Anda di halaman 1dari 10

Type Keyw

Deni Nusantara

Home
Posts RSS
Comments
Edit
Beranda


29undefinedMei
By dennus
4
Arsitektur Kolonial
Posted in Pelestarian Arsitektur
Pengertian Arsitektur Kolonial

Arsitektur kolonial merupakan sebutan singkat untuk langgam arsitektur yang berkembang
selama masa pendudukan Belanda di tanah air. Masuknya unsur Eropa ke dalam komposisi
kependudukan menambah kekayaan ragam arsitektur di nusantara. Seiring berkembangnya
peran dan kuasa, kamp-kamp Eropa semakin dominan dan permanen hingga akhirnya
berhasil berekspansi dan mendatangkan tipologi baru. Semangat modernisasi dan globalisasi
(khususnya pada abad ke-18 dan ke-19) memperkenalkan bangunan modern seperti
administrasi pemerintah kolonial, rumah sakit atau fasilitas militer. Bangunan bangunan
inilah yang disebut dikenal dengan bangunan kolonial

Perkembangan Arsitektur Kolonial di Indonesia

Sejarah mencatat, bahwa bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Indonesia adalah
Portugis, yang kemudian diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda. Pada mulanya
kedatangan mereka dengan maksud berdagang. Mereka membangun rumah dan
pemukimannya di beberapa kota di Indonesia yang biasanya terletak dekat dengan pelabuhan.
Dinding rumah mereka terbuat dari kayu dan papan dengan penutup atap ijuk. Namun karena
sering terjadi konflik mulailah dibangun benteng. Hampir di setiap kota besar di Indonesia.

Dalam benteng tersebut, mulailah bangsa Eropa membangun beberapa bangunan dari bahan
batu bata. Batu bata dan para tukang didatangkan dari negara Eropa. Mereka membangun
banyak rumah, gereja dan bangunan-bangunan umum lainnya dengan bentuk tata kota dan
arsitektur yang sama persis dengan negara asal mereka. Dari era ini pulalah mulai
berkembang arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Setelah memiliki pengalaman yang
cukup dalam membangun rumah dan bangunan di daerah tropis lembab, maka mereka mulai
memodifikasi bangunan mereka dengan bentuk-bentuk yang lebih tepat dan dapat
meningkatkan kenyamanan di dalam bangunan



Perkembangan Arsitektur Kolonial di Semarang

Bentuk kota Semarang saat ini sangatlah berbeda dengan bentuk kota Semarang pada masa
awal mulanya. Van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda, mengemukakan satu teorinya,
bahwa garis pantai utara pulau Jawa pada jaman dahulu terletak beberapa kilometer menjorok
ke daratan saat ini. Laju pengendapan lumpur yang membuat endapan tanah baru bergerak
dengan kecepatan 8 m per tahun.

Awal 1500 Garis pantai Semarang telah mencapai daerah Sleko saat ini. Pada saat itu
pelabuhan Semarang telah menjadi pelabuhan penting dan terkena, sehingga banyak kapal
dagang asing berlabuh di sana. Pedagang Cina mendarat sekitar permulaan abad 15, Portugis
dan Belanda pada permulaan abad 16, dari Malaysia, India, Arab dan Persia pada permulaan
abad 17. Para pendatang tersebut membuat pemukiman-pemukiman etnis masing-masing.
Orang-orang Belanda dan Melayu mendirikan permukimannya di muara Kali Semarang,
Wilayah kota Semarang berkembang pesat pada pertengahan abad 18 dengan membangun
banyak bangunan perkantoran dan fasilitas sosial. Pelabuhan Tanjung Mas dan Bandara
Kalibanteng mulai dibangun sekitar tahun 1931 sampai 1933, bersamaan dengan
pembangunan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Tahun 1930 Ingenieur Herman
Thomas Karsten mengajukan rencana master plan untuk pengembangan kota Semarang.
(Jessup, H., 1985)

Tahun 1942 terjadi perang dunia II yang mngakibatkan perpindahan kekuasaan dari Belanda
ke pemerintahan Jepang. Hal menjadikan perkembangan kota Semarang mulai tersendat.

PERIODESASI ARSITEKTUR KOLONIAL

Abad 16 sampai tahun 1800 an
Waktu itu Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah
kekuasaan perusahaan dagang Belanda, VOC. Arsitektur Kolonial Belanda selama periode ini
cenderung kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda. Bangunan
perkotaan orang Belanda pada periode ini masih bergaya Belanda dimana bentuknya
cenderung panjang dan sempit, atap curam dan dinding depan bertingkat bergaya Belanda di
ujung teras. Bangunan ini tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas, atau tidak
beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat. Kediaman Reine de Klerk (sebelumnya
Gubernur Jenderal Belanda) di Batavia.

Tahun 1800-an sampai tahun 1902
Pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari VOC. Setelah pemerintahan tahun
1811-1815 wilayah Hindia Belanda sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Pada saat itu, di
Hindia Belanda terbentuk gaya arsitektur tersendiri yang dipelopori oleh GubernurJenderal
HW yang dikenal engan the Empire Style, atau The Ducth Colonial Villa: Gaya arsitektur
neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis) yang diterjemahkan secara bebas.
Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda yang bercitra Kolonial yang disesuaikan dengan
ingkungan lokal, iklim dan material yang tersedia pada masa itu. Bangunan-bangunan yang
berkesan grandeur (megah) dengan gaya arsitektur Neo Klasik dikenal Indische Architectuur
karakter arsitektur seperti :
1. Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang
makan) dan didalamnya terdapat serambi tengah yang mejuju ke ruang tidur dan kamar-
kamar lainnya.
2. Pilar menjulang ke atas (gaya Yunani) dan terdapat gevel atau mahkota di atas serambi
depan dan belakang.
3. Menggunakan atap perisai.

Tahun 1902 sampai tahun 1920-an
Secara umum, ciri dan karakter arsitektur kolonial di Indonesia pada tahun 1900-1920-an :
1. Menggunakan Gevel (gable) pada tampak depan bangunan
2. Bentuk gable sangat bervariasi seperti curvilinear gable, stepped gable, gambrel gable,
pediment (dengan entablure).
3. Penggunaan Tower pada bangunan
4. Tower pada mulanya digunakan pada bangunan gereja kemudian diambil alih oelh
bangunan umum dan menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada abad ke 20.
5. Bentuknya bermacam-macam, ada yang bulat, segiempat ramping, dan ada yang
dikombinasikan dengan gevel depan.
6. Penggunaaan Dormer pada bangunan
7. Penyesuaian bangunan terhadap iklim tropis basah
-> Ventilasi yang lebar dan tinggi.
-> Membuat Galeri atau serambi sepanjang bangunan sebagai antisipasi dari hujan dan sinar
matahari.

Tahun 1920 sampai tahun 1940-an
Gerakan pembaharuan dalam arsitektur baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini
mempengaruhi arsitektur kolonial Belanda di Indonesia. Pada awal abad 20, arsitek-arsitek
yang baru datang dari negeri Belanda memunculkan pendekatan untuk rancangan arsitektur
di Hindia Belanda. Aliran baru ini, semula masih memegang unsur-unsur mendasar bentuk
klasik, memasukkan unsur-unsur yang terutama dirancang untuk mengantisipasi matahari
hujan lebat tropik. Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga memasukkan unsur-unsur
arsitektur tradisional (asli) Indonesia sehingga menjadi konsep yang eklektis. Konsep ini
nampak pada karya Maclaine Pont seperti kampus Technische Hogeschool (ITB), Gereja Poh
sarang di Kediri.


BEBERAPA ALIRAN YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
KOLONIAL DI INDONESIA

Gaya Neo Klasik (the Empire Style / the Dutch Colonial Villa) (tahun 1800)
Ciri Ciri dan Karakteristik :
1. Denah simetris penuh dengan satu lanmtai atas dan ditutup dengan atap perisai.
2. Temboknya tebal
3. Langit langitnya tinggi
4. Lantainya dari marmer
5. Beranda depan dan belakang sangat luas dan terbuka
6. Diujung beranda terdapat barisan pilar atau kolom bergaya Yunani (doric, ionic, korinthia)
7. Pilar menjulang ke atas sebagai pendukung atap
8. Terdapat gevel dan mahkota diatas beranda depan dan belakang
9. Terdapat central room yang berhubungan langsung dengan beranda depan dan belakang,
kiri kananya terdapat kamar tidur
10. Daerah servis dibagian belakang dihubungkan dengan rumah induk oleh galeri.
Beranda belakang sebagai ruang makan.
11. Terletak ditanah luas dengan kebun di depan, samping dan belakang.


Bentuk Vernacular Belanda dan Penyesuaian Terhadap Iklim Tropis (sesudah tahun
1900)
Ciri dan karakteristik
1. Penggunaan gevel(gable) pada tampak depan bangunan
2. Penggunaan tower pada bangunan
3. Penggunaan dormer pada bangunan

Beberapa penyesuaian dengan iklim tropis bsaah di Indonesia:
1. Denah tipis bentuk bangunan rampingBanyak bukaan untuk aliran udara memudahkan
cross ventilasi yang diperlukan iklim tropis basah
2. Galeri sepanjang bangunan untuk menghindari tampias hujandan sinar matahari langsung
3. Layout bangunan menghadap Utara Selatan dengan orientasi tepat terhadap sinar matahari
tropis Timur Barat

Gaya Neogothic ( sesudah tahun 1900)
Ciri-ciri dan karakteristik
1. Denah tidak berbentuk salib tetapi berbentuk kotak
2. Tidak ada penyangga( flying buttress)karena atapnya tidak begitu tinggi tidak runga yang
dinamakan double aisle atau nave seperti layaknya gereja gothic
3. Disebelah depan dari denahnya disisi kanan dan kiri terdapat tangga yang dipakai untuk
naik ke lantai 2 yang tidak penuh
4. Terdapat dua tower( menara ) pada tampak mukanya, dimana tangga tersebut ditempatkan
dengan konstruksi rangka khas gothic
5. Jendela kacanya berbentuk busur lancip
6. Plafond pada langit-langit berbentuk lekukan khas gothic yang terbuat dari besi.

Nieuwe Bouwen / International Style( sesudah tahun 1900-an)
Ciri-ciri dan karakteristik ;
1. Atap datar
2. Gevel horizontal
3. Volume bangunan berbentuk kubus
4. Berwarna putih

Nieuwe Bouwen / International Style di Hindia Belanda mempunyai 2 aliran utama ;
A. Nieuwe Zakelijkheid
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Mencoba mencari keseimbangan terhadap garis dan massa
Bentuk-bentuk asimetris void saling tindih ( interplay dari garis hoeizontal dan vertical)
Contoh ; Kantor Borsumij ( GC. Citroen)

B. Ekspresionistik ;
Ciri-ciri dan karakteristik ;
Wujud curvilinie
Contoh : villa Isola ( CP.Wolf ), Hotel Savoy Homann( AF aalbers

Art Deco
Ciri ciri dan karakteristik :
1. Gaya yang ditampilkan berkesan mewahdan menimbulkan rasa romantisme
2. Pemakaian bahan bahan dasar yang langka serta material yang mahal
3. Bentuk massif
4. Atap datar
5. Perletakan asimetris dari bentukan geometris
6. Dominasi garis lengkung plastis
Tanggapan:
4 komentar:

Faril mengatakan...
dikasih pemisah,,den..
biar gak kepanjangen waktu buka home
30 Mei 2010 08:02

dennus mengatakan...
aq dah nyari.., tapi tetep aja blum ktemu...
nanti klo km dah nemu., tlng kasih tau aq y..
Trims..
30 Mei 2010 09:03

doni mengatakan...
blognya mengecewakan...
ga bisa share di copy paste untuk refrensi...
17 Mei 2011 16:07

Anonim mengatakan...
seharusnya lo sadar kalo postingan elo ini berguna banget, eh tapi malah gabisa di
copas
padahal gue lagi butuh buat tugas kuliah dasar!
12 Agustus 2011 09:58
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
"Kemenangan kita yang paling besar bukanlah karena kita tidak pernah jatuh, melainkan
karena kita bangkit setiap kali jatuh"
Mengenai Saya

dennus
Lihat profil lengkapku
Daftar Isi
1. Monumen Jenderal Sudirman
2. Masjid Agung Jawa Tengah
3. Bandara Adi Sumarmo
4. Rumah Sudut
5. Interior Ruang Tamu
6. Masjid Undip Tembalang
7. Pos Jaga di Jurusan Planologi Undip
8. Komposisi Sepatu & Bola
9. Arsitektur Kolonial
10. Rumah Jengki
11.
CHAT
Menu
Bangunan Ibadah (1)
GAMBAR SKETSA (5)
Pelestarian Arsitektur (2)
Studeks (2)
Link
http://www.dephan.go.id
http://www.rekrutmen.jakarta.go.id
Pengikut

Your website value?
Design by: WPYAG
Blogger Template by Anshul | Funny Pictures



Minggu Paing, 19 Juni 2005


redaksi
edisi sebelumnya
surat kepada redaksi




BERITA HARI INI
BERITA
OPINI
KARTUN
POTRET
TREND
CERMIN
KELUARGA
GEBYAR
APRESIASI
OLAHRAGA
Surat Pembaca
Iptek


ARSITEKTUR & DESAIN

Karya-karya Arsitektur yang Mengapresiasi
Waktu
Pesta Kesenian Bali (PKB) kembali digelar mulai Sabtu (18/6)
kemarin. Kali ini, temanya adalah ''Sang Kala'' (Waktu).
Mengapresiasikan ''waktu'' nampaknya relatif lebih mudah
dibandingkan mendefinisikannya. Secara ilmiah, istilah ''waktu''
mengacu kepada dua hal yang berbeda, tetapi saling berkaitan.
Yakni, ''selang waktu'' dan ''saat''. Selang waktu berarti lama
keberlangsungan dalam waktu. Sedangkan ''saat'', berarti letak
dalam waktu. Bagi ahli fisika, waktu adalah salah satu dari tiga
besaran dasar dalam fisika, untuk dapat menjabarkan segala
sesuatu di alam semesta. Bagi ahli psikologi, waktu adalah
waktu aspek kesadaran, sarana untuk memberikan urutan pada
pengalaman-pengalaman.
--------------

TEKA-TEKI dan paradoks waktu yang tak terdefinisikan ini,
sebenarnya telah dirangkum ribuan tahun yang lalu oleh
Aurelius Augustinus, Uskup Hippo di Afrika Utara, seorang ahli
filsafat. Tetapi sudah lima belas abad terlewati, definisi tentang
waktu juga belum cukup untuk didefinisikan dengan tepat.
Perkembangan tulis-menulis yang dipandang sebagai ciri khas
peradaban, merupakan tonggak penting dalam usaha manusia
untuk menguasai waktu. Meskipun manusia memiliki
kemampuan mengingat, tetapi tetap saja bisa keliru atau lupa.
Tetapi tulisan atau catatan merupakan semacam "ingatan-
ingatan" yang dapat dibuat secara cermat, dapat dibaca dengan
menarik manfaat dari pengalaman dan pemikiran orang yang
telah membuat tulisan atau catatan. Bersamaan dengan lahirnya
kemampuan menulis dan mencatat, lahir pula teknik
pengukuran waktu. Adanya teknik mengukur waktu, kemudian


LIVE
RADIO
GLOBAL


ACARA
RADIO &
TV


CUACA



tidak hanya dapat mengukur waktu dengan bulan dan hari,
tetapi juga jam, menit dan detik. Akhirnya jam untuk mengukur
sampai sepertriliun detik, telah menjadi bagian dari teknologi
rumit yang mendukung peradaban modern.

Arsitektur Waktu
Sekitar 1470 SM di Karnak, orang-orang Mesir kuno telah
mencoba menciptakan alat "penunjuk waktu" di kompleks kuil
Dewa Matahari Amon Re. Alat penunjuk waktu ini dibuat berupa
tiang batu runcing, yang disebut obelisk. Tiang batu semacam
ini juga sering digunakan sebagai tugu peringatan oleh beberapa
bangsa pada peradaban masa lalu. Obelisk yang dibangun di Kuil
Dewa Matahari Amon Re di Mesir, terbuat dari batu setinggi 29
meter. Bila matahari bergerak dari timur ke barat, bayangan
obelisk akan bergerak secara teratur dalam arah yang
berlawanan dari barat ke timur, pada daerah bujurtelur di
sekeliling obelisk. Tiga bayangan yang diperlihatkan, adalah
pada saat matahari terbit, tengah hari dan pada saat matahari
terbenam.
Karya arsitektur jam yang cukup rumit dari batu tetapi
mengagumkan, ditemukan di Fez, Maroko (Afrika). Jam yang
digerakkan tenaga air ini dalam wujud sangat besar ini dibangun
pada 1357. Panjang bagian depan bangunan aneh ini 11,3
meter. Mesin jamnya yang telah lama hilang, diperkirakan
memenuhi satu ruangan dan mendentangkan bunyi jam dengan
gaung gong dan derak getaran daun pintu yang ramai. Cara
kerja jam yang menyatu dengan karya arsitektur ini, mirip
dengan prinsip kerja jam kepsidra Yunani yang menggunakan
air. Klepsidra prinsipnya adalah mengucurkan air dari satu
tempat air pasu gerabah ke tempat air pasu gerabah lainnya.
Pengapung dengan angka di dalam pasu gerabah mengukur
tinggi air, perubahan yang teratur ketinggian air mengukur
selang waktunya.
Tetapi dalam jam air pada bangunan batu di Fez, menggunakan
sebuah mesin yang melepaskan butir-butir batu dari cuatan kayu
di bawah atap bangunannya. Setiap jam, sebutir batu jatuh di
atas gong yang ada sekitar enam meter di bawahnya. Jika bunyi
gongnya sudah tidak terdengar, mesin yang sama kemudian
membuka satu di antara 12 pintu lengkung bangunan tersebut,
yang letaknya menunjukkan jam saat itu. Pintu itu akan tetap
terbuka sampai saat jam berbunyi selanjutnya.
Selain itu, karya arsitektur yang dilengkapi jam besar juga
dapat disaksikan di Kota London, Inggris. Gedung Dewan
Perwakilan Rakyat Inggris di London yang sering disebut "New
Palace of Westminster" juga merupakan salah satu karya
arsitektur yang dilengkapi jam. Gedung ini dilengkapi menara-
menara yang salah satunya berisi jam besar di bagian atas
keempat sisinya. Menara jam setinggi 96 meter ini diberi nama
"Big Ben" dan sudah menjadi tanda pengenal bagi Kota London.
Gedung ini merupakan hasil dari sayembara yang dimenangkan
oleh Sir Charles Barry (1795-1860). Dalam proses
perancangannya, Barry dibantu oleh asistennya yang bernama
AWN Pugin, yang sangat menguasai detail-detail arsitektur
Gothik. Kaya ini menandakan masih adanya kerinduan pada
karya arsitektur klasik.

Perjalanan Waktu
Jika orang membahas atau membuat karya arsitektur, maka ia
akan berhubungan dengan masalah ruang -- di dalam dan di luar
bangunannya. Tetapi jika mengkaji sejarah arsitektur dari satu
periode ke periode lainnya secara diakronik, maka orang akan
mengkajinya dalam waktu. Dan jika mengkaji sejarah arsitektur
secara sinkronik, maka yang akan dibahas adalah mata rantai
elemen-elemen secara simultan yang berkaitan dengan ruang.
Arsitektur piramid di Mesir merupakan salah satu contoh karya
arsitektur yang telah mampu melewati ruang dan waktu
perjalanan sejarah arsitektur, sejak zaman Mesir purba hingga
kini. Piramid merupakan karya arsitektur dengan wujud sangat
stabil dan dibuat dari bahan kayu yang dapat mewujudkan
keabadian, dengan bentuk yang dapat menunjukkan keagungan.
Piramid juga harus mampu menunjukkan keabadian, karena
rakyat Mesir memiliki keyakinan akan adanya kehidupan setelah
kematian, sehingga perlu dibangun karya arsitektur yang abadi
untuk sang Raja yang dimakamkan di sana.
Adanya psikologi kesadaran akan masa lampau, masa kini dan
masa depan, juga telah disadari masyarakat Hindu di Bali.
Sehingga, masyarakat Hindu di Bali senantiasa memperhatikan
aspek tri samaya -- tiga kesepakatan dalam waktu untuk
mengambil suatu keputusan, khususnya dalam membuat karya
arsitektur. Dalam arsitektur, masyarakat Hindu di Bali
senantiasa melihat kondisi di masa lalu (atita),
mempertimbangkan akan adanya masa depan (nagata), sehingga
apa yang bisa diwujudkan pada masa kini (wartamana). Selain
itu, juga dilengkapi dengan konsep yang berkaitan dengan
kondisi tempat (desa), waktu (kala), serta situasi dan kondisi
(patra). Pertimbangan ini sangat diperhatikan, agar wujud karya
arsitektur yang dibangun bisa fungsional dan nyaman bagi
pemiliknya.

Stabil dan Indah
Arsitektur berasal dari kata arche dan tektoon dalam bahasa
Yunani. Arche berarti yang asli, yang utama atau yang awal,
sedangkan tektoon berarti berdiri kokoh, tidak roboh dan stabil.
Dalam hal ini, kata arsitektur mempunyai sudut pandang teknis
statika bangunan.
Di India, arsitek disebut sthapati, achariya, atau sutradhara. Di
Jawa, ilmu bangunan dalam bahasa Jawa kuna disebut
wastuwidya. Dalam pengertian wastu atau vasthu (India), sudah
termasuk juga di dalamnya masalah tata bumi (dhara), tata
gedung (harsya), tata lalu-lintas (yana), sampai perabot rumah.
Jadi dalam hal ini, kata wastu atau vasthu pengertiannya lebih
luas dan menyeluruh dibandingkan dengan kata architectonikos
dalam bahasa Yunani, yang berarti seni bangunan. Alam
konsepsional vasthu lebih menyeluruh yang kemudian bermuara
pada sains zaman modern. Kalau masalah estetika yang dibahas,
maka estetika saja. Kalau teknis yang dibahas, maka teknis
murni saja. Sedangkan estetika dalam kerangka wastu, aspek
estetis seluruh seni India melekat pada segi spiritualnya, tidak
pada segi materinya.
Dalam masyarakat Hindu di Bali yang juga mewarisi unsur-unsur
kebudayaan India, banyak aspek yang dipertimbangkan dalam
karya arsitekturnya, seperti konsep wastu dalam masyarakat
Jawa kuna. Karya arsitektur masyarakat Hindu di Bali
merupakan total desain, yang secara teknis kokoh dan stabil,
sekaligus indah. Aspek keindahannya melekat pada segi
spiritualnya, sehingga mampu melampaui rentang ruang dan
waktu.

* gede mugi raharja