Anda di halaman 1dari 16

TINJAUAN PUSTAKA

SINUSITIS
1. Anatomi Sinus Paranasal
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung
dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3 4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan
sinus frontal. Sinus etmoid dan maksila telah ada sejak anak lahir, sedangkan sinus
frontalis berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8
tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8 ! tahun dan berasal dari bagian
posterosuperior rongga hidung. Sinus sinus ini umumnya mencapai besar maksimal
pada usia antara " 8 tahun.
#anusia mempunyai sekitar $ rongga di sepanjang atap dan bagian lateral rongga
udara hidung% jumlah, ukuran, bentuk, dan simetri bervariasi. Sinus sinus ini
membentuk rongga di dalam beberapa tulang &ajah dan diberi nama sesuai ' sinus
maksilaris, sfenoidalis, frontalis, dan etmoidalis. (ang terakhir biasanya berupa
kelompok kelompok sel etmoidalis anterior dan posterior yang saling berhubungan,
masing masing kelompok bermuara ke dalam hidung. Seluruh sinus dilapisi oleh epitel
saluran pernapasan yang mengalami modifikasi, dan mampu menghasilkan mukus, dan
bersilia, sekret disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada orang sehat, rongga terutama
berisi udara.
Pembagian sinus paranasalis '
a. Sinus #aksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila
bervolume ) 8 ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu " ml saat de&asa. Sinus maksila berbentuk segitiga. *inding
anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fossa kanina, dinding
posteriornya adalah permukaan infra+temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding
lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya
ialah prosesus alveolaris dan palatum. ,stium sinus maksila berada di sebelah superior
dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.
Suplai darah terbanyak melalui cabang dari arteri maksilaris. -nervasi mukosa
sinus melalui cabang dari nervus maksilaris.
b. Sinus .rontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan keempat
fetus, berasal dari sel sel resessus frontal atau dari sel sel infundibulum etmoid.
/kuran sinus frontal adalah $,8 cm tingginya, lebarnya $,4 cm, dan dalamnya $ cm.
Sinus frontal biasanya bersekat sekat dan tepi sinus berlekuk lekuk. Sinus frontal
dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fossa serebri anterior, sehingga
infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui
ostiumnya yang terletak di resessus frontal. 0esessus frontal adalah bagian dari sinus
etmoid anterior.
Suplai darah diperoleh dari arteri supraorbital dan arteri supratrochlear yang
berasal dari arteri oftalmika yang merupakan salah satu cabang dari arteri carotis interna.
-nervasi mukosa disuplai oleh cabang supraorbital dan supratrochlear cabang dari nervus
frontalis yang berasal dari nervus trigeminus.
c. Sinus 1tmoid
Pada orang de&asa sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian
posterior. /kurannya dari anterior ke posterior 4," cm, tinggi $,4 cm, dan lebarnya !,"
cm di bagian anterior dan ," cm di bagian posterior. Sinus etmoid berongga rongga,
terdiri dari sel sel yang menyerupai sarang ta&on, yang terdapat di dalam massa bagian
lateral os etmoid, yang terletak diantara konka media dan dinding medial orbita. Sel sel
ini jumlahnya bervariasi antara 4 2 sel 3rata rata 4 sel5.
6erdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
superior. Sel sel sinus etmoid anterior biasanya kecil kecil dan banyak, letaknya
diba&ah perlekatan konka media, sedangkan sel sel sinus etmoid posterior biasanya
lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero+superior dari perlekatan
konka media. *i bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut
resessus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. 7tap sinus etmoid yang disebut
fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribosa. *inding lateral sinus adalah lamina
papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. *i bagian
belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.
Suplai darah berasal dari cabang nasal dari arteri sphenopalatina. -nervasi mukosa
berasal dari divisi oftalmika dan maksilaris nervus trigeminus.
d. Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus
sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. /kurannya adalah $ cm
tingginya, dalamnya $,3 cm dan lebarnya ,2 cm. 8olumenya bervariasi dari " 2," ml.
6agian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari arteri etmoid anterior dan
posterior yang merupakan cabang dari arteri oftalmikus, sedangkan arteri oftalmikus
berasal dari arteri karotis interna. (ang penting ialah arteri sphenopalatina dan ujung dari
arteri palatina mayor.
6agian depan dan atas dari rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
nervus etmoid anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang berasal dari
nervus oftalmikus 3nervus 8 5. 0ongga hidung lainnya sebagian besar mendapatkan
persarafan sensoris dari nervus maksilla melalui ganglion sphenopalatina. 9anglion
sphenopalatina disamping memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan
vasomotor: otonom pada mukosa hidung. 9anglion ini menerima serabut serabut
sensoris dari nervus maksila 3nervus 8 $5, serabut parasimpatis dari nervus petrosis
superfisialis mayor, dan serabut serabut simpatis dari nervus petrosus profundus.
9anglion sphenopalatina terletak di belakang dan sedikit diatas dari ujung posterior
konka media
2. Fungsi Sinus Paranasal
6eberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain '
a. Sebagai pengatur kondisi udara 3air conditioning5
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk mamanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. 8olume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang
lebih :!!! volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam
untuk pertukaran udara total dalam sinus
b. Sebagai panahan suhu 3thermal insulators5
Sinus paranasal berfungsi sebagai 3buffer5 panas, melindungi orbita dan fossa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah+ubah.
c. #embantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. 7kan
tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar ; dari berat kepala, sehingga teori ini tidak dianggap
bermakana.
d. #embantu resonansi udara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara dan mempengaruhi
kualitas udara.7kan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif.
e. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
.ungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada &aktu bersin dan beringus.
f. #embantu produksi mucus
#ukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untukmembersihkan partikel yang
turut masuk dalam udara.
3. Definisi Sinusitis
0hinosinusitis kronik didefinisikan sebagai suatu inflamasi dari hidungdan mukosa sinus
paranasal dengan durasi lebih dari $ minggu. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus
yang terkena. 6ila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis.6ila mengenai semua
sinus paranasalis disebut pansinusitis.
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Perdefinisi, sinusitis kronis
berlangsung selama beberapa bulan atau tahun. Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis
akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan
medikamentosa saja. Pada sinusitis akut, perubahan patologik membrana mukosa berupa
infiltrat polimorfonuklear, kongesti vaskular dan deskuamasi epitel permukaan, yang
semuanya reversibel. 9ambaran patologik sinusitis kronik adalah kompleks dan
irreversibel. #ukosa umumnya menebal, membentuk lipatan+lipatan atau pseudopolip.
1pitel permukaan tampak mengalami deskuamasi, regenerasi, metaplasi, atau epitel biasa
dalam jumlah yang bervariasi pada suatu irisan histologis yang sama. Pembentukan
mikroabses dan jaringan granulasi bersama+sama dengan pembentukan jaringan parut.
Secara menyeluruh terdapat infiltrat sel bundar dan polimorfonuklear dalam lapisan
submukosa.
1tiologi dan faktor predisposisi sinusitis kronis cukup beragam.Pada era pre+
antibiotik, sinusitis hiperplastik kronis timbul akibat sinusitis akut berulang dengan
penyembuhan yang tidak lengkap.*alam patofisiologi sinusitis kronis beberapa faktor
ikut berperan dalam siklus peristi&a yang berulang.Polusi bahan kimia menyebabkan
silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung.Perubahan mukosa hidung dapat
juga disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik. Perubahan mukosa hidung akan
mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan pada
sinusitis akut tidak sempurna. 7danya infeksi akan menyebabkan udem konka, sehingga
drainase sekret akan terganggu. *rainase sekret yang terganggu akan menyebabkan silia
rusak dan begitu seterusnya.
Sinusitis kronik adalah sinusitis yang terjadi lebih dari 8 minggu.Pada sinusitis
kronik, rongga di sekitar lubang hidung 3sinus5 menjadi meradang dan bengkak.-ni
mengganggu drainase yang menyebabkan lendir menumpuk.<ondisi umum seperti ini
disebut juga rinosinusitis kronik. *aerah sekitar mata dan &ajah mungkin akan terasa
bengkak, sakit &ajah atau sakit kepala. Sinusitis kronik dapat disebabkan oleh infeksi,
tetapi juga dapat disebabkan oleh adanya polip hidung atau septum hidung yang bengkok
3menyimpang5.
4. Patofisiologi
.ungsi drainase dan ventilasi berperan penting dalam menjaga sinus tetap
normal.-ni berhubungan erat dengan keadaan dari komplek osteomeatal pasien itu
sendiri. Pada komplek osteomeatal yang terganggu yang menyebabkan terjadi gangguan
drainase serta ventilasi yang dapat mempengaruhi kandungan oksigen, peningkatan p
=!$ dan gangguan P> serta pembengkakan mukosa hidung dan akhirnya menurunkan
fungsi pembersihan mukosiliar 36us?uets ,$!!) % 6allenger , 444% @ilma ,$!!25.
,bstruksi ostium sinus menyebabkan retensi lendir dan menurunkan kandungan oksigen,
peningkatan p=,$, menurunkan p>, mengurangi aliran darah mukosa. Pembengkakan
membran mukosa juga akan menyempitkan ostium dan menurunkan fungsi pembersihan
mukosiliar.
#enurut Sakakura34425, patogenesis dari rhinosinusitis kronik bera&al dari
adanya suatu inflamasi dan infeksi yang menyebabkan dilepasnya mediator diantaranya
vasoactive amine, proteases, arachidonic acid metabolit, imune complek ,
lipolisaccharide dan lain+lain. >al tersebut menyebabkan terjadinya kerusakan dari
mukosa hidung dan akhirnya menyebabkan disfungsi mukosiliar.7danya disfungsi
mukosiliar menyebabkan terjadinya stagnasi mukos. 7kibat hal ini lah maka bakteri akan
semakin mudah untuk berkolonisasi dan infeksi inflamasi akan kembali terjadi.
5. tiologi
a. -nfeksi
-nfeksi yang tersering pada rongga hidung adalah infeksi virus. Partikelvirus
sangat mudah menempel pada mukosa hidung yang menggangu system mukosiliar
rongga hidung dan virus melakukan penetrasi ke palut lendir dan masuk ke sel tubuh
dan menginfeksi secara cepat. *engan menggunakan cahaya mikroskop dan transmisi
mikroskop elektron dapat dideteksi abnormalitas silia yang disebabkan oleh infeksi
virus.6entuk dismorphic dari silia tampak lebih sering pada tahap a&al dari sakit dan
terjadi pada lokal.1pitel yang normal kembali setelah infeksi mereda $+! minggu.
Pada populasi normal yang terinfeksi dengan rhinovirus type 44 dan rata+rata &aktu
transportasi mukosiliar dengan menggunakan label radioaktif sebagai cara
pemeriksaan nya mendapatkan transport mukos yang menurun pada $ hari terinfeksi.
*an secara signifikan rata+rata &aktu transportasi mukosiliar yang tampak meningkat
pada hari ke 4+ setelah terinfeksi. *i samping itu virus juga meningkatkan
kekentalan mukus, kematian silia, dan edema pada
b. 7lergi
0eaksi alergi terjadi di jalan nafas dan cavitas sinus yang menghasilkan edema
dan inflamasi di membrana mukosa. 1dema dan inflamasi ini menyebabkan blokade
dalam pembukaan cavitas sinus dan membuat daerah yang ideal untuk perkembangan
jamur, bakteri, atau virus.7lergi dapat juga merupakan salah satu faktor predisposisi
infeksi disebabkan edema mukosa dan hipersekresi. #ukosa sinus yang udem yang
dapat menyumbat muara sinus dan mengganggu drenase sehingga menyebabkan
timbulnya infeksi, selanjutnya menghancurkan epitel permukaan dan siklus seterusnya
berulang yang mengarah pada sinusitis kronis.
Pada keadaan kronis terdapat polip nasi dan polip antrokoanal yang
timbulpada rinitis alergi, memenuhi rongga hidung dan menyumbat ostium
sinus.Selain faktor alergi, faktor predisposisi lain dapat juga berupa lingkungan
..aktor cuaca seperti udara dingin menyebabkan aktivitas silia mukosa hidung dan
sinus berkurang, sedangkan udara yang kering dapat menyebabkan terjadinya
perubahan mukosa, sehingga timbul sinusitis..aktor lainnya adalah obstruksi hidung
yang dapat disebabkan kelainan anatomis, misalnya deviasi septum, hipertropi konka,
bula etmoid dan infeksi serta tumor.6iasanya tumor ganas hidung dan nasofaring
sering disertai dengan penyumbatan muara sinus.
1tiologi infeksi sinus paranasal pada umumnya sama seperti etiologi rinitis,
yaitu virus dan bakteri. 8irus penyebab sinusitis antara lain rinovirus, para influenAa
tipe dan $ serta respiratory syncitial virus. <ebanyakan infeksi sinus disebabkan
oleh virus, tetapi kemudian akan diikuti oleh infeksi bakteri sekunder. <arena pada
infeksi virus dapat terjadi edema dan hilangnya fungsi silia yang normal, maka akan
terjadi suatu lingkungan ideal untuk perkembangan infeksi bakteri. -nfeksi ini sering
kali melibatkan lebih dari satu bakteri. ,rganisme penyebab sinusitis akut mungkin
sama dengan penyebab otitis media. (ang sering ditemukan dalam frekuensi yang
makin menurun ialah Streptococcus pneumoniae, >aemophilus -nfluenAae, bakteri
anaerob, 6ranhamella kataralis, Streptococcus alfa, Staphylococcus aureus dan
Streptococcus pyogenes. Selama suatu fase akut, sinusitis kronis disebabkan oleh
bakteri yang sama yang menyebabkan sinusitis akut. Bamun, karena sinusitis kronis
biasanya berkaitan dengan drenase yang tidak adekuat maupun fungsi mukosiliar yang
terganggu, maka agen infeksi yang terlibat cenderung oportunistik, dimana proporsi
terbesar bakteri anaerob.7kibatnya, biakan rutin tidak memadai dan diperlukan
pengambilan sampel secara hati+hati untuk bakteri anaerob. 6akteri aerob yang sering
ditemukan dalam frekuensi yang makin menurun, antara lain Staphylococcus aureus,
Streptococcus viridans, >aemophilis influenAa, Beisseria flavus, Staphylococcus
epidermis, Streptcoccus pneumoniae dan 1scherichia coli, 6akteri anaerob termasuk
Peptostreptococcus, =orynebacterium, 6akteriodaes dan 8ellonella. -nfeksi campuran
antara organisme aerob dan anaerob sering kali terjadi.
c. Struktur dan anatomi hidung
<elainan anatomi hidung dan sinus juga dapat mengganggu fungsi mukosiliar
secara lokal. Cika permukaan mukosa yang saling berhadapan menjadi lebih mendekat
atau bertemu satu sama lain, maka aktivitas silia akan terhenti. *eviasi septum, polip,
konka bulosa atau kelainan struktur lain di daerah kompleks osteomeatal dan ostium
sinus dapat menghalangi transportasi mukosiliar.
$$
d. -klim
/dara lembab, perubahan suhu, angin.-klim ini secara tidak langsung
berpengaruh terhadap penyebaran debu rumah dan tepung sari bunga, disamping
memberi suasana yang baik untuk tumbuhnya berbagai macam jamur.
e. >ormonal
@anita yang mempunyai bakat alergi dapat kambuh gejala alerginya kalau
sedang hamil karena minum pil <6 atau menderita >ipertiroid.
f. Penggunaan nasal dekongestan yang berlebihan
Penggunaan obat dekongestan paling banyak menyebabkan gangguan
fungsi mukosiliar sementara.
!. "e#ala Klinis
-nternational =onference on Sinus *isease 44" membuat kriteria mayor dan minor untuk
mendiagnosa rhinosinusitis kronis.0inosinusitis didiagnosa apabila dijumpai $ atau lebih
gejala mayor atau gejala mayordan $ gejala minor.
$a#or Fa%tors $inor Fa%tors
.acial pain or pressure >eadache
.acial congestion or fullness .ever 3in chronic sinusitis 5
Basal obstruction or blockage >alitosis
Basal discharge, purulence, or
discolored postnasal drainage
.atigue
>yposmia or anosmia *ental pain
Purulence in nasal cavity =ough
.ever 3in acute rhinosinusitis
only5
1ar pain, pressure, or
fullness
-nterpretasi 3positif untuk sinusitis bakteri akut5
. D$ kriteria mayor, atau
$. atau D$ kriteria minor, atau
3. Sekret hidung purulen ditemukan pada pemeriksaan
Pada sinusitis kronik terdapat gejala Subyektif dan gejala objektif.
a. 9ejala Subjektif
6ervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari '
9ejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal
(post nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit
tersumbat.
9ejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
9ejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba
eustachius.
7da nyeri atau sakit kepala.
9ejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
9ejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau
bronkhiektasis atau asma bronkhial.
9ejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.
b. 9ejala ,bjektif
Eemuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat
pembengkakan pada &ajah.Sekret pasca nasal yang teus menerus akan mengakibatkan
batuk kronik.Byeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari, dan
akan berkurang atau hilang setelah siang hari. Penyebabnya belum diketahui dengan
pasti, tetapi mungkin pada malam hari terjadi penimbunan ingus dalam rongga hidung
dan sinus serta adanya stasis vena.
Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius
atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring
atau turun ke tenggorok.*ari pemeriksaan endoskopi fungsional dan =E Scan dapat
ditemukan etmoiditis kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau
maksilaris. 1tmoiditis kronis ini dapat menyertai poliposis hidung kronis.*iagnois
dibuat berdasarkan anamnesis yang cermat, pemeriksan rinoskopi anterior dan
posterior serta pemeriksaan penunjang berupa transluminasi untuk sinus maksila dan
sinus frontal, pemeriksaan radiologik, pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus maksila,
pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang diambil pada &aktu dilakukan
sinoskopi, pemeriksaan meatus medius dan meatus superior dengan menggunakan
nasoendoskopi dan pemeriksaan =E+Scan.
&. Prose'ur Diagnosa
Rinoskopi anterior Eerlihat adanya sekret purulen di meatus medius atau meatus
superior.#ungkin terlihat adanya polip menyertai rinosinusitis kronik.
Pemeriksaan nasoendoskopi.Pemeriksaan ini sangat dianjurkan karena dapat
menunjukkan kelainan yang tidak dapat terlihat dengan rinoskopi anterior, misalnya
sekret purulen minimal di meatus medius atau superior, polip kecil, ostium asesorius,
edema prosesus unsinatus, konka bulosa, konka paradoksikal, spina septum dan lain+lain.
Transiluminasi.Eransiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya.
Eransiluminasi akan menunjukkan angka ! atau apabila terjadi sinusitis 3sinus penuh
dengan cairan5
Rontgen sinus paranasalis
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa '
. Penebalan mukosa,
$. ,pasifikasi sinus 3 berkurangnya pneumatisasi5
3. 9ambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada
foto &aters.
6agaimanapun juga, harus diingat bh&a foto SPB 3 posisi ini memiliki kekurangan
dimana kadang kadang bayangan bibir dapat dikacaukan dengan penebalan mukosa
sinus.
CT Scan
=E Scan adalah pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling baik akan
adanya kelainan pada mukosa dan variasi antominya yang relevan untuk mendiagnosis
sinusitis kronis maupun akut. @alaupun demikian, harus diingat bah&a =E Scan
menggunakan dosis radiasi yang sangat besar yang berbahaya bagi mata.
Sinoscopy
Sinoscopy merupakan satu satunya cara yang memberikan informasi akurat tentang
perubahan mukosa sinus, jumlah sekret yang ada di dalam sinus, dan letak dan keadaan
dari ostium sinus.(ang menjadi masalah adalah pemeriksaan sinoscopy memberikan
suatu keadaan yang tidak menyenangkan buat pasien.
Pemeriksaan mikrobiologi
6iakan yang berasal dari hidung bagian posterior dan nasofaring biasanya lebih
akurat dibandingkan dengan biakan yang berasal dari hidung bagian anterior.Bamun
demikian, pengambilan biakan hidung posterior juga lebih sulit.6iakan bakteri spesifik
pada sinusitis dilakukan dengan menagspirasi pus dari inus yang terkena.Seringkali
diberikan suatu antibiotik yang sesuai untuk membasmi mikroorganisme yang lebih
umum untuk penyakit ini.
Pada sinusitis akut dan kronik sering terlibat lebih dari satu jenis bakteri. *engan
demikian untuk menentukan antibiotik yang tepat harus diketahui benar jenis bakterinya
penyebab sinusitisnya. Pemeriksaan kultur terhadap sekret sinus maksila mendapatkan
kuman aerob terbanyak adalah Streptokokus pneumonia 38 kasus + 4";5, diikuti
Pseudomonas sp 8 kasus 3$!;5, Streptokokus piogenes dan <lebsiela pneumonia
masing+masing " kasus 3$,";5 dari 4! sampel penelitian pada tahun $!!2. Pada
penelitian ini tidak dijumpai lebih dari kuman aerob pada satu sediaan.
Fegent . dkk 3Prancis, 4445 menemukan kuman penyebab sinusitis maksila kronis
yang terbanyak adalah. Stafilokokus aureus, diikuti >emofilus influensa, Streptokokus
pneumonia. Sedangkan .ombeur dkk 3Paris, 4445 menemukan kuman Streptokokus
pneumonia sebagai penyebab terbanyak dari sinusitis maksila kronis, diikuti oleh
Stafilokokus aureus dan >emofilus influenAa, #oraksela kataralis dan <orinebakterium
sp. *ari penelitian dan berbagai teori yang ada menyebutkan bah&a terdapat campur
tangan bakteri pada sinusitis
(. Tera)i
a. $e'i*amentosa
Prinsip penanganan rinosinusitis adalah meliputi pengobatan dan pencegahan
infeksi, memperbaiki ostium, memperbaiki fungsi mukosiliar, dan menekan proses
inflamasi pada mukosa saluran nafas. Pada kasus+kasus kronis atau rekuren penting juga
menyingkirkan faktor+faktor iritan lingkungan.
7ntibiotik merupakan modalitas terapi primer pada rhinosinusitis . Setelah
diagnosa ditegakkan dapat diberikan antibiotik lini pertama berdasarkan pengalaman
empirik, sambil menunggu hasil kultur.6erdsasarkan efektivitas potensi dan biaya, jenis
antibiotik yang banyak digunakan adalah sefalosporin dan amoksisilin./ntuk kasus akut
diberikan selama 4 hari, sedangkan untuk kasus kronik diberikan sampai 2 hari bebas
gejala.Famanya terapi biasanya 3+) minggu.
Eerapi tambahan untuk mengurangi gejala adalah kortikosteroid intranasal,
mukolitik dan dekongestan.7ntihistamin hanya hanya efektif untuk kasus kasus alergi
yang merupakan penyakit dasar rhinosinusitis pada beberapa pasien.
Ealbot dkk membandingkan penggunaan larutan buffer garam hipertonik 33 ;, p>
2,)5 dengan larutan garam fisiologis. Farutan garam hipertonik baik digunakan pada
sinusitis kronis atau pasca operasi karena dapat mengurangi edema melalui difusi
osmolaritas 3Ealbot, 4425 Selain terapi medikamentosa yang dijelaskan diatas,
rinosinusitis rekuren atau kronis memerlukan tindakan bedah.Pada saat ini tindakan bedah
yang palling direkomendasi adalah bedah sinus endoskopi fungsional 36S1.5 atau sering
disebut dengan .ungsional endoskopi sinus surgery 3.1SS5.
+ 7ntihistamin
7ntihistamin adalah antagonis reseptor > yang akan menghalangi bersatunya
histamin dengan reseptor > yang terdapat di ujung saraf dan epitel kelenjar pada
mukosa hidung. Secara klinis antihistamin generasi ini sangat efektif menghilangkan
rinore karenamempunyai efek antikolinergik.1fek ini terjadi karena kapasitas ikatan
obat terhadap reseptor yang tidak selektif sehingga obat terikat juga pada reseptor
kolinergik. <ekurangan lain dari antihistamin generasi pertama adalah ikatannya yang
tidak stabil dengan reseptor >, sehingga daya kerjanya pendek. 1fek samping yang
lain adalah 'mulut kering, peningkatan nafsu makan dan retensi urin. Sampai sekarang
antihistamin golongan ini masih banyak digunakan karena masih efektif dan murah.
6eberapa contoh antihistamin generasi lama yang sampai kini masih popular adalah '
klorfeniramin, difenhidramin dan triprolidin.
#unculnya antihistamin generasi baru dapat menutup kelemahan antihistamin
lama.<arena tidak menembus sa&ar otak, antihistamin baru bersifat non+sedatif,
sehingga penderita yang menggunakan obat ini dapat aman dan tidak terhambat dalam
melakukan aktifitasnya. <elebihan lain antihistamin baru adalah mempunyai masa
kerja yang panjang sehingga penggunaannya lebih praktis karena cukup diberikan
sekali sehari. 7ntihistamin baru tersebut adalah ' astemiAol, loratadin, setiriAin,
terfenadin. 6eberapa antihistamin baru kemudian dilaporkan menyebabkan gangguan
jantung pada pemakaian jangka panjang 3astemiAol, terfenadin5, sehingga dibeberapa
negara obat obat tersebut tidak digunakan lagi.
Penemuan obat baru ditujukan untuk meningkatkan kerja obat dalam
mencegah dilepaskannya mediator inflamasi pada 07 serta untuk meningkatkan
keamanan obat.7khir akhir ini beberapa antihistamin generasi baru dilaporkan
mempunyai aktivitas mencegah lepasnya mediator inflamasi dari basofil dan
mastosit.7ktifitas ini berbeda ragamnya antara satu obat dengan yang lainnya.
6eberapa antihistamin dapat mencegah terlepasnya mediator lain seperti platelet
activating factor 3P7.5, prostaglandin serta mencegah migrasi eosinofil, basofil dan
netrofil. Pada
0initis 7lergi Persisten 307P5 buntu hidung merupakan gejala yang paling
menonjol terutama karena banyaknya infiltrasi sel radang pada mukosa rongga hidung
sehingga antihistamin generasi baru inilah yang dapat memenuhi kebutuhan
pengobatan.7ntihistamin baru yang dipasarkan akhir+akhir ini adalah feksofenadin
sebagai turunan terfenadin, desloratadin sebagai turunan loratadin dan levosetiriAin
sebagai stereoisomer setiriAin.*esloratadin adalah antihistamin baru yang merupakan
antagonis reseptor > yang efektif baik untuk rinitis alergi maupun urtikaria.-a
merupakan satu dari sejumlah metabolit aktif dari loratadin. *esloratadin bekerja
cepat dan mempunyai masa kerja yang lama sampai $4 jam penuh, karena &aktu
paruhnya yang panjang. *ilaporkan juga bah&a desloratadin mempunyai efek
menghambat kerja sel inflamasi dalam melepaskan mediator+mediator seperti sitokin,
kemokin dan molekul adesi yang merupakan komponen pengatur respon alergi
inflamasi akibat paparan alergen.
+. ,)eratif
Cenis pembedahan sinus paranasal
a. Sinus maksila
7ntrostomi, yaitu membuat saluran antara rongga hidung dengan
sinus maksila di bagian lateral konka inferior. 9unanya ialah untuk mengalirkan
nanah dan ingus yang terkumpul di sinus maksila.
,perasi =ald&ell+Fuc yaitu operasi dengan membuka sinusmaksila, dengan
menembus tulang pipi.
b. Sinus etmoid
Pembedahan untuk membersihkan sinus etmoid, dapatdilakukan dari dalam
hidung 3intranasal5 atau dengan membuat insisidi batas hidung dengan pipi
3ekstranasal5.
1tmoidektomi intranasal
(aitu dengan mengadakan luksasi pada conchae nasi media,atau conchotomi
partial, kemudian melalui bulla ethmoidalis dilakukan eGentrasi sel+sel
ethmoidalis, dengan teknik ini lapangan penglihatan amat sempit, sehingga
harushati+hati karena dapat merusak lamina cribrosa dan n. optikus, ke lateral
dapat merusak lamina papiracea masuk ke orbita.
1tmoidektomi ekstranasal. -nsisi dibuat di sudut mata, pada batas hidung dan
mata. *idaerah itu sinus etmoid dibuka, kemudian dibersihkan.
c. Sinus frontal.
Pembedahan untuk membuka sinus frontal disebut operasi <illian.
-nsisi dibuat seperti pada insisi etmoidektomi ekstranasal, tetapi kemudian
diteruskan ke atas alis. Seringkali pembedahan untuk membuka sinus frontal
dilakukan bersama dengan sinus etmoid, yangdisebut fronto+etmoidektomi.Pada
prinsipnya adalah memperbaiki drainage dari sinus frontalis,dengan jalan
mengadakan trepanasi pada dasar dari sinus frontalis yang letaknya padaatap
medial dari orbita. Setelah diadakan trepanasi dengan burr 3bor5 atau dengan
pahatkecil, segera sinus terbuka, pus atau eGudat akan segera keluar dan
dibersihkan, ronggasinus akan terlihat jelas, mukosa yang patologik dan polip
dibersihkan.Setelah itu dimasukkan plastik tube untuk drainage dan difiksasi pada
kulit &aktu dilakukan penjahitan.
d. Sinus sphenoid
Pembedahan untuk sinus sfenoid yang aman sekarang iniialah dengan memaka
n endoskop.6iasanya bersama dengan pembersihan sinus etmoit dan muara sinus
frontal yang disebut 6edah 1ndoskopi Sinus .ungsional 3 61S. 5 tanpamelakukan
insisis di kulit muka.
e. 6edah Sinus 1ndoskopik .ungsional 36S1.5
6edah Sinus 1ndoskopik .ungsional 36S1.5atau Functional Endoscopic
Sinus Surgery 3.1SS5 adalah teknik operasi pada sinus paranasal dengan
menggunakan endoskop yang bertujuan memulihkan Hmucociliary clearanceI
dalam sinus. Prinsipnya ialah membuka dan membersihkan daerah kompleks
osteomeatal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan
drenase sinus dapat lancar kembali melalui ostium alami.*engan alat endoskop
maka mukosa yang sakit dan polip+polip yang menyumbat diangkat sedangkan
mukosa sehat tetap dipertahankan agar transportasi mukosilier tetap berfungsi
dengan baik sehingga terjadi peningkatan drenase dan ventilasi melalui ostium+
ostium sinus.