Anda di halaman 1dari 12

2.

1 Klasifikasi
Klasifikasi tumor saraf pusat oleh World Health Organization (WHO), yaitu :
4,5

1. Tumor neuroepitelial
1) Tumor glial
a. Astrositoma
- Astrositoma pilositik
- Astrositoma difus
- Astrositoma anaplastik
- Glioblastoma
- Xantoastrositoma pleomorfik
- Astrositoma subependimal sel raksasa
b. Tumor oligodendroglial
- Oligodendroglioma
- Oligodendroglioma anaplastik
c. Glioma campuran (mixed glioma)
- Oligoastrositoma
- Oligoastrositoma anaplastik
d. Tumor ependimal
- Ependimoma myxopapilari
- Subependimoma
- Ependimoma
- Ependimoma anaplastik
e. Tumor neuroepitelial lainnya
- Astroblastoma
- Glioma koroid dari ventrikel III
- Gliomatosis serebri


2) Tumor neuronal dan campuran neuronal-glial
a. Gangliositoma
b. Ganglioglioma
c. Astrositoma desmoplastik infantil
d. Tumor disembrioplastik neuroepitelial
e. Neurositoma sentral
f. Liponeurositoma serebelar
a. Paraganglioma
3) Tumor non-glial
a. Tumor embrional
- Ependimoblastoma
- Meduloblastoma
- Tumor primitif neuroektodermal supratentorial
b. Tumor pleksus khoroideus
- Papiloma pleksus khoroideus
- Karsinoma pleksus khoroideus
c. Tumor parenkim pineal
- Pineoblastoma
- Pineositoma
- Tumor parenkim pineal dengan diferensiasi intermediet
2. Tumor meningeal
1) Meningioma
2) Hemangoperisitoma
3) Lesi melanositik
3. Tumor germ cell
1) Germinoma
2) Karsinoma embrional
3) Tumor sinus endodermal (yolk sac)
4) Khoriokarsinoma
5) Teratoma
6) Tumor germ cell campuran

4. Tumor sella
1) Adenoma hipofisis
2) Karsinoma hipofisis
3) Kraniofaringioma
5. Tumor dengan histogenesis yang tidak jelas
1) Hemangioblastoma kapiler
6. Limfoma system saraf pusat primer
7. Tumor nervus perifer yang mempengaruhi SSP
8. Tumor metastasis
Berdasarkan lokasi tumor pada jaringan otak, maka dapat dibagi menjadi kelompok
tumor intra aksial, ekstra aksial dan intra ventrikuler. Tumor intra aksial disebut juga sebagai
tumor intraserebral, yaitu tumor yang terdapat dalam jaringan otak. Sedangkan tumor ekstra-
aksial adalah tumor yang terdapar diluar jaringan otak, dan kerap disebut pula ekstraserebral.
Tunor intra-ventrikular adalah tumor yang terdapat dalam ventrikel otak:
1
1. Tumor intra-aksial
a. Tumor supratentorial
Glial, Astrositik
- Astrositoma derajat rendah
- Astrositoma anaplastik
- Glioblastoma multiforme
Glial Non Astrositik
- Oligodendroglioma
- ganglioglioma
- tumor disembrioblastik neuroepitelial
Non-Glial
- Limfoma serebri primer
- Tumor metastasis
b. Tumor infratentorial
Glial, Astrositik
- Astrositoma pilositik juvenilis
- Astrositoma (derajat rendah, anaplastik, glioblastoma)
Non-Glial
- Meduloblastoma
- Hemangioblastoma
- Tumor metastasis
2. Tumor ekstra aksial
a. Supratentorial
Dural
- meningioma
- hemangioperisitoma
- tumor metastasis
Hipofisis
- adenoma hipofisis
Pineal
- pineositoma
- tumor germ cell
- pineoblastoma
Suprasellar
- kraniofaringioma
- tumor germ cell
- limfoma
- tumor metastases
- astrositoma pilositik juvenilis
Basis kranii
- kordoma
- plasmasitoma
- tumor metastase
- tumor kondroid
b. Infratentorial
Dural
- meningioma
- hemangioperisitoma
- tumor metastase
Sudut serebelo-pontin
- meningioma
- schwannoma
- epidermoid
3. tumor intra ventrikel
a. Supratentorial
- tumor pleksus khoroideus
- neurositoma
- meningioma
- tumor metastase
b. Infratentorial
- ependimoma/subependimoma
tumor pleksus khoroideus

2.2 Gejala Klinis
Gejala klinis tumor intrakranial dibagi atas 3 kategori, yaitu gejala umum, gejala lokal
dan gejala lokal yang tidak sesuai dengan lokasi tumor.
a. Gejala Umum
Gejala umum timbul akibat peningkatan tekanan intrakranial atau proses difus dari tumor
tersebut. Tumor ganas menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada tumor jinak. Tumor
pada lobus temporal depan dan frontal dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang
sangat besar tanpa menyebabkan defisit neurologis dan pada mulanya hanya memberikan gejala-
gejala yang umum. Tumor pada fossa posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih sering
memberikan gejala fokal dahulu baru kemudian memberikan gejala umum. Terdapat 4 gejala
klinis umum yang berkaitan dengan tumor otak, yaitu perubahan status mental, nyeri kepala,
muntah, dan kejang.
3
Perubahan status mental
Gejala dini dapat samar. Ketidakmampuan pelaksanaan tugas sehari-hari, lekas marah,
emosi yang labil, inersia mental, gangguan konsentrasi, bahkan psikosis.
3
Fungsi kognitif
merupakan keluhan yang sering disampaikan oleh pasien kanker dengan berbagai bentuk,
mulai dari disfungsi memori ringan dan kesulitan berkonsentrasi hinggga disorientasi,
halusinasi, atau letargi.
7
Nyeri kepala
Nyeri kepala merupakan gejala dini tumor intrakranial pada kira-kira 20% penderita.
Sifat nyeri kepalanya berdenyut-denyut atau rasa penuh di kepala seolah-olah mau
meledak.
3
Awalnya nyeri dapat ringan, tumpul dan episodik, kemudian bertambah berat,
tumpul atau tajam dan juga intermiten. Nyeri juga dapat disebabkan efek samping dari
obat kemoterapi. Nyeri ini lebih hebat pada pagi hari dan dapat diperberat oleh batuk,
mengejan, memiringkan kepala atau aktifitas fisik.
7
Lokasi nyeri yang unilateral dapat
sesuai dengan lokasi tumornya sendri. Tumor di fossa kranii posterior biasanya
menyebabkan nyeri kepala retroaurikuler ipsilateral. Tumor di supratentorial
menyebabkan nyeri kepala pada sisi tumor, di frontal orbita, temporal atau parietal.
3
Muntah
Muntah ini juga sering timbul pada pagi hari dan tidak berhubungan dengan makanan.
Dimana muntah ini khas yaitu proyektil dan tidak didahului oleh mual. Keadaan ini lebih
sering dijumpai pada tumor di fossa posterior.
3
Kejang
Kejang fokal merupakan manifestasi lain yang biasa ditemukan pada 14-15% penderita
tumor otak.
7
20-50% pasien tumor otak menunjukan gejala kejang. Kejang yang timbul
pertama kali pada usia dewasa mengindikasikan adanya tumor di otak. Kejang berkaitan
tumor otak ini awalnya berupa kejang fokal (menandakan adanya kerusakan fokal
serebri) seperti pada meningioma, kemudian dapat menjadi kejang umum yang terutama
merupakan manifestasi dari glioblastoma multiforme.
3
Kejang biasanya paroxysmal,
akibat defek neurologis pada korteks serebri. Kejang parsial akibat penekanan area fokal
pada otak dan menifestasi pada lokal ekstrimitas tersebut, sedangkan kejang umum
terjadi jika tumor luas pada kedua hemisfer serebri.
7
b. Gejala lokal (localizing signs)
1. Tumor Kortikal
Lobus frontalis
Lobus frontal memiliki berbagai fungsi penting, termasuk fungsi motorik, bahasa, atensi,
fungsi eksekutif, judgment, perencanaan (planning) dan pemecahan masalah (problem
solving). Gejala lokal yang sering timbul akibat tumor di lobus frontalis adalah sakit
kepala yang merupakan gejala dini dan muntah timbul pada tahap lanjut.
1
Tumor di lobus
frontalis daerah prefrontal bisa memberikan gejala gangguan mental sebelum munculnya
gejala lainnya, berupa perubahan perasaan, kepribadian dan tingkah laku serta penderita
merasakan perasaan selalu senang (euforia); jadi menyerupai gejala psikiatris. Makin
besar tumomya, gejala gangguan mental ini semakin nyata dan kompleks. Afasia motorik
(gangguan bicara bahasa berupa hilangnya kemampuan mengutarakan maksud) bisa
terjadi bila tumor mengenai daerah area Broca yang terletak di belahan kiri belakang.
Reflck memegang (grasp reflex) juga khas untuk tumor di lobus frontalis ini. Pada
stadium yang lebih lanjut bisa terjadi gangguan pembauan (anosmia), gangguan visual,
gangguan keseimbangan dalam berjalan, gangguan bola mata karena kelumpuhan
sarafnya serta edema papil. Tumor di daerah presentral bisa menimbulkan gejala kejang
fokal pada sisi kontralateral. Kelumpuhan motorik timbul bila terjadi destruksi atau
penekanan oleh tumor terhadap jalur kortikospinal.
8


Lobus temporalis
Tumor lobus temporalis bila berada di daerah unkus akan menimbulkan gejala halusinasi
pembauan dan pengecapan (uncinate fits) disertai gerakan gerakan bibir dan lidah
(mengecapngecap). Bila lesinya destruktif akan menimbulkan gangguan pembauan dan
pengecapan walau tidak sampai total. Tumor di lobus temporal bagian media bisa
menimbulkan gejala "seperti pernah mengalami kejadian semacam ini sebelumnya" (deja
vu). Bisa juga terjadi gangguan kesadaran sesaat (misalnya selagi penderita berjalan kaki)
tapi tidak sampai terjatuh. Gangguan emosi berupa rasa takut/panik bisa juga muncul.
Berkurangnya pendengaran bisa terjadi pada tumor yang mengenai korteks di bagian
belakang lobus temporal. Tumor di hemisfer dominan bagian belakang (area Wcrnicke)
menimbulkan gejala afasia sensoris, yaitu kehilangan kemampuan memahami maksud
pembicaraan orang lain. Tumor yang berkembang lebih lanjut akan melibatkan jalur
kortikospinal sehingga menyebabkan kelumpuhan anggota badan sisi kontralateral. Bisa
juga terjadi herniasi dan menekan batang otak sehingga menyebabkan gangguan pada
beberapa saraf kranial, misalnya terjadi dilatasi pupil sesisi yang menetap atau
menghilangkan reflek kornea.
8


Lobus parietalis
Tumor di lobus parietalis pada umumnya akan memberikan gejala gangguan sensoris.
Lesi iritatif bisa menimbulkan gejala parestesi (rasa tebal, kesemutan atau seperti terkena
aliran listrik) di satu lokasi, yang kemudian bisa menyebar ke lokasi lainnya. Lesi
destruktif akan menyebabkan hilangnya berbagai bentuk sensasi, tapi jarang anestesi
total. Gangguan diskriminasi terhadap rangsang taktil, astereognosis (tak bisa mengenali
bentuk benda yang ditaruh di tangan) merupakan bentuk-bentuk gejala yang sering
timbul. Tumor yang tumbuh ke arah lebih dalam bisa menimbulkan gejala hiperestesi,
seperti merasakan rangsang yang berlebih padahal rangsang yang sebenarnya terjadi
hanya ringan. Atau bisa juga mengenai jalur optik (radiatio optica) sehingga timbul
gangguan penglihatan sebagian. Tumor pada girus angularis kiri bisa menimbulkan gejala
yang disebut aleksia (kehilangan kemampuan memahami katakata tertulis). Sedang pada
yang kanan menyebabkan gejala berupa gangguan dalam menyadari adanya sisi sebelah
dari tubuh. Setengah kasus pasien dengan tumor parietal mengalami kejang, yang
umumnya berupa tipe motorik atau sensorik sederhana.
8

Lobus oksipital
Tumor di lobus oksipitalis memberikan gejala awal terutama nyeri kepala Tumor lobus
oksipital memberikan gejala gangguan visual. Defek lapangan pandang yang paling
sering adalah hemianopsia homonim kongruen yang melibatkan makula. Kejang oksipital
fokal umumnya ditandai oleh adanya episode penglihatan kilatan cahaya, warna-warni,
atau bentuk-bentuk pola geometris secara kontralateral. Adanya gangguan visuospatial
terhadap benda bergerak menuju hemiperimeter yang berlawanan menunjukan adanya
kerterlibatan pada pusat penatapan oksipital (occipital gaze center). Kadang kadang dapat
pula terjadi metamorphosia (distorsi pada bentuk gambaran visual). Lesi di hemisfer
dominan bisa menimbulkan gejala tidak mengenal benda yang dilihat (visual object
agnosia) dan kadang-kadang tidak mengenal warna (agnosia warna), juga tidak mengenal
wajah orang lain (prosopagnosia).
1,8

c. Tumor Pada Ventrikel Ketiga dan Daerah Pineal
1

Tumor yang terletak di dalam atau berdekatan ventrikel ketiga seringkali
mengobstruksi ventrikel atau akuaduktus, sehingga terjadi hidrosefalus. Perubahan
posisi dapat secara mendadak akan meningkatkan tekanan ventrikuler dan dapat
menyebabkan nyeri kepala frontal atau verteks, muntah-muntah, atau bahkan sampai
terjadi sinkop. Tumor pada regio ventrikel ketiga juga dapat menyebabkan gangguan
memori, diabetes insipidus, amenorhea, galaktorhea, dan gangguan satiasi (rasa
kenyang) atau termoregulasi.
Tumor daerah pineal dapat menyebabkan hidrosefalus bila mengobstruksi bagian
posterior ventrikel ketiga. Sindroma Parinaud (disosiasi refleks akomodasi-cahaya
pupil dan gangguan pada vertical gaze) disebabkan oleh adanya tekanan pada tektum
dari otak-tengah dan komisura posterior. Pubertas prekoks dapat terjadi pada anak
laki-laki dengan tumor daerah pineal.

d. Tumor Pada Batang Otak
Midbrain
Tumor di daerah mesensefalon sering menekan jalur supra nuklear dari nukleus n. III
& IV sehingga menimbulkan gangguan konyugasi bola mata. Juga terjadi dilatasi
pupil sebelah mata (anisokori) yang bereaksi negatif terhadap rangsang cahaya.
Tremor, nistagmus dan ataksia bisa terjadi bila jalur ke serebelum ikut terlibat,
dcmikian juga spastisitas anggota badan karena terlibatnya jalur kortikospinal.
Penekanan terhadap jalur aliran likuor menimbulkan hidrosefalus sehingga nycri
kepala kemudian edema papil timbul.
8

Pons
Neuropati kranial, disfungsi batang otak lebih khas untuk tumor serebelopontin,
nervus-nervus kranial, serebelum, meningen, dan basis kranialis.
1

Medula oblongata
Lebih banyak pada anak-anak. Gambaran awal palsi abdusen, hemiparesis
kontralateral dan ketidak seimbangan pola jalan. Nistagmus vertikal atau horizontal.
Kompresi ventrikel keempat dapat menimbulkan gejala hidrosefalus obstruktif.
1

e. Tumor Serebelum
Tumor di serebellum biasanya menyerang anak-anak. Gejala yang menonjol pada fase
awal berupa kenaikan tekanan intrakranial akibat penekanan jalan likuor sehingga terjadi
hidrosefalus. Biasanya terjadi pula gangguan keseimbangan dalam berdiri dan berjalan.
Ini bisa diperiksa dengan menyuruh penderita berdiri sambil menutup mata, penderita
akan goyang (test Romberg). Tumor serebelum di daerah lateral (hemisfer) lebih
menonjolkan gejala nistagmus yang nyata ke arah sisi lesi, sedang bila tumor di daerah
median tidak menunjukkan nistagmus yang jelas. Muntah-muntah yang bersiklus dan
nyeri kepala oksipital menunjukan gejala umum tumor serebelum. Nyeri kepala
umumnya bilateral dan menjalar ke dalam daerah retroorbital atau temporal, serta leher
dan bahu. Kekakuan dan keterbatasan gerak leher dan angkat kepala. Vertigo serta
nistagmus horisontal dan rotational. Ataksia apendikuler atau trunkat. Palsi N kranialis
dan kortikospinal dapat muncul belakangan.
1,8

AIN TUMO


Gambar 1. Tampak lateral, defisit neurologis akibat tumor di berbagai tempat
9

Gambar 2. Tampak Medial, defisit neurologis akibat tumor di berbagai tempat
9

c. Gejala lokal yang tidak sesuai dengan lokasi tumor (Falselocalizing signs)
Suatu tumor intrakranial dapat menimbulkan manifestasi yang tidak sesuai dengan fungsi
tempat yang didudukinya. Keadaan ini sering sebagai akibat dari peningkatan tekanan
intrakranial. Saat tekanan meningkat pada beberapa kompartemen di otak, tumor mulai
memencarkan jaringan, namun pemencaran ini juga terjadi di tempat yang jauh dari tumor,
keadaan inilah yang memberikan gambaran false localizing signs, yaitu:
1
Kelumpuhan nervus kranialis, yang sering terkena adalah nervus 6, sebab nervus ini
merupakan nervus yang paling panjang di intrakranial. Hal ini juga terjadi akibat penekanan
ligamentum petrosal akibat peningkatan TIK.
Invasi tumor difus pada lobus frontal atau korpus kalosum menyebabkan ataksia pada pola
jalan (frontal ataxia) yang sukar dibedakan dengan gejala ataxia serebelar. Dismetria pada
anggota gerak yang mengalami kelemahan dan disartria kortikal dapat pula salah didiagnosis
sebagai penyakit serebelar. Nistagmus jarang ditemukan pada tumor frontal atau kalosal, dan
tidak adanya nistagmus pada lesi supratentorial dapat merupakan titik yang penting untuk
membedakannya.
Kompresi pada pedunkulus serebri oleh tepi bebas tentorium serebeli yang sifatnya
kontralateral terhadap hemisfer serebri yang mengalami herniasi (sindroma Kernohans
notch) dapat menyebabkan hemiparesis terlokalisir palsu yang bersifat ipsilateral lesi.
Kompresi atau invasi dan status hiperkoagulabilitas yang berhubungan dengan sifat
keganasan atau terapinya dapat menyebabkan infark atau perdarahan yang jauh dari lokasi
tumor. Sebagai contohnya, infark korteks oksipital yang dapat terjadi akibat kompresi arteri
serebral posterior selama herniasi transtentorial.

Sumber
1.Bradley, Walter G., Neuro-Oncology in Pocket Companion to Neurology in Clinical
Practiceedisi 3, Butterworth, Boston 2000 : 239 267

2.Howard L. W., Lawrence P. L. , Malignancy and the Nervous System in
Neurology edisi 5, Williams & Wilkins, Philadelphia, : 139 142