Anda di halaman 1dari 22

ADSORPSI ASAM ASETAT

I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Menentukan jumlah asam asetat yang teradsorpsi oleh karbon aktif.
2. Menentukan persamaan kesetimbangan yang sesuai untuk adsorpsi
asam asetat dalam karbon aktif.
II. DASAR TEORI
Adsorpsi adalah salah satu proses yang terjadi ketika suatu
fluida, cairan atau gas terikat pada suatu padatan atau cairan (zat
penyerap, adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau
fil (zat terserap, adsorbat) pada permukaannya. Berbeda dengan
adsorbsi yang merupakan penyerapan fluida oleh fluida lainnya dengan
membentuk suatu larutan.
Adsorpsi fapat terjadi karena interaksi gaya elektrostatik atau
Van der Waals antar molekul (Adsorpsi Fisis) maupun oleh adanya
interaksi kimiawi antar molekul (Adsorpsi Kimia). Proses penyerapan
terjadi pada permukaan padatan yang aktid. Mula-mula molekul
mendifusi melalui pori-pori besar (macropore), kemudian melalui
mesopore, lalu molekul terserap telah melampaui kemampuan
adsorbent maka terjadi desorpsi molekul dari padatan ke larutan.
Kesetimbangan terjadi saat kecepatan adsorpsi sama besar dengan
kecepatan desorpsi (McCabe, W.C., dkk, 1993).
Di sisi lain, adsorbsi adalah suatu fenomena fisik atau kimiawi
atau suatu proses sewaktu atom, molekul, atau ion memasuki suatu
fase limbah (bulk) lain yang bisa berupa gas, cairan, atau padatan.
Proses ini berbeda dengan adsorpsi karena pengikatan molekul
dilakukan memlalui volume bukan permukaan.
Pada proses adsorpsi digunakan zat seperti adsorben, adsorber,
dan adsorbate. Adsorben adalah zat padat yang dapat menyerap
partikel fluida dalam suatu proses adsorpsi. Adsorben bersifat spesifik
dan terbuat dari bahan-bahan yang berpori. Pemilihan jenis adsorben
dalam proses adsorpsi harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan zat
yang akan diadsorpsi dan nilai komersilnya. Secara umum jenis
adsorben dibagi menjadi dua, yaiitu:
1. Adsorben Polar
Adsorben polar disebut juga hydrophilic. Jenis adsorben
yang termasuk dalam kelompok ini adalah silika gel,
alumina aktif, zeolit.
2. Adsorben Non Polar
Adsorben non polar disebut juga hydrophobic. Jenis
adsorben yang termasuk dalam kelompok ini adalah polimer
adsorben dan karbon aktif.
Adsorben yang paling banyak digunakan untuk menyerap zat-
zat dalam larutan adalah arang aktif atau karbon aktif. Selain karena
harganya yang murah, kegunaannya juga banyak. Selain itu, karbon
aktif memiliki kerapatan yang tinggi dan permukaan yang luas.
Akrbon aktif dibuat dengan cara membakar tempurung kelapaatau
kayu dengan kondisi udara (oksigen) yang terbatas (semi vakum).
Arang aktif banyak digunakan dalam berbagai bidang, baik bidang
industri maupun kesehatan dan sangat cocok digunakan untuk
mengadsorpsi zat-zat organik.
Adsorbat dalam hal ini adalah bahan yang diserap, sedangkan
adsorber adalah tempat terjadinya adsorpsi. Adsorpsi sendiri memiliki
dua macam tipe. Berikut beberapa perbandingan antara adsorpsi kimia
dan adsorpsi fisis.
Tabel 1. Perbandingan Adsorpsi Kimia dan Adsorpsi Fisis
Kriteria Adsorpsi Kimia Adsorpsi Fisis
Panas
Adsorpsi
10-100 kcal/mol 1-15 kcal/mol
Energi
Aktivasi
Tinggi, >20 kcal/mol
untuk desorpsi, kecuali
Rendah, <2 kcal/mol untuk
desorpsi, kecuali jika
untuk adsorpsi kimia pada
permukaan yang tidak
diaktifkan
adsorpsi fisis terjadi pada
padatan yang porous,
tahanan difusi dapat
menaikkan energi aktivasi
Kecepatan
Adsorpsi
Dapat cepat atau lambat
tergantung suhu
Cepat, namun dibatasi oleh
kecepatan difusi
Interval
Suhu
Dapat terjadi pada suhu
tinggi, biasanya di atas
titik didih
Terjadi pada suhu di
sekitar titik didih, tetapi
pada katalisator porous
adsorpsi ke mikropori
dapat terjadi > titik didih
Kegunaan
Proses
Adsorpsi
Keaktifan permukaan
katalisator, Reaksi
katalisis
Menemukan luas
permukaan katalisator da
distribusi pori
Adsorpsi fisis merupakan proses eksotermis dengan panas reaksi
adsorpsi sekitar 1-15 kcal/mol. Gaya tarik antar molekul dengan
permukaan adsorbent cukup lemah. Adsorpsi kimia biasanya
berlangsung lebih lambat daripada adsorpsi fisis. Jumlah gas
teradsorpsi menurun seiring dengan naiknya suhu dna di atas suhu
kritis hanya sedikit gas yang teradsorpsi. Panas adsorpsi hampir sama
dengan panas reaksi yaitu sekitar (10-100 kcal/mol) (Treybal, Robert
E., 1981).
Contoh dari adsorpsi fisis adalah pengambilan hidrogen murni
dengan memisahkan oksigen dan nitrogen pada proses sintesis gas,
sedangkan contoh dari adsorpsi kimia adalah pemurnian warna larutan
gula.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan laju adsorpsi
adalah:
1. Luas Bidang Kontak
Semakin luas permukaan adsorbent, semakin banyak
adsorbat yang diserap.
2. Waktu Kontak
Lebih lama waktu kontak memungkinkan penempelan
adsorbat berlangsung lebih baik.
3. Konsentrasi
Semakin besar konsntrasi, maka semakin cepat kecepatan
transfer massanya.
4. Porositas Bahan
Semakin besar porositas bahan, semakin cepat transfer
massanya.
5. Afinitas Solute untuk Adsorbant
Senyawa non polar lebih mudah diambil oleh adsorbent non
polar, begitu pula sebaliknya.
Adsorpsi biasanya digambarkan melalui kurva isotherm, yaitu
jumlah adsorbat pada adsorben sebagai fungsi dari tekanan parsial
(gas) atau konsentrasi (cair) pada suhu tertentu. Kuantitas bahan
teradsorpsi hampir selalu dinormalkan dengan massa adsorben untuk
memungkinkan perbandingan material yang berbeda (Perry, R.H.,
1984).
Beberapa contoh kurva isotherm diantaranya Isotherm Langmuir
dan Freundlich.
1. Isotherm Langmuir
Isotherm Langmuir dikembangkan untuk menggambarkan
kuantitas gas teradsorpsi atas permukaan padatan pada suhu
tetap. Pendekatan mengasumsikan bahwa hanya satu gas
yang teradsorpsi.
Secara umum, Isotherm Langmuir dinyatakan dnegan
persamaan:

(1)
dengan, A = tingkat adsorpsi zat A
KA = tetapan kesetimbangan zat A
PA = tekanan parsial zat A

(2)
dengan, qA = jumlah zat A yang teradsorpsi per-satuan
massa adsorbent
qsat = jumlah zat A yang teradsorpsi per-satuan
amssa adsorbent dalam keadaan jenuh

2. Isotherm Freundlich
Isotherm Freundlich adalh isotherm yang mengasumsikan
penurunan panas adsorpsi secara logaritmik. Hubungan
antara jumlah adsorpsi terserap dengan tekanan parsial
adalah:

(3)
dengan, PA = tekanan parsial
k dan c adalah konstanta

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN
A. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Boraks
2. NaOH teknis
3. Asam asetat glasial
4. Larutan HCl X N
5. Arang aktif
6. Indikator phenolphtalein
7. Indikator methyl orange
8. Kerats saring
9. Aquadest
B. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah
C. Cara Kerja
1. Standardisasi Larutan HCl dengan Larutan Boraks
Mula-mula larutan boraks 0,2 N dibuat dengan menimbang
3,8088 gram boraks dalam gelas arloji menggunakan neraca
analisis digital dan dilarutkan dengan aquadest sampai volume
larutan mencapai 100 ml ke dalam labu ukur 100 ml. Sampel
larutan boraks diambil sebanyak 10 ml dalam erlenmeyer 125
ml kemudian ditambah masing-masing sampel indikator methyl
orange sebanyak tiga tetes. Buret diisi dengan larutan HCl X N.
Lalu sampel dititrasi dengan larutan HCl X N sampai terjadi
perubahan warna sampel dari kuning menjadi merah abta dan
volume HCl X N yang diperlukan untuk titrasi dicatat. Titrasi
dilakukan sekali lagi untuk 10 ml sampel lain.
2. Standardisasi Larutan NaOH
Larutan NaOH 0,2 N dibuat dengan menimbang 4,0166 gram
NaOH teknis dalam botol timbang menggunakan neraca
analisis digital dan dilarutkan dengan aquadest sampai volume
500 ml ke dlaam gelas beker 600 ml dan diaduk samapi
homogen. Buret lalu diisi dengan larutan NaOH. Larutan HCl
yang telah distandardisasi (HCl X N) diambil sebanyak 25 ml
dalam erlenmeyer 125 dan ditambahkan masing-masing tiga
tetes indikator phenolphtalein. Larutan HCl dititrasi dengan
larutan NaOH sampai warna larutan menjadi pink tua dan
volume NaOH yang digunakan dicatat. Titrasi diulangi untuk
25 ml larutan HCl yang lain.
3. Adsorpsi Asam Asetat dengan Arang Aktif
Mula-mula larutan CH3COOH dibuat dengan melarutkan
28,60 ml CH3COOH glasial dengan aquadest dalam labu ukur
500 ml sampai volume 500 ml. Larutan CH3COOH diencerkan
ke dalam labu ukur 100 ml sehingga diperoleh larutan dengan
konsentrasi 0,8 N; 0,6 N; 0,4 N; 0,25 N; 0,1 N dengan
kebutuhan larutan CH3COOh masing-masing konsentrasi per-
100 ml sebanyak 80 ml; 60 ml; 40 ml; 25 ml; 15 ml; 10 ml.
Sebanyak 75 ml larutan CH3COOH diambil untuk masing-
masing konsentrasi lalu dimasukkan dalm tujuh buah
erlenmeyer 250 ml dengan menambahkan 7,5 gram arang aktif
ke dalma masing-masing erlenmeyer. Larutan lalu dimasukkan
ke dalam shaker waterbath dan shaker waterbath dihidupkan
serta larutan dalam shaker waterbath (di luar erlenmeyer)
minimal sama dengan permukaan larutan dalam erlenmeyer.
Suhu air dalam shaker waterbath dicatat saat erlenmeyer
dimasukkan. Pencatatn dilakukan dengan selang waktu satu
jam hingga didapat tiga data. Masing-masing larutan disaring
dnegan kertas saring ke dalam erlenmeyer 250 ml dan masing-
masing filtrat diambil 5 ml untuk konsentrasi 1 N; 0,8 N; 0,6 N;
dan 0,4 N. Lalu 10 ml untuk konsentrasi 0,25 N dan 15 ml
untuk konsentrasi 0,15 N dan 0,1 N. Masing-masing larutan
dititrasi dengan larutan NaOH yang sudah distandardisasi
dengan menambahkan phenolphtalein pada masing-masing
larutan. Perubahan warna diamati untuk masing-masing larutan
yang dititrasi sambil menggoyangkan erlenmeyer. Titrasi
dihentikan pada saat terjadi perubahan warna dari jernih
menjadi pink tua dan volume NaOH yang digunakan dicatat.
4. Titrasi Larutan Blangko
Mula-mula sebanyak 5 ml larutan asam asetat 1N; 0,8 N; 0,6
N; dan 0,4 N, 10 ml untuk larutan asam asetat 0,25 N, 15 ml
untuk larutan asam asetat 0,15 N; dan 0,1 N yang telah disaring
diambil dan dimasukkan masing-masing larutan ke dalam
erlenmeyer 250 ml. Masing-masing larutan dititrasi dengan
larutan NaOH yang telh distandardisasi dan dengan
menambahkan indikator phenolphtalein pada masing-masing
larutannya. Perubahan warna yang terjadi diamati untuk
masing-masing larutan yang dititrasi sambil menggoyangkan
erlenmeyer 250 ml. Titrasi dihentikan pada saat terjadi
perubahan warna dari jernih menjadi pink tua dan volume
NaOH yang digunakan dicatat.
D. Analisis Data
1. Standardisasi Larutan HCl

(4)
dengan, W = berat boraks, gram
Mr= berat molekul boraks, gram/mol
V = volume larutan boraks, liter
Menghitung normalitas HCl

(5)
Normalitas rata-rata HCl

(6)
2. Menghitung Normalitas NaOH

(7)
Normalitas rata-rata NaOH

(8)
3. Membuat Larutan Asam Asetat dalam berbagai konsentrasi

(9)
dengan, N1 = normalitas larutan CH3COOH sebelum
pengenceran, N
V1 = volume larutan CH3COOH 1 N yang diambil,
ml
N2 = normalitas larutan CH3COOH setelah
pengenceran, N
V2 = volume larutan CH3COOH setelah
pengenceran, ml
4. Menghitung Suhu Rata-Rata Percobaan Adsorpsi

(10)
dengan, T1 = suhu air dalam shaker waterbath awal, C
T2 = suhu air dalam shaker waterbath setelah 1 jam,
C
T3 = suhu air dalam shaker waterbath setelah 2 jam,
C

= suhu air dalam shaker waterbath rata-rata, C


5. Adsorpsi Asam Asetat
a. Menghitung Konsentrasi Awal dan Akhir Asam Asetat
Konsentrasi awal (sebelum adsorbsi) asam asetat:

(11)
dengan, CA0 = konsentrasi larutan CH3COOH awal
sebelum adsorpsi, N
NNaOH = konsentrasi larutan NaOH, N
VNaOH = volume larutan NaOH, N
VCH3COOH = volume larutan CH3COOH, N
Konsentrasi akhir (setelah adsorpsi) asam asetat:

(12)
dengan, CA = konsentrasi larutan CH3COOH awal setelah
adsorpsi, N
b. Menghitung Kadar Asam Asetat dalam Arang Aktif setelah
Setimbang
Daru neraca massa asam asetat, setelah kesetimbangan
diperoleh persamaan:

(13)

(14)
dengan, XA = kadar asam asetat setelah setimbang, mol
CH3COOH/gram arang aktif
V0 = volume asam asetat, L
W0 = berat arang aktif, gram
c. Mencari Hubungan/Persamaan yang Tepat antara XA VS
CA
i. Metode Langmuir
Hubungan XA VS CA adalah:

(15)

(16)
Jika dimisalkan:


Maka persaman menjadi:
(17)

(18)

(19)
Setelah mendapatkan nilai A dan B, dapat dicari
konstanta Langmuir dari permisalan sebelumnya.

|
(20)
ii. Metode Freundlich
Hubungan XA VS CA adalah:

(21)

(22)
Jika dimisalkan:


Maka persamaan menjadi:
(23)

(24)

(25)
Setelah mendapat nilai A dan B, dapat dicari
konstanta dari pemisalan sebelumnya.

|
(26)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan adsorpsi asam asetat dengan arang aktif ini,
adsorben yang digunakan adalah arang aktif. Hal ini dikarenakan arang
aktif memiliki kerapatan yang tinggi dan permukaan kontak yang luas
sehingga proses yang terjadi merupakan penyerapan pada permukaan
saja.
Asam asetat dipilih sebagai adsorbat pada percobaan ini karena
asam asetat tidak beracun, tidak volatil, dan tidak bereaksi dengan
arang aktif sehingga proses adsorpsi disebabkan oleh energi
intermolekuler saja dari interaksi adsorben dengan adsorbat.
Pada proses adsorpsi ini juga dilakukan penggojogan
menggunakan shaker waterbath. Penggojogan ini bertujuan untuk
memepercepat terjadinya adsorpsi. Selain itu, diharapkan penggojogan
terjadi dengan kecepatan yang konstan. Di dalam shaker waterbath,
terdapat air untuk memanaskan erlenmeyer berisi larutan asam asetat
dan karbon aktif. Air tersebut berfungsi agar proses adsorpsi tetap
berjalan isothermis sehingga pengaruh dari perubahan suhu terhadap
kecepatan adsorpsi dapat diabaikan. Di samping itu, ketinggian air
dalam shaker waterbath dijaga agar lebih tinggi dari permukaan larutan
dalam erlenmeyer supaya seluruh larutan berkontak dengan air
sehingga penyebaran suhu berjalan dengan efektif.
Dari percobaan diperoleh hubungan konsentrasi akhir asam
asetat (CA) dengan fraksi/kadar asam asetat setelah setimbang (XA).

Gambar 4. Grafik Hubungan XA VS CA Berdasarkan Hasil
Percobaan
Jika dilihat sepintas, garis grafik berwarna biru memeiliki
kecenderungan tersendiri, kecuali pada data dengan CA=0,1949 dan
CA=0,1234 yang mengalami penyimpangan. XA terendah terdapat
pada CA=0,1949, dan XA tertinggi terdapat pada CA=0,8647.
Kecenderungan grafik ini kurang lebih sesuai dengan garis
linierisasinya. Dengan artian, semakin tinggi XA, semakin tinggi pula
CA.
Hubungan antara XA dan CA dapat didekati dengan dua
metode, yaitu metode Langmuir dan metode Freundlich.
0.0000
0.0001
0.0002
0.0003
0.0004
0.0005
0.0006
0.0007
0.0008
0.0000 0.2000 0.4000 0.6000 0.8000 1.0000
X
a

Ca
Xa percobaan
Linear (Xa percobaan)
Keterangan:

Gambar 5. Grafik Hubungan XA VS CA Berdasarkan Metode
Langmuir

Gambar 6. Grafik Hubungan XA VS CA Berdasarkan Metode
Freundlich

Pada gambar 5, terlihat garis grafik yang dihasilkan memiliki
kecenderungan positif. Dalam artian, grafik pada gambar 5 memiliki
kesesuaian dengan grafik sebelmunya. Kesalahan reltif yang didapat
melalui metode ini adalah sebesar 42,0062%.
Sedangkan pada gambar 6, kesalahan relatof yang didapat jauh
lebih kecil daripada metode Langmuir, yakni hanya sebesar 4,1178%.
Meskipun demikian, kecenderungan garis grafik yang dimiliki metode
ini sama seperti grafik awal dan grafik dengan metode Langmuir.
Dari ketiga grafik yang ada, dapat dilihat bahwa penyimpangan
terjadi pada sampel 5 dan 6, dimana letak titiknya berada lebih rendah
dari sampel 7. Hal ini menyebabkan adanya penyimpangan teori,
diaman seharusnya sampel 5 dan sampel 6 berada di titik yang lebih
tinggi dari sampel 7.
Jika dilihat dari perbandingan grafik awal dengan grafik yang
didekati dengan metode tertentu, metode Freundlich lebih baik
0.0000
0.0001
0.0002
0.0003
0.0004
0.0005
0.0006
0.0007
0.0008
0.0000 0.2000 0.4000 0.6000 0.8000 1.0000
X
a

Ca
Xa percobaan
Xa persamaan
Keterangan:
0.0000
0.0001
0.0002
0.0003
0.0004
0.0005
0.0006
0.0007
0.0008
0.0000 0.2000 0.4000 0.6000 0.8000 1.0000
X
a

Ca
Xa percobaan
Xa persamaan
Keterangan:
y = 0,7354x-7,2957
daripada metode Langmuir karena metode Freundlich dapat mendekati
garis grafik percobaan lebih dekat daripada metode Langmuir. Selain
itu, kesalahan relatif yang dihasilkan metode Freundlich jauh lebih
kecil daripada metode Langmuir.
Asumsi-asumsi yang digunakan pada percobaan ini adalah:
1. Penimbangan dengan neraca analisis digital tepat.
2. Pengenceran dilakukan secara tepat.
3. Penggojogan dalam shaker waterbath terjadi secara
isothermal.
4. Penghentian titrasi tepat pada saaat terjadi kestimbangan.
5. Kesetimbangan adsorpsi padat-cair tercapai dalam waktu 2
jam.
Sedangkan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kesalahan
relatif:
1. Perubahan suhu yang menyebabkan pengaruh terhadap hasil
percobaan, padahal proses isothermal yang dikehendaki
dalam proses ini.
2. Penjepitan erlenmeyer dalam shaker waterbath tidak kuat
sehingga ada sebagian erlenmeyer yang tergoyang dengan
kecepatan yang tidak sama dnegan erlenmeyer lain.
3. Penghentian titrasi tidak tepat pada saat terjadi
kesetimbangan.
4. Penimbangan tidak dilakukan secara tepat.
5. Pengenceran tidak dilakukan secara tepat.

V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah:
1. Adsorpsi adalah suatu peristiwa penyerapan cairan atau gas
pada permukaan suatu padatan (adsorben).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi adsorpsi adalah luas
bidang kontak, waktu kontak, konsentrasi, porositas bahan,
afinitas solute adsorbant.
3. Hasil Percobaan:
a. Metode Langmuir
- Persamaan:


- Kesalahan Relatif Rata-Rata = 47,0062%
b. Metode Freundlich
- Persamaan:


- Kesalahan Relatif Rata-Rata = 4,1178%
4. Berdasarkan hasil kesalahan relatif rata-rata, metode
Freundlich lebih baik daripada metode Langmuir karena
memiliki keslahan relatif yang lebih kecil.
5. Hasil percobaan sesuai dengan teori diaman semakin besar
konsentrasi adsorbat maka semakin besar pula kadar
penyerapan oleh adsorben.

VI. DAFTAR PUSTAKA
McCabe, W.C., Smith, J.C., and Harriot P., 1993, Unit Operation of
Chemical Engineering, 5.ed, PP.813-814, McGraw-Hill
International, New York.
Perry, R.H., 1984, Perrys Chemical Engineers Handbook, 6.ed, PP
16.5-16.48, McGraw-Hill International, New York.
Treybal, Robert E., 1981, Mass-Transfer Operation, 3.ed, PP.580-
600, McGraw-Hill International, New York.

VII. LAMPIRAN
A. Identifikasi Hazard Proses dan Bahan Kimia
1. Hazard Proses
Pada percobaan ini digunakan shaker waterbath untuk
menggojog erlenmeyer. Dengand emikian, praktikan harus
berhati-hati karena dalam menyalakan shaker waterbath
memerlukan kontak listrik. Steker harus selalu dijaga agar tidak
terkena cairan apapun karena bahaya hubungan singkat. Jika
praktikan tidak berhati-hati, dapat terjadi luka bakar pada kulit.
2. Bahan Kimia
a. Aquadest
Bahan kimia ini tidak berbahaya bagi manusia dan tidak
perlu penanganan khusus untuk penyimpanan dan
pertolongan jika terpapar.
b. Phenplphtalein
Senyawa ini bersifat flammable, irritant, non-explosive,
non-corrosive, tidak berwarna, dan reaktif dengan
oksidator. Jika mata terpapar, segera basuh dan siram mata
dengan banyak air minimal 15 menit. Jika terkena kulit,
segera siram dengan banyak air minimal 15 menit dan
gunakan sabun serta krim anti bakteri. Jika terhirup, segera
bawa korban ke tempat terbuka dan beri pernafasan buatan
jika pingsan. Lepaskan aksesoris yang sifatnya menekan
seperti ikat pinggang dan berhati-hati pada saat memberi
nafas buatan supaya tidak ikut terpapar bahan kimia yang
beracun ini. Segera hubungi petugas medis jika keadaan
semakin parah.
c. Natrium Hidroksida
Senyawa ini bersifat higroskopis, non-flammable, korosif,
irritant, beracun, non-explosive, dan berupa padatan. Jika
mata terpapar, segera basuh dan siram mata dengan banyak
air minimal 15 menit. Jika terkena kulit, segera siram
dengan air dan lepaskan pakaian yang terkena bahan kimia,
cuci kulit dengan desinfektan, lalu oleskan krim anti-
bakteri. Jika terhirup, segera bawa korban ke tempat
terbuka. Jiak korban pingsan, beri nafas buatan. Jika
tertelan, segera hubungi petugas medis.
d. Asam Hidroklorida
Senyawa ini bersifat korosif, irritant, non-flammable, non-
explosive, non-toxic, dan berwujud cairan. Jika mata
terpapar, segera basuh dan siram mata dengan banyak air
minimal 15 menit. Jika terkena kulit, segera siram dengan
banyak air pada bagian kulit yang terkena minimal 15
menit, dan gunakan sabun desinfektan dan krim anti
bakteri. Jika terhirup, segera bawa korban ke tempat
terbuka. Jika korban pingsan, beri nafas buatan. Jika
tertelan, segera hubungi petugas medis.
e. Methyl Orange
Senyawa ini bersifat toxic, non-explosive, non-flammable,
irritant, non-corrosive, dan berwujud cair. Jika mata
terpapar, segera basuh dan siram mata dengan banyak air
minimal 15 menit. Jika terkena kulit, segera siram dengan
banyak air pada bagian kulit yang terkena minimal 15
menit, dan gunakan sabun desinfektan dan krim anti
bakteri. Jika terhirup, segera bawa korban ke tempat
terbuka. Jika korban pingsan, beri nafas buatan. Jika
tertelan, segera hubungi petugas medis.
f. Boraks
Senyawa ini bersifat non-explosive, non-flammable, dan
irritant. Jika mata terpapar, segera basuh dan siram mata
dengan banyak air minimal 15 menit. Jika terkena kulit,
segera siram dengan banyak air pada bagian kulit yang
terkena minimal 15 menit, dan gunakan sabun desinfektan
dan krim anti bakteri. Jika terhirup, segera bawa korban ke
tempat terbuka. Jika korban pingsan, beri nafas buatan. Jika
tertelan, segera hubungi petugas medis.
g. Karbon Aktif
Senyawa ini bersifat non-explosive, non-toxic, flammable,
non-corrosive, irritant, dan berwujud padat. Jika mata
terpapar, segera basuh dan siram mata dengan banyak air
minimal 15 menit. Jika terkena kulit, segera siram dengan
banyak air pada bagian kulit yang terkena.
h. Asam Asetat
Senyawa ini bersifat non-explosive, non-toxic, corrosive,
dan irritant. Jika mata terpapar, segera basuh dan siram
mata dengan banyak air minimal 15 menit. Jika terkena
kulit, segera siram dengan banyak air pada bagian kulit
yang terkena minimal 15 menit, dan gunakan sabun
desinfektan dan krim anti bakteri. Jika terhirup, segera
bawa korban ke tempat terbuka. Jika korban pingsan, beri
nafas buatan. Jika tertelan, segera hubungi petugas medis.
B. Penggunaan Alat Perlindungan Diri
Alat perlindungan diri yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Jas laboratorium lengan panjang untuk emlindungi tubuh dari
percikan zat berbahaya.
2. Masker untuk melindungi saluran pencernaan dan pernafasan
dari bahan kimia.
3. Sarung tangan untuk melindungi tangan dari zat yang irritant
dan corrosive.
4. Sepatu tertutup untuk emlindungi kaki dari percikan bahan
kimia corrosive.
5. Goggle untuk melindungi mata dari percikan bahan kimia
corrosive, irritant dan toxic.
C. Manajemen Limbah
Limbah yang dihasilkan pada percobaan ini adalah:
1. Limbah Boraks
Masukkan limbah ke wadah limbah non-halogen.
2. Limbah HCl
Masukkan limbah ke wadah limbah asam karena larutan ini
merupakan asam kuat.
3. Limbah NaOH
Masukkan limbah ke wadah limbah basa karena larutan ini
tergolong basa kuat.
4. Limbah Asam Asetat
Masukkan limbah ke wadah limbah asam.
5. Limbah Arang Aktif
Masukkan limbah ke ember yang telah disediakan setelah
terpisah dari larutan asam asetat.
6. Limbah Hasil Titrasi HCl dengan Boraks
Masukkan limbah ke wadah limbah halogen.
7. Limbah Hasil Titrasi NaOH dengan HCl
Masukkan limbah ke wadah limbah halogen.
8. Limbah Hasil Titrasi Asam Asetat dengan NaOH
Masukkan limbah ke wadah limbah non-halogen.
9. Limbah Filtrat Hasil Penyaringan
Masukkan limbah ke wadah limbah asam karena filtrat
merupakan hasil penyaringan larutan asam asetat.
D. Data Percobaan
Suhu air dalam shaker waterbath awal : 36,00 C
Suhu air dalam shaker waterbath setelah 1 jam : 35,50 C
Suhu air dalam shaker waterbath setelah 2 jam : 35,00 C
a. Pembuatan Larutan Boraks 0,2 N
Berat Boraks : 3,8088 gram
Volume Boraks : 100,00 ml
Daftar II. Standardisasi Larutan HCl Standar
No Volume Boraks, ml Volume HCl, ml
1 10,00 18,70
2 10,00 18,60

b. Pembuatan NaOH 0,2 N
Berat NaOH : 4,0166 gram
Volume NaOH : 500,00 ml
Daftar III. Standardisasi Larutan NaOH 0,2 N
No Volume HCl Volume NaOH
1 25,00 16,40
2 25,00 16,30
c. Titrasi Larutan Asam Asetat dengan NaOH
Daftar IV. Hasil Titrasi Larutan Asam Asetat dengan Larutan
NaOH
No
Konsentrasi
Asam Asetat,
N
Volume
Asam As
etat, ml
Berat Arang
Aktif, gram
Volume Larutan
NaOH 0.2 N
sebelum sesudah
1 1,00 5,00 7,5053 28,70 26,40
2 0,80 5,00 7,5080 22,80 20,60
3 0,60 5,00 7,5057 17,50 16,50
4 0,40 5,00 7,5005 11,80 10,80
5 0,25 10,00 7,5059 12,50 11,90
6 0,15 15,00 7,5078 12,40 11,30
7 0,10 15,00 7,5014 8,60 6,90
E. Perhitungan
1. Standardisasi Larutan HCl


Menghitung normalitas HCl dapat dilakukan dengan persamaan
(5).
Contoh perhitungan untuk sampel 1:


Dengan cara yang sama, didapat daftar V.
Daftar V. Data Hasil Perhitungan Normalitas HCl
No Volume Boraks, ml Volume HCl, ml N HCl, N
1 10,00 18,70 0,1068
2 10,00 18,60 0,1074
Sehingga, normalitas rata-rata HCl dapat dicari dengan
persamaan (6).


2. Menghitung Normalitas NaOH
Menghitung normalitas NaOH dapat dicari dengan persamaan
(7).
Contoh perhitungan untuk sampel 1:


Dengan cara yang sama, didapat daftar VI.
Daftar VI. Data Hasil Perhitungan Normalitas NaOH
No Volume HCl, ml
N HCl,
N Volume NaOH, ml N NaOH, N
1 25,00 0,1071 16,40 0,1633
2 25,00 0,1071 16,30 0,1643
Sehingga, normalitas rata-rata HCl dapat dicari dengan
persamaan (8).


3. Membuat Larutan Asam Asetat dalam Berbagai Konsentrasi
Contoh perhitungan untuk membuat larutan asam asetat 0,80 N
menggunakan persamaan (9).

Anda mungkin juga menyukai