Anda di halaman 1dari 16

Acara II

FERMENTASI SUBSTRAT CAIR


FERMENTASI NATA DE COCO

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI

Disusun oleh :
Nama : Christianty Kumala Dewi
NIM : 11.70.0085
Kelompok A4




PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2014

1. HASIL PENGAMATAN

1.1. Tabel Hasil Pengamatan Uji Sensoris Nata De Coco
Kelompok Aroma Warna Tesktur Rasa
A1 +++ ++ ++ +++
A2 ++++ ++ ++ +++
A3 ++++ ++ +++ +++
A4 ++++ ++ +++ ++++
A5 ++++ ++ +++ ++++
Keterangan :
Aroma Warna Tekstur Rasa
++++ : tidak asam ++++ : putih ++++ : sangat kenyal ++++ : sangat manis
+++ : agak asam +++ : putih bening +++ : kenyal +++ : manis
++ : asam ++ : putih agak bening ++ : agak kenyal ++ : agak manis
+ : sangat asam + : bening + : tidak kenyal + : tidak manis


Pada tabel pengamatan diatas dapat dilihat bahwa untuk hasil uji sensoris aroma pada
kelompok A2, A3, A4, dan A5 sama yaitu tidak asam sedangkan pada kelompok A1
yaitu agak asam. Pada hasil uji sensoris warna untuk semua kelompok sama yaitu putih
agak bening. Pada uji sensoris tekstur nata de coco kelompok A1 dan A2 memiliki
tekstur nata de coco yang agak kenyal, sedangkan pada kelompok A3, A4 dan A5
memiliki tekstur nata de coco yang kenyal. Pada uji sensoris rasa pada kelompok A1,
A2 dan A3 memiliki rasa yang manis sedangkan pada kelompok A4 dan A5 memiliki
rasa yang sangat manis.

1.2. Tabel Hasil Pengamatan Lapisan Nata De Coco
Kel
Tinggi
media awal
(cm)
Ketebalan Presentase Lapisan
H0 H7 H14 H0 H7 H14
A1 1 0 0,9 cm 0,9 cm 0 90 % 90 %
A2 1 0 1 cm 0,5 cm 0 100 % 50 %
A3 1,2 0 0,7 cm 0,5 cm 0 58,33 % 41,67 %
A4 1 0 0,8 cm 0,5 cm 0 80 % 50 %
A5 1 0 1 cm 0,8 cm 0 100 80 %

Pada tabel pengamatan diatas dapat dilihat bahwa setiap kelompok memiliki tinggi
media awal yang berbeda pada kelompok A3 yaitu 1,2 cm sedangkan pada kelompok
1
A1, A2, A4, dan A5 yaitu 1 cm. Secara keseluruhan, hampir semua kelompok memiliki
ketebalan nata de coco hari ke-7 yang tinggi kemudian menurun pada hari ke-14.
Namun pada kelompok A1 ketebalan nata de coco nya sama pada hari ke-7 dan hari ke-
14. Sedangkan untuk presentase lapisan nata de coco paling tinggi pada hari ke-7 adalah
kelompok A2 dan A5 sebesar 100%. Untuk presentase lapisan nata de coco terendah
pada hari ke-7 adalah kelompok A3 yaitu sebesar 58,33%. Selanjutnya presentase nata
de coco tertinggi pada hari ke-14 adalah pada kelompok A1 yaitu 90% dan presentase
nata de coco terendah pada hari ke-14 dalah pada kelompok A3 yaitu sebesar 41,67.
2
2. PEMBAHASAN

Fermentasi merupakan proses mengubah substrat menjadi sebuah produk yang
dikehendaki dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Produk tersebut biasanya
dimanfatkan sebagai minuman atau makanan yang memiliki manfaat fungsional bagi
tubuh manusia. Proses fermentasi telah dikenal dan digunakan sejak dahulu serta terus
berkembang hingga saat ini. Proses fermentasi memerlukan 3 hal utama, yaitu:
1. Mikroba sebagai inokulum.
2. Tempat (wadah) untuk menjamin proses fermentasi berlangsung dengan optimal.
3. Substrat sebagai tempat tumbuh (medium) dan sumber nutrisi bagi mikroba
(Waites, 2001)

Gambar 1. Proses Fermentasi

Menurut Mesomya (2005) pada jurnal Effects of health food from cereal and nata de
coco on serum lipids in human, nata de coco adalah suatu produk makanan organik
yang mengandung serat makanan yang tinggi, dimana diproduksi oleh bakteri dengan
fermentasi air kelapa. Kadar selulosa dalam nata de coco tinggi, rendah lemak dan
kalori dan tidak mengandung kolesterol. Astawan & Astawan (1991), menambahkan
bahwa nata de coco merupakan jenis makanan hasil fermentasi oleh bakteri Acetobacter
xylinum. Makanan ini berbentuk padat, kokoh, kuat, putih, transparan, kenyal dengan
rasa yang mirip kolang-kaling. Produk ini banyak digunakan sebagai pencampur es
krim, koktail buah, sirup dan makanan ringan lainnya.

Dari semua jenis nata yang ada, nata de coco termasuk nata yang paling populer dan
disukai di Indonesia. Nata de coco kaya akan serat yang diperlukan oleh tubuh untuk
menjaga kesehatan seperti meningkatkan pencernaan, mencegah serangan-serangan
kanker usus besar. Serat ini adalah serat selulosa, dikenal sebagai bakteri selulosa.
3
Bakteri celluloses memiliki beberapa keuntungan seperti memiliki kemurnian tinggi
tanpa lignin, pektin dan hemiselulosa (Saputra, 2010). Berdasarkan pada teori yang
dikemukakan oleh Halib (2012) pada jurnal Physicochemical Properties and
Characterization of Nata de Coco from Local Food Industries as a Source of
Cellulose bahwa Selulosa ini menunjukkan banyak keunggulan seperti memiliki
tingkat kemurnian tinggi, memiliki fungsi kristalinitas, adanya keseragaman dan
memiliki kekuatan mekanik yang tinggi.

Hal yang selaras juga dikemukakan oleh Anastasia & Eddy (2008), nata merupakan
selulosa yang berbentuk padat dan berwarna putih transparan, bertekstur kenyal dengan
kandungan air sekitar 98%, umumnya dikonsumsi sebagai makanan ringan. Biomassa
nata berasal dari pertumbuhan Acetobacter xylinum selama proses fermentasi cairan
yang mengandung gula dan asam. Gula dalam medium akan dipecah oleh A. xylinum
sehingga polisakarida yaitu selulosa akan membentuk benang-benang serat yang terus
menebal membentuk jaringan kuat yang disebut pelikel nata. Untuk menciptakan pH
medium yang sesuai dengan kebutuhan A. xylinum dapat ditentukan dengan
penambahan zat asidulan ke dalam mediumnya. A. xylinum dapat tumbuh pada pH 3,5
sampai 7,5 dan optimum pada pH 4-5. Serat kasar merupakan hasil perombakan gula
pada medium fermentasi oleh aktivitas A. xylinum. A. xylinum mengambil glukosa dari
larutan gula dan digabungkan dengan asam lemak akan membentuk prekursor pada
membran sel. Bila pH medium lebih rendah dari kisaran akan menyebabkan A. xylinum
menggunakan energi secara berlebih untuk mengatasi stres yang diakibatkan perbedaan
pH yang terlalu besar sehingga lama kelamaan A. xylinum terhenti karena energi yang
tersedia telah habis. Kekenyalan nata ditentukan dari ketebalan nata yang dihasilkan.
Semakin tinggi ketebalan serat kasar yang dihasilkan maka semakin banyak air yang
mengisi rongga-rongga antar selulosa sehingga nilai kekenyalannya semakin turun.

Berdasarkan teori yang dikemukakan Awang (1991), Acetobacter xylinum dapat tumbuh
dan berkembang dalam air kelapa dan membentuk nata sebab dalam air kelapa
mengandung air 91,23 %, protein 0,29 %, lemak 0,15 %, karbohidrat 7,27 %, dan abu
1,06 %. Juga terkandung sukrose, dextrose, fruktose, vitamin B kompleks yang terdiri
4
dari asam niotinat 0,01 mikrogram, asam pentotenat 0,52 mikrogram, biotin 0,02
mikrogram, riboflavin 0,01 mikrogram, dan asam folat 0,003 mikrogram per mililiter

Pembuatan nata de coco ini didahului dengan pembuatan media. Air kelapa mula-mula
disaring dan ditambahkan dengan gula pasir 10% dan diaduk sampai larut. Air kelapa
dalam pembuatan nata de coco ini digunakan sebagai substrat. Sedangkan gula pasir
digunakan sebagai sumber karbon. Hal tersebut sesuai dengan teori Pambayun (2002),
bahwa sumber karbon yang biasa digunakan meliputi monosakarida dan disakarida.
Sukrosa merupakan sumber karbon yang paling banyak digunakan. Salah satu contoh
dari senyawa sukrosa adalah gula pasir. Sunarso (1982) menambahkan bahwa
konsentrasi optimun gula yang digunakan untuk 100 ml substrat adalah 10 gram karena
jika jumlah gula yang kurang/berlebih akan membuat bakteri Acetobacter xylinum tidak
mampu memanfaatkannya secara optimal. Menurut Hayati (2003), tujuan dari
penambahan gula dalam pembuatan nata adalah untuk memperoleh tekstur,
penampakan, dan flavor yang ideal. Selain itu, gula juga dapat berfungsi sebagai
pengawet.

Kemudian larutan ditambah dengan ammonium sulfat 0,5%. Menurut Pambayun
(2002), sumber nitrogen yang sering digunakan adalah ammoniun fosfat ( ZA ) karena
dapat menghambat pertumbuhan Acetobacter acesi yang merupakan pesaing
Acetobacter xylinum. Rahayu (1993) menambahkan sumber C dan N digunakan untuk
pembentukan asam nukleat dan protein sebagai sumber energi untuk pertumbuhan
bakteri optimum, yaitu berupa molekul amonia yang dapat langsung diserap oleh sel
bersama dengan sumber N lain termasuk urea didalamnya. Selain gula, sumber nitrogen
merupakan faktor penting. dimana diperlukan dalam pembentukan protein yang penting
pada pertumbuhan sel dan pembentukan enzim. Kekurangan nitrogen menyebabkan sel
kurang dapat bertumbuh dengan baik dan menghambat pembentukan enzim . Hal ini
membuat proses fermentasi dapat mengalami kegagalan atau tidak sempurna. Nitrogen
yang digunakan untuk pembuatan nata umumnya adalah pupuk ZA yang relatif murah
dan cenderung asam dibandingkan urea. Nitrogen yang ditambahkan ke dalam air
kelapa berasal dari nitrogen organik seperti protein dan ragi. Namun, dapat juga
menggunakan nitrogen non organik seperti urea, amonium sulfat [(NH
4)
2.SO
4
] dan
5
ammonium fosfat (NH
4
)3PO
4
. Jika dibandingkan dengan nitrogen organik, biaya
penggunaan nitrogen non organik, amonium sulfat seperti yang digunakan dalam
praktikum ini karena harganya lebih murah dan kualitasnya pun cukup baik. Bahkan
amonium sulfat sangat baik dijadikan bahan tambahan pembuat nata de coco karena
harganya sangat ekonomis, mudah larut dalam larutan lain dan sangat selektif terhadap
pertumbuhan mikroba lain dan sesuai dengan Saputra (2010) dalam jurnal Evaluation
of Physical and Mechanical Properties Composite of Nata de coco Fibers/Resin Filled
SiO
2
, and Al
2
O
3
.

Setelah itu ditambahkan asam cuka glasial hingga pH 4-5. Asam glasial ditambahkan ke
dalam media untuk membuat pH media menjadi optimal. Hal ini didukung dalam teori
Pambayun (2002) yang mengatakan bahwa meskipun bisa tumbuh pada kisaran pH 3,5
7,5 tetapi bakteri Acetobacter xylinum sangat cocok tumbuh pada suasana asam (pH
4,3). Pada kondisi basa, Acetobacter xylinum tidak dapat tumbuh maka dari itu
ditambahkan asam dan asam yang digunakan adalah asam asetat atau asam cuka yang
dapat digunakan untuk menurunkan pH atau meningkatkan keasaman.

Setelah itu campuran dipanaskan dan disaring. Menurut Astawan & Astawan (1991)
pemanasan air kelapa bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang kemungkinan
dapat mencemari produk yang dihasilkan. Dengan tidak adanya pemanasan maka
kemungkinan terdapat mikroorganisme lain yang secara langsung atau tidak langsung
dapat mengganggu pertumbuhan dan aktivitas Acetobacter xylinum dalam mengubah
glukosa menjadi selulosa sehingga kemampuan bakteri Acetobacter xylinum dalam
membentuk nata juga menjadi kurang sempurna.

Langkah yang terakhir adalah proses fermentasi. 6 buah beaker glass steril disiapkan
dan diisi dengan 100 ml air kelapa yang telah steril (dipanaskan). Kemudian
ditambahkan dengan biang nata dengan konsentrasi 10% ke dalam erlenmeyer secara
aseptis dan digojog perlahan hingga seluruh starter bercampur homogen dan ditutup
kembali dengan kain saring yang telah di oven. Menurut Rahayu et al. (1993), biang
nata digunakan agar proses fermentasi bisa dilakukan sehingga nata dapat terbentuk.
Jumlah inokulum yang ditambahkan untuk membuat nata berkisar 110%. Proses dalam
6
praktikum digunakan kertas coklat sebagai bahan penutup agar terjadi proses aerasi dari
lingkungan ke dalam media. Setelah itu dilakukan proses inkubasi hingga 2 minggu dan
kemudian diamati terbentuknya lapisan, ketebalan lapisan, dan kemudian nata dimasak
untuk dilakukan uji sensori terhadap aroma, tekstur, dan warnanya.

Menurut Palungkun (1996), nata dibentuk oleh mikroorganisme Acetobacter xylinum
melalui proses fermentasi. Dilihat dari namanya bakteri ini termasuk kelompok bakteri
asam asetat (aceto : asetat, bacter : bakteri), jika ditumbuhkan di media cair yang
mengandung gula maka bakteri ini akan menghasilkan asam cuka atau asam asetat dan
padatan putih yang terapung di permukaan media cair tersebut. Lapisan putih itulah
yang dikenal sebagai nata. Rahman (1992) mengatakan bahwa bakteri ini bila
ditumbuhkan pada media yang mengandung gula, akan merubah gula menjadi selulosa.
Setelah selulosa terbentuk, Rahayu et al. (1993) mengemukakan pendapatnya bahwa
selulosa akan diakumulasikan secara ekstraseluler dalam bentuk polikel yang liat selama
proses fermentasi berlangsung.

Pada pengamatan terbentuknya lapisan dilakukan pada hari ke-0, ke-7, dan ke-14 dan
akan dicuci dengan air mengalir setiap hari selama 3 hari hal ini bertujuan untuk
menghilangkan lendir dan asam pada nata sehingga pada saat pemasakan nata tidak
asam.

Gambar 2. Pencucian nata

Pada hari ke-7 Acetobacter xylinum membentuk lendir, lapisan transparan tipis selulosa
pada permukaan media, dan mengental dengan membentuk lembaran putih tebal setelah
15-20 hari Jagannath et al. (2008) dalam jurnal The Effect of Ph, Sucrose and
7
Ammonium Sulphate Concentrations on The Production of Bacterial Cellulose (Nata-
De-Coco) by Acetobacter Xylinum. Hal ini sesuai dengan hasil pengamatan yang
dilakukan selama praktikum. Pada tiap-tiap kelompok terbentuk lapisan tipis selulosa
setebal 0,7 hingga 1cm pada hari ke-7 dan mengalami penurunan ketebalan pada hari
ke-14 di permukaan media. Hasil praktikum ini tidak sesuai dengan Jagannath et al.
(2008) yang mengatakan bahwa jaringan tebal ini terbentuk lebih dari 90% air yang
terserap dalam selulosa. Menurut Seumahu (2007) definisi nata yang baik merupakan
nata yang menghasilkan lembaran dengan tebal 1,5-2 cm, gel selulosa homogen, dan
memiliki transparansi yang tinggi. Maka nata yang dihasilkan adalah nata yang kurang
baik dimana tidak memiliki ketebalan yang ditetapkan. Priyanto (2011), menambahkan
bahwa pada proses fermentasi dalam menentukan tingkat jadi produk sangat
dipengaruhi oleh suhu, kualitas air kelapa, kondisi bibit, sterilisasi ruang dan peralatan.

Menurut Anastasia & Eddy (2008), biomassa nata berasal dari pertumbuhan
Acerobacter xylinum selama proses fermentasi cairan yang mengandung gula dan asam.
Gula dalam medium akan dipecah oleh A. xylinum sehingga polisakarida yaitu selulosa
akan membentuk benang-benang serat yang terus menebal membentuk jaringan kuat
yang disebut pelikel nata. Seumahu et al. (2007) dalam jurnal The Dynamics of
Bacterial Communities During Traditional Nata de Coco Fermentation menambahkan
bahwa pembentukan nata terjadi karena proses pengambilan glukosa di larutan gula
dalam substrat oleh sel-sel Acetobacter xylinum. Kemudian glukosa tersebut
digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor (penciri nata) pada membran
sel. Prekursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim
mempolimerisasikan glukosa menjadi selulosa di luar sel. Komponen selulosa ini akan
membentuk jaringan mikrofibril yang panjang dalam cairan fermentasi.

Menurut Pato & Dwiloted (1994) ketebalan pada nata yang tidak sama dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pada waktu melakukan inokulasi bakteri terjadi
kontaminasi, umur kelapa, gula, temperatur, tingkat keasaman, sumber nitrogen, pH
awal medium, lama dan suhu fermentasi serta aktivitas dari bakteri nata. Kemungkinan
terbesar terjadinya penurunan ketebalan nata ini adalah karena terjadinya kontaminasi
8
sehingga polisakarida yang terbentuk dipecah oleh mikroorganisme lain serta terjadinya
perubahan suhu sehingga polisakarida kembali terurai.

Setelah dilakukan pengukuran ketebalan nata, lembaran tebal nata kemudian dipotong
dadu, dicuci dan direbus dalam air sebelum dimasak dalam sirup gula. Menurut Hayati
(2003) penambahan gula dalam pembuatan nata ini bertujuan untuk dapat memperoleh
tekstur, penampakan, dan flavor yang ideal, serta dapat berfungsi sebagai pengawet.

Gambar 3. Pemotongan nata berbentuk dadu


Gambar 4. Pemasakan nata dengan air gula


Gambar 5. Nata kelompok A1 hingga A5 yang diuji sensoris

Setelah proses pemasakan nata, dilakukan pengujian sensoris aroma, warna, tekstur, dan
rasa. Hasil uji sensoris aroma pada kelompok A2, A3, A4, dan A5 sama yaitu tidak
asam sedangkan pada kelompok A1 yaitu agak asam. Aroma asam ini menurut Fardiaz
9
(1992), dapat disebabkan oleh penambahan asam glacial dan senyawa volatil yang
dihasilkan selama fermentasi karena selama fermentasi Acetobacter xylinum juga
menghasilkan asam asetat. Pada hasil uji sensoris warna untuk semua kelompok sama
yaitu putih agak bening Hal ini sesuai dengan pendapat Seumahu (2007) yang
menunjukkan bahwa definisi nata yang paling baik yaitu nata yang memiliki warna
transparansi yang tinggi. Namun jika nata yang dihasilkan memiliki warna agak keruh
dan terbentuk endapan, maka hal ini dapat dikarenakan adanya degradasi substrat oleh
mikroorganisme serta reaksi antara gula dengan nitrogen yang terlarut dalam cairan
(Rahman, 1992). Pada uji sensoris tekstur nata de coco kelompok A1 dan A2 memiliki
tekstur nata de coco yang agak kenyal, sedangkan pada kelompok A3, A4 dan A5
memiliki tekstur nata de coco yang kenyal. Pada uji sensoris rasa pada kelompok A1,
A2 dan A3 memiliki rasa yang manis sedangkan pada kelompok A4 dan A5 memiliki
rasa yang sangat manis. Sedangkan tekstur kekenyalan nata menurut Anastasia et al.
(2008) ditentukan dari ketebalan nata yang dihasilkan. Semakin tinggi ketebalan serat
kasar yang dihasilkan maka semakin banyak air yang mengisi rongga-rongga antar
selulosa sehingga nilai kekenyalannya semakin turun.

Menurut Sulistiyana & Ita (2011) dalam jurnal Studi Pendahuluan Adsorpsi Kation Ca
dan Mg (Penyebab Kesadahan) Menggunakan Selulosa Bakterial Nata De Coco Dengan
Metode Batch mengemukakan bahwa munculnya lapisan putih diakibatkan karena
mikroorganisme Acetobacter xylinum ini akan membentuk gel pada permukaan larutan
yang mengandung gula. Aktivitas dari Acetobacter xylinum ditunjukkan dengan
terbentuknya lapisan yang berwarna putih, yang lama kelamaan akan semakin melebar
dan memadat. Selain itu, semakin tinggi kadar selulosa yang dihasilkan berarti nata
yang terbentuk akan semakin cepat dan semakin baik.
10
0
3. KESIMPULAN

Nata merupakan selulosa yang berbentuk padat dan berwarna putih transparan,
bertekstur kenyal dengan kandungan air sekitar 98%.
Nata de coco adalah makanan hasil fermentasi dari air kelapa dengan bantuan
Acetobacter xylinum.
Substrat yang digunakan dalam pembuatan nata harus mengandung unsur C dan N
yang dapat berasal dari penambahan gula dan amonium sulfat.
Sumber karbon yaitu gula pasir berperan sebagai substrat utama proses fermentasi.
Sumber nitrogen yaitu amonium sulfat bertujuan untuk mendukung aktivitas bakteri
nata.
pH optimum (antara 4 dan 5) diperoleh dengan cara penambahan asam asetat glasial.
Penutupan dengan kain saring bertujuan untuk mencegah terjadinya kontak langsung
antara medium dengan oksigen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi nata de coco adalah subsrat, tingkat
keasaman, temperatur, gula, sumber nitrogen, oksigen, pH awal medium, lama dan
suhu fermentasi serta aktivitas dari bakteri nata.
pH ideal air kelapa yang digunakan untuk membuat nata adalah 4,5.
Proses penyaringan bertujuan untuk membebaskan air kelapa dari kotoran-kotoran.
Proses pemasakan air kelapa bertujuan untuk membunuh mikroorganisme
kontaminan yang kemungkinan ada di dalam air kelapa.
Nata yang baik merupakan nata yang menghasilkan lembaran dengan tebal 1,5-2 cm,
gel selulosa homogen, dan memiliki transparansi yang tinggi.
Semakin tinggi ketebalan serat kasar yang dihasilkan maka semakin banyak air yang
mengisi rongga-rongga antar selulosa sehingga nilai kekenyalannya semakin turun.

Semarang, 3 Juni 2014
Praktikan, Asisten Dosen,



Christianty Kumala Dewi Chrysentia Archinita L.M
(11.70.0085
11
0
4. DAFTAR PUSTAKA

Anastasia, N. & Eddy, A. (2008). Mutu Nata de Seaweed dalam Berbagai Konsentrasi
Sari Jeruk Nipis. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Universitas
Lampung.

Astawan, M. & M. W. Astawan. (1991). Teknologi Pengolahan Nabati Tepat Guna
Edisi Pertama. Akademika Pressindo. Bogor.

Awang, S. A. (1991). Kelapa: Kajian SosialEkonomi. Aditya Media. Yogyakarta. DOI
10.1007/s11274-008-9781-8.

Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia. Jakarta.

Halib, N, Mohd Cairul dan Iqbal Mohd Amin. 2012. Physicochemical Properties and
Characterization of Nata de Coco from Local Food Industries as a Source of Cellulose.
Sains Malaysiana 41(2) (2012): 205-211.

Hayati, M. (2003). Membuat Nata de Coco. Adi Cita Karya Nusa. Yogyakarta.

Jagannath, A. Kalaiselvan, Amanjunatha S. S. Raju P. S. Bawa A. S, (2008). The effect
of pH, sucrose and ammonium sulphate concentrations on the production of bacterial
cellulose (Nata-de-coco) by Acetobacter xylinum. World J Microbiol Biotechnol (2008)
24:25932599

Mesomya, W.; Varapat P.; Surat K.; Preeya L.; Yaovadee C.; Duangchan H.; Pramote
T.; and Plernchai T. (2005). Effects of health food from cereal and nata de coco on
serum lipids in human.
http://rdo.psu.ac.th/sjst/journal/28_suppl1_pdf/04_nata_de_coco.pdf

Palungkun, R. (1996). Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pambayun, R. (2002). Teknologi Pengolahan Nata de Coco. Kanisius. Yogyakarta.

Pato, U. & Dwiloted, B. (1994). Proses & Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan
Nata de Coco. Sains Teks I (A) : 70 77.

Priyanto, Z. 2011. Analisis usaha Nata de Coco. STIMIK AMIKOM, Jogjakarta.

12
0
Rahayu, E. S.; R. Indriati; T. Utami; E. Harmayanti & M. N. Cahyanto. (1993). Bahan
Pangan Hasil Fermentasi. UGM. Yogyakarta.

Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. ARCAN Pusat Antar Universitas Pangan
dan Gizi IPB. Bandung.

Saputra, A dan Darmansyah. 2010. Evaluation of Physical and Mechanical Properties
Composite of Nata de coco Fibers/Resin Filled SiO
2
, and Al
2
O
3
. University of
Indonesia.

Seumahu, C. A.; Antonius S.; Debora H.; dan Maggy T. S. (2007). The Dynamics of
Bacterial Communities During Traditional Nata de Coco Fermentation. Microbiology
Indonesia. August 2007, p 65-68. ISSN 1978-3477.

Suhartono. (2007). The Dynamics of Bacterial Communities During Traditional Nata de
Coco Fermentation. Microbiology Indonesia August 2007, p 65-68

Sulistiyana, dan Ita U. (2011). Studi Pendahuluan Adsorpsi Kation Ca dan Mg
(Penyebab Kesadahan) Menggunakan Selulosa Bakterial Nata De Coco Dengan Metode
Batch. Prosiding Skripsi Semester Genap 2010/2011. Jurusan Kimia, Fakultas MIPA.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Sunarso. (1982). Pengaruh Keasaman Media Fermentasi Terhadap Ketebalan Pelikel
pada Pembuatan Nata de Coco. Skripsi. UGM. Yogyakarta.

Waites, M.J., Morgan, N.L., Rockey, J.S., and Gary Higton (2001). Industrial
Microbiology: An Introduction. USA: Blackwell science.

13
0
5. LAMPIRAN
5.1. Perhitungan
Persentase Lapisan Nata = 100% x
Awal Media Tinggi
Nata Ketebalan Tinggi


Kelompok A1
H
0
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0
= 0 %
H
7
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0,9
= 90 %
H
14
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0.9

= 90 %
Kelompok A2
H
0
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0
= 0 %
H
7
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
1
= 100 %
H
14
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0,5

= 50 %

Kelompok A3
H
0
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1,2
0
= 0 %
H
7
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1,2
0,7
= 58,33 %
H
14
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1,2
0,5

= 41,67 %
Kelompok A4
H
0
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0
= 0 %
H
7
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0,8
= 80 %
H
14
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0,5

= 50 %
Kelompok A5
H
0
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0
= 0 %
H
7
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
1
= 100 %
H
14
Persentase Lapisan Nata = 100% x
1
0,8

= 80 %
14
0
5.2. Laporan Sementara
5.3. Jurnal (abstrak)
5.4. Report Laporan




15
0