Anda di halaman 1dari 23

Agneska Ernestia Lastasa

111.0211.018
Perdarahan yg berasal dari distal
ligamenentum Treitz dan usus besar.
80% akan berhenti spontan.
Angka mortalitas 2-4%.

Feses yg diselimuti darah atau darah menetes
keluar diduga berasal dari perdarahan hemoroid
Diare yg bercampur darah disertai nyeri perut
dicurigai suatu proses inflamasi kolon
Nyeri saat feses keluar -> fisura ani
Perubahan pola buang air besar
Bentuk feses dan BB turun -> proses keganasan

Fisik
Ada/tidak dampak hemodinamik akibat perdarahan
DRE -> menilai ada tidaknya massa dan klarifikasi bentuk
feses/darah yg ada
Lab
Px darah perifer lengkap, protrombin, elektrolit, dan gol.darah
Adanya koagulopati dan trombositopenia harus segera dikoreksi
Anoskopi
Menentukan sumber perdarahan di anorektal -> ada tidaknya
hemoroid interna dan fisura ani
Sigmoidoskopi
Menilai kolon bagian kiri (rektum, sigmoid, kolon desendens)
Kolonoskopi
Bersifat diagnostik dan terapeutik
Akurasi 48-90%
Diprioritaskan pada > 45th
Perlu persiapan yg baik
4 liter cairan elektrolit osmotik seimbang (PO/NGT)
Mempertimbangkan kondisi pasien
Barium Enema
Tidak berperan pada perdarahan masif SCBB
Dapat mengganggu penilaian lanjut spt endoskopi atau
arteriografi bila diperlukan
Scan sel darah merah
Px pilihan bila perdarahan mjd kendala px kolonoskopi atau
Perdarahan tetap berlanjut karena kolonoskopi tdk
memperlihatkan sumber perdarahan

Perdarahan SMBB dapat berupa :
hematokezia : keluarnya darah segar per rektum atau
dalam bentuk maroon stool.
melena : keluarnya feses berwarna hitam per rektal
yang mengandung campuran darah, biasanya disebabkan
oleh perdarahan usus proksimal.
pseudomelena : darah berwarna merah tua kehitaman
yang dikeluarkan per rektum dengan latar belakang
putih dan daerah kemarahan di tepinya.
Manifestasi tersering dari perdarahan SCBB
Biasanya berasal dari perdarahan kolon bgian
kiri (kolon desendens, sigmoid, anorektal).
Maroon stool berasal dari kolon kanan
(caecum dan kolon asendens).
Kolitis ulseratif
Tumor di kolon
Hemoroid
Divertikulosis di kolon
Angiodisplasia
Kolitis Chrons
Penyakit radang kolon nonspesifik yang umumnya
berlangsung lama disertai masa remisi dan eksaserbasi
yang berganti-ganti.
Puncak insiden kolitis ulseratif adalah pada usia 30
sampai 50 tahun.
Etiologi belum jelas, kemungkinan genetik dan
autoimun.
Gx klinis : kram perut, perdarahan rektum, anemia,
fatigue, tdk nafsu makan, lesi kulit, lesi mata, dll.




Perdarahan terjadi sebagai akibat dari ulserasi.
Lesi berlanjut, yang terjadi secara bergiliran,
satu lesi diikuti oleh lesi yang lainnya.
Proses penyakit mulai pada rektum dan akhirnya
dapat mengenai seluruh kolon.
Akhirnya usus menyempit, memendek, dan
menebal akibat hipertrofi muskuler dan deposit
lemak.
Terapi Obat - obatan
Obat-obatan sedatif dan antidiare/antiperistaltik digunakan untuk
mengurangi peristaltik sampai minimum untuk mengistirahatkan
usus yang terinflamasi. Terapi ini dilanjutkan sampai frekuensi
defekasi dan konsistensi feses pasien mendekati normal.
Sulfonamida seperti sulfasalazin (azulfidine) atau sulfisoxazol
(gantrisin) biasanya efektif untuk menangani inflamasi ringan dan
sedang. Antibiotik digunakan untuk infeksi sekunder, terutama
untuk komplikasi purulen seperti abses, perforasi, dan peritonitis.
Azulfidin membantu dalam mencegah kekambuhan.
Pembedahan
digunakan untuk mengatasi kolitis ulseratif bila
penatalaksaan medikal gagal dan kondisi sulit
diatasi
pembedahan dapat diindikasikan pada kedua
kondisi untuk komplikasi seperti perforasi,
hemoragi, obstruksi megakolon, abses, fistula,
dan kondisi sulit sembuh.

Adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada
dinding kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon
yang tinggi pada konstipasi kronik.
Terjadi pada usia lanjut yang makannya rendah serat.
Terjadi bila penumpukan sisa makanan pada
divertikular menyebabkan peradangan.
Keluhan : kram pada bagian kiri bawah perut, mual,
kembung, muntah, konstipasi atau diare, menggigil,
dan demam.
Mengkonsumsi makanan yang kaya akan serat
(sayuran, buah-buahan dan sereal) bisa
mengurangi gejala dan mencegah terjadinya
komplikasi.
Diet rendah serat sebaiknya dihindari karena
akan lebih banyak membutuhkan tekanan untuk
mendorong isi usus.
Divertikulosis tidak membutuhkan pembedahan.
Keabnormalan pada KGB dan pembuluh darah
termasuk aplasia, hiperplasia, dan hipoplasia.
Biasanya tjd pd usia >60 tahun, tetapi ada kasus
baru yang tjd pada anak dan infant.
Etiologi terkait dengan degenerasi dari integritas
vascular.
Gx klinis : perdarahan gastrointestinal tanpa
nyeri.
Tatalaksana
Suplementasi Fe
Terapi hormonal berupa estrogen atau dikombinasi
dengan progesterone
I : pasien dengan gagal ginjal atau telangiectasia
KI : pasien dengan riwayat tromboembolisme,
aterosklerosis, atau neoplasma
Transfusi darah pada pasien dengan perdarahan yang
akut.
Peradangan menahun pada dinding usus yg
mengenai seluruh ketebalan dinding usus.
Kebanyakan terjadi pada bagian terendah
dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun
dapat terjadi pada bagian manapun dari
saluran pencernaan.
Etiologi : blm diketahui, kemungkinan
imunitas, infeksi, dan makanan
Gx klinis : diare menahun, nyeri kram perut,
demam,nafsu makan berkurang dan
penurunan berat badan.
Px fisik : ditemukan benjolan atau rasa
penuh pada perut bagian bawah, lebih sering
di sisi kanan.
Pola umum penyakit Crohn :
Peradangan -> nyeri dan nyeri tekan di perut bawah
sebelah kanan.
Penyumbatan usus akut yang berulang -> kejang dan
nyeri hebat didinding usus, pembengkakan perut,
sembelit dan muntah-muntah
Peradangan & penyumbatan usus parsial menahun ->
kurang gizi dankelemahan menahun
Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung
infeksi berisi nanah (abses) -> demam, adanya massa
dalam perut yang terasa nyeri dan penurunanberat
badan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram
perut yang terasa nyeri dan diare berulang,t
erutama pada penderita yang juga memiliki
peradangan pada sendi, mata dan kulit.
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi
penyakit Crohn
Px darah -> anemia, peningkatan abnormal dari
jumlah sel darah putih, kadar albumin yang
rendah, tanda-tanda peradangan lainnya.
Barium enema -> gambaran yang khas untuk
penyakit Crohn pada usus besar.
Kolonoskopi dan biopsi untuk memperkuat
diagnosis.
CT scan bisa memperlihatkan perubahan di
dinding usus dan menemukan adanya abses,
namun tidak digunakan secara rutin sebagai
pemeriksaan diagnostik awal
Tatalaksana
Membantu mengurangi peradangan dan
meringankan gejala
Kram dan diare dpt diatasi dgn obat
antikolinergik, loperamide, opium, yg dilarutkan
dlm alkohol dan codein. Diberikan PO a.c
Sering diberikan antibiotik spektrum luas.
Pembedahan