Anda di halaman 1dari 9

Teori Ekonomi Klasik

Pemikiran kaum klasik telah membawa perubahan besar dalam bidang ekonomi. Salah satu
hasil pemikiran kaum klasik telah mempelopori pemikiran sistem perekonomian liberal.
Dalam pemikiran kaum klasik bahwa perekonomian secara makro akan tumbuh dan
berkembang apabila perekonomian diserahkan kepada pasar. Peran pemerintah terbatas
kepada masalah penegakan hukum, menjaga keamanan dan pembangunan infrastruktur.
Pemikiran kaum klasik ini telah menginspirasi Washington Consensus. Berdasarkan
Washington Consensus peran pemerintah di dalam pembangunan lebih dititikberatkan
kepada penertiban APBN, dan pemanfaatan/penggunaan kekuatan pasar.
Menurut Washington Consensus (terdiri dari 10 paket kebijakan ekonomi makro), peran
pemerintah dalam pembangunan harus dibatasi dan berorientasi kepada pembangunan
infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Campur tangan pemerintah yang berkelebihan dalam
perencanaan pembangunan dikhawatirkan menimbulkan Government Failure, seperti
birokrasi yang berkelebihan, KKN, dan lain sebagainya. Membatasi APBN dapat mengurangi
defisit, karena akan menimbulkan ketidakstabilan di dalam ekonomi. Pemanfaatan kekuatan
pasar yaitu mengembangkan pasar yang efisien, bebas dari monopoli, oligopoli, dan eksternal
disekonomis. Oleh karena itu kebijakan pemerintah harus bersifat Market Friendly.
Suku bunga dan Nilai tukar asing harus ditentukan oleh pasar. Harga yang dibentuk pasar
dianggap sebagai harga yang sebenarnya. Pasar dianggap lebih efisien daripada pemerintah
yang menggarap sektor perekonomian, sehingga perekonomian akan lebih optimal.
Perdagangan luar negeri akan menghasilkan gains from trade, aliran FDI yang lebih bebas
akan merangsang investor luar negeri untuk menginvestasikan dananya, privatisasi dari
BUMN dianggap akan mengefisiensikan perekonomian. Oleh karena itu peran dari
pemerintah adalah melakukan deregulasi. Di sini pemerintah ditekankan untuk melindungi
property rights.
IMF (International Monetary Funds) dan Bank Dunia yang menganut paham liberal mencoba
mengimplementasikan Washington Consensus dengan cara menggunakan bargaining
power mereka kepada pemerintahan Indonesia. Pemerintah Indonesia pada tanggal 12 Okt
2006 secara efektif telah melunasi seluruh pinjaman kepada IMF di bawah skim Extended
Fund Facility. Pelunasan sebesar SDR 2.153.915.825, atau ekuivalen dengan US$
3,181,742,918 (USD/SDR = 1,47719) merupakan sisa pinjaman yang seharusnya jatuh tempo
pada akhir 2010. Dengan lunasnya pinjaman kepada IMF ini berakibat pada hilangnya
kekuatan IMF untuk memaksakan Washington Consensus kepada Indonesia. Dengan
pelunasan hutang kepada IMF Indonesia sudah tidak berkewajiban lagi mengikuti post
program monitoring (PPM) dan Indonesia sama dengan anggota IMF lainnya, yang kondisi
ekonomi makronya dalam keadaan baik
Pemikiran perekonomian liberal didasarkan pada pemikiran bahwa pasar sendirilah yang
lebih tahu kebutuhannya sehingga pemerintah tidak perlu campur tangan di pasar.
Jean Baptiste Say (1767-1832) berpendapat bahwa supply creates its own demand sehingga
tidak akan ada kelebihan produksi. Adam Smith (1723-1790) juga berpendapat bahwa ada
invisible hands yang akan membimbing individu untuk mempromosikan kepentingan
masyarakat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi semakin terdorong oleh karena buah pemikiran
kaum klasik. Perdagangan bebas yang telah diperjuangakan oleh para tokoh klasik mencoba
mendobrak tembok proteksionisme ala merkantilisme. Globalisasi membuat batas negara
menjadi semakin semu dan pasar menjadi semakin luas. Negara yang memiliki keunggulan
kompetitif semakin dapat memperkaya negaranya. Di lain pihak negara yang tidak siap dalam
menghadapi persaingan di pasar global akan semakin terpuruk. Terlepas dari sisi positif dan
negatif dari globalisasi, di sini mau tidak mau setiap negara harus mempersiapkan diri untuk
memiliki keunggulan bersaing.
Beberapa tokoh ekonomi klasik seperti Adam Smith (1723-1790), Thomas Robert Malthus
(1766-1834), Jean Baptiste Say (1767-1832), David Ricardo (1772-1823), Johan Heinrich
von Thunen (1780-1850), Nassau William Senior (1790-1864), Friedrich von Herman, John
Stuart Mill (1806-1873) dan John Elliot Cairnes (1824-1875) memperoleh kehormatan dari
Karl Marx (1818-1883) atas keklasikan dalam mengetengahkan persoalan ekonomi yang
dinilai tidak kunjung lapuk. Berbeda dengan kaum Merkantilis dan Physiokrat, kaum klasik
memusatkan analisis ekonominya pada teori harga. Kaum klasik mencoba menyelesaikan
persoalan ekonomi dengan jalan penelitian faktor permintaan dan penawaran yang
menentukan harga.
John Maynard Keynes (1883-1946) berpendapat bahwa pandangan klasik yang memusatkan
perhatian analisa ekonominya pada teori harga, maka perlu dipahami arah penggunaan alat
produksi dengan sempurna. Dalam hubungan ini maka pengertian klasik diperluas kepada
para ahli ekonomi yang tidak menganggap tidak mungkin adanya suatu pengangguran yang
tidak dikehendaki (involuntary unemployment).
Salah satu hasil pemikiran kaum klasik yang sangat mempengaruhi dunia dalam era
globalisasi adalah pemikiran mengenai perdagangan internasional. Pemikiran kaum klasik
menentang pemikiran kaum merkantilis yang hanya mementingkan masuknya logam mulia
dan berorientasi ekspor dengan meminimumkan impor barang dari luar negeri.
Kaum merkantilis meletakan tekanan pada perdagangan luar negeri. Kaum physiokrat
memandang pertanian sebagai sumber segala kemakmuran. Adam Smith (1723-1790) sebagai
tokoh aliran klasik menyatakan pendapatnya dalam bukunya yang berjudul Inquiry into the
Nature and Causes of the Wealth of Nations yaitu: Pekerjaan yang dilakukan suatu bangsa
adalah modal yang membiayai keperluan hidup rakyat itu pada asal mulanya, dan dengan
hasil-hasil pekerjaan tersebut dapat dibeli keperluan-keperluan hidupnya dari luar negeri.
Kapasitas produktif daripada kerja selalu bertambah dikarenakan adanya pembagian kerja
yang makin mendasar dan rapi.
Adam Smith (1723-1790) menjelaskan keuntungan adanya pembagian kerja dengan
memberikan contoh sebuah pabrik jarum. Di dalam pabrik jarum tersebut seorang buruh
secara pasti dapat membuat 20 buah jarum sehari. Dari hasil kunjungan Smith atas suatu
pabrik jarum yang telah melakukan pembagian pekerjaan, ternyata 10 orang buruh dapat
membuat 48.000 buah jarum, dengan pembagian pekerjaan yaitu ada yang khusus menarik
kawat, ada yang khusus memotongnya dan ada yang khusus meruncingkan jarumnya, serta
lainnya. Dari keadaan tersebut dapat dikemukakan bahwa pembagiaan pekerjaan yang
dilaksanakan itu dapat mempertinggi hasil produksi setiap buruh dari 20 buah menjadi 4800
buah jarum atau meningkatkan sebanyak 240 kali lipat.
Pembagian pekerjaan sering dibedakan menjadi dua pengertian, yang pertama adalah
membagi pekerjaan menjadi sederhana sehingga semua buruh dengan tingkat keahlian
tertentu dapat melakukan pekerjaan. Pengertian yang kedua adalah pembagian pekerjaan
bersusun yang membagi pekerjaan suatu kegiatan produksi menjadi beberapa bagian. Di
dalam perkembangannya, konsep pembagian pekerjaan terus berkembang dan terarah kepada
kegiatan pekerjaan yang terspesialisasikan, dan di dalam kegiatan produksi yang lebih
modern terjadi pembagian pekerjaan sistem ban berjalan (conveyor system).
Produksi masal mobil oleh Ford sendiri juga terinspirasi dari konsep pembagian pekerjaan,
sehingga ongkos produksi semakin murah. Dengan ongkos produksi yang lebih efisien, harga
yang ditawarkan dapat lebih kompetitif dengan produk lain. Saat ini konsep pembagian
pekerjaan telah digunakan secara luas di hampir seluruh sektor industri.
Keuntungan pembagian pekerjaan adalah:
1. Setiap orang dapat melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya.
2. Dapat meningkatkan pengetahuan di dalam pekerjaan tersebut sehingga lebih mantap.
3. Orang yang bersangkutan mengerjakan pekerjaan yang sama secara berkelanjutan
sehingga dapat menghindarkan kehilangan waktu, ini berarti semakin efisien.
Pemikiran mengenai nilai oleh kaum klasik masih relevan dengan
perkembangan dunia saat ini. Sebagai contohnya di Indonesia yang memiliki
masalah dalam penentuan harga jual beberapa BUMN yang dianggap terlalu
murah.
Pandangan Adam Smith (1723-1790) atas konsep nilai dibedakan menjadi 2
yaitu nilai pemakaian dan nilai penukaran. Hal ini menimbulkan paradok nilai,
yaitu barang yang mempunyai nilai pemakaian (nilai guna_ yang sangat
tinggi, misalnya air dan udara, tetapi mempunyai nilai penukaran yang sangat
rendah. Malahan boleh dikatakan tidak mempunyai nilai penukaran.
Sedangkan di sisi lain barang yang nilai gunanya sedikit tetapi dapat memiliki
nilai penukaran yang tinggi, seperti berlian. Hal ini baru diselesaikan oleh
ajaran nilai subyektif.
David Ricardo (1772-1823) seorang tokoh aliran klasik menyatakan bahwa
nilai penukaran ada jikalau barang tersebut memiliki nilai kegunaan.
Dengan demikian sesuatu barang dapat ditukarkan bilamana barang tersebut
dapat digunakan. Seseorang akan membuat sesuatu barang, karena barang itu
memiliki nilai guna yang dibutuhkan oleh orang. Selanjutnya David Ricardo
(1772-1823) juga membuat perbedaan antara barang yang dapat dibuat dan
atau diperbanyak sesuai dengan kemauan orang, di lain pihak ada barang yang
sifatnya terbatas ataupun barang monopoli (misalnya lukisan dari pelukis
ternama, barang kuno, hasil buah anggur yang hanya tumbuh di lereng gunung
tertentu dan sebagainya). Dalam hal ini untuk barang yang sifatnya terbatas
tersebut nilainya sangat subyektif dan relatif sesuai dengan kerelaan
membayar dari para calon pembeli. Sedangkan untuk barang yang dapat
ditambah produksinya sesuai dengan keinginan maka nilai penukarannya
berdasarkan atas pengorbanan yang diperlukan.
David Ricardo (1772-1823) mengemukakan bahwa berbagai kesulitan yang
timbul dari ajaran nilai kerja:
1. Perlu diperhatikan adanya kualitas kerja, ada kualitas kerja terdidik dan
tidak terdidik, kualitas kerja keahlian dan lain sebagainya. Aliran yang
klasik dalam hal ini tidak memperhitungkan jam kerja yang
dipergunakan untuk pembuatan barang, tetapi jumlah jam kerja yang
biasa dan semestinya diperlukan untuk memproduksi barang. Dari situ
maka Carey kemudian mengganti ajaran nilai kerja dengan teori biaya
reproduksi.
2. Kesulitan yang terdapat dalam nilai kerja itu bahwa selain kerja masih
banyak lagi jasa produktif yang ikut membantu pembuatan barang itu,
harus dihindarkan. Selanjutnya David Ricardo (1772-1823)
menyatakan bahwa perbandingan antara kerja dan modal yang
dipergunakan dalam produksi boleh dikarakan tetap besarnya dan
hanya sedikit sekali perubahan.
Atas dasar nilai kerja, dibedakan di samping harga alami (natural price) ada
pula harga pasaran (market price). Menurut aliran klasik (Adam Smith)
harga alami akan terjadi bilamana masing-masing warga masyarakat
memperoleh kebebasan pilihannya untuk membuat sesuatu produk tertentu
yang menurutnya lebih menguntungkan dan menukarkannya bilamana dinilai
baik olehnya. Hal ini sejalan dengan pandangan kaum physiokrat. Istilah
harga alami (natural price) yang dikemukakan Smith adalah sama dengan
istilah Cantillon valeur intrinsique (nilai intrinsik), Turgot valeur
fondamental (harga pokok), Say prix reel (harga real), Ricardo
primery/natural/necessary price (harga pokok) dan Cairnes normal price
(harga normal).
Harga pasaran dapat berbeda dengan harga alami di mana akan
menyesuaikan dengan keadaan penawaran dan permintaan atas barang yang
bersangkutan. Demikian pula atas dasar pertimbangan tertentu, adanya
peraturan pemerintah yang dapat menghalangi penyesuaian harga alami
dengan harga pasaran. Tetapi bagaimanapun, harga alami akan menjadi acuan
(pedoman) atas penetapan harga pasaran.
Sebelum Adam Smith menulis bukunya The Wealth of Nations (1776), Adam
Smith telah menulis filsafat ilmu ekonominya pada tahun 1759 yang berjudul
The Moral Sentiments. Seperti halnya kaum physiokrat, Adam Smith
beranggapan bahwa kepentingan masyarakat dan perorangan secara alami
mempunyai persesuaian di mana persesuaian ini diciptakan oleh invisible
hands.
Sedangkan dalam buku The Wealth of Nations, Adam Smith menulis antara
lain bahwa the nature and causes of the wealth of nations is what is properly
called political economy dan cukup menjelaskan apa yang harus menjadi
tujuan ekonomi.
Setelah Adam Smith menjelaskan tentang pembagian pekerjaan, pertukaran
barang, dan uang sebagai alat untuk memajukan pertukaran barang,
selanjutnya memberikan analisis gejala nilai dan harga. Ada tiga komponen
harga yaitu upah, sewa tanah dan laba. Kerja itu adalah sebab dan ukuran
harga. Adam Smith membedakan antara kerja yang produktif dan kerja yang
tidak produktif. Kerja produktif adalah kerja yang menghasilkan barang secara
fisik nyata dan kerja yang tidak produktif adalah kerja yang tidak
menghasilkan barang secara fisik nyata. Pentingnya menyimpan dinilai
sebagai kewajiban dan sekaligus sebagai kebajikan untuk memperbanyak roti
yang menjadi pokok keagamaan. Dalam hubungan ini Paul Leautaud
mendefinisikan pengertian menyimpan leconomie cest lart de ne pas
vivre.
Pendapat Adam Smith mengenai sewa tanah adalah salah satu faktor yang
menetapkan harga. Selanjutnya juga dikemukakan bahwa sewa tanah adalah
akibat dan bukan sebab daripada tingginya harga hasil pertanian.
Adam Smith tidak mengadakan perbedaan antara bunga modal dan untung
pengusaha. Sedangkan Jean Baptiste Say (1767-1832) membagi profit de
lentrepreneur de lindustrie (laba pengusaha):
Upah mereka menyerahkan kekayaan untuk keperluan industri (jadi kaum
kapitalis), penggatian service capitaux.
Upah bagi pemilik tanah untuk service foncier.
Penggantian untuk service industrial yang diperoleh oleh pemimpin proses
produksi.
David Ricardo (1772-1823) menyatakan bahwa pembagian pendapatan
masyarakat merupakan soal terpenting daripada soal ilmu ekonomi. Jikalau
kaum physiokrat menerangkan tentang sewa tanah ada dikarenakan kapasitas
produktif daripada tanah, sedangkan menurut Ricardo (1772-1823) sewa tanah
timbul karena keterbatasan (kekurangan) tanah. Teori sewa tanah Ricardo
(1772-1823) dikenal dengan Teori Sewa Tanah Diferensial teori ini
menyatakan bahwa pada tahap awal orang akan menggunakan tanah yang
subur, dan karena keterbatasannya maka selanjutnya akan menggunakan tanah
yang kurang subur. Masing-masing memiliki sewa tanah yang berbeda-beda.
Sewa tanah adalah ganti rugi yang harus dibayar kepada pemilik tanah untuk
pemakaian Original and indestructible powers of the soil.
Sedangkan Johan Heinrich von Thunen (1780-1850) menyatakan perbedaan
tinggi rendahnya sewa tanah akibat perbedaan letak terhadap pasar
penjualannya. Semakin dekat letak tanah dengan pasar produk yang dihasilkan
maka akan menekan/mengurangi biaya angkut produknya ke pasar. Akibatnya
sewa tanah tersebut relatif lebih tinggi daripada tanah yang letaknya lebih jauh
dari pasar.
Mengenai kemiskinan, David Ricardo (1772-1823) dan Thomas Robert
Malthus (1766-1834) mengemukakan bahwa kemiskinan penduduk adalah
disebabkan kesalahan sendiri karena tidak membentuk keluarga kecil. Hal
ini dianggap sebagai perlawanan dari undang-undang orang miskin (poor law)
yang saat itu berlaku di Inggris. Menurut Ricardo (1772-1823) undang-undang
tersebit tidak akan memperbaiki kemiskinan, sebaliknya hanya mengurangi
kemakmuran si miskin dan si kaya keduanya. Pendapat ini terutama timbul
dari teori dana upah yang sebelumnya telah diketengahkan oleh Cantillon,
Turgot dan Smith.
Menurut teori ini permintaan tenaga kerja akan tergantung daripada dana upah
yang terakumulasi, daripada funds which are destined for the payment of
wages yang dihematkan, dan tiap jumlah uang yang dibayarkan kepada yang
satu, dengan sendirinya dikurangi daripada yang lain. Itulah sebabnya bahwa
bantuan kepada orang miskin adalah merugikan dana upah, jadi juga upah-
upah kerja lainnya.
Menurut Nasau William Senior besarnya upah rata-rata, tergantung daripada
perbandingan antara jumlah yang disediakan para pengusaha bagi pembayaran
upah, dan jumlah pekerja, pendapat serupa ini terdapat pula pada Stuart Mill.
Namun teori dana upah ini adalah suatu pengulangan kata yang tak berarti;
tidak ada yang dikemukakan selain daripada hal, bahwa upah rata-rata sama
dengan dana upah, dibagi dengan jumlah pekerja dan sebaliknya dana upah itu
harus dapat diketahui dari hasil kali upah rata-rata dengan jumlah orang
upahan. Jika Ricardo (1772-1823) mengatakan bahwa dalam hal pertanian,
pertambangan dan produksi industri, barang-barang dipertukarkan dalam
bandingan jumlah kerja, yang dipergunakan untuk pembuatannya dalam
keadaan marginal, maka profit sekarang dapat dipandangnya sebagai ganjaran,
biarpun ia tidak banyak menaruh perhatian terhadap residu ini. Rangkuman
prognosa Ricardo (1772-1823) tentang pembagian penghasilan masyarakat
dapat dirumuskan rent naik, profit turun, sedangkan upah tetap.
Tentang profit yang menurun sehingga merupakan suatu tendensi penurunan,
disambut oleh Marx (1818-1883) dengan pernyataannya yang dianggap
sebagai bukti untuk menerangkan keruntuhan kapitalisme. Sedangkan menurut
Keynes sebaliknya menggunakannya untuk menunjukkan perlunya politik
konjungtur (bussiness cycle) tertentu. Sedangkan bagi Ricardo (1772-1823)
cukup dijelaskan bahwa pengusaha-pengusaha yang pertama atau lebih awal
di dalam merealisasikan pendapat barunya (invention) akan memperoleh premi
kedahuluan, sedangkan pengusaha yang belakangan akan memperoleh bagian
yang relatif kecil. Hal mana sejalan dengan teori keuntungan pengusaha yang
dinamis yang diketengahkan oleh Joseph Schumpeter.
Atas dasar pemikiran kaum klasik mengenai profit yang menurun, negara
barat berlomba-lomba untuk menjual penemuan dan rela untuk membiayai
penelitian. Bagi Indonesia sendiri, penelitian dianggap sebagai suatu biaya
yang akan terbuang percuma, sehingga Indonesia terus ketinggalan karena
tidak pernah memperoleh premi kedahuluan dan hanya memperoleh bagian
yang kecil atas produksi produk teknologi lama.
Perdagangan sudah menjadi isu penting sejak jaman para filusuf yang
mempermasalahkan apakah perdagangan itu secara moral diterima atau tidak.
Kaum merkantilis mengangkat citra perdagangan walaupun masih sebatas
memperbanyak logam mulia masuk ke dalam suatu negara (berorientasi
ekspor). Kaum klasik mencoba menjelaskan keuntungan dari kerjasama
perdagangan internasional.
Adam Smith memulai mengajukan teori keuntungan absolut (absolute
advantage), sedangkan David Ricardo memperbaikinya dengan mengajukan
teori keuntungan komparatif (comparative advantage). Berbeda dengan
pendapat Smith yang mengajukan perdagangan akan menguntungkan apabila
suatu negara memperdagangkan barang yang secara mutlak
menguntungkannya. Ricardo berpendapat bahwa suatu negara akan
mendapatkan keuntungan dari perdagangan karena masing masing pihak
mengambil relative efficient tenaga kerjanya masing-masing.
Teori perdagangan internasional diketengahkan oleh David Ricardo (1772-
1823) yang mulai dengan anggapan bahwa lalu lintas pertukaran internasional
hanya berlaku antara dua negara yang diantara mereka tidak ada tembok
pabean, serta kedua negara tersebut hanya beredar uang emas. Ricardo (1772-
1823) memanfaatkan hukum pemasaran bersama-sama dengan teori kuantitas
uang untuk mengembangkan teori perdagangan internasional. Walaupun suatu
negara memiliki keunggulan aboslut, akan tetapi apabila dilakukan
perdagangan tetap akan menguntungkan bagi kedua negara yang melakukan
perdagangan.
Teori perdagangan telah mengubah dunia menuju globalisasi dengan lebih
cepat. Kalau dahulu negara yang memiliki keunggulan absolut enggan untuk
melakukan perdagangan, berkat law of comparative costs dari Ricardo
(1772-1823), Inggris mulai kembali membuka perdagangannya dengan negara
lain.
Pemikiran kaum klasik telah mendorong diadakannya perjanjian perdagangan
bebas antara beberapa negara. Teori comparative advantage telah berkembang
menjadi dynamic comparative advantage yang menyatakan bahwa keunggulan
komparatif dapat diciptakan. Oleh karena itu penguasaan teknologi dan kerja
keras menjadi faktor keberhasilan suatu negara. Bagi negara yang menguasai
teknologi akan semakin diuntungkan dengan adanya perdagangan bebas ini,
sedangkan negara yang hanya mengandalkan kepada kekayaan alam akan
kalah dalam persaingan internasional.
Globalisasi merupakan hal yang tidak terhindarkan lagi. Mau tidak mau,
Indonesia harus siap menghadapinya. Kebijakan pemerintah yang salah akan
membuat Indonesia semakin terpuruk. Untuk itu penguasaan teknologi dan
pengembangan sumber daya manusia harus diperhatikan.