Anda di halaman 1dari 12

1

A. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hubungan antarnegara saat ini sudah tidak dapat lagi menghindari terjadinya
perdagangan. Relasi terjadi karena adanya keunggulan komparatif yang dimiliki oleh
setiap negara. Kebutuhan akan perdagangan dilakukan untuk memenuhi kehidupan
dan kesejahteraan para penduduk di setiap negara. Kegiatan perdagangan antarnegara
ini membutuhkan sebuah hukum (aturan) yang bersifat internasional agar tidak terjadi
perselisihan.
1
Aturan (hukum) ini berguna untuk membatasi atau mengatur agar
tindakan tindakan perekonomian (perdagangan) yang dilakukan oleh suatu negara
tidak mengganggu kepentingan negara negara lain. Berbagai jenis aturan yang telah
disepakati bersama oleh beberapa negara kemudian menghasilkan suatu persetujuan
(perjanjian) yang wajib ditaati oleh tiap tiap negara anggotanya, adapun bentuk dari
persetujuan ekonomi yang dilakukan oleh beberapa negara ini salah satunya ialah
GATT (The General Agreement on Tariffs and Trade).
The General Agreement on Tariffs and Trade (GATT atau Persetujuan Umum
mengenai tarif dan perdagangan) adalah suatu perjanjian internasional dibidang
perdagangan internasional yang mengikat lebih dari 1200 negara. Keseluruhan negara
ini memainkan peranan sekitar 90 persen dari produk dunia. Tujuan dari persetujuan
ini adalah untuk menciptakan suatu iklim perdagangan internasional yang aman dan
jelas bagi masyarakat bisnis, serta untuk menciptakan liberalisasi perdagangan yang
berkelanjutan di dalam penanaman modal, lapangan kerja dan penciptaan iklim
perdagangan yang sehat. Dengan tujuan demikian, sistem perdagangan internasional
yang diupayakan GATT adalah sistem yang dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia.
2
Setelah lahirnya GATT kemudian
terbentuklah suatu Organisasi perdagangan internasional yang dikenal dengan WTO.
Latar belakang berdirinya World Trade Organization (WTO atau Organisasi
Perdagangan Dunia) tidak terlepas dari sejarah lahirnya International Trade
Organization (ITO) dan General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Seusai
Perang Dunia ke-II, masyarakat Internasional menyadari perlunya pembentukan suatu

1
http://senandikahukum.com/subsidi-perikanan-dalam-wto-dan-dampaknya-bagi-indonesia/
2
Oliver Long, Law and Itslimitations in the GATT Multilateral Trade System, martinus
Nijhoff Publishers, 1987, hlm. 6, sebagaimana dikutip dalam Huala Adolf, A. Chandrawulan,
Masalah Masalah Hukum Dalam Perdagangan Internasional, Bandung : Rajawali Pers, 2004, hlm. 1
2

organisasi internasional di bidang perdagangan.
3
World Trade Organization atau
WTO dihasilkan dari Putaran Uruguay GATT (1986-1993). Organisasi ini memiliki
kedudukan yang unik karena ia berdiri sendiri dan terlepas dari badan kekhususan
PBB. Pembentukan WTO ini merupakan realisasi dari cita-cita lama negara-negara
pada waktu merundingkan GATT pertama kali (1948). Yakni hendak mendirikan
suatu organisasi perdagangan internasional (yang dulu namanya adalah International
Trade Organization atau ITO).
4


Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah perkembangan GATT ke WTO ?
2. Apakah tujuan dan fungsi GATT/ WTO ?
3. Apa prinsip prinsip dalam GATT dan WTO ?
4. Bagaimana keanggotaan dalam GATT/ WTO ?













3
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, Bandung : PT. Raja Grafindo Persada, hlm.
115
4
Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional : Prinsip Prinsip dan Konsepsi Dasar,
Bandung, 2004, hlm. 32
3

B. PEMBAHASAN

Sejarah Perkembangan GATT ke WTO
Jika melihat sejarah perdagangan internasional, maka akan terlihat pada
awalnya hubungan itu dilakukan secara bilateral. Ada dua pendapat yang
mengemuka. Pertama; hal tersebut dilakukan karena kedekatan wilayah. Kedua; hal
tersebut dilakukan berdasarkan motif kepentingan nasional, baik ekonomi maupun
politik. Menurut penelitian dari Robertino V Fiorentino, Luis Verdeja dan Christelle
Toqueboeuf, perjanjian perdagangan didasari dari motif politik dan ekonomi
ketimbang alasan geografis. Perjanjian perdagangan secara bilateral ini ternyata
belum memberikan hasil yang sukses, karena kebutuhan antarnegara yang semakin
kompleks. Menguatnya regionalisme pada awal tahun 1960 menarik perhatian
negara-negara untuk menguatkan kembali kerjasama regional, khususnya dibidang
perdagangan. Perkembangan berikutnya adalah mulai bermuculan perjanjian-
perjanjian regional dibidang perdagangan. Sebelum lahirnya perjanjian perdagangan
regional, dunia internasional sudah menyepakati perjanjian perdagangan multilateral
yaitu GATT. Dalam ketentuan GATT sendiri telah mengatur tentang
diperbolehkannya pembentukan perjanjian perdagangan regional dengan syarat tidak
mengganggu proses liberalisasi perdagangan dan kompetisi bebas.
5

GATT dibentuk sebagai suatu dasar (atau wadah) yang sifatnya sementara
setelah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul kesadaran masyarakat internasional
akan perlunya suatu lembaga multilateral di samping bank dunia dan IMF.
6

Kebutuhan akan adanya suatu lembaga multilateral yang khusus ini pada waktu itu
sangat dirasakan benar. Pada waktu itu masyaraat internasional menemui kesulitan
untuk mencapai kata sepakat mengenai pengurangan dan penghapusan berbagai
pembatasan kuantitatif serta diskriminasi perdagangan. Hal ini dilakukan untuk
mencegah terulangnya praktek proteksionisme yang berlangsung pada tahun 1930-an
yang sangat memukul perekonomian dunia.
7

Awal sejarah pembentukan GATT berawal pada saat ditandatanganinya
Piagam Atlantik (Atlantic Charter) pada bulan Agustus 1941. Salah satu tujuan dari

5
http://senandikahukum.com/perjanjian-perdagangan-regional-rta-dalam-kerangka-world-
trade-organization-wto-studi-kasus-asean-free-trade-area-afta/
6
Oliver Long, op.cit., hlm.1
7
M.A.G. Van Meerhaeghe, International Economis Institutions, The Netherlands: Kluwer,
1987, hlm. 101, sebagaimana dikutip dalam dalam Huala Adolf, A. Chandrawulan, Masalah
Masalah Hukum Daalam Perdagangan Internasional, Bandung : Rajawali Pers, 2004, hlm. 5
4

piagam ini adalah menciptakan suatu sistem perdagangan dunia yang didasarkan pada
nondiskriminasi dan kebebasan tukar-menukar barang dan jasa. Dengan tujuan
tersebut, serangkaian pembahasan dan perundingan mengenai tujuan tersebut telah
berlangsung antara tahun 1943-1944, khususnya antara Amerika Serikat, Inggris dan
Kanada. Pada tanggal 6 Desember, Amerika Serikat pertama kalinya mengusulkan
perlunya pembentukan suatu organisasi Perdagangan Internasional (ITO). Tujuan
organisasi ini, menurut Amerika pada waktu itu, adalah untuk memerangi monopoli,
memperluas permintaan komoditi dan mengkoordinasikan kebijakan perdagangan
negara negara.
8
Pertemuan penting diselenggarakan di Jenewa dari bulan April
sampai November 1947. Dari tanggal 10 April sampaia 22 Agustus, panitia
melnjutkan tugasnya membuat rancangan Piagam ITO, perundingan perundingan
mengenai konsensi timbal balik yang dihasilkan dari perundingan itu dicantumkan
kedalam GATT, yang di tandatangani pada tanggal 30 Oktober 1947. Hasil
perundingan tersebut berisi suatu kodifikasi sementara mengenai hubungan
hubungan perdagangan diantara negara negara penandatangan. Berdasarkan
persyaratan persyaratan protokol pada tanggal 30 Oktober 1947, The General
Agreement di tetapkan sejak tanggal 1 januari 1948, sambil nerlakunya ITO.
9
Pada
tahun 1965, GATT mendapat tambahan bagian baru, yaitu bagian keempat, yang
mulai berlaku efektif pada tanggal 27 juni 1965. Bagian ini khusus mengatur
kepentingan perluasan ekspor negara negara kurang maju (Pasal XXXVI
XXXVIII).
Pada tahun tahun awal, Putaran Perdagangan GATT mengkonsentrasikan
negosiasi pada upaya pengurangan tarif. Kemudian pada Putaran Kennedy
(pertengahan tahun 1960-an) dibahas Persetujuan Anti Dumping (Anti Dumping
Agreement). Putaran Tokyo selama tahun 1970-an merupakan upaya terbesar pertama
untuk menanggulangi hambatan perdagangan (non-tariff barriers) dan perbaikan
sistem perdagangan. Seperti yang telah disebut diatas putaran terakhir adalah Putaran
Perundingan di Uruguay yang merupakan putaran terbsar dan mengarah kepada
pembentukan WTO. GATT terutama ditujukan untuk hal hal yang terkait dengan
perdagangan barang, sedangkan WTO mencakup juga perdagangan jasa, dan
kekayaan intelektual (Agreement on Trade Related Aspecs of Intellectual Property
Rights).
Perkembangan baru lainnya yang penting dari perjanjian ini ialah
disepakatinya untuk membentuk suatu Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Organisasi ini memiliki kedudukan yang unik karena ia berdiri sendiri dan terlepas

8
M.A.G. Van Meerhaeghe, Ibid., hlm. 6
9
Huala Adolf, Ibid, hlm 7 - 8
5

dari badan kekhususan PBB. Pembentukan WTO ini merupakan realisasi dari cita-
cita lama negara negara pada waktu merundingkan GATT pertama kali (1948).
Yakni hendak mendirikan suatu organisasi perdagangan internasional (yang dulu
bernama ITO).

Tujuan dan Fungsi GATT/WTO
Tujuan utama GATT tampak jelas pada preambule-nya. Pada pokoknya ada
empat tujuan yang hendak dicapai GATT:
1) Meningkatkan taraf hidup umat manusia;
2) Meningkatkan kesempatan kerja;
3) Meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan
4) Meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.
Selain itu juga terdapat tiga fungsi utama GATT dalam mencapai tujuannya :
pertamai, sebagai suatu perangkat ketentuan (aturan) multilateral yang mengatur
tindak lanjut perdgangan yang dilakukan oleh para pemerintah dengan memberikan
suatu perangkat ketentuan perdagangan (the rules of the road for trade). Kedua,
sebagai suatu forum (wadah) perundingan perdagangan. Disini diupayakan agar
praktek perdagangan dapat dibebaskan dari rintangan rintangan yang mengganggu
(liberalisasi Perdagangan). Dan aturan atau praktek perdagangan itu menjadi jelas,
baik melalui pembukaan pasar nasional atau melalui penegakan dan penyebarluasan
permberlakuan peraturannya. Fungsi Ketiga GATT adalah sebagai suatu pengadilan
internasional dimana para anggotanya menyelesaikan dagangnya dengan anggota
anggota GATT lainnya.
10

WTO memiliki beberapa tujuan penting, yaitu pertama, mendorong arus
perdagangan antarnegara, dengan mengurangi dan menghapus berbagai hambatan
yang dapat mengganggu kelancaran arus perdagangan barang dan jasa. Kedua,
memfasilitasi perundingan dengan menyediakan forum negosiasi yang lebih
permanen. Hal ini mengingat bahwa perundingan perdagangan internasional di masa
lalu prosesnya sangat kompleks dan memakan waktu. Tujuan penting lainnya adalah
untuk penyelesaian sengketa, mengingat hubungan dagang sering menimbulkan
konflik konflik kepentingan. Meskipun sudah ada persetujuan persetujuan dalam
WTO yang sudah disepakati anggotanya, masih dimungkinkan terjadi perbedaan
interpretasi dan pelanggaran sehingga diperlukan prosedur legal penyelesaian

10
Huala Adolf, Ibid, hlm 5
6

sengketa yang netral dan telah disepakati bersama. Dengan adanya aturan aturan
WTO yang berlaku sama bagi semua anggota, maka baik individu, perusahaan
ataupun pemerintah akan mendapatkan kepastian yang lebih besar mengenai
kebijakan perdagangan suatu negara. Terikatnya suatu negara dengan aturan aturan
WTO akan memperkecil kemungkinan terjadinya perubahan perubahan secara
mendadak dalam kebijakan perdagangan suatu negara (lebih predictable).
11

Adapun fungsi utama dari WTO adalah untuk memberikan kerangka
kelembagaan bagi hubungan perdagangan antar negara anggota dalam implementasi
perjanjian dan berbagai instrument hukum termasuk yang terdapat di dalam Annex
Persetujuan WTO. Secara khusus, berdasarkan Pasal III Persetujuan WTO ditegaskan
lima fungsi WTO yaitu :
12

a. Implementasi dari Persetujuan WTO
Fungsi pertama adalah untuk memfasilitasi implementasi administrasi dan
pelaksanaan dari Persetujuan WTO serta perjanjian perjanjian multilateral
dan plurilateral tambahannya.

b. Forum untuk perundingan perdagangan
Fungsi kedua adalah untuk memberikan suatu forum tetap guna melakukan
perundingan diantara anggota. Perundingan ini tidak saja menyangkut
masalah/isu isu yang telah tercakup dalam Persetujuan WTO saja, namun
juga berbagai masalah/isu yang belum tercakup dalam Persetujuan WTO.

c. Penyelesaian sengketa
Fungsi ketiga adalah sebagai administrasi sistem penyelesaian sengketa WTO

d. Mengawasi kebijakan perdagangan
Fungsi keempat adalah sebagai administrasi dari Mekanisme Tinjauan atas
Kebijakan Perdagangan (Trade Policy Review Mechanism TPRM)

e. Kerjasama dengan organisasi lainnya
Fungsi terakhir adalah melakukan kerjasama dengan organisasi organisasi
internasional dan organisasi organisasi non-pemerintah.



11
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, Loc.cit.
12
Ibid, hlm.1-2
7

Prinsip Prinsip GATT/WTO
Untuk mencapai tujuan tujuannya, GATT berpedoman pada 5 prinsip
utama. Prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut:
13

a. Prinsip most-favoured-nation
Prinsip most favoured nation, yaitu bahwa suatu kebijakan
perdagangan harus dilaksanakan atas dasar non-diskriminatif. Menurut prinsip
ini, semua negara anggota terikat untuk memberikan negara negara lainnya
perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor dan ekspor
serta yang menyangkut biaya biaya lainnya.
Perlakuan yang sama tersebut harus dijalankan dengan segera dan
tanpa syarat terhadap produk yang berasal atau yang diajukan kepada sesama
anggota GATT. Oleh karena itu suatu negara tidak boleh memberikan
perlakuan istimewa kepada negara lainnya atau melakukan tindakan
diskriminasi terhadapnya. Prinsip ini tampak dalam Pasal 4 Perjanjian yang
terkait dengan hak kekayaan intelektual (TRIPs) dan tercantum pula dalam
Pasal 2 Perjanjian mengenai Jasa (GATS) Pendek kata, semua negara harus
diperlakukan atas dasar yang sama dan semua negara menikmati keuntungan
dari suatu kebijaksanaan perdagangan.
Namun demikian, dalam pelaksanaannya prinsip ini mendapat
pengecualian - pengecualiannya, khususnya dalam menyangkut kepentingan
negara yang sedang berkembang. Jadi, berdasarkan prinsip itu, suatu negara
anggota pada pokoknya dapat menuntut untuk diperlakukan sama terhadap
produk impor dan ekspornya di negara negara anggota lain. Namun
demikian, ada beberapa pengecualian terhadap prinsip ini.
Pengecualian tersebut sebagian ada yang ditetapkan dala pasal pasal
GATT itu sendiri dan sebagian lagi ada yang ditetapkan dalam putusan
putusan dalam konferensi konferensi GATT melalui suatu penaggalan
(waiver) dan prinsip prinsip GATT berdasarkan pasal XXV.




13
Huala Adolf, A. Chandrawulan, Masalah Masalah Hukum Dalam Perdagangan
Internasional,op.cit., hlm. 15-19
8

b. Prinsip National Treatment
Menurut prinsip ini, produk dari suatu negara anggota yang diimpor ke
dalam suatu negara harus diperlakukan sama seperti halnya produk dalam
negeri. Prinsip ini sifatnya berlaku luas. Prinsip ini berlaku juga terhadap
semua macam pajak dan pungutan pungutan lainnya dan berlaku pula
terhadap perundang undangan, pengaturan dan persyaratan persyaratan
(hukum) yang mempengaruhi penjualan, pembelian, pengangkutan, distribusi
atau penggunaaan produk produk di pasar dalam negeri.
c. Prinsip Larangan Restriksi (Pembatasan) Kuantatif
Ketentuan dasar GATT adalah larangan restriksi keantitatif yang
merupakan rintangan terbesar terhadap GATT. Restriksi kuantitatif terhadap
ekspor atau impor dalam bentuk apapun (misalnya penetapan kuota impor
atau ekspor, restriksi penggunaan lisensi impor atau ekspor, pengawasan
pembayaran produk produk impor atau ekspor), pada umumnya dilarang
(Pasal IX) hal ini disebabkan karena praktik demikian mengganggu praktik
perdagangan yang normal.
d. Prinsip Perlindungan melalui Tarif
Pada prinsipnya GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi
terhadap industri domestik melalui tarif (menaikkan tingkat tarif bea masuk)
dan tidak melalui upaya upaya perdagangan lainnya (non-tarif commercial
measures). Perlindungan melalui tarif ini menunjukkan dengan jelas tingkat
perlindungan yang diberikan dan masih memungkinkan adanya kompetisi
yang sehat. Sebagai kebijakan untuk mengatur masuknya barang ekspor dari
luar negeri, pengenaan tarif ini masih dibolehkan dalam GATT. Negara
negara GATT umumnya banyak menggunakan cara ini untuk melindungi
industri dalam negerinya untuk menarik pemasukan bagi negara yang
bersangkutan.
e. Prinsip Resiprositas
Prinsip ini merupakan prinsip fundamental dalam GATT. Prinsip ini
tampak pada pembukaan GATT dan berlaku dalam perundingan
perundingan tarif yang didasarkan ata dasar timbal balik dan saling
menguntungkan kedua belah pihak.

9

f. Perlakuan Khusus Bagi Negara Sedang Berkembang
Sekitar 2/3 negara negara anggota GATT/WTO adalah negara
negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, atau yang masih berada
dalam tahap awal pembangunan ekonominya. Untuk membantu pembangunan
mereka, pada tahun 1965, suatu bagian baru yaitu Part IV yang memuat 3
pasal (Pasal XXXVI XXXVIII) tersebut dimaksudkan untuk mendorong
negara negara industri dalam membantu pertumbuhan ekonomi negara yang
sedang berkembang.
Bagian IV ini mengakui kebutuhan negara yang sedang berkembang
untuk menikmati akses pasar yang lebih menguntungkan. Bagian ini juga
melarang negara negara maju untuk membuat rintangan rintangan baru
terhadap ekspor negara negara berkembang. Negara negara industri juga
mau menerima bahwa mereka tidak akan meminta balasan dalam perundingan
mengenai penurunan atau penghilangan tarif dan rintangan rintangan lain
terhadap perdagangan negara negara yang sedang berkembang.

Keanggotaan GATT/WTO
Jumlah anggota GATT sampai dengan bulan Mei 1994 adalah 120 negara.
Dari jumlah tersebut lebih dari dua pertiganya adalah negara negara sedang
berkembang, termasuk Indonesia. Semua negara maju yang tergabung dalam the
Organization of Economic Cooperation and Development (OECD ) adalah anggota
GATT juga. Negara anggota GATT adalah anggota WTO. Perlu dikemukakan disini
bahwa istilah anggota pada GATT bukan member, tetapi contracting party. Hal ini
merupakan konsekuensi dari status GATT yang sifatnya, dengan meninjau sejarah
berdirinya organisasi. Karena itu pula negara negara yang ikut serta dalam GATT
tidak tepat untuk disebut sebagai anggota karena memang sebutan anggota (member)
hanya untuk menunjuk pada istilah peserta/pihak pada suatu organisasi internasional.
Maka itu untuk GATT yang bukan organisasi ini, istilah yang tepat adalah
contracting party.
Pada dasarnya ada dua cara untuk dapat menjadi anggota WTO. Berdasarkan
Pasal XXXIII GATT, suatu negara anggota dapat menjadi anggota berdasarkan
prosedur normal. Untuk ini diperlukan suatu putusan dua pertiga mayoritas suara dari
negara anggota. Untuk dapat menjadi anggota, maka aksesi negara tersebut harus
disetujui oleh Contracting Parties. Berikut ini langkah langkah atau proses aksesi ke
WTO :
10

1. Permintaan resmi untuk menjadi anggota
2. Negosiasi dengan seluruh anggota WTO
3. Menyusun draft keanggotaan baru
4. Keputusan akhir
Dalam kenyataannya untuk mendapatkan persetujuan ini tidaklah mudah. Ada
cukup banyak persyaratan yang perlu dipenuhi, misalnya komitment negara tersebut
mengenai kebijakan perdagangannya dan kemungkinan kebijakan perdagangan
negara pemohon di masa depan.
Cara kedua adalah melalui cara sponsorship berdasarkan Pasal XXVI : 5 (C).
Pasal ini ditujukan khusus terhadap negara negara yang baru merdeka dan sebelum
merdeka, ia berada di bawah penguasaan suatu negara anggota GATT. Negara
pertama yang memanfaatkan cara ini adalah Indonesia yang menjadi anggota GATT
pada 1950.














11

C. KESIMPULAN

GATT dibentuk sebagai suatu dasar (atau wadah) yang sifatnya sementara
setelah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul kesadaran masyarakat internasional
akan perlunya suatu lembaga multilateral di samping bank dunia dan IMF, dan WTO
merupakan realisasi dari cita-cita lama negara negara pada waktu merundingkan
GATT pertama kali (1948). Yakni hendak mendirikan suatu organisasi perdagangan
internasional (yang dulu bernama ITO).
Fungsi dan tujuan GATT/WTO pada intinya hampir sama, yakni sama sama
ingin memajukan perekonomian dunia, menciptakan suatu iklim perdagangan
internasional yang aman dan jelas bagi masyarakat bisnis, serta untuk menciptakan
liberalisasi perdagangan yang berkelanjutan di dalam penanaman modal, lapangan
kerja dan penciptaan iklim perdagangan yang sehat tanpa adanya diskriminasi (non
diskriminasi antara negara maju dan berkembang).
Prinsip prinsip yang diterapkan dalm GATT dan WTO merupakan dasar
dari keseluruhan penyusunan GATT, dimana dalam prinsip prinsip ini mengandung
beberapa aturan yang wajib dipatuhi tiap anggota dan beberapa aturan yang
memungkinkan pengecualian dari prinsip prinsip tersebut.
Negara anggota GATT adalah anggota WTO. Untuk dapat menjadi anggota,
maka aksesi negara tersebut harus disetujui oleh Contracting Parties, untuk ini
diperlukan suatu putusan dua pertiga mayoritas suara dari negara anggota atau dapat
pula dengan melalui cara sponsorship berdasarkan Pasal XXVI : 5 (C). Pasal ini
ditujukan khusus terhadap negara negara yang baru merdeka dan sebelum merdeka,
ia berada di bawah penguasaan suatu negara anggota GATT.







12

DAFTAR PUSTAKA

Huala Adolf, A. Chandrawulan, Masalah Masalah Hukum Dalam Perdagangan
Internasional, Bandung : Rajawali Pers, 2004
Adolf, Huala. 2005. Hukum Ekonomi Internasional. Bandung : PT. Raja Grafindo
Persada.
Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional : Prinsip Prinsip dan Konsepsi
Dasar, Bandung, 2004.
Adolf, Huala. 2005. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional. Bandung : Sinar
Grafika.

Web :
http://senandikahukum.com/subsidi-perikanan-dalam-wto-dan-dampaknya-
bagi-indonesia/
http://senandikahukum.com/perjanjian-perdagangan-regional-rta-dalam-
kerangka-world-trade-organization-wto-studi-kasus-asean-free-trade-area-
afta/