Anda di halaman 1dari 44

Assalamua Alaikum

Senang berjumpa dengan


Ibu dan Bapak..
ADA APA DENGAN
ENJI & AYU TINTING ?



AYU
ENJI
MELAWAN ADA POWER
DUKUNGAN IBU &
ANGGITASARI
KERAH PUTIH/KUAT
SHOW
MASKULININITAS
(MANTAN KAPOLRI
& HOTMAN PARIS)
IBARAT CANDIES
IN HALL
MELECEHKAN
PEREMPUAN
KAUM
ABANGAN
TERJADI
KEKERASAN
MARGINAL
DISKRIMINASI
STREOTIPE
BEBAN GANDA

KONFLIK PERAN GENDER
TERKIKIS MASKULINITAS
KORBAN POLIGAMI (KEKERASAN
SEKSUAL)

F
A
K
T
A
BEBAN GANDA
F
A
K
T
A
MARGINALISASI

Testimoni Korban Kekerasan Psikologis
dan Seksual
Paitua selalu bilang perutmu
kayak kulkas, tetekmu kayak
pepaya, siapa yg membuat
jadi bagini? Paitua khan?



Saya disuruh nungging bu
padahal perut ini pe
besar......
F
A
K
T
A
VIOLENCE (KEKERASAN)
FISIK ,PSIKOLOGIS, EKONOMI & SEKSUAL
Perselingkuhan atau poligami tanpa izin isteri,
Pemukulan
Pengurungan di dalam rumah,
Pemasungan hak-hak politik
Pemaksaan perkawinan
Pemaksaan pindah agama mengikuti agama
pasangan,



Larangan untuk belajar atau mengembangkan
karir
Penggunaan istilah yang menyebut ciri fisik atau
status sosial : bahenol, janda kembang, perawan
tua, nenek lincah, dst,
Tindakan yang diasosiasikan sebagai pernyataan
hasrat seksual : kerdipan, suitan, rangkulan
Pemaksaan atau sebaliknya pengabaian
penggunaan kontrasepsi,
Pencabulan, perkosaan, inses,
Pembatasan atau pengabaian pemberian nafkah




VIOLENCE / KEKERASAN THD PEREMPUAN
FISIK,PSIKOLOGIS, EKONOMI & SEKSUAL

Perempuan : sumur - dapur kasur - macak - masak manak :
sekedar ibu rumah tangga dan dianggap sebagai
pengangguran, kalaupun bekerja dianggap sebagai
perpanjangan peran domestik : guru TK, sekretaris, bagian
penjualan, dst.
Perempuan emosional, tidak rasional dan tidak mandiri
sehingga tidak berhak pada fungsi perwakilan dan pemimpin.
Perempuan tidak mampu mengendalikan syahwat : tradisi
sunat perempuan, perda tentang larangan keluar malam bagi
perempuan, janda dianggap sebagai berpotensi mengganggu
rumah tangga orang.
Pria : Kehebatannya dilekatkan pada kemampuan seksual dan
karirnya, menganggap wajar jika laki-laki menggoda
perempuan, selingkuh, poligami, dst.


STEREOTIPE (PELABELAN NEGATIF)
Kerja domestik tidak dihargai setara dengan pekerjaan
publik
Perempuan sering tidak mempunyai akses terhadap
sumber daya ekonomi, waktu luang dan pengambilan
keputusan .
Perempuan kurang didorong / atau memiliki kebebasan
kultural untuk memilih karir daripada rumah tangga atau
akan mendapat sanksi sosial.
Perempuan sering mendapat upah yang lebih kecil
dibanding lelaki untuk jenis pekerjaan yang setara

MARJINALISASI
PROSES PEMINGGIRAN AKIBAT PERBEDAAN JENIS
KELAMIN YANG MENGAKIBATKAN KEMISKINAN

Perempuan sering menjadi korban pertama jika
terjadi PHK
Izin usaha perempuan harus diketahui
ayah (jika masih lajang & suami jika sudah
menikah, permohonan kredit harus seizin suami
Pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan
tertentu terhadap perempuan
Ada beberapa pasal hukum dan tradisi yang
memperlakukan perempuan tidak setara dengan
laki-laki : harta waris, gono-gini, dst.


MARGINALISASI / PEMINGGIRAN
SUBORDINASI /PENOMORDUAAN
Masih sedikit perempuan yang berperan dalam
level pengambil keputusan dalam organisasi /
pekerjaan
Perempuan yang tidak menikah atau tidak punya
anak dianggap lebih rendah secara sosial
sehingga ada alasan untuk poligami.
Perempuan dibayar sebagai pekerja lajang atau
bahkan dikeluarkan karena alasan menikah atau
hamil,
Beberapa pasal hukum tidak menganggap
perempuan setara dengan laki-laki misalnya :
SUAMI BOLEH KAWIN LAGI KALO ISTRI TAK DPT
MEMBERI KETURUNAN


Contoh:
a. Beban pekerjaan di rumah tidak berkurang
dengan adanya peran publik dan peran
pengelolaan komunitas (walaupun
perempuan telah masuk dalam peran
publik/meniti karier peran dalam rumah
tangga masih besar);
b. Pekerjaan dalam rumah tangga, sebagian
besar dikerjakan ibu dan anak perempuan
sedangkan ayah dan anak lelaki terbebas
dari pekerjaan domestik.

DOUBLE BURDEN
(BEBAN GANDA)
DOUBLE BURDEN (BEBAN GANDA)
Perempuan sebagai perawat, pendidik anak, pendamping
suami, juga pencari nafkah tambahan,
Perempuan pencari nafkah utama masih harus mengerjakan
tugas domestik,
Lelaki meski bekerja sebagai mencari nafkah, tetap harus
terlibat dalam peran sosial kemasyarakatan, karena tidak
dapat diwakili oleh perempuan.

KONDISI PEREMPUAN
HDI/IPM
70,09
Sumber: PEMBANGUNAN MANUSIA BERBASIS GENDER 2008,, KEMENTERIAN PP KERJASAMA BPS, JAKARTA
GDI/IPG
61,42
GEM/IDG
63,23
URUTAN
25
URUTAN
5
URUTAN
20
HDI, GDI, GEM
TAHUN 2009
HDI/IPM
71,62
GDI/IPG
63,03
GEM/IDG
66,08
URUTAN
26
URUTAN
13
URUTAN
22
HDI, GDI, GEM
TAHUN 2012
POSISI PEREMPUAN SULTENG
URUTAN KE 26 IPG DARI 33 PROV.DI INDONESIA

MENGALAHKAN

7 PROVINSI
DGN INDIKATOR

-HARAPAN HIDUP
-ANGKA MELEK HURUF
-RATA-RATA LAMA SEKOLAH
-KOMSUMSI RIL/PENGELUARAN


PERKEMBANGAN IPM,IPG & IDG
70.09
61.4
63.23
71.62
63.0
66.08
56
58
60
62
64
66
68
70
72
74
IPM IPG IDG
2009 2012
PENELITIAN TAHUN I KERJASAMA
BAPPEDA & PSW UNTAD
PROFIL IPG DAN IDG SULAWESI TENGAH PADA
5 KAB/KOTA
KOTA PALU
KAB.SIGI
KAB.DONGGALA
KAB.PARIMO
KAB.POSO

1. Menanggulangi Kemiskinan
Dan Kelaparan
2. Mencapai Pendidikan dasar
Untuk Semua
3. Mendorong Kesetaraan dan
Pemberdayaan Perempuan
4. Menurunkan Angka Kematian
Anak
5. Meningkatkan Kesehatan Ibu
6. Memerangi HIV dan AIDS,
Malaria, dan Penyakit Menular
7. Memastikan Kelestarian
Lingkungan Hidup
8. Membangun Kemitraan Global
Untuk Pembangunan

MDGs
VISI DAN
MISI PKHP
UNTUK
MENCAPAINYA
Visi
Perempuan Indonesia yang maju,
Mandiri dan bermartabat

Misi
1. Meningkatkan kesadaran
Perempuan untuk memberdaya
kan diri sendiri (Self-empowered)
2 Meningkatkan taraf pendidikan
dan kesehatan perempuan
3 Meningkatkan peluang kerja dan
berusaha bagi perempuan
4 Meningkatkan keterwakilan
perempuan di lembaga legislatif
5. Meningkatkan peran, posisi, dan
komposisi perempuan di lembaga
eksekutif dan Yudikatif.
6. Meningkatkan martabat
perempuan yang didukung
oleh iklim Sosbudling
yang kondusif
7. Meningkatkan kesadaran
perempuan memahami Hukum
dan HAM
SALAH SATUNYA
ADALAH PERLU
DATA IPM, IPG
DAN IDG UNTUK
MENGUKUR
KEMAJUAN
PEREMPUAN
DI SULTENG
METODE PENGUMPULAN DATA
DOKUMENTASI DARI INSTANSI BAPPEDA, BPS,
DATA SAKERNAS, STATISTIK KESEJAHTERAAN
RAKYAT,BKKBN, DINAS KESEHATAN, DINAS
PENDIDIKAN, DINAS SOSIAL, TENAGA KERJA,
DPRD BAIK TINGKAT PROVINSI MAUPUN
TINGKAT KAB/KOTA
WAWANCARA DAN FGD
NILAI IPG PADA 5 KAB/KOTA 2012
61
59
53
60
69
64
62
55
63
71
0
10
20
30
40
50
60
70
80
POSO DONGGALA PARIMO SIGI PALU
2009 2012
ANGKA HARAPAN HIDUP PADA 5
KAB/KOTA
63.1
63.4
63.3
63.5
68.1
66.9
67.3
67.1
67.4
72
58
60
62
64
66
68
70
72
74
POSO DONGGALA PARIMO SIGI PALU
L P
ANGKA MELEK HURUF
99.0
97.1
96.8
96.7
99.7
97.0
93.8
96.6
96.2
99.2
90.0
91.0
92.0
93.0
94.0
95.0
96.0
97.0
98.0
99.0
100.0
101.0
POSO DONGGALA PARIMO SIGI PALU
L P
RATA-RATA LAMA SEKOLAH
9.0
7.8
7.5
8.1
11.6
8.7
7.5
6.7
7.8
10.7
0.0
2.0
4.0
6.0
8.0
10.0
12.0
14.0
POSO DONGGALA PARIMO SIGI PALU
L P
NILAI IDG PADA 5 KAB/KOTA
0
10
20
30
40
50
60
70
80
POSO DONGGALA PARIMO SIGI PALU
49
50
44
59
69
47
44
53
61
70
2009 2012
NILAI KOMPONEN IDG
16.7 16.7 16.7 16.7
4.0
60.4
53.1
54.2
52.8
44.1
31.8
31.4
28.24
22.4
22.8
0.0
10.0
20.0
30.0
40.0
50.0
60.0
70.0
PALU SIGI DONGGALA PARIMO POSO
NILAI KOMPONEN IDG
PAR.DLM PARLEMEN PEK.PROFESIONAL SUMB.PENDPTAN
PERBANDINGAN NILAI IPM & IPG
0.0
10.0
20.0
30.0
40.0
50.0
60.0
70.0
80.0
POSO DONGGALA PARIMO SIGI PALU
70.7
69.2
70.3
68.2
76.9
63.8
61.9
55.4
62.9
70.8
NILAI IPM NILAI IPG
POSISI 5 KAB/KOTA TERJADI KESENJANGAN GENDER
TAHUN 2012 NILAI IPG LEBIH RENDAH

DIBANDINGKAN

NILAI IPM

TAHUN 2012 DALAM BIDANG PENDIDIKAN RATA-
RATA LAMA SEKOLAH DAN MELEK HURUF LAKI-
LAKI LEBIH TINGGI DARI PEREMPUAN





INDIVIDU

Stigma dalam diri perempuan
Bahwa Setinggi apapun
Sekolah perempuan tetap
Kembali Ke dapur, kurang
Daya juang utk maju

Putus sekolah karena mengurus
Suami dan anak, menjalankan
Fungsi reproduktifnya, hamil
Melahirkan dan menyusui














KEBIAJAKAN NEGARA
/PEMERINTAH
Peraturan yg bias gender

Komitmen dari legislatif
Dan eksekutif tentang
gender budgeti

Pemimpin dan sumber
Daya yang respons
gender










LINK. MASY. DAN
SEKOLAH
Kebijakan sekolah
tidak responsif
gender (anak siswi hamil
Dikeluarkan, sedangkan
siswa pelaku tidak
dikeluarkan, hanya
dipindahlan)

Sekolah belum
berwawasan gender )
tersedia wc siswa dan
siswi

Kurikulum belum berpersfektif gender
(ibu ke pasar,
bapak ke kantor)

jarak sekolah yg jauh
KELUARGA

Memperiotaskan anak
laki-laki melanjutkan
Sekolah

Mendorong kawin
usia dini pada
anak perempuan
ketimbang
laki-laki (takut anak
tidak laku atau
perawan tua)

Rendahnya status sosial
Ekonomi keluarga

EPISENTRUM
PENYEBAB
BUDAYA PATRIARKHI
PERBEDAAN PERAN GENDER
Maskulin : kuat, gagah,
perkasa, pemberani, tegas,
rasional, terus terang, suka
menantang, agresif, dst
Feminin : lembut , perhatian,
perasa , emosional, mengalah,
beraninya di belakang,
bergantung, submisif, dst
Harus berkerja di luar rumah
untuk kerja produksi /
menghasilkan uang
Diberi tempat di dalam rumah
untuk kerja domestik dan
reproduksi
Karena harus menanggung
beban keluarga maka harus
diupah secara utuh
Tidak perlu bekerja mencari
nafkah, kalaupun bekerja
dianggap sbg pelengkap
Laki-laki Perempuan
Melahirkan KETIDAKADILAN GENDER karena oleh
masyarakat sering disalahartikan sebagai kodrat
PERBEDAAN SEKS



Laki-laki
Perempuan

Perempuan : Bisa Hamil, Melahirkan & Menyusui (Peran isteri / Ibu).
Laki-laki : Bisa Membuahi sel telur (Peran suami / ayah).
payudara
vagina
ovarium
menstruasi
sel telur
(kodrat)
penis
testis
sperma
(kodrat)
WOMEN EMPOWERMENT
(PEMBERDAYAAN PEREMPUAN)

Usaha sistematis dan terencana
untuk memperbaiki kondisi dan
posisi perempuan dalam
kehidupan berkeluarga dan
bermasyarakat pada 5 kab/kota
tersebut



1. Penyadaran gender di masyarakat MELALUI
SEMINAR/WORKSHOP/LOKAKARYA,DLL
3. Pembaharuan dan Pengembangan KEGIATAN
PEREMPUAN
5. Pengembangan Kemitrasejajaran Harmonis
6. Sistem Informasi Gender YG TERUS MENERUS
7. Pengembangan Sistem Penghargaan

STRATEGI
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
SULTENG

KITA PASTI SAMA SAMPAI WALAU SY BANYAK BEBAN
TERIMA KASIH