Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Mutiara Ners, Vol. 2, No.6.

Juli 2011
HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DENGAN SIKAP DAN TINDAKAN
DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS FUNGSIONAL PASIEN PASCA STROKE
DI LINGKUNGAN III KELURAHAN DWIKORA MEDAN 2010
Janno Sinaga* Marlinto Buulolo**
Abstrak
Stroke merupakan penyakit kecacatan paling besar yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota badan. Pasien
stroke membutuhkan penanganan yang komprehensif, termasuk upaya pemulihan dan rehabilitasi dalam jangka
lama. eluarga sangat berperan dalam fase pemulihan ini, sehingga pengetahuan keluarga dalam pera!atan
sangatlah penting untuk dapat mempercepat memandirikan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan pengetahuan keluarga dengan sikap dan tindakan dalam meningkatkan kapasisitas fungsional pasien
pasca stroke di lingkungan """ elurahan #!ikora Medan $ahun %&'&. Jenis penelitian adalah deskriptif
korelasi. Populasi penelitian adalah seluruh anggota keluarga pasien pasca stroke yang berjumlah (& orang
dengan total sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara membagikan kuesioner
langsung kepada keluarga. )ji statistik yang digunakan adalah spearman rank. *asil penelitian pengetahuan
keluarga mayoritas cukup +,-,./0, baik +1(,(/0 dan kurang +-,./0. Sikap keluarga dalam meningkatkan
kapasisitas fungsional pasca stroke adalah mayoritas baik +,&,&/0, cukup +(-,./0 dan kurang +'(,(/0.
Sedangkan tindakan keluarga dalam meningkatkan kapasisitas fungsional pasca stroke adalah mayoritas cukup
+,-,./0, baik +(-,./0 dan kurang +-,./0. )ji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara
pengetahuan dengan sikap dan tindakan keluarga dalam meningkatkan kapasitas fungsi penderita paska stroke di
2ingkungan """ elurahan #!ikora Medan %&'& +p 3 &,&&& dan &,&&10. Saran penelitian #iharapkan sejak a!al
pera!atan keluarga dilibatkan dan dilakukan pendidikan kesehatan oleh pera!at, sehingga saat pulang keluarga
mampu melaksanakan perannya dengan baik dan tepat dalam meningkatkan kapasitas fungsional penderita
paska stroke.
Kata ku!" # P$%$ta&ua k$'uar%a( S"ka)( T"*aka *a Ka)as"tas +u%s",a'-
PENDAHULUAN
Stroke adalah serangan otak akibat gangguan
peredaran darah otak. Stroke di negara maju
merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
penyakit jantung dan kanker pada kelompok usia
lanjut, sedangkan di "ndonesia menduduki
peringkat pertama. #ata menunjukkan, setiap
tahunnya stroke menyerang sekitar ', juta orang di
seuruh dunia +Syamsudin, %&&40. #i 5merika
Serikat, lebih kurang lima juta orang pernah
mengalami stroke. #i 5sia khususnya "ndoensia
setiap tahun diperkirakan ,&& ribu orang mengami
serangan stroke. #ari jumlah tersebut, sekitar %,,/
diantaranya meninggal dunia dan sisanya
mengalami cacat ringan maupun berat. #ata pasien
stroke di abupaten Sukoharjo, pada tahun %&&-
pasien stroke yang tercatat di puskesmas !ilayah
Sukoharjo sebanyak 4% orang dan yang tercatat di
rumah sakit yang ada di !ilayah Sukoharjo tercatat
'.(.1 orang. 5ngka kejadian penyakit stroke
sebesar '-.,(' per '&&& penduduk +#
Sukoharjo, %&&-0. Pada tahun %&&6 berdasarkan
pasien yang masuk di rumah sakit se7 abupaten
Sukoharjo terdapat kasus sebanyak '(&% orang,
yang meliputi 8S)# Sukoharjo .66 orang, 8S
dr.9en Solo Baru (&. orang, dan 8umah Sakit
:arsis '4% orang +# Sukoharjo, %&&.0.
asus stroke meningkat di negara maju seperti
5merika, dimana kegemukan dan makanan cepat
saji +junk food 0 telah me!abah. Berdasarkan data
statistik di 5merika, setiap terjadi .,&.&&& kasus
stroke baru di 5merika. #ari data tersebut
menunjukkan bah!a setiap 1, menit, ada satu
orang di 5merika yang terkena serangan stroke.
Berdasarkan data World Health rganisation ;
<*9, diseluruh dunia tahun %&&% diperkirakan ,,,
8
Jurnal Mutiara Ners, Vol. 2, No.6. Juli 2011
juta orang meninggal akibat stroke dan
diperkirakan tahun %&%& penyakit jantung dan
stroke menjadi penyebab utama kematian di dunia
+Projodisastro, %&&40. #i "ndonesia sekitar 6&&7
'&&& kasus stroke terjadi setiap tahunnya.
Berdasarkan Sur=ey esehatan 8umah $angga
tahun '44, dan Surkesmas %&&' penyakit utama
penyebab kematian adalah penyakit sistem sirkulasi
+%1,1/0. Sedangkan laporan #itjen :anmedik
#epkes 8epublik "ndonesia, penyakit utama
penyebab kematian di rumah sakit adalah stroke.
5ngka kejadian stroke menurut data dasar -(,,%
per '&&.&&& penduduk pada kelompok usia lebih
dari -, tahun. Secara kasar setiap hari ada dua
orang "ndonesia mengalami serangan stroke.
Berdasarkan studi pendahuluan di lingkungan """
kelurahan #!ikora Medan diketahui angka
penderita hipertensi yang tercatat pada tahun %&&4
yang merupakan faktor resiko terjadinya stroke
sebesar ',& orang, dan terdapat pasien stroke
sejumlah 1% orang dan (& orang diantaranya dalam
keadaan ketergantungan pada anggota keluarga
untuk pemenuhan aktifitas sehari7hari. Sekitar 4&/
pasien yang terserang stroke tiba7tiba mengalami
kelemahan atau kelumpuhan separo badan. $anda
dan gejala lainnya adalah tiba7tiba kehilangan rasa
peka, bicara cadel atau pelo, gangguan bicara dan
berbahasa, gangguan penglihatan, mulut mencong
atau tidak simetris ketika menyeringai, gangguan
daya ingat, nyeri kepala hebat, =ertigo, kesadaran
menurun, dan beberapa tanda dan gejala lain yang
menunjukkan adanya gangguan fungsi otak +>nny,
dkk, %&&60.
Pera!atan Pasien Stroke, antara lain?
'. Mengatur posisi tidur.
$empat tidur yang ideal bagi pasien stroke
adalah tempat tidur yang padat pada bagian
kepala cukup keras untuk menopang berat
ketika disandarkan @ tempat tidur tunggal
memungkinkan orang yang mera!at meraih
pasien dari kedua sisi. Posisi pasien harus
diubah setiap %7( jam berupa telentang, miring
ke sisi yang sehat dan miring ke sisi yang
sakit. Memastikan pasien memiliki kasur yang
sesuai. Mengubah posisi lengan dan tungkai
setiap '7% jam sepanjang siang dan malam.
Pijatlah tungkai yang lumpuh sekali atau dua
kali sehari. Menggerakkan semua sendi di
tungkai yang lumpuh secara lembut dan
perlahan7 lahan +yaitu lurus dan menekuk0 ,7.
kali. Menopang lengan hemiplegik +lemah0
dengan sebuah bantal, jangan membaringkan
pasien terlentang atau menarik lengan yang
lumpuh +>nny, dkk, %&&60.
%. Pera!atan ulit
Pera!atan kulit yang cermat sangat penting
untuk mencegah dekubitus +luka tekan karena
tekanan0 dan infeksi kulit , adanya hal7hal ini
menunjukkan bah!a pera!atan pasien kurang
optimal. eduanya sebaliknya dicegah alih7
alih diobati, karena dekubitus menimbulkan
nyeri dan sembuhnya lama, jika terinfeksi,
luka ini dapat mengancam nya!a. Pada pasien
stroke, dekubitus dapat terjadi karena
berkurangnya sensasi dan mobilitas.
"nkontinensia dan malnutrisi, termasuk
dehidrasi, juga meningkatkan risiko timbulnya
dekubitus dan menghambat proses
penyembuhan.
9rang yang tidak dapat bergerak harus sering
diputar dan diresposisi dan seprai mereka
harus selalu terpasang kencang. Bagi pasien
yang hanya dapat berbaring atau duduk dikursi
roda, bagian7bagian tubuh yang paling berisiko
antara lain adalah punggung ba!ah +sakrum0,
pantat, paha, tumit, siku,bahu dan tulang
belikat +skapula0. Sekali sehari , gunakan
spons kering untuk membantali titik tekanan
ini agar mencegah tertekannya saraf dan
terbentuknya dekubitus +Aeigin, %&&10.
(. Pera!atan mata dan mulut.
Pasien yang tidak dapat minum tanpa bantuan
harus dibersihkan mulutnya dengan sikat
lembut yang lembab atau kapas penyerap
sekitar sekali satu jam. Pera!atan mulut
yang teratur sangat penting, terutama untuk
pasien yang sulit atau tidak menelan. Bunakan
kain lembab yang bersih untuk membersihkan
kelopak mata pasien jika diperlukan. Jika
pasien yang mengantuk terus menbuka mata
dalam jangka panjang, mata mereka dapat
mengering, yang bisa menyebabkan infeksi
dan ulkus kornea. )ntuk mencegah hal ini, di
anjurkan penutupan mata dan penggunaan
pelumas, salep, atau air mata buatan yang
dapat dibeli bebas +'7% tetes setiap (71 jam0
+Aeigin, %&&10.
9
Janno !inaga" Marlinto #u$ulolo Hu%ungan &engetahuan
'eluarga ...
Pastikan mulut pasien telah kosong sehabis
makan, sehingga tidak tersisi makanan di
mulut pasien. Bersihkan gigi dan mulut
sebelum dan setelah pasien makan untuk
menghindari terjadinya infeksi jamur dan gigi
berlubang +>nny, dkk, %&&60.
1. Melatih menelan dan makan.
esulitan menelan sangat berbeda dari satu
pasien ke pasien lainnya. 5hli terapi !icara
akan memberikan nasihat mengenai konsitensi
makanan dan minuman yang sesuai. 5nda
mungkin dinasehati untuk menghindari
makanan tertentu, misalnya makanan yang
terlalu keras, kering, atau beremah7remah.
Cairan dapat dikentalkan melalui beberapa
cara. Makanan pengental dapat dibeli di apotik
pasar s!alayan +misalnya, bubuk puding
instan0. 5nda dapat dengan mudah
mengentalkan susu dengan pisang rebus yang
ditumbuk bubur ; pure buah atau produk susu
yang kental seperti (oghurt.
)ntuk mencegah tersedak dan pneumonia
aspirasi semua makanan harus disantap dalam
keadaan duduk jangan berbaring.
Menganjurkan pasien untuk menekuk leher
dan kepala untuk mempermudah menutupnya
jalan nafas ketika pasien menelan. #an
menganjurkan pasien pada saat menelan
memutar kepala ke sisi yang lemah. )ntuk
mencegah tumpah, letakan piring pada alas
antiselip dan, paling tidak pada a!alnya,
mungkin sebaiknya digunakan piring yang
cekung sehingga makanan tidak mudah
tumpah. $erdapat alat7alat bantu untuk orang
yang makan dengan satu tangan dan juga
terdapat mangkuk telur yang dapat
ditempelkan ke meja. 5hli terapi okupasional
biasanya menilai kebutuhan pasien akan alat7
alat semacan ini +>nny dkk, %&&60.
,. Melatih berbicara dan menulis.
Sekitar separuh dari pasien stroke akut mula
akan mengalami masalah bahasa, termasuk
berbicara pelo, tetapi hanya sekitar sepertiga
pasien stroke terus mengalami masalah ini
dikemudian hari. Masalah bicara yang menetap
paling sering terjadi pada pasien yang
mengalami kelumpuhan disisi kanan tubuh
+atau kadang7kadang disisi kiri dari orang
kidal0. Pasien mungkin tidak memahami
pembicaraan orang lain atau mampu
mengekspresikan diri mereka dengan jelas
secara =erbal, atau keduanya.
Bagi orang mengalami gangguan bicara dan
menulis, ahli terapi !icara dapat menyusun
program terapi spesifik untuk berbicara dan
berbahasa. 9rang yang mera!at dapat di minta
membantu dengan memberikan kesempatan
bagi pasien untuk mendengar orang berbicara
atau mencoba berkomunikasi dengan tulisan,
gambar, memberikan ja!aban ya;tidak,
memperlihatkan bahasa tubuh atau
menggunakan kontak mata espresi !ajah.
Pasien sebaiknya untuk berkomunikasi tentang
kebutuhan sehari7hari.
Berbicaralah dengan pasien aphasia jangan
mengabaikannya apabila tidak mengerti
dengan apa yang dikatakan,ini akan membuat
dia frustasi dan sakit hati. Berbicaralah dengan
kalimat yang pendek dan sederhana, member
tekanan pada kata yang penting. )lang kalimat
lain yang makananya sama bila pasien tidak
mengerti. Berikan kesempatan kepada pasien
untuk berkomunikasi secara total +Aeigin,
%&&10.
-. Penga!asan Dutrisi
Penyakit stroke biasanya berhubungan dengan
jenis makanan yang dikonsumsi sehari7hari.
#an penyakit ini biasanya dia!ali dengan
penyakit hipertensi dan hiperkolesterol. #an
ada baiknya penderita stroke mengurangi
makan makanan yang dapat memperberat
penyakit, dan sebaliknya
Pasien stroke membutuhkan penanganan yang
komprehensif, termasuk upaya pemulihan dan
rehabilitasi dalam jangka lama, bahkan sepanjang
sisa hidup pasien eluarga sangat berperan dalam
fase pemulihan ini, sehingga sejak a!al pera!atan
keluarga diharapkan terlibat dalam penanganan
pasien +Mulyatsih, %&&60.
eluarga adalah ) *he famil(+ group of related
indi,idual -ho li,e together and .ooperated as a
unit/. eluarga merupakan kelompok indi=idu
yang ada hubungannnya, hidup bersama dan
berkerja sama di dalam suatu unit +5leE $hio
'4640. eluarga juga merupakan salah satu
indikator dalam masyarakat apakah masyarakat
10
Jurnal Mutiara Ners, Vol. 2, No.6. Juli 2011
sehat atau sakit. +>fendi, '4460. Salah satu fungsi
keluarga adalah fungsi pera!atan; pemeliharaan
kesehatan +the health .are fun.tion0 yaitu fungsi
mempertahankan keadaan anggota keluarga agar
tetap memiliki produkti=itas tinggi.
#alam hal ini keluarga harus mempunyai
pengetahuan yang benar tentang penyakit stroke
dan penanganannya. urang pengetahuan tentang
penyakit stroke akan mengakibatkan penyakit
bertambah parah, mungkin akan terjadi serangan
ulang dan mengakibatkan pasien tidak dapat
melakukan akti=itas secara mandiri,bahkan dapat
terjadi kematian. +Aeigin, %&&10.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian deskriptif korelasi untuk
mengidentifikasi hubungan pengetahuan keluarga
terhadap sikap dan perilaku dalam mera!at pasien
pasca stroke, pegamatan yang dilakukan adalah
butuh satu kali saja, dimana dilakukan saat
penelitian berlangsung, sehingga penelitian yang
dilakukan adalah penelitian deskriptif sederhana
dengan mengunakan pendekatan 1ross !e.tional
yaitu penelitian dengan melakukan pengukuran
atau pengamatan pada saat bersamaan dalam satu
!aktu +*idayat, %&&40.
Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari sampai
dengan 5gustus %&'& %&'&. Penelitian ini
dilaksanakan di 2ingkungan """ elurahan #!ikora
Medan. Populasi dalam penelitian adalah semua
keluarga yang mera!at pasien pasca stroke
dirumah lingkungan """ kelurahan #!ikora Medan
sebanyak (& orang, dengan metode pengabilan
sampel digunakan total sampling. +*idayat, %&&40.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan sur,e(, dimana peneliti lansung
mengumpulkan data dari responden. "nstrument
yang digunakan adalah kuesioner. #imana jumlah
kuesioner yang akan diberikan adalah '1
pernyataan dan - pertayaan. uesioner data
=ariabel akan berisi pernyataan dan pertayaan
tentang pemgetahuan, sikap dan tindakan.
Menganalisa hubungan antar =ariabel digunakan uji
!pearman 2ank pada F &,&,.
HASIL PENELITIAN
*asil Penelitian tentang karekteristik indi=idu
dapat dilihat pada tabel berikut ?
Tab$' 1-
D"str"bus" Kar$kt$r"st"k R$s),*$
B$r*asarka U.ur( P$*"*"ka *a
P$k$r/aa *" L"%ku%a III K$'ura&a
D0"k,ra M$*a Ta&u 2010
N, Kar$kt$r"st"k R$s),*$ + 1
'.
U.ur
(& G (4 $ahun 6 %-,. /
%. 1& G 14 $ahun 4 (&,& /
(. ,& G ,4 $ahun 4 (&.& /
1. -& G -4 $ahun 1 '(,1 /
$otal (& '&& /
'.
P$*"*"ka T$rak&"r
S# '& ((,( /
%. S2$P , '-,. /
(. SM5 '( 1(,( /
1. #iploma ' (.( /
,. Sarjana ' (.( /
$otal (& '&& /
'.
P$k$r/aa
PDS - %&,& /
%. Pega!ai S!asta - %&,& /
(. <iras!asta 6 %-,. /
1. Petani '& ((,( /
$otal (& '&& /
Tab$' 2-
D"str"bus" P$%$ta&ua R$s),*$ *" L"%ku%a
III K$'ura&a D0"k,ra M$*a Ta&u 2010-
N, T"%kat P$%$ta&ua + 1
'. urang % -,. /
%. Cukup ', ,&,& /
(. Baik '( 1(,( /
$otal (& '&& /
Tab$' 2-
D"str"bus" S"ka) R$s),*$ *" L"%ku%a III
K$'ura&a D0"k,ra M$*a Ta&u 2010-
N, S"ka) + 1
'. urang 1 '(,( /
%. Cukup '' (-,. /
(. Baik ', ,&,& /
$otal (& '&& /
Tab$' 3-
D"str"bus" T"*aka R$s),*$ L"%ku%a III
K$'ura&a D0"k,ra M$*a Ta&u 2010-
N, T"*aka Fr$ku$s" P$rs$tas$
'. urang % -,. /
%. Cukup '. ,-,. /
(. Baik '' (-,. /
$otal (& '&& /
11
Janno !inaga" Marlinto #u$ulolo Hu%ungan &engetahuan
'eluarga ...
Tab$' 4-
Has"' U/" Stat"st"k D$%a S)$ar.a5s
R&, Atara P$%$ta&ua K$'uar%a *a S"ka)
L"%ku%a III K$'ura&a D0"k,ra M$*a
Ta&u 2010-
6ar"ab$' r
2
P- 7a'u$
Pengetahuan G Sikap &.- &.&&&
Pengetahuan 7 $indakan &., &.&&1
PEMBAHASAN
*asil penelitian menunjukkan bah!a umur
keluarga yang mera!at pasien pasca stroke di
2ingkungan """ elurahan #!ikora Medan adalah
1& G 14 $ahun +(&,& /0, ,& G ,4 $ahun +(&,&/0,
(& G (4 +%-,./0 dan -& G -4 +'(,1/0. dari data
tersebut menunjukan bah!a umur anggota keluarga
yang mera!at pasien pasca stroke di rumah sangat
cukup karena umur tersebut keluarga masih bisa
mampu untuk melakukan berbagai akti=itas.
Menurut Singgih +'4460 mengemukakan bah!a
makin tua umur seseorang maka proses7proses
perkembangan mentalnya bertambah baik, akan
tetapi pada umur tertentu, bertambahnya proses
perkembangan mental ini tidak secepat seperti
ketika berumur belasan tahun. Selain itu 5hmadi
+%&&'0, juga mengemukakan bah!a memang daya
ingat seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh
umur..
Menurut Dotoadmojo +'44.0 pendidikan adalah
suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk
mengembangkan atau meningkatkan kemampuan
tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat
berdiri sendiri. Menurut *ery.<.5, +'44-0,
menyebutkan bah!a tingkat pendidikan turut pula
menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap
dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh,
pada umumnya semakin tinggi pendidikan
seseorang makin semakin baik pula
pengetahuannya.
$ingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi
seseorang untuk lebih menerima ide7ide dan
teknologi baru +S#", '44.0. Pendidikan juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
persepsi seseorang. arena dapat membuat
seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan
dan bertindak.
Pengetahuan keluarga dalam meningkatkan
kapasitas fungsional pasien pasca stroke di
lingkungan """ kelurahan d!ikora Medan tahun
%&'' adalah cukup. Pengetahuan yang cukup dapat
meningkatkan kapasitas fungsional pasien pasca
stroke secara berlahan7lahan dan meminimallkan
bantuan keluarga terhadap pasien stroke dirumah.
yang pengetahun memilki sasaran tertentu,
memiliki metode atau pendekatan untuk mengkaji
objek tertentu sehingga memperoleh hasil yang
dapat disusun secara sistematis dan diakui secara
umum, maka terbentuklah disiplin ilmu. #engan
kata lain pengetahuan dapat berkembang menjadi
ilmu bila memenuhi antara lain mempunyai objek
kajian, mempunyai metode pendekatan dan bersifat
umum. Pengetahuan merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang, sebab perilaku yang didasari oleh
pengetahuan dan kesadaran akan lebih baik dari
pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
karena apabila perilaku tersebut tidak didasari oleh
pengetahuan dan kesadaran maka perilaku tersebut
tidak akan berlangsung lama. Dotoatmojo +%&&(0.
Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit
adalah pengalaman seseorang tentang keadaan
sehat dan sakitnya seseorang yang menyebabkan
seseorang tersebut bertindak untuk mengatasi
masalah sakitnya dan bertindak untuk
mempertahankan kesehatannya atau bahkan
meningkatkan status kesehatannya. 8asa sakit akan
menyebabkan seseorang bertindak pasif dan atau
aktif dengan tahapan7tahapannya. Meliono,
"rmayanti, dkk. +%&&.0.
Sikap keluarga dalam meningkatkan kapasitas
fungsional pasien pasca stroke di lingkungan """
kelurahan d!ikora Medan tahun %&'' adalah baik.
Sikap yang baik akan berpegaruh besar dalam
meningkatkan kapasitas fungsional pasien pasca
stroke. De!comb, salah seorang ahli psikologis
sosial, menyatakan bah!a sikap itu merupakan
kesiapan atau kesedian untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Sikap keluarga dalam pera!atan pasien pasca
stroke seharusnya baik dilakukan karena dapat
mempercepat akti=itas pasien pasca stroke. Jadi
kesimpulanya jika pengetahuannya cukup maka
sikap dan tindakan akan lebih baik mendukung
untuk meningkatkan kemandirian pasien pasca
stroke. Dotoatmojo +%&&(0. Sikap keluarga yang
12
Jurnal Mutiara Ners, Vol. 2, No.6. Juli 2011
terbuka terhadap pasien pasca stroke akan
mendapat stimulus dan respon dari pasien pasca
stroke. dalam hal ini untuk meminimalkan
imobilitas pasien pasca stroke akan semakin baik
tetapi sebaliknya jika sikap keluarga tertutup maka
untuk meminimalkan imobilitas pasca stroke akan
semakin lama.
Sikap keluarga harus menerima dan menghargai
anggota keluarga yang sedang dira!at dan
membina hubungan kekeluargaan yang baik demi
me!ujudkan penyembuhan pasien pasca stroke.
eluarga juga harus bertanggungja!ab atas segala
keperluan yang dibutuhkan pasien pasca stroke,
keluarga memberikan moti=asi atau dukungan pada
anggota keluarganya yang sedang dira!at dirumah.
$indakan yang dilakukan oleh keluarga yang
mera!at pasien pasca stroke harus bersifat positif,
5gar menpercepat memandirikan pasien pasca
stroke untuk berakti=itas sebaliknya jika tindakan
yang dikakukan keluarga negatif, maka untuk
memandirikan pasien pasca stroke dan berakti=itas
pasca stroke akan semakin lama. eluarga harus
mengenal tindakan yang dilakukan terhadap pasien
pasca stroke dan menjadikan pengalaman yang
baik. 5pabila keluarga melakukan tindakan dengan
benar secara otomatis untuk meminimalkan
imobilitas pasien pasca stroke akan semakin baik
Dotoatmojo +%&&(0.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian tentang
hubungan pengetahuan keluarga dengan sikap dan
tindakan dalam meningkatkan kapasitas fungsional
pasien pasca stroke di lingkungan """ keluraha
d!ikora medan tahun %&'&, dapat di simpulkan
bah!a Pengetahuan keluarga dalam meningkatkan
kapasitas fungsional pasien pasca stroke cukup
+,-,./0, sedangkan sikap keluarga cukup +(-,./0,
dan tindakan keluarga dalam meningkatkan
kapasitas fungsional pasien pasca stroke cukup
+,-,./0. *ubungan antara Pengetahuan keluarga
dengan sikap adalah kuat dengan nilai r
%
3 &,- dan
P 3 &,&&&, sedangkan *ubungan antara
Pengetahuan keluarga dengan tindakan adalah
cukup dengan nilai r
%
3 &,, dan P 3 &,&&1. .
Saran penelitian #iharapkan sejak a!al pera!atan
keluarga dilibatkan dan dilakukan pendidikan
kesehatan oleh pera!at, sehingga saat pulang
keluarga mampu melaksanakan perannya dengan
baik dan tepat dalam meningkatkan kapasitas
fungsional penderita paska stroke.
KEPUSTAKAAN
>nny H 5idiIa, 5. %&&6. !troke. Balai Penerbit
A)" ? Jakarta.
>=ianggarini. %&&4. !troke &em%unuh No. 3 4i
4unia. #i peroleh tanggal ( 5pril %&'&.
http?;;!!!.medicastore.com
Aeigin, J, %&&4. !troke. P$. Bhuana "lmu Populer ?
Jakarta.
Junaidi, ". %&&6- !troke 567. P$. Bhuana "lmu
Populer ? Jakarta.
2umbantobing, S. M. %&&.. !troke #en.ana
&eredaran 4arah 4i tak. A)" ? Jakarta.
Dotoadmodjo, %&&(. &endidikan dan &erilaku
'esehatan. 8ineka Cipta ? Jakarta.
Dotoadmodjo, %&&,. Metode &enelitian. >disi
8e=isi. 8ineka Cipta ? Jakarta.
Sudjana. %&&'- Metode !tatistika. >disi %. Bandung
? $arsito.
SmeltIer H Bare, %&&6. #uku 5jar 'epera-atan
Medikal #edah. >BC ? Jakarta.
)tami, P. %&&4. !olusi !ehat Mengatasi !troke.
5groMedia ? Jakarta.
:astroski, %&&(. 2isiko *inggi *erjadin(a
4eku%itus. 8disi ketiga. http;;stroke. %&
Aebruari %&'&.
:astroki, %&&6. !troke. http;; Stroke.9keIone.Com.
13