dari 90% volume

ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dan bila dilihat

kontribusi volume impornya hanya sebesar 18,31% dari total volume impor

komoditas pertanian. Sementara untuk sub sektor lainnya persentase impor

justru lebih tinggi dibandingkan ekspornya. Volume impor yang terbesar adalah

sub sektor tanaman pangan mencapai 64,18% dari volume impor total

pertanian. Secara rinci volume ekspor dan impor per sub sektor pertanian

tahun 2008 2012 disajikan pada Lampiran 2.1.

Volume Ekspor tanaman pangan; peternakan; 2,44% hortikultura; 1,86% 1,48% perkebunan; 94,22%
Volume Ekspor
tanaman
pangan;
peternakan;
2,44%
hortikultura;
1,86%
1,48%
perkebunan;
94,22%
Volume Impor perkebunan; peternakan; 18,31% 7,11% tanaman pangan; 64,18% hortikultura; 10,40%
Volume Impor
perkebunan;
peternakan;
18,31%
7,11%
tanaman
pangan;
64,18%
hortikultura;
10,40%

Gambar 2.4. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata volume ekspor dan impor, 2008 2012

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

Bila dilihat pada Lampiran 2.2 nilai surplus sub sektor perkebunan tahun

2008 sebesar US$ 22,83 milyar dan mengalami penurunan pada tahun 2009

menjadi US$ 17,63 milyar, namun pada tahun-tahun berikutnya surplus nilai

perdagangan sub sektor perkebunan terus mengalami peningkatan menjadi

US$ 29,37 milyar di tahun 2012 dengan rata-rata pertumbuhan per tahun

meningkat sebesar 9,61%. Dimana rata-rata pertumbuhan per tahun nilai

ekspor naik sebesar 8,37% dan nilai impor naik sebesar 5,40%. Sementara

nilai neraca perdagangan sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan

peternakan selalu mengalami defisit. Selama periode 2008 2012 besarnya

defisit subsektor tanaman pangan, hortikultura dan peternakan cenderung

meningkat rata-rata masing-masing sebesar 25,37%, 28,27% dan 18,50% per

tahun seperti tersaji pada Gambar 2.5.

35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 - 2008 2009 2010 2011 2012 (5.000) (10.000)
35.000
30.000
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
-
2008
2009
2010
2011
2012
(5.000)
(10.000)
Tanaman Pangan
Hortikultura
Perkebunan
Peternakan
(000 Ton)

Gambar 2.5. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian, 2008 2012

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

2.3.

GAMBARAN

UMUM

KINERJA

PERDAGANGAN

KOMODITAS

PERTANIAN

Kinerja perdagangan suatu komoditas dapat dilihat dari besarnya ekspor,

impor dan neraca perdagangan. Nilai neraca perdagangan komoditas beras,

jagung, bawang merah, dan gula pasir selalu mengalami defisit, sementara

untuk komoditas karet selalu mengalami surplus yang berarti volume dan nilai

ekspor karet lebih besar dibandingkan dengan volume dan nilai impornya.

Selama periode tahun 2008-2012, defisit neraca perdagangan beras,

jagung, bawang merah dan gula pasir mengalami peningkatan dari sisi nilai

masing-masing sebesar 127,91%, 123,73%, 16,44% dan 31,60% pertahun.

Sedangkan pertumbuhan neraca perdagangan karet dari sisi nilai mengalami

peningkatan surplus sebesar 28,87% per tahun.

Tabel 2.2.

Perkembangan neraca perdagangan komoditas beras, jagung, bawang merah, gula dan karet Indonesia, 2008 2012

   

Rata-rata

Komoditas

 

Neraca Perdagangan (000 US $)

 

Pertumb.

2008

2009

2010

2011

2012

(%)

Beras

-122.848

-105.918

-360.230

-1.507.985

-1.005.638

127,91

Jagung

-106.535

-88.160

-472.128

-1.065.750

-542.588

123,73

Bawang Merah

-49.281

-24.595

-32.047

-70.849

-45.668

16,44

Gula

-357.642

-608.355

-1.145.148

-1.790.880

-208.975

31,60

Karet

5.409.209

2.907.621

6.605.386

10.679.254

7.782.703

28,87

Sumber: BPS, diolah Pusdatin

Nilai ISP komoditas beras secara total mempunyai nilai negatif pada

kisaran sebesar -0,99 hingga -0,96 yang berarti bahwa komoditas beras

Indonesia mempunyai daya saing yang sangat rendah. Komoditas lainnya yaitu

jagung, bawang merah dan gula pasir juga bernilai negatif yang cukup besar.

Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan jagung besar, bawang merah dan

gula tebu Indonesia masih dalam tahap pengenalan. Sementara untuk

komoditas karet Indonesia mempunyai daya saing yang sangat kuat atau pada

tahap pematangan dalam perdagangan dunia (tabel 2.3).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

Tabel 2.3.

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) komoditas beras, jagung, bawang merah, gula pasir dan karet Indonesia, 2008 2012

Komoditas

 

ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan)

 

2008

2009

2010

2011

2012

Beras

-0,985

-0,963

-0,997

-0,998

-0,997

Jagung

-0,645

-0,696

-0,951

-0,966

-0,880

Bawang Merah

-0,845

-0,739

-0,898

-0,843

-0,722

Gula Tebu

-0,691

-0,790

-0,875

-0,919

-0,693

Karet

0,784

0,728

0,793

0,805

0,980

Sumber: BPS, diolah Pusdatin

Perhitungan nilai IDR beras Indonesia pada periode tahun 2008 2012

supply beras Indonesia tergantung pada beras impor berkisar antara 0,39%

sampai 4,01%. Ketergantungan pada beras impor walaupun dalam kuantitas

yang kecil ini utamanya adalah pada jenis beras segar. Nilai SSR komoditas

beras Indonesia dari tahun 2008 hingga 2012 lebih dari 90%, yang berarti

bahwa hampir sebagian besar kebutuhan beras dalam negeri dapat dipenuhi

oleh produksi domestik. Untuk komoditas jagung, bawang merah dan gula tebu

nilai SSR juga bernilai positif yang menunjukkan bahwa Indonesia sudah bisa

mencukupi kebutuhan komoditas tersebut dalam negeri dengan proporsi yang

cukup besar dari produksi sendiri. Sementara kemampuan produksi karet dalam

negeri terlihat cukup tinggi bahkan sebagian besar untuk diekspor/surplus, hal

ini dapat dilihat dari SSR tahun 2008 sampai 2012 yang menunjukkan angka

positif dan cukup besar persentasenya.

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Tabel 2.4.

IDR dan SSR komoditas beras, jagung, bawang merah, gula pasir dan karet Indonesia, 2008 2012

Komoditas

2008

Import Dependency Ratio (%)

Komoditas

Self Sufficiency Ratio (%)

2008

2009

2010

2011

2012

Beras

 

99,52

99,62

98,98

96,00

97,28

Jagung

98,28

98,08

91,32

84,33

90,99

Bawang Merah

88,06

94,65

93,74

85,89

90,30

Gula Tebu

93,19

70,36

59,85

51,07

95,86

Karet

399,38

379,67

415,54

421,92

485,71

Sumber: BPS, diolah Pusdatin

Berdasarkan hasil perhitungan nilai RSCA menunjukkan bahwa komoditas

beras Indonesia secara umum tidak mempunyai daya saing di pasar dunia. Hal

ini ditunjukkan dengan nilai RSCA yang negatif bahkan hingga -0,99% pada

tahun 2010 dan 2011. Untuk komoditas jagung, bawang dan gula juga

menunjukkan bahwa komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan komperatif

di perdagangan dunia. Sedangkan untuk komoditas karet Indonesia memiliki

keunggulan komperatif yang cukup besar di pasar dunia, hal ini ditunjukkan

nilai RSCA tahun 2008 - 2011 mendekati nilai 1 dan relatif stabil selama periode

tersebut.

Tabel 2.5.

Indeks keunggulan komparatif (RSCA) komoditas beras, jagung, bawang merah, gula dan karet Indonesia dalam perdagangan dunia, 2008 2011

Komoditas

Revealead Symetric Comparative Advantage (RSCA)

2008

2009

2010

2011

Beras

-0,98

-0,97

-0,99

-0,99

Jagung segar

-0,96

-0,96

-0,94

-0,59

Bawang Merah

-0,56

-0,61

-0,88

-0,64

Gula

-0,25

-0,35

-0,51

-0,65

Karet

0,95

0,95

0,95

0,95

Sumber: BPS dan UNComtrade diolah Pusdatin

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

Lampiran 2.1. Perkembangan volume ekspor dan Pertanian, 2008 - 2012

impor sub sektor

Tahun (Ton) Rata-rata Pertumb. (%) No. Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 2008 - 2012
Tahun (Ton)
Rata-rata
Pertumb. (%)
No.
Uraian
2008
2009
2010
2011
2012
2008 - 2012
2008 - 2012
1
Volume Ekspor
- Tanaman Pangan
812.290
786.627
892.454
807.265
234.274
706.582
-17,56
- Hortikultura
524.485
447.609
364.139
381.648
426.576
428.891
-4,18
- Perkebunan
25.182.681
27.864.811
27.017.306
27.863.746
29.826.443
27.550.997
4,45
- Peternakan
635.304
473.182
494.186
906.997
185.675
539.069
-4,27
635.304 473.182 494.186 906.997 185.675 539.069 -4,27 Pertanian 27.154.760 29.572.229 28.768.085 29.959.656
635.304 473.182 494.186 906.997 185.675 539.069 -4,27 Pertanian 27.154.760 29.572.229 28.768.085 29.959.656

Pertanian

27.154.760

29.572.229

28.768.085 29.959.656

30.672.968

29.225.540 3,18

2 Volume Impor - Tanaman Pangan 7.414.293 7.788.215 10.504.604 15.363.009 14.440.737 11.102.172 20,04 -
2 Volume Impor
- Tanaman Pangan
7.414.293
7.788.215
10.504.604 15.363.009
14.440.737
11.102.172 20,04
- Hortikultura
1.429.967
1.524.666
1.560.808 2.052.271
2.138.802
1.741.303 11,17
- Perkebunan
2.683.739
2.963.532
3.578.061 4.311.982
1.571.475
3.021.758 -2,97
- Peternakan
1.065.235
1.124.737
1.231.525 1.190.630
1.201.742
1.162.774 3,17
Pertanian
12.593.234
13.401.150 16.874.998
22.917.892 19.352.756
16.164.851 13,15
% terhadap Pertanian
3 Volume Ekspor
- Tanaman Pangan
2,99
2,66
3,10
2,69
0,76
2,44
- Hortikultura
1,93
1,51
1,27
1,27
1,39
1,48
- Perkebunan
92,74
94,23
93,91
93,00
97,24
94,22
- Peternakan
2,34
1,60
1,72
3,03
0,61
1,86
4 Volume Impor
- Tanaman Pangan
58,88
58,12
62,25
67,04
74,62
64,18
- Hortikultura
11,36
11,38
9,25
8,95
11,05
10,40
- Perkebunan
21,31
22,11
21,20
18,81
8,12
18,31
- Peternakan
8,46
8,39
7,30
5,20
6,21
7,11

Sumber : BPS diolah Pusdatin

Keterangan : Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007

Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

Lampiran 2.2. Perkembangan nilai neraca perdagangan sub sektor pertanian, 2008 - 2012

No.

Uraian

 

Tahun (000 US$)

 

Rata-rata

Pertumb. (%)

2008

2009

2010 2011

2012

2008 - 2012

2008 - 2012

2009 2010 2011 2012 2008 - 2012 2008 - 2012 1 Nilai Ekspor   - Tanaman
2009 2010 2011 2012 2008 - 2012 2008 - 2012 1 Nilai Ekspor   - Tanaman
2009 2010 2011 2012 2008 - 2012 2008 - 2012 1 Nilai Ekspor   - Tanaman
2009 2010 2011 2012 2008 - 2012 2008 - 2012 1 Nilai Ekspor   - Tanaman

1

Nilai Ekspor

 

-

Tanaman Pangan

348.883

321.261

477.708

584.861

150.705

376.684

-2,76

-

Hortikultura

433.921

379.739

390.740

491.304

504.538

440.048

4,71

-

Perkebunan

27.369.363

21.581.669

30.702.864

40.689.768

32.479.157

30.564.564

8,37

-

Peternakan

1.148.170

754.913

951.662

1.599.071

556.527

1.002.069

-1,34

 

Pertanian

29.300.337

23.037.582

32.522.974

43.365.004

33.690.927

32.383.365

7,71

2

Nilai Impor

 

- Tanaman Pangan

3.526.957

2.737.862

3.893.840

7.023.936

6.306.808

4.697.881

22,51

- Hortikultura

926.045

1.077.463

1.292.988

1.686.131

1.813.405

1.359.206

18,58

- Perkebunan

4.535.918

3.949.191

6.028.160

8.843.792

3.112.181

5.293.848

5,40

- Peternakan

2.352.219

2.132.800

2.768.339

3.044.801

2.698.100

2.599.252

4,77

 

Pertanian

11.341.139

9.897.316

13.983.327

20.598.660

13.930.494

13.950.187

10,87

3

Neraca Perdagangan

 

- Tanaman Pangan

-3.178.074

-2.416.601

-3.416.132

-6.439.075

-6.156.103

-4.321.197

25,37

- Hortikultura

-492.124

-697.724

-902.248

-1.194.827

-1.308.867

-919.158

28,27

- Perkebunan

22.833.445

17.632.478

24.674.704

31.845.976

29.366.976

25.270.716

9,61

-

Peternakan

-1.204.049

-1.377.887

-1.816.677

-1.445.730

-2.141.573

-1.597.183

18,50

 

Pertanian

17.959.198

13.140.266

18.539.647

22.766.344

19.760.433

18.433.178

5,96

     

% terhadap Pertanian

 

4

Nilai Ekspor

           

- Tanaman Pangan

1,19

1,39

1,47

1,35

0,45

1,17

- Hortikultura

1,48

1,65

1,20

1,13

1,50

1,39

- Perkebunan

93,41

93,68

94,40

93,83

96,40

94,35

- Peternakan

3,92

3,28

2,93

3,69

1,65

3,09

5

Nilai Impor

           

-

Tanaman Pangan

31,10

27,66

27,85

34,10

45,27

33,20

-

Hortikultura

8,17

10,89

9,25

8,19

13,02

9,90

-

Perkebunan

40,00

39,90

43,11

42,93

22,34

37,66

-

Peternakan

20,74

21,55

19,80

14,78

19,37

19,25

Sumber : BPS diolah Pusdatin

Keterangan : Data tahun 2008 s/d 2011 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTBMI 2007

Data tahun 2012 menggunakan kode HS sesuai dengan klasifikasi BTKI 2012 serta revisi cakupan terutama wujud olahan/manufaktur

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No.1 Thn. 2013

III. KINERJA PERDAGANGAN BERAS

Beras merupakan kebutuhan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Bahkan sebagian penduduk yang makanan pokoknya non beras seperti sagu atau yang lainnya, saat ini diperkirakan banyak beralih mengkonsumsi beras. Konsumsi beras per kapita mempunyai kecenderungan mengalami penurunan yakni dari 115,60 kg/kapita/tahun pada tahun 1993 menjadi 97,65 kg/kapita/tahun pada tahun 2012 (Susenas, BPS). Produksi beras dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, walaupun mempunyai kecenderungan laju pertumbuhannya sedikit melambat. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk Indonesia melaju dengan cepat, yakni 1,49% per tahun pada periode tahun 2000-2010 (Statistik Indonesia 2011, BPS). Kinerja perdagangan komoditas beras ini disusun untuk memenuhi kebutuhan akan informasi mengenai situasi global komoditas beras. Data yang digunakan dalam kajian ini adalah bersumber dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan , FAO, USDA dan Uncomtrade.

3.1 SENTRA PRODUKSI BERAS

Padi selama ini dibudidayakan hampir di semua provinsi di Indonesia sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Bahkan di beberapa daerah, penanamannya bisa mencapai 3 kali dalam satu tahun. Berdasarkan data produksi rata-rata 5 tahun terakhir pada periode 2008 2012, sebesar 77% produksi padi di Indonesia disumbang oleh 9 provinsi sentra. Provinsi sentra produksi padi didominasi oleh Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing memberikan kontribusi sebesar 17,22% (setara 11,23 juta ton GKG), 17,20% (11,22 juta ton GKG), dan 14,87% (9,69 juta ton GKG). Sementara, provinsi-provinsi lainnya hanya berkontribusi dibawah 7% (Gambar 3.1 dan Tabel 3.1).

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 4 No. 1 Thn. 2013

lainnya Jabar 22,85% 17,20% Kalbar 3,03% Sumbar 3,35% Jatim Lampung 17,22% 4,25% Sumsel Jateng Sumut
lainnya
Jabar
22,85%
17,20%
Kalbar
3,03%
Sumbar
3,35%
Jatim
Lampung
17,22%
4,25%
Sumsel
Jateng
Sumut
4,92%
Sulsel
14,87%
5,45%
6,84%

Gambar 3.1. Provinsi sentra produksi padi di Indonesia, 2008 - 2012

Tabel 3.1. Perkembangan produksi padi di provinsi sentra di Indonesia, 2008

2012

No

Share Produksi (Ton) Rata-rata Share Provinsi kumulatif 2008 2009 2010 2011 (Ton) 2012 (%) (%)
Share
Produksi (Ton)
Rata-rata
Share
Provinsi
kumulatif
2008 2009
2010 2011
(Ton)
2012
(%)
(%)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Jawa Timur

10.474.773

11.259.085

11.643.773

10.576.543

12.198.707

11.230.576

17,22

17,22

Jawa Barat

10.111.069

11.322.681

11.737.070

11.633.891

11.271.861

11.215.314

17,20

34,43

Jawa Tengah

9.136.405

9.600.415

10.110.830

9.391.959

10.232.934

9.694.509

14,87

49,29

Sulawesi Selatan

4.083.356

4.324.178

4.382.443

4.511.705

5.003.011

4.460.939

6,84

56,14

Sumatera Utara

3.340.794