Anda di halaman 1dari 8

PENALARAN INDUKTIF

Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk
menurunkan suatu kesimpulan(Inferensi). Proses penalaran juga disebut sebagai corak berpikir yang
ilmiah. Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap
yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.
Paragraf Induktif dapat diartikan sebagai suatu kalimat yang memiliki gagasan utama yang terletak
didepan sebuah kalimat dan didukung oleh kalimat penjalasan dalam sebuah paragraf. Metode berpikir
induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Contoh :
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai.
Kesimpulan : Jika dipanaskan, logam memuai.

Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Kesimpulan : Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

Contoh penalaran induktif:
Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentang hubungan antara kebiasaan merokok
dengan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur
antara 50 sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaa-pertanyaan tentang kebiasaan
merokok mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnyakeadaan mereka diikuti terus menerus
selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebab kematiaannya,
diperoleh data bahwa diantara 11.870 kematian yang dilaporkan 2.249 disebabkan kanker.
Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang merokok maupun tidak) ternyata angka
kematian di kalangan penghisap rokok tetap jauh tinggi dari pada yang tidak pernah merokok,
sedangkan jumlah kematian penghisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kematian
yang tidak pernah merokok.

Selanjutnya, dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasi positif antara angka kematian dan
jumlah rokok yang dihisap setiap hari . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Dari bukti-bukti yang terkumpul dapatlah dikemukakan bahwa asap tembakau memberikan pengaruh
yang buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindari
kemungkinan itu ialah dengan tidak merokok sama sekali.
(disaring dari tulisan Roger W. Holmes dalam Mc Crimmon)

Paparan di atas menggambarkan proses penalaran induktif. Proses itu dilakukan langkah demi langkah
sampai pada kesimpulan.

1. GENERALISASI

Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat
tertentu mengenai semua atau sebagaian dari gejala serupa. Dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang
diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses
penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut dengan generalisasi. Jadi, generalisasi
adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian gejala yang diamati. Karena itu suatu
generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan
karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik,
dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.
Generalisasi bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang
bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi. Generalisasi hanya akan mempunyai makna yang
penting, kalau kesimpulan yang diturunkan dari sejumlah fenomena tadi bukan saja mencakup semua
fenomena itu, tetapi juga harus berlaku pada fenomena-fenomena lain yang sejenis yang belum
diselidiki. Generalisasi dapat dibedakan menjadi generalisasi yang berbentuk loncatan
induktif dan bukan loncatan induktif.

Generalisasi merupakan proses yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Generalisasi pada kebanyakan
orang terjadi karena pengalama, maka jarang seorang awam memikirkan adanya proses jalan pikiran
yang bersifat induktif yang tercakup didalamnya. Generalisasi bagi orang awam adalah suatu proses
berfikir yang mendahului penyelidikan atas fenomen-fenomena yang khusus dala jumlah yang cukup
banyak untuk menuju pada suatu kesimpulan umum mengenai semua hal yang terlibat. Sebaliknya bagi
seorang peneliti generalissasi harus didahului bukan mendahului penyelidikan atas sejumlah fenomena.
Ia harus mengadakan observasi, penyelidikan dengan penuh kesadaran dan bersikap objektif untuk
sampai kepada sebuag generalisasi.
Pengujian atau evaluasi generalisasi terdiri dari:
1) Harus diketahui apakah sudah cukup banyak jumlah peristiwa yang diselidiki sebagai dasar
generalisasi (ciri kuantitatif).
2) Apakah peristiwa merupakan contoh yang baik (ciri kualitatif).
3) Memperhitungkan kecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi.
4) Perumusan generalisasi harus absah.
Contoh:

Dicky adalah seorang polisi, dia berambut cepak.
Alfa adalah seorang polisi, dia berambut cepak.
Generalisasi: semua polisi berambut cepak
Contoh:
Tamara Blezynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramdani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi : Semua bintang sinetron berparas cantik
Pernyataan "semua bintang sinetron berparas cantik" hanya memiliki kebenaran probabilitas karena
belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh Kesalahannya :
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik

Generalisasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:
A. Generalisasi tanpa loncatan induktif:
Generalisasi tanpa loncatan induktif adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan diselidiki dan tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup
banyak dan meyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.
Sebuah generalisasi tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak
dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. Perbedaan generalisasi
dengan loncatan induktif dengan tanpa loncatan induktif terletak pada persoalan jumlah fenomena yang
diperlukan.
Contoh: sensus penduduk
B. Generalisasi Dengan Loncatan Induktif
Generalisasi Dengan Loncatan Induktif adalah sebuah generalisasi yang bersifat loncatan induktif tetap
bertolak dari beberapa fakta, namun fakta yang ada belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada
Dalam loncatan induktif suatu fenomena belum mencerminkan seluruh faktayang ada. Fakta-fakta
tersebut yang digunakan dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan. Dengan demikian,
loncatan induktif dapat diartikan sebagai loncatan dari sebagian evidensi kepada suatu generalisasi yang
jauh melampaui kemungkinan yang diberikan oleh evidensi itu.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.

2. Hipotese dan Teori
Generalisasi dan hipotese memiliki sifat yang tumpang tindih, namun membedakan kedua istilah
tersebut sangat perlu. Hipotese (hypo di bawah, tithenai menempatkan) adalah semacam teori atau
kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penuntun
dalam meneliti fakta-fakta lain lebih lanjut.
Hipotese merupakan suatu dugaan, teori atau kesimpulan yang bersifat sementara waktu mengenai
sebab-sebab atau relasi antara fenomena-fenomena. Hipotese adalah semacam teori atau kesimpulan
yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu dalam penuntuk dalam
penelitian fakta lebih lanjut.
Dan sebaliknya, teori sebenarnya merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila
dibandingkan dengan hipotese. Teori merupakan hipotese yang telah diuji dan yang dapat diterapkan
pada fenomena-fenomena yang releven atau sejenis. Teori adalah azas-azas yang umum dan abstrak
yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena-
fenomena yang ada. Teori adalah serangkaian bagian atau variable, definisi dan dalil yang saling
berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan
menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud
menjelaskan fenomena alamiah.
Untuk merumuskan hipotese yang baik perhatikan ketentuan berikut:
1) Memperhitungkan semua evidensi yang ada
2) Bila tidak ada alasan lain, maka antara dua hipotesa yang mungkin diturunkan, lebih baik memilih
hipotesa yang sederhanan daripada yang rumit.
3) Sebuah hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia
4) Hipotese buka hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya,tetapi harus menjelaskan fakta-
faktasejenis yang belum diselidiki.
Hubungan hipotese dan teori
Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu
masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis
menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan
hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini, diturunkan, atau
bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.
Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, merupakan hanya
merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan
dalam kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab, teori yang tepat
akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang
diteliti atau dipelajari dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk
meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.

3. ANALOGI INDUKTIF
Pada dasarnya analogi adalah perbandingan. Perbandingan selalu mengenai sekurang-kurangnya dua
hal yang berlainan. Dari kedua hal yang berlainan itu dicari kesamaannya (bukan perbedaanya). Dari
pengungkapannya, ada analogi sederhana serta mudah dipahami dan ada yang merupakan kias yang
lebih sulit dipahami. Dari isinya, analogi dapat dibedakan sebagai analogi dekoratif dan analogi induktif.
Kesimpulan yang diambil dengan jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa
pendapat khusus yang lainnya.
Analogi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama
lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk suatu hal akan berlaku pula untuk hal yang
lain. Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-
bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan
kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan
karyawan-karyawati.
Analogi sebagai suatu proses penalaran yang menurunkansuatu kesimpulan berdasarkan kesamaan
aktual antara dua hal dapat diperinci lagi untuk tujuan berikut:

Untuk meramalkan kesamaan

untuk menyingkapkan kekeliruan

untuk menyusun sebuah klarifikasi

Hubungan Kasual

Analogi induktif merupakan analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena,
kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena
kedua.. Di dalam proses analogi induktif kita menarik kesimpulan tentang fakta yang baru berdasarkan
persamaan ciri dengan sesuatu yang sudah dikenal. Kebenaran yang berlaku yang satu (lama) berlaku
pula dengan yang lain (baru). Yang sangat penting dengan proses analogi induktf ialah bahwa
persamaan yang digunakan sebagai dasar kesimpulan merupakan ciri utama (esensial) yang
berhubungan erat dengan kesimpulan.

Analogi sebagai suatu proses penalaran yang menurunkansuatu kesimpulan berdasarkan kesamaan
aktual antara dua hal dapat diperinci lagi untuk tujuan berikut:
1) Untuk meramalkan kesamaan
2) untuk menyingkapkan kekeliruan
3) untuk menyusun sebuah klarifikasi

Contoh analogi induktif :

Secara tidak sengaja Amara mengetahui bahwa pensil Stedler 4B nya menghasilkan gambar vignette
yang memuaskan hatinya. Pensil itu sangat lunak dan menghasilkan garis-garis hitam dan tebal. Maka
selama bertahun-tahun ia selalu memakai pensil itu untuk membuat vignet. Tetapi, ketika ia belibur di
rumah nenek di sebuah kota kecamatan ia kehabisan pensil. Ia mencari di toko-toko di sepanjang satu-
satunya jalan raya di kota itu. Dimana-mana tidak ada. Akhirnya dari pada tidak mencoret-coret ia
memilih merk lain yang sama lunaknya dengan Stedler 4B. Ini tentu akan menghasilkan vignet yang
bagus juga, putusnya meghibur diri.

Paragraph diatas merupakan contoh dari analogi indukitif. Keputusan Amara merupakan kesimpulan
berdasarkan persamaan sifat kedua merk pensil itu.
4. Hubungan kausal
Hubungan antara sebab dan akibat (hubungan kausal) didalam dunia modern ini, kadang-kadang tidak
mudah diketahui. Tetapi itu tidak berarti bahwa apa yang dicatat sebagai suatu akibat tidak mempunyai
sebab sama sekali.
Hubungan Kausal merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya
bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala
kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-
kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-
hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal
merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan
apapun.
Hubungan kausal dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat
atau dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama.
Hubungan kausal merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah, ilmuwan merancang
eksperimen untuk menentukan sebab-akibat dari kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah
adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis
tersebut.

Pada umumnya hubungan kausal ini dapat berlangsung dalam tiga pola berikut : sebab ke akibat, akibat
ke sebab, dan akibat ke akibat.
a) Sebab ke akibat
Hubungan sebab ke akibat mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang
diketahui, kemudian bergerak maju menuju kepada suatu kesimpulan sebagai efek atau akibat yang
terdekat.
Contoh :
Penekanan tombol lampu, hujan : tanah becek dan berlumpur, pakaian yang dicuci tidak lekas kering
b) Akibat ke sebab
Hubungan akibat ke sebab merupakan suatu proses berfikir yang induktif juga dengan berolak dari suatu
peristiwa yang dianggap sebagai akibat yang diketahui, kemudian menuju sebab-sebab yang mungkin
telah menimbulkan akibat.
Contoh :
Seorang pasien pergi ke dokter karena sakit yang dideritanya
c) Akibat ke akibat
Proses penalaran yang berproses dari suatu akibat menuju suatu akibat yang lain, tanpa menyebut atau
mencari sebab umum yang menimbulkan kedua akibat.

5. Induksi dalam metode Eksposisi
Sebagai telah dikemukakan diatas, untuk menetapkan apakah data dan informasi yang kita peroleh itu
merupakan fakta, maka harus diadakan penelitian, apakah data dan informasi itu merupakan kenyataan
atau yang sungguh-sungguh terjadi. Pada tahap selanjutnya pengarang atau penulis perlu mengadakan
penilaian selanjutnya, guna memperkuat fakta yang akan digunakan sehingga memperkuat kesimpulan
yang akan diambil. Dengan kata lain, perlu diadakannya seleksi untuk menentukan fakta mana yang
akan dijadikan evidensi.
Merupakan salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan
tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan
padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau
pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik,
gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang
langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun eksposisi:
Menentukan topik/tema
Menetapkan tujuan
Mengumpulkan data dari berbagai sumber
Menyusun kerangka karangan sesuai topik yang dipilih
Mengembangkan kerangka menjadi eksposisi
Pada hakikatnya semua metode merupakan proses penalaran yang dapat dimasukan dalam salah satu
corak penalaran utama Metode identifikasi merupakan perumusan katagorial mengenai faktayang
diketahui mengenai suatu obyek garapan. Metode perbandingan bisa mencakup penalaran yang induktif
maupun deduktif. Metode klarifikasi mencakup kedua-duanya. Bila klarifikasi bertolak dari
pengelompokan kedalam suatu kelasberdasarkan ciri yang sama, maka ia merupakan induksi. Dengan
demikian metode yang telah diuraikan dalam eksposisi sekaligus jugadapat dimanfaatkan dalam
argumentasi.

Sumber :
http://aadanwde.wordpress.com/category/tugas/
http://ajitrisambodo1192.blogspot.com/2013/03/penalaran-induktif-generalisasi-analogi.html
http://irfananakgundar.wordpress.com/category/tugas-soft-skill/
http://dendyraharjo.blogspot.com/2012/10/penalaran-induktif.html