Anda di halaman 1dari 92

UNIVERSITAS INDONESIA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


PROGRAM DIPLOMA 3
BIDANG ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI PERPAJAKAN

LAPORAN MAGANG

FAKTUR PAJAK STANDAR, PERMASALAHAN DAN


IMPLIKASINYA PADA SPT MASA PPN

Oleh
INDAH PURNAMASARI WULANTI
0606133826

Diajukan sebagai salah satu pemenuhan syarat tugas akhir studi

Depok
2009
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM DIPLOMA 3
BIDANG ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI PERPAJAKAN

LAPORAN MAGANG

FAKTUR PAJAK STANDAR, PERMASALAHAN DAN


IMPLIKASINYA PADA SPT MASA PPN

Oleh
INDAH PURNAMASARI WULANTI
0606133826

Diajukan sebagai salah satu pemenuhan syarat tugas akhir studi

Depok
2009

i
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM DIPLOMA 3 BIDANG ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI PERPAJAKAN

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : Indah Purnamasari Wulanti


NPM : 0606133826
Program Studi : Administrasi Perpajakan

Menyatakan bahwa Laporan Magang yang berjudul Faktur Pajak Standar,


Permasalahan dan Implikasinya Pada SPT Masa PPN benar-benar merupakan
hasil karya pribadi dari seluruh sumber yang dikutip maupun ditunjuk telah saya
nyatakan dengan benar.

28 Mei 2009

Indah Purnamasari Wulanti


NPM: 0606133826

ii
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM DIPLOMA 3 BIDANG ILMU ADMINISTRASI
PROGRAM STUDI PERPAJAKAN

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN

TANDA TANGAN PEMERIKSA

NAMA :
TANGGAL :

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini yang berjudul FAKTUR

PAJAK, PERMASALAHAN DAN IMPLIKASINYA PADA SPT MASA

PPN. Tulisan ini disusun untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan studi

Diploma III pada Jurusan Administrasi Perpajakan, di Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca dengan

tujuan menyempurnakan karya tulis ini sangat diharapkan dan akan diterima

dengan senang hati. Dalam menyusun tugas akhir ini, penulis banyak

mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Drs. Moh. Riduansyah, M.Si., selaku Ketua Program Diploma III

Bidang Ilmu Administrasi, FISIP UI.

2. Bapak Drs. Adang Hendrawan, M.Si., selaku Sekretaris Program Diploma III

Bidang Ilmu Administrasi, FISIP UI.

3. Ibu Dr. Haula Rosdiana, M.Si., selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi

Perpajakan, FISIP UI.

4. Mas Arie Widodo, MSM., selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak

meluangkan waktu guna memberikan bimbingan, pengarahan dan saran-saran

kepada penulis sehingga terselesaikannya kerya tulis ini.

iv
5. Segenap Dosen Diploma III Jurusan Administrasi Perpajakan, FISIP UI yang

telah memberikan ilmunya kepada penulis.

6. Kedua Orang Tua dan Saudara tercinta yang senantiasa mendoakan dan

memberikan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan studi Diploma

Tiga Bidang Ilmu Administrasi Perpajakan di FISIP UI.

7. Segenap Pimpinan dan Karyawan Kantor Konsultan Pajak Surya yang telah

membina dan memberikan ilmu selama penulis melaksanakan magang.

8. Feli dan Anin, teman yang telah membantu mendapatkan tempat magang.

9. Rekan-rekan SCALA Institute dan SCALA Foundation (Liya, Yanti, Novi,

Ismi, Afandri, Afra, Andreko, Irfan, Askab, dll), yang turut mendoakan dan

membantu menyelesaikan karya tulis ini.

10. Risya Ayu Ichmawati, sahabat penulis yang juga memotivasi penulis.

11. Teman-teman satu angkatan Jurusan Perpajakan 2006 (Indah Puspita, Genida,

Yudi, Pamela, Ega, Rizqina, dkk), terima kasih atas kerja samanya.

Semoga segala bantuan dan bimbingan dari semua pihak di atas dapat

menjadi pedoman bagi penulis dalam menghadapi masalah-masalah di masa yang

akan datang. Dengan tersusunnya karya tulis ini, harapan penulis semoga berguna

bagi para pembaca khususnya dan masyarakat umumnya. Dan semoga kegiatan

penulisan karya tulis ini juga bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Jakarta, Mei 2009

Penulis

v
DAFTAR ISI

halaman
LEMBAR JUDUL.............................................................................................. i
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN........................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN............................................................ iii
KATA PENGANTAR........................................................................................ iv
DAFTAR ISI....................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... vii
DAFTAR TABEL............................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan....................................................... 1
B. Kerangka Teori............................................................................. 4
C. Tujuan Penulisan.......................................................................... 15
D. Sistematika Penulisan................................................................... 16

BAB II GAMBARAN UMUM KKP SURYA


A. Sejarah KKP Surya....................................................................... 17
B. Visi dan Misi KKP Surya............................................................. 18
C. Struktur Organisasi KKP Surya.................................................... 18
D. Produk KKP Surya....................................................................... 20
E. Organisasi dan Manajemen KKP Surya....................................... 21
F. Penempatan Magang Penulis........................................................ 23

BAB III PEMBAHASAN DAN IDENTIFIKASI PERMASALAHAN


FAKTUR PAJAK STANDAR
A. Objek dan Subjek PPN................................................................. 25
B. Faktur Pajak.................................................................................. 29
C. Faktur Pajak Standar..................................................................... 30
D. Faktur Pajak Standar Cacat dan Sanksi Terkait............................ 37
E. Jangka Waktu dan Tata Cara Pembetulan
Faktur Pajak Cacat........................................................................ 38
F. Implikasi Pada SPT Masa PPN..................................................... 40
G. Mekanisme Pengkreditan.............................................................. 42
H. Identifikasi Kelengkapan Data/Keterangan
Faktur Pajak Standar (Penjualan dan Pembelian)
PT. KTB........................................................................................ 45

BAB IV PENUTUP
A. Simpulan................................................................................. 49
B. Saran....................................................................................... 51

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

vi
DAFTAR GAMBAR

halaman

Gambar II.1. Struktur Organisasi KKP Surya.................................................... 19

Gambar III.1. Faktur Pajak Standar Rupiah (Rp)................................................ 33

Gambar III.2. Faktur Pajak Standar Valas........................................................... 34

Gambar III.3. Cap Faktur Pajak Standar Pengganti............................................. 40

vii
DAFTAR TABEL

halaman

Tabel III.1. Data Kelengkapan Faktur Pajak Keluaran PT. KTB.................... 45

Tabel III.2. Data Kelengkapan Faktur Pajak Masukan PT. KTB.................... 46

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 PER-159/PJ./2006 tentang Saat Pembuatan, Bentuk, Ukuran,

Pengadaan, Tata Cara Penyampaian dan Tata Cara Pembetulan

Faktur Pajak Standar

Lampiran 2 Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pajak

Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas

Barang Mewah

Lampiran 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002 tentang Perubahan

Atas Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pajak

Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas

Barang Mewah

Lampiran 4 KMK Nomor 568/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Penghitungan,

Pemungutan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai

Atas Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan atau

Jasa Kena Pajak Dari Luar Daerah Pabean

Lampiran 5 Formulir Faktur Pajak Standar Keluaran PT. KTB

Lampiran 6 Formulir Faktur Pajak Standar Masukan PT. KTB

ix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

A.1. Permasalahan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Bicara tentang Pengusaha terutama mereka yang telah melegitimasikan

diri sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) tentu tidak terlepas dari persoalan

pajak, yang terkadang bagi sebagian pengusaha menjadi momok yang

’menakutkan’. Salah satu hal yang dapat membuat senewen para pengusaha

kena pajak adalah berkaitan dengan kegiatan perusahaan dalam hal

penyerahan maupun pembelian yang barang atau jasanya tergolong ke dalam

Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang akan dikenakan

Pajak Pertambahan Nilai (PPN), karena seperti yang telah ditetapkan oleh

pemerintah melalui undang-undang bahwa setiap kali terjadi pemungutan PPN

akan selalu ada Faktur Pajak yang wajib diterbitkan (dibuat).

Namun, hingga kini masih banyak di antara pengusaha kena pajak yang

kurang atau bahkan tidak memahami ketentuan tentang pembuatan Faktur

Pajak, baik terkait persyaratan formal maupun persyaratan yang sifatnya

material. Hal ini dapat sedikit dimaklumi karena memang faktanya peraturan

perpajakan tidak atau belum sepenuhnya tersosialisasikan dengan baik kepada

1
para PKP. Ditambah dengan kesibukkan PKP dalam melakukan aktivitas

bisnis dan kecenderungan untuk mengabaikan aspek perpajakan, maka

lengkaplah sudah sebab-musabab terjadinya kekurangpahaman atau

ketidakpahaman tersebut. 1

Hal ini pada akhirnya mengundang berbagai pertanyaan yang sangat

variatif dari kalangan PKP tersebut. Ada yang bertanya tentang jenis-jenis

Faktur Pajak, apa saja perbedaan masing-masing Faktur Pajak tersebut,

bagaimana mengisinya, apa saja kriteria Faktur Pajak cacat, bagaimana bila

Faktur Pajak hilang dan jumlahnya ternyata material padahal PKP tersebut

berkepentingan untuk mengkreditkannya, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Akan tetapi, dalam tataran tertentu berbagai pertanyaan yang timbul tersebut

masih dapat dikatakan wajar, khususnya bagi Wajib Pajak Badan yang baru

dan relatif belum berpengalaman tentang seluk beluk Faktur Pajak. 2

A.2. Pentingnya Faktur Pajak

Sekali lagi, dalam transaksi bisnis apapun, Faktur Pajak merupakan

dokumen yang hampir dapat dipastikan selalu ada karena dalam undang-

undang PPN yang berlaku hingga saat ini menganut sistem faktur. Dan hal ini

didasarkan pula pada fakta bahwa bisnis yang dijalankan pada umumnya pasti

berkaitan dengan penyediaan, penjualan, ekspor atau impor barang dan atau

jasa. Dalam hal ini, barang dan jasa yang umumnya dijadikan lahan bisnis

tersebut merupakan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang mana atas

1
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.1)”, Indonesian Tax Review, Vol. IV, Edisi
03/2004, hlm. 6.
2
Tim ITR, “Episode Faktur Pajak”, Indonesian Tax Review, Vol. IV, Edisi 04/2004, hlm.
1.

2
penjualan, ekspor dan atau impornya merupakan objek pengenaan dan

pemungutan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan

atas Barang Mewah. Dapat dikatakan bahwa Faktur Pajak adalah dokumen

yang sakral, karena ketentuan mengenai Faktur Pajak memang diatur sangat

ketat. Hal yang perlu diperhatikan dalam penerbitan Faktur Pajak ini adalah

keakuratan informasi yang ada dalam Faktur Pajak itu sendiri, baik dari segi

material (jumlah) dan juga informasi yang bersifat nonmaterial yang secara

formal telah digariskan dalam ketentuan perpajakan. 3

Dalam praktiknya, pengusaha biasanya sangat berhati-hati dalam masalah

Faktur Pajak, karena tak pelak kesalahan dalam menerbitkan Faktur Pajak

dapat berakibat pada tidak diakuinya Pajak Masukan yang ada dalam Faktur

Pajak. Selain itu juga, dalam pemeriksaan pajak seringkali pemeriksa pajak

mengoreksi Pajak Masukan yang telah dibayar oleh pengusaha hanya karena

hal yang sifatnya remeh-temeh. Contohnya PKP yang lupa mencoret kolom

harga jual/penggantian/uang muka/termin. Pemeriksa pajak beranggapan

bahwa tidak dicoretnya kolom tersebut menyebabkan tidak jelasnya informasi

yang disampaikan dalam Faktur Pajak, sehingga dikatakan Faktur Pajak

tersebut cacat dan pemeriksa kemudian mengoreksi Pajak Masukan PKP

pembeli. 4

Namun, apapun alasan atau sebab musababnya, konsekuensi akibat dari

kekurangpahaman atau ketidakpahaman mengenai ketentuan yang mengatur

masalah Faktur Pajak ini dapat mengakibatkan pengenaan sanksi yang


3
Tim ITR, “Faktur Pajak yang Salah Harus Diperbaiki”, Indonesian Taz Review, Vol. VI,
Edisi 33/2007, hlm. 22.
4
Ibid, hlm. 24.

3
jumlahnya tidak sedikit. Bahkan, pada beberapa kasus, kadang mengakibatkan

kebangkrutan.

Satu hal yang pasti adalah kita memiliki kewajiban khususnya bagi para

pengusaha kena pajak maupun calon PKP untuk mencari pemahaman dan

jalur yang benar yang dapat menuntun kita dalam menjalankan kewajiban

perpajakan dengan baik termasuk seluk-beluk Faktur Pajak sebagai bagian

dari kewajiban PPN. Dan hal-hal lain yang menjadi grey area pun tidak boleh

dijadikan penghalang. 5

Berpijak pada hal itulah, dalam karya tulis ini penulis mencoba untuk

setidaknya memberikan benteng dengan pengetahuan tentang hal-hal yang

masih tidak jelas itu. Hal ini akan memberikan manfaat tersendiri berupa

kemungkinan untuk merancang transaksi agar tidak ’bertemu’ dengan hal-hal

yang masih bersifat grey area itu, jika tidak siap dengan konsekuensinya.

B. Kerangka Teori

Beberapa teori terkait dengan permasalahan yang akan dibahas dalam karya

tulis ini diantaranya:

B.1. Pengertian Pajak

Terdapat bermacam-macam pengertian pajak yang dikemukakan oleh

para ahli, 6 diantaranya:

1. Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., & Brock Horace R

menyatakan bahwa, pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor

5
Tim ITR, “Episode Faktur Pajak”, loc.cit.
6
http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi Pajak, 14 April 2009.

4
swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun

wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu,

tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah

dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.

2. Sementara itu, Prof. Dr. P. J. A. Adriani dalam bukunya Pengantar Ilmu

Hukum Pajak, merumuskan pajak sebagai: iuran masyarakat kepada

negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib

membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang)

dengan tidak mendapat kontraprestasi kembali yang langsung dapat

ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-

pengeluaran umum sehubung tugas negara untuk menyelenggarakan

pemerintahan.

3. Kemudian, Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH, guru besar dalam Hukum

Pajak pada Universitas Pajajaran, Bandung, memaparkan lebih lanjut

mengenai definisi pajak yaitu, pajak adalah iuran rakyat kepada Kas

Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak

mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan

dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi

tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak

adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk

membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public

saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public

investment.

5
B.2. Penggolongan Pajak

Menurut Safri Nurmantu dalam bukunya Pengantar Perpajakan, bahwa

pembedaan atau penggolongan pajak didasarkan pada suatu kriteria, seperti

siapa yang membayar pajak; siapa yang pada akhirnya memikul beban

pajak; apakah beban pajak dapat dilimpahkan/dialihkan kepada pihak lain

atau tidak; siapa yang memungut; serta sifat-sifat yang melekat pada pajak

yang bersangkutan:

1. Pajak Langung dan Pajak Tidak Langsung

Salah satu penggolongan yang paling terkenal adalah pajak langsung

(direct tax) dan pajak tidak langsung (indirect tax). Ada dua pendekatan

yang dikenal dalam membedakan jenis pajak ini, yaitu pendekatan secara

ekonomis dan pendekatan secara administratif atau yuridis.

Dalam pendekatan secara ekonomis, suatu pajak disebut pajak

langsung apabila beban pajaknya (tax burden) tidak dapat dilimpahkan

(the tax burden can not be shifted) kepada pihak lain. Contohnya Pajak

Penghasilan. Sebaliknya suatu pajak disebut pajak tidak langsung

apabila beban pajaknya dapat dilimpahkan (the tax burden can be

shifted) baik seluruhnya maupun sebagian kepada pihak lain. Contohnya

Pajak Pertambahan Nilai.

Dalam pendekatan secara administratif atau yuridis untuk

membedakan pajak langsung dan tidak langsung dapat dilihat dari

periodisasi pemungutan. Jika suatu pajak dipungut secara periodik

misalnya sekali dalam setahun, maka pajak tersebut termasuk dalam

6
pajak langsung. Contohnya Pajak Penghasilan di Indonesia terutang

sekali dalam satu tahun. Sebaliknya jika pemungutan sutau pajak tidak

mengenal periodisasi, misalnya setiap saat suatu pajak dapat dipungut,

maka pajak tersebut termasuk dalam pajak tidak langsung. Contohnya

Pajak Pertambahan Nilai. Setiap kali melakukan transaksi pembelian

Barang Kena Pajak atau penggunaan Jasa Kena Pajak harus membayar

PPN.

2. Pajak Subjektif dan Pajak Objektif

Pengertian pajak subjektif adalah pajak yang dalam pengenaannya

didasarkan/dilihat pada subjeknya terlebih dahulu, artinya siapa yang

akan dikenakan pajak, barulah dicari objeknya. Misalnya Pajak

Penghasilan. Sedangkan pajak objektif pada waktu pengenaannya yang

pertama diperhatikan adalah objeknya. Setelah objeknya ditemukan

barulah dicari subjeknya. Misalnya Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak

Bumi dan Bangunan.

B.3. Sistem Pemungutan Pajak

Terdapat tiga cara atau sistem dalam pemungutan pajak di Indonesia,

yaitu:

1. Self Assessment System

Self Assessment System adalah sistem perpajakan yang memberi

kepercayaan kepada Wajib Pajak untuk memenuhi dan melaksanakan

sendiri kewajiban dan hak perpajakannya. Dalam hal ini dikenal 5M,

yakni mendaftarkan diri di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) untuk

7
mendapatkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), menghitung sendiri

jumlah pajak yang terutang, menyetor pajak tersebut ke Bank Persepsi

dan melaporkan penyetoran tersebut kepada Direktur Jenderal Pajak

melalui KPP setempat, serta terutama menetapkan sendiri jumlah pajak

yang terutang melalui pengisian SPT (Surat Pemberitahuan) dengan baik

dan benar. 7

2. Official Assessment System

Official Assessment System ini merupakan suatu sistem perpajakan

dimana inisiatif untuk memenuhi kewajiban perpajakan berada di pihak

fiskus. Dalam sistem ini fiskuslah yang aktif sejak dari mencari Wajib

Pajak untuk diberikan NPWP sampai kepada penetapan jumlah pajak

yang terutang melalui penerbitan SKP (Surat Ketetapan Pajak). 8

3. Withholding Tax

Dalam sistem ini, pihak ketiga mendapat tugas dan kepercayaan dari

undang-undang perpajakan untuk memotong atau memungut suatu

prosentase tertentu (misalnya 20%, 15%, 10%, 5%) terhadap jumlah

pembayaran atau transaksi yang dilakukannya dengan penerima

penghasilan, yakni Wajib Pajak. Jumlah pajak yang dipotong diteruskan

ke Kas Negara dalam jangka waktu tertentu dan dapat menjadi kredit

pajak bagi Wajib Pajak yang bersangkutan. 9

Pajak Pertambahan Nilai sebagai pajak tidak langsung menganut

sistem Withholding Tax ini, dimana PKP yang menjual BKP atau
7
Safri Nurmantu, Pengantar Perpajakan, Jakarta: Granit, 2005, hlm. 108.
8
Ibid, hlm. 109.
9
Ibid, hlm. 110.

8
memberikan layanan JKP wajib untuk memungut PPN kepada penerima

BKP atau JKP tersebut. Manfaat pemungutan PPN dengan Withholding

Tax System, selain memperlancar masuknya dana ke kas negara tanpa

intervensi fiskus yang berarti mengemat biaya administrasi pemungutan

(administrative cost), juga Wajib Pajak yang dipungut pajaknya secara

tidak terasa (convenience) telah memenuhi (sebagian) kewajiban

perpajakannya. Karena pemungut pajak pada dasarnya melaksanakan

tugasnya tanpa mempertimbangkan siapa-siapa yang terpungut, maka

sistem ini juga dapat mencegah penyelundupan pajak.

B.4. Tarif Pajak

Dalam berbagai literatur perpajakan, dikenal empat macam tarif pajak,

yakni tarif tetap (fixed rate), tarif proporsional (proportional rate), tarif

progresif (progressive rate) dan tarif regresif (regressive rate) 10 .

1. Tarif Pajak Tetap

Tarif pajak tetap adalah tarif yang jumlah pajaknya dalam rupiah

atau dolar bersifat tetap walaupun Objek Pajaknya berbeda-beda

jumlahnya. Misalnya tarif Bea Materai. Jumlah Bea Materai atas kuitansi

atau tanda terima uang di atas Rp 1.000.000,- adalah Rp 6.000,-

walaupun uang yang diterima junlahnya lebih besar, jumlah Bea Materai

yang terutang tetap Rp 6.000,-

10
Ibid, hlm. 118

9
2. Tarif Pajak Proporsional

Tarif pajak proporsional atau yang juga dikenal dengan single rate

adalah tarif yang prosentasenya tetap walaupun jumlah Objek Pajaknya

berubah-ubah. Misalnya tarif PPN yang ditetapkan sebesar 10%. Sisi

positif penerapan tarif tunggal dalam PPN adalah sederhana dalam

pelaksanaan dan pengawasan. Sedangkan sisi negatifnya, karena tidak

memperhatikan azas keadilan dalam pemungutan pajak mengakibatkan

timbulnya dampak regresif (kesenjangan beban pajak). Oleh karena itu,

untuk mengurangi regresivitas PPN, untuk konsumen yang

mengonsumsi BKP Yang Tergolong Mewah dikenakan PPn BM di

samping PPN.

Penyebutan tarif tunggal bagi PPN sebenarnya tanpa

mempertimbangkan tarif 0% yang dikenakan atas ekspor BKP. Dalam

PPN Indonesia tarif 0% sebenarnya merupakan tarif teknis berdasarkan

pertimbangan ekonomi yang dikenakan atas ekspor BKP, dimaksudkan

supaya Pajak Masukan (input tax) atas perolehan BKP dan JKP yang

terkait dapat dikreditkan sehingga tidak perlu dibebankan sebagai biaya.

Dengan demikian, dalam harga ekspor benar-benar bersih dari unsur

PPN dalam negeri sehingga dapat dijamin bahwa netralitas PPN

terhadap perdagangan internasional benar-benar dapat direalisasi.

3. Tarif Pajak Progresif

Tarif pajak progresif adalah tarif pajak yang makin tinggi Objek

Pajaknya, makin tinggi pula prosentase pajaknya. Misalnya pada Pajak

10
Penghasilan, saat ini tarif yang ditetapkan adalah mulai dari 5%, 15%,

25% hingga 30%.

4. Tarif Pajak Regresif

Tarif pajak regresif adalah tarif pajak yang apabila Objek Pajaknya

makin tinggi, maka makin rendah pajaknya. Tarif ini pernah berlaku

untuk Bea Warisan. Makin tinggi warisan yang akan diterima oleh ahli

waris, maka tarif bea atau pajak atas warisan makin kecil. Namun tarif

ini sudah tidak berlaku lagi.

B.5. Legal Karakter PPN

Pakar PPN Untung Sukardji memaparkan bahwa ketakutan dan

kekhawatiran PKP mengenai permasalahan Faktur Pajak khususnya

disebabkan sudah banyak pihak yang melupakan atau tidak peduli lagi

terhadap legal karakter PPN. Menurut beliau dalam bukunya Pokok-Pokok

Pajak Pertambahan Nilai Indonesia, legal karakter yang menjadi ciri khas

PPN tersebut antara lain:

1. PPN adalah Pajak Tidak Langsung

Pengertian PPN ditinjau dari sudut ilmu hukum yaitu suatu jenis pajak

yang menempatkan kedudukan pemikul beban pajak dengan kedudukan

penanggung jawab pembayaran pajak ke kas negara pada pihak-pihak

yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi pembeli atau

penerima jasa dari tindakan sewenang-wenang negara (pemerintah).

Apabila penjual atau pengusaha jasa tidak memungut PPN dari pembeli

atau penerima jasa, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penjual atau

11
pengusaha jasa. Demikian pula apabila pembeli atau penerima jasa sudah

membayar PPN kepada penjual atau pengusaha jasa, namun ternyata PPN

tersebut tidak pernah dilaporkan kepada negara, maka sepenuhnya menjadi

tanggung jawab penjual atau pengusaha jasa.

2. PPN adalah Pajak Objektif

Sebagai pajak objektif mengandung pengertian bahwa timbulnya

kewajiban pajak di bidang PPN sangat ditentukan oleh adanya objek

pajak. Kondisi subjek pajak tidak relevan. Sebagai contoh, jika perusahaan

X ingin membeli barang yang merupakan Barang Kena Pajak maka tidak

peduli apakah saat itu PT. X sedang dalam keadaan baik atau buruk dari

segi keuangan, akan tetap dikenakan PPN sebesar 10% dari harga jual

BKP tersebut.

3. PPN bersifat Multi Stage Levy

”Multi Stage Levy” mengandung pengertian bahwa PPN dkenakan

pada setiap mata rantai jalur produksi dan jalur distribusi BKP atau JKP.

Hal ini berarti PPN dikenakan berulang-ulang pada setiap mutasi BKP

atau JKP. Meskipun demikian, ternyata PPN tidak menimbulkan

pengenaan pajak berganda (non kumulasi). Inilah ciri PPN yang tidak

dimiliki oleh PPn yang diterapkan di Indonesia sebelum 1 April 1985.

4. PPN bersifat Non Kumulatif

Pajak Pertambahan Nilai yang multi stage levy namun bersifat non

kumulatif yang tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda, merupakan

suatu kontradiksio in terminis. Pada umumnya suatu jenis pajak yang

12
dikenakan berulang-ulang pada setiap mata rantai jalur distribusi, akan

menimbulkan pengenaan pajak berganda. Ternyata PPN mengingkari

fenomena umum ini.

5. Penghitungan PPN terutang untuk dibayar ke Kas Negara Menggunakan

Indirect Subtraction Method

Untuk mengenakan PPN atas nilai tambah dapat dilakukan melalui

tiga metode yaitu:

1) Subtraction method (metode pengurangan secara langsung), yaitu

dengan cara mengalikan tarif PPN dengan selisih antara harga jual

dengan harga beli.

2) Indirect subtraction method (metode pengurangan secara tidak

langsung), yaitu dengan cara mengurangkan PPN yang dipungut oleh

penjual atau pengusaha jasa atas penyerahan barang atau jasa, dengan

PPN yang dibayar kepada penjual atau pengusaha lain atas perolehan

barang atau jasa.

3) Additon method (metode penghitungan nilai tambah), yaitu mengalikan

tarif PPN dengan hasil penjumlahan unsur-unsur nilai tambah.

Diantara tiga metode tersebut Indonesia menganut ”indirect subtracion

method” (metode pengurangan tidak langsung). Untuk mendeteksi atau

menguji kebenaran jumlah pajak yang terutang atas perolehan dan

penyerahan tersebut diperlukan suatu dokumen pendukung. Dokumen ini

dinamakan ”tax invoice” (Faktur Pajak), sehingga metode ini dinamakan

juga ”Invoice Method”.

13
6. PPN Indonesia menganut Tarif Tunggal (Single Rate)

Pajak Pertambahan Nilai Indonesia menganut tarif tunggal yang

dalam UU PPN ditetapkan sebesar 10%. Dengan peraturan pemerintah

tarif ini dapat dinaikkan paling tinggi menjadi 15% atau diturunkan paling

rendah menjadi 5%. Sisi negatif tarif tunggal adalah mempertajam

regresivitas PPN. Untuk memperkecil sisi negatif ini, UU PPN Indonesia

mengenakan PPnBM sebagai pajak tambahan di samping PPN atas

penyerahan BKP yang tergolong mewah. Sisi positif menerapkan tarif

tunggal adalah sederhana baik dalam pelaksanaan maupun dalam

pengawasan.

7. PPN adalah Pajak atas Konsumsi Dalam Negeri

Sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri maka PPN hanya

dikenakan atas barang atau jasa yang dikonsumsi di dalam daerah pabean

Republik Indonesia. Ini sesuai dengan destination principle (prinsip

tempat tujuan) yang digunakan dalam pengenaan PPN, yaitu PPN

dikenakan di tempat tujuan barang atau jasa akan dikonsumsi. Dengan

menerapkan destination principle ini, PPN dapat menunjukkan

netralitasnya di dunia perdagangan internasional.

8. PPN yang diterapkan di Indonesia adalah PPN tipe Konsumsi

(ConsumptionType VAT)

Dilihat dari sisi perlakukan terhadap barang modal, PPN Indonesia

termasuk tipe konsumsi, artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk

perolehan barang modal dapat dikurangi dari dasar pengenaan pajak.

14
Dalam bahasa indirect subtraction method, Pajak Masukan (input tax) atas

perolehan barang modal dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran (output

tax) sehingga barang modal dikenakan PPN hanya satu kali. Dalam tipe

konsumsi ini, kemungkinan terjadi pengenaan pajak berganda atas barang

modal dapat dihindari sehingga mendorong setiap pengusaha yang

dikenakan PPN melakukan peremajaan barang modalnya secara berkala.

Pajak Pertambahan Nilai sebagai pajak atas konsumsi memberikan

indikasi bahwa PPN bukan pajak atas kegiatan bisnis. Sifat ini

menunjukkan perbedaan yang mendasar dengan Pajak Penghasilan yang

merupakan pajak yang dikenakan atas kegiatan bisnis.

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari pembuatan karya tulis ini antara lain:

1. Memberikan penjelasan tentang Faktur Pajak, bagaimana ketentuan

perundang-undangan perpajakan Indonesia mengatur mengenai permasalahan

Faktur Pajak Standar dan bagaimana Faktur Pajak dikatakan cacat, serta sanksi

apa yang akan diterima PKP atas Faktur Pajak cacat tersebut.

2. Menganalisis kebenaran dan kelengkapan Faktur Pajak Standar salah satu

klien KKP Surya apakah telah memenuhi persyaratan atau terdapat kesalahan

sehingga menjadi Faktur Pajak cacat.

15
D. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan kemudahan bagi para pembaca dalam memahami karya

tulis ini, maka penulis menyusunnya menjadi 4 (empat) bab dan beberapa subbab.

Adapun sistematika penyajiannya adalah sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Berisi penjelasan mengenai latar belakang pemilihan topik,

kerangka teori, tujuan pembuatan karya tulis dan

sistematika penulisan dalam karya tulis ini.

BAB II : Gambaran Umum Kantor Konsultan Pajak Surya

Berisikan tentang sejarah KKP Surya, visi dan misi,

struktur organisasi serta produk dan manajemen KKP.

BAB III : Pembahasan dan Identifikasi Permasalahan Faktur

Pajak Standar

Berisikan pembahasan seputar Faktur Pajak berdasarkan

Undang-Undang dan peraturan perpajakan lainnya dan

identifikasi Faktur Pajak Standar PT. KTB apakah telah

sesuai dengan ketentuan Dirjen Pajak atau tidak.

BAB IV : Penutup

Berisi tentang kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik

atas pembahasan di bab-bab sebelumnya, serta saran-saran

yang diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca

maupun penunjang ilmu pengetahuan yang telah ada.

16
BAB II

GAMBARAN UMUM KONSULTAN PAJAK SURYA

A. Sejarah KKP Surya

Dibangun di atas areal tanah dengan luas sekitar 200 m2, sejak tahun 1963

sampai sekarang Kantor Konsultan Pajak Surya dan Rekan dapat menjalankan

usaha memberikan pelayanan jasa konsultasi perpajakan kepada para kliennya.

Bangunan kantor yang terdiri atas tiga lantai ini terletak di Jalan Pangeran

Jayakarta No. 143 C Jakarta Pusat. Dengan lokasi yang cukup strategis karena

letaknya yang tidak jauh dengan pusat kegiatan usaha, seperti pasar pagi Mangga

Dua, pusat pertokoan Glodok, dan perusahaan-perusahaan lain di sekitarnya,

menjadikan KKP Surya mudah dalam meraih dan melayani klien karena aksesnya

yang terjangkau.

Tidak berbeda dengan kantor-kantor konsultan pada umumnya, KKP inipun

diberi nama sesuai nama pendirinya yaitu Bapak Surya (alm) dengan izin

sertifikasi konsultan pajak tentunya. Sepeninggal beliau pada tahun 1996, KKP

Surya tetap berdiri dengan pengalihan izin praktik melalui surat kuasa kepada

Bapak Richard Syarief Halim, tepatnya pada tanggal 15 Februari 1996 dengan

nomor izin: SI-186/PJ/1996 yang diperoleh dengan mengikuti ujian sertifikasi

konsultan pajak.

17
Saat ini dalam pelaksanaan tugas harian, terdapat empat orang supervisor

yaitu: Bapak Lam Sunjaya Dharma, Yahya Sulaiman, Armen Yenos dan Rizi

Azila. Dan mulai dari berdirinya sampai sekarang KKP Surya memiliki jumlah

klien yang semakin banyak. Sekitar 50 perusahaan yang bergerak di bidang

perdagangan, industri dan real estate hingga orang pribadi atau perorangan telah

menjadi klien tetap Konsultan Pajak ini.

B. Visi dan Misi KKP Surya

Visi:

Menjadi perusahaan konsultan pajak yang terbaik dengan tim konsultan yang

kompeten, profesional, disiplin dan berintegritas.

Misi:

1. Memberikan pelayanan jasa konsultasi perpajakan yang terbaik bagi para

klien.

2. Memberikan solusi yang tepat atas permasalahan klien baik mengenai

perpajakan maupun akuntansi

3. Membantu pengembangan pengetahuan khususnya di bidang perpajakan dan

akuntansi bagi para mahasiswa dan instansi yang membutuhkan.

C. Struktur Organisasi KKP Surya

Struktur organisasi dalam Kantor Konsultan Pajak Surya ini secara garis besar

masih cukup sederhana, hal tersebut dapat dilihat pada bagan berikut ini:

18
GAMBAR II.1

STRUKTUR ORGANISASI

KONSULTAN PAJAK “ SURYA DAN REKAN”

PIMPINAN

Bpk. Syarief

Halim

Supervisor PPN Supervisor PPh Supervisor


Umum
Bpk. Lam Bpk. Yahya
Sunjaya Dharma Sulaiman Bpk. Armen
Yenos dan Bpk.
Rizi Azila

Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan

Sumber: Company Profile KKP Surya

19
D. Produk KKP Surya

Sesuai dengan nature business perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan

jasa konsultasi perpajakan, maka produk-produk yang terdapat dalam KKP Surya

berupa service seputar masalah perpajakan baik orang pribadi maupun badan,

yaitu:

1. Konsultasi mengenai berbagai jenis pajak seperti, Pajak Penghasilan (PPh) 21,

23, 25 dan sebagainya, Pajak Pertambahaan Nilai (PPN), serta pelayanan

perpajakan lain pada umumnya. Termasuk dalam hal ini, klien dapat

berkonsultasi perihal kewajiban perpajakan yang harus dipenuhi sebagai WP

seperti, bagaimana tata cara yang baik dan benar dalam membuat Faktur Pajak

baik sederhana maupun standar. Atau juga mengenai aspek-aspek perpajakan

apa saja yang kiranya akan timbul dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan

atau orang pribadi.

2. Pendaftaran NPWP baru maupun pendaftaran sebagai PKP.

3. Membantu dalam penghitungan pajak, pembuatan SSP, penyetoran hingga

pelaporan pajak klien.

4. Membantu mengecek kebenaran surat yang diterima oleh klien dari Kantor

Pajak, seperti Surat Tagihan Pajak (STP) PPh 21, dan lain sebagainya.

5. Membantu klien dalam hal keberatan atau banding. Mulai dari pembuatan

surat keberatan atau banding, pemenuhan syarat-syarat kelengkapan untuk

mengajukan keberatan atau banding, hingga mendampingi klien atau menjadi

kuasa atas permintaan klien dalam menghadapi persidangan keberatan atau

banding.

20
E. Organisasi dan Manajemen KKP Surya

Secara umum kegiatan dalam KKP ini terbagi ke dalam dua fungsi, yaitu:

1. Fungsi Internal

Karyawan atau pegawai yang mengurusi kegiatan internal ini lazimnya

bertugas untuk menghitung pajak-pajak klien yang rutin seperti, PPh 21 dan

25, PPN masukan dan keluaran baik bulanan maupun tahunan, membuat

faktur pajak standar, membuat Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah dihitung,

hingga mengisi form pajak (SPT) yang akan dilaporkan (Masa/Tahunan)

dengan data-data yang telah diperoleh dari klien.

Namun, dalam kondisi tertentu yang mendesak, para karyawan yang

berada dalam lingkup internal dapat membantu karyawan lainnya menjalankan

fungsi eksternal seperti membayar dan melaporkan pajak klien. Hal itu

dikarenakan terbatasnya jumlah pegawai yang berada dalam KKP Surya ini.

Kondisi tertentu tersebut misalnya ketika berlangsungnya program sunset

policy beberapa waktu lalu, hampir seluruh klien mengikuti program tersebut

sehingga membuat seluruh karyawan di sana harus bekerja extra alias lembur

agar dapat merampungkannya tepat waktu. Kondisi serupa mungkin terjadi

pula di kantor-kantor konsultan pajak lainnya.

2. Fungsi Eksternal

Tugas karyawan atau pegawai pada fungsi ini seperti sudah sedikit

tergambarkan pada penjelasan di atas yaitu, membayarkan pajak-pajak klien

yang telah dihitung ke bank-bank persepsi menggunakan SSP yang telah

dibuat dan kemudian melaporkan SPT ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

21
tempat masing-masing klien terdaftar, atau melalui pos tercatat bagi klien

yang berada di luar kota. Hal lain yaitu mengurus jadwal keberatan atau

banding klien ke gedung Departemen Keuangan dan mengurus pendaftaran

NPWP baru bagi WP yang telah mengajukan permohonannya.

Sedangkan secara rinci berdasarkan struktur organisasi KKP Surya, job

description masing-masing divisi adalah sebagai berikut:

a. Divisi PPN

1. Menghitung Pajak Masukan dan Pajak Keluaran klien;

2. Membuat SPT Masa PPN berdasarkan perhitungan yang telah dibuat dan

Faktur Pajak setiap bulannya;

3. Mengajukan komplain ataupun keberatan jika ternyata terdapat kesalahan

atas STP yang diterima klien.

b. Divisi PPh

1. Menghitung PPh pasal 21 dari daftar gaji klien setiap bulan;

2. Menghitung dan mengisi SPT PPh Tahunan klien;

3. Mengajukan komplain ataupun keberatan jika ternyata terdapat kesalahan

atas STP yang diterima klien.

c. Divisi Umum

1. Menagih SPT Masa PPN dan SSP ke klien sejumlah yang tertulis di

dalamnya;

2. Menyetorkan SSP yang telah diisi dengan lengkap, benar dan jelas ke bank

pemerintah atau bank swasta yang ditunjuk atau kantor pos, paling lambat

tanggal 10 bulan berikutnya;

22
3. Melaporkan SPT Masa PPN yang telah diisi lengkap, benar dan jelas

tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat klien terdaftar, paling

lambat tanggal 20 bulan berikutnya;

4. Mengevaluasi ketetapan pajak yang diterima klien dari kantor pajak;

5. Mengurus pendaftaran NPWP baru serta pendaftaran PKP bagi pengusaha;

6. Melayani klien dan memberikan jawaban yang jelas apabila terdapat

pertanyaan atau keluhan seputar masalah perpajakan.

F. Penempatan Magang

Selama melaksanakan kegiatan magang di KKP Surya, tidak ada penempatan

khusus untuk bekerja. Karena pekerjaan yang dilakukan adalah sebatas pada

rutinitas harian di kantor seperti, membuat SSP klien yang akan disetorkan setiap

bulan untuk PPh 21, PPN, PPh Pasal 4 ayat (2), membuat rekap gaji karyawan

klien setiap bulannya hingga mengisi formulir SPT PPh Pasal 21, PPh Pasal 4 ayat

(2) dengan sistem komputerisasi yang telah ada dan mengisi SPT PPN dengan

fasilitas e-SPT.

Namun penulis juga sesekali diberikan tugas oleh supervisor yaitu bapak Lam

Sunjaya untuk membahas kasus-kasus banding klien seputar PPN maupun PPh

Badan, dari mulai mengecek kelengkapan dotkumen-dokumen yang akan menjadi

bukti saat persidangan hingga pembuatan surat banding untuk klien tersebut.

Dan masih banyak lagi pekerjaan-perkerjaan yang menjadi pengalaman dan

pengetahuan yang penulis dapatkan selama menjalani magang di KKP Surya.

Meskipun tidak pernah ada kegiatan yang berhubungan langsung dengan klien,

23
tetapi kegiatan keseharian yang dilakukan serta informasi-informasi seputar dunia

perpajakan yang diberikan baik oleh supervisor maupun para karyawan di KKP

Surya tersebut sudah merupakan pengalaman yang sangat berharga dan modal

untuk penulis di masa mendatang karena sedikit banyaknya telah memberikan

gambaran tentang bagaimana penerapan teori-teori perpajakan pada kenyataannya

yang di dapat selama perkuliahan.

24
BAB III

PEMBAHASAN DAN IDENTIFIKASI PERMASALAHAN FAKTUR

PAJAK STANDAR

A. Objek dan Subjek Pajak Pertambahan Nilai

A.1. Objek PPN

Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa setiap kali terjadi

pemungutan PPN akan selalu ada Faktur Pajak yang wajib diterbitkan. Hal

tersebut karena pengenaan PPN berdasarkan UU PPN 1983 dan perubahannya

dilakukan berdasarkan sistem Faktur Pajak. Pemungutan PPN sendiri

dilakukan atas beberapa objek tertentu yang menurut ketentuan perpajakan

dikenai atau terutang PPN. Lalu apa yang menjadi objek pengenaan PPN?

Dalam ketentuan perpajakan yang berlaku akan sering ditemui istilah Barang

Kena Pajak maupun Jasa Kena Pajak (BKP/JKP). Namun demikian, yang

menjadi objek pengenaan PPN bukanlah BKP/JKP itu sendiri melainkan

keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang terjadi atas BKP/JKP

tersebut. 11

Dalam pasal 4 UU PPN disebutkan beberapa keadaan, peristiwa atau

perbuatan hukum yang menjadi objek pengenaan PPN. Dan dalam

11
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.1)”, op.cit, hlm. 7

25
penjelasannya dikatakan bahwa penyerahan BKP/JKP tersebut baru akan

terutang PPN apabila secara akumulatif memenuhi syarat-syarat berikut 12 :

1. Barang atau Jasa yang diserahkan adalah BKP/JKP;

2. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean;

3. Penyerahan dilakukan oleh PKP atau pengusaha yang seharusnya

dikukuhkan sebagai PKP; dan

4. Penyerahan dilakukan dalam lingkup kegiatan usaha atau pekerjaannya.

Objek pengenaan PPN lainnya yang disebutkan dalam Pasal 4 UU PPN

adalah pemanfaatan JKP dan atau BKP tidak berwujud dari luar Daerah

Pabean di dalam Daerah Pabean. Objek PPN yang disebutkan dalam Pasal 4

UU PPN huruf d dan e ini, dikenai baik terhadap pemanfaatan yang dilakukan

oleh orang pribadi ataupun badan yang telah menjadi PKP maupun yang

belum. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 568/KMK.04/2000

tentang Tata Cara Penghitungan, Pemungutan, Penyetoran dan Pelaporan

Pajak Pertambahan Nilai atas Pemanfaatan BKP tidak berwujud dan atau JKP

dari luar Daerah Pabean, maka yang wajib memungut dan menyetor PPN

terutang adalah pihak yang melakukan pemanfaatan. Penyetoran PPN

menggunakan media Surat Setoran Pajak (SSP) yang selanjutnya berfungsi

sebagai Faktur Pajak. 13

Objek PPN lain yang mewajibkan pihak yang melakukan kegiatan tersebut

yaitu menyetor sendiri PPN terutang adalah objek PPN berupa impor BKP.

Objek pengenaan ini disebutkan dalam Pasal 4 huruf b UU PPN. Dalam hal

12
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.1)”, loc.cit.
13
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.1)”, op.cit, hlm. 9.

26
impor BKP, dokumen yang menjadi bukti bahwa PPN telah dipungut dan

disetor adalah Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang dilampiri dengan

Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak dalam Rangka Impor (SSPCP) sebagai

bukti penyetoran PPN Impor. Terakhir, yang menjadi objek pengenaan PPN

berdasarkan ketentuan Pasal 4 UU PPN adalah ekspor BKP yang dilakukan

oleh PKP. Memang, PPN yang terutang dalam rangka ekspor BKP ditentukan

sebesar 0% akan tetapi perlu diingat bahwa atas kegiatan ekspor BKP tersebut

tetap terutang PPN. Dokumen yang menjadi Faktur Pajak atas kegiatan ekspor

adalah Surat Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah difiat muat oleh

Dirjen Bea dan Cukai. 14

A.2. Subjek Pajak (PPN)

A.2.1 Pengusaha dan Pengusaha Kena Pajak

Pengertian pengusaha dan Pengusaha Kena Pajak dirumuskan dalam

Pasal 1 angka 14 dan 15 UU PPN 2000 yang kemudian disempurnakan

oleh Pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 15

sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002

tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan

Atas Barang Mewah. Yaitu orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan

usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang,

mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang

tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau

memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean, yang melakukan penyerahan


14
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.1)”, loc.cit.
15
Untung Sukardji, Pokok-Pokok Pajak Pertambahan Nilai Indonesia, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2003, hlm. 51.

27
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan

pajak berdasarkan UU PPN dan sejak semula bermaksud menyerahkan

Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak.

Berdasarkan Pasal 4, Pasal 16C dan Pasal 16D UU PPN Tahun 2000

dan Pasal 2 ayat (2) PP Nomor 143 Tahun 2000, subjek PPN dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu 16 :

a. Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Termasuk dalam kelompok ini adalah pengusaha yang melakukan

kegiatan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 huruf a yaitu menyerahkan

BKP, Pasal 4 huruf c yaitu menyerahkan JKP, dan Pasal 4 huruf f UU

PPN 2000 yaitu mengekspor BKP, serta bentuk kerja sama operasi

sebagaimana diatur dalam dalam Pasal 2 ayat (2) Peraturan Pemerintah

Nomor 143 Tahun 2000. Sedangkan pengertian PKP dirumuskan

dalam Pasal 1 angka 15 UU PPN 2000 yang kemudian disempurnakan

oleh Pasal 2 ayat (1) PP Nomor 143 Tahun 2000 seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya yaitu pengusaha yang sejak semula bermaksud

melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP atau ekspor

BKP.

b. Bukan Pengusaha Kena Pajak (non PKP)

Pengusaha bukan PKP yang menjadi subjek PPN meliputi pengusaha

yang melakukan kegiatan yang dimaksud dalam Pasal 4 huruf b yaitu

mengimpor BKP, huruf d yaitu memanfaatkan BKP tidak berwujud

16
Ibid, hlm. 53.

28
dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean dan huruf e yaitu

memanfaatkan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

A.2.2. Kewajiban Pengusaha Kena Pajak

Kewajiban Pengusaha Kena Pajak diatur dalam Pasal 3A ayat (1) UU

PPN 2000 yang menentukan bahwa pengusaha yang melakukan

penyerahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a, huruf c, atau

huruf f, wajib melaporkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan wajib

memungut, menyetor dan melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang. 17

B. Faktur Pajak

Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena

Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau

penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP), atau bukti pungutan pajak karena impor

Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Literatur perpajakan yang ada mengenal dua jenis Faktur Pajak. Pertama,

disebut dengan Faktur Pajak Standar di mana di dalamnya termasuk dokumen-

dokumen tertentu yang secara substantif diperlakukan sebagai Faktur Pajak

Standar. 18 Faktur Pajak ini pada dasarnya merupakan sarana mekanisme kredit

pajak. Sehingga salah satu syarat pengkreditan pajak masukan adalah tersedianya

Faktur Pajak Standar yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan, dalam hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 13 ayat (5) UU PPN.

17
Ibid, hlm. 57.
18
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, Indonesian Tax Review,Vol IV, Edisi
04/2004, hlm. 4.

29
Dengan demikian ketentuan Faktur Pajak menjadi sangat rigit untuk

melaksanakan kegiatan PPN. 19

Kemudian jenis kedua adalah yang disebut dengan Faktur Pajak Sederhana.

Dalam karya tulis ini lebih khusus akan dibahas mengenai Faktur Pajak Standar

yang umumnya digunakan oleh PKP dalam kegiatan usahanya sehari-hari.

C. Faktur Pajak Standar

C.1. Bentuk dan Ukuran Faktur Pajak Standar

Khusus mengenai Faktur Pajak, UU PPN Nomor 8 Tahun 1983 yang telah

diubah terakhir dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 telah memberikan

kewenangan kepada Dirjen Pajak untuk menetapkan bentuk dan ukurannya,

baik Faktur Pajak Standar maupun Faktur Pajak Sederhana. Pemberian

wewenang ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 13 ayat (4) UU PPN.

Dalam upaya menindaklanjuti kewenangan yang diberikan tersebut, Dirjen

Pajak kemudian menerbitkan beberapa keputusan sebagai peraturan

pelaksanaannya. Salah satunya adalah yang berkaitan dengan Faktur Pajak

Standar, yaitu Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-549/PJ./2000 tentang Saat

Pembuatan, Bentuk, Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian dan Tata

Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar. Keputusan yang dirilis pada tanggal

29 Desember 2000 tersebut, hingga kini telah diubah beberapa kali. 20 Dan

terakhir dilakukan perubahan tanggal 31 Oktober 2006 dengan Peraturan

Dirjen Pajak Nomor PER-159/PJ./2006.


19
Haula Rosdiana, Pajak Pertambahan Nilai Teori dan Aplikasi, Pusat Kajian Ilmu
Administrasi FISIP UI, hlm. 103.
20
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, loc.cit.

30
Dalam lampiran Peraturan Dirjen Pajak tersebut, diberikan contoh bentuk

formulir Faktur Pajak Standar hasil disain pihak Dirjen Pajak. Terdapat dua

contoh bentuk Faktur Pajak yang diberikan. Satu contoh formulir Faktur Pajak

Standar untuk transaksi penyerahan yang menggunakan mata uang rupiah (Rp)

dan satu lagi untuk transaksi dalam mata uang asing. Khusus untuk formulir

Faktur Pajak Standar seperti pada Gambar III.2, menurut Dirjen Pajak, dapat

digunakan baik untuk transaksi penyerahan yang menggunakan mata uang

rupiah (Rp) maupun mata uang selain rupiah. Sedangkan Faktur Pajak Standar

yang tampak pada Gambar III.1 hanya dipergunakan jika transaksi

penyerahan BKP/JKP menggunakan mata uang rupiah (Rp). 21

Selain itu, terkait dengan kode dan nomor seri diterangkan bahwa setiap

Faktur Pajak Standar harus menggunakan kode dan nomor seri yang telah

ditentukan di dalam PER-159/PJ./2006 tentang Saat Pembuatan, Bentuk,

Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara Pembetulan

Faktur Pajak Standar, yaitu:

Kode Faktur Pajak Standar terdiri dari 22 :

1. 2 (dua) digit Kode Transaksi;

2. 1 (satu) digit Kode Status; dan

3. 3 (tiga) digit Kode Cabang.

Khusus Pengusaha Kena Pajak yang dipusatkan secara jabatan pada Kantor

Pelayanan Pajak yang menerapkan Sistem Administrasi Modern (SAM), Kode

Cabang ditentukan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak tersebut dan wajib

21
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, loc.cit.
22
“Faktur Pajak “, www.pajak.go.id.

31
memberitahukan secara tertulis ke Kantor Pelayanan Pajak tempat pemusatan

pajak terutang dilakukan paling lambat sebelum Faktur Pajak diterbitkan.

Nomor Seri Faktur Pajak terdiri dari:

1. 2 (dua) digit Tahun Penerbitan; dan

2. 8 (delapan) digit Nomor Urut.

C.2. Data Minimum yang Harus Dicantumkan

Sebenarnya, persyaratan formal yang sangat dominan dan sangat penting

untuk dipahami adalah berkaitan dengan data atau keterangan yang harus

tercantum dalam Faktur Pajak Standar. Dalam literatur perpajakan yang ada,

telah ditetapkan bahwa sebuah Faktur Pajak, baru dapat disebut sebagai Faktur

Pajak Standar apabila di dalamnya dicantumkan data atau keterangan

minimum yang telah ditetapkan dalam Pasal 13 ayat (5) UU PPN. Data atau

keterangan yang dimaksud Pasal 13 ayat (5) UU PPN tersebut adalah data atau

keterangan mengenai penyerahan BKP/JKP yang dilakukan, yang paling

sedikit mencantumkan data atau keterangan sebagai berikut23 :

a. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang menyerahkan

BKP/JKP;

b. Nama, alamat dan NPWP pembeli atau penerima BKP/JKP;

c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan

harga;

d. PPN yang dipungut;

e. PPn BM yang dipungut;

23
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, op.cit, hlm. 7.

32
GAMBAR III.1

FAKTUR PAJAK STANDAR RUPIAH (RP)

Lembar ke 2 : Untuk Penjual BKP/Pemberi JKP


sebagai bukti Pajak Keluaran

FAKTUR PAJAK STANDAR


Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak :
Pengusaha Kena Pajak
Nama :
Alamat :
NPWP :
Tanggal Pengukuhan PKP :
Pembeli Barang Kena Pajak/Penerima Jasa Kena Pajak
Nama :
Alamat :
NPWP : NPPKP :
No. Harga Jual/ Penggantian/ Uang Muka/
Nama Barang Kena Pajak/ Jasa Kena Pajak
Urut Termin (Rp)

Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termin *)


Dikurangi Potongan Harga
Dikurangi Uang Muka yang telah diterima
Dasar Pengenaan Pajak
PPN = 10% X Dasar Pengenaan Pajak

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ……………… tgl ……………

Tarif DPP PPnBM …………………………………


…………% Rp ………… Rp …………
…………% Rp ………… Rp …………
…………% Rp ………… Rp ………… Nama
…………% Rp ………… Rp …………
Jumlah Rp ………… Jabatan

*) Coret yang tidak perlu

33
GAMBAR III.2

FAKTUR PAJAK STANDAR VALAS

Lembar ke 2 : Untuk Penjual BKP/Pemberi JKP


sebagai bukti Pajak Keluaran

FAKTUR PAJAK STANDAR


Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak :
Pengusaha Kena Pajak
Nama :
Alamat :
NPWP :
Tanggal Pengukuhan PKP :
Pembeli Barang Kena Pajak/ Penerima Jasa Kena Pajak
Nama :
Alamat :
NPWP : NPPKP :
Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/
No.
Nama Barang Kena Pajak/ Jasa Kena Pajak Termin
Urut
Valas *) (Rp)

Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termin **)


Dikurangi Potongan Harga
Dikurangi Uang Muka yang telah diterima
Dasar Pengenaan Pajak
PPN = 10% X Dasar Pengenaan Pajak

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah ……………… tgl ……………

Tarif DPP PPnBM …………………………………


…………% Rp ………… Rp …………
…………% Rp ………… Rp …………
…………% Rp ………… Rp ………… Nama
…………% Rp ………… Rp …………
Jumlah Rp ………… Jabatan

*) Diisi apabila penyerahan menggunakan mata uang asing

**) Coret yang tidak perlu

34
f. Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan

g. Nama, jabatan dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur

Pajak.

Ketujuh data atau keterangan tersebut di atas secara akumulatif harus

tercantum seluruhnya dalam sebuah Faktur Pajak Standar. Jika salah satunya

tidak ada atau tidak dicantumkan, maka Faktur Pajak Standar tersebut dapat

dikategorikan sebagai Faktur Pajak Standar yang tidak lengkap atau yang

dalam kesehariannya sering disebut atau diistilahkan dengan Faktur Pajak

cacat. 24

Sedangkan yang dimaksud dengan syarat material adalah bahwa barang

yang diserahkan benar, baik secara nilai maupun jumlah. Demikian pula

dengan pengusaha yang melakukan dan yang menerima penyerahan BKP

tersebut harus sesuai dengan keterangan yang terantum pada Faktur Pajak

Standar.

Faktur Pajak Standar harus dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap dua

yaitu:

a. Lembar ke-1 : Untuk Pembeli BKP atau Penerima JKP sebagai bukti

Pajak Masukan.

b. Lembar ke-2 : Untuk PKP yang menerbitkan Faktur Pajak Standar

sebagai bukti Pajak Keluaran.

Dalam hal Faktur Pajak Standar dibuat lebih dari rangkap dua, maka

peruntukkan lembar ketiga dan seterusnya harus dinyatakan secara jelas dalam

24
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, op.cit, hlm. 8.

35
Faktur Pajak yang bersangkutan; misalnya: Lembar ke-3: Untuk KPP dalam

hal penyerahan BKP atau JKP dilakukan kepada Pemungut PPN. 25

C.3. Saat Pembuatan Faktur Pajak Standar

Selain memberikan kewenangan untuk menetapkan bentuk dan ukuran

Faktur Pajak, UU PPN juga memberikan kewenangan kepada Dirjen Pajak

untuk menentukan saat pembuatannya. Saat pembuatan ini sering digolongkan

sebagai persyaratan material sebuah Faktur Pajak Standar. 26

Dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-159/PJ./2006,

terdapat lima timing pembuatan Faktur Pajak Standar, yaitu:

1. Akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan dalam hal pembayaran

diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan;

2. Saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir

bulan berikutnya setelah bulan penyerahan;

3. Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi

sebelum penyerahan;

4. Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian

tahap pekerjaan; atau

5. Pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan

Pemerintah sebagai Pemungut PPN.

25
Haula Rosdiana, op.cit, hlm. 104.
26
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, Indonesian Tax Review, Vol. IV, Edisi
06/2005, hlm. 3.

36
D. Faktur Pajak Standar Cacat dan Sanksi yang Terkait

Dalam uraian sebelumnya pada bab satu telah disampaikan bahwa efek

samping penerbitan Faktur Pajak Standar yang tidak lengkap (tidak memenuhi

kriteria data atau keterangan minimum yang harus tercantum dalam Faktur Pajak)

adalah pengenaan sanksi kepada kedua belah pihak. Penerbit Faktur Pajak Standar

(PKP) akan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% dari Dasar

Pengenaan Pajak (DPP), sementara penerima Faktur Pajak Standar tidak akan

dapat mengkreditkan Pajak Masukannya. Penerima Faktur Pajak dilarang

mengkreditkan Pajak Masukan yang tercantum di dalamnya karena Faktur Pajak

Standar tersebut dikategorikan sebagai Faktur Pajak yang cacat. 27

Sebenarnya istilah Faktur Pajak Standar cacat tidak hanya diperuntukkan bagi

Faktur Pajak yang pengisiannya tidak lengkap. Perbedaan bentuk dan ukuran

dengan formulir yang dicontohkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak

Nomor PER-159/PJ./2006 juga dapat mengakibatkan Faktur Pajak Standar dapat

disebut Faktur Pajak cacat. Meskipun kedengarannya sepele, akan tetapi untuk

menghindari perdebatan dengan fiskus sebaiknya PKP membuat Faktur Pajak

Standar dengan bentuk dan ukuran seperti yang dicontohkan Dirjen Pajak.

Pengisian data dan keterangan dalam Faktur Pajak Standar juga sebaiknya

dilakukan dengan cara diketik, tidak menggunakan tulisan tangan. Meskipun tidak

ada larangan untuk itu, namun pada kenyataannya ketika dilakukan pemeriksaan

banyak ditemukan kasus di mana fiskus menganggap bahwa Faktur Pajak Standar

yang diisi dengan tulisan tangan merupakan Faktur Pajak Standar yang cacat.

27
Ibid, hlm. 8.

37
Hal lain yang sangat penting untuk diketahui adalah mengenai jangka waktu

penerbitan Faktur Pajak Standar. Seperti yang disebutkan dalam Pasal 14 ayat (1)

huruf f UU KUP, kepada PKP yang menerbitkan Faktur Pajak yang melewati

batasan waktu yang ditetapkan akan dikenai sanksi administrasi berupa denda

sebesar 2% dari DPP yang tercantum pada Faktur Pajak yang bersangkutan. Dan

lebih celakanya lagi jika penerbitan Faktur Pajak melebihi batas waktu tiga bulan,

maka pembeli yang tidak tahu apa-apa pun akan terkena dampak yang tidak

mengenakkan. 28

Dalam PER-159/PJ./2006 yang diterbitkan tanggal 31 Oktober 2006 tersebut,

pada Pasal 13 ayat (1) dinyatakan pula bahwa apabila pembuatan Faktur Pajak

Standar yang diterbitkan setelah lewat batas waktu tiga bulan dari batas akhir

pembuatannya tidak dapat dianggap sebagai Faktur Pajak Standar. Dengan begitu,

pembeli yang sudah PKP otomatis tidak dapat mengkreditkan PPN (Pajak

Masukan) yang ada dalam Faktur Pajak Standar tersebut.

E. Jangka Waktu dan Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak Cacat

Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 12 ayat (1) Peraturan Dirjen Pajak

Nomor PER-159/PJ./2006 tentang Saat Pembuatan, Bentuk Ukuran, Pengadaan,

Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar bahwa

PKP yang Faktur Pajaknya tidak lengkap alias cacat dapat menerbitkan Faktur

Pajak Standar Pengganti dalam jangka waktu maksimal 2 (dua) tahun sejak Faktur

Pajak Standar yang diganti tersebut diterbitkan, sepanjang terhadap SPT Masa

28
Tim ITR, “Seluk Beluk Faktur Pajak (Bag.2)”, loc.cit.

38
PPN di mana Faktur Pajak Standar yang diganti tersebut dilaporkan, belum

dilakukan pemeriksaan dan atas PPN yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar

tersebut belum dibebankan sebagai biaya.

Ketentuan ini sebenarnya sejalan dengan Pasal 8 UU Nomor 28 Tahun 2007

tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) yang menegaskan

bahwa jangka waktu pembetulan SPT adalah 2 (dua) tahun sepanjang belum

dilakukan pemeriksaan pajak. Hal ini berarti, jangka waktu dua tahun tersebut

tidak bersifat mutlak. Dalam arti apabila sebelum jangka waktu tersebut kepada

Wajib Pajak telah dilakukan pemeriksaan pajak, maka haknya untuk melakukan

pembetulan SPT menjadi hilang meskipun jangka waktu 2 (dua) tahun tersebut

belum terlewati. Dapat dikatakan bahwa Faktur Pajak adalah bagian dari SPT

PPN. Sehingga ketentuan mengenai pembetulan Faktur Pajak sebagaimana diatur

dalam Pasal 12 ayat (1) PER-159/PJ./2006 pun selaras dengan ketentuan

pembetulan SPT sesuai dengan Pasal 8 ayat (1) UU KUP. 29

Dalam lampiran III Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-159/PJ./2006,

disebutkan bahwa Faktur Pajak yang rusak, cacat, atau terdapat kesalahan dalam

pengisian dapat dibatalkan dan diganti dengan Faktur Pajak yang baru sebagai

Faktur Pajak Pengganti oleh PKP Penjual, baik diminta oleh pembeli atau atas

inisiatif PKP Penjual. Dalam hal ini pembetulan kesalahan pengisian atau

penulisan Faktur Pajak Standar tidak diperkenankan dengan cara menghapus,

mencoret, atau dengan cara lain selain membuat Faktur Pajak Pengganti. Adapun

penerbitan Faktur Pajak Pengganti tersebut dilakukan seperti halnya penerbitan

29
Tim ITR, “Faktur Pajak yang Salah Harus Diperbaiki”, op.cit, hlm. 26.

39
Faktur Pajak Standar biasa. Keterangan yang diisikan dalam Faktur Pajak

Pengganti adalah keterangan yang seharusnya. Selanjutnya, atas Faktur Pajak

Pengganti tersebut harus dibubuhi cap yang mencantumkan kode, nomor seri dan

tanggal Faktur Pajak yang diganti.

Terkait dengan nomor seri Faktur Pajak Pengganti, penomorannya berbeda

dengan penerbitan Faktur Pajak Standar normal (bukan Faktur Pajak Pengganti).

Dalam penomoran Faktur Pajak Standar normal menggunakan kode status 0 (nol).

Sedangkan untuk Faktur Pajak Pengganti, kode statusnya adalah 1 (satu). Selain

itu, pada Faktur Pajak Pengganti juga harus dibubuhi cap yang mencantumkan

nomor seri, kode dan tanggal Faktur Pajak yang diganti. Faktur Pajak yang diganti

juga harus dilampirkan pada Faktur Pajak Pengganti. Sesuai dengan PER-

159/PJ./2006, cap Faktur Pajak Pengganti tersebut dapat dibuat dengan cara

manual seperti berikut 30 :

GAMBAR III.3

CAP FAKTUR PAJAK STANDAR PENGGANTI

Faktur Pajak Standar yang diganti :


Kode dan Nomor Seri : …………………………..
Tanggal : …………………………..

F. Implikasi pada SPT Masa PPN

Dengan adanya penggantian Faktur Pajak tersebut, hal ini akan

mengakibatkan adanya kewajiban untuk melakukan pembetulan SPT Masa PPN,

30
Tim ITR, “Faktur Pajak yang Salah Harus Diperbaiki”, op.cit, hlm. 27.

40
baik bagi PKP Penjual maupun PKP Pembeli. PKP Penjual harus melakukan

pembetulan terhadap SPT Masa PPN di mana FP Standar yang diganti tersebut

dilaporkan. Dalam hal ini FP Standar pengganti harus dilaporkan dalam SPT

Masa PPN masa pajak yang sama dengan masa pajak dilaporkannya Faktur Pajak

Standar yang diganti dengan mencantumkan nilai sesuai dengan yang tercantum

dalam Faktur Pajak Standar pengganti.

Selain itu Faktur Pajak Pengganti tersebut juga harus dilaporkan pada masa

pajak diterbitkannya Faktur Pajak Standar pengganti dengan mencantumkan nilai

0 (nol) pada kolom DPP, PPN dan PPn BM. Hal ini dilakukan untuk menjaga

urutan Faktur Pajak Standar yang diterbitkan PKP. Pelaporan Faktur Pajak

Standar pengganti dalam SPT Masa PPN harus mencantumkan Kode dan Nomor

Seri Faktur Pajak Standar yang diganti pada kolom yang telah disediakan baik

dilampiran Pajak Keluaran maupun lampiran Pajak Masukan.

Munculnya kewajiban untuk melakukan pembetulan SPT Masa PPN ini

timbul karena informasi yang ada dalam Faktur Pajak dilaporkan dalam SPT Masa

PPN. Dengan dilakukannya pembetulan Faktur Pajak, hal ini berarti ada

perubahan informasi yang disampaikan dalam Faktur Pajak. Oleh karenanya

implikasi dari hal ini, pembetulan Faktur Pajak harus disertai dengan pembetulan

SPT.

Pembetulan SPT Masa PPN ini memang mengikuti pembetulan Faktur Pajak

yang dilakukan. Artinya bahwa pembetulan SPT Masa ini akan bergantung pada

inofrmasi apa yang diubah dalam Faktur Pajak. Apabila pembetulan Faktur Pajak

hanya terkait dengan masalah administrasi yang bersifat formal seperti

41
pembetulan karena kesalahan nama, NPWP, atau alamat saja, maka hal ini tidak

akan mengubah materi pajak yang ada dalam SPT Masa PPN.

Namun, apabila pembetulan Faktur Pajak tersebut, menyangkut masalah

materi jumlah Dasar Pengenaan Pajak yang memengaruhi besarnya jumlah pajak

terutang, maka hal ini pun pada akhirnya akan menyebabkan berubahnya jumlah

materi pajak yang ada dalam SPT. Dengan berubahnya materi jumlah pajak yang

terutang akibat adanya pembetulan, hal ini bisa menimbulkan sanksi pajak apabila

hasil pembetulannya adalah Kurang Bayar. 31

G. Mekanisme Pengkreditan

G.1.Prinsip-prinsip Pengkreditan Pajak Masukan

Dalam Pasal 9 UU PPN Tahun 2000, diatur ketentuan mengenai

mekanisme pengkreditan yaitu bahwa 32 :

1. PM dalam suatu Masa Pajak dapat dikreditkan dengan PK untuk Masa

Pajak yang sama.

2. PM yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan PK pada

Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya

paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang

bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum

dilakukan pemeriksaan.

3. Dalam hal belum ada PK dalam suatu Masa Pajak, maka PM tetap dapat

dikreditkan. Misalnya PKP belum berproduksi, atau belum melakukan

31
Tim ITR, “Faktur Pajak yang Salah Harus Diperbaiki”, op.cit, hlm. 29.
32
Haula Rosdiana, op.cit, hlm. 129

42
penyerahan BKP/JKP, atau ekspor BKP sehingga Pajak Keluarannya

belum ada (nihil), maka Pajak Masukan yang telah dibayar oleh PKP pada

waktu perolehan BKP, atau penerimaan JKP, atau pemanfaatan JKP dari

luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, atau impor BKP tetap dapat

dikreditkan sesuai dengan Pasal 9 ayat (2), kecuali Pajak Masukan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8).

4. Apabila dalam suatu Masa Pajak, PK lebih besar daripada PM, maka

selisihnya merupakan PPN yang harus dibayar oleh PKP.

5. Apabila dalam Suatu Masa Pajak, PKP selain melakukan penyerahan yang

terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak,

sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan

pasti dari pembukuannya, maka jumlah PM yang dapat dikreditkan adalah

PM yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak.

6. Apabila dalam suatu Masa Pajak, PM yang dapat dikreditkan lebih besar

dari pada PK, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat

dimintakan kembali atau dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.

7. Apabila dalam Suatu Masa Pajak, PKP selain melakukan penyerahan yang

terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak,

sedangkan PM untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui

dengan pasti, maka jumlah PM yang dapat dikreditkan untuk penyerahan

yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur

dengan KMK.

43
G.2.Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan

Pasal 9 ayat (8) UU PPN Tahun 2000 ditetapkan bahwa Pajak Masukan

yang tidak dapat dikreditkan adalah 33 :

a. Perolehan BKP atau JKP sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai

Pengusaha Kena Pajak;

b. Perolehan BKP atau JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung

dengan kegiatan usaha;

c. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep, station

wagon, van, dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau

disewakan;

d. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah

Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP;

e. Perolehan BKP atau JKP yang bukti pungutnya berupa Faktur Pajak

Sederhana;

f. Perolehan BKP atau JKP yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan

Faktur Pajak Standar;

g. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah

Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) UU PPN Tahun 2000;

h. Perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya ditagih dengan

penerbitan ketetapan pajak;

33
Haula Rosdiana, op.cit, hlm. 134

44
i. Perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dengan

SPT Masa PPN, yang diketemukan pada waku dilakukan pemeriksaan.

H. Identifikasi Kelengkapan Data/Keterangan Faktur Pajak Standar

(Penjualan dan Pembelian) PT. KTB

Faktur Pajak Standar PT. KTB (PKP) yang menjadi sample untuk dilihat

kelengkapan data/keterangannya serta kesesuaian bentuk dan ukurannya dengan

ketentuan Dirjen Pajak, merupakan bukti transaksi baik penjualan maupun

pembelian pada masa pajak Maret 2009.

H.1.Faktur Pajak Keluaran

TABEL III.1

DATA KELENGKAPAN FAKTUR PAJAK KELUARAN PT. KTB

TANGGAL
DATA / KETERANGAN TRANSAKSI KET
24 / 03 / 09 31 / 03 / 09
Nama, alamat dan NPWP PKP
√ √
Penjual BKP/JKP
Nama, alamat dan NPWP
√ √
Pembeli/Penerima BKP/JKP
Jenis barang atau jasa √ √
Jumlah harga jual atau
√ √
penggantian dan potongan harga
PPN yang dipungut √ √
PPn BM yang dipungut √ √
Kode dan nomor seri Faktur Pajak √ √
Tanggal pembuatan Faktur Pajak √ √
Nama, jabatan dan tanda tangan √ √
Cap atau stempel PKP Penjual √ √
Sesuai dengan
Bentuk dan ukuran Faktur Pajak √ √ ketentuan
Dirjen Pajak
√ Pengisian data sesuai dengan ketentuan Dirjen Pajak dalam PER-159/PJ./2006

45
H.2.Faktur Pajak Masukan

TABEL III.2

DATA KELENGKAPAN FAKTUR PAJAK MASUKAN PT. KTB

TANGGAL
DATA / KETERANGAN TRANSAKSI KET
30 / 03 / 09 31 / 03 / 09
Nama, alamat dan NPWP PKP
√ √
Penjual BKP/JKP
Nama, alamat dan NPWP
√ √
Pembeli/Penerima BKP/JKP
Rincian jenis
Jenis barang atau jasa √ √ BKP
dilampirkan
Jumlah harga jual atau
√ √
penggantian dan potongan harga
PPN yang dipungut √ √
PPn BM yang dipungut √ √
Kode dan nomor seri Faktur Pajak √ √
Tanggal pembuatan Faktur Pajak √ √
Nama, jabatan dan tanda tangan √ √
Cap atau stempel PKP Penjual √ √
Tidak sesuai
Bentuk dan ukuran Faktur Pajak X X ketentuan
Dirjen Pajak*
* terdapat kolom ”Kuantum” dan ”Harga Satuan”
√ Pengisian data sesuai dengan ketentuan Dirjen Pajak dalam PER-159/PJ./2006

X Pengisian data tidak sesuai dengan ketentuan Dirjen Pajak dalam PER-

159/PJ./2006

46
Penjelasan:

Pada sample Faktur Pajak Penjualan PT. KTB terlihat bahwa tidak

terdapat kekurangan yang dapat membuat Faktur Pajak menjadi cacat. Seluruh

data/keterangan yang tercantum serta bentuk dan ukuran Faktur Pajak telah

sesuai dengan ketentuan UU PPN pada pasal 13 ayat (5) dan peraturan

pelaksananya yaitu PER-159/PJ./2006.

Tetapi pada Faktur Pajak Masukan yang diterima dari rekanan PT. KTB,

tampak terdapat sedikit berbeda dengan yang dicontohkan oleh Dirjen Pajak.

Yaitu pada bagian jenis BKP/JKP yang tidak dijelaskan pada Faktur Pajak

tetapi hanya dilampirkan. Kemudian yang lagi tidak sama dengan Faktur Pajak

seperti contoh pada gambar III.1 adalah adanya kolom ”kuantum” dan ”harga

satuan” pada Faktur Pajak tersebut.

Mengenai kedua perbedaan tersebut, sesungguhnya telah dijelaskan dalam

Lampiran II pada PER-159/PJ./2006 tentang Saat Pembuatan, Bentuk Ukuran,

Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara Pembetulan Faktur Pajak

Standar. Pertama, mengenai keterangan jenis BKP/JKP yang dilampirkan,

sebagaimana dijelaskan oleh Haula Rosdiana dalam bukunya Pajak

Pertambahan Nilai, Teori dan Aplikasi, yaitu:

Dalam hal rincian Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak

yang diserahkan tidak dapat ditampung dalam satu Faktur Pajak (misalnya

karena jenis barang yang dibeli banyak), maka Pengusaha Kena Pajak dapat

membuat Faktur Pajak dengan cara sebagai berikut:

47
a. Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak

tersebut dibuat lebih dari satu Faktur Pajak yang masing-masing Faktur

Pajak harus diisi secara lengkap sesuai ketentuan; atau

b. Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena

Pajak tersebut dapat dibuat satu Faktur Pajak asalkan menunjuk

nomor dan tanggal Faktur Penjualan yang bersangkutan dan Faktur

Penjualan tersebut merupakan lampiran Faktur Pajak yang tidak

terpisahkan.

Kedua, mengenai adanya kolom ”kuantum” dan ”harga satuan”, juga

dijelaskan dalam Lampiran II PER-159/PJ./2006 tentang petunjuk pengisian

Faktur Pajak Standar. Pada petunjuk pengisian nomor 4 perihal pengisian

tentang Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak yang diserahkan, bagian b:

Nama Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak, diisi dengan nama BKP/JKP yang

diserahkan. Diterangkan pula bahwa:

a. Dalam hal diterima Uang Muka atau Termin atau Cicilan, kolom Barang

Kena Pajak/Jasa Kena Pajak diisi dengan keterangan, misalnya Uang

Muka, atau Termin, atau Angsuran atas pembelian BKP dan/atau

perolehan JKP.

b. Dalam hal diperlukan, Pengusaha Kena Pajak dapat menambahkan

keterangan jumlah unit dan harga per unit dari BKP yang

diserahkan.

48
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Dari pembahasan seputar Faktur Pajak Standar pada bab tiga di atas, maka

dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-159/PJ./2006 tentang Saat

Pembuatan, Bentuk Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata

Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar, diterangkan hal-hal pokok seputar

Faktur Pajak Standar, yakni:

a. Faktur Pajak memiliki fungsi sebagai bukti pemungutan Pajak Keluaran

yang membuktikan bahwa PKP telah melakukan penyerahan Barang Kena

Pajak ataupun Jasa Kena Pajak.

b. Bentuk dan ukuran serta data/keterangan yang tercantum dalam Faktur

Pajak Standar harus sesuai dengan ketentuan seperti yang disebutkan

dalam Pasal 13 ayat (5) UU PPN Nomor 18 Tahun 2000 dan Peraturan

Dirjen Pajak Nomor PER-159/PJ./2006. Jika tidak memenuhi salah satu

persyaratan dalam ketentuan tersebut, maka Faktur Pajak dianggap cacat.

c. Sanksi administrasi atas Faktur Pajak yang cacat tersebut bagi PKP yang

membuat Faktur Pajak berupa denda sebesar 2% dari DPP yang tercantum

49
pada Faktur Pajak yang bersangkutan. Sedangkan dampak bagi PKP yang

menerima Faktur Pajak adalah tidak dapat dikreditkannya PPN (Pajak

Masukan) yang ada pada Faktur Pajak tersebut.

d. Terhadap Faktur Pajak yang cacat tersebut, dapat diterbitkan Faktur Pajak

Standar Pengganti dalam jangka waktu maksimal 2 (dua) tahun sejak

Faktur Pajak Standar yang diganti tersebut diterbitkan, sepanjang terhadap

SPT Masa PPN di mana Faktur Pajak Standar yang diganti tersebut

dilaporkan, belum dilakukan pemeriksaan dan atas PPN yang tercantum

dalam Faktur Pajak Standar tersebut belum dibebankan sebagai biaya.

e. Implikasi pada SPT Masa PPN atas penggantian Faktur Pajak tersebut

adalah kewajiban melakukan pembetulan SPT Masa PPN dimana FP

Standar yang diganti tersebut dilaporkan, baik bagi PKP yang melakukan

penyerahan maupun PKP yang menerima BKP/JKP. Dalam hal ini FP

Standar pengganti harus dilaporkan dalam SPT Masa PPN masa pajak

yang sama dengan masa pajak dilaporkannya Faktur Pajak Standar yang

diganti dengan mencantumkan nilai sesuai dengan yang tercantum dalam

Faktur Pajak Standar pengganti.

2. Terhadap Faktur Pajak Standar (Keluaran dan Masukan) PT. KTB, dapat

disimpulkan sebagai berikut:

a. Data/Keterangan yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar tersebut

secara umum telah memenuhi ketentuan Dirjen Pajak yang tertuang pada

PER-159/PJ./2006.

50
b. Mengenai perbedaan yang terdapat pada Faktur Pajak Masukan, yaitu

adanya rincian jenis BKP/JKP yang dilampirkan serta bentuk dan ukuran

Faktur Pajak yang tidak sama dengan standar Dirjen Pajak, berdasarkan

penjelasan pada Lampiran II PER-159/PJ./2006 hal tersebut sesungguhnya

tidak menjadi masalah. Sehingga Pajak Masukan yang tercantum dalam

Faktur Pajak tersebut tetap dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran PT.

KTB untuk masa pajak yang sama.

c. Dengan demikian, karena Faktur Pajak PT. KTB bukan merupakan Faktur

Pajak cacat maka tidak ada pengenaan sanksi atas PT. KTB, tidak perlu

menerbitkan Faktur Pajak pengganti dan tidak ada kewajiban melakukan

pembetulan SPT Masa PPN.

B. Saran

1. Untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam penerbitan Faktur Pajak

Standar sehingga tidak akan dikategorikan sebagai ”Faktur Pajak Cacat” yang

nantinya juga berdampak pada SPT Masa PPN, bagi PKP yang melakukan

penyerahan maupun menerima BKP/JKP sebaiknya mencermati hal-hal

berikut:

a. Pahami ketentuan formal dan material yang mengatur mengenai

penerbitan Faktur Pajak Standar.

b. Lihat kembali kontrak kerja atau dokumen terkait yang menyatakan

jumlah transaksi yang menjadi dasar pengenaan pajak yang disepakati.

Pastikan jumlahnya sesuai dengan yang tercantum dalam Faktur Pajak.

51
c. Teliti kembali Faktur Pajak yang telah diterbitkan sebelum diberikan

kepada rekanan untuk memastikan semua informasi yang ada di Faktur

Pajak sudah benar dan jelas.

d. Periksa apakah terdapat cacat, coretan, bekas hapusan atau tipe-ex.

2. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saat dilakukan pemeriksaan,

KKP Surya hendaknya tetap meneliti kembali Faktur Pajak perusahaan-

perusahaan yang menjadi klien. Karena pada beberapa kasus seperti telah

dijelaskan pada subbab sebelumnya (bab I), bahwa Faktur Pajak yang tidak

sesuai dengan Standar atau lebih tepatnya tidak sesuai dengan contoh dari

Dirjen Pajak dapat menjadi bermasalah dengan fiskus walaupun kategorinya

hanya low risk. Sekali lagi hal yang remeh temeh tersebut tidak boleh

dikesampingkan agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan PKP.

52
DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Nurmantu, Safri, Pengantar Perpajakan, Jakarta:Granit, 2005.

Rosdiana, Haula, Pajak Pertambahan Nilai Teori dan Aplikasi, Pusat Kajian Ilmu
Administrasi FISIP UI.

Sukardji, Untung, Pokok-Pokok Pajak Pertambahan Nilai Indonesia, Jakarta: PT


Raja Grafindo Persada, 2003.

Peraturan Perundang-Undangan:

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak


Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Atas Penjualan
Barang Mewah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3986.

Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan


Umum dan Tata Cara Perpajakan, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 4740.

Sumber Lainnya:

Tim Indonesian Tax Review, ”Seluk Beluk Faktur Pajak (Bagian 1)”, Indonesian
Tax Review, Vol. IV, Edisi 03, 2004.

Tim Indonesian Tax Review, ”Seluk Beluk Faktur Pajak (Bagian 2)”, Indonesian
Tax Review, Vol. IV, Edisi 04, 2004.

Tim Indonesian Tax Review, ”Tips Bagi Pembeli – Dilema Seorang Pembeli”,
Indonesian Tax Review, Vol. I, Edisi 12, 2005.

53
Tim Indonesian Tax Review, ”Seluk Beluk Faktur Pajak (Bagian 2)”, Indonesian
Tax Review, Vol. IV, Edisi 06, 2005.

Tim Indonesian Tax Review, ”Faktur Pajak: Yang Salah Harus Diperbaiki”,
Indonesian Tax Review, Vol. VI, Edisi 33, 2007.

“Faktur Pajak”, www.pajak.go.id.

”Definisi Pajak”, id.wikipedia.org. 14 April 2009.

”PER-159/PJ./2006”, www.mucglobal.com.

“Faktur Pajak”, www.google.com.

54
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Indah Purnamasari Wulanti

Tempat dan Tanggal Lahir : Jakarta, 8 September 1988

Alamat : Jl. Nangka IV No. 5 RT 004 / RW 005

Kota Baru, Bekasi Barat

Nomor Telepon / Surat Elektronik : 0813 1862 0172 / 021-3208 0276 /

indahwulanti@yahoo.co.id

Nama Orang Tua : Ayah : Muhdlori

Ibu : Waltini

Riwayat Pendidikan Formal:

SD : SDN Pulogebang 05 PG, Jakarta Timur

SMP : SMP Negeri 172, Jakarta Timur

SMA : SMA Negeri 89, Jakarta Timur

D3 : Diploma III Administrasi Perpajakan

FISIP UI, Depok

Prestasi:

2004 Sekretaris, OSIS SMAN 89


2004 Ketua Umum, English Club SMAN 89
2004 Ketua Umum, Sunday Meeting Club
(SMC) IEC 03 Bekasi
2005 Kepala Divisi Kajian, SCALA Institute
2006 Ketua Umum, SCALA Institute
2007 Kepala Divisi Kajian, SCALA Institute
2007 Staf Biro PSDM, Himpunan Mahasiswa

x
Perpajakan (HMPS) FISIP UI
2007 Staf Departemen Kajian & Aksi Strategis,
BEM FISIP UI
2008 Kepala Divisi Kajian dan Media, SCALA
Institute
2008 Anggota, CEDS UI
2008 Koord. Bidang 1, Himpunan Mahasiswa
Perpajakan (HMPS) FISIP UI
2009 Kepala Divisi Kajian, SCALA Institute
2009 Kepala Divisi Pengembangan
Masyarakat, SCALA Foundation

xi
Lampiran 1
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR PER - 159/PJ./2006

TENTANG SAAT PEMBUATAN, BENTUK, UKURAN, PENGADAAN, TATA CARA


PENYAMPAIAN,DAN TATA CARA PEMBETULAN FAKTUR PAJAK STANDAR

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menimbang :

a. bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 13 ayat (4) Undang-undang


Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000;
b. bahwa dalam rangka memberikan kemudahan dan kepastian hukum kepada
Pengusaha Kena Pajak dalam membuat Faktur Pajak;
c. bahwa dalam rangka mengoptimalkan kegunaan sistem Faktur Pajak yang dianut
dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualanatas Barang Mewah sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000,
dengan dukungan teknologi informasi;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai
dengan huruf c perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Saat
Pembuatan, Bentuk, Ukuran,Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata Cara
Pembetulan Faktur Pajak Standar;

Mengingat :

1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262)sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3984);
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan
Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1983 Nomor 51,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18
Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
128,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3986);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 259, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4061)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4199);
MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG SAAT PEMBUATAN,


BENTUK, UKURAN, PENGADAAN, TATA CARA PENYAMPAIAN, DAN TATA CARA
PEMBETULAN FAKTUR PAJAK STANDAR.

Pasal 1

Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini yang dimaksud dengan :


1. Pajak adalah Pajak Pertambahan Nilai, atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
2. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak
atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.
3. Faktur Pajak Standar adalah Faktur Pajak yang paling sedikit memuat keterangan
tentang :
a. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak
atau Jasa Kena Pajak;
b. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak Pembeli Barang Kena Pajak atau
Penerima Jasa Kena Pajak;
c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan
harga;
d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;
f. Kode, Nomor Seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan
g. Nama, Jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak;
4. Faktur Pajak Gabungan adalah Faktur Pajak Standar untuk semua penyerahan
Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang terjadi selama 1
(satu) bulan takwim kepada pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena
Pajak yang sama.

Pasal 2

(1) Faktur Pajak Standar harus dibuat paling lambat :


a. pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan Barang Kena
Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dalam hal pembayaran diterima setelah akhir
bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa
Kena Pajak;
b. pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir
bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak;
c. pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi
sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa
Kena Pajak;
d. pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian
tahap pekerjaan; atau
e. pada saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada
Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.
(2) Faktur Pajak Gabungan harus dibuat paling lambat :
a. pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak, dalam hal pembayaran baik sebagian atau
seluruhnya terjadi setelah berakhirnya bulan penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak; atau
b. pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak,
dalam hal pembayaran baik sebagian atau seluruhnya terjadi sebelum
berakhirnya bulan Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa
Kena Pajak.

Pasal 3

(1) Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak Standar disesuaikan dengan kepentingan
Pengusaha Kena Pajak dan dalam hal diperlukan dapat ditambahkan keterangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 8 Tahun
1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah sebagaiman telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2000.
(2) Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat dibuat sebagaimana contoh pada Lampiran 1A dan Lampiran 1B Peraturan
Direktur Jenderal Pajak ini.

Pasal 4

(1) Pengadaan formulir Faktur Pajak Standar dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak.
(2) Faktur Pajak Standar paling sedikit dibuat dalam rangkap 2 (dua) yang
peruntukannya masing-masing sebagai berikut :
a. Lembar ke-1, disampaikan kepada Pembeli Barang Kena Pajak atau Penerima
Jasa Kena Pajak
b. Lembar ke-2, untuk arsip Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak
Standar.
(3) Dalam hal Faktur Pajak Standar dibuat lebih dari yang ditetapkan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), maka harus dinyatakan secara jelas peruntukannya dalam
lembar Faktur Pajak Standar yang bersangkutan.

Pasal 5

(1) Keterangan dalam Faktur Pajak Standar harus diisi secara lengkap, jelas dan benar,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 3, serta ditandatangani oleh
pejabat/kuasa yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak untuk menandatanganinya.
(2) Faktur Pajak Standar yang tidak diisi secara lengkap, jelas, benar, dan/atau tidak
ditandatangani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan Faktur Pajak Cacat
yaitu Faktur Pajak yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000.
(3) Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum dalam Faktur Pajak Cacat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) merupakan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan oleh
Pengusaha Kena Pajak.
(4) Tata cara pengisian keterangan pada Faktur Pajak Standar sebagaimana diatur
dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.

Pasal 6

(1) Pengusaha Kena Pajak harus menerbitkan Faktur Pajak Standar dengan
menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana ditetapkan pada
Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(2) Kode Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari :
a. 2 (dua) digit Kode Transaksi;
b. 1 (satu) digit Kode Status; dan
c. 3 (tiga) digit Kode Cabang.
(3) Nomor Seri Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari :
a. 2 (dua) digit Tahun Penerbitan; dan
b. 8 (delapan) digit Nomor Urut.

Pasal 7

(1) Penggunaan Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (2) huruf c adalah sebagai berikut :
a. bagi Pengusaha Kena Pajak yang dipusatkan secara jabatan pada Kantor
Pelayanan Pajak yang menerapkan Sistem Administrasi Modern (SAM), namun :
a.1. sistem penerbitan Faktur Pajak Standar-nya belum online antara Kantor
Pusat dan Kantor-kantor Cabang-nya; dan/atau
a.2. Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang-nya ada yang ditetapkan
sebagaiPenyelenggara Kawasan Berikat dan/atau ditetapkan sebagai
Pengusaha Di Kawasan Berikat dan/atau berada di Pulau Batam dan/atau
mendapat fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor;
Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar ditentukan sendiri secara berurutan, yaitu
diisi dengan kode '000' untuk Kantor Pusat dan dimulai dari kode '001' untuk Kantor
Cabang; atau
b. bagi Pengusaha Kena Pajak selain Pengusaha Kena Pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a, Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar
diisi dengan kode '000'.
(2) Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atas Kode Cabang yang digunakan
beserta keterangan dari Kode Cabang tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak tempat pemusatan pajak terutang dilakukan paling lambat sebelum Faktur
Pajak Standar diterbitkan, dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran IVA Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(3) Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat
melakukan penambahan dan/atau pengurangan terhadap Kantor-kantor Cabang-nya.
(4) Atas penambahan Kantor Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pengusaha
Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus melakukan
penambahan Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar.
(5) Atas pengurangan Kantor Cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pengusaha
Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus menghentikan
penggunaan Kode Cabang Faktur Pajak Standar atas Kantor Cabang tersebut.
(6) Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak
diperbolehkan mengubah peruntukan Kode Cabang yang telah digunakan atau
menggunakan Kode Cabang yang sudah dihentikan penggunaannya.
(7) Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atas penambahan dan/atau
penghentian penggunaan Kode Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak tempat pemusatan pajak terutang dilakukan paling lambat sebelum Faktur
Pajak Standar diterbitkan dan/atau 1 (satu) bulan sesudah pengurangan Kantor
Cabang, dengan menggunakan Formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran
IVB Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(8) Dalam hal :
a. Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, tidak atau
terlambat menyampaikan pemberitahuan penggunaan Kode Cabang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan/atau ayat (7), maka Faktur Pajak
Standar yang diterbitkan sampai dengan diterimanya pemberitahuan merupakan
Faktur Pajak Cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).
b. Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
menerbitkan Faktur Pajak Standar dengan menggunakan Kode Cabang selain
dari Kode Cabang yang telah ditetapkan, maka Faktur Pajak Standar tersebut
merupakan Faktur Pajak Cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

Pasal 8

(1) Nomor Urut pada Nomor Seri Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (3) huruf b dan tanggal Faktur Pajak Standar harus dibuat secara
berurutan, tanpa perlu dibedakan antara Kode Transaksi, Kode Status Faktur Pajak
Standar dan mata uang yang digunakan.
(2) Penerbitan Faktur Pajak Standar dimulai dari Nomor Urut 1 (satu) pada setiap awal
tahun takwim mulai bulan Januari, kecuali bagi Pengusaha Kena Pajak yang baru
dikukuhkan, Nomor Urut 1 (satu) dimulai sejak Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak
tersebut dikukuhkan.
(3) Dalam hal Faktur Pajak Standar diterbitkan oleh Pengusaha Kena Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a, maka Nomor Urut 1 (satu)
dimulai pada setiap awal tahun takwim bulan Januari pada masing-masing Kantor
Pusat dan Kantor-kantor Cabangnya kecuali bagi Kantor Cabang yang baru
dikukuhkan, Nomor Urut 1 (satu) dimulai sejak Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak
tersebut dikukuhkan.
(4) Dalam hal sebelum bulan Januari awal tahun takwim berikutnya, Nomor Urut pada
Faktur Pajak Standar yang digunakan oleh Pengusaha Kena Pajak telah mencapai
Nomor Urut 99999999 (sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh
sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan), maka Pengusaha Kena
Pajak harus menerbitkan Faktur Pajak Standar yang Nomor Urut-nya dimulai lagi dari
Nomor Urut 1 (satu).
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berlaku pula bagi Pengusaha Kena
Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a yang Nomor Urut pada
Faktur Pajak Standar-nya di Kantor Pusat atau di Kantor-Kantor Cabangnya telah
mencapai Nomor Urut 99999999 (sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus
sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan).
(6) Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Kepala Kantor Pelayanan
Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan atau tempat pemusatan pajak
terutang dilakukan, paling lambat pada saat Faktur Pajak Standar dengan Nomor
urut 1 (satu) tersebut diterbitkan, dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran V Peraturan DirekturJenderal Pajak ini.
(7) Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) harus
menerbitkan Faktur Pajak Standar dengan Nomor Urut dimulai dari Nomor Urut 1
(satu) pada awal tahun takwim berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan
ayat (3).
(8) Dalam hal Pengusaha Kena Pajak pada awal tahun takwim bulan Januari atau bagi
Pengusaha Kena Pajak yang baru dikukuhkan pada Masa Pajak Pengusaha Kena
Pajak tersebut dikukuhkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), menerbitkan
Faktur Pajak Standar tidak dimulai dari Nomor Urut 1 (satu), maka Faktur Pajak yang
diterbitkan merupakan Faktur Pajak Cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (2).
(9) Ketentuan pada ayat (8) berlaku pula bagi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (3).
(10)Dalam hal sebelum Masa Pajak Januari tahun berikutnya Pengusaha Kena Pajak
menerbitkan Faktur Pajak Standar mulai dari Nomor Urut 1 (satu) sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5), namun Pengusaha Kena Pajak tidak atau
terlambat menyampaikan pemberitahuan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan atau tempat pemusatan pajak terutang
dilakukan, maka Faktur Pajak Standar yang diterbitkan sampai dengan Masa Pajak
Desember atau sampai dengan diterimanya pemberitahuan, merupakan Faktur Pajak
Cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

Pasal 9

(1) Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis nama
pejabat yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar disertai dengan contoh
tandatangannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak paling lambat pada saat
pejabat yang berhak menandatangani mulai menandatangani Faktur Pajak Standar
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VIA
Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(2) Pengusaha Kena Pajak dapat menunjuk lebih dari 1 (satu) orang Pejabat untuk
menandatangani Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Dalam hal Pengusaha Kena Pajak Orang Pribadi yang tidak memiliki struktur
organisasi, memberikan kuasa kepada pihak lain untuk menandatangani Faktur
Pajak Standar, maka Pengusaha Kena Pajak tersebut wajib menyampaikan
pemberitahuan secara tertulis nama kuasa yang berhak menandatangani Faktur
Pajak Standar disertai dengan contoh tandatangannya kepada Kepala Kantor
Pelayanan Pajak paling lambat pada saat pihak yang diberi kuasa mulai
menandatangani Faktur Pajak Standar, dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran VIA Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, dan
menyertakan Surat Kuasa Khusus dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran VII Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(4) Dalam hal terjadi perubahan pejabat atau kuasa yang berhak menandatangani
Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3), maka
Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atas
perubahan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak paling lambat pada saat
pejabat atau kuasa pengganti mulai menandatangani Faktur Pajak Standar dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VIB Peraturan
Direktur Jenderal Pajak ini.
(5) Dalam hal Pengusaha Kena Pajak melakukan pemusatan tempat pajak terutang,
maka pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk pula pejabat di tempat-
tempat kegiatan usaha yang dipusatkan, yang ditunjuk oleh Kantor Pusat untuk
menandatangani Faktur Pajak Standar yang diterbitkan oleh tempat pemusatan pajak
terutang yang dicetak di tempat-tempat kegiatan usaha masing-masing.
(6) Dalam hal Pengusaha Kena Pajak tidak atau terlambat menyampaikan
pemberitahuan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena
Pajak dikukuhkan atau tempat pemusatan pajak terutang dilakukan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (3) dan ayat (4), maka Faktur Pajak Standar yang
diterbitkan sampai dengan diterimanya pemberitahuan, merupakan Faktur Pajak
Cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

Pasal 10

Faktur Penjualan yang memuat keterangan sesuai dengan keterangan dalam Faktur
Pajak Standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 3, dan pengisiannya sesuai
dengan tata cara pengisian keterangan pada Faktur Pajak Standar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4), dipersamakan dengan Faktur Pajak Standar.

Pasal 11

(1) Atas Faktur Pajak Standar yang cacat, rusak salah dalam pengisian, atau salah
dalam penulisan, sehingga tidak memuat keterangan yang lengkap, jelas dan benar,
Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar tersebut dapat
menerbitkan Faktur Pajak Standar Pengganti yang tata caranya diatur dalam
Lampiran VIII huruf A Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(2) Atas Faktur Pajak Standar yang hilang, baik Pengusaha Kena Pajak yang
menerbitkan maupun pihak yang menerima Faktur Pajak Standar tersebut dapat
membuat copy dari arsip Faktur Pajak Standar yang tata caranya diatur dalam
Lampiran VIII huruf B Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(3) Dalam hal terdapat pembatalan transaksi penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajak Standar-nya telah diterbitkan, maka
Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar harus melakukan
pembatalan Faktur Pajak Standar yang tata caranya diatur dalam Lampiran VIII huruf
C Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.

Pasal 12

(1) Penerbitan Faktur Pajak Standar Pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11
ayat (1) atau pembatalan Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 ayat (3), hanya dapat dilakukan paling lambat 2 (dua) tahun sejak Faktur Pajak
Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut diterbitkan, sepanjang terhadap Surat
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dimana Faktur Pajak Standar yang
diganti atau dibatalkan tersebut dilaporkan, belum dilakukan pemeriksaan dan atas
Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum dalam Faktur Pajak Standar tersebut belum
dibebankan sebagai biaya.
(2) Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penerbitan Faktur Pajak Standar Pengganti
dan/atau pembatalan Faktur Pajak Standar harus melakukan pembetulan terhadap
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak dimana
Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut dilaporkan.
(3) Pembeli Barang Kena Pajak dan/atau Penerima Jasa Kena Pajak yang telah
melakukan pengkreditan Pajak Masukan atas Pajak Pertambahan Nilai pada Faktur
Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan oleh Pengusaha Kena Pajak Penjual,
harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
pada Masa Pajak dimana Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut
dilaporkan, sepanjang terhadap Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai
dimana Faktur Pajak Standar yang diganti atau dibatalkan tersebut dilaporkan belum
dilakukan pemeriksaan.

Pasal 13

(1) Faktur Pajak Standar yang diterbitkan setelah melewati jangka waktu 3 (tiga) bulan
sejak saat Faktur Pajak Standar seharusnya dibuat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2, adalah bukan merupakan Faktur Pajak Standar.
(2) Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dianggap tidak menerbitkan Faktur Pajak Standar.

Pasal 14

(1) Pengusaha Kena Pajak dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 14 ayat (4) Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2000 dalam hal :
a. menerbitkkan Faktur Pajak Standar yang tidak memuat keterangan dan/atau
tidak mengisi secara lengkap, jelas, benar, dan/atau tidak ditandatangani oleh
Pejabat atau Kuasa yang ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak untuk
menandatangani Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (2).
b. Menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat
(1).
(2) Pengusaha Kena Pajak yang menerima Faktur Pajak Standar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) tidak dapat mengkreditkan Pajak Pertambahan
Nilai yang tercantum di dalamnya.

Pasal 15

(1) Atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan
sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, namun Faktur Pajak
Standar-nya belum diterbitkan, maka Faktur Pajak Standar harus diterbitkan dengan
menggunakan Kode dan Nomor Seri sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III
Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
(2) Atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajak
Standar-nya diterbitkan sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini
yang masih menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang lama, namun
Faktur Pajak Standar-nya diterima dan/atau dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak
Pembeli setelah berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, maka Pajak
Pertambahan Nilai yang tercantum pada Faktur Pajak Standar tetap dapat
dikreditkan dengan Pajak Keluaran sepanjang memenuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
(3) Penerbitan Faktur Pajak Standar Pengganti atas Faktur Pajak Standar yang telah
diterbitkan sebelum Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini berlaku, menggunakan
Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar yang ditetapkan dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak ini.
(4) Bagi Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b
yang melakukan pemusatan tempat pajak terutang yang keputusan pemusatannya
diberikan sebelum Peraturan Direktur Jenderal ini berlaku, namun :
a. sistem penerbitan Faktur Pajak Standar-nya belum online antara Kantor Pusat
dan Kantor-kantor Cabang-nya; dan/atau
b. Kantor Pusat dan/atau Kantor-kantor Cabang-nya ada yang ditetapkan sebagai
Penyelenggara Kawasan Berikat dan/atau ditetapkan sebagai Pengusaha Di
Kawasan Berikat dan/atau berada di Pulau Batam dan/atau mendapat fasilitas
Kemudahan Impor Tujuan Ekspor; maka pengisian Kode Cabang pada Kode
Faktur Pajak Standar dilakukan sama dengan pengisian Kode Cabang pada
Kode Faktur Pajak Standar yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a, sampai dengan
berakhirnya masa berlaku pemusatan sepanjang sesuai dengan ketentuan yang
mengatur mengenai pemusatan tempat pajak terutang.
(5) Untuk pertama kali sejak berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini,
Pengusaha Kena Pajak wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis Kode
Cabang pada Kode Faktur Pajak Standar yang akan digunakan dan nama pejabat
atau kuasa yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak Standar disertai
dengan contoh tandatangannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan ayat (3), paling lambat pada
tanggal 20 Januari 2007.
(6) Dalam hal sampai dengan berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada
ayat (5), Pengusaha Kena Pajak tidak atau terlambat menyampaikan pemberitahuan
penggunaan Kode Cabang dan/atau pejabat atau kuasa yang ditunjuk
menandatangani Faktur Pajak Standar kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak,
maka Faktur Pajak Standar yang diterbitkan sampai dengan diterimanya
pemberitahuan, merupakan Faktur Pajak Cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 ayat (2).
Pasal 16

(1) Pada saat Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku :
a. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-549/PJ./2000 tentang Saat
Pembuatan, Bentuk, Ukuran, Pengadaan, Tata Cara Penyampaian, dan Tata
Cara Pembetulan Faktur Pajak Standar sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-59/PJ./2005; dan
b. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-424/PJ./2002 tentang Penerbitan
dan Pengkreditan Faktur Pajak yang Dibuat Tidak Tepat Waktu; dinyatakan tidak
berlaku.
(2) Ketentuan-ketentuan lain yang mengatur tentang Faktur Pajak Standar sepanjang
tidak bertentangan dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, dinyatakan tetap
berlaku.

Pasal 17

Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku untuk penerbitan Faktur Pajak mulai
Masa Pajak Januari
2007.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Direktur


Jenderal Pajak ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 31 Oktober 2006
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

ttd.

DARMIN NASUTION
NIP 130605098
Lampiran 2
PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 143 TAHUN 2000 TANGGAL 22 DESEMBER 2000
TENTANG
PELAKSANAAN Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MEWAH SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN
Undang-Undang nomor 18 TAHUN 2000

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :
bahwa dengan diundangkannya Undang-Undang nomor 18 TAHUN 2000 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang pelaksanaan Undang-Undang nomor 8
TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang nomor 18 TAHUN 2000;

Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan
Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang nomor 6 TAHUN 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor 16 TAHUN 2000 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3984);
3. Undang-Undang nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang nomor 17 TAHUN 2000 (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun
2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3985);
4. Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang
dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor
18 TAHUN 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3986);

MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN Undang-Undang nomor 8
TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA
KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN Undang-Undang nomor 18 TAHUN 2000.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Undang-undang PPN adalah Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang nomor 18 TAHUN 2000.
2. Pajak adalah Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
3. Piutang adalah piutang dagang yang timbul karena penyerahan Barang Kena
Pajak dan atau Jasa Kena Pajak.
4. Persediaan Barang Kena Pajak adalah persediaan bahan baku, persediaan
bahan pembantu, persediaan barang dalam proses, persediaan barang setengah
jadi, dan atau persediaan barang jadi.
5. Pedagang Eceran adalah Pengusaha yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya melakukan usaha perdagangan dengan cara sebagai berikut :
a. menyerahkan Barang Kena Pajak melalui suatu tempat penjualan eceran
seperti toko, kios, atau dengan cara penjualan yang dilakukan langsung
kepada konsumen akhir, atau dengan cara penjualan yang dilakukan dari
rumah ke rumah; dan
b. menyediakan Barang Kena Pajak yang diserahkan di tempat penjualan
secara eceran tersebut; dan
c. melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan
penawaran tertulis, pemesanan tertulis, kontrak atau lelang dan pada
umumnya bersifat tunai, dan pembeli pada umumnya datang ke tempat
penjualan tersebut langsung membawa sendiri Barang Kena Pajak yang
dibelinya.

BAB II
PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK

Pasal 2
(1) Dalam rangka pengukuhan Pengusaha sebagai Pengusaha Kena Pajak,
termasuk dalam pengertian Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang
Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak dan atau ekspor Barang
Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 15 Undang-undang
PPN, adalah Pengusaha yang sejak semula bermaksud melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak dan atau ekspor
Barang Kena Pajak.
(2) Dalam rangka pengukuhan Pengusaha sebagai Pengusaha Kena Pajak,
termasuk dalam pengertian bentuk badan lainnya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 angka 13 Undang-undang PPN, adalah bentuk kerjasama operasi.
(3) Saat pengukuhan Pengusaha sebagai Pengusaha Kena Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 angka 15 Undang-undang PPN, ditetapkan dengan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang nomor 6 TAHUN 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor 16 TAHUN 2000.

BAB III
IMPOR BARANG KENA PAJAK

Pasal 3
Atas impor Barang Kena Pajak yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan
Pabean dibebaskan dari pungutan Bea Masuk, Pajak yang terutang tetap dipungut
kecuali ditetapkan lain berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan.

BAB IV
DASAR PENGENAAN PAJAK

Pasal 4
(1) Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah jumlah Harga Jual,
Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan, yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung
Pajak yang terutang.
(2) Atas penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang dilakukan
oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak yang
Tergolong Mewah atau atas impor Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah,
Dasar Pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang
dikenakan atas perolehan atau atas impor Barang Kena Pajak yang Tergolong
Mewah tersebut.
(3) Atas penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang dilakukan
oleh Pengusaha Kena Pajak selain pengusaha yang menghasilkan Barang Kena
Pajak yang Tergolong Mewah atau atas impor Barang Kena Pajak yang
Tergolong Mewah, Dasar Pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) termasuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dikenakan atas
perolehan atau atas impor Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah tersebut.

BAB V
PENGHITUNGAN PAJAK

Pasal 5
(1) Dalam kontrak atau perjanjian tertulis mengenai penyerahan Barang Kena Pajak
dan atau Jasa Kena Pajak, harus disebutkan dengan jelas nilainya, Dasar
Pengenaan Pajak, dan besarnya Pajak yang terutang.
(2) Apabila dalam nilai kontrak atau perjanjian tertulis telah termasuk Pajak, maka
wajib disebutkan dengan jelas bahwa dalam nilai tersebut telah termasuk Pajak.
(3) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) tidak
dipenuhi, maka jumlah harga yang tercantum dalam kontrak atau perjanjian
tertulis tersebut dianggap sebagai Dasar Pengenaan Pajak.

Pasal 6
(1) Dalam hal Pajak Pertambahan Nilai telah menjadi bagian dari harga atau
pembayaran atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa
Kena Pajak, maka Pajak Pertambahan Nilai yang terutang adalah 10/110 dari
harga atau pembayaran atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau
penyerahan Jasa Kena Pajak.
(2) Dalam hal penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) juga terutang Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan telah menjadi bagian
dari harga atau pembayaran atas penyerahan Barang Kena Pajak, maka cara
penghitungan Pajaknya adalah sebagai berikut:
a. Pajak Pertambahan Nilai =
10
----------- X harga atau pembayaran atas penyerahan
110 + t Barang Kena Pajak
b. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah =
t
----------- X harga atau pembayaran atas penyerahan
110 + t Barang Kena Pajak
t = besarnya tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(3) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Pengusaha Kena Pajak tidak
atau tidak sepenuhnya melaksanakan kewajiban pemungutan Pajak, maka
besarnya Dasar Pengenaan Pajak ditetapkan sebesar Harga Jual, atau
Penggantian, atau Nilai Lain sesuai hasil pemeriksaan, sehingga besarnya Pajak
yang terutang dihitung berdasarkan tarif dikalikan Dasar Pengenaan Pajak
menurut hasil pemeriksaan.
(4) Pengusaha yang seharusnya melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak tetapi tidak melaksanakan kewajibannya tersebut, maka
besarnya Pajak yang terutang dihitung sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (3).

Pasal 7
(1) Penghapusan piutang tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian Pajak yang
telah dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak penjual atau Pengusaha Kena
Pajak pemberi jasa, dan tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian Pajak yang
telah dikreditkan atau yang telah dibebankan sebagai biaya oleh Pengusaha
Kena Pajak pembeli atau Pengusaha Kena Pajak penerima jasa.
(2) Atas Barang Kena Pajak yang musnah atau rusak sehingga tidak dapat
digunakan lagi baik karena bencana alam ataupun sebab lain di luar kekuasaan
Pengusaha Kena Pajak, tidak mengakibatkan dilakukan penyesuaian Pajak yang
telah dikreditkan atau yang telah dibebankan sebagai biaya untuk perolehan
Barang Kena Pajak yang musnah atau rusak tersebut.
(3) Dalam hal terjadi kesalahan pemungutan yang mengakibatkan Pajak yang
dipungut lebih besar dari yang seharusnya atau tidak seharusnya dipungut dan
Pajak yang salah dipungut tersebut telah disetorkan dan dilaporkan, maka
Pengusaha Kena Pajak yang memungut Pajak tersebut tidak dapat meminta
kembali Pajak yang salah dipungut tersebut.
(4) Pajak yang salah dipungut sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat diminta
kembali oleh pihak yang terpungut, sepanjang belum dikreditkan atau belum
dibebankan sebagai biaya.
(5) Pihak yang terpungut sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) adalah importir,
pembeli barang, penerima jasa, atau pihak yang memanfaatkan barang tidak
berwujud atau jasa dari luar Daerah Pabean.

Pasal 8
(1) Atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan,
Dasar Pengenaan Pajak dihitung berdasarkan Harga Jual.
(2) Atas aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan dan
persediaan Barang Kena Pajak yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan, serta atas pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma, Dasar
Pengenaan Pajak dihitung berdasarkan Nilai Lain yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan.

Pasal 9
(1) Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran dalam menghitung Pajak yang
terutang dapat memilih Nilai lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai
Dasar Pengenaan Pajak.
(2) Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran yang memilih menggunakan Nilai Lain
sebagai Dasar Pengenaan Pajak yang memiliki lebih dari satu tempat penjualan,
atas penyerahan Barang Kena Pajak antar tempat penjualan tersebut tidak
terutang Pajak Pertambahan Nilai.
(3) Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran yang tidak memilih menggunakan
Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak yang memiliki lebih dari satu tempat
penjualan, maka penyerahan Barang Kena Pajak antar tempat penjualan
tersebut terutang Pajak Pertambahan Nilai.

Pasal 10
Pajak yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak
kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai dipungut pada saat pembayaran oleh
Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.
Pasal 11
(1) Apabila pembayaran atau Harga Jual atau Penggantian dilakukan dengan
mempergunakan mata uang asing, maka penghitungan besarnya Pajak yang
terutang harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan
kurs yang berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan pada saat pembuatan
Faktur Pajak.
(2) Dalam hal pembayaran atau Harga JuaI atau Penggantian yang dilakukan
sehubungan dengan pelaksanaan Pasal 16A Undang-undang PPN
mempergunakan mata uang asing, maka besarnya Pajak yang terutang harus
dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan kurs yang
berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan pada saat dilakukan pembayaran
oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

BAB VI
PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN

Pasal 12
(1) Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak dan atau Jasa
Kena Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran di tempat Pengusaha Kena Pajak
dikukuhkan.
(2) Direktur Jenderal Pajak dapat menentukan tempat selain tempat sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) sebagai tempat pengkreditan Pajak Masukan atas
perolehan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak, baik atas permohonan
tertulis dari Pengusaha Kena Pajak ataupun secara jabatan.

BAB VII
SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG

Pasal 13
(1) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut
sifat atau hukumnya berupa barang bergerak, terjadi pada saat Barang Kena
Pajak tersebut diserahkan secara langsung kepada pembeli atau pihak ketiga
untuk dan atas nama pembeli, atau pada saat Barang Kena Pajak tersebut
diserahkan kepada juru kirim atau pengusaha jasa angkutan.
(2) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut
sifat atau hukumnya berupa barang tidak bergerak, terjadi pada saat penyerahan
hak untuk menggunakan atau menguasai Barang Kena Pajak tersebut, baik
secara hukum atau secara nyata, kepada pihak pembeli.
(3) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud oleh
Pengusaha Kena Pajak, adalah pada saat yang terjadi lebih dahulu dari
peristiwa-peristiwa di bawah ini :
a. saat harga penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dinyatakan
sebagai piutang oleh Pengusaha Kena Pajak;
b. saat harga penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud ditagih oleh
Pengusaha Kena Pajak;
c. saat harga penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud diterima
pembayarannya, baik sebagian atau seluruhnya oleh Pengusaha Kena
Pajak; atau
d. saat ditandatanganinya kontrak atau perjanjian oleh Pengusaha Kena
Pajak, dalam hal saat sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai
dengan huruf c tidak diketahui.
(4) Terutangnya Pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak, terjadi pada saat mulai
tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik sebagian
atau seluruhnya.
(5) Terutangnya Pajak atas impor Barang Kena Pajak, terjadi pada saat Barang
Kena Pajak tersebut dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.
(6) Terutangnya Pajak atas ekspor Barang Kena Pajak, terjadi pada saat Barang
Kena Pajak dikeluarkan dari Daerah Pabean.
(7) Terutangnya Pajak atas aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan dan atau persediaan Barang Kena Pajak yang masih tersisa
pada saat pembubaran perusahaan terjadi, adalah pada saat yang terjadi lebih
dahulu di antara saat :
a. ditandatanganinya akte pembubaran oleh Notaris; atau
b. berakhirnya jangka waktu berdirinya perseroan yang ditetapkan dalam
Anggaran Dasar; atau
c. tanggal penetapan Pengadilan yang menyatakan perseroan dibubarkan;
atau
d. diketahuinya bahwa perusahaan tersebut nyata-nyata sudah tidak
melakukan kegiatan usaha atau sudah dibubarkan, berdasarkan hasil
pemeriksaan atau berdasarkan data atau dokumen yang ada.
(8) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dalam rangka
perubahan bentuk usaha atau penggabungan usaha atau pemekaran usaha atau
pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang
berhak atas Barang Kena Pajak tersebut, terjadi pada saat ditandatanganinya
akte yang berkenaan oleh Notaris.

Pasal 14
(1) Tempat Pajak terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena
Pajak di dalam Daerah Pabean adalah di tempat tinggal atau tempat kedudukan
dan tempat kegiatan usaha dilakukan, yaitu di tempat Pengusaha dikukuhkan
atau seharusnya dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
(2) Tempat Pajak terutang atas:
a. Impor Barang Kena Pajak, adalah di tempat Barang Kena Pajak
dimasukkan ke dalam Daerah Pabean;
b. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena
Pajak dari luar Daerah Pabean adalah di tempat tinggal orang pribadi
atau tempat kedudukan badan dalam hal orang pribadi atau badan
tersebut bukan sebagai Wajib Pajak atau di tempat orang pribadi atau
badan tersebut terdaftar sebagai Wajib Pajak;
c. Kegiatan membangun sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak yang
dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya atau oleh
bukan Pengusaha Kena Pajak, adalah di tempat bangunan tersebut
didirikan.
(3) Direktur Jenderal Pajak dapat menentukan tempat lain selain tempat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai tempat Pajak terutang atas
ekspor Barang Kena Pajak, baik atas permohonan tertulis dari Pengusaha Kena
Pajak ataupun secara jabatan.

Pasal 15
(1) Setiap Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak
dan atau Jasa Kena Pajak wajib membuat Faktur Pajak.
(2) Faktur Pajak dapat berupa Faktur Pajak Standar, Faktur Pajak Sederhana, dan
dokumen-dokumen tertentu yang ditetapkan sebagai Faktur Pajak oleh Direktur
JenderaI Pajak.
(3) Dalam Faktur Pajak Standar harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan
Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit
memuat keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-
undang PPN, yaitu :
a. Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;
b. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena
Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;
c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau penggantian, dan
potongan harga;
d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
e. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang dipungut;
f. Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan
g. Nama, jabatan dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur
Pajak.
(4) Faktur Penjualan yang memuat keterangan dan pengisiannya sesuai dengan
ketentuan dalam ayat (2) dapat dipersamakan sebagai Faktur Pajak Standar.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 16
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, peraturan pelaksanaan yang berlaku
sebelum dikeluarkan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap berlaku, sepanjang tidak
bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 17
Ketentuan mengenai:
1. Jenis barang dan jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai; dan
2. Kelompok Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang dikenakan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, diatur tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 18
Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Pemerintah
ini diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Pasal 19
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah nomor 50
TAHUN 1994 tentang Pelaksanaan Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang
Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 11 TAHUN 1994 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3581), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah nomor 59 TAHUN 1999 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 113) dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 20
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2001.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 22 Desember 2000

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


ttd
ABDURRAHMAN WAHID

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 22 Desember 2000

SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,


ttd
DJOHAN EFFENDI
Lampiran 3
PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 24 TAHUN 2002 TANGGAL 13 MEI 2002
TENTANG
PERUBAHAN ATAS Peraturan Pemerintah nomor 143 TAHUN 2000 TENTANG
PELAKSANAAN Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MEWAH SEBAGAIMANA TELAH BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN
Undang-Undang nomor 18 TAHUN 2000

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :
bahwa untuk lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi Wajib Pajak serta
dalam rangka sinkronisasi peraturan perundangan-undangan perpajakan, perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
nomor 143 TAHUN 2000 tentang Pelaksanaan Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983
tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor
18 TAHUN 2000;

Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan
Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang nomor 6 TAHUN 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor 16 TAHUN 2000 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3984);
3. Undang-Undang nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang nomor 17 TAHUN 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2000 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3985);
4. Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang
dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3264)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor
18 TAHUN 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 128,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3986);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Undang-
Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan
Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 259, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4061);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 143 TAHUN 2000 TENTANG PELAKSANAAN Undang-Undang
nomor 8 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI BARANG DAN JASA
DAN PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH SEBAGAIMANA TELAH
BEBERAPA KALI DIUBAH TERAKHIR DENGAN Undang-Undang nomor 18 TAHUN
2000.

Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah nomor 143 TAHUN 2000 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor 18 TAHUN 2000 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 259, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4061),
diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 angka 5 dihapus, sehingga keseluruhan Pasal 1 berbunyi
sebagai berikut:
"Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Undang-undang PPN adalah Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983
tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang nomor 18 TAHUN 2000.
2. Pajak adalah Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
3. Piutang adalah piutang dagang yang timbul karena penyerahan Barang
Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.
4. Persediaan Barang Kena Pajak adalah persediaan bahan baku,
persediaan bahan pembantu, persediaan barang dalam proses,
persediaan barang setengah jadi, dan/atau persediaan barang jadi.
5. Dihapus."
2. Ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 4
berbunyi sebagai berikut:
"Pasal 4
(1) Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah jumlah Harga Jual,
Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan
dengan Keputusan Menteri Keuangan, yang dipakai sebagai dasar untuk
menghitung Pajak yang terutang.
(2) Atas penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang
dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena
Pajak yang Tergolong Mewah atau atas impor Barang Kena Pajak yang
Tergolong Mewah, Dasar Pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah yang dikenakan atas penyerahan atau
atas impor Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah tersebut.
(3) Atas penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah yang
dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak selain Pengusaha yang
menghasilkan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah atau oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan impor Barang Kena Pajak yang
Tergolong Mewah, Dasar Pengenaan Pajak sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) termasuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang
dikenakan atas perolehan atau atas impor Barang Kena Pajak yang
Tergolong Mewah tersebut."
3. Ketentuan Pasal 9 diubah, sehingga menjadi berbunyi sebagai berikut:
"Pasal 9
(1) Bagi Pengusaha Kena Pajak yang menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Netto, besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan
dapat dihitung dengan menggunakan norma penghitungan pengkreditan
Pajak Masukan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
(2) Bagi Pengusaha Kena Pajak yang melakukan kegiatan usaha tertentu,
dalam menghitung Pajak yang terutang, dapat memilih menggunakan
Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak, yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan."
4. Ketentuan Pasal 12 ditambah 1 (satu) ayat, yaitu ayat (3), sehingga keseluruhan
Pasal 12 berbunyi sebagai berikut:
"Pasal 12
(1) Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran di tempat
Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan.
(2) Direktur Jenderal Pajak dapat menentukan tempat selain tempat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sebagai tempat pengkreditan
Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak, baik atas permohonan tertulis dari Pengusaha Kena Pajak
ataupun secara jabatan.
(3) Apabila pada saat pemeriksaan diketahui adanya perolehan Barang
Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang telah dibukukan atau dicatat
dalam pembukuan Pengusaha Kena Pajak, namun Faktur Pajaknya
belum atau terlambat diterima sehingga belum dapat dilaporkan dalam
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai untuk Masa Pajak
yang bersangkutan, maka Pajak Masukan yang Faktur Pajaknya belum
atau terlambat diterima tersebut dapat dikreditkan pada Masa Pajak
berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak
yang bersangkutan."
5. Ketentuan Pasal 13 ayat (8) diubah, sehingga keseluruhan Pasal 13 berbunyi
sebagai berikut:
"Pasal 13
(1) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang
menurut sifat atau hukumnya berupa barang bergerak, terjadi pada saat
Barang Kena Pajak tersebut diserahkan secara langsung kepada
pembeli atau pihak ketiga untuk dan atas nama pembeli, atau pada saat
Barang Kena Pajak tersebut diserahkan kepada juru kirim atau
Pengusaha jasa angkutan.
(2) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang
menurut sifat atau hukumnya berupa barang tidak bergerak, terjadi pada
saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai Barang Kena
Pajak tersebut, baik secara hukum atau secara nyata, kepada pihak
pembeli.
(3) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud
oleh Pengusaha Kena Pajak, adalah pada saat yang terjadi lebih dahulu
dari peristiwa-peristiwa di bawah ini:
a. saat harga penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud
dinyatakan sebagai piutang oleh Pengusaha Kena Pajak;
b saat harga penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud
ditagih oleh Pengusaha Kena Pajak;
c. saat harga penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud
diterima pembayarannya, baik sebagian atau seluruhnya oleh
Pengusaha Kena Pajak; atau
d. saat ditandatanganinya kontrak atau perjanjian oleh Pengusaha
Kena Pajak, dalam hal saat sebagaimana dimaksud dalam huruf
a sampai dengan huruf c tidak diketahui.
(4) Terutangnya Pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak, terjadi pada saat
mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata,
baik sebagian atau seluruhnya.
(5) Terutangnya Pajak atas impor Barang Kena Pajak, terjadi pada saat
Barang Kena Pajak tersebut dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.
(6) Terutangnya Pajak atas ekspor Barang Kena Pajak, terjadi pada saat
Barang Kena Pajak dikeluarkan dari Daerah Pabean.
(7) Terutangnya Pajak atas aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan dan/atau persediaan Barang Kena Pajak yang masih
tersisa pada saat pembubaran perusahaan terjadi, adalah pada saat
terjadi lebih dahulu diantara saat:
a. ditandatanganinya akte pembubaran oleh Notaris;
b. berakhirnya jangka waktu berdirinya perseroan yang ditetapkan
dalam Anggaran Dasar;
c. tanggal penetapan Pengadilan yang menyatakan perseroan
dibubarkan; atau
d. diketahuinya bahwa perusahaan tersebut nyata-nyata sudah
tidak melakukan kegiatan usaha atau sudah dibubarkan,
berdasarkan hasil pemeriksaan atau berdasarkan data atau
dokumen yang ada.
(8) Terutangnya Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak dalam rangka
perubahan bentuk usaha, penggabungan usaha, pemekaran usaha, atau
pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan
pihak yang berhak atas Barang Kena Pajak tersebut, terjadi pada saat
yang disepakati atau ditetapkan sesuai hasil Rapat Umum Pemegang
Saham yang tertuang dalam perjanjian perubahan bentuk usaha,
penggabungan usaha, pemekaran usaha, atau pengalihan seluruh aktiva
perusahaan tersebut."
Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 1 Juni 2002.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 13 Mei 2002

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


ttd
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI

Diundangkan di : Jakarta
Pada tanggal : 13 Mei 2002

SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,


ttd
BAMBANG KESOWO
Lampiran 4
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 568/KMK.04/2000 TANGGAL 26 DESEMBER 2000
TENTANG
TATA CARA PENGHITUNGAN, PEMUNGUTAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PEMANFAATAN BARANG KENA PAJAK TIDAK
BERWUJUD DAN ATAU JASA KENA PAJAK DARI LUAR DAERAH PABEAN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :
bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 3A ayat (3) Undang-Undang nomor
8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor
18 TAHUN 2000, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Tata Cara
Penghitungan, Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai Atas
Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari Luar
Daerah Pabean;

Mengingat :
1. Undang-Undang nomor 6 TAHUN 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang-Undang nomor 16 TAHUN 2000
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984);
2. Undang-Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang
dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1983 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3264) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang nomor 18 TAHUN 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2000 Nomor 128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3986);
3. Peraturan Pemerintah nomor 143 TAHUN 2000 tentang Pelaksanaan Undang-
Undang nomor 8 TAHUN 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan
Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 259, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4061);
4. Keputusan Presiden Nomor 234/M Tahun 2000;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN,
PEMUNGUTAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
ATAS PEMANFAATAN BARANG KENA PAJAK TIDAK BERWUJUD DAN ATAU JASA
KENA PAJAK DARI LUAR DAERAH PABEAN.
Pasal 1
(1) Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak
tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dihitung
dengan cara sebagai berikut :
a. 10% x jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan kepada
pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau
Jasa Kena Pajak apabila dalam jumlah tersebut tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai; atau
b. 10/110 x jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan kepada
pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau
Jasa Kena Pajak apabila dalam jumlah tersebut sudah termasuk Pajak
Pertambahan Nilai.
(2) Dalam hal tidak diketemukan adanya kontrak atau perjanjian tertulis untuk
pembayaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau meskipun diketemukan
adanya kontrak atau perjanjian tertulis akan tetapi tidak dengan tegas dinyatakan
bahwa dalam jumlah kontrak atau perjanjian sudah termasuk Pajak Pertambahan
Nilai, maka Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung sebesar 10%
(sepuluh persen) dikalikan dengan jumlah yang dibayarkan atau seharusnya
dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan Barang Kena Pajak tidak berwujud
dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean.

Pasal 2
Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dipungut
oleh orang pribadi atau badan yang memanfaatkan Barang Kena Pajak tidak berwujud
dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean, pada saat dimulainya pemanfaatan
Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
tersebut.

Pasal 3
(1) Saat dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
adalah saat yang diketahui terjadi lebih dahulu dari peristiwa-peristiwa di bawah
ini:
a. saat Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak
tersebut secara nyata digunakan oleh pihak yang memanfaatkannya;
b. saat harga perolehan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa
Kena Pajak tersebut dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang
memanfaatkannya;
c. saat harga jual Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau penggantian
Jasa Kena Pajak tersebut ditagih oleh pihak yang menyerahkannya; atau
d. saat harga perolehan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan atau Jasa
Kena Pajak tersebut dibayar baik sebagian atau seluruhnya oleh pihak
yang memanfaatkannya;
(2) Dalam hal saat dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan
atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) tidak diketahui, maka saat dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak
tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean adalah
tanggal ditandatanganinya kontrak atau perjanjian atau saat lain yang ditetapkan
oleh Direktur Jenderal Pajak.
Pasal 4
(1) Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
harus disetorkan seluruhnya ke Kas Negara melalui Kantor Pos atau Bank
Persepsi paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah bulan terjadinya
pemungutan.
(2) Bagi Pengusaha Kena Pajak, Pajak Pertambahan Nilai yang telah disetor
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan
Masa Pajak Pertambahan Nilai pada Masa Pajak yang sama dengan bulan
penyetoran.

Pasal 5
(1) Bagi Pengusaha Kena Pajak, Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan
Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) diperlakukan sebagai
laporan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan Barang Kena
Pajak tidak berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean.
(2) Bagi orang pribadi atau badan yang bukan Pengusaha Kena Pajak, wajib
melaporkan pemungutan dan penyetoran Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4 ayat (1) dengan mempergunakan lembar
ketiga bukti setoran Pajak ke Kas Negara paling lambat pada tanggal 20 bulan
penyetoran ke Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi tempat tinggal
orang pribadi atau tempat kedudukan badan tersebut.

Pasal 6
Ketentuan yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan ini
diatur dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

Pasal 7
Pada saat Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 597/KMK.04/1994 tentang Saat Dimulainya Pemanfaatan Barang Kena Pajak
Tidak Berwujud dan atau Jasa Kena Pajak dari Luar Daerah Pabean, Penghitungan
Serta Tata Cara Pemungutan, Penyetoran dan Pelaporannya dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 8
Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2001.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri
Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 26 Desember 2000

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,


ttd
PRIJADI PRAPTOSUHARDJO