Anda di halaman 1dari 15

Ringkasan Buku Ajar III MPKT-A

Oleh J ohanes J ames, 1306368280


J udul : Bangsa, Negara, dan Pancasila
Pengarang : R. Ismata Dewi, Slamet Soemiarno, Agnes Sri Poerbasari, Eko. A. Meinarno
Data Publikasi : BUKU AJAR III: Bangsa, Negara, dan Pancasila: 2013
1. Bangsa Indonesia
Pemahaman mengenai bangsa Indonesia itu penting. Pengertian bangsa sendiri merupakan
sekelompok masyarakat yang bersama-sama memiliki asal keturunan, adat, bahasa, sejarah,
dan pemerintah yang sama. Koentjaraningrat menjelaskan bahwa sebagai golongan sosial,
suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh identitas dan kesadaran oleh sebuah
ikatan yang disebut kesatuan kebudayaan. Suparlan menambahkan bahwa kategori atau
golongan sosial yang askriptif, yaitu keanggotaan dalam suku bangsa tersebut diperoleh
bersama dengan kelahiran, yang mengacu kepada asal orang tua yang melahirkan dan asal
daerah.
Adapun ciri-ciri suku bangsa sebagai sebuah kelompok yaitu:
1. Sebagai sebuah satuan kehidupan biologi yang mampu berkembang biak, beranak
cucu, dan lestari. Dengan adanya keluarga, adalah bentukan dari sebuah perkawinan
2. Kebudayaan bersama yang menjadi sebuah pedoman bangsa bagi kehidupan
masyarakat, dan memiliki khas yang membuat suku bangsa menjadi berbeda dengan
suku bangsa lain
3. Keanggotaan dalam suku bangsa bercorak askriptif
Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, masyarakat yang memiliki keberagaman pola-
pola kebudayaan. Pluralisme bangsa Indonesia sebagai realitas yang dimana dalam bangsa
bernegara ini, Indonesia adalah bangsa bermasyarakat yang terdiri atas aneka suku bangsa
yang secara bersama-sama mewujudkan diri sebagai satu bangsa
Pluralisme bangsa Indonesia mengenai tiga sistem sebagai acuan dalam kehidupan sehari-
hari warga masyarakat, yaitu sistem nasional, sistem suku bangsa, sistem tempat-tempat
umum.
Masyarakat Indonesia terdiri dari beragam perbedaan. Pluralitas bangsa Indonesia
menyebabkan masalah-masalah yang mengait. Dengan adanya pluralitas dari bangsa
Indonesia, mempermudah terpicunya potensi terjadinya konflik atau integrasi yang
disebabkan oleh sikap etnisentrisme dan primordialisme.
Akar yang menopang berdirinya bangsa Indonesia adalah satuan sosial atau kelompok, yang
berbeda-beda satu dengan yang lain dalam cakupan perbedaan suku bangsa, agama, dan ras
(SARA). Oleh karena itu, pada umumnya permasalahan integrasi nasional berkaitan dengan
konflik yang berdekatan dengan unsur SARA.
Faktor-faktor yang mampu mempersatukan bangsa menjadi perekat dan pemersatu bangsa
Indonesia berawal dari : 1) latar belakang sejarah bangsa, 2) Pancasila dan UUD 1945, 3)
simbol-simbol atau lambang-lambang persatuan bangsa, dan 4) kebudayaan nasional. Latar
Belakang merupakan sejarah terbentuknya negara Indonesia yang melewati sedemikian
perjalanan dan perjuangan melalui suatu proses panjang sejarah pembentukan Bangsa
Indonesia. Pancasila dan UUD45 merupakan persatuan dan pemersatu suku-suku bangsa
Indonesia dalam suatu negara besar yang memerlukan dasar dan ideolodi negara yang
merupakan landasan berbangsa dan bernegara. Simbol dan lambang persataun bangsa
dimaknai bahwa dalam bernegara, rasa keterkaitan, solidaritas, dan identitas anggota
masyarakat harus dijaga sebagau satu kesatuan bangsa negara. Kebudayaan nasional terlahir
atas pluralitas bangsa Indonesia yang beraneka ragam.
Nilai-nilai Pancasila sebenarnya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang mengandung
makna: religiusitas (sila 1), keberadaban (sila 2), kebersamaan (sila 3), musyawarah (sila 4),
dan keseimbangan (sila 5). Kelima sila itu dalam budaya kita menjadi pegangan untuk hidup
aman, tenteram, damai, dan sejahtera dalam konteks kehidupan personal maupun sosial.
kelima nilai itulah yang mampu menjaga dan menghadirkan pranata sosial yang sehat dan
harmonis dalam tata kehidupan serta pergaulan bangsa Indonesia. Kelima nilai tersebut
seharusnya menjadi ciri khas, menjadi identitas budaya bangsa, terutama ketika kita berada di
tengah-tengah pergaulan antar bangsa.
Pemahaman Pancasila seharusnya bukan lagi pada hapalan sila demi sila semata tanpa adanya
praktek nyata sila tersebut dalam kehidupan masyarakat Indonesia, Pancasila seharusnya
menjadi pondasi karakter dasar bagi seluruh bangsa Indonesia. Seberapa banyak generasi
muda ( dalam hal ini anak-anak di tingkat pendidikan dasar) yang memahami Pancasila
dalam ruang lingkup nilai-nilai kehidupan dan pergaulan sehari-hari. Padahal Pancasila
berakar dari begitu banyaknya nilai, adat dan tradisi yang menaungi masyarakat Indonesia
sejak zaman dulu dengan letak wilayah yang amat sangat luas, dari sabang hingga merauke,
serta latar belakang budaya yang berbeda antara satu dengan lainnya. Potensi nilai, adat, dan
budaya yang beraneka ragam sesungguhnya merupakan sumber kekayaan bangsa Indonesia
yang tidak ternilai. Keberagaman tersebut jika digali lebih dalam akan memperkaya
khasanah karakter tepo seliro di antara masyarakat Indonesia. Dan dalam Pancasila terdapat
rumusan sekaligus penjabaran tata nilai, serta adab pergaulan di masyarakat Indonesia.
J ati Diri Bangsa Indonesia merupakan ciri-ciri atau identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
Indonesia lahir sebagai bangsa yang terdiri dari ikatan berbagai suku bangsa, maka
dibutuhkan kebudayaan nasional yang berlandaskan pada unsur-unsur kebudayaan suku-suku
bangsa di daerah yang mampu menimbulkan rasa bangga kepada bangsa sendiri sehingga
dapat mempererat dan memperkuat rasa identitas nasional warga bangsa. Perasaan sebagai
bagian dari Negara kesatuan harus dikembangkan agar dapat sadar akan jati diri bangsanya
sendiri melalui pendekatan kebudayaan dimana sebagai media untuk dapat saling memahami
antar suku bangsa. Dilakukan juga pengembangan kebudayaan nasional, hal tersebut
dikatakan sebagai upaya untuk meningkatkan rasa solidaritas dan menumbuhkan rasa bangga
sebagai bangsa Indonesia.
Cita-cita bangsa Indonesia sangat sederhana. Bangsa Indonesia hanya ingin mewujudkan
suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Cita-cita bangsa Indonesia
itu diformulasikan dengan baik dalam alinea ke-2 Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun
1945. Formulasi itu berbunyi : Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah
sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat
Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur
2. Negara dan Sistem Pemerintahan
Hakikat Negara menekankan mengenai syarat terbentuknya negara meliputi wilayah, rakyat,
dan pemerintah. Logemann menjelaskan bahwa sebuah Negara merupakan suatu organisasi
masyarakat yang bertujuan dan memiliki sasaran, dengan kekuasaannya sehingga mampu
mengatur serta menyelenggarakan suatu masyarakat besar. Max Webber menambahkan
mengenai Negara, bahwa merupakan struktur organisasi yang berisi masyarakat bermonopoli
dalam menggunakan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah.
Hakikat Negara merupakan salah satu dari bentik perwujudan dari sifat-sifat Negara . Ada
beberapa teori tentang hakekat Negara, diantaranya:
Teori Sosiologis
Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, kebutuhan antar
individu tersebut membentuk suatu masyarakat. Di dalam ruang lingkup masyarakat
terdapat banyak kepentingan individu yang saling berkaitan satu sama lain dan tidak
jarang pula saling bertentangan. Maka manusia harus dapat beradaptasi dengan baik
untuk menyesuaikan kepentingan-kepentingannya agar dapat hidup dengan rukun.
Teori Yuridis
o Patriarchaal
Teori yang menganut asas kekeluargaan, dimana terdapat satu orang yang
bijaksana dan kuatyang dijadikan sebagai kepala keluarga.
o Patriamonial
Raja mempunyai hak sepenuhnya atas daerah kekuasaannya, dan setiap orang
yang berada di wilayah tersebut haru tunduj terhadap raja tersebut.
o Pejanjian
Raja mengadakan perjanjian dengan masyarakatnya untuk melindungi hak-hak
masyarakat itu,dan jika hal tersebut tidak dilakukan maka masyarakat dapat
meminta pertanggung jawaban raja.
Konsep mengenai kekuasaan tertinggi terbagi atas teori kedaulatan Tuhan, raja, negara,
hukum, dan rakyat. Setiap teori menggambarkan yang berkedaulatan ialah yang memegang
kekuasaan tertinggi dalam suatu negara.
Dalam suatu negara yang berdaulat, dibutuhkan petunjuk dan pedoman kehidupan. Maka itu,
dibentuklah ideologi negara yang kita sebut Pancasila dan Konstitusi negara yang kita sebut
UUD 1945. Ideologi Pancasila pada dasarnya dibentuk untuk menjadi pedoman yang
mencerminkan cara berpikir masyarakat, bangsa, dan Negara, serta membentuk masyarakat
menuju cita-cita bangsa; dan menjadi sumber motivasi dan semangat bangsa. Konstitusi UUD
1945 berbentuk dokumen tertulis yang merupakan hasil perjuangan politik bangsa di masa
lampau. Sekarang menjadi tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa.
Pembentukan Konstitusi juga merupakan pandangan pendiri/tokoh bangsa yang hendak
diwujudkan untuk masa sekarangdan yang akan datang dan suatu keinginan, perkembangan
ketatanegaraan bangsa.
Menurut Miriam Budiardjo, UUD memiliki fungsi khas sebagai pembatas kekuasaan
pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-
wenang. Konstitusi Indonesia dimungkinkan diubah melalui: Siding legislative dengan
tambahan syarat; Referendum/plebisitc; Persetujuan Negara bagian; Musyawarah khusus
(convention).
Sedangkan menurut UUD 1945, perubahan UUD dimungkinkan terjadi apabila sekurang-
kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota MPR hadir dalam rapat dan sekurang-kurangnya 2/3
darianggota yang hadir setuju.
UUD 1945 dari periode ke periode:
Periode UUD 1945 1949
Periode Konstitusi RIS1949-1950
Periode UUDS 1950-1959
Kembali ke UUD 1945-1966 (Dekrit Presiden 5 J uli 1959
Periode UUD 1945 Masa Orde baru 1966-1998
Periode UUD 1945 [21 Mei 1998-19 Oktober 1998]
Periode UUD 1945 yang diamandemen 1998-sekarang (reformasi)
Negara dalam dalam Arti Wilayah. Negara Indonesia mempunyai ciri khas yang unik
dibanding dengan negara lain. Ciri khas wilayah Indonesia dapat dijelaskan mulai dari
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berada di antara dua benua, yaitu benua Asia
dan benua Australia, serta dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan SamuderaPasifik, dan
juga berada di bawah Geostationary Satellite orbit (GSO) sepanjang 12,8 % GSO bumi.
Di dalam sebuah Negara tetntunya terdapat wilayah yang berdaulat dan dipertahankan,
berdasarkan hal tersebut maka diperlukannya cara pandang yang dikenal sebagai wawasan
kebangsaan/wawasan nasional. Menurut Friedrich Ratzel, bila kamu tidak tahu tentang
wilayah, kamu tidak akan berbuat untuk Negara kecuali kesalahan fatal. Disinilah awal mula
bagaimana konsep geopolitik dikenal, dimana konsep yang mempelajari geografi pada
awalnya lalu berkembang dengan mempelajari bagian politiknya juga.
Karena ciri khas wilayah Indonesia tersebut, maka Indonesia menyusun doktrin Geopolitik
Indonesia yang merupaka kesatuan pandang bangsa tentang diri dan lingkungannya, yang
disebut Wawasan Nusantara. Wawasan Nusantara adalah sikap dan cara pandang bangsa
Indonesia tentang dirinya yang bhinneka, dan lingkungan geografinya yang berwujud Negara
kepulauan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Tujuan dari wawasan nusantara adalah kesatuan dan persatuan dalam kebhinnekaan yang
merupakan penjabaran tujuan yang telah diselaraskan dengankondisi, posisi, dan potensi
geografi serta pedoman pola tindak dan pola pikerkebijaksanaan nasional. Peran wawasan
nusantara seperti mewujudkan serta memelihara persatuan dan kesatuan yang serasi dan
selaras,segenap aspek kehidupan nasional; menumbuhkan rasa tanggung jawab atas
pemanfaatan lingkungan; menegakkan kekuasaan guna melindungi kepentingan nasional;
merentang hubungan internasional dalam upaya ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Wawasan nasional juga harus didukung oleh strategi, yang kemudian dikenal sebagai konsep
geostrategi. Menurut Laksada (USN) J . C. Willie, Rencana aksi untuk mengakhiri keinginan
bersama dan dapat diukur hasilnya jadi dapat dikatakan bahwa geostrategic adalah
merupakan dunia nyata yang harus diwujudkan, sedangkan geopolitik adalah dunia ideal
yang kita kejar.
Geostrategi adalah konsep untuk melaksanakan konsep wawasan Nusantara yang disebut
Ketahanan Nasional. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamik suatu bangsayang berisi
keuletan dan ketangguhan, serta kemampuan untuk mengembangkankekuatan nasional dalam
menghadapi segala ancaman. Konsep ini disusun dengansistematika yang sama dengan
konsep wawasan nusantara. Lalu konsep ini juga merupakan konsep pengaturan keamanan
dan kesejahteraan dalam kehidupan nasional.
Suatu negara memiliki pengertian yang dimana merupakan arti institusi/ organisasi negara.
Bentuk NKRI adalah Negara persatuan, yaitu Negara yang melindungi dan meliputi
segenapbangsa dan seluruh tumpah darahnya. Negara Indonesia bukan Negara federasi
melainkanNegara kesatuan yang kekuasaan utamanya berada di pemerintah pusat. Menurut
Pancasila, hakikat Negara Pancasila adalah Negara persatuan, Negara integralistik, Negara
kebangsaan yang berketuhanan, beradaban, berkerakyatan, dan berkeadilan sosial.
Keadulatan berkerakyatan memiliki arti bahwa dalam upaya menyelenggarakan kenegaraan,
kita sebagai warga dan rakyat negara yang berdaulat dituntut hidup berdemokrasi yang sesuai
dengan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Politik nasional Indonesia merupakan asas, haluan, usaha, dan kebijakan tindakan dariNegara
tentang pembinaan dan penggunaan segenap potensi nasional, baik untuk mencapai tujuan
nasional. Pembahasan politik nasional Indonesia mencakup pemisahan kekuasaan,
termasuk kelembagaan politik, kedaulatan Negara, dan tujuan Negara Pemisahan kekuasaan
Indonesia menurut Trias Politica adalah kekuasaan legislative,yudikatif, dan eksekutif.
Wilayah NKRI dibagi atas provinsi dan setiap provinsi dibagi atas kabupaten dankota, yang
masing-masing mempunyai pemerintahan daerah.Pemerintah daerah mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan menurut asasotonomi dan perbantuan dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat,pelayanan, dan daya saing daerah. Tetapi ada urusan
pemerintahan yang tidak diturunkan kewenangannya pada daerah meliputi politik luar negeri,
pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiscal, dan agama. Sedangkan untuk
pemerintahan daerah ada 16 urusan, yaitu perencanaan dan pengendalian pembangunan,
pernecanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang, penyelenggaraan ketertiban umum
dan ketentraman masyarakat, serta penyediaan sarana dan prasarana umum.
3. Kewarganegaraan
Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan. Di dalam pengertian ini, warga
suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena
keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi
penting, karena masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang
berbeda-beda bagi warganya.
Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan. Yang membedakan adalah hak-
hak untuk aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa
menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara dan
berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). J uga
dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.
Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan
kewajiban. Dalam filosofi "kewarganegaraan aktif", seorang warga negara disyaratkan untuk
menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi,
layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk memperbaiki penghidupan
masyarakatnya.
Secara umum, kewarganegaraan adalah segala sesuatu yang menyangkut warga Negara.
Status tersebut yaitu status sebagai warga Indonesia. Status rakyat Indonesia pada masa
pemerintahan Kolonial Belanda Puncak hiriarki adalah raja, di bawahnya ada penjabat-
penjabat tinggi yang mengabdipada raja, di bawahnya lagi ada kaum ulama, militer, dan elit
politik yang memilikikekuasaan legal. Rakyat biasa adalah abdi raja yang tidak memiliki
kebebasan individu dan otonomi politik. Konsep kewarganegaraan belum dikenal pada saat
itu. Setelah colonial mengambil alih pemerintahan, mulai diberlakukan system kasta.Hanya
orang Belanda yang dapat emngisi jabatan tinggi, orang pribumi hanya dapat jabatan rendah.
Tetapi orang-orang kerajaan masih dapat tempat tinggi di system Kolonial ini.
Status tersebut berbeda ketika rakyat Indonesia mencapai masa pasca kemerdekaan. Warga
Negara memiliki status legal yang sama, dengan segala hak dankepentingan yang melekat di
dalamnya Warga negara Indonesia adalah semua orang bangsa Indonesia asli atau bangsa
lainyang disahkan oleh UU. Dengan kata lain, bangsa Indonesia menerima keturunan
manapun termasuk dari Negara lain sebagai warga Negara Indonesia
Untuk dapat menjadi warga Negara Indonesia, telah dimuat ketentuan-ketentuan dalam: UU
RI no. 3 th 1946, UU RI no. 62 th 1958, UU RI no. 4 th 1969,UU RI no. 3 th 1976, dan UU
RI no.12 th 2006 ; Menurut UU no.12 th 2006, ada 4 asas kewarganegaraan, yaitu: ius
sanguinis, iussoli, kewarganegaraan tunggal, dan kewarganegaraan ganda; Kewarganegaraan
Indonesia dapat diperoleh atas dasar: kelahiran, pemberianstatus, pengangkatan, permohonan,
naturalisasi, perkawinan, dan kehormatan
Kehilangan kewarganegaraan Indonesia WNI dapat kehilangan kewarganegaraanya karena:
Atas kemauan sendiri menjadi WNA; Melanggar asas kewarganegaraan tunggal; Masuk
dinas militer asing tanpa seizin Presiden; Tinggal di luar wilayah Indonesia, tidak dalam
rangka dinas Negara selama 5 tahun berturut-turut, dan sebelum jangka 5 tahun berakhir,
dengan sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk mempertahankan
kewarganegaraannya, serta setiap 5 tahun berikutnya yang bersangkutan tidak mengajukan
pernyataan ingintetap menjadi WNI; Perkawinan dengan WNA yang mengharuskan menjadi
warga Negara pasanganAndaWNI yang menjadi WNA, dpt diberi kesempatan untuk kembali
menjadi WNI.
Terdapat prinsip-prinsip dalam hubungan timbal balik antara negara dan warga negara.
Hubungan antara Negara dengan warga Negara merupakan hubungan timbal balik
yangmelibatkan unsur hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak. Hubungan itu secara
mendasarterbangun dari tujuan awal Indonesia yang tercantum di dalam Pembukaan UUD
1945.
UUD telah menetapkan prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman berbangsa
danbernegara. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
Prinsip Negara kesatuan, dimana negara kesatuan merupakan bentuk negara wewenang
legislatid yang dipusatkan dalm suatu badan legislatif tingkat nasional/pusat. Kekuasaan
terletak pada pemerintahan pusat, bukan pemerintahan daerah Prinsip ini dibuat agar di
bawah pemerintah pusat tidak ada Negara lagi,sehingga dapat terhindar dari perpecahan
bangsa, provinsialisme yang menjuruske separatisme, namun tetap harus memperhatikan
kepentingan daerah.
Prinsip kedaulatan rakyat, dimana hak atau kekuasaan tertinggi untuk memerintah adalah
kedaulatan itu sendiri. Bentuk kedaulatan dianggap dapat mencegah terjadinya Negara
kekuasaan yangabsolut atau penindas Pemegang kedaulatan rakyat pada awalnya adalah
MPR, namun setelahamandemen UUD 1945, kekuasaan tersebut dicabut. Kedaulatan
rakyat dipegang oleh rakyat, dan diwujudkan dalam Pemilu.
Prinsip Negara republik, dimana adanya kebebasan-bukan berarti dalam arti liberal.
Republik mendukung kedaulatan rakyat yang mengisyaratkan adanyakebebasan dari
intervensi Negara lain dan dominansi pihak lain.Kebebasan rakyat selalu disertai rasa
tanggung jawab untuk mempertahankanindepedensi Negara.
Prinsip Negara hukum, dimana menuntut pemerintahan agar berjalan sesuai hokum dan
bukan kekuasaan. Hukum, khususnya UUD merupakan sumber norma yang mengatur
pemerintahan maupun rakyat
Secara ringkas hak warga Negara terbagi atas:
1. Hak legal: hak yang berdasarkan hukum
2. Hak moral: hak yang berfungsi dalam system moral
3. Hak khusus: hak yang dimiliki karena fungsi khusus terhadap orang lain
4. Hak umum: hak semata-mata ia manusia (HAM)
5. Hak positif: hak seseorang untuk memperbolehkan orang lain berbuat
sesuatupadanya
6. Hak negatif: hak untuk bebas melakukan dan memiliki sesuatu
7. Hak individual: hak individu terhadap negara
8. Hak sosial: hak yang dimiliki seseorang sebagai anggota masyarakatHAM (Hak Asasi
Manusia): hak yang dimiliki setiap individu dan didapat sejak lahirdari Tuhan. Hak
ini diatur dalam UUD 1945.
Untuk menyetarakan bentuk-bentuk hak yang terlah ditetaptkan dalam UUD 1945 maka
diperlukannya sebuah implementasi hak dan kewajiban warga Negara dalam kehidupan
sehari-hari. Diuraikan dan dikategorikan yakni keamanan, kesetaraan, dan kemerdekaan.
Dikatakan beroleh kemerdekaan umumnya diperoleh bagi warga diamana mereka beroleh
hak mengeluarkan pendapat dan mendapatkan informasi, hak berserikat, hak untuk memeluk
agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, hak memilih
dalam Pemilu, hak berpartisipasi dalam pemerintahan.
Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama satu sama lain tanpa terkecuali.
Hak dan kewajiban ini adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi sering terjadi
pertentangan karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Sudah sangat jelas bahwa setiap
warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak, akan
tetapi pada kenyataannya banyak warga negara yang belum merasakan kesejahteraan dalam
menjalani kehidupannya. Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu
dengan cara mengetahui posisi diri kita sendiri. Sebagai seorang warga negara harus tahu hak
dan kewajibannya. Seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan aturan-aturan yang
berlaku. J ika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi, maka kehidupan masyarakat akan
aman sejahtera. Akan tetapi, sampai saat ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan
haknya sehingga rakyat tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai warga negara.
Dalam berwarga negara, penetapan porsi-porsi hak yang ditetapkan memiliki batasan-
batasan, demikian juga dengan kewajiban warga negara. Pemenuhan hak-hak warga Negara
tidak dapat diartikan sebebas-bebasnya. Perlubatasan-batasan untuk menjamin pengakuan
dan penghormatan terhadap HAM, hak orang lain, kesusilaan, ketertiban umum, dan
kepentingan bangsa.
Kewajiban Negara secara implisit adalah tujuan bangsa Indonesia yang tercantum di
Pembukaan UUD 1945, yakni:
Melindungi segenap bangsa indonesia danseluruh tumbah darah indonesia
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Melaksanakan ketertiban dunia yangberdasarkan kemerdekaan, perdamaianabadi dan
keadilan sosial
Membuat kebijakan yang menjaminpemenuhan hak warga negara
Lalu hak Negara adalah kewajiban warga Negara. Kewajiban Warga Negara antara lain:
Menjunjung/mematuhi hokum dan pemerintahan
Membela Negara
Membayar pajak
Mengikuti pendidikan dasar (wajib sekolah)
Menghormati hak asasi orang lain
Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama tapi tidak terwujud dengan
baik karena masih ada perdebatan mana yang harus didahulukan apakah kewajiban terlebih
dahulu atau hak terlebih dahulu untuk diwujudkan.
4. Indonesia dan Dunia Internasional
Hubungan internasional atau hubungan antarbangsa merupakan interaksi manusia
antarbangsa baik secara individu maupun kelompok, dilakukan baik secara langsung maupun
secara tidak langsung dan dapat berupa persahabatan, persengketaan, permusuhan ataupun
peperangan.
Dalam hubungan antarbangsa diperlukan kerjasama yang baik demi mencapai tujuan
bersama. Integrasi dalam dunia internasional menyangkut kerjasama untuk dapat mencapai
kepentingan negara-negara sejalan. Kedua negara yang bekerjasama harus manjauhi
pertentangan, dimana konflik terjadi ketika kepentingan negara saling bertentangan.
Umumnya penyelesaian konflik dilakukan dengan tindak kekerasan, penekanan atau
pemaksaan (coersion), dan akomodasi.
Hubungan Internasioal menjadi penting bagi suatu negara, karena di masa sekarang diyakini
bahwa tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri. Dengan adanya hubungan internasional,
pencapaian tujuan negara akan lebih mudah dilakukan dan perdamaian dunia lebih mudah
diciptakan.
Penjajahan pada hakekatnya adalah penghisapan oleh suatu bangsa atas bangsa lain yang
ditimbulkan oleh perkembangan paham kapitalis, di mana negara penjajah membutuhkan
bahan mentah bagi industrinya dan juga pasar bagi hasil industrinya. Inti dari penjajahan ini
adalah penguasaan wilayah bangsa lain.
Ketergantungan umumnya terjadi pada negara-negara berkembang yang karena kekurangan
modal dan tekhnologi untuk membangun negaranya, terpaksa mengandalkan bantuan negara-
negara maju yang akhirnya mengakibatkan ketergantungan pada negara-negara maju tersebut.
Pola hubungan ini dikenal sebagai neo-kolonialisme (penjajahan dalam bentuk baru).
Pola hubungan sama derajat sangat sulit diwujudkan, namun merupakan pola hubungan yang
paling ideal karena berusaha mewujudkan kesejahteraan bersama, sesuai dengan jiwa sila
kedua Pancasila, yang menuntut penghormatan atas kodrat manusia sebagai makhluk yang
sederajat tanpa memandang ideologi, bentuk negara ataupun sistem pemerintahannya. Politik
luar negeri bebas aktif yang kita pilih menghindarkan bangsa kita jatuh ke paham kebangsaan
yang sempit atau Chauvinisme yang mengagung-agungkan bangsa sendiri namun
memandang rendah bangsa lain. J uga menghindarkan paham Kosmopolitisme yang
memandang seluruh dunia sebagai negeri yang satu dan sama sehingga mengabaikan negeri
sendiri.
Dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif bangsa Indonesia menjalin pergaulan
dan kerjasama antar bangsa, dipimpin oleh presiden sebagai kepala negara.Dalam melakukan
kerjasama dan hubungan internasional ini presiden dibantu oleh departemen luar negeri yang
dipimpin seorang menteri luar negeri, para duta dan konsul yang diangkat presiden untuk
negara-negara lain serta duta-duta dan konsul-konsul negara lain yang diterima oleh presiden.
Hak mengangkat duta dan konsul ini sesuai dengan Pasal 13 Undang-Undang Dasar 1945
dipegang oleh presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Dalam menerima duta
dan konsul negara lain, presiden juga harus meminta persetujuan dari kepala negara asal duta
dan konsul tersebut dalam bentuk Surat Kepercayaan (lettre de credance).
Menurut Prof. Dr. Kusuma Atmaja, hubungan dan kerjasama antar bangsa muncul karena
tidak meratanya pembagian kekayaan alam dan perkembangan industri di seluruh dunia
sehingga terjadi saling ketergantungan antara bangsa dan negara yang berbeda.Karena
hubungan dan kerjasama ini terjadi terus menerus, sangatlah penting untuk memelihara dan
mengaturnya sehingga bermanfaat dalam pengaturan khusus sehingga tumbuh rasa
persahabatan dan saling pengertian antar bangsa di dunia.
Dengan demikian tak satu bangsa pun di dunia ini dapat membebaskan diri dari keterlibatan
dengan bangsa dan negara lain. Bagi suatu negara hubungan dan kerjasama internasional
sangat penting. Menurut Mochtar Kusumaatmadja (1982), hubungan dan kerja sama tersebut
timbul karena adanya kebutuhan yang disebabkan antara lain oleh pembagian kekayaan alam
dan perkembangan industri yang tidak merata di dunia.
Beberapa faktor yang ikut menentukan dalam proses hubungan internasioanal, baik secara
bilateral maupun multilateral antara lain adalah kekuatan nasional, jumlah penduduk, sumber
daya dan letak geografis. Suatu negara dapat mengadakan hubungan internasional manakala
kemerdekaan nya telah diakui oleh negara lain, baik secara de facto, maupun de jure.
Perlunya kerjasama dalam bentuk hubungan internasional antara lain karena faktor-faktor
berikut:
a) Faktor internal, yaitu adanya kekhawatiran terancam kelangsungan hidupnya baik melaui
kudeta maupun intervensi dari negara lain.
b) Faktor eksternal, yaitu ketentuan hukum alam yang tidak dapat dipungkiri bahwa suatu
negara tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dan kerjasama dengan negara lain.
Ketergantungan tersebut terutama dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi, politik,
hukum sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Indonesia berperan aktif dalam dunia Internasional. Indonesia juga membina baik dalam
hubungan antarbangsa. Pada zaman dahulu ada yang disebut GNB (Gerakan Non Blok), yaitu
gerakan yang diprakarsai oleh Indonesia sebagai blok netral di tengah perang dingin blok
barat dan blok timur. Indonesia juga ikut peran dalam berpartisipasi dalam ASEAN, yaitu
salah satu pemrakarsa dalam mengembalikan hubungan baik antarnegara Asia Tenggara.
Di Era globalisasi terdapat kecenderungan yang tentunya menjadi trend skala internasional.
Kecenderungan tersebut merambat dan sekarang cakupannya meliputi politik, ekonomi,
sosial dan budaya, dan bentuk pertahanan dan keamanan. GNB dan kemerdekaan
mempengaruhi banyak negara untuk mengikuti langkah tersebut.
Globalisasi telah menyorongkan masa dunia manusia yang mungkin kecil, lokal, dan terbatas
ke dalam sistem-sistem dunia yang besar dan tidak terbatas. Karena globalisasi yang
mengandalkan integrasi dan jaringan sistem memang benar-benar memadatkan dunia ke
dalam satu ruang tunggal dan mengintensifkan kesadaran dunia sebagai kesatuan. Siapapun
dituntut sadar dan ikhlas memasuki berbagai jaringan sistem dunia, misalnya jaringan sistem
budaya, sistem ekonomi, sistem bisnis-moneter atau sistem pasar, sistem politik, sistem
komunikasi dan transportasi, dan sistem pengetahuan. Kecuali itu, siapa pun dituntut lapang
dada menerima kenyataan pudarnya berbagai sistem lokal dan nasional, misalnya sistem
negara-bangsa dan kedaulatan politik dan ekonomi suatu bangsa. Hal ini mengakibatkan (a)
hal-hal pribadi dan lokal dapat menjadi urusan umum dan global dan (b) hal-hal umum dan
global juga menjadi urusan pribadi dan lokal. Sebagai contoh, soal orang tua mencubit anak
sendiri bisa menjadi urusan global (karena dianggap pelanggaran hak anak) dan sebaliknya
soal gaya makan di Mc. Donalds menjadi urusan lokal (karena dianggap bagian dari gaya
hidup siapa saja). Ini menunjukkan bahwa globalisasi demikian rumit dalam kenyataan hidup
sehari-hari manusia termasuk di Indonesia.
Kecenderungan globalisai juga tampak dalam bidang politik, hukum dan HAM,paham
demokrasi dan sebagainya. Kecenderungan globalisasi tersebut merupakan suatu gejala yang
tidak dapat dihindari. Oleh karen itu, banyak gagasan dalm menghadapi globalisasi yang
menekankan perlunya berpikir dan berwawasan global namun harus tetap menyesuaikan
keputusan dan tindakan dengan keadaan nyata disekitarnya.
Indonesia adalah negara yang menerima masukan dunia internasional dengan baik. Banyak
bencana buruk terjadi di Indonesia sebab dari globalisasi. Globalisasi membuat pengaruh
asing masuk ke Indonesia dengan sangat gencar dan tanpahenti. Oleh karena itu, kita harus
memilihnya dengan bijaksana, yaitu yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Untuk
inilah Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dibuatdan dibutuhkan.
Globalisasi membawa pengaruh positif terhadap Indonesia, tetapi tidak kalah juga dengan
contoh yang telah disebutkan diatas dampak negatifnya. Dalam hal Globalisasi ini, peran
pemerintah dalam suatu negara sangat diperlukan, mengingat segala aspek yang dilakukan
adalah demi tercapainya suatu keadaan negara yang lebih baik. Pemerintah perlu menyikapi
kehadiran globalisasi disini secara intensif dan berkelanjutan (berkala). Karena
dampak/pengaruh negatif dari globalisasi ini jika dibiarkan secara terus menerus maka sama
saja akan memutarbalikkan keadaan bahkan membuat keadaan (kehidupan masyarakat)
Indonesia semakin terpuruk. Kesenjangan dan ketimpangan akan terjadi dan akan terus
terjadi, baik antar wilayah, maupun kedudukan sosial di Indonesia.