Anda di halaman 1dari 9

1

ORGAN TUBUH MANUSIA SEBAGAI OBJEK WASIAT


Oleh : HARDINAL*
A. PENGANTAR
Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan pemberitaan antara lain masalah penjualan
organ tubuh tiga orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara jiran Malaysia, walaupun
akhirnya dinyatakan tidak terbukti kebenarannya. Dalam tulisan ini penulis mencoba
membahas masalah organ tubuh manusia dan persintuhannya dengan wasiat, yangmana
wasiat termasuk salah satu kompetensi absolut Peradilan Agama sebagaimana dalam
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 pasal 49 huruf c. Wasiat menurut Kompilasi
Hukum Islam (KHI) diatur antara lain dalam pasal 194 ayat (1), menyebutkan orang yang
telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat
mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga. Apakah perkara
wasiat organ tubuh manusia pernah diadili Pengadilan Agama di Indonesia? Agaknya
hingga sekarang belum ada. Namun pada suatu saat bukan hal yang mustahil atau tidak
tertutup kemungkinan kasus wasiat organ tubuh manusia terdaftar di Pengadilan Agama.
Tulisan yang sederhana ini tidak mengupas tentang kasus wasiat organ tubuh, penulis
hanya melihat dari dimensi yuridis dihubungkan dengan pertanyaan : Apakah organ tubuh
manusia termasuk objek wasiat? Bagaimana hukum memanfaatkan organ tubuh manusia
yang telah diwasiatkan (khusus untuk misi kemanusiaan dan bukan untuk komersial)?
*Hakim Pengadilan Tinggi Agama Jayapura.

2

B. WASIAT DAN PERSOALANNYA
Kata wasiat secara etimologis berarti menyampaikan sesuatu. Orang yang berwasiat
adalah orang yang mempunyai pesan di waktu dia masih hidup untuk dilaksanakan
sesudah ia mati. Menurut terminologis, wasiat adalah pemberian seseorang kepada orang
lain berupa barang, piutang, ataupun manfaat untuk dimiliki oleh orang yang diberi wasiat
sesudah orang yang berwasiat mati. Unsur pokok yang melekat dalam perbuatan wasiat,
yaitu sebagai berikut:
1. Redaksi wasiat (sighat), tidak ada redaksi spesifik untuk wasiat. Wasiat dipandang
sah dan mengikat bila diucapkan dengan redaksi bagaimanapun, yang dianggap
menyatakan pemberian hak pemilikan secara sukarela sesudah pemberi wasiat
wafat. Dan wasiat dilakukan secara lisan di hadapan dua orang saksi, atau tertulis di
hadapan dua orang saksi, atau di hadapan Notaris. Dalam wasiat baik secara tertulis
maupun secara lisan harus disebutkan dengan tegas dan jelas siapa atau siapa-siapa
atau lembaga apa yang ditunjuk sebagai penerima harta benda yang diwasiatkan.
2. Pemberi wasiat, harus orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun,
berakal sehat dan tanpa adanya paksaan.
3. Penerima wasiat, pada dasarnya adalah orang lain (bukan ahli waris) atau
lembaga. Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku bila disetujui oleh semua ahli
waris. Persetujuan dimaksud dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi, atau
tertulis di hadapan dua orang saksi, atau di hadapan Notaris.
Wasiat menjadi batal apabila calon penerima wasiat berdasarkan putusan
hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dihukum karena :
a. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya
berat kepada pewasiat;
3

b. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewasiat
telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun
penjara atau hukum yang lebih berat;
c. Dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk
membuat atau mencabut atau merubah wasiat untuk kepentingan calon
penerima wasiat;
d. Dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat
dari pewasiat.
Wasiat menjadi batal pula apabila orang yang ditunjuk untuk menerima
wasiat itu:
a. Tidak mengetahui adanya surat wasiat tersebut sampai ia meninggal dunia
sebelum meninggalnya pewasiat;
b. mengetahui adanya wasiat tersebut, tapi ia menolak untuk menerimannya;
c. mengetahui adanya wasiat itu, tetapi tidak pernah menyatakan menerima atau
menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pewasiat;
Wasiat juga menjadi batal apabila barang yang diwasiatkan musnah. Wasiat
tidak diperbolehkan kepada orang yang melakukan pelayanan perawatan bagi
seseorang dan kepada orang yang memberi tuntunan kerohanian sewaktu ia
menderita sakit hingga meninggalnya, kecuali ditentukan dengan tegas dan
jelas untuk membalas jasa. Dan wasiat tidak berlaku bagi Notaris dan saksi-
saksi pembuat akte tersebut.

4. Objek wasiat, berupa harta benda hak dari pewasiat yang bisa dimiliki, dan berupa
hasil dari suatu benda ataupun pemanfaatan suatu benda. Harta benda (harta
warisan) yang diwasiatkan hanya diperbolehkan maksimal sepertiga, kecuali ada
4

persetujuan lisan atau tertulis dari semua ahli waris. Persetujuan secara lisan
haruslah diucapkan di hadapan dua orang saksi. Dan persetujuan secara tertulis,
boleh dibuat di hadapan dua orang saksi atau Notaris.

C. HUKUM DAN REALISASI WASIAT
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum wasiat. Pendapat pertama
memandang wasiat itu wajib bagi setiap orang yang meninggalkan harta. Pendapat
kedua menyatakan wajib berwasiat kepada kedua orang tua karib kerabat yang
tidak mewarisi dari si mayit. Kedua pendapat ini berdasarkan kepada Al-Quran
surat Al-Baqarah ayat 180 yang artinya : Diwajibkan atas kamu, apabila
seseorang di antara kamu kedatangan tanda-tanda maut, jika dia meninggalkan
harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf
. Adapun pendapat ketiga menyebutkan bahwa hukum wasiat adalah relatif, bisa
wajib, sunah haram, makruh atau jaiz. Jadi sifatnya kondisional. Bila seseorang
mempunyai kewajiban Syari, seperti hutang yang belum dibayar, zakat yang
belum ditunaikan, atau mempunyai suatu amanat yang belum disampaikan, maka ia
wajib berwasiat agar kewajiban tersebut terlaksana. Wasiat disunatkan bila
diperuntukkan bagi kebajikan. Haram berwasiat bilamana ternyata merugikan ahli
waris. Diriwayatkan oleh Said bin Manshur dengan isnad yang shahih, berkata Ibnu
Abbas : Merugikan ahli waris di dalam wasiat itu termasuk dosa besar. Bagi
seseorang yang mempunyai sedikit harta sedangkan ahli warisnya banyak, maka
makruh baginya berwasiat. Dan jaiz berwasiat bagi orang yang kaya.
Kemudian, bagaimana pula hukum merealisasikan wasiat itu? Wasiat wajib
dilaksanakan sesuai dengan yang telah diwasiatkan. Bila wasiat diperuntukkan bagi
pihak ketiga, maka penerima antara wajib merealisasikan sebagaimana yang telah
5

diamanatkan kepadanya oleh pewasiat, sesuai firman Allah yang artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan beberapa amanat kepada
ahlinya. (QS. Anisa : 58).

D. MEWASIATKAN ORGAN TUBUH
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kurun ini turut memperluas
pemahaman kalimat hablum min an-naas dalam konteks Qurani dan kemanusiaan
yang adil dan beradab yang terumus dalam sila kedua dari Pancasila. Ini berarti
adanya komitmen yang utuh untuk mewujudkan kehidupan sosial yang merata
terutama bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah
Saw : Bila saat kiamat telah tiba, padahal di tangan salah seorang kamu masih
tergenggam cangkokan pohon yang masih sempat ditanam menjelang kiamat itu,
maka lakukanlah penanamannya, karena dengan demikian ia akan mendapat
pahala. (HR. Ahmad).
Pesan Rasulullah tersebut mengandung arti bahwa sekalipun seseorang
sudah berada di penghujung kehidupan atau sudah terlihat tanda-tanda kematian
pada dirinya, ia tidak boleh berhenti untuk menanam benih kebajikan (beramal). Ia
harus rela pula berkorban untuk kebutuhan dan kepentingan sesama manusia
(generasi sesudahnya), meskipun hasil dari pengorbanan yang dilakukannya itu
sudah nyata tidak sempat lagi dinikmatinya di dunia ini, seperti berkorban untuk
menolong penderita penyakit yang tidak dapat diobati lagi, dengan mengorbankan
organ tubuhnya sendiri secara sukarela melalui jalur wasiat.
Apakah organ tubuh manusia termasuk objek wasiat? Objek wasiat
sebagaimana dikemukan terdahulu adalah berupa harta benda hak dari pewasiat
yang bisa dimiliki, dan berupa hasil dari suatu benda ataupun pemanfaatan suatu
6

benda. Harta benda yang dimaksud disini adalah harta kekayaan yang secara umum
dapat dimiliki, dapat diwariskan dan atau dapat diwarisi. Menurut ilmu kewarisan,
organ tubuh yang akan diwasiatkan itu tidak tergolong benda seperti tersebut di
atas, karena ia tidak dapat dimiliki oleh setiap manusia pada umumnya dan atau
tidak bisa pula diwariskan atau diwarisi menurut ketentuan hukum faraidh. Namun
secara insidentil ia dapat diberikan atau diwariskan kepada seseorang, atau diwarisi
oleh orang tertentu, dengan pengertian dapat dipindahkan hak kempemilikannya
baik kepada keluarga sendiri maupun untuk orang lain atau kepada bank organ
tubuh untuk disimpan sementara; tetapi harus melalui jalur wasiat, karena organ
tubuh merupakan hak mutlak pemiliknya, sedangkan orang lain tidak mempunyai
kewenangan apapun atas organ tubuh tersebut.
Organ tubuh dapat dikategorikan sebagai objek wasiat, dengan pengertian
boleh diwasiatkan khususnya kepada penderita suatu penyakit tertentu yang tidak
dapat lagi diobati, baik diwasiatkan langsung kepada penderita maupun kepada
bank organ tubuh, karena ketentuan mengenai objek wasiat seperti tersebut di atas
terinklud pada organ tubuh, yaitu berupa benda hak dari pewasiat sendiri, dapat
dimiliki serta bisa dimanfaatkan oleh penerima wasiat dengan bantuan tenaga
medis melalui praktek homo transplantasio (pemindahan dari seseorang kepada
orang lain) dengan alasan misi kemanusiaan bukan untuk misi komersial. Para ahli
hukum Islam klasik menyepakati kaedah Ushul Fiqh : Hukum itu berkisar sekitar
illatnya (substansinya).
Islam pada prinsipnya selalu menganjurkan agar orang selalu hidup higienis
dan berusaha menyembuhkan diri dari suatu penyakit apabila ia sakit. Hal itu
dimaksudkan supaya tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah dapat terlaksana
7

seperti dijelaskan dalam QS. Az-Zariyat ayat 56 : Allah tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mengabdi kepadaNya.
Banyak usaha yang dilakukan orang untuk menghalau penyakit yang
menghinggapi dirinya. Di era kontemporer dapat berobat dengan memanfaatkan
fasilitas teknologi tinggi dalam dunia medis, yaitu antara lain dengan transplantasi
organ tubuh mayat (yang telah diwasiatkan terlebih dahulu). Bagaimana hukumnya
berobat dengan mentransplantasi organ tubuh mayat? Rasulullah memperingatkan :
Janganlah kamu mencela orang-orang yang sudah mati (HR. Bukhari). Dan,
sesungguhnya merusak tulang mayat sama (hukumnya) dengan merusak tulang
orang yang hidup (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah).
Merusak organ tubuh mayat pada dasarnya tidak dapat dibenarkan (haram
hukumnya). Jangankan merusak, mencela mayat saja sudah termasuk hal yang
dilarang oleh Rasulullah Saw, karena orang yang sudah meninggal dengan orang
yang masih hidup di mata hukum dipandang sama, yaitu sama-sama tidak boleh
disakiti atau dirusak fisiknya tanpa alasan yang sah.
Mentransplantasi organ tubuh mayat memang identik dengan merusak
struktur fisik orang yang sudah meninggal, maka hukumnya menjadi haram pula.
Namun dalam kondisi tertentu, Allah memberikan kelonggaran atau pengecualian,
yakni dengan firmanNya : Siapa yang terpaksa dengan tidak durhaka dan tidak
melampaui batas tidak ada dosa baginya (QS. Al-Baqarah ayat 173). Dan,
sesungguhnya Ia telah terangkan kepada kamu yang Ia haramkan atas kamu,
kecuali apa-apa yang terpaksa kamu menggunakannya (QS. Al-Anam ayat 119).
Ini menunjukkan hukum Islam tidak selalu kental (kaku). Walaupun materi
hukum dasar menetapkan haram merusak organ tubuh mayat, namun dalam kondisi
8

terpaksa (dharurat), karena tidak ada alternatif lain selain menggunakan organ
tubuh mayat sebagai obat penyembuh bagi suatu penyakit tersebut, maka hukum
dasar dapat bergeser secara revolusif dan kondisional sehingga melakukan
transplantasi serta memanfaatkan organ tubuh mayat dapat dibenarkan oleh Syariat
Islam. Kondisi dharurat itu membolehkan apa yang terlarang, demikian norma
fiqhiyah mengisyaratkan.
Hukum berobat adalah wajib dan hukum melaksanakan wasiat juga wajib.
Kewajiban manakah yang mesti didahulukan? Keduanya bersintuhan objek,
sehingga sulit untuk memilah mana yang harus didahulukan. Bila salah satu telah
dilaksanakan, berarti sudah dilaksanakan kedua-duanya. Namun yang paling urgen
untuk diperhatikan adalah kondisi penderita. Bila penderita dimaksud berada dalam
kondisi dharurat, maka dia boleh berobat dengan menggunakan organ tubuh mayat
lantaran sangat dibutuhkannya (hajah). Kaedah ushul fiqh menyatakan : Hajat itu
menempati pada tempat dharurat baik secara umum maupun khusus. Dan di saat
itu pulalah dia wajib untuk melaksanakan apa yang telah diwasiatkan kepadanya,
dengan pengertian dia tidak diperkenankan menggunakan organ tubuh selain yang
telah diwasiatkan kepadanya. Rasulullah memperingatkan : Allah telah
menyediakan obat bagi tiap-tiap penyakit. Karena itu berobatlah, tetapi janganlah
berobat dengan sesuatu yang haram (HR. Abu Daud), kecuali dalam keadaan
terpaksa. Rasulullah pernah menganjurkan seseorang yang sedang sakit berobat
dengan benda yang berkadar najis, yaitu di saat tidak ditemukan obat lain yang
suci lagi halal. Sabda Rasulullah, diterima dari Abu Hurairah tentang urine unta
di mana orang Muslim berobat dengannya, tidak apa atau boleh (HR. Bukhari).
9

Kebolehan berobat dengan benda yang bernajis tersebut tentu saja
sepanjang tidak menimbulkan efek sampingan yang terlalu besar bagi penderita,
sednagkan berobat dengan benda yang tidak bernajispun bila mendatangkan bahaya
tetap dilarang seperti berobat dengan besi panas. Sabda Rasulullah : Kesembuhan
dari penyakit itu adalah dengan melakukan tiga hal : Berbekam, minum madu dan
dibakar dengan besi panas. Tetapi aku melarang umatku membakar dengan besi
panas itu (HR. Bukhari).
Demikianlah kiranya tulisan yang amat sederhana ini, semoga ada
manfaatnya.
DAFTAR BACAAN
Al-Quran Al-Karim
Abu Daud, Sunan Abi Daud, Jilid II, Mustafa al-Baby al-Halaby, Kairo, 1952
Ali Akbar, Kesehatan Dalam Islam, Fajar Shadiq, Jakarta, 1974
Hasbi Ash-Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1975
Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di
Indonesia

Jalaluddin As-Syayuthi, Al-Asybahu wa an-Nadzair, al Munawwarah, Semarang, t.th

Mahmud Yunus, Soal Jawab Hukum Islam dalam Empat Mazhab, Pustaka Saadiyah
Putra, Padang Panjang, 1969

Med. Ahmad Ramali, Kamus Kedokteran, Jambatan, Jakarta, 1981
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, PT Lentera Basritama, Jakarta, 1996

Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani, Nail al-Authar, Mustafa al-Baby al-
Halaby, Kairo, 1953

Mustafa Muhammad Imarah, Jawahiru Al-Bukhari, Al-Istiqamati, Bahirati, 1371
Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid III, Dar al-Kitabi al-Arabi, Beirut, t.th
Zainuddin Hamidy dkk, Terjemah Hadits Shahih Bukhari, Wijaya, Jakarta, 1992
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun
2009.