Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang

Perkembangan ASEAN sebagai organisasi regional internasional saat ini
kembali menjadi perhatian publik, baik internasional maupun regional. Hal ini
terkait dengan keberhasilan ASEAN membentuk Piagam ASEAN pada tahun
2007. Piagam ASEAN tersebut menandakan sebuah perubahan yang sangat besar
dalam lingkup organisasi yaitu orientasi ASEAN yang hendak mengubah arah
kebijakan organisasi dari yang bersifat loosed-based menjadi rules-based
organization. Hal inilah yang kemudian melahirkan Konferensi Den Haag 1899
dan 1907 yang salah satu hasilnya mengatur tentang penyelesaian sengketa secara
damai. Konferensi tersebut lalu mengilhami timbulnya perjanjian-perjanjian
internasional lain yang mengatur materi yang sama.

Perkembangan selanjutnya, lahirlah instrumen-instrumen hukum
internasional yang sangat penting dalam mengatur penyelesaian sengketa secara
damai. Istilah sengketa (dispute) dalam hukum internasional harus dibedakan
dengan konflik (conflict) dan situasi (situation). Kata sengketa dan situasi dapat
ditemukan berdampingan dalam Piagam PBB sedangkan konflik digunakan
masyarakat internasional secara umum.Pada akhir abad kedua puluh, Asosiasi
Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mengalami pertumbuhan. Organisasi
telah berubah jauh sejak awal pada tahun 1967, saat itu menjabat sebagai benteng
politik melawan Dingin Adidaya perang untuk melindungi kemerdekaan nya
anggota pendiri negara-Indonesia, Filipina, Singapura, Malaysia dan Thailand.
1


Pada 1990-an, utama ASEAN misinya adalah untuk menjadi mesin untuk
perkembangan.
2
ekonomi regional Dan tahun 2000-an, ASEAN telah memeluk
Brunei, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam sebagai anggota, dan berusaha
untuk menyelesaikanmasalah keamanan di Asia Tenggara Asia.
3
ini berturut-turut
Perubahan menghasilkan struktur kacau dan lemah, dan pendukung Piagam
ASEAN 2007 yang diinginkan sebuah dokumen yang akan memungkinkan
ASEAN untuk lebih memudahkan integrasi ekonomi dan meningkatkan

1
Shaun Narine, Explaining ASEAN: Regionalism Southeast Asia 12 (2002). Sebagaimana dikutip
dari LEE LEVITER The ASEAN Charter : ASEAN Failure or Member Failure Page 160
2
See Donald E. Weatherbee, International Relation in Southeast Asia: The Struggle for Autonomy
205 (2d ed. 2009) (explaining that the shift in focus at the 1992 Singapore Summit represented a
turning point, in which economic integration, rather than foreign policy, would justify ASEANs
existence) Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 160
3
Id. at 9495, 105 (describing the addition of five new member states, and discussing the
emergence of an ASEAN Security Community). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid
Page 160
2

kerjasama keamanan antara members.
4
Tapi mereka gagal karena norma-norma
sangat duduk, dienkapsulasi oleh "Jalan ASEAN."

"Jalan ASEAN" mengacu pada beberapa prinsip yang secara kolektif
mencegah perubahan organisasi,
5
dan dapat dikurangi dua komponen penting.
Pertama, menekankan pengambilan keputusan melalui konsultasi informal di
antara diplomat, yang memfasilitasi konsensus kelompok di resmi meetings.
6

Kedua, itu adalah serangkaian enam prinsip perilaku yang ditetapkan dalam 1976
Treaty of Amity and Cooperation: (1) menghormati negara kedaulatan, (2) bebas
dari gangguan eksternal, (3) noninterference dalam urusan internal, (4)
penyelesaian sengketa secara damai; (5) menolak penggunaan kekuatan, dan (6)
kerjasama. Dari jumlah tersebut, negara-negara anggota secara khusus
menekankan noninterference di affairs.
7
internal masing-masing Kritik keberatan
bahwa penekanan Way ASEAN pada konsultasi, konsensus, dan non-interferensi
memaksa organisasi untuk mengadopsi kebijakan-kebijakan yang hanya
memenuhi "terendah umum penyebut. "
8


Para kritikus benar bahwa pengambilan keputusan berdasarkan konsensus
mensyaratkan anggota untuk melihat mata ke matasebelum ASEAN dapat
bergerak maju pada masalah, tetapi prinsip-prinsip muncul untuk memastikan
stabilitas dalam sejarah menggemparkan region.
9
Namun, keragaman keanggotaan
organisasi tidak membuat kemajuan menuju tujuan apapun terkoordinasi sangat
sulit.


4
See Simon S.C. Tay, The ASEAN Charter: Between National Sovereignty and the Regions
Constitutional Moment, 12 SING. Y. B. International Law . 151, 15556 (2008) (discussing
ASEANs community-building efforts, which included economic and political-security pillars, as a
motivating purpose behind the Charter) Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 160
5
See generally Rodolfo C. Severino, Southeast Asia In Search for Community: Insight from The
Former ASEAN Secretary General 137 (2006) (devoting an entire chapter to a discussion of the
ASEAN Way). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 161
6
Paul J. Davidson, The Role of Law in Governing Regionalism in Asia, in GOVERNANCE AND
REGIONALISM IN ASIA 224, 228 (Nicholas Thomas ed., 2009); Beverly Loke, The ASEAN
Way: Towards Regional Order and Security Cooperation?, 30 MELB. J. POL. 8 (2005); Pushpa
Thambipillai, Negotiating Styles, in THE ASEAN READER 7374 (2d prtg. K.S. Shandu et al.,
eds. 2003). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 161
7
Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia, art. 2, Feb. 24, 1976, 1025 U.N.T.S. 15,063;
see also ASEAN Overview, ASEAN, http:// www.aseansec.org/64.htm (last visited Oct. 5, 2010)
(explaining that the Treaty of Amity and Cooperation represents a commitment among the member
states to adhere to certain behavioral norms); Susumu Yamakage, The Construction of an East
Asian Order and the Limitations of the ASEAN Model, 12 ASIA-PAC. REV. 1, 6 (2005) (The
principle of non-intervention in internal affairs is retained as a basic tenant of ASEAN. This is due
to the fact that the so-called ASEAN WAYdecision by consensusis an obstacle to
change.). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 161
8
See, e.g., Barry Desker, Is the ASEAN Charter Necessary?, RSIS COMMENTS (S. Rajaratnam
School of Intl Stud.), July 17, 2008 (the ASEAN Way prioritizes agreement by consensus and
the adoption of the lowest common denominator.). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER
ibid Page 161
9
See infra Part II.2.
3





B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah prinsip penyelesaian sengketa di ASEAN
2. Bagaimana tata cara serta proses penyelesaian sengketa melalui ASEAN
3. Bagaimana contoh kasus sengketa yang diselesaikan melalui ASEAN



C. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui tata cara penyelesaian
sengketa melalui organisasi internasional ASEAN yang merupakan organisasi
regional sebagai bentuk kerjasama negara- negara di kawasan asia tenggara
sebagai langkah dalam menciptakan hubungan internasional yang baik bagi
negara anggota ASEAN dalam rangka manjaga perdamaian dunia. Dengan adanya
makalah ini diharapkan akan dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai
berbagai- macam metode yang sering dilakukan untuk menyelesaikan sengketa
internasional oleh organisasi internasional yang bersifat regional yaitu ASEAN.

A. Metode Penulisan
Dalam makalah ini menggunakan metode penulisan deskriptif ,yaitu
melakukan kajian terhadap bahan yang bersumber dari buku dan jurnal dan
kemudian penulis dapat mengambil kesimpulan dari informasi yang didapatkan.

B. Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan makalah ini ini disusun dalam empat bab, disajikan
dalam bentuk diskripsi dengan sistematika penulisan tersusun sebagai berikut :
Bab I berupa Pendahuluan memuat latar belakang, permasalahan, tujuan dan
metode penulisan serta sistematika penulisan,
Bab II berupa Landasan teori yang memuat fokus pembahasan, kerangka hukum,
kerangka teori serta pengaturan yang ada,
Bab III berupa pembahasan pokok dan jawaban terhadap identifikasi masalah,
Bab IV berupa kesimpulan dan saran





4

BAB 2
Landasan Teori
A. Fokus Pembahasan dan Pengaturan Hukum Internasional
Hukum Internasional sudah lama mengakui bahwa badan atau organisasi
internasional regional dapat pula berperan dalam menyelesaikan sengketa
internasional secara damai. Peran badan ini terus berkembang dalam abad ke-20,
seiring dengan adanya kecendrungan masyarakat internasional untuk membentuk
badan- badan di lingkungan regionalnya.
10

Peran organisasi internasional regional dalam penyelesaian sengketa ini
misalnya tampak dalam pasal 3 Piagam Organisasi Persatuan Afrika (
Organization of African Unity atau OUA). Pasal 3 ayat (4) Piagam OAU ini
menyatakan bahwa salah satu tujuan dari OUA adalah peaceful settlement of
disputes by negotiation, mediation, conciliation or arbitration.
11


1. Kerangka Hukum
The ASEAN Way dapat dipahami sebagai memiliki dua utama
components. Yang pertama adalah strategi diplomatik berdasarkan pada
konsultasi dan konsensus, di mana para pejabat diplomatik awalnya terlibat dalam
diskusi informal untuk kemudian memfasilitasi konsensus- keputusan berbasis di
meetings. resmi Proses ini memungkinkan negara anggota untuk menentukan area
kesepakatan dan milah isu-isu, sehingga perselisihan tidak menunda seluruh
agreements.36 demikian, ASEAN akan mengadopsi hanya kebijakan yang setuju
semua negara anggota, baik karena kebijakan itu sendiri telah dimodifikasi, atau
posisi negara anggota memiliki konvergensi.

Akibatnya, ASEAN umumnya menyisihkan kontroversial masalah, dan
lembaga-lembaganya telah dikembangkan secara bertahap.37 Komponen kedua
ASEAN Way adalah serangkaian enam prinsip dikodifikasikan dalam 1976
Treaty of Amity and Cooperation: (1) menghormati kedaulatan negara, (2)
kebebasan dari eksternal gangguan; (3) non-campur tangan dalam urusan internal,
(4) penyelesaian sengketa secara damai, (5) menolak penggunaan kekuatan, dan
(6) cooperation.
12
Dalam beberapa tahun terakhir, prinsip non-interferensi telah
dipanggil oleh instrumen regional integrasi,
13
serta dengan negara-negara anggota

10
Huala Adolf, Hukum Penyelesaian sengketa Internasional. Jakarta: Sinar Grafika,2012 Hlm 116
11
J.G. Merrilis , International dispute Settlement, Cambridge : Cambridge U.P., 3rd ed.,
1998,hlm.298 Sebagaimana dikutip dalam Huala Adolf Hukum Penyelesaian Sengketa
Internasional Hlm 116
12
Treaty of Amity and Cooperation, supra note 7, art. 2. Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER
The ASEAN Charter : ASEAN Failure or Member Failure Page 167
13
See, e.g., ASEAN Vision 2020, Dec. 15, 1997, available at http:// www.aseansec.org/1814.htm
(We envision the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia functioning fully as a
binding code of conduct for our governments . . .); Bali Concord II, supra note 27, at pmbl.
5

sendiri,
14
dimemerintahkan untuk menegaskan keutamaan kepentingan domestik
di atas daerah kepentingan.


2. Kerangka Teori

Meskipun menghambat negara anggota 'pembangunan lembaga upaya,
Jalan ASEAN tidak mewakili pendekatan radikal hubungan internasional,
melainkan hanyalah sebuah komitmen formal untuk kedua pemerintahan berbasis
hubungan dan hukum lunak. Dalam sistem berbasis hubungan, pelaku
menghindari pengaturan formal, lebih memilih untuk membangun kesepakatan
berdasarkan saling percaya, pengetahuan, dan familiarity. Mereka harus
bergantung pada kekuatan hubungan interpersonal untuk melaksanakan setiap
agreements. Berdiri berbeda dengan pemerintahan berbasis hubungan yang
rulesbased governance, yang memanfaatkan lembaga formal. Aktor dalam sistem
berbasis aturan terlibat dalam negosiasi tradisional, mematuhi dengan norma-
norma yang mengikat, dan menyelesaikan sengketa melalui diformalkan
processes.

"Soft Law" mengacu pada salah satu ujung spektrum yang mendefinisikan
atribut tertentu tentang aturan hukum, di ujung lain dari yang "Hard Law."
Spektrum ini menjelaskan tiga karakteristik: kewajiban, presisi, dan
delegation.
15
"Kewajiban" adalah gelar mana aktor terikat oleh aturan-aturan
tertentu. "Presisi" adalah sejauh mana aturan menentukan perilaku tertentu.
"Delegasi" adalah sejauh mana pihak ketiga memiliki kewenangan untuk
menafsirkan aturan dan menyelesaikan disputes.
16
demikian, pemain mungkin
berbeda-beda komitmen yang diusulkan sepanjang salah dimensi ini ketika
mereka setuju atas ujung tapi terlalu dibagi setuju atas cara-cara khusus,
17
atau

(reaffirming ASEANs commitment to the TAC and non-interference). Sebagaimana dikutip dari
LEE LEVITER ibid Page 168
14
The invocation of the principle of non-interference will be discussed with respect to Myanmar in
Part III.2, below. Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 168
15
See Kenneth W. Abbott & Duncan Snidal, Hard and Soft Law in InternationalGovernance, 54
INTL ORG. 421, 421-22 (2000) (describing hard and soft law in terms of the binding nature
of the obligations created, the precision of those obligations, and whether those obligations
delegate authority to interpret and implement the law). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER
ibid Page 169
16
Kenneth W. Abbott et al., The Concept of Legalization, 54 INTL ORG.401, 401 (2000). Abbot
et al. explain that obligation, precision, and delegation are three dimensions along which
legalization can be measured. Id. On either end of the obligation spectrum are expressly non-legal
norm and binding rule. Id. at 404. Precision varies between vague principle and precise,
highly elaborated rule. Id. Delegation exists between diplomacy and court system with
binding decisions. Id.; see also Paul J. Davidson, The ASEAN Way and the Role of Law in
ASEAN Economic Cooperation, 8 SING. Y.B. INTL L. 165, 169-71 (discussing the movement
towards legalization through an examination of economic agreements). For charts depicting the
levels of each element of legalization, see Abbott et al., supra, at 410, 415-16. Sebagaimana
dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 169
17
See Joseph Gold, Strengthening the Soft International Law of Exchange Arrangements, 77 AM.
J. International Law. 443, 443 (1983) (observing that soft law can overcome deadlocks when states
6

ketika mereka ingin bergulat dengan pasti hasil dengan memantau dampak dari
komitmen mereka lebih time.47 Kita mungkin berharap dengan demikian hukum
lunak untuk menjadi kata-katanya samar, atau memiliki lemahnya penegakan
aturan hukum.
18


Pengaruh Jalan ASEAN tampak besar di ASEAN sejarah, dan integrasi
regional tetap menjadi konsep yang relatif baru. 49 Memang, selama dua puluh
tahun pertama, ASEAN ada terutama untuk meningkatkan hubungan diplomatik
antara anggotanya menyatakan, sehingga mereka lebih bisa bertahan melawan
momok communism.50 Bahkan saat ini, Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama
umumnya membatasi kemampuan untuk meminta pertanggungjawaban sama lain
atau campur tangan dalam setiap orang lain 'negara-negara anggota affairs.
19

Selain itu, karena konsensus adalah dasar untuk pengambilan keputusan, negara-
negara anggota yang mencari versi paling-pembatasan dari komitmen tertentu
lebih sering berlaku.
20




















refuse to bind themselves to firmer regimes); cf. Davidson, supra note 6, at 235 (Soft law allows
for vagueness of commitments where parties are prepared to enter into agreements but are unable
to agree on the exactness of their obligations.). Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid
Page 169
18
The discussion of economic integration and security cooperation in Part III.1 will illustrate this
consequence in the ASEAN context. . Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 16
19
See, e.g., Desperate times for Burma, IRISH TIMES, May 22, 2008, at 19 (But ASEANs
deep-rooted norm of non-interference in state sovereignty makes it subject to systematic delays
and vetoes just when emergency flexibility is most needed.); see Final Draft for ASEAN Human
Rights Body is Ready, MALAY. GEN. NEWS, July 18, 2009, (attributing the ASEAN Human
Rights Bodys inability to protect regional human rights to ASEANs norm of noninterference). .
Sebagaimana dikutip dari LEE LEVITER ibid Page 170
20
Hence the critique that ASEANs commitments tend to satisfy the lowest common
denominator. See supra note 8 and accompanying text. . Sebagaimana dikutip dari LEE
LEVITER ibid Page 170
7

BAB 3
Pembahasan
A. Prinsip Penyelesaian Sengketa di ASEAN

Secara geopolitik dan ekonomi negara di kawasan Asia Tenggara
memiliki nilai yang strategis. Sehingga sering terjadi konflik di kawasan itu untuk
memperebutkan kepentingan sejak Perang Dunia kedua. Sebelum ASEAN berdiri,
orientasi politik luar negeri negara-negara Asia Tenggara secara ideologi terpecah
yaitu komunis dan non komunis. Belum ada rasa keterikatan dalam kawasan itu
sehingga masih kuatnya kecenderungan untuk menjalin persekutuan dengan
kekuatan asing diluar kawasan. Berkembang suasana konfrontatif dan saling
curiga, seperti pernah terjadi dengan Indonesia dan Malaysia, konflik Indonesia -
Singapura.
21


ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 oleh lima negara
pemrakarsa, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura danThailand di
Bangkok melalui Deklarasi Bangkok. Awal pembentukannya adalah untuk
membendung masuknya komunis lebih jauh ke Asia Tenggara setelah komunis
berada di Vietnam. Terbentuknya ASEAN menandai dimulainya rekonsiliasi
negara-negara di kawasan Asia Tenggara, konflik konflik yang terjadi antara
Indonesia Malaysia, Malaysia Filipina, juga kedekatan Thailand dan Filipina
dengan Amerika Serikat dalam perang Vietnam.

Sebagai salah satu bentuk regionalisme, selama ini ASEAN dianggap
sebagai salah satu instrumen yang mampu menjaga kestabilan kawasan di Asia
Tenggara.
22
Perkembangan ASEAN, yang berpadu dengan kultur politik di
kawasan ini, membuat sebuah bentuk baru pendekatan untuk menyelesaikan
masalah-masalah transboundary antar anggotanya. ASEAN Way disebut-sebut
sebagai bentuk dari upaya negara-negara anggota untuk aktif menyelesaikan
persengketaan yang ada tanpa harus melanggar kedaulatan satu sama lain.
23

Terbentuk dari sebuah deklarasi, awalnya ASEAN adalah organisasi regional
yang berusaha berintegrasi dalam sebuah institusi yang berdasarkan pada
kerjasama fungsional.
24



21
Lihat, Timo Kivimki, The Long Peace of ASEAN, Journal of Peace Research, Vol. 38, No.
1(Jan.2001), hal 8-11. Diambil dari
http://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&artsi=1&Que
ry=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi=76 diakses 17 April 2013.
22
Lihat, Michael Antolik, Reviewed work(s): ASEAN and the Diplomacy of Accommodation.
International Affairs (Royal Institute of International Affairs 1944-), Vol. 67, No. 3 (Jul., 1991),
hlm 628. diambil dari
http://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&artsi=1&Qu
ery=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi= 76 diakses 17 April 2013.
23
Lihat, Michael Leifer, The Asean States: No Common Outlook, dalam International
Affairs(Royal Institute of International Affairs 1944-), Vol. 49, No. 4 (Oct., 1973), hal 607
24
http://skiasyik.wordpress.com/2008/03/25/asean-charter/ - _ftn1 diakses 17 April 2013
8

Sehingga, ASEAN merupakan organisasi regional non-politik yang secara
efektif berfungsi dalam sektor-sektor ekonomi, teknik, keilmuan, sosial dan
kebudayaan. Ide utamanya adalah bagaimana membuat suatu institusi regional
tanpa mengancam kedaulatan nasional negara anggotanya namun tetap
menguntungkan. Mengingat ketika ASEAN terbentuk, mayoritas dari anggotanya
adalah negara-negara yang belum lama memperoleh kemerdekaan.
Salah satu alasan yang mendasari pembentukan ASEAN adalah untuk mencegah
penyebaran komunisme di kawasan Asia Tenggara. Tanpa membuat suatu
organisasi berbentuk pakta militer, founding fathers ASEAN berusaha
menciptakan stabilitas keamanan melalui kerjasama non-politik. Tujuan ini
diperkuat dengan adanya deklarasi yang dikemukakan di konferensi Bali tahun
1976 yang menyatakan Asia Tenggara sebagai zone of peace, freedom, and
neutrality.

Prinsip-prinsip ini merupakan respon terhadap ancaman komunisme
yang bisa saja menimbulkan efek domino. kawasan Asia Tenggara perlu
diamankan dari kemungkinan instabilitas akibat dari perang dingin yang terjadi.
Selain itu, negara-negara barat juga menjadi kalangan yang terancam apabila
kawasan Asia tenggara jatuh dalam pengaruh komunis. Berakhirnya Perang
Dingin, tidak membuat integritas regionalisme di ASEAN memudar karena tidak
adanya common enemy yang ternyata berhasil memberikan identitas. Hubungan
kerjasama antar-anggota menjadi semakin erat dan menjadikan ASEAN sebagai
lembaga yang institutionalized.
25
Namun, dengan semakin kompleksnya masalah
yang ada di dunia internasional
26
, isu-isu yang sebelumnya bukan masalah penting
menjadi sesuatu hal yang patut dipertimbangkan oleh para pemimpin negara
anggota ASEAN. Mulai dari masalah yang sifatnya sektoral seperti masalah
ekonomi hingga berbagai masalah sosial budaya. Selain itu juga terdapat masalah
mengenai keamanan kawasan.
27


Masalah yang dihadapi ASEAN menjadi semakin rumit dengan tidak
adanya mekanisme binding yang seharusnya dapat menjadi pertimbangan dalam
menentukan kebijakan yang diambil oleh para pemimpin negara. Ketika muncul

25
Lihat, Russell H. Fifield, ASEAN: Image and Reality, dalam Asian Survey, Vol. 19, No. 12,
Recent International Developments in Asia (Dec., 1979), hal 1206. diambil
darihttp://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&artsi=1&
Query=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi=76 diakses 9 Mei 2008; lihat juga, Zakaria Haji Ahmad
and Baladas Ghoshal, The Political Future of ASEAN after the Asian Crisis, International Affairs
(Royal Institute of International Affairs 1944-), Vol. 75, No. 4 (Oct., 1999), hal 759. diambil dari
http://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&artsi=1&Que
ry=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi=76 diakses 17 April 2013
26
Lihat, John Garofano, Power, Institutions, and the ASEAN Regional Forum: A Security
Community for Asia?, dalam Asian Survey, Vol. 42, No. 3 (May - Jun., 2002), hal 503.
Diambildari http://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&
artsi=1&Query=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi=76 diakses 17 April 2013
27
Lihat, Shaun Narine, ASEAN and the ARF: The Limits of the "ASEAN Way", dalam Asian
Survey, Vol. 37, No. 10 (Oct., 1997), pp. 961-978. diambil Dari
http://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&artsi=1&Que
ry=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi=76 diakses 17 April 2013
9

konflik diantara negara anggota, mekanisme penyelesaian yang berlaku adalah
konsensus. Keinginan ASEAN untuk seminimal mungkin melakukan intervensi
dalam urusan dalam negeri, membuat mekanisme konsensus dan musyawarah
menjadi pola dalam pengambilan keputusan berskala regional. Pola ini kemudian
disebut-sebut sebagai The ASEAN Way.
28


Tidak adanya mekanisme mengikat esensi dan common value berkurang.
Padahal common value merupakan faktor penting untuk membentuk dan
mempertahankan identitas regional, serta menjamin negara-negara agar tidak
hanya mengutamakan kepentingan sendiri tetapi juga kepentingan seluruh
kawasan. Oleh karena itu, regionalisme akan menghadapi berbagai tantangan
dalam menyelesaikan suatu masalah jika common value-nya tidak kuat.
Organisasi yang berdiri dari deklarasi terancam masalah legitimasinya sebagai
institusi karena tidak ada suatu mekanisme mengikat terhadap perilaku negara-
negara anggota.

1. Prinsip Non-Intervensi

Prinsip non intervensi selama ini dipegang teguh oleh para anggota
ASEAN dalam kebijakan regionalnya, di samping prinsip-prinsip lain seperti
saling menghormati, konsensus, dialog dan konsultasi. Prinsip non-intervensi
yang selama ini dijunjung tinggi telah banyak memberi kontribusi terhadap
eksistensi ASEAN. Pada tingkat yang paling dasar, prinsip ini merupakan wujud
nyata penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara anggota. Hal ini
amat penting, mengingat sejarah menjelang pembentukan ASEAN yang diwarnai
sejumlah konflik antarnegara bakal calon anggota ketika itu seperti disebutkan di
atas.

Jaminan pengakuan kedaulatan ini menjadi faktor penting terhadap
meredamnya sikap saling curiga sesama negara anggota. Hilangnya sisa-sisa
kecurigaan ini selanjutnya membantu tumbuhnya saling percaya yang cukup
tinggi antara anggota ASEAN. Hal ini penting, sebab rasa percaya timbal balik
menjadi prasyarat eksisnya suatu organisasi regional beranggotakan negara
dengan perbedaan kepentingan yang tak terelakkan.

Prinsip ini juga telah berfungsi sebagai mekanisme preventif terhadap
munculnya sejumlah konflik terbuka di antara negara anggota ASEAN.
Penghormatan terhadap apa yang dianggap menjadi urusan dalam negeri negara
anggota lain secara tidak langsung ikut mencegah terjadinya salah persepsi
antaranggota. Prinsip non intervensi ini telah memberikan sumbangan yang
teramat berarti dalam pengembangan ASEAN sejak berdirinya hingga saat ini.
Seiring dengan perkembangan konstelasi politik global, nampaknya prinsip ini

28
Lihat, Hiro Katsumata, Why Is Asean Diplomacy Changing? From "Non-Interference" to "Open
and Frank Discussions", Asian Survey, Vol. 44, No. 2 (Mar. - Apr., 2004), hal 237.
Diambildari http://ezproxy.ugm.ac.id:2056/action/doBasicResults?hp=25&la=&gw=jtx&jcpsi=1&
artsi=1&Query=asean&sbq=asean&si=76&jtxsi=76 diakses 17 April 2013
10

mulai harus ditinggalkan oleh ASEAN. Karena dalam ASEAN Charter disebutkan
bahwa tujuan ASEAN ke depan adalah maintain and enhance peace, security and
stability and further strengthen peace-oriented values in the region, serta to
enhance regional resilience by promoting greater political, security, economic and
socio-cultural cooperation. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ASEAN kedepan
merupakan suatu entitas yang satu, ini diperkuat dengan jargon ASEAN, One
Vision, One Identity, One Community.

Namun dalam kenyataannya nampaknya prinsip ini belum mau
ditinggalkan oleh ASEAN, terlihat dari Pasal 2 ASEAN Charter, yaitu
menghormati kedaulatan, persamaan, integritas teritorial, identitas nasional
29

tidak mencampuri urusan dalam negeri anggota ASEAN
30
; menghargai hak
anggota untuk mempertahankan integritas nasional yang bebas dari pengaruh
asing serta subversi dan koersi
31
; tidak mencampuri dalam kegiatan yang akan
berdampak pada kedaulatan dan integritas teritorial negara anggota lainnya,
termasuk tidak menggunakan daerahnya untuk kegiatan tersebut
32
; penghargaan
terhadap kebebasan fundamental serta promosi dan perlindungan HAM serta
keadilan sosial
33
.

Dalam berbagai peraturan yang disebut di atas nampak bahwa ASEAN
belum akan meninggalkan prinsip non intervensi sebagai prinsip dasarnya. Oleh
karena itu, ASEAN tidak dapat mengintervensi pelanggaran-pelanggaran,
misalnya pelanggaran HAM, yang terjadi dalam negara anggota ASEAN. Sebagai
contoh kasus, prinsip ini akan membuat Badan HAM ASEAN yang dibentuk
berdasarkan ASEAN Charter pasal 14
34
tidak dapat menjalankan fungsinya secara
maksimal. Karena seharusnya Badan HAM ASEAN mampu bertindak untuk
menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi dengan masuk ke negara yang
melanggar HAM tersebut dan mengintervensi tindakan yang dilakukan. Sehingga
Badan Ham ASEAN ini hanya dapat bertindak dalam lingkup pertemuan menteri
luar negeri ASEAN seperti disebut pasal 14 ayat 2
35
.

Keinginan ASEAN untuk menjadi One Community nampaknya akan
terhambat karena prinsip ini. Berdasarkan pada konsep integrasi yang diutarakan
di atas, kalau ingin mengintegrasikan diri menjadi sesuatu yang lebih besar berarti
harus memindahkan kesetiaan yang ada, atau paling tidak mengurangi kedaulatan

29
Pasal 2 ayat 2 butir a, lihat, The ASEAN Charter. Available at :
http://www.aseansec.org/ASEAN-Charter.pdf. diakses 17 April 2013
30
Pasal 2 ayat 2 butir e, lihat, Ibid.
31
Pasal 2 ayat 2 butir f, lihat, Ibid.
32
Pasal 2 ayat 2 butir k, lihat, Ibid.
33
Pasal 2 ayat 2 butir I, lihat, Ibid.
34
Pasal 14 ayat 1: in conformity with the purpose and principles of the ASEAN Charter relating to
the promotion and protection of human rights and fundamental freedoms, ASEAN shall establish
an ASEAN human rights body. Lihat, Ibid. Pembentukan Badan HAM ASEAN dibuat sesuai
dengan penjabaran pasal 2 ayat 2 butir i.
35
Pasal 14 ayat 2: This ASEAN Human Rights Body shall operate in accordance with the terms of
reference to be determined by the ASEAN Foreign Ministers Meeting, lihat, Ibid.
11

negara dan memindahkannya ke cakupan yang lebih luas, dalam konteks ini
berarti negara-negara anggota ASEAN memindahkan atau mengurangi sedikit
kedaulatannya untuk membangun suatu integrasi ASEAN yang lebih bersatu,
sehingga One Vision, One Identity, One Community dapat terwujud.


B. Mekanisme Penyelesaian Sengketa di ASEAN

Berdasarkan Piagam ASEAN, penyelesaian sengketa masalah politik dan
keamanan di dalam ASEAN diselesaikan melalui Dewan Tinggi dari Traktat
Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara, sedangkan masalah di bidang
ekonomi diselesaikan melalui ASEAN Protocol on Enhanced Dispute Settlement
Mechanism (DSM).
36
ASEAN juga telah menempatkan suatu mekanisme
penyelesaian sengketa, yang memberikan kewenangan pihak untuk merujuk
sengketa kepada sebuah panel yang didirikan sesuai dengan Protokol Mekanisme
Penyelesaian Perselisihan.2004 Protokol Peningkatan Mekanisme Penyelesaian
Sengketa (Protokol) menunjukkan gerakan ASEAN menuju legalistik, berbasis
lembaga peraturan.
37
Protokol ini dirancang khusus untuk penyelesaian sengketa
meskipun anggota memiliki metode alternatif lain untuk menyelesaikan sengketa.
Ini terdiri dari 21 artikel dan dua Lampiran, menyediakan satu set rinci aturan
untuk proses penyelesaian sengketa secara keseluruhan - dari konsultasi,
melanjutkan panel, banding, hingga pelaksanaan dan kompensasi.

Pasal 1 dan 2 menetapkan kerangka umum DSM yaitu cakupan aplikasi
dan administrasi Protokol. Dalam hal ini, Senior Economic Officials Meeting
(SEOM) diperkenalkan sebagai setara dengan DSB WTO di DSM.
38
Pasal 3 dan
4, yang identik dengan Pasal 4 dan 5 dari DSU, menyediakan konsultasi, kantor
yang baik, dan konsiliasi atau mediasi prosedur dengan cara yang sama dan
dengan jadwal yang sama seperti DSU.
39
Pasal 5 sampai 11 dari Protokol
berhubungan dengan proses panel, dari pembentukan panel untuk fungsinya.
Panel ASEAN, yang didirikan oleh SEOM, memiliki prosedur sendiri bekerja
sebagaimana diatur dalam Lampiran II dari Protokol. Terutama, panel ASEAN
berada di bawah tekanan waktu lebih keras daripada panel WTO karena mereka
harus menyerahkan temuan dan rekomendasi mereka dalam waktu 60 hari dari
pembentukan mereka.

Berdasarkan Pasal 12 putusan panel diajukan banding ke Badan Banding
independen yang dibentuk oleh Menteri Ekonomi ASEAN (AEM), yang memiliki
fungsi serupa dengan WTO Banding Body.
40
Ini adalah salah satu perbaikan yang

36
Gultom Foster dan Adek Triana, Ayo Kita Kenali ASEAN, Jakarta : Dirjen Kerjasama ASEAN
dan Kemenlu, 2011 hlm 17
37
This protocol was signed on 29 November 2004 and replaced 1996 Protocol on DSM, accessed
at http://www.aseansec.org/16755.htm (January 05)
38
Article 2.1 of the Protocol
39
Article 3.4 of the Protocol
40
Article 12.1 of the Protocol
12

paling signifikan dari 2004 Protokol. Banding tubuh, yang terdiri dari tujuh orang,
memiliki kekuatan untuk menegakkan, memodifikasi atau membalikkan
interpretasi hukum yang diadopsi oleh panel. Setelah dikeluarkan, SEOM harus
mengadopsi laporannya jika pihak tanpa syarat menerimanya kecuali tentu saja,
SEOM memutuskan secara konsensus untuk tidak mengadopsi report.
41

Yang paling penting, masalah implementasi dapat dinaikkan di SEOM dengan
"apapun" Anggota setiap saat setelah adopsi mereka dan akan tetap pada agenda
SEOM sampai masalah ini adalah resolved.
42
Sebelum itu akhirnya diselesaikan,
yang bersangkutan wajib menyediakan SEOM dengan laporan status secara
tertulis penetapan kemajuan dalam pelaksanaan setidaknya 10 hari sebelum setiap
SEOM tersebut meeting.
43


Protokol ini juga membedakan dari DSU dalam hal kompensasi dan
suspensi konsesi, karena ini membutuhkan penafsiran yang lebih luas dari
"sektor", tambahan untuk prinsip bahwa penangguhan konsesi harus di sektor
yang sama.
44
Pasal 16.3 (e) berbunyi, "untuk tujuan artikel ini, 'sektor' berarti:
sehubungan dengan barang, semua barang". Dengan demikian, jika pihak yang
kalah tidak melaksanakan sebuah panel atau laporan Badan Banding mengenai
perdagangan barang, pembalasan mungkin melibatkan semua sektor perdagangan
barang dan tekanan untuk kepatuhan meningkat karena. Akhirnya, Pasal 17 dari
Protokol menetapkan ASEAN DSM Dana untuk memenuhi biaya dari panel,
Badan Banding dan setiap administrasi terkait costs.
45
Ini adalah dana bergulir,
terpisah dari budget
46
rutin Sekretariat ASEAN.

Umumnya, DSM ASEAN terutama dimodelkan pada WTO DSM. Namun,
dalam beberapa poin, Protokol dapat dianggap sebagai versi lanjutan dari DSU,
karena belajar dari kontroversi saat ini WTO DSM dan sembuh beberapa
kekurangan. Misalnya, panel ASEAN baru dan Badan Banding berhak tidak
hanya untuk menentukan kesimpulan dari konsistensi langkah-langkah nasional
dalam sengketa, tetapi juga untuk membuat saran praktis untuk pelaksanaannya.
Ini mungkin cara yang efektif untuk menghindari perselisihan di masa depan
tentang makna kepatuhan dalam panel atau laporan Badan Banding.Namun
demikian, tidak ada berdiri untuk aktor-aktor non-negara dan laporannya tidak
berlaku di pengadilan nasional. Sehubungan dengan transparansi, seluruh
persidangan bersifat rahasia meskipun dalam keadaan terbatas, ringkasan non-
rahasia dari informasi yang terkandung dalam pengajuan tertulis pihak dapat
diungkapkan ke public.
47




41
Article 12.3,6 and 13 of the Protocol
42
Article 15.6 of the Protocol
43
ibid
44
Article 16.3 (a)
45
Article 17.2 of the Protocol
46
Article 17.1 of the Protocol
47
Article 8.5, 12.9 and 13.2 of the Protocol
13

C. Contoh Kasus Penyelesaian Sengketa di ASEAN

1. Invasi Vietnam Ke Kamboja

a. Fakta Hukum

Kamboja merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia
Tenggara. Sejak dahulu kala, Kamboja sering diperebutkan oleh berbagai
kerajaan, termasuk Vietnam dan Thailand. Ada beberapa hal yang menyebabkan
Kamboja sering menjadi ajang sengketa, di antaranya adalah tanahnya yang subur
dan datar sehingga mudah dilalui, dan terletak di antara dua kekuatan besar yang
bersaing, sehingga wajarlah jika wilayah Kamboja selalu diamati dengan teliti
oleh para tetangganya.
Negara ini mendapatkan kemerdekaannya dari Perancis pada tanggal 19
November 1953, dengan Pangeran Sihanouk sebagai kepala negaranya. Pada
masa awal pemerintahan Pangeran Sihanouk, politik luar negeri Kamboja terfokus
pada mengamankan integritas wilayah dan kedaulatan negaranya, membuka
hubungan politik dengan negara lain, mempertaankan keanggotaannya di PBB,
dan mengupayakan bantuan asing untuk pembangunan negaranya. Namun, sejak
awal kemerdekaannya, negara ini telah mengalami banyak masalah internal
seperti munculnya ketegangan politik dan pergolakan menjelang pemilu.
48

Pada tahun 1970, Lon Nol (dengan bantuan AS) melancarkan kudeta untuk
menjatuhkan pemerintahan pangeran Sihanouk dan merubah bentuk negara
kerajaan menjadi republik, dan diberi nama Republik Khmer. Di bawah
kekuasaan Lon Nol, Kamboja menjadi negara yang pro-Barat (AS). Tetapi
pemerintahan Lon Nol tidak bertahan lama karena pada tahun 1975, pemerintahan
Republik Khmer dijatuhkan oleh Democratic Kampuchea di bawah rezim Khmer
Merah, dengan Pol Pot sebagai pimpinannya. Di bawah kepemimpinan Pol Pot
inilah Kamboja menjadi negara komunis dan terisolir dari hubungan diplomatik.
Pol Pot memutuskan hubungan diplomatik dengan negara-negara di kawasan
regionalnya dan di belahan dunia lainnya, kecuali Cina, Vietnam, dan Swedia.
PBB pun tidak mengakui adanya pemerintahan ini.
49

Pada Desember 1978, Vietnam mulai melakukan invasi ke Kamboja.
Rezim Pol Pot pun resmi dijatuhkan pada saat Vietnam berhasil menduduki
Phnom Penh pada tanggal 7 januari 1979. Invasi ini juga mendukung berdirinya
pemerintahan boneka Republik Rakyat Kamboja yang dipimpin oleh Heng Samin.
Invasi ini dilakukan oleh Vietnam sebagai reaksi atas kebijakan Pol Pot terhadap
Vietnam: pertama, perlakuan rezim Pol Pot yang semena-mena terhadap

48
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1988/07/30/NAS/mbm.19880730.NAS25282.id.html
Diakses 17 April 2013
49
http://regional.kompasiana.com/2010/12/29/kamboja-dalam-penguasaan-pol-pot/
Diakses 17 April 2013
14

keturunan Vietnam di Kamboja; kedua, tindakan Pol Pot menyerang wilayah
Vietnam, baik dalam wilayah Kamboja Krom (wilayah Kamboja yang diperoleh
Vietnam sebelum penjajahan Perancis), maupun ke wilayah Vietnam itu sendiri.
Selain itu, adanya perpecahan antara dua kekuatan komunis besar dunia (Uni
Soviet dan Cina) turut menjadi penyebab dari invasi ini, karena Vietnam
mengambil kesempatan di saat pendukung terbesar Kamboja sedang sibuk.
Tindakan Vietnam tersebut mendapat tentangan dari ASEAN yang menganggap
invasi tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar hubungan
antarnegara, yaitu prinsip non intervensi (non intervention/interference) dan
prinsip penggunaan kekerasan bersenjata (non use of force).

Setelah itu Pada Januari 1979, ASEAN lewat pertemuan para menteri luar
negerinya, menentang perilaku Vietnam dengan mengingatkan esensi Deklarasi
Bangkok 1967 sebagai protes atas tindakan campur tangan yang dilakukan
Vietnam terhadap Kamboja. ASEAN secara resmi menolak mendukung
pemerintahan Phnom Penh Pro-Vietnam, mendukung isolasi Internasional atas
Vietnam, mengusahakan penarikan tanpa syarat pasukan Vietnam dari Kamboja,
mencegah penetrasi Vietnam ke Thailand, mendukung Kamboja yang netral,
damai, dan demokratis, serta mendukung kepemimpinan ASEAN dalam mencari
solusi damai dalam konflik Kamboja yang bebas dari campur tangan luar.

Hanoi sebaliknya, menentang sikap ASEAN dan bersikukuh untuk
mempertahankan posisinya di Kamboja. Hanoi berpendapat bahwa kehadiran
pasukannya ke Kamboja untuk menyelamatkan rakyat Khmer dari Rezim
pembasmi manusia dibawah kepemimpinan Pol Pot. Vietnam tidak mungkin
merubah keputusan tersebut dan menolak setiap upaya perundingan Internasional
untuk meninggalkan Kamboja. Hanoi hanya akan meninggalkan Kamboja jika
Hanoi dan Phnom Penh memandang sudah tiba saatnya untuk melakukannya.
Sikap Hanoi tumbuh dari keyakinan yang timbul sejak pasukan Amerika Serikat
harus meninggalkan Vietnam Selatan.

Keberhasilan pasukan Vietnam mengalahkan pasukan Amerika Serikat
menjadikan Vietnam tetap bersikukuh untuk kembali mengulang keberhasilan
tersebut. Bagi Hanoi, persoalan Kamboja merupakan akibat dari ekspansionisme
dan hegemoni China. Sekalipun demikian, baik Phnom Penh maupun Hanoi
menegaskan bahwa apa yang berlangsung di Kamboja tidak lebih dari perang
saudara antar rakyat Khmer dengan demikian bersifat domestik dan tidak
memerlukan bantuan eksternal. Dukungan militer Uni Soviet merupakan faktor
lain yang membuat Hanoi tidak peduli dengan pernyataan keras ASEAN yang
menuntut penarikan pasukan Vietnam.
50
ASEAN melalui Perdana Menteri
Singapura Siunathamby Rajaratman menyatakan bahwa, ASEAN negara anti
komunis namun bukan berarti ingin menghancurkan Vietnam, hanya
menginginkan agar Vietnam menarik Pasukan dari Kamboja tanpa syarat apapun.

50
Putra, Hilton Tarnama dan Eka An Aqimuddin, Mekanisme Penyelesaian Sengketa ASEAN:
Lembaga dan Proses, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011 hlm 131-135
15

Kemudian kemudian menyerahkan keputusan kepada rakyat Kamboja untuk
memilih Heng Samrin atau Pol Pot sebagai pemimpin negara tersebut.


b. Penyelesaian Sengketa dan Putusan

Masalah Kamboja semakin komplek dengan campur tangan pihak luar,
seperti RRC dan AS. Untuk memecahkan masalah Kamboja pada bulan Juli 1988
di Istana Bogor(Indonesia) berkumpul pihak-pihak yang bertikai dan pertemuan
tersebut dikenal dengan JIM (Jakarta Informal Meeting). Kemudian untuk
menindak lanjuti JIM yang pertama pada bulan Februari 1989 diadakan JIM II
dan berhasil menemukan 2 masalah penting, yaitu:

Penarikan pasukan Vietnam dari kamboja akan dilaksanakan dalam kaitannya
dalam penyelesaian politik menyeluruh. Vietnam mulai memberikan janji dan
bersedia menarik pasukannya dari Kamboja

Muncul upaya untuk mencegah kembalinya rezim Pol Pot, yang semasa
berkuasa di Kamboja telah melakukan pembantaian keji terhadap sekitar sejuta
rakyat.

Upaya menyelesaikan konflik Kamboja mulai memasuki tingkat
internasional, yaitu dengan mengambil tempat di Paris. Dalam konfrensi ini hadir
wakil dari 20 negara, termasuk ASEAN dan 5 dewan keamanan PBB. Konfrensi
ini disebut ICK (International Confrence on Kampuchea). Konfrensi yang
berlangsung pada 30-31 Juli 1989 ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah
Kamboja.

Perjalanan panjang upaya penyelesaian masalah Kamboja kahirnya
menemui titik harapan perdamaian. Pada tahun 1991, pasukan perdamaian PBB
memprakarsai gencatan senjata pihak-pihak yang bertikai. Pada tahun 1993,
Pangeran Norodom Sihanouk diangkat sebagai raja. Pada tahun itu juga diadakan
Pemilihan Umum . Dalam Pemilu tersebut memilih Norodom Ranaridh dan Hun
Sen sebagai perdana menteri.
51












51
I Wayan Badrika, Sejarah untuk SMA Kelas XII, Jakarta:Erlangga,2006 hlm 230-231
16

2. Sengketa Kamboja dan Thailand atas Kuil Preah Vihear


a. Fakta Hukum

Kamboja dan Thailand merupakan negara yang terletak di kawasa Asia
Tenggara. Keduanya merupakan negara yang berbatasan secara langsung, yaitu
wilayah Preah Vihear berbatasan dengan wilayah Sisaket di bagian Timur Laut
Thailand. Wilayah Preah Vihear sejak lama menjadi rebutan antaran Kamboja
dengan Thailand. Pada saat itu keduanya masih diduduki oleh Pemerintahan
Perancis (Kamboja) dan Pemerintahan Siam (Thailand). Ini berawal dari
perebutan Kuil Preah Vihear yang terletak di wilayah Preah Vihear. Sengketa
perbatasan antara Kamboja dan Thailand di wilayah Kuil Preah Vihear
sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Pada tanggal 7 Juli 2008, Kuil Preah
Vihear yang disebutkan terletak di wilayah Kamboja secara resmi masuk ke
dalam daftar warisan dunia (Word Heritage List) yang dikeluarkan oleh UNESCO
(United NationsEconomic, Social and Cultural Organization).
52


Langkah ini nampaknya tidak dapat diterima oleh Pemerintah Thailand
yang menganggap masih ada ketidaksepahaman mengenai letak Kuil Preah
Vihear yang sebenarnya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Pemerintah
Kamboja, militer Thailand sejak tanggal 15 Juli 2008 telah memasuki wilayah
Kamboja di dekat kuil tersebut. Pada tanggal 21 Juli 2008, aktifitas militer
Thailand semakin banyak lagi dikerahkan dan memasuki area Keo Sikha Kiri
Svara Pagoda (Preah Vihear Pagoda). Keadaan semakin memanas dengan
terlukanya 2 orang anggota militer Thailand akibat ranjau darat di daerah sekitar
Preah Vihear Pagoda pada tanggal 7 Oktober 2008. Langsung saja Thailand
menganggap bahwa Pemerintah Kamboja telah dengan sengaja memasang ranjau
di daerah perbatasan yang dipersengketakan. Hal ini segera dibantah oleh
Pemerintah Kamboja dan beralasan bahwa ranjau-ranjau tersebut adalah sisa-sisa
persenjataan dalam konflik tiga faksi di Kamboja.

Pada akhirnya, konflik bersenjata berdarah pun tidak dapat dielakkan lagi.
Kedua kepala negara sebenarnya telah melakukan upaya-upaya penyelesaian
damai. Hal ini nampak dari surat Perdana Menteri Hun Sen tanggal 17 Juli 2008
yang meminta kepada Perdana Menteri Samak Sundaravej untuk segera menarik
mundur tentaranya dari daerah sekitar Preah Vihear Pagoda agar mengurangi
ketegangan di perbatasan. Dalam balasannya, Perdana Menteri Samak menyambut
baik penyelesaian damai dan menjadwalkan pertemuan khusus dari Thailand-
Kamboja General Border Committee (GBC) pada tanggal 21 Juli 2008.Namun
Perdana Menteri Samak juga menekankan bahwa area di sekitar Preah Vihear
Pagoda adalah berada dalam kedaulatan territorial kerajaan Thailand dan justru
Kamboja lah yang telah melakukan pelanggaran kedaulatan dan integritas wilayah
Thailand. Selanjutnya Perdana Menteri HunSen kembali menjawab dalam surat

52
Putra, Hilton Tarnama dan Eka An Aqimuddin op cit hlm 136-138
17

lainnya dengan menyambut baik pertemuan yang akan diadakan oleh GBC,
namun juga mengingatkan kembali bahwa berdasarkan Annex I Map yang
dipergunakan oleh Mahkamah Internasional (International Court of Justice) pada
tahun 1962 dalam menyelesaikan sengketa perbatasan ini, diputuskan bahwa
Preah Vihear Pagoda berada pada jarak 700 meter di dalam wilayah teritorial
kerajaan Kamboja.

Dari korespondensi di atas tampak bahwa diantara kedua negara masih
terdapat ketidaksepahaman atas keputusan Mahkamah Internasional tanggal 15
Juni 1962 tentang Case Concerning the Temple of Preah Vihear. Dalam
keputusannya, mayoritas hakim (9 dari 12) Mahkamah Internasional menyatakan
bahwa Kuil Preah Vihear berada dalam wilayah kedaulatan Kamboja dan
Thailand harus menarik personil kepolisian dan militer dari kuil tersebut atau dari
daerah sekitarnya dalam wilayah kedaulatan Kamboja.

Dalam kasus ini, Kamboja mendasarkan argumennya pada peta (Annex I
Map) yang dibuat oleh pejabat Prancis pada tahun 1907 yang beberapa
diantaranya adalah anggota Mixed Commission yang dibentuk
berdasarkan Boundary Treaty antara France dan Siamtanggal 13 Februari 1904.
Pada peta ini, daerah Dangrek yaitu lokasi dimana Kuil Preah Vihear terletak
berada dalam wilayah Kamboja. Thailand di lain pihak berargumen bahwa peta
tersebut tidaklah mengikat karena tidak dibuat oleh
anggota Mixed Commission yang sah. Lebih lanjut, garis perbatasan yang
digunakan dalam peta tersebut adalah berdasarkan watershed line yang salah dan
bila menggunakanwatershed line yang benar maka Kuil Preah Vihear akan
terletak di dalam wilayah Thailand.
53


Menarik bahwa dalam salah satu kesimpulannya, mayoritas hakim
berpendapat bahwa walaupun peta sebagaimana dalam Annex I Map mempunyai
kekuatan teknis topografi, namun pada saat dibuatnya peta ini tidak memiliki
karakter mengikat secara hukum. Lalu apa alasan hakim sehingga menggunakan
peta ini sebagai dasar keputusannya. Karena saat peta ini diserahkan dan
dikomunikasikan kepada Pemerintah Siam oleh pejabat Perancis, Pemerintah
Siam sama sekali tidak memberikan reaksi, menyatakan keberatan ataupun
mempertanyakannya. Ketiadaan reaksi tersebut menjadikan Pemerintah Siam
menerima keadaan dan kondisi dalam peta ini. Demikian juga pada banyak
kesempatan lainnya, Pemerintah Thailand tidak mengajukan keberatan apapun
terhadap letak Kuil Preah Vihear.

Pendapat mayoritas hakim Mahkamah Internasional ini nampaknya
didasarkan pada prinsip Estoppel, dimana kegagalan Thailand menyatakan
keberataannya saat kesempataan tersebut ada membuat Thailand kehilangan hak
untuk menyatakan bahwa pihaknya tidak terikat pada peta dalam Annex I Map.

53
Diambil dari http://publikasi.umy.ac.id/index.php/hi/article/viewFile/1180/1325 Diakses Pada
17 April 2013
18

Lebih menarik lagi, mayoritas hakim berkesimpulan bahwa adalah tidak penting
lagi untuk memutuskan apakah watershed line yang dipergunakan dalam peta
sebagaimana Annex I Map telah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Nampaknya kesimpulan terakhir inilah yang masih belum dapat diterima
oleh Thailand yang tetap berpendapat bahwa telah terjadi kesalahan watershed
line dalam pembuatan peta namun tidak diperiksa oleh mayoritas hakim
Mahkamah Internasional karena dianggap tidak penting lagi. Insiden tembak-
menembak pada tanggal 15 Oktober 2008 sebenarnya bisa dikatakan sebagai
akibat dari keenganan Mahkamah Internasional untuk memeriksa kembali
apakah watershed line yang dipergunakan dalam pembuatan peta telah sesuai atau
tidak dengan keadaan yang sebenarnya. Sehingga masalah ini menjadi isu yang
selalu terbuka untuk diperdebatkan oleh pihak yang bersengketa. Namun nasi
sudah menjadi bubur, nyawa manusia telah hilang. Berdasarkan Pasal 94 Piagam
PBB, masuknya militer Thailand ke dalam wilayah Kamboja sebagaimana
tertuang dalam Annex I Map dapat dianggap sebagai ketidakpatuhan terhadap
putusan Mahkamah Internasional. Selanjutnya Kamboja bisa saja membawa
permasalahan ini kepada Dewan Keamanan PBB untuk mendapatkan
penyelesaian. Kemudian perundingan antara Kamboja dan Thailand mengalami
kegagalan untuk mengakhiri sengketa soal kuil di perbatasan. Perhimpunan
Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mendesak Thailand dan Kamboja agar
menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh dan bisa menahan diri. ASEAN
menawarkan diri untuk membantu mengatasi ketegangan di antara mereka. Sekjen
ASEAN, Surin Pitsuan, menyatakan Phnom Penh juga membantah mengadu atau
minta intervensi Dewan Keamanan PBB untuk menyelesaikan persengketaan
sebuah kuil di perbatasan Kamboja-Thailand.

Kedua pihak mengungkapkan keinginannya untuk merespons niat baik,
permintaan, dan desakan kolega-kolega mereka. Mereka berharap kedua pihak
menemukan solusi yang baik bagi situasi itu. Kedua negara dikenal sama-sama
memiliki kekayaan warisan budaya dunia berbasis bangunan candi Hindu dan
Buddha. Kuil Preah Vihear yang sekarang disengketakan merupakan salah satu
simbol keagungan budaya masa lalu.

Namun sengketa di lahan seluas 4,6 kilometer persegi di Kuil Preah
Vihear tidak pernah diperkirakan muncul kembali dalam bentuk setajam ini, yang
sampai mengarah ke pengerahan pasukan. Kita belum dapat menduga, apakah di
luar masalah-masalah menyangkut klaim yang bersifat kesejarahan itu, juga
tersimpan motif lain apakah politik, apakah potensi-potensi ekonomi, atau
akumulasi dari semua permasalahan yang timbul.






19

b. Penyelesaian Sengketa dan Putusan

Berdasarkan Annex I Map yang dipergunakan oleh Mahkamah
Internasional (International Court of Justice) pada tahun 1962
54
dalam
menyelesaikan sengketa perbatasan ini, diputuskan bahwa Preah Vihear Pagoda
berada pada jarak 700 meter di dalam wilayah teritorial kerajaan Kamboja. Dalam
keputusannya, mayoritas hakim (9 dari 12) Mahkamah Internasional menyatakan
bahwa Kuil Preah Vihear berada dalam wilayah kedaulatan Kamboja dan
Thailand harus menarik personil kepolisian dan militer dari kuil tersebut atau dari
daerah sekitarnya dalam wilayah kedaulatan Kamboja.

Dalam analisis masalah ini, terdapat suatu persengketaan terhadap wilayah
Kuil Preah Vihear yang sebelumnya telah diakui secara resmi oleh UNESCO
(United Nations Economic, Social and Cultural Organization) masuk ke dalam
daftar warisan dunia (Word Heritage List) atas Negara Kamboja. Persengketaan
ini telah berlangsung sejak lama, dimana sampai pada saat itu Pemerintah
Thailand yang menganggap masih ada ketidaksepahaman mengenai letak Kuil
Preah Vihear yang sebenarnya.

Namun Keputusan Pengadilan Internasional atas kasus tersebut,
Mahkamah Internasional (International Court of Justice) pada tahun 1962 dalam
menyelesaikan sengketa perbatasan ini, diputuskan bahwa Preah Vihear Pagoda
berada pada jarak 700 meter di dalam wilayah teritorial kerajaan Kamboja.
Dimana hakim mahkamah Internasional Tetapi Thailand tidak secara nyata
menunjukkan kesepakatannya terhadap putusan tersebut, yang mana pemerintah
Thailand justru melakukan aktifitas militer di daerah Kuil Preah Vihear.
55


Berdasarkan kasus yang terjadi pada Preah Vihear maka dapat ditarik
suatu persamaan bahwa kasus tersebut timbul akibat terjadinya suatu suksesi baik
suksesi negara, dalam kaitan beralihnya kekuasaan dari pemerintah kolonial
Prancis kepada suksesornya yaitu kamboja dalam kasus Preah Viher dengan
pihak-pihak terkait lainnya.

Perjanjian internasional yang terjadi dalam kasus tersebut, maka terhadap
suksesor memiliki akibat hukum yang berbeda, mengenai kasus Preah Vihear
yang berkaitan dengan perjanjian perbatasan antara Prancis selaku suksesor dari
kamboja dengan Kerajaan Siam maka berdasarkan praktek negara-negara dan
Vienna Convention on Succession of States in respect of Treaties, perjanjian
internasional semacam ini mengikat negara suksesor. Mengenai Konsekuensi
tersebut secara tegas diatur dalam pasal 11 Vienna Convention on Succession of
States in respect of Treaties yang berbunyi :


54
http://icj-cij.org
55
http://www.invispress.com
20

A succession of States does not as such affect: a boundary established by treaty;
or obligations and rights established by a treaty and relating to the regime of a
boundary.
56


Dari pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan
terhadap suatu pemerintahan dalam suatu negara tidak akan merubah atau
berakibat kepada posisi negara tersebut dimata hukum internasional baik
mengenai kebijakan luar negeri suatu negara maupun perjanjian yang telah dibuat
oleh pemerintahan sebelumnya.
57



































56
Miller, Lynn H. Agenda Politik Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2006 hlm 62
57
Sriyono, A Agus dkk. Percikan Pemikiran Diplomat Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.2004 hlm 32
21


BAB 3
Penutup

A. Kesimpulan

Dalam hubungan antarnegara di ASEAN, sengketa tidak dapat dihindari
oleh karena adanya benturan kepentingan dari setiap negara anggota. Maka dari
itu mekanisme penyelesaian sengketa sangat dibutuhkan oleh ASEAN untuk
mencegah sengketa agar tidak menjadi konflik yang berkepanjangan. ASEAN
sendiri telah memliki mekanisme penyelesaian sengketa akan tetapi terdapat
beberapa metode atau cara. Beragamnya mekanisme penyelesaian sengketa di
ASEAN itu perlu dijelaskan secara seksama dan detail sehingga pihak terkait
(stakeholders) tidak keliru. Keberhasilan negara-negara ASEAN untuk
memperkuat kelembagaan dan mekanisme penyelesaian sengketa (dispute
settlement mechanism/DSM) menjadi salah satu agenda terpenting di dalam
memperkuat pilar politik keamanan, dalam konsepsi menyeluruh secara bersama
dan seimbang dengan upaya pembentukan 2 pilar lainnya, yakni di bidang
ekonomi dan sosial budaya.

Melihat penerapan prinsip non intervensi selama lebih dari empat
dasawarsa yang tetap membuat ASEAN bersatu, nampaknya prospek ASEAN di
masa yang akan datang masih akan tetap baik. Hal ini ditambah dengan dibuatnya
Piagam ASEAN yang membuat keanggotaan negara-negara anggota semakin
terikat. Dalam Piagam ini pun prinsip non intervensi masih amat ditekankan.
Prinsip ini memang terbukti ampuh untuk menjaga keutuhan ASEAN. Namun,
Tanpa berniat mengurangi kontribusi penting itu, haruslah diakui bahwa
memasuki dasawarsa keempat usianya, situasi yang dihadapi ASEAN telah
berubah; beragam masalah pun telah timbul. Tak dapat dipungkiri, seiring dengan
bertambahnya usia itu, bertambah dan beragam pula persoalan yang dihadapi.
Apalagi kini anggotanya sudah bertambah menjadi sepuluh dari awalnya hanya
lima.

Akibat dari akumulasi jumlah dan keberagaman masalah yang dihadapi
ASEAN, prinsip non intervensi yang selama ini dianggap penting, justru kerap
dianggap menjadi hambatan terhadap persoalan-persoalan yang senyatanya
memerlukan intervensi dari sesama anggota. Selama ini, dalam konteks hubungan
antarnegara anggota ASEAN, jika permasalahan yang terjadi sudah mulai
berkaitan dengan masalah dalam negeri, hal itu akan menjadi semacam hal yang
tabu bagi negara tetangga lainnya untuk ikut membicarakan solusi pemecahannya
dan bahkan ikut terlibat dalam penyelesaian masalah tersebut.


Akibatnya, terdapat semacam dualisme antara tuntutan mengatasi
sejumlah persoalan bersama yang sedang dihadapi di satu pihak dengan
kekhawatiran terhadap lunturnya kerja sama ASEAN jika prinsip non intervensi
22

ini ditinggalkan di pihak yang lain. Soalnya kemudian ialah jika dualisme itu terus
berlangsung, maka impian ASEAN untuk mewujudkan gagasan-gagasan besarnya
melalui aksi-aksi konkret yang secara nyata menguntungkan negara-negara
anggota akan justru semakin sulit terwujud. Padahal, ukuran keberhasilan suatu
organisasi semakin tinggi dilihat dari aksi-aksi nyata. Dalam tataran pemikiran
demikian, kukuhnya ASEAN memegang prinsip non intervensi justru dapat
dilihat sebagai hambatan terhadap kerja sama ASEAN.

B. Saran

ASEAN adalah sebuah organisasi yang didasarkan pada kenyamanan dan
konsensus bersama negara-negara anggotanya. Tidak ada keharusan bagi anggota
ASEAN untuk maju bersama di dalam satu permasalahan, kalau ternyata ada satu
negara yang tidak setuju terhadap satu usulan, maka usulan itu akan tetap menjadi
usulan belaka, namun tentunya juga akan diupayakan terus agar usulan itu
diterima oleh seluruh anggota. Itu tidak berarti bahwa ASEAN tidak berguna dan
tidak mempunyai kekuatan.

Satu hal yang saya kira harus disadari adalah bahwa ASEAN merupakan
kawasan yang terbebas dari konflik. Dengan tidak adanya konflik diantara sesama
anggota ASEAN, itu sebenarnya sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia
dan masyarakat negara lainnya di kawasan. Tidak dapat dipungkiri bahwa
semakin banyak hubungan internasional yang dilakukan maka semakin banyak
pula kemungkinan terjadinya konflik antar negara apalagi dalam satu kawasan,
sehingga dengan adanya kesepakatan dari masing- masing negara untuk
mengadakan perjanjian diharapkan hubungan antar anggota ASEAN akan tetap
berjalan baik dan perselisihan dapat diselesaikan secara damai