Anda di halaman 1dari 7

Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal (2-6 tahun)

A. Perkembangan Fisik pada Masa Kanak-kanak Awal


a) Pertumbuhan Tinggi dan Berat Badan
Pertumbuhan masa kanak-kanak awal tidak terjadi sepesat
pada masa bayi (Santrock, 2002; Monks dkk., 1998).
Rata-rata anak bertambah tinggi 6,25 cm setiap tahun, dan
bertambah berat 2,5-3,5 kg setiap tahun.
Usia 6 tahun berat harus kurang lebih mencapai tujuh kali
berat pada waktu lahir.
Postur tubuh masa kanak-kanak awal:
Gemuk (endomorfik)
Berotot (mesomorfik)
Relatif kurus (ektomorfik)
Otot menjadi lebih besar, lebih kuat, dan lebih berat.
Selama 4 - 6 bulan pertama , 4 gigi bayi yang terakhir yakni
geraham belakang muncul.

b) Perkembangan Motorik Masa Kanak-kanak Awal
Alasan masa kanak-kanak awal merupakan masa yang paling
baik untuk mempelajari keterampilan tertentu menurut Hurlock
(1992) antara lain:
Anak senang mengulang-ulang, sehingga dengan
senang hati mau mengulang suatu aktivitas sampai
terampil.
Anak-anak bersifat pemberani, sehingga tidak
terhambat rasa takut. kalau mengalami sakit atau
diejek teman-teman sebagaimana ditakuti oleh anak
yang leih besar.
Anak mudah dan cepat belajar karena tubuh mereka
masih lentur dan keterampilan yang dimiliki baru
sedikit, sehingga keterampilan yang baru dikuasai
tidak mengganggu keterampilan yang sudah ada.
Keterampilan yang sering dilakukan anak menyangkut
keterampilan tangan dan kaki.
Kemajuan terbesar keterampilan berpakaian antara
usia 1,5 3,5 tahun.
Antara usia 5 6 tahun sebagian besar anak-anak
sudah pandai melempar dan menangkap bola.
Usia 5 6 tahun anak belajar melompat dan berlari
cepat serta sudah dapat memanjat.
Usia 3 4 tahun anak dapat mempelajari sepeda roda
tiga dan berenang

c) Implikasi pada Pendidikan
Sebagai pendidik, anak perlu diperhatikan keseimbangan gizi,
agar pertumbuhan anak secara konsisten terjamin berjalan baik.
Sehubungan dengan perkembangan motorik tangan, anak dapat dilatih
kemandirian yang berkait dengan kehidupan sehari-hari seperti
berpakaian sendiri, mandi sendiri, dan sebagainya. Selain itu, anak
mulai dilatih menggunakan gunting, pensil maupun crayon untuk
mengembangkan keterampilan motorik halusnya.
Untuk perkembangan motorik kaki, anak dapat distimulasi
dengan permainan sepeda roda tiga, bermain bola, dan permainan lain
yang banyak mengaktifkan kaki.


B. Perkembangan Intelektual pada MasaKanak-kanak Awal
a. Perkembangan Kognisi (Piaget)
Pada usia 2 - 7 tahun disebut : tahap perkembangan praoperasional.
Ciri-ciri :
1. Anak mulai menguasai fungsi simbolis;
2. Terjadi tingkah laku imitasi;
3. Cara berpikir anak egosentris;
4. Cara berpikir anak centralized, Cara berpikir seperti ini
dikatakan
belum menguasai gejala konservasi.
5. Berpikir tidak dapat dibalik;
6. Berpikir terarah statis.

b. Perkembangan Bahasa dan Bicara
Bahasa dibutuhkan untuk komunikasi dengan dunia luar.
Menurut Karl Buhler ada tiga faktor yang menentukan dalam
teori bahasa, yakni:
a) Kundgabe (Appell),
b) Auslosung (Ausdruck),
c) Darstellung.
Menurut Karl Buhler seorang anak harus mengalami tiga
fungsi bahasa di atas yang akhirnya sampai pada Darstellung
dengan syarat apabila lingkungan memberikan masukan pada
anak tersebut, karena perkembangan bahasa anak dipengaruhi
imitasi

c. Implikasi pada Pendidikan
Sehubungan dengan perkembangan kognisi anak pada masa
kanank-kanak awal, pendidik perlu melakukan kolaborasi dengan
orang dewasa atau anak yang lebih besar usianya untuk menstimulus
perkembangan kognisinya (zone of proximal development).
Sedangkan untuk perkembangan bahasa dapat distimulus oleh
orang-orang terdekat anak, seperti orang tua, saudara, dll.


C. Perkembangan Sosial-Emosional pada Masa Kanak-kanak Awal
a) Elemen-elemen Sosial dari Bermain dan Implikasinya pada Pendidikan
Anak mulai mengadakan hubungan dekat dengan orang-orang non
keluarga.
Ada peralihan pola bermain anak, dari permainan soliter ke
permainan paralel.
Anak membutuhkan waktu, ruang, dan kebebasan untuk
mengembangkan permainan mereka, agar seluk beluk dan detil-
detil permainan tidak terbatasi.
b) Otonomi dan Inisiatif yang Berkembang, serta Implikasinya pada
Pendidikan
Ada peralihan kemandirian anak ke tingkat yang lebih tinggi dan
penguasaan terhadap lingkungan.
Menurut Erikson, anak prasekolah dalam perkembangan sosialnya
berada pada peralihan dari tahap otonomi vs ragu-ragu ke tahap
inisiatif vs rasa bersalah
c) Perasaan tentang Diri (Self) dan Implikasinya pada Pendidikan
Anak prasekolah mengembangkan perasaan tentang dirinya
(konsep diri) saat berinteraksi dengan orang lain.
Anak prasekolah bila diminta untuk menggambarkan diri mereka
cenderung menggunakan tanda-tanda fisik sebagai acuan.
Anak makin sadar akan inner-self
Anak akan mengembangkan self-esteem meliputi bidang
akademik, keterampilan sosial, dan penampilan fisik,
d) Hubungan Teman Sebaya, serta Implikasinya pada Pendidikan
Anak-anak yang disukai oleh anak-anak lain terbukti memiliki
keterampilan sosial tinggi, dan berakibat pada interaksi yang lebih
kompleks dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan
kemampuan keterampilan sosial dan kognitif.
Anak-anak yang ditolak dan diisolasikan oleh anak-anak lain
terbukti memiliki keterampilan sosial lebih rendah, dan berakibat
pada interaksi yang kurang kompleks dan kurang menyenangkan.
e) Konflik Sosial serta Implikasinya pada Pendidikan
Apabila seorang anak tidak dapat mengatasi konflik sosial secara
verbal, maka ia akan beralih menggunakan kekerasan fisik untuk
mengatasinya.
f) Perilaku Prososial, dan Implikasinya pada Pendidikan
Perilaku prososial terlihat apabila anak menunjukkan empati atau
altruisme.
g) Ketakutan-ketakutan Anak beserta Implikasinya pada Pendidikan
Pada masa prasekolah, anak-anak tidak hanya mengembangkan
emosi-emosi yang dialaminya tetapi juga cara mengendalikannya.
Anak sudah mampu menggunakan bahasa untuk memberi nama
pada emosi yang dialami.
h) Pemahaman Gender dan Implikasinya pada Pendidikan
Anak sering menerapkan sejumlah hukum-hukum gender yang
merupakan informasi yang stereotip dan mencerminkan
pemahaman yang kurang benar tentang perbedaan biologis antara
wanita dan laki-laki
i) Implikasi
Pendidik anak usia dini perlu mengetahui bahwa bermain adalah
medium/ sarana belajar yang luar biasa ampuhnya bagi anak-anak
kecil.
Pendidik dapat mengetahui lebih banyak tentang abilitas anak
dengan mengamati proses bermain.
Pendidik perlu mendorong anak menggunakan inisiatifnya pada
pengalaman sehari-hari.
Pendidik bertugas membantu anak untuk mengembangkan
perasaan diri yang realistik dan seimbang tentang diri mereka.
Apabila anak mengalami kesulitan bergabung dengan teman-
teman sebayanya, pendidik dapat bertindak sebagai model dengan
memberikan contoh bagaimana cara berpartisipasi dan bergabung
dengan kelompoknya.
Pendidik perlu memberikan model tentang perilaku prososial
kepada anak-anak.
Pendidik dapat membantu anak dengan cara mendiskusikan
bagaimana cara mengendalikan emosi.
Pendidik mempunyai peranan penting untuk membantu anak
mengembangkan kesadaran akan gender mereka masing-masing,
dan memberikan lingkungan dimana stereotipi tentang gender
ditentang.
Pendidik dapat mendorong anak untuk berpartisipasi dalam
pengalaman yang dapat melibatkan lintas gender.

D. Perkembangan Moral pada Masa Kanak-Kanak Awal
Dengan mengambil sudut pandang orang lain, akan membantu
memahami apa yang benar dan apa yang salah.
Menurut Damon, kesadaran moral anak diperoleh dari pengalaman
sosial yang normal
Pada masa prasekolah anak belum mampu menilai suatu perbuatan
dari latar belakang motivasinya.
Beberapa aspek dari perkembangan moral anak usia 4 8 tahun
mencakup konsep anak tentang persahabatan dan kewajiban-
kewajiban tertentu dari persahabatan, keadilan dan kejujuran,
kepatuhan, otoritas serta hukum-hukum sosial dan adat.
Ada perbedaan antara anak perempuan dan anak laki-laki dalam sudut
pandang.
Perkembangan moral berkaitan juga dengan kekhususan budaya.

E. Tugas-tugas Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal
Seperti fase perkembangan sebelumnya dan juga fase-fase yang lain,
maka menurut Havighurts fase kanak-kanak awal ini disertai dengan tugas-
tugas perkembangan yang perlu dilakukan oleh seorang anak dengan baik,
karena dengan terpenuhinya tugas perkembangan ini dengan baik, seorang
anak dapat menjalani fase berikutnya dengan lebih lancar, dan menjalani
kehidupannya dengan bahagia (Havighurst, dalam Monks dkk, 1998).
Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak awal ini adalah
sebagai berikut:
1. Belajar perbedaan dan aturan-aturan jenis kelamin
2. Kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang-orang
lain
3. Pembentukan pengertian sederhana, meliputi realitas fisik dan
realitas sosial
4. Belajar apa yang benar dan apa yang salah, perkembangan
dengan hati

F. Implikasi Tugas Perkembangan pada Pendidikan
Anak perlu mengenal secara fisik adanya perbedaan jenis kelamin
antara anak laki-laki dan perempuan. Selain itu anak perlu diajarkan
berperilaku dalam batas-batas yang disetujui masyarakat sesuai
dengan peran jenisnya.
Anak-anak perlu diperkenalkan pada keterampilan sosial sederhana
seperti kapan mengucapkan terima kasih, maaf, tolong dan
sebagainya.
Dengan bantuan dan bimbingan orang dewasa, anak perlu
diperkenalkan pada konsep-konsep sederhana tentang realitas alam,
baik mengenai benda-benda hidup atau mati serta cara kerja atau
fungsi benda-benda tersebut.







DAFTAR PUSTAKA
Rita Eka Izzaty. Dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik.
Yogyakarta: UNY Press