Anda di halaman 1dari 5

1.

Kenapa perokok pasif cenderung mengalami gangguan pernafasan dibandingkan


perokok aktif ?
Jawab :
Sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke
tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk
ke tubuh orang di sekelilingnya. Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok
pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak
terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung
rokok yang dihisap. Racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari
ujung rokok yang sedang tak dihisap. Sebab asap yang dihasilkan berasal dari
pembakaran tembakau yang tidak sempurna. Udara cemar yang dihirup oleh para
perokok pasif menimbulkan kumatnya penderita asma dan gejala-gejala lain yang
membahayakan bagi para penderita alergi lainnya. Disamping itu juga dapat
membahayakan fungsi jantung bagi yang menderita jantung koroner. Mereka dilanda
konsentrasi asap yang sangat membahayakan; terutama karena mengandung kadar
karbon monoksida yang melebihi kadar yang dianggap aman bagi kesehatan. Mereka
secara tidak langsung juga ikut menghirup asap rokok yang dinikmati oleh orang lain.
Penelitian menemukan bahwa telah ditemukan kadar nikotin yang dapat diukur dalam
darah dan urine para perokok pasif, tragis! Karbon monoksida mampu merembes
melalui dinding alveoli ke dalam darah. Lebih mudah dari oksigen yang dibutuhkan
oleh tubuh. Keberadaan karbon monoksida dalam darah mencegah darah untuk
menyerap jumlah oksigen yang normal dibutuhkan. Dengan demikian orang harus
bernafas lebih cepat dan jantung harus memompa lebih kuat untuk mendapatkan
oksigen yang diperlukan. Artinya peristiwa ini akan meningkatkan tekanan dan
memberikan beban yang lebih berat pada jantung. Sesuatu yang lebih serius dan
sangat ditakuti, asap rokok mengandung tar yang dikenal sebagai penyebab kanker.
Asap rokok yang mengandung nikotin juga merangsang dinding pipa bronkial. Makin
lama rangsangan ini makin meningkat dan tubuh akan membuat lebih banyak lendir
untuk mencoba menenangkan pipa-pipa bronkial, sehingga menimbulkan bronkitis
dan/atau emfisema.


2. Apa yang menyebabkan penyempitan bronkus pada penderita asma ?
Jawab :
Secara umum terjadi penyempitan bronkus akibat terjadinya kejang pada otot-otot
bronkus, peradangan pada mukosa bronkus, dan peningkatan produksi lendir sehingga
meningkatkan perlawanan atas keluarnya udara pada saat menghembuskan napas. Hal
ini menyebabkan penggelembungan paru dan suara mengi (wezing). Selain itu hal
tersebut menyebabkan akan batuk bahkan dapat sampai sesak napas.
3. Kenapa pada penderita paru-paru basah, bakteri pneumonia menyerang alveolus ?
Jawab :
Virus menyerang sel yang ada di dalam tubuh hanya untuk bereproduksi. Biasanya,
virus masuk paru-paru ketika seseorang menghirup udara melalui mulut dan hidung
yang mengandung virus. Setelah berada di dalam paru-paru, virus menyerang sel-sel
yang melapisi saluran udara dan alveoli. Invasi virus ini menyebabkan kematian sel,
baik ketika virus langsung membunuh sel, atau melalui apoptosis sel yang
dikendalikan untuk menghancurkan diri. Ketika sistem kekebalan tubuh merespon
infeksi virus, yang mencoba merusak paru-paru. Sel darah putih, terutama limfosit,
mengaktifkan sitokin kimia tertentu yang memungkinkan cairan bocor ke dalam
alveoli. Kombinasi dari kerusakan sel dan alveoli berisi cairan inilah yang
mengganggu transportasi normal oksigen ke dalam aliran darah. Sehingga merusak
paru-paru dan menjadi penyebab penumonia.
4. Apa yang menimbulkan penebalan pada dinding saluran pernafasan bagi penderita
asma?
Jawab:
Remodeling adalah perubahan ukuran, massa, atau jumlah komponen struktural
jaringan yang terjadi dalam pertumbuhan atau sebagai respons terhadap jejas dan/atau
inflamasi. Perubahan tersebut bisa baik, seperti yang terjadi dalam masa pertumbuhan
paru normal atau sebagai respons terhadap jejas akut, dan bisa juga tidak baik, bila
menjadi kronik dan menyebabkan perubahan fungsi atau struktur jaringan yang
abnormal. Airway remodeling adalah suatu istilah kolektif yang bisa didefinisikan
sebagai perubahan menetap dari struktur saluran napas normal yang mencakup
perubahan dalam komposisi, organisasi, dan fungsi dari sel-sel struktural. Perubahan
struktural tersebut meliputi fibrosis subepitelial, peningkatan massa otot polos,
hiperplasia kelenjar mukosa, serta peningkatan vaskularisasi bronkial. Dengan
demikian maka airway remodeling menimbulkan penebalan dinding salurannapas
pada penderita asma.
5. Salah satu penyebab dari pneumonia adalah mikroorganisme. Bagaimana cara
mikroorganisme dalam merusak dan menginfeksi epitel saluran pernafasan?
Jawab:
Ada beberapa cara mikroorganisme mencapai permukaan :
1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3. Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi dipermukaan mukosa
Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah secara kolonisasi. Secara
inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau jamur.
Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5 -2,0 m melalui udara dapat mencapai
bronkiolus terminal atau alveol dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi
kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke
saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini merupakan
permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi dari sebagian kecil sekret
orofaring terjadi pada orang normal waktu tidur (50 %) juga pada keadaan penurunan
kesadaran, peminum alkohol dan pemakai obat (drug abuse).
6. Bagaimana dampak yang terjadi pada saluran pernafasan baik dari proksimal, perifer,
hingga paru-paru terkait dari PPOK tersebut?
Jawab:
Pada emfisema terjadi inflamasi yang menyebabkan perubahan patologi berupa
peningkatan sel inflamasi di sebagian besar bagian paru meliputi saluran napas
proksimal, saluran napas perifer dan parenkim paru.
Pada saluran napas proksimal (trakea dan bronkus berdiameter > 2 mm) terjadi
peningkatan sel inflamasi yaitu makrofag, limfosit CD 8+ (sitotoksik), sedikit
neutrofil dan eosinofil. Selain itu terjadi peningkatan jumlah sel goblet dan
pembesaran kelenjar submukosa, keduanya menyebabkan hipersekresi.
Pada saluran napas perifer (bronkiolus dengan diameter < 2 mm) terjadi
peningkatan sel-sel inflamasi seperti pada saluran napas proksimal, ditambah
limfosit B, folikel limfoid, dan fibroblast.
Kelainan pada parenkim paru berupa kerusakan bronkiolus dan alveolus.
Kerusakan pada dinding alveolus menyebabkan mereka bergabung seperti
sekelompok anggur menjadi kantong udara yang lebih besar, bentuk tidak teratur
dan ada celah di antara alveoli tersebut. Struktur demikian menyebabkan
berkurangnya luas permukaan dinding alveoli yang kontak dengan kapiler darah,
sehingga jumlah oksigen yang masuk ke pembuluh darah juga berkurang.
7. Seorang wanita berumur 43 tahun mengidap penyakit asma. Wanita tersebut memakai
obat asma yang dihisap tetapi suka sekali menghisap menthol dragon. Apakah ada
efek sampingnya?
Jawab:
Untuk kebiasaan wanita tersebut dalam menghirup obat asma menthol dragon
sebaiknya tidak menggunakannya lagi, karena obat tersebut menyebabkan peradangan
pada saluran bronchus bagi si penderita. Sumber utama masalahnya adalah pada efek
menthol yang terkandung didalam obat asma tersebut, menthol tersebut akan
meningkatkan cairan lendir, merubah suasana asam basa serta kelembaban dirongga
hidung dan akan mengakibatkan ketergantungan pada si penderita.
8. Pada bayi yang mengalami penyakit pneumunia, apakah penyakit tersebut mempunyai
efek samping ketika dia tumbuh semakin besar ?
Jawab:
Iya, Anak yang pada awalnya sudah menderita penyakit pneumunia nantinya akan
terjadi kangguan pada saat dia tumbuh besar dapat mengalami berbagai efek samping
seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik, gangguan
pendengaran dan keterlambatan bicara.
9. Apabila ada seseorang yang menderita asma dari kecil, kemudian suatu saat kambuh
lagi, dan pada saat kambuh dia harus di inhalasi, tapi bolehkan seseorang tersebut di
inhalasi saat dia hamil muda misalnya usia kehamilannya (1,5bln)?.dan apakah orang
tersebut bisa mahirkan normal dan tidak secara cesar ?
Jawab :
Apabila seseorang yang mempunya asma, maka sebaiknya dia memberikan informasi
tersebut pada dokter OBSGYN . Pada umumnya ibu hamil dengan riwayat asma akan
menggunakan cara dan pengobatan yang sama seperti pada kondisi sebelum hamil,
namun hal ini dapat di evaluasi kembali dan di bicarakan antara orang yang
bersangkutan dengan dokternya tergantung pada keadaan seseorang saat itu.
Penggunaan inhaler untuk mengatasi serangan asma biasanya dianjurkan, agar mereka
dapat dengan cepat mengatasi serangan tersebut dan distribusi oksigen antara ibu
dengan janin tidak terganggu. Perhatikan lingkungan sekitar, hindari pencetus dari
bangkitan asma, hindari hal-hal yang dapat menyebabkan alergi (seperti bulu hewan,
debu, asap rokok dan lain-lain.). Mengenai rencana persalinan, sulit di ketahui apakah
kondisi asma tidak akan muncul ketika waktu persalinan tiba nantinya, maka itu
selain merencanakan persalinan pervaginam, seseorang tersebut dan dokter OBSGYN
mungkin akan merencanakan di lakukannya bantuan persalinan lainnya bila serangan
asmanya muncul pada saat persalinan nanti.

Anda mungkin juga menyukai